Tag Archives: Indonesia

Derawan #3, Panas-panasan di Pulau Gusung

Derawan 092

 

Derawan – Pulau Gusung – Derawan

Senin, 1 Juni 2015

 

Ini adalah hari ke-3 saya di Pulau Derawan. Setelah kemarin full hoping island, hari ini acaranya agak sedikit nyantai.

Selama di Derawan, telinga sayamulai akrab dengan suara kecipak riak gelombang kecil di kolong homestay. Dan mata ini menjadi sangat akrab dengan pemandangan Penyu Hijau yang berenang di sekeliling homestay, ikan aneka warna dan jenis, juga jernihnya laut hijau toska yang terbentang luas.

Dan pagi ini, liburan saya akan diisi dengan mengunjungi Pulau Gusung yang ada tepat di depan Pulau Derawan.

Seperti biasa, setelah beberes, kemudian sarapan, kami pun kembali menaiki speed boat yang selama 3 hari ini setia nganterin ke spot-spot terbaik di sekitar Pulau Derawan.

 

hamparan pasir putih dan birunya langit akan jadi pemandangan yang kontras selama di Pulau Gusung
hamparan pasir putih dan birunya langit akan jadi pemandangan yang kontras selama di Pulau Gusung

 

Pulau Gusung ini adalah hamparan pasir putih yang hanya akan timbul/kelihatan pada saat air laut dalam keadaan surut. Apabila air laut pasang, daratan pasir ini akan tenggelam. Pulau Gusung ini adalah pulau pasir yang tidak berpenghuni, tidak ada tumbuhan/pohon, sehingga…. siap-siap aja warna kulitnya akan naik beberapa tone setelah singgah di pulau ini :D

Pasir putih yang terhampar, akan berdampingan dengan birunya langit dan jernihnya air laut. Yang pastinya akan bikin kamu-kamu betah banget deh main di sana.

 

Hai Ngers, kami udah sampe di sini lho....
Hai Ngers, kami udah sampe di sini lho….

 

Mau berendam di air laut yang agak hangat karena matahari bersinar terik? Bisa!

Mau foto-foto? Wah, bisa banget!

Mau tiduran ala-ala bule, jangan ditanya deh….. wong pasirnya luas begitu. Mau guling-gulingan juga bisa kok :D

Nah, 1 lagi, di Pulau Gusung ini, kita juga bisa ketemu “Patrick” temannya “Spongebob” :D

 

"Patrick" yang saya temukan di Pulau Gusung
“Patrick” yang saya temukan di Pulau Gusung

 

masih edisi "Patrick"
masih edisi “Patrick”

 

Bintang laut besar dengan warnanya yang orange, dihiasi tentakel hitam yang menyerupai kerucut tajam, tapi sebenarnya tentakelnya ga tajam kok, banyak banget di pulau pasir ini. Kemarin saya berhasil nemuin 2 bintang laut gede, yang kemudian jadi obyek foto teman-teman. Mungkin kalau mau jalan lagi keliling pulau, bakal nemuin lebih banyak bintang laut di sana.

Di Pulau Gusung, saya menikmati berendam di air laut yang hangat karena sinar matahari. Air lautnya jernih, sementara pasir putihnya halus banget. Suka deh duduk-duduk sambil berendam di sana. Beberapa ikan kecil juga terlihat berenang bebas di sela-sela batu karang kecil-kecil yang banyak di pinggiran pulau.

Pemandangan di Pulau Gusung sangat kontras. Pasir putih, langit biru, udara cerah dan laut jernih. Perfecto!!!

 

pasir putihnya halus banget
pasir putihnya halus banget

 

Puas main panas-panasan, tidur-tiduran dan foto-foto di Pulau Gusung, saya dan teman-teman naik lagi ke kapal untuk melanjutkan acara siang hari itu.

Abis panas-panasan, mari kita main air lagi. Kita liat ikan-ikan cantik yang ada di sekitar Pulau Derawan. Tiba di spot snorkeling di sisi lain Pulau Derawan, ga pake nunggu lama, semua langsung nyebur! Segaaaaaaaarrrrr…..

Di spot snorkeling kali ini saya ketemu “Nemo”, Lionfish, macem-macem deh, ga tau namanya. Ikannya lucu-lucu, dan warna-warni. Hanya saja, arus laut siang itu cukup deras, dan untuk saya yang kemampuan berenangnya seiprit ini, rada jiper juga. Rasanya udah kecipak-kecipak seru, kok posisinya ga maju-maju karena ngelawan arus. Yang ada malah hanyut ke belakang…. help……………. Akhirnya teriak ke mas Alif, minta tarikin ke dermaga… hihihihihihihi…….

Cukup deh berenangnya…. Capek bangeeeeeeeettttt….. plus lapeeeeeeeeeeeeeeeeerrrrrrrrrrrrrrrr……

 

Naik ke dermaga, saya mulai kemas-kemas tas dan bawaan yang ada di kapal. Terus……. Kasak-kusuk sama Iyus, Windy dan Gita “Kita cari Indomie rebus yuk!” Deal! #toss

Jadilah kami ber-4 kabur, menyusuri jembatan kayu yang panjang ini untuk mencari…… Indomie rebus!

 

jembatan kayu seperti ini akan banyak ditemui di Pulau Derawan
jembatan kayu seperti ini akan banyak ditemui di Pulau Derawan

 

nih, kalau mau cari homestay di Pulau Derawan, infonya lengkap!
nih, kalau mau cari homestay di Pulau Derawan, infonya lengkap!

 

ini spot-spot menarik yang bisa dikunjungi di sekitar Derawan
ini spot-spot menarik yang bisa dikunjungi di sekitar Derawan

 

Matahari siang itu kenceng banget sinarnya, ajib bener lah rasanya di kulit.

Berjalan, menyusuri jembatan kayu, pasir putih, homestay-homestay yang dipenuhi pelancong, dan kami pun tiba di depan Rumah Makan Nur, tempat makan favorit selama di Derawan. Seperti biasa, pesan 4 es Kelapa muda, dan kali ini ditambah 4 mangkok Indomie rebus + telor :D

Selagi kami menunggu pesanan Indomie rebus, ternyata teman-teman 1 rombongan mulai berdatangan, dan ternyata lagi, jam makan siang sudah tiba…… horeeeeeee…..

Jadi lah siang itu menu kami nambah, semangkok Indomie rebus + telor, nasi, ikan goreng tepung, sayur bening + ga lupa saya pesan 1 porsi cumi goreng tepung :D

Hohohohohohoho…… liburan 4 hari di sini, sepertinya lingkar pinggang akan bertambah beberapa cm deh :D

Makan siang hari ini nikmat bangeeeeeeeeeeeettttt…… makanannya semua enaaaaaaaakkkkkk…… #lapiler

Selesai makan, kami kembali ke homestay untuk mandi (lagi). Badan rasanya pliket, lengket-lengket abis berendam air laut. Pakaian yang tadinya basah, sekarang udah kering dan melekat di badan. Komplit, rasanya kayak ikan asin sedang dijemur :D

Berhubung setelah ini acaranya adalah acara bebas, abis mandi saya masih bisa leyeh-leyeh di kasur sambil merem, dan akhirnya sukses ketiduran :D

Sempat merem sekitar 1 jam, bangun, dan kemudian grubak-grubuk ngajakin Windy dan Iyus untuk hunting foto sambil keliling pulau. Weeewww…. Ternyata kami semua ketiduran…. Hihihihihi…

Oke, cuci muka, ambil kamera, mari kita keliling……..

 

keliling pulau sore itu, saya menemukan banyak suvenir dari kerang laut
keliling pulau sore itu, saya menemukan banyak suvenir dari kerang laut

 

bagus-bagus ya....
bagus-bagus ya….

 

Menikmati sore, kami memutuskan untuk menuju dermaga di sisi kanan Pulau Derawan, tempat kami tadi siang ber-snorkeling ria. Dan pilihan kami sangat tepat, karena sunset persis di depan dermaga! Horeeeeeeee………

 

sunset-nya persis di depan dermaga
sunset-nya persis di depan dermaga

 

Walau matahari masih agak terang, tapi udah ga sepanas tadi siang, ditambah hembusan angin yang lumayan kencang, bikin sore itu cukup adem menurut saya.

 

homestay terapung a.k.a water chalet di pinggir dermaga
homestay terapung a.k.a water chalet di pinggir dermaga

 

suasana yang akan selalu ngangenin
suasana yang akan selalu ngangenin

 

Duduk di salah satu gazeebo yang ada di dermaga, jadilah saya, Iyus dan Windy cerita-cerita ber-haha-hihi sambil foto-foto. Lagi asyiknya foto dan cerita-cerita, tiba-tiba HP saya bergetar hebat, dan begitu dilihat, ternyata Gita yang telepon. “Ada apa Git?”

“Mbak, di mana? Aku ga bisa masuk kamar. Mau maghrib, mau pipis”. Ahahahahahaha….. makanya…. kalo mau jalan itu bilang… sekarang bingung kan karena kita ga ada di kamar :p

Jadi ceritanya, waktu kami ketiduran, ternyata Gita jalan bareng teman yang lain, katanya mau sepedaan keliling pulau.

Huuuuuuu….. kan belum puas foto-fotonya….

 

selalu kangen dengan suasana seperti ini
selalu kangen dengan suasana seperti ini

 

Ya udah deh, akhirnya kami balik ke homestay, karena ada yang ga bisa masuk ke kamar :D

 

Malam ini, ga ada acara apa-apa. Jadi setelah makan malam (seperti biasa, di Rumah Makan Nur) saya seperti malam kemarin, nongkrong lagi di jembatan kayu, cari milkyway. Puas-puasin malam ini, karena besok kan kita harus balik ke Jakarta. Oh no!

Sebelum milkyway-an, saya packing dulu deh. Beresin ransel, biar besok pagi ga keburu-buru. Selesai packing, mari kita nongkrong di jembatan…..

 

pemandangan malam itu....
pemandangan malam itu….

 

pantulan cahaya dari homestay di permukaan air laut, mau liat langsung yang kayak gini??? yuk, ke sini!!
pantulan cahaya dari homestay di permukaan air laut, mau liat langsung yang kayak gini??? yuk, ke sini!!

 

Derawan #2 – Berenang dengan Non Stinging Jellyfish

EVY_0629

 

Derawan – Maratua – Kakaban – Sangalaki

Minggu, 31 Mei 2015

 

Selamat pagi Indonesia, selamat pagi dunia…….. :)

 

Setelah istirahat yang sangat cukup tadi malam, pagi ini saya memulai hari dengan kondisi badan yang segar……..

Dan alarm alami saya sudah memaksa saya membuka mata sejak pukul 5 subuh waktu Derawan, which means pukul 4 waktu Jakarta.

Suara kecipak ombak di kolong homestay seolah-olah senandung pagi yang membangunkan saya. Rasa penat dan pegel setelah kemarin menempuh perjalanan yang cukup panjang dan jauh, Jakarta – Tarakan – Derawan akhirnya terbayarkan dengan istirahat yang sangat nyaman tadi malam. Dan pagi ini, saya siap menjelajah pulau-pulau yang ada di sekitar Derawan ini. Mari kita let’s go!!!

 

Setelah menunaikan sholat subuh, mandi dan berganti kostum, saya menyempatkan diri untuk mengejar sedikit sisa-sisa sunrise hari ini. Membuka pintu kamar, hidung saya langsung disergap dengan harum aroma air laut yang khas. Semburat keemasan masih tersisa di balik bayangan pohon Kelapa dan deretan perkampungan penduduk di sisi Timur pulau.

semburat keemasan di ufuk Timur subuh itu di Derawan
semburat keemasan di ufuk Timur subuh itu di Derawan
cukup dari depan kamar saja untuk mendapatkan pemandangan seperti ini
cukup dari depan kamar saja untuk mendapatkan pemandangan seperti ini

 

Sementara di kaki cakrawala, semburat biru, kuning, jingga, merah muda membaur menjadi satu membentuk lapisan tipis yang cantik. Pagi itu cuaca di Derawan sangat cerah (dan semoga tetap cerah hingga berakhirnya perjalanan kami).

masih edisi sunrise pagi itu
masih edisi sunrise pagi itu
perahu nelayan tampak terayun-ayun disapa riak gelombang pagi hari
perahu nelayan tampak terayun-ayun disapa riak gelombang pagi hari

 

Menikmati pagi di dermaga kecil di depan kamar, duduk di kursi kayu sambil melihat Penyu-penyu hijau besar yang sesekali timbul ke permukaan air laut sungguh menyenangkan. Air laut berwarna hijau toska yang jernih memperlihatkan hingga ke dasarnya, termasuk segerombolan Bulu Babi, aneka macam ikan dan hewan laut lainnya. Di sini saya menemukan Bulu Babi yang berwarna merah lho… Biasanya kan Bulu Babi itu warnanya hitam, nah…. di sini ada yang berwarna merah. Keliatan dari atas sih bagus ya… lucu… tapi kalau ingat gimana sakitnya apabila ketusuk si Bulu Babi itu….. hiiiiiii…. menyeramkan….

 

menikmati pagi sambil duduk santai di dermaga
menikmati pagi sambil duduk santai di dermaga

 

Eh iya, cerita tentang si Bulu Babi…. Iyus berkali-kali bilang kalau daging Bulu babi itu enak kalau dimakan…. dan berkali-kali juga Iyus berusaha mencari penduduk yang (mungkin) mancing/mengambil Bulu Babi dari laut. Tapi sayangnya, sampai kami pulang pun, kami tidak menemukan penduduk yang mengambil Bulu Babi, apalagi menjualnya :D

Kasian Iyus…. #pukpuk

 

nih si Bulu Babi, tuh... ada yang warna merah lho
nih si Bulu Babi, tuh… ada yang warna merah lho

 

Puas memperhatikan si Bulu Babi, pandangan saya teralihkan ketika seekor Penyu Hijau besar tiba-tiba muncul ke permukaan air. Huuuuuuaaaaaaaaa………

Walaupun sejak tiba di Derawan kemarin sore itu saya sudah beberapa kali melihat Penyu-penyu itu berenang berseliweran di sekitar dermaga, tapi pagi ini, begitu melihat lagi Penyu segede tampah itu muncul di permukaan, rasanya excited banget……

Air laut yang jernih membuat seolah-oleh Penyu itu sedang berenang di aquarium raksasa.

 

Penyu hijau yang banyak ditemui di depan kamar
Penyu hijau yang banyak ditemui di depan kamar
tiap saat bisa liat Penyu sebesar ini berenang bebas
tiap saat bisa liat Penyu sebesar ini berenang bebas

 

Puas menikmati suasana pagi di dermaga, saya, Iyus, Windy dan Gita kemudian beranjak menuju Rumah Makan Nur untuk sarapan pagi. Lagi-lagi, guide kami, mas Alif dengan rajinnya pagi itu mendatangi kamar satu-persatu untuk memberitahu bahwa sarapan sudah siap. “Siap mas Alif, kami segera meluncur untuk mengisi perut” :)

 

Selesai sarapan, kami kemudian bersiap-siap untuk hoping islands. Rencananya, pagi ini perjalanan akan dimulai dengan mengunjungi pulau Maratua, kemudian Kakaban, Sangalaki dan kembali ke Derawan.

Let’s go!!! Mari kita berlayar……

 

Perjalanan menuju Pulau Maratua memakan waktu kurang lebih 40 menit berlayar. Sepanjang perjalanan, air laut yang tenang menemani kami. Jajaran pulau-pulau kecil terlihat di kejauhan. Boat yang saya naiki berkapasitas kurang lebih 14 orang, ditambah 1 orang kapten, 1 co-kapten, mas Alif – tour guide, dan mas Deni – guide lokal yang akan mendampingi kegiatan snorkling kami.

Yeeeeeeaaaaaayyyyyy…… hari ini judulnya “Main Air”.

 

dermaga di Pulau Maratua
dermaga di Pulau Maratua

 

Tak berapa lama, sampai lah kami di Pulau Maratua, pulau terbesar di jajaran kawasan wisata kepulauan Derawan.

Sebuah dermaga kayu terlihat menjorok ke arah laut, menyambung dengan bangunan water chalet yang terbuat dari kayu. Dan sebuah jembatan kayu panjang terbentang, menghubungkan water chalet tersebut dengan daratan.

Karena waktu saya tiba di sana air laut sedang surut, jadi daratan pasir di bawah water chalet tidak terendam air. Danwater chalet itu hanya terlihat seperti rumah panggung yang berdiri di atas hamparan pasir putih yang sangat halus.

Saya membayangkan saat air pasang, pasti bagus sekali. Bangunan water chalet kayu berwarna coklat, seperti terapung di atas laut, dengan sebuah jembatan kayu panjang yang menghubungkannya dengan daratan nun jauh di belakangnya.

 

water chalet di Maratua
water chalet di Maratua
water chalet di Maratua
water chalet di Maratua
water chalet dan jembatan kayu yang menghubungkannya dengan daratan
water chalet dan jembatan kayu yang menghubungkannya dengan daratan

 

Dan karena air laut yang sedang surut ini juga yang akhirnya membuat saya turun dari boat tanpa menyentuh dermaga. Boat yang saya naiki hanya merapat di pinggir hamparan pasir putih, dan kami langsung terjun. Air sebatas betis membasahi sehelai kain pantai yang saya kenakan begitu kaki saya menyentuh dasar pasir di pinggir pantai itu.

 

boat kami hanya merapat di bagian pantai yang dangkal
boat kami hanya merapat di bagian pantai yang dangkal

 

Pasir di Pulau Maratua ini sangat halus dan putih. Rasanya ingin guling-guling di situ deh :D
Kami tidak terlalu lama berada di Maratua, yah…. mungkin hanya sekitar 30 – 40 menit saja. Selanjutnya boat kembali bergerak menuju Pulau Kakaban.
Oh iya, pernah dengar ubur-ubur tidak menyengat kan?
Nah…. di Pulau Kakaban ini ada sebuah danau air payau, yang dihuni oleh biota laut yang terisolir dan akhirnya berevolusi, berkembang dengan keunikannya yang langka. Iya, di Danau Kakaban inilah spesies ubur-ubur yang tidak menyengat itu hidup dan berkembang. Dan kalau tidak salah, di dunia ini hanya ada 3 kawasan yang memiliki habitat yang dihuni oleh ubur-ubur tidak menyengat. Tuh…. cuma ada 3 tempat lho di dunia ini yang ubur-uburnya tidak menyengat. Ga kepengen apa untuk liat langsung dan berenang bareng ubur-ubur yang ga menyengat itu???
Dan hari ini, saya dan teman-teman akan berenang bareng sama ubur-ubur itu….. aaaaaaaakkkkkkk…….

 

hai ngers..... kami sudah sampai di Maratua ^.*
hai ngers….. kami sudah sampai di Maratua ^.*

 

Sebelum berenang dengan ubur-ubur yang tidak menyengat itu, kapten speed boat yang kami naiki itu menawarkan untuk mengunjungi Goa Ikan. Katanya itu tempat yang bagus dan indah! Wajib didatangi!

Dan tempat itu tidak termasuk di dalam list itinerary lokasi yang akan kami datangi.

 

Karena penasaran, akhirnya kami mengiyakan ajakan kapten kapal.

Hanya sekitar 20-30 menit dari Pulau Maratua, boat yang kami naiki mulai mengurangi lajunya dan secara perlahan merapat di pinggir pantai berbatu. Kita sampai……. di Pulau Kakaban!

 

kapal-kapal yang mengantarkan pengunjung seperti kami untuk melihat Goa Ikan
kapal-kapal yang mengantarkan pengunjung seperti kami untuk melihat Goa Ikan

 

Matahari yang bersinar terik di pagi menjelang siang hari itu membuat saya harus memicingkan mata untuk bisa melihat dengan jelas.

Boat bersandar di pinggiran pantai berbatu, dan kami pun terjun menyentuh pasir pantai yang berair setinggi betis. Di depan kami terbentang dinding batu yang ditutupi tumbuhan perdu yang rindang. Beberapa pohon yang agak besar tumbuh di atas tebing tersebut.

Dan di tebing batu tersebut ada sebuah ceruk kecil yang menjadi pintu masuk ke Goa Ikan. Ceruk ini bisa dilewati apabila air laut sedang surut. Ceruk di tebing batu itu tidak terlalu lebar, tapi bisa dilewati oleh orang dewasa. Di awal ceruk, saya masih bisa berdiri tegak, namun semakin ke dalam, langit-langit ceruk batu itu semakin rendah, dan dasar ceruk semakin dalam terendam air laut, yang mengharuskan saya untuk berjalan menunduk dan akhirnya harus merelakan air merendam badan saya hampir mencapai pinggang agar saya bisa melewatinya sampai di ujung.

Oh iya, untuk melewati ceruk ini harus sangat berhati-hati karena bebatuan yang ada di sekitarnya sangat tajam.

 

lautnya.... langitnya... awan... dan semua yang ada, membuat saya betah berlama-lama di sana
lautnya…. langitnya… awan… dan semua yang ada, membuat saya betah berlama-lama di sana
ceruk batu itu adalah awal dari Goa Ikan yang menjadi pintu masuk menuju laguna
ceruk batu itu adalah awal dari Goa Ikan yang menjadi pintu masuk menuju laguna

 

Sampai di ujung ceruk, taraaaaaaaaaaaaa………….

Di depan saya terbentang semacam danau/laguna yang sangat indah. Dikelilingi oleh tebing batu yang menghijau oleh tanaman perdu, air yang berwarna hijau toska jernih, membuat dasar laguna terlihat jelas. Ikan beraneka macam dan ukuran pun berenang berseliweran dengan bebasnya.

Ah, saya suka tempat ini!

Sekilas, tempat ini mengingatkan saya akan Pulau Sempu dan lagunanya. Sukaaaaaa……..

 

dan itu....... lagunanya.....
dan itu……. lagunanya…..

 

Saya mencoba mengabadikan keindahan alam yang terpampang di depan mata saya dengan lensa kamera. Ingin rasanya berlama-lama di sana. Menyenangkan.

Di mulut ceruk yang ada di dalam, saya menemukan ganggang laut yang tumbuh menempel pada bebatuan, dan ganggang itu berwarna merah bata. Sangat kontras dengan air hijau toska jernih dan batu-batuan di sana.

 

ganggang merah yang menempel di batu di mulut pintu ceruk bagian dalam
ganggang merah yang menempel di batu di mulut pintu ceruk bagian dalam
saya ga tau, ini termasuk ganggang jenis apa?
saya ga tau, ini termasuk ganggang jenis apa?

 

Puas memotret, saya pun melangkah kan kaki kembali menyusuri ceruk batu tersebut menuju pinggiran pantai. Kami harus segera beranjak menuju tujuan selanjutnya. Danau Kakaban!

 

Boat yang saya naiki hanya memutar sedikit untuk mencapai dermaga kayu panjang yang menjadi pintu masuk ke Danau Kakaban. Jembatan kayu panjang yang berujung pada sebuah gapura kayu dengan ornamen khas Kalimantan. Di sisi kiri gerbang, terdapat bangunan mungil berwarna biru yang merupakan loket untuk membeli tiket masuk ke Danau Kakaban.

Biaya untuk memasuki kawasan wisata Danau Kakaban cukup murah, hanya sebesar Rp 20.000.

 

parkir boat-nya jauuuuuuuuhhhhhh......
parkir boat-nya jauuuuuuuuhhhhhh……
selamat datang di Danau Kakaban
selamat datang di Danau Kakaban
tiket masuk ke Danau Kakaban untuk liat ubur-ubur tidak menyengat, 20 ribu ajah!
tiket masuk ke Danau Kakaban untuk liat ubur-ubur tidak menyengat, 20 ribu ajah!

 

Memasuki kawasan Danau Kakaban, kita akan mendaki tangga-tangga batu yang menanjak dengan jarak antar anak tangga yang cukup tinggi. Pohon-pohon besar tumbuh tinggi di sisi kanan dan kiri tangga batu. Di situ saya membaca beberapa nama pohon yang baru kali itu saya temui, dan saya tidak bisa mengingat pohon apa saja kah itu? :p

 

Setelah tiba di ujung tangga batu, kami harus menuruni sejumlah tangga kayu untuk mencapai danau. Lumayan juga perjuangan untuk menjumpai si ubur-ubur tidak menyengat itu.

Dan akhirnya…………… horeeeeeeeeeeeeeeee……. itu ubur-uburnya…..

 

itu dia.... non stinging jellyfish
itu dia…. non stinging jellyfish
ada yang lagi sendirian.... pengen pegang.....
ada yang lagi sendirian…. pengen pegang…..

 

Tidak menunggu lama, saya pun langsung nyemplung ke danau dan berenang dikelilingi ubur-ubur tidak menyengat itu.

Saya mencoba untuk memegangnya. Ternyata, ubur-ubur itu seperti agar-agar ya… lembut, sedikit berlendir dan tembus pandang seperti kaca.

Ah senangnya……….. bisa berenang bebas dikelilingi ubur-ubur lucu yang tidak menyengat.

 

Puas berenang dengan ubur-ubur, kami kembali ke pinggir pantai untuk menikmati makan siang. Seporsi nasi putih dengan oseng-oseng jagung, wortel dan buncis plus sepotong ikan goreng dan daging ayam berbumbu asam manis, hmm…… nikmat……

 

pemandangan daari lokasi makan siang kami di pinggir pantai
pemandangan daari lokasi makan siang kami di pinggir pantai
jembatannya panjang ya....
jembatannya panjang ya….

 

Selesai makan kami segera kembali ke boat untuk melanjutkan perjalanan menuju Pulau Sangalaki yang menjadi habitat Manta dan beberapa jenis ikan lainnya. Sebelum tiba di perairan Pulau Sangalaki, boat berhenti (masih di depan Pulau Kakaban) dan kami pun snorkling. Horeeeeee…….

Lokasi kami snorkling di dekat sebuah palung laut. Aneka rupa dan warna karang terlihat jelas di dasar laut yang airnya sangat jernih itu. dan macam-macam pula ikan yang berseliweran di antara karang-karang itu. Mulai dari Lionfish, ikan badut a.k.a nemo, ikan-ikan berwarna hijau, biru, kuning, bahkan ada yang putih bertotol-totol ungu!

 

Mendekati area palung, pemandangannya sangat bagus. Dan ikan-ikannya pun semakin beraneka warna. Tapi saya tidak berani berenang di area palung. Menyadari kemampuan berenang yang masih pemula, saya pun harus cukup puas berenang di daerah yang dangkal :D

Tapi, walaupun berenang di daerah yang dangkal, karang-karang dan ikan-ikan yang saya temui sudah cukup memanjakan mata. Semua baguuuuuuuusssss……

 

Puas snorkling dan main air, saya dan teman-teman pun naik kembali ke boat. Kami akan melanjutkan perjalanan menuju Pulau Sangalaki. Entah kenapa, saat menuju Pulau Sangalaki ini saya tidak terlalu bersemangat untuk memotret. Mungkin karena menimbang cuaca yang sedikit mendung (takut tiba-tiba hujan dan kamera masih di luar), akhirnya saya hanya melihat sedikit ke arah perairan Sangalaki. Dan kebetulan juga, gelombang agak sedikit besar.

 

Akhirnya selama perjalanan, saya hanya mengintip-ngintip sedikit dari tempat duduk. Melihat ada apa saja di laut jernihnya perairan Sangalaki.

Karena gelombangnya agak besar, terus terang saya tidak melihat apa-apa selama mengarungi perairan Sangalaki. Entah lah teman-teman yang lain?

 

Karena hari sudah menjelang sore, langit pun terlihat mulai digayuti awan hitam, kami memutuskan untuk segera kembali ke Derawan.

Ayo capt, kita capcus ke Derawan…….

 

Sampai di Derawan, kami pun menghambur ke kamar masing-masing untuk mandi dan bersih-bersih. Kebayang kan rasanya habis berenang di laut, sampai baju yang digunakan kering dan lengket di badan? :p

Mari kita mandi, dan siap-siap makan malam……

 

Jam 7 teng, kami sudah siap untuk makan malam di Rumah Makan Nur seperti biasa. Menu makan malam kali ini nasi putih, ikan bakar, cumi goreng dan sayur bening. Nyam… nyam… nyam…..

 

Selesai makan, saya, Iyus, Windy dan Gita kembali ke homestay.

Malam ini saya niatnya ingin ber-milkyway-an di jembatan kayu di belakang kamar.

Sudah dari malam kemarin sih tergodanya, hanya malam kemarin itu lebih milih untuk istiharat daripada memainkan kamera.

Dan jadilah malam ini, saya dan Iyus nongkrong di jembatan kayu untuk ber-milkyway-an.

 

hasil nongkrong di jembatan kayu di belakang kamar
hasil nongkrong di jembatan kayu di belakang kamar
deretan homestay di atas laut dan kapal-kapal nelayan yang tertambat di sana
deretan homestay di atas laut dan kapal-kapal nelayan yang tertambat di sana

 

 

Udah malem, saatnya bobok. Besok masih ada acara seru yang lain nih, mau tau??? Yuk, ikut!!!

 

Derawan #1, Sepenggal Surga di Ujung Timur Kalimantan

 EVY_0583

 

Derawan, Akhirnya Kita Bertemu

Sabtu, 30 Mei 2015

Setelah semalaman ga tidur (ga berani tidur sebenarnya karena takut ga kebangun subuh ini), akhirnya ketika jam menunjukkan pukul 02.30 wib, saya pun berangkat menuju bandara Soetta. Perjalanan dini hari itu terasa cepat, jalanan lengang. Dan tidak sampai 1 jam kemudian, saya sudah tiba di terminal keberangkatan 1A.

Perjalanan yang sudah direncanakan sejak Desember tahun lalu pun dimulai. Penantian selama hampir 6 bulan pun akhirnya tiba di depan mata. Walaupun sempat diwarnai dengan reschedule tiket karena tanggal yang tidak pas, hingga batalnya seorang teman untuk berangkat di saat-saat terakhir. Dan pagi ini, saya sudah berdiri di sini, antrian counter check in maskapai singa merah.

Ini merupakan pengalaman pertama saya menggunakan maskapai singa merah, setelah selama ini selalu menghindarinya karena penyakit “schedule delay” yang melekat di maskapai tersebut. Dan saya sempat kaget melihat betapa ramai dan padatnya antrian check in subuh ini. Luar biasa! Sudah seperti musim mudik lebaran :D

Setelah antri cukup lama, ditambah lambatnya kerja “mbak counter” sewaktu memroses tiket kami, akhirnya saya dan teman-teman berhasil juga untuk check in. Akhirnya……..

Saya dan teman-teman kemudian beranjak ke lantai 2 menuju gate keberangkatan.

persiapan ngebolang kali ini
persiapan ngebolang kali ini

 

Derawan, I'm coming......
Derawan, I’m coming……

 

Jujur, saya pribadi sudah sangat tidak sabar untuk segera sampai ke tujuan. Membaca berbagai artikel dan melihat foto-fotonya via Internet, membuat saya ingin segera melihat sendiri, seperti apa keindahan Derawan.

Sambil menunggu waktu boarding, saya mencoba mengingat kembali kejadian-kejadian sewaktu kami merencanakan trip ini. Mulai dari hunting tiket, reschedule, sampai bagaimana ribetnya mencari paket trip yang sesuai dengan keinginan kami. Awalnya, setelah tiket siap, kami rencananya ingin melakukan trip dengan itinerary sendiri, yang artinya kami harus mencari penginapan, speed boat dan berbagai perlengkapan trip secara mandiri. Keinginan untuk merasakan sensasi menginap di water chalets, membuat saya rajin mantengin Internet mencari paket menginap di water chalet tersebut. Apalagi salah seorang teman request dengan sangat amat berharap “Minimal nginep semalam lah di water chalet“.
Saya mencoba untuk menghubungi resort tersebut secara langsung untuk mendapatkan harga terbaik, dan jawaban yang saya terima hanya membuat kening berkerut. “Ah…. sepertinya saya belum rela untuk mengeluarkan biaya sebesar itu hanya untuk menginap di sana” :(

Karena seorang teman keukeuh untuk menginap di sana, minimal 1 malam saja, saya pun kembali bertanya dan jawabannya adalah “Maaf mbak, untuk menginap di sini minimal 3 malam”. Jegeeeeerrrr!!!

1 malam = 990 ribu, dan untuk menginap di sana harus minimal 3 malam, yang artinya 990 ribu dikali 3. Owemji! Untuk menginap di sana selama 3 malam harus mengeluarkan biaya hampir 3 juta rupiah (kurang 30 ribu ajah)!!! Waduh, ga deh. Maaf ya teman, saya terpaksa tidak setuju dengan keinginanmu itu. Kalau memang memaksa untuk menginap di sana, silakan, tapi saya sih akan mencari yang biayanya lebih terjangkau saja.

Karena awalnya kami ingin melakukan trip secara mandiri, saya pun sudah mencari penyewaan boat untuk hoping islands. Dan ternyata biaya penyewaan boat di sana juga sangat tinggi. Sebuah boat bermesin tunggal dengan kapasitas 8 – 12 orang dihargai 8 juta untuk keliling pulau. Dan karena kami hanya ber-5, otomatis semua biaya itu harus ditanggung ber-5. Huft…….

Hmm….. akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti paket open trip saja, lebih ekonomis. Dan setelah browsing sana-sini yang cukup memakan waktu karena harus membandingkan dan memilih itinerary mana yang sesuai dengan keinginan kami, akhirnya pilihan kami jatuh pada sebuah operator trip lokal, Derawan Tours.

Melihat harga paket open trip-nya yang masih reasonable, akhirnya kami sepakat untuk daftar. Dengan harga paket sebesar Rp 1.975.000 per orang untuk paket trip 4 hari 3 malam, kami sudah mendapatkan fasilitas menginap di water chalet, makan pagi, siang dan malam, boat untuk keliling pulau termasuk perjalanan dari Tarakan – Derawan pp, serta penjemputan dari/ke Bandara Juwata. Good enough kan?

Dan akhirnya, subuh ini saya, Iyus, Windy dan Gita sudah duduk manis di boarding gate menunggu waktu keberangkatan kami menuju Tarakan.

Tepat pukul 04.30 wib, panggilan untuk memasuki pesawat pun terdengar. Dan pukul 05.00 wib, roda pesawat berlogo singa merah ini pun perlahan bergerak melintasi areal parkir Bandara Soetta, menuju runway. Bismillaahirrahmaanniirrahiim….

Mata yang sudah berat menahan kantuk dari semalam akhirnya mendapatkan haknya di pesawat ini. Begitu pesawat take off, saya pun langsung memejamkan mata.

Perjalanan Jakarta – Tarakan selama hampir 3 jam itu (yang saya manfaatkan untuk tidur sepanjang perjalanan) akhirnya bisa membuat mata saya terbuka lebar begitu pesawat yang saya tumpangi itu mendaratkan roda-rodanya di landasan Bandara Juwata (udah puas banget boboknya :D).

Setelah menunggu bagasi, saya pun kemudian menghubungi contact person dari Derawan Tours yang menjemput kami pagi itu. Oh iya, pagi itu kami tiba di Derawan dengan disambut hujan yang cukup deras. Sempat sedih juga, bagaimana perjalanan kami ke pulau Derawan apabila cuaca tak kunjung cerah?

Di Tarakan kami hanya transit sebentar sambil menunggu keberangkatan kapal menuju pulau Derawan jam 1 siang nanti. Dan tujuan kami pagi ini adalah Warung Teras, sebuah rumah makan seafood yang sepertinya cukup terkenal di Tarakan. Mari kita makan…..

 

Warung Teras, tempat makan yang yummy #eluselusperut
Warung Teras, tempat makan yang yummy #eluselusperut

 

Udang goreng tepungnya mantap!!!
Udang goreng tepungnya mantap!!!

 

Siang itu pilihan saya jatuh pada sepiring nasi goreng seafood dan seporsi udang goreng tepung plus segelas jus stroberi. Hmm…… seafood-nya segar….. rasa manis dari daging udangnya mantep!

Setelah makan dan kenyang (pake banget), kami pun kemudian diantar menuju Pelabuhan Tengkayu untuk menunggu waktu keberangkatan kapal menuju Pulau Derawan.

Perjalanan dari Pelabuhan Tengkayu menuju pulau Derawan ditempuh sekitar 2.5 hingga 3 jam. Untungnya cuaca sudah cerah sewaktu kami berangkat. Dan sepanjang perjalanan, kami disuguhi hamparan laut biru yang jernih.

Dan akhirnya, setelah pantat terhempas-hempas selama hampir 3 jam di atas selembar busa tipis yang menjadi alas duduk kami di atas boat, boat yang kami naiki pun akhirnya mengurangi kecepatannya dan secara perlahan bersandar di sebuah dermaga kecil dari bangunan kayu berwarna coklat yang berdiri menjorok ke arah laut. Yeeeeaaaaaayyyyyy….. Derawan here I am!

Sambil menunggu unloading barang-barang bawaan kami dari dalam speed boat, saya memperhatikan lingkungan di sekitar dermaga itu. Tepat di depan dermaga, terhampar laut luas dengan airnya yang berwarna hijau toska jernih. Saking jernihnya, saya bisa melihat dengan jelas beberapa ekor Penyu Hijau sebesar tampah yang berenang bebas di sekitar dermaga. Perahu-perahu kecil yang ditambatkan dengan sehelai tali pun terlihat terombang-ambing oleh riak gelombang yang datang perlahan. Kumpulan-kumpulan Bulu Babi terlihat menggerombol di sekitar dermaga. Ikan-ikan beraneka warna dan bentuk, terlihat juga berseliweran tak henti-henti di bawah dermaga.

 

ini pemandangan di depan kamar lho....
ini pemandangan di depan kamar lho….

 

Setelah barang-barang kami selesai di-unloading ke dermaga, kemudian kami dibagikan kamar yang akan menjadi “rumah” kami untuk 4 hari ke depan. Dan ternyata, saya mendapatkan kamar yang paling depan, persis setelah teras dari dermaga ini. Yihaaaaa!!!

Karena kami tiba di Derawan di saat hari sudah menjelang sore, sisa hari itu itinerary-nya adalah acara bebas. Yang mau lanjut tidur cantik, bisa…… Yang mau langsung jalan-jalan keliling pulau, boleh…. Yang mau makan (seperti saya dan teman-teman, yang entah gimana lah ceritanya, begitu tiba di Derawan langsung pada kelaparan semua :D) juga bisa.

 

ini kamar saya untuk 4 hari ke depan, nyaman banget....
ini kamar saya untuk 4 hari ke depan, nyaman banget….

 

yang penting, toiletnya bersih! dan air tawar, bukan air payau yaaa.....
yang penting, toiletnya bersih! dan air tawar, bukan air payau yaaa…..

 

Dan setelah membereskan backpack, serta sedikit meluruskan punggung di atas kasur yang tersedia di kamar, saya, Iyus, Windy dan Gita pun akhirnya memutuskan untuk sedikit meng-explore pulau sambil mencari warung makan. Padahal, kami sudah dipesanin oleh mas Alif yang menjadi guide selama di Derawan “Mas, mbak, makan malam akan siap di jam 7”. Dan sekarang baru jam 4 :D

Perutnya ga kuat untuk menunggu 3 jam lagi… hehehehe….

jembatan kayu yang menghubungkan homestay kami dengan daratan
jembatan kayu yang menghubungkan homestay kami dengan daratan

 

Dari water chalet, kami menyusuri jembatan kayu panjang yang menghubungkan bangunan ini dengan daratan yang ada di depan kami. Tiba lah kami di perkampungan penduduk dengan rumah-rumahnya yang mayoritas terbuat dari kayu sebagaimana lazimnya rumah yang ada di Kalimantan. Kami pun melangkah menuju sisi kiri jembatan, menyusuri perkampungan penduduk. Hamparan pasir putih membentang sepanjang jalan perkampungan yang kami lewati. Karena tidak menemukan warung makan di sepanjang jalan yang kami susuri itu, kami mengubah haluan, balik kanan dan mulai menyusuri ke bagian kanan.

 

here, we are...
here, we are…

 

Dan benar saja, di sisi ini kami menemukan banyak warung makan. Pilih sana, pilih sini, akhirnya kami masuk di salah satu warung makan (lupa namanya apa?). Ambil menu, dan langsung pesan. Ikan Baronang bakar, Cumi goreng tepung dan Cah Kangkung. Tak lupa, 4 buah kelapa muda. Oh iya, awalnya kami cuma ingin minum air kelapa muda, tapi karena perut semakin lapar, akhirnya kami memutuskan untuk sekalian makan saja (lupakan jadual makan jam 7 malam nanti :D).
Tanpa menunggu terlalu lama, sebakul nasi putih hangat, ikan bakar, cumi goreng tepung dan cah Kangkung pun terhidang di depan kami. Mari makan…….. nyam… nyam… nyam…

 

menu kami sore itu
menu kami sore itu

 

Selesai makan, kami pun kembali menuju homestay untuk menunggu sunset di dermaga depan kamar. Menyenangkan banget ya….. nungguin sunset-nya cukup dari depan kamar aja. Hmm…… alhamdulillah, nikmat banget makan sore ini.

Sore menjelang senja hari itu, kami habiskan dengan duduk-duduk santai di dermaga sambil menunggu sunset dan menikmati angin laut.

 

sunset? cukup di depan kamar aja deh
sunset? cukup di depan kamar aja deh

 

Apa kegiatan kami besok? Hmm…… sepertinya besok kami akan basah-basahan seharian. Ikut yuk keseruan kami…….

Situs Gunung Padang – Peninggalan Sejarah yang Konon Lebih Megah dari Borobudur

 

Hai.. ketemu lagi….

Kali ini saya mau cerita hasil jalan-jalan ke situs sejarah, lokasinya tidak begitu jauh dari Jakarta, yaitu Situs Megalith Gunung Padang di Cianjur. Ini sebenarnya cerita jalan-jalan di awal tahun 2013 kemarin, cuma baru sempat di-posting sekarang.

Jadi ceritanya, Sabtu tanggal 2 Maret tahun 2013 kemarin, saya, Windy dan Andin bersama teman-teman dari Sahabat Jalan mencoba menjenguk situs megalith yang banyak dibicarakan orang itu. Sebenarnya sih udah ketinggalan berita banget ya… Tapi ya daripada nggak, gapapa deh…

Kami kebetulan jalan-jalannya bareng dengan teman-teman dari komunitas Sahabat Jalan. Ga rame sih…cuma 4 elf kapasitas @15 orang :D

Sekitar jam 7 pagi, kami berangkat dari Jakarta, lewat Tol Dalkot terus ke arah Bogor.

Sempat kena macet karena adanya buka-tutup jalur di Puncak. Sekitar jam 11 siang kami sampai di Stasiun Lampegan. Oh iya, karena rutenya berdekatan (sekitar 6 km aja) jadi sebelum ke Situs Gunung Padang kami singgah dulu ke lokasi stasiun tua Lampegan. Melihat bekas stasiun yang sudah tidak digunakan lagi, foto-foto dan narsis-narsisan seperti biasa. Kemudian baru perjalanan dilanjutkan menuju Situs Gunung Padang.

Sekilas tentang Stasiun (tua) Lampegan

Stasiun Lampegan merupakan stasiun kereta api yang terletak di desa Cibokor, Cibeber, Cianjur. Dulunya stasiun ini melayani kereta api Ciroyom-Cianjur-Lampegan jurusan Stasiun Sukabumi dan Stasiun Ciroyom. Tahun 2001, Terowongan Lampegan yang berada beberapa meter ke arah barat stasiun longsor, sehingga perjalanan kereta hanya sampai di stasiun ini. Terowongan yang longsor itu kemudian diperbaiki, namun sebelum kereta sempat melintas lagi, kembali terjadi longsor di tahun 2006 di petak Cibeber-Lampegan sehingga kereta hanya sampai di Stasiun Cianjur. Saat ini Stasiun Lampegan telah diperbaiki lagi, namun belum ada kereta yang lewat.

Stasiun Lampegan

rel kereta dengan landasan batu-batu kasar

girls on vacation judulnya :)

ceritanya lagi latihan terbang :D

hayo… ini kaki siapa saja???

Perjalanan ke lokasi Situs Gunung Padang cukup lancar… jalanan beraspal, tapi banyak yang ga mulus… jalannya lumayan kecil dan berkelok-kelok. Mendaki dan menuruni daerah perbukitan. Di kanan dan kiri jalan kami disuguhi pemandangan perbukitan yang menghijau, diselingi perkampungan penduduk dengan keramahan yang tersirat di wajah mereka.

dan akhirnya, sampai lah kami di Situs Megalith Gunung Padang!

Setelah melalui beberapa perkampungan dan perbukitan, kami tiba di lokasi Situs Gunung Padang. Dari tempat parkir kendaraan, kami harus berjalan kaki sedikit ke atas untuk mencapai gerbang ke Situs Gunung Padang. Jalannya lumayan ya… sedikit (eh…banyak ding) mendaki, melewati perkampungan penduduk. Saat tiba di gerbang lokasi, terpampang di depan saya 2 jalur pendakian untuk mencapai puncak situs. Jalur yang kiri berupa undakan-undakan tangga yang terbuat dari batu, menerobos rimbunnya pepohonan. Sementara jalur yang kanan lebih datar, tapi jaraknya sedikit lebih panjang, melipir menyusuri punggung bukit.


Sekilas tentang Situs Gunung Padang, Gunung Padang merupakan situs megalith yang terletak di Desa Karyamukti, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Berjarak sekitar 50 km barat daya dari Kota Cianjur atau sekitar 6 km dari Stasiun Lampegan. Situs ini juga merupakan situs megalith terbesar di Asia Tenggara. Keberadaan Situs Gunung Padang telah diberitakan di dalam Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD, “Report of the Department of Antiquities”) di tahun 1914. Kemudian di tahun 1949 seorang sejarawan Belanda N. J. Krom juga memberitakannya. Beliau mengunjungi lokasi situs di tahun 1979 untuk mempelajari secara arkeologi, sejarah dan geologi. Situs Gunung Padang berada di ketinggian 885m dpl, mencakup sebuah bukit dengan 5 teras yang terdiri dari dinding batu. Situs ini juga dikelilingi 5 gunung, yaitu Gunung Gede, Gunung Pangrango, Gunung Pasir Malang, Gunung Karuhun dan Gunung Batur.

gimana Win treknya? menyenangkan?

kami pilih jalan yang ini saja :D

treknya adem

walaupun tetap harus mendaki,
tapi trek ini lumayan datar

Saya, Windy dan Andin sepakat mencoba jalur sebelah kanan, karena lebih landai. Jauh sedikit gapapa lah… tapi ga harus trekking-trekking banget. Ternyata dengan menyusuri punggung bukit, kami disuguhi pemandangan yang sangat indah. Perbukitan, persawahan, dan barisan gunung menyapa mata kami. Wooooooow….. cuma bisa melongo melihat komposisi alam yang terpampang megah dan indah di depan mata. Subhanallah…..

sepanjang jalan
pemandangannya hijau

trek yang panjang ga terasa
karena jalurnya lebih landai

tuh pemandangannya, bikin betah kan?

Jalan menanjak sekitar 15-20 menit, kami pun sampai di puncak Situs Gunung Padang. Lho? Koq cuma puing-puing??? Iya, di puncak Situs Gunung Padang, kami menemukan puing-puing bebatuan (cocok ga sih kalo bebatuan itu disebut puing-puing?). Ada 5 teras/pelataran kumpulan puing-puing batu. Menurut kang Nanang, guide di Situs Gunung Padang, fungsi dari masing-masing teras berbeda-beda:

  1. Teras 1 dipercaya dulunya berfungsi sebagai tempat perjamuan dan peristirahatan para tamu sebelum menuju teras selanjutnya sekaligus sebagai tempat untuk bermusyawarah, konstruksinya disusun oleh kolom batu berdimensi poligonal segi lima atau enam dengan permukaan yang halus;
  2. Teras 2 dipercaya sebagai tempat untuk bermusyawarah ditandai dengan adanya batu berbentuk meja dan tempat duduk. Di teras ke-2 ini terdapat batu-batu tegak besar yang berfungsi sebagai pembatas jalan;
  3. Teras 3 diduga berfungsi sebagai kompleks pemakaman karena ditemukannya kelompok batuan tegak dan beberapa bangunan. Tidak ada jalan atau pondasi penghubung antar bangunan. Namun walaupun diduga teras ke-3 ini adalah kompleks pemakaman, namun tidak ditemukan adanya kerangka, melainkan sejumlah gerabah polos;
  4. Teras 4 memiliki 3 bangunan yang berada di sisi timur laut. Sedangkan bagian barat dayanya merupakan tanah kosong, sehingga diduga dulunya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan upacara tertentu yang membutuhkan tempat yang luas; 
  5. Teras 5 terdiri dari bangunan-bangunan kecil berupa tumpukan monolit, dan diduga merupakan tempat dilaksanakannya upacara yang paling sakral.

Batu-batuan yang terdapat di Situs Gunung Padang berwarna abu-abu gelap, berjenis andesit basaltis. Diperkirakan merupakan hasil pembekuan magma sisa-sisa gunung api purbakala berumur Pleistosen Awal, sekitar 2-1 juta tahun yang lalu. Situs “Gunung Padang” dipercaya memiliki makna sebagai “tempat untuk menyinari hati“. Hal ini didasari oleh arti dari “Gunung Padang” itu sendiri, yaitu “ari gunung luhur, padang nyatana hate urang, leu gunung teh luhur, ari padang teh hate nu caang” (gunung artinya kepala kita, sementara padang berarti menyinari hati) (Djunatan, 2011a).

 

salah satu teras yang ada di Gunung Padang

puing-puing batu andesit basaltis bersegi 5 atau 6 dengan permukaan yang halus

Situs Gunung Padang mengarah ke Gunung Gede (elevasi 2958 m). Mengarah 10 derajat utara-barat pada kompas, panjang situs tepat mengarah ke Gunung Gede. Di depan Gunung Gede, situs ini juga menghadap tepat ke bukit Pasir Pogor.

nun jauh di sana terlihat Gunung Gede yang berdiri kokoh

salah satu sudut yang bisa dilihat dari teras teratas situs Gunung Padang

Pemandangan dari puncak Situs Gunung Padang sangat indah. Barisan gunung-gunung terlihat berdiri gagah bak penjaga sang situs. Ada 6 gunung yang mengelilingi situs Gunung Padang, yaitu Gunung Melati, Gunung Pasir Malang, Gunung Pasir Pogor, Gunung Pasir Gombong, Gunung Pasir Empat dan Gunung Karuhun.

Udara di puncak situs juga sangat segar, untuk manusia yang setiap harinya hanya kebagian udara yang bercampur dengan asap kendaraan, saya dengan rakus berusaha mengisi paru-paru sepenuh mungkin dengan udara yang segar itu. Ga mau bagi-bagi aaaahhhh… :D

Di puncak situs saya sempat merasakan kelekaran (ngerti ga ya istilah ini?), artinya tiduran di rumput, di bawah sebatang pohon, menikmati angin sepoi-sepoi, menatap langit (eh…sambil merem ding :D)… rasanya…… comfy bangeeeeeeeeetttttttt…….

Di sini kami menikmati makan siang dengan menu khas Sunda, nasi timbel, ayam goreng, tempe goreng, teri kacang, sop dan lalapan, plus pisang dan jeruk sebagai pencuci mulutnya. Makan siang kami tidak di lapangan situs ya… tapi di sebuah pendopo berlantai 2 di salah satu sudut puncak situs.

Saya, Windy dan Andin memilih tempat di lantai 2, biar pemandangannya lebih asik.

Setelah makan siang, saya mulai meng-explore seluruh sudut situs Gunung Padang. Hanya sayangnya, karena hari itu pengunjungnya sangat ramai, nyaris tidak ada sudut situs yang sepi, sehingga saya merasa cukup susah untuk mendapatkan foto situs yang bersih.

penduduk sekitar juga memanfaatkan situs Gunung Padang ini untuk mencari rejeki

Setelah puas meng-explore hampir setiap sudut yang ada di Situs Gunung Padang ini, kami pun mulai menuruni Situs Gunung Padang dan kembali ke lokasi parkir. Waktu turun ini pun saya sama Windy tetap mengambil jalur yang kami lewati sewaktu naik tadi. Selain lebih landai, pemandangannya itu lho…. ga bikin bosen! Sumpah!

Sambil menuruni lereng situs, saya masih sempat ngintip-ngintip landscape dari viewvinder kamera. Ada juga beberapa foto Windy dan teman-teman trip yang lain. Tiba di ujung gerbang situs, saya menyempatkan untuk berfoto bersama Windy dan Andin, tapi ternyata ga ada yang komplit kami ber-3 :D. Ya walaupun tidak 1 frame, tapi lokasinya sama kan? Jadi terbukti bahwa kami ber-3 memang sudah sampai ke Situs Gunung Padang :D

thanks to Hafiz for this picture ^.*

itu lagi ngobrolin apa coba? saya-nya malah ga ada :(

Sebenarnya, setelah Situs Gunung Padang, perjalanan kami lanjut ke Curug Cikondang. Tapi sayang…. udah kemalaman, jadi waktu sampai di curug udah gelap, ga keliatan apa-apa…. boro-boro mau moto curugnya. Kamera udah disetel poll untuk kondisi gelap juga ga bisa… hiks :'(

Jadi ceritanya stop sampai di situs aja ya….

Dan kami pun pulang ke Jakarta.

(karena kelaparan, di puncak kami sempet singgah makan malem dulu, jam 23.30 wib :D)



Ini adalah rute yang dapat ditempuh untuk mencapai Situs Gunung Padang:

  1. Dari Sukabumi ke Cianjur: Warungkondang – Cipadang – Cibokor – Lampegan Pal Dua – Ciwangin – Cimanggu;
  2. Dari Cianjur ke Sukabumi: Sukaraja – Cireungas – Cibanteng – Rawabesar – Sukamukti – Cipanggulaan.