Search

Luang Phrabang, Kota yang Membuat Saya Jatuh Cinta

EVY_3406

 

Dulu…. Luang Phrabang merupakan suatu kota yang asing bagi saya. Membaca beberapa referensi mengenai kota ini, tidak membuat saya serta-merta tertarik untuk datang ke sana. Tawaran untuk mengunjungi kota ini datang setahun yang lalu, itu pun karena penasaran untuk melihat prosesi Tak Bat – Alms Giving Ceremony.  Dan ternyata, saya jatuh cinta pada kota itu.

Perjalanan saya ke Luang Phrabang dimulai dari Kota Vang Vieng. Berbekal tiket sleeper bus seharga 90,000 Kip, saya memulai perjalanan menuju Luang Phrabang sekitar jam 11 malam. Sleeper bus dengan rute Vang Vieng – Luang Phrabang ada beberapa macam dengan harga yang sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda. Kebetulan sleeper bus yang saya naiki bukanlah bus VIP, di mana tiket yang kita beli tidak memiliki nomor seat, sehingga penumpang bebas memilih akan mengambil seat yang mana? Dan mungkin saya yang kurang beruntung malam itu, di-pick up terakhir saat hampir seluruh seat sudah penuh. Saya sempat berdebat sedikit dengan kondektur bus dan agen travel tempat saya membeli tiket. Kenapa? Karena saat saya naik ke atas bus, hampir seluruh seat sudah terisi! Sementara saya berombongan 8 orang ditambah 2 cewek bule yang menunggu bersama kami. Ternyata ada beberapa warga lokal yang ikut naik di dalam bus tanpa tiket. Setelah komplain keras, akhirnya warga lokal tersebut turun, barulah saya dan rombongan naik ke atas bus. Saran saya, apabila memilih sleeper bus, sebaiknya ambil yang VIP, dengan harga sekitar 120,000 Kip. Dengan harga yang tidak jauh berbeda, tapi kenyamanan yang didapat berbeda jauh. Oh iya, sebelum membeli tiket ada baiknya untuk berkeliling ke beberapa agen tiket bus untuk perbandingan harga (so far dari hasil hunting saya di Vang Vieng, harga yang ditawarkan tidak berbeda jauh).

terminalnya sepi
IMG_3863
terminal bus di Luang Phrabang
ini contoh bus malam yang melayani rute Vang Vieng – Luang Phrabang

Perjalanan Vang Vieng – Luang Phrabang memakan waktu sekitar 7-8 jam dengan beberapa kali berhenti untuk beristirahat. Jalur yang dilalui sebenarnya tidak terlalu mulus, karena ada beberapa area yang dilewati ternyata sempat longsor, sehingga jalanan tanah bak kubangan besar. Saya yang kebetulan mendapat seat di bagian depan atas, bisa dengan bebas melihat trek yang ada. Nyali sempat ciut melihat jalanan tanah dengan kubangan-kubangan besar, berkelok-kelok dengan jurang yang tersenyum manis di sisi kanan jalan 😀

Tapi perjalanan yang sedikit menyeramkan itu terhibur dengan pemandangan bulan Purnama yang mengikuti ke mana bus berjalan. Bola kuning keemasan besar terlihat jelas di sisi kanan jalan, menerangi gelapnya malam. Bus berjalan perlahan karena kondisi jalan yang dilewati tidak semuanya mulus.

Sekitar pukul 7 pagi, bus tiba di Terminal Bus Bannaluang, Luang Phrabang. Karena lokasi terminal bus ini berada sedikit di luar pusat Kota Luang Phrabang, pilihan transportasi menuju pusat kota adalah menggunakan tuktuk. Pastikan untuk menawar harga tuktuk sebelum kita naik, karena setiap pengemudi akan menawarkan harga yang bervariasi. Waktu itu saya berdelapan mendapatkan tuktuk seharga 80,000 Kip (atau kira-kira Rp 16.500 per orang) dari terminal bus menuju pusat kota. Cukup murah.

IMG_3875
tuktuk yang mengantarkan saya dari terminal menuju penginapan

Jarak terminal ke penginapan sekitar 25 menit. Saya menginap di Joy Guesthouse yang berlokasi di Riverside Road, Ban Hoxieng, Town Center, Luang Phrabang, Laos. Mengambil kamar dormitory seharga Rp 131,881 per malam per orang. Kamar yang saya tempati terletak di lantai 2, bisa diisi 4 orang dengan 2 bunk bed susun, dilengkapi dengan kamar mandi dalam dan AC.

jalan masuk ke Joy Guesthouse
karena papan namanya kecil, jangan sampai kelewatan ya….
dari jalan utama, kita harus menaiki tangga ini untuk mencapai meja resepsionis
suasana di depan meja resepsionis, homy…..

Karena semalaman di bus, sesampainya di penginapan, yang pertama dilakukan adalah mandi! Selesai mandi, tujuan pertama adalah Kuang Si Waterfall. Air terjun bertingkat dengan airnya yang berwarna hijau toska. Saya kembali menggunakan jasa tuktuk untuk mencapai lokasi air terjun dengan biaya sebesar Rp 82,500 per orang. Ingat, sebelum menaiki tuktuk, pastikan biaya yang harus kita bayar pada driver-nya, dan jangan lupa menawar harga saat driver memberikan harga di awal.

Perjalanan menuju Kuang Si Waterfall ditempuh selama kurang lebih 1 jam dari penginapan. Menyusuri jalanan di Luang Phrabang yang lumayan sepi. Setibanya di lokasi air terjun, ternyata suasana cukup ramai. Tempat parkir pun terlihat penuh oleh kendaraan pengunjung yang telah tiba lebih dulu dari rombongan saya. Setelah mendapatkan tempat parkir untuk tuktuk yang mengantarkan kami, saya dan teman-teman segera menuju loket untuk membeli tiket masuk.

Tiket masuk area Kuang Si Waterfall seharga 20,000 Kip per orang, dan kita akan bebas menikmati indahnya suasana di seluruh area yang ada di sekitar air terjun.

EVY_3338
gerbang menuju Kuang Si Waterfall
EVY_3259
sepanjang jalan, hijau!

Dari gerbang besar berwarna coklat yang menjadi pintu masuk utama ke area air terjun, kita akan disambut dengan pemandangan pohon-pohon besar yang tumbuh di dalam area taman tersebut. Oh iya, air terjun ini berada di dalam lingkungan taman yang merupakan hutan lindung. Jadi jangan kaget apabila menemukan banyak pepohonan besar dengan jenis yang sangat beragam dan tak biasa ditemui.

EVY_3336
pepohonan hijau, besar, menghalangi sinar matahari di sepanjang jalan menuju lokasi air terjun
EVY_3265
spider…..

Jalanan beraspal mulus akan menjadi akses utama menuju lokasi air terjun. Jalanan aspal ini sedikit menanjak, apabila tidak ingin berlelah-lelah menanjak di jalan aspal, bisa mengambil jalan setapak yang ada di sebelah kanan jalanan aspal. Jalan setapak ini masih berupa jalan tanah yang letaknya berada di sepanjang aliran air, yang akan menuju lokasi air terjun. Apabila dihitung secara jarak, mungkin akan sama saja, namun pemandangan yang akan dilewati akan berbeda.

Saya mengambil jalanan beraspal sebagai rute saya menuju lokasi air terjun, dan akan melewati jalanan setapak sebagai rute kembalinya. Di sepanjang jalan menuju lokasi air terjun, mata saya disuguhi dengan pemandangan hijau, pepohonan besar dan bermacam-macam jenis, serta papan penunjuk yang memberikan informasi mengenai pepohonan yang terdapat di situ.

Perjalanan menuju lokasi air terjun tidak lah lama, hanya sekitar 15 – 20 menit. Dan setibanya di lokasi, mata saya langsung terpaku pada deru air yang jatuh tebing batu yang berundak-undak. Air hijau toska dengan buih putihnya bergerak cepat menyusuri dinding batu yang bertingkat-tingkat, menyuguhkan pemandangan yang sangat indah bak lukisan. Saya pun mendekat, dan merasakan betapa dingin titik-titik halus air yang terbawa angin. Segar.

EVY_3274
Kuang Si Waterfall, seperti lukisan!
EVY_3275
ramainya pengunjung Kuang Si Waterfall
EVY_3276
jembatan kayu yang menghubungkan ke-2 sisi kolam besar dengan air terjun di ujungnya

Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah air hijau toska yang sangat indah. Suasana di sekitar air terjun terasa sejuk dan segar. Terlihat beberapa rombongan pengunjung dengan aktivitasnya masing-masing – berfoto, ngobrol dengan teman, menikmati makan siang, dan lain-lain.

EVY_3278
air hijau toskanya…
EVY_3324
kalau lihat yang seperti ini, kepengen nyebur ga sih?

Setelah mengambil beberapa foto, saya mulai menyusuri jalanan setapak yang ada di sepanjang aliran air, untuk kembali ke gerbang utama.

EVY_3321
buih putih yang menyertai air hijau toskanya menambah catik tempat ini
EVY_3317
cantik, cantik, cantik!

Di sepanjang rute pulang, mata saya masih disuguhi dengan indahnya air hijau toska yang mengalir tenang. Beberapa pengunjung terlihat mencoba untuk berenang. Sementara saya, cukup mengabadikan pemandangan yang saya lihat melalui lensa kamera.

EVY_3314
semua tempatnya indah……

Perjalanan pulang, dengan jarak yang sama, saya tempuh lebih lama daripada rute berangkat. Itu karena saya lebih sering berhenti untuk memotret dan menikmati pemandangan air hijau toska yang menurut saya sangat cantik. Dan rasa-rasanya, kamera saya tidak pernah puas untuk mengabadikan keindahan dan kecantikan yang terpampang di depan mata.

jalan setapak di sepanjang aliran air
tangga batu yang ada di sepanjang jalan setapak
EVY_3288
tempatnya sangat fotogenic
EVY_3297
pengunjungnya ramai….

Di ujung jalanan setapak menuju pintu keluar, kita akan menemukan Tat Kuang Si Bear Rescue Center. Semacam lokasi penangkaran beruang. Beberapa ekor beruang hitam, besar, terlihat di area itu. Area ini dibatasi dengan pagar kawat tinggi. Di dalam area terdapat beberapa kolam dan tempat beristirahat bagi beruang yang terbuang dari kayu.

Tat Kuang Si Bear Rescue Center
di setiap kandang, dilengkapi dengan kolam untuk Beruang berendam
area kandang yang luas memberikan kebebasan bagi Beruang untuk bergerak
leyeh-leyeh sambil berjemur? boleh bangeeeetttt…..
Damm….
EVY_3327
bagi pengunjung yang ingin berdonasi untuk penyelamatan beruang, bisa melakukannya di sini

Saya pun akhirnya melangkah melewati gerbang dan meninggalkan area Kuang Si Waterfall Park. Beberapa teman memutuskan untuk makan siang (yang terlambat) di sini, namun karena setelah saya lihat-lihat, ternyata semua warung yang ada di lokasi ini menyajikan makanan non halal, saya memutuskan hanya minum air kelapa saja, karena kebetulan saya masih menyimpan sebatang coklat di tas, lumayan untuk mengganjal perut sampai menemukan makanan halal nanti.

EVY_3339
warung-warung yang terdapat di sepanjang jalanan menuju gerbang Kuang Si Waterfall
EVY_3341
beraneka suvenir dan peralatan rumah tangga khas Laos juga banyak dijual di sekitar area Kuang Si Waterfall Park

Dari Kuang Si Waterfall, saya dan teman-teman kembali ke penginapan, istirahat sebentar, sambil menunggu malam untuk melihat night market yang ada di Kota Luang Phrabang ini.

Malamnya, saya dan teman-teman akhirnya mengunjungi night market yang ada di sepanjang jalan Sisavangvong menuju pusat kota (Jalan Settathilat). Pasar malam ini mulai buka pada pukul 5 sore hingga pukul 11 malam. Di pasar malam ini kita akan menemukan berbagai macam barang seperti pakaian, keramik, beraneka ragam barang yang terbuat dari bambu, lampu, selimut, suvenir, scarf, kain tradisional Laos, dan masih banyak lagi. Tak ketinggalan beberapa  jenis makanan dan minuman khas yang hanya ada di pasar malam.

EVY_3484
aneka kain tradisional yang dijual di night market dan morning market
EVY_3482
barang-barang yang dijual di night market sama dengan barang-barang yang dijual di morning market
EVY_3479
produk tradisional yang dijual di night market dan morning market

Saya sangat menikmati berkeliling di area night market ini. Melihat beraneka rupa produk kerajinan dari Laos, dan berinteraksi dengan penduduk lokal. Beraneka macam suvenir terlihat cantik, disusun dengan warna yang beraneka rupa, tambah cantik dengan siraman sinar lampu yang memendarkan aneka warna di sekitarnya.

Di night market ini, saya mencoba jus buah yang sangat yummy. Dengan uang 10,000 Kip, saya mendapatkan segelas besar jus Mangga yang kental dan manis. Dan malam itu, saya berhasil menghabiskan 2 gelas besar jus Mangga!

aneka macam buah yang dijual di pasar
warna-warni, segar dilihatnya

Di night market ini juga, saya menemukan penjual makanan “all you can eat” yang menawarkan harga sebesar 10,000 Kip untuk semua makanannya. Jadi, sebanyak apapun kita mengambil makanan, mulai dari nasi, sayur, lauk dan buah, baik dimakan di tempat maupun dibungkus, semua dihargai 10,000 Kip untuk 1 transaksi. Tapi, karena harganya yang sangat murah ini, makanan yang dijual pun cepat habis. Malam itu saya hanya melihat beberapa jenis sayur dan gorengan yang tersisa.

Sepulang dari night market, saya mencoba mencicipi martabak yang dijual oleh orang Bangladesh. Rasanya lumayan enak, dan yang pasti halal.

Rencananya malam ini saya dan teman-teman ingin mencoba restoran halal “Nisha” yang ada di Luang Phrabang ini. Namun apa daya, karena sudah kemalaman, dan restorannya ternyata sudah tutup, akhirnya saya harus cukup puas dengan buah dan martabak yang saya beli.

Malam ini saya berusaha untuk istirahat dengan baik, karena besok subuh, saya akan melihat ritual rutin dan khas yang ada di kota ini. Yes, Tak Bat atau yang dikenal dengan nama Alms Giving Ceremony.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Pukul 5 pagi, saya mulai berjalan menuju area night market semalam, karena itu adalah rute yang akan dilalui oleh para Monks. Kota Luang Phrabang masih gelap, lampu-lampu masih menyala dengan terangnya, namun jalan-jalannya sudah lumayan ramai. Penduduk lokal yang akan mengikuti ritual Tak Bat berbaur dengan para pelancong yang ingin menyaksikan ritual tersebut.

EVY_3342
suasana subuh di Luang Phrabang, menunggu prosesi Tak Bat
EVY_3352
penduduk lokal dan pengunjung mulai mencari lokasi yang strategis untuk mengikuti prosesi Tak bat
EVY_3353
langit masih gelap dan lampu-lampu jalan masih menyala

Saya menunggu di pojokan jalan, yang merupakan rute utama dari ritual tersebut. Para penduduk lokal mulai menggelar tikat di sepanjang trotoar yang akan dilewati oleh para Monks, menyiapkan nasi ketan di dalam tempat bambu, dan berbagai makanan lainnya yang akan mereka berikan.

EVY_3369
para Monks, selain mendapatkan donasi makanan, mereka juga memberikan donasi bagi masyarakat yang membutuhkan
EVY_3378
ingat “Do’s” & “Don’ts” di dalam mengikuti prosesi Tak Bat
EVY_3386
berbaris rapi, berjalan dalam diam

5 menit menuju pukul 6 pagi, beberapa Monks terlihat mulai keluar dari temple dan berjalan untuk menjalani ritual Tak Bat. Berjalan dalam diam, dalam barisan rapi, sambil menggendong mangkok besar berbahan logam yang ditempatkan pada sebuah tempat anyaman dengan tali panjang yang disandang di bahunya, para Monks mulai menyusuri jalanan yang ada di Kota Luang Phrabang.

penduduk lokal bersiap untuk memberikan donasi makanan untuk para Monks
EVY_3351
nasi ketan yang akan diberikan kepada para Monks, disimpan di tempat khusus ini
EVY_3348
pengunjung berbaur dengan penduduk lokal untuk mengikuti prosesi Tak Bat
EVY_3374
tertib, hening

Masyarakat dan pelancong yang akan memberikan makanan – biasa disebut almsgivers – akan duduk atau bertumpu pada lututnya saat memberikan makanan yang telah mereka persiapkan. Semua aktivitas ini dilakukan dalam diam. Para Monks berjalan dalam kondisi sambil bermeditasi, dan masyarakat serta pengunjung tersebut menghormati apa yang dilakukan oleh para Monks.

EVY_3395
prosesi Tak Bat berlangsung sampai dengan (kurang lebih) pukul 7 pagi

 

Beberapa aturan “Do’s” dan “Don’ts” yang harus diperhatikan saat mengikuti Alms Giving:

  1. Jangan menjadikan ritual Alms Giving sebagai obyek foto. Apabila ingin mengabadikan ritual tersebut, usahakan tindakan yang dilakukan tidak mengganggu jalannya ritual (usahakan menggunakan lensa tele agar kegiatan memotret tidal mengganggu ritual mereka);
  2. Bagi pendatang yang hanya ingin melihat ritual tersebut, jagalah jarak agar tidak mengganggu;
  3. Gunakan pakaian yang sopan. Sebaiknya gunakan pakaian yang dapat menutup bagian bahu, perut dan kaki dengan baik. Apabila ingin mengikuti ritual dengan menjadi Almsgivers, lepaskan sepatu anda;
  4. Jangan menggunakan flash kamera saat memotret. Kilatan flash bisa mengganggu konsentrasi para bhiksu dan kesakralan ritual;
  5. Jangan sekali-kali memposisikan kepala kita lebih tinggi dari kepala para bhiksu.

 

Sedangkan apabila kita ingin berpartisipasi sebagai Almsgivers, perhatikan hal-hal berikut ini:

  1. Jangan membeli makanan dari penjual yang berada di sekitar lokasi. Sebaiknya persiapkan makanan itu sendiri, atau mintalah bantuan orang hotel/penginapan untuk menyiapkannya;
  2. Jangan melakukan eye contact dengan para bhiksu;
  3. Jangan menyentuh para bhiksu. Tariklah tangan anda secepatnya setelah meletakkan makanan ke dalam mangkok yang dibawa oleh pada bhiksu;
  4. Tundukkan pandangan untuk menghormati para bhiksu.

 

Selesai melihat ritual Tak Bat, saya dan teman-teman berinisiatif untuk sedikit meng-explore Kota Luang Phrabang sambil menunggu waktu check out dari penginapan dan meneruskan perjalanan kami. Kami memasuki area Royal Palace Museum, but unfortunately, karena masih pagi, kami hanya bisa berkeliling di halamannya saja. Di seberang Royal Palace Museum, berdiri Mount Phousi, sebuah tempat yang menjadi tujuan pelancong untuk menikmati terbitnya matahari di Luang Phrabang.

EVY_3410
suasana pagi setelah mengikuti prosesi Tak Bat
EVY_3414
aktivitas pagi di Luang Phrabang mulai terlihat setelah pelaksanaan prosesi Tak Bat
aneka makanan kecil berbahan dasar nasi ketan yang dijual oleh penduduk lokal
EVY_3415
para Monks dan transportasinya
Monks memulai aktivitasnya pagi itu
turis mancanegara pun menikmati suasana pagi di Luang Phrabang
EVY_3442
Royal Palace Museum
EVY_3445
salah satu bangunan dengan arsitektur yang khas di lingkungan Royal Palace Museum
detil yang ada di salah satu bangunan yang ada di area Royal Palace Museum
EVY_3420
salah satu sisi yang dijadikan tempat ibadah bagi penduduk lokal
the details….

Saya sangat menikmasi suasana pagi di Luang Phrabang. Udara yang segar, dengan kondisi lalu lintas yang tidak seberapa ramai serta senyum merekah dari penduduk lokal yang menyapa para pelancong hampir di setiap sudut kota. And honestly, I’m falling in love with Luang Phrabang. Suasana kotanya membuat betah.

pagi yang masih sepi, dan kursi-kursi yang tersedia di sepanjang jalan
EVY_3446
pemandangan ke area Royal Palace Museum dari Mount Phousi
EVY_3450
salah satu penduduk lokal yang menjual dagangan di area Mount Phousi
which way to go?
EVY_3477
suasana pagi di penyeberangan Sungai Mekong
EVY_3473
kapal ferry yang menjadi sarana transportasi di Sungai Mekong

Dari beberapa kota di Laos yang sudah saya singgahi, bagi saya, Luang Phrabang adalah kota yang sangat cantik, romantis, dan feels like a home. Next time, saya harus bisa lebih meng-explore kota ini sampai ke sudut-sudutnya.

ini cemilan dari nasi ketan yang dimasukkan ke dalam bambu, rasanya manis dan pulen
penampakan dalamnya seperti ini…..

Perjalanan saya di Luang Phrabang ditutup dengan memilih beberapa kartu pos yang kemudian saya kirimkan ke beberapa orang teman di Indonesia. Hopefully, they will come to Luang Phrabang, someday!

IMG_3949
La Poste! mengunjungi tempat ini di negara orang, rasanya excited!
IMG_3947
i sent them to you, with love……

4 Replies to “Luang Phrabang, Kota yang Membuat Saya Jatuh Cinta”

  1. Susan @pergidulu says: July 7, 2017 at 7:31 pm

    Ahh…always love Luang Prabang. Jadi kangen 😉

    1. Evy Priliana Susanti says: July 11, 2017 at 10:30 am

      Iya, bener San. Ini kota cakep banget dan bikin kangen. Pengen ke sana lagi….. 🙂

  2. DEVI SUSANTI says: September 27, 2018 at 6:14 pm

    Apakah yang membuat admin tertarik untuk datang ke sana?
    Terimakasih

    1. Evy Priliana Susanti says: September 28, 2018 at 10:44 am

      Hai Devi,
      Yang membuat saya ingin ke Luang Phrabang adalah….. rasa penasaran! Penasaran dengan kota yang menurut beberapa teman yang telah berkunjung ke sana sangat cantik. Dan ternyata emang benar, kotanya cantik dan menyenangkan 🙂

Leave a Reply to DEVI SUSANTI Cancel reply

Your email address will not be published.

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">html</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.