Rencana awal saya, setelah selesai mengunjungi Cheoung Ek – The Killing Field, perjalanan akan dilanjutkan dengan mengunjungi Tuol Sleng Genocide Museum, karena 2 lokasi ini saling terhubung dengan tragedi kemanusiaan yang pernah terjadi di Kamboja. Namun karena ternyata efek dari mengunjungi, mendengarkan dan membaca kisah tentang Cheoung Ek begitu membekas, dan badan saya pun rasanya sudah tidak sanggup apabila harus melihat dan mendengarkan kisah sedih lainnya. Akhirnya rencana mengunjungi Tuol Sleng Genocide Museum saya tunda hingga keesokan harinya.
Pagi itu, saat saya tiba di depan loket Tuol Sleng untuk membeli tiket masuk seharga USD 12, pengunjung belum terlalu ramai. Saya hanya melihat beberapa bule yang juga membeli tiket. Seperti saat mengunjungi Cheoung Ek, di sini pun saya memutuskan untuk menyewa audio seharga USS 3 yang akan menceritakan secara detil kisah yang ada di Tuol Sleng.
Tuol Sleng merupakan museum yang dulunya merupakan “Kantor Keamanan 21 (S-21)” yang dipergunakan oleh rezim Khmer Rouge. Berlokasi di St.113, Boeung Keng Kang III, Boeung Keng KangPhnom Penh, Cambodia, Tuol Sleng berjarak sekitar 2.1 km dari pusat kota Phnom Penh, dan hanya memerlukan sekitar 8 menit berkendara untuk mencapainya.
Dulu, Tuol Sleng berfungsi sebagai fasilitas rahasia untuk penahanan, interogasi, penyiksaan dan pemusnahan mereka yang dianggap “musuh politik” oleh rezim yang berkuasa. Para tahanan terdiri dari berbagai kalangan, terutama mereka yang dianggap sebagai kalangan berpendidikan yang akan membahayakan kekuasaan rezim. Untuk menghindari kemungkinan balas dendam, seluruh keluarga para tahanan itu juga ikut ditahan atau (maaf) dilenyapkan.
Baru saja kaki saya melangkah memasuki kawasan Tuol Sleng, hawa dingin, suram dan sedih begitu kencang menyeruak. Bangunan-bangunan tua bertingkat bewarna kusam dengan ubin kotak-kotak suram yang seragam semakin menambah kesan “mati” di sana. Bangunan-bangunan bertingkat yang ada di sana hampir semuanya merupakan bekas penjara. Seperti di Cheoung Ek, di Tuol Sleng pun setiap lokasi yang memiliki kisah masing-masing diberi nomor untuk memudahkan pengunjung saat mendengarkan penjelasan melalui audio.
Dari peta lokasi, saya memulai dari Poin 1. Ini adalah lokasi awal mulanya kisah mimpi buruk kemanusiaan di Kamboja. Selanjutnya saya menuju Poin 2 yang merupakan makam bagi 14 korban tidak dikenal yang menjadi korban kekejaman Khmer Rouge pada periode 17 April 1975 – 7 Januari 1979. Poin 3 dikenal sebagai lokasi penderitaan dan kematian. Dan bangunan tua 3 lantai di depannya dikenal sebagai Bangunan A, merupakan penjara dan tempat menginterogasi. Saya tidak menghitung ada berapa kamar di Bangunan A, dan tidak juga berusaha untuk naik ke lantai 2 dan 3. Rasanya saya tidak sanggup mendengarkan audio dan melihat sisa-sisa kekejaman yang masih tertinggal di sana.
Di ujung halaman terdapat bangunan tua 3 lantai juga yang dikenal sebagai Bangunan B. Di dalam Bangunan B, tersimpan berbagai macam barang peninggalan berupa foto-foto peimpin rezim, foto anggota S-21, mangkok-mangkok, tanda pengenal (dulu tanda pengenalnya berupa nomor, sebagai pengganti nama), foto orang asing yang menjadi korban, serta alat-alat yang digunakan untuk penyiksaan. Di bangunan ini, demi menghormati mereka yang telah tiada, tidak diperkenankan untuk mengambil foto.
Di depan Bangunan B terdapat tiang gantungan (Poin 6), yang merupakan lokasi penyiksaan bagi para tahanan. Di sini, para tahanan akan digantung dengan tangan yang terikat erat di belakang badannya. Di bawah tiang tersebut terdapat 3 tempayan air besar yang berfungsi sebagai tempat untuk merendam para tahanan yang pingsan saat digantung.
Bangunan C menurut saya adalah bangunan yang paling mengerikan. Bentuknya serupa persis dengan bangunan A dan B, namun di seluruh terasnya dipasang jeruji kawat, dan hanya ada pintu kecil yang berfungsi sebagai akses untuk masuk/keluar. Ternyata bangunan ini dulu difungsikan sebagai penjara dengan tingkat penyiksaan yang paling kejam. Jeruji kawat itu dipasang untuk mencegah para tahanan bunuh diri dengan cara terjun/menjatuhkan diri dari lantai 2 atau 3 karena tidak sanggup menahan siksaan yang didapat.
Di ujung halaman terdapat Bangunan D yang isinya serupa dengan Bangunan B, peninggalan dari rezim dan para korban. Mayoritas peninggalan yang disimpan di Bangunan D adalah foto-foto yang menunjukkan apa yang terjadi di sana saat rezim berkuasa. Foto-foto para tahan, hingga ke sisa tulang-belulang yang ditemukan, juga berbagai macam peralatan yang digunakan saat penyiksaan.
Di depan Bangunan D terdapat monumen memorial bagi para korban tragedi kemanusiaan di Kamboja.
Selesai berkeliling, melihat dan mendengarkan audio tentang kejadian masa lalu yang sangat di luar nalar ini, badan saya terasa sangat lelah. Rasanya capek banget. Akhirnya saya mencari bangku yang banyak disediakan di sekitar halaman Tuol Sleng untuk mengatur napas dan emosi. Menarik napas panjang sambil memejamkan mata, berusaha mengeluarkan rasa sesak. Ternyata, di balik cerita Kamboja yang telah menjadi negara berkembang, terdapat cerita kemanusiaan yang sangat pilu.
Bagi yang ingin berkunjung ke Tuol Sleng, museum ini buka setiap hari mulai pukul 8 pagi hingga 5 sore. Seperti Cheoung Ek, apabila ingin berkunjung ke sini, pergunakan pakaian yang sopan, jangan berisik dan dilarang merokok di seluruh kawasannya.