Tidore #6 – Tanjung Mareku, Tempat Pengibaran Bendera Merah Putih Pertama Kali di Tidore

IMG_9794

 

Mungkin tidak banyak yang mengetahui sejarahnya saat Bendera Merah Putih pertama kali berkibar di langit Kepulauan Maluku, tepatnya di Tidore. Saya pun menemukan kisah itu secara tidak sengaja saat sedang browsing di Internet. Dari informasi yang sangat sedikit itu, saya justru merasa tertarik untuk melihat langsung tempat yang sangat bersejarah bagi Indonesia, khususnya Tidore.

Mobil yang saya tumpangi menyusuri jalanan aspal Kota Tidore menuju Tanjung Mareku sore itu, setelah saya mengunjungi sebuah desa indah di kaki Gunung Kie Marijang, Desa Gurabunga. Kira-kira 50 menit berkendara, akhirnya saya tiba di sebuah jalan yang cukup sepi (atau malah sepi banget ya?) dan menemukan monumen kecil dengan sebuah tiang bendera putih dan Bendera Merah Putih di puncaknya. Bentuknya cukup kecil, hanya sekitar 2 x 2 meter.

Dari pinggir jalan yang saya lewati, letak monumen ini sedikit lebih tinggi, sekitar 1 meter. Ada undakan kecil di sisi kanan dan kirinya. Bagian dasarnya dikeramik bermotif dengan dasar warna merah muda. Tiang bendera yang terbuat dari semen berdiri tegak sekitar 3 meter di atas alas bulat bersusun 2. Sebuah Bendera Merah Putih yang juga terbuat dari semen terlihat di ujung tiang. Di bagian belakang terlihat semacam dinding dari bata merah yang membatasi area monumen dari bukit kecil di belakangnya. Sebuah plakat bertuliskan MONUMEN dan lambang bendera Merah Putih terpasang di depan dinding bata merah itu. Sangat sederhana, namun tak sesederhana kisahnya di masa kemerdekaan dulu.

Sehari setelah peringatan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang pertama, yaitu tanggal 18 Agustus 1946, akhirnya Sang Saka Merah Putih bisa berkibar di Tidore. Informasi kemerdekaan Republik Indonesia memerlukan waktu 1 tahun untuk sampai ke bumi Kie Raha karena keterbatasan dan sulitnya informasi pada masa itu. Inisiatif pemuda-pemuda di sana untuk mengibarkan Bendera Merah Putih di langit Indonesia tercinta ini akhirnya terwujud. Hari itu, Minggu, 18 Agustus 1946, waktu baru menunjukkan pukul 4 subuh ketika perlahan-lahan Bendera Merah Putih mulai berkibar di sebatang tiang sederhana yang terbuat dari bambu. Di bawah tiang bambu tersebut tertulis sebaris kalimat yang berbunyi “Barang siapa yang berani menurunkan bendera ini, maka nyawa diganti nyawa”. Pengibaran Bendera Merah Putih itu sama artinya dengan memproklamasikan bahwa Tidore dan Kepulauan Maluku menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bendera Merah Putih yang dikibarkan saat itu pun sangat istimewa. Apabila di Jawa kita mengenal ibu Fatmawati yang menjahit bendera untuk dikibarkan saat Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, maka di Tidore ada ibu Amina Sabtu (dikenal dengan nama Nenek Na atau Ibu Bandera) yang dikenal juga sebagai Fatmawati-nya Tidore atau Fatmawati dari Indonesia Timur. Nenek Na inilah yang berjasa menjahit Bendera Merah Putih yang dikibarkan di Tanjung Mareku pada tanggal 18 Agustus 1946.

Inisiatif menjahit Bendera Merah Putih itu dilakukan oleh Nenek Na setelah beliau pulang dari Ternate dan mendengar berita mengenai Kemerdekaan Republik Indonesia serta mengetahui bahwa benderanya berwarna merah dan putih. “Orang di Maluku Utara mengetahui bahwa Indonesia telah merdeka pada 17 Agustus 1945, baru pada 1946, karena saat itu di Maluku Utara sarana informasi sangat sulit untuk mengetahui perkembangan yang terjadi di Jakarta”, tutur Nenek Na. Setibanya di Tidore, Nenek Na kemudian membuat bendera tersebut. Namun karena keterbatasan kain dan benang, akhirnya Nenek Na membuat bendera Merah Putih dengan menggunakan 2 helai kain, sehelai kain merah dan sehelai kain putih penutup peti yang digunakan di dalam ritual Salai Jin. Kedua helai kain itu kemudian dijahit menggunakan serat daun Nanas.

Awalnya, rencana pengibaran Bendera Merah Putih akan dilakukan di Jembatan Residen, Ternate. Namun ketatnya penjagaan tentara Belanda di sana, membuat rombongan pemuda dari Indonesia Timur ini mengurungkan niat untuk melakukan pengibaran bendera di lokasi tersebut. Adalah Abdullah Kadir (sepupu Nenek Na) akhirnya mencari lokasi pengganti untuk mengibarkan Bendera Merah Putih tersebut. Kemudian dipilihlah Tanjung Mareku sebagai tempat untuk mengibarkan bendera merah Putih yang pertama kalinya di Tidore. Saat peristiwa heroik itu terjadi, usia Nenek Na baru 19 tahun. Abdullah Kadir dan pemuda-pemuda kemudian mengibarkan Bendera Merah Putih di sana.

Berita pengibaran Bendera Merah Putih di Tanjung Mareku akhirnya sampai ke telinga tentara Belanda. Sepasukan tentara Belanda mendatangi lokasi pengibaran bendera, namun tidak ada yang berani menurunkan Bendera Merah Putih yang berkibar. Belanda akhirnya mencari dan menangkap pemuda-pemuda yang dicurigai sebagai penggerak dan inisiator peristiwa tersebut, termasuk Abdullah Kadir dan Nenek Na.

Setelah pengibaran Bendera Merah Putih tersebut, Tidore dan Kepulauan Maluku secara resmi menyatakan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini sekaligus mematahkan argumen Belanda dan Jepang yang hanya mengakui secara de facto kemerdekaan Republik Indonesia hanya meliputi Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan.

Bergabungnya Tidore dan Kepulauan Maluku ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia juga tidak terlepas dari usaha Sultan Tidore saat itu, Sultan Zainal Abidin Syah yang mendukung Indonesia Timur bergabung dengan NKRI. Saat konferensi Malino pada tahun 1946, Sultan Zainal Abidin Syah diberikan tiga opsi, (1) bersama Irian mendirikan negara sendiri, (2) bergabung dengan Negara Serikat Indonesia Timur, dan (3) bergabung dengan NKRI. Sultan Zainal Abidin Syah memilih untuk bergabung dengan NKRI.

Untuk memperingati peristiwa yang sangat bersejarah tersebut, pada tahun 2009 dibuatlah monumen seperti yang bisa dilihat saat ini di lokasi pengibaran Bendera Merah Putih pertama kalinya di Tidore dan kepulauan Maluku.

Saat ini Nenek Na masih tinggal di rumahnya yang dulu pernah menjadi tempat beliau menjahit Bendera Merah Putih yang pertama kali dikibarkan di Tidore, yaitu di RT 08/RW 04 Kelurahan Mareku, Kecamatan Tidore Utara, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara. Sedangkan Abdullah Kadir telah meninggal di tahun 2009.

IMG_9817
asli, artikel ini baru selesai ditulis setelah 3 hari. Dan setiap lanjut nulis artikel ini, badan selalu merinding dan mata mbrebes mili…

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.