Tenun Sumba, Pesona Helaian Benang dari Timur

EVY_4264

Siapa yang tidak mengenal tenun? Kain tradisional dari berbagai pelosok Indonesia, dengan motif yang sangat khas namun beragam. Dikerjakan secara manual, menggunakan peralatan sederhana dan tanpa mesin. Keindahan tenun untuk saya pribadi sangat menarik. Setiap daerah memiliki ciri khas motif  dan proses pembuatannya masing-masing. Kali ini saya akan bercerita tentang tenun Sumba.

EVY_4260
benang-benang katun, cikal bakal tenun Sumba
EVY_4257
proses pemasangan dan penghitungan benang katun putih sebagai awal pembuatan tenun Sumba
EVY_4258
Rambu (sebutan untuk wanita Sumba) yang sedang bekerja untuk membuat tenun

Tenun Sumba dibuat dari benang-benang kapas, diuntai satu-persatu, helai demi helai, diberi ruh dalam setiap helai benangnya sehingga menjadi kain tenun yang indah. Menenun bagi kaum wanita di Sumba merupakan ibadah, untuk memuji kebesaran Tuhan yang diwujudkan dalam motif-motif bentuk hewan, alam dan benda-benda yang lekat dalam kehidupan sehari-hari.

EVY_4266
proses pembuatan pola/motif tenun Sumba
EVY_4267
salah satu motif tenun Sumba, menurut Umbu (sebutan untuk lelaki Sumba) penenun, motif ini berkhasiat untuk “menolak peluru/senjata”
EVY_4265
ini salah satu motif pesanannya Dian Sastro lho….

Tenun Sumba umumnya dibuat menggunakan pewarna alami yang berasal dari akar pohon Mengkudu dan daun Nila. Akar pohon Mengkudu digunakan untuk menghasilkan warna merah alami yang biasanya menjadi warna dasar pada tenun Sumba. Kemudian daun Nila, untuk menghasilkan warna biru yang juga menjadi warna dominan pada tenun Sumba. Motif pada tenun Sumba dibuat dengan mengikat benang-benang katun putih dengan menggunakan daun Gewang – sejenis daun Palem (saat ini terkadang benang katun diikat dengan menggunakan tali rafia untuk menggantikan daun Gewang).

EVY_4263
pewarna alami yang digunakan pada pewarnaan tenun Sumba – akar pohon Mengkudu dan daun Nila
EVY_4247
akar pohon Mengkudu
EVY_4249
proses penumbukan akar pohon Mengkudu untuk dijadikan pewarna tenun Sumba
EVY_4248
akar pohon Mengkudu yang telah ditumbuk dan siap digunakan sebagai pewarna kain tenun
EVY_4251
akar pohon Mengkudu yang telah ditumbuk kemudian dicampur dengan air untuk menghasilkan warna merah yang akan digunakan sebagai pewarna kain tenun
EVY_4261
proses pewarnaan benang tenun dengan warna merah dari akar pohon Mengkudu
EVY_4262
benang tenun yang telah diikat sesuai motif yang diinginkan kemudian direndam di dalam cairan pewarna

Motif tenun Sumba bisa dikelompokkan menjadi 2, yaitu motif yang diambil dari flora dan fauna, serta motif yag diambil dari dunia manusia itu sendiri.

EVY_4243
proses penjemuran benang tenun setelah diwarnai
EVY_4256
lamanya penjemuran benang tenun sangat tergantung pada panas dan cuaca
EVY_4246
penjemuran benang tenun yang telah selesai diwarnai dan diberi Kemiri

Proses menenun kain Sumba memakan waktu yang cukup panjang. Mulai dari helaian benang katun putih yang diatur dan digulung pada alat khusus yang terbuat dari kayu, kemudian dihitung satu-persatu untuk keperluan pembuatan motifnya. Benang katun putih yang sudah dihitung kemudian dibuatkan pola dengan mengikat benang tersebut menggunakan daun Gewang atau tali rafia. Polanya bermacam-macam dengan berbagai artinya masing-masing. Setelah diikat sesuai pola yang diinginkan, benang kemudian dicelup pada pewarna buatan yang telah disiapkan sesuai pola yang diinginkan. Benang yang telah dicelup pewarna kemudian dijemur agar warna yang yang dihasilkan menjadi lebih hidup. Proses penjemuran benang yang telah diwarnai memakan waktu 1-2 bulan tergantung panas dan cuaca. Setelah itu, benang akan direndam menggunakan kemiri agar warnanya tahan lama. Benang kemudian dijemur kembali hingga kering. Setelah benang benar-benar kering, barulah ditenun sesuai motif yang telah dibuat. Saat menenun, penenun akan mengoleskan ubi kayu/singkong yang telah ditumbuk dan dicairkan ke helaian benang. Hal ini untuk memberikan efek licin saat menenun.

EVY_4244
proses penjemuran benang tenun yang telah selesai diwarnai
EVY_4245
proses penjemuran benang memakan waktu 1-2 bulan, tergantung panas dan cuaca

Perlu waktu berbulan-bulan untuk menghasilkan kain tenun dengan motif yang bagus. Sebagai gambaran, sehelai sarung tenun dengan ukuran 65 x 120 cm dibuat dalam waktu 6 bulan. Untuk kain tenun panjang ukuran 65 x 200 cm, dalam 1 tahun bisa dihasilkan 4 helai kain. Kebayang kan bagaimana sulitnya proses yang harus dilalui untuk menghasilkan sehelai sarung atau kain tenun yang indah?

EVY_3948
dan inilah beberapa hasil tenun Sumba

Apabila telah menjadi sarung atau kain, penenun biasanya menjual produk mereka kepada pedagang lokal. Ada juga yang membuka galeri pribadi di rumahnya masing-masing. Harga untuk sehelai tenun Sumba bermacam-macam, tergantung ukuran, jenis pewarna yang digunakan, motif dan kualitasnya. Semakin bagus kualitas tenun maka semakin mahal juga harganya.

IMG_8263
dan ini “bukti cinta” saya untuk tenun Sumba

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *