Tag Archives: Traveling

Vang Vieng, Negeri Dongeng di Balik Pegunungan Karst

EVY_3179

 

Mendengar nama Vang Vieng, otak saya berputar, mencoba mengingat-ingat pelajaran Geografi semasa sekolah dulu. Di mana kah kota ini? Dan tanpa berpikir untuk kedua kalinya, saya mengiyakan ajakan teman-teman untuk mengeksekusi tiket ke Laos, di mana Vang Vieng berada. Dan setelah berkali-kali browsing, hati saya langsung tertambat dengan pemandangan kota Vang Vieng yang saya temukan di Internet. Terbayang sebuah kota mungil di Laos bagian tengah yang berada di pinggiran Sungai Nam Song, dengan ritme kehidupan yang tidak terlalu cepat. I’m falling in love with Vang Vieng.

IMG_3726
gimana bisa nolak untuk jatuh cinta pada pemandangan seperti ini?

 

Penantian selama 1 tahun akhirnya berbuah pengalaman yang tidak akan terlupakan. Setelah mengunjungi Vientiane, saya dan teman-teman akhirnya melanjutkan perjalanan ke Vang Vieng. Karena jumlah kami yang cukup banyak (8 orang), saya dan teman-teman memutuskan untuk menyewa mini van. Biaya sewa mini van dengan rute Vientiane – Vang Vieng sebesar $100. Dan setelah berkendara selama kurang lebih 3-4 jam, akhirnya kami tiba di kota yang berjarak 155 kilometer di sebelah Utara Vientiane.

EVY_3163
perjalanan menuju Vang Vieng

 

 

Sabaidi Vang Vieng

Begitu kaki menjejak di kota Vang Vieng, yang saya rasakan adalah kedamaian. Senyum tulus selalu terlihat di setiap wajah penduduk yang berpapasan dengan kami. Ucapan “sabaidi” terdengar berkali-kali. Sabaidi adalah sapaan “hello” dalam bahasa setempat.

EVY_3193
Sabaidi Vang Vieng

 

EVY_3169
rumah saya 2 hari ini

 

EVY_3166
pemandangan sepanjang Sungai Nam Song dari balkon penginapan (The Elephant Crossing Hotel)

 

EVY_3197
pegunungan karst, kabut putih, sungai, dan pepohonan hijau, menjadi pemandangan cantik di Kota Vang Vieng

 

Sebelum menjelajahi kota ini, saya terlebih dahulu singgah di penginapan yang akan menjadi rumah saya selama 2 hari ke depan. Saya menginap di The Elephant Crossing Hotel dengan rate sebesar Rp 530,000 per malam. Hotel ini terletak di Ban Viengkeo, Vang Vieng Riverfront, Vang Vieng, persis di tepi Sungai Nam Song. Sebenarnya banyak sekali penginapan di Vang Vieng yang memiliki harga lebih murah, tetapi saya menginginkan sebuah kamar dengan pemandangan persis seperti yang saya lihat di dalam sebuah foto hasil browsing di Internet. Kamar dengan pemandangan pegunungan karst di depannya. Yes!

IMG_3673
pemandangan dari balkon kamar hotel…. Vang Vieng, I love u!!

 

Melihat pemandangan dari depan balkon kamar, keinginan untuk berkeliling melihat-lihat kota sempat sedikit terpinggirkan. Mata saya seolah terhipnotis dengan pemandangan sederetan pegunungan karst yang terbentang sejauh mata memandang. Dilengkapi dengan foreground aliran Sungai Nam Song dengan beberapa perahu yang hilir mudik melewatinya. Sawah hijau terbentang tidak ketinggalan ikut menambah indahnya scenery di depan mata saya.

 

IMG_3738
pemandangan Vang Vieng dari halaman hotel

 

EVY_3195
sejauh mata memandang….. pemandangannya bikin semakin jatuh cinta

 

Setelah memuaskan mata dengan pemandangan yang sangat indah, serta berkali-kali menekan tombol shooter di kamera, akhirnya saya melangkahkan kaki keluar dari penginapan. Menapaki jalanan tanah bercampur beton menuju jalan utama kota Vang Vieng.

Di sepanjang jalan utama, berderet-deret toko makanan, pakaian, café, pub, aksesoris, tour & travel, serta penginapan dengan mudah ditemukan. Dan karena Vang Vieng merupakan salah satu kota tujuan backpacker dari seluruh dunia, di sepanjang jalan banyak terlihat turis dari berbagai negara.

Sebenarnya, cara paling asyik mengelilingi Kota Vang Vieng adalah dengan menggunakan sepeda atau motor. Dan di sepanjang jalan, banyak yang menyewakan sepeda dengan harga 20,000 Kip/day atau motor seharga 50,000 Kip/day. Namun, saya memilih untuk berjalan kaki saja, karena lebih santai.

IMG_3750
yang badannya pegel-pegel…. monggo….

 

IMG_3696
suasana malam di Kota Vang Vieng

 

IMG_3698
salah satu restoran halal di Kota Vang Vieng

 

Sore menjelang malam itu saya habiskan dengan berkeliling Vang Vieng. Melihat aktivitas kayaking di sepanjang Sungai Nam Song, mencari tour operator yang menawarkan berbagai paket tour, mencoba masakan halal di Nazim Indian Food yang berada di salah satu ruas jalan, dan menikmati hingar-bingarnya kota dengan berbagai musik yang terdengar dari café dan pub yang banyak terdapat di sepanjang jalanan kota. Dan malam itu ditutup dengan kegiatan berdiam di balkon kamar sambil mengamati bayangan hitam deretan pegunungan karst yang terbentang di sepanjang sisi sungai.

 

IMG_3684
kayaking, sallah satu aktivitas outdoor yang menjadi kegiatan favorit turis di Vang Vieng

 

EVY_3239
menikmati senja di pinggir Sungai Nam Song, juga menjadi kegiatan favorit turis yang berkunjung ke Vang Vieng

 

EVY_3232
dan ini adalah deretan cafe terapung yang banyak terdapat di sepanjang tepian Sungai Nam Song

 

EVY_3234
naik hot air baloon di Vang Vieng? bisa banget……

 

EVY_3229
bersampan di Sungai Nam Song

 

Pagi menjelang, dan begitu membuka mata, di depan saya terbentang sebuah lukisan alam, indah, damai, dan misty. Pegunungan karst coklat hitam kehijauan terbentang, diselimuti kabut putih pekat dan selarik cahaya keemasan dari sisi Timur. Kota Vang Vieng bagaikan negeri dongeng yang dikelilingi oleh benteng kokoh. Dan pagi itu, saya berharap melihat sesosok pangeran berkuda putih yang keluar menerobos pekatnya gumpalan kabut pagi. Sepagi itu, aktivitas di Sungai Nam Song sudah dimulai, sampan-sampan terlihat hilir mudik, sebagian mengangkut warga lokal, dan sebagian lainnya mengangkut para turis yang ingin menikmati suasana pagi dengan menyusuri sungai.

EVY_3176
suasana pagi di Vang Vieng, bak di negeri dongeng

 

EVY_3187
pegunungan karst, sinar mentari pagi, langit biru dan kabut putih, perfect!

 

EVY_3195
siapa yang sanggup menolak keindahan seperti ini??

 

IMG_3703
I’m falling in love…. again.. again… again…

 

IMG_3737
sarapan sehat…..

Outdoor Activity di Vang Vieng

Hari ini, saya dan teman-teman akan mengikuti one day tour di Vang Vieng. Setelah semalam kami akhirnya memutuskan untuk untuk mengambil paket tour seharga 140,000 Kip (setara Rp 230,000) per orang yang meliputi aktivitas cave tubing, trekking ke Elephant Cave, kayaking di sepanjang Sungai Nam Song, dan berenang di Blue Lagoon. Paket tersebut sudah termasuk makan siang dengan menu nasi goreng seafood, pisang dan air mineral, plus guide untuk kegiatan kayaking.

IMG_3751
pagi di Kota Vang Vieng, menuju area Cave Tubing

 

IMG_3752
rute menuju lokasi Cave Tubing melewati terminal Kota Vang Vieng

 

IMG_3753
kota kecil yang tenang… hijau…

 

IMG_3755
dan ini… adalah jalan menuju lokasi Cave Tubing

 

Perjalanan dimulai ketika sebuah tuk tuk berukuran besar menjemput kami di penginapan. Tujuan pertama adalah kegiatan trekking menuju Elephant Cave dan cave tubing. Kami berangkat pukul 9 tepat, menuju lokasi cave tubing. Medan yang dilalui lumayan beragam, mulai dari jalanan aspal mulus, hingga jalanan tanah berbatu yang dipenuhi kubangan air. Setelah menempuh perjalanan sekitar 50 menit, akhirnya kami tiba di lokasi trekking.

EVY_3220
tuk tuk yang mengantarkan kami ber-adventure hari ini

 

EVY_3210
pemandangan di sepanjang jalan menuju lokasi cave tubing

 

IMG_3757
untuk mencapai lokasi cave tubing, kami harus melewati jembatan gantung

 

EVY_3216
jembatan gantung yang harus dilewati untuk mencapai lokasi cave tubing

Turun dari tuk tuk kami disambut dengan pemandangan sawah dan pegunungan hijau. Trekking menuju lokasi tubing memakan waktu sekitar 30 menit. Melewati pematang yang kanan kirinya berupa hamparan sawah menghijau. Meniti sebuah jembatan gantung yang terbentang di atas sungai yang cukup lebar dengan aliran airnya yang cukup deras membelah bebatuan di dasarnya.

EVY_3214
gerbang Thamxang Xayyalam Temple

Setibanya di lokasi cave tubing, suasana sangat ramai. Beberapa bangunan kayu, terbuka, dengan sederetan meja dan bangku panjang terbuat dari kayu tampak penuh oleh pengunjung yang sebagian besar adalah turis dari manca negara. Saya dan teman-teman menempati sebuah meja dan bangku panjang yang berada di bagian tengah, persis di tepi pagar. Dari tempat itu, saya bisa melihat dengan jelas aktivitas yang dilakukan oleh para turis di sepanjang sungai. Berpuluh ban hitam berjejer di atas permukaan sungai, sebagian digunakan oleh para pengunjung untuk bersantai sambil berenang, sekumpulan turis bermain susun ban.

IMG_3778
suasana pondokan di area cave tubiing

 

EVY_3201
mari bermain air…..

 

EVY_3200
selesai ber-cave tubing, bisa dilanjutkan dengan bermain susun ban

 

EVY_3198
my travelmate

 

EVY_3199
selain cave tubing, di sini pengunjung juga bisa ber-flying fox

Kegiatan cave tubing dilakukan secara per kelompok. Setiap kelompok akan bergantian untuk masuk ke dalam gua ditemani oleh beberapa guide. Mengarungi aliran sungai di dalam sebuah ceruk gua yang cukup gelap, hanya cahaya dari headlamp yang kami kenakan yang menjadi sumber penerangan. Setelah sekitar 30 menit bermain air di dalam gua, akhirnya kami ke luar. Di atas meja telah tersedia makan siang dengan menu nasi goreng seafood, pisang dan air mineral.

Setelah bersantap siang, kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi kayaking. Lokasi kayaking tidak terlalu jauh dari tempat cave tubing. Perahu kayak warna-warni terlihat tersebar di pinggiran sungai. Saya mendapat giliran menempati kayak berwarna kuning, yang diisi oleh 3 orang termasuk seorang guide yang duduk di belakang saya. Perjalanan mengarungi Sungai Nam Song dimulai. Aliran sungai membawa kayak yang saya naiki menuju hilir sungai. Air sungai terasa dingin di jemari tangan yang dengan sengaja saya celupkan dari tepian kayak. Pemandangan di sepanjang tepian sungai terlihat beragam. Pepohonan hijau, sawah, rumah penduduk dan bangunan-bangunan kosong bekas pub/café yang telah ditutup dan ditinggalkan pemiliknya. Dulu, Vang Vieng terkenal dengan pub dan café yang banyak terdapat di sepanjang tepian sungai. Namun sekarang, hampir 90% dari bangunan pub dan café tersebut telah berhenti beroperasi. Saat melakukan kayaking, saya hanya menemukan sekitar 3 café yang masih beroperasi. Suara musik hingar-bingar terdengar dari bangunan café, serta sekumpulan turis yang sedang asyik menikmati minuman lokal.

EVY_3218
tuk tuk dan kayak warna-warni

 

IMG_3828
let’s go!

 

IMG_3821
cafe dan pub di sepanjang Sungai Nam Song

Kayaking, mengarungi aliran sungai sepanjang kurang lebih 9 kilometer, kami tempuh dalam waktu sekitar 1.5 jam. Ditemani matahari yang bersinar sangat terang dan keringat yang bercucuran, akhirnya kami berhasil menyelesaikan aktivitas yang sangat menyenangkan ini. Selanjutnya, kami menuju Blue Lagoon.

IMG_3837
tiket masuk ke Blue Lagoon

 

IMG_3843
and jump!!

Perjalanan menuju Blue Lagoon dari end point kayaking hanya berjarak 10 menit dengan berkendara. Lokasi Blue Lagoon ini berjarak sekitar 7 kilometer dari pusat Kota Vang Vieng. Destinasi ini memungkinkan untuk dikunjungi pada pukul 8 pagi hingga 6 sore. Dengan membayar tiket masuk sebesar 10,000 Kip, saya akhirnya bisa menikmati sejuknya air hijau toska di Blue Lagoon. Di siang menjelang sore hari itu, Blue Lagoon penuh dengan pengunjung. Dan yang menjadi spot favorit adalah sebatang pohon yang tumbuh menjorok ke arah laguna, yang menjadi tempat para pengunjung untuk terjun bebas ke tengah-tengah hijau toskanya air laguna. Berganti-ganti pengunjung memanjat pohon tersebut menggunakan tangga bamboo sederhana untuk mencapai ujung dahan yang akan menjadi start point mereka untuk terjun ke tengah-tengah laguna. Dan seketika air hijau toska akan menyembur ke sekeliling, membuat basah pengunjung yang ada di sekitar laguna begitu tubuh salah satu pengunjung menyentuh permukaan airnya. Di bawah dahan pohon tersebut ada sebuah ayunan sederhana yang juga menjadi tempat favorit pengunjung untuk bersantai sambil berendam. Setelah ikut mencoba merasakan dinginnya air laguna, akhirnya saya dan teman-teman beranjak pulang. Selesai sudah perjalanan kami mengelilingi sebagian Kota Vang Vieng.

EVY_3224
menikmati senja dengan mengarungi Sungai Nam Song

 

EVY_3227
ingin menikmati Kota Vang Vieng? naik hot air baloon aja…..

 

 

 

Perjalanan Panjang, Labuan Bajo – Ende – Kupang – Denpasar – Jakarta

EVY_1803 2

 

Selesai sudah perjalanan saya berkeliling lautan mulai dari Lombok hingga Labuan Bajo. Kapal Halma Jaya yang saya naiki telah mengarahkan buritannya menuju pelabuhan di Labuan Bajo. Perjalanan dari Pulau Kanawa menuju Labuan Bajo hanya memakan waktu 50 menit saja. Dan tanpa memakan waktu lama, kapal sudah memasuki daerah pelabuhan. Sebelum kapal bersandar, alhamdulillah, saya mendapat pemandangan sunset yang sangat luar biasa. The best sunset selama perjalanan sailing trip 4 hari 3 malam ini. Bola emas raksasa terlihat bergulir di langit sebelah barat, dengan background siluet pulau-pulau kecil, dan foreground kapal-kapal yang lalu lalang di area pelabuhan Labuan Bajo. Sinar keemasannya jatuh di atas permukaan air laut, menimbulkan bayangan tangga emas yang sesekali bergoyang terkena gelombang kapal yang lewat.

 

IMG_6072
pemandangan sore di sekitar Pelabuhan Labuan Bajo

 

IMG_6075
sore itu pelabuhan Labuan Bajo cukup ramai

 

EVY_1795 2
perfect banget senja itu

 

EVY_1808 2
the best sunset!

 

Langit senja begitu indah, awan abu-abu terlihat berarak di langit jingga. Pelabuhan Labuan Bajo terlihat sedikit ramai di senja itu. Dan ketika kapal Halma Jaya telah benar-benar merapat, kami pun turun dari kapal. Sebelum berpisah dengan teman-teman, karena sailing trip telah berakhir, malam ini kami akan makan bersama di kawasan Wisata Kuliner Kampung Ujung (udah kebayang nikmatnya ber-seafood ria nih).

Karena kapal yang saya naiki tidak bisa bersandar persis di tepi dermaga karena terhalang kapal yang sudah lebih dulu tiba, akhirnya kami harus melewati kapal tersebut untuk mencapai dermaga. Melompat dari kapal Halma Jaya ke kapal lainnya, barulah kami bisa menjejakkan kaki di dermaga Labuan Bajo.

 

IMG_6081
suasana malam di Pelabuhan Labuan bajo

 

Selanjutnya, mari kita makan……

Ketika berjalan menuju kawasan wisata kuliner, saya dihampiri oleh seorang bapak, penduduk asli Labuan Bajo yang menawarkan kain tenunnya. Ups! Waduh…. bisa kalap nih :D

Melihat beberapa helai kain tenun yang dipegang oleh si bapak, saya mulai menanyakan berapa harganya? Dan entahlah, mungkin itu keberuntungan saya, setelah memilih kain tenun, saya mendapatkan harga 300 ribu untuk 2 helai kain tenun. Alhamdulillah…… kesampaian juga keinginan untuk membelikan kain tenun tradisional untuk ibu di rumah.

Karena saya tidak membawa tas, dan si bapak juga tidak memberikan plastik, akhirnya 2 helai kain tenun itu saya pegang saja. 2 helai kain tenun tradisional, bernuansa merah dan biru tua, ah…. seperti menemukan harta karun :D

Dan sepanjang jalan menuju kawasan kuliner saya masih menemukan beberapa bapak yang juga menawarkan kain tenun serupa. Kalau saja tidak ingat bahwa ransel yang dibawa sudah gendut, mungkin saya akan tergoda untuk membeli lagi :D #duh #tutupmatarapetrapet

 

IMG_6078
Kawasan Wisata Kuliner Kampung Ujung

 

Akhirnya kami sampai di salah satu warung tenda yang menyediakan menu seafood. Langsung deh, pesen ikan, udang, cumi, tumis kangkung dan tak lupa nasi putih hangat. Hmm……. Yummy………

 

IMG_6080
ini bapak yang punya warung seafood tempat kami berpesta :D

 

Ga pake lama, semua menu yang tersaji di atas meja di depan kami, amblas tak bersisa. Yang ada sekarang tinggal elus-elus perut yang kenyang #happytummy

Sekarang, kami harus kembali ke kapal untuk unloading barang bawaan, karena malam ini kami akan menginap di hotel yang telah dipesan masing-masing. Saya kebetulan sudah melakukan pemesanan kamar di Exotic Komodo Hotel, yang menurut informasi lokasinya sangat dekat dengan bandara. Hal ini menjadi pertimbangan saya karena besok pagi saya akan kembali ke Jakarta dengan penerbangan pagi. Dan sebelum sampai di pelabuhan, saya telah menelepon pihak hotel untuk menjemput saya di sana.

Belum juga kaki saya melewati gerbang pelabuhan, tiba-tiba handphone saya bergetar, sebuah panggilan dari nomor yang tidak saya kenal. Who is this? Dan ketika saya menekan tombol hijau di layar telepon, ternyata itu adalah driver dari pihak hotel. Wah… cepat sekali ya…

Tanpa menunggu lama, setelah mengambil ransel dari kapal, akhirnya saya, Ciwi, Windy, Nadine dan Irma harus say goodbye and see you again ke teman-teman yang lain. See you again teman-teman…. kami duluan ya…..

Perjalanan menuju hotel sangat saya nikmati. Melihat deretan pertokoan di sepanjang jalanan di areal pelabuhan, berganti dengan kantor-kantor pemerintahan dan beberapa rumah penduduk, melewati aspal hitam yang bergelombang sesuai dengan kontur tanah di sana yang cenderung merupakan perbukitan, akhirnya mobil pun berbelok ke kanan dan menyeberangi jalanan utama yang kami lewati. Sebelum berbelok, bapak sopirnya sempat bilang “Di sebelah kiri itu bandaranya mbak”. Sekilas saya sempat melihat ke arah kiri, dan terlihatlah bangunan bandara Labuan Bajo yang masih terlihat sangat baru itu. Yeay…. Hotelnya benar-benar persis di seberang bandara :D

Setelah mengurus administrasi kamar, saya, Windy dan Ciwi akhirnya tiba di depan pintu (lupa kemarin itu di kamar nomor berapa? Kalau ga salah B4 deh :D). Senangnya….. membayangkan malam ini bakal mandi, keramas dengan air tawar berlimpah….. #mataberbinarbinar

 

IMG_6084
dan akhirnya…… kasuuuuuuuuurrrrrr…….

 

IMG_6087
furniture kamarnya minimalis, tapi cakep

 

Kamar yang kami tempati berkapasitas 3 orang dengan 1 bed double dan 1 bed single. Kamarnya bersih, cukup luas. Dan yang menyenangkan adalah kamar mandinya, luas dan bersih. Oh iya, tempat tidurnya terkesan minimalis dengan rangka dari kayu dengan kasur berseprai putih plus sehelai kain tenun tradisional berwarna hitam bercorak aneka warna di ujung kasur sebagai pemanis.

 

IMG_6086
horeeeee…… air tawar….. keramaaaaasssss…..

 

IMG_6085
toiletnya bagus, bersih

 

Karena sudah 4 hari 3 malam tidak bertemu dengan air tawar, jadilah malam ini semua rebutan untuk mandi dan keramas. Dan saya memilih untuk giliran terakhir saja, supaya lebih puas mandinya. Saya menuju ke lobi untuk mengakses wifi, karena 3 hari terakhir provider yang saya gunakan tidak ada sinyalnya :D

Jadilah malam itu saya nongkrong di lobi untuk sekedar mengecek email dan sosmed, kali-kali aja ada yang penting :D

Sekitar 1 jam kemudian, saya kembali ke kamar dan menemukan Ciwi dan Windy dengan kepala masing-masing berbalut handuk. Duh, mereka udah mandi dan keramas, senangnya…. Saya bergegas ke kamar mandi, dan begitu air mengucur dari shower, mengguyur kepala, rasanya………….

Selesai mandi, saya memutuskan untuk langsung packing isi carrier supaya besok pagi tidak berburu-buru, mengingat penerbangan saya adalah jam 9 pagi. Dan setelah carrier rapi, saya memutuskan untuk langsung tidur, kasurnya seperti memanggil-manggil dengan manja. Masih sempat terdengar sayup-sayup Windy dan Ciwi ngobrol tentang chat di group sebelum akhirnya semua hening.

Saya terbangun ketika alarm berbunyi, sudah jam 5 pagi. Rasanya baru sebentar terlelapnya dengan tubuh lurus di atas kasur yang empuk, ternyata sudah pagi. Mumpung Windy dan Ciwi belum bangun, saya bergegas mandi dan siap-siap. Jam 7 pagi saya sudah duduk manis di restoran hotel untuk menikmati sepiring omelet sebagai menu sarapan. Hmm….. menikmati matahari pagi, udara segar, suasana yang cukup sepi sambil menyeruput air putih dan sepiring omelet, bahagia………

 

IMG_6128
pemandangan bandara dari depan hotel

 

IMG_6135
nah, itu Hotel Exotic Komodo dilihat dari bandara

 

Karena penerbangan saya lebih dulu daripada flight yang digunakan oleh Ciwi dan Windy, saya pun meninggalkan kamar lebih dulu dari mereka. Dari hotel, saya hanya harus menyeberangi jalan raya untuk mencapai bandara Komodo. Bangunan bandara ini masih baru, bersih dan rapi. Pemeriksaan penumpang pun lebih ketat dengan standar internasional. Sewaktu akan melewati detektor logam, petugasnya dengan sopan meminta penumpang untuk menempatkan barang-barang seperti handphone, jam tangan, kunci, ikat pinggang dan lain-lainnya ke dalam sebuah tempat plastik agar tidak memicu alarm dari alat detektor tersebut. Suasana bandaranya cukup ramai.

 

IMG_6131
bandaranya baru, bersih, rapi, teratur

 

IMG_6133
tuh, masih baru banget bangunannya, masih bersih abiiiiiiiisssss……

 

IMG_6130
menyenangkan itu adalah……. melihat bocah-bocah itu bermain dengan wajah penuh senyuman

 

Selesai check-in, saya menuju ruang tunggu di lantai 2. Dan sebelum masuk ke ruang tunggu, mata saya melihat sebuah counter mini yang menjual aneka kain tenun dan suvenir khas dari NTT. Mata saya tergoda melihat kain tenun aneka warna, tapi mengingat carrier sudah gendut, akhirnya saya hanya membeli kopi khas NTT sebagai oleh-oleh. Ibu yang menjaga counter ini sangat ramah. Selama melihat-lihat kain tenun, beliau dengan sabar menjelaskan motif-motif, warna dan penggunaan dari kain-kain tenun tersebut. Dan ketika terdengar panggilan bagi penumpang yang akan flight ke Jakarta, saya segera masuk ke ruang tunggu dan langsung menuju pintu untuk boarding.

 

IMG_6142
nemu counter ini di depan ruang tunggu bandara, rasanya…………… :D

 

IMG_6143
kain tenunnya bikin kalap

 

IMG_6140
nah, itu ibu yang punya toko, ntar… cari kartu namanya dulu…lupa :D

 

IMG_6136
ruang tunggu bandara Komodo ini juga bersih banget

 

Dari ruang tunggu saya berjalan menuju lorong kaca menuju landasan bandara, di mana sebuah pesawat ATR telah siap diberangkatkan. Karena Labuan Bajo merupakan bandara kecil, amka pesawat yang bisa mendarat di sini adalah pesawat berjenis ATR atau pesawat berbaling-baling. Kalau biasanya saat di pesawat posisi seat berada lebih tinggi dari sayap pesawat, kali ini posisi sayap berada di atas seat. Dan seperti biasa, saya mendapatkan seat persis di samping jendela. Yeay…. Saya siap menikmati indahnya alam Indonesia Timur dari udara!

 

IMG_6144
Bandar udara Komodo – Labuan Bajo

 

IMG_6145
dan di sepanjang lorong itu, karpetnya juga bersih…. tiap hari disedot pake vacuum cleaner kayaknya :D

 

IMG_6146
itu pesawat ATR yang akan saya naiki

 

IMG_6147
ga pake garbarata, ga pake bus, jalan kaki menujuu pesawat ditemani sinar matahari yang aduhai….

 

Dari Labuan Bajo, pesawat yang saya naiki akan transit sebentar di Kota Ende. Let’s fly…….

 

IMG_6148
bismillah…… let’s fly….

 

Melihat alam Indonesia bagian Timur dari udara merupakan pengalaman pertama bagi saya. Menyaksikan daratan berbukit-bukit bagaikan lukisan, dengan kelompok-kelompok pemukiman masyarakat yang tersebar, sungguh indah. Bukit-bukit berwarna coklat bercampur hijau yang saling sambung-menyambung membuat mata saya tidak berhenti melihatnya. Awan putih terlihat berarak rendah, seolah-olah menyentuh perbukitan itu. Nun jauh di sebelah kanan saya, terlihat sebuah gunung dengan rangkaian awan putih di sekitarnya. Mendekati Kota Ende, mata saya disuguhi pemandangan gradasi air laut dan buih putih gelombang, pemukiman penduduk, kebun pisang, dan perbukitan.

 

IMG_6149
pemandangan seperti ini yang bisa dilihat selama perjalanan Labuan Bajo – Ende

 

IMG_6155
pemandangan dari jendela pesawat ATR Labuan Bajo – Ende

 

IMG_6152
setelah sekian lama ga pernah naik pesawat berbaling-baling, akhirnya…

 

IMG_6158
perbukitan, pemukiman, awan, langit…

 

Di Kota Ende, pesawat transit sekitar 30 menit untuk menurun/naikkan penumpang yang akan menuju ke Kupang. Sekilas dari jendela pesawat saya melihat bangunan bandara Ende, sebuah bangunan 1 lantai, beratap kuning. Setelah penumpang yang akan menuju Kupang naik ke pesawat, penerbangan pun dilanjutkan. Kali ini saya akan transit kembali di Kota Kupang, ibukota propinsi Nusa Tenggara Timur.

 

IMG_6165
mendekati Kota Ende, pemandangannya makin eksotis

 

IMG_6166
terbang rendah di atas lautan, dengan pemandangan seperti ini, rasanya…..

 

IMG_6167
pemukiman penduduk di sekitar bandara di Kota Ende

 

IMG_6168
hello Ende……

 

IMG_6170
transit sebentar untuk kemudian terbang lagi menuju Kupang

 

Penerbangan Ende – Kupang ditempuh selama kurang lebih 50 menit, sama dengan waktu tempuh Labuan Bajo – Ende. Di Kupang saya akan ganti pesawat yang lebih besar. Sepanjang penerbangan Ende – Kupang, kembali mata saya disuguhi pemandanganan indahnya alam Indonesia Timur. Gradasi hijau toska air laut, dan sebaran pemukiman warga. Saya transit di sini kurang lebih 1 jam 55 menit, waktu yang cukup panjang untuk melihat sekitar bandara dan masyarakat di sana. Namun karena ternyata matahari di Kupang luar biasa panasnya, niat saya untuk melihat ke luar bandara akhirnya saya batalkan. Dan saya memilih untuk duduk di ruang tunggu saja sambil menyelesaikan “Titik Nol” yang menemani penerbangan dan perjalanan saya kali ini.

 

IMG_6171
travelmate kali ini :)

 

IMG_6173
pemandangannya ga kalah cantik

 

IMG_6174
karena masih menggunakan pesawat ATR, jadi puas melihat pemandangan indah Indonesia bagian Timur ini

 

IMG_6176
cakep…….

 

IMG_6178
makin ga sabar untuk explore bagian Timur Indonesia

 

IMG_6180
hore…….. hampir mendarat di Kupang….

 

Pukul 13.35 wit, pesawat boeing yang saya naiki meninggalkan landasan pacu Bandara Kupang. Bye-bye Kupang…. Semoga next time saya akan berhasil menjelajahi indahnya alam di sana.

 

IMG_6182
menemukan pesawat lama di pinggir bandara Kupang

 

IMG_6183
Halo Kupang…… finally I’m here….

 

IMG_6184
ngadem di ruang tunggu aja, panasnya ga nahan :D

 

IMG_6192
kali ini ganti pesawat yang lebih gede, karena penerbangan bakal lebih lama dan jarak tempuh lebih panjang

 

IMG_6193
see you, Kupang…. wait for my next trip…

 

Dari Kupang, burung besi putih berlogo biru ini akan terbang menuju Denpasar sebelum destinasi akhirnya di Jakarta. Penerbangan saya kali ini betul-betul seharian, mulai dari Labuan Bajo, Ende, Kupang, Denpasar dan terakhir Jakarta. Penerbangan Kupang – Denpasar memakan waktu sekitar 2 jam. Di Denpasar pesawat transit sekitar 30 menit sebelum melanjutkan penerbangan menuju Jakarta.

 

IMG_6196
singgah sebentar di Denpasar, ngintip dari balik kaca jendela aja :D

 

IMG_6198
penerbangan kali ini, kenyaaaaaaaaannnnnggggg….. hihihihihi…..

 

IMG_6199
see you Bali,numpang transit aja ya….

 

IMG_6200
masih bisa melihat daratan Pulau Bali, sebelum akhirnya merem karena perjalanan panjang ini

 

Dan akhirnya, setelah penerbangan yang panjang ini, pukul 17.00 wib saya pun tiba di bandara Soekarno Hatta, finally.

Hello Jakarta…… see you again!

Selesai sudah perjalanan panjang trip kali ini, 4 hari 3 malam menjelajahi lautan dan pulau-pulau cantik nan eksotis di Indonesia Timur, dilanjutkan dengan penerbangan panjang dari timur menuju barat.

Terima kasih untuk semua teman-teman seperjalanan, seperkapalan, dan seperbaperan :p

Trip kali ini sungguh menyenangkan dan TOP BGT!

Ga sabar untuk ngetrip bareng kalian lagi.

 

DCIM101GOPROGOPR1196.
hallo…… kapan kita seru-seruan lagi???

 

DSC_5030
4 hari 3 malam ternyata cukup membuktikan keseruan kita semua, termasuk kapten dan mas-mas ABK…..

 

Note.
Thanks to mas Har, Imel, Wuki Traveler yang sudah memperbolehkan foto-foto serunya di-share di sini.

Pulau Rinca, Menjenguk Kadal Raksasa

EVY_1708

 

Setelah kemarin puas ber-sunset ria, disambung milky way dan diakhiri dengan sunrise bercampur kabut nan sendu di Pulau Padar, saya dan teman-teman kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini perjalanan kami mengarah ke Pulau Rinca, salah satu pulau yang ada di kawasan Taman Nasional Komodo bersama Pulau Padar, Pulau Komodo dan Gili Motang. Pulau Rinca termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur dengan luas 19 hektar (sumber www.wikipedia.com).

 

komodorincamap
peta Pulau Komodo dan Pulau Rinca (sumber www.google.com)

 

Komodo yang ada di Pulau Rinca ini berjumlah sekitar 2.874 ekor yang hidup secara solitaire (tidak berkelompok). Selain Komodo yang menjadi hewan mayoritas, di pulau ini juga terdapat Rusa, Kuda, Kerbau, Burung Maleo dan Monyet. Walaupun Pulau Rinca ini belum setenar Pulau Komodo, tapi tidak sedikit turis, baik domestik maupun mancanegara yang memilih datang ke Pulau Rinca ini. Hal itu disebabkan karena jaraknya yang lebih dekat dari Labuan Bajo, juga karena jumlah Komodo yang ada di pulau ini lebih banyak dan lebih gampang ditemui daripada di pulau Komodo.

Sebelum sampai ke Pulau Rinca, kita belajar sebentar tentang Komodo yuk!

Komodo (bahasa latinnya Varanus Komodoensis) merupakan spesies Kadal terbesar yang ditemukan di pulau Rinca, Komodo, Padar, Flores dan Gili Motang. Panjang tubuh dari Komodo bisa mencapai 3 meter dengan berat sekitar 70 kilogram (hiiii….. gede banget yak :D). Komodo ini hanya kawin 1 kali dalam setahun, sepanjang Juni – Agustus. Usia produktif Komodo untuk bereproduksi adalah 7 – 8 tahun.

Komodo jantan biasanya mengikuti Komodo betina yang diincarnya. Dan Komodo jantan akan saling berkompetisi untuk mendapatkan betinanya.

Komodo betina akan bertelur sekitar 15-30 butir. Telur itu kemudian disimpan di dalam “kandang” yang berupa sebuah lubang vertikal dan horisontal di bawah permukaan tanah sepanjang 2 meter. Telur akan diletakkan pada bulan Agustus – September.  Dan menetas sekitar bulan April setiap tahunnya, di saat serangga sedang pada puncak populasinya. Komodo betina kemudian akan menjaga sarangnya sampai musim penghujan datang, di mana hujan akan memadatkan tanah di sekitar sarangnya sehingga jejak telur Komodo tidak tercium oleh predator pemangsa. Komodo betina juga akan membuat beberapa sarang palsu di sekitar sarang aslinya untuk mengelabui predator yang akan memangsa telur-telurnya. Telur Komodo akan menetas dalam waktu 8-9 bulan. Penetasan telur Komodo ini tergantung dengan suhu di dalam tanah. Dari keseluruhan jumlah telur yang ada, hanya sekitar 20% yang akan berhasil menetas.

Setelah menetas, anak Komodo biasanya hidup di atas pohon untuk menghindari predator yang akan memangsanya. Selama berada di atas pohon, anak Komodo tumbuh dan berkembang dengan memakan Tokek, Tikus, burung, serangga dan lain-lain.

Nah, selesai belajar tentang Komodo-nya, sekarang kita lihat apa yang akan kami temukan di Pulau Rinca?

 

EVY_1687
ini dermaga kayu yang menjadi pintu masuk ke Pulau Rinca

 

Kapal Halma Jaya yang saya dan teman-teman naiki sampai di depan sebuah dermaga kayu kecil di kawasan Loh Buaya. Di ujung jembatan kayu saya melihat sebuah papan peringatan yang bertuliskan “Be careful, Crocodile Area” lengkap dengan gambar buaya di sudutnya. Hiiiiiiiii……. Serem ya….. serius nih banyak buaya di sini? #terusmelipirgaberanidekatdekatair :D

 

EVY_1688
Be Careful Crocodile Area!!

 

EVY_1691
dari dermaga bisa melihat ikan-ikan yang ada di dasar laut

 

Dermaga kayu kecil itu terhubung dengan sebuah jembatan kayu kecil berakhir pada sebuah pintu gerbang dengan tulisan “LOH BUAYA”. Di depan gerbang telah menunggu beberapa bapak ranger yang akan mengantarkan kami untuk melihat spesies terbesar dari Kadal. Iya, kami akan melihat Komodo. Walaupun sedikit takut, karena berdasarkan informasi yang pernah saya baca, Komodo merupakan hewan buas dengan daya penciuman yang sangat tajam.

 

EVY_1692
peraturan yang berlaku di Taman Nasional Komodo, Pulau Rinca

 

Saya dan teman-teman sempat menunggu sejenak sebelum kemudian kami dengan dikawal sekitar 5 orang ranger mulai memasuki kawasan Taman Nasional Komodo yang ada di Pulau Rinca ini. Dari gerbang kami bergerak ke arah kanan mengikuti jalanan tanah yang merupakan akses keluar masuk satu-satunya ini. Jalanan tanah merah ini dibuat lebih tinggi dari kawasan di sekelilingnya, dan dibatasi dengan beton di kanan kirinya sebagai pembatas. Saya dan teman-teman terus mengikuti para ranger yang akan mengantarkan kami untuk melihat Komodo. Di depan kami sekarang terpampang sebuah gerbang selamat datang “Selamat Datang di Taman Nasional Komodo”. Gerbang ini terbuat dari beton cor dengan patung Komodo di kiri dan kanannya.

 

DSC_4848
hello….. we are here….. (courtesy by mas Har)

 

IMG_8789
say…… haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaiiiiiii……… (courtesy by mas Har)

 

EVY_1695
Selamat Datang di Taman Nasional Komodo

 

EVY_1693
mari kita menjenguk Komodo

 

EVY_1694
papan promosi dalam rangka Sail Komodo di tahun 2013 yang lalu

 

Melewati gerbang selamat datang, mata saya disuguhi hamparan tanah kosong yang luas. Dengan latar belakang perbukitan yang gundul, coklat kering meranggas, ditambah matahari yang bersinar terik. Beberapa pohon kecil terlihat masih menyisakan daun hijaunya beberapa. Saya terus mengikuti rombongan hingga akhirnya kami tiba di kawasan yang ditumbuhi beberapa pohon rindang yang cukup besar. Dan di bawah pohon itu saya akhirnya melihat seekor Komodo besar yang sedang berteduh. Oh iya, Komodo ini hewan berdarah dingin sehingga di saat siang hari mereka lebih memilih untuk tidur dan beristirahat di bawah pohon atau tempat teduh lainnya (mungkin Komodonya takut hitam ya :p).

 

EVY_1697
tanah lapang, kering, dan matahari yang terik, kombinasi yang perfect ya untuk menggosongkan kulit :D

 

EVY_1699
itu dia! Varanus Komodoensis

 

EVY_1700
walaupun Rusa adalah makanannya, tapi siang itu Komodonya cuek aja walau ada Rusa di dekatnya

 

EVY_1704
Rusa, juga merupakan hewan yang cukup banyak di TN Komodo ini

 

Di bawah pohon itu saya juga melihat beberapa ekor Rusa yang sedang leyeh-leyeh. Dan walaupun Rusa merupakan makanan Komodo, tapi Komodo yang saya lihat sepertinya anteng-anteng saja dengan keberadaan Rusa di sekitarnya (mungkin udah kenyang ya…).

 

EVY_1702
di bagian depan kawasan TN Komodo, pemandangan seperti ini yang akan ditemui

 

EVY_1703
musim kemarau panjang membuat pohon-pohon yang ada menjadi kering dan meranggas

 

EVY_1707
itu adalah rumah kayu yang menjadi tempat tinggal ranger selama bertugas di TN Komodo

 

Saya kemudian melihat sebuah rumah kayu dengan ukuran yang cukup panjang, yang merupakan tempat tinggal bagi para ranger selama bertugas di Pulau Rinca ini. Dan di sekitar rumah kayu itu terlihat beberapa ekor Komodo yang sedang berjalan mencari tempat berteduh. Asli deh, rasa penasaran, takut, serem, pengen foto jadi satu. Tapi sepertinya rasa penasaran saya kalah dengan rasa takut dan was-was. Walhasil saya hanya berani mengambil foto dari jauuuuuuuhhhhhh…… Dengan memaksimalkan jangkauan zoom dari lensa kamera, akhirnya saya berhasil mendapatkan beberapa foto dari para Komodo itu. Untuk selfie? Makasiiiiiiiiihhhhh….. serem liat cakarnya yang gede itu :p

 

EVY_1710
hai Komodo…. #dadahdadahdarijauh

 

EVY_1711
siapa yang ga serem coba? liat cakarnya yang tajam + badannya yang segede itu

 

Perjalanan kami masih berlanjut. Kali ini kami melewati deretan pohon-pohon yang meranggas karena kemarau yang panjang ini. Daun-daunnya berguguran memenuhi tanah di sekitarnya. Dahan-dahan pohon itu gundul. Di sana saya menjumpai seekor Komodo betina yang sedang berjaga di sekitar sarangnya. Hmm….. berarti ada telur yang sedang dijaganya, yang akan menetas sekitar bulan April nanti. Dan pastinya banyak sarang-sarang palsu juga di sekitar situ.

 

EVY_1714
pohon-pohon kering dengan hamparan dedaunan yang gugur menjadi pemandangan yang menarik di sepanjang TN Komodo

 

EVY_1715
jalannya harus mengikuti para ranger itu, karena mereka sudah sangat hapal dan menguasai TN Komodo

 

EVY_1716
itu adalah Komodo betina yang sedang menjaga sarangnya

 

EVY_1718
perjalanan dilanjutkan melewati hamparan daun yang gugur dan pohon-pohon yang mengering

 

Perjalanan terus berlanjut. Kali ini saya tiba di kaki sebuah bukit kecil dengan rumput-rumput kering di kanan kiri jalan setapak yang saya lalui. Pulau Rinca ini merupakan pulau dengan bukit-bukit kecil, yang sangat cantik apabila dilihat dari atas. Rombongan saya dan teman-teman mulai terbagi menjadi beberapa kelompok. Kaki ini mulai terasa berat untuk menaiki bukit yang kata mas-mas ranger-nya sih ga tinggi. Tapi tetap saja saya merasa kaki ini berat banget untuk terus mendaki. Tapi ketika mata melihat sekeliling, huuuuaaaaaaa…… cakep banget………

 

DSC_4902
ayo… semangat sampe puncak bukitnya!!! (courtesy by mas Har)

 

EVY_1719
ayo… biar ga terasa capek, jalannya sambil foto-foto ya….

 

EVY_1720
semangat!!!

 

EVY_1737
kita harus sampe ke sana!

 

EVY_1738
padang rumput (kering), perbukitan, beberapa pohon, ah… jadi kepikiran mau camping kan?

 

Gundukan-gundukan bukit, saling berbaris menyusun bentuk yang indah. Di lembahnya terlihat beberapa pohon rindang yang masih menyisakan daun hijaunya. Dengan warna coklat kering yang mendominasi, warna hijau dari pohon dan perdu itu bagaikan pemanis di sebuah lukisan. Dan ketika saya menoleh ke sebelah kiri, terlihat lah lautan nan luas berwarna biru nun jauh di sana. Ditambah langit biru cerah dengan beberapa gumpalan awan, saya hanya bisa menarik napas panjang. Hilang semua capek dan panas yang saya rasakan di sepanjang perjalanan. Semua terbayar dengan pemandangan dan “rasa” yang saya saksikan dari atas bukit ini.

 

EVY_1721
pemandangan dari atas bukit di Pulau Rinca

 

EVY_1722
lihat sekeliling, pemandangannya seperti ini semua…. cakeeeeeeppppp….

 

EVY_1736
lihat, di sana ada laut!

 

EVY_1734
akhirnya ada foto bareng juga ya Lis, Win, Ky… :p (makasih mas ranger yang udah motoin)

 

EVY_1730
serasa ga ingin pergi dari tempat ini

 

EVY_1729
kebayang ya kalau bukit ini menghijau, pasti indah banget

 

EVY_1728
langit ikut bikin perjalanan ini menyenangkan, cerah…..

 

Setelah melintasi bukit dengan pemandangan yang spektakuler itu, akhirnya saya dan teman-teman tiba kembali di depan bangunan kayu yang menjadi titik kumpul bagi wisatawan yang berkunjung ke Pulau Rinca ini. Dan yang saya cari adalah…… minuman dingin…….. #glek

 

EVY_1739
haus… haus… mana minuman dinginnya???

 

Sebotol minuman dingin habis tandas melewati tenggorokan saya. Segaaaaaaarrrr……

 

EVY_1740
ini bangunan kantor tempat penjualan tiket untuk berkeliling di TN Komodo yang ada di Pulau Rinca

 

Setelah beristirahat sejenak, akhirnya saya dan teman-teman harus meninggalkan Pulau Rinca ini. kami akan melanjutkan perjalanan menuju sebuah pulau kecil yang cantik lainnya, sebelum menuju Labuan Bajo yang menjadi titik akhir dari perjalanan Sailing Trip Komodo ini. Hiks…. sedih, perjalanan ini sudah hampir berakhir :(

 

EVY_1741
mari kita pulang…..

 

Melewati jalan setapak, gerbang selamat tinggal, akhirnya saya tiba di dermaga kayu kecil itu lagi. Dan…. dermaganya sekarang ramai sekali. Kapal-kapal berbaris rapi di ujung dermaga.

 

EVY_1749
waktu nunggu kapal, liat ini nih di dekat gerbang masuk

 

EVY_1744
waktu datang, dermaganya masih sepi, sekarang rame banget

 

EVY_1745
yang mana kapal kita?

 

Bye… bye… Komodo…. See you again Rinca….

 

IMG_6054
bukti nih kalau beneran udah sampe di TN Komodo, Pulau Rinca

 

 

 

Padar, I Love You from Sunset to Sunrise and Back

EVY_1581

 

Setelah menikmati aroma cinta di Pink Beach, perjalanan saya pun berlanjut menuju suatu tempat yang ternyata tidak kalah indahnya. Kapal Halma Jaya yang saya naiki bergerak meninggalkan semburat merah muda-nya pasir pantai, dan bergerak semakin menjauh ke arah Timur. Sekitar 2 jam kemudian, kapal yang saya naiki telah berada di perairan yang berhadapan dengan bukit-bukit yang sambung-menyambung. Terlihat beberapa kapal juga yang bersandar di sana. Iya, saya telah tiba di depan Pulau Padar. Pulau yang selama ini hanya saya dengar dari cerita teman, dan hasil membaca berbagai artikel dari media online, sekarang bisa saya lihat dengan mata kepala sendiri.

 

DCIM100GOPROGOPR0757.
karena selfie wajah udah terlalu mainstream :p

 

DCIM100GOPROGOPR0756.
on the way to Padar

 

EVY_1576
pantai di Pulau Padar

 

Barisan perbukitan yang berwarna coklat, kering namun eksotis terbentang luas di depan mata saya. Terlihat sangat kontras dengan pasir pantainya yang putih kecoklatan, birunya langit dan gradasi hijau toska lautan. Speechless!

Sambil menunggu antrian menaiki kapal kecil yang akan mengantarkan saya dan teman-teman untuk mencapai bibir pantai di Pulau Padar, saya memuaskan mata dengan mengamati sekeliling. Beneran deh, Tuhan menciptakan surga itu ada di Indonesia.

Dan ketika kaki saya mendarat di halusnya pasir putih di pantainya, keindahan itu semakin nyata. Saya mengikuti rombongan untuk menaiki bukit yang ada di depan kami. Menjejakkan kaki di keringnya tanah berbatu, menanjak dengan hati-hati karena di beberapa bagian tanah dan batunya gampang lepas. Sehingga sebelum menginjakkan kaki di tanah secara “ajeg” harus dirasa-rasa dulu apakah tanahnya stabil, atau malah labil?

 

EVY_1582
trek untuk naik ke puncak bukit Padar yang menjadi spot favorit

 

DCIM100GOPROGOPR0789.
pemandangan laut dari atas Padar

 

Ditemani dengan matahari sore yang bersinar terang (cenderung panas :D), saya menaiki bukit tanah berbatu itu menuju puncaknya. Saya menyusuri jalan setapak yang ada di punggung bukit. Menikmati setiap “centi” tanah berbatu yang saya lalui, rerumputan kering, debu halus tanah yang akan naik dari permukaan tanah setiap ada kaki yang menjejaknya, serta menghitung satu dua rerumputan yang masih menyisakan warna hijaunya.

 

EVY_1583
dari punggung bukit ini kita bisa melihat lautan luat yang dikelilingi oleh bukit-bukit dan pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Padar

 

Semakin ke atas, punggung bukit ini semakin berbatu. Jalanan setapak yang tadinya rata, mulai berundak-undak sehingga untuk mencapai ke puncak, saya pun harus melipir-melipir jalannya. Saya menemukan sebatang pohon di sela-sela undakan-undakan batu, daunnya masih menyisakan warna hijau bercampur dengan coklat dari dedaunannya yang mengering.

 

EVY_1587
semakin mendekati puncak, semakin terjal dan berbatu trek yang harus dilalui

 

IMG_6030
ini pemandangan trek di punggung bukit Padar

 

DCIM100GOPROGOPR0784.
yang narsis, yang narsis…… mau sendiri, mau reramean, monggo….

 

DCIM100GOPROGOPR0777.
ayo semangat!! kalian pasti bisa sampe puncak :D

 

Saya tiba di (beberapa meter sebelum) puncak bukit dengan keringat yang lumayan banyak mengucur di sekujur tubuh. Matahari sore itu masih terang benderang. Dan saya pun beringsut mencari tempat yang sedikit terlindung dari matahari untuk menghindar dari panasnya. Duduk di balik bongkahan batu, beralaskan rumput yang mengering sambil menikmati suasana sore, matahari yang semakin beranjak ke sisi Barat, hembusan angin, gemerisik suara rumput kering dan celotehan teman-teman.

 

EVY_1588
pemandangan spektakuler yang bisa dilihat dari puncak bukit Padar

 

Saya dan teman-teman akan tetap di atas bukit hingga matahari terbenam.

 

EVY_1596
hi, there are our shadows

 

Menikmati menit demi menit, menunggu bola kuning keemasan menjatuhkan diri ke garis cakrawala sambil memuaskan mata dengan pemandangan yang sangat indah ini, sungguh pengalaman yang tidak akan terlupakan.

 

IMG_6019
Hey, I’m on Padar! When will you come here?

 

DCIM100GOPROGOPR0785.
sekali-sekali posting selfie melet di web :p

 

Dan sore itu, ketika seluruh teman-teman telah tiba di atas bukit, kehebohan kecil terjadi. Ada apa???

Bukit yang tadinya tenang, tiba-tiba berubah bak behind the stage-nya catwalk. Beberapa teman dengan segera berganti costume. Dan gaun-gaun indah pun segera dipakai. Hei, apakah bakal ada photo session di sini?

Yes! Rombongan “top model” trip Sailing Komodo pun segera beraksi. Pasang gaya dengan gaun-gaun cantik yang telah disiapkan. Girls, persiapan kalian benar-benar dahsyat ya…. :p

 

DSC_4666
ini dia, top model trip Sailing Komodo – courtesy by mas Har

 

Esa, Delvie, Ayu, Yoma, Osok beraksi bak di atas catwalk, dan mas Har siap membidik dari balik lensa kamera.

Selagi rombongan top model melakukan photo session, teman-teman yang lain memanfaatkan moment menjelang sunset ini dengan berfoto sebanyak-banyaknya. Nyaris tidak ada spot kosong, semua dipakai untuk foto :D

 

EVY_1602
I’m a Superman!!! –> kata Joko :D

 

EVY_1599
cinta Indonesia Lis? harus lah!

 

Ada yang sambil latihan yoga, bergaya bak Superman, memegang bendera merah putih, selfie sana sini dan seribu gaya lainnya.

 

EVY_1620
ini “kakak” a.k.a Nadine yang sedang ngajarin yoga di puncak Padar

 

EVY_1618
yang ini “muridnya” Nadine, sebuat saja Joko, yang berhasil mempraktekkan gaya yoga di puncak Padar

 

EVY_1612
kalau yang ini??? :D hihihihihihi…. piye tho mas Rhema? gayamu itu lho……

 

Sementara saya, seolah terpaku dengan keindahan yang terpampang di depan mata.

 

EVY_1594
indah, eksotis, cantik, ga tau lagi deh gimana bilangnya?

 

EVY_1595
bersyukur banget pernah sampai di Padar, benar-benar bikin jatuh cinta dan mau ngulang ke sana lagi

 

Bukit Padar yang sambung-menyambung membentuk formasi seperti sebuah percabangan pohon ke kanan dan kiri, dengan lengkungan garis pantai yang sangat unik. Ditambah dengan kilau kuning keemasan cahaya matahari di atas permukaan air di sisi Barat, dan bola jingga yang semakin rendah seperti akan menyentuh wajah lautan, benar-benar seperti lukisan. Saya menikmati saat-saat menghilangkan matahari di balik bukit di sisi Barat sambil merekam semuanya dari balik lensa kamera. Hey, I love sunset very much!

 

EVY_1613
I love sunset very much!

 

IMG_6027
ketika terang hilang, dan berganti gelap

 

Seiring sore berganti senja, dan ketika gelap mulai merambat perlahan di Bukit Padar, saya pun bergegas menuruni punggung bukit untuk kembali ke pantai. Sedikit terburu-buru untuk turun, karena takut kemalaman dan semakin gelap (pas naik, terang benderang, itu aja beberapa kali hampir kepleset, apa kabar kalau gelap? :p).

Dan begitu sampai di pantai, saya pun kembali bergegas menaiki perahu kecil untuk sampai ke kapal. Sampai di kapal, mas-mas ABK sudah menyiapkan makan malam dengan menu yang sangat spesial! Hmm….. nyam… nyam… Mari makan….. #ambilpiringnasilauksayurbuah :D

Malam ini kami akan bermalam sambil menikmati bintang di depan Pulau Padar ini. Wow……. #mataberbinarbinar #penuhtandacinta

Selesai makan kami menghabiskan malam dengan cerita-cerita di ruangan utama kapal. Riak gelombang hampir tak terasa, dan kapal nyaris tidak bergerak. Bulan terlihat jelas di luasnya langit Padar, ditemani ribuan bintang. Huuuuuuuaaaaaa…….. I love this night!

Keinginan untuk mendapatkan foto bulan ternyata harus saya redam, karena walaupun tidak ada gelombang, namun kapal yang bersandar di atas air ini tidaklah diam seperti yang terlihat. Saya awalnya sudah mencoba untuk memasang kamera di atas tripod, tapi tiba-tiba….. terasa ayunan kecil riak gelombang yang membuat kapal sedikit bergoyang. Ah, bulan malam ini cukup dinikmati dengan lensa mata saja.

Dan malam ini adalah malam paling tenang selama sailing trip ini. Tidak ada suara motor kapal yang mengejar tujuan di depan kami, tidak ada suara gelombang yang pecah menghantam buritan kapal. Tenang.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Alarm di handphone saya berbunyi seiring teriakan Seto, TL trip, “Bangun, bangun…. Yang mau sunrise-an”.

Setelah cuci muka dan sikat gigi, saya pun segera menyambar dry bag berisi kamera dan tripod. Yuk, kita hunting milkyway dan sunrise.

Saya termasuk yang terakhir tiba di pantai Padar. Sementara teman-teman yang lain sudah mulai mendaki bukit untuk menikmati sunrise di sana. Hmm…. Saya sudah memutuskan untuk tidak ikut menyambut sunrise di atas bukit karena saya ingin milkyway-an di pantai.

Duduk di hamparan pasir dan batu yang ada di pantai Pulau Padar ini, sambil menikmati langit yang berhiaskan ribuan, bahkan mungkin jutaan bintang yang berpijar, membuat saya tidak bisa berkata-kata. Ah, suasana seperti ini yang selalu membuat saya rindu dengan rumah. Teringat biasanya duduk di ayunan besi yang ada di halaman, sambil menikmati langit malam dengan bintang dan bulan yang menghiasinya, sambil bercerita dengan ibu dan bapak. Huuuuuuaaaa….. mendadak kangen rumah.

Saya harus menunggu beberapa saat sebelum beranjak memasang tripod dan menyetel kamera. Okay, semoga malam ini beruntung dan mendapatkan foto langit Padar yang cakep ini.

Saya mencari beberapa spot untuk mendapatkan foto dengan angle yang berbeda. Dan ternyata……. Langit Padar tidak kalah cantik dengan landscape-nya. Heaven is here.

 

EVY_1661 2
langit yang seperti ini yang selalu bikin kangen dengan kegiatan outdoor, jauh dari keramaian dan gemerlap lampu

 

EVY_1665 2
rela banget kalau setiap malam bisa memandang langit seperti ini

 

Setelah mendapatkan beberapa shot foto, saya kemudian mengarahkan kamera ke sisi Timur untuk mendapatkan moment munculnya matahari pagi itu. Semburat jingga mulai terlihat di langit Timur. Namun sayang, ternyata pagi itu kabut sedikit tebal sehingga saya tidak bisa melihat si bola emas muncul dari balik cakrawala. Tapi benar, Padar, I love You from sunset to sunrise and back!

 

EVY_1678 2
I’m also love sunrise

 

IMG_6037
moment mengintip dari balik lensa ini yang menjadi favorit

 

Sambil menunggu teman-teman turun dari atas bukit, saya memuaskan mata untuk menikmati pemandangan indah yang ada di depan mata. Ternyata, kapal kami bukan satu-satunya kapal yang bermalam di depan Pulau Padar ini, di balik bukit di sisi kanan ternyata ada 1 kapal pesiar yang ditumpangi Becky Tumewu dan keluarganya. Dan pagi ini kami sempat bertemu di pantai Pulau Padar ini.

 

EVY_1680 2
for you…. someday I will take you here

 

Setelah seluruh teman-teman turun, kami pun kembali ke kapal untuk kemudian melanjutkan perjalanan. Setelah dari Padar ini, kami akan dibawa ke mana ya??? Penasaran deh….. Yuk, kita berlayar….

 

DSC_4790
sarapannya 2 porsi yaaaa….. wajah-wajah setelah sunrise-an di Pulau Padar, kelaparan :p (courtesy by mas Har)