Tag Archives: Tidore

Tidore #6 – Tanjung Mareku, Tempat Pengibaran Bendera Merah Putih Pertama Kali di Tidore

IMG_9794

 

Mungkin tidak banyak yang mengetahui sejarahnya saat Bendera Merah Putih pertama kali berkibar di langit Kepulauan Maluku, tepatnya di Tidore. Saya pun menemukan kisah itu secara tidak sengaja saat sedang browsing di Internet. Dari informasi yang sangat sedikit itu, saya justru merasa tertarik untuk melihat langsung tempat yang sangat bersejarah bagi Indonesia, khususnya Tidore.

Mobil yang saya tumpangi menyusuri jalanan aspal Kota Tidore menuju Tanjung Mareku sore itu, setelah saya mengunjungi sebuah desa indah di kaki Gunung Kie Marijang, Desa Gurabunga. Kira-kira 50 menit berkendara, akhirnya saya tiba di sebuah jalan yang cukup sepi (atau malah sepi banget ya?) dan menemukan monumen kecil dengan sebuah tiang bendera putih dan Bendera Merah Putih di puncaknya. Bentuknya cukup kecil, hanya sekitar 2 x 2 meter.

Dari pinggir jalan yang saya lewati, letak monumen ini sedikit lebih tinggi, sekitar 1 meter. Ada undakan kecil di sisi kanan dan kirinya. Bagian dasarnya dikeramik bermotif dengan dasar warna merah muda. Tiang bendera yang terbuat dari semen berdiri tegak sekitar 3 meter di atas alas bulat bersusun 2. Sebuah Bendera Merah Putih yang juga terbuat dari semen terlihat di ujung tiang. Di bagian belakang terlihat semacam dinding dari bata merah yang membatasi area monumen dari bukit kecil di belakangnya. Sebuah plakat bertuliskan MONUMEN dan lambang bendera Merah Putih terpasang di depan dinding bata merah itu. Sangat sederhana, namun tak sesederhana kisahnya di masa kemerdekaan dulu.

Sehari setelah peringatan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang pertama, yaitu tanggal 18 Agustus 1946, akhirnya Sang Saka Merah Putih bisa berkibar di Tidore. Informasi kemerdekaan Republik Indonesia memerlukan waktu 1 tahun untuk sampai ke bumi Kie Raha karena keterbatasan dan sulitnya informasi pada masa itu. Inisiatif pemuda-pemuda di sana untuk mengibarkan Bendera Merah Putih di langit Indonesia tercinta ini akhirnya terwujud. Hari itu, Minggu, 18 Agustus 1946, waktu baru menunjukkan pukul 4 subuh ketika perlahan-lahan Bendera Merah Putih mulai berkibar di sebatang tiang sederhana yang terbuat dari bambu. Di bawah tiang bambu tersebut tertulis sebaris kalimat yang berbunyi “Barang siapa yang berani menurunkan bendera ini, maka nyawa diganti nyawa”. Pengibaran Bendera Merah Putih itu sama artinya dengan memproklamasikan bahwa Tidore dan Kepulauan Maluku menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bendera Merah Putih yang dikibarkan saat itu pun sangat istimewa. Apabila di Jawa kita mengenal ibu Fatmawati yang menjahit bendera untuk dikibarkan saat Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, maka di Tidore ada ibu Amina Sabtu (dikenal dengan nama Nenek Na atau Ibu Bandera) yang dikenal juga sebagai Fatmawati-nya Tidore atau Fatmawati dari Indonesia Timur. Nenek Na inilah yang berjasa menjahit Bendera Merah Putih yang dikibarkan di Tanjung Mareku pada tanggal 18 Agustus 1946.

Inisiatif menjahit Bendera Merah Putih itu dilakukan oleh Nenek Na setelah beliau pulang dari Ternate dan mendengar berita mengenai Kemerdekaan Republik Indonesia serta mengetahui bahwa benderanya berwarna merah dan putih. “Orang di Maluku Utara mengetahui bahwa Indonesia telah merdeka pada 17 Agustus 1945, baru pada 1946, karena saat itu di Maluku Utara sarana informasi sangat sulit untuk mengetahui perkembangan yang terjadi di Jakarta”, tutur Nenek Na. Setibanya di Tidore, Nenek Na kemudian membuat bendera tersebut. Namun karena keterbatasan kain dan benang, akhirnya Nenek Na membuat bendera Merah Putih dengan menggunakan 2 helai kain, sehelai kain merah dan sehelai kain putih penutup peti yang digunakan di dalam ritual Salai Jin. Kedua helai kain itu kemudian dijahit menggunakan serat daun Nanas.

Awalnya, rencana pengibaran Bendera Merah Putih akan dilakukan di Jembatan Residen, Ternate. Namun ketatnya penjagaan tentara Belanda di sana, membuat rombongan pemuda dari Indonesia Timur ini mengurungkan niat untuk melakukan pengibaran bendera di lokasi tersebut. Adalah Abdullah Kadir (sepupu Nenek Na) akhirnya mencari lokasi pengganti untuk mengibarkan Bendera Merah Putih tersebut. Kemudian dipilihlah Tanjung Mareku sebagai tempat untuk mengibarkan bendera merah Putih yang pertama kalinya di Tidore. Saat peristiwa heroik itu terjadi, usia Nenek Na baru 19 tahun. Abdullah Kadir dan pemuda-pemuda kemudian mengibarkan Bendera Merah Putih di sana.

Berita pengibaran Bendera Merah Putih di Tanjung Mareku akhirnya sampai ke telinga tentara Belanda. Sepasukan tentara Belanda mendatangi lokasi pengibaran bendera, namun tidak ada yang berani menurunkan Bendera Merah Putih yang berkibar. Belanda akhirnya mencari dan menangkap pemuda-pemuda yang dicurigai sebagai penggerak dan inisiator peristiwa tersebut, termasuk Abdullah Kadir dan Nenek Na.

Setelah pengibaran Bendera Merah Putih tersebut, Tidore dan Kepulauan Maluku secara resmi menyatakan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini sekaligus mematahkan argumen Belanda dan Jepang yang hanya mengakui secara de facto kemerdekaan Republik Indonesia hanya meliputi Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan.

Bergabungnya Tidore dan Kepulauan Maluku ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia juga tidak terlepas dari usaha Sultan Tidore saat itu, Sultan Zainal Abidin Syah yang mendukung Indonesia Timur bergabung dengan NKRI. Saat konferensi Malino pada tahun 1946, Sultan Zainal Abidin Syah diberikan tiga opsi, (1) bersama Irian mendirikan negara sendiri, (2) bergabung dengan Negara Serikat Indonesia Timur, dan (3) bergabung dengan NKRI. Sultan Zainal Abidin Syah memilih untuk bergabung dengan NKRI.

Untuk memperingati peristiwa yang sangat bersejarah tersebut, pada tahun 2009 dibuatlah monumen seperti yang bisa dilihat saat ini di lokasi pengibaran Bendera Merah Putih pertama kalinya di Tidore dan kepulauan Maluku.

Saat ini Nenek Na masih tinggal di rumahnya yang dulu pernah menjadi tempat beliau menjahit Bendera Merah Putih yang pertama kali dikibarkan di Tidore, yaitu di RT 08/RW 04 Kelurahan Mareku, Kecamatan Tidore Utara, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara. Sedangkan Abdullah Kadir telah meninggal di tahun 2009.

IMG_9817
asli, artikel ini baru selesai ditulis setelah 3 hari. Dan setiap lanjut nulis artikel ini, badan selalu merinding dan mata mbrebes mili…

Tidore #4 – Long History of Tahula Fort

IMG_9715

Tahula Fort is located at Sultan Syaifuddin Street, Soa Sio Village, Tidore Subdistrict, Tidore Kepulauan Town. Its location is on a fairly steep hill in the coastal area. Construction of this fortress staircase shown by the number of stairs in the area of the fort. There are 2 pieces of triangular bastion and 1 round bastion.

Fort Tahula
Fort Tahula

Based on the archives of Spain, circa 1607, one year after Spain conquered Ternate, Juan de Esquivel (the first Spanish Governor in Maluku, May 1606 – March 1609) ordered to build a fortress in Tidore, but this development was not accomplished due to lack of manpower. The construction of Fort Tahula, also known as Benteng Tohula or Kota Hula, was only started in 1610 by Cristobal de Azcqueta Menchacha (1610 – 1612), the Spanish Governor at that time.

However, this development work is also not yet complete. The construction of Fort Tahula was intensified in 1613 and completed in 1615 under the leadership of the Spanish Governor Don Jeronimo de Silva (1612 – 1617), and the fortress was named Santiago de los Caballeros de Tidore or Sanctiago Caualleros de los de la de Ysla Tidore.

The fort was inhabited by 50 Spanish soldiers equipped with artillery to protect their flagged ships. Spain used this fortress until 1662. After Spain’s departure in 1707, the Dutch – who were in power at the time – asked Sultan Tidore to destroy the fortress of Tahula. However, before the fort was completely destroyed, Sultan Tidore Hamzah Fahroedin (1650-1700) requested that this fort be preserved as the residence of the sultanate.

Tidore
Tidore

The location of Fort Tahula is very strategic, right on the edge of the beach and on the cliff, giving access to a wider view of the city of Tidore. We have to pass about 123 steps to reach the fort. On the right and left side of the stairs that passed, looks green plants are neatly arranged. Like the historic buildings in general, the condition of Fort Tahula is also not intact. Parts of it have been damaged and collapsed.

IMG_9697
stairs as the entry access to Fort Tahula

the stairs number about 123 steps
the stairs number about 123 steps

Up the stairs that became the only access to the building of the fort, it was quite tiring. But the scenery gained after arriving at the top of the fort was very beautiful. From the top of the fort, there will be views of Tidore City, Kadato Kie, Tidore Sultan Mosque, Tanjung Soa Sio, Soa Sio main road and Halmahera Island in the distance. Entrance access to the fort is located right at the intersection of Soa Sio main street. In front of this fort stood firmly, a monument of Cloves.

IMG_9736
monument of Clove, in front of Fort Tahula

 

EVY_5421
I can only photograph the name of the Fort Tahula from above

EVY_5408
this stairs to the top of the Fort Tahula

EVY_5422
view from the top of Fort Tahula

I arrived at Fort Tahula after a visit to Kedaton Sultanate of Tidore, Kadato Kie. In the afternoon, the sun in Soa Sio is still quite hot. Slowly I climbed one by one the steps that will lead to the main building of Fort Tahula is high enough located on the hill. Arriving at the first courtyard, my eyes were treated to a pretty garden scenery, filled with colorful flowers and green trees. Continuing my way up the steps that would take me to the second court of Tahula Fortress, the trees on either side of the stairs were pretty dense and blocked the sunlight of the afternoon. In the second courtyard, I found a rung of iron which is quite steep and very narrow to reach the top of Fort Tahula. And from the top of Fort Tahula, a very beautiful landscape greeted me, view of Tidore City from above. Houses of residents interspersed with trees that are quite shady, collaborating with the blue sea is very broad. What would you say? I just want to say “This is Indonesia, my beloved country!”

 

EVY_5415
view from the top of Fort Tahula

 

EVY_5413
this is still the view from the top of Fort Tahula

 

IMG_9705
a scenery from the top of Fort Tahula

In the vicinity of Fort Tahula are still found many coconut and banana trees. The view to the open sea was clearly plastered. From the top of the fort looks a footpath made of stone that becomes a foot path to surround the fort area. Some gazeebos are seen in several locations, provided for resting visitors. Deep in the back of the fort, Mount Kie Marijang stands dashing, as if guarding the whole island of Tidore.

EVY_5431
views of the sea and the jetty from the Fortress of Tahula

IMG_9706
Mount of Kie Marijang in distance

IMG_9735
this is bentor, a traditional vehicle in Tidore I found in front of Fort Tahula

watch out!
watch out!

be safe!
be safe!

Enjoying the afternoon at the top of Fort Tahula is very pleasant. The heat of the sun is directly proportional to the wind. I imagining to enjoying the moment the sun rises from above FortressTahula, ah … I will miss that place very much.

 

IMG_9722
Yes! This is Indonesia!

Tidore #2 – Pantai Akesahu, Sensasi Berendam Air Panas dengan Pemandangan Laut yang Indah

EVY_5366

 

Biasanya, untuk mencari kolamair panas yang bisa digunakan untuk berendam, orang akan pergi ke dataran tinggi atau daerah pegunungan. Namun berbeda dengan yang ada di Tidore, di sini, kita bisa berendam sambil menikmati indahnya pemandangan laut lepas yang terbentang di depan mata. Ya, di Pantai Akesahu, kita bisa menikmati nyamannya berendam air panas sambil menikmati suasana laut.

 

EVY_5376
destinasi wisata Akesahu Mafumuru

 

EVY_5373
taman yang ada di dekat akses masuk Pantai Akesahu Mafumuru

 

EVY_5375
akses masuk menuju Pantai Akesahu Mafumuru

Sumber air panas ini letaknya di Pantai Akesahu, Dusun Akesahu, Desa Dowora, Kelurahan Taso, Tidore Timur, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara. Terdapat 2 sumber air panas di sekitar Pantai Akesahu, (1) kolam alami dengan struktur kolam pasir yang dikelilingi bebatuan, (2) kolam buatan yang telah dibeton. Saat saya berkunjung ke Tidore, yang saya tuju adalah sumber air panas dengan kolam alami.

 

EVY_5363
akses menuju sumber air panas Akesahu Mafumuru

 

EVY_5364
pemandangan yang didapat dari lokasi sumber air panas Akesahu Mafumuru

 

EVY_5365
kolamnya hanya bisa dimasuki sekitar 3 orang dewasa, tapi pemandangannya….. cihuy!!!

Lokasinya yang berada persis di pinggir jalan utama, sangat mudah ditemukan, cukup ditempuh selama 30 menit dari Pelabuhan Rum. Memasuki area wisata Akesahu Mafumuru, terlihat beberapa bangku kayu yang dicat warna-warni, cukup sebagai tempat bersantai menikmati hari. Untuk mencapai kolam air panas Akesahu, pengunjung harus menuruni jalanan tanah berbatu yang terletak di sebelah kanan area wisata. Sebuah gapura bertuliskan Akesahu – Mafumuru yang terbuat dari kayu yang dicat merah dengan tulisan berwarna kuning, terasa begitu eye catching. Jalanan tanah berbatu yang menjadi akses untuk mencapai kolam air panas memiliki pembatas dari bamboo yang dicat merah dan putih berfungsi sebagai pegangan dan pengaman bagi pengunjung. Dari ujung atas pintu masuk area Akesahu, terlihat lautan luas membentang.

 

IMG_9643
menikmati siang sembari berendam air panas dengan pemandangan laut lepas, perfect!

 

IMG_9645
berendam…. berendam…

 

IMG_9653
tua, muda, besar, kecil, semua menikmati

Meniti jalanan tanah berbatu yang cukup curam ini, pengunjung harus sangat berhati-hati. Kondisi tanah yang kering dan lepas bisa menyebabkan tergelincir. Menyusuri turunan sekitar 10 meter, saya tiba di pinggir pantai berbatu. Lokasi sumber air panas terletak di sisi kiri, sekitar 3 meter dari akhir turunan yang tadi saya lewati. Kolam sumber air panas yang dimaksud berupa sebuah kolam sederhana dengan kapasitas sekitar 3 orang dewasa, dikelilingi oleh bebatuan besar yang disusun secara acak.

 

EVY_5369
tempat yang sempurna untuk menikmati hari sambil bersantai

Siang itu, ketika saya tiba di kolam air panas, terlihat beberapa masyarakat setempat yang sedang asyik berendam air panas dan bermain di pinggir laut. Kolam ini benar-benar berada persis di tepi laut. Bahkan, apabila gelombang yang datang cukup besar, air laut akan masuk ke dalam kolam. Oh iya, air panas yang ada di kola mini berupa air tawar. Jadi , walaupun letaknya sangat dekat dengan laut, tapi airnya tetap tawar.

 

EVY_5371
jalan setapak yang menjadi akses menuju lokasi kolam air panas

 

EVY_5362
siapkan kaki, tangan dan napas :D

Menikmati indahnya pemandangan laut sambil berendam air panas, ditemani nyanyian daun yang tertiup angin, it was too perfect! Jangan khawatir, walaupun letaknya persis di pinggir laut, tapi lokasi kolam air panas ini cukup teduh dengan adanya pepohonan yang cukup besar di sekitarnya.

 

EVY_5370
apabila di depan yang bisa dilihat adalah laut, di bagian belakang pengunjung akan disuguhi pemandangan gunung yang tinggi menjulang

 

IMG_9641
ayo liburan ke Pantai Akesahu Mafumuru! Ini Indonesia!

Tidore #1 – Tugu Juan Sebastian de Elcano dan Mangrove di Mafututu

IMG_9630

Perjalanan Year-End Trip saya masih berlanjut, tidaklah lengkap bercerita tentang Ternate tanpa mengunjungi Tidore. Dan pagi ini, saya bersiap untuk mengunjungi daerah yang digelari pulau seribu mesjid itu. Keinginan act as a local people, pagi itu saya dan teman-teman sengaja ingin mencoba kendaraan umum di Kota Ternate. Beruntungnya kami, Hotel Surya Pagi yang menjadi rumah kami kemarin letaknya sangat strategis, hanya sekitar 15 meter dari persimpangan Jalan Kapitan Pattimura.

 

IMG_9589
menunggu angkot untuk ke Pelabuhan Bastiong

Setelah check out, kami pun berjalan kaki sedikit menuju perempatan Jalan Kapitan Pattimura. Setelah menunggu beberapa saat, lewatlah sebuah angkutan umum (angkot) berwarna biru di depan kami. Sesuai pesan dari ibu resepsionis di hotel, sebelum naik tanyakanlah terlebih dulu, apakah angkutan ini akan melewati tujuan yang kita inginkan? Setelah memastikan bahwa angkot akan melewati Pelabuhan Bastiong, saya dan teman-teman pun naik. Jarak Pelabuhan Bastiong dari perempatan Jalan Kapitan Pattimura sekitar 3.1 km dan apabila ditempuh dengan menggunakan angkutan umum akan memakan waktu sekitar 11 menit. Bapak supir angkutan umum mengantarkan kami hingga ke depan dermaga Pelabuhan Bastiong, and you know what? Ongkosnya hanya Rp 5.000 per orang!

Berbekal informasi yang saya dapatkan, dari pelabuhan ini kami bisa menyeberang menuju Tidore dengan beberapa cara; (1) menyewa speedboat dengan biaya sekitar Rp 100.000 hingga Rp 150.000 oneway, (2) menggunakan speedboat umum (bersama masyarakat lokal) dengan biaya (hanya) Rp 10.000 per orang. Dengan mempertimbangkan biaya dan waktu (karena apabila menaiki speedboat umum, kami harus menunggu hingga speedboat penuh), akhirnya kami memutuskan untuk menyewa saja. Sepakat di angka Rp 100.000 dengan pemilik perahu, akhirnya saya dan teman-teman bisa segera menyeberang ke Tidore.

 

IMG_9590
siap-siap menyeberang ke Tidore

 

IMG_9610
let’s go to Tidore!

 

IMG_9617
hello Tidore…

Speedboat bergerak kencang, membelah lautan di perairan Ternate – Tidore ini. Di depan terlihat Pulau Maitara yang selama ini hanya bisa saya lihat di lembaran uang Rp 1.000 edisi tahun 2013, cantik! Perjalanan Ternate – Tidore menggunakan speedboat hanya memakan waktu kurang dari 10 menit!

 

IMG_9618
dari Pelabuhan Rum di Tidore, bisa melihat Pulau Ternate dan Maitara

 

IMG_9621
speedboat seperti ini yang mengantarkan saya menyeberang menuju Pulau Tidore

Tujuan pertama saya di Pulau Tidore ini adalah Tugu Juan Sebastian de Elcano. Tugu ini merupakan situs pendaratan kapal Angkatan Laut Spanyol pada tahun 1521 di pantai Kelurahan Rum, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara. Tidak terlalu jauh dari Pelabuhan Rum Balibunga, Kota Tidore. Tugu yang ada di situs itu dibangun pada 30 Maret 1993 oleh Kedutaan Besar Spanyol untuk Indonesia sebagai peringatan lokasi mendaratnya kapal Angkatan Laut Spanyol. Kapal Angkatan Laut Spanyol “Trinidad” dan “Victoria” yang mendarat di Tidore dipimpin oleh Juan Sebastian de Elcano dalam ekspedisinya mengelilingi dunia di tahun 1521. Kapal Trinidad dan Victoria berlabuh selama sebulan di Pantai Rum.

 

EVY_5346
lokasi Tugu Sebastian de Elcano di Pantai Rum

 

EVY_5347
tugu yang dibangun oleh Kedutaan Besar Spanyol untuk Indonesia sebagai peringatan mendaratnya kapal “Trinidad” dan “Victoria” di Tidore

Kondisi Tugu Juan Sebastian Elcano saat ini sangat memprihatinkan. Komplek tugu yang terletak di pinggir Pantai Rum tampak tidak terpelihara. Pagar beton bercat kuning pucat itu tampak kotor. Pintu pagar yang terbuat dari besi berwarna hitam bahkan separuhnya sudah lepas dari tempatnya, dan tergeletak di tanah dalam kondisi rusak. Tugu bersejarah itu tampak kotor, mengingat letaknya yang berada di bawah sebatang pohon besar, areanya dipenuhi dengan daun kering, beberapa sampah plastik, serta botol minuman kemasan.

 

EVY_5352
pemandangan Pulau Maitara dari lokasi Tugu Juan Sebastian de Elcano

Tugu peringatan yang terbuat dari batu marmer berwarna hitam tampak kotor. Bahkan tulisannya pun sudah sedikit susah untuk dibaca. Tugu yang memuat tulisan berbahasa Indonesia, Inggris dan Spanyol ini berisikan keterangan merapatnya Kapal “Trinidad” dan “Victoria” di Pantai Rum.

En memoria de Juan Sebastian De Elcano y delas tripulaciones de los navíos “Trinidad” y “Victoria” que arribaron a esta isla de Tidore el 8 de Noviembre de 1521 dando vela a España el 18 de Diciembre de 1521 llevando a cabo la primera circunnavegación de la tierra.
La embajada de España el buoue escuela de la armada Española “Juan Sebastian de Elcano”

Untuk memperingati Juan Sebastian De Elcano beserta awak kapal-kapal “Trinidad” dan “Victoria” yang merapat di Pulau Tidore tanggal 8 Nopember 1521 dan melanjutkan pelayarannya ke Spanyol pada tanggal 18 Desember 1521. Dalam pelayarannya mengelilingi dunia yang pertama.
Kedutaan besar Spanyol, Kapal Latih Angkatan Laut Spanyol “Juan Sebastian de Elcano”

In memory of Juan Sebastian de Elcano and the crews of ships “Trinidad” and “Victoria” who landed ini this island of Tidore on November 8th 1521 and set out its course for Spain on December 18th 1521, to accomplish the first circumnavigation of the globe.
The Embassy of Spain, The Training Ship of the Spanish Navy “Juan Sebastian de Elcano”

Kawasan Mangrove – Kampung Mafututu, Tidore Timur

IMG_9638

Setelah mengunjungi Tugu Juan Sebastian de Elcano, perjalanan saya berlanjut menuju kawasan mangrove di Pulau Tidore. Kampung Mafututu, yang lokasinya tidak seberapa jauh dari lokasi Tugu Juan Sebastian de Elcano ini merupakan area mangrove. Terletak di tepi jalan beraspal hitam yang mulus, berbatasan dengan tebing batu di sisi jalan lainnya. Lokasinya yang lumayan sepi, membuat suasana di tanjung ini sangat nyaman. Batuan besar tampak tersusun acak di batas laut dan daratan, sungguh menggoda untuk hunting foto dengan pemandangan yang tidak biasa. Sederetan pohon mangrove tampak bercumbu dengan air laut yang terkadang beriak disapu hembusan angin.

 

EVY_5357
lokasinya sepi dan tenang

 

EVY_5356
lokasinya instagramable (meminjam istilah anak jaman now) untuk foto-foto

 

EVY_5358
deretan mangrove cantik di Kampung Mafututu

Gemerisik angin dari sela-sela daun mangrove menghasilkan alunan musik alam yang sangat indah. Berkolaborasi dengan suara air laut yang pecah di bebatuan, membuat saya betah duduk di sebuah batu besar yang ada di sana.

 

IMG_9640
pemandangannya cantik

Jalanan di Kampung Mafututu ini boleh dibilang sangat sepi. Sepanjang saya berhenti di sana, hanya ada sekitar 3 kendaraan roda 2 yang melintas. Matahari yang bersinar cerah, dengan langit biru membentang, dan beberapa spot awan putih, sungguh menyajikan pemandangan yang menyenangkan. Menikmati pemandangan yang tidak akan pernah saya dapatkan di ibukota ini dalam beberapa saat, akhirnya saya melanjutkan perjalanan. Masih banyak destinasi di pulau ini yang akan saya datangi dan nikmati.

 

IMG_9635
di manapun, this is Indonesia!!!