Tag Archives: ternate

Year-End Trip #5 – Tolire dan Legendanya

EVY_5274

Matahari siang mulai beranjak semakin rendah mendekati garis horizon, perjalanan berlanjut menuju Danau Tolire. Danau dengan berbagai kisah yang masih menimbulkan banyak tanda tanya dan memerlukan jawaban. Danau Tolire terletak sekitar 10 km dari pusat Kota Ternate, di kaki Gunung Gamalama, gunung api tertinggi di Maluku Utara. Danau ini bentuknya unik dan penuh dengan cerita yang melegenda. Danau ini berjumlah 2, biasa masyarakat menyebutnya Danau Tolire Besar dan Danau Tolire Kecil, letaknya hanya terpisah jarak sekitar 200 meter.

 

EVY_5281
Danau Tolire Besar

 

EVY_5277
airnya yang hijau pekat, seolah menyembunyikan apa yang ada di dasarnya

Bentuk Danau Tolire Besar bak sebuah wadah raksasa yang dikelilingi oleh pepohonan hijau yang cukup rapat. Air danau berwarna hijau pekat, tenang, bertekstur kecil karena hembusan angin yang menyentuh permukaannya membuat sebuah pola unik yang seragam. Air di danau ini adalah air tawar dan dihuni oleh berbagai macam ikan. Namun, masyarakat setempat tidak ada yang berani menangkap atau mandi di danau itu, karena mereka percaya bahwa danau tersebut dihuni oleh banyak siluman Buaya.

 

EVY_5279
Gunung Gamalama yang menjadi latar belakang Danau Tolire

 

EVY_5280
pepohonan hijau, rapat, seperti pagar di sekeliling danau

Keunikan dari Danau Tolire ini adalah, apabila kita melemparkan batu ke arah tengah danau, sekuat apapun lemparan itu, batu yang dilemparkan tidak akan pernah menyentuh permukaan air di tengah danau. Batu yang dilemparkan seolah-olah menghilang begitu saja, atau jatuh di antara pepohonan yang tumbuh rapat di bagian pinggir danau. Saat tiba di danau tersebut, saya ingin mencoba merasakan sensasi melemparkan batu mengarah tengah danau dan membuktikan mitos yang beredar. Dan hasilnya, dari sekian banyak batu yang saya lemparkan, tidak ada satu pun yang terlihat menyentuh permukaan air danau. Entah ke mana semua batu yang saya lemparkan itu?

 

IMG_9538
cobalah untuk melempar batu ke arah tengah danau, dan lihat, apakah batu yang dilemparkan berhasil menyentuh permukaan airnya?

Mitos yang bernuansa mistis tidak hanya itu. Dipercaya bahwa asal-muasal Danau Tolire Besar dan Danau Tolire Kecil adalah karena terjadinya gempa bumi dahsyat yang disebabkan oleh hubungan asusila antara bapak dan anak gadisnya di sebuah desa yang dulu ada di situ. Hubungan asusila yang akhirnya berbuah bencana dahsyat dari Yang Maha Kuasa. Di mana lokasi sang ayah menjadi Danau Tolire Besar dan lokasi sang anak menjadi Danau Tolire Kecil.

 

EVY_5282
jalanan menuju lokasi Danau Tolire

Namun, terlepas dari semua legenda yang berkembang di masyarakat tersebut, tidak bisa dipungkiri bahwa keindahan Danau Tolire akan menghipnotis siapa pun yang datang ke sana. Hamparan danau seluas 5 hektar dengan kedalaman mencapai 50 meter ini sangat indah dan menarik. Berpadu dengan gagahnya Gunung Gamalama yang terlihat jelas di kejauhan.

Year-End Trip #4 – Melihat Air Sebening Kaca di Sulamadaha

EVY_5268

Perjalanan year-end trip masih terus berlanjut. Kali ini saya dan teman-teman akan membuktikan beningnya air di Pantai Sulamadaha. Pantai yang menurut cerita memiliki air sebening kaca, sehingga perahu-perahu yang ada di atasnya tampak seolah-olah sedang melayang.

 

EVY_5255
Pantai Sulamadaha

 

EVY_5256
bocah-bocah sedang menikmati hangatnya pasir di Pantai Sulamadaha

Pantai Sulamadaha berjarak sekitar 30 menit dari pusat Kota Ternate. Memiliki pasir berwarna hitam yang cukup halus, namun air di pantai ini luar biasa beningnya. Wajar apabila pantai ini dijuluki pantai dengan air sebening kaca. Tiba di areal parkir, tampak sederetan warung dengan kursi warna-warni yang siap melayani pengunjung dengan berbagai makanan dan minuman. Di tengah terik matahari Maluku Utara siang itu, terlihat beberapa pengunjung yang sedang bermain di pantai. Aktivitas yang bisa dilakukan di Pantai Sulamadaha ini antara lain, berenang, snorkeling dan diving.

 

EVY_5257
jalanan beton menuju Sol Sulamadaha

 

EVY_5258
Pulau Hiri, yang terlihat dari Sol Sulamadaha

 

EVY_5261
boat yang lewat di depan Sol Sulamadaha

Apabila ingin tempat yang sedikit lebih tenang, berjalanlah menyusuri jalanan beton kecil di sepanjang tebing pantai. 10 menit kemudian, kita akan tiba di sisi lain dari Pantai Sulamadaha yang biasa disebut Hol Sulamadaha. Di sini, jumlah pengunjungnya lebih sedikit, sehingga suasananya lebih tenang. Siang itu hanya terlihat beberapa pengunjung yang sedang bersantai di warung-warung yang ada di lokasi tersebut. Namun, ternyata cukup banyak pengunjung yang sedang melakukan aktivitas di hangatnya air laut siang itu. Ditemani teriknya matahari, mereka tampak berenang dan snorkeling di beberapa bagian.

 

EVY_5265
keramba ikan yang terdapat di Sol Sulamadaha

 

EVY_5270
airnya sangat jernih, seperti kaca

 

EVY_5271
langit biru yang bisa didapatkan di semua bagian Pulau Ternate

Menghabiskan waktu menikmati siang ditemani sebutir Kelapa muda, sambil memperhatikan suasana siang di Hol Sulamadaha, hembusan tipis angin laut Maluku Utara, pemandangan cantik dan gemericik hempasan kecil gelombang yang menabrak bebatuan di bawah warung, it’s such a beautiful song!

 

EVY_5272
menyenangkan ya melihat kombinasi laut dan langit seperti ini

 

IMG_9535
wajib dinikmati kalau lagi di pantai

Hei Indonesia, bagaimana saya tidak jatuh cinta berkali-kali padamu apabila yang saya temui selalu membuat rasa di dada membuncah bahagia.

Year-End Trip #3 – Found Something Unique, Batu Angus

EVY_5227

Bekas aliran lahar dari letusan Gunung Gamalama membentuk sebuah area unik yang dikenal dengan nama Batu Angus. Terletak sekitar 10 km dari pusat Kota Ternate, di Kelurahan Kulaba, Kota Ternate. Batu Angus merupakan hamparan bekas aliran lahar letusan Gunung Gamalama yang membeku dan tampak seperti hangus terbakar. Hamparan batu-batu hitam dengan ukuran yang cukup besar ini membentang dari kaki Gunung Gamalama hingga ke tepi laut. Batuan yang telah membeku tersebut membentuk hamparan indah yang alami, berpadu dengan hijaunya Gunung Gamalama dan birunya lautan yang terhampar luas.

 

EVY_5226
Pulau Hiri terlihat jelas dari Batu Angus

 

EVY_5228
spot-spot di Batu Angus begitu fotogenik, cantik

 

IMG_9525
jalan setapak yang akan mengantarkan pengunjung menjelajahi seluruh area Batu Angus

Di area Batu Angus ini, terdapat beberapa gazeebo yang disediakan untuk pengunjung beristirahat sembari menikmati pemandangan alam Ternate. Sebuah jalan setapak dari beton terlihat membelah area Batu Angus, mulai dari area parkir hingga ke ujung. Beberapa tanaman hijau berbunga juga terlihat di sepanjang area Batu Angus. Luas area Batu Angus ini sekitar 10 ha.

 

IMG_9527
panasnya matahari siang bukan penghalang untuk menjelajahi area Batu Angus

 

EVY_5253
bahkan awan di atas Batu Angus pun membentuk formasi yang cantik

Konon cerita dari masyarakat, saat aliran lahar dari letusan Gunung Gamalama mengarah ke laut, Sultan Ternate menancapkan tongkatnya di tebing yang berbatasan langsung dengan laut, sehingga aliran lahar tersebut berhenti.

 

EVY_5246
buih putih pecah di antara bebatuan hitam di tebing

 

IMG_9532
bebatuan hitam tampak cantik bersanding dengan birunya lautan di perairan Ternate

 

EVY_5238
sejauh memandang, gradasi hijau biru tampak memanjakan mata

Apabila kita berdiri di pinggir tebingnya, maka akan terlihat gelombang laut yang pecah menghantam bebatuan hitam yang letaknya persis berbatasan langsung dengan laut. Buih putih mengembang setiap kali gelombang air laut menghamtam bebatuan hitam tesebut. Di kejauhan terlihat sebuah pulau, yang bernama Hiri.

 

EVY_5229
Pulau Hiri yang berpayung segumpal awan putih

 

IMG_9523
ada yang tahu ini pohon apa?

 

IMG_9529
Alamanda kuning ini banyak ditemui di area Batu Angus

Di area Batu Angus ini juga terdapat sebuah situs sejarah yang merupakan lokasi tewasnya seorang tentara Jepang yang sedang melakukan terjun payung di tahun 1945, di mana parasut yang dikenakannya ternyata tidak terbuka.

 

EVY_5249
Gunung Gamalama berselimut kabut siang itu

 

IMG_9530
perjalanan belum selesai, let’s go!

Year-End Trip #2 – Let Tolukko Fort Tell Their Story

EVY_5212

Perjalanan saya di bumi rempah masih terus berlanjut. Setelah melihat cerita kejayaan Kesultanan Ternate, saya melanjutkan perjalanan untuk mengintip sedikit cerita sejarah di kota ini. Kota yang memiliki banyak benteng peninggalan sejarah ini tentunya akan menyuguhkan cerita yang tak kalah menarik. Benteng Tolukko merupakan benteng yang pertama kali saya singgahi di Kota Ternate.

 

EVY_5215
taman di depan Benteng Tolukko yang tertata rapi

Berlokasi di Kelurahan Sangadji, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Propinsi Maluku Utara, Benteng Tolukko terlihat sangat terpelihara. Berada pada ketinggian 6,2 mdpl, benteng ini hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari Kesultanan Ternate, berada di dalam sebuah komplek dengan pagar besi berwarna hitam yang membatasinya dengan lingkungan luar, kondisi di sekeliling benteng ini sangat rapi. Bahkan terlalu rapi (menurut saya) untuk tampilan sebuah bangunan bersejarah yang sudah berumur ratusan tahun. Sebuah gerbang besar terbuat dari beton yang dicat kuning dan memiliki sedikit atap berwarna terracotta menyambut saya. Sebaris kalimat “Ino Wosa Lafo Waro Masejarahnya” terpampang di bagian atas gerbang. Di bawah kalimat tersebut tertulis sebaris kalimat berbahasa Indonesia “Mari Masuk Supaya Kita Tahu Sejarahnya”.

 

EVY_5213
sekilas sejarah Benteng Tolukko

 

EVY_5216
setelah dipugar kembali, Benteng Tolukko diresmikan oleh Prof. DR. Ing. Wardiman Djojonegoro, selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu

Memasuki gerbang benteng, terlihat taman yang mengelilingi benteng tertata rapi. Pot-pot bunga besar terbuat dari batu tampak menyusun formasi di sepanjang jalan setapak yang terbuat dari beton, yang mengarah menuju bangunan benteng. Berbagai macam tanaman hijau dan bunga terlihat menghiasi halaman benteng. Benteng Tolukko dibangun di atas pondasi batuan beku, terbentuk dari 3 buah bastion, ruang bawah tanah, halaman dalam, lorong, serta bangunan utama berbentuk segi empat. Konstruksi bangunannya sendiri terdiri dari campuran batu kali, batu karang, pecahan batu bata dan direkatkan menggunakan campuran pasir dan kapur.

 

IMG_9517
lorong dan tangga batu yang menjadi akses satu-satunya menuju bangunan dalam benteng

 

EVY_5221
bermilyar kaki telah menapaki lorong sempit ini, meninggalkan berbagai macam cerita

Benteng ini dibangun pada tahun 1540 oleh seorang Panglima Portugis bernama Francisco Serao, dan diberi nama Santo Lucas. Benteng ini awalnya difungsikan sebagai benteng pertahanan Portugis serta tempat penyimpanan rempah-rempah asli Ternate yang akan mereka perdagangkan. Letak benteng yang berada di atas bukit, dan sangat dekat dengan wilayah perairan Ternate membuatnya sangat strategis karena dapat secara langsung mengamati pergerakan yang terjadi di Kesultanan Ternate.

 

EVY_5217
pemandangan dari atas benteng

 

EVY_5218
gunung dan laut merupakan pemandangan yang bisa dilihat dari atas benteng

Kekuasaan Portugis berakhir di tahun 1577 karena lahirnya perlawanan rakyat Ternate di bawah pimpinan Sultan Baabullah. Sejak saat itu, Benteng Santo Lucas dikuasai oleh Kesultanan Ternate hingga datangnya Belanda di bumi rempah tersebut, merebut benteng dan mengganti namanya menjadi Benteng Hollandia. Pada tahun 1610 benteng tersebut direnovasi oleh Pieter Both dan menjadi salah satu tempat pertahanan Belanda di Ternate. Berdasarkan beberapa perjanjian kerjasama yang terjadi antara Kesultanan Ternate dan VOC, maka pada tahun 1661 Sultan Ternate yang bernama Madarsyah diberi ijin untuk menempati Benteng Hollandia bersama sekitar 160 orang personilnya.

 

EVY_5219
aktivitas masyarakat Ternate di perairan yan terlihat dari atas bangunan benteng

 

Nama Tolukko yang sampai saat ini melekat pada benteng itu sendiri masih menjadi cerita yang penuh tanda tanya. Satu kisah menceritakan bahwa nama Tolukko digunakan sejak salah satu Sultan Ternate yang bernama Kaicil Tolukko memerintah sekitah tahun 1692. Namun kisah lainnya menyebutkan bahwa nama Tolukko berasal dari penyebutan nama asli benteng itu, yaitu Benteng Santo Lucas. Masyarakat asli Ternate yang kesulitan melafalkan nama Santo Lucas akhirnya menyebut benteng tersebut sebagai Benteng Tolukko.

EVY_5214
Benteng Tolukko

Menurut cerita, ada sebuah lorong rahasia yang mengarah langsung ke wilayah pantai. Dahulu, saat pemerintahan Portugis dan Belanda, jalan rahasia tersebut difungsikan sebagai jalur melarikan diri apabila terjadi pemberontakan atau hal-hal lain yang tidak diinginkan. Namun pada tahun 1864, benteng ini dikosongkan oleh Residen P. van der Crab karena sebagian bangunannya telah mengalami kerusakan. Pada saat dilakukan pemugaran tersebut, bangunan benteng ditinggikan sekitar 70 cm. Oleh pemerintah Republik Indonesia, bengunan benteng ini kemudian dipugar dan di perbaiki pada tahun 1996 – 1997.

 

IMG_9518
pemandangan ke laut lepas dari atas Benteng Tolukko

Berada di dalam Benteng Tolukko membuat angan saya seolah memasuki mesin waktu. Menyusuri lorong batu kecil berukuran kurang lebih 1 meter, yang menjadi satu-satunya akses menuju bagian dalam benteng membuat saya seolah-olah mendengar cerita masa lalu. Lantai batu yang mulai berlumut seperti menunjukkan berjuta bahkan bermilyar kaki yang pernah menapakinya. Dari atas bangunan benteng, saya bisa melihat Pulau Halmahera, Maitara danTidore di kejauhan. Kokohnya bangunan Benteng Tolukko seolah bercerita, walaupun berbagai kisah kelam yang pernah dialami rakyat Ternate telah disaksikannya, namun Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil yang manis. “Tolukko, terima kasih untuk cerita sejarah yang telah kau berikan, perjuanganmu dahulu akan selalu kami ingat”.