Tag Archives: Sultan Mudaffar Sjah

Year-End Trip #10 – Fort Oranje, The Largest Fort in Ternate

EVY_5854

Membicarakan Ternate tentunya tidak bisa lepas dari sejarah yang pernah terjadi di sana. Bumi rempah yang menjadi rebutan bangsa asing pada masa lalu, yang membuat Nusantara menjadi primadona persinggahan dan rebutan. Di Ternate terdapat beberapa benteng yang pernah menjadi saksi sejarah, bukti bahwa rempah-rempah yang merupakan hasil bumi di sana merupakan daya tarik yang sangat memikat. Salah satu benteng yang terkenal adalah Benteng Oranje. Benteng ini terletak di Jalan Hasan Boesoeri, kelurahan Gamalama, kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara. Benteng ini merupakan benteng yang bisa dikatakan utuh dengan kondisi bangunan yang masih sangat baik.

 

EVY_5865
bangunan dan taman yang terdapat di dalam komplek Benteng Oranje

Bangunan dengan warna dominan orange ini merupakan benteng paling besar di Ternate. Benteng ini didirikan oleh Cornelis Matelief de Jonge pada tanggal 26 Mei 1607 dengan dalih ingin membantu Kesultanan Ternate untuk mengusir bangsa Spanyol dari wilayah Ternate. Bantuan yang diberikan membuahkan kemenangan di pihak Kesultanan Ternate sehingga akhirnya de Jonge diberikan ijin untuk mendirikan benteng di wilayah Ternate. Selain itu, Sultan Ternate juga memberikan ijin kepada VOC untuk melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah di wilayah kekuasaan Kesultanan Ternate. Benteng ini dikenal juga dengan nama Benteng Melayu, berdiri di atas area bekas benteng Sultan Melayu yang telah rusak. Tahun 1609 di masa pemerintahan Sultan Mudaffar, otoritas Belanda di Ternate, Paul van Carden, mengganti nama benteng ini menjadi Benteng Oranje (Fort Oranje). Saat selesai dibangun, benteng ini dihuni oleh sekitar 150 orang serdadu dengan 5 perwira yang merupakan garnisun Belanda pertama di Maluku.

 

EVY_5866
meriam yang ada di komplek Benteng Oranje

Tanggal 17 februari 1613, ketika Pieter Both diangkat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Board of Commissioners Heeren XVII (the Lords Seventeen) mengeluarkan Surat Keputusan yang menetapkan wilayah Maluku sebagai pusat kedudukan resmi dari VOC. Ternate dan Ambon terpilih sebagai tempat tinggal resmi para Gubernur Jenderal Belanda. Pada masa itu, Ternate memiliki peranan yang lebih besar, sehingga Benteng Oranje kemudian dijadikan sebagai tempat resmi Dewan Hindia Belanda untuk menjalankan pekerjaan administratifnya seperti mengadakan pertemuan, pembuatan undang-undang, dan lain-lain.

Benteng Oranje menjadi pusat pemerintahan VOC hingga tahun 1619, saat VOC memindahkan pusat kekuasaannya ke Batavia. Pada masa itu, Ternate terbagi menjadi 2, sebagian dikuasai oleh Belanda, dan sebagian lagi dikuasai oleh Spanyol. Di bawah pemerintahan Sultan Hamzah (1627-1648), wilayah kekuasaan Ternate semakin luas, dan beberapa wilayah tersebut dipertukarkan kepada VOC untuk menghindari terjadinya kerusuhan. Tahun 1663 akhirnya Spanyol meninggalkan wilayah Ternate dan Tidore.

 

EVY_5862
semoga bangunan benteng ini tetap terpelihara

Pada abad ke-18, Gubernur Jenderal VOC dikirim ke Benteng Oranje untuk mengontrol perdagangan di area Maluku Utara. Setelah kebangkrutan VOC di tahun 1800, semua aset yang semula dimiliki oleh VOC dipindahtangankan secara administratif kepada pemerintahan Maluku. Sebagian besar harta milik VOC dikuasai oleh Inggris selama perang Napoleon, termasuk Benteng Oranje di tahun 1810. Setelah terbentuknya pemerintahan Kerajaan Belanda yang baru melalui sebuah kongres di Wina, Benteng Oranje dikembalikan ke tangan Belanda pada tahun 1817.

Padat tahun 1822, benteng ini sempat menjadi tempat pengasingan bagi Sultan Badarudin II dari Palembang hingga tahun 1852. Setelah wafat, Sultan Badarudin II kemudian dimakamkan di kecamatan Santiong.

 

EVY_5850
sepasang meriam yang seolah menjaga komplek Benteng Oranje

 

EVY_5851
tangga batu menuju rampart di bagian atas benteng

Konstruksi Benteng Oranje terdiri dari batu karang, batu kali dan pecahan kaca, sehingga terlihat lebih menarik. Bentuk Benteng Oranje menyerupai trapesium yang berdiri di atas lahan seluas 12.680 m2 dan mempunyai 4 buah bastion di setiap sudutnya. Ketebalan tembok bagian luar dari benteng ini sekitar 1 meter, sedangkan untuk tembok bagian dalamnya memiliki ketebalan sekitar 0.75 meter. Di bagian atas tembok benteng ini terdapat rampart atau jalan keliling yang menghubungkan ke-4 bastion di setiap sudutnya. Rampart ini berada pada ketinggian sekitar 3.5 meter dari permukaan tanah dan mempunyai jarak sekitar 1.1 meter dari ketinggian dinding tembok.

 

EVY_5853
rampart yang menghubungkan antara bastion satu dengan lainnya di sekeliling benteng

 

EVY_5854
pemandangan komplek Benteng Oranje diliat dari atas rampart

Pada kedua sudut bagian dalam dari bastion yang terletak di sisi Barat Laut dan Timur Laut terdapat ramp berukuran 15 x 3 meter menuju ke bagian atas bastion. Selain itu terdapat juga 2 buah tangga yang berbentuk setengah melingkar pada bagian dalam pintu gerbang utama dan pada bastion di sisi Barat Daya. Sedangkan, di atas pintu gerbang utama terdapat lonceng besar yang ditopang oleh dua balok kayu besar. Semula lonceng buatan Perio Diaz Bocarro tahun 1603 ini didatangkan langsung dari Portugal, dan ditempatkan di Benteng Gamlamo. Akan tetapi, ketika Portugis meninggalkan Ternate, lonceng tersebut sempat dipindahkan VOC dan digantung di pintu masuk Benteng Oranje. Hingga 1950 lonceng ini masih terpasang di sana, dan sejak 1951 dipindahkan dan disimpan pada gereja Katolik (Gereja Batu) di Ternate.

 

EVY_5852
lonceng tembaga besar yang terdapat di atas gerbang masuk Benteng Oranje

Di dalam komplek benteng terdapat bekas kediaman Gubernur Jenderal Belanda yang sekarang difungsikan sebagai Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Ternate. Di dalam komplek benteng juga terdapat sebuah sumur layang, yaitu sumur dengan ketinggian 5 meter dari permukaan laut.

 

EVY_5859
di dalam komplek Benteng Oranje terdapat beberapa bangunan yang sekarang digunakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Ternate

Saat saya tiba di Benteng Oranje, suasana sangat sepi karena kebetulan Ternate baru saja diguyur hujan yang walaupun tidak seberapa lebat, namun bisa membuat basah tanah dan pepohonan yang terdapat di sekitar benteng. Harum tanah dan rumput basah menyambut kaki saya saat memasuki komplek benteng. Bangunan-bangunan yang didominasi warna kuning muda dan coklat pada bingkai pintu dan jendela terlihat sangat terawat. Sebuah bangunan mesjid berwarna putih tampak di sudut komplek. Sebuah taman berbentuk bujursangkar tampak tertata rapi dengan rumput hijau yang terpangkas rata. Beberapa pohon palem terlihat di setiap sudut area taman. Dua buah meriam kuno terlihat mengapit jalanan batu menuju sebuah tangga di samping gerbang benteng. Tembok batu yang mengelilingi benteng terlihat menghitam dan berlumut di beberapa bagian, namun sangat terpelihara. Saya menapaki tangga batu menuju bagian rampart dari benteng. Di bagian ujung tangga terlihat sebuah lonceng tembaga besar yang digantung pada tiang berwarna merah. Rampart benteng terlihat sangat terpelihara, namun sayang banyak tangan-tangan tak bertanggung jawab yang meninggalkan coretan vandalism di sana. Di bagian depan komplek benteng terdapat sebuah taman dengan tembok yang didominasi warna orange dan putih. Suasana yang sepi membuat saya puas menikmati semua yang ada di sekeliling benteng. Membayangkan beberapa serdadu Belanda berjalan di sepanjang rampart dengan bayonet di tangan, dan di setiap bastion terdapat sebuah meriam dengan serdadu yang berjaga waspada.

 

IMG_0885
taman yang terdapat di bagian depan komplek Benteng Oranje

Year-End Trip #1 – Ternate, Finally I Met You

EVY_5633

Roda pesawat yang saya tumpangi akhirnya menyentuh aspal hitam landasan pacu Bandara Sultan Baabullah. Penerbangan panjang sejak pukul 23.00 waktu Jakarta itu akhirnya selesai juga pukul 08.25 waktu Ternate. Huft…… perjalanan yang cukup panjang.

IMG_9493
let’s start the journey!

 

IMG_9495
Bandara Sultan Baabullah, Ternate – just landed

 

Keluar dari lambung pesawat, sinar matahari terasa menggigit di kulit, dan membuat saya harus memicingkan mata untuk melihat sekeliling. Sembari menunggu bagasi keluar, saya sempat memperhatikan ruang kedatangan di Bandara Sultan Baabullah ini. Bandara Sultan Baabullah ini tidak terlalu besar, 2 buah conveyor belt tampak bergerak perlahan, mengantarkan bagasi-bagasi bawaan penumpang dari beberapa penerbangan yang mendarat dalam waktu yang tidak terlalu jauh bedanya. Bagasi sudah di tangan, mari kita mulai perjalanan di bumi rempah ini.

IMG_0032
bandara dengan pemandangan laut dan gunung

Mengelilingi Ternate sebaiknya menggunakan kendaraan roda 4, karena mataharinya sangat terik. Namun, apabila ingin lebih santai mungkin bisa mencoba untuk menggunakan kendaraan roda 2 dengan bonus sengatan matahari yang lumayan mencubit di kulit.

First Stop – Sarapan

Penerbangan panjang dari Jakarta menuju Ternate cukup membuat saya dan teman-teman sepakat bahwa kami membutuhkan asupan energi sebelum memulai perjalanan di Ternate. Dan setelah berdiskusi dengan driver (abang Gani) yang akan mengantarkan kami berkeliling seharian di Ternate, akhirnya kami sepakat untuk mencoba menu khas masyarakat setempat, Nasi Kuning. Ternyata, di Ternate ini masyarakatnya biasa sarapan Nasi Kuning dengan lauk ikan atau telur rebus.

Mobil yang saya tumpangi bergerak perlahan menyusuri jalanan beraspal di Kota Ternate, dan berhenti di depan sebuah gang kecil yang bertuliskan RM Kamis. Saat kami tanyakan ke bang Gani, kenapa disebut RM Kamis, menurut bang Gani karena yang punya lahir di hari Kamis :D

 

IMG_9504
gang menuju RM Kamis, tempat sarapan kami yang pertama di Ternate

Saya dan teman-teman memasuki gang kecil yang berada di antara 2 tembok tinggi dari rumah penduduk setempat. Gang itu berujung pada sebuah rumah yang menyediakan menu sarapan berupa Nasi Kuning dan Lontong Sayur. Niat awal saya untuk mencoba Nasi Kuning akhirnya goyah, dan berganti menu Lontong Sayur.

 

IMG_9506
mau coba yang mana? ini?

 

IMG_9505
atau yang ini?

Tidak menunggu lama, sepiring Lontong Sayur dengan telur rebus dan sambal goreng kentang terhidang di depan saya. Teman-teman memilih untuk mencicipi Nasi Kuning dan telur rebus. Aroma kuah dari Lontong Sayur sukses membuat perut saya berbisik kecil, baiklah… mari kita coba.

Setelah isi piring ludes, perut pun sudah tenang, saya dan teman-teman kemudian melanjutkan perjalanan. Akan ke mana kah kami?

Second Stop – Kedaton Kesultanan Ternate

IMG_9512
Kedaton Kesultanan Ternate

Saya dan teman-teman tiba di Kedaton Kesultanan Ternate sekitar pukul 09.15, masih cukup pagi, dan yang jelas masih sepi, sehingga kami bisa mendengarkan cerita dari bapak penjaga dengan lebih nyaman. Melewati bangunan pendopo yang terbuka di halaman belakang, yang pertama kami temui adalah lambang Kesultanan Ternate yang berupa Burung Garuda berkepala 2 mencengkeram tulisan Limau Gapi. Menurut cerita, lambang Burung Garuda inilah yang nantinya akan menjadi cikal bakal lambang negara Republik Indonesia yang kita kenal saat ini, dengan berbagai perubahan dan penyesuaian.

EVY_5208
lambang Kesultanan Ternate

Dari bangunan pendopo, saya kemudian menaiki tangga untuk mencapai bangunan kedaton. Memasuki sebuah ruangan besar, terdapat sebuah meja panjang dengan 12 kursi yang terbuat dari kayu, tertata dengan rapi.selembar taplak meja putih menghiasi meja panjang tersebut. Terdapat beberapa lemari kayu besar, yang salah satunya berisikan berbagai plakat serta piring keramik dari berbagai negara. Porselen kuno berwarna krem menghiasi lantai di ruangan ini. Kusen dan daun pintunya yang berwarna kuning gading tampak serasi dengan tembok beton yang sewarna dengan porselen. Sehelai tirai bermotif tampak menghiasi setiap pintu tertutup yang menuju ke kamar. Saya melewati sebuah pintu yang terbuka, yang mengarah ke ruang depan.

 

EVY_5207
meja panjang dan 12 kursi kayu yang terdapat di ruang belakang Kesultanan Ternate

 

EVY_5182
lukisan Kedaton Kesultanan Ternate yang pertama

 

EVY_5205
(ki-ka) Sultan Jailolo, Sultan Ternate, Sultan Tidore, Sultan Bacan

 

EVY_5199
lampu gantung yang terdapat di langit-langit ruang utama Kedaton Kesultanan Ternate

Saya memasuki ruangan utama bangunan kedaton, sebuah ruangan besar dengan dindingnya yang berwarna krem dan porselen senada sebagai lantainya. Beberapa lemari pajang tampak menghiasi ruangan utama ini. Masing-masing lemari berisikan benda yang berbeda. Ada yang berisikan peralatan perang, senjata, pakaian yang pernah digunakan oleh Sultan terdahulu, peralatan yang terbuat dari keramik, dan masih banyak lagi. Foto-foto Sultan Ternate yang pernah bertahta pun tampak menghiasi ruangan ini. Di langit-langit ruangan terlihat sebuah lampu gantung besar terbuat dari logam. Tepat di bawah lampu gantung tersebut, terdapat sebuah meja yang ditutupi dengan kain putih yang di atasnya terdapat sebuah mangkok keramik putih besar, tempat air dari tanah, mangkok pembakaran aroma (sejenis dupa), serta 4 buah gelas kaca yang berisi air. Menurut bapak penjaga yang menemani saya berkeliling, air di meja itu akan diganti 3x dalam seminggu, yaitu di Hari Senin, Selasa dan Kamis.

 

EVY_5201
meja di tengah ruang depan yang terdapat mangkok berisi air di atasnya, yang diganti 3x dalam seminggu

 

EVY_5204
ruang utama dari Kedaton Kesultanan Ternate

 

EVY_5188
senjata di lemari pajang Kedaton Kesultanan Ternate

 

EVY_5190
perlengkapan perang – baju besi dan perisai

 

EVY_5196
koleksi senjata

Di sudut-sudut ruangan terdapat berbagai benda kuno yang mayoritas terbuat dari logam. Sebuah kamar berpintu kuning yang ditutupi sehelai tirai bermotif, yang disebut Kamar Puji, merupakan ruangan sakral yang di dalamnya terdapat mahkota Kesultanan Ternate yang konon memiliki rambut yang terus tumbuh hingga saat ini. tidak sembarang orang yang bisa masuk dan melihat isi dari Kamar Puji. Hanya orang-orang terpilih dan mendapatkan ijin dari Sultan yang bisa masuk ke kamar ini, dan unfortunately, sepertinya saya belum terpilih untuk bisa masuk ke kamar tersebut.

EVY_5192
Kamar Puji – tempat disimpannya mahkota Kesultanan Ternate

 

EVY_5193
mata uang Dirham yang digunakan pada masa kepemimpinan Sultan Haji Mudaffar Sah II, Sultan Ternate ke-48

 

EVY_5197
Kelapa Kembar – upeti Raja Sangir kepada Sultan Ternate di tahun 1750

 

EVY_5194
tempat ludah Sultan, biasanya diletakkan di kanan dan kiri singgasana Sultan

 

EVY_5198
lampu yang dulu digunakan sebagai alat penerangan di kesultanan, menggunakan minyak Kelapa

 

EVY_5203
plakat dari Belanda, yang dikirimkan untuk alm. Sultan Mudaffar Sjah

Dari ruangan utama tersebut, saya menuju bagian teras dari Kedaton Ternate. Di kejauhan terlihat laut luas membentang. Di halaman Kedaton, terlihat 3 buah tiang bendera yang berdiri pada sebuah pondasi bundar dan berundak. Di setiap tiang berkibar sebuah bendera, yang terdiri dari bendera Merah Putih, bendera Kesultanan Ternate dan bendera Kesultanan Islam tertua di Indonesia. Di seberang halaman kedaton, terdapat sebuah lapangan hijau membentang luas. Dari informasi yang saya dapatkan, di lapangan itu biasa diadakan keramaian untuk masyarakat Ternate.

 

EVY_5200
3 tiang bendera yang terdapat di halaman Kedaton Kesultanan Ternate

 

IMG_9513
bangunan museum yang terdapat di sisi kanan kompleks Kesultanan Ternate, hanya sayang saat saya ke sana bangunan ini tutup

Berdiri di ujung teras Kedaton Ternate, merasakan wangi laut yang samar tercium, Indonesia, I love you so much!

Tips untuk mengunjungi Kedaton Ternate:

  1. Gunakan pakaian yang sopan, usahakan tidak bercelana pendek untuk wanita;
  2. Datanglah di pagi hari, kedaton ini dibuka untuk umum mulai pukul 9 pagi.