Tag Archives: Sultan Khairun Jamil

Tidore # 8 – Torre, The Portuguese Heritage in Tidore

EVY_5511

Still remember, that Kadato Kie, Kedaton Sultanate Tidore flanked by 2 pieces of fort? This time I will tell you about the Fort of Torre, because the Fort of Tahula I have told you before. The fort of Torre lies slightly behind Kadato Kie. Precisely behind the tomb of Kapitalau and the tomb of Sultan Zainal Abidin Syah. About 30 minutes when we start from Rum Port.

it was so photogenic
it was so photogenic

The fort of Torre is a Portuguese heritage fortress built on the orders of Sancho de Vasconcelos (source from Documenta Malucensia Book) after obtaining permission from Sultan Gapi Baguna (16th Sultan of Tidore, 1586-1600) on 6 January 1578. This permission was obtained after the Portuguese were expelled from Ternate by Sultan Baabullah Khairun in 1570 for killing Sultan Khairun.

Fort Torre viewed from behind
Fort Torre viewed from behind

The name of the fort is estimated to be taken from the name of the then Portuguese captain, Hernando de la Torre. Fortress of Torre used to be used by the Portuguese for the defense of their families as rulers, due to the tight competition of monopoly of spice trade, especially Clove in Tidore, between Portuguese, Spanish, Japanese and Dutch.

beautiful view of my beloved country, Indonesia
beautiful view of my beloved country, Indonesia

The Torre fort is located at a fairly high location. There are dozens of steps to climb to reach the fort building. The front of the fort is facing directly to Halmahera Island, while the back faces to Mount Kie Marijang. Until now, the Fort Torre has undergone two stages of restoration, namely:

(1) In 2012, the restoration includes the manufacture of stairs, the reconstruction of part of the wall on the Southwest side, the southeast side and the reconnaissance space;
(2) In 2013, the restoration includes the reconstruction of the advanced wall of the Southeast and Southwest sides, the reconstruction of the northeast side wall, the reconstruction of part of the Northwest side wall and the arrangement of the environment.
The Northwest side wall was reconstructed partly because the structure of the wall was disconnected and no structure was found in the surrounding area after excavation. The restoration was carried out on the basis of a technical study conducted by BPCB Ternate (Balai Peninggalan Purbakala Ternate) stating that the Fort Fortress suffered severe damage and the structure of the castle only left about 30%, so it must be immediately restored to avoid further damage of the fort.

That afternoon when I arrived at the Fort Torre, the atmosphere around it was not so quiet. Some local people are seen in the field in front of the staircase that serves as access to reach the fort. I climbed the cement staircase provided to reach the main building of the castle, with large stones arranged haphazardly on the right and left side of the stairs, and dense trees enough to block the sunlight is still quite hot. If at Fort Tahula we have to climb about 123 steps, in the Fort Torre is fewer in number, only a few dozen steps.

EVY_5499
stairs to Fort Torre

 

EVY_5500
the view from the top of Fort Torre

 

EVY_5519
garden, gazeebo, pathwalk and view of the sea

Climbing the stairs, I arrived on a path about 1.2 meters wide, made of cement. To the right and left a gazeebo that can be used to rest while enjoying the sea view and Halmahera Island in the distance. Around the footpath looks a very neat and well-maintained garden, adding to the beauty of the Fort Torre.

reconnaissance space at Fort Torre
reconnaissance space at Fort Torre

 

this is a photogenic spot to take a picture
this is a photogenic spot to take a picture

 

how can i not to fall in love with you, Indonesia?
how can i not to fall in love with you, Indonesia?

Entering the main building of the Fort Torre, on the right side of the entrance there is a reconnaissance space directly facing the sea. This room is taller than the rest of the fort and can be reached by climbing several stone steps, this space is equipped with a reconnaissance window on the front side. On the left side is a stone path that will lead us to the rear of the fort. In the center of the fort there is a garden with a variety of flowers that were currently in bloom, Cambodia, Bougenvill, and many more. Walking the stone walkway to the back side of the fort, I found a semi-circular portion of the fort. It looks like a well with a depth of about 5 meters. This section is empty, in the bottom there is only grass. The more rearward, the building of the Fort Torre is increasingly uphill, following the contours of the hilly land. Mount Kie Marijang appears to stand firmly in the distance, dashing!

garden in Fort Torre
garden in Fort Torre

 

EVY_5518
blossom here

 

Indonesia, we love you.....
Indonesia, we love you…..

 

time to leave
time to leave

 

step up, and now we step down
step up, and now we step down

That afternoon, the Fort Torre looks very pretty. The afternoon sunshine refracts on the walls and courtyards of the fort. The blue sky and the rows of white clouds add to Tidore’s beautiful earth. The sun is increasingly leaning towards the west finally forced my feet to leave the fort. Leaving the beauty of past history that always amazes me and makes me a book lovers. It is true, the darkest of any history that ever happened, will surely be something that can be remembered.

IMG_98822
this is Indonesia!

Year-End Trip #7 – Benteng Kastela, Saksi Kelamnya Perjuangan Rakyat Ternate

EVY_5285

Sebuah tugu Cengkeh setinggi 5 meter, berdiri tegak di atas sebuah platform beton berukuran 4 x 4 meter setinggi 4 meter yang sudah kusam di dalam sebuah halaman yang penuh reruntuhan bata dan tampak tidak terpelihara. Lokasinya persis di belakang sebuah masjid yang saya singgahi ketika berkeliling di Kota Ternate. Sebuah pintu besi hijau tampak menempel erat dengan gerbang putih yang bertuliskan “Jou Se Ngofa Ngare” dan sebuah lambang burung Garuda berkepala dua (Goheba Madopolo Romdidi) di atasnya. Tugu Cengkeh tersebut dibangun pada tahun 1994 sebagai peringatan atas pembunuhan Sultan Khairun Jamil oleh Portugis dan perlawanan rakyat Ternate di dalam mengusir Portugis dari bumi Ternate.

 

EVY_5283
Tugu Cengkeh, yang menjadi tanda lokasi Benteng Kastela

 

IMG_9545
relief yang menceritakan pembunuhan terhadap Sultan Khairun Jamil oleh antonio Pimental

 

IMG_9550
relief yang menceritakan perlawanan rakyat Ternate di bawah pimpinan Sultan Baabullah

 

IMG_9546
relief pasukan Portugis menyerah karena taktik embargo yang dilakukan oleh Sultan Baabullah dan pasukannya

 

IMG_9548
relief yang menceritakan hengkangnya pasukan Portugis dari bumi Ternate

Di sekeliling platform beton terlihat tulisan yang mengidentifikasi tanggal: 28 Februari 1570 (relief tentang pembunuhan Sultan Khairun Jamil), 28 Februari 1570 (relief tentang dimulainya perlawanan oleh Sultan Baabullah), 26 Desember 1575 (relief tentang bangsa Portugis menyerah kepada pasukan Sultan Baabullah), dan 31 Desember 1575 (relief tentang hengkangnya Portugis dari bumi Ternate). Tugu Cengkeh tersebut adalah penanda dari Benteng Kastela, sebuah benteng peninggalan bangsa Portugis yang turut menyumbang cerita kelam bagi sejarah Ternate.

 

EVY_5287
sejarah singkat Benteng Kastela yang masih bisa dilihat di dekat pintu masuk kawasan benteng

Benteng yang terletak di Jalan Raya Benteng Kastela Santo Paulo, kelurahan Kastela, kecamatan Pulau Ternate, Kota Ternate, Maluku Utara ini berada di pesisir Barat Daya pulau Ternate, sekitar 12 km dari pusat Kota Ternate. Benteng seluas 2.724 meter persegi ini (yang saat ini tersisa tidak sampai setengah dari luas awalnya) merupakan peninggalan Portugis ini dikenal dengan nama Benteng Gam Lamo, berbentuk persegi empat, terbuat dari batu gunung dan batu kapur. Merupakan bangunan benteng kolonial pertama yang dibangun di Kepulauan Maluku, Indonesia. Pembangunan benteng ini memakan waktu selama kurang lebih 20 tahun karena pengerjaannya dilakukan secara bertahap. Pembangunan tahap awal benteng ini dilakukan pada tahun 1521 oleh Antonio de Brito. Tetapi  pengerjaan benteng terhenti dengan kembalinya de Brito ke Gowa (India Barat), namun sebelum tiba di sana, ia terbunuh di dalam sebuah pertempuran di Aceh. Pembangunan benteng kemudian diteruskan oleh Garcia Henriquez pada tahun 1525. Dan di tahun 1530 pembangunan diteruskan oleh Gonsalo Pereira. Penyelesaian pekerjaan pembangunan benteng dilakukan oleh Jorge de Castro di tahun 1540.

 

EVY_5288
reruntuhan Benteng Kastela yang masih tersisa

Pada awalnya benteng ini diberi nama Nostra Senhora de Rosario yang artinya wanita cantik berkalung bunga mawar. Namun kemudian penamaan benteng ini pun dibuat dalam beberapa bahasa, yaitu São João Batista (Portugis), Ciudad del Rosario (Spanyol) atau Gammalamma (Ternate dan Belanda), namun masyarakat lebih mengenalnya dengan nama Benteng Kastela.

Hingga tahun 1569, Benteng Kastela (Gam Lamo) merupakan satu-satunya benteng kolonial yang berdiri di luar Malaka. Setelah itu barulah dibangun benteng-benteng lain di Ambon, Jailolo, Moro (Tolo dan Samafo), Banda dan Makasar. Namun benteng-benteng yang dibangun itu lebih menyerupai rumah kembar ketimbang benteng yang sesungguhnya.

 

EVY_5289
taman yang ada di kawasan benteng

Benteng Kastela menyimpan cerita kelam bagi rakyat Ternate. Di benteng inilah pada tanggal 28 Februari 1570 terjadi peristiwa pembunuhan Sultan Khairun Jamil oleh Antonio Pimental yang menerima perintah dari Diego Lopez de Mesquita (Gubernur Portugis ke-18) yang dilakukan melalui tipu muslihat. Padahal, sehari sebelumnya, yaitu pada tangal 27 Februari 1570, Sultan Khairun Jamil dan Antonio Pimental baru saja melakukan perjanjian untuk saling menjaga perdamaian di Moloku Kie Raha. Pembunuhan ini memicu pergolakan di tanah Ternate. Sultan Baabullah, yang merupakan pewaris tahta Kesultanan Ternate menuntut agar Diego Lopez de Mesquita diajukan ke depan pengadilan dan dihukum atas tindakannya. Dan ketika tuntutan itu ditolak, terjadi perlawanan dari rakyat Ternate. Di bawah pimpinan Sultan Baabullah, rakyat Ternate kemudian mengepung Benteng Kastela selama 4 tahun (1574 – 1578) dan memberikan ultimatum agar Portugis segera meninggalkan tanah Ternate.

 

EVY_5290
benteng kolonial pertama yang berdiri di luar kawasan Melaka itu sekarang tinggal reruntuhannya saja

Pengepungan yang dilakukan oleh Sultan Baabullah dan rakyat Ternate menyebabkan terjadinya wabah penyakit dan kelaparan di lingkungan benteng sehingga kemudian Portugis melakukan evakuasi besar-besaran dari Ternate. Awalnya mereka transit ke Tidore dan selanjutnya terus ke Goa. Dalam kurun waktu pengepungan selama 4 tahun itu, tercatat ada 20 Gubernur Portugis yang mengisi benteng tersebut. Ketika bala bantuan Portugis dari Gowa dan Malaka tiba di Ternate, semua sudah terlambat. Armada Portugis hanya bisa melihat puing-puing bekas kekuasaan Portugis di Ternate.

 

EVY_5291
sisa-sisa reruntuhan Benteng Kastela yang masih bisa ditemukan

Setelah kekalahan Portugis, Benteng Kastela dijadikan pusat kekuatan perang Kesultanan Ternate yang dipimpin oleh Sultan Baabullah dan Kapita Lao. Area di sekitar benteng menjadi pusat kekuatan laut Kesultanan Ternate. Dari situlah Sultan Baabullah melakukan berbagai perjalanan menuju Banggai, Tambuko, Tibora (di Pulau Panggasan) dan Buton. Benteng Kastela berada di bawah kekuasaan Kesultanan Ternate selama 30 tahun hingga datangnya Spanyol di bawah pimpinan Don Pedro Bravo da Chunha di tahun 1606. Kejadian ini terjadi di masa pemerintahan Sultan Said Barakat (selanjutnya Sultan Said Barakat diasingkan ke Manila hingga wafat di sana).

 

EVY_5292
yang tersisa dari Benteng Kastela hanyalah reruntuhan bastiong dan menaranya

Tahun 1610, benteng ditempati oleh 200 orang Spanyol, 90 papangers (salah satu suku dari Filipina), 30 keluarga Portugis, 70-80 tukang yang berasal dari China, serta 50-60 orang Kristen Ternate. Pada tahun 1627, benteng ini memiliki kekuatan sebanyak 38 meriam, dan 1 kompi serdadu Spanyol yang berjumlah 60-65 orang. Spanyol menguasai Benteng Kastela hingga tahun 1660. Ketidakmampuan Spanyol bersaing dengan VOC di dalam perdagangan rempah, akhirnya membuat otoritas Spanyol di Manila kemudian menarik kembali pasukannya dari kawasan Maluku di tahun 1662 yang kemudian diberdayakan untuk menghadapi penyerbuan besar-besara dari bajak laut Tiongkok yang akan merebut kota Manila. Hengkangnya Spanyol ditandai dengan penghancuran benteng ini, sehingga hanya tinggal reruntuhan bastiong dan menaranya saja.

Saat ini, yang bisa ditemui hanyalah reruntuhan Benteng Kastela yang tampak kurang terurus. Tugu Cengkeh dan relief yang ada penuh dengan grafity tidak jelas yang ditorehkan oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Walaupun Benteng Kastela sekarang hanyalah tinggal puing-puing dan tumpukan reruntuhan, namun semangat Perjuangan rakyat Ternate yang tampak di relief masih terasa menggelora.