Tag Archives: Sowohi

Ake Dango – Prosesi Tradisional yang Sarat dengan Nilai

 

“Toma pariyama nange enare, ino ngone moi moi, ngofa sedano sobaka puji te jou madubo, Jou Allah SWT, lahi dawa, laora laowange, kie segam, daerah se toloku sehat se salamat, kuat se future, magoga se marorano, mabarakati se mustajab cili ifa ingali ifa”

 

Perjalanan panjang di Halmahera selama 4 hari tidak menyurutkan niat saya untuk datang dan menyaksikan pembukaan rangkaian acara dalam rangka Hari Jadi Tidore ke-910 yang dilaksanakan pada tanggal 30 Maret 2018 yang lalu. Jadual yang penuh selama di Halmahera menyebabkan saya baru bisa menyeberang menuju Tidore dari pelabuhan Loleo di pulau Halmahera sekitar pukul 5 sore. Hati sedikit ciut melihat permukaan air laut yang bergelombang, namun rencana harus tetap dilaksanakan. Bismillah.

 

hai Tidore…. miss you so much… (pemandangan Pulau Tidore dari Pelabuhan Loleo, Halmahera)

 

Perjalanan dengan speedboat selama kurang lebih 45 menit membelah laut di antara Pulau Halmahera dan Pulau Tidore ternyata tidak seseram seperti yang saya bayangkan. Gelombang cenderung lebih tenang dibandingkan saat saya menyeberang dari Ternate menuju Halmahera 4 hari sebelumnya. Dan akhirnya, To Ado Re! Saya kembali menjejakkan kaki di tanah Tidore, tanah yang membuat saya jatuh cinta sejak pertama kali mengunjunginya beberapa bulan yang lalu. Saya harus bergegas karena waktu terus bergulir mendekati malam. Nanti malam saya ingin menyaksikan sebuah acara penting yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

 

perjalanan menuju Tidore senja itu diiringi pelangi

 

Malam itu bulan hampir purnama. Langit bersih walaupun udara terasa sedikit menggigit apabila angin sekelebat lewat. Lapangan Sonyine Gurua ramai, mayoritas mereka yang datang berpakaian putih. Sekeliling lapangan tampak terang dengan berpuluh-puluh obor yang dinyalakan. Hiasan dari daun Enau tampak di sekeliling lapangan Gurua yang malam itu sangat ramai. Di sisi sebelah kanan lapangan, berdiri sebuah bangunan tidak permanen menyerupai rumah kecil yang cukup tinggi, terbuat dari Bambu. Tangga sederhana dan sekeliling bangunan itu ditutupi dengan daun Enau yang menjuntai indah. Di setiap sudutnya dipasang sebuah obor. Di tengah-tengah lapangan berdiri sebuah bangunan kecil beratap rumbia, berdindingkan daun Enau menjuntai dan sebatang Bambu berselubung kain putih yang diletakkan di bagian tengahnya.

 

suasana lapangan Gurua malam itu, ramai oleh ksatria Tidore berpakaian putih

 

suasana Desa Gurabunga gelap, hanya diterangi dengan cahaya obor

 

Tidak jauh dari bangunan kecil tadi terdapat sebuah tenda besar yang nantinya akan menjadi tempat bagi Sultan Tidore, Bobato, pejabat daerah dan undangan lainnya yang akan ikut menyaksikan ritual Ake Dango. Ya, malam itu adalah malam pelaksanaan prosesi Ake Dango sebagai pembuka seluruh rangkaian acara dalam rangka Hari Jadi Tidore ke-910.

 

bangunan tradisional dari Bambu berhiaskan daun Enau yang ada di sisi kanan lapangan Gurua

 

langit cerah, awan putih dan cahaya obor membuat malam Ake Dango terasa sangat berkesan

 

Di depan pintu masuk utama menuju lapangan, tampak sebuah gerbang yang lagi-lagi dibuat dari daun Enau, Bambu dan pohon-pohon kecil lainnya. Beberapa obor dipasang di sepanjang gerbang. Petugas yang nantinya akan menjaga area jalan masuk ini pun terlihat sudah berjaga-jaga. Mereka menggunakan kemeja putih berlengan ¾ dan bercelana putih gantung, ½ dan 7/8. Tidak lupa ikat kepala putih bersimpul di sisi kiri dan sebagai senjata, mereka membawa parang lengkap dengan Salawaku.

 

gerbang utama menuju lapanga Gurua, dihiasi dengan daun Enau dan obor di sana-sini

 

ksatria Tidore bersenjatakan parang dan Salawaku

 

Para pengunjung dari luar Desa Gurabunga, bahkan dari luar Tidore pun tampak ramai di sekeliling lapangan. Beberapa pengunjung tampak memegang kamera untuk mengabadikan prosesi yang hanya ada di Tidore ini dan hanya dilaksanakan 1 kali dalam setahun.

Yang ditunggu pun datang. Sultan Tidore, Hi. Hussain Syah beserta rombongan, pejabat pemerintah daerah, Bobato, dan undangan lainnya mulai memasuki lapangan dan langsung menempati tenda utama. Terdengar aba-aba dari pembawa acara bahwa prosesi Ake Dango akan segera dimulai.

 

Sultan Tidore, para tetua dan tamu undangan yang hadir pada acara Ake Dango

 

para Sowohi dari 5 marga dan rumah adat

 

Prosesi Ake Dango merupakan prosesi penyatuan air suci yang diambil dari puncak Kie Marijang oleh perwakilan dari setiap keturunan marga yang ada di Gurabunga, yaitu Tosofu Malamo, Tosofu Makene, Mahifa, Toduho, Folasowohi dan perwakilan dari rumah adat Sowohi Kie Matiti. Prosesi Ake Dango ini sebelumnya telah didahului dengan prosesi Tagi Kie, yaitu proses pengambilan air suci dari puncak Kie Marijang, sehari sebelumnya. Proses pengambilan air suci ini pun hanya bisa dilakukan oleh perwakilan dari anak cucu ke-5 marga yang ada di Gurabunga.

Petugas mulai memanggil nama dari masing-masing marga yang akan membawa air suci untuk disatukan pada sebuah Bambu yang telah disiapkan di tengah lapangan. Terdengar sebuah lengkingan dari alat tiup Tahuri yang menjadi pertanda bahwa pemanggilan nama dari masing-masing marga akan dimulai.

Eeeee…….. Sowohi Kie Matiti se I ngofa se dano waktu yo joko marua ake dango yo ma susu toma gurua ma sonyine (yang artinya eee…… Sowohi Kie Matiti beserta anak cucunya, waktu telah tiba ake dango – air dalam Bambu 2 ruas setengah, memasuki lapangan Sonyine Gurua)” terdengar panggilan untuk perwakilan dari rumah adat Kie Matiti  dari marga Folasowohi.

 

rombongan keturunan marga yang ada di Gurabunga satu persatu memasuki lapangan dengan membawa air suci di dalam Bambu

 

utusan dari masing-masing marga membawa air suci untuk digabungkan di dalam sebuah Bambu yang telah disediakan

 

setelah menuangkan air suci yang dibawa ke dalam Bambu khusus, rombongan utusan dari masing-masing marga akan berbaris di sekeliling lapangan

 

Terlihat iring-iringan obor dari rombongan rumah adat Kie Matiti mulai mendekati lapangan. Rombongan wanita dengan obor di tangan memasuki lapangan. Wanita paling depan membawa sepotong Bambu yang ditutup dengan kain putih pada ujungnya. Di dalam Bambu itulah terdapat air suci dari rombongan rumah adat Kie Matiti. Rombongan wanita itu menggunakan kebaya putih yang nyaris seragam, dengan kain tradisional sebagai bawahannya. Sehelai kain tradisional serupa selendang terlihat melilit di bagian dadanya, serta sehelai penutup kepala berwarna putih. Wanita pembawa Bambu berisi air suci mendekati bangunan kecil yang terdapat di tengah-tengah lapangan dan menumpahkan air suci yang terdapat di dalam Bambu yang dibawanya ke dalam Bambu yang lebih besar, yang ada di tengah bangunan kecil tersebut. Setelah menuangkan air suci ke dalam Bambu yang terdapat di bangunan yang ada di tengah-tengah halaman, rombongan dari rumah adat Kie Matiti pun mengambil posisi di tepi lapangan.

 

utusan dari masing-masing marga dengan membawa obor, berdiri di sekeliling lapangan Gurua menunggu dimulainya acara Ake Dango

 

Kembali terdengar lengkingan suara dari Tahuri, kali ini panggilan ditujukan untuk keturunan marga Tosofu Makene, Tosofu Malama, Folasowohi, Toduho dan terakhir Mahifa. Panggilan untuk rombongan keturunan marga Mahifa berbeda dengan panggilan untuk 5 marga lainnya.

“Eeee……. Sowohi Mahifa se I ngofa se dano waktu yo joko marua ake sou yo ma susu toma Gurua ma sonyine (yang artinya eee….. Sowohi Mahifa beserta anak cucunya, waktu telah tiba ake sou – air obat yang ada dalam sepotong Bambu kecil, memasuki lapangan Sonyine Gurua)” .

Panggilan untuk keturunan marga Mahifa menjadi pertanda bahwa rombongan anak, cucu, cicit dari marga Mahifa segera memasuki lapangan Gurua. Lagi, rombongan wanita yang berasal dari marga Mahifa terlihat berjalan pelan, berbaris, dengan penerangan obor dan membawa sebatang Bambu memasuki lapangan. Menggunakan pakaian yang serupa dengan rombongan dari marga lainnya, rombongan marga Mahifa pun melakukan hal yang sama, menuangkan air suci ke dalam Bambu di tengah lapangan dan kemudian mengambil tempat di tepi lapangan.

 

utusan dari masing-masing marga telah berkumpul dan menuangkan air suci

 

Air suci yang telah disatukan di dalam Bambu itu kemudian akan diinapkan semalaman di Desa Gurabunga dengan penjagaan dari perwakilan yang dipercaya untuk setiap marga, masing-masing penjaga akan bersenjatakan parang dan Salawaku. Proses ini kemudian disebut Rora Ake Dango.

 

Bambu yang berisi air suci dibungkus dengan kain putih

 

Setelah seluruh para Sowohi menempati tempat yang telah disediakan, masuklah penari laki-laki dengan Salai Maku Toti menyambut Ake Dango. Salai Maku Toti ini menggambarkan kegembiraan para Kapita atas penggabungan air suci yang dibawa oleh utusan dari masing-masing marga yang ada di Gurabunga. Tarian Salai Maku Toti ini biasanya ditampilkan untuk menjemput para Sowohi yang pulang dari berziarah. Para penari Salai Maku Toti akan mengelilingi Bambu yang sudah diisi air suci dengan suka cita.

 

para penari Salonde mulai memasuki lapangan

 

penari utama dari Tarian Salonde memasuki lapangan dan langsung menuju ke arah panggung utama

 

Setelah penari Simore Ake Dango meninggalkan lapangan, terdengar alunan musik tradisional yang sangat indah, serombongan wanita muda berbaju putih terlihat memasuki lapangan. Beberapa kain putih persegi terlihat dibentang di beberapa titik di lapangan Gurua. Rombongan penari itu pun memisahkan diri dan mengambil tempat di masing-masing lokasi, di mana terdapat kain putih yang telah dibentangkan tersebut. Rombongan terakhir terdiri dari 5 wanita muda, salah seorang dari mereka memegang sebuah payung putih berenda. Rombongan ini langsung menuju ke tengah lapangan. Ternyata mereka adalah para penari Salonde. Tarian Salonde ini diambil dari ritual Salai Jin (ritual tradisional yang ada di Tidore) salah satu marga di Gurabunga, yaitu marga Tosofu Malamo, yang mengisahkan tentang penjemputan Sowohi yang baru pulang dari berziarah.

 

penari Salonde

 

berpakaian putih sambil memegang payung putih berenda, salah seorang penari Salonde terlihat mengitari teman-temannya

 

“rumah” tempat Bambu yang berisi air suci

 

Baru saja rombongan penari Salonde undur diri ke pinggir lapangan, tiba-tiba, terdengar lengkingan teriakan dan 2 orang lelaki dewasa berpakaian putih dengan ikan kepala merah, serta membawa parang dan Salawaku memasuki lapangan. Mereka mengelilingi bangunan kecil yang ada di tengah lapangan. Kehadiran 2 lelaki dewasa itu diikuti dengan beberapa anak kecil dengan pakaian serupa. Kapita! Ya, mereka adalah para penari Kapita yang malam itu ikut menjadi bagian dari Prosesi Ake Dango. Tarian Kapita ini melambangkan semangat juang dari prajurit Kesultanan Tidore dalam mengusir penjajah. Tarian ini biasa ditampilkan untuk menyambut tamu undangan. Dan saya mengenal baik salah seorang penari Kapita itu, Ko Gogo! Saya masih berkeingingan untuk mengabadikan tarian Kapita ini secara penuh, setiap langkahnya. Ko Gogo, someday kalau akan tampil lagi, jangan lupa kirim kabar ya.

 

tari Kapita

 

salah seorang penari Kapita malam itu

 

para Kapita kecil pun tidak ketinggalan ikut serta menari malam itu

 

Ko Gogo! salah seorang penari Kapita yang tampil di malam Ake Dango

 

Tarian yang sangat energik itu begitu menghipnotis saya yang baru pertama kali melihatnya secara langsung. Lengkingan-lengkingan teriakan terdengar sahut-menyahut. Derap kaki para penari Kapita terlihat kompak dan tegas menjejak bumi Marijang. Aura bersemangat seolah terpancar dari setiap kelebatan mereka yang secara dinamis terus mengelilingi lapangan Gurua. I love that dance!

Malam itu Sultan Tidore, Hi. Hussain Syah menyampaikan pesan bahwa ada nilai-nilai yang harus tetap dijaga oleh seluruh masyarakat Tidore, yaitu Fomagogoru se Madodara (saling mengasihi dan menjaga), Maku Waje (saling mengingatkan), Maku Toa Soninga (saling menasehati), Maku Sogise (saling mendengar), Maku Digali (saling membantu) dan Maku Duka (saling menyayangi).

 

Sultan Tidore, Hi. Hussain Syah, menyampaikan sambutan pada acara Ake Dango

 

di depan seluruh Sowohi, tetua, undangan dan pengunjung malam itu, Sultan Tidore, Hi. Hussain Syah menyampaikan pesan-pesan yang sarat dengan nilai

 

Pembacaan Borero Gosimo dalam bahasa Tidore menambah kesakralan seluruh rangkaian prosesi Ake Dango malam itu. Pesan-pesan leluhur yang diperdengarkan terasa begitu dalam artinya. Dan ternyata, saya mengenal sosok yang menjadi pembaca Borero Gosimo malam itu. Ya, pembaca Borero Gosimo malam itu adalah Idun, pemuda asli dari Gurabunga yang bernama asli Ridwan Ibrahim. Proud of you, Dun!

 

Dun, ternyata tele-nya hanya mampu segini…. ga bisa close up

 

pembacaan Borero Gosimo oleh Ridwan Ibrahim (photo by Anwar Tosofu – Staf Humas Kota Tidore Kepulauan)

 

Borero Gosimo

Toma pariyama nange enare, ino ngone moi moi, ngofa sedano sobaka puji te jou madubo, Jou Allah SWT, Lahi dawa, laora laowange, kie segam, daerah se toloku sehat se salamat, kuat se future, magoga se marorano, mabarakati se mustajab cili ifa ingali ifa

 Ngofa sedano toma kie Todore se daerah se toloku soninga, soninga, soninga

Fela lao, lila se honyoli, ruku se sodabi, ahu se gogahu, rejeki se rahmati, sone se ahu, ge toma jou madubo, Jou Allah Taala yo atur sefato. Tabali se tabareko, no sogewa gewa la sojud se malahi te Jou Allah Taala soninga kie se gam enare ma madafolo dzikirullah se madarifa papa se tete

E… ngofa sedano toma kie Todore se daerah toloku soninga, soninga, soninga

Fela lao lila se honyoli, ruku se sodabi kie se gam daerah se toloku toma suru se gulu, Todore, Gam Range, Kolano ngaruha mafar soa raha Papua Gamsio, Seram se Gorong, Kei se Tanimbar ge rimoi bato jo, soninga limau madade-dade ge mabara jiko se doe

E… ngofa sedano toma kie Todore se daerah se toloku soninga jo, soninga jo, soninga

Fela lao, lila se honyoli, ruku se sodabi, kie se gam re duka se badisa. Mapolu ino, marimoi nyinga, makusodorifa kefe, la sogado-gado se sodorine ena majarita gatebe kie segam roregu yali soninga, ngone ua se nage yali, nange ua se fio yali

E… ngofa sedano toma kie Todore se daerah se toloku soninga jo, soninga jo, soninga

Fela lao, lia se honyoli, ruku se sodabi, gosimo na dodia, adat senakudi, atur se aturan, fara se filang, syah se fakat, budi se bahasa, ngaku se rasai, mae se kolofino, cing se cingeri, ena sosira ge, kie se gam macahaya duka. Soninga. Fo banofo banga refa la fo dahe maguraci

E… ngofa sedano toma kie Todore se daerah se toloku soninga, soninga, soninga

Awal toma pariyama nange enare sogoko se sodagi loa sebanari aku ua maku sodoa dulu sojako gai, aku ua maku gahi jira, aku ua makudutu, se makudola. Aku ua yau pasi rimo moro-moro maku taigahi soninga, regu ua Todore bato maku gosa jira ifa

E… ngofa sedano toma kie Todore se daerah se toloku soninga, soninga, soninga

Gosimo sogado borero, ruba fola ifa, mabuku raha gosimo gia maace, sodia linga banga ifa, ngofa se dano se dagi-dagi

 

Tidore #5 – Menemukan “Rumah” di Gurabunga

EVY_5433

Saya pecinta daerah dingin (tapi tidak menolak juga untuk berpanas-panas). Makanya, ketika berkesempatan untuk mengunjungi Tidore, saya tidak berpikir dua kali untuk memasukkan Desa Gurabunga menjadi salah satu tujuan yang wajib didatangi. Dan pilihan saya tidak salah!

IMG_9770
di sepanjang perjalanan, pemandangannya seadem ini

 

IMG_9739
Pala, primadona dari kepulauan Maluku

 

IMG_9754
Buah Pala itu seperti ini (biasanya hanya tahu yang sudah jadi manisan)

Sepanjang perjalanan menyusuri aspal hitam menuju desa yang terletak di lereng Gunung Marijang, atau yang lebih dikenal dengan nama Kie Matubu, pohon Pala dan Cengkeh begitu memanjakan mata. Kebetulan, saat saya mengunjungi desa ini, tanaman Pala mulai berbuah. Terpuaskanlah keinginan untuk melihat secara langsung tanaman Pala dan Cengkeh, keluarga rempah-rempah yang di jaman dahulu menjadi daya tarik bangsa asing untuk datang dan menguasai salah satu bagian dari Indonesia tercinta ini.

 

EVY_5447
Lapangan Gurua

 

EVY_5443
suasana desa Gurabunga sangat nyaman dan membuat betah

 

EVY_5444
awan terlihat begitu dekat…

 

EVY_5448
lapangannya hijau….. luas….. bikin ingin guling-guling di sana

Suasana sejuk mengiringi kendaraan yang membawa saya ke desa di ketinggian 800 mdpl ini. Semerbak aroma tanah dan rumput, lembab, namun sangat sarat kerinduan menelisik indra penciuman saya. Menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari pusat Kota Tidore, melewati jalanan aspal menanjak yang berliku-liku, akhirnya saya tiba di lapangan hijau yang luas, Gurua – lapangan hijau yang luas di Desa Gurabunga. Desa Gurabunga sendiri terletak di lereng Gunung Marijang (yang lebih dikenal dengan nama Kie Matubu) yang memiliki tinggi sekitar 1730 mdpl.

Turun dari mobil, saya disambut udara dingin yang menyegarkan. Love that!

 

20171224_154102
masjid dan musholla yang letaknya berdampingan, kaum wanita biasanya sholat di musholla, sementara pria di masjid (taken by mas @Har)

 

EVY_5442
di setiap rumah warganya, deretan bunga warna-warni tampak memenuhi halamannya

 

EVY_5445
desanya bersih, rapi, nyaman, and feels like a home

 

HAR_4912
salah satu rumah di Desa Gurabunga yang sedang dibangun

Lapangan hijau tadi sangat luas, diapit dengan perumahan penduduk dan sebuah masjid serta sebuah musholla yang letaknya berdampingan. Jalanan setapak dari beton tersedia di salah satu sisi lapangan. Melemparkan pandangan ke sekitar, yang terlihat adalah alam yang hijau, gunung Kie Matubu terlihat gagah menjulang tinggi dengan selimut awan di sekelilingnya serta rumah penduduk yang begitu asri dan berwarna dengan beraneka warna bunga yang tumbuh di setiap halamannya. Kata Gurabunga sendiri memiliki arti Taman Bunga, dan itu sangat sesuai dengan kondisi desa ini yang penuh dengan bunga di setiap pekarangan rumahnya.

 

IMG_9756
suka dengan hijaunya pepohonan dan bersihnya desa ini

 

EVY_5434
Rumah Sowohi

 

EVY_5436
ruang tamu di Rumah Sowohi

Kaki melangkah menyusuri jalanan beton menuju salah satu rumah (rumah bapak Arif Romo), yang menjadi tempat kami beristirahat menikmati indahnya Gurabunga. Diantar Gogo, kami kemudian menyambangi sebuah rumah adat Sowohi yang disebut Folajikosabari. Menyusuri jalanan desa yang sedikit menanjak, tidak jauh dari lapangan hijau, akhirnya kami tiba di rumah Sowohi. Rumah Sowohi ini kental dengan nuansa Islam. Rumah yang didominasi dengan warna putih ini dibangun menggunakan kayu, bambu serta berlantaikan tanah dan masih menggunakan daun pohon Sagu sebagai atapnya. Desain rumah Sowohi ini memiliki 5 buah ruangan yang menggambarkan jumlah sholat wajib di dalam Islam, serta 2 buah ikatan di setiap batang bambunya yang melambangkan 2 kalimat Syahadat. Di setiap rumah Sowohi terdapat sebuah ruang khusus, biasa disebut Ruang Puji, yang berfungsi sebagai ruang untuk berdoa. Ruangan tersebut biasanya diberi kain putih sebagai tirainya. Di ruangan itulah para Sowohi akan berdoa untuk keberlangsungan Tidore serta kebijakan-kebiijakan yang menyangkut kepentingan masyarakat Tidore.

 

EVY_5437
Rumah Sowohi memiliki dinding dari bambu serta berlantaikan tanah

 

EVY_5439
atap Rumah Sowohi yang terbuat dari daun pohon Sagu

 

20171224_154710
Gong, yang terdapat di sudut ruang tamu Rumah Sowohi (taken by mas @Har)

Rumah Sowohi yang saya datangi merupakan kediaman Bapak Yunus Hatari, selaku Sowohi Kie Matiti. Saya memasuki sebuah ruangan yang berfungsi sebagai ruang penerima tamu, ruangan berlantaikan tanah padat, dilengkapi dengan seperangkat kursi kayu dan sebuah sofa sudut terbuat dari bambu. Di salah satu sudut ruangan tergantung sebuah Gong dari tembaga. Atap ruangan ini masih menggunakan daun pohon Sagu. Menurut bapak Yunus Hatari, beliau mempertahankan bangunan asli Rumah Sowohi ini untuk menjaga hubungannya dengan para leluhur.

 

HAR_4909
berbincang bersama bapak Yunus Hatari (taken by mas @Har)

 

EVY_5438
kursi kayu, membuat suasana ruang tamu di Rumah Sowohi semakin unik

Setelah berbincang-bincang dan mendengarkan cerita bapak Yunus Hatari mengenai bagaimana beliau menjalin hubungan dengan para leluhur melalui doa di Ruang Puji, serta bagaimana menjaga tatanan masyarakat Gurabunga agar tetap menjunjung tinggi adat-istiadat, akhirnya kami berpamitan.

 

IMG_9761
Kopi Dabe, kopi yang berhasil membuat saya ketagihan dan menjadi pecinta kopi

 

IMG_9763
menikmati kopi dengan pemandangan secantik ini, awesome!

Meninggalkan rasa bahagia karena bisa melihat dan mendatangi sendiri rumah adat yang begitu nyaman, ramah, saya pun kembali menuju rumah bapak Arif Romo. Dan tidak sabar untuk menikmati segelas kopi khas Tidore, Kopi Dabe. Ada cerita sedikit mengenai Kopi Dabe ini. Sebenarnya saya bukan seorang yang addict dan hobi minum kopi. Saya hanya senang menghirup aroma wanginya. Jangan tanya kenapa dan apa sebabnya? Bagi saya, menghirup wangi aroma kopi itu menyenangkan, membuat bahagia, tapi tidak cukup untuk membuat saya tertarik meminumnya. Tetapi, ketika saya berkunjung ke Kadaton Kesultanan Tidore, saya disuguhi secangkir kopi yang aromanya tidak biasa. Wangi kopi bercampur aroma rempah (cengkeh, kayu manis, dan jahe) serta rasa manisnya yang lain dari biasanya, seketika membuat saya ingin bilang “I love this coffee so much”. Dan ketika mendapat suguhan segelas Kopi dabe di Gurabunga ini, rasanya this is a perfect day for me!

 

20171224_161413
bersantai bersama sahabat sembari menikmati segelas Kopi Dabe, perfect! (taken by mas @Har)

 

20171224_172211
Ko Gogo, teman baru yang kami temui di Desa Gurabunga

 

EVY_5441
kulit Pala yang sedang dijemur di salah satu halaman rumah warga

Menikmati segelas kopi sambil duduk di bawah pohon bersama teman-teman, bersenda gurau sambil memandang Kie Matubu yang menjulang di kejauhan membuat siang menjelang sore itu begitu sempurna. Rasanya saya ingin berlama-lama di desa ini. Menikmati suasana desa yang tenang, nyaman, dingin, dan bersahabat. I think I found a place, called home here. Hi Gurabunga, I love you so much!

 

EVY_5454
pepohonan hijau, langit biru yang digayuti awan putih berbias sinar mentari

 

EVY_5455
awan terasa begitu dekat di desa ini, seperti negeri dongeng

Dan ketika tiba waktunya untuk meninggalkan desa yang dalam waktu singkat berhasil membuat saya seperti pulang ke rumah, setitik sedih menggelayut di sudut hati. Tunggulah, suatu saat saya akan kembali ke sana.