Tag Archives: sejarah

Year-End Trip #1 – Ternate, Finally I Met You

EVY_5633

Roda pesawat yang saya tumpangi akhirnya menyentuh aspal hitam landasan pacu Bandara Sultan Baabullah. Penerbangan panjang sejak pukul 23.00 waktu Jakarta itu akhirnya selesai juga pukul 08.25 waktu Ternate. Huft…… perjalanan yang cukup panjang.

IMG_9493
let’s start the journey!

 

IMG_9495
Bandara Sultan Baabullah, Ternate – just landed

 

Keluar dari lambung pesawat, sinar matahari terasa menggigit di kulit, dan membuat saya harus memicingkan mata untuk melihat sekeliling. Sembari menunggu bagasi keluar, saya sempat memperhatikan ruang kedatangan di Bandara Sultan Baabullah ini. Bandara Sultan Baabullah ini tidak terlalu besar, 2 buah conveyor belt tampak bergerak perlahan, mengantarkan bagasi-bagasi bawaan penumpang dari beberapa penerbangan yang mendarat dalam waktu yang tidak terlalu jauh bedanya. Bagasi sudah di tangan, mari kita mulai perjalanan di bumi rempah ini.

IMG_0032
bandara dengan pemandangan laut dan gunung

Mengelilingi Ternate sebaiknya menggunakan kendaraan roda 4, karena mataharinya sangat terik. Namun, apabila ingin lebih santai mungkin bisa mencoba untuk menggunakan kendaraan roda 2 dengan bonus sengatan matahari yang lumayan mencubit di kulit.

First Stop – Sarapan

Penerbangan panjang dari Jakarta menuju Ternate cukup membuat saya dan teman-teman sepakat bahwa kami membutuhkan asupan energi sebelum memulai perjalanan di Ternate. Dan setelah berdiskusi dengan driver (abang Gani) yang akan mengantarkan kami berkeliling seharian di Ternate, akhirnya kami sepakat untuk mencoba menu khas masyarakat setempat, Nasi Kuning. Ternyata, di Ternate ini masyarakatnya biasa sarapan Nasi Kuning dengan lauk ikan atau telur rebus.

Mobil yang saya tumpangi bergerak perlahan menyusuri jalanan beraspal di Kota Ternate, dan berhenti di depan sebuah gang kecil yang bertuliskan RM Kamis. Saat kami tanyakan ke bang Gani, kenapa disebut RM Kamis, menurut bang Gani karena yang punya lahir di hari Kamis :D

 

IMG_9504
gang menuju RM Kamis, tempat sarapan kami yang pertama di Ternate

Saya dan teman-teman memasuki gang kecil yang berada di antara 2 tembok tinggi dari rumah penduduk setempat. Gang itu berujung pada sebuah rumah yang menyediakan menu sarapan berupa Nasi Kuning dan Lontong Sayur. Niat awal saya untuk mencoba Nasi Kuning akhirnya goyah, dan berganti menu Lontong Sayur.

 

IMG_9506
mau coba yang mana? ini?

 

IMG_9505
atau yang ini?

Tidak menunggu lama, sepiring Lontong Sayur dengan telur rebus dan sambal goreng kentang terhidang di depan saya. Teman-teman memilih untuk mencicipi Nasi Kuning dan telur rebus. Aroma kuah dari Lontong Sayur sukses membuat perut saya berbisik kecil, baiklah… mari kita coba.

Setelah isi piring ludes, perut pun sudah tenang, saya dan teman-teman kemudian melanjutkan perjalanan. Akan ke mana kah kami?

Second Stop – Kedaton Kesultanan Ternate

IMG_9512
Kedaton Kesultanan Ternate

Saya dan teman-teman tiba di Kedaton Kesultanan Ternate sekitar pukul 09.15, masih cukup pagi, dan yang jelas masih sepi, sehingga kami bisa mendengarkan cerita dari bapak penjaga dengan lebih nyaman. Melewati bangunan pendopo yang terbuka di halaman belakang, yang pertama kami temui adalah lambang Kesultanan Ternate yang berupa Burung Garuda berkepala 2 mencengkeram tulisan Limau Gapi. Menurut cerita, lambang Burung Garuda inilah yang nantinya akan menjadi cikal bakal lambang negara Republik Indonesia yang kita kenal saat ini, dengan berbagai perubahan dan penyesuaian.

EVY_5208
lambang Kesultanan Ternate

Dari bangunan pendopo, saya kemudian menaiki tangga untuk mencapai bangunan kedaton. Memasuki sebuah ruangan besar, terdapat sebuah meja panjang dengan 12 kursi yang terbuat dari kayu, tertata dengan rapi.selembar taplak meja putih menghiasi meja panjang tersebut. Terdapat beberapa lemari kayu besar, yang salah satunya berisikan berbagai plakat serta piring keramik dari berbagai negara. Porselen kuno berwarna krem menghiasi lantai di ruangan ini. Kusen dan daun pintunya yang berwarna kuning gading tampak serasi dengan tembok beton yang sewarna dengan porselen. Sehelai tirai bermotif tampak menghiasi setiap pintu tertutup yang menuju ke kamar. Saya melewati sebuah pintu yang terbuka, yang mengarah ke ruang depan.

 

EVY_5207
meja panjang dan 12 kursi kayu yang terdapat di ruang belakang Kesultanan Ternate

 

EVY_5182
lukisan Kedaton Kesultanan Ternate yang pertama

 

EVY_5205
(ki-ka) Sultan Jailolo, Sultan Ternate, Sultan Tidore, Sultan Bacan

 

EVY_5199
lampu gantung yang terdapat di langit-langit ruang utama Kedaton Kesultanan Ternate

Saya memasuki ruangan utama bangunan kedaton, sebuah ruangan besar dengan dindingnya yang berwarna krem dan porselen senada sebagai lantainya. Beberapa lemari pajang tampak menghiasi ruangan utama ini. Masing-masing lemari berisikan benda yang berbeda. Ada yang berisikan peralatan perang, senjata, pakaian yang pernah digunakan oleh Sultan terdahulu, peralatan yang terbuat dari keramik, dan masih banyak lagi. Foto-foto Sultan Ternate yang pernah bertahta pun tampak menghiasi ruangan ini. Di langit-langit ruangan terlihat sebuah lampu gantung besar terbuat dari logam. Tepat di bawah lampu gantung tersebut, terdapat sebuah meja yang ditutupi dengan kain putih yang di atasnya terdapat sebuah mangkok keramik putih besar, tempat air dari tanah, mangkok pembakaran aroma (sejenis dupa), serta 4 buah gelas kaca yang berisi air. Menurut bapak penjaga yang menemani saya berkeliling, air di meja itu akan diganti 3x dalam seminggu, yaitu di Hari Senin, Selasa dan Kamis.

 

EVY_5201
meja di tengah ruang depan yang terdapat mangkok berisi air di atasnya, yang diganti 3x dalam seminggu

 

EVY_5204
ruang utama dari Kedaton Kesultanan Ternate

 

EVY_5188
senjata di lemari pajang Kedaton Kesultanan Ternate

 

EVY_5190
perlengkapan perang – baju besi dan perisai

 

EVY_5196
koleksi senjata

Di sudut-sudut ruangan terdapat berbagai benda kuno yang mayoritas terbuat dari logam. Sebuah kamar berpintu kuning yang ditutupi sehelai tirai bermotif, yang disebut Kamar Puji, merupakan ruangan sakral yang di dalamnya terdapat mahkota Kesultanan Ternate yang konon memiliki rambut yang terus tumbuh hingga saat ini. tidak sembarang orang yang bisa masuk dan melihat isi dari Kamar Puji. Hanya orang-orang terpilih dan mendapatkan ijin dari Sultan yang bisa masuk ke kamar ini, dan unfortunately, sepertinya saya belum terpilih untuk bisa masuk ke kamar tersebut.

EVY_5192
Kamar Puji – tempat disimpannya mahkota Kesultanan Ternate

 

EVY_5193
mata uang Dirham yang digunakan pada masa kepemimpinan Sultan Haji Mudaffar Sah II, Sultan Ternate ke-48

 

EVY_5197
Kelapa Kembar – upeti Raja Sangir kepada Sultan Ternate di tahun 1750

 

EVY_5194
tempat ludah Sultan, biasanya diletakkan di kanan dan kiri singgasana Sultan

 

EVY_5198
lampu yang dulu digunakan sebagai alat penerangan di kesultanan, menggunakan minyak Kelapa

 

EVY_5203
plakat dari Belanda, yang dikirimkan untuk alm. Sultan Mudaffar Sjah

Dari ruangan utama tersebut, saya menuju bagian teras dari Kedaton Ternate. Di kejauhan terlihat laut luas membentang. Di halaman Kedaton, terlihat 3 buah tiang bendera yang berdiri pada sebuah pondasi bundar dan berundak. Di setiap tiang berkibar sebuah bendera, yang terdiri dari bendera Merah Putih, bendera Kesultanan Ternate dan bendera Kesultanan Islam tertua di Indonesia. Di seberang halaman kedaton, terdapat sebuah lapangan hijau membentang luas. Dari informasi yang saya dapatkan, di lapangan itu biasa diadakan keramaian untuk masyarakat Ternate.

 

EVY_5200
3 tiang bendera yang terdapat di halaman Kedaton Kesultanan Ternate

 

IMG_9513
bangunan museum yang terdapat di sisi kanan kompleks Kesultanan Ternate, hanya sayang saat saya ke sana bangunan ini tutup

Berdiri di ujung teras Kedaton Ternate, merasakan wangi laut yang samar tercium, Indonesia, I love you so much!

Tips untuk mengunjungi Kedaton Ternate:

  1. Gunakan pakaian yang sopan, usahakan tidak bercelana pendek untuk wanita;
  2. Datanglah di pagi hari, kedaton ini dibuka untuk umum mulai pukul 9 pagi.

Serenceng Dongeng di Tepi Sungai Thames

IMG_0901

 

Ariel: “Haaa, itu dua pangeran Bantam yang bikin seantero kota demam!
Sungguh beda dari lakon tokohmu, Caliban, mereka tak bertaring pun berbulu! Yang dibayangkan Shakespeare tentang orang Timur, huh, ternyata ngawur!”

Caliban: “Sebaliknya, mereka nampak beradab. Lihat berdirinya — sungguh tegap! Dari ujung sorban hingga ujung kasut, sutra Shantung membalut Pisau kesatria yang disebut keris? Bertahta berlian, safir, dan amethyst!” (diambil dari cuplikan percakapan pentas Serenceng Dongeng di Tepi Sungai Thames by Teater Koma)

 

IMG_0834
Sungai Thames, 29 April 1702

 

IMG_0840
nona muda, menunggu perahu

 

IMG_0837
dan tukang perahu pun melintasi di depan Pelabuhan Sandar Eriht

 

IMG_0851
Pelabuhan Sandar Erith

 

29 April 1702, Pelabuhan Sandar Erith

Hari masih pagi. Perahu-perahu hilir mudik di sepanjang Sungai Thames – sungai sepanjang 346 km yang membelah Kota London. Seorang wanita muda, cantik, terlihat bingung di tepi dermaga. Sebuah perahu mendekat dan menawarkan tumpangan. Akan ke mana kah wanita itu pergi? Ternyata wanita muda itu ingin pergi ke Bantam! Sebuah negeri nun jauh di seberang samudra.

 

IMG_0843
“Akan ke manakah nona muda?”

 

IMG_0844
“Bantam, apakah nona muda yakin akan ke sana?”

 

Tukang perahu berusaha mencari tahu, apa yang menjadi alasan wanita muda ini ingin pergi ke Bantam? Ternyata… kisah kemakmuran dan kejayaan Kesultanan Bantam telah sampai ke dataran Eropa. Bagaimana kesultanan itu berhasil memakmurkan rakyatnya sehingga banyak Negara-negara lain yang berusaha menjalin kerjasama dengannya.

 

IMG_0845
“Mengapa nona muda sangat ingin ke Bantam?”

 

IMG_0846
“Aku ingin mengunjungi negeri yang kaya dan makmur di seberang lautan sana, tolong antarkan”

 

IMG_0850IMG_0849

 

IMG_0852
“Nona lihat lah, di sana, ada kapal duta besar utusan Kerajaan bantam yang sedang bersandar. Nona lihat mereka?”

 

Mendengar keinginan sang wanita muda, tukang perahu pun bercerita, bagaimana jayanya Kesultanan Bantam tersebut.

 

IMG_0862
“Pada saat itu, Banten merupakan sebuah kesultanan yang sangat jaya…..”

 

London, 29 April – 5 Juli 1682

Kegemparan terjadi di London! Sebuah kapal besar dari Kesultanan Bantam (Banten) berlabuh dan turunlah dua utusan dari Sultan Banten. Mereka adalah (1) Pangeran Kyai Ngabehi Naya Wipraya dan (2) Pangeran Kyai Ngabehi Jaya Sedana. Mereka menyampaikan niat untuk bersekutu dengan Inggris di timur-jauh untuk bersama-sama melawan VOC Olanda. Rombongan ini diterima oleh Raja Karel II di Istana Windsor. Kedua utusan Banten tersebut kemudian dianugrahi gelar kehormatan “Sir Abdul” dan “Sir Achmet”.

 

IMG_0311
Kapal inilah yang mengantarkan rombongan Kesultanan Bantam hingga ke London

 

IMG_0855
The King!

 

IMG_0861
Yeeeaaayyyy!!!

 

Kedua duta besar itu, membangun hubungan diplomatik dengan berkunjung ke pembesar-pembesar kerajaan dan maskapai perdagangan Inggris – yang memiliki kantor perwakilan dan gudang di Banten, melakukan kunjungan ke gedung pusat pemerintahan kerajaan di Westminter, menyaksikan komedi “The Tempst of Shakespeare”, serta berjalan-jalan menyusuri Sungai Thames.

Utusan dari Kesultanan Banten membawa tak kurang dari 200 kantong lada serta intan permata, dan 33 pelayan sebagai hadiah untuk Raja Britania. Dan, Raja Charles II bahkan hingga dua kali menjamu rombongan dari Kerajaan Banten di istananya!

 

IMG_0863
I am the King!

 

IMG_0864
And, I am Chef

 

IMG_0865
Ouch, banyak sekali tagihannya….

 

Kedatangan dua pangeran utusan Kesultanan Banten tersebut membuat London heboh. Ketenaran akan kejayaan dan kekayaan Banten membuat banyak banyak cerita di London, hingga banyak yang ingin datang dan melihat sendiri kejayaan Banten yang terletak nun jauh di seberang lautan.

 

IMG_0862
Rombongan Kesultanan Bantam membawa tak kurang 200 kantong lada serta intan permata

 

IMG_0872
Di sinilah pertunjukan William Shakespeare diadakan, bercerita tentang betapa jayanya Kerajaan Bantam

 

Kejayaan Banten a.k.a Bantam juga dikisahkan dalam beberapa karya sastra Eropa klasik:

  • “Agon, Sulthan van Bantam” karya Onno Zwier van Haren (1713-1779);
  • “Love for Love” karya William Congreve (1695);
  • “The Court of the King of Bantam” karya Aphra Johnson Behn(1698).

 

IMG_0874
Shakespeare menggambarkan utusan dari Bantam seperti Caliban

 

IMG_0875
Caliban yang ini hobinya selfie :D

 

IMG_0883
Terjadi perang antara Sultan Tua dan Sultan Muda

 

Banten, 1682-1684

Sementara itu, di Banten sendiri sebenarnya sedang terjadi perang dingin antara ayah dan anak. Sultan Ageng Tirtayasa, raja Banten pada saat itu, yang berhasil membawa Banten pada kejayaannya, yang berhasil menjalin hubungan mesra dengan Inggris, Perancis, dan Denmark, serta bekerjasama dengan Kesultanan Makasar, Aceh, Turki dan Mekkah, sedang mengalami hubungan yang sulit dengan anaknya, Sultan Haji (Sultan Abdul Kahar Aboen Nassar).

Di bawah kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa, Kota Banten mengalami perkembangan yang pesat. Kanal-kanal yang ada diperlebar dan didalamkan sehingga kapal dagang dapat berlabuh. Armada laut yang modern, hingga swasembada beras karena sawah dan irigasi yang digarap dengan sangat baik. Banten mulai memperkenalkan koin mas sebagai alat untuk berjual beli. Benteng di Banten diperkuat dengan bastion, yang dilengkapi dengan 66 meriam!

 

IMG_0885
Sultan Tua

 

IMG_0886
Sultan muda

 

Kejayaan Banten akhirnya terkoyak dengan terjadinya perang antara Sultan Tua (Sultan Ageng Tirtayasa) yang jengah dengan kelakuan Sultan Muda (Sultan Haji a.k.a Sultan Abdul Kahar Aboen Nassar). Dan akhirnya perang antara bapak dan anak pun terjadi. Sultan Ageng Tirtayasa dibantu oleh Syekh Yusuf dari Makasar melawan Sultan Haji yang dibantu sepenuhnya oleh VOC Olanda. Tentu saja bantuan dari VOC itu tidak gratis, syarat yang diberikan adalah Sultan Haji harus memberikan Lampung, sebagai penghasil lada kepada VOC. Sultan Ageng terdesak dan melarikan diri, Istana Tirtayasa dikuasai oleh Sultan Haji dan VOC.

 

IMG_0889
Sultan Ageng tidak bisa menandingin Sultan muda, dan akhirnya melarikan diri

 

1683 – 1684, terjadi pengejaran besar-besaran terhadap Sultan Ageng. Hingga akhirnya pada 14 Maret 1683, Sultan Ageng tertangkap dan ditahan di Batavia. Kemudian pada Mei 1683, giliran Syekh Yusuf yang tertangkap, dan setahun kemudian Pangeran Purbaya juga tertangkap.

1684, Banten menandatangani perjanjian damai dengan VOC Olanda, menjadi awal monopoli VOC dan hilangnya kedaulatan Banten.

65ff002f6296043df707ecee151d7b26
Wilayah Kesultanan Banten, terbentang hingga ke Lampung (sumber: https://edu.hstry.co/timeline/bandar-bantam-nan-kosmopolitan)