Tag Archives: Nusa Tenggara Timur

Pantai Mbawana, Most Visit Place for Sunset Hunter

EVY_3844

Pesona pantai di sepanjang Pulau Sumba sudah tidak ada lagi yang meragukannya. Pulau yang terletak di bagian Timur Indonesia ini memang memiliki kekhasan tersendiri yang tidak dimiliki oleh daerah lain di Indonesia. Keeksotisan alamnya yang terdiri dari pantai-pantai cantik, savanna luas, air terjun, kampung adat, menjadi daya tarik tersendiri.

EVY_3854
pemandangan di Pantai Mbawana

 

EVY_3864
anak-anak kecil berkerumun, melihat bagaimana kamera yang bisa terbang

 

EVY_3851
tebing-tebing batu yang kokoh mengelilingi Pantai Mbawana

Dan bagi pecinta moment matahari terbenam, anda wajib mengunjungi pulau ini. Karena banyak sekali pantai-pantai cantiknya yang menjadi the most visit place for sunset hunter! Salah satunya adalah pantai Mbawana.

Mungkin belum banyak yang mengetahui pantai ini. Hal ini bisa jadi disebabkan karena letaknya yang tersembunyi dan akses transportasinya yang belum umum. Pantai Mbawana terletak di Kecamatan Kodi Balagahar, di sebelah Selatan Sumba Barat Daya. Pantai ini berjarak sekitar 59 kilometer dari Kota Wateebula. Untuk mencapai pantai ini dibutuhkan perjalanan sekitar 1 jam 30 menit dengan menggunakan kendaraan roda 2 atau 4.

Akses menuju pantai ini tidak terlalu baik. Setelah melewati jalanan kota kabupaten yang beraspal hitam licin, kendaraan akan menemui jalanan tanah berbatu. Guncangan-guncangan kecil akan setia menemani perjalanan panjang menuju pantai, serta melewati padang savanna dan hutan kecil dengan pepohonannya yang berwarna coklat mengering akibat jarang disapa hujan. Kendaraan hanya bisa mencapai sebidang tanah datar di ujung padang savanna sebagai tempat parkir sederhana. Dan selanjutnya, pengunjung harus berjalan kaki untuk mencapai pantai.

EVY_3843
Pantai Mbawana hanya bisa dicapai melalui undak-undakan batu yang ada di sisi tebing batu

 

EVY_3887
untuk menaikinya harus satu-persatu, karena treknya sempit

Trek yang harus dilewati pengunjung untuk mencapai pantai adalah sebuah tebing batu berundak-undak dengan tanaman perdu di sekelilingnya. Pengunjung harus menuruni tebing batu dengan memanfaatkan undakan-undakan batu bercampur tanah yang akan memacu adrenalin. Undakan-undakan tersebut tidak stabil, sehingga saat menuruninya, pengunjung harus ekstra hati-hati dan konsentrasi penuh, jangan sampai salah injak atau salah berpegangan, karena bisa-bisa akan guling-guling cantik (plus memar sih aslinya :D). Dibutuhkan sekitar 15 – 30 menit untuk menuruni undakan-undakan tebing batu, tergantung kokoh atau tidaknya tumpuan kaki dan tentu saja nyali sebelum akhirnya akan bertemu dengan pasir putih yang halus.

Karena lokasinya yang lumayan susah dicapai, masih sangat sedikit pengunjung yang datang ke pantai ini. Lebih banyak masyarakat lokal yang bertempat tinggal di sekitar pantai yang terlihat di sekeliling pantai. Dan dampak dari masih sedikitnya pengunjung yang datang, pantai ini masih terlihat bersih dan asri.

EVY_3848
aktivitas masyarakat lokal di pinggir laut

Di satu sisi pantai, terlihat kerumunan anak-anak usia sekolah dasar dan menengah yang sedang menenteng baskom dan ember. Mereka terlihat menunduk dan memunguti sesuatu di sepanjang bibir pantai. Ternyata mereka sedang mengumpulkan rumput laut, yang nantinya akan dijual atau diolah sebagai makanan bagi keluarganya. Di sisi yang lain terlihat beberapa orang yang sedang duduk santai di batu-batu besar yang banyak terdapat di sekitar pantai sambil asyik bercengkerama.

EVY_3861
bocah-bocah bermain dengan gembiranya di sepanjang pantai

 

EVY_3856
lempar-lemparan pasir? seruuuuuuuuuu……

 

EVY_3846
beberapa anak terlihat memunguti rumput laut yang terdapat di bebatuan yang ada di sepanjang bibir pantai

Pantai Mbawana ini memiliki sebuah ikon berupa batu besar yang menyerupai huruf “N”, dan berdiri seperti sebuah gerbang raksasa. Batu besar itu seolah memisahkan pantai sisi kanan dan sisi kiri. Dan bagi para pecinta moment matahari terbenam, pantai ini adalah the most visit place! Senjanya juara!!

EVY_3885
berkumpul di pinggir pantai, menanti sunset

 

EVY_3847
“gerbang raksasa” yang menjadi ikon Pantai Mbawana

Menunggu senja di Pantai Mbawana benar-benar menyenangkan. Sejauh mata memandang, terlihat hamparan lautan dengan ombak-ombak kecilnya yang silih berganti berkejaran menuju pantai, tebing-tebing batu yang kokoh, pasir putih yang luas, serta angin laut yang berhembus malu-malu. Saya sengaja mencari batu yang cukup enak untuk diduduki sembari menunggu matahari pulang ke rumahnya, menikmati cahayanya yang semakin lama semakin temaram.

EVY_3875
pantai berpasir, dan matahari tenggelam… perfect match!

Gelombang laut yang tidak terlalu besar sore itu seolah sengaja menciptakan suasana indah untuk menjemput sang surya kembali ke peraduannya. Gemericik suara gelombang yang pecah di bibir pantai, dihiasi bayangan keemasan. Matahari yang tadinya bersinar kuning terang, perlahan-lahan semakin jingga…. memerah… meredup dan akhirnya hanya menyisakan semburat jingga kemerahan di garis horizon. Menghabiskan senja di Pantai Mbawana melahirkan sebuah pengalaman berburu sunset yang berbeda dari biasanya.

EVY_3891
merah – kuning – jingga…. berbaur menjadi satu

 

EVY_3898
see you next time………

 

 

 

 

 

 

 

Kanawa, Serasa Berlibur di Pulau Pribadi

 

EVY_1780 2

 

Perjalanan panjang berlayar selama 4 hari 3 malam ini sudah mendekati titik akhir. Setelah siang tadi saya akhirnya bisa melihat sendiri wujud dari Kadal raksasa a.k.a Komodo, kali ini Kapal Halma Jaya akan membawa saya ke sebuah pulau kecil, sepi tapi indah. Iya, saya akan menuju Pulau Kanawa.

Pulau Kanawa merupakan sebuah pulau kecil yang terletak di daerah Flores, Nusa Tenggara Timur. Pulau ini luasnya sekitar 35 hektar. Pulau Kanawa termasuk pulau yang letaknya paling dekat dari Labuan Bajo, yaitu sekitar 15 kilometer atau sekitar 50 menit perjalanan menggunakan perahu bermesin atau speed boat. Sebagai informasi, untuk mencapai Pulau Kanawa kita bisa menyewa kapal motor dari Labuan Bajo seharga kurang lebih Rp 250.000 untuk sekali jalan, atau sekitar Rp 60.000 per orangnya. Selain itu terdapat pula shuttle boat gratis dari Labuan Bajo menuju Pulau Kanawa yang disediakan khusus oleh resort yang terdapat di sana bagi wisatawan yang akan menginap di resort tersebut. Shuttle boat ini akan berangkat dari Labuan Bajo sekitar pukul 12 siang dan kembali ke Labuan Bajo sekitar jam 8 malam setiap harinya.

 

EVY_1781 2
Welcome to Kanawa

 

EVY_1757
ini jembatan kayu yang menghubungkan dermaga di Pulau Kanawa

 

Saya tiba di Pulau Kanawa setelah sekitar 2.5 jam berlayar dari Pulau Rinca. Pulau Kanawa ditandai dengan sebuah dermaga kayu yang menjorok ke tengah laut, sehingga kapal kami bisa langsung menepi di pinggir dermaga. Ketika saya tiba di Pulau Kanawa, awan cukup tebal bergayut di langit, sehingga sinar matahari cukup teduh (walau sedikit was-was, semoga ga hujan). Sebelum mencapai dermaga, sekitar beberapa meter sebelum pantai, beberapa orang teman memutuskan untuk langsung terjun dan berenang menuju pantai. Sementara saya, yang memang tidak berniat untuk berbasah-basah lagi, memilih duduk manis di kapal sampai kapal merapat sempurna di dermaga.

Sedikit iri melihat mbak Jazz, Arlet, Jyo, Seto, dan yang lain-lain terjun dan berenang menuju pantai. Rasanya pengen ikut nyebur, tapi…… males basah-basahan lagi, dan niatnya di Pulau Kanawa ini saya hanya ingin memotret. Ok, baiklah…. Saya akan menunggu kapal merapat di dermaga saja.

 

EVY_1782 2
let’s step on it!

 

Dan ketika kapal telah merapat di dermaga kayu itu, saya pun melangkahkan kaki menyusuri dermaga dan jembatan kayu menuju pantai. Pantai di Pulau Kanawa sangat halus, putih, memancing rasa ingin berguling-guling di atasnya. Saya menuju sebuah gazeebo kecil di sisi kanan pantai, bersama dengan teman-teman. Sebagian teman-teman langsung bertukar costume, menyambar fin dan google dan langsung nyebur untuk ber-snorkling ria. Sementara saya lebih memilih untuk leyeh-leyeh sejenak sambil menikmati udara pantai Pulau Kanawa.

 

EVY_1753
4 hari di laut, begitu ketemu daratan langsung deh main bola

 

EVY_1754
lha? malah lari dikejar bola :p

 

EVY_1762
menang siapa???

 

Sebagian teman-teman pria memutuskan untuk bermain bola melawan mas-mas ABK. Seru, melihat mereka berlarian di pasir putih untuk mengejar bola. Debu-debu halus pasir pun beterbangan ketika kaki-kaki mereka saling berkejaran. Dan ketika debu pasir semakin banyak, beberapa dari mereka memutuskan untuk bertelanjang dada dan menggunakan kaos itu sebagai penutup hidung dan mulut. Sementara mas-mas ABK-nya stay cool, tetap berpakaian lengkap, bahkan ada yang bercelana panjang :D

 

EVY_1752
pemandangan dermaga kayu dari gazeebo tempat saya leyeh-leyeh

 

EVY_1756 2
jembatan kayunya cukup panjang untuk sampai ke dermaga

 

Sambil menunggu teman-teman yang asyik snorkling dan bermain bola, saya melangkahkan kaki menuju dermaga. Kebetulan sepi, sehingga saya bebas untuk memotret. Dermaga kayu yang ada di Pulau Kanawa cukup panjang, mungkin lebih dari 20 meter, menjorok ke tengah laut. Di ujung dermaga terdapat sebuah gazeebo kecil yang menjadi tempat beristirahat bagi awak kapal yang singgah di Pulau Kanawa.

 

EVY_1760
sambil main pasir, sempetin dulu motret jembatan kayunya dari sisi kanan pulau

 

Apabila kita berdiri di ujung dermaga yang menjorok ke laut, dan melihat ke arah pulau, akan terlihat sebuah tulisan “Welcome to Kanawa”. Di kiri dan kanan tulisan tersebut terdapat 2 bangunan yang merupakan café dan bangunan office dari pengelola resort yang terdapat di Pulau Kanawa, yaitu Kanawa Beach Bungalow. Di belakang bangunan tersebut terdapat 2 bukit kecil, coklat, kering, gundul, walaupun masih terlihat beberapa gerombolan perdu mungil berwarna hijau yang tersebar di beberapa area. Bukit yang berada di sebelah kiri terlihat memanjang hingga ke sisi kiri Pulau Kanawa.

 

EVY_1761
ini cafe dengan bentuk seperti kapal

 

Di ujung jembatan kayu yang berakhir di halusnya pasir putih di pantai, di sisi kirinya terlihat sebuah bangunan berbentuk perahu dari kayu dengan beratapkan ijuk dengan beberapa bangku panjang berwarna putih. Bangunan ini kosong, mungkin diperuntukan sebagai café terbuka dilihat dari penataannya.

 

EVY_1778 2
beberapa kali menemukan ikan biru ini, tapi masih belum ketemu apa namanya?

 

EVY_1763
hai Nemo….. how are you?

 

EVY_1765
hai… hai… itu banyak”Patrick” :D

 

Air laut di sekitar dermaga sangat jernih, sehingga hanya dengan berdiri di atas dermaga saja kita bisa melihat aneka macam ikan, bintang laut, ganggang, karang, bulu babi dan lain-lain yang terdapat di dasar laut. Ketika saya sedang memperhatikan ikan-ikan yang ada di dasar laut, tiba-tiba mata saya menangkap sesosok ikan kecil berwarna orange, putih dan hitam. Hey….. itu ada nemo! Terlihat beberapa ekor nemo sedang berenang cantik di antara karang dan tumbuhan laut yang ada. Selain nemo saya juga melihat bintang laut, ikan-ikan berwarna biru stabilo, dan bulu babi.

 

EVY_1769
jernih banget airnya, seperti kaca

 

EVY_1770
rasanya pengen dibawa pulang itu ikan-ikannya

 

EVY_1768
ada bulu babi juga lho di sana

 

Puas motret di dermaga dan melihat aneka binatang laut yang ada di sekitarnya, saya kembali ke gazeebo. Sebentar lagi kami harus kembali ke kapal untuk meneruskan perjalanan menuju destinasi terakhir dari sailing trip ini.

Dan akhirnya kami pun harus meninggalkan Pulau Kanawa, melanjutkan perjalanan menuju Labuan Bajo.

Bye…. Bye… Kanawa… see you again someday, I will!

 

EVY_1759
www.jendelakecildunia.com udah sampe di Kanawa lho…. kalian kapan???

 

 

 

Pink Beach, Pantai yang Akan Membuat Semua Jatuh Cinta

EVY_1535

 

Setelah puas melihat Manta, sailing dilanjutkan menuju suatu spot yang sangat terkenal (justru) di kalangan turis mancanegara (yah…. di kalangan turis domestik juga terkenal sih, hanya saja lebih banyak turis mancanegara yang datang ke sana), yaitu Pink Beach, atau Pantai Merah yang ada di salah satu sudut Pulau Komodo, Flores.

 

let's go to Pink beach!
let’s go to Pink beach!

 

Pantai Merah merupakan salah satu dari 7 pantai di dunia yang pasirnya berwarna merah muda. Selain Pantai Merah atau Pink Beach yang ada di Pulau Komodo ini, Pink Beach juga terdapat di Harbor Island, Bahamas; Bermuda; Santa Cruz Island, Filipina; Sardinia, Itali; Bonaire, Dutch Carribean Island dan Balos Lagoon, Crete, Yunani. Nah, bangga dong ya….. ternyata di Indonesia tercinta ini ada salah satu pantai yang pasirnya berwarna pink, yang hanya ada 7 di dunia! Ah, I’m proud to be an Indonesia!

Kapal yang saya naiki bergerak meninggalkan Manta Point menuju Pink Beach. Matahari siang bersinar sempurna, ditambah desiran angin laut yang cukup kencang, buih yang pecah di ujung buritan kapal meninggalkan jejak busa putih di belakang. Dan di depan saya sudah terbentang selarik garis merah muda tipis yang membatasi hijau birunya lautan dengan putihnya pasir. Yeay….. Pink Beach, here I come!

 

dan... ini dia, salah 1 dari 7 pink beach yang ada di dunia!
dan… ini dia, salah 1 dari 7 pink beach yang ada di dunia!

 

Pantai Merah siang itu cukup ramai oleh pengunjung, baik wisatawan mancanegara maupun lokal. Pantainya yang khas dengan pasir berwarna merah muda terlihat lebih shiny karena sina matahari yang bersinar dengan sangat terang :D

Seperti biasa, dari kapal kami harus menggunakan kapal putih kecil untuk mencapai bibir pantai karena menghindari karang dan coral yang terlihat jelas di bawah permukaan air laut yang sangat jernih ini. Dan begitu kaki terbenam di pasir pantai…… hanya halus yang terasa di telapak kaki.

 

pasirnya halus banget terasa di kaki
pasirnya halus banget terasa di kaki

 

Di Pantai Merah saya hanya berniat untuk menikmati keindahan yang ada sambil mengabadikannya dari balik lensa kamera. Ga pake acara berendam di pantai (pertimbangannya karena matahari yang sangat cerah sinarnya :D).

Saya berjalan ke sisi kanan pantai untuk kemudian mendaki bukit kecil yang ada di ujungnya untuk melihat pantai ini dari atas. Pasir di pantai ini sangat halus, dengan semburat warna merah muda yang konon berasal dari serpihan karang berwarna merah yang sudah mati dan banyak ditemukan di pantai ini. Namun, ada juga yang menyebutkan bahwa warna merah muda itu karena keberadaan hewan mikroskopik bernama foraminifera yang menghasilkan warna merah muda atau pink terang pada terumbu karang. Mana yang benar, wallahualam.

 

itu bukit kecil yang akan saya daki
itu bukit kecil yang akan saya daki

 

Di ujung pantai, saya melangkahkan kaki untuk mendaki sebuah bukit kecil. Seperti pulau-pulau kecil yang telah kami singgahi selama perjalanan sailing ini, bukit yang ada di sini pun terlihat coklat, kering meranggas karena musim kemarau yang sangat panjang ini. Sehingga, setiap kaki menjejak ke permukaannya, selapis tipis debu tanah akan terbang dari permukaannya yang kering. Rumput-rumput yang tumbuh di permukaan tanah pun terlihat kering kecoklatan.

 

pemandangan dari atas bukit kecil di sisi kanan Pink beach
pemandangan dari atas bukit kecil di sisi kanan Pink beach

 

Kaki saya akhirnya sampai di puncak bukit kecil itu, dan apa yang saya lihat??? Wow….. pemandangan Pink Beach yang terlihat dari atas ini sungguh indah! Bukit yang coklat mengering terlihat sangat kontras dengan putih dan merah muda pasir pantai, ditambah gradasi biru toska air laut. Bagus banget!!!

 

ini pemandangan dari sisi kanan pantai
ini pemandangan dari sisi kanan pantai

 

Sinar matahari yang bersinar garang tidak mematahkan semangat saya untuk berpanas-panas berdiri di atas bukit dan mencoba merekam seluruh keindahan yang terpampang di depan mata. Walaupun keringat deras mengucur :D

 

yes, I'm here
yes, I’m here

 

Setelah puas menikmati keindahan Pink Beach dari atas bukit, saya kemudian menuruni bukit untuk “pindah” ke bukit yang ada di seberangnya, di sisi kiri pantai. Menyeberangi pasir halus berwarna merah muda dan putih yang basah dan sedikit hangat, sambil melihat teman-teman yang sedang asyik ber-snorkling ria di bibir pantai, menyenangkan.

 

rasanya pengen guling-guling di pasir pink-nya :D
rasanya pengen guling-guling di pasir pink-nya :D

 

mencari tempat teduh biar ga gosong :D
mencari tempat teduh biar ga gosong :D

 

ga tau ini ganggang apa, tapi cantik
ga tau ini ganggang apa, tapi cantik

 

Di sisi kiri pantai, kembali saya melangkahkan kaki, menyusuri bukit tanah berdebu yang ditumbuhi ilalang yang mengering, dan beberapa perdu yang berusaha mendekap erat warna hijau daunnya di tengah kemarau yang panjang ini. Kaki saya akhirnya tiba di puncak bukit, dan mata saya kembali disuguhi pemandangan yang tidak kalah cantiknya. Gradasi air laut, semburat merah muda di pasir, serta eksotisnya bukit yang mengering berwarna coklat, sungguh bagaikan lukisan. Jadi menyesal, kenapa tidak dari dulu saya berani meng-explore bagian timur dari negeri tercinta ini???

 

pemandangan dari atas bukit di sisi kiri pantai juga tidak kalah indah lho...
pemandangan dari atas bukit di sisi kiri pantai juga tidak kalah indah lho…

 

ini trek yang harus dilalui untuk mendaki bukit di sisi kiri pantai
ini trek yang harus dilalui untuk mendaki bukit di sisi kiri pantai

 

Setelah mendapatkan beberapa frame terbaik dari atas bukit, kaki saya mulai melangkah menuruni bukit. Setiap kaki ini menjejak tanahnya, selapis debu coklat tipis akan naik dari permukaan, betapa kering dan gersangnya bukit ini di tengah kemarau yang sangat panjang ini. Saya membayangkan alangkah hijaunya bukit ini dan bukit-bukit lain yang telah saya datangi pada musim penghujan. Pasti keindahannya akan memberikan kesan yang berbeda. Jadi timbul keinginan untuk datang kembali pada musim penghujan, untuk melihat hijaunya pulau dan bukit-bukit ini.

 

EVY_1562
bukit-bukitnya kering meranggas karena kemarau yang sangat panjang

 

EVY_1564
rela panas-panasan mendaki bukit ini demi pemandangan yang ajib

 

EVY_1565

masih tersisa beberapa perdu dan pohon hijau di tengah kekeringan ini

 

Akhirnya saya menghentikan langkah di bawah sebatang pohon yang cukup lah menghalau sinar matahari yang sedang garang-garangnya ini. Bergabung dengan teman-teman yang juga sedang menghindari sinar matahari yang cukup bikin kulit terasa seperti dicubit-cubit :D

 

EVY_1570
nonton yang sedang berenang aja, panasnya itu lho……

 

EVY_1569

takjub, liat mereka tahan berpanas-panasan

 

Duduk-duduk di dahan sebuah pohon besar yang tumbuh di pinggir pantai, sembari bercanda dengan teman-teman, dan menunggu teman-teman yang masih asyik berenang, menikmati pemandangan laut yang luar biasa indahnya, dan merasakan hembusan angin laut yang makin lama makin membuat mata saya semakin redup, ngantuk! :D

Dan akhirnya karena akan mengejar sunset di suatu tempat yang tidak kalah eksotis dan indah, kami pun kembali ke kapal untuk meneruskan pelayaran ini (ish…. istilahnya “pelayaran ini” berasa naik cruise wisata yang gede itu :D). See you again Pink Beach…. I will see you again, someday.

 

hanya jejak kaki yang ditinggalkan, beserta kenangan akan indahnya pantai ini
hanya jejak kaki yang ditinggalkan, beserta kenangan akan indahnya pantai ini

 

 

 

 

 

 

Menanti Manta

EVY_1480

 

Setelah memuaskan mata dengan landscape dari puncak Gili Laba, perjalanan sailing diteruskan untuk berburu Manta. Eits, jangan salah…. kami tidak berburu untuk membunuh lho… tapi hanya berburu Manta untuk melihat dari dekat dan tentu saja mengabadikannya dari balik lensa kamera :)

 

bye bye Gili Laba....
bye bye Gili Laba….

 

Meninggalkan Gili Laba dengan segala keindahannya, kapal pun bergerak menuju spot Manta Point, di mana biasanya Manta banyak terlihat. Tapi di sini kami sudah diwanti-wanti “Hanya yang bisa berenang yang boleh nyebur!”. Ok, fixed! Saya cukup nonton Manta dari atas kapal aja :D

 

EVY_1450
para pemburu Manta

 

berburu Manta?
berburu Manta?

 

Kapal kami tidak terlalu lama berlayar untuk mencapai Manta Point. Teman-teman yang jago berenang pun sudah bersiap-siap untuk nyebur dan mengejar Manta (tolong suruh Manta-nya berenang ke dekat kapal ya teman-teman…. biar bisa difoto :D).

 

dan inilah yang ditunggu-tunggu... Manta!!!
dan inilah yang ditunggu-tunggu… Manta!!!

 

Manta Point merupakan lokasi untuk memantau Manta yang paling representatif. Di lokasi ini kita akan melihat berpuluh-puluh ekor Manta yang berenang dengan bebasnya. Manta banyak dijumpai pada bulan Maret – April serta September – November.

 

ga cuma 1! tapi banyak!!!
ga cuma 1! tapi banyak!!!

 

Di lokasi, terlihat beberapa kapal yang sudah lebih dulu tiba, dan beberapa orang yang sudah berenang-renang dengan asyiknya. Teman-teman yang bisa berenang tidak perlu disuruh, dan dengan cepat segera loncat dari kapal. Byuuuuuuuurrrrr…… ah, saya iri :(

 

kapal pemburu Manta
kapal pemburu Manta

 

Dan ternyata memang benar, di lokasi itu terlihat banyak sekali Manta yang berenang ke sana ke mari. Manta merupakan varian ikan Pari dengan lebar tubuh bisa mencapai 7 meter dan berat hingga 3 ton. Manta berenang dengan cara menggerakan sirip dadanya yang berada merata dari kepala hingga bagian belakang. Hal itu lah yang membuat Manta seolah-olah terbang di lautan.

Manta memiliki ekor yang lebih pendek daripada ikan Pari pada umumnya, namun memiliki kepala yang terlihat seperti tanduk berbentuk sirip. Fungsi sirip tersebut untuk membantu memasukkan air laut yang mengandung plankton, yang merupakan sumber makanan utama bagi Pari Manta. Selain plankton, Pari Manta juga memakan udang dan ikan-ikan kecil lainnya (tenang aja, kalian aman kok karena bukan termasuk jenis makanan yang disukai Manta :p)

 

EVY_1478
melihat Manta dengan mata kepala sendiri…… rasanya wow!!!

 

EVY_1515
ayo, mana Mantanya??? cari………

 

kalau ini, termasuk Manta ga??? :p
kalau ini, termasuk Manta ga??? :p

 

Karena saya tidak ikut nyebur untuk bercanda dengan Manta, saya pun harus cukup puas untuk keliling kapal dan sesekali melongok ke laut untuk melihat Manta yang berenang di sekitar kapal kami.

Saya mau nunjukin kapal yang telah membawa kami berlayar mulai dari Lombok, dan insyaallah akan bersandar di Labuan Bajo keesokan hari.

 

tiang utama kapal
tiang utama kapal, keliatan kan ruang kemudi yang ada di atas?

 

EVY_1451
laju perahuku laju…. membelah laut nusantara…

 

Kapal yang kami gunakan ini terbuat dari kayu, kokoh! Di bagian depan terdapat sebuah tiang utama dengan tangga kayu di kanan kirinya. Dari bagian depan, kita bisa melihat ruang utama yang menjadi tempat kami biasa berkumpul, ya cerita-cerita, makan bareng, nyanyi-nyanyi, menyimpan tas, ransel, gear snorkling sampai sandal dan sepatu :D

 

EVY_1510
itu tempat kami berkumpul like a family :)

 

Nah, di buritan sebelah kanan, ada tangga menuju ke atas, ke ruang kemudi. Di ruang kemudi itulah, Kapten Muji’an mengemudikan kapal yang menjadi rumah kami selama 4 hari 3 malam ini. Thanks Capt!

 

EVY_1470
ini ruang kemudi, dan itu yang sedang bertugas adalah Kapten Muji’an, kapten kapal kami

 

EVY_1472
Kapten Muji’an meninggalkan kemudinya sebentar, memberi saya kesempatan untuk memotret ruang kerjanya

 

EVY_1471
dari jendela di ruang kemudi, bisa melihat lautan luas di depan sana

 

Nah, itu teman-teman sudah selesai berburu Manta, dan mulai naik ke kapal lagi untuk melanjutkan perjalanan. Hari ini masih ada 2 spot cantik yang akan dikunjungi, jadi harus bergegas. Yuk, kita berlayar lagi!