Tag Archives: NTT

Pulau Rinca, Menjenguk Kadal Raksasa

EVY_1708

 

Setelah kemarin puas ber-sunset ria, disambung milky way dan diakhiri dengan sunrise bercampur kabut nan sendu di Pulau Padar, saya dan teman-teman kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini perjalanan kami mengarah ke Pulau Rinca, salah satu pulau yang ada di kawasan Taman Nasional Komodo bersama Pulau Padar, Pulau Komodo dan Gili Motang. Pulau Rinca termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur dengan luas 19 hektar (sumber www.wikipedia.com).

 

komodorincamap
peta Pulau Komodo dan Pulau Rinca (sumber www.google.com)

 

Komodo yang ada di Pulau Rinca ini berjumlah sekitar 2.874 ekor yang hidup secara solitaire (tidak berkelompok). Selain Komodo yang menjadi hewan mayoritas, di pulau ini juga terdapat Rusa, Kuda, Kerbau, Burung Maleo dan Monyet. Walaupun Pulau Rinca ini belum setenar Pulau Komodo, tapi tidak sedikit turis, baik domestik maupun mancanegara yang memilih datang ke Pulau Rinca ini. Hal itu disebabkan karena jaraknya yang lebih dekat dari Labuan Bajo, juga karena jumlah Komodo yang ada di pulau ini lebih banyak dan lebih gampang ditemui daripada di pulau Komodo.

Sebelum sampai ke Pulau Rinca, kita belajar sebentar tentang Komodo yuk!

Komodo (bahasa latinnya Varanus Komodoensis) merupakan spesies Kadal terbesar yang ditemukan di pulau Rinca, Komodo, Padar, Flores dan Gili Motang. Panjang tubuh dari Komodo bisa mencapai 3 meter dengan berat sekitar 70 kilogram (hiiii….. gede banget yak :D). Komodo ini hanya kawin 1 kali dalam setahun, sepanjang Juni – Agustus. Usia produktif Komodo untuk bereproduksi adalah 7 – 8 tahun.

Komodo jantan biasanya mengikuti Komodo betina yang diincarnya. Dan Komodo jantan akan saling berkompetisi untuk mendapatkan betinanya.

Komodo betina akan bertelur sekitar 15-30 butir. Telur itu kemudian disimpan di dalam “kandang” yang berupa sebuah lubang vertikal dan horisontal di bawah permukaan tanah sepanjang 2 meter. Telur akan diletakkan pada bulan Agustus – September.  Dan menetas sekitar bulan April setiap tahunnya, di saat serangga sedang pada puncak populasinya. Komodo betina kemudian akan menjaga sarangnya sampai musim penghujan datang, di mana hujan akan memadatkan tanah di sekitar sarangnya sehingga jejak telur Komodo tidak tercium oleh predator pemangsa. Komodo betina juga akan membuat beberapa sarang palsu di sekitar sarang aslinya untuk mengelabui predator yang akan memangsa telur-telurnya. Telur Komodo akan menetas dalam waktu 8-9 bulan. Penetasan telur Komodo ini tergantung dengan suhu di dalam tanah. Dari keseluruhan jumlah telur yang ada, hanya sekitar 20% yang akan berhasil menetas.

Setelah menetas, anak Komodo biasanya hidup di atas pohon untuk menghindari predator yang akan memangsanya. Selama berada di atas pohon, anak Komodo tumbuh dan berkembang dengan memakan Tokek, Tikus, burung, serangga dan lain-lain.

Nah, selesai belajar tentang Komodo-nya, sekarang kita lihat apa yang akan kami temukan di Pulau Rinca?

 

EVY_1687
ini dermaga kayu yang menjadi pintu masuk ke Pulau Rinca

 

Kapal Halma Jaya yang saya dan teman-teman naiki sampai di depan sebuah dermaga kayu kecil di kawasan Loh Buaya. Di ujung jembatan kayu saya melihat sebuah papan peringatan yang bertuliskan “Be careful, Crocodile Area” lengkap dengan gambar buaya di sudutnya. Hiiiiiiiii……. Serem ya….. serius nih banyak buaya di sini? #terusmelipirgaberanidekatdekatair :D

 

EVY_1688
Be Careful Crocodile Area!!

 

EVY_1691
dari dermaga bisa melihat ikan-ikan yang ada di dasar laut

 

Dermaga kayu kecil itu terhubung dengan sebuah jembatan kayu kecil berakhir pada sebuah pintu gerbang dengan tulisan “LOH BUAYA”. Di depan gerbang telah menunggu beberapa bapak ranger yang akan mengantarkan kami untuk melihat spesies terbesar dari Kadal. Iya, kami akan melihat Komodo. Walaupun sedikit takut, karena berdasarkan informasi yang pernah saya baca, Komodo merupakan hewan buas dengan daya penciuman yang sangat tajam.

 

EVY_1692
peraturan yang berlaku di Taman Nasional Komodo, Pulau Rinca

 

Saya dan teman-teman sempat menunggu sejenak sebelum kemudian kami dengan dikawal sekitar 5 orang ranger mulai memasuki kawasan Taman Nasional Komodo yang ada di Pulau Rinca ini. Dari gerbang kami bergerak ke arah kanan mengikuti jalanan tanah yang merupakan akses keluar masuk satu-satunya ini. Jalanan tanah merah ini dibuat lebih tinggi dari kawasan di sekelilingnya, dan dibatasi dengan beton di kanan kirinya sebagai pembatas. Saya dan teman-teman terus mengikuti para ranger yang akan mengantarkan kami untuk melihat Komodo. Di depan kami sekarang terpampang sebuah gerbang selamat datang “Selamat Datang di Taman Nasional Komodo”. Gerbang ini terbuat dari beton cor dengan patung Komodo di kiri dan kanannya.

 

DSC_4848
hello….. we are here….. (courtesy by mas Har)

 

IMG_8789
say…… haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaiiiiiii……… (courtesy by mas Har)

 

EVY_1695
Selamat Datang di Taman Nasional Komodo

 

EVY_1693
mari kita menjenguk Komodo

 

EVY_1694
papan promosi dalam rangka Sail Komodo di tahun 2013 yang lalu

 

Melewati gerbang selamat datang, mata saya disuguhi hamparan tanah kosong yang luas. Dengan latar belakang perbukitan yang gundul, coklat kering meranggas, ditambah matahari yang bersinar terik. Beberapa pohon kecil terlihat masih menyisakan daun hijaunya beberapa. Saya terus mengikuti rombongan hingga akhirnya kami tiba di kawasan yang ditumbuhi beberapa pohon rindang yang cukup besar. Dan di bawah pohon itu saya akhirnya melihat seekor Komodo besar yang sedang berteduh. Oh iya, Komodo ini hewan berdarah dingin sehingga di saat siang hari mereka lebih memilih untuk tidur dan beristirahat di bawah pohon atau tempat teduh lainnya (mungkin Komodonya takut hitam ya :p).

 

EVY_1697
tanah lapang, kering, dan matahari yang terik, kombinasi yang perfect ya untuk menggosongkan kulit :D

 

EVY_1699
itu dia! Varanus Komodoensis

 

EVY_1700
walaupun Rusa adalah makanannya, tapi siang itu Komodonya cuek aja walau ada Rusa di dekatnya

 

EVY_1704
Rusa, juga merupakan hewan yang cukup banyak di TN Komodo ini

 

Di bawah pohon itu saya juga melihat beberapa ekor Rusa yang sedang leyeh-leyeh. Dan walaupun Rusa merupakan makanan Komodo, tapi Komodo yang saya lihat sepertinya anteng-anteng saja dengan keberadaan Rusa di sekitarnya (mungkin udah kenyang ya…).

 

EVY_1702
di bagian depan kawasan TN Komodo, pemandangan seperti ini yang akan ditemui

 

EVY_1703
musim kemarau panjang membuat pohon-pohon yang ada menjadi kering dan meranggas

 

EVY_1707
itu adalah rumah kayu yang menjadi tempat tinggal ranger selama bertugas di TN Komodo

 

Saya kemudian melihat sebuah rumah kayu dengan ukuran yang cukup panjang, yang merupakan tempat tinggal bagi para ranger selama bertugas di Pulau Rinca ini. Dan di sekitar rumah kayu itu terlihat beberapa ekor Komodo yang sedang berjalan mencari tempat berteduh. Asli deh, rasa penasaran, takut, serem, pengen foto jadi satu. Tapi sepertinya rasa penasaran saya kalah dengan rasa takut dan was-was. Walhasil saya hanya berani mengambil foto dari jauuuuuuuhhhhhh…… Dengan memaksimalkan jangkauan zoom dari lensa kamera, akhirnya saya berhasil mendapatkan beberapa foto dari para Komodo itu. Untuk selfie? Makasiiiiiiiiihhhhh….. serem liat cakarnya yang gede itu :p

 

EVY_1710
hai Komodo…. #dadahdadahdarijauh

 

EVY_1711
siapa yang ga serem coba? liat cakarnya yang tajam + badannya yang segede itu

 

Perjalanan kami masih berlanjut. Kali ini kami melewati deretan pohon-pohon yang meranggas karena kemarau yang panjang ini. Daun-daunnya berguguran memenuhi tanah di sekitarnya. Dahan-dahan pohon itu gundul. Di sana saya menjumpai seekor Komodo betina yang sedang berjaga di sekitar sarangnya. Hmm….. berarti ada telur yang sedang dijaganya, yang akan menetas sekitar bulan April nanti. Dan pastinya banyak sarang-sarang palsu juga di sekitar situ.

 

EVY_1714
pohon-pohon kering dengan hamparan dedaunan yang gugur menjadi pemandangan yang menarik di sepanjang TN Komodo

 

EVY_1715
jalannya harus mengikuti para ranger itu, karena mereka sudah sangat hapal dan menguasai TN Komodo

 

EVY_1716
itu adalah Komodo betina yang sedang menjaga sarangnya

 

EVY_1718
perjalanan dilanjutkan melewati hamparan daun yang gugur dan pohon-pohon yang mengering

 

Perjalanan terus berlanjut. Kali ini saya tiba di kaki sebuah bukit kecil dengan rumput-rumput kering di kanan kiri jalan setapak yang saya lalui. Pulau Rinca ini merupakan pulau dengan bukit-bukit kecil, yang sangat cantik apabila dilihat dari atas. Rombongan saya dan teman-teman mulai terbagi menjadi beberapa kelompok. Kaki ini mulai terasa berat untuk menaiki bukit yang kata mas-mas ranger-nya sih ga tinggi. Tapi tetap saja saya merasa kaki ini berat banget untuk terus mendaki. Tapi ketika mata melihat sekeliling, huuuuaaaaaaa…… cakep banget………

 

DSC_4902
ayo… semangat sampe puncak bukitnya!!! (courtesy by mas Har)

 

EVY_1719
ayo… biar ga terasa capek, jalannya sambil foto-foto ya….

 

EVY_1720
semangat!!!

 

EVY_1737
kita harus sampe ke sana!

 

EVY_1738
padang rumput (kering), perbukitan, beberapa pohon, ah… jadi kepikiran mau camping kan?

 

Gundukan-gundukan bukit, saling berbaris menyusun bentuk yang indah. Di lembahnya terlihat beberapa pohon rindang yang masih menyisakan daun hijaunya. Dengan warna coklat kering yang mendominasi, warna hijau dari pohon dan perdu itu bagaikan pemanis di sebuah lukisan. Dan ketika saya menoleh ke sebelah kiri, terlihat lah lautan nan luas berwarna biru nun jauh di sana. Ditambah langit biru cerah dengan beberapa gumpalan awan, saya hanya bisa menarik napas panjang. Hilang semua capek dan panas yang saya rasakan di sepanjang perjalanan. Semua terbayar dengan pemandangan dan “rasa” yang saya saksikan dari atas bukit ini.

 

EVY_1721
pemandangan dari atas bukit di Pulau Rinca

 

EVY_1722
lihat sekeliling, pemandangannya seperti ini semua…. cakeeeeeeppppp….

 

EVY_1736
lihat, di sana ada laut!

 

EVY_1734
akhirnya ada foto bareng juga ya Lis, Win, Ky… :p (makasih mas ranger yang udah motoin)

 

EVY_1730
serasa ga ingin pergi dari tempat ini

 

EVY_1729
kebayang ya kalau bukit ini menghijau, pasti indah banget

 

EVY_1728
langit ikut bikin perjalanan ini menyenangkan, cerah…..

 

Setelah melintasi bukit dengan pemandangan yang spektakuler itu, akhirnya saya dan teman-teman tiba kembali di depan bangunan kayu yang menjadi titik kumpul bagi wisatawan yang berkunjung ke Pulau Rinca ini. Dan yang saya cari adalah…… minuman dingin…….. #glek

 

EVY_1739
haus… haus… mana minuman dinginnya???

 

Sebotol minuman dingin habis tandas melewati tenggorokan saya. Segaaaaaaarrrr……

 

EVY_1740
ini bangunan kantor tempat penjualan tiket untuk berkeliling di TN Komodo yang ada di Pulau Rinca

 

Setelah beristirahat sejenak, akhirnya saya dan teman-teman harus meninggalkan Pulau Rinca ini. kami akan melanjutkan perjalanan menuju sebuah pulau kecil yang cantik lainnya, sebelum menuju Labuan Bajo yang menjadi titik akhir dari perjalanan Sailing Trip Komodo ini. Hiks…. sedih, perjalanan ini sudah hampir berakhir :(

 

EVY_1741
mari kita pulang…..

 

Melewati jalan setapak, gerbang selamat tinggal, akhirnya saya tiba di dermaga kayu kecil itu lagi. Dan…. dermaganya sekarang ramai sekali. Kapal-kapal berbaris rapi di ujung dermaga.

 

EVY_1749
waktu nunggu kapal, liat ini nih di dekat gerbang masuk

 

EVY_1744
waktu datang, dermaganya masih sepi, sekarang rame banget

 

EVY_1745
yang mana kapal kita?

 

Bye… bye… Komodo…. See you again Rinca….

 

IMG_6054
bukti nih kalau beneran udah sampe di TN Komodo, Pulau Rinca

 

 

 

Padar, I Love You from Sunset to Sunrise and Back

EVY_1581

 

Setelah menikmati aroma cinta di Pink Beach, perjalanan saya pun berlanjut menuju suatu tempat yang ternyata tidak kalah indahnya. Kapal Halma Jaya yang saya naiki bergerak meninggalkan semburat merah muda-nya pasir pantai, dan bergerak semakin menjauh ke arah Timur. Sekitar 2 jam kemudian, kapal yang saya naiki telah berada di perairan yang berhadapan dengan bukit-bukit yang sambung-menyambung. Terlihat beberapa kapal juga yang bersandar di sana. Iya, saya telah tiba di depan Pulau Padar. Pulau yang selama ini hanya saya dengar dari cerita teman, dan hasil membaca berbagai artikel dari media online, sekarang bisa saya lihat dengan mata kepala sendiri.

 

DCIM100GOPROGOPR0757.
karena selfie wajah udah terlalu mainstream :p

 

DCIM100GOPROGOPR0756.
on the way to Padar

 

EVY_1576
pantai di Pulau Padar

 

Barisan perbukitan yang berwarna coklat, kering namun eksotis terbentang luas di depan mata saya. Terlihat sangat kontras dengan pasir pantainya yang putih kecoklatan, birunya langit dan gradasi hijau toska lautan. Speechless!

Sambil menunggu antrian menaiki kapal kecil yang akan mengantarkan saya dan teman-teman untuk mencapai bibir pantai di Pulau Padar, saya memuaskan mata dengan mengamati sekeliling. Beneran deh, Tuhan menciptakan surga itu ada di Indonesia.

Dan ketika kaki saya mendarat di halusnya pasir putih di pantainya, keindahan itu semakin nyata. Saya mengikuti rombongan untuk menaiki bukit yang ada di depan kami. Menjejakkan kaki di keringnya tanah berbatu, menanjak dengan hati-hati karena di beberapa bagian tanah dan batunya gampang lepas. Sehingga sebelum menginjakkan kaki di tanah secara “ajeg” harus dirasa-rasa dulu apakah tanahnya stabil, atau malah labil?

 

EVY_1582
trek untuk naik ke puncak bukit Padar yang menjadi spot favorit

 

DCIM100GOPROGOPR0789.
pemandangan laut dari atas Padar

 

Ditemani dengan matahari sore yang bersinar terang (cenderung panas :D), saya menaiki bukit tanah berbatu itu menuju puncaknya. Saya menyusuri jalan setapak yang ada di punggung bukit. Menikmati setiap “centi” tanah berbatu yang saya lalui, rerumputan kering, debu halus tanah yang akan naik dari permukaan tanah setiap ada kaki yang menjejaknya, serta menghitung satu dua rerumputan yang masih menyisakan warna hijaunya.

 

EVY_1583
dari punggung bukit ini kita bisa melihat lautan luat yang dikelilingi oleh bukit-bukit dan pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Padar

 

Semakin ke atas, punggung bukit ini semakin berbatu. Jalanan setapak yang tadinya rata, mulai berundak-undak sehingga untuk mencapai ke puncak, saya pun harus melipir-melipir jalannya. Saya menemukan sebatang pohon di sela-sela undakan-undakan batu, daunnya masih menyisakan warna hijau bercampur dengan coklat dari dedaunannya yang mengering.

 

EVY_1587
semakin mendekati puncak, semakin terjal dan berbatu trek yang harus dilalui

 

IMG_6030
ini pemandangan trek di punggung bukit Padar

 

DCIM100GOPROGOPR0784.
yang narsis, yang narsis…… mau sendiri, mau reramean, monggo….

 

DCIM100GOPROGOPR0777.
ayo semangat!! kalian pasti bisa sampe puncak :D

 

Saya tiba di (beberapa meter sebelum) puncak bukit dengan keringat yang lumayan banyak mengucur di sekujur tubuh. Matahari sore itu masih terang benderang. Dan saya pun beringsut mencari tempat yang sedikit terlindung dari matahari untuk menghindar dari panasnya. Duduk di balik bongkahan batu, beralaskan rumput yang mengering sambil menikmati suasana sore, matahari yang semakin beranjak ke sisi Barat, hembusan angin, gemerisik suara rumput kering dan celotehan teman-teman.

 

EVY_1588
pemandangan spektakuler yang bisa dilihat dari puncak bukit Padar

 

Saya dan teman-teman akan tetap di atas bukit hingga matahari terbenam.

 

EVY_1596
hi, there are our shadows

 

Menikmati menit demi menit, menunggu bola kuning keemasan menjatuhkan diri ke garis cakrawala sambil memuaskan mata dengan pemandangan yang sangat indah ini, sungguh pengalaman yang tidak akan terlupakan.

 

IMG_6019
Hey, I’m on Padar! When will you come here?

 

DCIM100GOPROGOPR0785.
sekali-sekali posting selfie melet di web :p

 

Dan sore itu, ketika seluruh teman-teman telah tiba di atas bukit, kehebohan kecil terjadi. Ada apa???

Bukit yang tadinya tenang, tiba-tiba berubah bak behind the stage-nya catwalk. Beberapa teman dengan segera berganti costume. Dan gaun-gaun indah pun segera dipakai. Hei, apakah bakal ada photo session di sini?

Yes! Rombongan “top model” trip Sailing Komodo pun segera beraksi. Pasang gaya dengan gaun-gaun cantik yang telah disiapkan. Girls, persiapan kalian benar-benar dahsyat ya…. :p

 

DSC_4666
ini dia, top model trip Sailing Komodo – courtesy by mas Har

 

Esa, Delvie, Ayu, Yoma, Osok beraksi bak di atas catwalk, dan mas Har siap membidik dari balik lensa kamera.

Selagi rombongan top model melakukan photo session, teman-teman yang lain memanfaatkan moment menjelang sunset ini dengan berfoto sebanyak-banyaknya. Nyaris tidak ada spot kosong, semua dipakai untuk foto :D

 

EVY_1602
I’m a Superman!!! –> kata Joko :D

 

EVY_1599
cinta Indonesia Lis? harus lah!

 

Ada yang sambil latihan yoga, bergaya bak Superman, memegang bendera merah putih, selfie sana sini dan seribu gaya lainnya.

 

EVY_1620
ini “kakak” a.k.a Nadine yang sedang ngajarin yoga di puncak Padar

 

EVY_1618
yang ini “muridnya” Nadine, sebuat saja Joko, yang berhasil mempraktekkan gaya yoga di puncak Padar

 

EVY_1612
kalau yang ini??? :D hihihihihihi…. piye tho mas Rhema? gayamu itu lho……

 

Sementara saya, seolah terpaku dengan keindahan yang terpampang di depan mata.

 

EVY_1594
indah, eksotis, cantik, ga tau lagi deh gimana bilangnya?

 

EVY_1595
bersyukur banget pernah sampai di Padar, benar-benar bikin jatuh cinta dan mau ngulang ke sana lagi

 

Bukit Padar yang sambung-menyambung membentuk formasi seperti sebuah percabangan pohon ke kanan dan kiri, dengan lengkungan garis pantai yang sangat unik. Ditambah dengan kilau kuning keemasan cahaya matahari di atas permukaan air di sisi Barat, dan bola jingga yang semakin rendah seperti akan menyentuh wajah lautan, benar-benar seperti lukisan. Saya menikmati saat-saat menghilangkan matahari di balik bukit di sisi Barat sambil merekam semuanya dari balik lensa kamera. Hey, I love sunset very much!

 

EVY_1613
I love sunset very much!

 

IMG_6027
ketika terang hilang, dan berganti gelap

 

Seiring sore berganti senja, dan ketika gelap mulai merambat perlahan di Bukit Padar, saya pun bergegas menuruni punggung bukit untuk kembali ke pantai. Sedikit terburu-buru untuk turun, karena takut kemalaman dan semakin gelap (pas naik, terang benderang, itu aja beberapa kali hampir kepleset, apa kabar kalau gelap? :p).

Dan begitu sampai di pantai, saya pun kembali bergegas menaiki perahu kecil untuk sampai ke kapal. Sampai di kapal, mas-mas ABK sudah menyiapkan makan malam dengan menu yang sangat spesial! Hmm….. nyam… nyam… Mari makan….. #ambilpiringnasilauksayurbuah :D

Malam ini kami akan bermalam sambil menikmati bintang di depan Pulau Padar ini. Wow……. #mataberbinarbinar #penuhtandacinta

Selesai makan kami menghabiskan malam dengan cerita-cerita di ruangan utama kapal. Riak gelombang hampir tak terasa, dan kapal nyaris tidak bergerak. Bulan terlihat jelas di luasnya langit Padar, ditemani ribuan bintang. Huuuuuuuaaaaaa…….. I love this night!

Keinginan untuk mendapatkan foto bulan ternyata harus saya redam, karena walaupun tidak ada gelombang, namun kapal yang bersandar di atas air ini tidaklah diam seperti yang terlihat. Saya awalnya sudah mencoba untuk memasang kamera di atas tripod, tapi tiba-tiba….. terasa ayunan kecil riak gelombang yang membuat kapal sedikit bergoyang. Ah, bulan malam ini cukup dinikmati dengan lensa mata saja.

Dan malam ini adalah malam paling tenang selama sailing trip ini. Tidak ada suara motor kapal yang mengejar tujuan di depan kami, tidak ada suara gelombang yang pecah menghantam buritan kapal. Tenang.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Alarm di handphone saya berbunyi seiring teriakan Seto, TL trip, “Bangun, bangun…. Yang mau sunrise-an”.

Setelah cuci muka dan sikat gigi, saya pun segera menyambar dry bag berisi kamera dan tripod. Yuk, kita hunting milkyway dan sunrise.

Saya termasuk yang terakhir tiba di pantai Padar. Sementara teman-teman yang lain sudah mulai mendaki bukit untuk menikmati sunrise di sana. Hmm…. Saya sudah memutuskan untuk tidak ikut menyambut sunrise di atas bukit karena saya ingin milkyway-an di pantai.

Duduk di hamparan pasir dan batu yang ada di pantai Pulau Padar ini, sambil menikmati langit yang berhiaskan ribuan, bahkan mungkin jutaan bintang yang berpijar, membuat saya tidak bisa berkata-kata. Ah, suasana seperti ini yang selalu membuat saya rindu dengan rumah. Teringat biasanya duduk di ayunan besi yang ada di halaman, sambil menikmati langit malam dengan bintang dan bulan yang menghiasinya, sambil bercerita dengan ibu dan bapak. Huuuuuuaaaa….. mendadak kangen rumah.

Saya harus menunggu beberapa saat sebelum beranjak memasang tripod dan menyetel kamera. Okay, semoga malam ini beruntung dan mendapatkan foto langit Padar yang cakep ini.

Saya mencari beberapa spot untuk mendapatkan foto dengan angle yang berbeda. Dan ternyata……. Langit Padar tidak kalah cantik dengan landscape-nya. Heaven is here.

 

EVY_1661 2
langit yang seperti ini yang selalu bikin kangen dengan kegiatan outdoor, jauh dari keramaian dan gemerlap lampu

 

EVY_1665 2
rela banget kalau setiap malam bisa memandang langit seperti ini

 

Setelah mendapatkan beberapa shot foto, saya kemudian mengarahkan kamera ke sisi Timur untuk mendapatkan moment munculnya matahari pagi itu. Semburat jingga mulai terlihat di langit Timur. Namun sayang, ternyata pagi itu kabut sedikit tebal sehingga saya tidak bisa melihat si bola emas muncul dari balik cakrawala. Tapi benar, Padar, I love You from sunset to sunrise and back!

 

EVY_1678 2
I’m also love sunrise

 

IMG_6037
moment mengintip dari balik lensa ini yang menjadi favorit

 

Sambil menunggu teman-teman turun dari atas bukit, saya memuaskan mata untuk menikmati pemandangan indah yang ada di depan mata. Ternyata, kapal kami bukan satu-satunya kapal yang bermalam di depan Pulau Padar ini, di balik bukit di sisi kanan ternyata ada 1 kapal pesiar yang ditumpangi Becky Tumewu dan keluarganya. Dan pagi ini kami sempat bertemu di pantai Pulau Padar ini.

 

EVY_1680 2
for you…. someday I will take you here

 

Setelah seluruh teman-teman turun, kami pun kembali ke kapal untuk kemudian melanjutkan perjalanan. Setelah dari Padar ini, kami akan dibawa ke mana ya??? Penasaran deh….. Yuk, kita berlayar….

 

DSC_4790
sarapannya 2 porsi yaaaa….. wajah-wajah setelah sunrise-an di Pulau Padar, kelaparan :p (courtesy by mas Har)

 

 

Pink Beach, Pantai yang Akan Membuat Semua Jatuh Cinta

EVY_1535

 

Setelah puas melihat Manta, sailing dilanjutkan menuju suatu spot yang sangat terkenal (justru) di kalangan turis mancanegara (yah…. di kalangan turis domestik juga terkenal sih, hanya saja lebih banyak turis mancanegara yang datang ke sana), yaitu Pink Beach, atau Pantai Merah yang ada di salah satu sudut Pulau Komodo, Flores.

 

let's go to Pink beach!
let’s go to Pink beach!

 

Pantai Merah merupakan salah satu dari 7 pantai di dunia yang pasirnya berwarna merah muda. Selain Pantai Merah atau Pink Beach yang ada di Pulau Komodo ini, Pink Beach juga terdapat di Harbor Island, Bahamas; Bermuda; Santa Cruz Island, Filipina; Sardinia, Itali; Bonaire, Dutch Carribean Island dan Balos Lagoon, Crete, Yunani. Nah, bangga dong ya….. ternyata di Indonesia tercinta ini ada salah satu pantai yang pasirnya berwarna pink, yang hanya ada 7 di dunia! Ah, I’m proud to be an Indonesia!

Kapal yang saya naiki bergerak meninggalkan Manta Point menuju Pink Beach. Matahari siang bersinar sempurna, ditambah desiran angin laut yang cukup kencang, buih yang pecah di ujung buritan kapal meninggalkan jejak busa putih di belakang. Dan di depan saya sudah terbentang selarik garis merah muda tipis yang membatasi hijau birunya lautan dengan putihnya pasir. Yeay….. Pink Beach, here I come!

 

dan... ini dia, salah 1 dari 7 pink beach yang ada di dunia!
dan… ini dia, salah 1 dari 7 pink beach yang ada di dunia!

 

Pantai Merah siang itu cukup ramai oleh pengunjung, baik wisatawan mancanegara maupun lokal. Pantainya yang khas dengan pasir berwarna merah muda terlihat lebih shiny karena sina matahari yang bersinar dengan sangat terang :D

Seperti biasa, dari kapal kami harus menggunakan kapal putih kecil untuk mencapai bibir pantai karena menghindari karang dan coral yang terlihat jelas di bawah permukaan air laut yang sangat jernih ini. Dan begitu kaki terbenam di pasir pantai…… hanya halus yang terasa di telapak kaki.

 

pasirnya halus banget terasa di kaki
pasirnya halus banget terasa di kaki

 

Di Pantai Merah saya hanya berniat untuk menikmati keindahan yang ada sambil mengabadikannya dari balik lensa kamera. Ga pake acara berendam di pantai (pertimbangannya karena matahari yang sangat cerah sinarnya :D).

Saya berjalan ke sisi kanan pantai untuk kemudian mendaki bukit kecil yang ada di ujungnya untuk melihat pantai ini dari atas. Pasir di pantai ini sangat halus, dengan semburat warna merah muda yang konon berasal dari serpihan karang berwarna merah yang sudah mati dan banyak ditemukan di pantai ini. Namun, ada juga yang menyebutkan bahwa warna merah muda itu karena keberadaan hewan mikroskopik bernama foraminifera yang menghasilkan warna merah muda atau pink terang pada terumbu karang. Mana yang benar, wallahualam.

 

itu bukit kecil yang akan saya daki
itu bukit kecil yang akan saya daki

 

Di ujung pantai, saya melangkahkan kaki untuk mendaki sebuah bukit kecil. Seperti pulau-pulau kecil yang telah kami singgahi selama perjalanan sailing ini, bukit yang ada di sini pun terlihat coklat, kering meranggas karena musim kemarau yang sangat panjang ini. Sehingga, setiap kaki menjejak ke permukaannya, selapis tipis debu tanah akan terbang dari permukaannya yang kering. Rumput-rumput yang tumbuh di permukaan tanah pun terlihat kering kecoklatan.

 

pemandangan dari atas bukit kecil di sisi kanan Pink beach
pemandangan dari atas bukit kecil di sisi kanan Pink beach

 

Kaki saya akhirnya sampai di puncak bukit kecil itu, dan apa yang saya lihat??? Wow….. pemandangan Pink Beach yang terlihat dari atas ini sungguh indah! Bukit yang coklat mengering terlihat sangat kontras dengan putih dan merah muda pasir pantai, ditambah gradasi biru toska air laut. Bagus banget!!!

 

ini pemandangan dari sisi kanan pantai
ini pemandangan dari sisi kanan pantai

 

Sinar matahari yang bersinar garang tidak mematahkan semangat saya untuk berpanas-panas berdiri di atas bukit dan mencoba merekam seluruh keindahan yang terpampang di depan mata. Walaupun keringat deras mengucur :D

 

yes, I'm here
yes, I’m here

 

Setelah puas menikmati keindahan Pink Beach dari atas bukit, saya kemudian menuruni bukit untuk “pindah” ke bukit yang ada di seberangnya, di sisi kiri pantai. Menyeberangi pasir halus berwarna merah muda dan putih yang basah dan sedikit hangat, sambil melihat teman-teman yang sedang asyik ber-snorkling ria di bibir pantai, menyenangkan.

 

rasanya pengen guling-guling di pasir pink-nya :D
rasanya pengen guling-guling di pasir pink-nya :D

 

mencari tempat teduh biar ga gosong :D
mencari tempat teduh biar ga gosong :D

 

ga tau ini ganggang apa, tapi cantik
ga tau ini ganggang apa, tapi cantik

 

Di sisi kiri pantai, kembali saya melangkahkan kaki, menyusuri bukit tanah berdebu yang ditumbuhi ilalang yang mengering, dan beberapa perdu yang berusaha mendekap erat warna hijau daunnya di tengah kemarau yang panjang ini. Kaki saya akhirnya tiba di puncak bukit, dan mata saya kembali disuguhi pemandangan yang tidak kalah cantiknya. Gradasi air laut, semburat merah muda di pasir, serta eksotisnya bukit yang mengering berwarna coklat, sungguh bagaikan lukisan. Jadi menyesal, kenapa tidak dari dulu saya berani meng-explore bagian timur dari negeri tercinta ini???

 

pemandangan dari atas bukit di sisi kiri pantai juga tidak kalah indah lho...
pemandangan dari atas bukit di sisi kiri pantai juga tidak kalah indah lho…

 

ini trek yang harus dilalui untuk mendaki bukit di sisi kiri pantai
ini trek yang harus dilalui untuk mendaki bukit di sisi kiri pantai

 

Setelah mendapatkan beberapa frame terbaik dari atas bukit, kaki saya mulai melangkah menuruni bukit. Setiap kaki ini menjejak tanahnya, selapis debu coklat tipis akan naik dari permukaan, betapa kering dan gersangnya bukit ini di tengah kemarau yang sangat panjang ini. Saya membayangkan alangkah hijaunya bukit ini dan bukit-bukit lain yang telah saya datangi pada musim penghujan. Pasti keindahannya akan memberikan kesan yang berbeda. Jadi timbul keinginan untuk datang kembali pada musim penghujan, untuk melihat hijaunya pulau dan bukit-bukit ini.

 

EVY_1562
bukit-bukitnya kering meranggas karena kemarau yang sangat panjang

 

EVY_1564
rela panas-panasan mendaki bukit ini demi pemandangan yang ajib

 

EVY_1565

masih tersisa beberapa perdu dan pohon hijau di tengah kekeringan ini

 

Akhirnya saya menghentikan langkah di bawah sebatang pohon yang cukup lah menghalau sinar matahari yang sedang garang-garangnya ini. Bergabung dengan teman-teman yang juga sedang menghindari sinar matahari yang cukup bikin kulit terasa seperti dicubit-cubit :D

 

EVY_1570
nonton yang sedang berenang aja, panasnya itu lho……

 

EVY_1569

takjub, liat mereka tahan berpanas-panasan

 

Duduk-duduk di dahan sebuah pohon besar yang tumbuh di pinggir pantai, sembari bercanda dengan teman-teman, dan menunggu teman-teman yang masih asyik berenang, menikmati pemandangan laut yang luar biasa indahnya, dan merasakan hembusan angin laut yang makin lama makin membuat mata saya semakin redup, ngantuk! :D

Dan akhirnya karena akan mengejar sunset di suatu tempat yang tidak kalah eksotis dan indah, kami pun kembali ke kapal untuk meneruskan pelayaran ini (ish…. istilahnya “pelayaran ini” berasa naik cruise wisata yang gede itu :D). See you again Pink Beach…. I will see you again, someday.

 

hanya jejak kaki yang ditinggalkan, beserta kenangan akan indahnya pantai ini
hanya jejak kaki yang ditinggalkan, beserta kenangan akan indahnya pantai ini

 

 

 

 

 

 

Menanti Manta

EVY_1480

 

Setelah memuaskan mata dengan landscape dari puncak Gili Laba, perjalanan sailing diteruskan untuk berburu Manta. Eits, jangan salah…. kami tidak berburu untuk membunuh lho… tapi hanya berburu Manta untuk melihat dari dekat dan tentu saja mengabadikannya dari balik lensa kamera :)

 

bye bye Gili Laba....
bye bye Gili Laba….

 

Meninggalkan Gili Laba dengan segala keindahannya, kapal pun bergerak menuju spot Manta Point, di mana biasanya Manta banyak terlihat. Tapi di sini kami sudah diwanti-wanti “Hanya yang bisa berenang yang boleh nyebur!”. Ok, fixed! Saya cukup nonton Manta dari atas kapal aja :D

 

EVY_1450
para pemburu Manta

 

berburu Manta?
berburu Manta?

 

Kapal kami tidak terlalu lama berlayar untuk mencapai Manta Point. Teman-teman yang jago berenang pun sudah bersiap-siap untuk nyebur dan mengejar Manta (tolong suruh Manta-nya berenang ke dekat kapal ya teman-teman…. biar bisa difoto :D).

 

dan inilah yang ditunggu-tunggu... Manta!!!
dan inilah yang ditunggu-tunggu… Manta!!!

 

Manta Point merupakan lokasi untuk memantau Manta yang paling representatif. Di lokasi ini kita akan melihat berpuluh-puluh ekor Manta yang berenang dengan bebasnya. Manta banyak dijumpai pada bulan Maret – April serta September – November.

 

ga cuma 1! tapi banyak!!!
ga cuma 1! tapi banyak!!!

 

Di lokasi, terlihat beberapa kapal yang sudah lebih dulu tiba, dan beberapa orang yang sudah berenang-renang dengan asyiknya. Teman-teman yang bisa berenang tidak perlu disuruh, dan dengan cepat segera loncat dari kapal. Byuuuuuuuurrrrr…… ah, saya iri :(

 

kapal pemburu Manta
kapal pemburu Manta

 

Dan ternyata memang benar, di lokasi itu terlihat banyak sekali Manta yang berenang ke sana ke mari. Manta merupakan varian ikan Pari dengan lebar tubuh bisa mencapai 7 meter dan berat hingga 3 ton. Manta berenang dengan cara menggerakan sirip dadanya yang berada merata dari kepala hingga bagian belakang. Hal itu lah yang membuat Manta seolah-olah terbang di lautan.

Manta memiliki ekor yang lebih pendek daripada ikan Pari pada umumnya, namun memiliki kepala yang terlihat seperti tanduk berbentuk sirip. Fungsi sirip tersebut untuk membantu memasukkan air laut yang mengandung plankton, yang merupakan sumber makanan utama bagi Pari Manta. Selain plankton, Pari Manta juga memakan udang dan ikan-ikan kecil lainnya (tenang aja, kalian aman kok karena bukan termasuk jenis makanan yang disukai Manta :p)

 

EVY_1478
melihat Manta dengan mata kepala sendiri…… rasanya wow!!!

 

EVY_1515
ayo, mana Mantanya??? cari………

 

kalau ini, termasuk Manta ga??? :p
kalau ini, termasuk Manta ga??? :p

 

Karena saya tidak ikut nyebur untuk bercanda dengan Manta, saya pun harus cukup puas untuk keliling kapal dan sesekali melongok ke laut untuk melihat Manta yang berenang di sekitar kapal kami.

Saya mau nunjukin kapal yang telah membawa kami berlayar mulai dari Lombok, dan insyaallah akan bersandar di Labuan Bajo keesokan hari.

 

tiang utama kapal
tiang utama kapal, keliatan kan ruang kemudi yang ada di atas?

 

EVY_1451
laju perahuku laju…. membelah laut nusantara…

 

Kapal yang kami gunakan ini terbuat dari kayu, kokoh! Di bagian depan terdapat sebuah tiang utama dengan tangga kayu di kanan kirinya. Dari bagian depan, kita bisa melihat ruang utama yang menjadi tempat kami biasa berkumpul, ya cerita-cerita, makan bareng, nyanyi-nyanyi, menyimpan tas, ransel, gear snorkling sampai sandal dan sepatu :D

 

EVY_1510
itu tempat kami berkumpul like a family :)

 

Nah, di buritan sebelah kanan, ada tangga menuju ke atas, ke ruang kemudi. Di ruang kemudi itulah, Kapten Muji’an mengemudikan kapal yang menjadi rumah kami selama 4 hari 3 malam ini. Thanks Capt!

 

EVY_1470
ini ruang kemudi, dan itu yang sedang bertugas adalah Kapten Muji’an, kapten kapal kami

 

EVY_1472
Kapten Muji’an meninggalkan kemudinya sebentar, memberi saya kesempatan untuk memotret ruang kerjanya

 

EVY_1471
dari jendela di ruang kemudi, bisa melihat lautan luas di depan sana

 

Nah, itu teman-teman sudah selesai berburu Manta, dan mulai naik ke kapal lagi untuk melanjutkan perjalanan. Hari ini masih ada 2 spot cantik yang akan dikunjungi, jadi harus bergegas. Yuk, kita berlayar lagi!