Tag Archives: NTT

Kampung Praiyawang, Desa Adat di Sumba Timur

EVY_4471

 

Sumba Timur, terkenal dengan ritual adatnya yang kental. Di sana terdapat beberapa kampung adat yang biasa digunakan sebagai lokasi ritual tersebut. Salah satu kampung adat yang biasa digunakan untuk menyelenggarakan ritual bagi masyarakat Sumba Timur adalah Kampung Praiyawang. Kampung yang berada sekitar 69 km dari kota Waingapu ini berada di Desa Rindi (biasa disebut Desa Rende), Kecamatan Umalulu, Kabupaten Sumba Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur.

EVY_4466
salah satu rumah adat yang terdapat di Kampung Praiyawang

 

EVY_4467
selasar aula yang biasa digunakan sebagai lokasi upacara adat

Berkendara dari Kota Waingapu menuju Kampung Praiyawang akan memakan waktu sekitar 1 jam perjalanan, tergantung pada kecepatan kendaraan. Karena belum ada sarana transportasi umum menuju kampung ini, bagi para pendatang yang ingin melihat kampung ini dapat menggunakan motor/mobil sewaan. Jalanan menuju kampung ini berupa aspal hitam yang mulus.

EVY_4469
rumah adat yang mengelilingi Kampung Praiyawang

 

EVY_4468
makam batu yang menjadi lokasi pelaksanaan upacara adat

 

EVY_4470
aula besar yang terdapat di pusat Kampung Praiyawang

Memasuki Kampung Praiyawang nuansa peradaban masa silam akan sangat terasa. Sederetan bangunan makam-makam kuno yang terbuat dari batu dengan pahatan unik di sekelilingnya terlihat di sisi kiri dari akses jalan masuk, serta rumah-rumah adat yang terbuat dari kayu dengan atap yang menyerupai menara tinggi. Di tengah kampung terdapat 1 bangunan rumah yang terbuka dindingnya sehingga menyerupai aula sebuah aula besar. Di rumah tersebut terdapat 2 lemari kaca besar yang berisikan aneka peralatan kuno yang telah berumur raturan tahun, yang biasanya digunakan saat pelaksanaan upacara adat. Upacara adat yang biasa dilaksanakan di Kampung Praiyawang adalah upacara persembahan dan penyimpanan jenazah sebelum dimakamkan.

EVY_4465
lemari tempat menyimpan peralatan yang digunakan saat upacara adat

 

EVY_4444
peralatan upacara adat yang terbuat dari anyaman daun lontar

 

EVY_4443
anyaman daun lontar ini biasanya digunakan sebagai penutup tempat nasi yang digunakan saat pelaksanaan upacara adat

 

EVY_4442
anyaman daun lontar sebagai perlengkapan upacara adat

Rumah adat yang terdapat di Kampung Praiyawang memiliki bentuk atap yang unik, yaitu berbentuk lancip. Dan setiap rumah akan memiliki 3 bagian, yaitu bagian bawah, tengah dan atas. Hal tersebut mencerminkan simbol alam dalam pandangan Suku Sumba, yaitu alam bawah (tempat arwah), alam tengah (tempat manusia) dan alam atas (tempat para dewa). Di Kampung Praiyawang terdapat 8 rumah induk yang mengelilingi rumah adat dan makam-makam batu berukuran besar yang beratnya mencapai 1-5 ton untuk setiap makamnya. Ke-8 rumah induk itu melambangkan 8 keturunan bangsawan yang ada di Kampung Praiyawang. Sementara rumah adat yang terdapat di Kampung Praiyawang memiliki fungsi yang berbeda-beda, misalnya Rumah Besar (Rumah Adat Harapuna/Uma Bokul) digunakan sebagai tempat penyimpanan jenazah, Rumah Adat Uma Ndewa  digunakan sebagai tempat ritual cukurna bagi anak Raja yang baru lahir, kemudian Rumah Adat Uma Kopi digunakan sebagai tempat untuk minum kopi.

Tradisi di Kampung Praiyawang, anak tertua di dalam keluarga harus berdiam di kampung untuk menjaganya. Sehingga yang bisa pindah atau keluar dari kampung adalah anak ke-2, ke-3 dan seterusnya. Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga adat-istiadat dan keberlangsungan kehidupan Kampung Praiyawang.

EVY_4447
tempat nasi yang digunakan saat pelaksanaan upacara adat

 

EVY_4446
perhiasan kuno yang digunakan untuk upacara adat

 

EVY_4445
tas kaum lelaki Sumba Timur

 

EVY_4455
sirkam – terbuat dari kulit Penyu, hiasan rambut wanita Sumba Timur

 

EVY_4448
tempat sirih dan kapur

Tenun Sumba, Pesona Helaian Benang dari Timur

EVY_4264

Siapa yang tidak mengenal tenun? Kain tradisional dari berbagai pelosok Indonesia, dengan motif yang sangat khas namun beragam. Dikerjakan secara manual, menggunakan peralatan sederhana dan tanpa mesin. Keindahan tenun untuk saya pribadi sangat menarik. Setiap daerah memiliki ciri khas motif  dan proses pembuatannya masing-masing. Kali ini saya akan bercerita tentang tenun Sumba.

EVY_4260
benang-benang katun, cikal bakal tenun Sumba
EVY_4257
proses pemasangan dan penghitungan benang katun putih sebagai awal pembuatan tenun Sumba
EVY_4258
Rambu (sebutan untuk wanita Sumba) yang sedang bekerja untuk membuat tenun

Tenun Sumba dibuat dari benang-benang kapas, diuntai satu-persatu, helai demi helai, diberi ruh dalam setiap helai benangnya sehingga menjadi kain tenun yang indah. Menenun bagi kaum wanita di Sumba merupakan ibadah, untuk memuji kebesaran Tuhan yang diwujudkan dalam motif-motif bentuk hewan, alam dan benda-benda yang lekat dalam kehidupan sehari-hari.

EVY_4266
proses pembuatan pola/motif tenun Sumba
EVY_4267
salah satu motif tenun Sumba, menurut Umbu (sebutan untuk lelaki Sumba) penenun, motif ini berkhasiat untuk “menolak peluru/senjata”
EVY_4265
ini salah satu motif pesanannya Dian Sastro lho….

Tenun Sumba umumnya dibuat menggunakan pewarna alami yang berasal dari akar pohon Mengkudu dan daun Nila. Akar pohon Mengkudu digunakan untuk menghasilkan warna merah alami yang biasanya menjadi warna dasar pada tenun Sumba. Kemudian daun Nila, untuk menghasilkan warna biru yang juga menjadi warna dominan pada tenun Sumba. Motif pada tenun Sumba dibuat dengan mengikat benang-benang katun putih dengan menggunakan daun Gewang – sejenis daun Palem (saat ini terkadang benang katun diikat dengan menggunakan tali rafia untuk menggantikan daun Gewang).

EVY_4263
pewarna alami yang digunakan pada pewarnaan tenun Sumba – akar pohon Mengkudu dan daun Nila
EVY_4247
akar pohon Mengkudu
EVY_4249
proses penumbukan akar pohon Mengkudu untuk dijadikan pewarna tenun Sumba
EVY_4248
akar pohon Mengkudu yang telah ditumbuk dan siap digunakan sebagai pewarna kain tenun
EVY_4251
akar pohon Mengkudu yang telah ditumbuk kemudian dicampur dengan air untuk menghasilkan warna merah yang akan digunakan sebagai pewarna kain tenun
EVY_4261
proses pewarnaan benang tenun dengan warna merah dari akar pohon Mengkudu
EVY_4262
benang tenun yang telah diikat sesuai motif yang diinginkan kemudian direndam di dalam cairan pewarna

Motif tenun Sumba bisa dikelompokkan menjadi 2, yaitu motif yang diambil dari flora dan fauna, serta motif yag diambil dari dunia manusia itu sendiri.

EVY_4243
proses penjemuran benang tenun setelah diwarnai
EVY_4256
lamanya penjemuran benang tenun sangat tergantung pada panas dan cuaca
EVY_4246
penjemuran benang tenun yang telah selesai diwarnai dan diberi Kemiri

Proses menenun kain Sumba memakan waktu yang cukup panjang. Mulai dari helaian benang katun putih yang diatur dan digulung pada alat khusus yang terbuat dari kayu, kemudian dihitung satu-persatu untuk keperluan pembuatan motifnya. Benang katun putih yang sudah dihitung kemudian dibuatkan pola dengan mengikat benang tersebut menggunakan daun Gewang atau tali rafia. Polanya bermacam-macam dengan berbagai artinya masing-masing. Setelah diikat sesuai pola yang diinginkan, benang kemudian dicelup pada pewarna buatan yang telah disiapkan sesuai pola yang diinginkan. Benang yang telah dicelup pewarna kemudian dijemur agar warna yang yang dihasilkan menjadi lebih hidup. Proses penjemuran benang yang telah diwarnai memakan waktu 1-2 bulan tergantung panas dan cuaca. Setelah itu, benang akan direndam menggunakan kemiri agar warnanya tahan lama. Benang kemudian dijemur kembali hingga kering. Setelah benang benar-benar kering, barulah ditenun sesuai motif yang telah dibuat. Saat menenun, penenun akan mengoleskan ubi kayu/singkong yang telah ditumbuk dan dicairkan ke helaian benang. Hal ini untuk memberikan efek licin saat menenun.

EVY_4244
proses penjemuran benang tenun yang telah selesai diwarnai
EVY_4245
proses penjemuran benang memakan waktu 1-2 bulan, tergantung panas dan cuaca

Perlu waktu berbulan-bulan untuk menghasilkan kain tenun dengan motif yang bagus. Sebagai gambaran, sehelai sarung tenun dengan ukuran 65 x 120 cm dibuat dalam waktu 6 bulan. Untuk kain tenun panjang ukuran 65 x 200 cm, dalam 1 tahun bisa dihasilkan 4 helai kain. Kebayang kan bagaimana sulitnya proses yang harus dilalui untuk menghasilkan sehelai sarung atau kain tenun yang indah?

EVY_3948
dan inilah beberapa hasil tenun Sumba

Apabila telah menjadi sarung atau kain, penenun biasanya menjual produk mereka kepada pedagang lokal. Ada juga yang membuka galeri pribadi di rumahnya masing-masing. Harga untuk sehelai tenun Sumba bermacam-macam, tergantung ukuran, jenis pewarna yang digunakan, motif dan kualitasnya. Semakin bagus kualitas tenun maka semakin mahal juga harganya.

IMG_8263
dan ini “bukti cinta” saya untuk tenun Sumba

 

 

 

 

 

Perjalanan Panjang, Labuan Bajo – Ende – Kupang – Denpasar – Jakarta

EVY_1803 2

 

Selesai sudah perjalanan saya berkeliling lautan mulai dari Lombok hingga Labuan Bajo. Kapal Halma Jaya yang saya naiki telah mengarahkan buritannya menuju pelabuhan di Labuan Bajo. Perjalanan dari Pulau Kanawa menuju Labuan Bajo hanya memakan waktu 50 menit saja. Dan tanpa memakan waktu lama, kapal sudah memasuki daerah pelabuhan. Sebelum kapal bersandar, alhamdulillah, saya mendapat pemandangan sunset yang sangat luar biasa. The best sunset selama perjalanan sailing trip 4 hari 3 malam ini. Bola emas raksasa terlihat bergulir di langit sebelah barat, dengan background siluet pulau-pulau kecil, dan foreground kapal-kapal yang lalu lalang di area pelabuhan Labuan Bajo. Sinar keemasannya jatuh di atas permukaan air laut, menimbulkan bayangan tangga emas yang sesekali bergoyang terkena gelombang kapal yang lewat.

 

IMG_6072
pemandangan sore di sekitar Pelabuhan Labuan Bajo

 

IMG_6075
sore itu pelabuhan Labuan Bajo cukup ramai

 

EVY_1795 2
perfect banget senja itu

 

EVY_1808 2
the best sunset!

 

Langit senja begitu indah, awan abu-abu terlihat berarak di langit jingga. Pelabuhan Labuan Bajo terlihat sedikit ramai di senja itu. Dan ketika kapal Halma Jaya telah benar-benar merapat, kami pun turun dari kapal. Sebelum berpisah dengan teman-teman, karena sailing trip telah berakhir, malam ini kami akan makan bersama di kawasan Wisata Kuliner Kampung Ujung (udah kebayang nikmatnya ber-seafood ria nih).

Karena kapal yang saya naiki tidak bisa bersandar persis di tepi dermaga karena terhalang kapal yang sudah lebih dulu tiba, akhirnya kami harus melewati kapal tersebut untuk mencapai dermaga. Melompat dari kapal Halma Jaya ke kapal lainnya, barulah kami bisa menjejakkan kaki di dermaga Labuan Bajo.

 

IMG_6081
suasana malam di Pelabuhan Labuan bajo

 

Selanjutnya, mari kita makan……

Ketika berjalan menuju kawasan wisata kuliner, saya dihampiri oleh seorang bapak, penduduk asli Labuan Bajo yang menawarkan kain tenunnya. Ups! Waduh…. bisa kalap nih :D

Melihat beberapa helai kain tenun yang dipegang oleh si bapak, saya mulai menanyakan berapa harganya? Dan entahlah, mungkin itu keberuntungan saya, setelah memilih kain tenun, saya mendapatkan harga 300 ribu untuk 2 helai kain tenun. Alhamdulillah…… kesampaian juga keinginan untuk membelikan kain tenun tradisional untuk ibu di rumah.

Karena saya tidak membawa tas, dan si bapak juga tidak memberikan plastik, akhirnya 2 helai kain tenun itu saya pegang saja. 2 helai kain tenun tradisional, bernuansa merah dan biru tua, ah…. seperti menemukan harta karun :D

Dan sepanjang jalan menuju kawasan kuliner saya masih menemukan beberapa bapak yang juga menawarkan kain tenun serupa. Kalau saja tidak ingat bahwa ransel yang dibawa sudah gendut, mungkin saya akan tergoda untuk membeli lagi :D #duh #tutupmatarapetrapet

 

IMG_6078
Kawasan Wisata Kuliner Kampung Ujung

 

Akhirnya kami sampai di salah satu warung tenda yang menyediakan menu seafood. Langsung deh, pesen ikan, udang, cumi, tumis kangkung dan tak lupa nasi putih hangat. Hmm……. Yummy………

 

IMG_6080
ini bapak yang punya warung seafood tempat kami berpesta :D

 

Ga pake lama, semua menu yang tersaji di atas meja di depan kami, amblas tak bersisa. Yang ada sekarang tinggal elus-elus perut yang kenyang #happytummy

Sekarang, kami harus kembali ke kapal untuk unloading barang bawaan, karena malam ini kami akan menginap di hotel yang telah dipesan masing-masing. Saya kebetulan sudah melakukan pemesanan kamar di Exotic Komodo Hotel, yang menurut informasi lokasinya sangat dekat dengan bandara. Hal ini menjadi pertimbangan saya karena besok pagi saya akan kembali ke Jakarta dengan penerbangan pagi. Dan sebelum sampai di pelabuhan, saya telah menelepon pihak hotel untuk menjemput saya di sana.

Belum juga kaki saya melewati gerbang pelabuhan, tiba-tiba handphone saya bergetar, sebuah panggilan dari nomor yang tidak saya kenal. Who is this? Dan ketika saya menekan tombol hijau di layar telepon, ternyata itu adalah driver dari pihak hotel. Wah… cepat sekali ya…

Tanpa menunggu lama, setelah mengambil ransel dari kapal, akhirnya saya, Ciwi, Windy, Nadine dan Irma harus say goodbye and see you again ke teman-teman yang lain. See you again teman-teman…. kami duluan ya…..

Perjalanan menuju hotel sangat saya nikmati. Melihat deretan pertokoan di sepanjang jalanan di areal pelabuhan, berganti dengan kantor-kantor pemerintahan dan beberapa rumah penduduk, melewati aspal hitam yang bergelombang sesuai dengan kontur tanah di sana yang cenderung merupakan perbukitan, akhirnya mobil pun berbelok ke kanan dan menyeberangi jalanan utama yang kami lewati. Sebelum berbelok, bapak sopirnya sempat bilang “Di sebelah kiri itu bandaranya mbak”. Sekilas saya sempat melihat ke arah kiri, dan terlihatlah bangunan bandara Labuan Bajo yang masih terlihat sangat baru itu. Yeay…. Hotelnya benar-benar persis di seberang bandara :D

Setelah mengurus administrasi kamar, saya, Windy dan Ciwi akhirnya tiba di depan pintu (lupa kemarin itu di kamar nomor berapa? Kalau ga salah B4 deh :D). Senangnya….. membayangkan malam ini bakal mandi, keramas dengan air tawar berlimpah….. #mataberbinarbinar

 

IMG_6084
dan akhirnya…… kasuuuuuuuuurrrrrr…….

 

IMG_6087
furniture kamarnya minimalis, tapi cakep

 

Kamar yang kami tempati berkapasitas 3 orang dengan 1 bed double dan 1 bed single. Kamarnya bersih, cukup luas. Dan yang menyenangkan adalah kamar mandinya, luas dan bersih. Oh iya, tempat tidurnya terkesan minimalis dengan rangka dari kayu dengan kasur berseprai putih plus sehelai kain tenun tradisional berwarna hitam bercorak aneka warna di ujung kasur sebagai pemanis.

 

IMG_6086
horeeeee…… air tawar….. keramaaaaasssss…..

 

IMG_6085
toiletnya bagus, bersih

 

Karena sudah 4 hari 3 malam tidak bertemu dengan air tawar, jadilah malam ini semua rebutan untuk mandi dan keramas. Dan saya memilih untuk giliran terakhir saja, supaya lebih puas mandinya. Saya menuju ke lobi untuk mengakses wifi, karena 3 hari terakhir provider yang saya gunakan tidak ada sinyalnya :D

Jadilah malam itu saya nongkrong di lobi untuk sekedar mengecek email dan sosmed, kali-kali aja ada yang penting :D

Sekitar 1 jam kemudian, saya kembali ke kamar dan menemukan Ciwi dan Windy dengan kepala masing-masing berbalut handuk. Duh, mereka udah mandi dan keramas, senangnya…. Saya bergegas ke kamar mandi, dan begitu air mengucur dari shower, mengguyur kepala, rasanya………….

Selesai mandi, saya memutuskan untuk langsung packing isi carrier supaya besok pagi tidak berburu-buru, mengingat penerbangan saya adalah jam 9 pagi. Dan setelah carrier rapi, saya memutuskan untuk langsung tidur, kasurnya seperti memanggil-manggil dengan manja. Masih sempat terdengar sayup-sayup Windy dan Ciwi ngobrol tentang chat di group sebelum akhirnya semua hening.

Saya terbangun ketika alarm berbunyi, sudah jam 5 pagi. Rasanya baru sebentar terlelapnya dengan tubuh lurus di atas kasur yang empuk, ternyata sudah pagi. Mumpung Windy dan Ciwi belum bangun, saya bergegas mandi dan siap-siap. Jam 7 pagi saya sudah duduk manis di restoran hotel untuk menikmati sepiring omelet sebagai menu sarapan. Hmm….. menikmati matahari pagi, udara segar, suasana yang cukup sepi sambil menyeruput air putih dan sepiring omelet, bahagia………

 

IMG_6128
pemandangan bandara dari depan hotel

 

IMG_6135
nah, itu Hotel Exotic Komodo dilihat dari bandara

 

Karena penerbangan saya lebih dulu daripada flight yang digunakan oleh Ciwi dan Windy, saya pun meninggalkan kamar lebih dulu dari mereka. Dari hotel, saya hanya harus menyeberangi jalan raya untuk mencapai bandara Komodo. Bangunan bandara ini masih baru, bersih dan rapi. Pemeriksaan penumpang pun lebih ketat dengan standar internasional. Sewaktu akan melewati detektor logam, petugasnya dengan sopan meminta penumpang untuk menempatkan barang-barang seperti handphone, jam tangan, kunci, ikat pinggang dan lain-lainnya ke dalam sebuah tempat plastik agar tidak memicu alarm dari alat detektor tersebut. Suasana bandaranya cukup ramai.

 

IMG_6131
bandaranya baru, bersih, rapi, teratur

 

IMG_6133
tuh, masih baru banget bangunannya, masih bersih abiiiiiiiisssss……

 

IMG_6130
menyenangkan itu adalah……. melihat bocah-bocah itu bermain dengan wajah penuh senyuman

 

Selesai check-in, saya menuju ruang tunggu di lantai 2. Dan sebelum masuk ke ruang tunggu, mata saya melihat sebuah counter mini yang menjual aneka kain tenun dan suvenir khas dari NTT. Mata saya tergoda melihat kain tenun aneka warna, tapi mengingat carrier sudah gendut, akhirnya saya hanya membeli kopi khas NTT sebagai oleh-oleh. Ibu yang menjaga counter ini sangat ramah. Selama melihat-lihat kain tenun, beliau dengan sabar menjelaskan motif-motif, warna dan penggunaan dari kain-kain tenun tersebut. Dan ketika terdengar panggilan bagi penumpang yang akan flight ke Jakarta, saya segera masuk ke ruang tunggu dan langsung menuju pintu untuk boarding.

 

IMG_6142
nemu counter ini di depan ruang tunggu bandara, rasanya…………… :D

 

IMG_6143
kain tenunnya bikin kalap

 

IMG_6140
nah, itu ibu yang punya toko, ntar… cari kartu namanya dulu…lupa :D

 

IMG_6136
ruang tunggu bandara Komodo ini juga bersih banget

 

Dari ruang tunggu saya berjalan menuju lorong kaca menuju landasan bandara, di mana sebuah pesawat ATR telah siap diberangkatkan. Karena Labuan Bajo merupakan bandara kecil, amka pesawat yang bisa mendarat di sini adalah pesawat berjenis ATR atau pesawat berbaling-baling. Kalau biasanya saat di pesawat posisi seat berada lebih tinggi dari sayap pesawat, kali ini posisi sayap berada di atas seat. Dan seperti biasa, saya mendapatkan seat persis di samping jendela. Yeay…. Saya siap menikmati indahnya alam Indonesia Timur dari udara!

 

IMG_6144
Bandar udara Komodo – Labuan Bajo

 

IMG_6145
dan di sepanjang lorong itu, karpetnya juga bersih…. tiap hari disedot pake vacuum cleaner kayaknya :D

 

IMG_6146
itu pesawat ATR yang akan saya naiki

 

IMG_6147
ga pake garbarata, ga pake bus, jalan kaki menujuu pesawat ditemani sinar matahari yang aduhai….

 

Dari Labuan Bajo, pesawat yang saya naiki akan transit sebentar di Kota Ende. Let’s fly…….

 

IMG_6148
bismillah…… let’s fly….

 

Melihat alam Indonesia bagian Timur dari udara merupakan pengalaman pertama bagi saya. Menyaksikan daratan berbukit-bukit bagaikan lukisan, dengan kelompok-kelompok pemukiman masyarakat yang tersebar, sungguh indah. Bukit-bukit berwarna coklat bercampur hijau yang saling sambung-menyambung membuat mata saya tidak berhenti melihatnya. Awan putih terlihat berarak rendah, seolah-olah menyentuh perbukitan itu. Nun jauh di sebelah kanan saya, terlihat sebuah gunung dengan rangkaian awan putih di sekitarnya. Mendekati Kota Ende, mata saya disuguhi pemandangan gradasi air laut dan buih putih gelombang, pemukiman penduduk, kebun pisang, dan perbukitan.

 

IMG_6149
pemandangan seperti ini yang bisa dilihat selama perjalanan Labuan Bajo – Ende

 

IMG_6155
pemandangan dari jendela pesawat ATR Labuan Bajo – Ende

 

IMG_6152
setelah sekian lama ga pernah naik pesawat berbaling-baling, akhirnya…

 

IMG_6158
perbukitan, pemukiman, awan, langit…

 

Di Kota Ende, pesawat transit sekitar 30 menit untuk menurun/naikkan penumpang yang akan menuju ke Kupang. Sekilas dari jendela pesawat saya melihat bangunan bandara Ende, sebuah bangunan 1 lantai, beratap kuning. Setelah penumpang yang akan menuju Kupang naik ke pesawat, penerbangan pun dilanjutkan. Kali ini saya akan transit kembali di Kota Kupang, ibukota propinsi Nusa Tenggara Timur.

 

IMG_6165
mendekati Kota Ende, pemandangannya makin eksotis

 

IMG_6166
terbang rendah di atas lautan, dengan pemandangan seperti ini, rasanya…..

 

IMG_6167
pemukiman penduduk di sekitar bandara di Kota Ende

 

IMG_6168
hello Ende……

 

IMG_6170
transit sebentar untuk kemudian terbang lagi menuju Kupang

 

Penerbangan Ende – Kupang ditempuh selama kurang lebih 50 menit, sama dengan waktu tempuh Labuan Bajo – Ende. Di Kupang saya akan ganti pesawat yang lebih besar. Sepanjang penerbangan Ende – Kupang, kembali mata saya disuguhi pemandanganan indahnya alam Indonesia Timur. Gradasi hijau toska air laut, dan sebaran pemukiman warga. Saya transit di sini kurang lebih 1 jam 55 menit, waktu yang cukup panjang untuk melihat sekitar bandara dan masyarakat di sana. Namun karena ternyata matahari di Kupang luar biasa panasnya, niat saya untuk melihat ke luar bandara akhirnya saya batalkan. Dan saya memilih untuk duduk di ruang tunggu saja sambil menyelesaikan “Titik Nol” yang menemani penerbangan dan perjalanan saya kali ini.

 

IMG_6171
travelmate kali ini :)

 

IMG_6173
pemandangannya ga kalah cantik

 

IMG_6174
karena masih menggunakan pesawat ATR, jadi puas melihat pemandangan indah Indonesia bagian Timur ini

 

IMG_6176
cakep…….

 

IMG_6178
makin ga sabar untuk explore bagian Timur Indonesia

 

IMG_6180
hore…….. hampir mendarat di Kupang….

 

Pukul 13.35 wit, pesawat boeing yang saya naiki meninggalkan landasan pacu Bandara Kupang. Bye-bye Kupang…. Semoga next time saya akan berhasil menjelajahi indahnya alam di sana.

 

IMG_6182
menemukan pesawat lama di pinggir bandara Kupang

 

IMG_6183
Halo Kupang…… finally I’m here….

 

IMG_6184
ngadem di ruang tunggu aja, panasnya ga nahan :D

 

IMG_6192
kali ini ganti pesawat yang lebih gede, karena penerbangan bakal lebih lama dan jarak tempuh lebih panjang

 

IMG_6193
see you, Kupang…. wait for my next trip…

 

Dari Kupang, burung besi putih berlogo biru ini akan terbang menuju Denpasar sebelum destinasi akhirnya di Jakarta. Penerbangan saya kali ini betul-betul seharian, mulai dari Labuan Bajo, Ende, Kupang, Denpasar dan terakhir Jakarta. Penerbangan Kupang – Denpasar memakan waktu sekitar 2 jam. Di Denpasar pesawat transit sekitar 30 menit sebelum melanjutkan penerbangan menuju Jakarta.

 

IMG_6196
singgah sebentar di Denpasar, ngintip dari balik kaca jendela aja :D

 

IMG_6198
penerbangan kali ini, kenyaaaaaaaaannnnnggggg….. hihihihihi…..

 

IMG_6199
see you Bali,numpang transit aja ya….

 

IMG_6200
masih bisa melihat daratan Pulau Bali, sebelum akhirnya merem karena perjalanan panjang ini

 

Dan akhirnya, setelah penerbangan yang panjang ini, pukul 17.00 wib saya pun tiba di bandara Soekarno Hatta, finally.

Hello Jakarta…… see you again!

Selesai sudah perjalanan panjang trip kali ini, 4 hari 3 malam menjelajahi lautan dan pulau-pulau cantik nan eksotis di Indonesia Timur, dilanjutkan dengan penerbangan panjang dari timur menuju barat.

Terima kasih untuk semua teman-teman seperjalanan, seperkapalan, dan seperbaperan :p

Trip kali ini sungguh menyenangkan dan TOP BGT!

Ga sabar untuk ngetrip bareng kalian lagi.

 

DCIM101GOPROGOPR1196.
hallo…… kapan kita seru-seruan lagi???

 

DSC_5030
4 hari 3 malam ternyata cukup membuktikan keseruan kita semua, termasuk kapten dan mas-mas ABK…..

 

Note.
Thanks to mas Har, Imel, Wuki Traveler yang sudah memperbolehkan foto-foto serunya di-share di sini.

Kanawa, Serasa Berlibur di Pulau Pribadi

 

EVY_1780 2

 

Perjalanan panjang berlayar selama 4 hari 3 malam ini sudah mendekati titik akhir. Setelah siang tadi saya akhirnya bisa melihat sendiri wujud dari Kadal raksasa a.k.a Komodo, kali ini Kapal Halma Jaya akan membawa saya ke sebuah pulau kecil, sepi tapi indah. Iya, saya akan menuju Pulau Kanawa.

Pulau Kanawa merupakan sebuah pulau kecil yang terletak di daerah Flores, Nusa Tenggara Timur. Pulau ini luasnya sekitar 35 hektar. Pulau Kanawa termasuk pulau yang letaknya paling dekat dari Labuan Bajo, yaitu sekitar 15 kilometer atau sekitar 50 menit perjalanan menggunakan perahu bermesin atau speed boat. Sebagai informasi, untuk mencapai Pulau Kanawa kita bisa menyewa kapal motor dari Labuan Bajo seharga kurang lebih Rp 250.000 untuk sekali jalan, atau sekitar Rp 60.000 per orangnya. Selain itu terdapat pula shuttle boat gratis dari Labuan Bajo menuju Pulau Kanawa yang disediakan khusus oleh resort yang terdapat di sana bagi wisatawan yang akan menginap di resort tersebut. Shuttle boat ini akan berangkat dari Labuan Bajo sekitar pukul 12 siang dan kembali ke Labuan Bajo sekitar jam 8 malam setiap harinya.

 

EVY_1781 2
Welcome to Kanawa

 

EVY_1757
ini jembatan kayu yang menghubungkan dermaga di Pulau Kanawa

 

Saya tiba di Pulau Kanawa setelah sekitar 2.5 jam berlayar dari Pulau Rinca. Pulau Kanawa ditandai dengan sebuah dermaga kayu yang menjorok ke tengah laut, sehingga kapal kami bisa langsung menepi di pinggir dermaga. Ketika saya tiba di Pulau Kanawa, awan cukup tebal bergayut di langit, sehingga sinar matahari cukup teduh (walau sedikit was-was, semoga ga hujan). Sebelum mencapai dermaga, sekitar beberapa meter sebelum pantai, beberapa orang teman memutuskan untuk langsung terjun dan berenang menuju pantai. Sementara saya, yang memang tidak berniat untuk berbasah-basah lagi, memilih duduk manis di kapal sampai kapal merapat sempurna di dermaga.

Sedikit iri melihat mbak Jazz, Arlet, Jyo, Seto, dan yang lain-lain terjun dan berenang menuju pantai. Rasanya pengen ikut nyebur, tapi…… males basah-basahan lagi, dan niatnya di Pulau Kanawa ini saya hanya ingin memotret. Ok, baiklah…. Saya akan menunggu kapal merapat di dermaga saja.

 

EVY_1782 2
let’s step on it!

 

Dan ketika kapal telah merapat di dermaga kayu itu, saya pun melangkahkan kaki menyusuri dermaga dan jembatan kayu menuju pantai. Pantai di Pulau Kanawa sangat halus, putih, memancing rasa ingin berguling-guling di atasnya. Saya menuju sebuah gazeebo kecil di sisi kanan pantai, bersama dengan teman-teman. Sebagian teman-teman langsung bertukar costume, menyambar fin dan google dan langsung nyebur untuk ber-snorkling ria. Sementara saya lebih memilih untuk leyeh-leyeh sejenak sambil menikmati udara pantai Pulau Kanawa.

 

EVY_1753
4 hari di laut, begitu ketemu daratan langsung deh main bola

 

EVY_1754
lha? malah lari dikejar bola :p

 

EVY_1762
menang siapa???

 

Sebagian teman-teman pria memutuskan untuk bermain bola melawan mas-mas ABK. Seru, melihat mereka berlarian di pasir putih untuk mengejar bola. Debu-debu halus pasir pun beterbangan ketika kaki-kaki mereka saling berkejaran. Dan ketika debu pasir semakin banyak, beberapa dari mereka memutuskan untuk bertelanjang dada dan menggunakan kaos itu sebagai penutup hidung dan mulut. Sementara mas-mas ABK-nya stay cool, tetap berpakaian lengkap, bahkan ada yang bercelana panjang :D

 

EVY_1752
pemandangan dermaga kayu dari gazeebo tempat saya leyeh-leyeh

 

EVY_1756 2
jembatan kayunya cukup panjang untuk sampai ke dermaga

 

Sambil menunggu teman-teman yang asyik snorkling dan bermain bola, saya melangkahkan kaki menuju dermaga. Kebetulan sepi, sehingga saya bebas untuk memotret. Dermaga kayu yang ada di Pulau Kanawa cukup panjang, mungkin lebih dari 20 meter, menjorok ke tengah laut. Di ujung dermaga terdapat sebuah gazeebo kecil yang menjadi tempat beristirahat bagi awak kapal yang singgah di Pulau Kanawa.

 

EVY_1760
sambil main pasir, sempetin dulu motret jembatan kayunya dari sisi kanan pulau

 

Apabila kita berdiri di ujung dermaga yang menjorok ke laut, dan melihat ke arah pulau, akan terlihat sebuah tulisan “Welcome to Kanawa”. Di kiri dan kanan tulisan tersebut terdapat 2 bangunan yang merupakan café dan bangunan office dari pengelola resort yang terdapat di Pulau Kanawa, yaitu Kanawa Beach Bungalow. Di belakang bangunan tersebut terdapat 2 bukit kecil, coklat, kering, gundul, walaupun masih terlihat beberapa gerombolan perdu mungil berwarna hijau yang tersebar di beberapa area. Bukit yang berada di sebelah kiri terlihat memanjang hingga ke sisi kiri Pulau Kanawa.

 

EVY_1761
ini cafe dengan bentuk seperti kapal

 

Di ujung jembatan kayu yang berakhir di halusnya pasir putih di pantai, di sisi kirinya terlihat sebuah bangunan berbentuk perahu dari kayu dengan beratapkan ijuk dengan beberapa bangku panjang berwarna putih. Bangunan ini kosong, mungkin diperuntukan sebagai café terbuka dilihat dari penataannya.

 

EVY_1778 2
beberapa kali menemukan ikan biru ini, tapi masih belum ketemu apa namanya?

 

EVY_1763
hai Nemo….. how are you?

 

EVY_1765
hai… hai… itu banyak”Patrick” :D

 

Air laut di sekitar dermaga sangat jernih, sehingga hanya dengan berdiri di atas dermaga saja kita bisa melihat aneka macam ikan, bintang laut, ganggang, karang, bulu babi dan lain-lain yang terdapat di dasar laut. Ketika saya sedang memperhatikan ikan-ikan yang ada di dasar laut, tiba-tiba mata saya menangkap sesosok ikan kecil berwarna orange, putih dan hitam. Hey….. itu ada nemo! Terlihat beberapa ekor nemo sedang berenang cantik di antara karang dan tumbuhan laut yang ada. Selain nemo saya juga melihat bintang laut, ikan-ikan berwarna biru stabilo, dan bulu babi.

 

EVY_1769
jernih banget airnya, seperti kaca

 

EVY_1770
rasanya pengen dibawa pulang itu ikan-ikannya

 

EVY_1768
ada bulu babi juga lho di sana

 

Puas motret di dermaga dan melihat aneka binatang laut yang ada di sekitarnya, saya kembali ke gazeebo. Sebentar lagi kami harus kembali ke kapal untuk meneruskan perjalanan menuju destinasi terakhir dari sailing trip ini.

Dan akhirnya kami pun harus meninggalkan Pulau Kanawa, melanjutkan perjalanan menuju Labuan Bajo.

Bye…. Bye… Kanawa… see you again someday, I will!

 

EVY_1759
www.jendelakecildunia.com udah sampe di Kanawa lho…. kalian kapan???