Tag Archives: nature

Pergilah ke Baduy, dan Rasakan Pengalaman yang Berbeda

100_6263

Baduy, merupakan salah satu kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda yang menetap di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Populasinya saat ini berkisar antara 5.000 – 8.000 orang. Suku Baduy merupakan salah satu suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar. Suku Baduy lebih suka menyebut dirinya sebagai Urang Kanekes, yang berarti orang Kanekes atau Urang Cibeo, sesuai dengan kampung di mana mereka menetap (https://id.wikipedia.org/wiki/Urang_Kanekes).

Secara geografis, wilayah Kanekes terletak pada koordinat 6°27’27” – 6°30’0” LS dan 108°3’9” – 106°4’55” BT (Permana, 2001). Pemukiman mereka terletak tepat di kaki pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, Banten, sekitar 40 km dari Kota Rangkasbitung. Wilayah ini terletak sekitar 300-600 mdpl, memiliki topografi berbukit-bukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45°, yang merupakan tanah vulkanik (bagian utara), tanah endapan (bagian tengah) dan tanah campuran (bagian selatan), dengan suhu rata-rata sekitar 20°.

IMG_2594
Peta Kampung Cikesik Baduy Dalam

Terdapat 3 desa utama yang menjadi daerah populasi orang Kanekes, yaitu: Cikeusik, Cikertawana dan Cibeo.

Saya merasa beruntung sudah pernah menginjakkan kaki di desa yang menurut saya sangat nyaman itu. Tapi, sebelum saya bercerita tentang perjalanan seru menuju Desa Cibeo, ga ada salahnya kalau kita sedikit belajar mengenai suku Baduy/Kanekes ini.

Secara physically, penampilan orang Kanekes tidak berbeda dengan orang Sunda. Yang menjadi perbedaan mendasar mereka adalah kepercayaan dan cara hidupnya. Orang Kanekes menutup diri terhadap pengaruh dunia luar dan secara ketat menjaga cara hidup mereka, sementara orang Sunda lebih terbuka terhadap dunia luar dan mayoritas merupakan umat muslim.

Secara umum, masyarakat Kanekes terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu: Tangtu, Panamping dan Dangka (https://id.wikipedia.org/wiki/Urang_Kanekes). Apa itu Tangtu? Panamping? Dangka?

Menurut informasi yang saya temukan di internet, kelompok Tangtu merupakan kelompok Kanekes Dalam (Baduy Dalam), merupakan kelompok yang paling ketat menjaga adat-istiadatnya, dan mereka menetap di 3 desa yang telah saya sebutkan di atas, Cibeo, Cikertawana dan Cikeusik. Ciri khas mereka adalah pakaian yang mereka kenakan, bewarna putih alami dan biru tua (warna tarum) serta memakai ikat kepala putih. Mereka juga dilarang secara adat untuk bertemu dengan orang asing.

Selain itu, ada beberapa larangan yang harus dipatuhi oleh kelompok Tangtu, yaitu:

  1. Tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk sarana transportasi;
  2. Tidak diperkenankan menggunakan alas kaki;
  3. Pintu rumah harus menghadap ke utara/selatan (kecuali rumah sang Pu’un atau ketua adat);
  4. Larangan menggunakan alat elektronik (teknologi);
  5. Menggunakan kain berwarna hitam/putih sebagai pakaian yang ditenun dan dijahit sendiri serta tidak diperbolehkan menggunakan pakaian modern.

Kelompok kedua, yaitu Panamping, merupakan mereka yang dikenal sebagai Kanekes Luar (Baduy Luar), yaitu kelompok yang tinggal di berbagai kampung yang mengelilingi wilayah Kanekes Dalam, seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh dan lain-lain. Ciri khas mereka mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna biru gelap (warna tarum).

Panamping/Kanekes Luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Kanekes Dalam. Ada beberapa hal yang membuat mereka dikeluarkan dari kelompok Tangtu/Kanekes Dalam, misalnya:

  1. Melanggar adat masyarakat Kanekes Dalam;
  2. Berkeinginan keluar dari Kanekes Dalam;
  3. Menikah dengan anggota Kanekes Luar.

Adapun ciri-ciri dari Panamping atau orang Kanekes Luar, adalah:

  1. Mengenal teknnologi, misalnya peralatan elektronik;
  2. Proses membangunan rumah penduduk Kanekes Luar menggunakan alat bantu, seperti gergaji, palu, paku dan lain sebagainya;
  3. Menggunakan pakaian adat berwarna hitam atau biru tua (untuk laki-laki), atau pakaian modern lainnya;
  4. Menggunakan peralatan rumah tangga modern, seperti kasur, bantal, piring dan gelas kaca;
  5. Tinggal di luar wilayah Kanekes Dalam;
  6. Kepercayaan mereka telah berganti dengan memeluk agama tertentu, mayoritas menjadi muslim.

Sedangkan kelompok ketiga yang disebut Dangka, merupakan kelompok yang tinggal di luar kedua wilayah Kanekes tadi. Saat ini mereka menetap di 2 kampung yang ada, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam).

IMG_2592
let’s start the journey

 

IMG_2607
dengan modal Rp 5.000 perjalanan dimulai dengan kereta ekonomi ini

Saat saya mengunjungi Baduy/Kanekes beberapa waktu yang lalu, perjalanan saya dimulai dari Stasiun Tanah Abang, di hari Jumat sore. Sepulang dari kantor, dengan menggendong si merah, saya tiba di Stasiun Tanah Abang yang saat itu cukup ramai. Bermodalkan tiket seharga Rp 5.000, tepat pukul 17.30 wib kereta yang saya dan teman-teman tumpangi bergerak meninggalkan stasiun. Memakan waktu sekitar 1 jam 30 menit, kereta yang kami tumpangi akhirnya tiba di Stasiun Rangkasbitung. Saat kami tiba di sana, hari sudah mulai gelap, dan di sepanjang pintu keluar dari stasiun ramai pengendara ojek dan kernet elf yang menawarkan tumpangan menuju desa-desa yang ada di sekitar Rangkasbitung.

Saya dan teman-teman yang telah tiba di stasiun kemudian menuju sebuah warung makan yang terletak tidak jauh dari stasiun untuk mengisi perut yang sudah keroncongan, sembari menunggu teman kami yang akan tiba dengan kereta selanjutnya (perjalanan kali ini, karena merupakan perjalanan dengan sharing cost, jadi kami hanya berjanji untuk bertemu di meeting point dan untuk yang telat harus menerima resiko ditinggal dan menyusul sendiri menggunakan kereta selanjutnya).

Setelah teman yang ditunggu tiba, kami masih harus melanjutkan perjalanan sekitar 40 km lagi menuju Desa Ciboleger yang merupakan pintu gerbang untuk masuk ke Baduy Dalam. Perjalanan bisa ditempuh menggunakan elf yang banyak terdapat di sekitar stasiun/pasar di mana saya dan teman-teman berkumpul. Untuk tarifnya, tidak ada tarif yang pasti, semua harus dinegosiasikan dengan pengemudi elf. Waktu itu saya dikenakan tariff Rp 20.000/orang dengan alasan sudah malam dan penumpangnya hanya rombongan kami.

Menikmati perjalanan dari pasar menuju Desa Ciboleger di malam itu, dengan jalanan yang sedikit berliku, ditemani hembusan angin dan suara binatang malam serta teman-teman seperjalanan yang menyenangkan, membuat perjalanan hampir 2 jam itu tidak terasa. Dan menjelang tengah malam, kami pun tiba di Desa Ciboleger. Kami turun di tengah lapangan dengan monumen “Selamat Datang di Ciboleger” yang lengkap dengan patung keluarga petani.

IMG_2609
Selamat Datang di Ciboleger

Seorang pemandu dari Baduy Luar sudah menunggu kami dan siap mengantarkan kami ke rumahnya untuk bermalam (dan saya lupa siapa nama si akang itu, yang jelas keluarga akang sangat baik menyambut kedatangan kami). Malam itu kami menginap di rumah akang guide yang baik itu. Rumahnya tidak seberapa jauh dari lapangan, hanya perlu mencari gang kecil yang terletak di samping warung makan, berjalan sekitar 50 meter, tiba lah kami di sebuah rumah panggung kayu berdinding bilik.

Kami dipersilakan masuk oleh istri dan orang tua dari akang guide, dan di dalam telah tersedia minuman hangat. Malam itu, sebelum beristirahat, kami isi dengan saling bercerita dan berkenalan dengan keluarga si akang guide hingga kantuk datang.

Malam berganti subuh, suara ayam jago berkokok saling bersahutan membangunkan saya pagi itu. Sembari berjalan menuju sebuah mushola di dekat lapangan, saya dengan rakusnya berusaha menghirup udara segar sebanyak-banyaknya, mengisi paru-paru, mencucinya dari udara penuh polusi yang saya hirup setiap hari. Dan ternyata, air di Desa Ciboleger itu sangat dingin. Sempat tercekat saat air dingin itu menerpa wajah. Tapi efeknya, mata langsung segar dan rasanya ingin langsung mandi :D

Dan pagi itu, setelah mandi, segarnya luar biasa!

100_6261
di sini lah kami mengsnap di Ciboleger

 

IMG_9895
pagi-pagi setelah sarapan, yang paling menyenangkan adalah ngobrol dengan para sahabat

Melihat geliat kehidupan di Desa Ciboleger di awal pagi hari itu, anak-anak berseragam Pramuka yang berlarian menuju sekolahnya, ibu-ibu menjunjung tampah besar berisi aneka sayuran, serta para bapak dengan cangkul di tangan. Setelah sarapan, kami pun memulai perjalanan menuju Baduy Dalam dipandu akang guide. Niat awalnya, kami tidak akan menggunakan porter untuk perjalanan sekitar 12 km ini. Carrier, perbekalan makanan dan lain-lain akan dibawa sendiri.

baduy 2
sebelum berangkat ke Baduy Dalam, senyumnya masih lebar :D

 

100_6260
mumpung masih ada sinyal :D

Perjalanan dimulai dengan menapaki jalanan tanah yang sedikit menanjak. 15 menit pertama, senyum masih tampak di wajah, walau keringat sebesar biji jagung mulai mengalir cantik di sisi wajah. Mungkin kami baru menempuh jarak 1 km ketika akhirnya memutuskan “kita pake porter aja ya….” :D

8
1 kilo pertama, dan kami………. cari porter ajaaaaa…… :p

 

100_6264
jalannya masih jauh……..

 

100_6269
menunggu akang-akang porter yang bantuin bawa carrier ke Baduy Dalam

 

IMG_9894
tuh, carrier kita disusun begitu dan kemudian dipikul sama akang porter

 

IMG_9885
ga kuat mikul carrier-nya :D

Untung akang guide baik hati dan langsung menelpon beberapa temannya. Sambil menunggu teman-teman akang guide, saya dan teman-teman memanfaatkan waktu untuk istirahat dan goler-goler di sebuah tanah datar, di sebuah kebun pisang.

Walaupun akhirnya carrier dan semua bawaan kami dibawa oleh porter, bukan berarti perjalanan menjadi mudah (untuk saya). Medan yang terdiri dari jalanan tanah, yang terkadang berbatu dan menanjak, membuat langkah kami tidak bisa menyaingi kecepatan langkah akang-akang porter dan tentu saja akang guide.

IMG_9884
ini udah tanpa carrier ya…. masih juga kepleset-pleset

 

564730_10151089210187336_1453513156_n
walau capek, tiap liat kamera, senyumnya lebar…….

 

556685_4261229336476_1791755630_n
mulai ketemu tanah lapang yang ga ada pohonnya

Saya yang hanya membawa kamera dan sebuah drybag berisi dompet, cemilan dan persediaan air minum, ternyata masih kalah cepat langkahnya dari akang porter yang memikul carrier kami. Dengan 2 carrier yang dipikul menggunakan bantuan sebuah kayu, akang porter bisa bergerak lincah dan cepat menapaki jalan tanah, dan tanpa alas kaki! Sementara saya, terkadang harus rela sedikit menggelinding karena terpeleset saat meniti jalanan tanah yang menanjak.

552000_3369012558071_1855521431_n
huft… huft… jalannya naik terus ya………

 

551887_10151089211787336_1652007402_n
muka merah, keringat ngucur, tiap liat kamera langsung pasang senyum lebar

Mulai dari kebun, hutan, tanah lapang yang gersang karena sedang menunggu untuk ditanami, perjalanan sekitar 12 km itu saya rasakan penuh warna. Merasakan panasnya matahari tepat di jam 12 siang, persis di tengah gundukan tanah lapang berbukit-bukit, dan tidak ada 1 pohon pun yang bisa dijadikan sebagai tempat berteduh. Bisa dibayangkan gimana rasanya? :D

100_6302
panasnya luar biasa…..

 

100_6303
akang guide aja kepanasan, apalagi kita :D

 

100_6301
gersang sebagian, hijau banyakan

 

100_6300
jalannya jauh…… turun naik…

100_6299 100_6297

 

100_6295
naik bukit, turun lembah, menyeberangi sungai, lewat hutan…

 

100_6294
rumah, lumbung padi, pepohonan, adem……..

 

100_6293
rumah-rumah di sana terbuat dari kayu, bambu, dengan dinding bilik dan atap rumbia

Untungnya teman-teman seperjalanan semua kompak dan helpful. Di saat ada teman yang kecapekan, semua setia menunggu, menemani, menyemangati dan terkadang ngejek juga. Perjalanan panjang kami akhirnya tiba di pintu masuk Baduy Dalam. Ketika sebuah jembatan bambu terlihat membelah sungai berair jernih. Dan setelah melewati jembatan itu, kami semua harus patuh dengan adat yang berlaku di sana, termasuk tidak menggunakan handphone, kamera dan teknologi lainnya. Memasuki lingkungan desa yang sepi, rumah-rumah kayu berdinding bilik, pohon bambu, jalanan tanah, unggas yang berlarian ke sana ke mari, anak-anak kecil dengan baju dan ikat kepala putih yang duduk di depan rumah, serta senyum ramah dari semua yang saya temui, membuat hati ini bahagia.

100_6304
siapa yang nolak pemandangan seperti ini di sepanjang perjalanan?

 

100_6311
dari sini, kedengaran suara gemericik air di sungai yang ada di bawah sana

 

100_6341
langit biru, pepohonan, suara burung, bikin betah

Kami diantar ke rumah Pu’un (dan lagi-lagi saya lupa namanya) untuk menginap di sana. Setelah berkenalan dengan seluruh keluarganya, Pu’un mengajak kami bercerita tentang adat yang berlaku di Baduy Dalam ini. Bagaimana orang Baduy Dalam hidup dengan berpedoman terhadap perilaku alam, petunjuk-petunjuk yang terdapat di langit, dan lain-lain. Saya takjub dengan perkiraan Pu’un terhadap waktu. Saat saya bertanya, saat itu sudah jam berapa, Pu’un hanya melihat ke arah matahari dan bayangan pepohonan di depan rumah, dan kemudian berkata “Sekarang sudah jam 4 sore”. Dan begitu saya melirik ke arah jam tangan yang saya kenakan, persis!

Ketika hari menjelang malam, pintu-pintu rumah pun mulai menutup. Cahaya matahari digantikan oleh cahaya bulan Purnama yang terlihat sangat terang. Bulatan kuning besar keemasan, seolah-olah berada persis di atas langit desa. Karena kami tidak boleh menggunakan teknologi (termasuk HP dan kamera), jadilah malam itu saya memuaskan mata dengan menikmati Purnama dari depan rumah bapak Pu’un.

Puas menikmati cahaya Purnama, saya beringsut masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah, istri Pu’un sibuk di depan tungku dapur, menjerang air. Saya dan teman-teman yang telah mempersiapkan perbekalan dari Baduy Luar, kemudian mempersiapkan makan malam. Nasi putih ditemani mie rebus serta telur rebus, menjadi menu kami malam itu. Menikmati makan malam dan ngobrol santai dengan keluarga Pu’un, tak terasa malam semakin gelap.

Ketika semilir angin dingin mulai terasa dari sela-sela dinding yang terbuat dari bilik, Pu’un pun mempersilakan kami untuk beristirahat. Saya segera mengeluarkan sleeping bag dan mengambil tempat paling pinggir, kemudian menarik ritsleiting hingga ke leher, dan sebentar saja, semua menjadi gelap.

Saya terbangun ketika merasakan ada sesuatu yang bergerak di bawah sleeping bag. Insting parno membuat saya langsung bangun dan melihat kaki kak Getmi + Watik yang berusaha mencari kehangatan di bawah sleeping bag saya. Tawa saya pecah di dini hari itu ketika mereka ngedumel “Epoy, kakinya jangan kabur-kaburan kenapa sih? Ini dingin tauk….. mau anget-angetan di bawah sleeping bag doang, malah kakinya pindah-pindah mulu”. Ahahahahahahahaha……

Di Baduy Dalam, udaranya memang dingin setelah lewat tengah malam. Dan angin lumayan kencang bertiup. Karena saya sudah diberi informasi oleh teman untuk membawa sleeping bag, Alhamdulillah tidur saya nyenyak dan aman dari dinginnya udara. Tapi ternyata tidak semua teman-teman membawa sleeping bag. Dan akhirnya dini hari itu terjadi kegaduhan kecil di mana teman-teman mulai ndusel-ndusel untuk mencari kehangatan. Teman-teman yang cowok, karena hanya bermodalkan jaket dan sarung, akhirnya memilih meringkuk di depan tungku di dapur supaya hangat :D

Pagi itu di Baduy Dalam, menikmati udara yang sangat segar, rasanya paru-paru saya mendadak seperti habis dicuci. Rasanya lapang dan lega……………

Menikmati teh dan kopi panas, sambil berbincang-bincang dengan Pu’un dan teman-teman lainnya, membuat pagi itu berbeda. Karena kami tidak ingin kesiangan tiba di Ciboleger, akhirnya setelah menikmati sarapan, kami pun berpamitan kepada Pu’un dan keluarganya.

100_6329
mengintip dari balik pintu

 

100_6385
membelah kayu sebaga bahan dasar membangun rumah

 

100_6338
rumahnya memang sederhana, tapi kaya rasa

 

100_6335
bapak ini dari Baduy Luar, membawa atap rumbia untuk rumah yang sedang dibangun

 

100_6331
budhe There, Tekol, kapan kita jalan bareng lagi

Melangkah kan kaki menapaki jalanan desa, diselingi ucapan selamat pagi dan senyum sumringah dari semua yang saya temui, membuat leher ini selalu ingin menoleh ke belakang. Kesederhanaan, apa adanya, dan keramahan seluruh masyarakat Baduy Dalam menimbulkan kesan yang tidak bisa diungkapkan. Dan perjalanan pulang menjadi lebih menyenangkan karena saya ditemani oleh beberapa adik kecil dari Baduy Dalam.

100_6315 100_6314

 

100_6313
akang ini dengan santai mikul 2 carrier + masih nggendong 1 ransel

 

100_6308
senyum ramah itu yang bikin selalu kangen dengan Baduy Dalam

 

100_6309
yang nganterin kita pulang ke Ciboleger rameeeee…..

Perjalanan pulang menjadi lebih ringan karena saya dan teman-teman bisa berbincang dan becanda dengan adik-adik kecil itu di sepanjang perjalanan. Yang saya salut, dalam fisik mereka yang masih anak-anak, ternyata stamina mereka sangat bagus. Berjalan dengan medan yang lumayan bervariasi, tanpa menggunakan alas kaki, dan mereka masih bisa berlari sambil menggendong ransel-ransel kecil kami (malu). Dan sewaktu saya bertanya apakah tidak capek? Jawab mereka dengan mata berbinar “Sudah biasa”.

100_6285
di tengah ladang, selalu ada rumah untuk berteduh

 

100_6288
lingkungannya teduh, asri, adem…

 

IMG_9872
pake acara loncat-loncat di batu yang ada di sungai lho….

Sekali lagi kami menyeberangi jembatan bambu, dan perkampungan dengan rumah-rumah kayu berdinding bilik. Senyum ceria dari adik-adik kecil yang bermain di sekitar rumah, wanita Baduy yang sedang menenun di teras rumahnya, serta kaum lelaki Baduy yang melakukan pekerjaan rutinnya.

100_6381 100_6380

 

100_6375
mari kita pulang…….

Mendekati Desa Ciboleger, saya tidak bisa menahan keinginan untuk melihat yang berujung dengan membeli sebuah kain tenun khas Baduy berwarna merah, lengkap dengan selendangnya.

100_6376
sampe di Kampung Gajeboh

 

100_6349
iri, melihat adik kecil ini dengan lincahnya menenun di teras rumahnya

 

100_6365
nah, kain tenunnya dibuat dengan ATBM, jadi kalo beli, nawarnya jangan kelewatan ya…

 

IMG_2608
ini tenun Baduy yang menjadi pilihan saya

 

IMG_2605
mari dipilih….

Selesai sudah perjalanan saya di Baduy, perjalanan yang meninggalkan rasa bahagia dan keinginan untuk kembali ke sana. Tetaplah dalam kesederhanaanmu Baduy-ku, jagalah kemurnian yang ada di sana.

564340_3369064279364_605754895_n
terima kasih Baduy….. terima kasih Ciboleger…. terima kasih Indonesia….

 

 

 

Perjalanan Panjang, Labuan Bajo – Ende – Kupang – Denpasar – Jakarta

EVY_1803 2

 

Selesai sudah perjalanan saya berkeliling lautan mulai dari Lombok hingga Labuan Bajo. Kapal Halma Jaya yang saya naiki telah mengarahkan buritannya menuju pelabuhan di Labuan Bajo. Perjalanan dari Pulau Kanawa menuju Labuan Bajo hanya memakan waktu 50 menit saja. Dan tanpa memakan waktu lama, kapal sudah memasuki daerah pelabuhan. Sebelum kapal bersandar, alhamdulillah, saya mendapat pemandangan sunset yang sangat luar biasa. The best sunset selama perjalanan sailing trip 4 hari 3 malam ini. Bola emas raksasa terlihat bergulir di langit sebelah barat, dengan background siluet pulau-pulau kecil, dan foreground kapal-kapal yang lalu lalang di area pelabuhan Labuan Bajo. Sinar keemasannya jatuh di atas permukaan air laut, menimbulkan bayangan tangga emas yang sesekali bergoyang terkena gelombang kapal yang lewat.

 

IMG_6072
pemandangan sore di sekitar Pelabuhan Labuan Bajo

 

IMG_6075
sore itu pelabuhan Labuan Bajo cukup ramai

 

EVY_1795 2
perfect banget senja itu

 

EVY_1808 2
the best sunset!

 

Langit senja begitu indah, awan abu-abu terlihat berarak di langit jingga. Pelabuhan Labuan Bajo terlihat sedikit ramai di senja itu. Dan ketika kapal Halma Jaya telah benar-benar merapat, kami pun turun dari kapal. Sebelum berpisah dengan teman-teman, karena sailing trip telah berakhir, malam ini kami akan makan bersama di kawasan Wisata Kuliner Kampung Ujung (udah kebayang nikmatnya ber-seafood ria nih).

Karena kapal yang saya naiki tidak bisa bersandar persis di tepi dermaga karena terhalang kapal yang sudah lebih dulu tiba, akhirnya kami harus melewati kapal tersebut untuk mencapai dermaga. Melompat dari kapal Halma Jaya ke kapal lainnya, barulah kami bisa menjejakkan kaki di dermaga Labuan Bajo.

 

IMG_6081
suasana malam di Pelabuhan Labuan bajo

 

Selanjutnya, mari kita makan……

Ketika berjalan menuju kawasan wisata kuliner, saya dihampiri oleh seorang bapak, penduduk asli Labuan Bajo yang menawarkan kain tenunnya. Ups! Waduh…. bisa kalap nih :D

Melihat beberapa helai kain tenun yang dipegang oleh si bapak, saya mulai menanyakan berapa harganya? Dan entahlah, mungkin itu keberuntungan saya, setelah memilih kain tenun, saya mendapatkan harga 300 ribu untuk 2 helai kain tenun. Alhamdulillah…… kesampaian juga keinginan untuk membelikan kain tenun tradisional untuk ibu di rumah.

Karena saya tidak membawa tas, dan si bapak juga tidak memberikan plastik, akhirnya 2 helai kain tenun itu saya pegang saja. 2 helai kain tenun tradisional, bernuansa merah dan biru tua, ah…. seperti menemukan harta karun :D

Dan sepanjang jalan menuju kawasan kuliner saya masih menemukan beberapa bapak yang juga menawarkan kain tenun serupa. Kalau saja tidak ingat bahwa ransel yang dibawa sudah gendut, mungkin saya akan tergoda untuk membeli lagi :D #duh #tutupmatarapetrapet

 

IMG_6078
Kawasan Wisata Kuliner Kampung Ujung

 

Akhirnya kami sampai di salah satu warung tenda yang menyediakan menu seafood. Langsung deh, pesen ikan, udang, cumi, tumis kangkung dan tak lupa nasi putih hangat. Hmm……. Yummy………

 

IMG_6080
ini bapak yang punya warung seafood tempat kami berpesta :D

 

Ga pake lama, semua menu yang tersaji di atas meja di depan kami, amblas tak bersisa. Yang ada sekarang tinggal elus-elus perut yang kenyang #happytummy

Sekarang, kami harus kembali ke kapal untuk unloading barang bawaan, karena malam ini kami akan menginap di hotel yang telah dipesan masing-masing. Saya kebetulan sudah melakukan pemesanan kamar di Exotic Komodo Hotel, yang menurut informasi lokasinya sangat dekat dengan bandara. Hal ini menjadi pertimbangan saya karena besok pagi saya akan kembali ke Jakarta dengan penerbangan pagi. Dan sebelum sampai di pelabuhan, saya telah menelepon pihak hotel untuk menjemput saya di sana.

Belum juga kaki saya melewati gerbang pelabuhan, tiba-tiba handphone saya bergetar, sebuah panggilan dari nomor yang tidak saya kenal. Who is this? Dan ketika saya menekan tombol hijau di layar telepon, ternyata itu adalah driver dari pihak hotel. Wah… cepat sekali ya…

Tanpa menunggu lama, setelah mengambil ransel dari kapal, akhirnya saya, Ciwi, Windy, Nadine dan Irma harus say goodbye and see you again ke teman-teman yang lain. See you again teman-teman…. kami duluan ya…..

Perjalanan menuju hotel sangat saya nikmati. Melihat deretan pertokoan di sepanjang jalanan di areal pelabuhan, berganti dengan kantor-kantor pemerintahan dan beberapa rumah penduduk, melewati aspal hitam yang bergelombang sesuai dengan kontur tanah di sana yang cenderung merupakan perbukitan, akhirnya mobil pun berbelok ke kanan dan menyeberangi jalanan utama yang kami lewati. Sebelum berbelok, bapak sopirnya sempat bilang “Di sebelah kiri itu bandaranya mbak”. Sekilas saya sempat melihat ke arah kiri, dan terlihatlah bangunan bandara Labuan Bajo yang masih terlihat sangat baru itu. Yeay…. Hotelnya benar-benar persis di seberang bandara :D

Setelah mengurus administrasi kamar, saya, Windy dan Ciwi akhirnya tiba di depan pintu (lupa kemarin itu di kamar nomor berapa? Kalau ga salah B4 deh :D). Senangnya….. membayangkan malam ini bakal mandi, keramas dengan air tawar berlimpah….. #mataberbinarbinar

 

IMG_6084
dan akhirnya…… kasuuuuuuuuurrrrrr…….

 

IMG_6087
furniture kamarnya minimalis, tapi cakep

 

Kamar yang kami tempati berkapasitas 3 orang dengan 1 bed double dan 1 bed single. Kamarnya bersih, cukup luas. Dan yang menyenangkan adalah kamar mandinya, luas dan bersih. Oh iya, tempat tidurnya terkesan minimalis dengan rangka dari kayu dengan kasur berseprai putih plus sehelai kain tenun tradisional berwarna hitam bercorak aneka warna di ujung kasur sebagai pemanis.

 

IMG_6086
horeeeee…… air tawar….. keramaaaaasssss…..

 

IMG_6085
toiletnya bagus, bersih

 

Karena sudah 4 hari 3 malam tidak bertemu dengan air tawar, jadilah malam ini semua rebutan untuk mandi dan keramas. Dan saya memilih untuk giliran terakhir saja, supaya lebih puas mandinya. Saya menuju ke lobi untuk mengakses wifi, karena 3 hari terakhir provider yang saya gunakan tidak ada sinyalnya :D

Jadilah malam itu saya nongkrong di lobi untuk sekedar mengecek email dan sosmed, kali-kali aja ada yang penting :D

Sekitar 1 jam kemudian, saya kembali ke kamar dan menemukan Ciwi dan Windy dengan kepala masing-masing berbalut handuk. Duh, mereka udah mandi dan keramas, senangnya…. Saya bergegas ke kamar mandi, dan begitu air mengucur dari shower, mengguyur kepala, rasanya………….

Selesai mandi, saya memutuskan untuk langsung packing isi carrier supaya besok pagi tidak berburu-buru, mengingat penerbangan saya adalah jam 9 pagi. Dan setelah carrier rapi, saya memutuskan untuk langsung tidur, kasurnya seperti memanggil-manggil dengan manja. Masih sempat terdengar sayup-sayup Windy dan Ciwi ngobrol tentang chat di group sebelum akhirnya semua hening.

Saya terbangun ketika alarm berbunyi, sudah jam 5 pagi. Rasanya baru sebentar terlelapnya dengan tubuh lurus di atas kasur yang empuk, ternyata sudah pagi. Mumpung Windy dan Ciwi belum bangun, saya bergegas mandi dan siap-siap. Jam 7 pagi saya sudah duduk manis di restoran hotel untuk menikmati sepiring omelet sebagai menu sarapan. Hmm….. menikmati matahari pagi, udara segar, suasana yang cukup sepi sambil menyeruput air putih dan sepiring omelet, bahagia………

 

IMG_6128
pemandangan bandara dari depan hotel

 

IMG_6135
nah, itu Hotel Exotic Komodo dilihat dari bandara

 

Karena penerbangan saya lebih dulu daripada flight yang digunakan oleh Ciwi dan Windy, saya pun meninggalkan kamar lebih dulu dari mereka. Dari hotel, saya hanya harus menyeberangi jalan raya untuk mencapai bandara Komodo. Bangunan bandara ini masih baru, bersih dan rapi. Pemeriksaan penumpang pun lebih ketat dengan standar internasional. Sewaktu akan melewati detektor logam, petugasnya dengan sopan meminta penumpang untuk menempatkan barang-barang seperti handphone, jam tangan, kunci, ikat pinggang dan lain-lainnya ke dalam sebuah tempat plastik agar tidak memicu alarm dari alat detektor tersebut. Suasana bandaranya cukup ramai.

 

IMG_6131
bandaranya baru, bersih, rapi, teratur

 

IMG_6133
tuh, masih baru banget bangunannya, masih bersih abiiiiiiiisssss……

 

IMG_6130
menyenangkan itu adalah……. melihat bocah-bocah itu bermain dengan wajah penuh senyuman

 

Selesai check-in, saya menuju ruang tunggu di lantai 2. Dan sebelum masuk ke ruang tunggu, mata saya melihat sebuah counter mini yang menjual aneka kain tenun dan suvenir khas dari NTT. Mata saya tergoda melihat kain tenun aneka warna, tapi mengingat carrier sudah gendut, akhirnya saya hanya membeli kopi khas NTT sebagai oleh-oleh. Ibu yang menjaga counter ini sangat ramah. Selama melihat-lihat kain tenun, beliau dengan sabar menjelaskan motif-motif, warna dan penggunaan dari kain-kain tenun tersebut. Dan ketika terdengar panggilan bagi penumpang yang akan flight ke Jakarta, saya segera masuk ke ruang tunggu dan langsung menuju pintu untuk boarding.

 

IMG_6142
nemu counter ini di depan ruang tunggu bandara, rasanya…………… :D

 

IMG_6143
kain tenunnya bikin kalap

 

IMG_6140
nah, itu ibu yang punya toko, ntar… cari kartu namanya dulu…lupa :D

 

IMG_6136
ruang tunggu bandara Komodo ini juga bersih banget

 

Dari ruang tunggu saya berjalan menuju lorong kaca menuju landasan bandara, di mana sebuah pesawat ATR telah siap diberangkatkan. Karena Labuan Bajo merupakan bandara kecil, amka pesawat yang bisa mendarat di sini adalah pesawat berjenis ATR atau pesawat berbaling-baling. Kalau biasanya saat di pesawat posisi seat berada lebih tinggi dari sayap pesawat, kali ini posisi sayap berada di atas seat. Dan seperti biasa, saya mendapatkan seat persis di samping jendela. Yeay…. Saya siap menikmati indahnya alam Indonesia Timur dari udara!

 

IMG_6144
Bandar udara Komodo – Labuan Bajo

 

IMG_6145
dan di sepanjang lorong itu, karpetnya juga bersih…. tiap hari disedot pake vacuum cleaner kayaknya :D

 

IMG_6146
itu pesawat ATR yang akan saya naiki

 

IMG_6147
ga pake garbarata, ga pake bus, jalan kaki menujuu pesawat ditemani sinar matahari yang aduhai….

 

Dari Labuan Bajo, pesawat yang saya naiki akan transit sebentar di Kota Ende. Let’s fly…….

 

IMG_6148
bismillah…… let’s fly….

 

Melihat alam Indonesia bagian Timur dari udara merupakan pengalaman pertama bagi saya. Menyaksikan daratan berbukit-bukit bagaikan lukisan, dengan kelompok-kelompok pemukiman masyarakat yang tersebar, sungguh indah. Bukit-bukit berwarna coklat bercampur hijau yang saling sambung-menyambung membuat mata saya tidak berhenti melihatnya. Awan putih terlihat berarak rendah, seolah-olah menyentuh perbukitan itu. Nun jauh di sebelah kanan saya, terlihat sebuah gunung dengan rangkaian awan putih di sekitarnya. Mendekati Kota Ende, mata saya disuguhi pemandangan gradasi air laut dan buih putih gelombang, pemukiman penduduk, kebun pisang, dan perbukitan.

 

IMG_6149
pemandangan seperti ini yang bisa dilihat selama perjalanan Labuan Bajo – Ende

 

IMG_6155
pemandangan dari jendela pesawat ATR Labuan Bajo – Ende

 

IMG_6152
setelah sekian lama ga pernah naik pesawat berbaling-baling, akhirnya…

 

IMG_6158
perbukitan, pemukiman, awan, langit…

 

Di Kota Ende, pesawat transit sekitar 30 menit untuk menurun/naikkan penumpang yang akan menuju ke Kupang. Sekilas dari jendela pesawat saya melihat bangunan bandara Ende, sebuah bangunan 1 lantai, beratap kuning. Setelah penumpang yang akan menuju Kupang naik ke pesawat, penerbangan pun dilanjutkan. Kali ini saya akan transit kembali di Kota Kupang, ibukota propinsi Nusa Tenggara Timur.

 

IMG_6165
mendekati Kota Ende, pemandangannya makin eksotis

 

IMG_6166
terbang rendah di atas lautan, dengan pemandangan seperti ini, rasanya…..

 

IMG_6167
pemukiman penduduk di sekitar bandara di Kota Ende

 

IMG_6168
hello Ende……

 

IMG_6170
transit sebentar untuk kemudian terbang lagi menuju Kupang

 

Penerbangan Ende – Kupang ditempuh selama kurang lebih 50 menit, sama dengan waktu tempuh Labuan Bajo – Ende. Di Kupang saya akan ganti pesawat yang lebih besar. Sepanjang penerbangan Ende – Kupang, kembali mata saya disuguhi pemandanganan indahnya alam Indonesia Timur. Gradasi hijau toska air laut, dan sebaran pemukiman warga. Saya transit di sini kurang lebih 1 jam 55 menit, waktu yang cukup panjang untuk melihat sekitar bandara dan masyarakat di sana. Namun karena ternyata matahari di Kupang luar biasa panasnya, niat saya untuk melihat ke luar bandara akhirnya saya batalkan. Dan saya memilih untuk duduk di ruang tunggu saja sambil menyelesaikan “Titik Nol” yang menemani penerbangan dan perjalanan saya kali ini.

 

IMG_6171
travelmate kali ini :)

 

IMG_6173
pemandangannya ga kalah cantik

 

IMG_6174
karena masih menggunakan pesawat ATR, jadi puas melihat pemandangan indah Indonesia bagian Timur ini

 

IMG_6176
cakep…….

 

IMG_6178
makin ga sabar untuk explore bagian Timur Indonesia

 

IMG_6180
hore…….. hampir mendarat di Kupang….

 

Pukul 13.35 wit, pesawat boeing yang saya naiki meninggalkan landasan pacu Bandara Kupang. Bye-bye Kupang…. Semoga next time saya akan berhasil menjelajahi indahnya alam di sana.

 

IMG_6182
menemukan pesawat lama di pinggir bandara Kupang

 

IMG_6183
Halo Kupang…… finally I’m here….

 

IMG_6184
ngadem di ruang tunggu aja, panasnya ga nahan :D

 

IMG_6192
kali ini ganti pesawat yang lebih gede, karena penerbangan bakal lebih lama dan jarak tempuh lebih panjang

 

IMG_6193
see you, Kupang…. wait for my next trip…

 

Dari Kupang, burung besi putih berlogo biru ini akan terbang menuju Denpasar sebelum destinasi akhirnya di Jakarta. Penerbangan saya kali ini betul-betul seharian, mulai dari Labuan Bajo, Ende, Kupang, Denpasar dan terakhir Jakarta. Penerbangan Kupang – Denpasar memakan waktu sekitar 2 jam. Di Denpasar pesawat transit sekitar 30 menit sebelum melanjutkan penerbangan menuju Jakarta.

 

IMG_6196
singgah sebentar di Denpasar, ngintip dari balik kaca jendela aja :D

 

IMG_6198
penerbangan kali ini, kenyaaaaaaaaannnnnggggg….. hihihihihi…..

 

IMG_6199
see you Bali,numpang transit aja ya….

 

IMG_6200
masih bisa melihat daratan Pulau Bali, sebelum akhirnya merem karena perjalanan panjang ini

 

Dan akhirnya, setelah penerbangan yang panjang ini, pukul 17.00 wib saya pun tiba di bandara Soekarno Hatta, finally.

Hello Jakarta…… see you again!

Selesai sudah perjalanan panjang trip kali ini, 4 hari 3 malam menjelajahi lautan dan pulau-pulau cantik nan eksotis di Indonesia Timur, dilanjutkan dengan penerbangan panjang dari timur menuju barat.

Terima kasih untuk semua teman-teman seperjalanan, seperkapalan, dan seperbaperan :p

Trip kali ini sungguh menyenangkan dan TOP BGT!

Ga sabar untuk ngetrip bareng kalian lagi.

 

DCIM101GOPROGOPR1196.
hallo…… kapan kita seru-seruan lagi???

 

DSC_5030
4 hari 3 malam ternyata cukup membuktikan keseruan kita semua, termasuk kapten dan mas-mas ABK…..

 

Note.
Thanks to mas Har, Imel, Wuki Traveler yang sudah memperbolehkan foto-foto serunya di-share di sini.

Kanawa, Serasa Berlibur di Pulau Pribadi

 

EVY_1780 2

 

Perjalanan panjang berlayar selama 4 hari 3 malam ini sudah mendekati titik akhir. Setelah siang tadi saya akhirnya bisa melihat sendiri wujud dari Kadal raksasa a.k.a Komodo, kali ini Kapal Halma Jaya akan membawa saya ke sebuah pulau kecil, sepi tapi indah. Iya, saya akan menuju Pulau Kanawa.

Pulau Kanawa merupakan sebuah pulau kecil yang terletak di daerah Flores, Nusa Tenggara Timur. Pulau ini luasnya sekitar 35 hektar. Pulau Kanawa termasuk pulau yang letaknya paling dekat dari Labuan Bajo, yaitu sekitar 15 kilometer atau sekitar 50 menit perjalanan menggunakan perahu bermesin atau speed boat. Sebagai informasi, untuk mencapai Pulau Kanawa kita bisa menyewa kapal motor dari Labuan Bajo seharga kurang lebih Rp 250.000 untuk sekali jalan, atau sekitar Rp 60.000 per orangnya. Selain itu terdapat pula shuttle boat gratis dari Labuan Bajo menuju Pulau Kanawa yang disediakan khusus oleh resort yang terdapat di sana bagi wisatawan yang akan menginap di resort tersebut. Shuttle boat ini akan berangkat dari Labuan Bajo sekitar pukul 12 siang dan kembali ke Labuan Bajo sekitar jam 8 malam setiap harinya.

 

EVY_1781 2
Welcome to Kanawa

 

EVY_1757
ini jembatan kayu yang menghubungkan dermaga di Pulau Kanawa

 

Saya tiba di Pulau Kanawa setelah sekitar 2.5 jam berlayar dari Pulau Rinca. Pulau Kanawa ditandai dengan sebuah dermaga kayu yang menjorok ke tengah laut, sehingga kapal kami bisa langsung menepi di pinggir dermaga. Ketika saya tiba di Pulau Kanawa, awan cukup tebal bergayut di langit, sehingga sinar matahari cukup teduh (walau sedikit was-was, semoga ga hujan). Sebelum mencapai dermaga, sekitar beberapa meter sebelum pantai, beberapa orang teman memutuskan untuk langsung terjun dan berenang menuju pantai. Sementara saya, yang memang tidak berniat untuk berbasah-basah lagi, memilih duduk manis di kapal sampai kapal merapat sempurna di dermaga.

Sedikit iri melihat mbak Jazz, Arlet, Jyo, Seto, dan yang lain-lain terjun dan berenang menuju pantai. Rasanya pengen ikut nyebur, tapi…… males basah-basahan lagi, dan niatnya di Pulau Kanawa ini saya hanya ingin memotret. Ok, baiklah…. Saya akan menunggu kapal merapat di dermaga saja.

 

EVY_1782 2
let’s step on it!

 

Dan ketika kapal telah merapat di dermaga kayu itu, saya pun melangkahkan kaki menyusuri dermaga dan jembatan kayu menuju pantai. Pantai di Pulau Kanawa sangat halus, putih, memancing rasa ingin berguling-guling di atasnya. Saya menuju sebuah gazeebo kecil di sisi kanan pantai, bersama dengan teman-teman. Sebagian teman-teman langsung bertukar costume, menyambar fin dan google dan langsung nyebur untuk ber-snorkling ria. Sementara saya lebih memilih untuk leyeh-leyeh sejenak sambil menikmati udara pantai Pulau Kanawa.

 

EVY_1753
4 hari di laut, begitu ketemu daratan langsung deh main bola

 

EVY_1754
lha? malah lari dikejar bola :p

 

EVY_1762
menang siapa???

 

Sebagian teman-teman pria memutuskan untuk bermain bola melawan mas-mas ABK. Seru, melihat mereka berlarian di pasir putih untuk mengejar bola. Debu-debu halus pasir pun beterbangan ketika kaki-kaki mereka saling berkejaran. Dan ketika debu pasir semakin banyak, beberapa dari mereka memutuskan untuk bertelanjang dada dan menggunakan kaos itu sebagai penutup hidung dan mulut. Sementara mas-mas ABK-nya stay cool, tetap berpakaian lengkap, bahkan ada yang bercelana panjang :D

 

EVY_1752
pemandangan dermaga kayu dari gazeebo tempat saya leyeh-leyeh

 

EVY_1756 2
jembatan kayunya cukup panjang untuk sampai ke dermaga

 

Sambil menunggu teman-teman yang asyik snorkling dan bermain bola, saya melangkahkan kaki menuju dermaga. Kebetulan sepi, sehingga saya bebas untuk memotret. Dermaga kayu yang ada di Pulau Kanawa cukup panjang, mungkin lebih dari 20 meter, menjorok ke tengah laut. Di ujung dermaga terdapat sebuah gazeebo kecil yang menjadi tempat beristirahat bagi awak kapal yang singgah di Pulau Kanawa.

 

EVY_1760
sambil main pasir, sempetin dulu motret jembatan kayunya dari sisi kanan pulau

 

Apabila kita berdiri di ujung dermaga yang menjorok ke laut, dan melihat ke arah pulau, akan terlihat sebuah tulisan “Welcome to Kanawa”. Di kiri dan kanan tulisan tersebut terdapat 2 bangunan yang merupakan café dan bangunan office dari pengelola resort yang terdapat di Pulau Kanawa, yaitu Kanawa Beach Bungalow. Di belakang bangunan tersebut terdapat 2 bukit kecil, coklat, kering, gundul, walaupun masih terlihat beberapa gerombolan perdu mungil berwarna hijau yang tersebar di beberapa area. Bukit yang berada di sebelah kiri terlihat memanjang hingga ke sisi kiri Pulau Kanawa.

 

EVY_1761
ini cafe dengan bentuk seperti kapal

 

Di ujung jembatan kayu yang berakhir di halusnya pasir putih di pantai, di sisi kirinya terlihat sebuah bangunan berbentuk perahu dari kayu dengan beratapkan ijuk dengan beberapa bangku panjang berwarna putih. Bangunan ini kosong, mungkin diperuntukan sebagai café terbuka dilihat dari penataannya.

 

EVY_1778 2
beberapa kali menemukan ikan biru ini, tapi masih belum ketemu apa namanya?

 

EVY_1763
hai Nemo….. how are you?

 

EVY_1765
hai… hai… itu banyak”Patrick” :D

 

Air laut di sekitar dermaga sangat jernih, sehingga hanya dengan berdiri di atas dermaga saja kita bisa melihat aneka macam ikan, bintang laut, ganggang, karang, bulu babi dan lain-lain yang terdapat di dasar laut. Ketika saya sedang memperhatikan ikan-ikan yang ada di dasar laut, tiba-tiba mata saya menangkap sesosok ikan kecil berwarna orange, putih dan hitam. Hey….. itu ada nemo! Terlihat beberapa ekor nemo sedang berenang cantik di antara karang dan tumbuhan laut yang ada. Selain nemo saya juga melihat bintang laut, ikan-ikan berwarna biru stabilo, dan bulu babi.

 

EVY_1769
jernih banget airnya, seperti kaca

 

EVY_1770
rasanya pengen dibawa pulang itu ikan-ikannya

 

EVY_1768
ada bulu babi juga lho di sana

 

Puas motret di dermaga dan melihat aneka binatang laut yang ada di sekitarnya, saya kembali ke gazeebo. Sebentar lagi kami harus kembali ke kapal untuk meneruskan perjalanan menuju destinasi terakhir dari sailing trip ini.

Dan akhirnya kami pun harus meninggalkan Pulau Kanawa, melanjutkan perjalanan menuju Labuan Bajo.

Bye…. Bye… Kanawa… see you again someday, I will!

 

EVY_1759
www.jendelakecildunia.com udah sampe di Kanawa lho…. kalian kapan???

 

 

 

Pulau Rinca, Menjenguk Kadal Raksasa

EVY_1708

 

Setelah kemarin puas ber-sunset ria, disambung milky way dan diakhiri dengan sunrise bercampur kabut nan sendu di Pulau Padar, saya dan teman-teman kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini perjalanan kami mengarah ke Pulau Rinca, salah satu pulau yang ada di kawasan Taman Nasional Komodo bersama Pulau Padar, Pulau Komodo dan Gili Motang. Pulau Rinca termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur dengan luas 19 hektar (sumber www.wikipedia.com).

 

komodorincamap
peta Pulau Komodo dan Pulau Rinca (sumber www.google.com)

 

Komodo yang ada di Pulau Rinca ini berjumlah sekitar 2.874 ekor yang hidup secara solitaire (tidak berkelompok). Selain Komodo yang menjadi hewan mayoritas, di pulau ini juga terdapat Rusa, Kuda, Kerbau, Burung Maleo dan Monyet. Walaupun Pulau Rinca ini belum setenar Pulau Komodo, tapi tidak sedikit turis, baik domestik maupun mancanegara yang memilih datang ke Pulau Rinca ini. Hal itu disebabkan karena jaraknya yang lebih dekat dari Labuan Bajo, juga karena jumlah Komodo yang ada di pulau ini lebih banyak dan lebih gampang ditemui daripada di pulau Komodo.

Sebelum sampai ke Pulau Rinca, kita belajar sebentar tentang Komodo yuk!

Komodo (bahasa latinnya Varanus Komodoensis) merupakan spesies Kadal terbesar yang ditemukan di pulau Rinca, Komodo, Padar, Flores dan Gili Motang. Panjang tubuh dari Komodo bisa mencapai 3 meter dengan berat sekitar 70 kilogram (hiiii….. gede banget yak :D). Komodo ini hanya kawin 1 kali dalam setahun, sepanjang Juni – Agustus. Usia produktif Komodo untuk bereproduksi adalah 7 – 8 tahun.

Komodo jantan biasanya mengikuti Komodo betina yang diincarnya. Dan Komodo jantan akan saling berkompetisi untuk mendapatkan betinanya.

Komodo betina akan bertelur sekitar 15-30 butir. Telur itu kemudian disimpan di dalam “kandang” yang berupa sebuah lubang vertikal dan horisontal di bawah permukaan tanah sepanjang 2 meter. Telur akan diletakkan pada bulan Agustus – September.  Dan menetas sekitar bulan April setiap tahunnya, di saat serangga sedang pada puncak populasinya. Komodo betina kemudian akan menjaga sarangnya sampai musim penghujan datang, di mana hujan akan memadatkan tanah di sekitar sarangnya sehingga jejak telur Komodo tidak tercium oleh predator pemangsa. Komodo betina juga akan membuat beberapa sarang palsu di sekitar sarang aslinya untuk mengelabui predator yang akan memangsa telur-telurnya. Telur Komodo akan menetas dalam waktu 8-9 bulan. Penetasan telur Komodo ini tergantung dengan suhu di dalam tanah. Dari keseluruhan jumlah telur yang ada, hanya sekitar 20% yang akan berhasil menetas.

Setelah menetas, anak Komodo biasanya hidup di atas pohon untuk menghindari predator yang akan memangsanya. Selama berada di atas pohon, anak Komodo tumbuh dan berkembang dengan memakan Tokek, Tikus, burung, serangga dan lain-lain.

Nah, selesai belajar tentang Komodo-nya, sekarang kita lihat apa yang akan kami temukan di Pulau Rinca?

 

EVY_1687
ini dermaga kayu yang menjadi pintu masuk ke Pulau Rinca

 

Kapal Halma Jaya yang saya dan teman-teman naiki sampai di depan sebuah dermaga kayu kecil di kawasan Loh Buaya. Di ujung jembatan kayu saya melihat sebuah papan peringatan yang bertuliskan “Be careful, Crocodile Area” lengkap dengan gambar buaya di sudutnya. Hiiiiiiiii……. Serem ya….. serius nih banyak buaya di sini? #terusmelipirgaberanidekatdekatair :D

 

EVY_1688
Be Careful Crocodile Area!!

 

EVY_1691
dari dermaga bisa melihat ikan-ikan yang ada di dasar laut

 

Dermaga kayu kecil itu terhubung dengan sebuah jembatan kayu kecil berakhir pada sebuah pintu gerbang dengan tulisan “LOH BUAYA”. Di depan gerbang telah menunggu beberapa bapak ranger yang akan mengantarkan kami untuk melihat spesies terbesar dari Kadal. Iya, kami akan melihat Komodo. Walaupun sedikit takut, karena berdasarkan informasi yang pernah saya baca, Komodo merupakan hewan buas dengan daya penciuman yang sangat tajam.

 

EVY_1692
peraturan yang berlaku di Taman Nasional Komodo, Pulau Rinca

 

Saya dan teman-teman sempat menunggu sejenak sebelum kemudian kami dengan dikawal sekitar 5 orang ranger mulai memasuki kawasan Taman Nasional Komodo yang ada di Pulau Rinca ini. Dari gerbang kami bergerak ke arah kanan mengikuti jalanan tanah yang merupakan akses keluar masuk satu-satunya ini. Jalanan tanah merah ini dibuat lebih tinggi dari kawasan di sekelilingnya, dan dibatasi dengan beton di kanan kirinya sebagai pembatas. Saya dan teman-teman terus mengikuti para ranger yang akan mengantarkan kami untuk melihat Komodo. Di depan kami sekarang terpampang sebuah gerbang selamat datang “Selamat Datang di Taman Nasional Komodo”. Gerbang ini terbuat dari beton cor dengan patung Komodo di kiri dan kanannya.

 

DSC_4848
hello….. we are here….. (courtesy by mas Har)

 

IMG_8789
say…… haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaiiiiiii……… (courtesy by mas Har)

 

EVY_1695
Selamat Datang di Taman Nasional Komodo

 

EVY_1693
mari kita menjenguk Komodo

 

EVY_1694
papan promosi dalam rangka Sail Komodo di tahun 2013 yang lalu

 

Melewati gerbang selamat datang, mata saya disuguhi hamparan tanah kosong yang luas. Dengan latar belakang perbukitan yang gundul, coklat kering meranggas, ditambah matahari yang bersinar terik. Beberapa pohon kecil terlihat masih menyisakan daun hijaunya beberapa. Saya terus mengikuti rombongan hingga akhirnya kami tiba di kawasan yang ditumbuhi beberapa pohon rindang yang cukup besar. Dan di bawah pohon itu saya akhirnya melihat seekor Komodo besar yang sedang berteduh. Oh iya, Komodo ini hewan berdarah dingin sehingga di saat siang hari mereka lebih memilih untuk tidur dan beristirahat di bawah pohon atau tempat teduh lainnya (mungkin Komodonya takut hitam ya :p).

 

EVY_1697
tanah lapang, kering, dan matahari yang terik, kombinasi yang perfect ya untuk menggosongkan kulit :D

 

EVY_1699
itu dia! Varanus Komodoensis

 

EVY_1700
walaupun Rusa adalah makanannya, tapi siang itu Komodonya cuek aja walau ada Rusa di dekatnya

 

EVY_1704
Rusa, juga merupakan hewan yang cukup banyak di TN Komodo ini

 

Di bawah pohon itu saya juga melihat beberapa ekor Rusa yang sedang leyeh-leyeh. Dan walaupun Rusa merupakan makanan Komodo, tapi Komodo yang saya lihat sepertinya anteng-anteng saja dengan keberadaan Rusa di sekitarnya (mungkin udah kenyang ya…).

 

EVY_1702
di bagian depan kawasan TN Komodo, pemandangan seperti ini yang akan ditemui

 

EVY_1703
musim kemarau panjang membuat pohon-pohon yang ada menjadi kering dan meranggas

 

EVY_1707
itu adalah rumah kayu yang menjadi tempat tinggal ranger selama bertugas di TN Komodo

 

Saya kemudian melihat sebuah rumah kayu dengan ukuran yang cukup panjang, yang merupakan tempat tinggal bagi para ranger selama bertugas di Pulau Rinca ini. Dan di sekitar rumah kayu itu terlihat beberapa ekor Komodo yang sedang berjalan mencari tempat berteduh. Asli deh, rasa penasaran, takut, serem, pengen foto jadi satu. Tapi sepertinya rasa penasaran saya kalah dengan rasa takut dan was-was. Walhasil saya hanya berani mengambil foto dari jauuuuuuuhhhhhh…… Dengan memaksimalkan jangkauan zoom dari lensa kamera, akhirnya saya berhasil mendapatkan beberapa foto dari para Komodo itu. Untuk selfie? Makasiiiiiiiiihhhhh….. serem liat cakarnya yang gede itu :p

 

EVY_1710
hai Komodo…. #dadahdadahdarijauh

 

EVY_1711
siapa yang ga serem coba? liat cakarnya yang tajam + badannya yang segede itu

 

Perjalanan kami masih berlanjut. Kali ini kami melewati deretan pohon-pohon yang meranggas karena kemarau yang panjang ini. Daun-daunnya berguguran memenuhi tanah di sekitarnya. Dahan-dahan pohon itu gundul. Di sana saya menjumpai seekor Komodo betina yang sedang berjaga di sekitar sarangnya. Hmm….. berarti ada telur yang sedang dijaganya, yang akan menetas sekitar bulan April nanti. Dan pastinya banyak sarang-sarang palsu juga di sekitar situ.

 

EVY_1714
pohon-pohon kering dengan hamparan dedaunan yang gugur menjadi pemandangan yang menarik di sepanjang TN Komodo

 

EVY_1715
jalannya harus mengikuti para ranger itu, karena mereka sudah sangat hapal dan menguasai TN Komodo

 

EVY_1716
itu adalah Komodo betina yang sedang menjaga sarangnya

 

EVY_1718
perjalanan dilanjutkan melewati hamparan daun yang gugur dan pohon-pohon yang mengering

 

Perjalanan terus berlanjut. Kali ini saya tiba di kaki sebuah bukit kecil dengan rumput-rumput kering di kanan kiri jalan setapak yang saya lalui. Pulau Rinca ini merupakan pulau dengan bukit-bukit kecil, yang sangat cantik apabila dilihat dari atas. Rombongan saya dan teman-teman mulai terbagi menjadi beberapa kelompok. Kaki ini mulai terasa berat untuk menaiki bukit yang kata mas-mas ranger-nya sih ga tinggi. Tapi tetap saja saya merasa kaki ini berat banget untuk terus mendaki. Tapi ketika mata melihat sekeliling, huuuuaaaaaaa…… cakep banget………

 

DSC_4902
ayo… semangat sampe puncak bukitnya!!! (courtesy by mas Har)

 

EVY_1719
ayo… biar ga terasa capek, jalannya sambil foto-foto ya….

 

EVY_1720
semangat!!!

 

EVY_1737
kita harus sampe ke sana!

 

EVY_1738
padang rumput (kering), perbukitan, beberapa pohon, ah… jadi kepikiran mau camping kan?

 

Gundukan-gundukan bukit, saling berbaris menyusun bentuk yang indah. Di lembahnya terlihat beberapa pohon rindang yang masih menyisakan daun hijaunya. Dengan warna coklat kering yang mendominasi, warna hijau dari pohon dan perdu itu bagaikan pemanis di sebuah lukisan. Dan ketika saya menoleh ke sebelah kiri, terlihat lah lautan nan luas berwarna biru nun jauh di sana. Ditambah langit biru cerah dengan beberapa gumpalan awan, saya hanya bisa menarik napas panjang. Hilang semua capek dan panas yang saya rasakan di sepanjang perjalanan. Semua terbayar dengan pemandangan dan “rasa” yang saya saksikan dari atas bukit ini.

 

EVY_1721
pemandangan dari atas bukit di Pulau Rinca

 

EVY_1722
lihat sekeliling, pemandangannya seperti ini semua…. cakeeeeeeppppp….

 

EVY_1736
lihat, di sana ada laut!

 

EVY_1734
akhirnya ada foto bareng juga ya Lis, Win, Ky… :p (makasih mas ranger yang udah motoin)

 

EVY_1730
serasa ga ingin pergi dari tempat ini

 

EVY_1729
kebayang ya kalau bukit ini menghijau, pasti indah banget

 

EVY_1728
langit ikut bikin perjalanan ini menyenangkan, cerah…..

 

Setelah melintasi bukit dengan pemandangan yang spektakuler itu, akhirnya saya dan teman-teman tiba kembali di depan bangunan kayu yang menjadi titik kumpul bagi wisatawan yang berkunjung ke Pulau Rinca ini. Dan yang saya cari adalah…… minuman dingin…….. #glek

 

EVY_1739
haus… haus… mana minuman dinginnya???

 

Sebotol minuman dingin habis tandas melewati tenggorokan saya. Segaaaaaaarrrr……

 

EVY_1740
ini bangunan kantor tempat penjualan tiket untuk berkeliling di TN Komodo yang ada di Pulau Rinca

 

Setelah beristirahat sejenak, akhirnya saya dan teman-teman harus meninggalkan Pulau Rinca ini. kami akan melanjutkan perjalanan menuju sebuah pulau kecil yang cantik lainnya, sebelum menuju Labuan Bajo yang menjadi titik akhir dari perjalanan Sailing Trip Komodo ini. Hiks…. sedih, perjalanan ini sudah hampir berakhir :(

 

EVY_1741
mari kita pulang…..

 

Melewati jalan setapak, gerbang selamat tinggal, akhirnya saya tiba di dermaga kayu kecil itu lagi. Dan…. dermaganya sekarang ramai sekali. Kapal-kapal berbaris rapi di ujung dermaga.

 

EVY_1749
waktu nunggu kapal, liat ini nih di dekat gerbang masuk

 

EVY_1744
waktu datang, dermaganya masih sepi, sekarang rame banget

 

EVY_1745
yang mana kapal kita?

 

Bye… bye… Komodo…. See you again Rinca….

 

IMG_6054
bukti nih kalau beneran udah sampe di TN Komodo, Pulau Rinca