Tag Archives: Maluku Utara

Year-End Trip #3 – Found Something Unique, Batu Angus

EVY_5227

Bekas aliran lahar dari letusan Gunung Gamalama membentuk sebuah area unik yang dikenal dengan nama Batu Angus. Terletak sekitar 10 km dari pusat Kota Ternate, di Kelurahan Kulaba, Kota Ternate. Batu Angus merupakan hamparan bekas aliran lahar letusan Gunung Gamalama yang membeku dan tampak seperti hangus terbakar. Hamparan batu-batu hitam dengan ukuran yang cukup besar ini membentang dari kaki Gunung Gamalama hingga ke tepi laut. Batuan yang telah membeku tersebut membentuk hamparan indah yang alami, berpadu dengan hijaunya Gunung Gamalama dan birunya lautan yang terhampar luas.

 

EVY_5226
Pulau Hiri terlihat jelas dari Batu Angus

 

EVY_5228
spot-spot di Batu Angus begitu fotogenik, cantik

 

IMG_9525
jalan setapak yang akan mengantarkan pengunjung menjelajahi seluruh area Batu Angus

Di area Batu Angus ini, terdapat beberapa gazeebo yang disediakan untuk pengunjung beristirahat sembari menikmati pemandangan alam Ternate. Sebuah jalan setapak dari beton terlihat membelah area Batu Angus, mulai dari area parkir hingga ke ujung. Beberapa tanaman hijau berbunga juga terlihat di sepanjang area Batu Angus. Luas area Batu Angus ini sekitar 10 ha.

 

IMG_9527
panasnya matahari siang bukan penghalang untuk menjelajahi area Batu Angus

 

EVY_5253
bahkan awan di atas Batu Angus pun membentuk formasi yang cantik

Konon cerita dari masyarakat, saat aliran lahar dari letusan Gunung Gamalama mengarah ke laut, Sultan Ternate menancapkan tongkatnya di tebing yang berbatasan langsung dengan laut, sehingga aliran lahar tersebut berhenti.

 

EVY_5246
buih putih pecah di antara bebatuan hitam di tebing

 

IMG_9532
bebatuan hitam tampak cantik bersanding dengan birunya lautan di perairan Ternate

 

EVY_5238
sejauh memandang, gradasi hijau biru tampak memanjakan mata

Apabila kita berdiri di pinggir tebingnya, maka akan terlihat gelombang laut yang pecah menghantam bebatuan hitam yang letaknya persis berbatasan langsung dengan laut. Buih putih mengembang setiap kali gelombang air laut menghamtam bebatuan hitam tesebut. Di kejauhan terlihat sebuah pulau, yang bernama Hiri.

 

EVY_5229
Pulau Hiri yang berpayung segumpal awan putih

 

IMG_9523
ada yang tahu ini pohon apa?

 

IMG_9529
Alamanda kuning ini banyak ditemui di area Batu Angus

Di area Batu Angus ini juga terdapat sebuah situs sejarah yang merupakan lokasi tewasnya seorang tentara Jepang yang sedang melakukan terjun payung di tahun 1945, di mana parasut yang dikenakannya ternyata tidak terbuka.

 

EVY_5249
Gunung Gamalama berselimut kabut siang itu

 

IMG_9530
perjalanan belum selesai, let’s go!

Year-End Trip #2 – Let Tolukko Fort Tell Their Story

EVY_5212

Perjalanan saya di bumi rempah masih terus berlanjut. Setelah melihat cerita kejayaan Kesultanan Ternate, saya melanjutkan perjalanan untuk mengintip sedikit cerita sejarah di kota ini. Kota yang memiliki banyak benteng peninggalan sejarah ini tentunya akan menyuguhkan cerita yang tak kalah menarik. Benteng Tolukko merupakan benteng yang pertama kali saya singgahi di Kota Ternate.

 

EVY_5215
taman di depan Benteng Tolukko yang tertata rapi

Berlokasi di Kelurahan Sangadji, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Propinsi Maluku Utara, Benteng Tolukko terlihat sangat terpelihara. Berada pada ketinggian 6,2 mdpl, benteng ini hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari Kesultanan Ternate, berada di dalam sebuah komplek dengan pagar besi berwarna hitam yang membatasinya dengan lingkungan luar, kondisi di sekeliling benteng ini sangat rapi. Bahkan terlalu rapi (menurut saya) untuk tampilan sebuah bangunan bersejarah yang sudah berumur ratusan tahun. Sebuah gerbang besar terbuat dari beton yang dicat kuning dan memiliki sedikit atap berwarna terracotta menyambut saya. Sebaris kalimat “Ino Wosa Lafo Waro Masejarahnya” terpampang di bagian atas gerbang. Di bawah kalimat tersebut tertulis sebaris kalimat berbahasa Indonesia “Mari Masuk Supaya Kita Tahu Sejarahnya”.

 

EVY_5213
sekilas sejarah Benteng Tolukko

 

EVY_5216
setelah dipugar kembali, Benteng Tolukko diresmikan oleh Prof. DR. Ing. Wardiman Djojonegoro, selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu

Memasuki gerbang benteng, terlihat taman yang mengelilingi benteng tertata rapi. Pot-pot bunga besar terbuat dari batu tampak menyusun formasi di sepanjang jalan setapak yang terbuat dari beton, yang mengarah menuju bangunan benteng. Berbagai macam tanaman hijau dan bunga terlihat menghiasi halaman benteng. Benteng Tolukko dibangun di atas pondasi batuan beku, terbentuk dari 3 buah bastion, ruang bawah tanah, halaman dalam, lorong, serta bangunan utama berbentuk segi empat. Konstruksi bangunannya sendiri terdiri dari campuran batu kali, batu karang, pecahan batu bata dan direkatkan menggunakan campuran pasir dan kapur.

 

IMG_9517
lorong dan tangga batu yang menjadi akses satu-satunya menuju bangunan dalam benteng

 

EVY_5221
bermilyar kaki telah menapaki lorong sempit ini, meninggalkan berbagai macam cerita

Benteng ini dibangun pada tahun 1540 oleh seorang Panglima Portugis bernama Francisco Serao, dan diberi nama Santo Lucas. Benteng ini awalnya difungsikan sebagai benteng pertahanan Portugis serta tempat penyimpanan rempah-rempah asli Ternate yang akan mereka perdagangkan. Letak benteng yang berada di atas bukit, dan sangat dekat dengan wilayah perairan Ternate membuatnya sangat strategis karena dapat secara langsung mengamati pergerakan yang terjadi di Kesultanan Ternate.

 

EVY_5217
pemandangan dari atas benteng

 

EVY_5218
gunung dan laut merupakan pemandangan yang bisa dilihat dari atas benteng

Kekuasaan Portugis berakhir di tahun 1577 karena lahirnya perlawanan rakyat Ternate di bawah pimpinan Sultan Baabullah. Sejak saat itu, Benteng Santo Lucas dikuasai oleh Kesultanan Ternate hingga datangnya Belanda di bumi rempah tersebut, merebut benteng dan mengganti namanya menjadi Benteng Hollandia. Pada tahun 1610 benteng tersebut direnovasi oleh Pieter Both dan menjadi salah satu tempat pertahanan Belanda di Ternate. Berdasarkan beberapa perjanjian kerjasama yang terjadi antara Kesultanan Ternate dan VOC, maka pada tahun 1661 Sultan Ternate yang bernama Madarsyah diberi ijin untuk menempati Benteng Hollandia bersama sekitar 160 orang personilnya.

 

EVY_5219
aktivitas masyarakat Ternate di perairan yan terlihat dari atas bangunan benteng

 

Nama Tolukko yang sampai saat ini melekat pada benteng itu sendiri masih menjadi cerita yang penuh tanda tanya. Satu kisah menceritakan bahwa nama Tolukko digunakan sejak salah satu Sultan Ternate yang bernama Kaicil Tolukko memerintah sekitah tahun 1692. Namun kisah lainnya menyebutkan bahwa nama Tolukko berasal dari penyebutan nama asli benteng itu, yaitu Benteng Santo Lucas. Masyarakat asli Ternate yang kesulitan melafalkan nama Santo Lucas akhirnya menyebut benteng tersebut sebagai Benteng Tolukko.

EVY_5214
Benteng Tolukko

Menurut cerita, ada sebuah lorong rahasia yang mengarah langsung ke wilayah pantai. Dahulu, saat pemerintahan Portugis dan Belanda, jalan rahasia tersebut difungsikan sebagai jalur melarikan diri apabila terjadi pemberontakan atau hal-hal lain yang tidak diinginkan. Namun pada tahun 1864, benteng ini dikosongkan oleh Residen P. van der Crab karena sebagian bangunannya telah mengalami kerusakan. Pada saat dilakukan pemugaran tersebut, bangunan benteng ditinggikan sekitar 70 cm. Oleh pemerintah Republik Indonesia, bengunan benteng ini kemudian dipugar dan di perbaiki pada tahun 1996 – 1997.

 

IMG_9518
pemandangan ke laut lepas dari atas Benteng Tolukko

Berada di dalam Benteng Tolukko membuat angan saya seolah memasuki mesin waktu. Menyusuri lorong batu kecil berukuran kurang lebih 1 meter, yang menjadi satu-satunya akses menuju bagian dalam benteng membuat saya seolah-olah mendengar cerita masa lalu. Lantai batu yang mulai berlumut seperti menunjukkan berjuta bahkan bermilyar kaki yang pernah menapakinya. Dari atas bangunan benteng, saya bisa melihat Pulau Halmahera, Maitara danTidore di kejauhan. Kokohnya bangunan Benteng Tolukko seolah bercerita, walaupun berbagai kisah kelam yang pernah dialami rakyat Ternate telah disaksikannya, namun Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil yang manis. “Tolukko, terima kasih untuk cerita sejarah yang telah kau berikan, perjuanganmu dahulu akan selalu kami ingat”.

Year-End Trip #1 – Ternate, Finally I Met You

EVY_5633

Roda pesawat yang saya tumpangi akhirnya menyentuh aspal hitam landasan pacu Bandara Sultan Baabullah. Penerbangan panjang sejak pukul 23.00 waktu Jakarta itu akhirnya selesai juga pukul 08.25 waktu Ternate. Huft…… perjalanan yang cukup panjang.

IMG_9493
let’s start the journey!

 

IMG_9495
Bandara Sultan Baabullah, Ternate – just landed

 

Keluar dari lambung pesawat, sinar matahari terasa menggigit di kulit, dan membuat saya harus memicingkan mata untuk melihat sekeliling. Sembari menunggu bagasi keluar, saya sempat memperhatikan ruang kedatangan di Bandara Sultan Baabullah ini. Bandara Sultan Baabullah ini tidak terlalu besar, 2 buah conveyor belt tampak bergerak perlahan, mengantarkan bagasi-bagasi bawaan penumpang dari beberapa penerbangan yang mendarat dalam waktu yang tidak terlalu jauh bedanya. Bagasi sudah di tangan, mari kita mulai perjalanan di bumi rempah ini.

IMG_0032
bandara dengan pemandangan laut dan gunung

Mengelilingi Ternate sebaiknya menggunakan kendaraan roda 4, karena mataharinya sangat terik. Namun, apabila ingin lebih santai mungkin bisa mencoba untuk menggunakan kendaraan roda 2 dengan bonus sengatan matahari yang lumayan mencubit di kulit.

First Stop – Sarapan

Penerbangan panjang dari Jakarta menuju Ternate cukup membuat saya dan teman-teman sepakat bahwa kami membutuhkan asupan energi sebelum memulai perjalanan di Ternate. Dan setelah berdiskusi dengan driver (abang Gani) yang akan mengantarkan kami berkeliling seharian di Ternate, akhirnya kami sepakat untuk mencoba menu khas masyarakat setempat, Nasi Kuning. Ternyata, di Ternate ini masyarakatnya biasa sarapan Nasi Kuning dengan lauk ikan atau telur rebus.

Mobil yang saya tumpangi bergerak perlahan menyusuri jalanan beraspal di Kota Ternate, dan berhenti di depan sebuah gang kecil yang bertuliskan RM Kamis. Saat kami tanyakan ke bang Gani, kenapa disebut RM Kamis, menurut bang Gani karena yang punya lahir di hari Kamis :D

 

IMG_9504
gang menuju RM Kamis, tempat sarapan kami yang pertama di Ternate

Saya dan teman-teman memasuki gang kecil yang berada di antara 2 tembok tinggi dari rumah penduduk setempat. Gang itu berujung pada sebuah rumah yang menyediakan menu sarapan berupa Nasi Kuning dan Lontong Sayur. Niat awal saya untuk mencoba Nasi Kuning akhirnya goyah, dan berganti menu Lontong Sayur.

 

IMG_9506
mau coba yang mana? ini?

 

IMG_9505
atau yang ini?

Tidak menunggu lama, sepiring Lontong Sayur dengan telur rebus dan sambal goreng kentang terhidang di depan saya. Teman-teman memilih untuk mencicipi Nasi Kuning dan telur rebus. Aroma kuah dari Lontong Sayur sukses membuat perut saya berbisik kecil, baiklah… mari kita coba.

Setelah isi piring ludes, perut pun sudah tenang, saya dan teman-teman kemudian melanjutkan perjalanan. Akan ke mana kah kami?

Second Stop – Kedaton Kesultanan Ternate

IMG_9512
Kedaton Kesultanan Ternate

Saya dan teman-teman tiba di Kedaton Kesultanan Ternate sekitar pukul 09.15, masih cukup pagi, dan yang jelas masih sepi, sehingga kami bisa mendengarkan cerita dari bapak penjaga dengan lebih nyaman. Melewati bangunan pendopo yang terbuka di halaman belakang, yang pertama kami temui adalah lambang Kesultanan Ternate yang berupa Burung Garuda berkepala 2 mencengkeram tulisan Limau Gapi. Menurut cerita, lambang Burung Garuda inilah yang nantinya akan menjadi cikal bakal lambang negara Republik Indonesia yang kita kenal saat ini, dengan berbagai perubahan dan penyesuaian.

EVY_5208
lambang Kesultanan Ternate

Dari bangunan pendopo, saya kemudian menaiki tangga untuk mencapai bangunan kedaton. Memasuki sebuah ruangan besar, terdapat sebuah meja panjang dengan 12 kursi yang terbuat dari kayu, tertata dengan rapi.selembar taplak meja putih menghiasi meja panjang tersebut. Terdapat beberapa lemari kayu besar, yang salah satunya berisikan berbagai plakat serta piring keramik dari berbagai negara. Porselen kuno berwarna krem menghiasi lantai di ruangan ini. Kusen dan daun pintunya yang berwarna kuning gading tampak serasi dengan tembok beton yang sewarna dengan porselen. Sehelai tirai bermotif tampak menghiasi setiap pintu tertutup yang menuju ke kamar. Saya melewati sebuah pintu yang terbuka, yang mengarah ke ruang depan.

 

EVY_5207
meja panjang dan 12 kursi kayu yang terdapat di ruang belakang Kesultanan Ternate

 

EVY_5182
lukisan Kedaton Kesultanan Ternate yang pertama

 

EVY_5205
(ki-ka) Sultan Jailolo, Sultan Ternate, Sultan Tidore, Sultan Bacan

 

EVY_5199
lampu gantung yang terdapat di langit-langit ruang utama Kedaton Kesultanan Ternate

Saya memasuki ruangan utama bangunan kedaton, sebuah ruangan besar dengan dindingnya yang berwarna krem dan porselen senada sebagai lantainya. Beberapa lemari pajang tampak menghiasi ruangan utama ini. Masing-masing lemari berisikan benda yang berbeda. Ada yang berisikan peralatan perang, senjata, pakaian yang pernah digunakan oleh Sultan terdahulu, peralatan yang terbuat dari keramik, dan masih banyak lagi. Foto-foto Sultan Ternate yang pernah bertahta pun tampak menghiasi ruangan ini. Di langit-langit ruangan terlihat sebuah lampu gantung besar terbuat dari logam. Tepat di bawah lampu gantung tersebut, terdapat sebuah meja yang ditutupi dengan kain putih yang di atasnya terdapat sebuah mangkok keramik putih besar, tempat air dari tanah, mangkok pembakaran aroma (sejenis dupa), serta 4 buah gelas kaca yang berisi air. Menurut bapak penjaga yang menemani saya berkeliling, air di meja itu akan diganti 3x dalam seminggu, yaitu di Hari Senin, Selasa dan Kamis.

 

EVY_5201
meja di tengah ruang depan yang terdapat mangkok berisi air di atasnya, yang diganti 3x dalam seminggu

 

EVY_5204
ruang utama dari Kedaton Kesultanan Ternate

 

EVY_5188
senjata di lemari pajang Kedaton Kesultanan Ternate

 

EVY_5190
perlengkapan perang – baju besi dan perisai

 

EVY_5196
koleksi senjata

Di sudut-sudut ruangan terdapat berbagai benda kuno yang mayoritas terbuat dari logam. Sebuah kamar berpintu kuning yang ditutupi sehelai tirai bermotif, yang disebut Kamar Puji, merupakan ruangan sakral yang di dalamnya terdapat mahkota Kesultanan Ternate yang konon memiliki rambut yang terus tumbuh hingga saat ini. tidak sembarang orang yang bisa masuk dan melihat isi dari Kamar Puji. Hanya orang-orang terpilih dan mendapatkan ijin dari Sultan yang bisa masuk ke kamar ini, dan unfortunately, sepertinya saya belum terpilih untuk bisa masuk ke kamar tersebut.

EVY_5192
Kamar Puji – tempat disimpannya mahkota Kesultanan Ternate

 

EVY_5193
mata uang Dirham yang digunakan pada masa kepemimpinan Sultan Haji Mudaffar Sah II, Sultan Ternate ke-48

 

EVY_5197
Kelapa Kembar – upeti Raja Sangir kepada Sultan Ternate di tahun 1750

 

EVY_5194
tempat ludah Sultan, biasanya diletakkan di kanan dan kiri singgasana Sultan

 

EVY_5198
lampu yang dulu digunakan sebagai alat penerangan di kesultanan, menggunakan minyak Kelapa

 

EVY_5203
plakat dari Belanda, yang dikirimkan untuk alm. Sultan Mudaffar Sjah

Dari ruangan utama tersebut, saya menuju bagian teras dari Kedaton Ternate. Di kejauhan terlihat laut luas membentang. Di halaman Kedaton, terlihat 3 buah tiang bendera yang berdiri pada sebuah pondasi bundar dan berundak. Di setiap tiang berkibar sebuah bendera, yang terdiri dari bendera Merah Putih, bendera Kesultanan Ternate dan bendera Kesultanan Islam tertua di Indonesia. Di seberang halaman kedaton, terdapat sebuah lapangan hijau membentang luas. Dari informasi yang saya dapatkan, di lapangan itu biasa diadakan keramaian untuk masyarakat Ternate.

 

EVY_5200
3 tiang bendera yang terdapat di halaman Kedaton Kesultanan Ternate

 

IMG_9513
bangunan museum yang terdapat di sisi kanan kompleks Kesultanan Ternate, hanya sayang saat saya ke sana bangunan ini tutup

Berdiri di ujung teras Kedaton Ternate, merasakan wangi laut yang samar tercium, Indonesia, I love you so much!

Tips untuk mengunjungi Kedaton Ternate:

  1. Gunakan pakaian yang sopan, usahakan tidak bercelana pendek untuk wanita;
  2. Datanglah di pagi hari, kedaton ini dibuka untuk umum mulai pukul 9 pagi.

Tidore #5 – Menemukan “Rumah” di Gurabunga

EVY_5433

Saya pecinta daerah dingin (tapi tidak menolak juga untuk berpanas-panas). Makanya, ketika berkesempatan untuk mengunjungi Tidore, saya tidak berpikir dua kali untuk memasukkan Desa Gurabunga menjadi salah satu tujuan yang wajib didatangi. Dan pilihan saya tidak salah!

IMG_9770
di sepanjang perjalanan, pemandangannya seadem ini

 

IMG_9739
Pala, primadona dari kepulauan Maluku

 

IMG_9754
Buah Pala itu seperti ini (biasanya hanya tahu yang sudah jadi manisan)

Sepanjang perjalanan menyusuri aspal hitam menuju desa yang terletak di lereng Gunung Marijang, atau yang lebih dikenal dengan nama Kie Matubu, pohon Pala dan Cengkeh begitu memanjakan mata. Kebetulan, saat saya mengunjungi desa ini, tanaman Pala mulai berbuah. Terpuaskanlah keinginan untuk melihat secara langsung tanaman Pala dan Cengkeh, keluarga rempah-rempah yang di jaman dahulu menjadi daya tarik bangsa asing untuk datang dan menguasai salah satu bagian dari Indonesia tercinta ini.

 

EVY_5447
Lapangan Gurua

 

EVY_5443
suasana desa Gurabunga sangat nyaman dan membuat betah

 

EVY_5444
awan terlihat begitu dekat…

 

EVY_5448
lapangannya hijau….. luas….. bikin ingin guling-guling di sana

Suasana sejuk mengiringi kendaraan yang membawa saya ke desa di ketinggian 800 mdpl ini. Semerbak aroma tanah dan rumput, lembab, namun sangat sarat kerinduan menelisik indra penciuman saya. Menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari pusat Kota Tidore, melewati jalanan aspal menanjak yang berliku-liku, akhirnya saya tiba di lapangan hijau yang luas, Gurua – lapangan hijau yang luas di Desa Gurabunga. Desa Gurabunga sendiri terletak di lereng Gunung Marijang (yang lebih dikenal dengan nama Kie Matubu) yang memiliki tinggi sekitar 1730 mdpl.

Turun dari mobil, saya disambut udara dingin yang menyegarkan. Love that!

 

20171224_154102
masjid dan musholla yang letaknya berdampingan, kaum wanita biasanya sholat di musholla, sementara pria di masjid (taken by mas @Har)

 

EVY_5442
di setiap rumah warganya, deretan bunga warna-warni tampak memenuhi halamannya

 

EVY_5445
desanya bersih, rapi, nyaman, and feels like a home

 

HAR_4912
salah satu rumah di Desa Gurabunga yang sedang dibangun

Lapangan hijau tadi sangat luas, diapit dengan perumahan penduduk dan sebuah masjid serta sebuah musholla yang letaknya berdampingan. Jalanan setapak dari beton tersedia di salah satu sisi lapangan. Melemparkan pandangan ke sekitar, yang terlihat adalah alam yang hijau, gunung Kie Matubu terlihat gagah menjulang tinggi dengan selimut awan di sekelilingnya serta rumah penduduk yang begitu asri dan berwarna dengan beraneka warna bunga yang tumbuh di setiap halamannya. Kata Gurabunga sendiri memiliki arti Taman Bunga, dan itu sangat sesuai dengan kondisi desa ini yang penuh dengan bunga di setiap pekarangan rumahnya.

 

IMG_9756
suka dengan hijaunya pepohonan dan bersihnya desa ini

 

EVY_5434
Rumah Sowohi

 

EVY_5436
ruang tamu di Rumah Sowohi

Kaki melangkah menyusuri jalanan beton menuju salah satu rumah (rumah bapak Arif Romo), yang menjadi tempat kami beristirahat menikmati indahnya Gurabunga. Diantar Gogo, kami kemudian menyambangi sebuah rumah adat Sowohi yang disebut Folajikosabari. Menyusuri jalanan desa yang sedikit menanjak, tidak jauh dari lapangan hijau, akhirnya kami tiba di rumah Sowohi. Rumah Sowohi ini kental dengan nuansa Islam. Rumah yang didominasi dengan warna putih ini dibangun menggunakan kayu, bambu serta berlantaikan tanah dan masih menggunakan daun pohon Sagu sebagai atapnya. Desain rumah Sowohi ini memiliki 5 buah ruangan yang menggambarkan jumlah sholat wajib di dalam Islam, serta 2 buah ikatan di setiap batang bambunya yang melambangkan 2 kalimat Syahadat. Di setiap rumah Sowohi terdapat sebuah ruang khusus, biasa disebut Ruang Puji, yang berfungsi sebagai ruang untuk berdoa. Ruangan tersebut biasanya diberi kain putih sebagai tirainya. Di ruangan itulah para Sowohi akan berdoa untuk keberlangsungan Tidore serta kebijakan-kebiijakan yang menyangkut kepentingan masyarakat Tidore.

 

EVY_5437
Rumah Sowohi memiliki dinding dari bambu serta berlantaikan tanah

 

EVY_5439
atap Rumah Sowohi yang terbuat dari daun pohon Sagu

 

20171224_154710
Gong, yang terdapat di sudut ruang tamu Rumah Sowohi (taken by mas @Har)

Rumah Sowohi yang saya datangi merupakan kediaman Bapak Yunus Hatari, selaku Sowohi Kie Matiti. Saya memasuki sebuah ruangan yang berfungsi sebagai ruang penerima tamu, ruangan berlantaikan tanah padat, dilengkapi dengan seperangkat kursi kayu dan sebuah sofa sudut terbuat dari bambu. Di salah satu sudut ruangan tergantung sebuah Gong dari tembaga. Atap ruangan ini masih menggunakan daun pohon Sagu. Menurut bapak Yunus Hatari, beliau mempertahankan bangunan asli Rumah Sowohi ini untuk menjaga hubungannya dengan para leluhur.

 

HAR_4909
berbincang bersama bapak Yunus Hatari (taken by mas @Har)

 

EVY_5438
kursi kayu, membuat suasana ruang tamu di Rumah Sowohi semakin unik

Setelah berbincang-bincang dan mendengarkan cerita bapak Yunus Hatari mengenai bagaimana beliau menjalin hubungan dengan para leluhur melalui doa di Ruang Puji, serta bagaimana menjaga tatanan masyarakat Gurabunga agar tetap menjunjung tinggi adat-istiadat, akhirnya kami berpamitan.

 

IMG_9761
Kopi Dabe, kopi yang berhasil membuat saya ketagihan dan menjadi pecinta kopi

 

IMG_9763
menikmati kopi dengan pemandangan secantik ini, awesome!

Meninggalkan rasa bahagia karena bisa melihat dan mendatangi sendiri rumah adat yang begitu nyaman, ramah, saya pun kembali menuju rumah bapak Arif Romo. Dan tidak sabar untuk menikmati segelas kopi khas Tidore, Kopi Dabe. Ada cerita sedikit mengenai Kopi Dabe ini. Sebenarnya saya bukan seorang yang addict dan hobi minum kopi. Saya hanya senang menghirup aroma wanginya. Jangan tanya kenapa dan apa sebabnya? Bagi saya, menghirup wangi aroma kopi itu menyenangkan, membuat bahagia, tapi tidak cukup untuk membuat saya tertarik meminumnya. Tetapi, ketika saya berkunjung ke Kadaton Kesultanan Tidore, saya disuguhi secangkir kopi yang aromanya tidak biasa. Wangi kopi bercampur aroma rempah (cengkeh, kayu manis, dan jahe) serta rasa manisnya yang lain dari biasanya, seketika membuat saya ingin bilang “I love this coffee so much”. Dan ketika mendapat suguhan segelas Kopi dabe di Gurabunga ini, rasanya this is a perfect day for me!

 

20171224_161413
bersantai bersama sahabat sembari menikmati segelas Kopi Dabe, perfect! (taken by mas @Har)

 

20171224_172211
Ko Gogo, teman baru yang kami temui di Desa Gurabunga

 

EVY_5441
kulit Pala yang sedang dijemur di salah satu halaman rumah warga

Menikmati segelas kopi sambil duduk di bawah pohon bersama teman-teman, bersenda gurau sambil memandang Kie Matubu yang menjulang di kejauhan membuat siang menjelang sore itu begitu sempurna. Rasanya saya ingin berlama-lama di desa ini. Menikmati suasana desa yang tenang, nyaman, dingin, dan bersahabat. I think I found a place, called home here. Hi Gurabunga, I love you so much!

 

EVY_5454
pepohonan hijau, langit biru yang digayuti awan putih berbias sinar mentari

 

EVY_5455
awan terasa begitu dekat di desa ini, seperti negeri dongeng

Dan ketika tiba waktunya untuk meninggalkan desa yang dalam waktu singkat berhasil membuat saya seperti pulang ke rumah, setitik sedih menggelayut di sudut hati. Tunggulah, suatu saat saya akan kembali ke sana.