Tag Archives: Maluku Utara

Tidore #6 – Tanjung Mareku, Tempat Pengibaran Bendera Merah Putih Pertama Kali di Tidore

IMG_9794

 

Mungkin tidak banyak yang mengetahui sejarahnya saat Bendera Merah Putih pertama kali berkibar di langit Kepulauan Maluku, tepatnya di Tidore. Saya pun menemukan kisah itu secara tidak sengaja saat sedang browsing di Internet. Dari informasi yang sangat sedikit itu, saya justru merasa tertarik untuk melihat langsung tempat yang sangat bersejarah bagi Indonesia, khususnya Tidore.

Mobil yang saya tumpangi menyusuri jalanan aspal Kota Tidore menuju Tanjung Mareku sore itu, setelah saya mengunjungi sebuah desa indah di kaki Gunung Kie Marijang, Desa Gurabunga. Kira-kira 50 menit berkendara, akhirnya saya tiba di sebuah jalan yang cukup sepi (atau malah sepi banget ya?) dan menemukan monumen kecil dengan sebuah tiang bendera putih dan Bendera Merah Putih di puncaknya. Bentuknya cukup kecil, hanya sekitar 2 x 2 meter.

Dari pinggir jalan yang saya lewati, letak monumen ini sedikit lebih tinggi, sekitar 1 meter. Ada undakan kecil di sisi kanan dan kirinya. Bagian dasarnya dikeramik bermotif dengan dasar warna merah muda. Tiang bendera yang terbuat dari semen berdiri tegak sekitar 3 meter di atas alas bulat bersusun 2. Sebuah Bendera Merah Putih yang juga terbuat dari semen terlihat di ujung tiang. Di bagian belakang terlihat semacam dinding dari bata merah yang membatasi area monumen dari bukit kecil di belakangnya. Sebuah plakat bertuliskan MONUMEN dan lambang bendera Merah Putih terpasang di depan dinding bata merah itu. Sangat sederhana, namun tak sesederhana kisahnya di masa kemerdekaan dulu.

Sehari setelah peringatan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang pertama, yaitu tanggal 18 Agustus 1946, akhirnya Sang Saka Merah Putih bisa berkibar di Tidore. Informasi kemerdekaan Republik Indonesia memerlukan waktu 1 tahun untuk sampai ke bumi Kie Raha karena keterbatasan dan sulitnya informasi pada masa itu. Inisiatif pemuda-pemuda di sana untuk mengibarkan Bendera Merah Putih di langit Indonesia tercinta ini akhirnya terwujud. Hari itu, Minggu, 18 Agustus 1946, waktu baru menunjukkan pukul 4 subuh ketika perlahan-lahan Bendera Merah Putih mulai berkibar di sebatang tiang sederhana yang terbuat dari bambu. Di bawah tiang bambu tersebut tertulis sebaris kalimat yang berbunyi “Barang siapa yang berani menurunkan bendera ini, maka nyawa diganti nyawa”. Pengibaran Bendera Merah Putih itu sama artinya dengan memproklamasikan bahwa Tidore dan Kepulauan Maluku menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bendera Merah Putih yang dikibarkan saat itu pun sangat istimewa. Apabila di Jawa kita mengenal ibu Fatmawati yang menjahit bendera untuk dikibarkan saat Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, maka di Tidore ada ibu Amina Sabtu (dikenal dengan nama Nenek Na atau Ibu Bandera) yang dikenal juga sebagai Fatmawati-nya Tidore atau Fatmawati dari Indonesia Timur. Nenek Na inilah yang berjasa menjahit Bendera Merah Putih yang dikibarkan di Tanjung Mareku pada tanggal 18 Agustus 1946.

Inisiatif menjahit Bendera Merah Putih itu dilakukan oleh Nenek Na setelah beliau pulang dari Ternate dan mendengar berita mengenai Kemerdekaan Republik Indonesia serta mengetahui bahwa benderanya berwarna merah dan putih. “Orang di Maluku Utara mengetahui bahwa Indonesia telah merdeka pada 17 Agustus 1945, baru pada 1946, karena saat itu di Maluku Utara sarana informasi sangat sulit untuk mengetahui perkembangan yang terjadi di Jakarta”, tutur Nenek Na. Setibanya di Tidore, Nenek Na kemudian membuat bendera tersebut. Namun karena keterbatasan kain dan benang, akhirnya Nenek Na membuat bendera Merah Putih dengan menggunakan 2 helai kain, sehelai kain merah dan sehelai kain putih penutup peti yang digunakan di dalam ritual Salai Jin. Kedua helai kain itu kemudian dijahit menggunakan serat daun Nanas.

Awalnya, rencana pengibaran Bendera Merah Putih akan dilakukan di Jembatan Residen, Ternate. Namun ketatnya penjagaan tentara Belanda di sana, membuat rombongan pemuda dari Indonesia Timur ini mengurungkan niat untuk melakukan pengibaran bendera di lokasi tersebut. Adalah Abdullah Kadir (sepupu Nenek Na) akhirnya mencari lokasi pengganti untuk mengibarkan Bendera Merah Putih tersebut. Kemudian dipilihlah Tanjung Mareku sebagai tempat untuk mengibarkan bendera merah Putih yang pertama kalinya di Tidore. Saat peristiwa heroik itu terjadi, usia Nenek Na baru 19 tahun. Abdullah Kadir dan pemuda-pemuda kemudian mengibarkan Bendera Merah Putih di sana.

Berita pengibaran Bendera Merah Putih di Tanjung Mareku akhirnya sampai ke telinga tentara Belanda. Sepasukan tentara Belanda mendatangi lokasi pengibaran bendera, namun tidak ada yang berani menurunkan Bendera Merah Putih yang berkibar. Belanda akhirnya mencari dan menangkap pemuda-pemuda yang dicurigai sebagai penggerak dan inisiator peristiwa tersebut, termasuk Abdullah Kadir dan Nenek Na.

Setelah pengibaran Bendera Merah Putih tersebut, Tidore dan Kepulauan Maluku secara resmi menyatakan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini sekaligus mematahkan argumen Belanda dan Jepang yang hanya mengakui secara de facto kemerdekaan Republik Indonesia hanya meliputi Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan.

Bergabungnya Tidore dan Kepulauan Maluku ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia juga tidak terlepas dari usaha Sultan Tidore saat itu, Sultan Zainal Abidin Syah yang mendukung Indonesia Timur bergabung dengan NKRI. Saat konferensi Malino pada tahun 1946, Sultan Zainal Abidin Syah diberikan tiga opsi, (1) bersama Irian mendirikan negara sendiri, (2) bergabung dengan Negara Serikat Indonesia Timur, dan (3) bergabung dengan NKRI. Sultan Zainal Abidin Syah memilih untuk bergabung dengan NKRI.

Untuk memperingati peristiwa yang sangat bersejarah tersebut, pada tahun 2009 dibuatlah monumen seperti yang bisa dilihat saat ini di lokasi pengibaran Bendera Merah Putih pertama kalinya di Tidore dan kepulauan Maluku.

Saat ini Nenek Na masih tinggal di rumahnya yang dulu pernah menjadi tempat beliau menjahit Bendera Merah Putih yang pertama kali dikibarkan di Tidore, yaitu di RT 08/RW 04 Kelurahan Mareku, Kecamatan Tidore Utara, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara. Sedangkan Abdullah Kadir telah meninggal di tahun 2009.

IMG_9817
asli, artikel ini baru selesai ditulis setelah 3 hari. Dan setiap lanjut nulis artikel ini, badan selalu merinding dan mata mbrebes mili…

Tidore #2 – Pantai Akesahu, Sensasi Berendam Air Panas dengan Pemandangan Laut yang Indah

EVY_5366

 

Biasanya, untuk mencari kolamair panas yang bisa digunakan untuk berendam, orang akan pergi ke dataran tinggi atau daerah pegunungan. Namun berbeda dengan yang ada di Tidore, di sini, kita bisa berendam sambil menikmati indahnya pemandangan laut lepas yang terbentang di depan mata. Ya, di Pantai Akesahu, kita bisa menikmati nyamannya berendam air panas sambil menikmati suasana laut.

 

EVY_5376
destinasi wisata Akesahu Mafumuru

 

EVY_5373
taman yang ada di dekat akses masuk Pantai Akesahu Mafumuru

 

EVY_5375
akses masuk menuju Pantai Akesahu Mafumuru

Sumber air panas ini letaknya di Pantai Akesahu, Dusun Akesahu, Desa Dowora, Kelurahan Taso, Tidore Timur, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara. Terdapat 2 sumber air panas di sekitar Pantai Akesahu, (1) kolam alami dengan struktur kolam pasir yang dikelilingi bebatuan, (2) kolam buatan yang telah dibeton. Saat saya berkunjung ke Tidore, yang saya tuju adalah sumber air panas dengan kolam alami.

 

EVY_5363
akses menuju sumber air panas Akesahu Mafumuru

 

EVY_5364
pemandangan yang didapat dari lokasi sumber air panas Akesahu Mafumuru

 

EVY_5365
kolamnya hanya bisa dimasuki sekitar 3 orang dewasa, tapi pemandangannya….. cihuy!!!

Lokasinya yang berada persis di pinggir jalan utama, sangat mudah ditemukan, cukup ditempuh selama 30 menit dari Pelabuhan Rum. Memasuki area wisata Akesahu Mafumuru, terlihat beberapa bangku kayu yang dicat warna-warni, cukup sebagai tempat bersantai menikmati hari. Untuk mencapai kolam air panas Akesahu, pengunjung harus menuruni jalanan tanah berbatu yang terletak di sebelah kanan area wisata. Sebuah gapura bertuliskan Akesahu – Mafumuru yang terbuat dari kayu yang dicat merah dengan tulisan berwarna kuning, terasa begitu eye catching. Jalanan tanah berbatu yang menjadi akses untuk mencapai kolam air panas memiliki pembatas dari bamboo yang dicat merah dan putih berfungsi sebagai pegangan dan pengaman bagi pengunjung. Dari ujung atas pintu masuk area Akesahu, terlihat lautan luas membentang.

 

IMG_9643
menikmati siang sembari berendam air panas dengan pemandangan laut lepas, perfect!

 

IMG_9645
berendam…. berendam…

 

IMG_9653
tua, muda, besar, kecil, semua menikmati

Meniti jalanan tanah berbatu yang cukup curam ini, pengunjung harus sangat berhati-hati. Kondisi tanah yang kering dan lepas bisa menyebabkan tergelincir. Menyusuri turunan sekitar 10 meter, saya tiba di pinggir pantai berbatu. Lokasi sumber air panas terletak di sisi kiri, sekitar 3 meter dari akhir turunan yang tadi saya lewati. Kolam sumber air panas yang dimaksud berupa sebuah kolam sederhana dengan kapasitas sekitar 3 orang dewasa, dikelilingi oleh bebatuan besar yang disusun secara acak.

 

EVY_5369
tempat yang sempurna untuk menikmati hari sambil bersantai

Siang itu, ketika saya tiba di kolam air panas, terlihat beberapa masyarakat setempat yang sedang asyik berendam air panas dan bermain di pinggir laut. Kolam ini benar-benar berada persis di tepi laut. Bahkan, apabila gelombang yang datang cukup besar, air laut akan masuk ke dalam kolam. Oh iya, air panas yang ada di kola mini berupa air tawar. Jadi , walaupun letaknya sangat dekat dengan laut, tapi airnya tetap tawar.

 

EVY_5371
jalan setapak yang menjadi akses menuju lokasi kolam air panas

 

EVY_5362
siapkan kaki, tangan dan napas :D

Menikmati indahnya pemandangan laut sambil berendam air panas, ditemani nyanyian daun yang tertiup angin, it was too perfect! Jangan khawatir, walaupun letaknya persis di pinggir laut, tapi lokasi kolam air panas ini cukup teduh dengan adanya pepohonan yang cukup besar di sekitarnya.

 

EVY_5370
apabila di depan yang bisa dilihat adalah laut, di bagian belakang pengunjung akan disuguhi pemandangan gunung yang tinggi menjulang

 

IMG_9641
ayo liburan ke Pantai Akesahu Mafumuru! Ini Indonesia!

Year-End Trip #10 – Fort Oranje, The Largest Fort in Ternate

EVY_5854

Membicarakan Ternate tentunya tidak bisa lepas dari sejarah yang pernah terjadi di sana. Bumi rempah yang menjadi rebutan bangsa asing pada masa lalu, yang membuat Nusantara menjadi primadona persinggahan dan rebutan. Di Ternate terdapat beberapa benteng yang pernah menjadi saksi sejarah, bukti bahwa rempah-rempah yang merupakan hasil bumi di sana merupakan daya tarik yang sangat memikat. Salah satu benteng yang terkenal adalah Benteng Oranje. Benteng ini terletak di Jalan Hasan Boesoeri, kelurahan Gamalama, kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara. Benteng ini merupakan benteng yang bisa dikatakan utuh dengan kondisi bangunan yang masih sangat baik.

 

EVY_5865
bangunan dan taman yang terdapat di dalam komplek Benteng Oranje

Bangunan dengan warna dominan orange ini merupakan benteng paling besar di Ternate. Benteng ini didirikan oleh Cornelis Matelief de Jonge pada tanggal 26 Mei 1607 dengan dalih ingin membantu Kesultanan Ternate untuk mengusir bangsa Spanyol dari wilayah Ternate. Bantuan yang diberikan membuahkan kemenangan di pihak Kesultanan Ternate sehingga akhirnya de Jonge diberikan ijin untuk mendirikan benteng di wilayah Ternate. Selain itu, Sultan Ternate juga memberikan ijin kepada VOC untuk melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah di wilayah kekuasaan Kesultanan Ternate. Benteng ini dikenal juga dengan nama Benteng Melayu, berdiri di atas area bekas benteng Sultan Melayu yang telah rusak. Tahun 1609 di masa pemerintahan Sultan Mudaffar, otoritas Belanda di Ternate, Paul van Carden, mengganti nama benteng ini menjadi Benteng Oranje (Fort Oranje). Saat selesai dibangun, benteng ini dihuni oleh sekitar 150 orang serdadu dengan 5 perwira yang merupakan garnisun Belanda pertama di Maluku.

 

EVY_5866
meriam yang ada di komplek Benteng Oranje

Tanggal 17 februari 1613, ketika Pieter Both diangkat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Board of Commissioners Heeren XVII (the Lords Seventeen) mengeluarkan Surat Keputusan yang menetapkan wilayah Maluku sebagai pusat kedudukan resmi dari VOC. Ternate dan Ambon terpilih sebagai tempat tinggal resmi para Gubernur Jenderal Belanda. Pada masa itu, Ternate memiliki peranan yang lebih besar, sehingga Benteng Oranje kemudian dijadikan sebagai tempat resmi Dewan Hindia Belanda untuk menjalankan pekerjaan administratifnya seperti mengadakan pertemuan, pembuatan undang-undang, dan lain-lain.

Benteng Oranje menjadi pusat pemerintahan VOC hingga tahun 1619, saat VOC memindahkan pusat kekuasaannya ke Batavia. Pada masa itu, Ternate terbagi menjadi 2, sebagian dikuasai oleh Belanda, dan sebagian lagi dikuasai oleh Spanyol. Di bawah pemerintahan Sultan Hamzah (1627-1648), wilayah kekuasaan Ternate semakin luas, dan beberapa wilayah tersebut dipertukarkan kepada VOC untuk menghindari terjadinya kerusuhan. Tahun 1663 akhirnya Spanyol meninggalkan wilayah Ternate dan Tidore.

 

EVY_5862
semoga bangunan benteng ini tetap terpelihara

Pada abad ke-18, Gubernur Jenderal VOC dikirim ke Benteng Oranje untuk mengontrol perdagangan di area Maluku Utara. Setelah kebangkrutan VOC di tahun 1800, semua aset yang semula dimiliki oleh VOC dipindahtangankan secara administratif kepada pemerintahan Maluku. Sebagian besar harta milik VOC dikuasai oleh Inggris selama perang Napoleon, termasuk Benteng Oranje di tahun 1810. Setelah terbentuknya pemerintahan Kerajaan Belanda yang baru melalui sebuah kongres di Wina, Benteng Oranje dikembalikan ke tangan Belanda pada tahun 1817.

Padat tahun 1822, benteng ini sempat menjadi tempat pengasingan bagi Sultan Badarudin II dari Palembang hingga tahun 1852. Setelah wafat, Sultan Badarudin II kemudian dimakamkan di kecamatan Santiong.

 

EVY_5850
sepasang meriam yang seolah menjaga komplek Benteng Oranje

 

EVY_5851
tangga batu menuju rampart di bagian atas benteng

Konstruksi Benteng Oranje terdiri dari batu karang, batu kali dan pecahan kaca, sehingga terlihat lebih menarik. Bentuk Benteng Oranje menyerupai trapesium yang berdiri di atas lahan seluas 12.680 m2 dan mempunyai 4 buah bastion di setiap sudutnya. Ketebalan tembok bagian luar dari benteng ini sekitar 1 meter, sedangkan untuk tembok bagian dalamnya memiliki ketebalan sekitar 0.75 meter. Di bagian atas tembok benteng ini terdapat rampart atau jalan keliling yang menghubungkan ke-4 bastion di setiap sudutnya. Rampart ini berada pada ketinggian sekitar 3.5 meter dari permukaan tanah dan mempunyai jarak sekitar 1.1 meter dari ketinggian dinding tembok.

 

EVY_5853
rampart yang menghubungkan antara bastion satu dengan lainnya di sekeliling benteng

 

EVY_5854
pemandangan komplek Benteng Oranje diliat dari atas rampart

Pada kedua sudut bagian dalam dari bastion yang terletak di sisi Barat Laut dan Timur Laut terdapat ramp berukuran 15 x 3 meter menuju ke bagian atas bastion. Selain itu terdapat juga 2 buah tangga yang berbentuk setengah melingkar pada bagian dalam pintu gerbang utama dan pada bastion di sisi Barat Daya. Sedangkan, di atas pintu gerbang utama terdapat lonceng besar yang ditopang oleh dua balok kayu besar. Semula lonceng buatan Perio Diaz Bocarro tahun 1603 ini didatangkan langsung dari Portugal, dan ditempatkan di Benteng Gamlamo. Akan tetapi, ketika Portugis meninggalkan Ternate, lonceng tersebut sempat dipindahkan VOC dan digantung di pintu masuk Benteng Oranje. Hingga 1950 lonceng ini masih terpasang di sana, dan sejak 1951 dipindahkan dan disimpan pada gereja Katolik (Gereja Batu) di Ternate.

 

EVY_5852
lonceng tembaga besar yang terdapat di atas gerbang masuk Benteng Oranje

Di dalam komplek benteng terdapat bekas kediaman Gubernur Jenderal Belanda yang sekarang difungsikan sebagai Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Ternate. Di dalam komplek benteng juga terdapat sebuah sumur layang, yaitu sumur dengan ketinggian 5 meter dari permukaan laut.

 

EVY_5859
di dalam komplek Benteng Oranje terdapat beberapa bangunan yang sekarang digunakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Ternate

Saat saya tiba di Benteng Oranje, suasana sangat sepi karena kebetulan Ternate baru saja diguyur hujan yang walaupun tidak seberapa lebat, namun bisa membuat basah tanah dan pepohonan yang terdapat di sekitar benteng. Harum tanah dan rumput basah menyambut kaki saya saat memasuki komplek benteng. Bangunan-bangunan yang didominasi warna kuning muda dan coklat pada bingkai pintu dan jendela terlihat sangat terawat. Sebuah bangunan mesjid berwarna putih tampak di sudut komplek. Sebuah taman berbentuk bujursangkar tampak tertata rapi dengan rumput hijau yang terpangkas rata. Beberapa pohon palem terlihat di setiap sudut area taman. Dua buah meriam kuno terlihat mengapit jalanan batu menuju sebuah tangga di samping gerbang benteng. Tembok batu yang mengelilingi benteng terlihat menghitam dan berlumut di beberapa bagian, namun sangat terpelihara. Saya menapaki tangga batu menuju bagian rampart dari benteng. Di bagian ujung tangga terlihat sebuah lonceng tembaga besar yang digantung pada tiang berwarna merah. Rampart benteng terlihat sangat terpelihara, namun sayang banyak tangan-tangan tak bertanggung jawab yang meninggalkan coretan vandalism di sana. Di bagian depan komplek benteng terdapat sebuah taman dengan tembok yang didominasi warna orange dan putih. Suasana yang sepi membuat saya puas menikmati semua yang ada di sekeliling benteng. Membayangkan beberapa serdadu Belanda berjalan di sepanjang rampart dengan bayonet di tangan, dan di setiap bastion terdapat sebuah meriam dengan serdadu yang berjaga waspada.

 

IMG_0885
taman yang terdapat di bagian depan komplek Benteng Oranje

Year-End Trip #9 – Benteng Kalamata, Saksi Perjuangan Masyarakat Ternate

EVY_5836

Sejarah Ternate yang penuh perjuangan meninggalkan beberapa saksi bisu sejarah berupa bangunan yang dulu dijadikan sebagai tempat pertahanan dan pusat perekonomian para penjajah. Salah satunya adalah Benteng Kalamata.

 

EVY_5847
Benteng Kalamata

 

EVY_5576
sejarah singkat Benteng Kalamata yanga ada di dekat gerbang benteng

Benteng Kalamata merupakan benteng yang dibangun oleh bangsa Portugis (Fransisco Serao) di tahun 1540 yang difungsikan sebagai tempat pertahanan dalam rangka perluasan daerah kekuasaan, serta untuk menghadapi serangan Spanyol dari Rum, Tidore. Pada tahun 1575 Portugis meninggalkan benteng yang selanjutnya dikuasai oleh Spanyol yang menjadikannya pos perdagangan rempah-rempah. Setelah Spanyol meninggalkan benteng, tahun 1609 Benteng Kalamata dipugar oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Pieter Both, dan menjadikan benteng sebagai pertahanan serdadu VOC.

 

EVY_5573
taman yang ada di depan Benteng Kalamata

 

EVY_5575
rumput hijau terpelihara dengan beberapa tanaman cantik yang ada di taman Benteng Kalamata

Entah karena apa, pada tahun 1625 Benteng Kalamata ditinggalkan begitu saja oleh Belanda (Geen Huigen Schapen). Kondisi benteng yang kosong kemudian dimanfaatkan oleh Spanyol dengan mendudukinya kembali hingga tahun 1663. Kembali benteng tersebut kemudian ditinggalkan oleh Spanyol dan diambil alih oleh Belanda. Namun pada tahun 1798 pasukan Kesultanan Tidore di bawah pimpinan Sultan Nuku berhasil merebut benteng tersebut dengan bantuan dari pasukan Inggris.

 

EVY_5843
jalanan setapak di pinggir laut menuju gerbang Benteng Kalamata

 

EVY_5842
gerbang Benteng Kalamata

 

EVY_5582
berdiri di bastion di sisi Gunung Gamalama, akan mendapatkan pemandangan indah dari perairan Maluku yang mengarah ke Pulau Tidore

Pada tahun 1799, benteng tersebut diperbaiki oleh Mayor Lutzow. Namun pada tahun 1810, Belanda kembali berhasil merebut Benteng Kalamata dari pasukan Kesultanan Tidore. Hingga pada tahun 1843, pemerintah kolonial Belanda secara resmi mengumumkan bahwa benteng dikosongkan. Dan setelah tahun 1843, kondisi Benteng Kalamata menjadi terbengkalai dan tidak terawat. Bahkan benteng ini pernah tergenang oleh air laut karena adanya abrasi di sekitar lokasi berdirinya Benteng Kalamata. Di tahun 1994 Pemerintah Republik Indonesia melakukan pemugaran terhadap kondisi benteng ini untuk menjaga keberadaannya. Pemugaran yang memakan waktu cukup lama itu kemudian diresmikan purna pugarnya di tahun 1997. Pemerintah Kota Ternate kemudian melakukan renovasi benteng dan menambahkan halaman serta rumah bagi penjaga benteng.

 

EVY_5586
walaupun bentuknya tidak seberapa besar, tapi Benteng Kalamata ini megah

 

EVY_5587
sumur tua yang terdapat di dalam benteng, yang dulu menjadi sumber air bersih untuk para serdadu di sana

Benteng Kalamata juga dikenal dengan nama Benteng Kayu Merah. Hal tersebut karena benteng ini berlokasi di Kelurahan Kayu Merah, Kota Ternate Selatan. Pada awalnya benteng ini diberi nama Santa Lucia, tapi lebih dikenal dengan nama Benteng Kalamata. Nama Kalamata sendiri berasal dari nama Pangeran Kalamata, yang merupakan adik dari Sultan Ternate, Madarsyah.

 

EVY_5603
ya begini gayanya kalo reramean

 

EVY_5841
Gunung Gamalama, tampak berdiri kokoh hingga menembus awan

Berbicara mengenai bentuk dari Benteng Kalamata, benteng ini berbentuk seperti 4 penjuru mata angin yang memiliki 4 bastion berujung runcing yang masing-masing memiliki lubang bidik. Sebagaimana benteng Portugis pada umumnya, konstruksi Benteng Kalamata termasuk kecil, tebal dindingnya hanya sekitar 60 cm dengan tinggi sekitar 3 meter. Posisinya yang berada di garis pantai yang langsung menghadap ke Pulau Tidore merupakan strategi Portugis untuk dapat terus memantau pergerakan Spanyol yang saat itu menguasai Pulau Tidore. Tujuan dari pembangunan benteng ini adalah untuk mengantisipasi serangan dari Pulau Tidore yang dilancarkan oleh pasukan Spanyol.

 

EVY_5583
bentuk Benteng Kalamata menyerupai 4 penjuru mata angin

 

EVY_5840
bentuknya bisa dikatakan simetris di ke-4 sisi bastion-nya

Saat ini, apabila kita mengunjungi Benteng Kalamata, begitu memasuki kompleks benteng akan terlihat sebuah taman cantik dengan rumput hijau terhampar, serta beberapa pot-pot batu yang diletakkan secara teratur dalam sebuah formasi. Taman yang ada di depan Benteng Kalamata cukup teduh, karena adanya beberapa pohon besar yang sedikit menahan pancaran sinar matahari. Di bagian kiri kompleks benteng terdapat rumah penjaga serta beberapa kendaraan.

 

EVY_5845
taman yang ada di halaman depan Benteng Kalamata

 

IMG_0007
tembok batu setebal 60 cm ini membuat Benteng Kalamata tampak kokoh

Berjalan menyusuri jalanan setapak dari batu, akhirnya tibalah di depan gerbang Benteng Kalamata. Dinding batu hitam, kokoh, menjadi saksi betapa banyak sejarah Perjuangan yang sempat terjadi di benteng ini. Secara umum, kondisi benteng ini masih sangat baik. Dinding, tangga, bahkan sumur tua yang dulu merupakan sumber air bersih bagi serdadu yang menempati benteng ini masih ada. Memasuki benteng, di sebelah kanan terdapat sederetan anak tangga menuju ke sebuah bastion, dan tak jauh dari anak tangga tersebut, terdapat sebuah permukaan miring yang juga menuju ke bastion yang lain. Mungkin permukaan miring dari batu ini dulunya berfungsi sebagai jalur transportasi Meriam menuju lubang bidik. Sederetan anak tangga yang ada di dalam benteng berhadapan dengan anak tangga lainnya di sisi yang berlawanan, begitu juga dengan permukaan miring tadi. Apabila permukaan miring yang ada di sebelah kanan dari gerbang mengarah ke bastion yang langsung berhadapan dengan Gunung Gamalama, maka permukaan miring yang satunya mengarah pada bastion yang berhadapan dengan Pulau Tidore.

 

EVY_5569
pemandangan yang bisa dilihat dari ujung bastion Benteng Kalamata, satu sisi kehidupan masyarakat di tepian perairan Maluku

 

EVY_5570
Benteng Kalamata dilihat dari ferry penyeberangan Tidore – Ternate

Di masing-masing bastion ada beberapa jendela bidik, yang mungkin dulu berfungsi sebagai tempat pengintaian dan tempat untuk meletakkan senjata untuk penyerangan. Berdiri di ujung bastion yang mengarah ke daratan, kita akan menatap Gunung Gamalama yang berdiri kokoh hingga menembus awan. Dan apabila kita berdiri di bastion yang mengarah ke laut, maka kita akan melihat indahnya Pulau Maitara dan Pulau Tidore. Sementara 2 bastion lainnya, masing-masing mengarah ke arah perumahan penduduk.

 

EVY_5579
rongsokan kapal tua di perairan Maluku yang bisa dilihat dari salah satu jendela bidik Benteng Kalamata

 

EVY_5839
pemandangan Pulau Maitara dan Pulau Tidore dilihat dari ujung bastion Benteng Kalamata

Menikmati siang di atas Benteng Kalamata sembari melihat indahnya perairan Maluku dan mengingat cerita sejarah yang pernah terjadi di benteng ini, rasanya adalah kombinasi yang sangat serasi.

 

IMG_0006
rumah penduduk di atas perairan Maluku dilihat dari gerbang Benteng Kalamata

 

EVY_5623
bye bye Kalamata, see you again someday