Tag Archives: jalan-jalan

Year-End Trip #8 – Danau Ngade, Keindahan Danau Air Tawar yang Bersanding dengan Lautan

EVY_5334

Berkunjung ke Kota Ternate, akan ada 1 pemandangan unik di mana sebuah danau bersanding dengan lautan. Jarak yang memisahkan keduanya kurang dari 1 km, namun air yang ada di danau tersebut tetaplah tawar. Ya, Danau Ngade atau yang juga dikenal sebagai Danau Laguna. Sebuah danau yang berada di Desa Ngade, Kelurahan Fitu, Kota Ternate, Maluku Utara. Sekitar 18 km dari Bandara Sultan Babullah dan dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 40 menit dengan menggunakan kendaraan beroda 2 atau 4. Untuk pengunjung yang ingin menyewa mobil, harga sewa dari pusat Kota Ternate ke Danau Ngade sekitar Rp 100.000 s/d Rp 150.000 untuk 1 kali perjalanan.

 

IMG_9559
pemandangan Danau Ngade dengan background Pulau Maitara dan Pulau Tidore

Danau dengan airnya berwarna hijau, dikelilingi dengan rapatnya pepohonan rindang yang selalu menghijau, berdampingan dengan birunya laut di perairan Maluku Utara, menyajikan pemandangan yang sungguh indah. Sepertinya, seluruh alam di Indonesia Timur ini diciptakan saat Tuhan sedang jatuh cinta. Indah, cantik, dan selalu mempesona. Danau ini juga berhadapan langsung dengan Pulau Maitara dan Pulau Tidore di kejauhan. Bisa dibayangkan betapa indah pemandangan yang bisa didapat dengan komposisi seperti itu.

 

EVY_5341
ini adalah titik pandang Danau Ngade

Danau Ngade ini dimanfaatkan oleh penduduk sekitarnya untuk membudidayakan ikan air tawar seperti Nila dan Gurame. Karena, walaupun letaknya yang sangat dekat dengan laut, namun air di danau ini tetaplah tawar. Selain itu, danau ini juga dimanfaatkan untuk pengairan bagi perkebunan milik penduduk yang ada di sekitar danau.

 

IMG_9564
titik pandang ini merupakan spot favorit bagi pengunjung yang ingin mengabadikan keindahan Danau Ngade

Saya tiba di lokasi Danau Ngade menjelang senja, suasana sangat tenang. Di kejauhan, tampak Pulau Maitara dan Pulau Tidore mulai diselimuti kabut. Sementara di sisi sebelah Barat, langit mulai memerah jingga dan bola emas raksasa semakin mendekati garis cakrawala. Sinar merah jingga mengintip dan membias indah di sela-sela daun pohon Pisang yang banyak terdapat di sekitar titik pandang Danau Ngade. Sinarnya terasa lembut dan hangat menyentuh kulit.

 

EVY_5343
senja di Danau Ngade juga sangat indah

Untuk menikmati pemandangan Danau Ngade, masyarakat setempat telah membuat sebuah titik pandang berupa jembatan kayu. Dari titik ini, pemandangan Danau Ngade, Pulau Maitara dan Pulau Tidore terlihat sangat jelas dan membentuk komposisi yang sangat cantik. Di lokasi titik pandang itu terdapat beberapa point yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk berfoto.

 

EVY_5339
siluet dedaunan tampak semakin cantik ditemani cahaya merah jingga dari ufuk Barat

Karena hari semakin gelap, akhirnya saya harus meninggalkan titik pandang di danau yang sangat indah itu. Ditemani sinar merah jingga sang surya yang semakin memudar. Semoga keindahan alam di sekitar Danau Ngade tetap terjaga, sehingga bisa semakin dikenal dan dinikmati oleh banyak orang.

 

EVY_5344
terima kasih terang, selamat datang gelap

Pergilah ke Baduy, dan Rasakan Pengalaman yang Berbeda

100_6263

Baduy, merupakan salah satu kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda yang menetap di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Populasinya saat ini berkisar antara 5.000 – 8.000 orang. Suku Baduy merupakan salah satu suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar. Suku Baduy lebih suka menyebut dirinya sebagai Urang Kanekes, yang berarti orang Kanekes atau Urang Cibeo, sesuai dengan kampung di mana mereka menetap (https://id.wikipedia.org/wiki/Urang_Kanekes).

Secara geografis, wilayah Kanekes terletak pada koordinat 6°27’27” – 6°30’0” LS dan 108°3’9” – 106°4’55” BT (Permana, 2001). Pemukiman mereka terletak tepat di kaki pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, Banten, sekitar 40 km dari Kota Rangkasbitung. Wilayah ini terletak sekitar 300-600 mdpl, memiliki topografi berbukit-bukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45°, yang merupakan tanah vulkanik (bagian utara), tanah endapan (bagian tengah) dan tanah campuran (bagian selatan), dengan suhu rata-rata sekitar 20°.

IMG_2594
Peta Kampung Cikesik Baduy Dalam

Terdapat 3 desa utama yang menjadi daerah populasi orang Kanekes, yaitu: Cikeusik, Cikertawana dan Cibeo.

Saya merasa beruntung sudah pernah menginjakkan kaki di desa yang menurut saya sangat nyaman itu. Tapi, sebelum saya bercerita tentang perjalanan seru menuju Desa Cibeo, ga ada salahnya kalau kita sedikit belajar mengenai suku Baduy/Kanekes ini.

Secara physically, penampilan orang Kanekes tidak berbeda dengan orang Sunda. Yang menjadi perbedaan mendasar mereka adalah kepercayaan dan cara hidupnya. Orang Kanekes menutup diri terhadap pengaruh dunia luar dan secara ketat menjaga cara hidup mereka, sementara orang Sunda lebih terbuka terhadap dunia luar dan mayoritas merupakan umat muslim.

Secara umum, masyarakat Kanekes terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu: Tangtu, Panamping dan Dangka (https://id.wikipedia.org/wiki/Urang_Kanekes). Apa itu Tangtu? Panamping? Dangka?

Menurut informasi yang saya temukan di internet, kelompok Tangtu merupakan kelompok Kanekes Dalam (Baduy Dalam), merupakan kelompok yang paling ketat menjaga adat-istiadatnya, dan mereka menetap di 3 desa yang telah saya sebutkan di atas, Cibeo, Cikertawana dan Cikeusik. Ciri khas mereka adalah pakaian yang mereka kenakan, bewarna putih alami dan biru tua (warna tarum) serta memakai ikat kepala putih. Mereka juga dilarang secara adat untuk bertemu dengan orang asing.

Selain itu, ada beberapa larangan yang harus dipatuhi oleh kelompok Tangtu, yaitu:

  1. Tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk sarana transportasi;
  2. Tidak diperkenankan menggunakan alas kaki;
  3. Pintu rumah harus menghadap ke utara/selatan (kecuali rumah sang Pu’un atau ketua adat);
  4. Larangan menggunakan alat elektronik (teknologi);
  5. Menggunakan kain berwarna hitam/putih sebagai pakaian yang ditenun dan dijahit sendiri serta tidak diperbolehkan menggunakan pakaian modern.

Kelompok kedua, yaitu Panamping, merupakan mereka yang dikenal sebagai Kanekes Luar (Baduy Luar), yaitu kelompok yang tinggal di berbagai kampung yang mengelilingi wilayah Kanekes Dalam, seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh dan lain-lain. Ciri khas mereka mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna biru gelap (warna tarum).

Panamping/Kanekes Luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Kanekes Dalam. Ada beberapa hal yang membuat mereka dikeluarkan dari kelompok Tangtu/Kanekes Dalam, misalnya:

  1. Melanggar adat masyarakat Kanekes Dalam;
  2. Berkeinginan keluar dari Kanekes Dalam;
  3. Menikah dengan anggota Kanekes Luar.

Adapun ciri-ciri dari Panamping atau orang Kanekes Luar, adalah:

  1. Mengenal teknnologi, misalnya peralatan elektronik;
  2. Proses membangunan rumah penduduk Kanekes Luar menggunakan alat bantu, seperti gergaji, palu, paku dan lain sebagainya;
  3. Menggunakan pakaian adat berwarna hitam atau biru tua (untuk laki-laki), atau pakaian modern lainnya;
  4. Menggunakan peralatan rumah tangga modern, seperti kasur, bantal, piring dan gelas kaca;
  5. Tinggal di luar wilayah Kanekes Dalam;
  6. Kepercayaan mereka telah berganti dengan memeluk agama tertentu, mayoritas menjadi muslim.

Sedangkan kelompok ketiga yang disebut Dangka, merupakan kelompok yang tinggal di luar kedua wilayah Kanekes tadi. Saat ini mereka menetap di 2 kampung yang ada, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam).

IMG_2592
let’s start the journey

 

IMG_2607
dengan modal Rp 5.000 perjalanan dimulai dengan kereta ekonomi ini

Saat saya mengunjungi Baduy/Kanekes beberapa waktu yang lalu, perjalanan saya dimulai dari Stasiun Tanah Abang, di hari Jumat sore. Sepulang dari kantor, dengan menggendong si merah, saya tiba di Stasiun Tanah Abang yang saat itu cukup ramai. Bermodalkan tiket seharga Rp 5.000, tepat pukul 17.30 wib kereta yang saya dan teman-teman tumpangi bergerak meninggalkan stasiun. Memakan waktu sekitar 1 jam 30 menit, kereta yang kami tumpangi akhirnya tiba di Stasiun Rangkasbitung. Saat kami tiba di sana, hari sudah mulai gelap, dan di sepanjang pintu keluar dari stasiun ramai pengendara ojek dan kernet elf yang menawarkan tumpangan menuju desa-desa yang ada di sekitar Rangkasbitung.

Saya dan teman-teman yang telah tiba di stasiun kemudian menuju sebuah warung makan yang terletak tidak jauh dari stasiun untuk mengisi perut yang sudah keroncongan, sembari menunggu teman kami yang akan tiba dengan kereta selanjutnya (perjalanan kali ini, karena merupakan perjalanan dengan sharing cost, jadi kami hanya berjanji untuk bertemu di meeting point dan untuk yang telat harus menerima resiko ditinggal dan menyusul sendiri menggunakan kereta selanjutnya).

Setelah teman yang ditunggu tiba, kami masih harus melanjutkan perjalanan sekitar 40 km lagi menuju Desa Ciboleger yang merupakan pintu gerbang untuk masuk ke Baduy Dalam. Perjalanan bisa ditempuh menggunakan elf yang banyak terdapat di sekitar stasiun/pasar di mana saya dan teman-teman berkumpul. Untuk tarifnya, tidak ada tarif yang pasti, semua harus dinegosiasikan dengan pengemudi elf. Waktu itu saya dikenakan tariff Rp 20.000/orang dengan alasan sudah malam dan penumpangnya hanya rombongan kami.

Menikmati perjalanan dari pasar menuju Desa Ciboleger di malam itu, dengan jalanan yang sedikit berliku, ditemani hembusan angin dan suara binatang malam serta teman-teman seperjalanan yang menyenangkan, membuat perjalanan hampir 2 jam itu tidak terasa. Dan menjelang tengah malam, kami pun tiba di Desa Ciboleger. Kami turun di tengah lapangan dengan monumen “Selamat Datang di Ciboleger” yang lengkap dengan patung keluarga petani.

IMG_2609
Selamat Datang di Ciboleger

Seorang pemandu dari Baduy Luar sudah menunggu kami dan siap mengantarkan kami ke rumahnya untuk bermalam (dan saya lupa siapa nama si akang itu, yang jelas keluarga akang sangat baik menyambut kedatangan kami). Malam itu kami menginap di rumah akang guide yang baik itu. Rumahnya tidak seberapa jauh dari lapangan, hanya perlu mencari gang kecil yang terletak di samping warung makan, berjalan sekitar 50 meter, tiba lah kami di sebuah rumah panggung kayu berdinding bilik.

Kami dipersilakan masuk oleh istri dan orang tua dari akang guide, dan di dalam telah tersedia minuman hangat. Malam itu, sebelum beristirahat, kami isi dengan saling bercerita dan berkenalan dengan keluarga si akang guide hingga kantuk datang.

Malam berganti subuh, suara ayam jago berkokok saling bersahutan membangunkan saya pagi itu. Sembari berjalan menuju sebuah mushola di dekat lapangan, saya dengan rakusnya berusaha menghirup udara segar sebanyak-banyaknya, mengisi paru-paru, mencucinya dari udara penuh polusi yang saya hirup setiap hari. Dan ternyata, air di Desa Ciboleger itu sangat dingin. Sempat tercekat saat air dingin itu menerpa wajah. Tapi efeknya, mata langsung segar dan rasanya ingin langsung mandi :D

Dan pagi itu, setelah mandi, segarnya luar biasa!

100_6261
di sini lah kami mengsnap di Ciboleger

 

IMG_9895
pagi-pagi setelah sarapan, yang paling menyenangkan adalah ngobrol dengan para sahabat

Melihat geliat kehidupan di Desa Ciboleger di awal pagi hari itu, anak-anak berseragam Pramuka yang berlarian menuju sekolahnya, ibu-ibu menjunjung tampah besar berisi aneka sayuran, serta para bapak dengan cangkul di tangan. Setelah sarapan, kami pun memulai perjalanan menuju Baduy Dalam dipandu akang guide. Niat awalnya, kami tidak akan menggunakan porter untuk perjalanan sekitar 12 km ini. Carrier, perbekalan makanan dan lain-lain akan dibawa sendiri.

baduy 2
sebelum berangkat ke Baduy Dalam, senyumnya masih lebar :D

 

100_6260
mumpung masih ada sinyal :D

Perjalanan dimulai dengan menapaki jalanan tanah yang sedikit menanjak. 15 menit pertama, senyum masih tampak di wajah, walau keringat sebesar biji jagung mulai mengalir cantik di sisi wajah. Mungkin kami baru menempuh jarak 1 km ketika akhirnya memutuskan “kita pake porter aja ya….” :D

8
1 kilo pertama, dan kami………. cari porter ajaaaaa…… :p

 

100_6264
jalannya masih jauh……..

 

100_6269
menunggu akang-akang porter yang bantuin bawa carrier ke Baduy Dalam

 

IMG_9894
tuh, carrier kita disusun begitu dan kemudian dipikul sama akang porter

 

IMG_9885
ga kuat mikul carrier-nya :D

Untung akang guide baik hati dan langsung menelpon beberapa temannya. Sambil menunggu teman-teman akang guide, saya dan teman-teman memanfaatkan waktu untuk istirahat dan goler-goler di sebuah tanah datar, di sebuah kebun pisang.

Walaupun akhirnya carrier dan semua bawaan kami dibawa oleh porter, bukan berarti perjalanan menjadi mudah (untuk saya). Medan yang terdiri dari jalanan tanah, yang terkadang berbatu dan menanjak, membuat langkah kami tidak bisa menyaingi kecepatan langkah akang-akang porter dan tentu saja akang guide.

IMG_9884
ini udah tanpa carrier ya…. masih juga kepleset-pleset

 

564730_10151089210187336_1453513156_n
walau capek, tiap liat kamera, senyumnya lebar…….

 

556685_4261229336476_1791755630_n
mulai ketemu tanah lapang yang ga ada pohonnya

Saya yang hanya membawa kamera dan sebuah drybag berisi dompet, cemilan dan persediaan air minum, ternyata masih kalah cepat langkahnya dari akang porter yang memikul carrier kami. Dengan 2 carrier yang dipikul menggunakan bantuan sebuah kayu, akang porter bisa bergerak lincah dan cepat menapaki jalan tanah, dan tanpa alas kaki! Sementara saya, terkadang harus rela sedikit menggelinding karena terpeleset saat meniti jalanan tanah yang menanjak.

552000_3369012558071_1855521431_n
huft… huft… jalannya naik terus ya………

 

551887_10151089211787336_1652007402_n
muka merah, keringat ngucur, tiap liat kamera langsung pasang senyum lebar

Mulai dari kebun, hutan, tanah lapang yang gersang karena sedang menunggu untuk ditanami, perjalanan sekitar 12 km itu saya rasakan penuh warna. Merasakan panasnya matahari tepat di jam 12 siang, persis di tengah gundukan tanah lapang berbukit-bukit, dan tidak ada 1 pohon pun yang bisa dijadikan sebagai tempat berteduh. Bisa dibayangkan gimana rasanya? :D

100_6302
panasnya luar biasa…..

 

100_6303
akang guide aja kepanasan, apalagi kita :D

 

100_6301
gersang sebagian, hijau banyakan

 

100_6300
jalannya jauh…… turun naik…

100_6299 100_6297

 

100_6295
naik bukit, turun lembah, menyeberangi sungai, lewat hutan…

 

100_6294
rumah, lumbung padi, pepohonan, adem……..

 

100_6293
rumah-rumah di sana terbuat dari kayu, bambu, dengan dinding bilik dan atap rumbia

Untungnya teman-teman seperjalanan semua kompak dan helpful. Di saat ada teman yang kecapekan, semua setia menunggu, menemani, menyemangati dan terkadang ngejek juga. Perjalanan panjang kami akhirnya tiba di pintu masuk Baduy Dalam. Ketika sebuah jembatan bambu terlihat membelah sungai berair jernih. Dan setelah melewati jembatan itu, kami semua harus patuh dengan adat yang berlaku di sana, termasuk tidak menggunakan handphone, kamera dan teknologi lainnya. Memasuki lingkungan desa yang sepi, rumah-rumah kayu berdinding bilik, pohon bambu, jalanan tanah, unggas yang berlarian ke sana ke mari, anak-anak kecil dengan baju dan ikat kepala putih yang duduk di depan rumah, serta senyum ramah dari semua yang saya temui, membuat hati ini bahagia.

100_6304
siapa yang nolak pemandangan seperti ini di sepanjang perjalanan?

 

100_6311
dari sini, kedengaran suara gemericik air di sungai yang ada di bawah sana

 

100_6341
langit biru, pepohonan, suara burung, bikin betah

Kami diantar ke rumah Pu’un (dan lagi-lagi saya lupa namanya) untuk menginap di sana. Setelah berkenalan dengan seluruh keluarganya, Pu’un mengajak kami bercerita tentang adat yang berlaku di Baduy Dalam ini. Bagaimana orang Baduy Dalam hidup dengan berpedoman terhadap perilaku alam, petunjuk-petunjuk yang terdapat di langit, dan lain-lain. Saya takjub dengan perkiraan Pu’un terhadap waktu. Saat saya bertanya, saat itu sudah jam berapa, Pu’un hanya melihat ke arah matahari dan bayangan pepohonan di depan rumah, dan kemudian berkata “Sekarang sudah jam 4 sore”. Dan begitu saya melirik ke arah jam tangan yang saya kenakan, persis!

Ketika hari menjelang malam, pintu-pintu rumah pun mulai menutup. Cahaya matahari digantikan oleh cahaya bulan Purnama yang terlihat sangat terang. Bulatan kuning besar keemasan, seolah-olah berada persis di atas langit desa. Karena kami tidak boleh menggunakan teknologi (termasuk HP dan kamera), jadilah malam itu saya memuaskan mata dengan menikmati Purnama dari depan rumah bapak Pu’un.

Puas menikmati cahaya Purnama, saya beringsut masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah, istri Pu’un sibuk di depan tungku dapur, menjerang air. Saya dan teman-teman yang telah mempersiapkan perbekalan dari Baduy Luar, kemudian mempersiapkan makan malam. Nasi putih ditemani mie rebus serta telur rebus, menjadi menu kami malam itu. Menikmati makan malam dan ngobrol santai dengan keluarga Pu’un, tak terasa malam semakin gelap.

Ketika semilir angin dingin mulai terasa dari sela-sela dinding yang terbuat dari bilik, Pu’un pun mempersilakan kami untuk beristirahat. Saya segera mengeluarkan sleeping bag dan mengambil tempat paling pinggir, kemudian menarik ritsleiting hingga ke leher, dan sebentar saja, semua menjadi gelap.

Saya terbangun ketika merasakan ada sesuatu yang bergerak di bawah sleeping bag. Insting parno membuat saya langsung bangun dan melihat kaki kak Getmi + Watik yang berusaha mencari kehangatan di bawah sleeping bag saya. Tawa saya pecah di dini hari itu ketika mereka ngedumel “Epoy, kakinya jangan kabur-kaburan kenapa sih? Ini dingin tauk….. mau anget-angetan di bawah sleeping bag doang, malah kakinya pindah-pindah mulu”. Ahahahahahahahaha……

Di Baduy Dalam, udaranya memang dingin setelah lewat tengah malam. Dan angin lumayan kencang bertiup. Karena saya sudah diberi informasi oleh teman untuk membawa sleeping bag, Alhamdulillah tidur saya nyenyak dan aman dari dinginnya udara. Tapi ternyata tidak semua teman-teman membawa sleeping bag. Dan akhirnya dini hari itu terjadi kegaduhan kecil di mana teman-teman mulai ndusel-ndusel untuk mencari kehangatan. Teman-teman yang cowok, karena hanya bermodalkan jaket dan sarung, akhirnya memilih meringkuk di depan tungku di dapur supaya hangat :D

Pagi itu di Baduy Dalam, menikmati udara yang sangat segar, rasanya paru-paru saya mendadak seperti habis dicuci. Rasanya lapang dan lega……………

Menikmati teh dan kopi panas, sambil berbincang-bincang dengan Pu’un dan teman-teman lainnya, membuat pagi itu berbeda. Karena kami tidak ingin kesiangan tiba di Ciboleger, akhirnya setelah menikmati sarapan, kami pun berpamitan kepada Pu’un dan keluarganya.

100_6329
mengintip dari balik pintu

 

100_6385
membelah kayu sebaga bahan dasar membangun rumah

 

100_6338
rumahnya memang sederhana, tapi kaya rasa

 

100_6335
bapak ini dari Baduy Luar, membawa atap rumbia untuk rumah yang sedang dibangun

 

100_6331
budhe There, Tekol, kapan kita jalan bareng lagi

Melangkah kan kaki menapaki jalanan desa, diselingi ucapan selamat pagi dan senyum sumringah dari semua yang saya temui, membuat leher ini selalu ingin menoleh ke belakang. Kesederhanaan, apa adanya, dan keramahan seluruh masyarakat Baduy Dalam menimbulkan kesan yang tidak bisa diungkapkan. Dan perjalanan pulang menjadi lebih menyenangkan karena saya ditemani oleh beberapa adik kecil dari Baduy Dalam.

100_6315 100_6314

 

100_6313
akang ini dengan santai mikul 2 carrier + masih nggendong 1 ransel

 

100_6308
senyum ramah itu yang bikin selalu kangen dengan Baduy Dalam

 

100_6309
yang nganterin kita pulang ke Ciboleger rameeeee…..

Perjalanan pulang menjadi lebih ringan karena saya dan teman-teman bisa berbincang dan becanda dengan adik-adik kecil itu di sepanjang perjalanan. Yang saya salut, dalam fisik mereka yang masih anak-anak, ternyata stamina mereka sangat bagus. Berjalan dengan medan yang lumayan bervariasi, tanpa menggunakan alas kaki, dan mereka masih bisa berlari sambil menggendong ransel-ransel kecil kami (malu). Dan sewaktu saya bertanya apakah tidak capek? Jawab mereka dengan mata berbinar “Sudah biasa”.

100_6285
di tengah ladang, selalu ada rumah untuk berteduh

 

100_6288
lingkungannya teduh, asri, adem…

 

IMG_9872
pake acara loncat-loncat di batu yang ada di sungai lho….

Sekali lagi kami menyeberangi jembatan bambu, dan perkampungan dengan rumah-rumah kayu berdinding bilik. Senyum ceria dari adik-adik kecil yang bermain di sekitar rumah, wanita Baduy yang sedang menenun di teras rumahnya, serta kaum lelaki Baduy yang melakukan pekerjaan rutinnya.

100_6381 100_6380

 

100_6375
mari kita pulang…….

Mendekati Desa Ciboleger, saya tidak bisa menahan keinginan untuk melihat yang berujung dengan membeli sebuah kain tenun khas Baduy berwarna merah, lengkap dengan selendangnya.

100_6376
sampe di Kampung Gajeboh

 

100_6349
iri, melihat adik kecil ini dengan lincahnya menenun di teras rumahnya

 

100_6365
nah, kain tenunnya dibuat dengan ATBM, jadi kalo beli, nawarnya jangan kelewatan ya…

 

IMG_2608
ini tenun Baduy yang menjadi pilihan saya

 

IMG_2605
mari dipilih….

Selesai sudah perjalanan saya di Baduy, perjalanan yang meninggalkan rasa bahagia dan keinginan untuk kembali ke sana. Tetaplah dalam kesederhanaanmu Baduy-ku, jagalah kemurnian yang ada di sana.

564340_3369064279364_605754895_n
terima kasih Baduy….. terima kasih Ciboleger…. terima kasih Indonesia….

 

 

 

Pink Beach, Pantai yang Akan Membuat Semua Jatuh Cinta

EVY_1535

 

Setelah puas melihat Manta, sailing dilanjutkan menuju suatu spot yang sangat terkenal (justru) di kalangan turis mancanegara (yah…. di kalangan turis domestik juga terkenal sih, hanya saja lebih banyak turis mancanegara yang datang ke sana), yaitu Pink Beach, atau Pantai Merah yang ada di salah satu sudut Pulau Komodo, Flores.

 

let's go to Pink beach!
let’s go to Pink beach!

 

Pantai Merah merupakan salah satu dari 7 pantai di dunia yang pasirnya berwarna merah muda. Selain Pantai Merah atau Pink Beach yang ada di Pulau Komodo ini, Pink Beach juga terdapat di Harbor Island, Bahamas; Bermuda; Santa Cruz Island, Filipina; Sardinia, Itali; Bonaire, Dutch Carribean Island dan Balos Lagoon, Crete, Yunani. Nah, bangga dong ya….. ternyata di Indonesia tercinta ini ada salah satu pantai yang pasirnya berwarna pink, yang hanya ada 7 di dunia! Ah, I’m proud to be an Indonesia!

Kapal yang saya naiki bergerak meninggalkan Manta Point menuju Pink Beach. Matahari siang bersinar sempurna, ditambah desiran angin laut yang cukup kencang, buih yang pecah di ujung buritan kapal meninggalkan jejak busa putih di belakang. Dan di depan saya sudah terbentang selarik garis merah muda tipis yang membatasi hijau birunya lautan dengan putihnya pasir. Yeay….. Pink Beach, here I come!

 

dan... ini dia, salah 1 dari 7 pink beach yang ada di dunia!
dan… ini dia, salah 1 dari 7 pink beach yang ada di dunia!

 

Pantai Merah siang itu cukup ramai oleh pengunjung, baik wisatawan mancanegara maupun lokal. Pantainya yang khas dengan pasir berwarna merah muda terlihat lebih shiny karena sina matahari yang bersinar dengan sangat terang :D

Seperti biasa, dari kapal kami harus menggunakan kapal putih kecil untuk mencapai bibir pantai karena menghindari karang dan coral yang terlihat jelas di bawah permukaan air laut yang sangat jernih ini. Dan begitu kaki terbenam di pasir pantai…… hanya halus yang terasa di telapak kaki.

 

pasirnya halus banget terasa di kaki
pasirnya halus banget terasa di kaki

 

Di Pantai Merah saya hanya berniat untuk menikmati keindahan yang ada sambil mengabadikannya dari balik lensa kamera. Ga pake acara berendam di pantai (pertimbangannya karena matahari yang sangat cerah sinarnya :D).

Saya berjalan ke sisi kanan pantai untuk kemudian mendaki bukit kecil yang ada di ujungnya untuk melihat pantai ini dari atas. Pasir di pantai ini sangat halus, dengan semburat warna merah muda yang konon berasal dari serpihan karang berwarna merah yang sudah mati dan banyak ditemukan di pantai ini. Namun, ada juga yang menyebutkan bahwa warna merah muda itu karena keberadaan hewan mikroskopik bernama foraminifera yang menghasilkan warna merah muda atau pink terang pada terumbu karang. Mana yang benar, wallahualam.

 

itu bukit kecil yang akan saya daki
itu bukit kecil yang akan saya daki

 

Di ujung pantai, saya melangkahkan kaki untuk mendaki sebuah bukit kecil. Seperti pulau-pulau kecil yang telah kami singgahi selama perjalanan sailing ini, bukit yang ada di sini pun terlihat coklat, kering meranggas karena musim kemarau yang sangat panjang ini. Sehingga, setiap kaki menjejak ke permukaannya, selapis tipis debu tanah akan terbang dari permukaannya yang kering. Rumput-rumput yang tumbuh di permukaan tanah pun terlihat kering kecoklatan.

 

pemandangan dari atas bukit kecil di sisi kanan Pink beach
pemandangan dari atas bukit kecil di sisi kanan Pink beach

 

Kaki saya akhirnya sampai di puncak bukit kecil itu, dan apa yang saya lihat??? Wow….. pemandangan Pink Beach yang terlihat dari atas ini sungguh indah! Bukit yang coklat mengering terlihat sangat kontras dengan putih dan merah muda pasir pantai, ditambah gradasi biru toska air laut. Bagus banget!!!

 

ini pemandangan dari sisi kanan pantai
ini pemandangan dari sisi kanan pantai

 

Sinar matahari yang bersinar garang tidak mematahkan semangat saya untuk berpanas-panas berdiri di atas bukit dan mencoba merekam seluruh keindahan yang terpampang di depan mata. Walaupun keringat deras mengucur :D

 

yes, I'm here
yes, I’m here

 

Setelah puas menikmati keindahan Pink Beach dari atas bukit, saya kemudian menuruni bukit untuk “pindah” ke bukit yang ada di seberangnya, di sisi kiri pantai. Menyeberangi pasir halus berwarna merah muda dan putih yang basah dan sedikit hangat, sambil melihat teman-teman yang sedang asyik ber-snorkling ria di bibir pantai, menyenangkan.

 

rasanya pengen guling-guling di pasir pink-nya :D
rasanya pengen guling-guling di pasir pink-nya :D

 

mencari tempat teduh biar ga gosong :D
mencari tempat teduh biar ga gosong :D

 

ga tau ini ganggang apa, tapi cantik
ga tau ini ganggang apa, tapi cantik

 

Di sisi kiri pantai, kembali saya melangkahkan kaki, menyusuri bukit tanah berdebu yang ditumbuhi ilalang yang mengering, dan beberapa perdu yang berusaha mendekap erat warna hijau daunnya di tengah kemarau yang panjang ini. Kaki saya akhirnya tiba di puncak bukit, dan mata saya kembali disuguhi pemandangan yang tidak kalah cantiknya. Gradasi air laut, semburat merah muda di pasir, serta eksotisnya bukit yang mengering berwarna coklat, sungguh bagaikan lukisan. Jadi menyesal, kenapa tidak dari dulu saya berani meng-explore bagian timur dari negeri tercinta ini???

 

pemandangan dari atas bukit di sisi kiri pantai juga tidak kalah indah lho...
pemandangan dari atas bukit di sisi kiri pantai juga tidak kalah indah lho…

 

ini trek yang harus dilalui untuk mendaki bukit di sisi kiri pantai
ini trek yang harus dilalui untuk mendaki bukit di sisi kiri pantai

 

Setelah mendapatkan beberapa frame terbaik dari atas bukit, kaki saya mulai melangkah menuruni bukit. Setiap kaki ini menjejak tanahnya, selapis debu coklat tipis akan naik dari permukaan, betapa kering dan gersangnya bukit ini di tengah kemarau yang sangat panjang ini. Saya membayangkan alangkah hijaunya bukit ini dan bukit-bukit lain yang telah saya datangi pada musim penghujan. Pasti keindahannya akan memberikan kesan yang berbeda. Jadi timbul keinginan untuk datang kembali pada musim penghujan, untuk melihat hijaunya pulau dan bukit-bukit ini.

 

EVY_1562
bukit-bukitnya kering meranggas karena kemarau yang sangat panjang

 

EVY_1564
rela panas-panasan mendaki bukit ini demi pemandangan yang ajib

 

EVY_1565

masih tersisa beberapa perdu dan pohon hijau di tengah kekeringan ini

 

Akhirnya saya menghentikan langkah di bawah sebatang pohon yang cukup lah menghalau sinar matahari yang sedang garang-garangnya ini. Bergabung dengan teman-teman yang juga sedang menghindari sinar matahari yang cukup bikin kulit terasa seperti dicubit-cubit :D

 

EVY_1570
nonton yang sedang berenang aja, panasnya itu lho……

 

EVY_1569

takjub, liat mereka tahan berpanas-panasan

 

Duduk-duduk di dahan sebuah pohon besar yang tumbuh di pinggir pantai, sembari bercanda dengan teman-teman, dan menunggu teman-teman yang masih asyik berenang, menikmati pemandangan laut yang luar biasa indahnya, dan merasakan hembusan angin laut yang makin lama makin membuat mata saya semakin redup, ngantuk! :D

Dan akhirnya karena akan mengejar sunset di suatu tempat yang tidak kalah eksotis dan indah, kami pun kembali ke kapal untuk meneruskan pelayaran ini (ish…. istilahnya “pelayaran ini” berasa naik cruise wisata yang gede itu :D). See you again Pink Beach…. I will see you again, someday.

 

hanya jejak kaki yang ditinggalkan, beserta kenangan akan indahnya pantai ini
hanya jejak kaki yang ditinggalkan, beserta kenangan akan indahnya pantai ini

 

 

 

 

 

 

Menjenguk Eksotisme Pulau Kenawa

 

EVY_1314

 

“Perjalanan itu bukan hanya pergi dari satu tempat ke tempat yang lain. Tapi lebih pada pengalaman apa yang didapat”

 

Berbekal rasa penasaran dengan keindahan dan eksotisme dari wilayah Timur Indonesia tercinta ini, akhirnya saya mempertimbangkan ajakan seorang teman untuk mengikuti trip Sailing Komodo selama 4 hari 3 malam.

Setelah berburu tiket pesawat untuk pergi ke Lombok dan pulang dari Labuan Bajo, saya pun tinggal menghitung hari keberangkatan yang membuat adrenalin saya semakin terpacu.

 

Hari yang ditunggu-tunggu tiba. Sabtu, 10 oktober 2015.

Pukul 3 subuh, taxi yang saya tumpangi sudah meluncur menuju bandara Soekarno Hatta. Jalanan Jakarta cukup ramai, namun lengang. Setelah check in bagasi, saya langsung menuju gate keberangkatan. Menunggu jam keberangkatan yang masih cukup lama saya isi dengan membaca “Titik Nol”. Ruang tunggu bandara kali ini lumayan ramai, sembari membaca saya menyempatkan untuk mengamati sekitar, dan akhirnya saya tertunduk khusyuk dengan kalimat-kalimat yang tertulis di dalam buku “Titik Nol” yang berada di atas pangkuan saya.

 

berangkat subuh, dan laper.... jadilah koki gendut ini untuk mengganjal perut :D
berangkat subuh, dan laper…. jadilah koki gendut ini untuk mengganjal perut :D ditemani dengan Titik Nol yang bercerita tentang perjalanan

 

Saya baru mengangkat wajah saat sepasang kaki mendekat, dan tepat sebelum saya terkejut (akan dikejutkan tepatnya). Ciwi hanya meringis karena gagal untuk mengejutkan saya :D

Sambil menungg boarding, saya akhirnya ngobrol dengan Ciwi. Sambil sesekali celingak-celinguk mencari teman-teman yang akan sama-sama berangkat menuju Lombok.

Di grup WA, beberapa teman juga ternyata 1 pesawat dengan saya dan Ciwi. Tapi…… di ruang tunggu ini saya ga bisa menemukan mereka :D

 

Waktu boarding tiba. See you again Jakarta…… Hello Praya…….

Flight kali ini lumayan panjang, sekitar 2 jam perjalanan.

Sambil menikmati pemandangan dari udara melalui jendela di sebelah kiri saya, saya kembali asyik dengan catatan “Titik Nol”. Hingga tak terasa, pesawat akan segera mendarat di bandara Praya, Nusa Tenggara Barat. Hello Lombok………

 

menu kesukaan kalau flight pagi, omelet :)
menu kesukaan kalau flight pagi, omelet :)

 

nuntasin "Doea Tanda Mata" selama di pesawat
nuntasin “Doea Tanda Mata” selama di pesawat

 

Hello Praya....... finally meet you :)
Hello Praya……. finally I meet you :)

 

Yeay, I'm on Praya...... let's the journey start....
Yeay, I’m on Praya…… let’s the journey begin….

 

Menurut informasi via grup WA, di bandara ini kami akan dijemput oleh trip organizer yang menyelenggarakan Sailing Komodo ini. Hingga akhirnya muncul sebuah gambar bus berwarna biru lengkap dengan nomor platnya di grup WA. Okay, setelah memberi beberapa cemilan di mini market yang harganya premium di depan pintu masuk bandara, dan setelah bertemu dengan beberapa teman yang akan menjadi teman seperjalanan selama 4 hari 3 malam nanti, akhirnya kami beranjak menuju parkiran untuk mencari bus yang akan mengantarkan rombongan ini menuju pelabuhan Kayangan di Lombok Timur.

 

ini nih bus yang akan mengantarkan kami menuju Pelabuhan Kayanga di Labuhan Lombok
ini nih bus yang akan mengantarkan kami menuju Pelabuhan Kayanga di Labuhan Lombok courtesy by Wuki Traveller

 

siap berangkat.......... let's go!!!
siap berangkat………. let’s go!!!

 

Cuaca di pagi menjelang siang di Lombok saat itu lumayan cerah (kalau ga mau dibilang panas :D). Mataharinya cetar banget, bersinar dengan semangat membara. Membuat ubun-ubun terasa berdenyut-denyut…. Hehehehehe….

 

barisan pertokoan dengan warna-warna cerah menghiasi sisi jalan menuju pelabuhan
barisan pertokoan dengan warna-warna cerah menghiasi sisi jalan menuju pelabuhan

 

ternyata masih ada areal yang menghijau di musim kemarau yang sangat panjang ini
ternyata masih ada areal yang menghijau di musim kemarau yang sangat panjang ini

 

Perjalanan dari bandara menuju pelabuhan memakan waktu sekitar 2 jam. Dari Lombok bagian Barat menuju Lombok Timur. Melewati areal persawahan, perumahan penduduk, pertokoan, pasar tradisional dan tanah lapang yang terlihat didominasi warna kuning kecoklatan, pengaruh dari musim kemarau yang sangat panjang ini. Perjalanan kami sempat tersendat saat melewati kawasan pasar tradisional. Kendaraan saling bersaing ingin cepat melewati kemacetan, sementara badan jalan yang bisa digunakan sedikit mengecil dengan adanya berbagai pedagang di pinggirnya. Melihat berbagai buah dan sayuran yang dijual di pinggir jalan, dalam cuaca yang aduhai panasnya, membuat saya menelan liur, membayangkan segarnya potongan semangka melewati kerongkongan…. Sluuuurrrrpppp…..

 

pasar tradisional dengan aneka sayur dan buah yang bikin liur menetes di tengah hari itu
pasar tradisional dengan aneka sayur dan buah yang bikin liur menetes di tengah hari itu

 

siang itu, jalanan yang membelah pasar tradisional di Lombok terlihat cukup padat
siang itu, jalanan yang membelah pasar tradisional di Lombok terlihat cukup padat

 

Sekitar pukul 11.35 waktu setempat, kami pun tiba di Pelabuhan Kayangan, di daerah Labuhan Lombok, Lombok bagian Timur.

 

mendekati areal pelabuhan, kembali menyaksikan areal tanah kering dengan 1-2 pohon yang meranggas
mendekati areal pelabuhan, kembali menyaksikan areal tanah kering dengan 1-2 pohon yang meranggas

 

pintu gerbang menujuu pelabuhan, yeeaaayyyy..... sampe.....
pintu gerbang menujuu pelabuhan, yeeaaayyyy….. sampe…..

 

cuaca di pelabuhan, terik!!!
cuaca di pelabuhan, terik!!!

 

Turun dari bus, langsung dikecup dengan sinar matahari yang panasnya cetar membahana :D

Kapal yang akan menjadi “rumah” saya dan teman-teman selama 4 hari ke depan sudah bersandar di sisi pelabuhan. Menurunkan ransel, dan perlengkapan yang akan menjadi bekal kami selama berlayar, dan kemudian satu-persatu kami menaiki kapal berwarna putih coklat itu.

 

itu kapal Halma Jaya, rumah kami selama 4 hari ke depan
itu kapal Halma Jaya, rumah kami selama 4 hari ke depan

 

dan ini adalah sebagian perbekalan kami untuk 4 hari selama berlayar
dan ini adalah sebagian perbekalan kami untuk 4 hari selama berlayar

 

Dan, kami siap berlayar…………… (mendadak inget lagu Popeye the Sailorman) :D hehehehehe….

 

kapal Halma Jaya mulai bergerak meninggalkan pelabuhan Kayangan, Labuhan Lombok
kapal Halma Jaya mulai bergerak meninggalkan pelabuhan Kayangan, Labuhan Lombok

 

pemandangan sepanjang perjalanan menuju Pulau Kenawa
pemandangan sepanjang perjalanan menuju Pulau Kenawa

 

yang bilang Indonesia ga indah, ga eksotis, sebaiknya periksa mata deh :p
yang bilang Indonesia ga indah, ga eksotis, sebaiknya periksa mata deh :p

 

sejauh mata memandang, ga ada yang ga indah
sejauh mata memandang, ga ada yang ga indah

 

Baru naik ke kapal, dan kapal mulai bergerak mengikuti ombak, para mas-mas ABK sudah menyediakan jamuan makan siang. Wah….. siang ini makannya sambil menikmati hembusan angina laut ditemani riak gelombang Laut Bali menuju Pulau Kenawa. Menu nasi putih hangat, sayur kol, plus ayam sungguh membuat mulut mengecap tak berhenti. Nikmatnya……….

 

menu makan siangnya yummy banget.... makasih mas-mas ABK....
menu makan siangnya yummy banget…. makasih mas-mas ABK….

 

laut yang sedikit bergelombang menemani perjalanan kami di siang itu
laut yang sedikit bergelombang menemani perjalanan kami di siang itu

 

Selesai makan siang, kami saling ngobrol di dek utama kapal Halma Jaya (itu nama kapal yang kami naiki selama sailing ini). Dan tak lama kemudian, kami tiba di tujuan pertama perjalanan ini, Pulau Kenawa. Pulau Kenawa merupakan bagian dari Pulau Sumbawa, NTB. Pulau ini adalah pulau kosong dengan sebuah bukit penuh perdu ilalang sebagai maskotnya. Pasir yang ada di pantainya terdiri dari pasir putih dengan butiran halus, begitu kontras dengan gradasi air laut, hijau terang, toska dan biru. Dan mata akan sangat termanjakan dengan pemandangan itu.

 

pasir putih halus, bersanding dengan air laut yang jernih bergradasi hijau biru
pasir putih halus, bersanding dengan air laut yang jernih bergradasi hijau biru

 

welcome to Kenawa island
welcome to Kenawa island

 

ilalang yang mengering membuat sepanjang bukit terlihat eksotis
ilalang yang mengering membuat sepanjang bukit terlihat eksotis

 

I'm here
I’m here

 

sebelum mendaki bukit batu yang menjadi ikonnya Pulau Kenawa, beberapa teman menyempatkan untuk ber-snorkling ria di sepanjang pantai
sebelum mendaki bukit batu yang menjadi ikonnya Pulau Kenawa, beberapa teman menyempatkan untuk ber-snorkling ria di sepanjang pantai

 

entah lah... pada galau soal apa? snorkling-nya 5 menit, 1 jamnya duduk mandangin laut :p
entah lah… pada galau soal apa? snorkling-nya 5 menit, 1 jamnya duduk mandangin laut :p

 

panasnya cetar.... bikin ga bisa melek :D
panasnya cetar…. bikin ga bisa melek :D

 

yang lain udah basah-basah abis snorkling, saya sih nggak :p
yang lain udah basah-basah abis snorkling, saya sih nggak :p

 

Menaiki bukit batu berpasir dengan ilalang yang mengering, ditemani angin sepoi-sepoi dan sayup-sayup suara deru gelombang yang pecah di pantai, hmm….. membuat perjalanan di sore itu sangat nikmat. Yah…. walau dengan napas yang sedikit memburu karena ternyata setelah dijalani, menaiki bukit batu yang terlihat landai itu ternyata membutuhkan stamina dan kekuatan kaki + dengkul yang cukup lumayan. Mendaki selama kurang lebih 30 menit, saya tiba pada sisi bukit yang lumayan landai dan lumayan luas. Melihat ke depan, masih ada tanjakan untuk mencapai puncak, tapi saya sudah sangat nyaman di bagian bukit yang sedang saya tapaki ini, akhirnya saya memutuskan untuk stay di situ saja, tanpa melanjutkan ke puncak.

 

IMG_5935
hei, I’ll wait for you here…

 

padang ilalang kering, gazeebo, laut jernih dan langit biru...... I love you......
padang ilalang kering, gazeebo, laut jernih dan langit biru…… I love you……

 

gazeebo kecil terlihat di sepanjang pantai di Pulau Kenawa
gazeebo kecil terlihat di sepanjang pantai di Pulau Kenawa

 

EVY_1312
cuma 1 kata, INDAH!

 

EVY_1321
sepanjang mata memandang, hanya warna coklat eksotis yang terlihat

 

gegayaan, selfie di bukit yang ada di Pulau Kenawa
gegayaan, selfie di bukit yang ada di Pulau Kenawa

 

yeay!!! kita udah sampe di sini, kamu kapan????
yeay!!! kita udah sampe di sini, kamu kapan????

 

yihaaaaa!!! We're on Kenawa!!!
yihaaaaa!!! We’re on Kenawa!!!

 

Memandang hamparan bukit berbatu dengan ilalang dan perdu yang mengering, kecoklatan, membuat eksotis bukit di Pulau Kenawa sore itu. Di sepanjang tepian pantai, terlihat beberapa gazeebo yang bisa digunakan untuk beristirahat. Hampir seluruh ilalang yang ada di Pulau Kenawa coklat mengering, hanya beberapa yang masih menyisakan sedikit warna hijau kekuningan. Pemandangan bukit dengan ilalang yang mengering ini sungguh sangat indah, eksotis. Mungkin beberapa orang yang hanya melihat foto tempat ini tidak akan yakin bahwa ini adalah Indonesia. Feels like in Africa!!

 

EVY_1313
musim kemarau yang sangat panjang membuat hampir seluruh ilalang dan perdu di Pulau Kenawa kering

 

EVY_1306
mari mendaki bukit itu, dan menikmati sunset di sana

 

EVY_1325
sisi kiri dari Pulau Kenawa, dilihat dari bukit batu

 

Sore itu kami akan menikmati sunset Indah dari Pulau Kenawa.

Perlahan langit mulai berwarna jingga keemasan, dan matahari pun tampak semakin rendah mendekati garis cakrawala. Cahaya kuning jingga keemasan itu pun perlahan semakin redup, sebelum kemudian menghilang di balik gumpalan awal tebal di sisi Barat.

 

senja itu, mataharinya terasa hangat
senja itu, mataharinya terasa hangat

 

segumpal awan tebal menjadi peraduan matahari senja itu
segumpal awan tebal menjadi peraduan matahari senja itu

 

Seiring kembalinya sang surya ke peraduan, kami pun bergerak menuju kapal untuk melanjutkan perjalanan. Besok, rencananya kami akan mengunjungi Pulau Moyo dan Satonda yang indah itu. Ada apa ya di sana?

Penasaran kan……..

 

DCIM100GOPROGOPR0678.
ahahahahaha….. itu pada ngapain sih???

 

EVY_1324
senja, bukit eksotis, dan teman-teman yang menyenangkan, what a perfect journey ^.*

 

EVY_1336
menikmati senja, menunggu matahari terbenam di sisi Barat

 

see you Kenawa.... I'll be back someday
see you Kenawa…. I’ll be back someday