Tag Archives: Indonesia

Serenceng Dongeng di Tepi Sungai Thames

IMG_0901

 

Ariel: “Haaa, itu dua pangeran Bantam yang bikin seantero kota demam!
Sungguh beda dari lakon tokohmu, Caliban, mereka tak bertaring pun berbulu! Yang dibayangkan Shakespeare tentang orang Timur, huh, ternyata ngawur!”

Caliban: “Sebaliknya, mereka nampak beradab. Lihat berdirinya — sungguh tegap! Dari ujung sorban hingga ujung kasut, sutra Shantung membalut Pisau kesatria yang disebut keris? Bertahta berlian, safir, dan amethyst!” (diambil dari cuplikan percakapan pentas Serenceng Dongeng di Tepi Sungai Thames by Teater Koma)

 

IMG_0834
Sungai Thames, 29 April 1702

 

IMG_0840
nona muda, menunggu perahu

 

IMG_0837
dan tukang perahu pun melintasi di depan Pelabuhan Sandar Eriht

 

IMG_0851
Pelabuhan Sandar Erith

 

29 April 1702, Pelabuhan Sandar Erith

Hari masih pagi. Perahu-perahu hilir mudik di sepanjang Sungai Thames – sungai sepanjang 346 km yang membelah Kota London. Seorang wanita muda, cantik, terlihat bingung di tepi dermaga. Sebuah perahu mendekat dan menawarkan tumpangan. Akan ke mana kah wanita itu pergi? Ternyata wanita muda itu ingin pergi ke Bantam! Sebuah negeri nun jauh di seberang samudra.

 

IMG_0843
“Akan ke manakah nona muda?”

 

IMG_0844
“Bantam, apakah nona muda yakin akan ke sana?”

 

Tukang perahu berusaha mencari tahu, apa yang menjadi alasan wanita muda ini ingin pergi ke Bantam? Ternyata… kisah kemakmuran dan kejayaan Kesultanan Bantam telah sampai ke dataran Eropa. Bagaimana kesultanan itu berhasil memakmurkan rakyatnya sehingga banyak Negara-negara lain yang berusaha menjalin kerjasama dengannya.

 

IMG_0845
“Mengapa nona muda sangat ingin ke Bantam?”

 

IMG_0846
“Aku ingin mengunjungi negeri yang kaya dan makmur di seberang lautan sana, tolong antarkan”

 

IMG_0850IMG_0849

 

IMG_0852
“Nona lihat lah, di sana, ada kapal duta besar utusan Kerajaan bantam yang sedang bersandar. Nona lihat mereka?”

 

Mendengar keinginan sang wanita muda, tukang perahu pun bercerita, bagaimana jayanya Kesultanan Bantam tersebut.

 

IMG_0862
“Pada saat itu, Banten merupakan sebuah kesultanan yang sangat jaya…..”

 

London, 29 April – 5 Juli 1682

Kegemparan terjadi di London! Sebuah kapal besar dari Kesultanan Bantam (Banten) berlabuh dan turunlah dua utusan dari Sultan Banten. Mereka adalah (1) Pangeran Kyai Ngabehi Naya Wipraya dan (2) Pangeran Kyai Ngabehi Jaya Sedana. Mereka menyampaikan niat untuk bersekutu dengan Inggris di timur-jauh untuk bersama-sama melawan VOC Olanda. Rombongan ini diterima oleh Raja Karel II di Istana Windsor. Kedua utusan Banten tersebut kemudian dianugrahi gelar kehormatan “Sir Abdul” dan “Sir Achmet”.

 

IMG_0311
Kapal inilah yang mengantarkan rombongan Kesultanan Bantam hingga ke London

 

IMG_0855
The King!

 

IMG_0861
Yeeeaaayyyy!!!

 

Kedua duta besar itu, membangun hubungan diplomatik dengan berkunjung ke pembesar-pembesar kerajaan dan maskapai perdagangan Inggris – yang memiliki kantor perwakilan dan gudang di Banten, melakukan kunjungan ke gedung pusat pemerintahan kerajaan di Westminter, menyaksikan komedi “The Tempst of Shakespeare”, serta berjalan-jalan menyusuri Sungai Thames.

Utusan dari Kesultanan Banten membawa tak kurang dari 200 kantong lada serta intan permata, dan 33 pelayan sebagai hadiah untuk Raja Britania. Dan, Raja Charles II bahkan hingga dua kali menjamu rombongan dari Kerajaan Banten di istananya!

 

IMG_0863
I am the King!

 

IMG_0864
And, I am Chef

 

IMG_0865
Ouch, banyak sekali tagihannya….

 

Kedatangan dua pangeran utusan Kesultanan Banten tersebut membuat London heboh. Ketenaran akan kejayaan dan kekayaan Banten membuat banyak banyak cerita di London, hingga banyak yang ingin datang dan melihat sendiri kejayaan Banten yang terletak nun jauh di seberang lautan.

 

IMG_0862
Rombongan Kesultanan Bantam membawa tak kurang 200 kantong lada serta intan permata

 

IMG_0872
Di sinilah pertunjukan William Shakespeare diadakan, bercerita tentang betapa jayanya Kerajaan Bantam

 

Kejayaan Banten a.k.a Bantam juga dikisahkan dalam beberapa karya sastra Eropa klasik:

  • “Agon, Sulthan van Bantam” karya Onno Zwier van Haren (1713-1779);
  • “Love for Love” karya William Congreve (1695);
  • “The Court of the King of Bantam” karya Aphra Johnson Behn(1698).

 

IMG_0874
Shakespeare menggambarkan utusan dari Bantam seperti Caliban

 

IMG_0875
Caliban yang ini hobinya selfie :D

 

IMG_0883
Terjadi perang antara Sultan Tua dan Sultan Muda

 

Banten, 1682-1684

Sementara itu, di Banten sendiri sebenarnya sedang terjadi perang dingin antara ayah dan anak. Sultan Ageng Tirtayasa, raja Banten pada saat itu, yang berhasil membawa Banten pada kejayaannya, yang berhasil menjalin hubungan mesra dengan Inggris, Perancis, dan Denmark, serta bekerjasama dengan Kesultanan Makasar, Aceh, Turki dan Mekkah, sedang mengalami hubungan yang sulit dengan anaknya, Sultan Haji (Sultan Abdul Kahar Aboen Nassar).

Di bawah kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa, Kota Banten mengalami perkembangan yang pesat. Kanal-kanal yang ada diperlebar dan didalamkan sehingga kapal dagang dapat berlabuh. Armada laut yang modern, hingga swasembada beras karena sawah dan irigasi yang digarap dengan sangat baik. Banten mulai memperkenalkan koin mas sebagai alat untuk berjual beli. Benteng di Banten diperkuat dengan bastion, yang dilengkapi dengan 66 meriam!

 

IMG_0885
Sultan Tua

 

IMG_0886
Sultan muda

 

Kejayaan Banten akhirnya terkoyak dengan terjadinya perang antara Sultan Tua (Sultan Ageng Tirtayasa) yang jengah dengan kelakuan Sultan Muda (Sultan Haji a.k.a Sultan Abdul Kahar Aboen Nassar). Dan akhirnya perang antara bapak dan anak pun terjadi. Sultan Ageng Tirtayasa dibantu oleh Syekh Yusuf dari Makasar melawan Sultan Haji yang dibantu sepenuhnya oleh VOC Olanda. Tentu saja bantuan dari VOC itu tidak gratis, syarat yang diberikan adalah Sultan Haji harus memberikan Lampung, sebagai penghasil lada kepada VOC. Sultan Ageng terdesak dan melarikan diri, Istana Tirtayasa dikuasai oleh Sultan Haji dan VOC.

 

IMG_0889
Sultan Ageng tidak bisa menandingin Sultan muda, dan akhirnya melarikan diri

 

1683 – 1684, terjadi pengejaran besar-besaran terhadap Sultan Ageng. Hingga akhirnya pada 14 Maret 1683, Sultan Ageng tertangkap dan ditahan di Batavia. Kemudian pada Mei 1683, giliran Syekh Yusuf yang tertangkap, dan setahun kemudian Pangeran Purbaya juga tertangkap.

1684, Banten menandatangani perjanjian damai dengan VOC Olanda, menjadi awal monopoli VOC dan hilangnya kedaulatan Banten.

65ff002f6296043df707ecee151d7b26
Wilayah Kesultanan Banten, terbentang hingga ke Lampung (sumber: https://edu.hstry.co/timeline/bandar-bantam-nan-kosmopolitan)

 

 

 

 

Pergilah ke Baduy, dan Rasakan Pengalaman yang Berbeda

100_6263

Baduy, merupakan salah satu kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda yang menetap di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Populasinya saat ini berkisar antara 5.000 – 8.000 orang. Suku Baduy merupakan salah satu suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar. Suku Baduy lebih suka menyebut dirinya sebagai Urang Kanekes, yang berarti orang Kanekes atau Urang Cibeo, sesuai dengan kampung di mana mereka menetap (https://id.wikipedia.org/wiki/Urang_Kanekes).

Secara geografis, wilayah Kanekes terletak pada koordinat 6°27’27” – 6°30’0” LS dan 108°3’9” – 106°4’55” BT (Permana, 2001). Pemukiman mereka terletak tepat di kaki pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, Banten, sekitar 40 km dari Kota Rangkasbitung. Wilayah ini terletak sekitar 300-600 mdpl, memiliki topografi berbukit-bukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45°, yang merupakan tanah vulkanik (bagian utara), tanah endapan (bagian tengah) dan tanah campuran (bagian selatan), dengan suhu rata-rata sekitar 20°.

IMG_2594
Peta Kampung Cikesik Baduy Dalam

Terdapat 3 desa utama yang menjadi daerah populasi orang Kanekes, yaitu: Cikeusik, Cikertawana dan Cibeo.

Saya merasa beruntung sudah pernah menginjakkan kaki di desa yang menurut saya sangat nyaman itu. Tapi, sebelum saya bercerita tentang perjalanan seru menuju Desa Cibeo, ga ada salahnya kalau kita sedikit belajar mengenai suku Baduy/Kanekes ini.

Secara physically, penampilan orang Kanekes tidak berbeda dengan orang Sunda. Yang menjadi perbedaan mendasar mereka adalah kepercayaan dan cara hidupnya. Orang Kanekes menutup diri terhadap pengaruh dunia luar dan secara ketat menjaga cara hidup mereka, sementara orang Sunda lebih terbuka terhadap dunia luar dan mayoritas merupakan umat muslim.

Secara umum, masyarakat Kanekes terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu: Tangtu, Panamping dan Dangka (https://id.wikipedia.org/wiki/Urang_Kanekes). Apa itu Tangtu? Panamping? Dangka?

Menurut informasi yang saya temukan di internet, kelompok Tangtu merupakan kelompok Kanekes Dalam (Baduy Dalam), merupakan kelompok yang paling ketat menjaga adat-istiadatnya, dan mereka menetap di 3 desa yang telah saya sebutkan di atas, Cibeo, Cikertawana dan Cikeusik. Ciri khas mereka adalah pakaian yang mereka kenakan, bewarna putih alami dan biru tua (warna tarum) serta memakai ikat kepala putih. Mereka juga dilarang secara adat untuk bertemu dengan orang asing.

Selain itu, ada beberapa larangan yang harus dipatuhi oleh kelompok Tangtu, yaitu:

  1. Tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk sarana transportasi;
  2. Tidak diperkenankan menggunakan alas kaki;
  3. Pintu rumah harus menghadap ke utara/selatan (kecuali rumah sang Pu’un atau ketua adat);
  4. Larangan menggunakan alat elektronik (teknologi);
  5. Menggunakan kain berwarna hitam/putih sebagai pakaian yang ditenun dan dijahit sendiri serta tidak diperbolehkan menggunakan pakaian modern.

Kelompok kedua, yaitu Panamping, merupakan mereka yang dikenal sebagai Kanekes Luar (Baduy Luar), yaitu kelompok yang tinggal di berbagai kampung yang mengelilingi wilayah Kanekes Dalam, seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh dan lain-lain. Ciri khas mereka mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna biru gelap (warna tarum).

Panamping/Kanekes Luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Kanekes Dalam. Ada beberapa hal yang membuat mereka dikeluarkan dari kelompok Tangtu/Kanekes Dalam, misalnya:

  1. Melanggar adat masyarakat Kanekes Dalam;
  2. Berkeinginan keluar dari Kanekes Dalam;
  3. Menikah dengan anggota Kanekes Luar.

Adapun ciri-ciri dari Panamping atau orang Kanekes Luar, adalah:

  1. Mengenal teknnologi, misalnya peralatan elektronik;
  2. Proses membangunan rumah penduduk Kanekes Luar menggunakan alat bantu, seperti gergaji, palu, paku dan lain sebagainya;
  3. Menggunakan pakaian adat berwarna hitam atau biru tua (untuk laki-laki), atau pakaian modern lainnya;
  4. Menggunakan peralatan rumah tangga modern, seperti kasur, bantal, piring dan gelas kaca;
  5. Tinggal di luar wilayah Kanekes Dalam;
  6. Kepercayaan mereka telah berganti dengan memeluk agama tertentu, mayoritas menjadi muslim.

Sedangkan kelompok ketiga yang disebut Dangka, merupakan kelompok yang tinggal di luar kedua wilayah Kanekes tadi. Saat ini mereka menetap di 2 kampung yang ada, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam).

IMG_2592
let’s start the journey

 

IMG_2607
dengan modal Rp 5.000 perjalanan dimulai dengan kereta ekonomi ini

Saat saya mengunjungi Baduy/Kanekes beberapa waktu yang lalu, perjalanan saya dimulai dari Stasiun Tanah Abang, di hari Jumat sore. Sepulang dari kantor, dengan menggendong si merah, saya tiba di Stasiun Tanah Abang yang saat itu cukup ramai. Bermodalkan tiket seharga Rp 5.000, tepat pukul 17.30 wib kereta yang saya dan teman-teman tumpangi bergerak meninggalkan stasiun. Memakan waktu sekitar 1 jam 30 menit, kereta yang kami tumpangi akhirnya tiba di Stasiun Rangkasbitung. Saat kami tiba di sana, hari sudah mulai gelap, dan di sepanjang pintu keluar dari stasiun ramai pengendara ojek dan kernet elf yang menawarkan tumpangan menuju desa-desa yang ada di sekitar Rangkasbitung.

Saya dan teman-teman yang telah tiba di stasiun kemudian menuju sebuah warung makan yang terletak tidak jauh dari stasiun untuk mengisi perut yang sudah keroncongan, sembari menunggu teman kami yang akan tiba dengan kereta selanjutnya (perjalanan kali ini, karena merupakan perjalanan dengan sharing cost, jadi kami hanya berjanji untuk bertemu di meeting point dan untuk yang telat harus menerima resiko ditinggal dan menyusul sendiri menggunakan kereta selanjutnya).

Setelah teman yang ditunggu tiba, kami masih harus melanjutkan perjalanan sekitar 40 km lagi menuju Desa Ciboleger yang merupakan pintu gerbang untuk masuk ke Baduy Dalam. Perjalanan bisa ditempuh menggunakan elf yang banyak terdapat di sekitar stasiun/pasar di mana saya dan teman-teman berkumpul. Untuk tarifnya, tidak ada tarif yang pasti, semua harus dinegosiasikan dengan pengemudi elf. Waktu itu saya dikenakan tariff Rp 20.000/orang dengan alasan sudah malam dan penumpangnya hanya rombongan kami.

Menikmati perjalanan dari pasar menuju Desa Ciboleger di malam itu, dengan jalanan yang sedikit berliku, ditemani hembusan angin dan suara binatang malam serta teman-teman seperjalanan yang menyenangkan, membuat perjalanan hampir 2 jam itu tidak terasa. Dan menjelang tengah malam, kami pun tiba di Desa Ciboleger. Kami turun di tengah lapangan dengan monumen “Selamat Datang di Ciboleger” yang lengkap dengan patung keluarga petani.

IMG_2609
Selamat Datang di Ciboleger

Seorang pemandu dari Baduy Luar sudah menunggu kami dan siap mengantarkan kami ke rumahnya untuk bermalam (dan saya lupa siapa nama si akang itu, yang jelas keluarga akang sangat baik menyambut kedatangan kami). Malam itu kami menginap di rumah akang guide yang baik itu. Rumahnya tidak seberapa jauh dari lapangan, hanya perlu mencari gang kecil yang terletak di samping warung makan, berjalan sekitar 50 meter, tiba lah kami di sebuah rumah panggung kayu berdinding bilik.

Kami dipersilakan masuk oleh istri dan orang tua dari akang guide, dan di dalam telah tersedia minuman hangat. Malam itu, sebelum beristirahat, kami isi dengan saling bercerita dan berkenalan dengan keluarga si akang guide hingga kantuk datang.

Malam berganti subuh, suara ayam jago berkokok saling bersahutan membangunkan saya pagi itu. Sembari berjalan menuju sebuah mushola di dekat lapangan, saya dengan rakusnya berusaha menghirup udara segar sebanyak-banyaknya, mengisi paru-paru, mencucinya dari udara penuh polusi yang saya hirup setiap hari. Dan ternyata, air di Desa Ciboleger itu sangat dingin. Sempat tercekat saat air dingin itu menerpa wajah. Tapi efeknya, mata langsung segar dan rasanya ingin langsung mandi :D

Dan pagi itu, setelah mandi, segarnya luar biasa!

100_6261
di sini lah kami mengsnap di Ciboleger

 

IMG_9895
pagi-pagi setelah sarapan, yang paling menyenangkan adalah ngobrol dengan para sahabat

Melihat geliat kehidupan di Desa Ciboleger di awal pagi hari itu, anak-anak berseragam Pramuka yang berlarian menuju sekolahnya, ibu-ibu menjunjung tampah besar berisi aneka sayuran, serta para bapak dengan cangkul di tangan. Setelah sarapan, kami pun memulai perjalanan menuju Baduy Dalam dipandu akang guide. Niat awalnya, kami tidak akan menggunakan porter untuk perjalanan sekitar 12 km ini. Carrier, perbekalan makanan dan lain-lain akan dibawa sendiri.

baduy 2
sebelum berangkat ke Baduy Dalam, senyumnya masih lebar :D

 

100_6260
mumpung masih ada sinyal :D

Perjalanan dimulai dengan menapaki jalanan tanah yang sedikit menanjak. 15 menit pertama, senyum masih tampak di wajah, walau keringat sebesar biji jagung mulai mengalir cantik di sisi wajah. Mungkin kami baru menempuh jarak 1 km ketika akhirnya memutuskan “kita pake porter aja ya….” :D

8
1 kilo pertama, dan kami………. cari porter ajaaaaa…… :p

 

100_6264
jalannya masih jauh……..

 

100_6269
menunggu akang-akang porter yang bantuin bawa carrier ke Baduy Dalam

 

IMG_9894
tuh, carrier kita disusun begitu dan kemudian dipikul sama akang porter

 

IMG_9885
ga kuat mikul carrier-nya :D

Untung akang guide baik hati dan langsung menelpon beberapa temannya. Sambil menunggu teman-teman akang guide, saya dan teman-teman memanfaatkan waktu untuk istirahat dan goler-goler di sebuah tanah datar, di sebuah kebun pisang.

Walaupun akhirnya carrier dan semua bawaan kami dibawa oleh porter, bukan berarti perjalanan menjadi mudah (untuk saya). Medan yang terdiri dari jalanan tanah, yang terkadang berbatu dan menanjak, membuat langkah kami tidak bisa menyaingi kecepatan langkah akang-akang porter dan tentu saja akang guide.

IMG_9884
ini udah tanpa carrier ya…. masih juga kepleset-pleset

 

564730_10151089210187336_1453513156_n
walau capek, tiap liat kamera, senyumnya lebar…….

 

556685_4261229336476_1791755630_n
mulai ketemu tanah lapang yang ga ada pohonnya

Saya yang hanya membawa kamera dan sebuah drybag berisi dompet, cemilan dan persediaan air minum, ternyata masih kalah cepat langkahnya dari akang porter yang memikul carrier kami. Dengan 2 carrier yang dipikul menggunakan bantuan sebuah kayu, akang porter bisa bergerak lincah dan cepat menapaki jalan tanah, dan tanpa alas kaki! Sementara saya, terkadang harus rela sedikit menggelinding karena terpeleset saat meniti jalanan tanah yang menanjak.

552000_3369012558071_1855521431_n
huft… huft… jalannya naik terus ya………

 

551887_10151089211787336_1652007402_n
muka merah, keringat ngucur, tiap liat kamera langsung pasang senyum lebar

Mulai dari kebun, hutan, tanah lapang yang gersang karena sedang menunggu untuk ditanami, perjalanan sekitar 12 km itu saya rasakan penuh warna. Merasakan panasnya matahari tepat di jam 12 siang, persis di tengah gundukan tanah lapang berbukit-bukit, dan tidak ada 1 pohon pun yang bisa dijadikan sebagai tempat berteduh. Bisa dibayangkan gimana rasanya? :D

100_6302
panasnya luar biasa…..

 

100_6303
akang guide aja kepanasan, apalagi kita :D

 

100_6301
gersang sebagian, hijau banyakan

 

100_6300
jalannya jauh…… turun naik…

100_6299 100_6297

 

100_6295
naik bukit, turun lembah, menyeberangi sungai, lewat hutan…

 

100_6294
rumah, lumbung padi, pepohonan, adem……..

 

100_6293
rumah-rumah di sana terbuat dari kayu, bambu, dengan dinding bilik dan atap rumbia

Untungnya teman-teman seperjalanan semua kompak dan helpful. Di saat ada teman yang kecapekan, semua setia menunggu, menemani, menyemangati dan terkadang ngejek juga. Perjalanan panjang kami akhirnya tiba di pintu masuk Baduy Dalam. Ketika sebuah jembatan bambu terlihat membelah sungai berair jernih. Dan setelah melewati jembatan itu, kami semua harus patuh dengan adat yang berlaku di sana, termasuk tidak menggunakan handphone, kamera dan teknologi lainnya. Memasuki lingkungan desa yang sepi, rumah-rumah kayu berdinding bilik, pohon bambu, jalanan tanah, unggas yang berlarian ke sana ke mari, anak-anak kecil dengan baju dan ikat kepala putih yang duduk di depan rumah, serta senyum ramah dari semua yang saya temui, membuat hati ini bahagia.

100_6304
siapa yang nolak pemandangan seperti ini di sepanjang perjalanan?

 

100_6311
dari sini, kedengaran suara gemericik air di sungai yang ada di bawah sana

 

100_6341
langit biru, pepohonan, suara burung, bikin betah

Kami diantar ke rumah Pu’un (dan lagi-lagi saya lupa namanya) untuk menginap di sana. Setelah berkenalan dengan seluruh keluarganya, Pu’un mengajak kami bercerita tentang adat yang berlaku di Baduy Dalam ini. Bagaimana orang Baduy Dalam hidup dengan berpedoman terhadap perilaku alam, petunjuk-petunjuk yang terdapat di langit, dan lain-lain. Saya takjub dengan perkiraan Pu’un terhadap waktu. Saat saya bertanya, saat itu sudah jam berapa, Pu’un hanya melihat ke arah matahari dan bayangan pepohonan di depan rumah, dan kemudian berkata “Sekarang sudah jam 4 sore”. Dan begitu saya melirik ke arah jam tangan yang saya kenakan, persis!

Ketika hari menjelang malam, pintu-pintu rumah pun mulai menutup. Cahaya matahari digantikan oleh cahaya bulan Purnama yang terlihat sangat terang. Bulatan kuning besar keemasan, seolah-olah berada persis di atas langit desa. Karena kami tidak boleh menggunakan teknologi (termasuk HP dan kamera), jadilah malam itu saya memuaskan mata dengan menikmati Purnama dari depan rumah bapak Pu’un.

Puas menikmati cahaya Purnama, saya beringsut masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah, istri Pu’un sibuk di depan tungku dapur, menjerang air. Saya dan teman-teman yang telah mempersiapkan perbekalan dari Baduy Luar, kemudian mempersiapkan makan malam. Nasi putih ditemani mie rebus serta telur rebus, menjadi menu kami malam itu. Menikmati makan malam dan ngobrol santai dengan keluarga Pu’un, tak terasa malam semakin gelap.

Ketika semilir angin dingin mulai terasa dari sela-sela dinding yang terbuat dari bilik, Pu’un pun mempersilakan kami untuk beristirahat. Saya segera mengeluarkan sleeping bag dan mengambil tempat paling pinggir, kemudian menarik ritsleiting hingga ke leher, dan sebentar saja, semua menjadi gelap.

Saya terbangun ketika merasakan ada sesuatu yang bergerak di bawah sleeping bag. Insting parno membuat saya langsung bangun dan melihat kaki kak Getmi + Watik yang berusaha mencari kehangatan di bawah sleeping bag saya. Tawa saya pecah di dini hari itu ketika mereka ngedumel “Epoy, kakinya jangan kabur-kaburan kenapa sih? Ini dingin tauk….. mau anget-angetan di bawah sleeping bag doang, malah kakinya pindah-pindah mulu”. Ahahahahahahahaha……

Di Baduy Dalam, udaranya memang dingin setelah lewat tengah malam. Dan angin lumayan kencang bertiup. Karena saya sudah diberi informasi oleh teman untuk membawa sleeping bag, Alhamdulillah tidur saya nyenyak dan aman dari dinginnya udara. Tapi ternyata tidak semua teman-teman membawa sleeping bag. Dan akhirnya dini hari itu terjadi kegaduhan kecil di mana teman-teman mulai ndusel-ndusel untuk mencari kehangatan. Teman-teman yang cowok, karena hanya bermodalkan jaket dan sarung, akhirnya memilih meringkuk di depan tungku di dapur supaya hangat :D

Pagi itu di Baduy Dalam, menikmati udara yang sangat segar, rasanya paru-paru saya mendadak seperti habis dicuci. Rasanya lapang dan lega……………

Menikmati teh dan kopi panas, sambil berbincang-bincang dengan Pu’un dan teman-teman lainnya, membuat pagi itu berbeda. Karena kami tidak ingin kesiangan tiba di Ciboleger, akhirnya setelah menikmati sarapan, kami pun berpamitan kepada Pu’un dan keluarganya.

100_6329
mengintip dari balik pintu

 

100_6385
membelah kayu sebaga bahan dasar membangun rumah

 

100_6338
rumahnya memang sederhana, tapi kaya rasa

 

100_6335
bapak ini dari Baduy Luar, membawa atap rumbia untuk rumah yang sedang dibangun

 

100_6331
budhe There, Tekol, kapan kita jalan bareng lagi

Melangkah kan kaki menapaki jalanan desa, diselingi ucapan selamat pagi dan senyum sumringah dari semua yang saya temui, membuat leher ini selalu ingin menoleh ke belakang. Kesederhanaan, apa adanya, dan keramahan seluruh masyarakat Baduy Dalam menimbulkan kesan yang tidak bisa diungkapkan. Dan perjalanan pulang menjadi lebih menyenangkan karena saya ditemani oleh beberapa adik kecil dari Baduy Dalam.

100_6315 100_6314

 

100_6313
akang ini dengan santai mikul 2 carrier + masih nggendong 1 ransel

 

100_6308
senyum ramah itu yang bikin selalu kangen dengan Baduy Dalam

 

100_6309
yang nganterin kita pulang ke Ciboleger rameeeee…..

Perjalanan pulang menjadi lebih ringan karena saya dan teman-teman bisa berbincang dan becanda dengan adik-adik kecil itu di sepanjang perjalanan. Yang saya salut, dalam fisik mereka yang masih anak-anak, ternyata stamina mereka sangat bagus. Berjalan dengan medan yang lumayan bervariasi, tanpa menggunakan alas kaki, dan mereka masih bisa berlari sambil menggendong ransel-ransel kecil kami (malu). Dan sewaktu saya bertanya apakah tidak capek? Jawab mereka dengan mata berbinar “Sudah biasa”.

100_6285
di tengah ladang, selalu ada rumah untuk berteduh

 

100_6288
lingkungannya teduh, asri, adem…

 

IMG_9872
pake acara loncat-loncat di batu yang ada di sungai lho….

Sekali lagi kami menyeberangi jembatan bambu, dan perkampungan dengan rumah-rumah kayu berdinding bilik. Senyum ceria dari adik-adik kecil yang bermain di sekitar rumah, wanita Baduy yang sedang menenun di teras rumahnya, serta kaum lelaki Baduy yang melakukan pekerjaan rutinnya.

100_6381 100_6380

 

100_6375
mari kita pulang…….

Mendekati Desa Ciboleger, saya tidak bisa menahan keinginan untuk melihat yang berujung dengan membeli sebuah kain tenun khas Baduy berwarna merah, lengkap dengan selendangnya.

100_6376
sampe di Kampung Gajeboh

 

100_6349
iri, melihat adik kecil ini dengan lincahnya menenun di teras rumahnya

 

100_6365
nah, kain tenunnya dibuat dengan ATBM, jadi kalo beli, nawarnya jangan kelewatan ya…

 

IMG_2608
ini tenun Baduy yang menjadi pilihan saya

 

IMG_2605
mari dipilih….

Selesai sudah perjalanan saya di Baduy, perjalanan yang meninggalkan rasa bahagia dan keinginan untuk kembali ke sana. Tetaplah dalam kesederhanaanmu Baduy-ku, jagalah kemurnian yang ada di sana.

564340_3369064279364_605754895_n
terima kasih Baduy….. terima kasih Ciboleger…. terima kasih Indonesia….

 

 

 

Semar Gugat – Ketika Pesta Betari Permoni tak Pernah Usai

IMG_8486

 

“Aku hanya akan menikah dengan kanda Arjuna dengan 1 syarat. Kanda Arjuna harus memotong kuncung di kepala Semar saat perayaan pernikahan nanti”. Itulah awal dari semua keruwetan yang terjadi di negeri Amarta.

Pertunjukan Semar Gugat, yang merupakan produksi ke-143 dari Teater Koma mengambil lakon kekecewaan Semar terhadap tindakan Arjuna yang memotong kuncung di kepalanya saat perayaan pernikahan Arjuna dan Srikandi. Tindakan itu membuat Semar sangat malu dan terhina.

 

IMG_8278
“Semar Gugat” Produksi ke-143 Teater Koma

 

IMG_8276
seat-nya pas, pandangan ke panggung bebas

 

IMG_8283
suasana GKJ sebelum pertunjukan Semar Gugat dimulai

 

IMG_8279
di panggung ini, pertunjukan Semar Gugat yang sarat makna akan ditampilkan

 

Pertunjukan teater yang dihelat oleh Teater Koma ini mengambil tempat di Gedung Kesenian Jakarta. Dengan setting negeri Amarta yang subur makmur, tentram dan damai yang diperintah oleh Pandawa. Panggung dibuka dengan suasana pagi di rumah Punakawan (Semar, Petruk, Gareng dan Bagong). Semar yang merupakan Romo dari ketiganya terlihat berusaha membangunkan anak-anaknya. Sosok Semar yang diperankan oleh bapak Budi Ros terlihat terbungkuk-bungkuk membangunkan anak-anaknya. Terlihat pula, Sutiragen – istri Semar – yang diperankan oleh Rita Matu Mona – sedang menyapu halaman. Kelucuan segera terlihat pada adegan selanjutnya ketika serombongan tukang sapu jalanan memasuki panggung dan langsung menyapu dengan arah yang berlawanan dengan Sutiragen.

 

IMG_8289
scene pembuka “Semar Gugat”

 

IMG_8292
Sutiragen, menemani Semar di pagi itu dengan aktivitas khas ibu rumah tangga, bersih-bersih halaman.

 

IMG_8293
adegan kocak ketika rombongan tukang sapu muncul tiba-tiba dan menyapu halaman dengan suasana ramai :D

 

Satu persatu anak Semar – Gareng, Petruk dan Bagong – kemudian bangun. Dan mereka langsung terlibat dalam sebuah diskusi hangat mengenai pernikahan tuannya – Arjuna (diperankan oleh Daisy Lantang).

 

IMG_8290
Semar – Petruk – Gareng – Bagong

 

IMG_8296
diskusi hangat Romo dan anak-anaknya

 

IMG_8301
apa yang akan mereka berikan sebagai hadiah pernikahan Arjuna – Srikandi?

 

Setting panggung berubah dengan suasana di salah satu sudut Kerajaan Amarta, ketika Srikandi (diperankan oleh mas Rangga Riantiarno, yang sukses memerankan Srikandi yang sangat gagah perkasa :D) berkeluh kesah akan kegundahannya menyongsong hari pernikahan dengan Arjuna. Ditemani Sumbadra (Ina Kaka)  dan Larasati (Andhini Puteri), yang merupakan istri terdahulu Arjuna, Srikandi pun menumpahkan kegalauannya. Apakah Arjuna benar-benar mencintainya? Bagaimanakah dia membuktikan kesungguhan cinta Arjuna terhadapnya?

 

IMG_8303
Srikandi juga bisa galau lho….

 

IMG_8305
syarat apa yang diminta Srikandi kepada Arjuna?

 

IMG_8309
dan……. pembisik pun beraksi….

 

IMG_8314
bahkan, Gatotkaca pun kebagian tugas untuk menyampaikan pesan Srikandi kepada Arjuna untuk bertemu sebelum pesta pernikahan

 

Akhir dari kegalauan itu pun akhirnya membuahkan sebuah permintaan yang akan disampaikan kepada Arjuna, sebagai syarat sebelum mereka menikah. Dan ternyata, syarat itu lah yang kemudian menjadi sumber gonjang-ganjingnya negeri Amarta.

 

IMG_8316
Arjuna, sang calon mempelai pria pun kebagian gundah begitu mengetahui syarat apa yang harus dipenuhinya sebagai syarat menikahi Srikandi

 

dilema, memenuhi permintaan sang belahan hati, atau menjaga kehormatan Punakawan?
dilema, memenuhi permintaan sang belahan hati, atau menjaga kehormatan Punakawan?

 

Arjuna yang menemui Srikandi secara sembunyi-sembunyi, terkejut dengan syarat yang diajukan. Bagaimana mungkin Arjuna harus memotong kuncung di kepala Semar yang telah menjadi Punakawan di Amarta? Apakah Semar tidak akan marah? Tersinggung? Terhina?

Namun, demi Srikandi, akhirnya Arjuna pun menyetujui syarat itu.

 

pesta pernikahan pun dilaksanakan, dan awal keruwetan pun dimulai
pesta pernikahan pun dilaksanakan, dan awal keruwetan pun dimulai

 

Hari berganti, dan pesta pernikahan pun dilaksanakan. Di pagi hari, saat pernikahan akan dilangsungkan, Arjuna mendekati Semar. Dengan disaksikan oleh seluruh keluarga Pandawa, undangan dan rakyat Amarta, Arjuna kemudian memotong kuncung di kepala Semar dan mempersembahkan potongan kuncung itu kepada Srikandi sebagai syarat untuk menikahinya.

 

IMG_8321
Srikandi tersenyum, syarat yang diajukannya berhasil dipenuhi oleh Arjuna

 

Betari Permoni dan Kalika, 2 sosok jahat di balik bisikan syarat yang diajukan Srikandi
Betari Permoni dan Kalika, 2 sosok jahat di balik bisikan syarat yang diajukan Srikandi

 

Srikandi tersenyum. Dia berhasil membuktikan bahwa Arjuna sungguh-sungguh mencintainya.

Sebaliknya, Semar merasa terkejut dan sekaligus terhina. Dia dipermalukan di hadapan seluruh rakyat Amarta. Seketika, Semar dan keluarganya meninggalkan acara pernikahan.

 

"pesan" yang disampaikan tentang murkanya Semar
“pesan” yang disampaikan tentang murkanya Semar

 

Kembali ke rumahnya, Semar berdiam diri. Tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak meninggalkan tempat pernikahan Arjuna dan Srikandi. Sutiragen dan ke-3 anaknya bingung. Bagaimana menghadapi murkanya Semar dalam diam? Hingga akhirnya Semar membuka suara dan memutuskan untuk menghadap Batara Guru (Alex Fatahillah) di Kerajaan Langit.

 

IMG_8334
Semar, murka dalam diamnya

 

IMG_8329
Petruk dan Gareng pun ikut bingung dengan diamnya Semar

 

IMG_8338
Sutiragen – Petruk – Gareng – Bagong, bertanya-tanya dengan diamnya Semar

 

Bagong, dengan jenakanya berdiskusi dengan simbok mengenai diamnya Semar
Bagong, dengan jenakanya berdiskusi dengan simbok mengenai diamnya Semar

 

Tidak ada yang bisa menahan keinginan Semar. Semar pun sudah memutuskan, hanya Bagong yang akan menemani perjalanannya menuju langit.

Semar, meratapi kehinaan yang diterimanya di pesta pernikahan Arjuna - Srikandi
Semar, meratapi kehinaan yang diterimanya di pesta pernikahan Arjuna – Srikandi

 

Kekesalan hati, kesedihan, rasa malu, sakit hati, semua menjadi satu
Kekesalan hati, kesedihan, rasa malu, sakit hati, semua menjadi satu

 

Sutiragen berusaha membujuk Semar
Sutiragen berusaha membujuk Semar

 

Semar berpamitan kepada Sutiragen untuk pergi ke Kerajaan Langit
Semar berpamitan kepada Sutiragen untuk pergi ke Kerajaan Langit

 

Dengan membawa murka, malu, rasa terhina, Semar pun menuju langit. Di pintu Kerajaan Langit, Semar dan Bagong bertemu dengan Cingkarabala (Asmin Timbil) dan Balaupata (Raheli Dharmawan), yang merupakan penjaga pintu. Mereka dilarang untuk masuk ke Kerajaan Langit. Setelah Semar mengutarakan maksudnya menemui Batara Guru karena satu perkara yang sangat penting, akhirnya Cingkarabala dan Balaupata mengijinkan. itu pun dengan 1 syarat, hanya Semar yang bisa masuk, sedangkan Bagong harus menunggu di depan pintu.

Semar ditemani Bagong menujuu Kerajaan Langit
Semar ditemani Bagong menujuu Kerajaan Langit

 

perjalanan yang tidak biasa itu akan menjadi semakin tidak biasa dengan permintaan yang akan disampaikan
perjalanan yang tidak biasa itu akan menjadi semakin tidak biasa dengan permintaan yang akan disampaikan

 

gerbang Kerajaan Langit
gerbang Kerajaan Langit

 

Semar dan Bagong bertemu Cingkarabala dan Balaupata di gerbang Kerajaan Langit
Semar dan Bagong bertemu Cingkarabala dan Balaupata di gerbang Kerajaan Langit

 

Bagong, terpaksa harus menunggu di depan gerbang Kerajaan Langit karena tidak mendapat ijin untuk ikut masuk
Bagong, terpaksa harus menunggu di depan gerbang Kerajaan Langit karena tidak mendapat ijin untuk ikut masuk

 

Bagong berusaha mengecoh Cingkarabala dan Balaupata agar bisa masuk ke Kerajaan langit
Bagong berusaha mengecoh Cingkarabala dan Balaupata agar bisa masuk ke Kerajaan langit

 

di sela-sela adegan yang sangat sarat dengan pesan dan makna, adegan kejar-kejaran antara Bagong, Cingkarabala dan Balaupata merupakan hiburan yang menyegarkan
di sela-sela adegan yang sangat sarat dengan pesan dan makna, adegan kejar-kejaran antara Bagong, Cingkarabala dan Balaupata  merupakan hiburan yang menyegarkan

 

Semar bertemu dengan Batara Guru dan Narada (Julung Ramadan), mengutarakan sakit hatinya dan keinginannya untuk menjadi sosok yang lebih gagah penampilannya, dengan keelokan paras yang dulu dimilikinya, dibandingkan sosoknya sekarang. Batara Guru terdiam. Permintaan Semar menyalahi kodrat alam, melawan irama alam. Walaupun semua paham, tidak ada yang bisa menolak permintaan Semar.

 

Semar mengadukan kejadian yang menimpanya dan menyampaikan permintaannya
Semar mengadukan kejadian yang menimpanya dan menyampaikan permintaannya

 

Batara Guru dan Narada merasa permintaan Semar sangat berat, tapi siapa yang bisa menahan untuk mengabulkannya?
Batara Guru dan Narada merasa permintaan Semar sangat berat, tapi siapa yang bisa menahan untuk mengabulkannya?

 

Narada berusaha memberikan pengertian kepada semar mengenai permintaannya yang sangat berat itu
Narada berusaha memberikan pengertian kepada semar mengenai permintaannya yang sangat berat itu

 

Setelah mempertimbangkan berbagai efek dan resiko yang akan terjadi, akhirnya Batara Guru mengabulkan permintaan Semar. Semar pun naik ke atas singgasana, dan atas kuasa dewa berubahlah Semar. Dari sosok seorang lelaki tua, bongkok, gendut, menjelma menjadi sosok ksatria gagah perkasa. Semar mendapat gelar Prabu Sanggadonya Lukanurani yang memerintah Kerajaan Simpang Bawana Nuranitis Asri.

 

Batara Guru naik ke singgasananya untuk mengabulkan permintaan Semar
Batara Guru naik ke singgasananya untuk mengabulkan permintaan Semar

 

IMG_8408
Semar, duduk di singgasana Batara Guru untuk menerima perubahan wujud sesuai permintaannya

 

dan atas kuasa para Dewa, Semar pun berubah wujud menjadi Prabu Sanggadonya Lukanurani
dan atas kuasa para Dewa, Semar pun berubah wujud menjadi Prabu Sanggadonya Lukanurani

 

Sementara itu, di saat Semar sedang berada di Kerajaan Langit, kondisi di negeri Amarta menjadi semakin tidak nyaman. Rakyat gelisah dengan berbagai peraturan baru yang dikeluarkan oleh rajanya.

 

IMG_8415
rakyat bingung, cemas, khawatir dan tidak tenang dengan perubahan yang terjadi di negeri Amarta

 

IMG_8416
Gatotkaca bbertanya kepada rakyat yang memutuskan meninggalkan negeri Amarta

 

IMG_8421
kekacauan di negeri Amarta membuat sebagian rakyatnya memutuskan untuk hengkang, meninggalkan Amarta

 

IMG_8423
jawaban-jawaban dari rakyat yang ingin meninggalkan Amarta membuat Gatotkaca berpikir keras

 

IMG_8425
Gatotkaca bingung dengan semua kejadian yang sangat di luar kebiasaan, yang terjadi di negeri Amarta

 

Semar kembali ke kediamannya yang telah berubah menjadi sebuah kerajaan baru. Namun, Sutiragen ternyata tidak mempercayai dan tidak bisa menerima perubahan fisik dari Semar. Sutiragen tidak percaya bahwa Prabu Sanggadonya Lukanurani adalah jelmaan dari sosok Semar. Sutiragen tetap percaya bahwa Semar masih berada di Kerajaan Langit, menghadap Batara Guru untuk mengadukan kegundahannya. Hanya Petruk dan Gareng yang sedikit demi sedikit mulai mempercayai bahwa sang raja baru adalah sosok Romonya, Semar.

IMG_8429
Batara Guru dan Narada mendiskusikan keputusan yang telah diambil dengan mengembalikan sosok Semar menjadi sosok aslinya

 

IMG_8430
Kerajaan Simpang Bawana Nuranitis Asri

 

IMG_8432
Petruk dan Gareng masih tidak mempercayai bahwa raja yang bertahta adalah Romonya

 

IMG_8434
Sutiragen, tidak mempercayai bahwa Prabu Sanggadonya Lukanurani adalah jelmaan dari Semar, dan dia masih setia menunggu Semar pulang dari Kerajaan Langit

 

IMG_8435
walau permintaannya telah dikabulkan, Prabu Sanggadonya Lukanurani alias Semar masih menyimpan pertanyaan akan peristiwa yang terjadi di Amarta

 

IMG_8436
kepada Petruk dan Gareng, Semar menumpahkan kegundahannya, dan apa rencana selanjutnya

Permintaannya telah dikabulkan, namun kegundahan Semar tidak berkurang. Di hatinya masih tersisa rasa sakit akibat perlakuan Arjuna. Semar pun terus berpikir, bagaimana menghilangkan rasa sakit itu, rasa terhina, kesal, marah.

IMG_8445
Semar akhirnya mengetahui bahwa akar dari semua kekacauan di Amarta adalah Betari permoni

 

IMG_8444
Sumbadra, Larasati dan Gatotkaca pun akhirnya menghadap Semar

 

IMG_8439
di saat Semar bersiap untuk menyelesaikan permasalahan yang ada, tampuk kerajaan diserahkan kepada Petruk dan Gareng

 

Sementara itu, di Kerajaan Amarta terjadi perubahan yang sangat besar. Arjuna membuat berbagai kebijakan yang sangat bertentangan dengan kebijakan sebelumnya. Rakyat menjadi tertekan akibat kondisi kerajaan yang semakin tidak nyaman. Keluarga Pandawa – Kresna, Bima, Yudistira, Nakula dan Sadewa memutuskan untuk bertapa, mencari jawaban atas kekacauan yang terjadi di bumi Amarta. Kerajaan Amarta sekarang bergantung pada Arjuna dan istri barunya, Srikandi.

IMG_8452
Arjuna dan Srikandi, memerintah Amarta dengan dipengaruhi oleh Betari permoni

 

IMG_8453
pemerintahan yang dipengaruhi oleh kejahatan selalu menimbulkan kekacauan

 

IMG_8454
Betari Permoni dan Kalika, mempengaruhi Srikandi sejak sebelum pesta pernikahan dengan Arjuna

 

IMG_8458
Arjuna – Srikandi

Tanpa diketahui oleh siapa pun, ternyata kekacauan itu disebabkan oleh Betari Permoni dan Kalika. Duo kompak dari Kerajaan Gondomayit itu ternyata telah mempengaruhi Srikandi sejak rencana pernikahannya denagn Arjuna. Dan ternyata, syarat yang diajukan Srikandi kepada Arjuna untuk memotong kuncung semar pun adalah hasil bisikan dari Betari Permoni.

IMG_8451
inilah sosok-sosok “pembisik” yang menyebabkan berbagai kekacauan yang terjadi

 

IMG_8457
iri, dengki, persaingan, fitnah, dan berbagai kekacauan disebabkan oleh duo wanita bertaring ini

Betari Permoni memiliki hasrat untuk menguasai negeri Amarta. Dan secara perlahan, Betari Permoni dan Kalika mulai memindahkan rakyatnya, dari Kerajaan Gondomayit ke Kerajaan Amarta.

Kekacauan yang terjadi di negeri Amarta sangat menggembirakan Permoni. Tujuannya untuk menguasai Amarta sedikit demi sedikit mulai terwujud. Rakyat Amarta pun sedikit demi sedikit mulai meninggalkan negeri itu.

Sumbadra dan Larasati pun mulai merasa tidak betah di Amarta, dan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Amarta, diikuti oleh Gatotkaca. Sumbadra memiliki kecurigaan bahwa kekacauan ini disebabkan oleh “sesuatu” yang tidak biasa. Kecurigaan Sumbadra itu mulai membuat Permoni khawatir, karena Sumbadra memiliki kemampuan untuk melihat hal-hal yang tidak biasa. Dan Permoni pun mengeluarkan segala cara agar apa yang dilakukannya untuk mempengaruhi Srikandi dan Arjuna tidak tersingkap.

IMG_8442
Sumbadra, Larasati dan Gatotkaca tiba di Kerajaan Simpang Bawana Nuranitis Asri, dan bertemu dengan Petruk – Gareng

 

IMG_8443
Prabu Sanggadonya Lukanurani alias Semar menemui Sumbadra, Larasati dan Gatotkaca

Sumbadra, Larasati dan Gatotkaca yang meninggalkan Amarta akhirnya tiba di Kerajaan Simpang Bawana Nuranitis Asri yang diperintah oleh Semar. Mereka pun akhirnya mengadukan kekacauan yang terjadi kepada Semar. Masalah yang datang bertubi-tubi membuat Semar akhirnya mengambil keputusan untuk menantang Arjuna mengadu kesaktian.

IMG_8444
Prabu Sanggadonya Lukanurani alias Semar memutuskan untuk menantang Arjuna dan Srikandi adu kesaktian

 

IMG_8459
kekacauan dan tindak tanduk Arjuna – Srikandi pun menjadi perhatian Batara Guru dan Narada

Semar ingin menyelesaikan semua kekacauan yang terjadi di negeri Amarta, sekaligus menuntaskan sakit hatinya. Apakah Semar berhasil mengalahkan Arjuna dan Srikandi yang telah dipengaruhi oleh Betari Permoni? Karena, dengan melawan Betari Permoni, Semar ternyata harus melawan seluruh setan Gandamayit yang telah diangkut oleh Betari Permoni dan Kalika ke Amarta.

IMG_8463
Prabu Sanggadonya Lukanurani menantang Arjuna

 

IMG_8467
Sutiragen, Sumbadra, Larasati, Petruk, Gareng, Gatotkaca, menjadi saksi pertempuran itu

 

IMG_8469
menghadapi Arjuna – Srikandi, apakah Prabu Sanggadonya Lukanurani akan menang?

 

IMG_8472
senjata ampuh berupa kentut sakti yang merupakan senjata andalan Semar ternyata tidak bisa mengalahkan Arjuna – Srikandi. karena yang bisa mengempos kentut sakti hanyalah Semar, bukan Prabu Sanggadonya Lukanurani

 

IMG_8474
Prabu Sanggadonya Lukanurani ternyata tidak mampu menandingi kesaktian Arjuna dan Srikandi

 

IMG_8478
Prabu Sanggadonya Lukanurani sadar, ternyata jati dirinya yang asli adalah menjadi Semar

 

IMG_8483
Prabu Sanggadonya Lukanurani meminta kepada para dewa untuk mengembalikan jati dirinya sebagai Semar

 

IMG_8484
Prabu Sanggadonya Lukanurani menyesali permintaannya berubah wujud, dan minta dikembalikan ke sosok aslinya sebagai Semar

Ternyata, yang bisa mengalahkan Betari Permoni hanyalah Semar, bukan Prabu Sanggadonya Lukanurani.

Walking Drums, Tempat Nongkrong Baru yang Cozy Banget

IMG_7373

 

Halo… kali ini saya ingin menampilkan posting-an yang sedikit berbeda… Kalau biasanya saya bercerita tentang tempat-tempat indah di seantero Indonesia, kali ini saya ingin cerita, masih tentang suatu tempat juga, yang asyik didatangi untuk bersama sahabat, teman, keluarga, bahkan mungkin pasangan. Saya ingin cerita tentang 1 café baru yang terletak di Jalan Pati Unus Raya F4. Namanya Walking Drums.

Café ini baru saja buka, belum genap 1 bulan beroperasi. Bangunannya menyerupai container berwarna coklat, dengan kaca besar di sisi depannya. Letak persisnya di samping Lapangan Tenis Brata Bhakti. Bangunannya minimalis karena terdiri dari 2 body container yang dijadikan 1. Terasnya cukup luas, dengan meja dan kursi kayu. Bagian dalamnya juga terkesan minimalis, dengan meja dan kursi kayu setipe dengan yang ada di teras. Di bagian dalam, dekat pintu, ada sebuah pojok dengan sepasang sofa abu-abu yang sangat nyaman untuk berleha-leha. Katanya, pojok itu disebut “Pojok Cinta”, dengar-dengar sih katanya ada yang dijodohin di sofa itu :D

 

IMG_7372
suasana di bagian dalam Walking Drums Cafe

 

IMG_7216
nah, ini “Pojok Cinta” yang ada di Walking Drums. Asli, sofanya bikin mager :D

 

IMG_7217
rame-rame teman dan sahabat, bakal betah deh berlama-lama di sini

 

Lokasinya cukup strategis, karena terletak di pinggir jalan besar, dan mudah diakses oleh kendaraan umum. Apabila menggunakan bus TransJakarta, silakan turun di Halte Mesjid Al Azhar, kemudian jalan sedikit menuju Jalan Pati Unus kira-kira 7 menit untuk sampai di lokasi.

Ini adalah kunjungan saya yang ke-2. Apabila pada kunjungan pertama kami (saya dan teman-teman) hanya mencoba berbagai snack yang disediakan, kali ini saya ingin mencoba main course yang ada di list menu Walking Drums. Pesanan saya dan teman-teman kali ini cukup banyak, supaya bisa mencoba berbagai menu yang ada.

 

IMG_7365
seru kan??? ngobrol, sambil ngemil-ngemil cantik gitu….

 

Menu yang kami pesan adalah: Singaporean Chicken Wings Salted Egg, Lasagna Verde, Mac n Cheese, Baked Macaroni, Pizza Quatro Formagi, Panacotta, Carrot Cake, Banana Cake, Ice Lychee Tea, Latte Vanilla dan Green Tea. Saya akan coba review satu-persatu menu yang kemarin sempat kami coba.

 

  1. Singaporean Chicken Wings Salted Egg
IMG_0260
Singaporean Chicken Wings Salted Egg

 

Makanan yang 1 ini memang merupakan kegemaran saya, apalagi dengan baluran telur asin di seluruh permukaannya. Hmm….

Potongan sayap ayam + paha atas, diberi bumbu gurih, kemudian digoreng dengan baluran telur asin. Rasanya enak banget! Gurih, dengan sensasi lembut telur asin. Ini menu recommended banget. Enaknya ga nipu deh. Dijamin, bakal nambah dan nambah terus.

 

2. Lasagna Verde

IMG_0269
Lasagna Verde

 

Ini menu yang sudah pernah saya coba di kunjungan pertama ke Walking Drums. Daging cincang berbumbu yang ditutup dengan lapisan keju melting, hmm…. Cheesy dan creamy. Kejunya meleleh di lidah, dan dagingnya yang sangat lezat, pasti bikin nagih. Ini menu favorit saya selain Singaporean Chicken Wings Salted Egg.

 

3. Mac n Cheese

IMG_7214
Mac n Cheese

 

Ini adalah menu camilan di Walking Drums. Macaroni berbumbu, dicampur daging cincang dan keju yang dibentuk bulat, kemudian digoreng hingga kulitnya kecoklatan. Dimakan menggunakan saos sambal, hmm…… delicious.

 

4. Baked Macaroni

IMG_7370
Baked Macaroni

 

Macaroni berbumbu ditambah potongan daging asap dan sosis serta taburan keju, dipanggang hingga bagian atasnya kecoklatan, dimakan dengan menggunakan saos sambal. Ini juga rasanya sangat enak.

 

5. Pizza Quatro Formagi

IMG_0266
Pizza Formaggi

 

Nah… kalau mau nyobain pizza dengan kulit yang crispy, ini jagoannya. Pizza berbentuk persegi panjang ini memiliki kulit yang tipis dan crispy. Topping-nya tergantung pilihan kita. Kemarin, karena pesannya adalah Pizza Quatro Formagi, topping-nya terdiri dari keju melting + taburan daun kering beraroma pasta (sepertinya Oregano). Rasanya, asin, gurih, crispy, dan kejunya serasa meleleh di lidah. Enak banget deh…

 

6. Panna Cotta

IMG_0268
Panna Cotta with Strawberry Sauce

 

Ini adalah salah satu dessert yang kami pesan. Makanan penutup yang berasal dari Italia ini terbuat dari krim lembut yang manis dicampur dengan agar-agar. Sebagai penambah rasa, saat disajikan, ditambahkan saus Strawberry yang dibuat dari buah Strawberry segar. Rasanya? Hmm…… manis, lembut + sedikit asem manis segar dari saus Strawberry-nya. Recommended dessert!

 

7. Carrot Cake

IMG_7368
Carrot Cake

 

Ini adalah compliment menu yang kami dapatkan dari Walking Drums. Cake coklat dicampur dengan wortel, teksturnya lembut, disajikan dengan lemon cream yang ditaburi dengan bubuk kayu manis. Ini juga salah 1 recommended dessert. Enak banget soalnya.

 

8. Banana Cake

IMG_7366
Banana Cake

 

Ini juga salah satu compliment menu yang kami dapatkan. Cake yang dicampur dengan pisang dan coklat, dibakar matang, disajikan dengan krim Cheese Nut yang yummy. Teksturnya tidak selembut Carrot Cake, tapi kalau untuk ngemil sambil menghabiskan sore sembari bercanda dengan sahabat sih….. Rasanya juara! Apalagi ditemani segelas Vanilla Latte. Ga percaya? Cobain deh!

 

9. Ice Lychee Tee, Latte Vanilla & Green Tea

IMG_7400
Ice Lychee Tea – Green Tea – Latte Vanilla

 

IMG_7408
Hot Latte Caramel

 

Untuk minumannya, pesanan kami cukup bervariasi. Saya mencoba Ice Lychee Tea, es teh yang dicemplungin beberapa buah Lychee. Rasanya? Enak! Segarnya teh di-combined dengan sedikit rasa asem manis dari buah Lychee. Seger banget deh….

Untuk Latte Vanilla, tampilannya sangat menggoda. Tapi karena saya bukan penggemar kopi, jadi saya cukup menikmati tampilannya saja. Akhirnya saya mencoba menu ini :D
Begitu juga dengan Green Tea.

Mau update review menu Walking Drums nih…
Kemarin malam saya akhirnya mencoba Hot Latte Caramel. Untuk seorang yang bukan pencinta kopi, rasanya ternyata enak ya… Tidak terlalu kopi juga, dan yang bikin tambah yummy itu adalah cream-nya. Enak banget :D

 

10. Carbonara

IMG_7410
Carbonara

 

Nah, menu yang ini ternyata jagoan banget. Cream cheese-nya enak….. dan untuk penggemar keju, ini item yang must try. Spaghetti dengan potongan daging sapi, disiram krim keju yang creamy banget, kemudian diberi sentuhan khas daun Oregano yang aromanya pasta banget. Eh iya, ada sedikit taburan kejunya juga lho…

 

11. Nasi Goreng Ijo

IMG_7495
Nasi Goreng Ijo

 

Ini menu tradisional yang dibalut dengan selera masa kini. Nasi goreng dengan bumbu khas yang membuat butiran nasinya berwarna hijau, dengan aroma dan rasa yang khas. Kemudian dicampur dengan teri medan yang telah digoreng. Disajikan di dalam piring unik yang menyerupai penggorengan mini, lengkap dengan telur ceplok, irisan acar timun dan bawang merah, serta kerupuk udang. Rasanya? Untuk yang sangat lapar, harus mencoba menu ini, karena porsinya yang mengenyangkan dan rasanya yang bikin lidah menikmati hingga suapan terakhir.

 

12. Apple Cobbler

IMG_7502
Apple Cobbler

 

Ini merupakan menu dessert yang tersedia di Walking Drums. Potongan Apel yang dimasak hingga berkaramel, kemudian ditambah crunchy oat, dipanggang, dan disajikan dengan 1 scoop es krim homemade yang sangat yummy. Kombinasi rasa manis, asem, crunchy dan lembut dari es krim akan lumer di mulut, membuat ingin lagi…. lagi….. dan lagi….

 

13. Banoffee Cake

IMG_7505
Banoffee Cake

 

Saya sangat suka menu ini. Cake berlapis dengan rasa yang bikin mulut ingin terus mengunyah. Lapisan paling bawah adalah sejenis lapisan crunchy oat, kemudian di atasnya adalah lapisan yang Pisang banget, kemudian di atasnya lagi adalah lapisan krim manis yang ditambah parutan coklat kopi. Aroma kopinya sangat terasa, nge-blend dengan rasa pisang, enak!

 

14. Sweet Pao

IMG_7508
Sweet Pao

 

Ini pao mini yang kulitnya lembut banget, diisi dengan Ovomaltine yang meleleh saat digigit. Dimakan saat masih hangat, hmm…. enak di lidah.

 

Nah, kalau teman-teman butuh tempat nongkrong dan kumpul-kumpul yang nyaman, plus bisa sekalian isi perut juga, cobain deh ke Walking Drums. Dijamin bakal ngulang terus ke sana…. yang mau cari jodoh, bisa dicoba lho Pojok Cintanya…. Siapa tau, pulang dari sana langsung diajak ke penghulu :D

Cuma sedikit catatan, yang mau nyobain makan di sana, harus sedikit bersabar ya….  waktu pelayanannya agak sedikit lama sekarang sudah lebih express, pengalaman terakhir ke sana, baru pesan dan ga sampai 10 menit makanan sudah siap di atas meja. Sembari nunggu makanan diantar, masih bisa lho untuk foto-foto dulu jadi jangan ngamuk-ngamuk kalau makanannya ga langsung terhidang di atas meja. Sambil nunggu makanan siap, bisa foto-foto dulu aja…

 

IMG_7377
reramean emang paling seru…..

 

IMG_7378
teuteup….. abis ngobrol-ngobrol dan ngemil-ngemil, ga lupa poto-poto…