Tag Archives: Indonesia Indah

Moyo dan Satonda, Pulau Kecil bak Surga

DSC_4100

 

Perjalanan hari ke-2 (cerita perjalanan hari pertama ada di sini)

Pagi itu, kami terbangun atau lebih tepatnya dibangunkan oleh teriakan Seto, leader trip, yang khas “Ayo bangun, sunrise“.

Dan pagi itu, kami menikmati hembusan angin pagi dari geladak kapal, sambil menunggu antrian untuk naik ke perahu kecil yang akan membawa kami ke sebuah pulau kecil yang sangat terkenal, bahkan sampai ke luar negeri, Pulau Moyo.

 

EVY_1359
ini aliran sungai kecil yang airnya berasal dari air terjun di tengah pilau

 

Pulau Moyo merupakan pulau kecil yang berada di wilayah Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Pulau ini sangat tenang, masih alami dan sepi. Di Pulau Moyo ini terdapat sebuah air terjun yang melegenda, yaitu air terjun Mata Jitu.

Setelah kami menyeberang menggunakan perahu kecil, kami tiba di hamparan pasir yang sedikit kasar, Pulau Moyo! Ya, kami sudah sampai di pulau yang masih alami ini. Pohon-pohon besar, suara satwa dan segarnya udara di sana, langsung menyapa begitu kaki ini menjejak di atas butiran pasirnya.

 

sisi luar Pulau Moyo
sisi luar Pulau Moyo

 

"mas.... mas.... boleh pinjem ga kasurnya?"
“mas…. mas…. boleh pinjem ga kasurnya?”

 

Untuk mencapai lokasi air terjun, kami harus berjalan sekitar 30 menit. Melewati rimbunnya pepohonan besar, perdu yang rapat dan rumput liar yang memagari kanan kiri jalur tanah berpasir yang kami lewati. Perjalanan menembus rimbunnya hutan ini masih ditambah dengan berbagai suara satwa. Kicauan burung, monyet dan lain-lain. Menyenangkan!

 

ini trek menuju air terjun Mata Jitu di Pulau Moyo
ini trek menuju air terjun Mata Jitu di Pulau Moyo

 

rasanya seperti menjelajah alam liar :D
rasanya seperti menjelajah alam liar :D

 

serem-serem indah gitu deh...
serem-serem indah gitu deh…

 

Saya sempat menyeberangi aliran sungai kecil yang airnya berkurang karena musim kemarau yang sedang terjadi ini. Batu-batuan kali terlihat jelas dan menjadi titian untuk menyeberanginya. Airnya sangat jernih. Hanya sayang, di beberapa titik terlihat sampah-sampah yang tersangkut di sepanjang aliran sungai. Botol plastik bekas minuman, plastik pembungkus makanan ringan, sandal, dan lain-lain. Saya sedih, kenapa sepertinya kesadaran untuk menjaga kebersihan itu sangat kurang di kalangan masyarakat. Apakah mereka tidak peduli dengan keberlangsungan hidup lingkungannya?

Setelah berjalan kurang lebih 30 menit, akhirnya saya dan teman-teman sampai di titik pertama air terjun. Dan ternyata hari itu pengunjungnya ramai sekali. Di depan saya terlihat barisan wisatawan asing dengan bikini dan celana pendek menanti giliran menyeberang dan memanjat untuk mencapai lokasi air terjun Mata Jitu.

 

DCIM100GOPROGOPR0695.
antri…………………..

 

ihiiiiyyy... banyak yang pake two pieces.... #tutupmata
ihiiiiyyy… banyak yang pake two pieces….

 

antrian melewati kolam untuk kemudian manjat tebing batu menuju Mata Jitu
antrian melewati kolam untuk kemudian manjat tebing batu menuju Mata Jitu

 

Seto: "nyemplung ga ya?"
Seto: “nyemplung ga ya?”

 

Pada saat saya tiba di sana memang cukup banyak wisatawan asing yang datang, dan mereka terlihat sangat antusias untuk memanjat tebing batu untuk mencapai lokasi air terjun Mata Jitu. Melihat ramainya pengunjung tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk tidak ikut memanjat, tapi cukup naik sedikit menuju lokasi kolam batu di sisi kanan, yang juga ada air terjun kecilnya. Lumayan lah kalau bisa membasahi badan dengan air tawar, karena selama sailing saya hanya bertemu air asin di kamar mandi.

 

hmm.... naik ga ya? nggak aja deh.....
hmm…. naik ga ya? nggak aja deh…..

 

liat medannya, trus liat ramenya, akhirnya memutuskan untuk nunggu di bawah aja :D
liat medannya, trus liat ramenya, akhirnya memutuskan untuk nunggu di bawah aja :D

 

EVY_1352
nontonin yang nyeberang dan manjat ke Mata Jitu

 

DCIM100GOPROGOPR0711.
tuh liat, seneng bener kayaknya….

 

Melipir ke sebelah kanan, saya menaiki kolam batu dan akhirnya berhasil mencapai aliran air terjun kecil yang ada di sana. Yes, saya nunggu teman-teman di sini aja, lumayan.. sambil berbasah-basahan.

 

DCIM100GOPROGOPR0704.
kita ngadem di sini aja ya friends….. lumayan kok airnya…

 

ini mas ABK-nya baik bener, mau manjat-manjat batu demi motoin kita dari atas :D
ini mas ABK-nya baik bener, mau manjat-manjat batu demi motoin kita dari atas :D

 

bisa tahan berjam-jam nih kayaknya kalo airnya seperti ini
bisa tahan berjam-jam nih kayaknya kalo airnya seperti ini

 

nyobain selfie, ternyata susah :D maaf yang cuma keliatan kakinya..... ahahahaha.....
nyobain selfie, ternyata susah :D
maaf yang cuma keliatan kakinya….. ahahahaha…..

 

Puas berbasah-basahan di aliran air terjun kecil sekitar 30 menit, dan sempat foto-foto juga dengan teman-teman, akhirnya kami dipaksa untuk turun. Iya, dipaksa! Ada serombongan mbak-mbak yang mau lewat, waktu diberi jalan mereka bilangnya ga bisa lewat, eh… setelah kami minggir cukup jauh, ternyata mereka malah duduk di tempat kami tadi dan foto-foto. Weeewww……

Duh, si mbak…..

Akhirnya saya dan teman-teman memilih untuk foto bareng aja di kolam batu yang ada di situ. Seru!!!

37 orang empet-empetan demi masuk frame. Makasih untuk mas Har, Wali, Seto yang udah rela out of frame demi kami yang langsung pasang tampang sumringah setiap mendengar aba-aba “bun………. cis…., cang kacang pan……. jang……., satu-dua-ti……. ga…….”

 

"bun....... ciiiiiiissss...... cang kacang pan..... jaaaaaaannnggggg...... satu-dua-ti........ gaaaaaaa......"
“bun……. ciiiiiiissss…… cang kacang pan….. jaaaaaaannnggggg…… satu-dua-ti…….. gaaaaaaa……”

 

Keluar dari lokasi air terjun, kami kembali ke kapal untuk meneruskan perjalanan. Tujuan selanjutnya adalah Pulau Satonda.

 

pulangnya, dengan baju basah kuyup, melewati jalan yang sama
pulangnya, dengan baju basah kuyup, melewati jalan yang sama

 

Sampai di kapal, tanpa ganti baju langsung disambung dengan….. makan siang…… ah, yummy….

Mari kita lanjutkan perjalan menuju Pulau Satonda, capt!

 

Sedikit cerita mengenai Pulau Satonda. Pulau ini terletak di wilayah Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Yang membuat pulau ini unik karena pulau ini berupa daratan vulkanis yang terbentuk akibat letusan gunung api di dasar laut sedalam 1.000 meter sejak jutaan tahun yang lalu. Selain itu terdapat sebuah danau air asin di tengah-tengahnya dengan tingkat kebasaan (alkalinitas) yang sangat tinggi dibandingkan air laut pada umumnya (berdasarkan penelitian 2 ilmuwan Eropa, Stephan Kempe dan Josef Kazmierczak pada tahun 1984, 1989 dan 1996).

Pulau Satonda telah ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam Laut (TWAL) pada tahun 1999 oleh Menteri Kehutanan dan Perkebunan karena kaya akan potensi alam lautnya, serta terumbu karang di sekitar perairannya.

Kapal Halma Jaya yang membawa kami akhirnya tiba di depan Pulau Satonda, dan seperti biasa kami pun harus menyeberang menggunakan perahu kecil untuk mencapai bibir pantai.

ini dermaga kayu kecil di depan Pulau Satonda
ini dermaga kayu kecil di depan Pulau Satonda

Sebuah dermaga kayu kecil terlihat menjorok dari bibir pantai ke arah lautan. Dan di depan dermaga kayu, agak ke tengah pulau terdapat sebuah gerbang yang bertuliskan “Welcome to Satonda Island, Dompu”.

 

"Welcom to Satonda Island, Dompu" Mas Har, pas bener itu berdiri di gerbangnya
“Welcom to Satonda Island, Dompu”
Mas Har, pas bener itu berdiri di gerbangnya

Matahari di siang hari itu sangat panas. Dan saya pun harus memicingkan mata demi menghalau sinarnya. Sebelum snorkling, saya ingin melihat dulu danau air asin yang ada di tengah pulau, Kaki saya pun mulai menyusuri jalanan setapak terbuat dari beton. Di kanan kiri jalanan beton terlihat pepohonan yang sengaja diatur untuk membuat suasana sedikit teduh.

 

EVY_1375
ini jalanan beton menuju Danau Satonda

 

EVY_1380
lumayan adem jalanannya karena masih banyak pohon yang ditanam di kanan kirinya

Berjalan kurang lebih selama 15 menit, akhirnya saya tiba pada sebuah tangga beton menuju ke bawah, Danau Satonda. Pohon-pohon yang ada di kanan kiri tangga beton terlihat meranggas akibat musim kemarau panjang ini. Terbayang seandainya saya tiba di Satonda pada saat musim penghujan, pasti pohon-pohon yang ada menghijau dan bisa mengurangi panasnya sinar matahari.

 

EVY_1376
tangga beton menuju Danau Satonda

 

IMG_5953
tangganya lumayan curam, jadi hati-hati ya….

Di pinggir danau saya melihat sebuah pohon yang “berbuah batu”. Konon batu-batu itu sengaja digantungkan oleh wisatawan yang berkunjung kesana, karena dipercaya bahwa batu-batu yang digantung tersebut akan mewakili doa dan harapan orang-orang dan akan terkabul. Wallahualam.

 

IMG_5952
pohon yang “berbuah batu” yang konon dipercaya bisa mengabulkan doa dan harapan

 

pohon "berbuah batu" yang penuh dengan titipan doa dan harapan
pohon “berbuah batu” yang penuh dengan titipan doa dan harapan

 

IMG_5951
tepian Danau Satonda yang ternyata luas banget

 

Danau Satonda
Danau Satonda

 

IMG_5954
mari balik ke pantai… nyebur kita…..

Tidak berlama-lama di danau, saya segera balik menuju pantai karena di sini saya akan ber-snorkling ria, melihat keindahan air di perairan Satonda.

 

homestay yang terdapat di Pulau Satonda
homestay yang terdapat di Pulau Satonda

Walaupun panasnya matahari terasa menusuk kulit, tapi demi melihat ikan-ikan cantik, saya jalanin deh :D

Dan memang, ternyata alam bawah laut Satonda sangat cantik. Ikan-ikan beraneka macam dan warna terlihat berseliweran di antara ganggang dan terumbu karang yang ada di sana. Karena saya sedikit freaky dengan laut, jadi saya tidak berenang terlalu ke tengah, cukup di pinggir pantainya aja. Itu pun mata saya sudah sangat puas melihat ikan-ikan cantik yang beraneka macam bentuknya, dan tentu bermacam-macam juga warnanya.

DCIM100GOPROGOPR0733.
akhirnya……… nyebuuuuuurrrr…..

 

DCIM100GOPROGOPR0736.
suka liat ikan-ikannya…

Sebagai tambahan, untuk teman-teman yang kurang jago berenangnya, sebaiknya tidak terlalu ke tengah di saat snorkling, karena tidak jauh dari bibir patai Satonda, kita akan langsung ketemu palung laut yang sangat dalam. So, hati-hati ya kalau snorkling, tetap waspada agar tidak terbawa arus ke tengah laut.

Puas bermain bersama ikan, akhirnya saya dan teman-teman kembali ke kapal untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini sailing kami akan sangat panjang dan akan melewati perairan Tambora yang menurut informasinya memiliki gelombang yang lumayan besar.

Doakan semoga perjalanan sailing kami malam ini aman ya…. see you tomorrow….

Note. karena bakal melewati perairan Tambora yang gelombangnya ajib, setelah makan malam (yang lebih cepat) saya memutuskan untuk langsung tidur :D

Derawan #1, Sepenggal Surga di Ujung Timur Kalimantan

 EVY_0583

 

Derawan, Akhirnya Kita Bertemu

Sabtu, 30 Mei 2015

Setelah semalaman ga tidur (ga berani tidur sebenarnya karena takut ga kebangun subuh ini), akhirnya ketika jam menunjukkan pukul 02.30 wib, saya pun berangkat menuju bandara Soetta. Perjalanan dini hari itu terasa cepat, jalanan lengang. Dan tidak sampai 1 jam kemudian, saya sudah tiba di terminal keberangkatan 1A.

Perjalanan yang sudah direncanakan sejak Desember tahun lalu pun dimulai. Penantian selama hampir 6 bulan pun akhirnya tiba di depan mata. Walaupun sempat diwarnai dengan reschedule tiket karena tanggal yang tidak pas, hingga batalnya seorang teman untuk berangkat di saat-saat terakhir. Dan pagi ini, saya sudah berdiri di sini, antrian counter check in maskapai singa merah.

Ini merupakan pengalaman pertama saya menggunakan maskapai singa merah, setelah selama ini selalu menghindarinya karena penyakit “schedule delay” yang melekat di maskapai tersebut. Dan saya sempat kaget melihat betapa ramai dan padatnya antrian check in subuh ini. Luar biasa! Sudah seperti musim mudik lebaran :D

Setelah antri cukup lama, ditambah lambatnya kerja “mbak counter” sewaktu memroses tiket kami, akhirnya saya dan teman-teman berhasil juga untuk check in. Akhirnya……..

Saya dan teman-teman kemudian beranjak ke lantai 2 menuju gate keberangkatan.

persiapan ngebolang kali ini
persiapan ngebolang kali ini

 

Derawan, I'm coming......
Derawan, I’m coming……

 

Jujur, saya pribadi sudah sangat tidak sabar untuk segera sampai ke tujuan. Membaca berbagai artikel dan melihat foto-fotonya via Internet, membuat saya ingin segera melihat sendiri, seperti apa keindahan Derawan.

Sambil menunggu waktu boarding, saya mencoba mengingat kembali kejadian-kejadian sewaktu kami merencanakan trip ini. Mulai dari hunting tiket, reschedule, sampai bagaimana ribetnya mencari paket trip yang sesuai dengan keinginan kami. Awalnya, setelah tiket siap, kami rencananya ingin melakukan trip dengan itinerary sendiri, yang artinya kami harus mencari penginapan, speed boat dan berbagai perlengkapan trip secara mandiri. Keinginan untuk merasakan sensasi menginap di water chalets, membuat saya rajin mantengin Internet mencari paket menginap di water chalet tersebut. Apalagi salah seorang teman request dengan sangat amat berharap “Minimal nginep semalam lah di water chalet“.
Saya mencoba untuk menghubungi resort tersebut secara langsung untuk mendapatkan harga terbaik, dan jawaban yang saya terima hanya membuat kening berkerut. “Ah…. sepertinya saya belum rela untuk mengeluarkan biaya sebesar itu hanya untuk menginap di sana” :(

Karena seorang teman keukeuh untuk menginap di sana, minimal 1 malam saja, saya pun kembali bertanya dan jawabannya adalah “Maaf mbak, untuk menginap di sini minimal 3 malam”. Jegeeeeerrrr!!!

1 malam = 990 ribu, dan untuk menginap di sana harus minimal 3 malam, yang artinya 990 ribu dikali 3. Owemji! Untuk menginap di sana selama 3 malam harus mengeluarkan biaya hampir 3 juta rupiah (kurang 30 ribu ajah)!!! Waduh, ga deh. Maaf ya teman, saya terpaksa tidak setuju dengan keinginanmu itu. Kalau memang memaksa untuk menginap di sana, silakan, tapi saya sih akan mencari yang biayanya lebih terjangkau saja.

Karena awalnya kami ingin melakukan trip secara mandiri, saya pun sudah mencari penyewaan boat untuk hoping islands. Dan ternyata biaya penyewaan boat di sana juga sangat tinggi. Sebuah boat bermesin tunggal dengan kapasitas 8 – 12 orang dihargai 8 juta untuk keliling pulau. Dan karena kami hanya ber-5, otomatis semua biaya itu harus ditanggung ber-5. Huft…….

Hmm….. akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti paket open trip saja, lebih ekonomis. Dan setelah browsing sana-sini yang cukup memakan waktu karena harus membandingkan dan memilih itinerary mana yang sesuai dengan keinginan kami, akhirnya pilihan kami jatuh pada sebuah operator trip lokal, Derawan Tours.

Melihat harga paket open trip-nya yang masih reasonable, akhirnya kami sepakat untuk daftar. Dengan harga paket sebesar Rp 1.975.000 per orang untuk paket trip 4 hari 3 malam, kami sudah mendapatkan fasilitas menginap di water chalet, makan pagi, siang dan malam, boat untuk keliling pulau termasuk perjalanan dari Tarakan – Derawan pp, serta penjemputan dari/ke Bandara Juwata. Good enough kan?

Dan akhirnya, subuh ini saya, Iyus, Windy dan Gita sudah duduk manis di boarding gate menunggu waktu keberangkatan kami menuju Tarakan.

Tepat pukul 04.30 wib, panggilan untuk memasuki pesawat pun terdengar. Dan pukul 05.00 wib, roda pesawat berlogo singa merah ini pun perlahan bergerak melintasi areal parkir Bandara Soetta, menuju runway. Bismillaahirrahmaanniirrahiim….

Mata yang sudah berat menahan kantuk dari semalam akhirnya mendapatkan haknya di pesawat ini. Begitu pesawat take off, saya pun langsung memejamkan mata.

Perjalanan Jakarta – Tarakan selama hampir 3 jam itu (yang saya manfaatkan untuk tidur sepanjang perjalanan) akhirnya bisa membuat mata saya terbuka lebar begitu pesawat yang saya tumpangi itu mendaratkan roda-rodanya di landasan Bandara Juwata (udah puas banget boboknya :D).

Setelah menunggu bagasi, saya pun kemudian menghubungi contact person dari Derawan Tours yang menjemput kami pagi itu. Oh iya, pagi itu kami tiba di Derawan dengan disambut hujan yang cukup deras. Sempat sedih juga, bagaimana perjalanan kami ke pulau Derawan apabila cuaca tak kunjung cerah?

Di Tarakan kami hanya transit sebentar sambil menunggu keberangkatan kapal menuju pulau Derawan jam 1 siang nanti. Dan tujuan kami pagi ini adalah Warung Teras, sebuah rumah makan seafood yang sepertinya cukup terkenal di Tarakan. Mari kita makan…..

 

Warung Teras, tempat makan yang yummy #eluselusperut
Warung Teras, tempat makan yang yummy #eluselusperut

 

Udang goreng tepungnya mantap!!!
Udang goreng tepungnya mantap!!!

 

Siang itu pilihan saya jatuh pada sepiring nasi goreng seafood dan seporsi udang goreng tepung plus segelas jus stroberi. Hmm…… seafood-nya segar….. rasa manis dari daging udangnya mantep!

Setelah makan dan kenyang (pake banget), kami pun kemudian diantar menuju Pelabuhan Tengkayu untuk menunggu waktu keberangkatan kapal menuju Pulau Derawan.

Perjalanan dari Pelabuhan Tengkayu menuju pulau Derawan ditempuh sekitar 2.5 hingga 3 jam. Untungnya cuaca sudah cerah sewaktu kami berangkat. Dan sepanjang perjalanan, kami disuguhi hamparan laut biru yang jernih.

Dan akhirnya, setelah pantat terhempas-hempas selama hampir 3 jam di atas selembar busa tipis yang menjadi alas duduk kami di atas boat, boat yang kami naiki pun akhirnya mengurangi kecepatannya dan secara perlahan bersandar di sebuah dermaga kecil dari bangunan kayu berwarna coklat yang berdiri menjorok ke arah laut. Yeeeeaaaaaayyyyyy….. Derawan here I am!

Sambil menunggu unloading barang-barang bawaan kami dari dalam speed boat, saya memperhatikan lingkungan di sekitar dermaga itu. Tepat di depan dermaga, terhampar laut luas dengan airnya yang berwarna hijau toska jernih. Saking jernihnya, saya bisa melihat dengan jelas beberapa ekor Penyu Hijau sebesar tampah yang berenang bebas di sekitar dermaga. Perahu-perahu kecil yang ditambatkan dengan sehelai tali pun terlihat terombang-ambing oleh riak gelombang yang datang perlahan. Kumpulan-kumpulan Bulu Babi terlihat menggerombol di sekitar dermaga. Ikan-ikan beraneka warna dan bentuk, terlihat juga berseliweran tak henti-henti di bawah dermaga.

 

ini pemandangan di depan kamar lho....
ini pemandangan di depan kamar lho….

 

Setelah barang-barang kami selesai di-unloading ke dermaga, kemudian kami dibagikan kamar yang akan menjadi “rumah” kami untuk 4 hari ke depan. Dan ternyata, saya mendapatkan kamar yang paling depan, persis setelah teras dari dermaga ini. Yihaaaaa!!!

Karena kami tiba di Derawan di saat hari sudah menjelang sore, sisa hari itu itinerary-nya adalah acara bebas. Yang mau lanjut tidur cantik, bisa…… Yang mau langsung jalan-jalan keliling pulau, boleh…. Yang mau makan (seperti saya dan teman-teman, yang entah gimana lah ceritanya, begitu tiba di Derawan langsung pada kelaparan semua :D) juga bisa.

 

ini kamar saya untuk 4 hari ke depan, nyaman banget....
ini kamar saya untuk 4 hari ke depan, nyaman banget….

 

yang penting, toiletnya bersih! dan air tawar, bukan air payau yaaa.....
yang penting, toiletnya bersih! dan air tawar, bukan air payau yaaa…..

 

Dan setelah membereskan backpack, serta sedikit meluruskan punggung di atas kasur yang tersedia di kamar, saya, Iyus, Windy dan Gita pun akhirnya memutuskan untuk sedikit meng-explore pulau sambil mencari warung makan. Padahal, kami sudah dipesanin oleh mas Alif yang menjadi guide selama di Derawan “Mas, mbak, makan malam akan siap di jam 7”. Dan sekarang baru jam 4 :D

Perutnya ga kuat untuk menunggu 3 jam lagi… hehehehe….

jembatan kayu yang menghubungkan homestay kami dengan daratan
jembatan kayu yang menghubungkan homestay kami dengan daratan

 

Dari water chalet, kami menyusuri jembatan kayu panjang yang menghubungkan bangunan ini dengan daratan yang ada di depan kami. Tiba lah kami di perkampungan penduduk dengan rumah-rumahnya yang mayoritas terbuat dari kayu sebagaimana lazimnya rumah yang ada di Kalimantan. Kami pun melangkah menuju sisi kiri jembatan, menyusuri perkampungan penduduk. Hamparan pasir putih membentang sepanjang jalan perkampungan yang kami lewati. Karena tidak menemukan warung makan di sepanjang jalan yang kami susuri itu, kami mengubah haluan, balik kanan dan mulai menyusuri ke bagian kanan.

 

here, we are...
here, we are…

 

Dan benar saja, di sisi ini kami menemukan banyak warung makan. Pilih sana, pilih sini, akhirnya kami masuk di salah satu warung makan (lupa namanya apa?). Ambil menu, dan langsung pesan. Ikan Baronang bakar, Cumi goreng tepung dan Cah Kangkung. Tak lupa, 4 buah kelapa muda. Oh iya, awalnya kami cuma ingin minum air kelapa muda, tapi karena perut semakin lapar, akhirnya kami memutuskan untuk sekalian makan saja (lupakan jadual makan jam 7 malam nanti :D).
Tanpa menunggu terlalu lama, sebakul nasi putih hangat, ikan bakar, cumi goreng tepung dan cah Kangkung pun terhidang di depan kami. Mari makan…….. nyam… nyam… nyam…

 

menu kami sore itu
menu kami sore itu

 

Selesai makan, kami pun kembali menuju homestay untuk menunggu sunset di dermaga depan kamar. Menyenangkan banget ya….. nungguin sunset-nya cukup dari depan kamar aja. Hmm…… alhamdulillah, nikmat banget makan sore ini.

Sore menjelang senja hari itu, kami habiskan dengan duduk-duduk santai di dermaga sambil menunggu sunset dan menikmati angin laut.

 

sunset? cukup di depan kamar aja deh
sunset? cukup di depan kamar aja deh

 

Apa kegiatan kami besok? Hmm…… sepertinya besok kami akan basah-basahan seharian. Ikut yuk keseruan kami…….