Tag Archives: history

Year-End Trip #2 – Let Tolukko Fort Tell Their Story

EVY_5212

Perjalanan saya di bumi rempah masih terus berlanjut. Setelah melihat cerita kejayaan Kesultanan Ternate, saya melanjutkan perjalanan untuk mengintip sedikit cerita sejarah di kota ini. Kota yang memiliki banyak benteng peninggalan sejarah ini tentunya akan menyuguhkan cerita yang tak kalah menarik. Benteng Tolukko merupakan benteng yang pertama kali saya singgahi di Kota Ternate.

 

EVY_5215
taman di depan Benteng Tolukko yang tertata rapi

Berlokasi di Kelurahan Sangadji, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Propinsi Maluku Utara, Benteng Tolukko terlihat sangat terpelihara. Berada pada ketinggian 6,2 mdpl, benteng ini hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari Kesultanan Ternate, berada di dalam sebuah komplek dengan pagar besi berwarna hitam yang membatasinya dengan lingkungan luar, kondisi di sekeliling benteng ini sangat rapi. Bahkan terlalu rapi (menurut saya) untuk tampilan sebuah bangunan bersejarah yang sudah berumur ratusan tahun. Sebuah gerbang besar terbuat dari beton yang dicat kuning dan memiliki sedikit atap berwarna terracotta menyambut saya. Sebaris kalimat “Ino Wosa Lafo Waro Masejarahnya” terpampang di bagian atas gerbang. Di bawah kalimat tersebut tertulis sebaris kalimat berbahasa Indonesia “Mari Masuk Supaya Kita Tahu Sejarahnya”.

 

EVY_5213
sekilas sejarah Benteng Tolukko

 

EVY_5216
setelah dipugar kembali, Benteng Tolukko diresmikan oleh Prof. DR. Ing. Wardiman Djojonegoro, selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu

Memasuki gerbang benteng, terlihat taman yang mengelilingi benteng tertata rapi. Pot-pot bunga besar terbuat dari batu tampak menyusun formasi di sepanjang jalan setapak yang terbuat dari beton, yang mengarah menuju bangunan benteng. Berbagai macam tanaman hijau dan bunga terlihat menghiasi halaman benteng. Benteng Tolukko dibangun di atas pondasi batuan beku, terbentuk dari 3 buah bastion, ruang bawah tanah, halaman dalam, lorong, serta bangunan utama berbentuk segi empat. Konstruksi bangunannya sendiri terdiri dari campuran batu kali, batu karang, pecahan batu bata dan direkatkan menggunakan campuran pasir dan kapur.

 

IMG_9517
lorong dan tangga batu yang menjadi akses satu-satunya menuju bangunan dalam benteng

 

EVY_5221
bermilyar kaki telah menapaki lorong sempit ini, meninggalkan berbagai macam cerita

Benteng ini dibangun pada tahun 1540 oleh seorang Panglima Portugis bernama Francisco Serao, dan diberi nama Santo Lucas. Benteng ini awalnya difungsikan sebagai benteng pertahanan Portugis serta tempat penyimpanan rempah-rempah asli Ternate yang akan mereka perdagangkan. Letak benteng yang berada di atas bukit, dan sangat dekat dengan wilayah perairan Ternate membuatnya sangat strategis karena dapat secara langsung mengamati pergerakan yang terjadi di Kesultanan Ternate.

 

EVY_5217
pemandangan dari atas benteng

 

EVY_5218
gunung dan laut merupakan pemandangan yang bisa dilihat dari atas benteng

Kekuasaan Portugis berakhir di tahun 1577 karena lahirnya perlawanan rakyat Ternate di bawah pimpinan Sultan Baabullah. Sejak saat itu, Benteng Santo Lucas dikuasai oleh Kesultanan Ternate hingga datangnya Belanda di bumi rempah tersebut, merebut benteng dan mengganti namanya menjadi Benteng Hollandia. Pada tahun 1610 benteng tersebut direnovasi oleh Pieter Both dan menjadi salah satu tempat pertahanan Belanda di Ternate. Berdasarkan beberapa perjanjian kerjasama yang terjadi antara Kesultanan Ternate dan VOC, maka pada tahun 1661 Sultan Ternate yang bernama Madarsyah diberi ijin untuk menempati Benteng Hollandia bersama sekitar 160 orang personilnya.

 

EVY_5219
aktivitas masyarakat Ternate di perairan yan terlihat dari atas bangunan benteng

 

Nama Tolukko yang sampai saat ini melekat pada benteng itu sendiri masih menjadi cerita yang penuh tanda tanya. Satu kisah menceritakan bahwa nama Tolukko digunakan sejak salah satu Sultan Ternate yang bernama Kaicil Tolukko memerintah sekitah tahun 1692. Namun kisah lainnya menyebutkan bahwa nama Tolukko berasal dari penyebutan nama asli benteng itu, yaitu Benteng Santo Lucas. Masyarakat asli Ternate yang kesulitan melafalkan nama Santo Lucas akhirnya menyebut benteng tersebut sebagai Benteng Tolukko.

EVY_5214
Benteng Tolukko

Menurut cerita, ada sebuah lorong rahasia yang mengarah langsung ke wilayah pantai. Dahulu, saat pemerintahan Portugis dan Belanda, jalan rahasia tersebut difungsikan sebagai jalur melarikan diri apabila terjadi pemberontakan atau hal-hal lain yang tidak diinginkan. Namun pada tahun 1864, benteng ini dikosongkan oleh Residen P. van der Crab karena sebagian bangunannya telah mengalami kerusakan. Pada saat dilakukan pemugaran tersebut, bangunan benteng ditinggikan sekitar 70 cm. Oleh pemerintah Republik Indonesia, bengunan benteng ini kemudian dipugar dan di perbaiki pada tahun 1996 – 1997.

 

IMG_9518
pemandangan ke laut lepas dari atas Benteng Tolukko

Berada di dalam Benteng Tolukko membuat angan saya seolah memasuki mesin waktu. Menyusuri lorong batu kecil berukuran kurang lebih 1 meter, yang menjadi satu-satunya akses menuju bagian dalam benteng membuat saya seolah-olah mendengar cerita masa lalu. Lantai batu yang mulai berlumut seperti menunjukkan berjuta bahkan bermilyar kaki yang pernah menapakinya. Dari atas bangunan benteng, saya bisa melihat Pulau Halmahera, Maitara danTidore di kejauhan. Kokohnya bangunan Benteng Tolukko seolah bercerita, walaupun berbagai kisah kelam yang pernah dialami rakyat Ternate telah disaksikannya, namun Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil yang manis. “Tolukko, terima kasih untuk cerita sejarah yang telah kau berikan, perjuanganmu dahulu akan selalu kami ingat”.

Year-End Trip #1 – Ternate, Finally I Met You

EVY_5633

Roda pesawat yang saya tumpangi akhirnya menyentuh aspal hitam landasan pacu Bandara Sultan Baabullah. Penerbangan panjang sejak pukul 23.00 waktu Jakarta itu akhirnya selesai juga pukul 08.25 waktu Ternate. Huft…… perjalanan yang cukup panjang.

IMG_9493
let’s start the journey!

 

IMG_9495
Bandara Sultan Baabullah, Ternate – just landed

 

Keluar dari lambung pesawat, sinar matahari terasa menggigit di kulit, dan membuat saya harus memicingkan mata untuk melihat sekeliling. Sembari menunggu bagasi keluar, saya sempat memperhatikan ruang kedatangan di Bandara Sultan Baabullah ini. Bandara Sultan Baabullah ini tidak terlalu besar, 2 buah conveyor belt tampak bergerak perlahan, mengantarkan bagasi-bagasi bawaan penumpang dari beberapa penerbangan yang mendarat dalam waktu yang tidak terlalu jauh bedanya. Bagasi sudah di tangan, mari kita mulai perjalanan di bumi rempah ini.

IMG_0032
bandara dengan pemandangan laut dan gunung

Mengelilingi Ternate sebaiknya menggunakan kendaraan roda 4, karena mataharinya sangat terik. Namun, apabila ingin lebih santai mungkin bisa mencoba untuk menggunakan kendaraan roda 2 dengan bonus sengatan matahari yang lumayan mencubit di kulit.

First Stop – Sarapan

Penerbangan panjang dari Jakarta menuju Ternate cukup membuat saya dan teman-teman sepakat bahwa kami membutuhkan asupan energi sebelum memulai perjalanan di Ternate. Dan setelah berdiskusi dengan driver (abang Gani) yang akan mengantarkan kami berkeliling seharian di Ternate, akhirnya kami sepakat untuk mencoba menu khas masyarakat setempat, Nasi Kuning. Ternyata, di Ternate ini masyarakatnya biasa sarapan Nasi Kuning dengan lauk ikan atau telur rebus.

Mobil yang saya tumpangi bergerak perlahan menyusuri jalanan beraspal di Kota Ternate, dan berhenti di depan sebuah gang kecil yang bertuliskan RM Kamis. Saat kami tanyakan ke bang Gani, kenapa disebut RM Kamis, menurut bang Gani karena yang punya lahir di hari Kamis :D

 

IMG_9504
gang menuju RM Kamis, tempat sarapan kami yang pertama di Ternate

Saya dan teman-teman memasuki gang kecil yang berada di antara 2 tembok tinggi dari rumah penduduk setempat. Gang itu berujung pada sebuah rumah yang menyediakan menu sarapan berupa Nasi Kuning dan Lontong Sayur. Niat awal saya untuk mencoba Nasi Kuning akhirnya goyah, dan berganti menu Lontong Sayur.

 

IMG_9506
mau coba yang mana? ini?

 

IMG_9505
atau yang ini?

Tidak menunggu lama, sepiring Lontong Sayur dengan telur rebus dan sambal goreng kentang terhidang di depan saya. Teman-teman memilih untuk mencicipi Nasi Kuning dan telur rebus. Aroma kuah dari Lontong Sayur sukses membuat perut saya berbisik kecil, baiklah… mari kita coba.

Setelah isi piring ludes, perut pun sudah tenang, saya dan teman-teman kemudian melanjutkan perjalanan. Akan ke mana kah kami?

Second Stop – Kedaton Kesultanan Ternate

IMG_9512
Kedaton Kesultanan Ternate

Saya dan teman-teman tiba di Kedaton Kesultanan Ternate sekitar pukul 09.15, masih cukup pagi, dan yang jelas masih sepi, sehingga kami bisa mendengarkan cerita dari bapak penjaga dengan lebih nyaman. Melewati bangunan pendopo yang terbuka di halaman belakang, yang pertama kami temui adalah lambang Kesultanan Ternate yang berupa Burung Garuda berkepala 2 mencengkeram tulisan Limau Gapi. Menurut cerita, lambang Burung Garuda inilah yang nantinya akan menjadi cikal bakal lambang negara Republik Indonesia yang kita kenal saat ini, dengan berbagai perubahan dan penyesuaian.

EVY_5208
lambang Kesultanan Ternate

Dari bangunan pendopo, saya kemudian menaiki tangga untuk mencapai bangunan kedaton. Memasuki sebuah ruangan besar, terdapat sebuah meja panjang dengan 12 kursi yang terbuat dari kayu, tertata dengan rapi.selembar taplak meja putih menghiasi meja panjang tersebut. Terdapat beberapa lemari kayu besar, yang salah satunya berisikan berbagai plakat serta piring keramik dari berbagai negara. Porselen kuno berwarna krem menghiasi lantai di ruangan ini. Kusen dan daun pintunya yang berwarna kuning gading tampak serasi dengan tembok beton yang sewarna dengan porselen. Sehelai tirai bermotif tampak menghiasi setiap pintu tertutup yang menuju ke kamar. Saya melewati sebuah pintu yang terbuka, yang mengarah ke ruang depan.

 

EVY_5207
meja panjang dan 12 kursi kayu yang terdapat di ruang belakang Kesultanan Ternate

 

EVY_5182
lukisan Kedaton Kesultanan Ternate yang pertama

 

EVY_5205
(ki-ka) Sultan Jailolo, Sultan Ternate, Sultan Tidore, Sultan Bacan

 

EVY_5199
lampu gantung yang terdapat di langit-langit ruang utama Kedaton Kesultanan Ternate

Saya memasuki ruangan utama bangunan kedaton, sebuah ruangan besar dengan dindingnya yang berwarna krem dan porselen senada sebagai lantainya. Beberapa lemari pajang tampak menghiasi ruangan utama ini. Masing-masing lemari berisikan benda yang berbeda. Ada yang berisikan peralatan perang, senjata, pakaian yang pernah digunakan oleh Sultan terdahulu, peralatan yang terbuat dari keramik, dan masih banyak lagi. Foto-foto Sultan Ternate yang pernah bertahta pun tampak menghiasi ruangan ini. Di langit-langit ruangan terlihat sebuah lampu gantung besar terbuat dari logam. Tepat di bawah lampu gantung tersebut, terdapat sebuah meja yang ditutupi dengan kain putih yang di atasnya terdapat sebuah mangkok keramik putih besar, tempat air dari tanah, mangkok pembakaran aroma (sejenis dupa), serta 4 buah gelas kaca yang berisi air. Menurut bapak penjaga yang menemani saya berkeliling, air di meja itu akan diganti 3x dalam seminggu, yaitu di Hari Senin, Selasa dan Kamis.

 

EVY_5201
meja di tengah ruang depan yang terdapat mangkok berisi air di atasnya, yang diganti 3x dalam seminggu

 

EVY_5204
ruang utama dari Kedaton Kesultanan Ternate

 

EVY_5188
senjata di lemari pajang Kedaton Kesultanan Ternate

 

EVY_5190
perlengkapan perang – baju besi dan perisai

 

EVY_5196
koleksi senjata

Di sudut-sudut ruangan terdapat berbagai benda kuno yang mayoritas terbuat dari logam. Sebuah kamar berpintu kuning yang ditutupi sehelai tirai bermotif, yang disebut Kamar Puji, merupakan ruangan sakral yang di dalamnya terdapat mahkota Kesultanan Ternate yang konon memiliki rambut yang terus tumbuh hingga saat ini. tidak sembarang orang yang bisa masuk dan melihat isi dari Kamar Puji. Hanya orang-orang terpilih dan mendapatkan ijin dari Sultan yang bisa masuk ke kamar ini, dan unfortunately, sepertinya saya belum terpilih untuk bisa masuk ke kamar tersebut.

EVY_5192
Kamar Puji – tempat disimpannya mahkota Kesultanan Ternate

 

EVY_5193
mata uang Dirham yang digunakan pada masa kepemimpinan Sultan Haji Mudaffar Sah II, Sultan Ternate ke-48

 

EVY_5197
Kelapa Kembar – upeti Raja Sangir kepada Sultan Ternate di tahun 1750

 

EVY_5194
tempat ludah Sultan, biasanya diletakkan di kanan dan kiri singgasana Sultan

 

EVY_5198
lampu yang dulu digunakan sebagai alat penerangan di kesultanan, menggunakan minyak Kelapa

 

EVY_5203
plakat dari Belanda, yang dikirimkan untuk alm. Sultan Mudaffar Sjah

Dari ruangan utama tersebut, saya menuju bagian teras dari Kedaton Ternate. Di kejauhan terlihat laut luas membentang. Di halaman Kedaton, terlihat 3 buah tiang bendera yang berdiri pada sebuah pondasi bundar dan berundak. Di setiap tiang berkibar sebuah bendera, yang terdiri dari bendera Merah Putih, bendera Kesultanan Ternate dan bendera Kesultanan Islam tertua di Indonesia. Di seberang halaman kedaton, terdapat sebuah lapangan hijau membentang luas. Dari informasi yang saya dapatkan, di lapangan itu biasa diadakan keramaian untuk masyarakat Ternate.

 

EVY_5200
3 tiang bendera yang terdapat di halaman Kedaton Kesultanan Ternate

 

IMG_9513
bangunan museum yang terdapat di sisi kanan kompleks Kesultanan Ternate, hanya sayang saat saya ke sana bangunan ini tutup

Berdiri di ujung teras Kedaton Ternate, merasakan wangi laut yang samar tercium, Indonesia, I love you so much!

Tips untuk mengunjungi Kedaton Ternate:

  1. Gunakan pakaian yang sopan, usahakan tidak bercelana pendek untuk wanita;
  2. Datanglah di pagi hari, kedaton ini dibuka untuk umum mulai pukul 9 pagi.

Kota Tua Jakarta, Menyusuri Sisa-Sisa Kejayaan Batavia (part #1)

100_2165

Mendengar kata “Kota Tua Jakarta” yang langsung terbayang adalah deretan gedung-gedung tua berarsitektur Eropa, dengan konstruksi tinggi, jendela-jendela besar, halaman yang luas dan berbagai keunikan lainnya. Dan menyusuri Kota Tua Jakarta, adalah kegiatan yang sangat mengasyikkan sekaligus akan menambah pengetahuan mengenai sejarah yang ditinggalkannya.

Kota Tua Jakarta adalah sebuah kawasan konservasi cagar budaya di daerah Jakarta terletak di antara wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Zona utamanya (zona yang berada di dalam “benteng” Oud Batavia) meliputi Taman Fatahillah, Pelabuhan Sunda Kelapa dan area Kali Besar (luasnya sekitar 75 Ha). Sementara area pendukungnya meliputi Kampung Bandan, Stasiun Kota, MuseumBahari, Pasar Ikan, Galangan/Benteng dan Roa Malaka (sekitar 59 Ha). Sedangkan area di luar “benteng” Oud Batavia meliputi Kampung Luar Batang (19 Ha), Pekojan (49 ha), serta China Town (132 Ha) yang mencakup area Pintu Kecil, Pasar Pagi, Pintu Besar Selatan, Pinangsia, Glodok dan Tambora.

zones_kota_tua-570x1098
sumber: http://www.jeforah.org/zones

Pusat Kota Tua Jakarta adalah sebuah bangunan besar berwarna putih yang terletak di tengah-tengah Taman Fatahillah. Bangunan “Gouverneurs Kantoor” yang sekarang difungsikan sebagai Museum Fatahillah merupakan sebuah bangunan bersejarah yang dulu menjadi kantor balaikota, pusat pemerintahan Hindia Belanda. Dan di sekitar bangunan ini, banyak bangunan-bangunan tua bersejarah yang tetap dijaga keberadaannya dan menjadi situs cagar budaya.

100_2185
Gouverneurs Kantoor

Di halaman Museum Fatahillah atau yang dikenal dengan nama Taman Fatahillah ini terdapat sebuah bangunan kecil yang dulu merupakan air mancur yang sumber airnya berasal dari Pancoran Glodok. Dan apabila diperhatikan dari atas, halaman Taman Fatahillah memiliki motif-motif ubin yang berbeda. Ketidakseragaman motif tersebut dikarenakan dahulu ada saluran air yang mengalirkan air ke pusat taman. Dan dahulu, air mancur itu menjadi sumber air bersih bagi masyarakat di sekitar Oud Batavia[http://ayokejakarta.blogspot.co.id/2012/06/kota-tua.html].

100_2176

100_4460
sisa-sisa gedung Dasaad Musin Concern
100_2184
Museum Wayang

Di depan Museum Fatahillah, berdiri bangunan Café Batavia yang bersanding dengan bangunan Kantor Pos Kota. Di antara bangunan itu terdapat gedung Dasaad Musin Concern, gedung yang dulu menjadi pusat kelompok dagang Dasaad Musin. Di sebelah kiri gedung balaikota berdiri Museum Wayang, gedung tua bekas rumah ibadah di jaman pemerintahan Hindia Belanda. Sedangkan di sebelah kanan balaikota berdiri gedung Museum Seni Rupa & Keramik, yang merupakan gedung bekas lembaga peradilan jaman pemerintahan Hindia Belanda.

100_2171
Museum Seni Rupa & Keramik

Di sekeliling pusat Kota Tua Jakarta masih banyak berdiri bangunan-bangunan tua yang penuh dengan sejarah. Gedung Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Beverly Hills Hotel & Spa, Gedung Eks Chartered Bank of India, Australia, & China, dan lain-lain.

Di Taman Fatahillah, di dekat Gedung Kantor Pos Kota, terdapat sebuah meriam besar yang diletakkan di atas pondasi beton berwarna merah dan dikelilingi oleh pagar besi. Itu adalah meriam si Jagur. Meriam legendaris yang kental akan mitos.

Banyak legenda yang menceritakan asal muasal Meriam Si Jagur. Meriam dengan penampakan fisiknya yang unik, dengan simbol kesuburan yang terletak di bagian belakang tubuhnya, yang untuk sebagian besar masyarakat dianggap sebagai simbol pornografi. Rumor yang beredar menyebutkan bahwa Meriam Si Jagur adalah “dokter” yang memiliki kekuatan untuk memberikan keturunan bagi si mandul!

IMG_0292
meriam Si Jagur

Beberapa legenda yang terkenal bercerita, Si Jagur merupakan salah satu meriam yang diberikan oleh pihak Kompeni kepada Raja Pajajaran sebagai pertukaran untuk menyembuhkan penyakit aneh yang diderita oleh putri sang raja. Meriam yang diberikan adalah Ki Amuk, Nyai Setomi dan Si Jagur.

Legenda kedua berawal dari mimpi buruk sang Raja Pajajaran. Suatu ketika Sang Raja bermimpi mendengar suara gemuruh yang dahsyat, yang berasal dari sebuah senjata yang tidak dikenalnya. Raja pun bertitah kepada Patih Kiai Setomo untuk mencari senjata yang sangat dahsyat itu. Apabila Sang Patih gagal dalam pencarian senjata itu, maka Sang Patih akan dihukum mati. Singkat cerita, dalam usahanya mencari senjata tersebut, Patih Kiai Setomo dan istrinya Nyai Setomi kemudian bersemedi dalam waktu yang cukup lama. Karena Patih Kiai Setomo tak kunjung datang untuk melaporkan hasil pencariannya terhadap senjata yang dahsyat tersebut, Raja Pajajaran kemudian menyuruh prajuritnya untuk mencari Kiai Setomo dan menggeledah tempat kediamannya. Namun yang mereka temukan di kediaman Kiai Setomo hanyalah 2 buah pipa besar yang aneh dan tidak dikenal. Ternyata ke-2 pipa tersebut adalah penjelmaan dari Kiai Setomo dan Nyai Setomi. Cerita mengenai senjata meriam hasil perubahan wujud Kiai Setomo dan Nyai Setomi terdengar ke mana-mana, hingga ke telinga Sultan Agung di Mataram. Sultan Agung kemudian memerintahkan agar ke-2 meriam tersebut dibawa ke Mataram. Namun meriam Kiai Setomo menolak dan melarikan diri ke Batavia. Masyarakat Batavia saat itu gempar dan menganggap bahwa meriam Kiai Setomo adalah sebuah benda yang suci. Mereka kemudian memayunginya untuk melindungi dari panas dan hujan. Meriam itu pun diberi nama Si Jagur atau Sang Perkasa.

Sedangkan menurut sejarah, Meriam Si Jagur dibuat di pabrik senjata Portugis “St. Jago de Barra” yang terletak di Makau, Cina. Meriam itu terbuat dari perunggu cengan berat 3.5 ton atau 24 pound. Meriam itu kemudian ditempatkan di Benteng Batavia (Kasteel Batavia) untuk menjaga pelabuhan dan kota Batavia dari serangan musuh. Pada tahun 1809, Deandels menghancurkan Kota Batavia dan Meriam Si Jagur dipindahkan ke Museum Oud Batavia (sekarang Museum Wayang). Kemudian, Meriam Si Jagur dipindahkan kembali di bagian utara Taman Fatahillah (di antara bangunan Kantor Pos dan Café Batavia) dengan moncong mengarah ke Pasar Ikan, lurus ke arah Jalan Cengkeh, membelakangi Balai Kota (Stadhuis).

IMG_0294
“Si Jagur” the Canon