Tag Archives: Flores

Padar, I Love You from Sunset to Sunrise and Back

EVY_1581

 

Setelah menikmati aroma cinta di Pink Beach, perjalanan saya pun berlanjut menuju suatu tempat yang ternyata tidak kalah indahnya. Kapal Halma Jaya yang saya naiki bergerak meninggalkan semburat merah muda-nya pasir pantai, dan bergerak semakin menjauh ke arah Timur. Sekitar 2 jam kemudian, kapal yang saya naiki telah berada di perairan yang berhadapan dengan bukit-bukit yang sambung-menyambung. Terlihat beberapa kapal juga yang bersandar di sana. Iya, saya telah tiba di depan Pulau Padar. Pulau yang selama ini hanya saya dengar dari cerita teman, dan hasil membaca berbagai artikel dari media online, sekarang bisa saya lihat dengan mata kepala sendiri.

 

DCIM100GOPROGOPR0757.
karena selfie wajah udah terlalu mainstream :p

 

DCIM100GOPROGOPR0756.
on the way to Padar

 

EVY_1576
pantai di Pulau Padar

 

Barisan perbukitan yang berwarna coklat, kering namun eksotis terbentang luas di depan mata saya. Terlihat sangat kontras dengan pasir pantainya yang putih kecoklatan, birunya langit dan gradasi hijau toska lautan. Speechless!

Sambil menunggu antrian menaiki kapal kecil yang akan mengantarkan saya dan teman-teman untuk mencapai bibir pantai di Pulau Padar, saya memuaskan mata dengan mengamati sekeliling. Beneran deh, Tuhan menciptakan surga itu ada di Indonesia.

Dan ketika kaki saya mendarat di halusnya pasir putih di pantainya, keindahan itu semakin nyata. Saya mengikuti rombongan untuk menaiki bukit yang ada di depan kami. Menjejakkan kaki di keringnya tanah berbatu, menanjak dengan hati-hati karena di beberapa bagian tanah dan batunya gampang lepas. Sehingga sebelum menginjakkan kaki di tanah secara “ajeg” harus dirasa-rasa dulu apakah tanahnya stabil, atau malah labil?

 

EVY_1582
trek untuk naik ke puncak bukit Padar yang menjadi spot favorit

 

DCIM100GOPROGOPR0789.
pemandangan laut dari atas Padar

 

Ditemani dengan matahari sore yang bersinar terang (cenderung panas :D), saya menaiki bukit tanah berbatu itu menuju puncaknya. Saya menyusuri jalan setapak yang ada di punggung bukit. Menikmati setiap “centi” tanah berbatu yang saya lalui, rerumputan kering, debu halus tanah yang akan naik dari permukaan tanah setiap ada kaki yang menjejaknya, serta menghitung satu dua rerumputan yang masih menyisakan warna hijaunya.

 

EVY_1583
dari punggung bukit ini kita bisa melihat lautan luat yang dikelilingi oleh bukit-bukit dan pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Padar

 

Semakin ke atas, punggung bukit ini semakin berbatu. Jalanan setapak yang tadinya rata, mulai berundak-undak sehingga untuk mencapai ke puncak, saya pun harus melipir-melipir jalannya. Saya menemukan sebatang pohon di sela-sela undakan-undakan batu, daunnya masih menyisakan warna hijau bercampur dengan coklat dari dedaunannya yang mengering.

 

EVY_1587
semakin mendekati puncak, semakin terjal dan berbatu trek yang harus dilalui

 

IMG_6030
ini pemandangan trek di punggung bukit Padar

 

DCIM100GOPROGOPR0784.
yang narsis, yang narsis…… mau sendiri, mau reramean, monggo….

 

DCIM100GOPROGOPR0777.
ayo semangat!! kalian pasti bisa sampe puncak :D

 

Saya tiba di (beberapa meter sebelum) puncak bukit dengan keringat yang lumayan banyak mengucur di sekujur tubuh. Matahari sore itu masih terang benderang. Dan saya pun beringsut mencari tempat yang sedikit terlindung dari matahari untuk menghindar dari panasnya. Duduk di balik bongkahan batu, beralaskan rumput yang mengering sambil menikmati suasana sore, matahari yang semakin beranjak ke sisi Barat, hembusan angin, gemerisik suara rumput kering dan celotehan teman-teman.

 

EVY_1588
pemandangan spektakuler yang bisa dilihat dari puncak bukit Padar

 

Saya dan teman-teman akan tetap di atas bukit hingga matahari terbenam.

 

EVY_1596
hi, there are our shadows

 

Menikmati menit demi menit, menunggu bola kuning keemasan menjatuhkan diri ke garis cakrawala sambil memuaskan mata dengan pemandangan yang sangat indah ini, sungguh pengalaman yang tidak akan terlupakan.

 

IMG_6019
Hey, I’m on Padar! When will you come here?

 

DCIM100GOPROGOPR0785.
sekali-sekali posting selfie melet di web :p

 

Dan sore itu, ketika seluruh teman-teman telah tiba di atas bukit, kehebohan kecil terjadi. Ada apa???

Bukit yang tadinya tenang, tiba-tiba berubah bak behind the stage-nya catwalk. Beberapa teman dengan segera berganti costume. Dan gaun-gaun indah pun segera dipakai. Hei, apakah bakal ada photo session di sini?

Yes! Rombongan “top model” trip Sailing Komodo pun segera beraksi. Pasang gaya dengan gaun-gaun cantik yang telah disiapkan. Girls, persiapan kalian benar-benar dahsyat ya…. :p

 

DSC_4666
ini dia, top model trip Sailing Komodo – courtesy by mas Har

 

Esa, Delvie, Ayu, Yoma, Osok beraksi bak di atas catwalk, dan mas Har siap membidik dari balik lensa kamera.

Selagi rombongan top model melakukan photo session, teman-teman yang lain memanfaatkan moment menjelang sunset ini dengan berfoto sebanyak-banyaknya. Nyaris tidak ada spot kosong, semua dipakai untuk foto :D

 

EVY_1602
I’m a Superman!!! –> kata Joko :D

 

EVY_1599
cinta Indonesia Lis? harus lah!

 

Ada yang sambil latihan yoga, bergaya bak Superman, memegang bendera merah putih, selfie sana sini dan seribu gaya lainnya.

 

EVY_1620
ini “kakak” a.k.a Nadine yang sedang ngajarin yoga di puncak Padar

 

EVY_1618
yang ini “muridnya” Nadine, sebuat saja Joko, yang berhasil mempraktekkan gaya yoga di puncak Padar

 

EVY_1612
kalau yang ini??? :D hihihihihihi…. piye tho mas Rhema? gayamu itu lho……

 

Sementara saya, seolah terpaku dengan keindahan yang terpampang di depan mata.

 

EVY_1594
indah, eksotis, cantik, ga tau lagi deh gimana bilangnya?

 

EVY_1595
bersyukur banget pernah sampai di Padar, benar-benar bikin jatuh cinta dan mau ngulang ke sana lagi

 

Bukit Padar yang sambung-menyambung membentuk formasi seperti sebuah percabangan pohon ke kanan dan kiri, dengan lengkungan garis pantai yang sangat unik. Ditambah dengan kilau kuning keemasan cahaya matahari di atas permukaan air di sisi Barat, dan bola jingga yang semakin rendah seperti akan menyentuh wajah lautan, benar-benar seperti lukisan. Saya menikmati saat-saat menghilangkan matahari di balik bukit di sisi Barat sambil merekam semuanya dari balik lensa kamera. Hey, I love sunset very much!

 

EVY_1613
I love sunset very much!

 

IMG_6027
ketika terang hilang, dan berganti gelap

 

Seiring sore berganti senja, dan ketika gelap mulai merambat perlahan di Bukit Padar, saya pun bergegas menuruni punggung bukit untuk kembali ke pantai. Sedikit terburu-buru untuk turun, karena takut kemalaman dan semakin gelap (pas naik, terang benderang, itu aja beberapa kali hampir kepleset, apa kabar kalau gelap? :p).

Dan begitu sampai di pantai, saya pun kembali bergegas menaiki perahu kecil untuk sampai ke kapal. Sampai di kapal, mas-mas ABK sudah menyiapkan makan malam dengan menu yang sangat spesial! Hmm….. nyam… nyam… Mari makan….. #ambilpiringnasilauksayurbuah :D

Malam ini kami akan bermalam sambil menikmati bintang di depan Pulau Padar ini. Wow……. #mataberbinarbinar #penuhtandacinta

Selesai makan kami menghabiskan malam dengan cerita-cerita di ruangan utama kapal. Riak gelombang hampir tak terasa, dan kapal nyaris tidak bergerak. Bulan terlihat jelas di luasnya langit Padar, ditemani ribuan bintang. Huuuuuuuaaaaaa…….. I love this night!

Keinginan untuk mendapatkan foto bulan ternyata harus saya redam, karena walaupun tidak ada gelombang, namun kapal yang bersandar di atas air ini tidaklah diam seperti yang terlihat. Saya awalnya sudah mencoba untuk memasang kamera di atas tripod, tapi tiba-tiba….. terasa ayunan kecil riak gelombang yang membuat kapal sedikit bergoyang. Ah, bulan malam ini cukup dinikmati dengan lensa mata saja.

Dan malam ini adalah malam paling tenang selama sailing trip ini. Tidak ada suara motor kapal yang mengejar tujuan di depan kami, tidak ada suara gelombang yang pecah menghantam buritan kapal. Tenang.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Alarm di handphone saya berbunyi seiring teriakan Seto, TL trip, “Bangun, bangun…. Yang mau sunrise-an”.

Setelah cuci muka dan sikat gigi, saya pun segera menyambar dry bag berisi kamera dan tripod. Yuk, kita hunting milkyway dan sunrise.

Saya termasuk yang terakhir tiba di pantai Padar. Sementara teman-teman yang lain sudah mulai mendaki bukit untuk menikmati sunrise di sana. Hmm…. Saya sudah memutuskan untuk tidak ikut menyambut sunrise di atas bukit karena saya ingin milkyway-an di pantai.

Duduk di hamparan pasir dan batu yang ada di pantai Pulau Padar ini, sambil menikmati langit yang berhiaskan ribuan, bahkan mungkin jutaan bintang yang berpijar, membuat saya tidak bisa berkata-kata. Ah, suasana seperti ini yang selalu membuat saya rindu dengan rumah. Teringat biasanya duduk di ayunan besi yang ada di halaman, sambil menikmati langit malam dengan bintang dan bulan yang menghiasinya, sambil bercerita dengan ibu dan bapak. Huuuuuuaaaa….. mendadak kangen rumah.

Saya harus menunggu beberapa saat sebelum beranjak memasang tripod dan menyetel kamera. Okay, semoga malam ini beruntung dan mendapatkan foto langit Padar yang cakep ini.

Saya mencari beberapa spot untuk mendapatkan foto dengan angle yang berbeda. Dan ternyata……. Langit Padar tidak kalah cantik dengan landscape-nya. Heaven is here.

 

EVY_1661 2
langit yang seperti ini yang selalu bikin kangen dengan kegiatan outdoor, jauh dari keramaian dan gemerlap lampu

 

EVY_1665 2
rela banget kalau setiap malam bisa memandang langit seperti ini

 

Setelah mendapatkan beberapa shot foto, saya kemudian mengarahkan kamera ke sisi Timur untuk mendapatkan moment munculnya matahari pagi itu. Semburat jingga mulai terlihat di langit Timur. Namun sayang, ternyata pagi itu kabut sedikit tebal sehingga saya tidak bisa melihat si bola emas muncul dari balik cakrawala. Tapi benar, Padar, I love You from sunset to sunrise and back!

 

EVY_1678 2
I’m also love sunrise

 

IMG_6037
moment mengintip dari balik lensa ini yang menjadi favorit

 

Sambil menunggu teman-teman turun dari atas bukit, saya memuaskan mata untuk menikmati pemandangan indah yang ada di depan mata. Ternyata, kapal kami bukan satu-satunya kapal yang bermalam di depan Pulau Padar ini, di balik bukit di sisi kanan ternyata ada 1 kapal pesiar yang ditumpangi Becky Tumewu dan keluarganya. Dan pagi ini kami sempat bertemu di pantai Pulau Padar ini.

 

EVY_1680 2
for you…. someday I will take you here

 

Setelah seluruh teman-teman turun, kami pun kembali ke kapal untuk kemudian melanjutkan perjalanan. Setelah dari Padar ini, kami akan dibawa ke mana ya??? Penasaran deh….. Yuk, kita berlayar….

 

DSC_4790
sarapannya 2 porsi yaaaa….. wajah-wajah setelah sunrise-an di Pulau Padar, kelaparan :p (courtesy by mas Har)

 

 

Pink Beach, Pantai yang Akan Membuat Semua Jatuh Cinta

EVY_1535

 

Setelah puas melihat Manta, sailing dilanjutkan menuju suatu spot yang sangat terkenal (justru) di kalangan turis mancanegara (yah…. di kalangan turis domestik juga terkenal sih, hanya saja lebih banyak turis mancanegara yang datang ke sana), yaitu Pink Beach, atau Pantai Merah yang ada di salah satu sudut Pulau Komodo, Flores.

 

let's go to Pink beach!
let’s go to Pink beach!

 

Pantai Merah merupakan salah satu dari 7 pantai di dunia yang pasirnya berwarna merah muda. Selain Pantai Merah atau Pink Beach yang ada di Pulau Komodo ini, Pink Beach juga terdapat di Harbor Island, Bahamas; Bermuda; Santa Cruz Island, Filipina; Sardinia, Itali; Bonaire, Dutch Carribean Island dan Balos Lagoon, Crete, Yunani. Nah, bangga dong ya….. ternyata di Indonesia tercinta ini ada salah satu pantai yang pasirnya berwarna pink, yang hanya ada 7 di dunia! Ah, I’m proud to be an Indonesia!

Kapal yang saya naiki bergerak meninggalkan Manta Point menuju Pink Beach. Matahari siang bersinar sempurna, ditambah desiran angin laut yang cukup kencang, buih yang pecah di ujung buritan kapal meninggalkan jejak busa putih di belakang. Dan di depan saya sudah terbentang selarik garis merah muda tipis yang membatasi hijau birunya lautan dengan putihnya pasir. Yeay….. Pink Beach, here I come!

 

dan... ini dia, salah 1 dari 7 pink beach yang ada di dunia!
dan… ini dia, salah 1 dari 7 pink beach yang ada di dunia!

 

Pantai Merah siang itu cukup ramai oleh pengunjung, baik wisatawan mancanegara maupun lokal. Pantainya yang khas dengan pasir berwarna merah muda terlihat lebih shiny karena sina matahari yang bersinar dengan sangat terang :D

Seperti biasa, dari kapal kami harus menggunakan kapal putih kecil untuk mencapai bibir pantai karena menghindari karang dan coral yang terlihat jelas di bawah permukaan air laut yang sangat jernih ini. Dan begitu kaki terbenam di pasir pantai…… hanya halus yang terasa di telapak kaki.

 

pasirnya halus banget terasa di kaki
pasirnya halus banget terasa di kaki

 

Di Pantai Merah saya hanya berniat untuk menikmati keindahan yang ada sambil mengabadikannya dari balik lensa kamera. Ga pake acara berendam di pantai (pertimbangannya karena matahari yang sangat cerah sinarnya :D).

Saya berjalan ke sisi kanan pantai untuk kemudian mendaki bukit kecil yang ada di ujungnya untuk melihat pantai ini dari atas. Pasir di pantai ini sangat halus, dengan semburat warna merah muda yang konon berasal dari serpihan karang berwarna merah yang sudah mati dan banyak ditemukan di pantai ini. Namun, ada juga yang menyebutkan bahwa warna merah muda itu karena keberadaan hewan mikroskopik bernama foraminifera yang menghasilkan warna merah muda atau pink terang pada terumbu karang. Mana yang benar, wallahualam.

 

itu bukit kecil yang akan saya daki
itu bukit kecil yang akan saya daki

 

Di ujung pantai, saya melangkahkan kaki untuk mendaki sebuah bukit kecil. Seperti pulau-pulau kecil yang telah kami singgahi selama perjalanan sailing ini, bukit yang ada di sini pun terlihat coklat, kering meranggas karena musim kemarau yang sangat panjang ini. Sehingga, setiap kaki menjejak ke permukaannya, selapis tipis debu tanah akan terbang dari permukaannya yang kering. Rumput-rumput yang tumbuh di permukaan tanah pun terlihat kering kecoklatan.

 

pemandangan dari atas bukit kecil di sisi kanan Pink beach
pemandangan dari atas bukit kecil di sisi kanan Pink beach

 

Kaki saya akhirnya sampai di puncak bukit kecil itu, dan apa yang saya lihat??? Wow….. pemandangan Pink Beach yang terlihat dari atas ini sungguh indah! Bukit yang coklat mengering terlihat sangat kontras dengan putih dan merah muda pasir pantai, ditambah gradasi biru toska air laut. Bagus banget!!!

 

ini pemandangan dari sisi kanan pantai
ini pemandangan dari sisi kanan pantai

 

Sinar matahari yang bersinar garang tidak mematahkan semangat saya untuk berpanas-panas berdiri di atas bukit dan mencoba merekam seluruh keindahan yang terpampang di depan mata. Walaupun keringat deras mengucur :D

 

yes, I'm here
yes, I’m here

 

Setelah puas menikmati keindahan Pink Beach dari atas bukit, saya kemudian menuruni bukit untuk “pindah” ke bukit yang ada di seberangnya, di sisi kiri pantai. Menyeberangi pasir halus berwarna merah muda dan putih yang basah dan sedikit hangat, sambil melihat teman-teman yang sedang asyik ber-snorkling ria di bibir pantai, menyenangkan.

 

rasanya pengen guling-guling di pasir pink-nya :D
rasanya pengen guling-guling di pasir pink-nya :D

 

mencari tempat teduh biar ga gosong :D
mencari tempat teduh biar ga gosong :D

 

ga tau ini ganggang apa, tapi cantik
ga tau ini ganggang apa, tapi cantik

 

Di sisi kiri pantai, kembali saya melangkahkan kaki, menyusuri bukit tanah berdebu yang ditumbuhi ilalang yang mengering, dan beberapa perdu yang berusaha mendekap erat warna hijau daunnya di tengah kemarau yang panjang ini. Kaki saya akhirnya tiba di puncak bukit, dan mata saya kembali disuguhi pemandangan yang tidak kalah cantiknya. Gradasi air laut, semburat merah muda di pasir, serta eksotisnya bukit yang mengering berwarna coklat, sungguh bagaikan lukisan. Jadi menyesal, kenapa tidak dari dulu saya berani meng-explore bagian timur dari negeri tercinta ini???

 

pemandangan dari atas bukit di sisi kiri pantai juga tidak kalah indah lho...
pemandangan dari atas bukit di sisi kiri pantai juga tidak kalah indah lho…

 

ini trek yang harus dilalui untuk mendaki bukit di sisi kiri pantai
ini trek yang harus dilalui untuk mendaki bukit di sisi kiri pantai

 

Setelah mendapatkan beberapa frame terbaik dari atas bukit, kaki saya mulai melangkah menuruni bukit. Setiap kaki ini menjejak tanahnya, selapis debu coklat tipis akan naik dari permukaan, betapa kering dan gersangnya bukit ini di tengah kemarau yang sangat panjang ini. Saya membayangkan alangkah hijaunya bukit ini dan bukit-bukit lain yang telah saya datangi pada musim penghujan. Pasti keindahannya akan memberikan kesan yang berbeda. Jadi timbul keinginan untuk datang kembali pada musim penghujan, untuk melihat hijaunya pulau dan bukit-bukit ini.

 

EVY_1562
bukit-bukitnya kering meranggas karena kemarau yang sangat panjang

 

EVY_1564
rela panas-panasan mendaki bukit ini demi pemandangan yang ajib

 

EVY_1565

masih tersisa beberapa perdu dan pohon hijau di tengah kekeringan ini

 

Akhirnya saya menghentikan langkah di bawah sebatang pohon yang cukup lah menghalau sinar matahari yang sedang garang-garangnya ini. Bergabung dengan teman-teman yang juga sedang menghindari sinar matahari yang cukup bikin kulit terasa seperti dicubit-cubit :D

 

EVY_1570
nonton yang sedang berenang aja, panasnya itu lho……

 

EVY_1569

takjub, liat mereka tahan berpanas-panasan

 

Duduk-duduk di dahan sebuah pohon besar yang tumbuh di pinggir pantai, sembari bercanda dengan teman-teman, dan menunggu teman-teman yang masih asyik berenang, menikmati pemandangan laut yang luar biasa indahnya, dan merasakan hembusan angin laut yang makin lama makin membuat mata saya semakin redup, ngantuk! :D

Dan akhirnya karena akan mengejar sunset di suatu tempat yang tidak kalah eksotis dan indah, kami pun kembali ke kapal untuk meneruskan pelayaran ini (ish…. istilahnya “pelayaran ini” berasa naik cruise wisata yang gede itu :D). See you again Pink Beach…. I will see you again, someday.

 

hanya jejak kaki yang ditinggalkan, beserta kenangan akan indahnya pantai ini
hanya jejak kaki yang ditinggalkan, beserta kenangan akan indahnya pantai ini

 

 

 

 

 

 

Menanti Manta

EVY_1480

 

Setelah memuaskan mata dengan landscape dari puncak Gili Laba, perjalanan sailing diteruskan untuk berburu Manta. Eits, jangan salah…. kami tidak berburu untuk membunuh lho… tapi hanya berburu Manta untuk melihat dari dekat dan tentu saja mengabadikannya dari balik lensa kamera :)

 

bye bye Gili Laba....
bye bye Gili Laba….

 

Meninggalkan Gili Laba dengan segala keindahannya, kapal pun bergerak menuju spot Manta Point, di mana biasanya Manta banyak terlihat. Tapi di sini kami sudah diwanti-wanti “Hanya yang bisa berenang yang boleh nyebur!”. Ok, fixed! Saya cukup nonton Manta dari atas kapal aja :D

 

EVY_1450
para pemburu Manta

 

berburu Manta?
berburu Manta?

 

Kapal kami tidak terlalu lama berlayar untuk mencapai Manta Point. Teman-teman yang jago berenang pun sudah bersiap-siap untuk nyebur dan mengejar Manta (tolong suruh Manta-nya berenang ke dekat kapal ya teman-teman…. biar bisa difoto :D).

 

dan inilah yang ditunggu-tunggu... Manta!!!
dan inilah yang ditunggu-tunggu… Manta!!!

 

Manta Point merupakan lokasi untuk memantau Manta yang paling representatif. Di lokasi ini kita akan melihat berpuluh-puluh ekor Manta yang berenang dengan bebasnya. Manta banyak dijumpai pada bulan Maret – April serta September – November.

 

ga cuma 1! tapi banyak!!!
ga cuma 1! tapi banyak!!!

 

Di lokasi, terlihat beberapa kapal yang sudah lebih dulu tiba, dan beberapa orang yang sudah berenang-renang dengan asyiknya. Teman-teman yang bisa berenang tidak perlu disuruh, dan dengan cepat segera loncat dari kapal. Byuuuuuuuurrrrr…… ah, saya iri :(

 

kapal pemburu Manta
kapal pemburu Manta

 

Dan ternyata memang benar, di lokasi itu terlihat banyak sekali Manta yang berenang ke sana ke mari. Manta merupakan varian ikan Pari dengan lebar tubuh bisa mencapai 7 meter dan berat hingga 3 ton. Manta berenang dengan cara menggerakan sirip dadanya yang berada merata dari kepala hingga bagian belakang. Hal itu lah yang membuat Manta seolah-olah terbang di lautan.

Manta memiliki ekor yang lebih pendek daripada ikan Pari pada umumnya, namun memiliki kepala yang terlihat seperti tanduk berbentuk sirip. Fungsi sirip tersebut untuk membantu memasukkan air laut yang mengandung plankton, yang merupakan sumber makanan utama bagi Pari Manta. Selain plankton, Pari Manta juga memakan udang dan ikan-ikan kecil lainnya (tenang aja, kalian aman kok karena bukan termasuk jenis makanan yang disukai Manta :p)

 

EVY_1478
melihat Manta dengan mata kepala sendiri…… rasanya wow!!!

 

EVY_1515
ayo, mana Mantanya??? cari………

 

kalau ini, termasuk Manta ga??? :p
kalau ini, termasuk Manta ga??? :p

 

Karena saya tidak ikut nyebur untuk bercanda dengan Manta, saya pun harus cukup puas untuk keliling kapal dan sesekali melongok ke laut untuk melihat Manta yang berenang di sekitar kapal kami.

Saya mau nunjukin kapal yang telah membawa kami berlayar mulai dari Lombok, dan insyaallah akan bersandar di Labuan Bajo keesokan hari.

 

tiang utama kapal
tiang utama kapal, keliatan kan ruang kemudi yang ada di atas?

 

EVY_1451
laju perahuku laju…. membelah laut nusantara…

 

Kapal yang kami gunakan ini terbuat dari kayu, kokoh! Di bagian depan terdapat sebuah tiang utama dengan tangga kayu di kanan kirinya. Dari bagian depan, kita bisa melihat ruang utama yang menjadi tempat kami biasa berkumpul, ya cerita-cerita, makan bareng, nyanyi-nyanyi, menyimpan tas, ransel, gear snorkling sampai sandal dan sepatu :D

 

EVY_1510
itu tempat kami berkumpul like a family :)

 

Nah, di buritan sebelah kanan, ada tangga menuju ke atas, ke ruang kemudi. Di ruang kemudi itulah, Kapten Muji’an mengemudikan kapal yang menjadi rumah kami selama 4 hari 3 malam ini. Thanks Capt!

 

EVY_1470
ini ruang kemudi, dan itu yang sedang bertugas adalah Kapten Muji’an, kapten kapal kami

 

EVY_1472
Kapten Muji’an meninggalkan kemudinya sebentar, memberi saya kesempatan untuk memotret ruang kerjanya

 

EVY_1471
dari jendela di ruang kemudi, bisa melihat lautan luas di depan sana

 

Nah, itu teman-teman sudah selesai berburu Manta, dan mulai naik ke kapal lagi untuk melanjutkan perjalanan. Hari ini masih ada 2 spot cantik yang akan dikunjungi, jadi harus bergegas. Yuk, kita berlayar lagi!

 

 

 

Gili Laba, The Place You Must Hike Once in A Lifetime

EVY_1410

 

 

Di pagi ke-3 ini, kembali saya dan teman-teman terbangun dengan masih ditemani oleh ayunan lembut gelombang di sekitar kepulauan Taman nasional Komodo. Setelah kemarin berbasah-basah ria, hari ini apa yang akan saya temui?

Dan pagi ini, ketika kapal berjalan semakin melambat, dan suara mesin pun perlahan menghilang, di depan mata saya telah terbentang salah satu pemandangan paling indah di Indonesia. Bukit-bukit berwarna coklat terbentang sambung-menyambung, sangat kontras dengan gradasi air yang menjadi foreground-nya. Gili Laba!

 

EVY_1421
Gili Lawa Darat a.k.a Gili Laba

 

Gili Laba, atau yang dikenal sebagai Gili Lawa Darat merupakan “pintu gerbang” menuju Taman Nasional Kepulauan Komodo. Gili Laba terbagi 2, yaitu Gili Lawa Darat dan Gili Lawa Laut. Letak ke-2 Gili ini berseberangan, Gili Lawa Darat terletak di antara Gili LAwa Laut dan Pulau Komodo.

 

EVY_1423
perbukitan di Gili Laba, atau yang dikenal dengan Gili Lawa Darat, “gerbang” menuju Taman Nasional Komodo

 

Kapal kecil putih pun telah siap untuk mengantarkan saya menjejakkan kaki di salah satu pulau yang ada di depan sana. Gemericik air laut yang memercik di samping kanan kiri kapal terasa segar, belum lagi angin laut yang terasa harum di hidung, hmm…. pagi ini perfect banget. Bahagia :)

Tidak berapa lama, kaki saya pun menjejak pasir putih nan halus yang terbentang luas membatasi laut dan perbukitan. Hati pun bimbang, main air atau mendaki bukit tanah berpasir? Angin laut yang menyapa, membuat ilalang kering di sabana serempak bergoyang, dan akhirnya memaksa kaki saya untuk menapaki jalan setapak menuju perbukitan.

Hari belum terlalu siang, tapi matahari telah bersinar dengan sempurna, dan cukup membuat keringat perlahan keluar menembus pori-pori di sekujur tubuh saya. Baiklah, mari kita mendaki! Mari kita lihat ada apa di atas bukit sana.

 

EVY_1424
tepian Gili Laba bercampur antara pasir dan batuan laut kasar

 

kapal kami parkir di area yang tidak ber-coral
kapal kami parkir di area yang tidak ber-coral

 

Menapaki jalan tanah berpasir coklat dengan padang ilalang di sekitarnya, serta beberapa pohon perdu yang berusaha mempertahankan kehijauan daunnya di tengah musim kemarau yang sangat panjang ini. Angin yang bertiup membuat butiran halus debu tanah coklat beterbangan setiap kaki menjejaknya. Sepanjang perjalanan menuju puncak bukit, mata saya tak henti berkedip dengan landscape yang terbentang luas ini. Benar adanya, surga itu ada di Indonesia! Lautan luas dengan warna airnya yang bergradasi, pulau-pulau kecil terlihat sambung-menyambung membentuk gugusan cantik bak lukisan.

 

tidak ada spot yang tidak indah di sepanjang Gili Laba
tidak ada spot yang tidak indah di sepanjang Gili Laba

 

dari atas, terlihat jelas hamparan coral di dasar lautan
dari atas, terlihat jelas hamparan coral di dasar lautan

 

pemandangan dari atas Gili Laba
pemandangan dari atas Gili Laba

 

Dan sesampainya di puncak pertama setelah berjalan kurang lebih 30 menit, ketika saya memutar badan sejauh 180 derajat……. di depan mata saya terbentang salah satu landscape terindah yang pernah saya lihat. Hey Indonesia, you are so beautiful! You are a masterpiece!

 

EVY_1413
what a beautiful landscape?!

 

gugusan pula, lautan luas dan kapal-kapal yang berlabuh, menjadi pemandangan yang sangat cantik
gugusan pula, lautan luas, kapal-kapal yang berlabuh, sabana coklat dengan perdu-perdu hijau menjadi pemandangan yang sangat cantik

 

What can I say? Pemandangan yang ada di depan mata saya membuat saya terdiam. Tuhan bekerja dengan caranya. Rasa syukur tak henti terucap. Trip yang awalnya hanya untuk refreshing, menghilangkan penat dan jenuh, ternyata membuat saya bisa lebih memaknai hidup. Lebih bersyukur. Tanpa pernah berharap akan mendapatkan seluruh keindahan ini, ternyata yang saya dapatkan dari perjalanan ini sungguh tak terkira.

Dan seperti biasa, di puncak bukit pun terjadi antrian untuk berfoto di spot favorit. Dan antriannya…. panjaaaaaaaaannnnngggggg……

 

antrian foto di spot favorit di puncak Gili Laba
antrian foto di spot favorit di puncak Gili Laba

 

EVY_1403
antri, sambil update status :D

 

EVY_1402

itu mas-mas ABK yang setia nemani kami selama 4 hari 3 malam menjelajah TN Kepulauan Komodo…. terima kasih mas ABK!

 

EVY_1395
“lapor dulu sama ayang di rumah” <– kata Ripar :D

 

Puas menikmati indahnya landscape, saya dan teman-teman bergerak menuruni bukit. Perjalanan kami masih panjang, masih banyak destinasi yang pastinya tidak kalah cantik yang akan kami datangi.

 

EVY_1407
pulang? belum dong… kita akan menjelajahi dan melihat keindahan Indonesia lainnya…. let’s go!

 

EVY_1409
dan…… nemu cowok brewok berpayung di Gili Laba :p