Rio, a Dive Master from Tidore

EVY_5767 profil

This is Rio Timara Alting, or just called Rio, a very great young man in water. As a dive master, of course he really understands the condition of the sea more than us. When I and my friends do snorkeling activities, we feel safe, because he is very concerned about safety effects. He is very friendly, funny and responsible. Rio, who taught me to swim without a buoy in the ocean. And he also gave me the first experience to try diving. I recommend this young man to be a guide if you want to try to enjoy the natural beauty around Ternate and Tidore.

 

IMG_5588
what a great shot! (photo by @AriefPattiiha)

 

WhatsApp Image 2018-02-17 at 00.05.01
need a dive buddy? just find Rio

 

WhatsApp Image 2018-02-20 at 22.15.21-2
let’s get fun!

He likes to play musical instruments, especially guitars. Currently he is in the process of completing its Dive Master program in PADI. His dive experiences include Ternate, Tidore, Morotai, North Halmahera, South Halmahera and Central Halmahera. To support his diving hobby, he is incorporated in the KPL community, Shark Diving Indonesia, KBC Dive and Dive Pro Malut.


EVY_5764 profil

 

WhatsApp Image 2018-02-17 at 00.05.04
in Kokoya island

 

WhatsApp Image 2018-02-20 at 22.17.11
Rio and his gun, photo by @zulen07

 

WhatsApp Image 2018-02-20 at 22.14.28
hello you…. photo by @rioalting

 

WhatsApp Image 2018-02-20 at 22.14.32-2
pompom crab, photo by @rioalting

 

WhatsApp Image 2018-02-20 at 22.14.41
Maroon Clownfish, photo by @rioalting

He is also powerful in underwater photography and video. You can see the results of his work in social media. You can see the underwater natural beauty around the area of North Maluku through his work.

in Jikomalamo, Ternate

WhatsApp Image 2018-02-20 at 22.14.14

WhatsApp Image 2018-02-20 at 22.14.36-2

WhatsApp Image 2018-02-20 at 22.14.37

WhatsApp Image 2018-02-20 at 22.17.57

If you want to get acquainted and learn how to dive, he can be contacted through:

– Facebook: Rio Timara Alting
– Instagram: rioalting
– e-Mail: rioalting@gmail.com
– Phone / WA: 081340366200

Ternate – Transportasi, Akomodasi dan Kuliner

EVY_5632

Biasanya, sebelum merencanakan untuk pergi ke suatu daerah, saya sudah mengumpulkan informasi mengenai segala sesuatu yang akan dibutuhkan selama di sana, contohnya transportasi, penginapan, tempat kuliner, serta destinasi apa saja yang bisa didatangi. Di sini saya ingin bercerita mengenai transportasi, penginapan dan destinasi wisata yang sempat saya kunjungi selama Year-End Trip ke Ternate di akhir tahun kemarin.

I. Transportasi

Di Ternate, transportasi umum yang saya temui adalah angkot dan ojek motor. Untuk pengunjung yang membutuhkan transportasi yang lebih private, di sana banyak penyewaan mobil untuk berkeliling. Biasanya driver di sana merangkap juga sebagai tour guide, at least mereka paham destinasi-destinasi favorti yang biasa dikunjungi. Ini ada beberapa tips dalam menyewa mobil dan tour guide:

  1. Usahakan sudah mendapatkan transportasi sebelum berangkat ke Ternate. Sebaiknya cari informasi terlebih dulu dari mereka yang sudah pernah ke sana, biasanya akan diberi rekomendasi driver/tour guide;
  2. Pastikan bahwa harga yang kita inginkan telah disepakati dengan jelas. Karena, terkadang ada driver yang nakal, menaikkan tarif seenaknya dengan alasan ada tamu yang berani menawar dengan harga lebih tinggi, atau mengurangi jam penyewaan (umumnya harga yang ditawarkan adalah harga sewa selama 12 jam, biasanya sampai jam 8 malam);
  3. Sehari sebelum tiba di Ternate, informasikan penerbangan yang digunakan untuk memastikan waktu penjemputan;
  4. Berikan list destinasi yang akan dikunjungi supaya driver/tour guide bisa mengatur rute yang akan dilalui sehingga lebih efisien waktu;
  5. Apabila beruntung dan mendapatkan driver/tour guide yang paham dengan sejarah dan tempat-tempat unik di sana, berbahagialah J city tour pasti akan lebih menyenangkan.

Berikut beberapa tour guide/driver yang saya rekomendasikan:

  1. Rio – 081340366200;
  2. Gani – 081340536734;
  3. Ai – 08114315880.

II. Penginapan

Memilih penginapan untuk tempat beristirahat memang susah-susah gampang. Apalagi di daerah yang belum pernah kita kunjungi. Berikut beberapa penginapan yang sudah saya coba sendiri selama di Ternate.

  1. Hotel Surya Pagi
IMG_9585
Hotel Surya Pagi

Hotel ini terletak di Jalan Stadion No. 7, Tanah Tinggi Bar, Ternate Selatan, Kota Ternate. Bangunan hotel ini tidak lah baru. Dengan tembok berwarna krem dan kombinasi porselen putih. Bangunannya berlantai 3 dengan halaman parkir yang cukup luas. Di samping pintu masuk terdapat sebuah bangku besi panjang yang dicat putih dengan hiasan daun-daun berwarna kuning dan orange yang membuat kesan seperti sedang berada di taman bunga. Area front desk-nya luas dengan 2 set kursi tamu yang besar. Meja resepsionis berada tepat di depan pintu masuk, dengan meja kayu tinggi berwarna coklat dan beberapa pot bunga besar di sudut-sudutnya.

 

IMG_9583
area parikirnya luas

 

IMG_9581
kursi besi berwarna putih yang terdapat persis di samping pintu masuk Hotel Surya Pagi

 

IMG_9580
meja resepsionisnya penuh bunga

 

IMG_9496
lobi Hotel Surya Pagi

Saya mendapatkan kamar di lantai 2 yang terletak di bagian belakang. Dari area resepsionis, saya harus melewati lorong menuju bagian belakang hotel, melewati lorong yang ditata penuh bunga segar, kemudian berbelok ke kanan, melewati area tempat makan kemudian menaiki tangga beton. Saya dan teman-teman mendapatkan kamar nomor 215, 216 dan 217 yang letaknya saling bersebelahan. Kamar saya terdiri dari 2 tempat tidur single dengan sprei putih. Kamar mandi terletak di ujung kanan kamar, persis di sebelah meja porselen dengan kaca besar di atasnya. Kamar mandi menggunakan shower dan toilet duduk, serta sebuah wastafel yang terletak persis di sebelah kiri pintu masuk.

 

IMG_9571
kamar dengan twin bed

 

IMG_9573
meja porselen dengan kaca besar di atasnya, persis di sebelah pintu kamar mandi

 

IMG_9499
toilet duduk dengan shower dan wastafel

Kebersihan kamar cukup baik, begitu pula dengan kamar mandinya. Karena kamar saya berada di bagian tengah, konsekuensinya adalah tidak memiliki jendela. Kamar yang memiliki jendela adalah kamar nomor 215 yang letaknya di sebelah kiri kamar saya, ada sebuah jendela besar dengan tirai coklat bermotif.

 

IMG_9503
kamar 215 dengan jendela besar di sisi kirinya

 

IMG_9577
215 – 216 – 217

 

IMG_9579
rate kamar di Hotel Surya Pagi

Lokasi hotel ini sangat strategis karena hanya sekitar 15 meter dari persimpangan Jalan Kapitan Pattimura yang dilewati oleh angkutan umum. Oh iya, yang istimewa dari Hotel Surya Pagi adalah sarapannya. Hmm…. yummy dan bikin ingin nambah, lagi… lagi…. dan lagi….. Menu nasi dengan ikan khas, pisang goreng (asli, ini pisangnya enak banget! Saya sukses menghabiskan 3 potong besar pisang goreng saat sarapan) dan roti dengan berbagai toping, dijamin bikin kenyang. Dan yang terpenting, sarapan tersedia mulai jam 7 hingga jam 10 pagi, sepuasnya!

 

IMG_9587
dari persimpangan ini, beberapa angkutan umum lewat dengan berbagai tujuan

 

IMG_9589
act as a local, ceritanya lagi nunggu angkot untuk ke Pelabuhan Bastiong

 

 

2. Hotel Austine

IMG_0849
pemandangan Gunung Gamalama dari jendela kamar di lantai 3

Hotel kedua yang saya jadikan tempat menginap saat di Ternate adalah Hotel Austine, terletak di Jalan Christina Martha Tiahahu No. 188, Gamalama, Ternate Tengah, Kota Ternate. Hotel ini terbilang cukup baru dilihat dari kondisi bangunannya. Tersedia 2 jenis kamar, with view dan no view. Apabila ingin mendapatkan kamar dengan pemandangan Gunung Gamalama, mintalah kamar di lantai 3. Kondisi kamar rapi dengan kamar mandi yang bersih. ada kaca besar yang memisahkan kamar tidur dan kamar mandi, jadi agak berasa seperti di dalam akuarium, but don’t worry, ada tirainya kok. Untuk menu sarapan, I think it’s so so lah… :D

 

IMG_0812
this is my room, at third floor with view

 

IMG_0810
TV yang selama menginap tidak pernah dinyalakan (in every hotel), holiday = no TV

 

IMG_0813
toiletnya bersih banget

 

IMG_0816
shower with hot and cold water

 

IMG_0815
kamari tidur dilihat dari kaca besar yang ada di dinding kamar mandi

 

IMG_0835
restoran yang terletak di lantai 1

 

IMG_0834
menu sarapan pagi kali ini

Hotel ini dekat dengan Pasar Swering yang menjual kerajinan khas Ternate yang terbuat dari besi putih. Cukup berjalan kaki sekitar 5 menit dari hotel. Selain itu, hotel ini juga dekat dengan Pantai Falajawa, hanya membutuhkan waktu sekitar 7-10 menit untuk mencapai pantai dengan berjalan kaki. Point plus dari hotel ini, stafnya sangat helpfull dan friendly. Menyenangkan.

 

IMG_0838
jalanan di samping hotel menuju Pasar Swering

 

IMG_0839
Pasar Swering, tempat yang menjual suvenir besi putih khas Ternate

III. Kuliner

Bicara kuliner di Ternate, tentu tidak bisa terlepas dari kenikmatan aneka makanan laut. Ikan beraneka ragam yang bisa dimasak dengan berbagai cara, kaya bumbu, dan pasti bikin lidah menari. Berikut beberapa kuliner yang saya coba:

  1. Ikan Bakar Terminal
IMG_0828
ikan bakar terminal

 

Lokasinya di belakang terminal angkot. Berupa tenda sederhana, namun pengunjungnya sangat ramai. Ikan segar berjejer di atas meja yang terletak di samping tempat pemanggangan. Tinggal pilih dan bilang, mau dimasak apa?

 

IMG_0823
silakan dipilih ikannya…

 

IMG_0825
ikan bakar, tumis kangkung, nasi putih panas dan sambal……

 

IMG_0826
pengunjung yang datang silih berganti, ramai!

 

 

2. Restoran Royal

Pertama kali berkunjung di Ternate, saya dan teman-teman mencoba untuk makan di restoran ini, karena letaknya yang dekat dengan hotel tempat kami menginap. Waktu yang tidak memungkinkan kami untuk berkeliling mencari tempat makan, akhirnya membawa kami ke sini. Menu yang disajikan khas menu restoran dengan harga yang tidak berbeda dengan restoran di Jakarta.

 

IMG_9574
udang telur asin – sop ikan – capcay – cumi goreng tepung -nasi putih

 

3. RM. Kamis

IMG_9504
RM. Kamis

 

Rumah makan ini saya singgahi begitu mendarat di Ternate untuk pertama kalinya. Sebuah rumah makan yang terletak di gang kecil diapit tembok rumah penduduk, namun nasi kuning dan lontong sayurnya, jagoan! Alamatnya di Jl. MT Habib Abubakar Al Attas, Gamalama, Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara.

 

IMG_9505
nasi kuning Ternate

 

IMG_9506
lontong sayur Ternate

 

Beberapa tempat makan kecil, namun dengan menu yang sangat lezat di lidah.

IMG_0027
es alpukat (saya lupa nama tempat makannya, namun lokasinya di depan Taman Nukila)

 

IMG_0806
nasi goreng cakalang (lokasinya di dekat Pasar Swering)

 

IMG_0867
ikan bakar (lokasinya lupa)

 

IMG_0868
aneka ikan bakar yang namanya baru saya dengar di sana

 

TXMZ4456
es kacang merah, namu di Ternate namanya beda (lagi-lagi lupa namanya)

Year-End Trip #10 – Fort Oranje, The Largest Fort in Ternate

EVY_5854

Membicarakan Ternate tentunya tidak bisa lepas dari sejarah yang pernah terjadi di sana. Bumi rempah yang menjadi rebutan bangsa asing pada masa lalu, yang membuat Nusantara menjadi primadona persinggahan dan rebutan. Di Ternate terdapat beberapa benteng yang pernah menjadi saksi sejarah, bukti bahwa rempah-rempah yang merupakan hasil bumi di sana merupakan daya tarik yang sangat memikat. Salah satu benteng yang terkenal adalah Benteng Oranje. Benteng ini terletak di Jalan Hasan Boesoeri, kelurahan Gamalama, kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara. Benteng ini merupakan benteng yang bisa dikatakan utuh dengan kondisi bangunan yang masih sangat baik.

 

EVY_5865
bangunan dan taman yang terdapat di dalam komplek Benteng Oranje

Bangunan dengan warna dominan orange ini merupakan benteng paling besar di Ternate. Benteng ini didirikan oleh Cornelis Matelief de Jonge pada tanggal 26 Mei 1607 dengan dalih ingin membantu Kesultanan Ternate untuk mengusir bangsa Spanyol dari wilayah Ternate. Bantuan yang diberikan membuahkan kemenangan di pihak Kesultanan Ternate sehingga akhirnya de Jonge diberikan ijin untuk mendirikan benteng di wilayah Ternate. Selain itu, Sultan Ternate juga memberikan ijin kepada VOC untuk melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah di wilayah kekuasaan Kesultanan Ternate. Benteng ini dikenal juga dengan nama Benteng Melayu, berdiri di atas area bekas benteng Sultan Melayu yang telah rusak. Tahun 1609 di masa pemerintahan Sultan Mudaffar, otoritas Belanda di Ternate, Paul van Carden, mengganti nama benteng ini menjadi Benteng Oranje (Fort Oranje). Saat selesai dibangun, benteng ini dihuni oleh sekitar 150 orang serdadu dengan 5 perwira yang merupakan garnisun Belanda pertama di Maluku.

 

EVY_5866
meriam yang ada di komplek Benteng Oranje

Tanggal 17 februari 1613, ketika Pieter Both diangkat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Board of Commissioners Heeren XVII (the Lords Seventeen) mengeluarkan Surat Keputusan yang menetapkan wilayah Maluku sebagai pusat kedudukan resmi dari VOC. Ternate dan Ambon terpilih sebagai tempat tinggal resmi para Gubernur Jenderal Belanda. Pada masa itu, Ternate memiliki peranan yang lebih besar, sehingga Benteng Oranje kemudian dijadikan sebagai tempat resmi Dewan Hindia Belanda untuk menjalankan pekerjaan administratifnya seperti mengadakan pertemuan, pembuatan undang-undang, dan lain-lain.

Benteng Oranje menjadi pusat pemerintahan VOC hingga tahun 1619, saat VOC memindahkan pusat kekuasaannya ke Batavia. Pada masa itu, Ternate terbagi menjadi 2, sebagian dikuasai oleh Belanda, dan sebagian lagi dikuasai oleh Spanyol. Di bawah pemerintahan Sultan Hamzah (1627-1648), wilayah kekuasaan Ternate semakin luas, dan beberapa wilayah tersebut dipertukarkan kepada VOC untuk menghindari terjadinya kerusuhan. Tahun 1663 akhirnya Spanyol meninggalkan wilayah Ternate dan Tidore.

 

EVY_5862
semoga bangunan benteng ini tetap terpelihara

Pada abad ke-18, Gubernur Jenderal VOC dikirim ke Benteng Oranje untuk mengontrol perdagangan di area Maluku Utara. Setelah kebangkrutan VOC di tahun 1800, semua aset yang semula dimiliki oleh VOC dipindahtangankan secara administratif kepada pemerintahan Maluku. Sebagian besar harta milik VOC dikuasai oleh Inggris selama perang Napoleon, termasuk Benteng Oranje di tahun 1810. Setelah terbentuknya pemerintahan Kerajaan Belanda yang baru melalui sebuah kongres di Wina, Benteng Oranje dikembalikan ke tangan Belanda pada tahun 1817.

Padat tahun 1822, benteng ini sempat menjadi tempat pengasingan bagi Sultan Badarudin II dari Palembang hingga tahun 1852. Setelah wafat, Sultan Badarudin II kemudian dimakamkan di kecamatan Santiong.

 

EVY_5850
sepasang meriam yang seolah menjaga komplek Benteng Oranje

 

EVY_5851
tangga batu menuju rampart di bagian atas benteng

Konstruksi Benteng Oranje terdiri dari batu karang, batu kali dan pecahan kaca, sehingga terlihat lebih menarik. Bentuk Benteng Oranje menyerupai trapesium yang berdiri di atas lahan seluas 12.680 m2 dan mempunyai 4 buah bastion di setiap sudutnya. Ketebalan tembok bagian luar dari benteng ini sekitar 1 meter, sedangkan untuk tembok bagian dalamnya memiliki ketebalan sekitar 0.75 meter. Di bagian atas tembok benteng ini terdapat rampart atau jalan keliling yang menghubungkan ke-4 bastion di setiap sudutnya. Rampart ini berada pada ketinggian sekitar 3.5 meter dari permukaan tanah dan mempunyai jarak sekitar 1.1 meter dari ketinggian dinding tembok.

 

EVY_5853
rampart yang menghubungkan antara bastion satu dengan lainnya di sekeliling benteng

 

EVY_5854
pemandangan komplek Benteng Oranje diliat dari atas rampart

Pada kedua sudut bagian dalam dari bastion yang terletak di sisi Barat Laut dan Timur Laut terdapat ramp berukuran 15 x 3 meter menuju ke bagian atas bastion. Selain itu terdapat juga 2 buah tangga yang berbentuk setengah melingkar pada bagian dalam pintu gerbang utama dan pada bastion di sisi Barat Daya. Sedangkan, di atas pintu gerbang utama terdapat lonceng besar yang ditopang oleh dua balok kayu besar. Semula lonceng buatan Perio Diaz Bocarro tahun 1603 ini didatangkan langsung dari Portugal, dan ditempatkan di Benteng Gamlamo. Akan tetapi, ketika Portugis meninggalkan Ternate, lonceng tersebut sempat dipindahkan VOC dan digantung di pintu masuk Benteng Oranje. Hingga 1950 lonceng ini masih terpasang di sana, dan sejak 1951 dipindahkan dan disimpan pada gereja Katolik (Gereja Batu) di Ternate.

 

EVY_5852
lonceng tembaga besar yang terdapat di atas gerbang masuk Benteng Oranje

Di dalam komplek benteng terdapat bekas kediaman Gubernur Jenderal Belanda yang sekarang difungsikan sebagai Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Ternate. Di dalam komplek benteng juga terdapat sebuah sumur layang, yaitu sumur dengan ketinggian 5 meter dari permukaan laut.

 

EVY_5859
di dalam komplek Benteng Oranje terdapat beberapa bangunan yang sekarang digunakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Ternate

Saat saya tiba di Benteng Oranje, suasana sangat sepi karena kebetulan Ternate baru saja diguyur hujan yang walaupun tidak seberapa lebat, namun bisa membuat basah tanah dan pepohonan yang terdapat di sekitar benteng. Harum tanah dan rumput basah menyambut kaki saya saat memasuki komplek benteng. Bangunan-bangunan yang didominasi warna kuning muda dan coklat pada bingkai pintu dan jendela terlihat sangat terawat. Sebuah bangunan mesjid berwarna putih tampak di sudut komplek. Sebuah taman berbentuk bujursangkar tampak tertata rapi dengan rumput hijau yang terpangkas rata. Beberapa pohon palem terlihat di setiap sudut area taman. Dua buah meriam kuno terlihat mengapit jalanan batu menuju sebuah tangga di samping gerbang benteng. Tembok batu yang mengelilingi benteng terlihat menghitam dan berlumut di beberapa bagian, namun sangat terpelihara. Saya menapaki tangga batu menuju bagian rampart dari benteng. Di bagian ujung tangga terlihat sebuah lonceng tembaga besar yang digantung pada tiang berwarna merah. Rampart benteng terlihat sangat terpelihara, namun sayang banyak tangan-tangan tak bertanggung jawab yang meninggalkan coretan vandalism di sana. Di bagian depan komplek benteng terdapat sebuah taman dengan tembok yang didominasi warna orange dan putih. Suasana yang sepi membuat saya puas menikmati semua yang ada di sekeliling benteng. Membayangkan beberapa serdadu Belanda berjalan di sepanjang rampart dengan bayonet di tangan, dan di setiap bastion terdapat sebuah meriam dengan serdadu yang berjaga waspada.

 

IMG_0885
taman yang terdapat di bagian depan komplek Benteng Oranje

Year-End Trip #9 – Benteng Kalamata, Saksi Perjuangan Masyarakat Ternate

EVY_5836

Sejarah Ternate yang penuh perjuangan meninggalkan beberapa saksi bisu sejarah berupa bangunan yang dulu dijadikan sebagai tempat pertahanan dan pusat perekonomian para penjajah. Salah satunya adalah Benteng Kalamata.

 

EVY_5847
Benteng Kalamata

 

EVY_5576
sejarah singkat Benteng Kalamata yanga ada di dekat gerbang benteng

Benteng Kalamata merupakan benteng yang dibangun oleh bangsa Portugis (Fransisco Serao) di tahun 1540 yang difungsikan sebagai tempat pertahanan dalam rangka perluasan daerah kekuasaan, serta untuk menghadapi serangan Spanyol dari Rum, Tidore. Pada tahun 1575 Portugis meninggalkan benteng yang selanjutnya dikuasai oleh Spanyol yang menjadikannya pos perdagangan rempah-rempah. Setelah Spanyol meninggalkan benteng, tahun 1609 Benteng Kalamata dipugar oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Pieter Both, dan menjadikan benteng sebagai pertahanan serdadu VOC.

 

EVY_5573
taman yang ada di depan Benteng Kalamata

 

EVY_5575
rumput hijau terpelihara dengan beberapa tanaman cantik yang ada di taman Benteng Kalamata

Entah karena apa, pada tahun 1625 Benteng Kalamata ditinggalkan begitu saja oleh Belanda (Geen Huigen Schapen). Kondisi benteng yang kosong kemudian dimanfaatkan oleh Spanyol dengan mendudukinya kembali hingga tahun 1663. Kembali benteng tersebut kemudian ditinggalkan oleh Spanyol dan diambil alih oleh Belanda. Namun pada tahun 1798 pasukan Kesultanan Tidore di bawah pimpinan Sultan Nuku berhasil merebut benteng tersebut dengan bantuan dari pasukan Inggris.

 

EVY_5843
jalanan setapak di pinggir laut menuju gerbang Benteng Kalamata

 

EVY_5842
gerbang Benteng Kalamata

 

EVY_5582
berdiri di bastion di sisi Gunung Gamalama, akan mendapatkan pemandangan indah dari perairan Maluku yang mengarah ke Pulau Tidore

Pada tahun 1799, benteng tersebut diperbaiki oleh Mayor Lutzow. Namun pada tahun 1810, Belanda kembali berhasil merebut Benteng Kalamata dari pasukan Kesultanan Tidore. Hingga pada tahun 1843, pemerintah kolonial Belanda secara resmi mengumumkan bahwa benteng dikosongkan. Dan setelah tahun 1843, kondisi Benteng Kalamata menjadi terbengkalai dan tidak terawat. Bahkan benteng ini pernah tergenang oleh air laut karena adanya abrasi di sekitar lokasi berdirinya Benteng Kalamata. Di tahun 1994 Pemerintah Republik Indonesia melakukan pemugaran terhadap kondisi benteng ini untuk menjaga keberadaannya. Pemugaran yang memakan waktu cukup lama itu kemudian diresmikan purna pugarnya di tahun 1997. Pemerintah Kota Ternate kemudian melakukan renovasi benteng dan menambahkan halaman serta rumah bagi penjaga benteng.

 

EVY_5586
walaupun bentuknya tidak seberapa besar, tapi Benteng Kalamata ini megah

 

EVY_5587
sumur tua yang terdapat di dalam benteng, yang dulu menjadi sumber air bersih untuk para serdadu di sana

Benteng Kalamata juga dikenal dengan nama Benteng Kayu Merah. Hal tersebut karena benteng ini berlokasi di Kelurahan Kayu Merah, Kota Ternate Selatan. Pada awalnya benteng ini diberi nama Santa Lucia, tapi lebih dikenal dengan nama Benteng Kalamata. Nama Kalamata sendiri berasal dari nama Pangeran Kalamata, yang merupakan adik dari Sultan Ternate, Madarsyah.

 

EVY_5603
ya begini gayanya kalo reramean

 

EVY_5841
Gunung Gamalama, tampak berdiri kokoh hingga menembus awan

Berbicara mengenai bentuk dari Benteng Kalamata, benteng ini berbentuk seperti 4 penjuru mata angin yang memiliki 4 bastion berujung runcing yang masing-masing memiliki lubang bidik. Sebagaimana benteng Portugis pada umumnya, konstruksi Benteng Kalamata termasuk kecil, tebal dindingnya hanya sekitar 60 cm dengan tinggi sekitar 3 meter. Posisinya yang berada di garis pantai yang langsung menghadap ke Pulau Tidore merupakan strategi Portugis untuk dapat terus memantau pergerakan Spanyol yang saat itu menguasai Pulau Tidore. Tujuan dari pembangunan benteng ini adalah untuk mengantisipasi serangan dari Pulau Tidore yang dilancarkan oleh pasukan Spanyol.

 

EVY_5583
bentuk Benteng Kalamata menyerupai 4 penjuru mata angin

 

EVY_5840
bentuknya bisa dikatakan simetris di ke-4 sisi bastion-nya

Saat ini, apabila kita mengunjungi Benteng Kalamata, begitu memasuki kompleks benteng akan terlihat sebuah taman cantik dengan rumput hijau terhampar, serta beberapa pot-pot batu yang diletakkan secara teratur dalam sebuah formasi. Taman yang ada di depan Benteng Kalamata cukup teduh, karena adanya beberapa pohon besar yang sedikit menahan pancaran sinar matahari. Di bagian kiri kompleks benteng terdapat rumah penjaga serta beberapa kendaraan.

 

EVY_5845
taman yang ada di halaman depan Benteng Kalamata

 

IMG_0007
tembok batu setebal 60 cm ini membuat Benteng Kalamata tampak kokoh

Berjalan menyusuri jalanan setapak dari batu, akhirnya tibalah di depan gerbang Benteng Kalamata. Dinding batu hitam, kokoh, menjadi saksi betapa banyak sejarah Perjuangan yang sempat terjadi di benteng ini. Secara umum, kondisi benteng ini masih sangat baik. Dinding, tangga, bahkan sumur tua yang dulu merupakan sumber air bersih bagi serdadu yang menempati benteng ini masih ada. Memasuki benteng, di sebelah kanan terdapat sederetan anak tangga menuju ke sebuah bastion, dan tak jauh dari anak tangga tersebut, terdapat sebuah permukaan miring yang juga menuju ke bastion yang lain. Mungkin permukaan miring dari batu ini dulunya berfungsi sebagai jalur transportasi Meriam menuju lubang bidik. Sederetan anak tangga yang ada di dalam benteng berhadapan dengan anak tangga lainnya di sisi yang berlawanan, begitu juga dengan permukaan miring tadi. Apabila permukaan miring yang ada di sebelah kanan dari gerbang mengarah ke bastion yang langsung berhadapan dengan Gunung Gamalama, maka permukaan miring yang satunya mengarah pada bastion yang berhadapan dengan Pulau Tidore.

 

EVY_5569
pemandangan yang bisa dilihat dari ujung bastion Benteng Kalamata, satu sisi kehidupan masyarakat di tepian perairan Maluku

 

EVY_5570
Benteng Kalamata dilihat dari ferry penyeberangan Tidore – Ternate

Di masing-masing bastion ada beberapa jendela bidik, yang mungkin dulu berfungsi sebagai tempat pengintaian dan tempat untuk meletakkan senjata untuk penyerangan. Berdiri di ujung bastion yang mengarah ke daratan, kita akan menatap Gunung Gamalama yang berdiri kokoh hingga menembus awan. Dan apabila kita berdiri di bastion yang mengarah ke laut, maka kita akan melihat indahnya Pulau Maitara dan Pulau Tidore. Sementara 2 bastion lainnya, masing-masing mengarah ke arah perumahan penduduk.

 

EVY_5579
rongsokan kapal tua di perairan Maluku yang bisa dilihat dari salah satu jendela bidik Benteng Kalamata

 

EVY_5839
pemandangan Pulau Maitara dan Pulau Tidore dilihat dari ujung bastion Benteng Kalamata

Menikmati siang di atas Benteng Kalamata sembari melihat indahnya perairan Maluku dan mengingat cerita sejarah yang pernah terjadi di benteng ini, rasanya adalah kombinasi yang sangat serasi.

 

IMG_0006
rumah penduduk di atas perairan Maluku dilihat dari gerbang Benteng Kalamata

 

EVY_5623
bye bye Kalamata, see you again someday