Kampung Praiyawang, Desa Adat di Sumba Timur

EVY_4471

 

Sumba Timur, terkenal dengan ritual adatnya yang kental. Di sana terdapat beberapa kampung adat yang biasa digunakan sebagai lokasi ritual tersebut. Salah satu kampung adat yang biasa digunakan untuk menyelenggarakan ritual bagi masyarakat Sumba Timur adalah Kampung Praiyawang. Kampung yang berada sekitar 69 km dari kota Waingapu ini berada di Desa Rindi (biasa disebut Desa Rende), Kecamatan Umalulu, Kabupaten Sumba Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur.

EVY_4466
salah satu rumah adat yang terdapat di Kampung Praiyawang

 

EVY_4467
selasar aula yang biasa digunakan sebagai lokasi upacara adat

Berkendara dari Kota Waingapu menuju Kampung Praiyawang akan memakan waktu sekitar 1 jam perjalanan, tergantung pada kecepatan kendaraan. Karena belum ada sarana transportasi umum menuju kampung ini, bagi para pendatang yang ingin melihat kampung ini dapat menggunakan motor/mobil sewaan. Jalanan menuju kampung ini berupa aspal hitam yang mulus.

EVY_4469
rumah adat yang mengelilingi Kampung Praiyawang

 

EVY_4468
makam batu yang menjadi lokasi pelaksanaan upacara adat

 

EVY_4470
aula besar yang terdapat di pusat Kampung Praiyawang

Memasuki Kampung Praiyawang nuansa peradaban masa silam akan sangat terasa. Sederetan bangunan makam-makam kuno yang terbuat dari batu dengan pahatan unik di sekelilingnya terlihat di sisi kiri dari akses jalan masuk, serta rumah-rumah adat yang terbuat dari kayu dengan atap yang menyerupai menara tinggi. Di tengah kampung terdapat 1 bangunan rumah yang terbuka dindingnya sehingga menyerupai aula sebuah aula besar. Di rumah tersebut terdapat 2 lemari kaca besar yang berisikan aneka peralatan kuno yang telah berumur raturan tahun, yang biasanya digunakan saat pelaksanaan upacara adat. Upacara adat yang biasa dilaksanakan di Kampung Praiyawang adalah upacara persembahan dan penyimpanan jenazah sebelum dimakamkan.

EVY_4465
lemari tempat menyimpan peralatan yang digunakan saat upacara adat

 

EVY_4444
peralatan upacara adat yang terbuat dari anyaman daun lontar

 

EVY_4443
anyaman daun lontar ini biasanya digunakan sebagai penutup tempat nasi yang digunakan saat pelaksanaan upacara adat

 

EVY_4442
anyaman daun lontar sebagai perlengkapan upacara adat

Rumah adat yang terdapat di Kampung Praiyawang memiliki bentuk atap yang unik, yaitu berbentuk lancip. Dan setiap rumah akan memiliki 3 bagian, yaitu bagian bawah, tengah dan atas. Hal tersebut mencerminkan simbol alam dalam pandangan Suku Sumba, yaitu alam bawah (tempat arwah), alam tengah (tempat manusia) dan alam atas (tempat para dewa). Di Kampung Praiyawang terdapat 8 rumah induk yang mengelilingi rumah adat dan makam-makam batu berukuran besar yang beratnya mencapai 1-5 ton untuk setiap makamnya. Ke-8 rumah induk itu melambangkan 8 keturunan bangsawan yang ada di Kampung Praiyawang. Sementara rumah adat yang terdapat di Kampung Praiyawang memiliki fungsi yang berbeda-beda, misalnya Rumah Besar (Rumah Adat Harapuna/Uma Bokul) digunakan sebagai tempat penyimpanan jenazah, Rumah Adat Uma Ndewa  digunakan sebagai tempat ritual cukurna bagi anak Raja yang baru lahir, kemudian Rumah Adat Uma Kopi digunakan sebagai tempat untuk minum kopi.

Tradisi di Kampung Praiyawang, anak tertua di dalam keluarga harus berdiam di kampung untuk menjaganya. Sehingga yang bisa pindah atau keluar dari kampung adalah anak ke-2, ke-3 dan seterusnya. Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga adat-istiadat dan keberlangsungan kehidupan Kampung Praiyawang.

EVY_4447
tempat nasi yang digunakan saat pelaksanaan upacara adat

 

EVY_4446
perhiasan kuno yang digunakan untuk upacara adat

 

EVY_4445
tas kaum lelaki Sumba Timur

 

EVY_4455
sirkam – terbuat dari kulit Penyu, hiasan rambut wanita Sumba Timur

 

EVY_4448
tempat sirih dan kapur

Tenun Sumba, Pesona Helaian Benang dari Timur

EVY_4264

Siapa yang tidak mengenal tenun? Kain tradisional dari berbagai pelosok Indonesia, dengan motif yang sangat khas namun beragam. Dikerjakan secara manual, menggunakan peralatan sederhana dan tanpa mesin. Keindahan tenun untuk saya pribadi sangat menarik. Setiap daerah memiliki ciri khas motif  dan proses pembuatannya masing-masing. Kali ini saya akan bercerita tentang tenun Sumba.

EVY_4260
benang-benang katun, cikal bakal tenun Sumba
EVY_4257
proses pemasangan dan penghitungan benang katun putih sebagai awal pembuatan tenun Sumba
EVY_4258
Rambu (sebutan untuk wanita Sumba) yang sedang bekerja untuk membuat tenun

Tenun Sumba dibuat dari benang-benang kapas, diuntai satu-persatu, helai demi helai, diberi ruh dalam setiap helai benangnya sehingga menjadi kain tenun yang indah. Menenun bagi kaum wanita di Sumba merupakan ibadah, untuk memuji kebesaran Tuhan yang diwujudkan dalam motif-motif bentuk hewan, alam dan benda-benda yang lekat dalam kehidupan sehari-hari.

EVY_4266
proses pembuatan pola/motif tenun Sumba
EVY_4267
salah satu motif tenun Sumba, menurut Umbu (sebutan untuk lelaki Sumba) penenun, motif ini berkhasiat untuk “menolak peluru/senjata”
EVY_4265
ini salah satu motif pesanannya Dian Sastro lho….

Tenun Sumba umumnya dibuat menggunakan pewarna alami yang berasal dari akar pohon Mengkudu dan daun Nila. Akar pohon Mengkudu digunakan untuk menghasilkan warna merah alami yang biasanya menjadi warna dasar pada tenun Sumba. Kemudian daun Nila, untuk menghasilkan warna biru yang juga menjadi warna dominan pada tenun Sumba. Motif pada tenun Sumba dibuat dengan mengikat benang-benang katun putih dengan menggunakan daun Gewang – sejenis daun Palem (saat ini terkadang benang katun diikat dengan menggunakan tali rafia untuk menggantikan daun Gewang).

EVY_4263
pewarna alami yang digunakan pada pewarnaan tenun Sumba – akar pohon Mengkudu dan daun Nila
EVY_4247
akar pohon Mengkudu
EVY_4249
proses penumbukan akar pohon Mengkudu untuk dijadikan pewarna tenun Sumba
EVY_4248
akar pohon Mengkudu yang telah ditumbuk dan siap digunakan sebagai pewarna kain tenun
EVY_4251
akar pohon Mengkudu yang telah ditumbuk kemudian dicampur dengan air untuk menghasilkan warna merah yang akan digunakan sebagai pewarna kain tenun
EVY_4261
proses pewarnaan benang tenun dengan warna merah dari akar pohon Mengkudu
EVY_4262
benang tenun yang telah diikat sesuai motif yang diinginkan kemudian direndam di dalam cairan pewarna

Motif tenun Sumba bisa dikelompokkan menjadi 2, yaitu motif yang diambil dari flora dan fauna, serta motif yag diambil dari dunia manusia itu sendiri.

EVY_4243
proses penjemuran benang tenun setelah diwarnai
EVY_4256
lamanya penjemuran benang tenun sangat tergantung pada panas dan cuaca
EVY_4246
penjemuran benang tenun yang telah selesai diwarnai dan diberi Kemiri

Proses menenun kain Sumba memakan waktu yang cukup panjang. Mulai dari helaian benang katun putih yang diatur dan digulung pada alat khusus yang terbuat dari kayu, kemudian dihitung satu-persatu untuk keperluan pembuatan motifnya. Benang katun putih yang sudah dihitung kemudian dibuatkan pola dengan mengikat benang tersebut menggunakan daun Gewang atau tali rafia. Polanya bermacam-macam dengan berbagai artinya masing-masing. Setelah diikat sesuai pola yang diinginkan, benang kemudian dicelup pada pewarna buatan yang telah disiapkan sesuai pola yang diinginkan. Benang yang telah dicelup pewarna kemudian dijemur agar warna yang yang dihasilkan menjadi lebih hidup. Proses penjemuran benang yang telah diwarnai memakan waktu 1-2 bulan tergantung panas dan cuaca. Setelah itu, benang akan direndam menggunakan kemiri agar warnanya tahan lama. Benang kemudian dijemur kembali hingga kering. Setelah benang benar-benar kering, barulah ditenun sesuai motif yang telah dibuat. Saat menenun, penenun akan mengoleskan ubi kayu/singkong yang telah ditumbuk dan dicairkan ke helaian benang. Hal ini untuk memberikan efek licin saat menenun.

EVY_4244
proses penjemuran benang tenun yang telah selesai diwarnai
EVY_4245
proses penjemuran benang memakan waktu 1-2 bulan, tergantung panas dan cuaca

Perlu waktu berbulan-bulan untuk menghasilkan kain tenun dengan motif yang bagus. Sebagai gambaran, sehelai sarung tenun dengan ukuran 65 x 120 cm dibuat dalam waktu 6 bulan. Untuk kain tenun panjang ukuran 65 x 200 cm, dalam 1 tahun bisa dihasilkan 4 helai kain. Kebayang kan bagaimana sulitnya proses yang harus dilalui untuk menghasilkan sehelai sarung atau kain tenun yang indah?

EVY_3948
dan inilah beberapa hasil tenun Sumba

Apabila telah menjadi sarung atau kain, penenun biasanya menjual produk mereka kepada pedagang lokal. Ada juga yang membuka galeri pribadi di rumahnya masing-masing. Harga untuk sehelai tenun Sumba bermacam-macam, tergantung ukuran, jenis pewarna yang digunakan, motif dan kualitasnya. Semakin bagus kualitas tenun maka semakin mahal juga harganya.

IMG_8263
dan ini “bukti cinta” saya untuk tenun Sumba

 

 

 

 

 

Kota Tua Jakarta, Menyusuri Sisa-Sisa Kejayaan Batavia (part #1)

100_2165

Mendengar kata “Kota Tua Jakarta” yang langsung terbayang adalah deretan gedung-gedung tua berarsitektur Eropa, dengan konstruksi tinggi, jendela-jendela besar, halaman yang luas dan berbagai keunikan lainnya. Dan menyusuri Kota Tua Jakarta, adalah kegiatan yang sangat mengasyikkan sekaligus akan menambah pengetahuan mengenai sejarah yang ditinggalkannya.

Kota Tua Jakarta adalah sebuah kawasan konservasi cagar budaya di daerah Jakarta terletak di antara wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Zona utamanya (zona yang berada di dalam “benteng” Oud Batavia) meliputi Taman Fatahillah, Pelabuhan Sunda Kelapa dan area Kali Besar (luasnya sekitar 75 Ha). Sementara area pendukungnya meliputi Kampung Bandan, Stasiun Kota, MuseumBahari, Pasar Ikan, Galangan/Benteng dan Roa Malaka (sekitar 59 Ha). Sedangkan area di luar “benteng” Oud Batavia meliputi Kampung Luar Batang (19 Ha), Pekojan (49 ha), serta China Town (132 Ha) yang mencakup area Pintu Kecil, Pasar Pagi, Pintu Besar Selatan, Pinangsia, Glodok dan Tambora.

zones_kota_tua-570x1098
sumber: http://www.jeforah.org/zones

Pusat Kota Tua Jakarta adalah sebuah bangunan besar berwarna putih yang terletak di tengah-tengah Taman Fatahillah. Bangunan “Gouverneurs Kantoor” yang sekarang difungsikan sebagai Museum Fatahillah merupakan sebuah bangunan bersejarah yang dulu menjadi kantor balaikota, pusat pemerintahan Hindia Belanda. Dan di sekitar bangunan ini, banyak bangunan-bangunan tua bersejarah yang tetap dijaga keberadaannya dan menjadi situs cagar budaya.

100_2185
Gouverneurs Kantoor

Di halaman Museum Fatahillah atau yang dikenal dengan nama Taman Fatahillah ini terdapat sebuah bangunan kecil yang dulu merupakan air mancur yang sumber airnya berasal dari Pancoran Glodok. Dan apabila diperhatikan dari atas, halaman Taman Fatahillah memiliki motif-motif ubin yang berbeda. Ketidakseragaman motif tersebut dikarenakan dahulu ada saluran air yang mengalirkan air ke pusat taman. Dan dahulu, air mancur itu menjadi sumber air bersih bagi masyarakat di sekitar Oud Batavia[http://ayokejakarta.blogspot.co.id/2012/06/kota-tua.html].

100_2176

100_4460
sisa-sisa gedung Dasaad Musin Concern
100_2184
Museum Wayang

Di depan Museum Fatahillah, berdiri bangunan Café Batavia yang bersanding dengan bangunan Kantor Pos Kota. Di antara bangunan itu terdapat gedung Dasaad Musin Concern, gedung yang dulu menjadi pusat kelompok dagang Dasaad Musin. Di sebelah kiri gedung balaikota berdiri Museum Wayang, gedung tua bekas rumah ibadah di jaman pemerintahan Hindia Belanda. Sedangkan di sebelah kanan balaikota berdiri gedung Museum Seni Rupa & Keramik, yang merupakan gedung bekas lembaga peradilan jaman pemerintahan Hindia Belanda.

100_2171
Museum Seni Rupa & Keramik

Di sekeliling pusat Kota Tua Jakarta masih banyak berdiri bangunan-bangunan tua yang penuh dengan sejarah. Gedung Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Beverly Hills Hotel & Spa, Gedung Eks Chartered Bank of India, Australia, & China, dan lain-lain.

Di Taman Fatahillah, di dekat Gedung Kantor Pos Kota, terdapat sebuah meriam besar yang diletakkan di atas pondasi beton berwarna merah dan dikelilingi oleh pagar besi. Itu adalah meriam si Jagur. Meriam legendaris yang kental akan mitos.

Banyak legenda yang menceritakan asal muasal Meriam Si Jagur. Meriam dengan penampakan fisiknya yang unik, dengan simbol kesuburan yang terletak di bagian belakang tubuhnya, yang untuk sebagian besar masyarakat dianggap sebagai simbol pornografi. Rumor yang beredar menyebutkan bahwa Meriam Si Jagur adalah “dokter” yang memiliki kekuatan untuk memberikan keturunan bagi si mandul!

IMG_0292
meriam Si Jagur

Beberapa legenda yang terkenal bercerita, Si Jagur merupakan salah satu meriam yang diberikan oleh pihak Kompeni kepada Raja Pajajaran sebagai pertukaran untuk menyembuhkan penyakit aneh yang diderita oleh putri sang raja. Meriam yang diberikan adalah Ki Amuk, Nyai Setomi dan Si Jagur.

Legenda kedua berawal dari mimpi buruk sang Raja Pajajaran. Suatu ketika Sang Raja bermimpi mendengar suara gemuruh yang dahsyat, yang berasal dari sebuah senjata yang tidak dikenalnya. Raja pun bertitah kepada Patih Kiai Setomo untuk mencari senjata yang sangat dahsyat itu. Apabila Sang Patih gagal dalam pencarian senjata itu, maka Sang Patih akan dihukum mati. Singkat cerita, dalam usahanya mencari senjata tersebut, Patih Kiai Setomo dan istrinya Nyai Setomi kemudian bersemedi dalam waktu yang cukup lama. Karena Patih Kiai Setomo tak kunjung datang untuk melaporkan hasil pencariannya terhadap senjata yang dahsyat tersebut, Raja Pajajaran kemudian menyuruh prajuritnya untuk mencari Kiai Setomo dan menggeledah tempat kediamannya. Namun yang mereka temukan di kediaman Kiai Setomo hanyalah 2 buah pipa besar yang aneh dan tidak dikenal. Ternyata ke-2 pipa tersebut adalah penjelmaan dari Kiai Setomo dan Nyai Setomi. Cerita mengenai senjata meriam hasil perubahan wujud Kiai Setomo dan Nyai Setomi terdengar ke mana-mana, hingga ke telinga Sultan Agung di Mataram. Sultan Agung kemudian memerintahkan agar ke-2 meriam tersebut dibawa ke Mataram. Namun meriam Kiai Setomo menolak dan melarikan diri ke Batavia. Masyarakat Batavia saat itu gempar dan menganggap bahwa meriam Kiai Setomo adalah sebuah benda yang suci. Mereka kemudian memayunginya untuk melindungi dari panas dan hujan. Meriam itu pun diberi nama Si Jagur atau Sang Perkasa.

Sedangkan menurut sejarah, Meriam Si Jagur dibuat di pabrik senjata Portugis “St. Jago de Barra” yang terletak di Makau, Cina. Meriam itu terbuat dari perunggu cengan berat 3.5 ton atau 24 pound. Meriam itu kemudian ditempatkan di Benteng Batavia (Kasteel Batavia) untuk menjaga pelabuhan dan kota Batavia dari serangan musuh. Pada tahun 1809, Deandels menghancurkan Kota Batavia dan Meriam Si Jagur dipindahkan ke Museum Oud Batavia (sekarang Museum Wayang). Kemudian, Meriam Si Jagur dipindahkan kembali di bagian utara Taman Fatahillah (di antara bangunan Kantor Pos dan Café Batavia) dengan moncong mengarah ke Pasar Ikan, lurus ke arah Jalan Cengkeh, membelakangi Balai Kota (Stadhuis).

IMG_0294
“Si Jagur” the Canon

Luang Phrabang, Kota yang Membuat Saya Jatuh Cinta

EVY_3406

 

Dulu…. Luang Phrabang merupakan suatu kota yang asing bagi saya. Membaca beberapa referensi mengenai kota ini, tidak membuat saya serta-merta tertarik untuk datang ke sana. Tawaran untuk mengunjungi kota ini datang setahun yang lalu, itu pun karena penasaran untuk melihat prosesi Tak Bat – Alms Giving Ceremony.  Dan ternyata, saya jatuh cinta pada kota itu.

Perjalanan saya ke Luang Phrabang dimulai dari Kota Vang Vieng. Berbekal tiket sleeper bus seharga 90,000 Kip, saya memulai perjalanan menuju Luang Phrabang sekitar jam 11 malam. Sleeper bus dengan rute Vang Vieng – Luang Phrabang ada beberapa macam dengan harga yang sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda. Kebetulan sleeper bus yang saya naiki bukanlah bus VIP, di mana tiket yang kita beli tidak memiliki nomor seat, sehingga penumpang bebas memilih akan mengambil seat yang mana? Dan mungkin saya yang kurang beruntung malam itu, di-pick up terakhir saat hampir seluruh seat sudah penuh. Saya sempat berdebat sedikit dengan kondektur bus dan agen travel tempat saya membeli tiket. Kenapa? Karena saat saya naik ke atas bus, hampir seluruh seat sudah terisi! Sementara saya berombongan 8 orang ditambah 2 cewek bule yang menunggu bersama kami. Ternyata ada beberapa warga lokal yang ikut naik di dalam bus tanpa tiket. Setelah komplain keras, akhirnya warga lokal tersebut turun, barulah saya dan rombongan naik ke atas bus. Saran saya, apabila memilih sleeper bus, sebaiknya ambil yang VIP, dengan harga sekitar 120,000 Kip. Dengan harga yang tidak jauh berbeda, tapi kenyamanan yang didapat berbeda jauh. Oh iya, sebelum membeli tiket ada baiknya untuk berkeliling ke beberapa agen tiket bus untuk perbandingan harga (so far dari hasil hunting saya di Vang Vieng, harga yang ditawarkan tidak berbeda jauh).

IMG_3864
terminalnya sepi

 

IMG_3863
terminal bus di Luang Phrabang

 

IMG_3861
ini contoh bus malam yang melayani rute Vang Vieng – Luang Phrabang

Perjalanan Vang Vieng – Luang Phrabang memakan waktu sekitar 7-8 jam dengan beberapa kali berhenti untuk beristirahat. Jalur yang dilalui sebenarnya tidak terlalu mulus, karena ada beberapa area yang dilewati ternyata sempat longsor, sehingga jalanan tanah bak kubangan besar. Saya yang kebetulan mendapat seat di bagian depan atas, bisa dengan bebas melihat trek yang ada. Nyali sempat ciut melihat jalanan tanah dengan kubangan-kubangan besar, berkelok-kelok dengan jurang yang tersenyum manis di sisi kanan jalan :D

Tapi perjalanan yang sedikit menyeramkan itu terhibur dengan pemandangan bulan Purnama yang mengikuti ke mana bus berjalan. Bola kuning keemasan besar terlihat jelas di sisi kanan jalan, menerangi gelapnya malam. Bus berjalan perlahan karena kondisi jalan yang dilewati tidak semuanya mulus.

Sekitar pukul 7 pagi, bus tiba di Terminal Bus Bannaluang, Luang Phrabang. Karena lokasi terminal bus ini berada sedikit di luar pusat Kota Luang Phrabang, pilihan transportasi menuju pusat kota adalah menggunakan tuktuk. Pastikan untuk menawar harga tuktuk sebelum kita naik, karena setiap pengemudi akan menawarkan harga yang bervariasi. Waktu itu saya berdelapan mendapatkan tuktuk seharga 80,000 Kip (atau kira-kira Rp 16.500 per orang) dari terminal bus menuju pusat kota. Cukup murah.

IMG_3875
tuktuk yang mengantarkan saya dari terminal menuju penginapan

Jarak terminal ke penginapan sekitar 25 menit. Saya menginap di Joy Guesthouse yang berlokasi di Riverside Road, Ban Hoxieng, Town Center, Luang Phrabang, Laos. Mengambil kamar dormitory seharga Rp 131,881 per malam per orang. Kamar yang saya tempati terletak di lantai 2, bisa diisi 4 orang dengan 2 bunk bed susun, dilengkapi dengan kamar mandi dalam dan AC.

 

IMG_3874
jalan masuk ke Joy Guesthouse

 

IMG_3872
karena papan namanya kecil, jangan sampai kelewatan ya….

 

IMG_3870
dari jalan utama, kita harus menaiki tangga ini untuk mencapai meja resepsionis

 

IMG_3866
suasana di depan meja resepsionis, homy…..

Karena semalaman di bus, sesampainya di penginapan, yang pertama dilakukan adalah mandi! Selesai mandi, tujuan pertama adalah Kuang Si Waterfall. Air terjun bertingkat dengan airnya yang berwarna hijau toska. Saya kembali menggunakan jasa tuktuk untuk mencapai lokasi air terjun dengan biaya sebesar Rp 82,500 per orang. Ingat, sebelum menaiki tuktuk, pastikan biaya yang harus kita bayar pada driver-nya, dan jangan lupa menawar harga saat driver memberikan harga di awal.

Perjalanan menuju Kuang Si Waterfall ditempuh selama kurang lebih 1 jam dari penginapan. Menyusuri jalanan di Luang Phrabang yang lumayan sepi. Setibanya di lokasi air terjun, ternyata suasana cukup ramai. Tempat parkir pun terlihat penuh oleh kendaraan pengunjung yang telah tiba lebih dulu dari rombongan saya. Setelah mendapatkan tempat parkir untuk tuktuk yang mengantarkan kami, saya dan teman-teman segera menuju loket untuk membeli tiket masuk.

Tiket masuk area Kuang Si Waterfall seharga 20,000 Kip per orang, dan kita akan bebas menikmati indahnya suasana di seluruh area yang ada di sekitar air terjun.

EVY_3338
gerbang menuju Kuang Si Waterfall

 

EVY_3259
sepanjang jalan, hijau!

Dari gerbang besar berwarna coklat yang menjadi pintu masuk utama ke area air terjun, kita akan disambut dengan pemandangan pohon-pohon besar yang tumbuh di dalam area taman tersebut. Oh iya, air terjun ini berada di dalam lingkungan taman yang merupakan hutan lindung. Jadi jangan kaget apabila menemukan banyak pepohonan besar dengan jenis yang sangat beragam dan tak biasa ditemui.

EVY_3336
pepohonan hijau, besar, menghalangi sinar matahari di sepanjang jalan menuju lokasi air terjun

 

EVY_3265
spider…..

Jalanan beraspal mulus akan menjadi akses utama menuju lokasi air terjun. Jalanan aspal ini sedikit menanjak, apabila tidak ingin berlelah-lelah menanjak di jalan aspal, bisa mengambil jalan setapak yang ada di sebelah kanan jalanan aspal. Jalan setapak ini masih berupa jalan tanah yang letaknya berada di sepanjang aliran air, yang akan menuju lokasi air terjun. Apabila dihitung secara jarak, mungkin akan sama saja, namun pemandangan yang akan dilewati akan berbeda.

Saya mengambil jalanan beraspal sebagai rute saya menuju lokasi air terjun, dan akan melewati jalanan setapak sebagai rute kembalinya. Di sepanjang jalan menuju lokasi air terjun, mata saya disuguhi dengan pemandangan hijau, pepohonan besar dan bermacam-macam jenis, serta papan penunjuk yang memberikan informasi mengenai pepohonan yang terdapat di situ.

Perjalanan menuju lokasi air terjun tidak lah lama, hanya sekitar 15 – 20 menit. Dan setibanya di lokasi, mata saya langsung terpaku pada deru air yang jatuh tebing batu yang berundak-undak. Air hijau toska dengan buih putihnya bergerak cepat menyusuri dinding batu yang bertingkat-tingkat, menyuguhkan pemandangan yang sangat indah bak lukisan. Saya pun mendekat, dan merasakan betapa dingin titik-titik halus air yang terbawa angin. Segar.

 

EVY_3274
Kuang Si Waterfall, seperti lukisan!

 

EVY_3275
ramainya pengunjung Kuang Si Waterfall

 

EVY_3276
jembatan kayu yang menghubungkan ke-2 sisi kolam besar dengan air terjun di ujungnya

Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah air hijau toska yang sangat indah. Suasana di sekitar air terjun terasa sejuk dan segar. Terlihat beberapa rombongan pengunjung dengan aktivitasnya masing-masing – berfoto, ngobrol dengan teman, menikmati makan siang, dan lain-lain.

EVY_3278
air hijau toskanya…

 

EVY_3324
kalau lihat yang seperti ini, kepengen nyebur ga sih?

Setelah mengambil beberapa foto, saya mulai menyusuri jalanan setapak yang ada di sepanjang aliran air, untuk kembali ke gerbang utama.

 

EVY_3321
buih putih yang menyertai air hijau toskanya menambah catik tempat ini

 

EVY_3317
cantik, cantik, cantik!

Di sepanjang rute pulang, mata saya masih disuguhi dengan indahnya air hijau toska yang mengalir tenang. Beberapa pengunjung terlihat mencoba untuk berenang. Sementara saya, cukup mengabadikan pemandangan yang saya lihat melalui lensa kamera.

 

EVY_3314
semua tempatnya indah……

Perjalanan pulang, dengan jarak yang sama, saya tempuh lebih lama daripada rute berangkat. Itu karena saya lebih sering berhenti untuk memotret dan menikmati pemandangan air hijau toska yang menurut saya sangat cantik. Dan rasa-rasanya, kamera saya tidak pernah puas untuk mengabadikan keindahan dan kecantikan yang terpampang di depan mata.

 

EVY_3316
jalan setapak di sepanjang aliran air

 

EVY_3282
tangga batu yang ada di sepanjang jalan setapak

 

EVY_3288
tempatnya sangat fotogenic

 

EVY_3297
pengunjungnya ramai….

Di ujung jalanan setapak menuju pintu keluar, kita akan menemukan Tat Kuang Si Bear Rescue Center. Semacam lokasi penangkaran beruang. Beberapa ekor beruang hitam, besar, terlihat di area itu. Area ini dibatasi dengan pagar kawat tinggi. Di dalam area terdapat beberapa kolam dan tempat beristirahat bagi beruang yang terbuang dari kayu.

EVY_3335
Tat Kuang Si Bear Rescue Center

EVY_3329 EVY_3328EVY_3331

 

EVY_3330
Damm….

 

EVY_3327
bagi pengunjung yang ingin berdonasi untuk penyelamatan beruang, bisa melakukannya di sini

Saya pun akhirnya melangkah melewati gerbang dan meninggalkan area Kuang Si Waterfall Park. Beberapa teman memutuskan untuk makan siang (yang terlambat) di sini, namun karena setelah saya lihat-lihat, ternyata semua warung yang ada di lokasi ini menyajikan makanan non halal, saya memutuskan hanya minum air kelapa saja, karena kebetulan saya masih menyimpan sebatang coklat di tas, lumayan untuk mengganjal perut sampai menemukan makanan halal nanti.

 

EVY_3339
warung-warung yang terdapat di sepanjang jalanan menuju gerbang Kuang Si Waterfall

 

EVY_3341
beraneka suvenir dan peralatan rumah tangga khas Laos juga banyak dijual di sekitar area Kuang Si Waterfall Park

Dari Kuang Si Waterfall, saya dan teman-teman kembali ke penginapan, istirahat sebentar, sambil menunggu malam untuk melihat night market yang ada di Kota Luang Phrabang ini.

Malamnya, saya dan teman-teman akhirnya mengunjungi night market yang ada di sepanjang jalan Sisavangvong menuju pusat kota (Jalan Settathilat). Pasar malam ini mulai buka pada pukul 5 sore hingga pukul 11 malam. Di pasar malam ini kita akan menemukan berbagai macam barang seperti pakaian, keramik, beraneka ragam barang yang terbuat dari bambu, lampu, selimut, suvenir, scarf, kain tradisional Laos, dan masih banyak lagi. Tak ketinggalan beberapa  jenis makanan dan minuman khas yang hanya ada di pasar malam.

EVY_3484
aneka kain tradisional yang dijual di night market dan morning market

 

EVY_3482
barang-barang yang dijual di night market sama dengan barang-barang yang dijual di morning market

 

EVY_3479
produk tradisional yang dijual di night market dan morning market

Saya sangat menikmati berkeliling di area night market ini. Melihat beraneka rupa produk kerajinan dari Laos, dan berinteraksi dengan penduduk lokal. Beraneka macam suvenir terlihat cantik, disusun dengan warna yang beraneka rupa, tambah cantik dengan siraman sinar lampu yang memendarkan aneka warna di sekitarnya.

Di night market ini, saya mencoba jus buah yang sangat yummy. Dengan uang 10,000 Kip, saya mendapatkan segelas besar jus Mangga yang kental dan manis. Dan malam itu, saya berhasil menghabiskan 2 gelas besar jus Mangga!

EVY_3499
aneka macam buah yang dijual di pasar

 

EVY_3497
warna-warni

Di night market ini juga, saya menemukan penjual makanan “all you can eat” yang menawarkan harga sebesar 10,000 Kip untuk semua makanannya. Jadi, sebanyak apapun kita mengambil makanan, mulai dari nasi, sayur, lauk dan buah, baik dimakan di tempat maupun dibungkus, semua dihargai 10,000 Kip untuk 1 transaksi. Tapi, karena harganya yang sangat murah ini, makanan yang dijual pun cepat habis. Malam itu saya hanya melihat beberapa jenis sayur dan gorengan yang tersisa.

Sepulang dari night market, saya mencoba mencicipi martabak yang dijual oleh orang Bangladesh. Rasanya lumayan enak, dan yang pasti halal.

Rencananya malam ini saya dan teman-teman ingin mencoba restoran halal “Nisha” yang ada di Luang Phrabang ini. Namun apa daya, karena sudah kemalaman, dan restorannya ternyata sudah tutup, akhirnya saya harus cukup puas dengan buah dan martabak yang saya beli.

Malam ini saya berusaha untuk istirahat dengan baik, karena besok subuh, saya akan melihat ritual rutin dan khas yang ada di kota ini. Yes, Tak Bat atau yang dikenal dengan nama Alms Giving Ceremony.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pukul 5 pagi, saya mulai berjalan menuju area night market semalam, karena itu adalah rute yang akan dilalui oleh para Monks. Kota Luang Phrabang masih gelap, lampu-lampu masih menyala dengan terangnya, namun jalan-jalannya sudah lumayan ramai. Penduduk lokal yang akan mengikuti ritual Tak Bat berbaur dengan para pelancong yang ingin menyaksikan ritual tersebut.

EVY_3342
suasana subuh di Luang Phrabang, menunggu prosesi Tak Bat

 

EVY_3352
penduduk lokal dan pengunjung mulai mencari lokasi yang strategis untuk mengikuti prosesi Tak bat

 

EVY_3353
langit masih gelap dan lampu-lampu jalan masih menyala

Saya menunggu di pojokan jalan, yang merupakan rute utama dari ritual tersebut. Para penduduk lokal mulai menggelar tikat di sepanjang trotoar yang akan dilewati oleh para Monks, menyiapkan nasi ketan di dalam tempat bambu, dan berbagai makanan lainnya yang akan mereka berikan.

 

EVY_3369
para Monks, selain mendapatkan donasi makanan, mereka juga memberikan donasi bagi masyarakat yang membutuhkan

 

EVY_3378
ingat “Do’s” & “Don’ts” di dalam mengikuti prosesi Tak Bat

 

EVY_3386
berbaris rapi, berjalan dalam diam

 

5 menit menuju pukul 6 pagi, beberapa Monks terlihat mulai keluar dari temple dan berjalan untuk menjalani ritual Tak Bat. Berjalan dalam diam, dalam barisan rapi, sambil menggendong mangkok besar berbahan logam yang ditempatkan pada sebuah tempat anyaman dengan tali panjang yang disandang di bahunya, para Monks mulai menyusuri jalanan yang ada di Kota Luang Phrabang.

EVY_3357
penduduk lokal bersiap untuk memberikan donasi makanan untuk para Monks

 

EVY_3351
nasi ketan yang akan diberikan kepada para Monks, disimpan di tempat khusus ini

 

EVY_3348
pengunjung berbaur dengan penduduk lokal untuk mengikuti prosesi Tak Bat

 

EVY_3374
tertib, hening

Masyarakat dan pelancong yang akan memberikan makanan – biasa disebut almsgivers – akan duduk atau bertumpu pada lututnya saat memberikan makanan yang telah mereka persiapkan. Semua aktivitas ini dilakukan dalam diam. Para Monks berjalan dalam kondisi sambil bermeditasi, dan masyarakat serta pengunjung tersebut menghormati apa yang dilakukan oleh para Monks.

EVY_3395
prosesi Tak Bat berlangsung sampai dengan (kurang lebih) pukul 7 pagi

Beberapa aturan “Do’s” dan “Don’ts” yang harus diperhatikan saat mengikuti Alms Giving:

  1. Jangan menjadikan ritual Alms Giving sebagai obyek foto. Apabila ingin mengabadikan ritual tersebut, usahakan tindakan yang dilakukan tidak mengganggu jalannya ritual (usahakan menggunakan lensa tele agar kegiatan memotret tidal mengganggu ritual mereka);
  2. Bagi pendatang yang hanya ingin melihat ritual tersebut, jagalah jarak agar tidak mengganggu;
  3. Gunakan pakaian yang sopan. Sebaiknya gunakan pakaian yang dapat menutup bagian bahu, perut dan kaki dengan baik. Apabila ingin mengikuti ritual dengan menjadi Almsgivers, lepaskan sepatu anda;
  4. Jangan menggunakan flash kamera saat memotret. Kilatan flash bisa mengganggu konsentrasi para bhiksu dan kesakralan ritual;
  5. Jangan sekali-kali memposisikan kepala kita lebih tinggi dari kepala para bhiksu.

 

Sedangkan apabila kita ingin berpartisipasi sebagai Almsgivers, perhatikan hal-hal berikut ini:

  1. Jangan membeli makanan dari penjual yang berada di sekitar lokasi. Sebaiknya persiapkan makanan itu sendiri, atau mintalah bantuan orang hotel/penginapan untuk menyiapkannya;
  2. Jangan melakukan eye contact dengan para bhiksu;
  3. Jangan menyentuh para bhiksu. Tariklah tangan anda secepatnya setelah meletakkan makanan ke dalam mangkok yang dibawa oleh pada bhiksu;
  4. Tundukkan pandangan untuk menghormati para bhiksu.

Selesai melihat ritual Tak Bat, saya dan teman-teman berinisiatif untuk sedikit meng-explore Kota Luang Phrabang sambil menunggu waktu check out dari penginapan dan meneruskan perjalanan kami. Kami memasuki area Royal Palace Museum, but unfortunately, karena masih pagi, kami hanya bisa berkeliling di halamannya saja. Di seberang Royal Palace Museum, berdiri Mount Phousi, sebuah tempat yang menjadi tujuan pelancong untuk menikmati terbitnya matahari di Luang Phrabang.

EVY_3410
suasana pagi setelah mengikuti prosesi Tak Bat

 

EVY_3414
aktivitas pagi di Luang Phrabang mulai terlihat setelah pelaksanaan prosesi Tak Bat

 

EVY_3413
aneka makanann kecil berbahan dasar nasi ketan yang dijual oleh penduduk lokal

 

EVY_3415
para Monks dan transportasinya

 

EVY_3458
Monks memulai aktivitasnya pagi itu

 

EVY_3457
turis mancanegara pun menikmati suasana pagi di Luang Phrabang

 

EVY_3442
Royal Palace Museum

 

EVY_3445
salah satu bangunan dengan arsitektur yang khas di lingkungan Royal Palace Museum

 

EVY_3432
detil yang ada di salah satu bangunan yang ada di area Royal Palace Museum

 

EVY_3420
salah satu sisi yang dijadikan tempat ibadah bagi penduduk lokal

 

EVY_3434
the details….

Saya sangat menikmasi suasana pagi di Luang Phrabang. Udara yang segar, dengan kondisi lalu lintas yang tidak seberapa ramai serta senyum merekah dari penduduk lokal yang menyapa para pelancong hampir di setiap sudut kota. And honestly, I’m falling in love with Luang Phrabang. Suasana kotanya membuat betah.

EVY_3437
pagi yang masih sepi, dan kursi-kursi yang tersedia di sepanjang jalan

 

EVY_3446
pemandangan ke area Royal Palace Museum dari Mount Phousi

 

EVY_3450
salah satu penduduk lokal yang menjual dagangan di area Mount Phousi

 

EVY_3478
which way to go?

 

EVY_3477
suasana pagi di penyeberangan Sungai Mekong

 

EVY_3473
kapal ferry yang menjadi sara transportasi di Sungai Mekong

Dari beberapa kota di Laos yang sudah saya singgahi, bagi saya, Luang Phrabang adalah kota yang sangat cantik, romantis, dan feels like a home. Next time, saya harus bisa lebih meng-explore kota ini sampai ke sudut-sudutnya.

EVY_3385
ini cemilan dari nasi ketan yang dimasukkan ke dalam bambu, rasanya manis dan pulen

 

IMG_3945
penampakan dalamnya seperti ini…..

Perjalanan saya di Luang Phrabang ditutup dengan memilih beberapa kartu pos yang kemudian saya kirimkan ke beberapa orang teman di Indonesia. Hopefully, they will come to Luang Phrabang, someday!

 

IMG_3949
La Poste! mengunjungi tempat ini di negara orang, rasanya excited!

 

IMG_3947
i sent them to you, with love……