Lembah Harau Sang Penjaga Bumi Minangkabau



— Masih Day-2 juga —
LEMBAH HARAU

Setelah menempuh perjalanan kira-kira 1.5 jam sejak meninggalkan rumah Bung Hatta, kami pun memasuki kawasan Lembah Harau. Dinding-dinding batu berdiri kokoh dan berbaris rapi di sebelah kanan jalan yang dilewati si unyu, sementara di sebelah kiri jalan terlihat hamparan sawah yang menghijau dan pegunungan. Tengok kanan, tengok kiri, berasa muter-muter ini leher gw ketika si unyu menghentikan gelindingan rodanya di depan sederetan warung yang menjual makanan dan minuman di kawasan Lembah Harau.
Yuhuuuuuuu…..kami di sini!!!

Lembah Harau merupakan jurang besar di Sumatera Barat dengan diameter mencapai 400 meter. Dengan tebing-tebing granit yang terjal menjulang setinggi 80-300 meter, dengan bentuknya yang beraneka ragam, Lembah Harau seolah-olah merupakan pagar alam di dataran Minangkabau. Lembah Harau terletak di Kabupaten Lima Puluh Koto, sekitar 15 km dari Kotamadya Payakumbuh, atau 47 km timur laut kota Bukittinggi. Untuk akses ke sana, bisa memulainya dari terminal Aur Kuning di Bukittinggi trus naik bus ke jurusan Payakumbuh, kemudian diteruskan dengan naik bus ke Sari Lama atau Lamaksari. Dari Sari Lama perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 4 km (sekitar satu jam) dari gerbang utama ke pintu masuk cagar alam
Begitu turun, gw hanya bisa berdiri dan muter-muter ngeliat indahnya kawasan ini. Di depan gw ada dinding batu tinggi……. dengan gemericik air yang mengalir dari atas menyusuri permukaan tebing batu itu. Liat ke kanan, tebing batu seolah ga ada habis-habisnya. Ke kiri juga. Tebing batunya panjaaaaaaaaaaaaaannnnnnngggggg……. dan tinggiiiiiiiiiiiiiiiiiii……….




Ayo… olahraga lutut :D
Katanya, klo mo ngeliat pemandangan yang lebih WOW, kita harus mendaki ke atas tebing batu itu. Oke, ayo kita coba daki dan liat ada pemandangan apa dari atas tebing….
Masih ingat kan kemaren gw bilang ini betis dan kaki rasanya udah butuh di-rebonding? Nah… di Lembah Harau ini, si kaki yang blom sempet di-rebondingharus memenuhi keinginan mata untuk melihat ada apa di atas sana, dan mewujudkan keinginan hati yang penasaran. Ayo lah kaki… kita kerjasama ya… bujuk mata dan hati. Pelan-pelan gw mulai menaiki tangga batu yang melingkari dan menembus tebing batu… hosh..hosh..hosh…
Duh…. sampe lututnya gemeteran lho…. tapi gw harus bisa sampe puncak! Itu tekad gw! Beberapa kali gw berenti untuk tarik napas panjang dan urut-urut betis… hiks, masih jauh ya???




what a kind of great creature?

Dan akhirnya… setelah pendakian yang cukup berat… hasyaaaahhhh, lebay klo ini sih gwnya :D

Taraaaaaaaaaaaa….. gw sampe di puncak!!!
Subhanallah….. bagus banget Lembah Harau diliat dari sini. Dinding batu yang tinggi menjulang dan panjang seolah memeluk bumi Minang, menjaganya dari nakal tangan-tangan tak bertanggung jawab. Rimbunnya pepohonan hijau pagar alami, dan hamparan sawah mampu menghilangkan rasa capek dan pegelnya kaki selama mendaki ke atas. Mata dan hati pun kini berhasil memuaskan rasa penasaran dan hausnya akan keindahan alam yang sebenarnya.


Tebing granit terjal, sawah yang menguning dan hijaunya pepohonan

Setelah berisitirahat sejenak dan mengambil beberapa shot foto, gw dan teman-teman kembali menuruni tangga batu. Sampe di bawah, rembug-an bentar, mo lanjut ke Ngalau Indah, atau makan siang dulu? Karena lokasi Ngalau Indah yang ga seberapa jauh dari Lembah Harau, akhirnya kami sepakat untuk lanjut ke Ngalau Indah dulu sebelum makan siang yang udah terlambat ini :D
Okay, kita lanjut ke Ngalau Indah yaaaa….

Roda si unyu mulai menggelinding menggilas aspal hitam yang panas, meninggalkan parkiran Lembah Harau ketika keinginan untuk mengintip Echo Resortmelintas :D
“Hen, singgah ke Echo dong…..” gw pun request.
Dan akhirnya si unyu berhenti di depan kompleks Echo Resort. Ini katanya resort paling bagus di kawasan Lembah Harau.


Jembatan di Echo Resort
jalan setapak menuju Echo Resort















Turun dari si unyu, gw nemuin bangunan yang mungkin kantor pengelola resortdi sebelah kiri. Untuk mencapai resort, kita harus menyeberangi sebuah jembatan beton yang konstruksinya mirip jembatan gantung dan berjalan melalui jalan setapak yang terbuat dari beton selebar sekitar 1-1.2 meter (pokoknya bisa 2 orang lah klo jalan berdampingan dengan catatan dari arah berlawanan ga ada yang lewat ya…). Di kanan dan kiri jalan setapak terlihat hamparan sawah dengan daun yang hijau dan butiran padi yang menguning. Di ujung jalan terletak kompleks Echo Resort, dikelilingi tebing batu.

what can u say for this?

Ketika kami sampe di sana, sepertinya baru aja ada kegiatan dari sebuah institusi. Terlihat banyak bapak-bapak dan ibu-ibu yang bawa tas-tas gede…. “abis nginep ya bu? pak?”
Di kompleks resort, resort utamanya adalah sebuah bangunan rumah kayu berbentuk rumah gadang berwarna coklat mengkilat dengan atapnya yang khas Minangkabau. Halaman resort sangat rapi dihiasi rumput dan berbagai tanaman hias lainnya.

mari narsis bersamaaaaa….
resort utama di Echo



















Kami ga berlama-lama di sini, karena takut kesorean sampe di Kota Padang. Setelah bernarsis-narsis dikit di halaman resort, kami pun capcus meneruskan perjalanan. Selamat tinggal Lembah Harau…. Someday, i’ll see you again, hopefully #dadahdadahkeLembahHarau    




bagus ya???





Rumah Sang Proklamator

Rumah Kelahiran Bung Hatta

Masih Day-2
Berkunjung ke Rumah Bung Hatta

Nyambung cerita setelah pulang dari intip-intip Ngarai Sianok dan The Great Wall, begitu sampe di hotel ternyata beneran dong si unyu udah ada. Duh unyu…. on time bener sih kamyuuu….
Setelah check out hotel, angkut-angkut carrier dan koper, akhirnya kami berangkat lagi. Tujuan selanjutnya di trip hari ke-2 ini adalah…… Lembah Harau. Brangkaaaaaatttttsssss…….
I’ve been there!
Si unyu mulai bergerak meninggalkan parkiran hotel ketika Hendra nanya “Mo singgah ke rumah Bung Hatta ga?”
“Mau!” ga pake mikir gw langsung teriak. Itu request gw sejak di Jakarta, karena gw baca di buku, bahwa rumah kelahiran Bung Hatta ada di Bukittinggi. Dan gw wonder banget pengen liat rumah Sang Proklamator, salah satu putra terbaik Indonesia.

Teman-teman akhirnya ikut setuju semua ga tau deh ya klo ada yang ngerasa terpaksa, dan kita bakal singgah ke rumah Bung Hatta yang berada di Jalan Sukarno Hatta no. 37 Bukittinggi.







Plang pembangunan kembali rumah Sang Proklamator

Ga berapa lama, kami pun tiba di depan rumah Bung Hatta. Sebuah rumah kayu berlantai 2 dengan halamannya yang asri.
Setelah ijin dengan uda yang menjaga rumah tersebut, perlahan gw masuk ke dalam.

Keseluruhan rumah ini menggunakan konstruksi kayu, termasuk dinding dan lantainya. Begitu kaki gw melewati pintu utama rumah ini, gw telah tiba di ruangan besar yang merupakan ruang tamu dan tampaknya sekaligus ruang keluarga. Seperangkat kursi tamu terbuat dari kayu dan anyaman rotan tertata rapi dibatasi dengan rantai putih yang artinya pengunjung ga boleh melewati rantai itu.

Ruang tamu dan ruang makan
abaikan penampakan yang pake baju kuning :D

Di belakang kursi tamu itu ada juga seperangkat kursi makan dari kayu, coklat mengkilap, sangat terawat. Plafon rumah terdiri dari anyaman rotan yang di-vernis rapi. Dua buah lampu gantung yang sangat tradisional semakin menguatkan aura etnik dari rumah ini. Di sebelah kiri gw terdapat sebuah kamar yang diisi dengan sebuah tempat besi, lemari pakaian yang terbuat dari kayu, serta sebuah meja bundar dan kursi yang semuanya terbuat dari kayu. Di pojokan kamar dekat jendela juga ada sebuah mesin jahit kuno yang diletakkan di atas meja lengkap dengan kursinya.




Kamar di sisi kanan ruang tamu
Mesin jahit tua

Rumah ini adalah tempat Bung Hatta dilahirkan pada tanggal 12 Agustus 1902 – dari pasangan H. Muhammad Djamil dan Saleha, yang merupakan keturunan kedua dari Syech Abdurrahman yang dikenal pula sebagai Syech Batuhampar – dan menghabiskan masa kecilnya sampai berusia 11 tahun. Bung Hatta kemudian melanjutkan pendidikan menengahnya di Meer Uitgebred Lager Onderwijs (MULO) atau sekolah menengah di kota Padang.
Rumah aslinya ini didirikan sekitar tahun 1860-an dan menggunakan struktur kayu yang terdiri dari bangunan utama, paviliun, lumbung padi, dapur dan kandang kuda serta kolam ikan. Bangunan utama berfungsi untuk menerima tamu, ruang makan keluarga, dan kamar ibu, paman, dan kakek Bung Hatta sedangkan paviliun berfungsi sebagai kamar tidur Bung Hatta.

Sekarang ayo kita liat kamar utama di rumah ini yang terletak di sebelah kanan dari meja makan, atau di sisi kiri dari rumah ini. Di kamar utama gw bisa liat di bagian kanannya sebuah tempat tidur besi dengan sprei putih lengkap dengan bantal dan guling dan sebuah selimut merah yang diletakkan terlipat rapi di ujung tempat tidur. Di dekat tempat tidur ada sebuah lemari kayu berpintu 2 yang terbuat dari kaca. Di dalam lemari terlihat lipatan sprei putih dan beberapa bendera merah putih yang ditumpuk rapi.

Ruang tidur utama


Yang unik, di bagian kiri kamar ini ada sebuah sumur tua yang sekarang lubangnya telah ditutup menggunakan plat besi. Entah apa fungsinya sumur ini dahulu, mengingat lokasinya yang berada di dalam kamar. Oh iya, konon di kamar inilah dulu Bung Hatta dilahirkan. Jadi… kamar ini yang menjadi saksi lahirnya seorang anak yang di kemudian hari menjadi salah satu Proklamator Negara Republik Indonesia ini.



Sumur tua

Kembali ke ruangan utama, di sepanjang dinding tergantung beberapa bukti sejarah seperti silsilah keluarga Bung Hatta, plakat “Kata-kata akhir untuk Bung Hatta” dari Presiden Soeharto, sebuah jam dinding antik, salinan Keppres RI mengenai Pemberian Ijin Pemakaman, dan foto-foto keluarga besar Bung Hatta. Di dekat pintu keluar tampak lukisan Bung Hatta dengan stelan jas hitam dan beberapa buku di depannya.


Silsilah keluarga besar Bung Hatta


Kata-kata terakhir untuk Bung Hatta
Jam dinding tua dan salinan Keppres
Pemberian Ijin Pemakaman














Rumah asli tempat Bung Hatta dilahirkan sebenarnya udah runtuh di tahun 1960-an, tetapi atas gagasan Ketua Yayasan Pendidikan Bung Hatta, maka rumah tersebut dibangun ulang sebagai upaya mengenang dan memperoleh gambaran masa kecil sang proklamator di kota Bukittinggi. Penelitian pembangunan ulang dimulai dari bulan November 1994 dan mulai dibangun pada tanggal 15 Januari 1995. Rumah ini diresmikan pada tanggal 12 Agustus 1995, bertepatan dengan hari lahir Bung Hatta sekaligus dalam rangka merayakan 50 tahun Indonesia Merdeka.


Rumah ini dibangun kembali mengikuti bentuk aslinya


Rumah ini dibangun mengikuti bentuk aslinya yang dapat dilihat di memoir Bung Hatta dan berbagai foto/dokumentasi milik keluarga Bung Hatta. Sebagian besar perabotan di dalam rumah masih asli dari peninggalan masa kecil Bung Hatta yang diperoleh dari keluarga dan kerabat beliau, begitupun tata letak perabotan tersebut masih dipertahankan di tempat asalnya.




Lumbung padi di halaman belakang

Di halaman belakang rumah terlihat 2 buah bangunan yang berfungsi sebagai lumbung padi, istal kuda dan sebuah bangunan yang menjadi tempat tinggal pengurus rumah. Seluruh halaman rumah ini tertata dengan sangat rapi dan bersih. Rumput-rumput dipangkas tipis.







Di bagian luar rumah, tapi masih di dalam bangunan yang sama, di sisi sebelah kiri terdapat sebuah kamar yang disebut “Kamar Bujang”. Konon ini adalah kamar pribadi Bung Hatta dulunya. Di dalam kamar itu terdapat sebuah dipan kayu dengan sprei putih dan selimut merah, meja tulis dan sebuah lemari di dekat pintu masuknya. Kamar ini tidak lah besar, ukurannya mungkin hanya 2.5×4 meter. Lantai kamar dilapisi dengan tikar pandan. Di dinding di atas dipan tergantung sebuah jam dinding, gambar Garuda Pancasila, sebuah foto Bung Hatta dengan stelan jas hitam dan kacamatanya, sebuah foto hitam putih Bung Hatta bersama dengan Bung Karno dan seorang lagi yang gw ga tau namanya. Di dinding sisi belakang pintu juga tergantung beberapa foto dan plakat, yang tentunya semua itu terkait dengan kapabilitas seorang Bung Hatta. Kamar yang sederhana, tapi ternyata justru menghadirkan seorang pemikir bangsa. Proud of u!
Kamar yang sederhana dan bersahaja


Kamar Bujang





















Sayang gw ga sempet naik ke lantai 2 rumah ini karena kami harus segera melanjutkan perjalanan. Akhirnya setelah mengambil beberapa foto, gw pun kembali menaiki si unyu dan bergerak meninggalkan rumah kayu bersejarah dan segala kesederhanaannya itu. Bangga telah mengetahui, dan mengunjungi rumah Sang Proklamator secara langsung… ah, gw jadi mellow
Yuk ah, kita lanjut! Masih banyak kan yang mo diliat dan kunjungi hari ini….. cuuuuuuuuuussssssssss……



Bukittinggi and its Guardian Angel

Gunung Singgalang, Ngarai Sianok dan Bukittinggi



Day-2
10 Maret 2013


The Guardian Angel
Hoooaaaaaeeeemmmmm…. jam baru nunjukin angka 5 lewat dikit waktu gw bangun. Dan Rini, roommate gw baru aja beres mandi.
“Hahhh… pagi amat Rin mandinya… emang mo ke mana masih gelap begini?” tanya gw sambil kucek-kucek mata.
“Aku mo jalan-jalan seputaran hotel” kata Rini.
“Ouw……. jalan-jalan ya???” gw nyaut sambil masih meringkuk di balik selimut.
Hmm….. jalan-jalan… Bukittinggi… pagi… otak gw menyusun kata-kata itu satu persatu…
Wah iyaaaaa…. otak gw kemudian berputar cepat, kemaren kan sempet kebagian sunset plus ujan dikit di Jam Gadang, pagi ini yuk nyari sunrise-nya. Buru-buru deh gw bangun, beresin kasur, trus cuuusssss… lari ke kamar mandi. Byuuuuuurrrrr….  peristiwa di kamar mandi kan ga perlu gw ceritain di siniya??? :D
Ga pake lama, gw pun siap. Rini udah duluan cabut dari kamar. Biar ga dicariin teman-teman yang laen, gw kirim message ke Hendra, “Hen, gw jalan-jalan dulu, mo liat yg blink-blink di sekitar hotel”.
Abis kirim message, trus matiin AC, TV dan lampu hotel eh… kamar ding, gw pun capcus sambil nenteng si pinky.
Melangkahkan kaki keluar pintu hotel…. hmmm… udaranya segeeeeeeeeeerrrrr….
Gw nyusurin lagi jalanan di Kota Bukittinggi yang sepi pagi itu, cuma ada1, 2 mobil dan motor yang lewat. Aktivitas masyarakat sepertinya blom mulai deh…
Kaki gw terus melangkah menuju pusat kota.
Yup! Gw addicted ke Jam Gadang, mo liat wajahnya lagi pagi ini

Jam Gadang pagi itu

Pagi itu Jam Gadang tampak berdiri dengan gagah di tengah-tengah kota, mengamati aktivitas warga yang mulai memadati taman di sekitarnya. Ternyata klo pagi itu, di taman kota yang ada di sekitar Jam Gadang banyak kegiatan masyarakat. Ada yang sedang senam pagi, jalan santai, bercengkerama dengan sahabat dan keluarga, ada juga yang mencoba peruntungan mencari rejeki dengan berjualan di situ, dan tukang foto keliling pun ada lho.. ga lupa seorang bapak petugas kebersihan yang dengan setia membersihkan taman kota pagi itu.

dia yang setia dengan tugasnya

Gw liat sekeliling, ada yang jualan kaos dengan gambar Jam Gadang, rumah adat Minangkabau, Jembatan Limpapeh, dan sebagainya. Harganya pun cukup bersahabat dengan kantong, berkisar 20ribu – 75ribu. Selain berjualan kaos, banyak pula yang menjajakan makanan kecil dan besar untuk sarapan atau sekedar ngemil. Ada soto Padang, lontong sayur (tentunya khas Padang), gorengan dan teman-temannya.
Gw pagi itu emang niatnya cuma pengen hunting aja, jadinya gw ga belanja apa-apa. Di pinggir taman kota, sang surya ternyata masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya…
Dibalut kabut pagi yang masih turun perlahan, sinar mentari mulai menyapa wajah-wajah manusia yang pagi itu telah memulai aktivitasnya. Ditemani dengan siluet kokoh dari Gunung Singgalang di kejauhan, perlahan suasana di taman kota menjadi semakin terang. Penasaran dengan suasana pagi ini di Kota Bukittinggi? Bisa liat di sini koq…
Di cerita trip Day-1 kemaren kan gw udah share ya, ada apa aja di Kota Bukittinggi, jadi ga gw ulang lagi. Gw ceritain lainnya aja ya… yang jelas yang mo gw ceritain di sini adalah perjalanan Tour de Minangkabau Day-2. Ke mana aja di hari ke-2 ini? Yuk… ikutin gw…
Aktivitas pagi di sekitar Jam Gadang

Setelah tadi ngeliat sunrise dan siluet Gunung Singgalang, trus gw explore dikit taman kotanya… trus intip-intip Istana Bung Hatta… trus melongok aktivitas pagi di seputaran Kota Bukittinggi (cerita dan fotonya ada di sini), akhirnya gw balik ke hotel.
Sampe di hotel, ternyata……. teman-teman udah pada sarapan :D
Maaf…… tadi gw kabur bentar… hehehehehe…. ^.^



Sarapan pagi ini menunya ada nasi goreng, mie goreng, telor dadar (my kesukaan :D), trus lalapan, kerupuk, ada buah, pisang goreng, kolak candil (tau ga? Ini enak lho…), puding, dan buah segar. Hmmm…. pilih yang mana ya???

Akhirnya gw ngambil menu kolak candil, ini kesukaan gw waktu masih kecil… dulu alm nenek gw (simbah klo orang Jawa bilang) paling rajin ngebikinin kolak ini untuk gw. Jadi ya… kolaknya itu yang pake gula merah sama santan gitu… trus ada adonan keladi atau talas atau singkong yang dicampur dengan tepung kemudian dibentuk bulat-bulat kecil. Nah… waktu dimasak, dicemplungin lah adonan bunder-bunder itu ke dalam kuah gula merah dan santan, lalu dimasak sampe mateng. Klo ditanya rasanya??? Hmmmm……. enaaaaaaaaaaaakkkkkkkk… banget………  sluuurrrrpppppp….. jadi pengen nambah deh… #ups :D

Yaaahhhh… kemaren gw ga sempet moto kolak candilnya….  bawaan nostalgia sama masakan simbah, plus doyan, dibonusin laper, jadilah langsung hap! Itu kolak masuk perut dan ga sempet difoto ^.^
Abis sarapan Hendra nawarin alternatif jalan-jalan pagi itu sambil nunggu dijemput si unyu. Mau ke Jam Gadang lagi? Atau mo liat view Ngarai Sianok? Sebenernya sih ke-2 tempat itu kemaren sore udah didatengin semua, tapi gw vote untuk liat view Ngarai Sianok, karena kemaren sore itu kami cuma bentar doang liatnya, keburu masuk ke Lobang Jepang. Teman-teman setuju, dan rombongan bergerak ke Panorama.
Klo kemaren kami dianterin si unyu sampe di gerbang Panorama, pagi ini kami akan jalan kaki ke sana. Hup… hup… ayo kita coba… jauh ga ya???
Keluar dari hotel, trus nyebrang jalan, memasuki sebuah gang kecil yang kanan kirinya merupakan perumahan penduduk, trus….. melompati sebuah parit kecil, trus…. naek tangga…. hosh…hosh…. lurus terus….. sampe akhirnya tiba di ujung gang. Dan….. jreng..jreng.. kawasan Panorama udah ada di seberang jalan!
Ternyata deket ya dari hotel…..

View Ngarai Sianok diliat dari Panorama

Kami pun memasuki kawasan Panorama untuk ke-2 kalinya. Tapi pagi ini tujuannya bukan ke Lobang Jepang atau Benteng Fort de Kock atau Jembatan Limpapeh, atau Rumah Adat Baanjuang. Pagi ini kami hanya akan intip-intip Ngarai Sianok dari jauh.

Berdiri kokoh

Dari kejauhan, keliatan dinding ngarai berdiri dengan kokoh, seolah membentuk, melekuk dan memeluk alam di sekitarnya. Panjang Ngarai Sianok itu kurang lebih 18 km, dan dinamai sesuai nama kampung yang ada di dekatnya, misalnya Ngarai Koto Gadang, dan lain-lain.

Ngarai Sianok ini juga dijuluki Grand Canyon-nya Indonesia, karena klo diliat, ampir mirip dengan Grand Canyon yang ada di Amerika sana. Bangga ya…. ternyata alam Indonesia itu beneran indah. Sapa sih yang berani bilang Indonesia ga indah??? Hmmmm…. yang bilang gitu kayaknya ngajak ribut nih…#pasangtampanggalak
Gw mencoba meliat keseluruhan dinding ngarai sejauh mata gw bisa ngikutinnya. Nun jauh di seberang, di atas ngarai terlihat kawasan pemukiman. Waktu gw tanya seorang ibu yang berdiri di sebelah gw, di sana itu adalah Koto Gadang. Gw berjalan ke arah kanan, dan gw nemuin sederetan toko-toko penjual suvenir khas Minangkabau. Ada tas, miniatur rumah adat, miniatur Jam Gadang, piring berhias gambar rumah adat dan Jam Gadang, gantungan yang bisa bunyi ting-ting-ting klo tertiup angin, beragam lukisan, kaos, topi, dan masih banyak lagi.

Deretan lukisan cat air tentang indahnya Bumi Minangkabau

Gw tertarik dengan berderet-deret lukisan cat air yang diletakkan di sepanjang pagar. Bagus banget lukisannya. Dan gw pun nekad nyamperin sebuah toko lukisan di mana bapak yang punya sedang melukis. Pas gw tanya “Pak, ini melukisnya langsung di kanvas? Langsung pake cat air? Ga pake pensil dulu?”
Si bapak bilang “Ga, ini langsung pake cat air dan langsung di kanvas”. WOW……… kereeeeeeeennnnnnnnn……
Gw cuma bisa acung jempol buat si bapak… gila, lukisan sebagus itu dilukis langsung pake cat air di atas kanvas!



Seorang pelukis di stand suvenir di Panorama

Dan mo tau ga? Harga lukisan itu juga ga mahal lho…. Untuk lukisan dengan ukuran sebesar buku tulis harganya 5 ribu, trus gedean dikit sebesar buku gambar gitu harganya 15 ribu, yang rada gede ya… kira-kira ukuran 90×60 cm itu harganya 75 ribu!

Tapi…. kemaren gw ga beli apa-apa di toko-toko suvenir itu. Padahal udah mupeng banget… untung masih bisa mikir, klo beli ntar mo ditaro di mana??? Bisa-bisa kamar kost gw bakal jadi kayak gudang deh gegara kebanyakan yang disimpan di situ.
“is it the real Great Wall? here?”
Dari pinggir pagar kawasan Panorama mata gw terus bergerak menelusuri panjangnya Ngarai Sianok, ketika tiba-tiba…… eh, itu apa????
Ada The Great Wall di Bukittinggi???
Gw liat lagi bener-bener…. Eh iya, seriusan…. itu Great Wall bukan???

Di ujung sana, mata gw menangkap sebuah bentuk bangunan yang mengular dari sebelah kanan kawasan Panorama, teruuuuuuussss….. ke arah Koto Gadang. Bangunan beton selebar mungkin 2-3 meter, dengan panjang yang gw ga tau berapa, seperti benteng, seolah membelah pinggiran ngarai. Dan klo diperatiin lebih detil, banyak orang yang sedang jalan di situ. What a great……????
Whuaaaaa….. gw pengen ke sana……

Di kawasan Panorama, banyak ketemu “sodara” :D

Tapi setelah gw tanya-tanya, ternyata lokasinya lumayan jauh, dan tentunya bakal (sedikit) menyita waktu. Bisa-bisa itinerary grup berantakan semua.

Hmm…. baiklah… gw terpaksa harus berpuas diri dengan mengintip “The Great Wall” dari balik lensa… (ssttt…dalem hati sih bertekad next time gw harus ke sana!) #semangat
Beres liat-liat view Ngarai Sianok dan “The Great Walldari jauh, gw dan teman-teman balik ke hotel, karena sesuai perjanjian, jam 9 pagi si unyu udah standby.


Yuk kita kemon…
Eh iya, sebelum sampe hotel kita-kita sempet foto di depan The Hills… itu lho… hotel gede yang ada di Bukittinggi. Gaya aja, biar disangka nginepnya disana…. hehehehehe….

Bukittinggi – Menguak Tabir Lobang Jepang, Benteng Fort de Kock, Jembatan Limpapeh, Taman Margasatwa Wisata Kinantan sampai Jam Gadang


icon Kota Bukittinggi

— Masih Day-1 —


Ini lanjutan cerita perjalanan setelah rombongan mengunjungi Puncak Lawang. Kami memasuki Kota Bukittinggi menjelang sore, lumayan jauh juga perjalanan dari Puncak Lawang ke Bukittinggi. Tujuan pertama di Kota Bukittinggi ini adalah Panorama. Panorama ini boleh dibilang adalah sebuah taman hiburan. Di dalam kompleksnya terdapat taman margasatwa (gw sih biasanya bilang itu kebun binatang), Lobang Jepang, benteng Fort de Kock, deretan toko-toko yang menjual suvenir, dan juga view Ngarai Sianok dari kejauhan.


Ditemani rintik gerimis, dan suasana sore yang basah, langkah kaki kami mengarah ke area Lobang Jepang. Eh… sampe di mulut Lobang Jepang, koq rame orang bergerombol??? Kirain ada apa, ternyata…. penerangan di lokasi Lobang Jepang sedang padam. Gelaaaaaaaaaappppppp….





Tangga yang merupakan pintu masuk ke Lobang Jepang

Kasak-kusuk nih sama teman-teman “Masuk ga? Klo masuk kan gelap, gimana dunks?”
Udah terlanjur berbasah-basah dan dingin begini ya… udah beli tiket dan udah sampe di mulut lobang, mana kita kan datengnya dari jauh… nyebrang laut lho pake kapal terbang… tanggung aaaahhhh… yuk, kita masuk aja! Lagian kan si uda guide-nya juga ngebawain emergency lamp. Akhirnya kami sepakat tetap masuk ke Lobang Jepang dalam keadaan gelap, dengan penerangan dari emergency lamp.



Bagian dalam Lobang Jepang


Untuk memasuki Lobang Jepang, kami harus menuruni sederetan anak tangga. Posisinya cukup curam, sehingga uda guide pun menyarankan kami untuk mengambil posisi di tengah anak tangga dan berpegangan tangan… eh maksudnya berpegangan pada besi pembatas tangga. Pelan-pelan gw menuruni anak tangga itu, sambil tetep pegangan ke besi yang ada di sisi kanan. Udara dingin dan lembab menyeruak dari dalam lobang. Semakin ke bawah terasa semakin adem :D
Beruntung gw tadi di mobil sebelum turun sempet nyamber jaket, jadi ga terlalu dingin deh….



Lorong yang gelap dan panjang ini hasil
kerja keras para romusha
Ini ada sedikit cerita tentang Lobang Jepang based on what “uda” told us.
Lobang Jepang dibuat sekitar tahun 1942-1945 pada masa penjajahan Jepang dengan mengerahkan tenaga kerja romusha yang diambil dari penduduk Indonesia yang berasal dari luar Pulau Sumatera. Kenapa harus dari luar Pulau Sumatera? Alasannya sangat simple, karena penduduk dari luar Pulau Sumatera tidak mengenal daerah Bukittinggi, dan klo pun mereka kabur, mereka ga bisa berkomunikasi dengan penduduk lokal. Cerdas ya itu Jepun-Jepun…
Di dalam lobang Jepang ditemukan ruangan-ruangan (biasanya disebut lorong) dengan fungsi sebagai berikut:
– 6 ruangan amunisi;
– 12 ruangan barak prajurit;
– 1 ruang dapur;
– 1 ruang rapat;
– 1 ruang makan romusha;
– 1 ruang penjara
– 3 pintu emergency/pelarian.


Salah satu ruang amunisi dari 6 ruangan serupa

Lobang Jepang ini panjangnya 5.5 km, namun yang sekarang difungsikan sebagai obyek wisata baru sepanjang 1475 meter, artinya masih ada sekitar 4025 meter lagi Lobang Jepang yang membentang di bawah Kota Bukittinggi yang belum dibuka untuk umum karena pertimbangan keamanan (sirkulasi udara yang belum memadai apabila difungsikan sebagai obyek wisata).


Nah… karena 40% Kota Bukittinggi memiliki Lobang Jepang, maka di Bukittinggi tidak ada bangunan yang tingginya lebih dari 5 lantai dengan alasan safety. Selain di Bukittinggi, ternyata masih ada 2 Lobang Jepang lagi yang ada di Indonesia, yaitu di Bandung (daerah Dago Pakar) dan Papua (di bawah Kota Biak). Kebayang ga sih seandainya Jepang ga kalah perang? Dan Kota Hiroshima – Nagasaki-nya ga dibom atom oleh sekutu??? Bisa jadi semua kota yang ada di Indonesia ini, ada Lobang Jepang-nya semua lho……. kyaaaaaaaaaaaaaaa…..


Lobang Jepang dengan dinding batu cadas/gunungnya

Ruangan-ruangan atau lorong-lorong yang ada di dalam Lobang Jepang masing-masing panjangnya 29 meter. Dan lorong-lorong tersebut letaknya paralel satu sama lain, dan saling berhubungan. Hal ini disengaja oleh Jepang dengan alasan apabila ada romusha yang berusaha melarikan diri akan tersesat dan berputar-putar dari lorong satu ke lorong yang lain tanpa bisa mencapai pintu keluar. Jarak antara lorong satu dengan lorong lainnya hanya sekitar 5-6 meter. Lobang Jepang ini dinding dan tanahnya merupakan batu cadas/batu gunung, sehingga kedap air, dan diperkirakan juga tahan terhadap getaran bom. Pembuatan Lobang Jepang itu sendiri hanya menggunakan peralatan sederhana berupa cangkul, linggis dan pahat. Siapa yang membuat Lobang Jepang??? Ya tentu saja para romusha yang diculik oleh Jepang dan kemudian dipekerjakan secara paksa tanpa imbalan! Sebel yak??? #pasangtaring

Tinggi lobang Jepang hanya sekitar 1 meter 70 centi, hal ini disesuaikan dengan tinggi postur prajurit Jepang pada saat itu yang ga terlalu tinggi.



Ini ruangan penjara yang menjadi tempat
penyiksaan para romusha

Di Lobang Jepang ini ada juga 1 ruangan yang dulunya difungsikan sebagai ruang makan para romusha, karena pada saat ditemukan terdapat peralatan-peralatan makan berupa gelas yang terbuat dari bambu dan piring dari batok kelapa…. whuaaaaaaa… hiks… kasian bener yaaa… para romusha itu… #prayforthem


Ruangan yang paling besar di Lobang Jepang ini diperkirakan dulu difungsikan sebagai ruangan meeting, karena pada saat ditemukan terdapat bekas-bekas pembakaran berkas/dokumen, meja-meja besar dan kursi-kursi.











Lubang pembuangan…
(entah sudah berapa ribu tubuh romusha
yang dibuang melalui lubang ini langsung
terjun bebas ke Sungai Ngarai Sianok)
Ruang penjara yang ada di Lobang Jepang ini panjangnya lumayan juga, sekitar 42 meter. Fungsinya bukan untuk menahan orang lho… tetapi sebagai tempat penyiksaan bagi romusha-romusha yang dianggap melawan terhadap Jepang (huhuhuhuhu… kejam banget… #lapairmata).

Jadi, romusha-romusha yang dianggap ga nurut terhadap Jepang (ya iya lah… ngapain juga nurut sama penjajah???) akan disiksa di ruangan penjara selama 1 atau 2 hari. Kemudian akan dibawa ke ruangan “dapur”. Ruangan ini bukan “dapur” beneran lho… tapi hanya kamuflaseJepang supaya para romusha itu ga curiga. Aslinya ruangan ini adalah ruangan untuk eksekusi!!!


Jadi romusha yang udah disiksa dibawa ke ruangan ini, untuk selanjutnya dieksekusi, dihabisi dan kemudian mayatnya dibuang melalui lubang pembuangan yang ada di sudut dapur. Lubang pembuangan itu sendiri panjangnya 72 meter yang berujung pada sungai Ngarai Sianok. Kenapa mayat dari para romushaitu justru dibuang melalui lubang pembuangan??? Ternyata jawabannya adalah, karena lubang pembuangan itu berujung pada Sungai Ngarai Sianok, maka apabila ada mayat yang hanyut tidak akan memancing perhatian penduduk, karena akan disangka mayat dari peperangan (kan waktu itu Indonesia sedang perang melawan Jepang).



Pintu pengintaian, tempat prajurit Jepang
mengintai penduduk pribumi

Di atas lubang pembuangan terdapat lubang pengintaian sepanjang 20 meter ke arah atas. Dari lubang pengintaian itu dulu prajurit Jepang melakukan pengamatan dan pengintaian terhadap penduduk Bukittinggi sebelum kemudian melakukan penyergapan, baik itu untuk hasil buminya, maupun untuk tenaga pekerja paksa (tapi untuk pekerja paksa, apabila yang tertangkap adalah masyarakat lokal, maka langsung dibunuh dengan alasan keamanan).















Di dalam Lobang Jepang terdapat beberapa pintu emergencyatau pelarian yang sesuai rencana Jepang akan digunakan untuk prajuritnya melarikan diri apabila terjadi penyergapan dari tentara sekutu maupun rakyat Indonesia. Namun karena keberadaan Lobang Jepang itu baru diketahui pada tahun 1946, setelah dibom atomnya Kota Hiroshima dan Nagasaki, pintu pelarian itu belum pernah digunakan oleh Jepang.
Salah satu lorong menuju pintu pelarian
Pintu pelarian yang tembus ke arah Ngarai Sianok




















Dinding Lobang Jepang dibuat tidak rata, tetapi berlekuk-lekuk, kenapa demikian? Ternyata hal itu disengaja, pertama untuk tempat penyangga obor karena dulu penerangan di dalam lobang hanya menggunakan obor (secara ya cyiiiinnn… blom ada listrik kan dulu…). Kedua, ternyata permukaan dinding yang tidak rata itu juga berfungsi sebagai peredam suara, sehingga suara-suara yang timbul pada saat pembuatan Lobang Jepang tidak terdengar ke luar. Begitu juga dengan suara-suara teriakan para romusha yang disiksa dan dihabisi, tidak terdengar keluar.

Hingga saat ini, ada 2 pertanyaan besar yang belum terjawab terkait dengan keberadaan Lobang Jepang di Kota Bukittinggi ini:
  1. Berapa banyak romusha yang meregang nyawa dalam proses pembuatan Lobang Jepang? Karena pada saat ditemukan, terdapat beribu-ribu kerangka manusia di sana.
  2. Untuk Lobang Jepang sepanjang 5.5 kilometer, ke mana tanah galiannya dibuang?

Sampai detik ini pun 2 pertanyaan itu blom ada yang bisa jawab, karena tidak ada saksi hidup pada saat penemuan Lobang Jepang di tahun 1946.


Relief di pintu keluar Lobang Jepang
Relief di pintu keluar Lobang Jepang

Hmm… cerita Lobang Jepangnya sampe di sini aja ya… bonusnya ini gw share beberapa foto bagian dalam Lobang Jepang dan reliefyang ada di pintu keluar Lobang Jepang (liat reliefnya aja udah kebayang gimana penderitaan para romusha itu waktu menggali Lobang Jepang #whuaaa #tissuemanatissue).

Relief kekejaman Jepang terhadap penduduk pribumi

Relief kekejaman Jepang terhadap penduduk pribumi


Penunjuk Lokasi Benteng Fort de Kock

Benteng Fort de Kock

Beres explore Lobang Jepang, selanjutnya gw dan teman-teman mo liat Benteng Fort de Kock dan Jembatan Limpapeh yang kebetulan berada dalam 1 lokasi yang sama.
Dalam bayangan gw, yang namanya benteng itu adalah sebuah bangunan gede dari beton, tinggi, kokoh menjulang dengan lubang-lubang pengintaian, dan meriam-meriam yang siap memuntahkan pelurunya. Ternyata Benteng Fort de Kock ini hanyalah sebuah bangunan beton kira-kira berukuran 6×6 meter dengan tinggi sekitar 7-8 meter.
Gw hanya melihat benteng ini dari luar, tanpa mencoba untuk naik ke atasnya.






Prasasti batu berisi sejarah Benteng Fort de Kock
Meriam di pelataran Benteng Fort de Kock



















Jembatan Limpapeh, merentang megah
membelah Jl. Ahmad Yani Kota Bukittinggi di bawahnya
Jembatan Limpapeh

Perjalanan lanjut terus ke Jembatan Limpapeh. Jembatan Limpapeh ini merupakan sebuah jembatan gantung yang melintas di atas Jl. Ahmad Yani Bukittinggi, yang menghubungkan kawasan Benteng Fort de Kock dan Taman Margasatwa Budaya Kinantan. Panjang jembatan ini sekitar 90 meter, lebar 3.8 meter, dengan kawat-kawat baja yang terentang memegangi batang jembatan serta pelat-pelat aluminium pada permukaan jembatan.










Selamat datang di Rumah Adat Baanjuang

Rumah adat Baanjuang

Menyeberangi Jembatan Limpapeh, kami sampe di kawasan Rumah Adat Baanjuang. Dan sekali lagi gw melongo dengan mata berbinar-binar ngeliat desainnya. Masih ditemani gerimis cantik dan wangi tanah serta rumput basah (hmm…gw sangat suka suasana seperti ini), gw dan teman-teman mulai menaiki tangga rumah gadang ini. Rumah Adat Baanjuang hanya 1 lantai, di dalamnya penuh dengan etalase yang berisi miniatur pakaian adat dari berbagai daerah di Minangkabau, peralatan makan, perlengkapan upacara adat, berbagai senjata, dan masih banyak lagi. Di sisi kanan rumah gadang ini terdapat sebuah pelaminan, lemari untuk menyimpan senjata, dan beberapa perlengkapan adat lainnya.



Diorama kehidupan masyarakat Minangkabau
(lumbung padi, aktivitas menumbuk padi, mengayak, dan bercocok tanam)

Di halaman rumah gadang terdapat patung wanita Minang yang sedang menumbuk padi, lengkap dengan lesung dan alunya. Ada juga bangunan lumbung padi, sepasang wanita-pria dengan pakaian adat Minangkabau di depan tangga rumah gadang, seolah-olah menyambut tamu yang akan berkunjung.


Beres explore Rumah Adat Baanjuang, kami pun bergerak kembali ke kawasan Panorama, nyamperin si unyu yang setia menunggu di sana. Huft….. baru hari pertama trip, kakinya udah berasa butuh rebonding…. pegel boooo…
Tujuan selanjutnya…… Hotel Grand Kartini…. yoi, malam ini kami akan nginep di situ, sambil melewatkan malam minggu di Kota Bukittinggi.
Ayo kita capcus ke hotel….. sapa tau bisa rebahan 1 atau 2 jameh… menit ding :D
Si unyu bergerak dari area parkir Panorama, menyusuri aspal basah. Ga pake lama, kami pun tiba di depan Hotel Grand Kartini. Ini nih penampakan papan namanya :D hehehehehe….

Di sini nih nginepnya


Sampe hotel, check-in, bagi kamar, gw kebagian kamar 303 sharing sama Rini. Ayo kita liat gimana suasana di dalam kamarnya…..

Eh…. kamar 303 itu artinya di lantai 3 kan ya??? Tapi ini mana lift-nya ya? Baiklah…. daripada ribet, mari kita lewat tangga aja… skalian olahraga :D huft…huft…huft… (sampe pulang pun, gw ga nemu dan ga nyari juga sih, di mana lokasi lift-nya).


Ternyata kamar gw persis di depan tangga lantai 3, sementara teman-teman yang lain masih harus jalan lagi lebih jauh… hehehehehe… lucky me waktu milih kamar langsung ambil nomor 303 :D


Baru juga naro carrier di pojokan kaman, trus ngelurusin badan, si Rini langsung kabur ke kamar mandi, mo mandi katanya. Tapi tiba-tiba tok-tok-tok pintu diketok dari luar. Haduuuuuhhhhh… sapa sih?????
Gw buka pintu, eh… udah ada Hendra di depan pintu dan bilang “Ayo jalan ke Jam Gadang”. Hahhhhhh???? Jalan lageeeeeee???
Rini dari kamar mandi nyembulin kepala dan langsung bilang “Kita jalan lagi? Aku ga jadi mandi deh” ahahahahahahahaha……. gw cuma bisa ngakak.
Jam 6 sore itu, ketika kami mulai menyusuri aspal basah, keluar dari hotel menuju Jam Gadang. Berjalan di emperan toko, berusaha menghindari tetesan air hujan, akhirnya kami sampai di lokasi Jam Gadang.
Finally, I’m Here! Yeah!!!
Oooooohhh… ini ternyata ikon Kota Bukittinggi yang terkenal itu???
Berdiri dengan kokohnya di tengah-tengah sebuah taman kota, dikelilingi dengan kompleks pasar tradisional yang berbaur dengan pasar modern dan pertokoan. Di kawasan Jam Gadang banyak gw liat pedagang asongan yang menjual aneka barang…. aneka makanan kecil, minuman, permainan anak-anak, dan lain-lain.
Yeaaaaayyyyyy….. gw ada di depannya lhooooo….. poto ah poto…..

Klo selama ini gw cuma liat gambar Jam Gadang dari inetdan foto-foto racun dari teman-teman yang udah pernah ke sini, kali ini gw bisa liat langsung!
Lupa dengan cerita gerimis yang tadi sempet bikin basah dan jalannya pake loncat-loncat, gw ga mau lagi kehilangan moment sore basah di depan Jam Gadang ini.
Cekrek… cekrek… gw berusaha motret Jam Gadang dari angle paling seksi :D
Mumpung masih rada terang….

Trus mata gw mulai menelusuri susunan angka di jam yang unik itu…. bener lho…di Jam Gadang itu, angka 4-nya ditulis IIII, bukan IV!
Unik dan ga biasa penulisan angka di jam-nya.


Sejarah Jam Gadang perlu gw share di sini ga???
Hmm… gw share dikit kali ya….
Jam Gadang merupakan landmark Kota Bukittinggi. Dibangun di tahun 1926 oleh arsitek Yazin dan Sutan Gigi Ameh. Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh putra pertama Rook Maker (Controleur pada saat itu) yang waktu itu berumur 6 tahun. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur (Sekretaris Kota).
Coba perhatiin angka 4-nya
Tinggi Jam Gadang ini adalah 26 meter. Konstruksi aslinya hanya berbentuk bulat dengan diameter 80 cm, ditopang basement dasar berukuran 13 x 4 meter.
Angka yang tertera di Jam Gadang itu juga unik. Angka IV-nya ditulis IIII. Dan yang perlu diketahui adalah, mesin penggerak Jam Gadang itu cuma ada 2 di dunia!!!

Tau dong yang 1 lagi ada di mana??? Yup, mesin kembaran Jam Gadang sampai saat ini terpasang di Big Ben, Inggris. Mesin kedua jam itu bekerja secara manual, yang oleh pembuatanya, Forman, disebut Brixlion. Dan menurut cerita, pembangunan Jam Gadang itu dulu menghabiskan biaya sebesar 3.000 Gulden.
Seiring perjalanan sejarahnya, terdapat perubahan pada ornamen Jam Gadang. Pada masa penjajahan Belanda, ornamen jam berbentuk bulat dengan patung ayam jantan di atasnya. Kemudian pada masa penjajahan Jepang, ornamennya diubah menjadi klenteng. Dan pada masa setelah kemerdekaan, ornamennya diubah menjadi berbentuk gonjong, rumah adat Minangkabau.

Cukup kan info tentang Jam Gadang dan perkembangannya? Foto Jam Gadang-nya cukup itu aja ya… honestly, gw rasanya pengen posting foto Jam Gadang banyak-banyak, karena diliat dari sudut mana pun, gagahnya tetap terlihat.


Hmm… trip hari pertama ke Minangkabau ditutup dengan makan malam di warung tenda. Dan ini lah kali pertama (beneran lho… gw blom pernah makan sate Padang sebelumnya) gw nyobain sate Padang yang asli Bukittinggi! Ditemani dengan seporsi Es Tebak (ga sempet difoto es-nya… keburu abis duluan :D).

Mari makan……..
Abis makan sate Padang, balik ke hotel, bersih-bersih, dan…….. mari bermimpi….



Suasana pagi di Jam Gadang

Eh eh, tunggu….. gw mo cerita dikit nih tentang Kota Bukittinggi, kan kemarin ceritanya gw malem mingguan di sana. Bukittinggi merupakan salah satu kota di propinsi Sumatera Barat. Pernah menjadi ibukota Republik Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia[Mestika Zed, Eddy Utama, Hasril Chaniago; Sumatera Barat di panggung sejarah, 1945-1995; Panitia Peringatan 50 Tahun RI, 1995]. Dahulu Bukittinggi disebut Fort de Kock, bahkan pernah dijuluki Parijs van Sumatra selain Kota Medan[bataviase.co.id Inilah Parijs van Sumatera. Diakses pada 26 Juni 2010].

Kota ini merupakan tanah kelahiran beberapa tokoh besar Indonesia seperti Mohammad Hatta dan Assaat, yang masing-masing merupakan proklamator dan pejabat Presiden Republik Indonesia waktu ibukota Negara dipindahkan untuk sementara ke Bukittinggi.

Bukittinggi juga terkenal sebagai kota wisata yang berhawa sejuk. Kota ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Agam. Yang paling terkenal dari kota ini adalah landmark-nya, yaitu Jam Gadang yang terletak di tengah kota dan sekaligus menjadi simbol kota yang juga berada di tepi lembah besar bernama Ngarai Sianok.




Istana Bung Hatta


Selain Jam Gadang, di Kota Bukittinggi kemarin gw juga mengunjungi eh, aslinya cuma liat dari luar pagar doang ding karena kepagian, dan gedungnya blom buka – Istana Bung Hatta. Kenapa disebut Istana Bung Hatta ya?



Patung Sang Proklamator di depan Istana-nya

Gedung ini berada tepat di seberang Jam Gadang, terkenal dengan sebutan Gedung Negara Tri Arga. Pada masa penjajahan Jepang, gedung ini merupakan kediaman Panglima Pertahanan Jepang (Seiko Seikikan Kakka), dan pada zaman revolusi fisik tahun 1946 gedung ini menjadi Istana Wakil Presiden RI pertama Drs. Mohammad Hatta. That’s why kenapa gedung ini dinamai Istana Bung Hatta.

Klo sekarang sih, gedung ini digunakan untuk kegiatan umum seperti seminar, lokakarya dan pertemuan tinggat nasional dan regional, dan juga sebagai rumah tamu Negara yang berkunjung ke Bukittinggi. Arsitektur gedung ini berciri khas kolonial. Cakep banget deh… walau gw cm bisa liat dari luar pagarnya aja :D





Kota Bukittinggi sendiri di mata gw adalah kota yang lengang. Seneng banget berjalan kaki di Bukittinggi. Kendaraan ga se-crowded Jakarta, udaranya pun masih segar. Nyaman deh….

Jalanan yang lengang dan kompleks pertokoan
Jembatan Limpapeh di atas Jl. Ahmad Yani








Gw menikmati suasana kota di pagi hari, sambil melihat aktivitas warga. Ada yang senam pagi, berjalan-jalan bersama keluarga, berbelanja, ngobrol di taman Jam Gadang, sarapan pagi. What a beautiful city…..


Aktivitas pagi di Taman Jam Gadang



Nah… ini gw kasi bonusin sunrise yang berhasil gw capture dari Taman Jam Gadang….. really love it, and u???


Sunrise dengan siluet Gunung Singgalang



Nah… gw udah beres nih cerita Tour de Minangkabau Day-1, sekarang udah boleh bobo koq… Tapi….. cerita trip-nya blom finish lho….. masih ada Day-2, Day-3 dan Day-4. Jadi…… tungguin ya cerita gw selanjutnya……..