Air Terjun Lembah Anai


— Masih Day-1 —



Situasi perjalanan menuju Lembah Anai


Menyusuri jalan menuju Kota Padang Panjang di permulaan pagi… di kanan kiri jalan terlihat hijaunya persawahan, kebun, pemukiman penduduk, kompleks pasar, tebing batu dan sungai silih berganti. Mata gw seolah ga mo berkedip (norak banget yak)… ya kapan lagi memanjakan mata yang biasanya hanya ketemu dengan dinding-dinding beton di Jakarta, iya ga???







Situasi jalanan dari arah Kota Padang



Tiba-tiba si unyu berhenti di pinggir jalan, di depan sederetan warung-warung kecil yang menawarkan berbagai suvenir cantik khas Sumatera Barat.
“Koq berhenti di sini?” semua teman-teman pada nanya. Ternyata… kami sudah tiba di depan air terjun Lembah Anai.














Situasi jalanan ke arah Kota Padang Panjang


“Mana air terjunnya?” gw nanya ke Hendra. Eh… ga dijawab dong, cuma tangannya nunjuk ke depan… gw ikutin tuh arah jarinya… jreeeennnggg… di depan gw ada undakan tangga batu dan di ujungnya ada sebuah air terjun yang sebenarnya ga terlalu gede sih, tapi cukup asri. Mengingat lokasinya yang benar-benar berada di pinggir jalan raya.















Air Terjun Lembah Anai


Menapaki undakan tangga batu, gw pun sampe di pinggir bebatuan yang memagari kolam tampungan air terjun. Kolam tampungannya itu kolam alami lho… jadi air yang berasal dari air terjun Lembah Anai akan langsung mengalir melalui aliran sungai kecil yang ada di situ, entah sampe ke mana??? Suasana di lokasi air terjun cukup sejuk, dan cipratan airnya juga kadang cukup bikin gw panik menyelamatkan posisi lensa kamera :D (klo gw yang basah sih ga masalah, tapi kalo kamera…. OH NO!).












Setelah ambil beberapa angle, dan poto-poto narsis di pinggir air terjun, kami melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya Minangkabau Village….

Mari narsis bareeeeeennnggg….

Tour de Minangkabau



Hai semua….

Kali ini gw mo bikin laporan trip ke Minangkabau kemarin. Kenapa gw bilang trip Minangkabau, karena tujuannya ga cuma ke kota Padang, ada Bukittinggi, Payakumbuh, Batu Sangkar, Padang Panjang juga dan beberapa pulau seperti Sikuai, Pagang, Pamutusan, dan Pisang Cetek.

Laporan trip kali ini pun gw pecah-pecah, jadi klo mo baca keseluruhan detil cerita tripnya…tetep stay tune ya…
Yuk kita mulai… jeng..jeng…. (layar digulung ke atas…lampu nyorot ke tengah panggung….  :D)


Day-1
9 Maret 2013, 03.00 wib

Perjalanan trip kali ini dimulai dari Jakarta, tanggal 9 Maret 2013 jam 3 subuh… nah lho…
Kenapa dimulai jam 3 subuh? Karena jam segitu itu gw start berangkat dari kost di kawasan Sudirman, ber-2 dengan teman yang kebetulan adalah leader dari trip ini. By taxi kami pun meluncur ke arah bandara… cuuuuusssssssssss…. Jalanan Jakarta jam segitu kirain kosong, taunya tetep aja ya iring-iringan kendaraan ke arah bandara antri dengan ramenya…

Perjalanan memakan waktu kurang lebih 35 menit, dan sampailah kami di terminal 3 bandara Soetta. Ternyata teman-teman yang dari Bandung udah sampe dooonnggg…
Oh iya, trip kali ini pesertanya 13 orang termasuk Hendra, leader tripnya, dan ada 2 orang yang dari  Bandung, Irma dan Dina.
Bergabung dengan Irma dan Dina di salah satu sudut resto cepat saji, kami masih nunggu 9 orang teman lagi. Ga terasa, udah jam ½ 5 subuh aja, dan ternyata teman-teman udah datang semua (Dyni, Delly, ci Cicil, mas Didit, Rini, mbak Wiwin, mas Yusuf, Lina dan Andi).

Kami pun kemudian check in. Tadinya kan teman-teman ada yang mo check in-in bagasi, tapi sama mbak-mbak di counter-nya disuruh bawa ke kabin aja. Kirain karena kami check in-nya kesiangan, ternyata……. (jawabannya ntar pas perjalanan pulang dari Padang baru kejawab, sabar yaaaaa……)

Jalan ke arah ruang tunggu, setelah melewati pemeriksaan x-ray, koq koper ci Cicil disuruh buka sama security-nya? Hueee… what happened???

Karena udah ga keburu mo nanya-nanya, walau penasaran ada apa, sambil (sedikit) lari-lari, kami ber-13 orang buru-buru naik ke pesawat. Dan ternyata… kami adalah penumpang terakhir yang belum naek ke pesawat….. huaaaaa…. malu euy diliatin orang sepesawat :D


Dapet seat di nomr 30A, persis samping jendela,
jadi bisa intip-intip pesawat yang lagi parkir :D

Mana ternyata seat-nya paling belakang pula? Dan kami harus masuk dari pintu depan, karena pintu belakang udah ditutup…. hihihihihihihi…. (maap yah… bapak-bapak, ibu-ibu, kakak-kakak, abang-abang, adek-adek, ponakan-ponakan, om, tante :D).


Teng, jam 05.30 wib pesawat take off. Penerbangan ke Padang menempuh waktu sekitar 1 jam 25 menit (kan ga pake macet). Gw duduk di seat 30A deket jendela… lumayan, bisa cuci mata liat awan-awan cute gitu deh… :D


Matahari ngintip dari ekor pesawat


Dan bener aja…sepanjang perjalanan ke Padang, pemandangan dari atas kereeeeeeeeeeeennnnnnn… banget. 
Awan-awannya putih bertumpuk-tumpuk seperti kapas… kayaknya empuk banget deh ya klo gugulingan di situ :D hehehehehe….
Trus…. dan ini nih… gw berhasil dapet foto sang Matahari yang mengintip dari ekor pesawat, cakeeeeeeeeeepppppp….. banget.





Dari dalam pesawat (ya iya lah… masak iya gw nongkrong di sayapnya sih?) mata gw ga berenti tuh intip-intip ke jendela… abisnya, pemandangan di bawah sana keren bangeeettt… apalagi setelah pesawat berada di atas pulau Sumatera… bukit-bukit yang berbaris rapi, pepohonan hijau, pinggiran laut, danau… whuaaaaa…. Damn! Gw makin cinta sama Indonesia! Muach…muach..muach…
Dan akhirnyaaaaaaa….. “Diberitahukan kepada para Penumpang Mandala Air dengan nomor penerbangan RI 080, sebentar lagi kita akan mendarat di bandar udara internasional Minangkabau….Yes! Finally I’m here
Di luar cuaca sedikit berkabut, padahal udah jam 7 kurang 5 menit, tapi suasananya masih seperti jam 6 gitu deh.

Turun dari pesawat…. wuidiiiihhh… ternyata Kota Padang itu hangat ya… :D
Gerah cuy… blom apa-apa udah keringetan…
Keluar dari ruang kedatangan…. kruk…kruk…kruk… OMG… perut udah maen orkes aja nih… langsung deh ngegamit Hendra, sang leader “Hen, sarapan apa, di mana kita? Lapeeeeeeeeerrrrrr…..” :D
ini nih yang setia nganterin rombongan selama 4 hari
berturut-turut…thanks ya unyuuu…muach :*

Untung aja si unyu, elf jemputan yang akan setia mengantarkan kami udah dengan manisnya nunggu di parkiran. Langsung deh requestsama uda driver “Da, sarapan yang enak deket bandara di mana? Lontong sayur atau soto Padang”. 

Dan…. cuuussss…. si unyu pun bergerak meninggalkan parkiran bandara Minangkabau menyusuri aspal hitam ke arah gerbang keluar. Menyusuri jalan Raya Bandara, sambil liat kanan-kiri nyari tempat sarapan, dan si unyu pun berbelok menyeberangi jalan dan parkir di depan sebuah kedai lontong sayur dan soto Padang. Great, ayo kita makan…..


Lontong sayur Padang yang asli Kota Padang

Gw pesen seporsi lontong sayur Padang, ditemani segelas es teh manis. Dan ga pake lama, sepiring lontong sayur Padang lengkap dengan telor rebus dan suwiran ayam terhidang di depan gw…. hmmm… slurrrppp…
Mari makaaaaaaaaannnnn…

Sebenarnya di kedai itu ada juga jual minuman khas Padang, yaitu teh telor. Minuman ini sekilas seperti teh tarik kalo di Jakarta… cara bikinnya, kuning telor ayam kampung dicampur gula pasir dan diaduk menggunakan batangan lidi sampe tercampur benar-benar, trus ditambahin air teh. 

Keliatannya sih enak… tapi gw blom berani nyobain, liat segelas teh telor, ingetnya koq ke jamu batuk pake telor ya? :D
Ditawarin Hendra juga untuk nyobain, tapi ga ah… blom brani… hehehehe… masak jauh-jaun ke Padang gw minumnya jamu… hihihihihi… :D

Abis sarapan, kenyang, trus perjalanan dimulai deh….

Bersama si ungu, kami memulai petualangan ke tujuan pertama… Air Terjun Lembah Anai


Trowulan – Antara Candi Tikus, Gapura Bajang Ratu dan Sleeping Buddha

Kali ini ceritanya merupakan hasil marathon trip kemarin, tapi terpisah ya… untuk tiap-tiap lokasi, last trip before Ramadhan, after Idul Fitri, baru mulai trip lagi :)

 

 
Okay, lokasi pertama di Trowulan.
Trowulan merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur dan berbatasan dengan Kabupaten Jombang (ayo…dibuka-buka lagi petanya). Di Trowulan ada beberapa situs peninggalan kerajaan Majapahit yang dapat dikunjungi. Masih ingat dengan pelajaran sejarah tentang Kerajaan Majapahit? Dengan mahapatihnya yang terkenal Gajahmada dan rajanya Hayam Wuruk.
Situs sejarah yang kemarin sempat dikunjungi di Trowulan adalah Candi Tikus, Candi Bajang Ratu dan Sleeping Budha.
Let’s talk one by one
Jumat, 13 Juli 2012
Candi Tikus
Perjalanan kali ini masih dengan rombongan Garookers dari komunitas Kaki Gatel. Setelah menempuh perjalanan Jkt-Sby by train, dilanjutkan perjalanan darat Sby-Mojokerto, siang itu Garookers tiba di Candi Tikus.

Candi Tikus terletak di Dukuh Tinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Candi Tikus ini ditemukan tahun 1914 atas laporan Bupati Mojokerto, R. A. A. Kromojoyo Adinegoro. Konon kabarnya, pada saat ditemukan candi ini merupakan sarang tikus. Bener atau ga, ya ga ngerti deh….hehehehehe….
Bangunan Candi Tikus mirip sebuah petirtaan atau pemandian, yaitu kolam dengan beberapa bangunan di dalamnya. Kawasan Candi Tikus sangat bersih, rapi dan teratur. Walaupun matahari lagi diskon banget panasnya, tapi ga ngurangin rasa ingin tau dan tentu saja ke-narsis-an Garookers untuk mengabadikan semua view yang ada. Setiap sudut kawasan Candi Tikus tampak terpelihara dengan baik. Taman yang terletak di sekeliling candi terlihat rapi dan sangat teratur…semoga ga ada tangan-tangan nakal yang berimprovisasi berlebihan di kawasan ini agar tetap cantik seperti ini.
  

Siang itu Candi Tikus heboohhhh dengan kedatangan rombongan Garookers, ga ada spot yang kosong, adaa…. aja yang lagi pose. Susah banget mo moto obyek tanpa ada Garookers yang tiba-tiba nongol..hehehehe…
  

You see???
Kenarsisan di mana-mana :D
Kebayang ga sih… 33 Garookers plus 1 TL plus 1 guide, dan masing-masing bisa dipastikan pegang gadget, ya DSLR, digicam, BB, iPhone, smartphone. How the crowded was
Perjalanan siang itu dilanjutkan ke Candi Bajang Ratu yang berjarak hanya 600m dari Candi Tikus.
Candi Bajang Ratu
Candi Bajang Ratu terletak di Dukuh Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Seperti juga Candi Tikus, kawasan Candi Bajang Ratu juga sangat bersih dan rapi, pokoknya betah deh di sini…kalau saja sinar mataharinya ga manteng begitu, rasanya pengen deh berlama-lama di sana.
 
Di deket pos jagaan Candi Bajang Ratu, ada papan pengumuman yang berisikan sejarah pemugaran Bajang Ratu. Berdasarkan kisah yang beredar di masyarakat lokal, Candi Bajang Ratu didirikan untuk menghormati Jayanegara. Hal ini berdasarkan perkiraan adanya relief Sri Tanjung di bagian kaki gapura yang menggambarkan cerita peruwatan.

  

Di kawasan candi tampak beberapa kanak-kanak yang asyik bermain di antara pepohonan yang terdapat di tepi kawasan. Senyum cerah dan gelak canda mereka harusnya bisa menjadi alert-alarm bagi kita bagaimana kita menjaga dan melestarikan situs-situs sejarah yang banyak tersebar di seantero Nusantara ini. Inget, jangan buang sampah sembarangan yaaaaa….jangan coret-coret juga….
 
Puas menjelajahi Candi Bajang Ratu, Garookers melanjutkan perjalanan menuju Maha Vihara Mojopahit. Di vihara ini kita bisa melihat The Sleeping Buddha. Ga perlu jauh-jauh ke Thailand lho untuk ngeliat The Great Sleeping Buddha :)
The Sleeping Buddha
Patung Sang Buddha tidur (The Sleeping Buddha) berada di dalam kawasan Maha Vihara Mojopahit yang terletak di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Vihara ini merupakan The Buddist Center yang berada di kawasan petilasan Kerajaan Majapahit.

Siang menjelang sore itu, suasana di kawasan Maha Vihara Mojopahit mendadak rame oleh rombongan Garookers. Begitu memasuki kawasan, seperti biasa…seluruh spot langsung dipenuhi oleh Garookers yang sedang narsis :D
Susah mo jepret view yang clear dari Garookers…I can’t see clearly…hehehehehehehe…
Misuh-misuh (ngerti ga ya istilah misuh-misuh?) nyari spot yang kosong…tetep aja ada 1-2 Garookers yang tiba-tiba nongol. Ya sutra lah yaaaa….nikmatin aja…ikhlas aja klo di frame kameranya ada keliatan Garookers yang mejeng :p
Begitu sampe di lokasi The Sleeping Buddha, Garookers pun berhamburan. Ada yang langsung foto narsis, ada juga yang asyik melihat detil relief yang terpahat rapi di sekeliling peraduan Sang Buddha. Dan lagi-lagi…. no empty spot! hiks :((

 
 

Selesai mengunjungi Sang Buddha yang tertidur lelap, Garookers pun siap melanjutkan perjalanan menuju Kelud. Tapi cerita Kelud-nya nanti ya…di edisi selanjutnya…
Bye bye The Sleeping Buddha, sleep tight in peace….
Come on guys, ready for the next destination…. capcuuuussssss…..

Belitong, Surga yang Tersembunyi


Ini oleh-oleh trip singkat ke Belitong di bulan April 2012 kemarin. Niatnya sih mo langsung ditulis, namun apa daya, penyakit malas emang betah banget klo udah menyerang :D

Hasil kasak-kusuk dengan seorang sahabat, Rika, akhirnya kami sepakat untuk melakukan trip ke Pulau Belitong. Oh ya, Rika ini adalah sahabat sekamar gw waktu menjelajahi Dieng di Bulan Februari 2012. Dari sekedar teman sekamar saat di Dieng, akhirnya kami saling meracuni untuk melakukan trip ke beberapa daerah, salah satunya ya Belitong ini :D

Hasil berselancar di dunia maya pun akhirnya mendapatkan beberapa nama daerah yang wajib dikunjungi selama di Belitong. Karena kami berdua memiliki teman yang biasa meng-arrange event-event trip, akhirnya kami menghubunginya, dan minta tolong di-arrange agar dapat ke Belitong (lumayan, menghemat waktu perburuan tiket pesawat :D). Thanks to Arta yang telah bersedia bersibuk-sibuk ria bantuin booking tiket pesawat, hotel dan tour guide selama di Belitong ^.*

Akhirnya, keluar lah tanggal untuk kami meng-explore Belitong yang banyak dibilang orang surga yang tersembunyi. Tanggal 20 April 2012, kami, gw, Rika dan 5 orang temen seperjalanan lainnya akan memulai petualangan menjelajahi Belitong! Ber-7 (cewek semua lho…) selama 3 hari 2 malam akan melakukan perjalanan secara bersama-sama. Dari informasi yang diberikan Arta, ternyata hanya gw sendiri yang (terpaksa) pisah pesawat…hiks, kayak anak tiri deh…hiks… Teman-teman, ber-6 berhasil mendapatkan tiket maskapai Sriwijaya, sedangkan gw (cewek imut ini :D) harus terbang sendirian dengan maskapai Batavia.

Jumat pagi, 20 April 2012

Karena pisah pesawat, otomatis pisah terminal juga dong waktu mo boarding. Ya iyalah…wong jam berangkatnya juga beda koq :D penerbangan gw lebih lambat 1 jam dari jam penerbangan mereka. Jadi lah gw (berusaha) mengasyikkan diri sendiri dengan mulai menikmati perjalanan ke sebuah daerah yang masih merupakan bagian dari bumi Indonesia yang indah ini. Memulai perjalanan dari kostan dengan ojek sampe ke Stasiun Gambir, diteruskan dengan bis damri sampe ke Bandara Soekarno Hatta, akhirnya gw menjejakkan kaki di Terminal 1C.

On the way to the airport, gw ga berhenti ber-whatsapp ria sm Rika, biasa lah…ngerumpi khas cewek :D
Tadinya kami janjian mo ketemuan dulu sebelum berangkat, maklum aja…karena berangkat lumayan pagi, masing-masing wanita ini belum ada yang sarapan :D

Jadi, alasan sebenarnya kami sama-sama lapaaaaaarrrrrr…hehehehehehe…

Sayang sekali, teryata keberuntungan belum berpihak sama gw sama Rika. Sesampainya di Terminal 1B, ternyata Rika ternyata udah ditunggu oleh teman-teman yang laen dan langsung diajak boarding :D (so sorry Ka, tadinya gw niat mo nganterin roti buat lo, bukan rejeki sih ya…(terpaksa) itu roti akhirnya menjadi penghuni perut gw sendiri ^.^).

Akhirnya, daripada luntang-lantung kayak anak ilang, gw mutusin untuk boarding juga di Terminal 1C. Mendingan nunggu di waiting room kan ketimbang di beranda terminal…lumayan, kalo nunggu di waiting room kan adem karena ada AC…heheheehehe…

Wow, ternyata waiting room-nya rameeee…

Celingak-celinguk, nyari kursi kosong, akhirnya gw mendapatkan 1 kursi kosong di pojokan. Hmm…posisi strategis ini :D
Menurunkan carrier dari pundak, melepas tas berisi kamera, akhirnya gw pun duduk manis di kursi. Memandang manusia-manusia ibukota (eh…ga tau juga ding mereka yang ada di waiting room ini apakah orang Jakarta semua apa bukan), memperhatikan tingkah polah, mendengar celotehan, gerutuan, gw hanya senyum-senyum sendiri akhirnya. Tangan mulai meraba-raba carrier, mencari bacaan yang telah dipersiapkan. Become My Sunshine menemani perjalanan gw kali ini :)

Tak terasa, waktu boarding tiba. Yes!
Tanjung Pandan, here I come :)

Perjalanan ke Tanjung Pandan memakan waktu kurang lebih 1 jam. Alhamdulillah cuaca cerah. Mendekati kota Tanjung Pandan, terlihat “kolam-kolam” bekas penambangan timah dan kaolin. Dari udara, bekas penambangan tersebut hanya terlihat seperti kubangan-kubangan kecil, padahal…menurut cerita mereka yang sudah melihat secara langsung, kolam bekas penambangan itu ukurannya cukup besar dan tentu saja banyak jumlahnya.


Bandara H. A. S. Hanandjoeddin

Belitong, here I come!

Dan akhirnya…roda pesawat pun menjejak bumi Belitong di bandara H. A. S. Hanandjoeddin. Begitu melangkah keluar dari pesawat, setelah meninggalkan senyuman manis untuk mbak-mbak pramugari yang mengucapkan selamat jalan, udara segar segera berebut memasuki paru-paru gw. Bergegas gw menuju ruang departure, karena Rika udah nunggu bareng teman-teman yang lain.

Mata gw nyari-nyari Rika di kerumunan manusia yang mulai menyusun barisan menunggu bagasi. Gw yang cuma berbekal carrier, tas kamera dan perlengkapan snorkeling memang sengaja ga masukin tu bawaan ke bagasi, melainkan gw bawa ke kabin, tidak menggabungkan diri dalam barisan baggage-wanted itu. Nah…itu dia! Cewek berambut panjang dengan overall orange bunga-bunga, Rika sudah duduk manis ditemani 5 orang teman yang lain.

“Haiiiii…” gw segera menghampiri Rika, cipika cipiki, dan mulai menatap teman-teman perjalanan yang lain.
“Eh iya vy, ini kenalkan, teman-teman seperjalanan kita”, Rika mulai memperkenalkan.
Mbak Sumi, mbak Ida, mbak Karti, mbak Laras, dan mbak Dewi. Ok girls, let’s start our adventure!
Di luar bandara, kami udah ditunggu oleh driver dari tim pak Hendra yang akan menjadi guide kami selama di Belitong.



Tujuan pertama kami adalah daerah Tanjung Pendam, menyusuri hamparan pantai yang masih sepi, sambil menikmati nasi bungkus sebagai menu makan siang. Hmm…benar-benar liburan yang menyenangkan…….
Tanjung Pendam ini adalah kawasan pantai yang terletak di pusat kota Tanjung Pandan. Di pantai ini, apabila air laut surut, hamparan pasirnya bisa dijadiin lapangan untuk maen bola lho…. :D

Pantai Tanjung Pendam

Di sepanjang pantai banyak ditemui gazeebo untuk bersantai bersama keluarga. Di hamparan pasirnya, klo diperatiin benar-benar, banyak binatang-binatang khas tepian pantai yang bisa ditemui, contohnya kepiting-kepiting kecil yang unyu-unyu itu lhoooo….


Selesai santap siang, kami meneruskan perjalanan ke hotel untuk beristirahat sejenak dan menyimpan barang bawaan sebelum meneruskan perjalanan menyusuri pantai-pantai yang tersebar di Belitong ini. Mobil mengarah ke pusat kota menuju Hotel eSBe, yang akan menjadi rumah kami untuk 3 hari ini. Sampai di hotel, gw kebagian sekamar lagi sama Rika. Ceki-ceki kamar dulu, liat toiletnya (entah kenapa, tiap masuk kamar hotel, ritual gw pasti langsung liat toiletnya duluan :D), oke juga nih hotel, toiletnya bersih, kamarnya juga nyaman. Kamar gw dan Rika terletak di lantai 2 dan di pojokan, view-nya asyik. Sedangkan kamar teman-teman yang laen, juga di lantai 2, tapi kami pisah bangunan hotel. Kamar mereka terletak di bangunan hotel yang letaknya di depan bangunan hotel yang gw dan Rika tempatin, tapi ga persis depan-depanan gitu.
Pantai Tanjung Binga


Setelah membersihkan diri, nyimpen barang-barang, kami bergegas turun dan kembali menyusuri jalan-jalan di Belitong. Tujuan pertama Tanjung Binga, lanjut ke Tanjung Berau dan terakhir ke Tanjung Tinggi. Oh iya, jalan-jalan di sepanjang pantai di Belitong serasa private holiday lho…pantainya masih sepi…enak banget suasananya…apalagi untuk yang masih pacaran (lho?) atau yang lagi honeymoon… dijamin betaaaaaaaaahhhhhhhhhh….

Pantai Tanjung Berau

Udara pantai yang segar berlomba-lomba memenuhi paru-paru gw, manusia ibukota yang sehari-harinya hanya kebagian ngisep asap knalpot doang. Sejauh mata memandang, yang ada hamparan pantai dengan butiran pasir putihnya yang halus, air laut yang jernih, bersanding dengan batu-batuan pantai yang ukurannya segede-gede gajah :D

Monumen di Pantai Tanjung Tinggi
sebagai bukti klo di pantai ini dulu
dipake untuk Syuting Film Laskar Pelangi
Asli ya itu batu-batu pantainya…gede-gede banget…jadi enak klo mo nongkrong nungguin sunset di situ…hehehehe…
Temen-temen yang laen sibuk foto-foto sana-sini…gw justru sibuk manjat batu sana-sini nyari posisi yang paling strategis. Abis itu duduk diem sambil menikmati pemandangan yang luar biasa indah ini. Subhanallah… bener-bener ini pemandangannya bikin tenang…kecipak air laut di sela-sela bebatuan, diselingi tarian ikan-ikan kecil yang ikut bermain…wow…amazing

Sunset di Pantai Tanjung Tinggi

Oh iya, Pantai Tanjung Tinggi dulu yang dipake untuk syuting film Laskar Pelangi yang ngetop itu lho. Jajaran batu-batunya yang setinggi-tinggi rumah, dengan berbagai bentuk dan formasi, benar-benar memanjakan mata dan jiwa menikmati senja yang indah di sana.






Gw yang sore itu memang niatnya ingin dapetin sunset, langsung ngacir nyari lokasi yang strategis. Bareng Rika, gw manjat-manjat ke atas batu-batu gede itu nyari posisi yang langsung menghadap ke arah matahari terbenam.

Yes! kami dapet tempat strategis, di atas batu gede, straight to the west, dan persis di pinggir laut.
Menikmati senja, menunggu detik-detik matahari turun dari singgasananya, melihat kibaran cahaya emasnya menyapu permukaan laut… what a beautiful moment i have ever seen in my life…..
Berbekal kamera tua, gw coba mengabadikan moment-moment turunnya matahari ke peraduannya (jangan bandingin hasilnya dengan hasil jepretan DSLR yaaaaa… :D).

Ketika matahari telah sempurna terbenam, gw dan Rika baru turun dari atas batu tempat kami nongkrong dan bergegas ke arah parkir kendaraan. Pasti teman-teman yang laen udah nungguin 2 anak yang menghilang ini :D
Ternyata teman-teman yang laen juga udah selesai acara potret-potretnya. Kami segera naik kendaraan dan meluncur ke arah hotel.

Malam ini, teman-teman ngajak keliling kota sekalian beli oleh-oleh khas Belitong. Tapi gw yang kebetulan punya temen yang menetap di Belitong udah janjian mo ketemu, jadi gw bilang sama teman-teman yang laen klo gw ga ikutan mereka keliling kota. Ternyata Rika juga memilih stay at hotel sambil istirahat. Sekitar jam 7 malem, Ayu – temen gw yang tinggal di Tanjung Pandan ini dateng ke hotel bareng suaminya. Temenan udah beberapa bulan, baru ini lho gw ketemu sama Ayu. Maklum…selama ini temenan cuma di dunia maya, sebatas chatting, telepon, sms, dan wall-wall-an :D

Finally ya Yu…kita ketemu juga…

Cerita-cerita sambil menikmati oleh-oleh martabak manis dari Ayu (hehehehehe…selain dapet kunjungan, gw juga dapet japrem sebungkus martabak manis Belitong dari Ayu).
Dari hasil ngobrol, akhirnya niat gw mo berburu sunrise di Belitong terwujud. Ayu dan suami bersedia nemenin ke daerah Kaolin untuk liat sunrise keesokan pagi, dipinjemin motor pula lho… how kind you are, Yu :)
Ok, besok pagi jam 6 Ayu dan suami akan jemput gw dan Rika di hotel, dan langsung dianterin ke daerah Kaolin. Sip!

Setelah Ayu pulang, gw dan Rika pun beristirahat (nyiapin badan untuk bangun pagi dan hunting sunrise di Kaolin).

Sabtu pagi, 21 April 2012

Setelah sholat subuh, gw dan Rika siap-siap hunting sunrise. Ayu udah jemput :)
Enak ya punya temen yang tinggal di Belitong, selain dijemput dan dianter ke Kaolin, Ayu juga minjemin motor lho… thank you so much Yu… support-nya luar biasa :D
Naek motor pagi-pagi, gw boncengan sama Rika, menyusuri jalan-jalan di kota Belitong yang masih sepi dan lengang, menghirup udara pagi yang masih bersih… whuaaaaa… senengnyaaaaaaaaa…

Sampe di daerah Kaolin, wah… baru ini liat dengan mata kepala sendiri… lobang bekas galian kaolin itu ternyata gede yaaaaa….


Semburat Sunrise di Kaolin


Karena dibiarkan terbengkalai, ga ada reklamasi lahan kayaknya, bekas-bekas lobang galian itu berubah menjadi semacam danau buatan dengan ukuran yang bervariasi.

Tanah tempat bekas galian kaolin itu sendiri merupakan gabungan tanah liat dan pasir putih. Bekas galian itu karena lama dibiarkan tanpa ada proses peremajaan, akhirnya menjadi danau-danau dengan warna airnya yang beraneka ragam. Siapa bilang Telaga Warna itu hanya ada di Dieng dan kawasan Ciwidey? Di Belitong juga ada lho… dan ga kalah bagusnya dengan yang ada di dataran tanah Jawa.




Yang Tersembunyi dan Tak Terjamah



Puas menikmati sunrise di Kaolin, melihat jari-jari mentari menguak tabir pagi, menjamah wajah perbukitan Kaolin, meninggalkan semburatnya di permukaan air danau, akhirnya gw, Rika, Ayu dan suami Ayu meninggalkan kawasan Kaolin. Klo ditanya kesan gw? Gw pengen ke sana lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii… suasananya bikin betah… tenang, ga semrawut kayak Jakarta :D

Dari kawasan Kaolin, kami diajak Ayu muter-muter ke daerah kawasan perkantoran di Belitong. Dan… kami nemuin rumah adat Belitong yang terletak berdampingan dengan rumah walikotanya. Karena berakar dari rumpun Melayu, rumah adat Belitong juga memiliki arsitektur yang sama dengan rumah adat Melayu pada umumnya. Rumah panggung, terbuat dari kayu dengan jendela-jendela besar, langit-langit yang tinggi dan detil ujung-ujung atap yang khas bercorak Melayu.


Rumah Adat Belitung
Karena waktu udah menunjukkan pukul 7 pagi, artinya schedule trip di hari ke-2 akan segera dimulai, gw dan Rika memutuskan untuk kembali ke hotel. Ayu dan suami nganter sampe hotel, dan kemudian pulang.

Teman-teman yang lain heran, liat gw dan Rika balik ke hotel naik motor.
“Dari mana?” tanya mereka.

“Dari hunting sunrise mbak” jawab kami sambil bergegas naik ke kamar, beres-beres perlengkapan untuk snorkeling dan turun lagi untuk sarapan.
Schedule trip hari ini, kami akan menjelajahi pulau-pulau kecil yang banyak tersebar di sekitar Pulau Belitong. Dan tentu saja ada agenda snorkeling untuk menikmati alam bawah laut Belitong.

Tujuan pertama kami ke kawasan pantai Tanjung Kelayang. Di sini gw baru nemuin kalimat “WELCOME TO BELITUNG“. Yihaaa… gw sampe di Belitong, guys! Okay, let’s rock our holiday!!!

Yeayyy…I’m in Belitong

Perahu kayu kecil sudah standby menunggu kami untuk segera berlayar menyusuri permukaan laut yang sejernih kaca. Dan keributan kecil pun dimulai…

Untuk mencapai perahu, kami harus sedikit berbasah-basah agar dapat menaiki tangganya. Mbak Sumi, yang blom prepare dengan celana pendek bingung gimana caranya supaya bisa sampe ke perahu tanpa basah :D

ayo girls, kita kemon :D
Hihihihihihihi…namanya juga wisata aer mbak…koq takut basah??? (gw ampir ngakak guling-guling itu aslinya).
Akhirnya disiasati tuh, mbak Sumi ngegulung celananya sampe di atas lutut. Lagian, disuruh ganti celana pendek aja si mbaknya ga mau.

Oke, perjuangan mbak Sumi naek ke perahu berhasil. Let’s go!!!

nemu bintang laut unyuuuuu… :D
Perahu kecil pun mulai berlayar ke arah Pulau Pasir yang menjadi tujuan pertama kami. Oh iya, Pulau Pasir ini aslinya hanya gundukan pasir yang klo air laut surut, akan keliatan seperti pulau. Tapi klo air laut sedang pasang, Pulau Pasir ini akan tenggelam. Di Pulau Pasir, gw nemuin bintang laut yang gede, warnanya orange dengan totol-totol item di ke-5 kaki-kakinya. Banyak banget lho bintang lautnya…
Eh iya, di Pulau Pasir gw  juga nemuin bintang laut kecil dengan 5 kaki yang dipenuhi tentakel-tentakel halus yang bikin geli klo diletakin di telapak tangan… hehehehehe… rasanya kayak ada yang gelitikin telapak tangan :D

Pulau Lengkuas dan
Mercusuarnya yang Kokoh

Dari Pulau Pasir, pelayaran kami lanjutkan ke arah Pulau Lengkuas. Di perjalanan, kami melewati Pulau Burung, pulau ini dipenuhi batu-batu gede yang klo diliat dari jauh bentuknya seperti kepala burung gitu.

Sebelum sampai di Pulau Lengkuas, guide tour kami nawarin, mo snorkeling dulu atau snorkeling-nya nanti setelah dari Pulau Lengkuas. Gw dan Rika milih snorkeling dulu aja, biar ga terlalu panas. Temen-temen yang lain ternyata ga pada mau snorkeling-an??? lho…katanya pada ga bisa berenang.
Eh mbak-mbak, gw kasi tau ya… gw juga ga bisa berenang koq… ini sih gw nekad aja, toh ada life vest. Lagian kan sayang banget udah sampe di sini ga ngerasain pemandangan bawah airnya.

Finally, yang bener-bener nyemplung+nyebur dan keliling-keliling ngerasain indahnya alam bawah air Belitong cuma gw dan Rika. Pemandangannya… wooooow… speechless gw. Even ini bukan snorkeling gw yang pertama, tapi experience-nya… ini yang terindah yang pernah gw liat!




Snorkeling ke-3,
kesannya??? it’s so addicted :D

Karang-karangnya beraneka warna, mulai dari yang kecil sampe yang besar. bentuknya juga macem-macem. Dan yang bikin tambah surprise itu, rombongan ikan warna warni berkeliaran tepat di depan mata! Kuning gonjreng, biru neon, orange, coklat, abu-abu, marun…ikan dengan segala macam warna berkeliaran dengan cantiknya di sela-sela batu karang.





Nyesel ga bawa underwater camera gw (eh…emang udah punya ya?). Harus beli underwater camera ini, biar klo next time dapet kesempatan jalan-jalan untuk wisata air lagi bisa mengabadikan moment seperti yang gw ceritain di atas tadi.

1 jam terlewati, klo mo diturutin sih gw pengen terus menikmati pemandangan bawah airnya. Cuma kan perjalanan hari ini mesti diteruskan. Masih ada beberapa pulau tujuan yang harus kami datangi.
Dengan sedikit enggan, gw pun naik ke perahu. Perahu kembali berlayar, sekarang kemudi terarah ke Pulau Lengkuas.

Mercusuar di P. Lengkuas

Di Pulau Lengkuas, kami melihat mercusuar yang sudah ada sejak jaman Belanda, yang sampe sekarang masih berdiri kokoh dan masih berfungsi untuk membantu dunia perlayaran negeri tercinta ini. Mercusuar ini terdiri dari 19 lantai dengan konstruksi besi, yang semakin ke atas, bentuknya semakin kecil.

Berdua Rika (abisnya mbak-mbak yang laen ga ada yang mau ikutan naek, capek katanya), gw mulai menyusuri satu persatu anak tangga yang ada di dalam bangunan mercusuar.

Di tiap lantai, mercusuar dilengkapi dengan beberapa jendela kecil yang mengarah ke arah yang berbeda-beda… ini untuk membantu supaya frame yang bisa ditangkap mata dalam mengawasi lalu lintas kapal-kapal di lautan semakin luas.



Menaiki tangga demi tangga, mengintip di setiap sisi jendela, gw mendapatkan berbagai frame landscape lautan yang beraneka dan berbeda-beda indahnya.
Di lantai 9 Rika memutuskan berhenti karena kameranya mati (hihihihhihihihi…abis batere ya Ka?)
Pemandangan dari Puncak Mercusuar


Gw masih lanjut terus ke atas. Mencoba mengabadikan setiap frame yang berhasil gw intip dari celah-celah jendela. Makin ke atas, pemandangan yang bisa ditangkap mata semakin luas. Dan akhirnya….. gw sampe ke puncak mercusuar! Whuaaaaaaaaaa…. pemandangan dari sisi balkon mercusuar bikin mata gw melotot. Indahnyaaaaaaaaaa……….

Gradasi air laut… hamparan pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Lengkuas… bebatuan… deretan kapal-kapal yang bersandar… deretan pohon nyiur yang menari dan bernyanyi bersama…
I can’t say anymore…it’s more than just a beautiful landscape…this is a masterpiece!

Puas menikmati indahnya laut dari puncak mercusuar, gw akhirnya turun (gantian dengan pengunjung lain juga kali… masak iya gw monopoli tu puncak mercusuar sendiri :D).

Rika masih nungguin di lantai 9. So, kami turun bareng.

Eh iya, di sini juga kami menikmati makan siang. Duduk rame-rame di bangku kayu, di bawah deretan pohon kelapa, bertelanjang kaki menikmati belaian pasir pantai yang halus, disapa hembusan angin pantai yang sejuk… wohooooo….



Kolam Bidadari di P. Lengkuas



Di Pulau Lengkuas, ada 1 sisi pantai yang disebut Kolam Bidadari. Terus terang gw ga ngerti kenapa dinamai Kolam Bidadari? Dan ga sempet juga nanya sama penduduk lokal, kenapa seperti itu. Mungkin dulu ada hikayat bahwa di situ tempatnya bidadari mandi kali ya….

Karena hari terus beranjak siang menjelang sore, kami pun kembali ke perahu. Di kejauhan mulai terlihat awan hitam pertanda hujan akan segera datang. Hayuk ah buruan…. ntar keburu ujan gedeeeee….

Bener aja, belum juga jauh dari Pulau Lengkuas, titik-titik air hujan mulai menyentuh permukaan air laut dan wajah kami. Air laut pun mulai bergerak dengan sedikit gelombangnya yang lumayan membuat kami terayun-ayun di perahu. Wajah-wajah yang tadinya cengengesan mulai meredup, berganti dengan warna sedikit pias (hehehehehe… maklum deh, kan pada ga bisa berenang ini judulnya).
Wah… klo ujan gede beneran dan kami masih di perahu, bisa-bisa pada mabok laut ini kena gelombangnya.

Pak, ayo dong kapalnya ngebut biar ga keburu ujan gede……

Karena titik-titik air hujan semakin gede, akhirnya perahu diarahkan ke Pulau Babi (klo ga salah sih itu namanya). Pulau ini (katanya) ga berpenghuni, hampir seluruh permukaan pulau dihiasi dengan deretan pohon kelapa. Ternyata banyak juga yang berteduh di pulau ini menunggu hujan reda.

Bener aja, begitu kami sampai di pulau, hujan deras pun turun, breeeeeesssssss……

Titik-titik air hujan berlomba turun membasahi deretan pepohonan, rumput, dan tentu saja…kami yang berlarian mencari tempat berteduh :D
Untungnya hujan turun ga terlalu lama…klo kelamaan, bisa-bisa kami nginep di sini deh…hehehehehe…
Ketika titik-titik air hujan mulai berhenti membasahi permukaan bumi, dan sang mentari mulai menampakkan lagi cengkeraman sinarnya, kami mulai bergerak kembali ke perahu.

Pantai di P. Babi

Dari si bapak perahu, kami dapet bocoran klo masih ingin berbasah-basah dan main air, mending di sekitar Pulau Babi ini. Mendengar itu, ga nunggu dikasi tau untuk yang kedua kalinya, gw dan Rika langsung nyebur lageeeeeeee……

Klo diturutin, ga ada rasa puas-puasnya lho maen air di sini…abisnya, airnya jernih banget! Ditambah pasir pantai yang halus, manjain jari-jari kaki banget….

Klo aja ga inget bahwa perjalanan masih jauh, ingin rasanya berlama-lama di situ…klo gw sih niatnya sekalian belajar berenang sm Rika…hehehehehe…
Rocky Beach
So, karena ingat masih ada schedule laen yang harus tuntas di hari ini, akhirnya dengan sedikit rasa enggan, gw pun naek ke perahu. Di perjalanan pulang kami melewati Rocky Beach. Ini hanya sekumpulan batu-batu granit gede yang berdiri gagah menyusun sebuah formasi abstrak. Nah… kali ini kami udah diwanti-wanti oleh tour guide supaya ga main air. Karena apa? Ternyata di sekitar situ banyak binatang Bulu Babi-nya. Tau kan dengan Bulu Babi? Binatang laut yang bentuknya bulat seperti bola, yang sekujur tubuhnya ditumbuhi duri-duri halus berwarna item. Yang klo menancap ke tubuh kita bisa menyebabkan sakit berkepanjangan karena potongan durinya itu akan terus terbawa di dalam aliran darah kita…. hiiiiiiiiiyyyyy……

Kami ga berlama-lama di Rocky Beach, walaupun masih menyempatkan untuk sejenak foto-foto dan merasakan (sedikit) sentuhan airnya… hehehehehehe… nakal ya… udah dibilangin ga boleh main air di situ, masih juga bandel :D

Finally, kami sampe deh ke Tanjung Kelayang. Turun dari perahu, kami masih punya sedikit waktu sebelum melanjutkan acara berburu mie Belitong sore ini, kami memutuskan untuk bersantai sejenak menikmati sapaan sore di Tanjung Kelayang ditemani kelapa muda yangg rasanya segeeeeerrrrr…. banget :)

Setelah menghabiskan air kelapa muda (masing-masing dari kami ngabisin 1 buah kelapa muda lho…. hihihihihihihi…), kami pun melanjutkan perjalanan. Let’s go hunting for mie Belitong!
Berdasarkan rekomendasi dari temen yang udah ke Belitong, mie Belitong yang enak itu adalah mie Belitong Atep yangg ada di pusat kota. Dan… meluncurlah kami ke sana…
ini tampilan mie Belitong yang heboh itu
Sampai di mie Atep, ouw… rame juga yang ngantri… kami nyari meja yang bisa nampung gerombolan rusuh ini. Dapet lah 1 meja panjang, jadi kami bisa bareng-bareng deh makan mie Belitong-nya. Oh iya, pasangan makan mie Belitong ini adalah es Jeruk Konci. Tadinya gw mikir, yang dibilang es Jeruk Konci itu apa?

Ternyata…. es Jeruk Konci itu adalah es dari buah jeruk kecil-kecil yang di sana namanya Jeruk Konci :D
Seruput pertama… hmm… seruput ke-2, segeeeeerrrrrrrr… hehehehehehehe…

Mie Belitong sendiri isinya sejumput mie kuning, beberapa potong kecil tahu yang sudah digoreng, kentang, udang dan disiram kuah kari udang yang sedikit kental, dan ditaburi beberapa keping emping melinjo. Rasanya… hmm… yummy…. enak banget…
Cocok bener makan mie Belitong sore-sore, setelah badan capek maen air seharian, laper, dingin, ditemani segelas es Jeruk Konci… Perfecto!

Selesai menyantap mie Belitong, ga perlu nunggu lama untuk menghabiskan 1 porsi mie Belitong karena porsinya (cukup) kecil :D kami pun kembali ke hotel.

Yang ada di pikiran gw saat itu adalah… MANDI! :D hehehehehehehe…

Setelah seharian hanya air laut yang menempel di sekujur tubuh ini, meninggalkan rasa lengket yang pekat, sekarang saatnya bersih-bersih dengan air tawar.

Abis mandi, udah harum :D dan yang jelas udah ga lengket-lengket lagi nih badan, gw dan Rika saling ceki-ceki foto di kamera. Wah… ternyata gw dan Rika sama-sama gila klo untuk landscape… klo dirata-ratain, masing-masing punya sekitar 400-an foto!!!

Oh la..la… banyak yaaaaaa…..

Sekitar jam 7 malem, Ayu dateng lagi. Janjinya, malam ini Ayu akan nganter gw dan Rika hunting oleh-oleh dan makan seafood. Masak iya, udah jauh-jauh ke Belitong ga sempet ngerasain makan seafood di sini kan…..
Ternyata… mbak Sumi mo ikut. Dan bapak tour guide kami (beneran ini, karena udah kelamaan baru ditulis, gw lupa, siapa nama si bapak guide itu – maaf ya pak, ini lupa beneraaaaaannnnn…) udah siap dengan mobilnya di depan hotel.
Jadi lah malam itu, gw, Rika, mbak Sumi, Ayu dan suami serta bapak guide menyusuri jalanan kota Tanjung Pandan mengarah ke galeri (orang sana nyebutnya gitu) untuk hunting oleh-oleh.

Sampe di galeri, gw dan Rika mulai nenteng keranjang. Keritcu (kripik cumi), kripik kulit ikan, teri crispy, miniatur perahu, t-shirt, bros pun berpindah tempat, dari rak ke dalam keranjang :D
(hehehehehe… maap, klo urusan oleh-oleh gw emang sedikit royal eh, kalap ding lebih tepatnya… abisnya, list-nya panjang banget… mulai dari keluarga di rumah, temen kantor, sahabat gw di kost… pokoknya kayak mo ngasi makan orang sekampung deh…. lebay ga sih gw? hehehehe…)
Dan…. taaraaaaa… sekotak gede oleh-oleh atas nama gw pun siap di depan meja kasir. Busyet! Ternyata belanjaan gw banyak banget :D
It’s okay, abis bayar, masukin belanjaan ke bagasi, trus kami pun melanjutkan perjalanan ke restoran Dewi.

Sampai di resto, nyari meja kosong, dan mata pun mulai menari-nari menyusuri deretan menu makanan yang ada di list menu.
Malem ini, menu dinner-nya: udang saos asam pedas, kepiting asam manis, cumi goreng tepung, cah kangkung, otak-otak Belitong, dan beberapa botol air mineral.
Whuaaaaa… asap mengepul dari piring cah kangkung, menyusul udang asam pedas, kepiting asam manis… mari kita sikat guys…..

Nyam…nyam…nyam… enaaaaaaaaakkkkkkk….

Malam terakhir di Tanjung Pandan, kami tutup dengan makan seafood segar yang enaaaaaaaakkkkkkk…. :)

Selesai makan, kami langsung pulang ke hotel. Sebenarnya masih pengen keliling-keliling kota Tanjung Pandan, tapi apa daya… jam 10 malam mobil harus off, balik ke garasi :(

Gpp deh, balik ke hotel, packing, kan besok udah harus balik ke Jakarta.

Malam terakhir di Tanjung Pandan, rasanya senang banget deh liburan di sini. Walau pun masih ada rasa ga puas karena blom nyampe ke Belitong Timur – sebagai bocoran, di Belitong Timur kita bisa liat Kelenteng Dewi Kwan Im, trus bisa liat SD Gantong yang jadi lokasi film Laskar Pelangi, bisa menjelajahi kawasan Manggar dan sekitarnya.

Next time klo ke Belitong, gw harus sampe ke Belitong Timur! :D
Itu artinya, kudu nabung lebih giat lagi kan yaaaaa…..kan mo ke Beltim…hehehehehe…

Minggu pagi, 22 April 2012

Pagi ini, setelah beres-beres, kemudian sarapan, kami ber-7 udah duduk manis di lobi hotel menunggu jemputan. Carrier, travel bag, kardus oleh-oleh semua udah dikumpulin biar ga ada yang ketinggalan. Eng..ing..eng… jemputan dataaaaaaang…..
Salah satu sisi Dermaga Pangkalbalam

Karena waktu berangkat masih cukup lama, kami akhirnya diajak keliling-keliling kota. Menyusuri setiap sudut kota Tanjung Pandan. Mengintip Kelenteng Hok Tek Che atau yang dikenal dengan nama Kelenteng Pasar Ikan, menyusuri dermaga penumpang Pangkalbalam, dan…. kembali ke mie Atep :D

Hehehehehe… ternyata temen-temen masih ingin berburu oleh-oleh di sana. Di mie Atep, ada kue pia yang ukurannya segede tutup gelas. Kata mbak Ida, rasanya enak. Jadi lah mbak-mbak yang lain pun berburu pia di mie Atep.

Replika Batu Satam
di Pusat Kota Tanjung Pandan

Gw dan Rika lebih memilih melihat-lihat pusat kota Tanjung Pandan dari sudut kamera kami. Di pusat kota ada monumen replika batu Satam (Bilitonite). Batu Satam ini merupakan batu meteor yang hanya bisa ditemukan di Belitong.

Setelah teman-teman yang lain selesai berbelanja, kami pun kembali ke hotel.
Kali ini kami beneran siap-siap untuk ke bandara. Barang bawaan mulai dimasukkan ke bagasi mobil… waks… full banget, jadi kayak abis mudik :D
hihihihi…masih tutup counter-nya :D

Sesampainya di bandara, Rika, Mbak Sumi, mbak Ida, mbak Karti, mbak Laras, dan mbak Dewi, langsung check-in dan boarding. Sementara gw, seperti waktu berangkat, pisah pesawat dengan mereka…hiks..hiks.. Dan…. seperti yang terlihat di foto, counter check-in penerbangan gw masih tutuuuuppp… huhuhuhuhuhu….

Finally, Belitong memang salah satu surga di Indonesia… jadi makin cinta deh sama Indonesia…..

Untuk teman-teman yang mo liat peta Belitong keseluruhan, foto di bawah ini mudah-mudahan cukup ya… Ayo, cobain deh ke Belitong, masak kalah sama bule-bule itu yang udah bolak-balik ke Belitong…