Derawan #1, Sepenggal Surga di Ujung Timur Kalimantan

 EVY_0583

 

Derawan, Akhirnya Kita Bertemu

Sabtu, 30 Mei 2015

Setelah semalaman ga tidur (ga berani tidur sebenarnya karena takut ga kebangun subuh ini), akhirnya ketika jam menunjukkan pukul 02.30 wib, saya pun berangkat menuju bandara Soetta. Perjalanan dini hari itu terasa cepat, jalanan lengang. Dan tidak sampai 1 jam kemudian, saya sudah tiba di terminal keberangkatan 1A. Perjalanan yang sudah direncanakan sejak Desember tahun lalu pun dimulai. Penantian selama hampir 6 bulan pun akhirnya tiba di depan mata. Walaupun sempat diwarnai dengan reschedule tiket karena tanggal yang tidak pas, hingga batalnya seorang teman untuk berangkat di saat-saat terakhir. Dan pagi ini, saya sudah berdiri di sini, antrian counter check in maskapai singa merah.

Ini merupakan pengalaman pertama saya menggunakan maskapai singa merah, setelah selama ini selalu menghindarinya karena penyakit “schedule delay” yang melekat di maskapai tersebut. Dan saya sempat kaget melihat betapa ramai dan padatnya antrian check in subuh ini. Luar biasa! Sudah seperti musim mudik lebaran :D

Setelah antri cukup lama, ditambah lambatnya kerja “mbak counter” sewaktu memroses tiket kami, akhirnya saya dan teman-teman berhasil juga untuk check in. Akhirnya……..

Saya dan teman-teman kemudian beranjak ke lantai 2 menuju gate keberangkatan.

persiapan ngebolang kali ini
persiapan ngebolang kali ini

 

Jujur, saya pribadi sudah sangat tidak sabar untuk segera sampai ke tujuan. Membaca berbagai artikel dan melihat foto-fotonya via Internet, membuat saya ingin segera melihat sendiri, seperti apa keindahan Derawan. Sambil menunggu waktu boarding, saya mencoba mengingat kembali kejadian-kejadian sewaktu kami merencanakan trip ini. Mulai dari hunting tiket, reschedule, sampai bagaimana ribetnya mencari paket trip yang sesuai dengan keinginan kami. Awalnya, setelah tiket siap, kami rencananya ingin melakukan trip dengan itinerary sendiri, yang artinya kami harus mencari penginapan, speed boat dan berbagai perlengkapan trip secara mandiri. Keinginan untuk merasakan sensasi menginap di water chalets, membuat saya rajin mantengin Internet mencari paket menginap di water chalet tersebut. Apalagi salah seorang teman request dengan sangat amat berharap “Minimal nginep semalam lah di water chalet“.
Saya mencoba untuk menghubungi resort tersebut secara langsung untuk mendapatkan harga terbaik, dan jawaban yang saya terima hanya membuat kening berkerut. “Ah…. sepertinya saya belum rela untuk mengeluarkan biaya sebesar itu hanya untuk menginap di sana” :(

Karena seorang teman keukeuh untuk menginap di sana, minimal 1 malam saja, saya pun kembali bertanya dan jawabannya adalah “Maaf mbak, untuk menginap di sini minimal 3 malam”. Jegeeeeerrrr!!!

1 malam = 990 ribu, dan untuk menginap di sana harus minimal 3 malam, yang artinya 990 ribu dikali 3. Owemji! Untuk menginap di sana selama 3 malam harus mengeluarkan biaya hampir 3 juta rupiah (kurang 30 ribu ajah)!!! Waduh, ga deh. Maaf ya teman, saya terpaksa tidak setuju dengan keinginanmu itu. Kalau memang memaksa untuk menginap di sana, silakan, tapi saya sih akan mencari yang biayanya lebih terjangkau saja.

Karena awalnya kami ingin melakukan trip secara mandiri, saya pun sudah mencari penyewaan boat untuk hoping islands. Dan ternyata biaya penyewaan boat di sana juga sangat tinggi. Sebuah boat bermesin tunggal dengan kapasitas 8 – 12 orang dihargai 8 juta untuk keliling pulau. Dan karena kami hanya ber-5, otomatis semua biaya itu harus ditanggung ber-5. Huft…….

Hmm….. akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti paket open trip saja, lebih ekonomis. Dan setelah browsing sana-sini yang cukup memakan waktu karena harus membandingkan dan memilih itinerary mana yang sesuai dengan keinginan kami, akhirnya pilihan kami jatuh pada sebuah operator trip lokal, Derawan Tours.

Melihat harga paket open trip-nya yang masih reasonable, akhirnya kami sepakat untuk daftar. Dengan harga paket sebesar Rp 1.975.000 per orang untuk paket trip 4 hari 3 malam, kami sudah mendapatkan fasilitas menginap di water chalet, makan pagi, siang dan malam, boat untuk keliling pulau termasuk perjalanan dari Tarakan – Derawan pp, serta penjemputan dari/ke Bandara Juwata. Good enough kan?

Dan akhirnya, subuh ini saya, dan teman-teman sudah duduk manis di boarding gate menunggu waktu keberangkatan kami menuju Tarakan.

Tepat pukul 04.30 wib, panggilan untuk memasuki pesawat pun terdengar. Dan pukul 05.00 wib, roda pesawat berlogo singa merah ini pun perlahan bergerak melintasi areal parkir Bandara Soetta, menuju runway. Bismillaahirrahmaanniirrahiim….

Mata yang sudah berat menahan kantuk dari semalam akhirnya mendapatkan haknya di pesawat ini. Begitu pesawat take off, saya pun langsung memejamkan mata. Perjalanan Jakarta – Tarakan selama hampir 3 jam itu (yang saya manfaatkan untuk tidur sepanjang perjalanan) akhirnya bisa membuat mata saya terbuka lebar begitu pesawat yang saya tumpangi itu mendaratkan roda-rodanya di landasan Bandara Juwata (udah puas banget boboknya :D).

Setelah menunggu bagasi, saya pun kemudian menghubungi contact person dari Derawan Tours yang menjemput kami pagi itu. Oh iya, pagi itu kami tiba di Derawan dengan disambut hujan yang cukup deras. Sempat sedih juga, bagaimana perjalanan kami ke pulau Derawan apabila cuaca tak kunjung cerah?

Di Tarakan kami hanya transit sebentar sambil menunggu keberangkatan kapal menuju pulau Derawan jam 1 siang nanti. Dan tujuan kami pagi ini adalah Warung Teras, sebuah rumah makan seafood yang sepertinya cukup terkenal di Tarakan. Mari kita makan…..

 

Warung Teras, tempat makan yang yummy #eluselusperut
Warung Teras, tempat makan yang yummy #eluselusperut

 

Udang goreng tepungnya mantap!!!
Udang goreng tepungnya mantap!!!

 

Siang itu pilihan saya jatuh pada sepiring nasi goreng seafood dan seporsi udang goreng tepung plus segelas jus stroberi. Hmm…… seafood-nya segar….. rasa manis dari daging udangnya mantep! Setelah makan dan kenyang (pake banget), kami pun kemudian diantar menuju Pelabuhan Tengkayu untuk menunggu waktu keberangkatan kapal menuju Pulau Derawan.

Perjalanan dari Pelabuhan Tengkayu menuju pulau Derawan ditempuh sekitar 2.5 hingga 3 jam. Untungnya cuaca sudah cerah sewaktu kami berangkat. Dan sepanjang perjalanan, kami disuguhi hamparan laut biru yang jernih. Dan akhirnya, setelah pantat terhempas-hempas selama hampir 3 jam di atas selembar busa tipis yang menjadi alas duduk kami di atas boat, boat yang kami naiki pun akhirnya mengurangi kecepatannya dan secara perlahan bersandar di sebuah dermaga kecil dari bangunan kayu berwarna coklat yang berdiri menjorok ke arah laut. Yeeeeaaaaaayyyyyy….. Derawan here I am!

Sambil menunggu unloading barang-barang bawaan kami dari dalam speed boat, saya memperhatikan lingkungan di sekitar dermaga itu. Tepat di depan dermaga, terhampar laut luas dengan airnya yang berwarna hijau toska jernih. Saking jernihnya, saya bisa melihat dengan jelas beberapa ekor Penyu Hijau sebesar tampah yang berenang bebas di sekitar dermaga. Perahu-perahu kecil yang ditambatkan dengan sehelai tali pun terlihat terombang-ambing oleh riak gelombang yang datang perlahan. Kumpulan-kumpulan Bulu Babi terlihat menggerombol di sekitar dermaga. Ikan-ikan beraneka warna dan bentuk, terlihat juga berseliweran tak henti-henti di bawah dermaga.

 

ini pemandangan di depan kamar lho....
ini pemandangan di depan kamar lho….

 

Setelah barang-barang kami selesai di-unloading ke dermaga, kemudian kami dibagikan kamar yang akan menjadi “rumah” kami untuk 4 hari ke depan. Dan ternyata, saya mendapatkan kamar yang paling depan, persis setelah teras dari dermaga ini. Yihaaaaa!!!

Karena kami tiba di Derawan di saat hari sudah menjelang sore, sisa hari itu itinerary-nya adalah acara bebas. Yang mau lanjut tidur cantik, bisa…… Yang mau langsung jalan-jalan keliling pulau, boleh…. Yang mau makan (seperti saya dan teman-teman, yang entah gimana lah ceritanya, begitu tiba di Derawan langsung pada kelaparan semua :D) juga bisa.

 

ini kamar saya untuk 4 hari ke depan, nyaman banget....
ini kamar saya untuk 4 hari ke depan, nyaman banget….

 

yang penting, toiletnya bersih! dan air tawar, bukan air payau yaaa.....
yang penting, toiletnya bersih! dan air tawar, bukan air payau yaaa…..

 

Dan setelah membereskan backpack, serta sedikit meluruskan punggung di atas kasur yang tersedia di kamar, saya, dan teman-teman memutuskan untuk sedikit meng-explore pulau sambil mencari warung makan. Padahal, kami sudah dipesanin oleh mas Alif yang menjadi guide selama di Derawan “Mas, mbak, makan malam akan siap di jam 7”. Dan sekarang baru jam 4 :D

Perutnya ga kuat untuk menunggu 3 jam lagi… hehehehe….

jembatan kayu yang menghubungkan homestay kami dengan daratan
jembatan kayu yang menghubungkan homestay kami dengan daratan

 

Dari water chalet, kami menyusuri jembatan kayu panjang yang menghubungkan bangunan ini dengan daratan yang ada di depan kami. Tiba lah kami di perkampungan penduduk dengan rumah-rumahnya yang mayoritas terbuat dari kayu sebagaimana lazimnya rumah yang ada di Kalimantan. Kami pun melangkah menuju sisi kiri jembatan, menyusuri perkampungan penduduk. Hamparan pasir putih membentang sepanjang jalan perkampungan yang kami lewati. Karena tidak menemukan warung makan di sepanjang jalan yang kami susuri itu, kami mengubah haluan, balik kanan dan mulai menyusuri ke bagian kanan.

 

here, we are...
here, we are…

 

Dan benar saja, di sisi ini kami menemukan banyak warung makan. Pilih sana, pilih sini, akhirnya kami masuk di salah satu warung makan (lupa namanya apa?). Ambil menu, dan langsung pesan. Ikan Baronang bakar, Cumi goreng tepung dan Cah Kangkung. Tak lupa, 4 buah kelapa muda. Oh iya, awalnya kami cuma ingin minum air kelapa muda, tapi karena perut semakin lapar, akhirnya kami memutuskan untuk sekalian makan saja (lupakan jadual makan jam 7 malam nanti :D).
Tanpa menunggu terlalu lama, sebakul nasi putih hangat, ikan bakar, cumi goreng tepung dan cah Kangkung pun terhidang di depan kami. Mari makan…….. nyam… nyam… nyam…

 

menu kami sore itu
menu kami sore itu

 

Selesai makan, kami pun kembali menuju homestay untuk menunggu sunset di dermaga depan kamar. Menyenangkan banget ya….. nungguin sunset-nya cukup dari depan kamar aja. Hmm…… alhamdulillah, nikmat banget makan sore ini. Sore menjelang senja hari itu, kami habiskan dengan duduk-duduk santai di dermaga sambil menunggu sunset dan menikmati angin laut.

 

sunset? cukup di depan kamar aja deh
sunset? cukup di depan kamar aja deh

 

Apa kegiatan kami besok? Hmm…… sepertinya besok kami akan basah-basahan seharian. Ikut yuk keseruan kami…….

Please follow and like us:
0

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.