Category Archives: wisata

Menjenguk Ujung Barat Indonesia #4 – Yuk, Muter-Muter Lagi di Banda Aceh



Minggu, 27 Oktober 2013
Very excited mo ngejar sunrise di Sumur Tiga, yang katanya paling keren se-Sabang (hasil ngotot ke leader kemaren malem), bikin gw jam 3 subuh udah buka mata dan langsung ngacir ke kamar mandi.
Beres mandi, ganti baju, ceki-ceki lagi carrier, tas kamera, tripod, gear snorkeling. Trus bangunin Liany.
Jam ½ 5 kami udah siap di resto Iboih Inn.
Direction dari leader “Semua jalan kaki ke drop point di Pantai Iboih, dan barang-barang akan dibawa pake boat”.
Wokeh, mari kita cari keringat subuh ini.
Sekitar 10 menit jalan ke arah drop point, nungguin teman-teman yang tadi blom ngumpul, gw subuhan dulu.
Jam 5 lewat 10 menit, akhirnya perjalanan mengejar sunrise di Sumur Tiga dimulai.
Pantai Sumur Tiga pagi itu


Kota Sabang masih gelap waktu ke-3 mobil mulai iring-iringan meninggalkan Pantai Iboih, yang udah jadi rumah gw dan teman-teman selama 2 hari kemarin.

Menyusuri jalanan kota yang lengang, berkelok-kelok, turun naik, akhirnya gw sampe di Pantai Sumur Tiga.
Semburat jingga keemasan udah mulai keliatan dari sela-sela pohon kelapa yang banyak tumbuh di sepanjang pantai.
Untuk mencapai bibir pantai, gw harus menuruni semacam anak tangga dari batu, baru sampe di pantai berpasir putih halus.
Sebatang pohon kelapa tua tergeletak melintang di tepian pantai berpasir.
Riak kecil gelombang sesekali menyapa tepian pantai.
Di ujung Timur, terlihat awan putih bergulung, menyatu dengan langit yang masih gelap.
Semburat warna jingga keemasan mulai menyeruak dari sela-sela awan putih yang mulai pecah.
Suasana pagi itu begitu tenang, hanya ada kecipak suara gelombang kecil yang datang, dengan angin laut yang sangat halus membelai semua yang ada di pantai, dan bau khas wangi laut yang selalu membuat kangen.

sunrise di Pantai Sumur Tiga


Gw inget, ada seorang sahabat yang pernah bilang gini, “Mbak, cobain deh, sekali-sekali waktu menikmati sunrise/sunset, kamu jangan melakukan apa-apa. Just about 2 minutes. Diem, rasakan. Pasti rasanya beda”.
coba rasakan……..

Dan bener aja, walau ini bukan yang pertama kalinya gw ngelakuin itu.

Setelah take some frames, gw berdiri dan merem.
Hanya mengandalkan kuping, kulit, hidung, gw rasakan sensasi yang berbeda.
Suara kecipak gelombang seperti nyanyian (serius, ini ga lebay ya :D), sinar matahari pagi yang hangat mulai membelai wajah, dan bau laut menyapa idung gw.
Gw berasa……….. hmm….. apa ya???
Yang jelas, gw makin cinta dengan negeri ini, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Gw Cinta Indonesia!!!

ngers, ntar ke sini bareng-bareng yuk!!!


yang bikin kangen…


Udah puas ketemu sunrise di Sumur Tiga, akhirnya gw dan teman-teman melanjutkan perjalanan.

Karena jam 8 kita harus naik kapal untuk balik ke Banda Aceh, setelah dari Sumur Tiga, kita hanya menyusuri pinggir pantai yang membentang sepanjang perjalanan ke pelabuhan.
Sempet berhenti di beberapa spot, biasa lah…… pepotoan yang ga beres-beres :D
Dan akhirnya jam 7.45, gw dan teman-teman udah siap di depan pintu Pelabuhan Balohan.
Thank’s a lot Sabang for very nice vacation, wait for me for the next time (I wish).












pemandangan dari atas Kota Sabang

itu Pelabuhan Balohan, diliat dari atas


Jam 8 pagi kapal cepat mulai meninggalkan pelabuhan Balohan, Sabang. Melaju ke arah Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh.
Sesuai rencana, karena penerbangan gw ke Jakarta masih jam 15.45 sore, begitu sampe di Banda Aceh, gw akan solo trip, misah dari rombongan.
Jadi, waktu di kapal, gw telepon lagi abang Taufik, driver taxi yang waktu itu nganter gw dari airport ke kompleks rumah Shinta, minta jemput di pelabuhan, dan langsung nego taxi untuk jalan-jalan keliling kota. Deal!
Jam 8 lewat 45 menit, bang Taufik udah sms gw, ngasi tau bahwa dia udah standbydi gate kedatangan pelabuhan. Sip! Mari kita explore Kota Banda Aceh, sebelum flight ke Jakarta.
Teng, jam 9 pagi, kapal merapat di Pelabuhan Ulee Lheue.
Leader trip sempet nanya, penerbangan gw jam berapa, nanti akan diantar ke bandara katanya.
Haduuuhhhh… makasih banget deh, tapi ga usah repot, gw udah order taxiyang bakal nganterin gw keliling kota. Tengkiyu banget deh…..

welcome again in Ulee Lheue port


Sampe di pelabuhan, ternyata bener, taxi yang gw pesen udah standby di parkiran.
Temen-temen pada bengong, gimana caranya gw bisa sewa taxi dan dijemput persis pas kapal nyampe.
Hehehehehehe…. ga usah bingung fren…. itu lah gunanya punya kenalan dan selalu punya backup plan.
Ok ya guys…. gw misah ya…. mo solo trip biar bisa explore banyak di Kota Banda Aceh.
Setelah pamitan sama semua teman-teman 1 rombongan, akhirnya gw kembali naik ke taxi silver yang udah siap di parkiran.
Let’s go!!!
Di taxi, gw sempet discussdulu dengan si abang driver, sebaiknya ke mana dulu nih, biar semua bisa dikunjungi.
Bang Taufik nanya gw, emang ke mana aja tujuan gw?
Gw beberin lah itinerary yang udah gw bikin. Masih ada Pantai Lampuuk, Rumah Cut Nyak Dien, Mesjid Teuku Umar, Rumoh Aceh dan Kapal Lampulo.
Akhirnya destinasi yang udah gw sebutin di atas diurutin supaya ga bolak-balik, plus dapet beberapa destinasi bonus karena letaknya yang berdekatan.
  1.  Pantai Lampuuk;
  2. Pantai Lok Ngha;
  3. Rumah Cut Nyak Dien
  4. Belanja oleh-oleh makanan khas Aceh, yang kebetulan letaknya hanya beberapa meter dari Rumah Cut Nyak Dien;
  5. Mesjid Teuku Umar;
  6. Makam Sultan Iskandar Muda;
  7. Museum Aceh a.k.a Rumoh Aceh;
  8. Pasar ikan tradisional;
  9. Kapal Lampulo;
  10. Mesjid Agung Baiturrahman; dan terakhir
  11. Belanja oleh-oleh suvenir.

Wuiiiihhhh…. banyak juga ya destinasi yang bakal gw datengin selama kurang lebih 5 jam ini.
Ok, mari kita mulai keliling Kota Banda aceh.
Destinasi pertama, Pantai Lampuuk.
Berjarak kurang lebih 6 km dari pusat kota, karena jalanan lancar, ga pake lama, gw udah sampe di sana.
Pantai pasir putih yang landai, halus menyapa kaki gw.
Pagi menjelang siang itu, Pantai Lampuuk terlihat lumayan rame.
Anak-anak kecil berlarian di pinggir pantai sambil bermain bola. Ada yang berenang dengan bebasnya, ada yang main perang-perangan dengan teman-temannya.
Di bagian kiri pantai, sekelompok pemuda, kayaknya sih entah dari kepolisian atau angkatan bersenjata (siswanya tapi ya… coz masih muda-muda gitu) sedang latihan lari.
Jajaran warung-warung yang banyak di pinggir pantai blom semuanya buka.

Pantai Lampuuk

panasnya sinar matahari ga menghalangi mereka maen di pantai

Pantai Lampuuk pagi menjelang siang itu cukup rame


Sekitar 15 menit gw di Lampuuk, mengumpulkan beberapa frame, sebelum melanjutkan perjalanan ke Lok Ngha.
Lok Ngha sendiri ga jauh dari Lampuuk.
Waktu bencana Tsunami terjadi di taun 2004, Lok Ngha adalah pusat gempanya.
Dulu, katanya daerah Lok Ngha ini hancur dilanda Tsunami.
Dan saat gw sampe ke sana, Lok Ngha udah kembali hijau, aktivitas warga pun udah normal.
Lok Ngha udah pulih.
Dan emang bener, memandang Pantai Lok Ngha di kejauhan, dari pinggir jalanan yang letaknya lebih tinggi dari dataran sekitarnya, cakep banget!

Lok Ngha, siapa yang nyangka di taun 2004 adalah pusat terjadinya Tsunami


Ga berlama-lama di Lok Ngha, gw melanjutkan perjalanan ke Rumah Cut Nyak Dien.
Konon, ini adalah rumah aslinya pahlawan wanita dari Aceh tersebut.
Rumah panggung yang didominasi warna hitam, dengan hiasan beraneka warna sebagaimana biasanya sebuah rumoh Aceh, berdiri kokoh. Dengan latar belakang sebuah bukit hijau, yang sebagian punggungnya memperlihatkan lapisan batuan alamyang terkandung di dalamnya.
Rumah itu sekarang udah jadi sebuah cagar budaya. Terlihat asri dengan taman yang tertata rapi.
Hanya saja, gw kurang beruntung kali ini, karena pagar rumah itu masih tergembok rapi, dan ga keliatan ada yang jaga.
Dan akhirnya gw cuma bisa motret dari sela-sela pagar putih yang membentengi rumah itu.
But, it’s ok.
Ngeliatnya dari luar juga udah bikin gw seneng koq.

Rumah Cut Nyak Dien

cuma bisa ngintip dari luar pager doang


Udah liat-liat rumah Cut Nyak Dien (dari luar pager ya…), trus gw melipir ke toko makanan khas Aceh yang jaraknya hanya beberapa meter dari situ.
Dendeng, kopi, pia, kue ikan sukses masuk dus (nambah deh bagasi gw :D).
Dari pusat makanan khas Aceh, gw melanjutkan perjalanan, balik ke pusat kota.
Kali ini tujuannya adalah Mesjid Teuku Umar.
Bangunan mesjid dengan kubahnya yang unik, menyerupai topi yang biasa dipake oleh pahlawan kita itu.
Bangunan yang didominasi warna putih, dengan atap berwarna coklat gelap, dan kubah berbentuk topi dengan kombinasi warna coklat gelap dan terang, ditambah hiasan kotak-kotak kecil warna coklat gelap, terang dan hijau.
Bentuk kubahnya khas, ga bulet seperti kebanyakan kubah sebuah mesjid, tapi lebih bersegi, sangat identik dengan topi yang biasa dikenakan oleh pahlawan kita, Teuku Umar.

Mesjid Teuku Umar

coba liat bentuk kubahnya yang khas itu, mirip kan dengan topi yang dipake Teuku Umar

masih di Mesjid Teuku Umar


Dari Mesjid Teuku Umar, mobil bergerak ke destinasi selanjutnya, Makam Sultan Iskandar Muda.
Tau dong ya, itu siapa? Pasti tau lah… beliau adalah seorang sultan yang memerintah Aceh di tahun 1607-1635, yang terkenal dengan sifatnya yang tegas, adil dan bijaksana. Yang telah membawa Aceh pada jaman keemasannya.
Pemerintah Indonesia telah menganugerahkan titel pahlawan nasional kepada Sultan Iskandar Muda.
Makamnya yang terletak di kompleks Situs Cagar Budaya Makam Kandang Meuh, berdiri gagah, didominasi bangunan berwarna putih dan coklat yang dinaungi bangunan beratap tapi tak berdinding berwarna kuning gading.
Makam ini dipasangi pagar besi setinggi kurang lebih 70 cm. Sekitar makam sangat bersih dan terawat.
Di depan makam sultan, terdapat juga makam-makam tua yang menurut cerita adalah makam kerabat dan orang kepercayaan sultan.

welcome to Situs Cagar Budaya “Makam Kandang Meuh”


makam Sultan Iskanda Muda

makam seorang sultan yang juga pahlawan nasional Indonesia

sebagian makam tua yang ada di komplek “Makam Kandang Meuh”

Sultan Iskandar Muda & Teuku Umar on articles



tari Seudati-nya udah beres pas gw nyampe


Dari kompleks makam Sultan Iskandar Muda, gw meneruskan penjelajahan ke Rumoh Aceh dan Museum Aceh.

Waktu gw sampe di sana, rombongan penari baru aja beres menampilkan Tari Seudati (yah…. kesiangan ya gw nyampenya?)
Akhirnya gw hanya bisa explore Museum Aceh, yang isinya semua informasi tentang Aceh dan perkembangannya.
Mulai dari alat berburu, alat rumah tangga, penyebaran bahasa daerah, perkembangan pembangunan Mesjid Agung Baiturrahman dari masa ke masa, dan banyak lagi.
Oh iya, gw ngerasain juga naek ke Rumoh Aceh. Sebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu, dengan anak tangga yang lumayan tinggi dan sempit.
Waktu gw mo naek, gw papasan dengan rombongan opa-opa dan oma-oma bule yang juga sedang mengunjungi Rumoh Aceh.
Salah seorang oma itu merasa kesulitan waktu menuruni tangga dan sempet berucap “Wow, your feet are small, this stair not suitable with mine”.
Gw cuma nyengir sambil bantu itu oma nurunin tangga.
Emang sih, anak tangganya kecil-kecil, jadi untuk ukuran kaki bule yang sangat jauh lebih besar dari kaki gw yang size-nya 36 ini, emang ga enakeun itu tangganya.


Rumoh Aceh dan Museum Aceh
ruang pertama begitu naek tangga
di Rumoh Aceh


Setelah oma-oma itu turun, giliran gw yang naek ke Rumoh Aceh.

Ruangan yang pertama gw masuki setelah menaiki anak tangga yang kecil-kecil itu berupa serambi. Gw lupa klo orang Aceh itu nyebutnya apa? Yang jelas fungsinya sebagai ruang berkumpul klo ada pertemuan-pertemuan.
Ruangan ini kosong, akses keluar masuk hanya melalui tangga kecil yang terletak di bagian lantai depan rumah.

Di bagian kiri serambi, ada anak tangga untuk masuk ke bagian rumah yang lebih tinggi, yang merupakan ruangan inti. Di sini dipajang beberapa ruangan yang dilindungi oleh dinding kaca.
Ada ruangan yang berisikan pelaminan dan perlengkapan pernikahan, ada ruangan yang berisi peralatan makan dan sebuah ranjang, lengkap dengan kelambu putih-pink-nya.

Di sisi kiri ruangan, terdapat tangga untuk turun ke serambi yang bentuknya persis seperti serambi yang pertama gw masuki.
Di sini terdapat peralatan untuk memasak, di sisi lainnya terdapat sebuah dipan dan sebuah keranjang ayunan bayi yang berkelambu.
Suasana di ruangan kuning temaram. Pantulan cahaya dari kayu berwarna coklat gelap yang menjadi bahan utama Rumoh Aceh membuat cahaya di dalam ruangan itu jadi unik.
Ditambah bias cahaya dari jendela yang diberi gorden berwarna kuning, membuat suasana di dalam Rumoh Aceh adem, tapi hangat (nah…gimana itu ya? Gw juga bingung bilangnya).
Yang jelas karena bangunannya dari kayu, suasananya jadi ga panas, padahal ga ada AC or kipas angin di situ.
Tapi dengan bias cahaya yang memantul dari lantai dan dindingnya, ditambah cahaya dari jendela, jadinya hangat.
Pokoknya suasananya homy banget deh……. nyamaaaaaaaaaaannnnn…..


pelaminan
dan perlengkapan pernikahan
ranjang, kelambu
dan perlengkapan makan
dapur dan perlengkapannya
dipan, dan ayunan
























Beres liat-liat isi Rumoh Aceh, gw trus turun.
Di halaman ada sebuah bangunan panggung berdinding kayu setinggi 50 cm, yang dipenuhi ukiran, dan beratap rumbia.
Katanya itu adalah tempat pertemuan warga.
Ga tau sih, sekarang masih difungsikan seperti itu atau ga?

menurut penjelasan yang gw dapat, ini adalah tempat pertemuan warga
Di samping kanan belakang Rumoh Aceh, terdapat Museum Aceh.
Di sini pun gw ketemu lagi dengan rombongan oma-oma dan opa-opa bule itu.
Emang beda ya… klo bule itu keliatan banget interest-nya dengan informasi yang ada di dalam museum. Klo orang kita (hehehehehe…), cuma liat-liat tanpa mau baca penjelasannya, apalagi ngedengerin penjelasan dari guide museum yang bertugas.
Karena rombongan oma dan opa itu punya guide yang fasih banget ngejelasin tentang Aceh, akhirnya gw ngintilin rombongan itu. Lumayan kan, dapet penjelasan lengkap :D

Peureulak Boom a.k.a Pohon Peureulak

rusa berkepala 2 yang diawetkan di Museum Aceh

berbagai perlengkapan untuk berburu

ini peta bahasa daerah yang digunakan di Aceh

maket Mesjid Raya Baiturrahman di tahun 1879

yang ini maket Mesjid Raya Baiturrahman di tahun 1936

klo yang ini maket Mesjid Raya Baiturrahman taun 1957

mushaf Al-Quran di Museum Aceh
Sebelum meninggalkan kompleks Rumoh Aceh dan Museum Aceh, gw sempet liat bangunan kecil di dekat pintu keluar.
Bangunan kecil persegi 4, dengan empat sisi bumbungan atap, di bagian atasnya ada puncak berundak 3 dengan hiasan seperti ujung payung di ujungnya.
Bangunan ini terbuat dari kayu dengan dominasi warna hitam dan merah.
Bangunan berukuran kurang lebih 1.5 x 1.5 meter ini merupakan bangunan untuk menggantungkan sebuah lonceng logam yang besar.
Lonceng itu terlihat kuno, cuma setelah gw telusuri, gw ga nemuin tuh penjelasan itu lonceng apa, dibuat kapan, atau itu pemberian dari daerah mana, atau lonceng itu berasal dari masa pemerintahannya siapa?

Rumoh Aceh

ini nih lonceng yang gw bilang, tapi blom nemu keterangannya itu lonceng apa?
Yah….. sudah lah… nanti gw tanya mbah Gugel deh tentang lonceng itu.
Sekarang, mari kita lanjutkan meng-explore Aceh dengan sisa waktu yang ada, sebelum gw balik ke Jakarta.
Destinasi selanjutnya, Kapal Lampulo, atau yang dikenal dengan Kapal Di Atas Rumah.
Untuk mencapai Gampong Lampulo, gw melewati pasar ikan tradisional. Di sini gw liat perahu-perahu nelayan Aceh yang sedang menurunkan hasil tangkapannya.
Off course ya…. smell di lokasi ini not too good. Tapi klo liat hasil lautnya…. dijamin bakalan ngiler :p
Perahu layar warna-warni tampak ramai bersandar di dermaga sederhana yang ada.
Orang-orang tampak sibuk di atas perahunya masing-masing dengan berbagai aktivitasnya. Ada yang sedang menurunkan muatan, ada yang membersihkan perahu, ada yang memperbaiki bagian perahu yang mungkin sedang bermasalah. Full of activities deh pokoknya.

deretan kapal di dermaga pasar ikan tradisional

siang itu dermaganya rame

kapal warna-warni, cantik

poto-potonya ngeblur, karena taken from moving car
Akhirnya sampe lah gw di lokasi Kapal Lampulo.
Sebuah kapal kayu berwarna putih, abu dan hitam terlihat masih berada dengan kokohnya di atas sebuah puing-puing rumah yang menjadi saksi bisu bencana Tsunami.
Sekarang, di sekeliling kapal telah dipasang perancah baja untuk mencegah kapal jatuh dan roboh. Mengingat kapal ini kan udah bertengger selama kurang lebih 9 tahun di atas puing rumah itu.
Di bagian sisi rumah yang masih terawat dengan baik, sekarang dijadikan ruangan untuk mendokumentasikan foto-foto yang diambil pada saat terjadinya bencana Tsunami.
Di ruangan itu gw melihat dahsyatnya Tsunami yang terekam di dalam foto-foto yang dipasang dengan rapi di dinding dan papan khusus yang ada di situ.
Melihat foto dan membaca keterangan yang ada di setiap bagian bawah foto, bikin gw merinding.
Foto-foto itu seolah bercerita, bersuara.
Jadinya sediiiiiiiiiiihhhhhhhh……

Kapal Lampulo

kapal ini menyelamatkan 59 orang pada saat Tsunami 2004

agar tetap terjaga, pemerintah daerah memasang perancah baja di sekeliling Kapal Lampulo

“Kapal nelayan ini dihempas gelombang tsunami pada tanggal 26 Desember 2004
hingga tersangkut di rumah ini. Kapal ini menjadi bukti penting dahsyatnya musibah Tsunami
tersebut. Berkat kapal ini 59 orang terselamatkan pada kejadian itu:
Di halaman tempat Kapal Lampulo bertengger (kayak burung ya? Abisnya gw bingung bilangnya apa? Mo dibilang berdiri, pasti bukan dong), ada semacam counterdari pengelola situs Lampulo itu.
Di situ gw dapet sertifikat yang jadi bukti bahwa gw beneran dong udah sampe di Kapal Lampulo.
Di situ juga akhirnya gw beli buku yang judulnya “The Witnesses of Aceh Tsunami Victims”.
Buku itu berisi testimoni dari 10 orang saksi hidup yang selamat dari bencana Tsunami setelah menaiki kapal yang terdampar di atas rumah tersebut.
Oke, sekarang mari kita lanjutkan perjalanan.
Kudu cepet-cepet, soalnya gw pengen bisa sholat Dzuhur di Mesjid Baiturrahman lagi.
Let’s go abang driver, kita ke Mesjid Baiturrahman. Cuuuuusssssssss………..
Alhamdulillah, pas sampe di halaman mesjid, pas adzan berkumandang.
Buru-buru wudhu, dan akhirnya kesampaian juga gw Dzuhur-an di Mesjid Baiturrahman.
Plus, bisa foto-foto mesjid pas siang.
Langsung lari ke halaman mesjid, ambil frame kiri, kanan, depan.
Oh iya, di sisi kiri mesjid, ada semacam tugu peringatan kecil yang menjadi penanda bahwa pada tanggal 14 April 1873, di tempat itu Mayor General Kohler telah terbunuh pada saat memimpin penyerangan ke Mesjid Raya Baiturrahman.
Hayoooo…. coba diinget-inget pelajaran sejarahnya… masih inget ga dengan Kohler???
Hmm… yakin deh, pasti udah pada lupa :p

Mesjid Raya Baiturrahman

siang itu di Mesjid Raya Baiturrahman

“Tanggal 14 April 1873 di tempat ini Mayor Jendral J. H. R. Kohler
tewas dalam memimpin penyerangan terhadap Mesjid Raya Baiturrahman”

menara yang ada di depan gerbang Mesjid Raya Baiturrahman
Siang itu Mesjid Raya Baiturrahman sangat rame.
Dan di situ, gw juga ketemu dengan rombongan teman-teman yang juga exploreKota Banda Aceh (sssttt…. tapinya destinasi yang mereka datengin ga sebanyak gw dong :D)
Dan akhirnya, gw kudu menyudahi acara explore Kota Banda Aceh.
Udah jam ½ 2 siang, dan gw masih mo nyari oleh-oleh untuk tim hore, ponakan-ponakan bandel tapi ngangenin di rumah. Yuk kita capcus!!!
Tujuan gw cuma mo beli kaos di Mister Piyoh lho….
Kan baca di inet, klo di Aceh ini juga ada kaos-kaos khas Aceh…. ya kayak Dagadu-nya Yogya or Joger-nya Bali itu.
Klo di Aceh, yang terkenal itu namanya Mister Piyoh.
Tadinya, gw berniat mo liat pusatnya yang ada di Sabang. Tapi apa daya, karena selalu molor itu schedule-nya, bahkan yang harusnya dikunjungi juga akhirnya di-skip, ya gw ga kesampaian deh liat Mister Piyoh yang di Sabang.
Untungnya di Banda Aceh juga ada.
Akhirnya gw melipir ke Mister Piyoh yang ada di Banda Aceh. Kebetulan juga ternyata lokasinya searah dengan bandara.
Udah ngubek-ubek stok kaos yang ada di Mister Piyoh, akhirnya dapet juga itu kaos bergambar Cut Kak dan Cut Bang kecil (gw lupa sebutannya… klo anak perempuan kecil itu kan disebut Inong, klo anak laki, lupa gw).
Sebelum ke Mister Piyoh tadi, gw sempet singgah di pusat suvenir di pusat kota.
Sempet beli tenun Aceh, itu untuk gw, yang ternyata sangat hobi ngumpulin kain-kain dari daerah se-Indonesia.
Trus beliin dompet untuk ibu dan adek.
Untuk bapak, makanan aja yah pa…. soalnya kopiah khas Aceh-nya ga nemu :D
Dan akhirnya cerita ngebolang gw berakhir di Bandara Sultan Iskandar Muda.
Jam 3 teng gw udah beres check-in dan akhirnya duduk manis sambil baca-baca majalah di lounge bandara.
Jam ½ 4 sore, boarding, dan 15 menit kemudian si burung besi mulai meninggalkan runway BDI menuju Jakarta.
Bye bye Aceh….. nice to know youthank you so much for the vacation… and, meet you again soon ^.^

finally, must go back to Jakarta

goodbye Aceh, Sabang, thank’s a lot for the vacation

Udahan ya cerita tentang ngebolang ke Aceh-nya….
Ini udah banyak yang japri neh, ngomelin gw yang katanya nyebarin racun mulu….
Padahal kan gw ga ngeracunin yak… gw cuma posting di socmed gw aja….
Ya klo setelah pada baca trus keracunan, itu bukan salah gw dong….
#berlaludengantampanglempeng

Eh iya, ini bocoran itinerary selama ngebolang di Banda Aceh + Sabang, kali aja ada yang mo nyontek :D





Menjenguk Ujung Barat Indonesia #3 – Masih Tentang Sabang



Sabtu, 26 Oktober 2013
Hai….. ketemu gw lagi….
Udah bangun nih…. masih dalam rangka ngebolang di Aceh…
Udah baca kan cerita gw yang kemaren? Bisa cekidot di sini koq…
Ga tau kenapa, tiap ngetrip pasti gw bangunnya pagi (bukan nyombong ya).
Jam 4 subuh gw udah bangun, mandi, beres-beres, trus sholat subuh.
Di sini sholat subuhnya udah jam 5an gitu. Tapi di luar masih gelap lho…
Gw liat Liany masih pules.
Pelan-pelan gw buka pintu, sambil nenteng kamera dan tripod.
Sorryya Ny, gw ga berani ngebangunin, soalnya lu keliatannya pules banget”.

Iboih pagi itu

Jam 5 lewat 30 menit gw udah sampe di dermaga Iboih Inn.
Kosong, ga ada siapa-siapa.
Horeeeeeeee…….. gw bebas nyari spot poto. Berasa private homestayini.
Nyiapin kamera, tripod, nungguin semburat jingga di kaki langit sebelah Timur.
Air laut hanya sesekali beriak kecil.
Warna biru mendominasi pagi ini.
Langit terlihat sedikit mendung, awan putih keabuan terlihat merata mewarnai langit pagi.
Walau mendung tipis menggelayut di langit pagi itu, tapi gw beruntung masih berhasil menangkap beberapa frame sunrise pagi itu di Iboih.

tenang banget…. biru, ungu, jingga…

laut di depan resort, pagi itu


Jam 7 pagi, baru deh rombongan narsis mulai ribut.
“Eh… ayo kita hunting sunrise”, gw ga tau siapa yang ngomong itu.
Hehehehehehe….. mo hunting sunrise ya mbak? Itu matahari udah terang benderang gitu :p

Rombongan narsis mulai memenuhi seluruh sudut dermaga.
Dan gw pun mulai ngeberesin peralatan perang gw.
It’s time for me to packing :D
Beda schedule kita….
Hari ini schedule-nya snorkelinglagi di bagian luar Pulau Rubiah, dan diving.
Off course gw ga ikutan diving. Gw ngikut snorkelingajah.
Jam 9 pagi rombongan mulai jalan ke arah Pantai Iboih.
Bagi-bagi gear snorkeling, plus peralatan diving untuk mereka yang mo nyelem.
Gw sih untuk snorkeling udah bawa gearsendiri, paling minjem fin aja.

ikuuuuuuuutttttt……

homestay di pinggir laut sepanjang Pantai Iboih

on the way to spot of snorkeling
(sukses membuat gw tergoda untuk nyebur)

Tadinya, gw cuma pengen poto-poto aja dari atas kapal, tapi liat air hijau toska yang super duper jernih, akhirnya gw nyebur juga.
Kan ceritanya, itu instruktur dan guide snorkeling-nya udah didominasi sama rombongan narsis, sementara gw masih yang ngeri-ngeri gitu untuk terjun ke laut.
Untung ada bapak yang drive-in perahu yang bersedia ngajarin gw renang, sekaligus nunjukin di mana aja spot yang terumbu + ikannya bagus-bagus.
Makasih banyak bapak……. kesampaian juga gw terjun ke laut dan ngeliat terumbu + ikan-ikan cantik yang hilir mudik di sela-sela karang.

tuh…. liat airnya….. #mupeng


what a beautiful country??? I Love Indonesia!!! #teriakpaketoa
Jam 1 siang, kegiatan snorkeling + diving beres.
Trus kapal puter balik ke pantai.
Dipesenin klo jam 2 siang kudu udah siap di Pantai Iboih lagi untuk schedulekeliling Kota Sabang.
Sip, jam 2 siang i’m ready on the beach!
Setelah mandi, bersih-bersih, gw dan Liany balik ke pantai.
Jam 2 kurang 5 menit, gw dan Liany udah sampe di pantai, dan ternyata…… seperti biasa, masih ada aja yang blom kumpul.
Masih yang sibuk makan siang dan sebagainya.
Tunggu sana sini, eh…. jam 3 sore baru deh jalan.

Tugu Nol km, yeaayy… nyampe di sini

Tujuan pertama sore ini, NOL km!
Yihaaaaaaa…. gw sampe di ujung paling Barat Indonesia.
Bangunan beton putih dengan ornamen orange menandai titik Nol km Indonesia.
Sore itu Tugu Nol km cukup rame dengan pengunjung.
Cuma sayang, gw ga kesampaian dapetin sertifikatnya.
Kata si leader (yang lagi-lagi bikin gw sebel) “Klo wiken gini, petugasnya ga ada, harus janjian dulu di instansinya”.
Karena males berdebat, dan niat gw mau liburan, senang-senang, akhirnya gw cuekin aja.
Gpp lah ga dapet sertifikat Nol km-nya.
Next time gw akan balik lagi dan explore lebih banyak!







diresmikan oleh pak Try Sutrisno


ada aja yang jahil,
bikin gravity sembarangan

bagian atas Tugu Nol km itu begini ternyata

di bagian dasar tugu, tampak kurang terawat

Tugu KM 0 – Indonesia

Setelah dari Nol km, rombongan bergerak ke arah Pantai Gapang.
Kali ke-2 ke Gapang (kan kemarin udah singgah ke sini waktu insiden nyari toilet itu), gw masih dapetin spot-spot bagus untuk disimpan.
Cuma ya kali ini ga seleluasa kemarin, you know lah why…..
Yes, karena kali ini gw harus rebutan spot dengan narsis geng :D

wish you were here…..

sampe ke sini Ngers ^.^


Abis dari Pantai Gapang, tujuan selanjutnya Benteng.
Gw kurang ngerti juga, ini benteng waktu jaman Belanda apa Jepang.
Soalnya si leader juga ditanyain cuma geleng-geleng.
Susye nih…… bawa rombongan, tapi dia juga ga paham itu apa dan gimana?

pemandangan Pantai Ujung Batee dari atas


Nah, kan tadinya kita itu iring-iringan 3 mobil.
Eh…. ini malah balap-balapan.
Mobil rombongan gw, yang disetirin sama si abang Ewin ternyata paling depan.
Jadi lah kita rada nyantai gitu.
On the way ke Benteng, kita ngelewatin Mesjid Agung Kota Sabang.
Bujuk-bujuk bang Ewin, akhirnya gw dan temen-temen bisa singgah di Mesjid Agung Kota Sabang.
Seperti biasa, poto-poto lagi dong di sini….
Cukup 10 menit poto-poto di Mesjid Agung Sabang, kami langsung cusss lagi.

Mesjid Agung Sabang

Mesjid Agung Sabang

Nyampe di Benteng, sore udah semakin gelap.
Bangunan Benteng sendiri ada di dataran yang lebih tinggi dari tempat mobil berhenti.
Jadi dari mobil, kita harus menaiki tangga beton ke arah Benteng.
Benteng sendiri berupa bangunan bulat persis di puncak tertinggi dataran yang ada di situ.
Setelah menaiki tangga, kita akan dihadapkan pada jalan setapak dari paving block yang sudah mulai berlumut di sana-sini. Dinding kanan kirinya berupa batu dan tanah yang udah bercampur dengan pohon-pohon yang tumbuh subur di situ.
Kesannya adem, tapi serem :D
Di pintu masuk benteng ada sebatang meriam, yang mulutnya tepat di jendela yang menghadap ke laut lepas.
Tanah di depan benteng miring landai ke arah laut (klo ga hati-hati, bisa ngegelinding dan sukses mendarat di laut lho :D)
Poto-poto di depan Benteng dan laut lepas, ga terasa senja semakin temaram.

jalan menuju Benteng

pemandangan ke laut lepas dari depan Benteng


itu bangunan Bentengnya



meriam tua yang masih ada di Benteng


Waduh….. ga keburu nih dapet sunset di Sabang Fair.
Nah… di sini gw nyadar banget efek dari ketidakpatuhan dengan schedule. Banyak banget destinasi yang di-skip sama leader rombongannya, yang bikin gw ngamuk.
Ya gimana nggak?
Beberapa destinasi itu justru merupakan spot-spot cantik andalan Kota Sabang ini.
Sebut aja Pantai Kasih, katanya sunset di situ paling cihuy se-Sabang.
Waktu gw tanya leader, kenapa ga ke sana? Jawabnya “Tempatnya ga bagus koq mbak”.
Lha? Klo ga bagus, kenapa lu masukin ke itinerary???
Rasanya pegen gw buntelin pake sarung tu orang, trus gw gelindingin ke laut.
Bukan cuma Pantai Kasih yang di-skip, tapi juga Pantai Aneuk Lot, Anoi Hitam.
Ada revisi nih fren… Aneuk Laot itu ternyata bukan pantai, tapi danau di tengah Pulau Weh. Trus… benteng yang tadi itu adalah tempat pengintaian tentara Jepang waktu masa penjajahannya dulu. Benteng itu ada di daerah Anoi Hitam, katanya di pantainya ada batu yang kalo diliat dari samping mirip gajah (tapi kemaren gw ga liat tuh, di sebelah mana ya?)

Thank’s to Herry, yang udah ngasi koreksian… untung punya sohib yang yang pernah jadi kuncennya Sabang :D

Tadinya Pantai Sumur Tiga juga mau di-skip, gw ngotot supaya besok sunrise bisa ke sana.
Sampe gw bilang aja, klo ga ada yang pada mau ke Sumur Tiga, gw bakal sewa mobil sendiri dan nungguin sunrise di sana. Dengan catatan, ga boleh ada yang ngikut!
Akhirnya tu leader nyerah, dan setuju, besok sunrise di Sumur Tiga.

senja itu di Benteng

menjelang sunset (yang ga keburu)

harus cukup puas dengan langit yang berwarna jingga sore itu


Dari Benteng, perjalanan dilanjutkan ke Sabang Fair, sekalian makan malem di sana.
Yang disebut Sabang Fair itu ternyata semacam alun-alun kota, di mana banyak tenant penjual makanan. Letaknya di pinggir laut, ada live music-nya.
Malem itu gw pesen Nasi Goreng Ayam doang.
Temen-temen yang laen pada rebutan pesen Sate Gurita yang katanya jadi menu andalan di situ.
Ga deh, gw makan makanan yang biasa-biasa aja, udah pasti rasanya.
Di sini, karena tadi pas ngelewatin pasar liat duren berserakan di pinggir jalan, akhirnya kita usul, patungan beli duren.
Jadi lah makan malam itu ditutup dengan pesta duren. Hmm…….. yummy…. yes!
Pulang ke homestay udah jam 10an gitu.
Bersih-bersih, packing, langsung pules.
Besok kudu bangun lebih pagi, karena jam 5 udah harus cusss ke Pantai Sumur Tiga.



Dieng Culture Festival 2012 – Diengers, Cerita Kita Berawal di Sana



Semua Berawal dari Sini……
Dari sebuah trip ke salah satu sudut Propinsi Jawa Tengah,
di sebuah kawasan dataran tinggi bernama Dieng.
Di ketinggian 2093 mdpl, menemukan kehangatan keluarga, jabat erat sodara,
dan perasaan seperti menemukan sebuah “rumah” untuk pulang.


Setaun yang lalu, di penghujung minggu yang lumayan gerah, cerita itu berawal di sebuah gerai donat terkenal di sudut Plaza Semanggi.


Jumat, 29 Juni 2012
18.30 wib

Dengan tergesa-gesa gw menaiki tangga pelataran Plaza Semanggi.
Huft… blom telat ya…
Gw mulai scanning, di mana rombongan yang akan ke Dieng? Hmm… itu dia!
Sesuai tek-tok-tek-tok di message, leader trip kali ini adalah seorang cewe berambut panjang diikat ekor kuda dengan topi baseball menutupi sebagian wajahnya, bercelana pendek dan kaos tanpa lengan, Zee!
Say hello, dan registrasi ulang, sambil nunggu rombongan yang lain, gw ikut ngejogrok di salah satu sudut gerai donat itu.
Seperti biasa, kali ini pun gw ngikut trip tanpa seorang teman pun yang gw kenal. Semoga bisa dapat teman baru yang asyik dan bisa saling meracuni untuk trip-trip selanjutnya :D

Satu persatu peserta trip mulai berdatangan, trus registrasi ulang. Dan ga ada satu pung yang gw kenal :D
Gw sempet nanya Zee, bisnya di mana?
“Di samping tangga mbak, ada bis ¾ warna abu-abu, ada tulisan bus 1 dan bus 2 di kaca depannya”, jawab Zee.
Ok, mari kita liat… sekalian nyimpen carrier dan nge-take seat di bus.

Di samping tangga turun dari pelataran, gw liat ada 2 bus ¾ warna abu-abu standby.

Masih dalam rangka meyakinkan diri, gw cek lagi kaca depannya, bener ga ada tulisan bus 1 dan bus 2?
Trus, gw nanya deh sama bapak-bapak yang ada di situ. “Pak, ini bus rombongan yang akan ke Dieng?”
Si bapak mengiyakan.
Gw cek lagi, yang mana bus 2, karena nama gw terdaftarnya di bus 2.
Ouw, ternyata bus 2 yang barisnya di belakang.
Gw cek, sebagian kursi udah ada yang nge-take. Trus gw liat kursi yang persis di dekat pintu masuk masih kosong. Yeaaayyy!!!
Gw nge-take kursinya ah…. posisi strategis, deket pintu, space-nya agak legaan.
Ok, taro jaket pinkgonjreng! “Ini seat gw ya” :D

Sebelum berangkat, ada cewe berambut pendek yang celingukan nyari seat di bus.
“Hei, blom dapet seat ya? Nih, di sebelah gw kosong, mo duduk di sini?” tanya gw.
Linar! Ini yang akhirnya jadi teman seperjalanan gw Jakarta-Dieng-Jakarta dan juga jadi roommate waktu di Dieng.

Jam 9 malem bus mulai jalan.
Baru juga bus jalan, ada cowo yang ngajakin Linar ngobrol, mas Aga.
Jadilah awal perjalanan malam itu gw, Linar, mas Aga ngobrol seru.
Sesekali Zee ikut nyamperin sambil mastiin peserta di bus 2 aman, sehat, sejahtera… hehehhehehe…

Ini perjalanan gw ke Dieng untuk yang ke-2 kalinya.
Jadi gw udah bisa kira-kira, bakal berapa lama harus duduk manis di dalam bus.
Oh iya, kali ini gw ke Dieng dalam rangka mengobati rasa penasaran gw pada cerita tentang anak berambut gimbal yang ada di Dieng.
Kenapa? Bagaimana? Apa? Siapa?
Akhirnya begitu ada open trip Dieng Culture Festival, gw langsung bilang “I’m in!”.

Harusnya perjalanan Jakarta–Dieng bisa ditempuh dalam waktu sekitar 10-12 jam, tergantung kondisi jalan, lalu lintas, kecepatan kendaraan dan seberapa sering busnya mlipir ke rest area.
Tapi kali ini, mungkin juga karena bertepatan dengan acara Dieng Culture Festival ya… jadi jalanan terlihat lebih padat. Bus pun jalannya ga kenceng seperti sprinter, tapi lebih kalem seperti becak :D

Udah capek ngobrol-ngobrol, mulai dari yang jelas, sampe yang ga jelas (hihihihihi), akhirnya gw dan Linar sama-sama merem.
Buka mata, masih gelap…. ohh, blom sampe rupanya (bobo lagi).

Buka mata lagi, di luar udah mulai terang “Udah sampe mana ya?”
Hmm… ternyata udah mulai memasuki wilayah Jawa Tengah.
Bus jalan terus. Di luar keadaan semakin terang.
Waktu ke Dieng yang pertama kali, jam 7 gw udah sampe di homestay dong.
Tapi kali ini, macetnya luar biasa, dan setelah menempuh perjalanan sekitar 15 jam, akhirnya jam 12 siang kami tiba di homestay. Finally

Bagi-bagi kamar, gw sekamar dengan Linar dan Andin.
Hmm…. Dieng masih dingin seperti waktu Februari kemarin gw ke sana.
Dan ga tau kenapa, gw betah dan seneng banget klo bisa jalan-jalan ke tempat yang udaranya sejuk dan segar. Cuci paru-paru istilah gw. Seperti trip kali ini.

Udah sampe di homestay pun, gw blom banyak kenal teman-teman 1 bus tadi.
Baru kenal Linar, Andin, mas Aga, Windy :D

Awalnya, karena perhitungannya udah nyampe di lokasi di pagi hari, kami ingin liat (dan ikut) acara minum Purwaceng rame-rame.
Tau kan Purwaceng itu apa?
Purwaceng itu minuman khas Dieng yang menurut cerita berkhasiat seperti ginseng. Bener/ga gw ga ngerti, karena sampe saat ini pun gw blom pernah nyobain… hehehehhee…

kawasan Candi Arjuna siang itu


Abis makan siang, kami bergerak ke kawasan Candi Arjuna.
Siang itu cuaca sangat bersahabat. Langit biru dihiasi gumpalan-gumpalan awan putih.
Udara yang sejuk walaupun matahari tersenyum dengan hangatnya (klo ga mo dibilang panas sih :D).

Karena suasana di sekitar kawasan Candi Arjuna sangat rame, dan kami pun datengnya udah siang, supaya tetap bisa ngikutin itinerary yang udah dibuat, jadi gw dan teman-teman ga bisa berlama-lama di situ.
Beres poto-poto, keliling-keliling, Zee ngajak nerusin ngubek-ngubeknya ke Telaga Warna.
Tapi teuteup…. sebelum kabur, poto-poto duluuuuuuu……


ketika belum kenal dekat pun, rusuhnya udah terlihat :D


gerbang Telaga Warna


Abis dari Candi Arjuna, gw dan teman-teman melipir ke Telaga Warna.

Ngeeeeeeennnggg… naik bus sampe di parkiran Telaga Warna.
Mari kita liat, berubah kah sang telaga setelah kunjungan gw yang terakhir???











telaga yang tenang

Karena dalam suasana Dieng Culture Festival, di Telaga Warna pun rame banget.

Jadi ya… susah banget mo nyari spot-spot yang kosong.
Di sini gw mulai kenal dengan teman-teman yang tadi 1 bus dengan gw.
Ada Gina, Gita, Iyus, mas Ahmad, Ivan, Astrid, Mita, Eera, Hendra, Haris, mbak Endah, mas Kurnia (di akhir trip baru tau kalo panggilannya mas Kef), mbak Dijeh, Winda, mbak Tri, trus…. sapa lagi ya?

hijau…biru…toska…

Di sini, kerusuhan rombongan makin terlihat.
Jalan-jalan, keliling-keliling, liat sana sini, ga lupa foto-foto, dan ketauan lah kalo semua banci kamera :p
Ga boleh liat ada yang foto-foto, langsung deh pada nimbrung pasang aksi :D
Mo liat kenarsisan temen-temen baru gw???
Cekidot….

mas Kef, mbak Endah, mbak Dijeh, Winda, Linar, mbak Tri

hahhhhhh…. udah narsis itu Winda :p


tampang boleh kalem…. kelakuan???? :p :p :p


baru tau klo mas-mas yang di depan itu paling hobi narsis :D


auw… auw… auw… ini Zee, leader trip gw


Beres ngerusuh di Telaga Warna, Zee ngajakin gw dan teman-teman ke Kawah Sikidang. Rebutan masuk ke bus, dengan tetap ramenya, dan ngeeeeeeeeennnnnggggg….. ga pake lama, nyampe deh di Kawah Sikidang.
Klo waktu pertama kali ke Dieng semua gw tempuh on foot, alias jalan kaki a.k.a ngeritingin betis, kali ini karena waktu yang sempit, ke mana-mana gw dan teman-teman dianter si bus abu-abu.

Kawah Sikidang


Sampe di Kawah Sikidang, langsung deh bubar barisan. Semua langsung ngacir sendiri-sendiri, ga tau juga nyariin apa? :D

Gw bareng sama Linar, sambil liat kanan kiri sapa tau ada yang bisa dikecengin, maksudnya sapa tau ada yang bisa di-shoot pake kamera.
Akhirnya gw sampe di pinggir kawahnya.










Bau belerang terasa banget lho di pinggir kawahnya. Asapnya juga terlihat di mana-mana. Kudu wajib harus pinter-pinter liat arah angin, jadi bisa menghindari uap belerang yang ngepul dari arah kawah.
Dan u know, di pinggir kawah pun, itu rombongan narsis teuteup rusuh dan sok bergaya ala boyband :D
Penasaran kan, mo liat aksi boyband from Dieng??? Let’s check it out!

langit di atas Sikidang sore itu…biru……..

sejauh mata memandang, yang keliatan……kawah :D

ayo… coba cari, mana itu para Diengers???

hag.. hag.. hag… narsis part 1

suuuutttt…. ada anggota boyband Korea :D

tuh… uap belerangnya #pasangmasker

see??? narsisnya boyband Diengers :D
mbak fotografer dan asistennya :p







mo moto mas-mas yang lagi gitaran, kenapa itu ada yang nyempil di ujung???

again! narsis forever :D





Cukup narsis-narsisan di Kawah Sikidang, markipul….
Ntar malem di kawasan Candi Arjuna kan ada beberapa acara juga, ada pesta kembang api, wayang kulit, trus apa lagi ya???
Sekarang, ayo kita ngebut ke homestay, pengen meluruskan punggung sejenak.
Cuuuuussssssssssssss…….


– malemnya –
Malem ini, gw dan teman-teman dapet traktiran makan mie Ongklok dari Zee…. duh, itu leader baek amat yak? semua ditraktir makan mie khas Dieng ^.^

Udah pada mandi, sholat, istirahat, rebonding punggung, mari kita capcus ke warung mie di depan homestay.
Sekitar 25-an Diengers malem itu dapet traktiran mie Ongklok yang masih ngepul dari mangkok beling berukuran sedang.
Hmm…. wanginya yummy….
Let’s try it out!

Mie Ongklok ini adalah mie khas Dieng.
Isinya terdiri dari mie kuning pipih, sayuran berupa irisan kol, irisan daun bawang dan ditaburi bawang goreng. Kuahnya kental dan beraroma khas.
Cocok banget dimakan di udara sejuk cenderung dingin seperti malam ini.
Saking dinginnya di Dieng, semangkuk mie Ongklok yang awalnya dipenuhi asap tanda kuahnya sangat panas, waktu disruput ternyata ga panas lho….
Mencicipi kuah mie Ongklok, hmm….. rasanya gurih, agak manis karena ada campuran kecapnya.
Marilah…. kita habiskan semangkuk mie Ongklok ini sebelum dingin sempurna….

mie Ongklok traktiran dari Zee, yummy


Selain mie Ongklok, Dieng juga terkenal dengan kentang gorengnya yang enak. Sayang, gw ga sempet moto kentang goreng yang gw beli di sana. Gimana mo difoto coba? Baru juga sebungkus kentang goreng sampe di tangan, dalam sekejab langsung bersih tak bersisa akibat nggragasnya gw dan teman-teman Diengers yang lain :D

Abis makan mie Ongklok, sebagian teman-teman ada yang melanjutkan rasa penasarannya dan jalan-jalan ke seputaran Candi Arjuna.
Klo gw sih, milih balik ke homestay dan masuk ke dalam hangatnya pelukan si sleeping bag :D
Bobo ah… besok pagi mo ngejar sunrise ke puncak Sikunir.


Minggu, 1 Juli 2012
Hoaaaaaaeeeemmmmmmm…… #nguletdaribaliksleepingbag
Selamat pagi……… ^.^

Dieng subuh ini dingin banget.
Kalo ga karena pengen liat sunrise dari puncak Sikunir, rasanya males banget bangun dan keluar dari hangatnya pelukan sleeping bag ini.
Tapi…….. hayuk ah! Semangat!
Ga pake mandi :D cukup cuci muka, gosok gigi, ganti baju (eh, ganti baju ga ya waktu itu? lupa gw :D), gw dan teman-teman langsung cuuusss ke depan homestay.
Si bus abu-abu udah setia di depan gang, nungguin para Diengers naik dan siap terbang ke Sikunir.

Subuh itu masih gelap banget. Dan yang pasti masih super duper dingin, pake banget!
Gw aja pake baju udah dobel-dobel gitu, kaos, jaket, syal, sarung tangan, kaos kaki, sepatu……. brrrrrr… dingin bangeeeeeeeeeeeetttttt….

Desa Sembungan, desa tertinggi
di Pulau Jawa


Sampe di Desa Sembungan, yang merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa, kebayang kan gimana dinginnya subuh itu?
Turun dari si abu-abu, gw dan teman-teman masih harus jalan kaki ke puncak Sikunir.
Oh iya, Sikunir ini adalah bukit yang biasa dijadikan tempat untuk mengintip sunrise di Desa Sembungan.
Jalan kaki melewati rumah-rumah penduduk yang sebagian masih tertutup rapat, cahaya lampu yang bersinar temaram, sepi, kadang terdengar suara kokok dan kotek ayam, kami pun berjalan menuju Sikunir.

Sampe di kaki Bukit Sikunir, keadaannya gelap.
Untung gw sempet bawa senter kecil untuk menerangi jalan setapak yang mengarah ke atas.
Pelan-pelan, gw dan teman-teman mulai menapaki punggung Sikunir.
Jalan setapak yang awalnya terlihat, lama kelamaan makin menanjak, dan makin kecil.




Subuh itu, punggung Sikunir harus menahan beban lebih berat dari biasanya. Kebayang dong ya…. yang subuh itu pengen liat sunrise dari puncak Sikunir kan bukan Diengers doang.
Dari setengah punggung Sikunir, jalan setapak mulai padat. Begitu sampe di puncak…. wow… padet bangeeeeeeettttt…
Berusaha nyempil dikit, supaya gw bisa dapet spot yang cihuy, yang ada, gw sama Linar malah kejebak di pinggir puncak Sikunir.
Di sebelah kiri, depan, belakang, udah full, sesak, di sebelah kanan…. jurang… hiiiyyyyy…..

langit yang mulai bersemburat pagi itu


Semburat kuning jingga mulai menyeruak kabut pagi di ujung cakrawala. Perlahan sederetan gunung mulai jelas bentuknya di kejauhan, puncak Sindoro berdiri gagah paling depan.
Kumpulan awan putih menghiasi sela antara gunung-gunung bagaikan permadani.
Wuuiiiiiihhh… bener-bener negeri di atas awan deh….

sinar mentari pagi mengintip dari balik pepohonan


Begitu mentari bersinar sempurna, gw dan teman-teman mulai menuruni punggung Sikunir untuk balik ke parkiran bus. Sepanjang perjalanan turun, gw masih beberapa kali bisa mengintip cantiknya Sikunir dan sekitarnya. Liat deh foto-foto ini, siapa sih yang ga betah dan senang tinggal di sana?

mentari pagi, langit biru, awan putih, dan dedaunan yang basah oleh embun

sinarnya hangat


Sampai di kaki Sikunir, terbentang Telaga Cebong yang pagi itu masih terlihat gelap, terlindungi bayangan bukit Sikunir.

Telaga Cebong, di kaki Sikunir

negeri di awan




Dari kaki Sikunir, gw dan teman-teman jalan ke arah parkiran bus di gerbang Desa Sembungan.
Oh… si abu-abu setia nunggu di sana.
Yuk kita balik ke homestay, laper merajalela :D

Sampe homestay, sarapan, rebutan kamar mandi, packing dan kami siap mengikuti acara terakhir dan paling ditunggu di perjalanan ini. Prosesi ruwatan anak rambut gimbal di pelataran Candi Arjuna.

Sengaja gw dan teman-teman berangkat ke Candi Arjuna agak awal, jam 10-an kami udah ke sana. Alasannya supaya bisa liat-liat dulu dan nyari tempat yang strategis.
Kawasan Candi Arjuna siang itu rame banget… pengunjung dan masyarakat setempat berbaur jadi satu. Tua, muda, dewasa, remaja, anak-anak, semua ada.

Karena acaranya baru mulai jam 12-an, akhirnya gw dan teman-teman keliling dan foto-foto tentu saja :D
Eh iya, di sini gw nemu domba khas Dieng, namanya Dodi – Domba Dieng (yang namanya Dodi, i didn’t mean it ya…. emang disebutnya begitu :D).


siang itu kompleks Candi Arjuna, meriah!!!

lokasi pagelaran wayang kulit semalam

Sendang Sedayu, tempat penyucian anak berambut gimbal yang akan diruwat

dodi a.k.a domba Dieng :D


dengan pakaian khasnya,
bapak tua ini pun mengikuti kemeriahan
di kawasan Candi Arjuna
semua berbondong-bondong
ke Dieng Culture Festival




siang itu…


Jam 12 siang, iring-iringan peserta prosesi ruwatan rambut gimbal mulai memasuki kawasan Candi Arjuna.
Matahari bersinar terang benderang, tapi gw masih setia dengan jaket pink. Anginnya ga nahan ya booo…… semriwing…… wuss.. wuss… wusss…..



sesajen yang menjadi pelengkap pelaksanaan prosesi


Prosesi ruwatan diawali dengan dibawa masuknya aneka sesajen ke area ruwatan, disusul aneka “permintaan” dari anak-anak berambut gimbal yang akan dipotong rambutnya.
Kemudian rombongan anak-anak berambut gimbal yang didampingi oleh orang tuanya memasuki area prosesi dan langsung mengambil tempat di samping kiri candi.
Rombongan para tetua dan sesepuh masyarakat menyusul di belakangnya, diikuti rombongan para petinggi dan pejabat setempat.






yang ini adalah “permintaan”
dari anak-anak berambut gimbal
sebagai persyaratan dipotongnya rambut mereka


Sebelum memulai prosesi penmotongan rambut gimbal, para sesepuh dan tetua masyarakat memasuki bangunan candi untuk berdoa sesaat. Dan kemudian prosesi ruwatan sekaligus pemotongan rambut gimbal dari anak-anak kecil itu segera dimulai.
Satu per satu anak-anak berambut gimbal itu dipanggil namanya, dan disebutkan apa yang menjadi permintaannya sebagai syarat pemotongan rambut gimbalnya.
Berbagai ekspresi dari anak-anak kecil berambut gimbal itu. Ada yang menangis, diam saja, tapi ada juga yang dengan cerianya melambai-lambaikan tangannya pada saat rambutnya dipotong.
Rambut gimbal yang telah dipotong itu kemudian dikumpulkan dan selanjutnya akan dilarung/dihanyutkan di sungai yang bermuara ke laut.

Foto-foto berikut ini adalah pelaksanaan pemotongan rambut gimbal di kompleks Candi Arjuna.

para tetua dan sesepuh masyarakat

deretan sesajen


rombongan tetua dan
deretan anak berambut gimbal
prosesi pemotongan rambut dimulai
prosesi pemotongan rambut gimbal
prosesi pemotongan rambut gimbal

ada yang nangis, takut, tapi ada juga yang ceria

macem-macem ekspresi dari anak-anak berambut gimbal yang dipotong rambutnya

Siang itu ada 7 orang anak berambut gimbal yang mengikuti prosesi ruwatan dan pemotongan rambut gimbalnya.
Setelah selesai, gw dan teman-teman buru-buru balik kanan dan berjalan ke arah homestay.
Eh… tiba-tiba gw ketemu dong dengan adik perempuan kecil yang dipanggul oleh bapaknya. Dan ternyata si adek kecil ini pun berambut gimbal.
Tapi menurut bapaknya, adek kecil ini belum mau dipotong rambutnya, jadi tadi ga ikut prosesi ruwatan.
Selain si adek perempuan kecil itu, ternyata ada juga seorang adek laki-laki yang juga berambut gimbal dan masih belum mau dipotong rambutnya.
Rambut adek laki-laki itu panjangnya sepinggang lho… gimbal kriwil-kriwil… mengingatkan gw sama penyanyi Bob Marley :D


dia menyembunyikan wajahnya
begitu tau banyak yang pegang kamera
rambut gimbalnya panjang



Balik ke homestay, beresin barang bawaan, trus naek ke si abu-abu, nungguin nasi box makan siang, dan kami pun berangkat, back to Jakarta.
Meninggalkan dataran tinggi Dieng dengan segala keunikannya, udara segarnya, hawa dinginnya yang menggigit, keramahan masyarakatnya dan segala yang membuat kangen, untuk kembali ke sana.

Perjalanan ke Jakarta masih panjang, istirahat dulu ya….
Sssstttt… sebagai bocoran, perjalanan Dieng – Jakarta yang harusnya ditempuh sekitar 10 jam, kali ini kami harus merelakan badan terguncang-guncang di dalam bus selama lebih dari 17 jam!!!
Silakan bayangkan sendiri gimana rasanya :D



Cerita selanjutnya, silakan intip di sini….. 






Diengers – Antara Yogya dan Borobudur


Jumat –  Minggu
24-26 Mei 2013

Kali ini gw mo cerita aboutmy family“, Diengers.
Udah pada kenal blom???
Klo blom, nih gw ceritain yaaaa…..

Diengers goes to Yogya-Borobudur
(thanks to Mas Kef, mbak En untuk foto-fotonya)


Ini keluarga yang gw temukan setaon lalu. Awalnya ga sengaja, ketemu, kenal, ngobrol, foto-foto bareng dan merusuh bersama waktu ngetrip ke Dieng, pas Dieng Culture Festival akhir Juni taon 2012 kemaren.
Abis itu trus mulai sering ketemuan, ya bukber, nonton, makan bareng, hunting foto, hunting kuliner, bahkan beberapa kali ngetrip bareng juga.
Tau-tau koq feels like found a family.

Nah… hasil ngobrol-ngobrol di grup, akhirnya sepakat untuk jalan-jalan bareng pas Waisak kemaren.
Mulai deh nyari alternatif transportasi.
Pengennya nyoba naek kereta ekonomi Jkt-Yogya, tapi sayang… pas cek online, H-90, tiket kereta ekonomi yang berangkat Jumat malem soldout!
Hanya ada yang berangkat siang.
Hmm… ga bisa klo siang, kan masih di kantor.
Ok, cari alternatif yang lain. Cek kereta bisnis, executive. Ada!
Karena bisnis dan executive bedanya cuma 10 apa 20 ribu gitu, akhirnya gw, Windy dan Gita milih pake kereta executive aja perginya.
Beberapa Diengers ada yang milih pake pesawat, supaya ga terlalu lama di jalan, dan beberapa Diengers yang lain berangkat menggunakan kereta ekonomi yang siang,  ada juga yang pake executive tapi berangkatnya siang juga. Dan ada juga 1 Diengers yang akhirnya berangkat pakeeeeee…………. :D

sip! tiket berangkat dan tiket pulang done!


Udah dapet tiket berangkatnya, gw lalu nyari tiket untuk balik ke Jakarta-nya.
Browsing-browsing, akhirnya dapet juga 7 tiket kereta ekonomi Yogya-Jakarta untuk tanggal 26 Mei 2013, jam 5 sore.
Sip, transportasi pergi dan pulang aman.
Sekarang, mari kita cari penginapannya.

Again… ngubek-ngubek inet nyari penginapan, koq ya ndilalah tanggal segitu semua fully booked???
Hadeeeeeuuuuhhhh….. #usepusepjidat
Dari kelas dormitory, hostel, sampe hotel, semua fully booked.
Akhirnya ngadu dong sama Diengers family di grup….hiks…
Keluar lah ide, “kita rent a house aja”!
Nyoba nyari di yogyes akhirnya dapet rent house yang harganya lumayan on budget, Casa Callisto.

tergoda dengan foto yang ada di yogyes.com


Gw lalu nyoba telpon ke nomor yang ada di web, dan disambut dengan suara lembut dari seorang ibu, bu Yani.
Waktu gw konfirmasi tanggal dan ke-available-an dari Casa Callisto, alhamdulillah, tanggal 25-26 Mei 2013 masih kosong!
Akhirnya gw dan teman-teman sepakat DP aja, supaya aman.
Ok, DP gopek.
Lega.

Transportasi, aman.
Penginapan, aman.
Tinggal berangkat aja.
Masih harus nunggu sekitar 3 bulan lagi :D


Time flies……………………….. so fast……………………..


Ga terasa, udah di tanggal 24 Mei 2013.
Gw, Windy dan Gita udah sepakat janjian ketemu di Stasiun Gambir jam 7 malem, coz di tiket keretanya bakal berangkat jam 20.20 wib.
Jadi lah sore itu gw balik kantor, trus langsung beres-beres, dan siap-siap cuuzzz ke Gambir.
Dan ya…. ternyata Jumat sore itu macet banget :((
Mikir deh gw… ini ke Gambir enaknya pake apa ya?
Pake busway??? Begitu liat yang antri??? Oh No!!!
Taxi??? Apalagi……
Akhirnya pilihan bijak, naek ojek ajah!
Oke, sip. Langsung manggil bapak ojek yang biasa ngetem di deket kost, dan cuuuzzz ke Gambir.

Pake ojek ke Gambir aja gw ngerasa macet dan lama banget ini sampenya.
Mana klakson tat..tit..tat..tit.. mulu dari kanan kiri motor si bapak ojek.
Akhirnyaaaaaa……. alhamdulillah, gw sampe dengan selamat di Gambir.
Buru-buru lari ke loket untuk nuker print-print-an bukti bayar tiket dengan tiket fisik.
Tadinya kan gw pikir untuk tiket kereta ekonomi pulang dari Yogya ke Jakarta, nukernya ga bisa di Gambir.
Pas ngantri dan nunggu si mas loket nyetak tiket berangkatnya, iseng gw nanya “Mas, klo tiket kereta ekonomi, bisa dicetaknya di stasiun mana aja ya?”
Itu asli gw cuma nanya aja, tanpa ekspektasi apa-apa.
Jawaban si mas loket bikin gw senyum dong, “Bisa koq mbak dicetak di sini, mana bukti elektroniknya, sini saya print sekalian”.
Wah…… makasih mas loket…. seneng banget gw dengernya, jadi ga bingung lagi ntar di Yogya harus nuker tiket elektronik dengan tiket fisik.
Buru-buru gw kasiin tuh tiket elektronik bukti bayar tiket kereta ekonomi Yogya – Jakarta.
Dan ga sampe 5 menit kemudian, serenteng tiket udah sampe di tangan gw.
Makasih mas loket…… #senyummanis #dadahdadahsamasimasloket

berangkat kitaaaaaa…..

tiket pulang??? aman! :D


Tiket dah di-print.
Sekarang nyari tempat untuk duduk dulu sambil nunggu Windy dan Gita sampe.
Eh… Windy udah kirim message klo udah di Gambir.
Sent – received – sent – received, akhirnya Windy nongol di depan gw.
Wokeh, sekarang tinggal nunggu Gita!
Mana ya ni anak, dipanggil-panggil di grup ga nongol-nongol juga.
Coba ditelpon, hapenya mati dong….. waduuuuhhh….
“Gita………………. kamu di mana?????” #teriakpaketoa

Gw sama Windy udah beli bekal makan malem, Gita blom juga ada kabarnya.
Sementara jam udah mulai bergeser mendekati angka 8 malam.
Owemji, Gita… where are you???
Panik? Udah pasti. Takutnya kenapa-kenapa ni anak di jalan.

Di grup teman-teman udah pada ngasi saran a, b, c, d, etc.
Ada yang bilang “Titipin aja tiketnya Gita ke yang jaga di pintu masuk”.
Lha??? Emang bioskop??? Bisa titip tiket klo mo nonton?
Haduuuuuuhhh… ini gimana ya????
Akhirnya gw coba sms aja Gita-nya, “Gitaaaa… aku sama Windy udah di depan loket deket pintu masuk yaaa…. kereta berangkat jam 20.20”.
5 menit kemudian ada balesan, “Iya mba lagi di Monas nunggu busway lamaaa :(“
Nah… tu anak udah di halte busway ternyata.
Duh… jam segini nunggu busway yang ke arah Gambir kan susah banget.
Akhirnya gw sms lagi “Klo busway lama, nyebrang cari ojek aja… biasanya di situ suka ada ojek. Aku di depan loket ya”.
Dan cuma dijawab “Oke”.
See????!!!! Aaaarrrrgggghhhhhh……. Gitaaaaaaaaaaaaaa…..

Jam 8 kurang 10, tiba-tiba ada cewe kumel, kucel, bawa ransel dan langsung ngedeprok di depan gw sambil cengar-cengir sorry ya Git, di blog gw, gw bebas mo nulis apa aja :D
Aaaaaarrrrrrggggghhhhh…… masih sempet nyengir dia, ga tau apa gw udah panik nunggunya?????
Buru-buru tu anak gw usir, biar beli makan malam dan ntar makannya di kereta aja.
Jam 8 malem lewat 5 menit!
Akhirnya gw, Windy dan Gita selamat sampe ke kereta.
Karena jumlah kita ganjil, cuma ber-3, akhirnya Gita – sesuai dengan nomor seat di tiketnya – harus rela, ikhlas duduk di baris sebelah, sebelahan dengan mas-mas yang entah siapa namanya :D
Gw sama Windy sebelahan nomor seat-nya.

Blom juga kereta jalan, gw, Windy dan Gita masing-masing udah ngebuka bekal makan malemnya… hehehehehehe…
Keliatan banget sih yang pada kelaperan :p

Beres makan, kenyang… dan u know lah apa kelanjutannya? :D
Tapi gw dan Windy ga langsung bobo cantik koq, kita masih sempet cerita-cerita sambil becanda di grup dengan Diengers yang lain.
Tapi…. makin lama koq ini keretanya makin dingin ya???
Hmm… mungkin itu pertanda time to sleep :)
Oke lah…. mari kita bubu dulu yaaaa……
#pasangsandarankaki #ambilselimut #benerinbantal dan……..zzzzzzzzzzzz….

bobo yuk!


—————————– zzzzzz, mimpi ketemu pangeran berkuda putih —————————————-



Sabtu, jam 3 subuh, kereta mulai memasuki daerah Yogya.
Jam 3.40 kereta berhenti sempurna di Stasiun Tugu, Yogya.
Hello Yogya… here we come ^.^

Turun dari kereta, gw sempet teriak-teriak di grup manggilin Andin yang udah sampe duluan. Dan janjian di depan stasiun.
Baru juga keluar dari toilet, eh… Andin udah ada aja di peron.
Selain Andin, ada juga Hendra dan Ivan yang udah nyampe duluan siangnya.

“Lo mo ke mana vy sekarang?” Hendra nanya.
“Hmm…. ke mesjid yang di samping pariwisata aja deh, sekalian subuhan dan nunggu pagi, nunggu dijemput Iyus dkk”, jawab gw.
Akhirnya sepakat, gw, Windy, Gita dan Andin akan nunggu Iyus di mesjid yang ada di samping kantor pariwisata. Sementara Hendra dan Ivan balik ke hotel, di daerah Sosrowijayan.
Eh iya, gw blom cerita, masih ada 1 Diengers lagi yang subuh itu masih berjuang untuk sampe ke Yogya, Gina! :D
Ni anak sejak kemaren siang udah bikin gw ngakak di kantor dengan cerita “mis“-nya dia akan tiket berangkat.
Cerita lengkapnya??? tanya aja deh sendiri sama anaknya langsung :D
Ga ikut-ikutan gw…… piss ya Gin :p

nih, yang namanya Gina dan Gita
nama mirip, kelakuan juga mirip :p


Udah subuhan, udah bersih-bersih (tadi nebeng di toilet mesjid, hehehehe..), sekarang tinggal Iyus dan Yona jemput deh (mo nebeng mandi + ganti baju).
Biar gampang, gw, Windy, Gita dan Andin nunggu dijemputnya di pinggir Malioboro, persis di seberang Sosrowijayan.

Message: sent – received – sent – received – …..

Akhirnya…. “itu mobilnya….!” teriak gw waktu sebuah mobil dengan stiker promosi gede yang melintang menutupi ampir seluruh body mobil lewat di depan kami.
Yah… yah… yah…. koq ga berenti?????
Ambil hape, langsung call Yona…. “sdgsduasf.,sajbfauhfak,sa.sadnha” :D
Mereka kelewataaaaaaaaaaaaannnnnn…..

Akhirnya gw, Windy, Gita dan Andin buru-buru nyamperin, sebelum ditinggal :D
Yeaaaaaayyyy… udah dijemput, bisa mandi deh di hotel…..

Oh iya, Iyus, Yona, Mas Kef dan Mbak Endah adalah Diengers yang berangkat pake pesawat Jumat pagi kemaren. Jadi mereka udah sempet keliling-keliling dulu. dan pastinya udah nginep duluan di Yogya. Jadi…. pagi ini rencananya 4 ciwi-ciwi ini mo nebeng mandi di kamar hotel mereka….
Oke, ayo kita capcus…… ngeeeeeeeennnngggggg……

Sampe hotel tempat kuartet Diengers nginep, langsung deh rebutan kamar mandi, dan Yona berhasil memenangkan perebutan itu.
Mari kita ngantri ya……

— iklan sesaat —


Udah pada mandi, udah ganti baju, udah packing-packing, dan kami siap-siap ke homestay. Sebelumnya udah janjian dulu untuk jemput Hendra dan Ivan di Stasiun Tugu. Dan mas Ahmad akan nyusul langsung ke homestay.
Mari kita let’s go deh….

Beres jemput ke-2 cowo itu, trus kami langsung meluncur ke homestay.
Sampe di depan rumah yang alamatnya seperti yang gw dapet di inet, berasa ga yakin ya..
Bener gitu ini homestay yang mo kita sewa???
Jadi ya… mobil Diengers itu berhenti di depan pagar rumah yang gede (pake banget).
Masak ini sih homestay-nya????

Akhirnya gw telpon deh si bapak yang jaga. Dan bener lho… pak Marsudi keluar dari rumah itu dan ngebukain kita pagar.
“What a………” di depan kami berdiri rumah yang gede (pake banget-banget), 2 lantai.
Hahhhh??? Serius ini Diengers nginep di sini???
Eh…bener dong, itu Casa Callisto-nya. Yeeeaaaaaayyyy…….
Ternyata informasi dan foto yang ada di inet beneran….. #jogetjoget

ini dia “rumah” Diengers selama di Yogya


Masuk ke dalam rumah, wow…..
Ini sih kita liburan di sini ajaaa…. ga usah ke mana-mana lagi :D
Rumahnya homy banget lho….
Baru aja masuk, eh…mas Ahmad juga sampe…
Silakan ngers, cari kamar sendiri-sendiri yaaaa….
Yang di bawah for girls only ya, yang bukan girls, silakan pake kamar yang di atas ^.^

Rasanya udah males ke mana-mana aja lho liat suasana rumahnya yang ngebetahin.
Tapi…. oh iya, ada 1 Diengers lagi kan yang janjian ketemunya di Borobudur… lupa klo ada anak ilang, Gina! :p
Bagi-bagi kamar, trus nyimpen barang-barang, langsung kami capcus lagi ke arah Borobudur.
Tapi sebelumnya, mari kita maksi dulu… laper, tadi pagi ga sarapan.

sebelum berangkat ke Borobudur, mari pamit dulu dengan pak Marsudi,
biar ntar malem dibukain pager klo kemaleman :D


Ngeeeeeennnggg… mobil melaju ke arah Magelang.
Cit.. cit.. cit… cit… Stop! Stop! Stop!
Mobil berhenti di depan sebuah rumah makan ayam kremes dan sego pecel.
Mari kita maksi dulu ngers….

pilih-pilih menu dulu…..


sabar menunggu pesanan maksi

dan narsis pun tetap dijalankan :p

yang laper, yang lagi laporan sama yayangnya, yang ngantuk :D

ni anak selalu nyadar kamera ya kayaknya??? punya alarm gitu??? :p :p :p

akhirnya…….makanan datang…. selamat makan……


Siang itu menu maksinya Diengers adalah:

  1. Nasi Ayam Kremes;
  2. Sego Pecel;
  3. Minumannya macem-macem, ada es teh manis, jus, milkshake, teh tawar, dan teman-temannya;
  4. Puding, macem-macem rasa…. stroberi, coklat, karamel, tiramisu…. hmm…nyam..nyam…

Waktu maksi, gw sempet nelpon Gina, nanya, mo dibawain maksi ga?
Udah maksi/blom?
Yang ditelpon cuma bilang “Ga usah mbak, aku makan di Mendut aja, banyak koq, tenang”
Ya udah deh… ga jadi dibungkusin ayam kremes :)
Akhirnya gw ngebungkus puding aja untuk cemilan di Borobudur.

pudingnya enaaaaaaaaaakkkk….


Beres maksinya, mari kita ngebut lageeeeeeeeee…..
Wuuuuuuuzzzzzzzzzzzz……………..

yuk capcuuuuusssssss……


Sampe di pertigaan Muntilan, ternyata jalan akses ke Borobudur ditutup.
Mobil pun terus melaju. Lewat Mungkid aja.
Baru juga belok di pertigaan Mungkid, udah mulai antri kendaraan yang mengarah ke Borobudur. Mobil pun jalannya mulai ndut-ndutan…
Sampe di pertigaan depan Borobudur, eh…ga boleh belok kiri dong… :(
Sama pak polisi yang jaga malah disuruh belok kanan, ga ngerti itu ke arah mana???
Waduh… bakal jauh banget ini jalannya ke arah Borobudur… #panik
Liat langit, terang benderang, matahari sedang diskon :D
Hmm…jalan kaki, panas-panas, desek-desekan… hmm… hmm… hmm…
Akhirnya di ujung pagar kompleks Borobudur, ada space kosong untuk parkir. Ya udah, parkir di situ aja, biar ga terlalu jauh jalannya.
Dan mobil Diengers pun parkir di kiri dan kanan jalan (emang space yang disediain untuk parkir ada di kiri dan kanan jalan, kami cuma ngikutin koq…..).
Turun dari mobil, ambil perlengkapan, gendong ransel dan… let’s go ngers!!!

hayooooo…itu ber-3 lagi ngapain coba???


Kami jalan ngikutin arus manusia yang berbondong-bondong ke arah Borobudur.
Sampe di sini gw masih bisa komunikasi dengan Gina, yang udah nyampe duluan, tapi di Candi Mendut, dan ngikutin semua prosesi Waisak, termasuk kirab ke Borobudur ini
(serius itu Gin??? 3 kilo lho… jalan kakinya…. hihihihihi… ga kering kerontang ya kepanasan gitu??? :p)

Eh, mendekati Borobudur, bleb! Sinyal hape gw ilang, kabur ga bilang-bilang. Hahhh?????
Waduuuuuuuuuuhhhhh…..
Lost contact dengan Gina di tengah lautan manusia siang itu.
Melipir ke arah loket penjualan tiket masuk Borobudur, trus hitung, berapa orang ini Diengers? (diitung, karena mo beli tiketnya kolektif, bukan karena mo bagi jatah sembako ya….apalagi THR :D)
1 – 2 – 3 – 4 – 5 – … – 13!
Oke, 13 tiket @Rp 30,000.
Yang tugas beli tiket ke loket, serahin aja sama yang badannya gede :D #tunjukIyus

yuk, ke Borobudur ^.^



Tiket udah beli, trus bagiin 1-1.
Tiket Gina ada sama gw, tapi tu anak masih ga ada kabarnya.
Sinyal hape pun masih yang ilang-datang-ilang-datang.
Coba telpon, ga bisa. Akhirnya coba sms.
5 menit, 10 menit, ga dibalas juga.
Inisiatif, Diengers bergerak ke arah arak-arakan Waisak yang datang dari Candi Mendut, kali aja bisa keliatan itu anak kuyus, tipis dengan topi pink dan kaos ungu-nya.
Udah sampe di pinggir jalan, tiba-tiba ada sms masuk ke hape gw
“Aku di Borbud yah, mushola Al Iman, depan loket Borbud depan Borobudur International Visitors. Hape bentar lagi mati forever, please find me heuheuehu”.
Gina!
Langsung gw bales “Tunggu di situ, jgn ke mana2”.
Gw langsung ngasi tau Diengers yang lain, trus bareng-bareng balik kanan, kembali ke dalam kompleks Borobudur.

sebelum nyari si anak ilang, mari kita narsis bersama :D


Gw celingukan, liat-liat, kira-kira di mana nih anak terdampar???
Nah… itu dia! Ngedeprok di teras musholla Al Iman, kaos ungu, topi pink, kucel, kumel dengan carrier segede gaban :p
Akhirnyaaaaaaaa….. Diengers komplit sudah.
Komplit 13 orang, ga lebih dan ga kurang.

Udah lengkap kan? Yuk kita masuk ke Borobudur!

nih si anak ilang, kumel, kucel, bin dekil :p
(thanks to mas Ahmad untuk fotonya yang keren ini)


Baru juga ngelewatin pintu masuk pemeriksaan tiket, ya ampyuuuuuuuunnnnn…..
Ramenya beeeeeeeuuuuddddhhhhh………..
Berasa itu isinya orang semua, kayak ga ada space kosong.
Di kejauhan, Borobudur berdiri dengan megahnya, dan itu pun penuh dengan manusia!
Owemji……………. benar-benar lautan manusia Borobudur hari itu.

Borobudur yang menjadi lautan manusia siang itu


yang beribadah, yang jalan-jalan, yang nonton, semua jadi satu

siang itu, Borobudur penuh dengan aneka ragam manusia

Melipir kanan, melipir kiri, akhirnya Diengers sampe di pelataran Borobudur.
Dan itu…. rame bangeeeeeeeeeetttttt……
Gw mendadak bingung, duh…bisa dapet foto apa ya klo rame begini???
Sempet ngaso dulu di bangku batu, trus poto-poto…. narsis-narsisan… seperti biasa.
Sembari menunggu dimulainya prosesi peringatan Waisak.
Tadinya gw diajakin naik ke Borobudur, tapi karena ngeliat manusia yang begitu rame, ilang niatan gw. Ga kuat antri dan desak-desakannya.
Gw di halaman aja deh….


narsis bersama setelah nemuin si anak ilang yang pake kaos ungu itu :p

Windy, kamu lagi ngapain??? :p
uuuuhhh…ada bodyguard-nya pake kacamata item


Jalan mengelilingi halaman Borobudur, akhirnya kami kemudian tiba di lokasi utama peringatan Waisak.
Ada panggung yang sudah cantik dihias, dan patung Sang Buddha yang diletakkan tepat di tengah panggung.
Lantai panggung dilapisi karpet merah.
Beberapa persembahan dari buah-buahan yang disusun berbentuk kerucut juga terlihat udah ditata dengan rapi di panggung.
Ga ketinggalan hiasan janur kuning, rangkaian bunga dan lilin-lilin besar.
Di depan panggung terhampar karpet kuning yang luas.

sebagian umat yang beribadah di hari itu

Sang Buddha dan berbagai persembahan pelengkap acara Waisak


Gw dan Diengers berjalan di sisi panggung, kemudian terus melipir di bagian halaman yang ga ditutupi karpet kuning, sampe ke bagian belakang area karpet kuning.
Nyari-nyari spot yang kosong, koq udah penuh aja semua?
Dan akhirnya, karena capek + pegel to the max, gw dan Diengers ngedeprok aja di pinggir halaman, di belakang area karpet kuning.
Gw yang kebetulan bawa sehelai kain Bali, langsung aja ngegelar dan kemudian terkapar di atasnya. Cape ya booooo…. mana panas, keringat mengalir derasssssss…..

rombongan bhiksuni
bhiksu muda
salah satu bhiksu senior yang akan memimpin prosesi Waisak malam itu

Sambil nunggu saat pelaksanaan prosesi Waisak, gw mulai lirak-lirik nyari spot yang cihuy untuk motret.
Berdasarkan info dari omnya Yona, ternyata untuk spot yang bagus, gw harus bergeser dikit ke arah tengah halaman. Katanya di situ bagus dan pas banget deh posisinya untuk motret. Oke deh om…. makasih banyak infonya.

Bareng mas Ahmad, Iyus dan Yona, gw pun sedikit bergeser ke arah tengah halaman.
Tapi tetap di belakang area karpet kuning.
Sip, dapet spot kosong!
Awalnya gw mikir, karpet kuning itu merupakan area untuk umat yang akan beribadah. Tapi koq pas gw liat bener-bener, isinya mostly pengunjung ya???
Ah… forget it! Sekarang fokus motret aja.

Baru juga buka tripod, ngeluarin kamera, eh….. gerimis dong :((
Whuaaaaaaaaaaaa……
Buru-buru ngeluarin payung. Cekrek…. Payung mengembang nutupin kamera yang udah terpasang dengan rapinya di atas tripod.
Btw, koq ujannya makin deres??? Waduh, bahaya…….
Nguing… nguing… nguing…. alarm bahayanya bunyi :D

Oke, mending siap-siap aja.
Gw langsung ngeluarin raincoat, 2 sekaligus!
Raincoat yang pink gw pake, dan raincoat yang ijo gw pakein ke kamera :D
hehehehehehehehe…. takut kameranya keujanan dan masuk angin ya cuy……

Sempet dapet 1 foto blue hour dengan background panggung dan siluet Borobudur.

blue hour on Borobudur

Nungguin mulainya prosesi Waisak, koq lama banget ya???
Ini juga ujannya labil, bentar deres, bentar berenti, trus gerimis lagi, berenti lagi, deres lagi, hadeeeeuuuuhhhhhh……

khusyuk, sakral….


Sang Buddha


Langit yang tadinya terang benderang, mulai meredup dan akhirnya gelap.
Lampu-lampu mulai menyala, membuat Borobudur semakin terlihat mistis dalam siluetnya.
Gw mencoba mengambil beberapa scene dari siluet Borobudur.
Menunggu sampe stupa terbesar Borobudur bercahaya.
Dan akhirnya, lampu sorot di stupa terbesar pun menyala. Finally!

panggung utama dan Sang Buddha, dengan background Borobudur yang megah


Mendapatkan foto Borobudur dengan stupanya yang bercahaya di dalam gelap, kenapa gw merinding ya? :D
Fokus dapetin gambar yang bagus, gw udah ga perhatian aja sama kanan kiri.
Yang gw tau di kanan ada Iyus, dan di kiri ada mas Ahmad. Udah itu aja. :D

merinding gw pas dapet foto ini


Karena ujan makin deres, dan gw pun udah bingung + mati gaya, mo motret apalagi???
Akhirnya gw, mas Ahmad, Iyus dan Yona kemas-kemas, nyoba nyari spot lain.
Permisi, nyuwun sewu, excuse me, Je suis désolé, sorry, gw mencoba keluar dari lautan manusia itu.

Huft… lega rasanya setelah keluar dari himpitan-himpitan manusia tadi.
Tapi ini ya… ujannya kenapa makin deres???????
Trus itu Diengers yang laen mana?????
Jadi misah-misah gini… mana hape totally lost its signal :((

Masih dengan formasi yang sama, ber-4, kami mencoba jalan ke sisi panggung, niatnya mo nyari tangga turun, mo balik aja ke mobil karena ujan makin deres.
Berhubung hape gw ga ada sinyal, Iyus dan mas Ahmad yang berjuang keras nyoba nelponin Diengers yang laen, mo ngasi tau supaya balik aja ke mobil.

Kami ber-4 sempet ngaso dulu di sisi kiri belakang panggung, tapi karena ujannya makin labil, akhirnya ya udah… Balik ke mobil aja!
Ujan-ujanan, gelap, dan licin (ternyata jalan untuk keluar dari halaman Borobudur itu ga pake tangga batu yang ada dong… tapi harus ngelewatin turunan berumput yang licin banget.
Di depan gw ada mbak-mbak yang ampir aja ngegelosor dengan sukses karena jalannya licin. Untung aja temennya langsung megangin.

Ngelewatin tanah berumput yang licin dan becek, akhirnya sampe juga ke jalanan beraspal.
Oke, sekarang lewat mana ini???
Nanya sama petugas yang jaga, ditunjukin untuk lurus aja ke arah pintu 8.
Oke lah.

Di ujung ada pintu pagar yang terbuka, ternyata itu yang dimaksud dengan Pintu 8 oleh petugas tadi.
Huft… akhirnya keluar juga.
Ujan masih turun dengan derasnya.
Sepatu udah basah kuyup, ujung kulot yang gw pake pun udah basah kibes-kibes (hihihihihi…. ngerti ga artinya???) :D

Keluar pintu pagar, kami masih harus jalan ke arah kiri sampe ke mobil.
Dingiiiiiiiiiiiiiinnnnn… bbbrrrrrrrrrr………
Jalan…. koq berasa jauh bener??? Berasa ga nyampe-nyampe???
Dan akhirnya…… itu dia mobilnya!
Seneng banget waktu ngeliat si mobil berstiker udah keliatan. Pengen cepet-cepet masuk, copot sepatu dan ganti sandal jepit, trus pake jaket. Dinginnya ga kuat ini.

Sambil nungguin Diengers yang lain, yang masih otw ke mobil, gw meringkel di jok tengah terbungkus jaket.
Ini kenapa gigi gw sampe gemeletuk begini?
Koq rasanya dingin banget ya???
Dan… au.. au.. au… lapeeeeeeeerrrrrrrrrr….

Tiba-tiba jendela mobil ada yang ngetok.
Gw liat, ada muka Andin, Windy, Gina dan Gita.
Semua udah basah kuyup, ga jelas bentuknya…. ahahahahahahaha….
Dan sementara….. itu Hendra kenapa bisa basah kuyup beneran begitu???
Ga pake payung, ga pake jaket, ga pake raincoat…. wewww….

Setelah semuanya komplit, mobil mulai bergerak meninggalkan parkirannya.
Pulang!
Tapi sebelumnya….. “Yus, kita makan dulu dong… laper banget nih”.
“sfvhsfowqf kwhqfieg fwehfiwebfew”, Iyus telpon-telponan entah dengan mbak Endah apa mas Kef deh. Sip, kita akan singgah makan dulu.

Karena lebih dekat ke Magelang, akhirnya diputuskan makannya di Magelang aja, ini udah pada kelaperan to the max soalnya, ga akan sanggup klo harus ke Yogya dulu baru makan.
Puter-puter…. puter-puter… dan akhirnya nemu warung tenda yang masih buka.
Yes, ada bakmi Jawa!
Gw langsung pesen bakmi Jawa godhog + teh manis anget (ga pake lama ya bu….) :D

Nunggu 10 menitan, dan di hadapan gw udah terhidang semangkok bakmi Jawa godhog yang masih kemepul uapnya….. whuaaaaaahhhh… sedaaaaaappppp…..
Hmmm….. wanginya enaaaaaakkkkk…..

Mo nungguin sampe dingin, kelamaan.
Mo nekad makan saat itu juga, takut lidahnya “melocot” (terbakar – klo yang orang Jawa pasti ngerti deh).
So??? Mari kita makan pake garpu aja, jadi kuahnya yang masih sangat panas ga ikut kesendok :D
Makan mie godhog, tapi pake garpu, ga ada enak-enaknya. Tapi mo gimana lagi???
Lapernya perut udah ga bisa nunggu.

Slurp… nyam… nyam.. nyam….
Ga pake lama, semangkok mie godhog pun ludesssssssss…..
(wah…ga ada fotonya, kemaren udah ga sempet mikir mo moto, lapernya udah kebangetan soalnya :D)

Selesai makan, bayar, naik ke mobil dan…. yuk pulang ke homestay.

Gw begitu naik udah bilang sama Iyus dan mas Ahmad yang duduk di jok depan, “Ijin ya… gw mo tidur, ngantuk banget, ga kuat matanya”.
Dan gw pun dengan sukses merem sepanjang perjalanan.
Sadar ga sadar, udah di depan pagar homestay dong, kacau bener ini :D
Buru-buru telpon pak Marsudi, minta tolong bukain pintu pagar.

Mobil masuk garasi, turun dari mobil, keluarin perlengkapan, ransel, kamera, sepatu, jaket, dan dengan sempoyongan masuk ke homestay.
Begitu sampe di kamar, mendadak ngantuknya ilang!
Pengen mandiiiiiiiiiiiiiiiiii…..

Rebutan kamar mandi, dan kali ini pun gw kalah :D
Yang menang mbak Endah!
Gw baru ngeletakin bawaan, dan baru mulai nyari baju ganti, mbak Endah udah masuk ke kamar mandi -__-

Yang ngantri mandi akhirnya pada becandaan.
Sambil ngejemur raincoat, sepatu, tas, dan tripod yang basah.

1 – 1 akhirnya cewe-cewe Diengers mandi juga semua.
Yang cowo-cowo??? Ga ngerti deh??? :p

Udah mandi, udah bersih, udah wangi, udah seger, mari kita bobo cantik….

Karena sesuatu dan lain hal yang ga gw sengaja (niatnya mo nonton tv sambil gogoleran di sofa yang ada di kamar), ternyata gw dengan suksesnya ketiduran di sofa!
Bangun pagi kaget, kenapa gw ada di sofa, dan kenapa itu tv masih nyala dan ngomong sendiri???
Ah, sudah lah….

Pagi Yogya….. ^.^
Ke toilet, cuci muka, gosok gigi.
Sarapan yuk!
Oh iya, di Casa Callisto ini kemaren kami disediain sarapan lho…. enak banget menunya..
Nasi putih anget, ayam goreng, mie goreng, tumis buncis, plus tempe goreng.
Lengkap dengan teh anget (mo manis atau tawar, bisa pilih sendiri).
Sedaaaaaaaaaaaaaaaaappppppp….

mari sarapan…… menunya ajiiiibbbb….

lahap :D

aaahhh…mbak Endah sampe ga peduli kamera :D

nih koki Diengers pagi ini :p


Selesai sarapan, masih sempet ngobrol-ngobrol sambil beres-beres dan packing-packing.
Rasanya masih pengen liburan bareng….. Suasananya ngebetahin banget…..
Tapi besok harus kerjaaaaaa….. ga relaaaaaaaaaaaaaaaa…..

udah packing, nyantai dulu ya ngers


Beres packing, semua udah pada mandi, udah pada kece, kayaknya ada yang kurang deh…. #mikir
Oh iya….. mana foto keluarganya???

Ga perlu disuruh 2x dong ya…. yang namanya Diengers, begitu denger kata “foto” pasti langsung pada pasang gaya narsis masing-masing :p
Ayo kita foto keluarga……

rusuh 1…….

rusuh 2………

rusuh 3……

rusuh 4………

rusuh banyak :D

Selesai foto keluarga, trus check-out deh dari homestay.
Pamit dulu sama pak Marsudi yang jaga homestay-nya.
Dan…. sebelum pulang, mari kita ngider di Malioboro.
Batik….. blanja kitaaaaa…..

Di Malioboro, trus pada ngacir nyari oleh-oleh.
Gw ikut cuci mata aaaahhhh…
Keliling-keliling….. keliling-keliling…
Kruuuuuuukkkk… oh, ada suara yang ga biasa… apa itu ya???
Hehehehehehehe…. maap… itu orkes dari perut gw :D
Lapeeeeeeeerrrrr……

Biar ga ribet, sepakat, Diengers maksinya di Rumah Raminten aja, yang ada di lantai 3 Mirota Batik.
Boleh lah…..

Gw pesen Mie Goreng Jawa + es tape ketan. Sluuuurrrrppp…..
Ditambah mendoan, sip!
Dan es tape ketannya ternyata seger banget….. “mas, pesen 1 gelas lagi yaaaa” ^.^
Selesai makan, kenyaaaaaaaaaaaaannnnnggggg….
Liat jam, udah jam 3!
Wah… harus buru-buru ke Lempuyangan nih.

es tape ketan, gelas ke-2 :D
menu maksinya mie goreng Jawa + es tape ketan

Windy, yang pas maksi janjian sama temennya, kesampaian juga maksi sego pecel di Beringharjo


Jalan cepet ke arah Statiun Tugu (karena mobil parkir di sana), tu – wa – ga – pat – …..

Sempet nitip beli bakpia ke Hendra yang udah melipir ke Dagen.
“Bakpia keju, isi 25, 2 dus ya Hen….” :)

Yuk, kita ngebut ke Lempuyangan, ntar telat.

Sampe di Lempuyangan sekitar jam 4 kurang deh kalo ga salah.
Langsung kabur ke peron :D
Nyari kursi kosong, dan bruk!
Semua nurunin ransel dan bawaan masing-masing.
Oh iya, yang balik ke Jakarta pake kereta ekonomi harusnya 9 orang, tapi mbak Dijeh batal berangkat, jadi cuma 8 Diengers lah yang merusuh di Lempuyangan sore itu.
Yuk diabsen!

  1. Gw, hadir!
  2. Gina, hadir!
  3. Windy, hadir!
  4. Andin, hadir!
  5. Gita, hadir!
  6. Hendra, hadir!
  7. Mas Ahmad, hadir!
  8. Ivan, hadir!

Komplit yaaaaa…

Nunggu kereta sampe jam 5.
Tuuuuttt… tuuuuuut… tuuuuuuuut…. jess… jess… jess….
Hore… keretanya datang…..
Masih dengan kehebohannya, ternyata seat Diengers itu hadap-hadapan….
Wah….. bahayaaaaaaa….. pasti rusuh deh.
Dan bener aja, di gerbong ribut banget, rusuuuuuuuuuhhhh….
Duduk hadap-hadapan, tapi masing-masing sibuk dengan hapenya, ngerumpi di grup.
Tiba-tiba….. wkwkwkwkwkwkwkwkwkwk… semua pada ketawa barengan :))


seat 13a,b, 14a,b, 15a,b, 16a,b,
sama ajaaaaa…..tetep rebutan :D
yang pertama kali dicari
begitu nemu seat di kereta :D


ups…ada yang mengerikan
(thanks to mas Ahmad, yang udah ngajak kita2 narsis di kereta :D)

agak (sedikit) lebih kalem yang ini…
curiga gegara ada tetangga di 16c dan d deh :D

hayo tebak, ini siapa???
bobok ndin?
sungguh, gaya tidur yang aneh ‘o’
trend charger taon 2013 :p

Aaaaaaaaahhhh…. liburan kali ini seru banget!!!
Sukaaaaaaaaaaaaaaaa……

Kereta mulai jalan…..
Bye…bye… Yogya…. see u next time….


Special thanks to mas Kef, mbak Endah, mas Ahmad for the photos.
Diengers, selalu kangen kalian……. ^.^