Category Archives: Uncategorized

Gili Laba, The Place You Must Hike Once in A Lifetime

EVY_1410

 

 

Di pagi ke-3 ini, kembali saya dan teman-teman terbangun dengan masih ditemani oleh ayunan lembut gelombang di sekitar kepulauan Taman nasional Komodo. Setelah kemarin berbasah-basah ria, hari ini apa yang akan saya temui?

Dan pagi ini, ketika kapal berjalan semakin melambat, dan suara mesin pun perlahan menghilang, di depan mata saya telah terbentang salah satu pemandangan paling indah di Indonesia. Bukit-bukit berwarna coklat terbentang sambung-menyambung, sangat kontras dengan gradasi air yang menjadi foreground-nya. Gili Laba!

 

EVY_1421
Gili Lawa Darat a.k.a Gili Laba

 

Gili Laba, atau yang dikenal sebagai Gili Lawa Darat merupakan “pintu gerbang” menuju Taman Nasional Kepulauan Komodo. Gili Laba terbagi 2, yaitu Gili Lawa Darat dan Gili Lawa Laut. Letak ke-2 Gili ini berseberangan, Gili Lawa Darat terletak di antara Gili LAwa Laut dan Pulau Komodo.

 

EVY_1423
perbukitan di Gili Laba, atau yang dikenal dengan Gili Lawa Darat, “gerbang” menuju Taman Nasional Komodo

 

Kapal kecil putih pun telah siap untuk mengantarkan saya menjejakkan kaki di salah satu pulau yang ada di depan sana. Gemericik air laut yang memercik di samping kanan kiri kapal terasa segar, belum lagi angin laut yang terasa harum di hidung, hmm…. pagi ini perfect banget. Bahagia :)

Tidak berapa lama, kaki saya pun menjejak pasir putih nan halus yang terbentang luas membatasi laut dan perbukitan. Hati pun bimbang, main air atau mendaki bukit tanah berpasir? Angin laut yang menyapa, membuat ilalang kering di sabana serempak bergoyang, dan akhirnya memaksa kaki saya untuk menapaki jalan setapak menuju perbukitan.

Hari belum terlalu siang, tapi matahari telah bersinar dengan sempurna, dan cukup membuat keringat perlahan keluar menembus pori-pori di sekujur tubuh saya. Baiklah, mari kita mendaki! Mari kita lihat ada apa di atas bukit sana.

 

EVY_1424
tepian Gili Laba bercampur antara pasir dan batuan laut kasar

 

kapal kami parkir di area yang tidak ber-coral
kapal kami parkir di area yang tidak ber-coral

 

Menapaki jalan tanah berpasir coklat dengan padang ilalang di sekitarnya, serta beberapa pohon perdu yang berusaha mempertahankan kehijauan daunnya di tengah musim kemarau yang sangat panjang ini. Angin yang bertiup membuat butiran halus debu tanah coklat beterbangan setiap kaki menjejaknya. Sepanjang perjalanan menuju puncak bukit, mata saya tak henti berkedip dengan landscape yang terbentang luas ini. Benar adanya, surga itu ada di Indonesia! Lautan luas dengan warna airnya yang bergradasi, pulau-pulau kecil terlihat sambung-menyambung membentuk gugusan cantik bak lukisan.

 

tidak ada spot yang tidak indah di sepanjang Gili Laba
tidak ada spot yang tidak indah di sepanjang Gili Laba

 

dari atas, terlihat jelas hamparan coral di dasar lautan
dari atas, terlihat jelas hamparan coral di dasar lautan

 

pemandangan dari atas Gili Laba
pemandangan dari atas Gili Laba

 

Dan sesampainya di puncak pertama setelah berjalan kurang lebih 30 menit, ketika saya memutar badan sejauh 180 derajat……. di depan mata saya terbentang salah satu landscape terindah yang pernah saya lihat. Hey Indonesia, you are so beautiful! You are a masterpiece!

 

EVY_1413
what a beautiful landscape?!

 

gugusan pula, lautan luas dan kapal-kapal yang berlabuh, menjadi pemandangan yang sangat cantik
gugusan pula, lautan luas, kapal-kapal yang berlabuh, sabana coklat dengan perdu-perdu hijau menjadi pemandangan yang sangat cantik

 

What can I say? Pemandangan yang ada di depan mata saya membuat saya terdiam. Tuhan bekerja dengan caranya. Rasa syukur tak henti terucap. Trip yang awalnya hanya untuk refreshing, menghilangkan penat dan jenuh, ternyata membuat saya bisa lebih memaknai hidup. Lebih bersyukur. Tanpa pernah berharap akan mendapatkan seluruh keindahan ini, ternyata yang saya dapatkan dari perjalanan ini sungguh tak terkira.

Dan seperti biasa, di puncak bukit pun terjadi antrian untuk berfoto di spot favorit. Dan antriannya…. panjaaaaaaaaannnnngggggg……

 

antrian foto di spot favorit di puncak Gili Laba
antrian foto di spot favorit di puncak Gili Laba

 

EVY_1403
antri, sambil update status :D

 

EVY_1402

itu mas-mas ABK yang setia nemani kami selama 4 hari 3 malam menjelajah TN Kepulauan Komodo…. terima kasih mas ABK!

 

EVY_1395
“lapor dulu sama ayang di rumah” <– kata Ripar :D

 

Puas menikmati indahnya landscape, saya dan teman-teman bergerak menuruni bukit. Perjalanan kami masih panjang, masih banyak destinasi yang pastinya tidak kalah cantik yang akan kami datangi.

 

EVY_1407
pulang? belum dong… kita akan menjelajahi dan melihat keindahan Indonesia lainnya…. let’s go!

 

EVY_1409
dan…… nemu cowok brewok berpayung di Gili Laba :p

 

 

 

 

 

Menjenguk Eksotisme Pulau Kenawa

 

EVY_1314

 

“Perjalanan itu bukan hanya pergi dari satu tempat ke tempat yang lain. Tapi lebih pada pengalaman apa yang didapat”

 

Berbekal rasa penasaran dengan keindahan dan eksotisme dari wilayah Timur Indonesia tercinta ini, akhirnya saya mempertimbangkan ajakan seorang teman untuk mengikuti trip Sailing Komodo selama 4 hari 3 malam.

Setelah berburu tiket pesawat untuk pergi ke Lombok dan pulang dari Labuan Bajo, saya pun tinggal menghitung hari keberangkatan yang membuat adrenalin saya semakin terpacu.

 

Hari yang ditunggu-tunggu tiba. Sabtu, 10 oktober 2015.

Pukul 3 subuh, taxi yang saya tumpangi sudah meluncur menuju bandara Soekarno Hatta. Jalanan Jakarta cukup ramai, namun lengang. Setelah check in bagasi, saya langsung menuju gate keberangkatan. Menunggu jam keberangkatan yang masih cukup lama saya isi dengan membaca “Titik Nol”. Ruang tunggu bandara kali ini lumayan ramai, sembari membaca saya menyempatkan untuk mengamati sekitar, dan akhirnya saya tertunduk khusyuk dengan kalimat-kalimat yang tertulis di dalam buku “Titik Nol” yang berada di atas pangkuan saya.

 

berangkat subuh, dan laper.... jadilah koki gendut ini untuk mengganjal perut :D
berangkat subuh, dan laper…. jadilah koki gendut ini untuk mengganjal perut :D ditemani dengan Titik Nol yang bercerita tentang perjalanan

 

Saya baru mengangkat wajah saat sepasang kaki mendekat, dan tepat sebelum saya terkejut (akan dikejutkan tepatnya). Ciwi hanya meringis karena gagal untuk mengejutkan saya :D

Sambil menungg boarding, saya akhirnya ngobrol dengan Ciwi. Sambil sesekali celingak-celinguk mencari teman-teman yang akan sama-sama berangkat menuju Lombok.

Di grup WA, beberapa teman juga ternyata 1 pesawat dengan saya dan Ciwi. Tapi…… di ruang tunggu ini saya ga bisa menemukan mereka :D

 

Waktu boarding tiba. See you again Jakarta…… Hello Praya…….

Flight kali ini lumayan panjang, sekitar 2 jam perjalanan.

Sambil menikmati pemandangan dari udara melalui jendela di sebelah kiri saya, saya kembali asyik dengan catatan “Titik Nol”. Hingga tak terasa, pesawat akan segera mendarat di bandara Praya, Nusa Tenggara Barat. Hello Lombok………

 

menu kesukaan kalau flight pagi, omelet :)
menu kesukaan kalau flight pagi, omelet :)

 

nuntasin "Doea Tanda Mata" selama di pesawat
nuntasin “Doea Tanda Mata” selama di pesawat

 

Hello Praya....... finally meet you :)
Hello Praya……. finally I meet you :)

 

Yeay, I'm on Praya...... let's the journey start....
Yeay, I’m on Praya…… let’s the journey begin….

 

Menurut informasi via grup WA, di bandara ini kami akan dijemput oleh trip organizer yang menyelenggarakan Sailing Komodo ini. Hingga akhirnya muncul sebuah gambar bus berwarna biru lengkap dengan nomor platnya di grup WA. Okay, setelah memberi beberapa cemilan di mini market yang harganya premium di depan pintu masuk bandara, dan setelah bertemu dengan beberapa teman yang akan menjadi teman seperjalanan selama 4 hari 3 malam nanti, akhirnya kami beranjak menuju parkiran untuk mencari bus yang akan mengantarkan rombongan ini menuju pelabuhan Kayangan di Lombok Timur.

 

ini nih bus yang akan mengantarkan kami menuju Pelabuhan Kayanga di Labuhan Lombok
ini nih bus yang akan mengantarkan kami menuju Pelabuhan Kayanga di Labuhan Lombok courtesy by Wuki Traveller

 

siap berangkat.......... let's go!!!
siap berangkat………. let’s go!!!

 

Cuaca di pagi menjelang siang di Lombok saat itu lumayan cerah (kalau ga mau dibilang panas :D). Mataharinya cetar banget, bersinar dengan semangat membara. Membuat ubun-ubun terasa berdenyut-denyut…. Hehehehehe….

 

barisan pertokoan dengan warna-warna cerah menghiasi sisi jalan menuju pelabuhan
barisan pertokoan dengan warna-warna cerah menghiasi sisi jalan menuju pelabuhan

 

ternyata masih ada areal yang menghijau di musim kemarau yang sangat panjang ini
ternyata masih ada areal yang menghijau di musim kemarau yang sangat panjang ini

 

Perjalanan dari bandara menuju pelabuhan memakan waktu sekitar 2 jam. Dari Lombok bagian Barat menuju Lombok Timur. Melewati areal persawahan, perumahan penduduk, pertokoan, pasar tradisional dan tanah lapang yang terlihat didominasi warna kuning kecoklatan, pengaruh dari musim kemarau yang sangat panjang ini. Perjalanan kami sempat tersendat saat melewati kawasan pasar tradisional. Kendaraan saling bersaing ingin cepat melewati kemacetan, sementara badan jalan yang bisa digunakan sedikit mengecil dengan adanya berbagai pedagang di pinggirnya. Melihat berbagai buah dan sayuran yang dijual di pinggir jalan, dalam cuaca yang aduhai panasnya, membuat saya menelan liur, membayangkan segarnya potongan semangka melewati kerongkongan…. Sluuuurrrrpppp…..

 

pasar tradisional dengan aneka sayur dan buah yang bikin liur menetes di tengah hari itu
pasar tradisional dengan aneka sayur dan buah yang bikin liur menetes di tengah hari itu

 

siang itu, jalanan yang membelah pasar tradisional di Lombok terlihat cukup padat
siang itu, jalanan yang membelah pasar tradisional di Lombok terlihat cukup padat

 

Sekitar pukul 11.35 waktu setempat, kami pun tiba di Pelabuhan Kayangan, di daerah Labuhan Lombok, Lombok bagian Timur.

 

mendekati areal pelabuhan, kembali menyaksikan areal tanah kering dengan 1-2 pohon yang meranggas
mendekati areal pelabuhan, kembali menyaksikan areal tanah kering dengan 1-2 pohon yang meranggas

 

pintu gerbang menujuu pelabuhan, yeeaaayyyy..... sampe.....
pintu gerbang menujuu pelabuhan, yeeaaayyyy….. sampe…..

 

cuaca di pelabuhan, terik!!!
cuaca di pelabuhan, terik!!!

 

Turun dari bus, langsung dikecup dengan sinar matahari yang panasnya cetar membahana :D

Kapal yang akan menjadi “rumah” saya dan teman-teman selama 4 hari ke depan sudah bersandar di sisi pelabuhan. Menurunkan ransel, dan perlengkapan yang akan menjadi bekal kami selama berlayar, dan kemudian satu-persatu kami menaiki kapal berwarna putih coklat itu.

 

itu kapal Halma Jaya, rumah kami selama 4 hari ke depan
itu kapal Halma Jaya, rumah kami selama 4 hari ke depan

 

dan ini adalah sebagian perbekalan kami untuk 4 hari selama berlayar
dan ini adalah sebagian perbekalan kami untuk 4 hari selama berlayar

 

Dan, kami siap berlayar…………… (mendadak inget lagu Popeye the Sailorman) :D hehehehehe….

 

kapal Halma Jaya mulai bergerak meninggalkan pelabuhan Kayangan, Labuhan Lombok
kapal Halma Jaya mulai bergerak meninggalkan pelabuhan Kayangan, Labuhan Lombok

 

pemandangan sepanjang perjalanan menuju Pulau Kenawa
pemandangan sepanjang perjalanan menuju Pulau Kenawa

 

yang bilang Indonesia ga indah, ga eksotis, sebaiknya periksa mata deh :p
yang bilang Indonesia ga indah, ga eksotis, sebaiknya periksa mata deh :p

 

sejauh mata memandang, ga ada yang ga indah
sejauh mata memandang, ga ada yang ga indah

 

Baru naik ke kapal, dan kapal mulai bergerak mengikuti ombak, para mas-mas ABK sudah menyediakan jamuan makan siang. Wah….. siang ini makannya sambil menikmati hembusan angina laut ditemani riak gelombang Laut Bali menuju Pulau Kenawa. Menu nasi putih hangat, sayur kol, plus ayam sungguh membuat mulut mengecap tak berhenti. Nikmatnya……….

 

menu makan siangnya yummy banget.... makasih mas-mas ABK....
menu makan siangnya yummy banget…. makasih mas-mas ABK….

 

laut yang sedikit bergelombang menemani perjalanan kami di siang itu
laut yang sedikit bergelombang menemani perjalanan kami di siang itu

 

Selesai makan siang, kami saling ngobrol di dek utama kapal Halma Jaya (itu nama kapal yang kami naiki selama sailing ini). Dan tak lama kemudian, kami tiba di tujuan pertama perjalanan ini, Pulau Kenawa. Pulau Kenawa merupakan bagian dari Pulau Sumbawa, NTB. Pulau ini adalah pulau kosong dengan sebuah bukit penuh perdu ilalang sebagai maskotnya. Pasir yang ada di pantainya terdiri dari pasir putih dengan butiran halus, begitu kontras dengan gradasi air laut, hijau terang, toska dan biru. Dan mata akan sangat termanjakan dengan pemandangan itu.

 

pasir putih halus, bersanding dengan air laut yang jernih bergradasi hijau biru
pasir putih halus, bersanding dengan air laut yang jernih bergradasi hijau biru

 

welcome to Kenawa island
welcome to Kenawa island

 

ilalang yang mengering membuat sepanjang bukit terlihat eksotis
ilalang yang mengering membuat sepanjang bukit terlihat eksotis

 

I'm here
I’m here

 

sebelum mendaki bukit batu yang menjadi ikonnya Pulau Kenawa, beberapa teman menyempatkan untuk ber-snorkling ria di sepanjang pantai
sebelum mendaki bukit batu yang menjadi ikonnya Pulau Kenawa, beberapa teman menyempatkan untuk ber-snorkling ria di sepanjang pantai

 

entah lah... pada galau soal apa? snorkling-nya 5 menit, 1 jamnya duduk mandangin laut :p
entah lah… pada galau soal apa? snorkling-nya 5 menit, 1 jamnya duduk mandangin laut :p

 

panasnya cetar.... bikin ga bisa melek :D
panasnya cetar…. bikin ga bisa melek :D

 

yang lain udah basah-basah abis snorkling, saya sih nggak :p
yang lain udah basah-basah abis snorkling, saya sih nggak :p

 

Menaiki bukit batu berpasir dengan ilalang yang mengering, ditemani angin sepoi-sepoi dan sayup-sayup suara deru gelombang yang pecah di pantai, hmm….. membuat perjalanan di sore itu sangat nikmat. Yah…. walau dengan napas yang sedikit memburu karena ternyata setelah dijalani, menaiki bukit batu yang terlihat landai itu ternyata membutuhkan stamina dan kekuatan kaki + dengkul yang cukup lumayan. Mendaki selama kurang lebih 30 menit, saya tiba pada sisi bukit yang lumayan landai dan lumayan luas. Melihat ke depan, masih ada tanjakan untuk mencapai puncak, tapi saya sudah sangat nyaman di bagian bukit yang sedang saya tapaki ini, akhirnya saya memutuskan untuk stay di situ saja, tanpa melanjutkan ke puncak.

 

IMG_5935
hei, I’ll wait for you here…

 

padang ilalang kering, gazeebo, laut jernih dan langit biru...... I love you......
padang ilalang kering, gazeebo, laut jernih dan langit biru…… I love you……

 

gazeebo kecil terlihat di sepanjang pantai di Pulau Kenawa
gazeebo kecil terlihat di sepanjang pantai di Pulau Kenawa

 

EVY_1312
cuma 1 kata, INDAH!

 

EVY_1321
sepanjang mata memandang, hanya warna coklat eksotis yang terlihat

 

gegayaan, selfie di bukit yang ada di Pulau Kenawa
gegayaan, selfie di bukit yang ada di Pulau Kenawa

 

yeay!!! kita udah sampe di sini, kamu kapan????
yeay!!! kita udah sampe di sini, kamu kapan????

 

yihaaaaa!!! We're on Kenawa!!!
yihaaaaa!!! We’re on Kenawa!!!

 

Memandang hamparan bukit berbatu dengan ilalang dan perdu yang mengering, kecoklatan, membuat eksotis bukit di Pulau Kenawa sore itu. Di sepanjang tepian pantai, terlihat beberapa gazeebo yang bisa digunakan untuk beristirahat. Hampir seluruh ilalang yang ada di Pulau Kenawa coklat mengering, hanya beberapa yang masih menyisakan sedikit warna hijau kekuningan. Pemandangan bukit dengan ilalang yang mengering ini sungguh sangat indah, eksotis. Mungkin beberapa orang yang hanya melihat foto tempat ini tidak akan yakin bahwa ini adalah Indonesia. Feels like in Africa!!

 

EVY_1313
musim kemarau yang sangat panjang membuat hampir seluruh ilalang dan perdu di Pulau Kenawa kering

 

EVY_1306
mari mendaki bukit itu, dan menikmati sunset di sana

 

EVY_1325
sisi kiri dari Pulau Kenawa, dilihat dari bukit batu

 

Sore itu kami akan menikmati sunset Indah dari Pulau Kenawa.

Perlahan langit mulai berwarna jingga keemasan, dan matahari pun tampak semakin rendah mendekati garis cakrawala. Cahaya kuning jingga keemasan itu pun perlahan semakin redup, sebelum kemudian menghilang di balik gumpalan awal tebal di sisi Barat.

 

senja itu, mataharinya terasa hangat
senja itu, mataharinya terasa hangat

 

segumpal awan tebal menjadi peraduan matahari senja itu
segumpal awan tebal menjadi peraduan matahari senja itu

 

Seiring kembalinya sang surya ke peraduan, kami pun bergerak menuju kapal untuk melanjutkan perjalanan. Besok, rencananya kami akan mengunjungi Pulau Moyo dan Satonda yang indah itu. Ada apa ya di sana?

Penasaran kan……..

 

DCIM100GOPROGOPR0678.
ahahahahaha….. itu pada ngapain sih???

 

EVY_1324
senja, bukit eksotis, dan teman-teman yang menyenangkan, what a perfect journey ^.*

 

EVY_1336
menikmati senja, menunggu matahari terbenam di sisi Barat

 

see you Kenawa.... I'll be back someday
see you Kenawa…. I’ll be back someday

 

 

 

 

Belajar dari @rumbelraw

IMG_0236

 

18 Oktober 2015

Cerita perjalanan kali ini sedikit berbeda dengan cerita perjalanan yang biasa saya tulis. Kali ini perjalanan saya hanya di seputaran Jakarta, tepatnya di daerah Jakarta Timur. Cukup dekat kan? Tapi, kenapa saya mengatakan ini perjalanan? Karena di tempat ini lah saya melihat sesuatu yang berbeda, yang memberikan pengalaman baru bagi saya. Mau tahu bagaimana perjalanan saya seharian ini di Jakarta Timur? Yuk, dibaca….

Perjalanan ini berawal dari sebuah mention seorang teman di social media mengenai kegiatan di akhir Minggu di sebuah Rumah Belajar di daerah Rawamangun sekitar sebulan yang lalu. Saya diminta mendongeng untuk adik-adik di sana, hanya karena kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan, membuat saya belum bisa memenuhi undangan itu. Hingga tiba lah di hari Minggu ini, saya berusaha memenuhi janji untuk datang ke sana. Tapi itu pun masih menunggak janji untuk mendongeng, karena persiapan yang belum ada.

Berbekal petunjuk rute dari hasil chat dengan Egy, jadilah tadi pagi saya menyusuri jalanan Jakarta yang Alhamdulillah lancar banget, sehingga rute Sudirman – Rawamangun ditempuh hanya dengan 45 menit menggunakan bus Trans Jakarta. Juara kan?

Acara hari ini di Rumah Belajar Rawamangun sebenarnya jam 9 pagi. Dan dengan pertimbangan karena saya menggunakan transportasi umum, saya pun memutuskan untuk berangkat lebih pagi, ya….. ga terlalu pagi sebenarnya, sekitar jam 7.30 wib. Tapi karena jalanan Jakarta lancar jaya, jadilah jam 8 lebih 10 menit saya sudah duduk manis menunggu Egy di Halte UNJ.

Dan….. karena Egy baru mau berangkat, saya pun diberi ancer-ancer lokasi @rumbelraw. Baiklah, mari kita cari lokasinya.

Turun dari halte UNJ, saya mengambil jalan ke arah tempat cuci mobil untuk mencari Gang Pemuda III A. Memasuki gang yang tidak terlalu besar itu, saya melangkah kan kaki menyusuri jalanan beton itu untuk mencari Bakso Pakde yang menjadi ancer-ancer lokasi yang paling dekat dengan @rumbelraw.

Tempat Bakso Pakde ketemu, tapi waktu saya bertanya dengan penghuni di sana, ternyata bapak itu tidak mengetahui di mana lokasi @rumbelraw. Dan akhirnya saya memutuskan untuk menunggu Egy tiba, baru kemudian ke @rumbelraw.

Sekitar 10 menit kemudian Egy sampai, dan ternyata lokasi @rumbelraw itu sederet dengan Bakso Pakde. Agak mengherankan juga ya, kenapa waktu saya tanya bapak tadi beliau ga tau di mana lokasinya? :D

Saya tiba di sebuah bangunan terbuka, boleh dibilang permanen, berdinding dan berlantai semen kasar, dengan sehelai karpet karet di salah satu sudutnya. Di sudut yang lain terlihat sebuah meja pingpong tergeletak, berdebu. Di dinding yang paling luas, terpampang sebuah kertas kuning mengkilat dengan tulisan Rumah Belajar Belajar Rawamangun dengan huruf beraneka warna. Saat saya tiba di sana, beluam ada terlihat adik-adik yang akan mengikuti kegiatan pagi itu. Saya dan Egy kemudian duduk dan menunggu adik-adik datang, dan benar saja… tak lama kemudian muncul 3 adik perempuan kecil, Bunga, Naysilla dan Indah.

yang pake baju merah itu namanya Bunga, adik kecil yang datang paling cepat ke @rumbelraw
yang pake baju merah itu namanya Bunga, adik kecil yang datang paling cepat ke @rumbelraw

 

Kami menunggu hingga adik-adik yang datang cukup banyak. Hari ini rencananya adik-adik akan diajak bermain “Amazing Race”.

adik-adik yg datang kemudian dibagi menjadi 4 kelompok
adik-adik yg datang kemudian dibagi menjadi 4 kelompok

 

ayo, yel-yelnya dihapalin
ayo, yel-yelnya dihapalin

 

Setelah adik-adik yang datang mencapai angka sekitar 21 anak, dan kakak-kakaknya juga lumayan banyak, sekitar pukul 09.30 pun acara dimulai.

Adik-adik kemudian dibagi menjadi 4 kelompok, yang masing-masing kelompok akan didampingi oleh seorang kakak untuk memonitor mereka di lapangan. Ditetapkan bahwa untuk permainan ini akan ada 3 pos yang harus didatangi oleh adik-adik. Dan di setiap pos tersebut nantinya adik-adik akan menerima sejumlah soal dalam bentuk hitungan dan Bahasa Inggris.

Bersiap mengikuti Amazing Race, ayo baris yang rapi
Bersiap mengikuti Amazing Race, ayo baris yang rapi

 

Berbaris di lapangan yang ada di depan Rumah Belajar, adik-adik mulai belajar membuat yel-yel untuk kelompoknya. Seru melihat mereka menghapal yel-yel dengan berbagai gaya. Setelah semua hapal, permainan pun dimulai.

berlatih yel-yel kelompok biar Amazing Race-nya semakin semangat
berlatih yel-yel kelompok biar Amazing Race-nya semakin semangat

 

Kelompok 1 yang beranggotakan Indah, Bunga dan Naysilla mulai membaca petunjuk yang diberikan oleh kak Yaya. Petunjuk yang dibuat di selembar kertas origami biru bertuliskan “Di sini, adik-adik bisa belajar mengaji”. Adik-adik dari kelompok 1 membaca dengan cepat dan segera menuju pos 1 yang terletak di depan sebuah musholla. Di sana sudah menunggu kak Fenti dan seorang kakak lainnya. Di pos ini adik-adik dihadapkan pada beberapa soal Matematika sederhana, mulai dari penambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Indah, Bunga dan Naysilla bekerja cepat, membaca soal yang ada di potongan-potongan karton kuning, menghitung dan mencari jawabannya di karton kuning kecil lainnya. Soal-soal tersebut harus mereka selesaikan dalam waktu 5 menit.

ayo, coba soalnya dihitung dengan benar, kemudian cari jawabannya
ayo, coba soalnya dihitung dengan benar, kemudian cari jawabannya

 

semua belajar, semua berhitung
semua belajar, semua berhitung

 

Selagi kelompok 1 menyelesaikan soal-soal yang ada, Kelompok 2 ternyata sudah tiba di pos 1. Ini adalah kelompok yang anggotanya adik cowok semua, Udin, Ramzi, Riski, Radit, Ipul dan Ikhsan. Kehebohan mulai muncul karena Kelompok 1 sedang berjuang menyelesaikan soal yang ada, sementara Kelompok 2 sudah mulai penasaran untuk segera melihat soal yang diberikan. Dan akhirnya Kelompok 1 berhasil menyelesaikan soal-soal tersebut dan melanjutkan permainan ke pos selanjutnya. Kelompok 2 pun mulai melihat dan mencoba menyelesaikan soal Matematika di pos 1. Dan….. Kelompok 3 ternyata juga sudah tiba di pos 1. Heboh, rame….

Kelompok 2 berhasil menyelesaikan seluruh soal Matematika dan mulai bergerak k epos selanjutnya. Giliran Kelompok 3 yang mencoba menyelesaikan soal-soal hitungan yang ada, dengan ditunggu oleh Kelompok 4 yang juga sudah tiba di pos 1 tersebut.

di pos 2, belajar mencocokkan kata dalam Bahasa Inggris.... grandmother, pasangannya apa coba?
di pos 2, belajar mencocokkan kata dalam Bahasa Inggris…. grandmother, pasangannya apa coba?

 

Selanjutnya, di pos 2, adik-adik dihadapkan pada sejumlah soal padanan kata dalam Bahasa Inggris. Dengan durasi waktu yang sama, 5 menit, setiap kelompok harus mencoba menyelesaikan semua soal tersebut.

nunggu giliran menjawab soal, mari kita foto-foto dulu
nunggu giliran menjawab soal, mari kita foto-foto dulu

 

sambil nunggu giliran, yel-yelnya jangan lupa....
sambil nunggu giliran, yel-yelnya jangan lupa….

 

Melihat mereka membaca, berpikir dan mencari jawabannya dengan cepat, cukup membuat saya terkesima. Mereka terdiri dari anak usia sekolah dasar dengan kelas yang bervariasi. Tapi pemahaman mereka terhadap Matematika dan Bahasa Inggris, menurut saya cukup baik. Dan itu suatu hal yang membanggakan, dengan melihat fasilitas yang mereka miliki.

ayo, dicari pasangan katanya
ayo, dicari pasangan katanya

 

Setelah menyelesaikan soal-soal padanan kata dalam Bahasa Inggris di pos 2, adik-adik lanjut lagi menuju pos 3. Di sini pun mereka diberikan soal-soal dalam Bahasa Inggris. Hanya saja kali ini adalah mereka harus mencocokkan gambar macam-macam buah dan sayuran dengan namanya dalam Bahasa Inggris.

 

walaupun harus berpanas-panasan di lapangan terbuka, tetap semangat!
walaupun harus berpanas-panasan di lapangan terbuka, tetap semangat!

 

hayo, avocado itu artinya apa? longbean apa?
hayo, avocado itu artinya apa? longbean apa?

 

Kalau kita yang biasa menonton acara The Amazing Race di televisi, kita akan melihat petunjuk-petunjuk yang diberikan dalam bentuk yang sangat unik, diletakkan di tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi. Tapi permainan Amazing Race yang dilakukan oleh adik-adik ini jauh lebih sederhana dari yang biasa kita saksikan di televisi. Pos-pos permainan menggunakan menggunakan teras kecil sebuah musholla, teras sebuah Taman Kanak-Kanak dan halaman terbuka. Adik-adik harus jalan menyusuri gang dan berpanas-panas dari pos yang satu ke pos yang lain. Tapi, tidak satu pun wajah mereka yang menunjukkan kelelahan, kebosanan. Yang terlihat adalah wajah-wajah antusias dan bersemangat, walau keringat mulai membasahi wajah dan baju yang mereka gunakan.

udah selesai Amazing Race, leha-leha dulu sambil nunggu dongeng dari kak Catur
udah selesai Amazing Race, leha-leha dulu sambil nunggu dongeng dari kak Catur

 

Setelah seluruh kolompok menyelesaikan semua soal yang diberikan dari 3 pos yang ada, kemudian semua berkumpul kembali di lokasi @rumbelraw.

Di tengah cuaca yang sangat panas siang itu, segelas air mineral yang dibagikan kepada adik-adik dan kakak-kakak yang hadir di sana cukup menyegarkan tenggorokan. Terlebih setelah datangnya 2 teko besar es teh manis yang diantarkan oleh salah seorang ibu. Segeeeeeeerrrrrr……

horeeee.... kak Catur datang.....
horeeee…. kak Catur datang…..

 

Siang itu, setelah Amazing Race, ternyata @rumbelraw kedatangan tamu istimewa, yaitu kak Catur dan boneka Tono. Kak Catur akan mendongeng untuk adik-adik di sana. Dengan ditemani boneka Tono, kodok dan harimau, kak Catur pun mendongeng mengenai perilaku terhadap sesama, yaitu tidak boleh sombong. Mengambil ilustrasi dari kehidupan binatang di hutan, dengan percakapan antara kodok dan harimau yang saling membantu dengan mengharapkan imbalan, ada pesan tersirat di balik cerita itu, yaitu jangan pamrih apabila membantu yang lain, dan jangan lah sombong dengan kelebihan yang kita punya.

 

kak Catur dan boneka Tono siap mendongeng untuk adik-adik di @rumbelraw
kak Catur dan boneka Tono siap mendongeng untuk adik-adik di @rumbelraw

 

adik-adik excited banget mendengarkan dongeng dari kak Catur, boneka Tono, kodok dan harimau
adik-adik excited banget mendengarkan dongeng dari kak Catur, boneka Tono, kodok dan harimau

 

Setelah dongeng selesai, boneka Tono membantu membacakan hasil permainan Amazing Race. Disebutlah nama Udin, Naysilla dan seorang lain adik perempuan sebagai peserta yang paling aktif. Kemudian nama Lean dan Putri sebagai peserta yang paling heboh :D

Udin, Naysilla dan seorang adik lainnya menjadi peserta paling aktif selama Amazing Race
Udin, Naysilla dan seorang adik lainnya menjadi peserta paling aktif selama Amazing Race

 

Acara hari ini ditutup dengan pembacaan doa oleh Radit dan Riski.

baca doa sebelum pulang, dipimpin Radit dan Riski
baca doa sebelum pulang, dipimpin Radit dan Riski

 

Terima kasih adik-adik, hari ini kakak senang sekali bisa bertemu dan berkenalan dengan kalian. Tetap jaga semangat untuk selalu belajar ya…. Fasilitas bukan lah segalanya untuk sukses. Selama kalian punya semangat, insyaallah kalian bisa sukses. Semangat!!!

udah Amazing Race, udah dengar dongeng, sekarang mari foto bareng....
udah Amazing Race, udah dengar dongeng, sekarang mari foto bareng….

 

 

 

Derawan #2 – Berenang dengan Non Stinging Jellyfish

EVY_0629

 

Derawan – Maratua – Kakaban – Sangalaki

Minggu, 31 Mei 2015

 

Selamat pagi Indonesia, selamat pagi dunia…….. :)

 

Setelah istirahat yang sangat cukup tadi malam, pagi ini saya memulai hari dengan kondisi badan yang segar……..

Dan alarm alami saya sudah memaksa saya membuka mata sejak pukul 5 subuh waktu Derawan, which means pukul 4 waktu Jakarta.

Suara kecipak ombak di kolong homestay seolah-olah senandung pagi yang membangunkan saya. Rasa penat dan pegel setelah kemarin menempuh perjalanan yang cukup panjang dan jauh, Jakarta – Tarakan – Derawan akhirnya terbayarkan dengan istirahat yang sangat nyaman tadi malam. Dan pagi ini, saya siap menjelajah pulau-pulau yang ada di sekitar Derawan ini. Mari kita let’s go!!!

 

Setelah menunaikan sholat subuh, mandi dan berganti kostum, saya menyempatkan diri untuk mengejar sedikit sisa-sisa sunrise hari ini. Membuka pintu kamar, hidung saya langsung disergap dengan harum aroma air laut yang khas. Semburat keemasan masih tersisa di balik bayangan pohon Kelapa dan deretan perkampungan penduduk di sisi Timur pulau.

semburat keemasan di ufuk Timur subuh itu di Derawan
semburat keemasan di ufuk Timur subuh itu di Derawan
cukup dari depan kamar saja untuk mendapatkan pemandangan seperti ini
cukup dari depan kamar saja untuk mendapatkan pemandangan seperti ini

 

Sementara di kaki cakrawala, semburat biru, kuning, jingga, merah muda membaur menjadi satu membentuk lapisan tipis yang cantik. Pagi itu cuaca di Derawan sangat cerah (dan semoga tetap cerah hingga berakhirnya perjalanan kami).

masih edisi sunrise pagi itu
masih edisi sunrise pagi itu
perahu nelayan tampak terayun-ayun disapa riak gelombang pagi hari
perahu nelayan tampak terayun-ayun disapa riak gelombang pagi hari

 

Menikmati pagi di dermaga kecil di depan kamar, duduk di kursi kayu sambil melihat Penyu-penyu hijau besar yang sesekali timbul ke permukaan air laut sungguh menyenangkan. Air laut berwarna hijau toska yang jernih memperlihatkan hingga ke dasarnya, termasuk segerombolan Bulu Babi, aneka macam ikan dan hewan laut lainnya. Di sini saya menemukan Bulu Babi yang berwarna merah lho… Biasanya kan Bulu Babi itu warnanya hitam, nah…. di sini ada yang berwarna merah. Keliatan dari atas sih bagus ya… lucu… tapi kalau ingat gimana sakitnya apabila ketusuk si Bulu Babi itu….. hiiiiiii…. menyeramkan….

 

menikmati pagi sambil duduk santai di dermaga
menikmati pagi sambil duduk santai di dermaga

 

Eh iya, cerita tentang si Bulu Babi…. Iyus berkali-kali bilang kalau daging Bulu babi itu enak kalau dimakan…. dan berkali-kali juga Iyus berusaha mencari penduduk yang (mungkin) mancing/mengambil Bulu Babi dari laut. Tapi sayangnya, sampai kami pulang pun, kami tidak menemukan penduduk yang mengambil Bulu Babi, apalagi menjualnya :D

Kasian Iyus…. #pukpuk

 

nih si Bulu Babi, tuh... ada yang warna merah lho
nih si Bulu Babi, tuh… ada yang warna merah lho

 

Puas memperhatikan si Bulu Babi, pandangan saya teralihkan ketika seekor Penyu Hijau besar tiba-tiba muncul ke permukaan air. Huuuuuuaaaaaaaaa………

Walaupun sejak tiba di Derawan kemarin sore itu saya sudah beberapa kali melihat Penyu-penyu itu berenang berseliweran di sekitar dermaga, tapi pagi ini, begitu melihat lagi Penyu segede tampah itu muncul di permukaan, rasanya excited banget……

Air laut yang jernih membuat seolah-oleh Penyu itu sedang berenang di aquarium raksasa.

 

Penyu hijau yang banyak ditemui di depan kamar
Penyu hijau yang banyak ditemui di depan kamar
tiap saat bisa liat Penyu sebesar ini berenang bebas
tiap saat bisa liat Penyu sebesar ini berenang bebas

 

Puas menikmati suasana pagi di dermaga, saya, Iyus, Windy dan Gita kemudian beranjak menuju Rumah Makan Nur untuk sarapan pagi. Lagi-lagi, guide kami, mas Alif dengan rajinnya pagi itu mendatangi kamar satu-persatu untuk memberitahu bahwa sarapan sudah siap. “Siap mas Alif, kami segera meluncur untuk mengisi perut” :)

 

Selesai sarapan, kami kemudian bersiap-siap untuk hoping islands. Rencananya, pagi ini perjalanan akan dimulai dengan mengunjungi pulau Maratua, kemudian Kakaban, Sangalaki dan kembali ke Derawan.

Let’s go!!! Mari kita berlayar……

 

Perjalanan menuju Pulau Maratua memakan waktu kurang lebih 40 menit berlayar. Sepanjang perjalanan, air laut yang tenang menemani kami. Jajaran pulau-pulau kecil terlihat di kejauhan. Boat yang saya naiki berkapasitas kurang lebih 14 orang, ditambah 1 orang kapten, 1 co-kapten, mas Alif – tour guide, dan mas Deni – guide lokal yang akan mendampingi kegiatan snorkling kami.

Yeeeeeeaaaaaayyyyyy…… hari ini judulnya “Main Air”.

 

dermaga di Pulau Maratua
dermaga di Pulau Maratua

 

Tak berapa lama, sampai lah kami di Pulau Maratua, pulau terbesar di jajaran kawasan wisata kepulauan Derawan.

Sebuah dermaga kayu terlihat menjorok ke arah laut, menyambung dengan bangunan water chalet yang terbuat dari kayu. Dan sebuah jembatan kayu panjang terbentang, menghubungkan water chalet tersebut dengan daratan.

Karena waktu saya tiba di sana air laut sedang surut, jadi daratan pasir di bawah water chalet tidak terendam air. Danwater chalet itu hanya terlihat seperti rumah panggung yang berdiri di atas hamparan pasir putih yang sangat halus.

Saya membayangkan saat air pasang, pasti bagus sekali. Bangunan water chalet kayu berwarna coklat, seperti terapung di atas laut, dengan sebuah jembatan kayu panjang yang menghubungkannya dengan daratan nun jauh di belakangnya.

 

water chalet di Maratua
water chalet di Maratua
water chalet di Maratua
water chalet di Maratua
water chalet dan jembatan kayu yang menghubungkannya dengan daratan
water chalet dan jembatan kayu yang menghubungkannya dengan daratan

 

Dan karena air laut yang sedang surut ini juga yang akhirnya membuat saya turun dari boat tanpa menyentuh dermaga. Boat yang saya naiki hanya merapat di pinggir hamparan pasir putih, dan kami langsung terjun. Air sebatas betis membasahi sehelai kain pantai yang saya kenakan begitu kaki saya menyentuh dasar pasir di pinggir pantai itu.

 

boat kami hanya merapat di bagian pantai yang dangkal
boat kami hanya merapat di bagian pantai yang dangkal

 

Pasir di Pulau Maratua ini sangat halus dan putih. Rasanya ingin guling-guling di situ deh :D
Kami tidak terlalu lama berada di Maratua, yah…. mungkin hanya sekitar 30 – 40 menit saja. Selanjutnya boat kembali bergerak menuju Pulau Kakaban.
Oh iya, pernah dengar ubur-ubur tidak menyengat kan?
Nah…. di Pulau Kakaban ini ada sebuah danau air payau, yang dihuni oleh biota laut yang terisolir dan akhirnya berevolusi, berkembang dengan keunikannya yang langka. Iya, di Danau Kakaban inilah spesies ubur-ubur yang tidak menyengat itu hidup dan berkembang. Dan kalau tidak salah, di dunia ini hanya ada 3 kawasan yang memiliki habitat yang dihuni oleh ubur-ubur tidak menyengat. Tuh…. cuma ada 3 tempat lho di dunia ini yang ubur-uburnya tidak menyengat. Ga kepengen apa untuk liat langsung dan berenang bareng ubur-ubur yang ga menyengat itu???
Dan hari ini, saya dan teman-teman akan berenang bareng sama ubur-ubur itu….. aaaaaaaakkkkkkk…….

 

hai ngers..... kami sudah sampai di Maratua ^.*
hai ngers….. kami sudah sampai di Maratua ^.*

 

Sebelum berenang dengan ubur-ubur yang tidak menyengat itu, kapten speed boat yang kami naiki itu menawarkan untuk mengunjungi Goa Ikan. Katanya itu tempat yang bagus dan indah! Wajib didatangi!

Dan tempat itu tidak termasuk di dalam list itinerary lokasi yang akan kami datangi.

 

Karena penasaran, akhirnya kami mengiyakan ajakan kapten kapal.

Hanya sekitar 20-30 menit dari Pulau Maratua, boat yang kami naiki mulai mengurangi lajunya dan secara perlahan merapat di pinggir pantai berbatu. Kita sampai……. di Pulau Kakaban!

 

kapal-kapal yang mengantarkan pengunjung seperti kami untuk melihat Goa Ikan
kapal-kapal yang mengantarkan pengunjung seperti kami untuk melihat Goa Ikan

 

Matahari yang bersinar terik di pagi menjelang siang hari itu membuat saya harus memicingkan mata untuk bisa melihat dengan jelas.

Boat bersandar di pinggiran pantai berbatu, dan kami pun terjun menyentuh pasir pantai yang berair setinggi betis. Di depan kami terbentang dinding batu yang ditutupi tumbuhan perdu yang rindang. Beberapa pohon yang agak besar tumbuh di atas tebing tersebut.

Dan di tebing batu tersebut ada sebuah ceruk kecil yang menjadi pintu masuk ke Goa Ikan. Ceruk ini bisa dilewati apabila air laut sedang surut. Ceruk di tebing batu itu tidak terlalu lebar, tapi bisa dilewati oleh orang dewasa. Di awal ceruk, saya masih bisa berdiri tegak, namun semakin ke dalam, langit-langit ceruk batu itu semakin rendah, dan dasar ceruk semakin dalam terendam air laut, yang mengharuskan saya untuk berjalan menunduk dan akhirnya harus merelakan air merendam badan saya hampir mencapai pinggang agar saya bisa melewatinya sampai di ujung.

Oh iya, untuk melewati ceruk ini harus sangat berhati-hati karena bebatuan yang ada di sekitarnya sangat tajam.

 

lautnya.... langitnya... awan... dan semua yang ada, membuat saya betah berlama-lama di sana
lautnya…. langitnya… awan… dan semua yang ada, membuat saya betah berlama-lama di sana
ceruk batu itu adalah awal dari Goa Ikan yang menjadi pintu masuk menuju laguna
ceruk batu itu adalah awal dari Goa Ikan yang menjadi pintu masuk menuju laguna

 

Sampai di ujung ceruk, taraaaaaaaaaaaaa………….

Di depan saya terbentang semacam danau/laguna yang sangat indah. Dikelilingi oleh tebing batu yang menghijau oleh tanaman perdu, air yang berwarna hijau toska jernih, membuat dasar laguna terlihat jelas. Ikan beraneka macam dan ukuran pun berenang berseliweran dengan bebasnya.

Ah, saya suka tempat ini!

Sekilas, tempat ini mengingatkan saya akan Pulau Sempu dan lagunanya. Sukaaaaaa……..

 

dan itu....... lagunanya.....
dan itu……. lagunanya…..

 

Saya mencoba mengabadikan keindahan alam yang terpampang di depan mata saya dengan lensa kamera. Ingin rasanya berlama-lama di sana. Menyenangkan.

Di mulut ceruk yang ada di dalam, saya menemukan ganggang laut yang tumbuh menempel pada bebatuan, dan ganggang itu berwarna merah bata. Sangat kontras dengan air hijau toska jernih dan batu-batuan di sana.

 

ganggang merah yang menempel di batu di mulut pintu ceruk bagian dalam
ganggang merah yang menempel di batu di mulut pintu ceruk bagian dalam
saya ga tau, ini termasuk ganggang jenis apa?
saya ga tau, ini termasuk ganggang jenis apa?

 

Puas memotret, saya pun melangkah kan kaki kembali menyusuri ceruk batu tersebut menuju pinggiran pantai. Kami harus segera beranjak menuju tujuan selanjutnya. Danau Kakaban!

 

Boat yang saya naiki hanya memutar sedikit untuk mencapai dermaga kayu panjang yang menjadi pintu masuk ke Danau Kakaban. Jembatan kayu panjang yang berujung pada sebuah gapura kayu dengan ornamen khas Kalimantan. Di sisi kiri gerbang, terdapat bangunan mungil berwarna biru yang merupakan loket untuk membeli tiket masuk ke Danau Kakaban.

Biaya untuk memasuki kawasan wisata Danau Kakaban cukup murah, hanya sebesar Rp 20.000.

 

parkir boat-nya jauuuuuuuuhhhhhh......
parkir boat-nya jauuuuuuuuhhhhhh……
selamat datang di Danau Kakaban
selamat datang di Danau Kakaban
tiket masuk ke Danau Kakaban untuk liat ubur-ubur tidak menyengat, 20 ribu ajah!
tiket masuk ke Danau Kakaban untuk liat ubur-ubur tidak menyengat, 20 ribu ajah!

 

Memasuki kawasan Danau Kakaban, kita akan mendaki tangga-tangga batu yang menanjak dengan jarak antar anak tangga yang cukup tinggi. Pohon-pohon besar tumbuh tinggi di sisi kanan dan kiri tangga batu. Di situ saya membaca beberapa nama pohon yang baru kali itu saya temui, dan saya tidak bisa mengingat pohon apa saja kah itu? :p

 

Setelah tiba di ujung tangga batu, kami harus menuruni sejumlah tangga kayu untuk mencapai danau. Lumayan juga perjuangan untuk menjumpai si ubur-ubur tidak menyengat itu.

Dan akhirnya…………… horeeeeeeeeeeeeeeee……. itu ubur-uburnya…..

 

itu dia.... non stinging jellyfish
itu dia…. non stinging jellyfish
ada yang lagi sendirian.... pengen pegang.....
ada yang lagi sendirian…. pengen pegang…..

 

Tidak menunggu lama, saya pun langsung nyemplung ke danau dan berenang dikelilingi ubur-ubur tidak menyengat itu.

Saya mencoba untuk memegangnya. Ternyata, ubur-ubur itu seperti agar-agar ya… lembut, sedikit berlendir dan tembus pandang seperti kaca.

Ah senangnya……….. bisa berenang bebas dikelilingi ubur-ubur lucu yang tidak menyengat.

 

Puas berenang dengan ubur-ubur, kami kembali ke pinggir pantai untuk menikmati makan siang. Seporsi nasi putih dengan oseng-oseng jagung, wortel dan buncis plus sepotong ikan goreng dan daging ayam berbumbu asam manis, hmm…… nikmat……

 

pemandangan daari lokasi makan siang kami di pinggir pantai
pemandangan daari lokasi makan siang kami di pinggir pantai
jembatannya panjang ya....
jembatannya panjang ya….

 

Selesai makan kami segera kembali ke boat untuk melanjutkan perjalanan menuju Pulau Sangalaki yang menjadi habitat Manta dan beberapa jenis ikan lainnya. Sebelum tiba di perairan Pulau Sangalaki, boat berhenti (masih di depan Pulau Kakaban) dan kami pun snorkling. Horeeeeee…….

Lokasi kami snorkling di dekat sebuah palung laut. Aneka rupa dan warna karang terlihat jelas di dasar laut yang airnya sangat jernih itu. dan macam-macam pula ikan yang berseliweran di antara karang-karang itu. Mulai dari Lionfish, ikan badut a.k.a nemo, ikan-ikan berwarna hijau, biru, kuning, bahkan ada yang putih bertotol-totol ungu!

 

Mendekati area palung, pemandangannya sangat bagus. Dan ikan-ikannya pun semakin beraneka warna. Tapi saya tidak berani berenang di area palung. Menyadari kemampuan berenang yang masih pemula, saya pun harus cukup puas berenang di daerah yang dangkal :D

Tapi, walaupun berenang di daerah yang dangkal, karang-karang dan ikan-ikan yang saya temui sudah cukup memanjakan mata. Semua baguuuuuuuusssss……

 

Puas snorkling dan main air, saya dan teman-teman pun naik kembali ke boat. Kami akan melanjutkan perjalanan menuju Pulau Sangalaki. Entah kenapa, saat menuju Pulau Sangalaki ini saya tidak terlalu bersemangat untuk memotret. Mungkin karena menimbang cuaca yang sedikit mendung (takut tiba-tiba hujan dan kamera masih di luar), akhirnya saya hanya melihat sedikit ke arah perairan Sangalaki. Dan kebetulan juga, gelombang agak sedikit besar.

 

Akhirnya selama perjalanan, saya hanya mengintip-ngintip sedikit dari tempat duduk. Melihat ada apa saja di laut jernihnya perairan Sangalaki.

Karena gelombangnya agak besar, terus terang saya tidak melihat apa-apa selama mengarungi perairan Sangalaki. Entah lah teman-teman yang lain?

 

Karena hari sudah menjelang sore, langit pun terlihat mulai digayuti awan hitam, kami memutuskan untuk segera kembali ke Derawan.

Ayo capt, kita capcus ke Derawan…….

 

Sampai di Derawan, kami pun menghambur ke kamar masing-masing untuk mandi dan bersih-bersih. Kebayang kan rasanya habis berenang di laut, sampai baju yang digunakan kering dan lengket di badan? :p

Mari kita mandi, dan siap-siap makan malam……

 

Jam 7 teng, kami sudah siap untuk makan malam di Rumah Makan Nur seperti biasa. Menu makan malam kali ini nasi putih, ikan bakar, cumi goreng dan sayur bening. Nyam… nyam… nyam…..

 

Selesai makan, saya, Iyus, Windy dan Gita kembali ke homestay.

Malam ini saya niatnya ingin ber-milkyway-an di jembatan kayu di belakang kamar.

Sudah dari malam kemarin sih tergodanya, hanya malam kemarin itu lebih milih untuk istiharat daripada memainkan kamera.

Dan jadilah malam ini, saya dan Iyus nongkrong di jembatan kayu untuk ber-milkyway-an.

 

hasil nongkrong di jembatan kayu di belakang kamar
hasil nongkrong di jembatan kayu di belakang kamar
deretan homestay di atas laut dan kapal-kapal nelayan yang tertambat di sana
deretan homestay di atas laut dan kapal-kapal nelayan yang tertambat di sana

 

 

Udah malem, saatnya bobok. Besok masih ada acara seru yang lain nih, mau tau??? Yuk, ikut!!!