Category Archives: trip

Vang Vieng, Negeri Dongeng di Balik Pegunungan Karst

EVY_3179

 

Mendengar nama Vang Vieng, otak saya berputar, mencoba mengingat-ingat pelajaran Geografi semasa sekolah dulu. Di mana kah kota ini? Dan tanpa berpikir untuk kedua kalinya, saya mengiyakan ajakan teman-teman untuk mengeksekusi tiket ke Laos, di mana Vang Vieng berada. Dan setelah berkali-kali browsing, hati saya langsung tertambat dengan pemandangan kota Vang Vieng yang saya temukan di Internet. Terbayang sebuah kota mungil di Laos bagian tengah yang berada di pinggiran Sungai Nam Song, dengan ritme kehidupan yang tidak terlalu cepat. I’m falling in love with Vang Vieng.

IMG_3726
gimana bisa nolak untuk jatuh cinta pada pemandangan seperti ini?

 

Penantian selama 1 tahun akhirnya berbuah pengalaman yang tidak akan terlupakan. Setelah mengunjungi Vientiane, saya dan teman-teman akhirnya melanjutkan perjalanan ke Vang Vieng. Karena jumlah kami yang cukup banyak (8 orang), saya dan teman-teman memutuskan untuk menyewa mini van. Biaya sewa mini van dengan rute Vientiane – Vang Vieng sebesar $100. Dan setelah berkendara selama kurang lebih 3-4 jam, akhirnya kami tiba di kota yang berjarak 155 kilometer di sebelah Utara Vientiane.

EVY_3163
perjalanan menuju Vang Vieng

 

 

Sabaidi Vang Vieng

Begitu kaki menjejak di kota Vang Vieng, yang saya rasakan adalah kedamaian. Senyum tulus selalu terlihat di setiap wajah penduduk yang berpapasan dengan kami. Ucapan “sabaidi” terdengar berkali-kali. Sabaidi adalah sapaan “hello” dalam bahasa setempat.

EVY_3193
Sabaidi Vang Vieng

 

EVY_3169
rumah saya 2 hari ini

 

EVY_3166
pemandangan sepanjang Sungai Nam Song dari balkon penginapan (The Elephant Crossing Hotel)

 

EVY_3197
pegunungan karst, kabut putih, sungai, dan pepohonan hijau, menjadi pemandangan cantik di Kota Vang Vieng

 

Sebelum menjelajahi kota ini, saya terlebih dahulu singgah di penginapan yang akan menjadi rumah saya selama 2 hari ke depan. Saya menginap di The Elephant Crossing Hotel dengan rate sebesar Rp 530,000 per malam. Hotel ini terletak di Ban Viengkeo, Vang Vieng Riverfront, Vang Vieng, persis di tepi Sungai Nam Song. Sebenarnya banyak sekali penginapan di Vang Vieng yang memiliki harga lebih murah, tetapi saya menginginkan sebuah kamar dengan pemandangan persis seperti yang saya lihat di dalam sebuah foto hasil browsing di Internet. Kamar dengan pemandangan pegunungan karst di depannya. Yes!

IMG_3673
pemandangan dari balkon kamar hotel…. Vang Vieng, I love u!!

 

Melihat pemandangan dari depan balkon kamar, keinginan untuk berkeliling melihat-lihat kota sempat sedikit terpinggirkan. Mata saya seolah terhipnotis dengan pemandangan sederetan pegunungan karst yang terbentang sejauh mata memandang. Dilengkapi dengan foreground aliran Sungai Nam Song dengan beberapa perahu yang hilir mudik melewatinya. Sawah hijau terbentang tidak ketinggalan ikut menambah indahnya scenery di depan mata saya.

 

IMG_3738
pemandangan Vang Vieng dari halaman hotel

 

EVY_3195
sejauh mata memandang….. pemandangannya bikin semakin jatuh cinta

 

Setelah memuaskan mata dengan pemandangan yang sangat indah, serta berkali-kali menekan tombol shooter di kamera, akhirnya saya melangkahkan kaki keluar dari penginapan. Menapaki jalanan tanah bercampur beton menuju jalan utama kota Vang Vieng.

Di sepanjang jalan utama, berderet-deret toko makanan, pakaian, café, pub, aksesoris, tour & travel, serta penginapan dengan mudah ditemukan. Dan karena Vang Vieng merupakan salah satu kota tujuan backpacker dari seluruh dunia, di sepanjang jalan banyak terlihat turis dari berbagai negara.

Sebenarnya, cara paling asyik mengelilingi Kota Vang Vieng adalah dengan menggunakan sepeda atau motor. Dan di sepanjang jalan, banyak yang menyewakan sepeda dengan harga 20,000 Kip/day atau motor seharga 50,000 Kip/day. Namun, saya memilih untuk berjalan kaki saja, karena lebih santai.

IMG_3750
yang badannya pegel-pegel…. monggo….

 

IMG_3696
suasana malam di Kota Vang Vieng

 

IMG_3698
salah satu restoran halal di Kota Vang Vieng

 

Sore menjelang malam itu saya habiskan dengan berkeliling Vang Vieng. Melihat aktivitas kayaking di sepanjang Sungai Nam Song, mencari tour operator yang menawarkan berbagai paket tour, mencoba masakan halal di Nazim Indian Food yang berada di salah satu ruas jalan, dan menikmati hingar-bingarnya kota dengan berbagai musik yang terdengar dari café dan pub yang banyak terdapat di sepanjang jalanan kota. Dan malam itu ditutup dengan kegiatan berdiam di balkon kamar sambil mengamati bayangan hitam deretan pegunungan karst yang terbentang di sepanjang sisi sungai.

 

IMG_3684
kayaking, sallah satu aktivitas outdoor yang menjadi kegiatan favorit turis di Vang Vieng

 

EVY_3239
menikmati senja di pinggir Sungai Nam Song, juga menjadi kegiatan favorit turis yang berkunjung ke Vang Vieng

 

EVY_3232
dan ini adalah deretan cafe terapung yang banyak terdapat di sepanjang tepian Sungai Nam Song

 

EVY_3234
naik hot air baloon di Vang Vieng? bisa banget……

 

EVY_3229
bersampan di Sungai Nam Song

 

Pagi menjelang, dan begitu membuka mata, di depan saya terbentang sebuah lukisan alam, indah, damai, dan misty. Pegunungan karst coklat hitam kehijauan terbentang, diselimuti kabut putih pekat dan selarik cahaya keemasan dari sisi Timur. Kota Vang Vieng bagaikan negeri dongeng yang dikelilingi oleh benteng kokoh. Dan pagi itu, saya berharap melihat sesosok pangeran berkuda putih yang keluar menerobos pekatnya gumpalan kabut pagi. Sepagi itu, aktivitas di Sungai Nam Song sudah dimulai, sampan-sampan terlihat hilir mudik, sebagian mengangkut warga lokal, dan sebagian lainnya mengangkut para turis yang ingin menikmati suasana pagi dengan menyusuri sungai.

EVY_3176
suasana pagi di Vang Vieng, bak di negeri dongeng

 

EVY_3187
pegunungan karst, sinar mentari pagi, langit biru dan kabut putih, perfect!

 

EVY_3195
siapa yang sanggup menolak keindahan seperti ini??

 

IMG_3703
I’m falling in love…. again.. again… again…

 

IMG_3737
sarapan sehat…..

Outdoor Activity di Vang Vieng

Hari ini, saya dan teman-teman akan mengikuti one day tour di Vang Vieng. Setelah semalam kami akhirnya memutuskan untuk untuk mengambil paket tour seharga 140,000 Kip (setara Rp 230,000) per orang yang meliputi aktivitas cave tubing, trekking ke Elephant Cave, kayaking di sepanjang Sungai Nam Song, dan berenang di Blue Lagoon. Paket tersebut sudah termasuk makan siang dengan menu nasi goreng seafood, pisang dan air mineral, plus guide untuk kegiatan kayaking.

IMG_3751
pagi di Kota Vang Vieng, menuju area Cave Tubing

 

IMG_3752
rute menuju lokasi Cave Tubing melewati terminal Kota Vang Vieng

 

IMG_3753
kota kecil yang tenang… hijau…

 

IMG_3755
dan ini… adalah jalan menuju lokasi Cave Tubing

 

Perjalanan dimulai ketika sebuah tuk tuk berukuran besar menjemput kami di penginapan. Tujuan pertama adalah kegiatan trekking menuju Elephant Cave dan cave tubing. Kami berangkat pukul 9 tepat, menuju lokasi cave tubing. Medan yang dilalui lumayan beragam, mulai dari jalanan aspal mulus, hingga jalanan tanah berbatu yang dipenuhi kubangan air. Setelah menempuh perjalanan sekitar 50 menit, akhirnya kami tiba di lokasi trekking.

EVY_3220
tuk tuk yang mengantarkan kami ber-adventure hari ini

 

EVY_3210
pemandangan di sepanjang jalan menuju lokasi cave tubing

 

IMG_3757
untuk mencapai lokasi cave tubing, kami harus melewati jembatan gantung

 

EVY_3216
jembatan gantung yang harus dilewati untuk mencapai lokasi cave tubing

Turun dari tuk tuk kami disambut dengan pemandangan sawah dan pegunungan hijau. Trekking menuju lokasi tubing memakan waktu sekitar 30 menit. Melewati pematang yang kanan kirinya berupa hamparan sawah menghijau. Meniti sebuah jembatan gantung yang terbentang di atas sungai yang cukup lebar dengan aliran airnya yang cukup deras membelah bebatuan di dasarnya.

EVY_3214
gerbang Thamxang Xayyalam Temple

Setibanya di lokasi cave tubing, suasana sangat ramai. Beberapa bangunan kayu, terbuka, dengan sederetan meja dan bangku panjang terbuat dari kayu tampak penuh oleh pengunjung yang sebagian besar adalah turis dari manca negara. Saya dan teman-teman menempati sebuah meja dan bangku panjang yang berada di bagian tengah, persis di tepi pagar. Dari tempat itu, saya bisa melihat dengan jelas aktivitas yang dilakukan oleh para turis di sepanjang sungai. Berpuluh ban hitam berjejer di atas permukaan sungai, sebagian digunakan oleh para pengunjung untuk bersantai sambil berenang, sekumpulan turis bermain susun ban.

IMG_3778
suasana pondokan di area cave tubiing

 

EVY_3201
mari bermain air…..

 

EVY_3200
selesai ber-cave tubing, bisa dilanjutkan dengan bermain susun ban

 

EVY_3198
my travelmate

 

EVY_3199
selain cave tubing, di sini pengunjung juga bisa ber-flying fox

Kegiatan cave tubing dilakukan secara per kelompok. Setiap kelompok akan bergantian untuk masuk ke dalam gua ditemani oleh beberapa guide. Mengarungi aliran sungai di dalam sebuah ceruk gua yang cukup gelap, hanya cahaya dari headlamp yang kami kenakan yang menjadi sumber penerangan. Setelah sekitar 30 menit bermain air di dalam gua, akhirnya kami ke luar. Di atas meja telah tersedia makan siang dengan menu nasi goreng seafood, pisang dan air mineral.

Setelah bersantap siang, kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi kayaking. Lokasi kayaking tidak terlalu jauh dari tempat cave tubing. Perahu kayak warna-warni terlihat tersebar di pinggiran sungai. Saya mendapat giliran menempati kayak berwarna kuning, yang diisi oleh 3 orang termasuk seorang guide yang duduk di belakang saya. Perjalanan mengarungi Sungai Nam Song dimulai. Aliran sungai membawa kayak yang saya naiki menuju hilir sungai. Air sungai terasa dingin di jemari tangan yang dengan sengaja saya celupkan dari tepian kayak. Pemandangan di sepanjang tepian sungai terlihat beragam. Pepohonan hijau, sawah, rumah penduduk dan bangunan-bangunan kosong bekas pub/café yang telah ditutup dan ditinggalkan pemiliknya. Dulu, Vang Vieng terkenal dengan pub dan café yang banyak terdapat di sepanjang tepian sungai. Namun sekarang, hampir 90% dari bangunan pub dan café tersebut telah berhenti beroperasi. Saat melakukan kayaking, saya hanya menemukan sekitar 3 café yang masih beroperasi. Suara musik hingar-bingar terdengar dari bangunan café, serta sekumpulan turis yang sedang asyik menikmati minuman lokal.

EVY_3218
tuk tuk dan kayak warna-warni

 

IMG_3828
let’s go!

 

IMG_3821
cafe dan pub di sepanjang Sungai Nam Song

Kayaking, mengarungi aliran sungai sepanjang kurang lebih 9 kilometer, kami tempuh dalam waktu sekitar 1.5 jam. Ditemani matahari yang bersinar sangat terang dan keringat yang bercucuran, akhirnya kami berhasil menyelesaikan aktivitas yang sangat menyenangkan ini. Selanjutnya, kami menuju Blue Lagoon.

IMG_3837
tiket masuk ke Blue Lagoon

 

IMG_3843
and jump!!

Perjalanan menuju Blue Lagoon dari end point kayaking hanya berjarak 10 menit dengan berkendara. Lokasi Blue Lagoon ini berjarak sekitar 7 kilometer dari pusat Kota Vang Vieng. Destinasi ini memungkinkan untuk dikunjungi pada pukul 8 pagi hingga 6 sore. Dengan membayar tiket masuk sebesar 10,000 Kip, saya akhirnya bisa menikmati sejuknya air hijau toska di Blue Lagoon. Di siang menjelang sore hari itu, Blue Lagoon penuh dengan pengunjung. Dan yang menjadi spot favorit adalah sebatang pohon yang tumbuh menjorok ke arah laguna, yang menjadi tempat para pengunjung untuk terjun bebas ke tengah-tengah hijau toskanya air laguna. Berganti-ganti pengunjung memanjat pohon tersebut menggunakan tangga bamboo sederhana untuk mencapai ujung dahan yang akan menjadi start point mereka untuk terjun ke tengah-tengah laguna. Dan seketika air hijau toska akan menyembur ke sekeliling, membuat basah pengunjung yang ada di sekitar laguna begitu tubuh salah satu pengunjung menyentuh permukaan airnya. Di bawah dahan pohon tersebut ada sebuah ayunan sederhana yang juga menjadi tempat favorit pengunjung untuk bersantai sambil berendam. Setelah ikut mencoba merasakan dinginnya air laguna, akhirnya saya dan teman-teman beranjak pulang. Selesai sudah perjalanan kami mengelilingi sebagian Kota Vang Vieng.

EVY_3224
menikmati senja dengan mengarungi Sungai Nam Song

 

EVY_3227
ingin menikmati Kota Vang Vieng? naik hot air baloon aja…..

 

 

 

Sempu, Surga yang Tersembunyi

396861_4332885725403_470012920_a

 

Menyambung cerita keliling Gunung Kelud beberapa waktu yang lalu, dan tengah malam ini pun kami tiba di Pantai Sendang Biru. Badan yang sudah terasa sangat penat bergoyang-goyang di dalam kendaraan sepanjang perjalanan Gunung Kelud – Sempu, membuat saya ingin segera meluruskan punggung.

Kami tiba di Pantai Sendang Biru yang berhadapan dengan Pulau Sempu di tengah malam menjelang subuh. Dan kami telah dinanti oleh 3 buah tenda yang terlihat sangat nyaman (yah, karena hari ini full keliling di dalam kendaraan, dari Stasiun Pasar Turi – Trowulan – Mojokerto – Gunung Kelud, dan sekarang Pantai Sendang Biru). Bersih-bersih dulu ah, abis itu langsung bobok :D

Ambil sleeping bag, terus pasang badan di pojokan tenda, dan saya pun segera terlelap.

 

ini tempat menginap kami semalam
ini tempat menginap kami semalam

 

dan ini, sodara ketenda saya semalam :)
dan ini, sodara satu tenda saya semalam :)

 

Hooooaaaaaaeeemmmmm…. Selamat pagi…… #nguletngulet

Segarnya badan setelah berhasil terlelap sekitar 4 jam. Dan aktivitas pagi ini diawali dengan antri di kamar mandi umum yang ada tidak jauh dari lokasi tenda kami. 1, 2, 3, 4, oke, saya antrian ke-5 di kamar mandi ke-2 dari pojok. Jebar…jebur….. 10 menit beres, terus beres-beres dikit di dalam mobil :D

 

suasana sarapan pagi yang hangat
suasana sarapan pagi yang hangat

 

gimana sarapannya? ikannya sedap yaaaa.....
gimana sarapannya? ikannya sedap yaaaa…..

 

Hari ini siap-siap trekking lagi ke Pulau Sempu.

Sedikit informasi, sebenarnya Pulau Sempu bukanlah sebuah lokasi wisata (ups). Sempu merupakan sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah Selatan Pulau Jawa, secara administratif berada di wilayah Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Pulau Sempu hanya memiliki luas 877 hektar yang ditumbuhi dengan pohon-pohon tropis. Pulau ini merupakan cagar alam yang dikelola oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur dan Departemen Kehutanan Indonesia. Pulau ini diakui sebagai sebuah cagar alam sejak tahun 1928 pada masa pemerintahan Hindia Belanda berdasarkan Besluit van den Gouverneur Generaal van Nederlandsch Indie No : 69 dan No.46 tanggal 15 Maret 1928 tentang Aanwijzing van het natourmonument Poelau Sempoe dengan luas 877 ha.

Selain keputusan pemerintahan pada zaman kolonial, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 417/Kpts-II/1999 tertanggal 15 Juni 1999 juga menegaskan Pulau Sempu sebagai Cagar Alam.

“Cagar Alam adalah suatu kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Sebagai bagian dari kawasan konservasi (Kawasan Suaka Alam), maka kegiatan wisata atau kegiatan lain yang bersifat komersial, tidak boleh dilakukan di dalam area cagar alam. Untuk memasuki cagar alam diperlukan SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi).” — Wikipedia Indonesia tentang Cagar Alam. Jadi, untuk memasuki Pulau Sempu, dibutuhkan Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) yang harus diurus lewat Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Jawa Timur di Surabaya. #semogawaktusayakeSempumemangadaSIMAKSInya

 

Segara Anakan di Pulau Sempu, telaga yang airnya asin karena mendapat limpahan air Samudera Hindia
Segara Anakan di Pulau Sempu, telaga yang airnya asin karena mendapat limpahan air dari Samudera Hindia

 

Pulau ini berbatasan dengan Selat Sempu (Sendang Biru) dan dikelilingi oleh Samudera HIndia di sisi Timur, Barat dan Selatan. Sebagai sebuah cagar alam, sebenarnya Pulau Sempu tertutup untuk umum. Wisatawan dilarang untuk datang dan berkunjung ke Pulau Sempu. Dan saat saya ke sana, saya terus terang tidak mengetahui status Pulau Sempu yang merupakan sebuah cagar alam #toyormyself

Karena kami diinfokan bahwa medan menuju Segara Anakan cukup licin dan basah, kami disarankan untuk menggunakan sandal trekking ataupun sepatu karet yang solnya seperti sepatu bola. Di sekitar Sendang Biru banyak warung-warung yang menyediakan sepatu karet tersebut, dan bisa disewa. Beberapa orang teman yang kebetulan tidak membawa sandal trekking akhirnya memutuskan untuk menyewa sepatu karet supaya nyaman selama perjalanan menuju Segara Anakan.

 

ini sepatuku, mana sepatumu?
ini sepatuku, mana sepatumu? Uwek, Afong, budhe Theresia, dan Sheril saling pamer sepatu

 

Dari Pantai Sendang Biru, saya dan teman-teman menaiki 2 buah perahu kayu untuk bisa mencapai Pulau Sempu. Beruntung Selat Sempu pagi itu sangat bersahabat, nyaris tidak ada gelombang. Dan tanpa berlama-lama, saya dan teman-teman pun tiba di Pulau Sempu.

 

ayo, buruan naik ke perahu
ayo, buruan naik ke perahu

 

perjalan ke Sempu yang penuh ketawa-ketawa
perjalan ke Sempu yang penuh ketawa-ketawa

 

Turun dari perahu kayu, kaki saya langsung menyentuh pasir bercampur lumpur di salah 1 sudut Pulau Sempu. Di depan saya terlihat berbagai jenis pepohonan tropis yang tidak terlalu rapat, sehingga kami masih bisa melihat sebuah jalan setapak kecil mengarah ke tengah pulau.

 

ini nih "dermaga" sebelum memasuki "hutan" Sempu tapi ini foto kami setelah menjelajahi Sempu, narsis sembari menunggu perahu menjemput
ini nih “dermaga” sebelum memasuki “hutan” Sempu
tapi ini foto kami setelah menjelajahi Sempu, narsis sembari menunggu perahu menjemput

 

Dipandu mas Dani, yang merupakan seorang trip organizer dari Kota Malang, perlahan kami pun memasuki Pulau Sempu. Memasuki hutan (yah, saya lebih suka menyebutnya hutan karena pepohonan yang ada di sana sangat banyak dan beraneka macam + ukuran), kami disuguhi tanah becek yang licin karena sedikit gerimis. Saya berjalan mengikuti rombongan dengan sangat hati-hati kalau tidak ingin jatuh terjerembab di tanah licin yang kadang memberikan bonus sebuah kubangan kecil.

 

biarpun harus gedebag gedebug jatuh bangun, eksis tetep harus dong yaaa....
biarpun harus gedebag gedebug jatuh bangun, eksis tetep harus dong yaaa….

 

medannya ajip yaaaa....... semangat!!!
medannya ajip yaaaa……. semangat!!!

 

hihihihi.... pegangan biar ga ngglinding :p
hihihihi…. pegangan biar ga ngglinding :p

 

Selama perjalanan, hidung saya disuguhi wangi tanah basah lengkap dengan harum dedaunan. Membuat saya dengan rakus berusaha memenuhi paru-paru ini dengan kesegarannya. Kaki melangkah perlahan menyesuaikan dengan medan yang terpampang luas di depan mata. Ups, badan saya sedikit berayun ketika tiba-tiba kaki saya terpeleset dan berakhir dengan kaki kanan yang mendarat manis pada sebuah kubangan kecil, yang untungnya (masih untung) hanya berair sedikit. Tangan pun harus sigap mencari sesuatu yang bisa dipegang/digayuti sepanjang jalan agar tidak gedebug jatuh :D

 

mau ada pohon besar melintang di depan, hajaaaarrrrr....
mau ada pohon besar melintang di depan, hajaaaarrrrr….

 

Perjalanan menuju Segara Anakan yang ada di Pulau Sempu ini membutuhkan waktu sekitar 1.5 hingga 2 jam, tergantung kecepatan jalan masing-masing. Dan sepertinya kami membutuhkan waktu yang lebih panjang karena terlalu sering berhenti…….. Kecapekan? Oh NO!!! Kami berhenti untuk…….. foto-foto :D

 

yeeeaaaahhhhhh..... we are here!!!
yeeeaaaahhhhhh….. we are here!!!

 

Dan finally, di depan saya melihat sebuah telaga bening yang dikelilingi tebing batu, yang berbatasan dengan samudera luas. Yah, Segara Anakan!

Kalau saja ga ingat dengan posisi kami yang masih di atas tebing, dan perlu beberapa langkah lagi untuk turun menuju hamparan pasir putih dan telaga itu, ingin rasanya saya lari dan segera menceburkan diri ke dalam telaga. Setelah sedikit bersusah-susah menuruni tebing, dibonusin kepeleset dan sedikit baret-baret di ke-2 tangan, akhirnya saya tiba di hamparan pasir putih itu. Pasirnya haluuuuuuuuusssssssss……. Dan yang bikin ga bisa menahan diri itu adalah godaan air jernih di Segara Anakan. Tanpa berpikir lama, saya segera meletakkan tas, kamera dan seluruh barang bawaan di pasir dan kemudian menghambur nyebur ke telaga, segeeeeeeeeeeeeeeeeeeerrrrrrrr…………

 

copot sandal, teruuuuuusssss..... nyebuuuuurrr.....
copot sandal, teruuuuuusssss….. nyebuuuuurrr…..

 

baru di pinggir segaranya aja udah kayak gini ekspresi kita ya mbak Kim....
baru di pinggir segaranya aja udah kayak gini ekspresi kita ya mbak Kim….

 

wkwkwkwkwkwkwk....... lupa umur kalo udah main air :D
wkwkwkwkwkwkwk……. lupa umur kalo udah main air :D

 

Tanpa perlu dikomando, teman-teman yang lain pun langsung berebutan terjun ke dalam telaga. Air di Segara Anakan jernih, sehingga saya bisa melihat dasar berpasirnya. Melupakan umur, kami pun bermain bagaikan anak kecil yang dilepas bermain di tengah hujan. Seruuuuuuu…..

 

lupa umur :D
lupa umur :D

 

liat deh kelakuannya :D
liat deh kelakuannya :D

 

Main air rame-rame, saling siram dan simbur, walhasil basah kuyup dan akhirnya berendam lah kami sebatas leher di Segara Anakan.

 

horeeeeee.......
horeeeeee…….

 

Saya sangat menyukai suasana di sekitar Segara Anakan. Pasir putih yang halus, kecipak air di dalam telaga dan suara hempasan ombak di tebing batu yang memisahkan Segara Anakan dengan Samudera Hindia. Sesekali air laut masuk ke dalam segara melalui sebuah celah di tebing batu karang yang menghadap ke samudera.

 

kelakuan :p :p
kelakuan :p :p

 

yeeeeaaaahhhhh!!!
yeeeeaaaahhhhh!!!

 

yang ga mau ikut basah-basahan, duduk anteng di pasir
yang ga mau ikut basah-basahan, duduk anteng di pasir

 

Beberapa teman memutuskan untuk menaiki tebing batu karang untuk melihat Segara Anakan dari atas. Saya? Ga mau kalah, saya ikutan juga walau ga sampai di puncak karena males, soalnya tangan dan kaki sudah lumayan penuh baret-baret akibat tergores karang.

 

naik ke tebing hanya untuk foto-foto :p
naik ke tebing hanya untuk foto-foto :p

 

Yeeeeaaaayyyy.... I'm here!!!
Yeeeeaaaayyyy…. I’m here!!!

 

Dilihat dari atas tebing batu, Segara Anakan bagaikan kolam yang luas di tengah-tengah hutan yang hijau (semoga Sempu selalu terjaga).

 

Segara Anakan di Pulau Sempu, telaga yang airnya asin karena mendapat limpahan air Samudera Hindia
Segara Anakan di Pulau Sempu, telaga yang airnya asin karena mendapat limpahan air Samudera Hindia

 

Yes, saya ada di Sempu
Yes, saya ada di Sempu

 

Puas foto-foto di atas tebing, kami pun turun dan bersiap-siap untuk kembali ke Sendang Biru. Belum apa-apa sudah terbayang medan yang pastinya tambah licin karena selama perjalanan kami menuju Segara Anakan, gerimis turun dengan setianya.

Mari kita semangat, menjelajah hutan lagi menuju perahu…. Tapi, sebelum pulang kami masing-masing mengeluarkan kantong plastik untuk memunguti sampah yang ada. Ini bukan pencitraan, tapi emang beneran, saya dan teman-teman agak miris dengan kondisi di sekitar Segara Anakan yang mulai dipenuhi dengan sampah. Dan tanpa janjian, ternyata kami masing-masing sudah menyiapkan plastik sebagai wadah sampah.

Jadilah di siang menjelang sore itu kami menutup acara senang-senang kami di Sempu dan Segara Anakan dengan memunguti sampah yang kami temui. Lumayan banyak sampah yang berhasil kami kumpulkan, adalah sekitar 5 kantong plastik besar. Sedih liatnya :(

 

lututnya lemes... pp Sendang Biru - Segara Anakan :D
lututnya lemes… pp Sendang Biru – Segara Anakan :D

 

Sepanjang perjalanan pulang pun, kami masih memunguti sampah yang kami temui. Yah, mungkin ini tidak seberapa dengan banyaknya sampah yang ada, tapi kami hanya ingin sedikit berbuat yang lebih baik. Dan perjalanan pulang menjadi semakin panjang waktunya, karena selain memungut sampah, kami juga tetap eksis, narsis, foto-foto :D

 

hai Pantai Sendang Biru.... kami kembali....
hai Pantai Sendang Biru…. kami kembali….

 

Tiba di Pantai Sendang Biru, kami disambut pemandangan bocah-bocah kecil yang sedang bermain bola, ah…… menyenangkan…..

 

begitu sampai di Sendang Biru, liatnya ini...... ikutaaaaaannnnn.... #laringejarbola
begitu sampai di Sendang Biru, liatnya ini…… ikutaaaaaannnnn…. #laringejarbola

 

 

Note: makasih untuk Rika, mas Sigit, budhe Kim, plus teman-teman yang udah share foto selama di sana. Fotonya pinjem yaaaaa…..

Derawan #4, Bye bye Derawan….. Let’s Go Home….

Derawan 145

 

Derawan – Tarakan – Balikpapan – Jakarta

Selasa, 2 Juni 2015

 

Ini hari terakhir saya di Derawan. Hiks, masih ga rela meninggalkan semuanya…. Laut jernih, langit biru, Penyu Hijau, ikan-ikan lucu, gemericik riak gelombang, homestay yang hommy banget, dan semua suasana yang sangat menyenangkan ini.

But, holiday is over.

Saya dan teman-teman harus pulang ke Jakarta. Dan bertekad, “Kita harus liburan lagi secepatnya!” :D

 

i will miss my (hommy) homestay
i will miss my (hommy) homestay

 

akan merindukan suasana di depan kamar seperti ini
akan merindukan suasana di depan kamar seperti ini

 

Seperti biasa, pagi ini kami sarapan bersama, di tempat yang sama juga.

Selesai sarapan, sambil menunggu speed boat siap mengantarkan kami ke Pelabuhan Tengkayu di Tarakan, saya memeriksa lagi seluruh bawaan. Ransel udah siap, kamera juga udah rapi di tas, gear snorkeling already packed di tasnya.

 

kapan lagi bisa liat air jernih seperti ini???
kapan lagi bisa liat air jernih seperti ini???

 

Sekitar jam 9 pagi kami mulai menaiki boat, dan secara perlahan boat mulai bergerak menjauhi dermaga kayu coklat yang selama 4 hari ini begitu akrab dengan kami. Semakin lama boat semakin kencang, melaju di atas permukaan laut yang jernih. Bye bye Derawan….. thank you so much for this unforgettable moment, lovable holiday. See you next time, I wish. Bismillah……..

 

see u again Derawan.....
see u again Derawan…..

 

Membayangkan 3 jam terombang-ambing di atas boat berkecepatan tinggi, saya memilih untuk memejamkan mata. Semilir angin yang bertiup, ditambah wangi aroma laut, membawa rasa tenang. Dan sukses lah saya merem selama perjalanan (kayaknya di sepanjang perjalanan, saya selalu tidur ya? :D)

 

Perjalanan kami menuju Pelabuhan Tengkayu bisa dibilang sangat lancer, kalau saja mesin boat tidak tiba-tiba mati di saat posisi kami sedang di tengah laut. Waduuuuuhhhh….. Ada apa ini?

Sebenarnya, Pelabuhan Tengkayu sudah keliatan di ujung sana, tapi kenapa tiba-tiba boat ini mati ya?

Ternyata…… boat kehabisan bahan bakar. Itu saya dengar dari (omelan) kapten kapal. Dan kemudian, kami mendengar mas Alif menelepon ke kantornya dan minta dikirimkan bahan bakar tambahan.

 

Kami menunggu.

5 menit, 10 menit, 15 menit, kenapa tidak ada kapal yang mendatangi kami?

Akhirnya, saya mencoba untuk mengirimkan sebuah pesan singkat ke Derawan Tours

“Siang pak Jeme. Speed boat yang saya tumpangi dari Derawan ke Tarakan mogok di laut. Katanya kehabisan bahan bakar. Sudah 30 menit kami terombang-ambing di laut. Bagaimana ini?”

 

Berselang 4 menit kemudian, sebuah pesan singkat masuk ke HP saya “Selamat siang mbak, mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Kami sudah mengirim speed dari Tarakan 30 menit yang lalu. Mohon bersabar ya mbak”.

 

Sekitar 10 menit kemudian, di kejauhan terlihat sebuah speed boat mendekat. Dan ternyata itulah boat yang membawakan tambahan bahan bakar untuk boat kami. Alhamdulillah.

Setelah bahan bakar diisi, mesin boat pun berhasil dinyalakan! Alhamdulillah, kami bisa kembali berlayar menujuu Tarakan. Terima kasih Derawan Tours…. Terima kasih bapak di speed boat yang bawain bahan bakar…

 

Suasana di Pelabuhan Tengkayu
Suasana di Pelabuhan Tengkayu

 

Sampai di Pelabuhan Tengkayu, wuuiiihhhh…… rame!!!

Oh iya, tadi itu speed boat kami mogok kehabisan bahan bakarnya di depan Pulau Kaciak (itu dikasi tau sama kapten kapalnya). Jaraknya sekitar ½ jam dari Pelabuhan Tengkayu, Tarakan.

 

Siang itu, Pelabuhan Tengkayu sangat ramai, padat!

Setelah unloading barang bawaan dari boat, kami kemudian menunggu mobil yang akan menjemput dan mengantarkan kami ke bandara.

Karena flight saya dan teman-teman sekitar jam 5 sore, kami skip acara untuk city tour di Tarakan, dan memilih untuk lebih cepat sampai ke bandara.

 

Begitu mobil jemputan kami datang, saya dan teman-teman langsung naik dan segera meluncur ke tengah kota Tarakan.

Sebelum ke bandara, kami singgah sebentar untuk makan siang. Tujuannya? Ya ke Warung Teras lah….

 

Karena siang itu Warung Teras sangat ramai, kami pun memilih menu yang tidak terlalu rumit dan gampang disajikan.

Hmm….. makan siangnya nikmat…….

 

menu makan siang hari ini
menu makan siang hari ini

 

Selesai makan siang, kami pun pamitan dengan teman-teman yang lain, karena kami tidak ikut untuk city tour.

Diantar oleh mas Alif dan driver, pak Rudi, kami pun meluncur menuju Bandara Juwata. Check in, dan akhirnya menunggu keberangkatan si Singa Merah menuju Jakarta.

 

Bye bye Derawan..... Hello Jakarta....
Bye bye Derawan….. Hello Jakarta….

 

be nice ya..... jangan pake acara delay
be nice ya….. jangan pake acara delay

 

Note.

Perjalanan pulang ke Jakarta ini ternyata transit di Balikpapan sekitar 30 menit. Dan diwarnai insiden  dengan adanya sekelompok orang (sepertinya dari China atau Taiwan) yang duduk di deretan emergency exit, but they can’t speak in English…. so… mereka ga ngerti itu panduan kalau ada kondisi emergency. Akhirnya mbak-mbak pramugari yang sibuk mencoba menjelaskan kepada mereka dan meminta beberapa penumpang untuk pindah dan bertukar seat dengan mereka.

 

Bye bye Derawan, bye bye Tarakan…… thank  you so much ya…… it was so fun…….

 

 

Derawan #3, Panas-panasan di Pulau Gusung

Derawan 092

 

Derawan – Pulau Gusung – Derawan

Senin, 1 Juni 2015

 

Ini adalah hari ke-3 saya di Pulau Derawan. Setelah kemarin full hoping island, hari ini acaranya agak sedikit nyantai.

Selama di Derawan, telinga sayamulai akrab dengan suara kecipak riak gelombang kecil di kolong homestay. Dan mata ini menjadi sangat akrab dengan pemandangan Penyu Hijau yang berenang di sekeliling homestay, ikan aneka warna dan jenis, juga jernihnya laut hijau toska yang terbentang luas.

Dan pagi ini, liburan saya akan diisi dengan mengunjungi Pulau Gusung yang ada tepat di depan Pulau Derawan.

Seperti biasa, setelah beberes, kemudian sarapan, kami pun kembali menaiki speed boat yang selama 3 hari ini setia nganterin ke spot-spot terbaik di sekitar Pulau Derawan.

 

hamparan pasir putih dan birunya langit akan jadi pemandangan yang kontras selama di Pulau Gusung
hamparan pasir putih dan birunya langit akan jadi pemandangan yang kontras selama di Pulau Gusung

 

Pulau Gusung ini adalah hamparan pasir putih yang hanya akan timbul/kelihatan pada saat air laut dalam keadaan surut. Apabila air laut pasang, daratan pasir ini akan tenggelam. Pulau Gusung ini adalah pulau pasir yang tidak berpenghuni, tidak ada tumbuhan/pohon, sehingga…. siap-siap aja warna kulitnya akan naik beberapa tone setelah singgah di pulau ini :D

Pasir putih yang terhampar, akan berdampingan dengan birunya langit dan jernihnya air laut. Yang pastinya akan bikin kamu-kamu betah banget deh main di sana.

 

Hai Ngers, kami udah sampe di sini lho....
Hai Ngers, kami udah sampe di sini lho….

 

Mau berendam di air laut yang agak hangat karena matahari bersinar terik? Bisa!

Mau foto-foto? Wah, bisa banget!

Mau tiduran ala-ala bule, jangan ditanya deh….. wong pasirnya luas begitu. Mau guling-gulingan juga bisa kok :D

Nah, 1 lagi, di Pulau Gusung ini, kita juga bisa ketemu “Patrick” temannya “Spongebob” :D

 

"Patrick" yang saya temukan di Pulau Gusung
“Patrick” yang saya temukan di Pulau Gusung

 

masih edisi "Patrick"
masih edisi “Patrick”

 

Bintang laut besar dengan warnanya yang orange, dihiasi tentakel hitam yang menyerupai kerucut tajam, tapi sebenarnya tentakelnya ga tajam kok, banyak banget di pulau pasir ini. Kemarin saya berhasil nemuin 2 bintang laut gede, yang kemudian jadi obyek foto teman-teman. Mungkin kalau mau jalan lagi keliling pulau, bakal nemuin lebih banyak bintang laut di sana.

Di Pulau Gusung, saya menikmati berendam di air laut yang hangat karena sinar matahari. Air lautnya jernih, sementara pasir putihnya halus banget. Suka deh duduk-duduk sambil berendam di sana. Beberapa ikan kecil juga terlihat berenang bebas di sela-sela batu karang kecil-kecil yang banyak di pinggiran pulau.

Pemandangan di Pulau Gusung sangat kontras. Pasir putih, langit biru, udara cerah dan laut jernih. Perfecto!!!

 

pasir putihnya halus banget
pasir putihnya halus banget

 

Puas main panas-panasan, tidur-tiduran dan foto-foto di Pulau Gusung, saya dan teman-teman naik lagi ke kapal untuk melanjutkan acara siang hari itu.

Abis panas-panasan, mari kita main air lagi. Kita liat ikan-ikan cantik yang ada di sekitar Pulau Derawan. Tiba di spot snorkeling di sisi lain Pulau Derawan, ga pake nunggu lama, semua langsung nyebur! Segaaaaaaaarrrrr…..

Di spot snorkeling kali ini saya ketemu “Nemo”, Lionfish, macem-macem deh, ga tau namanya. Ikannya lucu-lucu, dan warna-warni. Hanya saja, arus laut siang itu cukup deras, dan untuk saya yang kemampuan berenangnya seiprit ini, rada jiper juga. Rasanya udah kecipak-kecipak seru, kok posisinya ga maju-maju karena ngelawan arus. Yang ada malah hanyut ke belakang…. help……………. Akhirnya teriak ke mas Alif, minta tarikin ke dermaga… hihihihihihihi…….

Cukup deh berenangnya…. Capek bangeeeeeeeettttt….. plus lapeeeeeeeeeeeeeeeeerrrrrrrrrrrrrrrr……

 

Naik ke dermaga, saya mulai kemas-kemas tas dan bawaan yang ada di kapal. Terus……. Kasak-kusuk sama Iyus, Windy dan Gita “Kita cari Indomie rebus yuk!” Deal! #toss

Jadilah kami ber-4 kabur, menyusuri jembatan kayu yang panjang ini untuk mencari…… Indomie rebus!

 

jembatan kayu seperti ini akan banyak ditemui di Pulau Derawan
jembatan kayu seperti ini akan banyak ditemui di Pulau Derawan

 

nih, kalau mau cari homestay di Pulau Derawan, infonya lengkap!
nih, kalau mau cari homestay di Pulau Derawan, infonya lengkap!

 

ini spot-spot menarik yang bisa dikunjungi di sekitar Derawan
ini spot-spot menarik yang bisa dikunjungi di sekitar Derawan

 

Matahari siang itu kenceng banget sinarnya, ajib bener lah rasanya di kulit.

Berjalan, menyusuri jembatan kayu, pasir putih, homestay-homestay yang dipenuhi pelancong, dan kami pun tiba di depan Rumah Makan Nur, tempat makan favorit selama di Derawan. Seperti biasa, pesan 4 es Kelapa muda, dan kali ini ditambah 4 mangkok Indomie rebus + telor :D

Selagi kami menunggu pesanan Indomie rebus, ternyata teman-teman 1 rombongan mulai berdatangan, dan ternyata lagi, jam makan siang sudah tiba…… horeeeeeee…..

Jadi lah siang itu menu kami nambah, semangkok Indomie rebus + telor, nasi, ikan goreng tepung, sayur bening + ga lupa saya pesan 1 porsi cumi goreng tepung :D

Hohohohohohoho…… liburan 4 hari di sini, sepertinya lingkar pinggang akan bertambah beberapa cm deh :D

Makan siang hari ini nikmat bangeeeeeeeeeeeettttt…… makanannya semua enaaaaaaaakkkkkk…… #lapiler

Selesai makan, kami kembali ke homestay untuk mandi (lagi). Badan rasanya pliket, lengket-lengket abis berendam air laut. Pakaian yang tadinya basah, sekarang udah kering dan melekat di badan. Komplit, rasanya kayak ikan asin sedang dijemur :D

Berhubung setelah ini acaranya adalah acara bebas, abis mandi saya masih bisa leyeh-leyeh di kasur sambil merem, dan akhirnya sukses ketiduran :D

Sempat merem sekitar 1 jam, bangun, dan kemudian grubak-grubuk ngajakin Windy dan Iyus untuk hunting foto sambil keliling pulau. Weeewww…. Ternyata kami semua ketiduran…. Hihihihihi…

Oke, cuci muka, ambil kamera, mari kita keliling……..

 

keliling pulau sore itu, saya menemukan banyak suvenir dari kerang laut
keliling pulau sore itu, saya menemukan banyak suvenir dari kerang laut

 

bagus-bagus ya....
bagus-bagus ya….

 

Menikmati sore, kami memutuskan untuk menuju dermaga di sisi kanan Pulau Derawan, tempat kami tadi siang ber-snorkeling ria. Dan pilihan kami sangat tepat, karena sunset persis di depan dermaga! Horeeeeeeee………

 

sunset-nya persis di depan dermaga
sunset-nya persis di depan dermaga

 

Walau matahari masih agak terang, tapi udah ga sepanas tadi siang, ditambah hembusan angin yang lumayan kencang, bikin sore itu cukup adem menurut saya.

 

homestay terapung a.k.a water chalet di pinggir dermaga
homestay terapung a.k.a water chalet di pinggir dermaga

 

suasana yang akan selalu ngangenin
suasana yang akan selalu ngangenin

 

Duduk di salah satu gazeebo yang ada di dermaga, jadilah saya, Iyus dan Windy cerita-cerita ber-haha-hihi sambil foto-foto. Lagi asyiknya foto dan cerita-cerita, tiba-tiba HP saya bergetar hebat, dan begitu dilihat, ternyata Gita yang telepon. “Ada apa Git?”

“Mbak, di mana? Aku ga bisa masuk kamar. Mau maghrib, mau pipis”. Ahahahahahaha….. makanya…. kalo mau jalan itu bilang… sekarang bingung kan karena kita ga ada di kamar :p

Jadi ceritanya, waktu kami ketiduran, ternyata Gita jalan bareng teman yang lain, katanya mau sepedaan keliling pulau.

Huuuuuuu….. kan belum puas foto-fotonya….

 

selalu kangen dengan suasana seperti ini
selalu kangen dengan suasana seperti ini

 

Ya udah deh, akhirnya kami balik ke homestay, karena ada yang ga bisa masuk ke kamar :D

 

Malam ini, ga ada acara apa-apa. Jadi setelah makan malam (seperti biasa, di Rumah Makan Nur) saya seperti malam kemarin, nongkrong lagi di jembatan kayu, cari milkyway. Puas-puasin malam ini, karena besok kan kita harus balik ke Jakarta. Oh no!

Sebelum milkyway-an, saya packing dulu deh. Beresin ransel, biar besok pagi ga keburu-buru. Selesai packing, mari kita nongkrong di jembatan…..

 

pemandangan malam itu....
pemandangan malam itu….

 

pantulan cahaya dari homestay di permukaan air laut, mau liat langsung yang kayak gini??? yuk, ke sini!!
pantulan cahaya dari homestay di permukaan air laut, mau liat langsung yang kayak gini??? yuk, ke sini!!