Category Archives: travel

Derawan #4, Bye bye Derawan….. Let’s Go Home….

Derawan 145

 

Derawan – Tarakan – Balikpapan – Jakarta

Selasa, 2 Juni 2015

 

Ini hari terakhir saya di Derawan. Hiks, masih ga rela meninggalkan semuanya…. Laut jernih, langit biru, Penyu Hijau, ikan-ikan lucu, gemericik riak gelombang, homestay yang hommy banget, dan semua suasana yang sangat menyenangkan ini.

But, holiday is over.

Saya dan teman-teman harus pulang ke Jakarta. Dan bertekad, “Kita harus liburan lagi secepatnya!” :D

 

i will miss my (hommy) homestay
i will miss my (hommy) homestay

 

akan merindukan suasana di depan kamar seperti ini
akan merindukan suasana di depan kamar seperti ini

 

Seperti biasa, pagi ini kami sarapan bersama, di tempat yang sama juga.

Selesai sarapan, sambil menunggu speed boat siap mengantarkan kami ke Pelabuhan Tengkayu di Tarakan, saya memeriksa lagi seluruh bawaan. Ransel udah siap, kamera juga udah rapi di tas, gear snorkeling already packed di tasnya.

 

kapan lagi bisa liat air jernih seperti ini???
kapan lagi bisa liat air jernih seperti ini???

 

Sekitar jam 9 pagi kami mulai menaiki boat, dan secara perlahan boat mulai bergerak menjauhi dermaga kayu coklat yang selama 4 hari ini begitu akrab dengan kami. Semakin lama boat semakin kencang, melaju di atas permukaan laut yang jernih. Bye bye Derawan….. thank you so much for this unforgettable moment, lovable holiday. See you next time, I wish. Bismillah……..

 

see u again Derawan.....
see u again Derawan…..

 

Membayangkan 3 jam terombang-ambing di atas boat berkecepatan tinggi, saya memilih untuk memejamkan mata. Semilir angin yang bertiup, ditambah wangi aroma laut, membawa rasa tenang. Dan sukses lah saya merem selama perjalanan (kayaknya di sepanjang perjalanan, saya selalu tidur ya? :D)

 

Perjalanan kami menuju Pelabuhan Tengkayu bisa dibilang sangat lancer, kalau saja mesin boat tidak tiba-tiba mati di saat posisi kami sedang di tengah laut. Waduuuuuhhhh….. Ada apa ini?

Sebenarnya, Pelabuhan Tengkayu sudah keliatan di ujung sana, tapi kenapa tiba-tiba boat ini mati ya?

Ternyata…… boat kehabisan bahan bakar. Itu saya dengar dari (omelan) kapten kapal. Dan kemudian, kami mendengar mas Alif menelepon ke kantornya dan minta dikirimkan bahan bakar tambahan.

 

Kami menunggu.

5 menit, 10 menit, 15 menit, kenapa tidak ada kapal yang mendatangi kami?

Akhirnya, saya mencoba untuk mengirimkan sebuah pesan singkat ke Derawan Tours

“Siang pak Jeme. Speed boat yang saya tumpangi dari Derawan ke Tarakan mogok di laut. Katanya kehabisan bahan bakar. Sudah 30 menit kami terombang-ambing di laut. Bagaimana ini?”

 

Berselang 4 menit kemudian, sebuah pesan singkat masuk ke HP saya “Selamat siang mbak, mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Kami sudah mengirim speed dari Tarakan 30 menit yang lalu. Mohon bersabar ya mbak”.

 

Sekitar 10 menit kemudian, di kejauhan terlihat sebuah speed boat mendekat. Dan ternyata itulah boat yang membawakan tambahan bahan bakar untuk boat kami. Alhamdulillah.

Setelah bahan bakar diisi, mesin boat pun berhasil dinyalakan! Alhamdulillah, kami bisa kembali berlayar menujuu Tarakan. Terima kasih Derawan Tours…. Terima kasih bapak di speed boat yang bawain bahan bakar…

 

Suasana di Pelabuhan Tengkayu
Suasana di Pelabuhan Tengkayu

 

Sampai di Pelabuhan Tengkayu, wuuiiihhhh…… rame!!!

Oh iya, tadi itu speed boat kami mogok kehabisan bahan bakarnya di depan Pulau Kaciak (itu dikasi tau sama kapten kapalnya). Jaraknya sekitar ½ jam dari Pelabuhan Tengkayu, Tarakan.

 

Siang itu, Pelabuhan Tengkayu sangat ramai, padat!

Setelah unloading barang bawaan dari boat, kami kemudian menunggu mobil yang akan menjemput dan mengantarkan kami ke bandara.

Karena flight saya dan teman-teman sekitar jam 5 sore, kami skip acara untuk city tour di Tarakan, dan memilih untuk lebih cepat sampai ke bandara.

 

Begitu mobil jemputan kami datang, saya dan teman-teman langsung naik dan segera meluncur ke tengah kota Tarakan.

Sebelum ke bandara, kami singgah sebentar untuk makan siang. Tujuannya? Ya ke Warung Teras lah….

 

Karena siang itu Warung Teras sangat ramai, kami pun memilih menu yang tidak terlalu rumit dan gampang disajikan.

Hmm….. makan siangnya nikmat…….

 

menu makan siang hari ini
menu makan siang hari ini

 

Selesai makan siang, kami pun pamitan dengan teman-teman yang lain, karena kami tidak ikut untuk city tour.

Diantar oleh mas Alif dan driver, pak Rudi, kami pun meluncur menuju Bandara Juwata. Check in, dan akhirnya menunggu keberangkatan si Singa Merah menuju Jakarta.

 

Bye bye Derawan..... Hello Jakarta....
Bye bye Derawan….. Hello Jakarta….

 

be nice ya..... jangan pake acara delay
be nice ya….. jangan pake acara delay

 

Note.

Perjalanan pulang ke Jakarta ini ternyata transit di Balikpapan sekitar 30 menit. Dan diwarnai insiden  dengan adanya sekelompok orang (sepertinya dari China atau Taiwan) yang duduk di deretan emergency exit, but they can’t speak in English…. so… mereka ga ngerti itu panduan kalau ada kondisi emergency. Akhirnya mbak-mbak pramugari yang sibuk mencoba menjelaskan kepada mereka dan meminta beberapa penumpang untuk pindah dan bertukar seat dengan mereka.

 

Bye bye Derawan, bye bye Tarakan…… thank  you so much ya…… it was so fun…….

 

 

Derawan #2 – Berenang dengan Non Stinging Jellyfish

EVY_0629

 

Derawan – Maratua – Kakaban – Sangalaki

Minggu, 31 Mei 2015

 

Selamat pagi Indonesia, selamat pagi dunia…….. :)

 

Setelah istirahat yang sangat cukup tadi malam, pagi ini saya memulai hari dengan kondisi badan yang segar……..

Dan alarm alami saya sudah memaksa saya membuka mata sejak pukul 5 subuh waktu Derawan, which means pukul 4 waktu Jakarta.

Suara kecipak ombak di kolong homestay seolah-olah senandung pagi yang membangunkan saya. Rasa penat dan pegel setelah kemarin menempuh perjalanan yang cukup panjang dan jauh, Jakarta – Tarakan – Derawan akhirnya terbayarkan dengan istirahat yang sangat nyaman tadi malam. Dan pagi ini, saya siap menjelajah pulau-pulau yang ada di sekitar Derawan ini. Mari kita let’s go!!!

 

Setelah menunaikan sholat subuh, mandi dan berganti kostum, saya menyempatkan diri untuk mengejar sedikit sisa-sisa sunrise hari ini. Membuka pintu kamar, hidung saya langsung disergap dengan harum aroma air laut yang khas. Semburat keemasan masih tersisa di balik bayangan pohon Kelapa dan deretan perkampungan penduduk di sisi Timur pulau.

semburat keemasan di ufuk Timur subuh itu di Derawan
semburat keemasan di ufuk Timur subuh itu di Derawan
cukup dari depan kamar saja untuk mendapatkan pemandangan seperti ini
cukup dari depan kamar saja untuk mendapatkan pemandangan seperti ini

 

Sementara di kaki cakrawala, semburat biru, kuning, jingga, merah muda membaur menjadi satu membentuk lapisan tipis yang cantik. Pagi itu cuaca di Derawan sangat cerah (dan semoga tetap cerah hingga berakhirnya perjalanan kami).

masih edisi sunrise pagi itu
masih edisi sunrise pagi itu
perahu nelayan tampak terayun-ayun disapa riak gelombang pagi hari
perahu nelayan tampak terayun-ayun disapa riak gelombang pagi hari

 

Menikmati pagi di dermaga kecil di depan kamar, duduk di kursi kayu sambil melihat Penyu-penyu hijau besar yang sesekali timbul ke permukaan air laut sungguh menyenangkan. Air laut berwarna hijau toska yang jernih memperlihatkan hingga ke dasarnya, termasuk segerombolan Bulu Babi, aneka macam ikan dan hewan laut lainnya. Di sini saya menemukan Bulu Babi yang berwarna merah lho… Biasanya kan Bulu Babi itu warnanya hitam, nah…. di sini ada yang berwarna merah. Keliatan dari atas sih bagus ya… lucu… tapi kalau ingat gimana sakitnya apabila ketusuk si Bulu Babi itu….. hiiiiiii…. menyeramkan….

 

menikmati pagi sambil duduk santai di dermaga
menikmati pagi sambil duduk santai di dermaga

 

Eh iya, cerita tentang si Bulu Babi…. Iyus berkali-kali bilang kalau daging Bulu babi itu enak kalau dimakan…. dan berkali-kali juga Iyus berusaha mencari penduduk yang (mungkin) mancing/mengambil Bulu Babi dari laut. Tapi sayangnya, sampai kami pulang pun, kami tidak menemukan penduduk yang mengambil Bulu Babi, apalagi menjualnya :D

Kasian Iyus…. #pukpuk

 

nih si Bulu Babi, tuh... ada yang warna merah lho
nih si Bulu Babi, tuh… ada yang warna merah lho

 

Puas memperhatikan si Bulu Babi, pandangan saya teralihkan ketika seekor Penyu Hijau besar tiba-tiba muncul ke permukaan air. Huuuuuuaaaaaaaaa………

Walaupun sejak tiba di Derawan kemarin sore itu saya sudah beberapa kali melihat Penyu-penyu itu berenang berseliweran di sekitar dermaga, tapi pagi ini, begitu melihat lagi Penyu segede tampah itu muncul di permukaan, rasanya excited banget……

Air laut yang jernih membuat seolah-oleh Penyu itu sedang berenang di aquarium raksasa.

 

Penyu hijau yang banyak ditemui di depan kamar
Penyu hijau yang banyak ditemui di depan kamar
tiap saat bisa liat Penyu sebesar ini berenang bebas
tiap saat bisa liat Penyu sebesar ini berenang bebas

 

Puas menikmati suasana pagi di dermaga, saya, Iyus, Windy dan Gita kemudian beranjak menuju Rumah Makan Nur untuk sarapan pagi. Lagi-lagi, guide kami, mas Alif dengan rajinnya pagi itu mendatangi kamar satu-persatu untuk memberitahu bahwa sarapan sudah siap. “Siap mas Alif, kami segera meluncur untuk mengisi perut” :)

 

Selesai sarapan, kami kemudian bersiap-siap untuk hoping islands. Rencananya, pagi ini perjalanan akan dimulai dengan mengunjungi pulau Maratua, kemudian Kakaban, Sangalaki dan kembali ke Derawan.

Let’s go!!! Mari kita berlayar……

 

Perjalanan menuju Pulau Maratua memakan waktu kurang lebih 40 menit berlayar. Sepanjang perjalanan, air laut yang tenang menemani kami. Jajaran pulau-pulau kecil terlihat di kejauhan. Boat yang saya naiki berkapasitas kurang lebih 14 orang, ditambah 1 orang kapten, 1 co-kapten, mas Alif – tour guide, dan mas Deni – guide lokal yang akan mendampingi kegiatan snorkling kami.

Yeeeeeeaaaaaayyyyyy…… hari ini judulnya “Main Air”.

 

dermaga di Pulau Maratua
dermaga di Pulau Maratua

 

Tak berapa lama, sampai lah kami di Pulau Maratua, pulau terbesar di jajaran kawasan wisata kepulauan Derawan.

Sebuah dermaga kayu terlihat menjorok ke arah laut, menyambung dengan bangunan water chalet yang terbuat dari kayu. Dan sebuah jembatan kayu panjang terbentang, menghubungkan water chalet tersebut dengan daratan.

Karena waktu saya tiba di sana air laut sedang surut, jadi daratan pasir di bawah water chalet tidak terendam air. Danwater chalet itu hanya terlihat seperti rumah panggung yang berdiri di atas hamparan pasir putih yang sangat halus.

Saya membayangkan saat air pasang, pasti bagus sekali. Bangunan water chalet kayu berwarna coklat, seperti terapung di atas laut, dengan sebuah jembatan kayu panjang yang menghubungkannya dengan daratan nun jauh di belakangnya.

 

water chalet di Maratua
water chalet di Maratua
water chalet di Maratua
water chalet di Maratua
water chalet dan jembatan kayu yang menghubungkannya dengan daratan
water chalet dan jembatan kayu yang menghubungkannya dengan daratan

 

Dan karena air laut yang sedang surut ini juga yang akhirnya membuat saya turun dari boat tanpa menyentuh dermaga. Boat yang saya naiki hanya merapat di pinggir hamparan pasir putih, dan kami langsung terjun. Air sebatas betis membasahi sehelai kain pantai yang saya kenakan begitu kaki saya menyentuh dasar pasir di pinggir pantai itu.

 

boat kami hanya merapat di bagian pantai yang dangkal
boat kami hanya merapat di bagian pantai yang dangkal

 

Pasir di Pulau Maratua ini sangat halus dan putih. Rasanya ingin guling-guling di situ deh :D
Kami tidak terlalu lama berada di Maratua, yah…. mungkin hanya sekitar 30 – 40 menit saja. Selanjutnya boat kembali bergerak menuju Pulau Kakaban.
Oh iya, pernah dengar ubur-ubur tidak menyengat kan?
Nah…. di Pulau Kakaban ini ada sebuah danau air payau, yang dihuni oleh biota laut yang terisolir dan akhirnya berevolusi, berkembang dengan keunikannya yang langka. Iya, di Danau Kakaban inilah spesies ubur-ubur yang tidak menyengat itu hidup dan berkembang. Dan kalau tidak salah, di dunia ini hanya ada 3 kawasan yang memiliki habitat yang dihuni oleh ubur-ubur tidak menyengat. Tuh…. cuma ada 3 tempat lho di dunia ini yang ubur-uburnya tidak menyengat. Ga kepengen apa untuk liat langsung dan berenang bareng ubur-ubur yang ga menyengat itu???
Dan hari ini, saya dan teman-teman akan berenang bareng sama ubur-ubur itu….. aaaaaaaakkkkkkk…….

 

hai ngers..... kami sudah sampai di Maratua ^.*
hai ngers….. kami sudah sampai di Maratua ^.*

 

Sebelum berenang dengan ubur-ubur yang tidak menyengat itu, kapten speed boat yang kami naiki itu menawarkan untuk mengunjungi Goa Ikan. Katanya itu tempat yang bagus dan indah! Wajib didatangi!

Dan tempat itu tidak termasuk di dalam list itinerary lokasi yang akan kami datangi.

 

Karena penasaran, akhirnya kami mengiyakan ajakan kapten kapal.

Hanya sekitar 20-30 menit dari Pulau Maratua, boat yang kami naiki mulai mengurangi lajunya dan secara perlahan merapat di pinggir pantai berbatu. Kita sampai……. di Pulau Kakaban!

 

kapal-kapal yang mengantarkan pengunjung seperti kami untuk melihat Goa Ikan
kapal-kapal yang mengantarkan pengunjung seperti kami untuk melihat Goa Ikan

 

Matahari yang bersinar terik di pagi menjelang siang hari itu membuat saya harus memicingkan mata untuk bisa melihat dengan jelas.

Boat bersandar di pinggiran pantai berbatu, dan kami pun terjun menyentuh pasir pantai yang berair setinggi betis. Di depan kami terbentang dinding batu yang ditutupi tumbuhan perdu yang rindang. Beberapa pohon yang agak besar tumbuh di atas tebing tersebut.

Dan di tebing batu tersebut ada sebuah ceruk kecil yang menjadi pintu masuk ke Goa Ikan. Ceruk ini bisa dilewati apabila air laut sedang surut. Ceruk di tebing batu itu tidak terlalu lebar, tapi bisa dilewati oleh orang dewasa. Di awal ceruk, saya masih bisa berdiri tegak, namun semakin ke dalam, langit-langit ceruk batu itu semakin rendah, dan dasar ceruk semakin dalam terendam air laut, yang mengharuskan saya untuk berjalan menunduk dan akhirnya harus merelakan air merendam badan saya hampir mencapai pinggang agar saya bisa melewatinya sampai di ujung.

Oh iya, untuk melewati ceruk ini harus sangat berhati-hati karena bebatuan yang ada di sekitarnya sangat tajam.

 

lautnya.... langitnya... awan... dan semua yang ada, membuat saya betah berlama-lama di sana
lautnya…. langitnya… awan… dan semua yang ada, membuat saya betah berlama-lama di sana
ceruk batu itu adalah awal dari Goa Ikan yang menjadi pintu masuk menuju laguna
ceruk batu itu adalah awal dari Goa Ikan yang menjadi pintu masuk menuju laguna

 

Sampai di ujung ceruk, taraaaaaaaaaaaaa………….

Di depan saya terbentang semacam danau/laguna yang sangat indah. Dikelilingi oleh tebing batu yang menghijau oleh tanaman perdu, air yang berwarna hijau toska jernih, membuat dasar laguna terlihat jelas. Ikan beraneka macam dan ukuran pun berenang berseliweran dengan bebasnya.

Ah, saya suka tempat ini!

Sekilas, tempat ini mengingatkan saya akan Pulau Sempu dan lagunanya. Sukaaaaaa……..

 

dan itu....... lagunanya.....
dan itu……. lagunanya…..

 

Saya mencoba mengabadikan keindahan alam yang terpampang di depan mata saya dengan lensa kamera. Ingin rasanya berlama-lama di sana. Menyenangkan.

Di mulut ceruk yang ada di dalam, saya menemukan ganggang laut yang tumbuh menempel pada bebatuan, dan ganggang itu berwarna merah bata. Sangat kontras dengan air hijau toska jernih dan batu-batuan di sana.

 

ganggang merah yang menempel di batu di mulut pintu ceruk bagian dalam
ganggang merah yang menempel di batu di mulut pintu ceruk bagian dalam
saya ga tau, ini termasuk ganggang jenis apa?
saya ga tau, ini termasuk ganggang jenis apa?

 

Puas memotret, saya pun melangkah kan kaki kembali menyusuri ceruk batu tersebut menuju pinggiran pantai. Kami harus segera beranjak menuju tujuan selanjutnya. Danau Kakaban!

 

Boat yang saya naiki hanya memutar sedikit untuk mencapai dermaga kayu panjang yang menjadi pintu masuk ke Danau Kakaban. Jembatan kayu panjang yang berujung pada sebuah gapura kayu dengan ornamen khas Kalimantan. Di sisi kiri gerbang, terdapat bangunan mungil berwarna biru yang merupakan loket untuk membeli tiket masuk ke Danau Kakaban.

Biaya untuk memasuki kawasan wisata Danau Kakaban cukup murah, hanya sebesar Rp 20.000.

 

parkir boat-nya jauuuuuuuuhhhhhh......
parkir boat-nya jauuuuuuuuhhhhhh……
selamat datang di Danau Kakaban
selamat datang di Danau Kakaban
tiket masuk ke Danau Kakaban untuk liat ubur-ubur tidak menyengat, 20 ribu ajah!
tiket masuk ke Danau Kakaban untuk liat ubur-ubur tidak menyengat, 20 ribu ajah!

 

Memasuki kawasan Danau Kakaban, kita akan mendaki tangga-tangga batu yang menanjak dengan jarak antar anak tangga yang cukup tinggi. Pohon-pohon besar tumbuh tinggi di sisi kanan dan kiri tangga batu. Di situ saya membaca beberapa nama pohon yang baru kali itu saya temui, dan saya tidak bisa mengingat pohon apa saja kah itu? :p

 

Setelah tiba di ujung tangga batu, kami harus menuruni sejumlah tangga kayu untuk mencapai danau. Lumayan juga perjuangan untuk menjumpai si ubur-ubur tidak menyengat itu.

Dan akhirnya…………… horeeeeeeeeeeeeeeee……. itu ubur-uburnya…..

 

itu dia.... non stinging jellyfish
itu dia…. non stinging jellyfish
ada yang lagi sendirian.... pengen pegang.....
ada yang lagi sendirian…. pengen pegang…..

 

Tidak menunggu lama, saya pun langsung nyemplung ke danau dan berenang dikelilingi ubur-ubur tidak menyengat itu.

Saya mencoba untuk memegangnya. Ternyata, ubur-ubur itu seperti agar-agar ya… lembut, sedikit berlendir dan tembus pandang seperti kaca.

Ah senangnya……….. bisa berenang bebas dikelilingi ubur-ubur lucu yang tidak menyengat.

 

Puas berenang dengan ubur-ubur, kami kembali ke pinggir pantai untuk menikmati makan siang. Seporsi nasi putih dengan oseng-oseng jagung, wortel dan buncis plus sepotong ikan goreng dan daging ayam berbumbu asam manis, hmm…… nikmat……

 

pemandangan daari lokasi makan siang kami di pinggir pantai
pemandangan daari lokasi makan siang kami di pinggir pantai
jembatannya panjang ya....
jembatannya panjang ya….

 

Selesai makan kami segera kembali ke boat untuk melanjutkan perjalanan menuju Pulau Sangalaki yang menjadi habitat Manta dan beberapa jenis ikan lainnya. Sebelum tiba di perairan Pulau Sangalaki, boat berhenti (masih di depan Pulau Kakaban) dan kami pun snorkling. Horeeeeee…….

Lokasi kami snorkling di dekat sebuah palung laut. Aneka rupa dan warna karang terlihat jelas di dasar laut yang airnya sangat jernih itu. dan macam-macam pula ikan yang berseliweran di antara karang-karang itu. Mulai dari Lionfish, ikan badut a.k.a nemo, ikan-ikan berwarna hijau, biru, kuning, bahkan ada yang putih bertotol-totol ungu!

 

Mendekati area palung, pemandangannya sangat bagus. Dan ikan-ikannya pun semakin beraneka warna. Tapi saya tidak berani berenang di area palung. Menyadari kemampuan berenang yang masih pemula, saya pun harus cukup puas berenang di daerah yang dangkal :D

Tapi, walaupun berenang di daerah yang dangkal, karang-karang dan ikan-ikan yang saya temui sudah cukup memanjakan mata. Semua baguuuuuuuusssss……

 

Puas snorkling dan main air, saya dan teman-teman pun naik kembali ke boat. Kami akan melanjutkan perjalanan menuju Pulau Sangalaki. Entah kenapa, saat menuju Pulau Sangalaki ini saya tidak terlalu bersemangat untuk memotret. Mungkin karena menimbang cuaca yang sedikit mendung (takut tiba-tiba hujan dan kamera masih di luar), akhirnya saya hanya melihat sedikit ke arah perairan Sangalaki. Dan kebetulan juga, gelombang agak sedikit besar.

 

Akhirnya selama perjalanan, saya hanya mengintip-ngintip sedikit dari tempat duduk. Melihat ada apa saja di laut jernihnya perairan Sangalaki.

Karena gelombangnya agak besar, terus terang saya tidak melihat apa-apa selama mengarungi perairan Sangalaki. Entah lah teman-teman yang lain?

 

Karena hari sudah menjelang sore, langit pun terlihat mulai digayuti awan hitam, kami memutuskan untuk segera kembali ke Derawan.

Ayo capt, kita capcus ke Derawan…….

 

Sampai di Derawan, kami pun menghambur ke kamar masing-masing untuk mandi dan bersih-bersih. Kebayang kan rasanya habis berenang di laut, sampai baju yang digunakan kering dan lengket di badan? :p

Mari kita mandi, dan siap-siap makan malam……

 

Jam 7 teng, kami sudah siap untuk makan malam di Rumah Makan Nur seperti biasa. Menu makan malam kali ini nasi putih, ikan bakar, cumi goreng dan sayur bening. Nyam… nyam… nyam…..

 

Selesai makan, saya, Iyus, Windy dan Gita kembali ke homestay.

Malam ini saya niatnya ingin ber-milkyway-an di jembatan kayu di belakang kamar.

Sudah dari malam kemarin sih tergodanya, hanya malam kemarin itu lebih milih untuk istiharat daripada memainkan kamera.

Dan jadilah malam ini, saya dan Iyus nongkrong di jembatan kayu untuk ber-milkyway-an.

 

hasil nongkrong di jembatan kayu di belakang kamar
hasil nongkrong di jembatan kayu di belakang kamar
deretan homestay di atas laut dan kapal-kapal nelayan yang tertambat di sana
deretan homestay di atas laut dan kapal-kapal nelayan yang tertambat di sana

 

 

Udah malem, saatnya bobok. Besok masih ada acara seru yang lain nih, mau tau??? Yuk, ikut!!!

 

Traveling ke Singapura???

Saya seorang yang hobi jalan-jalan, tapi entah kenapa saya tidak pernah punya keinginan untuk jalan-jalan ke Singapura.
Banyak teman-teman yang sering mengajak untuk ke Singapura, tapi yang ada di pikiran saya “Mau liat apa di sana?” Akhirnya tawaran-tawaran tersebut selalu saya tolak.
Beberapa teman mengiming-imingi serunya keliling USS, tapi bagi saya tetap aja ga menarik.
Beberapa teman juga pamer, betapa asyiknya berbelanja di Jalan Bugis (kalau tidak salah dengar), atau di sepanjang Jalan Orchad, tapi… saya bukan seorang yang gila shopping.
Saya akui, saya sangat senang untuk mengumpulkan suvenir-suvenir khas dari kota-kota atau negara-negara lain, tapi ini… Singapura! Suvenirnya hanya berupa miniatur singa mangap yang di lemari saya pun sudah ada beberapa macam bentuknya (dan semua itu adalah pemberian teman yang selalu cerita serunya jalan-jalan ke Singapura). But for me? Not interesting at all!
Saya seorang penggila foto (kecuali selfie ya :D). Tapi obyek foto apa yang bisa saya dapat di Singapura?
Landscape? Alam bagian mana dari Singapura yang bisa menyaingi indahnya negara saya, Indonesia?
Arsitektur? Kalau hanya mencari gedung-gedung pencakar langit, di sepanjang jalan Thamrin – Sudirman pun banyak.
Mau cari foto dengan konsep Human Interest? Blusukan lah di sudut-sudut kota di Indonesia, semua ada!
Mau foto diri dengan background pemandangan yang indah? Indonesia lah tempatnya.
Kalau di Singapura, yang ada di pikiran saya adalah foto diri dengan background singa mangap yang mulutnya menyemburkan air.
Jadi, jenis foto apa yang akan saya dapatkan seandainya harus jalan-jalan ke Singapura???
Saya seorang penggila kuliner (tentunya yang halal).
Dan saya sangat yakin, kuliner di Indonesia pasti sangat lebih beragam dari kuliner di Singapura.
Mulai dari makanan kecil, makanan utama, bahkan buah-buahan, mana ada lawannya?!
Jadi, apa kelebihannya kuliner di Singapura???
TETAPI, melihat twit dari @PergiDulu bersama @rwsentosaID yang menawarkan jalan-jalan ke Singapura secara gratis, saya jadi berpikir.
Apakah masih ada tempat di Singapura yang bisa memacu adrenalin saya selain USS?
Apakah masih ada tempat di Singapura yang bisa memuaskan kegilaan saya akan foto-foto landscape, arsitektur, human interest?
Apakah kuliner di Singapura bisa mengalahkan kelezatan kuliner di Indonesia?
Apakah prasangka saya selama ini yang selalu berpikir “Mau lihat apa di Singapura? Bisa dapat pengalaman apa di Singapura? Dan bisa merasakan apa di Singapura?” terbukti bahwa Singapura adalah tempat jalan-jalan yang FLAT???
Atau kah jalan-jalan ke Singapura secara gratis ini akan berhasil mengubah mindset saya bahwa ternyata Singapura juga adalah negeri yang indah???
Tetapi, kelihatannya ada sesuatu yang (mungkin) sangat berbeda, sehingga @rwsentosaID dan @PergiDulu berani mengadakan kuis yang hadiahnya berupa acara jalan-jalan gratis ke Singapura.
Well, mungkin apabila saya terpilih, saya baru bisa menulis lanjutan dari cerita ini.

Bercerita bahwa Singapura bukan negeri yang flat. Let’s see!


Note.
Saya sengaja tidak mau googling untuk mencari ada apa di Resort World Sentosa!
Saya hanya ingin membuktikan dan melihat langsung dengan mata kepala saya sendiri (seandainya terpilih) bahwa masih ada sesuatu/tempat/atraksi/spot yang menarik, bagus, indah, enak dan nyaman di Singapura!
So, please choose me if u wanna change my thought :D



Dieng Culture Festival 2012 – Diengers, Cerita Kita Berawal di Sana



Semua Berawal dari Sini……
Dari sebuah trip ke salah satu sudut Propinsi Jawa Tengah,
di sebuah kawasan dataran tinggi bernama Dieng.
Di ketinggian 2093 mdpl, menemukan kehangatan keluarga, jabat erat sodara,
dan perasaan seperti menemukan sebuah “rumah” untuk pulang.


Setaun yang lalu, di penghujung minggu yang lumayan gerah, cerita itu berawal di sebuah gerai donat terkenal di sudut Plaza Semanggi.


Jumat, 29 Juni 2012
18.30 wib

Dengan tergesa-gesa gw menaiki tangga pelataran Plaza Semanggi.
Huft… blom telat ya…
Gw mulai scanning, di mana rombongan yang akan ke Dieng? Hmm… itu dia!
Sesuai tek-tok-tek-tok di message, leader trip kali ini adalah seorang cewe berambut panjang diikat ekor kuda dengan topi baseball menutupi sebagian wajahnya, bercelana pendek dan kaos tanpa lengan, Zee!
Say hello, dan registrasi ulang, sambil nunggu rombongan yang lain, gw ikut ngejogrok di salah satu sudut gerai donat itu.
Seperti biasa, kali ini pun gw ngikut trip tanpa seorang teman pun yang gw kenal. Semoga bisa dapat teman baru yang asyik dan bisa saling meracuni untuk trip-trip selanjutnya :D

Satu persatu peserta trip mulai berdatangan, trus registrasi ulang. Dan ga ada satu pung yang gw kenal :D
Gw sempet nanya Zee, bisnya di mana?
“Di samping tangga mbak, ada bis ¾ warna abu-abu, ada tulisan bus 1 dan bus 2 di kaca depannya”, jawab Zee.
Ok, mari kita liat… sekalian nyimpen carrier dan nge-take seat di bus.

Di samping tangga turun dari pelataran, gw liat ada 2 bus ¾ warna abu-abu standby.

Masih dalam rangka meyakinkan diri, gw cek lagi kaca depannya, bener ga ada tulisan bus 1 dan bus 2?
Trus, gw nanya deh sama bapak-bapak yang ada di situ. “Pak, ini bus rombongan yang akan ke Dieng?”
Si bapak mengiyakan.
Gw cek lagi, yang mana bus 2, karena nama gw terdaftarnya di bus 2.
Ouw, ternyata bus 2 yang barisnya di belakang.
Gw cek, sebagian kursi udah ada yang nge-take. Trus gw liat kursi yang persis di dekat pintu masuk masih kosong. Yeaaayyy!!!
Gw nge-take kursinya ah…. posisi strategis, deket pintu, space-nya agak legaan.
Ok, taro jaket pinkgonjreng! “Ini seat gw ya” :D

Sebelum berangkat, ada cewe berambut pendek yang celingukan nyari seat di bus.
“Hei, blom dapet seat ya? Nih, di sebelah gw kosong, mo duduk di sini?” tanya gw.
Linar! Ini yang akhirnya jadi teman seperjalanan gw Jakarta-Dieng-Jakarta dan juga jadi roommate waktu di Dieng.

Jam 9 malem bus mulai jalan.
Baru juga bus jalan, ada cowo yang ngajakin Linar ngobrol, mas Aga.
Jadilah awal perjalanan malam itu gw, Linar, mas Aga ngobrol seru.
Sesekali Zee ikut nyamperin sambil mastiin peserta di bus 2 aman, sehat, sejahtera… hehehhehehe…

Ini perjalanan gw ke Dieng untuk yang ke-2 kalinya.
Jadi gw udah bisa kira-kira, bakal berapa lama harus duduk manis di dalam bus.
Oh iya, kali ini gw ke Dieng dalam rangka mengobati rasa penasaran gw pada cerita tentang anak berambut gimbal yang ada di Dieng.
Kenapa? Bagaimana? Apa? Siapa?
Akhirnya begitu ada open trip Dieng Culture Festival, gw langsung bilang “I’m in!”.

Harusnya perjalanan Jakarta–Dieng bisa ditempuh dalam waktu sekitar 10-12 jam, tergantung kondisi jalan, lalu lintas, kecepatan kendaraan dan seberapa sering busnya mlipir ke rest area.
Tapi kali ini, mungkin juga karena bertepatan dengan acara Dieng Culture Festival ya… jadi jalanan terlihat lebih padat. Bus pun jalannya ga kenceng seperti sprinter, tapi lebih kalem seperti becak :D

Udah capek ngobrol-ngobrol, mulai dari yang jelas, sampe yang ga jelas (hihihihihi), akhirnya gw dan Linar sama-sama merem.
Buka mata, masih gelap…. ohh, blom sampe rupanya (bobo lagi).

Buka mata lagi, di luar udah mulai terang “Udah sampe mana ya?”
Hmm… ternyata udah mulai memasuki wilayah Jawa Tengah.
Bus jalan terus. Di luar keadaan semakin terang.
Waktu ke Dieng yang pertama kali, jam 7 gw udah sampe di homestay dong.
Tapi kali ini, macetnya luar biasa, dan setelah menempuh perjalanan sekitar 15 jam, akhirnya jam 12 siang kami tiba di homestay. Finally

Bagi-bagi kamar, gw sekamar dengan Linar dan Andin.
Hmm…. Dieng masih dingin seperti waktu Februari kemarin gw ke sana.
Dan ga tau kenapa, gw betah dan seneng banget klo bisa jalan-jalan ke tempat yang udaranya sejuk dan segar. Cuci paru-paru istilah gw. Seperti trip kali ini.

Udah sampe di homestay pun, gw blom banyak kenal teman-teman 1 bus tadi.
Baru kenal Linar, Andin, mas Aga, Windy :D

Awalnya, karena perhitungannya udah nyampe di lokasi di pagi hari, kami ingin liat (dan ikut) acara minum Purwaceng rame-rame.
Tau kan Purwaceng itu apa?
Purwaceng itu minuman khas Dieng yang menurut cerita berkhasiat seperti ginseng. Bener/ga gw ga ngerti, karena sampe saat ini pun gw blom pernah nyobain… hehehehhee…

kawasan Candi Arjuna siang itu


Abis makan siang, kami bergerak ke kawasan Candi Arjuna.
Siang itu cuaca sangat bersahabat. Langit biru dihiasi gumpalan-gumpalan awan putih.
Udara yang sejuk walaupun matahari tersenyum dengan hangatnya (klo ga mo dibilang panas sih :D).

Karena suasana di sekitar kawasan Candi Arjuna sangat rame, dan kami pun datengnya udah siang, supaya tetap bisa ngikutin itinerary yang udah dibuat, jadi gw dan teman-teman ga bisa berlama-lama di situ.
Beres poto-poto, keliling-keliling, Zee ngajak nerusin ngubek-ngubeknya ke Telaga Warna.
Tapi teuteup…. sebelum kabur, poto-poto duluuuuuuu……



ketika belum kenal dekat pun, rusuhnya udah terlihat :D


gerbang Telaga Warna


Abis dari Candi Arjuna, gw dan teman-teman melipir ke Telaga Warna.

Ngeeeeeeennnggg… naik bus sampe di parkiran Telaga Warna.
Mari kita liat, berubah kah sang telaga setelah kunjungan gw yang terakhir???











telaga yang tenang

Karena dalam suasana Dieng Culture Festival, di Telaga Warna pun rame banget.

Jadi ya… susah banget mo nyari spot-spot yang kosong.
Di sini gw mulai kenal dengan teman-teman yang tadi 1 bus dengan gw.
Ada Gina, Gita, Iyus, mas Ahmad, Ivan, Astrid, Mita, Eera, Hendra, Haris, mbak Endah, mas Kurnia (di akhir trip baru tau kalo panggilannya mas Kef), mbak Dijeh, Winda, mbak Tri, trus…. sapa lagi ya?

hijau…biru…toska…

Di sini, kerusuhan rombongan makin terlihat.
Jalan-jalan, keliling-keliling, liat sana sini, ga lupa foto-foto, dan ketauan lah kalo semua banci kamera :p
Ga boleh liat ada yang foto-foto, langsung deh pada nimbrung pasang aksi :D
Mo liat kenarsisan temen-temen baru gw???
Cekidot….


mas Kef, mbak Endah, mbak Dijeh, Winda, Linar, mbak Tri

hahhhhhh…. udah narsis itu Winda :p



tampang boleh kalem…. kelakuan???? :p :p :p



baru tau klo mas-mas yang di depan itu paling hobi narsis :D



auw… auw… auw… ini Zee, leader trip gw


Beres ngerusuh di Telaga Warna, Zee ngajakin gw dan teman-teman ke Kawah Sikidang. Rebutan masuk ke bus, dengan tetap ramenya, dan ngeeeeeeeeennnnnggggg….. ga pake lama, nyampe deh di Kawah Sikidang.
Klo waktu pertama kali ke Dieng semua gw tempuh on foot, alias jalan kaki a.k.a ngeritingin betis, kali ini karena waktu yang sempit, ke mana-mana gw dan teman-teman dianter si bus abu-abu.


Kawah Sikidang


Sampe di Kawah Sikidang, langsung deh bubar barisan. Semua langsung ngacir sendiri-sendiri, ga tau juga nyariin apa? :D

Gw bareng sama Linar, sambil liat kanan kiri sapa tau ada yang bisa dikecengin, maksudnya sapa tau ada yang bisa di-shoot pake kamera.
Akhirnya gw sampe di pinggir kawahnya.










Bau belerang terasa banget lho di pinggir kawahnya. Asapnya juga terlihat di mana-mana. Kudu wajib harus pinter-pinter liat arah angin, jadi bisa menghindari uap belerang yang ngepul dari arah kawah.
Dan u know, di pinggir kawah pun, itu rombongan narsis teuteup rusuh dan sok bergaya ala boyband :D
Penasaran kan, mo liat aksi boyband from Dieng??? Let’s check it out!


langit di atas Sikidang sore itu…biru……..

sejauh mata memandang, yang keliatan……kawah :D

ayo… coba cari, mana itu para Diengers???

hag.. hag.. hag… narsis part 1

suuuutttt…. ada anggota boyband Korea :D

tuh… uap belerangnya #pasangmasker

see??? narsisnya boyband Diengers :D
mbak fotografer dan asistennya :p








mo moto mas-mas yang lagi gitaran, kenapa itu ada yang nyempil di ujung???

again! narsis forever :D





Cukup narsis-narsisan di Kawah Sikidang, markipul….
Ntar malem di kawasan Candi Arjuna kan ada beberapa acara juga, ada pesta kembang api, wayang kulit, trus apa lagi ya???
Sekarang, ayo kita ngebut ke homestay, pengen meluruskan punggung sejenak.
Cuuuuussssssssssssss…….


– malemnya –
Malem ini, gw dan teman-teman dapet traktiran makan mie Ongklok dari Zee…. duh, itu leader baek amat yak? semua ditraktir makan mie khas Dieng ^.^

Udah pada mandi, sholat, istirahat, rebonding punggung, mari kita capcus ke warung mie di depan homestay.
Sekitar 25-an Diengers malem itu dapet traktiran mie Ongklok yang masih ngepul dari mangkok beling berukuran sedang.
Hmm…. wanginya yummy….
Let’s try it out!

Mie Ongklok ini adalah mie khas Dieng.
Isinya terdiri dari mie kuning pipih, sayuran berupa irisan kol, irisan daun bawang dan ditaburi bawang goreng. Kuahnya kental dan beraroma khas.
Cocok banget dimakan di udara sejuk cenderung dingin seperti malam ini.
Saking dinginnya di Dieng, semangkuk mie Ongklok yang awalnya dipenuhi asap tanda kuahnya sangat panas, waktu disruput ternyata ga panas lho….
Mencicipi kuah mie Ongklok, hmm….. rasanya gurih, agak manis karena ada campuran kecapnya.
Marilah…. kita habiskan semangkuk mie Ongklok ini sebelum dingin sempurna….


mie Ongklok traktiran dari Zee, yummy


Selain mie Ongklok, Dieng juga terkenal dengan kentang gorengnya yang enak. Sayang, gw ga sempet moto kentang goreng yang gw beli di sana. Gimana mo difoto coba? Baru juga sebungkus kentang goreng sampe di tangan, dalam sekejab langsung bersih tak bersisa akibat nggragasnya gw dan teman-teman Diengers yang lain :D

Abis makan mie Ongklok, sebagian teman-teman ada yang melanjutkan rasa penasarannya dan jalan-jalan ke seputaran Candi Arjuna.
Klo gw sih, milih balik ke homestay dan masuk ke dalam hangatnya pelukan si sleeping bag :D
Bobo ah… besok pagi mo ngejar sunrise ke puncak Sikunir.


Minggu, 1 Juli 2012
Hoaaaaaaeeeemmmmmmm…… #nguletdaribaliksleepingbag
Selamat pagi……… ^.^

Dieng subuh ini dingin banget.
Kalo ga karena pengen liat sunrise dari puncak Sikunir, rasanya males banget bangun dan keluar dari hangatnya pelukan sleeping bag ini.
Tapi…….. hayuk ah! Semangat!
Ga pake mandi :D cukup cuci muka, gosok gigi, ganti baju (eh, ganti baju ga ya waktu itu? lupa gw :D), gw dan teman-teman langsung cuuusss ke depan homestay.
Si bus abu-abu udah setia di depan gang, nungguin para Diengers naik dan siap terbang ke Sikunir.

Subuh itu masih gelap banget. Dan yang pasti masih super duper dingin, pake banget!
Gw aja pake baju udah dobel-dobel gitu, kaos, jaket, syal, sarung tangan, kaos kaki, sepatu……. brrrrrr… dingin bangeeeeeeeeeeeetttttt….


Desa Sembungan, desa tertinggi
di Pulau Jawa


Sampe di Desa Sembungan, yang merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa, kebayang kan gimana dinginnya subuh itu?
Turun dari si abu-abu, gw dan teman-teman masih harus jalan kaki ke puncak Sikunir.
Oh iya, Sikunir ini adalah bukit yang biasa dijadikan tempat untuk mengintip sunrise di Desa Sembungan.
Jalan kaki melewati rumah-rumah penduduk yang sebagian masih tertutup rapat, cahaya lampu yang bersinar temaram, sepi, kadang terdengar suara kokok dan kotek ayam, kami pun berjalan menuju Sikunir.

Sampe di kaki Bukit Sikunir, keadaannya gelap.
Untung gw sempet bawa senter kecil untuk menerangi jalan setapak yang mengarah ke atas.
Pelan-pelan, gw dan teman-teman mulai menapaki punggung Sikunir.
Jalan setapak yang awalnya terlihat, lama kelamaan makin menanjak, dan makin kecil.




Subuh itu, punggung Sikunir harus menahan beban lebih berat dari biasanya. Kebayang dong ya…. yang subuh itu pengen liat sunrise dari puncak Sikunir kan bukan Diengers doang.
Dari setengah punggung Sikunir, jalan setapak mulai padat. Begitu sampe di puncak…. wow… padet bangeeeeeeettttt…
Berusaha nyempil dikit, supaya gw bisa dapet spot yang cihuy, yang ada, gw sama Linar malah kejebak di pinggir puncak Sikunir.
Di sebelah kiri, depan, belakang, udah full, sesak, di sebelah kanan…. jurang… hiiiyyyyy…..


langit yang mulai bersemburat pagi itu


Semburat kuning jingga mulai menyeruak kabut pagi di ujung cakrawala. Perlahan sederetan gunung mulai jelas bentuknya di kejauhan, puncak Sindoro berdiri gagah paling depan.
Kumpulan awan putih menghiasi sela antara gunung-gunung bagaikan permadani.
Wuuiiiiiihhh… bener-bener negeri di atas awan deh….


sinar mentari pagi mengintip dari balik pepohonan


Begitu mentari bersinar sempurna, gw dan teman-teman mulai menuruni punggung Sikunir untuk balik ke parkiran bus. Sepanjang perjalanan turun, gw masih beberapa kali bisa mengintip cantiknya Sikunir dan sekitarnya. Liat deh foto-foto ini, siapa sih yang ga betah dan senang tinggal di sana?

mentari pagi, langit biru, awan putih, dan dedaunan yang basah oleh embun

sinarnya hangat


Sampai di kaki Sikunir, terbentang Telaga Cebong yang pagi itu masih terlihat gelap, terlindungi bayangan bukit Sikunir.

Telaga Cebong, di kaki Sikunir

negeri di awan




Dari kaki Sikunir, gw dan teman-teman jalan ke arah parkiran bus di gerbang Desa Sembungan.
Oh… si abu-abu setia nunggu di sana.
Yuk kita balik ke homestay, laper merajalela :D

Sampe homestay, sarapan, rebutan kamar mandi, packing dan kami siap mengikuti acara terakhir dan paling ditunggu di perjalanan ini. Prosesi ruwatan anak rambut gimbal di pelataran Candi Arjuna.

Sengaja gw dan teman-teman berangkat ke Candi Arjuna agak awal, jam 10-an kami udah ke sana. Alasannya supaya bisa liat-liat dulu dan nyari tempat yang strategis.
Kawasan Candi Arjuna siang itu rame banget… pengunjung dan masyarakat setempat berbaur jadi satu. Tua, muda, dewasa, remaja, anak-anak, semua ada.

Karena acaranya baru mulai jam 12-an, akhirnya gw dan teman-teman keliling dan foto-foto tentu saja :D
Eh iya, di sini gw nemu domba khas Dieng, namanya Dodi – Domba Dieng (yang namanya Dodi, i didn’t mean it ya…. emang disebutnya begitu :D).



siang itu kompleks Candi Arjuna, meriah!!!

lokasi pagelaran wayang kulit semalam

Sendang Sedayu, tempat penyucian anak berambut gimbal yang akan diruwat

dodi a.k.a domba Dieng :D



dengan pakaian khasnya,
bapak tua ini pun mengikuti kemeriahan
di kawasan Candi Arjuna
semua berbondong-bondong
ke Dieng Culture Festival




siang itu…


Jam 12 siang, iring-iringan peserta prosesi ruwatan rambut gimbal mulai memasuki kawasan Candi Arjuna.
Matahari bersinar terang benderang, tapi gw masih setia dengan jaket pink. Anginnya ga nahan ya booo…… semriwing…… wuss.. wuss… wusss…..




sesajen yang menjadi pelengkap pelaksanaan prosesi


Prosesi ruwatan diawali dengan dibawa masuknya aneka sesajen ke area ruwatan, disusul aneka “permintaan” dari anak-anak berambut gimbal yang akan dipotong rambutnya.
Kemudian rombongan anak-anak berambut gimbal yang didampingi oleh orang tuanya memasuki area prosesi dan langsung mengambil tempat di samping kiri candi.
Rombongan para tetua dan sesepuh masyarakat menyusul di belakangnya, diikuti rombongan para petinggi dan pejabat setempat.







yang ini adalah “permintaan”
dari anak-anak berambut gimbal
sebagai persyaratan dipotongnya rambut mereka


Sebelum memulai prosesi penmotongan rambut gimbal, para sesepuh dan tetua masyarakat memasuki bangunan candi untuk berdoa sesaat. Dan kemudian prosesi ruwatan sekaligus pemotongan rambut gimbal dari anak-anak kecil itu segera dimulai.
Satu per satu anak-anak berambut gimbal itu dipanggil namanya, dan disebutkan apa yang menjadi permintaannya sebagai syarat pemotongan rambut gimbalnya.
Berbagai ekspresi dari anak-anak kecil berambut gimbal itu. Ada yang menangis, diam saja, tapi ada juga yang dengan cerianya melambai-lambaikan tangannya pada saat rambutnya dipotong.
Rambut gimbal yang telah dipotong itu kemudian dikumpulkan dan selanjutnya akan dilarung/dihanyutkan di sungai yang bermuara ke laut.

Foto-foto berikut ini adalah pelaksanaan pemotongan rambut gimbal di kompleks Candi Arjuna.


para tetua dan sesepuh masyarakat

deretan sesajen



rombongan tetua dan
deretan anak berambut gimbal
prosesi pemotongan rambut dimulai
prosesi pemotongan rambut gimbal
prosesi pemotongan rambut gimbal

ada yang nangis, takut, tapi ada juga yang ceria

macem-macem ekspresi dari anak-anak berambut gimbal yang dipotong rambutnya

Siang itu ada 7 orang anak berambut gimbal yang mengikuti prosesi ruwatan dan pemotongan rambut gimbalnya.
Setelah selesai, gw dan teman-teman buru-buru balik kanan dan berjalan ke arah homestay.
Eh… tiba-tiba gw ketemu dong dengan adik perempuan kecil yang dipanggul oleh bapaknya. Dan ternyata si adek kecil ini pun berambut gimbal.
Tapi menurut bapaknya, adek kecil ini belum mau dipotong rambutnya, jadi tadi ga ikut prosesi ruwatan.
Selain si adek perempuan kecil itu, ternyata ada juga seorang adek laki-laki yang juga berambut gimbal dan masih belum mau dipotong rambutnya.
Rambut adek laki-laki itu panjangnya sepinggang lho… gimbal kriwil-kriwil… mengingatkan gw sama penyanyi Bob Marley :D



dia menyembunyikan wajahnya
begitu tau banyak yang pegang kamera
rambut gimbalnya panjang



Balik ke homestay, beresin barang bawaan, trus naek ke si abu-abu, nungguin nasi box makan siang, dan kami pun berangkat, back to Jakarta.
Meninggalkan dataran tinggi Dieng dengan segala keunikannya, udara segarnya, hawa dinginnya yang menggigit, keramahan masyarakatnya dan segala yang membuat kangen, untuk kembali ke sana.

Perjalanan ke Jakarta masih panjang, istirahat dulu ya….
Sssstttt… sebagai bocoran, perjalanan Dieng – Jakarta yang harusnya ditempuh sekitar 10 jam, kali ini kami harus merelakan badan terguncang-guncang di dalam bus selama lebih dari 17 jam!!!
Silakan bayangkan sendiri gimana rasanya :D



Cerita selanjutnya, silakan intip di sini…..