Category Archives: Tidore

Tidore #1 – Tugu Juan Sebastian de Elcano dan Mangrove di Mafututu

IMG_9630

Perjalanan Year-End Trip saya masih berlanjut, tidaklah lengkap bercerita tentang Ternate tanpa mengunjungi Tidore. Dan pagi ini, saya bersiap untuk mengunjungi daerah yang digelari pulau seribu mesjid itu. Keinginan act as a local people, pagi itu saya dan teman-teman sengaja ingin mencoba kendaraan umum di Kota Ternate. Beruntungnya kami, Hotel Surya Pagi yang menjadi rumah kami kemarin letaknya sangat strategis, hanya sekitar 15 meter dari persimpangan Jalan Kapitan Pattimura.

 

IMG_9589
menunggu angkot untuk ke Pelabuhan Bastiong

Setelah check out, kami pun berjalan kaki sedikit menuju perempatan Jalan Kapitan Pattimura. Setelah menunggu beberapa saat, lewatlah sebuah angkutan umum (angkot) berwarna biru di depan kami. Sesuai pesan dari ibu resepsionis di hotel, sebelum naik tanyakanlah terlebih dulu, apakah angkutan ini akan melewati tujuan yang kita inginkan? Setelah memastikan bahwa angkot akan melewati Pelabuhan Bastiong, saya dan teman-teman pun naik. Jarak Pelabuhan Bastiong dari perempatan Jalan Kapitan Pattimura sekitar 3.1 km dan apabila ditempuh dengan menggunakan angkutan umum akan memakan waktu sekitar 11 menit. Bapak supir angkutan umum mengantarkan kami hingga ke depan dermaga Pelabuhan Bastiong, and you know what? Ongkosnya hanya Rp 5.000 per orang!

Berbekal informasi yang saya dapatkan, dari pelabuhan ini kami bisa menyeberang menuju Tidore dengan beberapa cara; (1) menyewa speedboat dengan biaya sekitar Rp 100.000 hingga Rp 150.000 oneway, (2) menggunakan speedboat umum (bersama masyarakat lokal) dengan biaya (hanya) Rp 10.000 per orang. Dengan mempertimbangkan biaya dan waktu (karena apabila menaiki speedboat umum, kami harus menunggu hingga speedboat penuh), akhirnya kami memutuskan untuk menyewa saja. Sepakat di angka Rp 100.000 dengan pemilik perahu, akhirnya saya dan teman-teman bisa segera menyeberang ke Tidore.

 

IMG_9590
siap-siap menyeberang ke Tidore

 

IMG_9610
let’s go to Tidore!

 

IMG_9617
hello Tidore…

Speedboat bergerak kencang, membelah lautan di perairan Ternate – Tidore ini. Di depan terlihat Pulau Maitara yang selama ini hanya bisa saya lihat di lembaran uang Rp 1.000 edisi tahun 2013, cantik! Perjalanan Ternate – Tidore menggunakan speedboat hanya memakan waktu kurang dari 10 menit!

 

IMG_9618
dari Pelabuhan Rum di Tidore, bisa melihat Pulau Ternate dan Maitara

 

IMG_9621
speedboat seperti ini yang mengantarkan saya menyeberang menuju Pulau Tidore

Tujuan pertama saya di Pulau Tidore ini adalah Tugu Juan Sebastian de Elcano. Tugu ini merupakan situs pendaratan kapal Angkatan Laut Spanyol pada tahun 1521 di pantai Kelurahan Rum, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara. Tidak terlalu jauh dari Pelabuhan Rum Balibunga, Kota Tidore. Tugu yang ada di situs itu dibangun pada 30 Maret 1993 oleh Kedutaan Besar Spanyol untuk Indonesia sebagai peringatan lokasi mendaratnya kapal Angkatan Laut Spanyol. Kapal Angkatan Laut Spanyol “Trinidad” dan “Victoria” yang mendarat di Tidore dipimpin oleh Juan Sebastian de Elcano dalam ekspedisinya mengelilingi dunia di tahun 1521. Kapal Trinidad dan Victoria berlabuh selama sebulan di Pantai Rum.

 

EVY_5346
lokasi Tugu Sebastian de Elcano di Pantai Rum

 

EVY_5347
tugu yang dibangun oleh Kedutaan Besar Spanyol untuk Indonesia sebagai peringatan mendaratnya kapal “Trinidad” dan “Victoria” di Tidore

Kondisi Tugu Juan Sebastian Elcano saat ini sangat memprihatinkan. Komplek tugu yang terletak di pinggir Pantai Rum tampak tidak terpelihara. Pagar beton bercat kuning pucat itu tampak kotor. Pintu pagar yang terbuat dari besi berwarna hitam bahkan separuhnya sudah lepas dari tempatnya, dan tergeletak di tanah dalam kondisi rusak. Tugu bersejarah itu tampak kotor, mengingat letaknya yang berada di bawah sebatang pohon besar, areanya dipenuhi dengan daun kering, beberapa sampah plastik, serta botol minuman kemasan.

 

EVY_5352
pemandangan Pulau Maitara dari lokasi Tugu Juan Sebastian de Elcano

Tugu peringatan yang terbuat dari batu marmer berwarna hitam tampak kotor. Bahkan tulisannya pun sudah sedikit susah untuk dibaca. Tugu yang memuat tulisan berbahasa Indonesia, Inggris dan Spanyol ini berisikan keterangan merapatnya Kapal “Trinidad” dan “Victoria” di Pantai Rum.

En memoria de Juan Sebastian De Elcano y delas tripulaciones de los navíos “Trinidad” y “Victoria” que arribaron a esta isla de Tidore el 8 de Noviembre de 1521 dando vela a España el 18 de Diciembre de 1521 llevando a cabo la primera circunnavegación de la tierra.
La embajada de España el buoue escuela de la armada Española “Juan Sebastian de Elcano”

Untuk memperingati Juan Sebastian De Elcano beserta awak kapal-kapal “Trinidad” dan “Victoria” yang merapat di Pulau Tidore tanggal 8 Nopember 1521 dan melanjutkan pelayarannya ke Spanyol pada tanggal 18 Desember 1521. Dalam pelayarannya mengelilingi dunia yang pertama.
Kedutaan besar Spanyol, Kapal Latih Angkatan Laut Spanyol “Juan Sebastian de Elcano”

In memory of Juan Sebastian de Elcano and the crews of ships “Trinidad” and “Victoria” who landed ini this island of Tidore on November 8th 1521 and set out its course for Spain on December 18th 1521, to accomplish the first circumnavigation of the globe.
The Embassy of Spain, The Training Ship of the Spanish Navy “Juan Sebastian de Elcano”

Kawasan Mangrove – Kampung Mafututu, Tidore Timur

IMG_9638

Setelah mengunjungi Tugu Juan Sebastian de Elcano, perjalanan saya berlanjut menuju kawasan mangrove di Pulau Tidore. Kampung Mafututu, yang lokasinya tidak seberapa jauh dari lokasi Tugu Juan Sebastian de Elcano ini merupakan area mangrove. Terletak di tepi jalan beraspal hitam yang mulus, berbatasan dengan tebing batu di sisi jalan lainnya. Lokasinya yang lumayan sepi, membuat suasana di tanjung ini sangat nyaman. Batuan besar tampak tersusun acak di batas laut dan daratan, sungguh menggoda untuk hunting foto dengan pemandangan yang tidak biasa. Sederetan pohon mangrove tampak bercumbu dengan air laut yang terkadang beriak disapu hembusan angin.

 

EVY_5357
lokasinya sepi dan tenang

 

EVY_5356
lokasinya instagramable (meminjam istilah anak jaman now) untuk foto-foto

 

EVY_5358
deretan mangrove cantik di Kampung Mafututu

Gemerisik angin dari sela-sela daun mangrove menghasilkan alunan musik alam yang sangat indah. Berkolaborasi dengan suara air laut yang pecah di bebatuan, membuat saya betah duduk di sebuah batu besar yang ada di sana.

 

IMG_9640
pemandangannya cantik

Jalanan di Kampung Mafututu ini boleh dibilang sangat sepi. Sepanjang saya berhenti di sana, hanya ada sekitar 3 kendaraan roda 2 yang melintas. Matahari yang bersinar cerah, dengan langit biru membentang, dan beberapa spot awan putih, sungguh menyajikan pemandangan yang menyenangkan. Menikmati pemandangan yang tidak akan pernah saya dapatkan di ibukota ini dalam beberapa saat, akhirnya saya melanjutkan perjalanan. Masih banyak destinasi di pulau ini yang akan saya datangi dan nikmati.

 

IMG_9635
di manapun, this is Indonesia!!!

Tidore #5 – Menemukan “Rumah” di Gurabunga

EVY_5433

Saya pecinta daerah dingin (tapi tidak menolak juga untuk berpanas-panas). Makanya, ketika berkesempatan untuk mengunjungi Tidore, saya tidak berpikir dua kali untuk memasukkan Desa Gurabunga menjadi salah satu tujuan yang wajib didatangi. Dan pilihan saya tidak salah!

IMG_9770
di sepanjang perjalanan, pemandangannya seadem ini

 

IMG_9739
Pala, primadona dari kepulauan Maluku

 

IMG_9754
Buah Pala itu seperti ini (biasanya hanya tahu yang sudah jadi manisan)

Sepanjang perjalanan menyusuri aspal hitam menuju desa yang terletak di lereng Gunung Marijang, atau yang lebih dikenal dengan nama Kie Matubu, pohon Pala dan Cengkeh begitu memanjakan mata. Kebetulan, saat saya mengunjungi desa ini, tanaman Pala mulai berbuah. Terpuaskanlah keinginan untuk melihat secara langsung tanaman Pala dan Cengkeh, keluarga rempah-rempah yang di jaman dahulu menjadi daya tarik bangsa asing untuk datang dan menguasai salah satu bagian dari Indonesia tercinta ini.

 

EVY_5447
Lapangan Gurua

 

EVY_5443
suasana desa Gurabunga sangat nyaman dan membuat betah

 

EVY_5444
awan terlihat begitu dekat…

 

EVY_5448
lapangannya hijau….. luas….. bikin ingin guling-guling di sana

Suasana sejuk mengiringi kendaraan yang membawa saya ke desa di ketinggian 800 mdpl ini. Semerbak aroma tanah dan rumput, lembab, namun sangat sarat kerinduan menelisik indra penciuman saya. Menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari pusat Kota Tidore, melewati jalanan aspal menanjak yang berliku-liku, akhirnya saya tiba di lapangan hijau yang luas, Gurua – lapangan hijau yang luas di Desa Gurabunga. Desa Gurabunga sendiri terletak di lereng Gunung Marijang (yang lebih dikenal dengan nama Kie Matubu) yang memiliki tinggi sekitar 1730 mdpl.

Turun dari mobil, saya disambut udara dingin yang menyegarkan. Love that!

 

20171224_154102
masjid dan musholla yang letaknya berdampingan, kaum wanita biasanya sholat di musholla, sementara pria di masjid (taken by mas @Har)

 

EVY_5442
di setiap rumah warganya, deretan bunga warna-warni tampak memenuhi halamannya

 

EVY_5445
desanya bersih, rapi, nyaman, and feels like a home

 

HAR_4912
salah satu rumah di Desa Gurabunga yang sedang dibangun

Lapangan hijau tadi sangat luas, diapit dengan perumahan penduduk dan sebuah masjid serta sebuah musholla yang letaknya berdampingan. Jalanan setapak dari beton tersedia di salah satu sisi lapangan. Melemparkan pandangan ke sekitar, yang terlihat adalah alam yang hijau, gunung Kie Matubu terlihat gagah menjulang tinggi dengan selimut awan di sekelilingnya serta rumah penduduk yang begitu asri dan berwarna dengan beraneka warna bunga yang tumbuh di setiap halamannya. Kata Gurabunga sendiri memiliki arti Taman Bunga, dan itu sangat sesuai dengan kondisi desa ini yang penuh dengan bunga di setiap pekarangan rumahnya.

 

IMG_9756
suka dengan hijaunya pepohonan dan bersihnya desa ini

 

EVY_5434
Rumah Sowohi

 

EVY_5436
ruang tamu di Rumah Sowohi

Kaki melangkah menyusuri jalanan beton menuju salah satu rumah (rumah bapak Arif Romo), yang menjadi tempat kami beristirahat menikmati indahnya Gurabunga. Diantar Gogo, kami kemudian menyambangi sebuah rumah adat Sowohi yang disebut Folajikosabari. Menyusuri jalanan desa yang sedikit menanjak, tidak jauh dari lapangan hijau, akhirnya kami tiba di rumah Sowohi. Rumah Sowohi ini kental dengan nuansa Islam. Rumah yang didominasi dengan warna putih ini dibangun menggunakan kayu, bambu serta berlantaikan tanah dan masih menggunakan daun pohon Sagu sebagai atapnya. Desain rumah Sowohi ini memiliki 5 buah ruangan yang menggambarkan jumlah sholat wajib di dalam Islam, serta 2 buah ikatan di setiap batang bambunya yang melambangkan 2 kalimat Syahadat. Di setiap rumah Sowohi terdapat sebuah ruang khusus, biasa disebut Ruang Puji, yang berfungsi sebagai ruang untuk berdoa. Ruangan tersebut biasanya diberi kain putih sebagai tirainya. Di ruangan itulah para Sowohi akan berdoa untuk keberlangsungan Tidore serta kebijakan-kebiijakan yang menyangkut kepentingan masyarakat Tidore.

 

EVY_5437
Rumah Sowohi memiliki dinding dari bambu serta berlantaikan tanah

 

EVY_5439
atap Rumah Sowohi yang terbuat dari daun pohon Sagu

 

20171224_154710
Gong, yang terdapat di sudut ruang tamu Rumah Sowohi (taken by mas @Har)

Rumah Sowohi yang saya datangi merupakan kediaman Bapak Yunus Hatari, selaku Sowohi Kie Matiti. Saya memasuki sebuah ruangan yang berfungsi sebagai ruang penerima tamu, ruangan berlantaikan tanah padat, dilengkapi dengan seperangkat kursi kayu dan sebuah sofa sudut terbuat dari bambu. Di salah satu sudut ruangan tergantung sebuah Gong dari tembaga. Atap ruangan ini masih menggunakan daun pohon Sagu. Menurut bapak Yunus Hatari, beliau mempertahankan bangunan asli Rumah Sowohi ini untuk menjaga hubungannya dengan para leluhur.

 

HAR_4909
berbincang bersama bapak Yunus Hatari (taken by mas @Har)

 

EVY_5438
kursi kayu, membuat suasana ruang tamu di Rumah Sowohi semakin unik

Setelah berbincang-bincang dan mendengarkan cerita bapak Yunus Hatari mengenai bagaimana beliau menjalin hubungan dengan para leluhur melalui doa di Ruang Puji, serta bagaimana menjaga tatanan masyarakat Gurabunga agar tetap menjunjung tinggi adat-istiadat, akhirnya kami berpamitan.

 

IMG_9761
Kopi Dabe, kopi yang berhasil membuat saya ketagihan dan menjadi pecinta kopi

 

IMG_9763
menikmati kopi dengan pemandangan secantik ini, awesome!

Meninggalkan rasa bahagia karena bisa melihat dan mendatangi sendiri rumah adat yang begitu nyaman, ramah, saya pun kembali menuju rumah bapak Arif Romo. Dan tidak sabar untuk menikmati segelas kopi khas Tidore, Kopi Dabe. Ada cerita sedikit mengenai Kopi Dabe ini. Sebenarnya saya bukan seorang yang addict dan hobi minum kopi. Saya hanya senang menghirup aroma wanginya. Jangan tanya kenapa dan apa sebabnya? Bagi saya, menghirup wangi aroma kopi itu menyenangkan, membuat bahagia, tapi tidak cukup untuk membuat saya tertarik meminumnya. Tetapi, ketika saya berkunjung ke Kadaton Kesultanan Tidore, saya disuguhi secangkir kopi yang aromanya tidak biasa. Wangi kopi bercampur aroma rempah (cengkeh, kayu manis, dan jahe) serta rasa manisnya yang lain dari biasanya, seketika membuat saya ingin bilang “I love this coffee so much”. Dan ketika mendapat suguhan segelas Kopi dabe di Gurabunga ini, rasanya this is a perfect day for me!

 

20171224_161413
bersantai bersama sahabat sembari menikmati segelas Kopi Dabe, perfect! (taken by mas @Har)

 

20171224_172211
Ko Gogo, teman baru yang kami temui di Desa Gurabunga

 

EVY_5441
kulit Pala yang sedang dijemur di salah satu halaman rumah warga

Menikmati segelas kopi sambil duduk di bawah pohon bersama teman-teman, bersenda gurau sambil memandang Kie Matubu yang menjulang di kejauhan membuat siang menjelang sore itu begitu sempurna. Rasanya saya ingin berlama-lama di desa ini. Menikmati suasana desa yang tenang, nyaman, dingin, dan bersahabat. I think I found a place, called home here. Hi Gurabunga, I love you so much!

 

EVY_5454
pepohonan hijau, langit biru yang digayuti awan putih berbias sinar mentari

 

EVY_5455
awan terasa begitu dekat di desa ini, seperti negeri dongeng

Dan ketika tiba waktunya untuk meninggalkan desa yang dalam waktu singkat berhasil membuat saya seperti pulang ke rumah, setitik sedih menggelayut di sudut hati. Tunggulah, suatu saat saya akan kembali ke sana.