Category Archives: Serang – Banten

Tour the Journeys 3 – Rumahku Rumah Dunia Kubangun Dengan Kata-Kata



Keisengan memeriksa twit di sela-sela jam kerja hari itu ternyata membawa saya pada sebuah perjalanan yang tidak biasa. Seminggu yang lalu (lewat 2 hari), persis di hari yang sama, handphone di meja saya ga berhenti bersuara. Semua account media sosial saya bergantian saling menunjukkan notifikasi yang masuk. Dan semua itu ngucapin “Selamat Ulang Tahun Evy” :D
Iya, seminggu yang lalu itu (lewat 2 hari) memang tanggal di mana saya lahir sekian tahun yang lalu (mau bilang 17 tahun lalu kan nanti pasti banyak yang protes :D).
Sebuah twit dari @gagasmedia tentang Tour the Journeys 3 yang akan mengadakan perjalanan ke Rumah Dunia dengan beberapa penulisnya membuat saya segera menghubungi contact person sebagaimana yang tertera di foto yang terlampir di twit tersebut. Mbak Chyntia!
Ketik-ketik-ketik-ketik…… saya menghubungi mbak Chyntia melalui WA. Dan langsung daftar.
Berhasil meracuni seorang sahabat untuk ikut serta (dadah-dadah ke Windy ^.*), akhirnya kita berdua confirmed untuk ikutan. Transfer done, kirim email konfirmasi pembayaran done, tinggal nunggu konfirmasi itinerary dari mbak Chyntia. Makasih mbak ^.*
Merasa tidak sabaran untuk menunggu tanggal 12 April datang menghampiri. Di pikiran sudah terbayang-bayang bakal ketemu Dina @DuaRansel (yang selama ini cuma bisa stalking-in timeline, IG dan web-nya), aMrazing (yang terlihat ceriwis kalau di timeline), Windy Ariestanty (editor keceh yang sering wira-wiri di timeline), Vabyo (yang ternyata punya nama asli Valiant Budi, pernah baca beberapa tulisannya, tapi baru add twitter-nya setelah acara Tour the Journeys 3 #pissman), Hanny Kusumawati (honestly, baru ngeh dan kenal setelah acara kemarin itu – biasanya baca tulisan doski ya dibaca doang, ga ngapalin namanya :D), trus Alfred Pasifico (nah…yang ini beneran blasss ga ngeh sama sekali – piss ya om :D).
Jumat malam, setelah pulang kantor saya bergegas menyiapkan peralatan untuk jalan-jalan besok pagi.
  •         Kamera, checked
  •         Batere. checked
  •         Raincoat, checked
  •         Payung, checked 
  •         Printilan obat-obatan, checked
  •         Converse kesayangan, checked

Oke, persiapan siap, mari bobok dulu.


Sabtu, 12 April 2014
Jam 7 pagi saya sudah siap berangkat. Tinggal menunggu Windy, yang belum ada kabar.
Finally, jam 7.15 pagi saya dan Windy siap, dan mulai melangkah menuju…….. halte busway :D
Sesuai dengan itinerary yang dikirimkan melalui email, meeting point di parkiran Ragunan. Saya dan Windy memutuskan untuk naik Kopaja S602 yang rutenya persis akan berhenti di depan Ragunan.
Tumben, pagi ini kenapa si Kopaja belum lewat-lewat. Biasanya lebih banyak Kopaja yang lewat dibandingkan bus Transjakarta.
Teng! Jam 7.30 si ijo mungil lewat. Saya dan Windy bergegas naik. Let’s go!!!
Jam 8 lewat beberapa menit, saya dan Windy sampai di depan Ragunan. Oke, cek handphone dulu, tadi di dalam Kopaja terasa berdering-dering mulu.
Hmm…. ada 1 sms, tampaknya dari panitia acara Tour the Journeys 3.
“Selamat pagi peserta Tour the Journey. Pemberitahuan. Bis kita berada di parkiran bis kebun binatang Ragunan. Terima kasih”.
Pengirim: 0878808xxxxx (hayo ngaku…. siapa yang kirim sms???) :D
Saya dan Windy mulai celingukan, nyari-nyari bus yang (mungkin) ada tulisan “Tour the Journeys 3”. Akhirnya, memutuskan nanya sama penjaga pintu masuk parkiran, dan ditunjukin area parkiran yang masih nun jauh di belakang. Baik lah, mari kita cari lagi.
Mencoba untuk telepon ke nomor yang tadi sms, jawabnya juga sama “Please find bus biru, di parkiran bus, di depan pintu utama Ragunan” :D

Sudah melewati loket yang menjual tiket masuk Ragunan, tapi mata saya belum berhasil menemukan “bus biru” yang dimaksud, selain deretan bus Transjakarta, hehehehehe…
Memutuskan untuk melipir ke bagian kanan area parkir yang dibatasi pagar berwarna hjau, dan tetiba mata saya meihat sebuah bus biru dari perusahaan si burung biru, apa mungkin itu busnya?
Dan selarik tulisan di body bus “Tour the Journeys 3” meyakinkan saya bahwa itu adalah bus yang benar.
“Tour the Journeys” thanks to @landiachmad untuk fotonya, pinjem yaa…..
Di situ sudah ada 4 cewek yang duduk manis di halte, EA, Dwi, Della + Shasha. Dan panitia acara, “M” (jadi inget film James Bond, hehehehe), plus Ugie.
Diabsenin sama “M” dan disuruh ambil nomor kursi, kebagian nomor 29 #weeeww
Sambil nunggu peserta+panitia+penulis yang belum datang, saya dan Windy memutuskan untuk nongkrong di warung kecil yang ada di pinggir area parkir (itu alasan aja sih, sebenarnya pengen nyari minuman dingin, karena Jakarta pagi itu diskon banget panasnya).
Ga pake lama, sebotol poca** sw**t dingin langsung kosong isinya, yang meluncur manis di tenggorokan.


yeaaaayyyyy!!! ketemu Dina @DuaRansel

Nah.. nah… nah… itu Dina @DuaRansel!
Selama ini cuma bisa mantengin timeline, web + IG-nya, hari itu saya berhasil ketemu dan langsung ngobrol. Keingetan Gina, sahabat di grup trip yang nge-fans berat dengan @DuaRansel. “Gin……. aku ketemu Dina lhooooooo!!!” #pamer :D
Kurang lebih jam 9.30 akhirnya rombongan berangkat.
Saya yang dapat kursi nomor 29, dibolehin pindah ke nomor 15 sama “M” karena masih kosong. Dan duduk manis lah saya di kursi nomor 15, samping jendela.
Tiba-tiba, mbak Resita (pimred Gagas Media) nyolek saya dan bilang “Mau duduk bareng Dina ga? Yuk tuker”.
Waaaaaaaaaaahhhhh….. ga perlu ditawarin 2x mbak, saya langsung pindah dan tukar nomor kursi dengan mbak Resita.
Yeay…… bisa dengar cerita Dina sepanjang perjalanan.
“Ginaaaaaaaaaaaaaaa……. kamu pasti envy deh, aku duduknya di bus barengan Dina nih”, hehehehehe….
Sepanjang perjalanan Jakarta – Serang, saya ngobrol dengan Dina.
Mulai dari perjalanannya di Kerala kemarin karena terpilih sebagai finalis Kerala Blog Express Tour, blusukan pakai Sari (pakaian khas India) di India, jalan-jalan di Bangkok waktu ada insiden demo, persiapan jalan-jalan ke Australia, dan lain-lain.
Entah kenapa, yang saya ingat dari blusukannya Dina menggunakan sari di India adalah foto before – after-nya, hihihihihihi…
Perjalanan Jakarta – Serang sekitar 2 jam jadi ga terasa dengan cerita dari Dina. Dan ternyata bus kami telah memasuki halaman dari Rumah Dunia!
Balai Belajar Bersama – Rumah Dunia

Rumahku Rumah Dunia Kubangun Dengan Kata-Kata

lukisan, tulisan, artikel menjadi penghias
dinding Rumah Dunia
Itu sebaris kalimat yang tersusun rapi di bumbungan sebuah rumah, berpondasi beton, berdinding bata merah, beratap daun dengan kayu-kayu kokoh menopang langit-langitnya.
Di depan pintu masuk, ada 2 monitor bekas yang diletakkan di kanan-kiri pintu. Kemudian 4 keyboard bekas, 2 keyboard bekas di masing-masing sisi, tertempel di pilar pintu masuk. 2 mesin tik bekas tergantung di tiang penyangga atap pintu masuk. Dan di atas pintu utama terdapat tulisan “BALAI BELAJAR BERSAMA”.

Di dalam bangunan, dinding bata merah berlapis semen dicat putih didominasi dengan lukisan, gambar, artikel dan tulisan dari alumni, relawan dan “murid” dari Rumah Dunia. Rak buku bersusun-susun menempel di sepanjang dinding ruangan, mulai dari buku pelajaran, buku cerita, buku gambar dan sebagainya. Di ruangan sebelah kiri pintu masuk, terdapat rak-rak buku yang berisikan buku yang “lebih dewasa”.

sebagian artikel penghias dinding Rumah Dunia

mas Gol A Gong, founder Rumah Dunia

Rumah Dunia, merupakan sebuah “negara” kecil yang dibangun oleh mas Gol A Gong – yang pernah merasakan era 80s dan 90s pasti tahu siapa beliau, awalnya merupakan sebuah komunitas kesenian yang didirikan pada tahun 1998 untuk mewujudkan keinginan mas Gol A Gong memiliki sebuah gelanggang remaja. Berdiri di atas tanah seluas 3000 m2, di Komplek Hegar Alam, Ciloang, Serang, Banten. Selama melihat-lihat Rumah Dunia, kami didampingi langsung oleh mas Gol A Gong sendiri, plus istri, plus beberapa relawan.







rak buku menghiasi hampir seluruh dinding di Rumah Dunia (abaikan penampakan di sudut ruangan :D)
aula terbuka di halaman depan Rumah Dunia
(photo by @landiachmad)

mendengarkan cerita mas Gol A Gong mengenai terbentuknya Rumah Dunia dan kegiatannya(photo by @landiachmad)

masih mendengarkan cerita mas Gol A Gong (photo by @landiachmad)
sisi luar Rumah Dunia

di halaman belakang Rumah Dunia terdapat beberapa bangunan, termasuk ruang Sekretariat,
area kelas membaca, mushola, dan beberapa ruangan lainnya

ruang Sekretariat Rumah Dunia

ruangan terbuka yang berfungsi sebagai sanggar belajar

siap-siap ber-Gonjlengan :D(photo by @landiachmad)

Selesai berkeliling, di aula terbuka sudah disiapkan menu makan siang berupa nasi boks. Tapi Dina @DuaRansel sempat mengutarakan keinginannya untuk makan secara “Gonjlengan”. Saya sendiri ga ngerti itu apa artinya?










cuci tangan, singsingkan lengan baju,
mari kita Gonjlengan ^.^
(photo by @landiachmad)

Akhirnya mas Gol A Gong menceritakan yang dimaksud dengan makan “Gonjlengan”.
Makan Gonjlengan adalah tradisi makan di masyarakat Banten, di mana sajian nasi dan lauk-pauknya diletakkan secara bersama-sama menggunakan alas sehelai daun pisang. 1 lembar daun pisang yang di atasnya telah tersedia nasi, sayur dan lauk-pauk tersebut biasanya akan dirubung (haduh, apa ya istilahnya?) pokoknya nanti di 1 daun pisang itu akan ada 4, 5 atau lebih orang yang akan makan secara bersama. Tradisi makan bersama ini mengingatkan saya akan tradisi makan bersama di beberapa daerah – Bedulang di Belitong, Seprahan di Sambas.



mari ber-Gonjlengan…(photo by @landiachmad)

Jadi lah siang itu kami mencoba untuk makan Gonjlengan. Masing-masing kemudian menumpahkan isi boks jatah makan siangnya ke atas daun pisang yang sudah disediakan.

Saya berbagi daun pisang dengan Windy, Leni, Yuke, Farid, Landi dan 1 lagi lupa namanya :D
Menikmati menu makan siang berupa nasi putih, capcay, ayam opor, sambal dan lalapan, di aula terbuka ditemani cuaca yang lumayan sejuk dan hujan membuat makan siang hari itu terasa berbeda.







Ternyata, makan Gonjlengan itu seru lho. Sambil ngobrol dengan teman baru, saling bercerita, tak terasa menu makan siang di atas daun pisang pun licin tandas tak bersisa :D


habis Gonjlengan, terbit lah kenyang :D (photo by @landiachmad)

bersama Dina, mau envy-in Gina :D (photo by @landiachmad)



Selesai makan siang, kami telah ditunggu di aula utama Rumah Dunia untuk acara inti dari jalan-jalan ini, “Meet n Greet Penulis The Journeys 3”.
Mendengarkan sharing dari para penulis tentang proses kreatif yang mereka lalui untuk menghasilkan tulisan yang akhirnya terbit menjadi sebuah buku, sungguh menyenangkan. Amaze melihat kemampuan mereka menuangkan kata-kata menjadi sebuah tulisan dan buku yang bisa membuat saya terkagum-kagum dengan perjalanan yang telah mereka lalui.
Tanya jawab dengan teman-teman dari Rumah Dunia pun berlangsung dengan sangat seru.

Ditambah dengan acara bagi-bagi buku gratis dari Gagas Media, hmm…… seruuuuuuu!!!




sesi tanya jawab antara penulis dengan teman-teman di Rumah Dunia

Windy – Alfred – Dina – Alex – Vabyo – Hanny – MC dari Rumah Dunia

nampang rame-rame setelah “Meet n Greet The Journeys” (photo by @landiachmad)



Setelah selesai acara “Meet n Greet Penulis The Journeys”, kami diajak untuk melihat-lihat Serang. Tujuan pertama adalah Istana Kaibon. Ya…. emang sih, tinggal reruntuhannya aja, tapi saya suka. Gimana cerita kami di sana, hmm…… tunggu posting-an selanjutnya :D




Bercumbu dengan Pantai dan Karang Cantik di Sawarna



Sabtu, 24 Agustus 2013
Menginjakkan kaki untuk ke-2 kalinya di Desa Sawarna, tapi kali ini dalam kondisi cuaca yang berbeda. Klo waktu pertama kali gw ke Sawarna itu pas musim ujan, sawah-sawah menghijau, pohon-pohon berdaun hijau segar,  deretan pohon nyiur pun gemulai dengan daunnya yang bewarna kuning kehijauan, serta rerumputan yang menebar bau basahnya yang khas. Tapi kali ini, gw datang ke Sawarna dalam kondisi musim panas, sawah-sawah hanya menyisakan tumpukan sekam yang mengering setelah panen, rumput-rumput bewarna coklat, pohon-pohon yang meranggas dan menggugurkan daun-daunnya, bahkan pohon nyiur pun terlihat tak secantik biasanya.
 
Setelah menempuh perjalanan persis 7 jam dari Jakarta, gw sampe di Desa Sawarna. Jam waktu itu nunjukin pukul 04.15 wib, subuh. Kali ini gw nginep di Homestay Widi. Dalam keadaan baru melek dari tidur di sepanjang perjalanan dari Jakarta, gw diharuskan menyeberangi jembatan gantung (atau jembatan goyang ya?) untuk mencapai homestay. Rasanya kesadaran gw baru ngumpul 50% waktu kaki gw tiba di bibir jembatan.

Bismillah…..
Weits…. kesadaran gw langsung full 100% waktu jembatan mulai bergoyang rusuh. Kan ceritanya kali ini gw jalan ke Sawarna bareng dengan 23 orang teman (baru) yang mungkin this is the first time-nya mereka ke Sawarna, jadi mereka ga tau itu gimana kalo jalan di jembatan goyang, jadi lah mereka jalannya kayak di jalanan biasa. Dan hasilnya, jembatan pun bergoyang dengan hebohnya :D
Baru deh tu, pada ribut nyari pegangan dan teriak-teriak… hehehehehehe. Gw sih sebenernya rada serem juga, gimana ga serem, masih subuh buta gitu, trus penerangan seadanya, sementara di bawah jembatan kedengeran suara air mengalir deras, jembatan goyang geal geol ga jelas, rame pula yang jalan di jembatan…
Pelan-pelan gw jalan, sambil tangan kanan kiri pegangan di sling yang menjadi pengaman jembatan. Hup, gw sampe di seberang dengan selamat. Yuk, lanjut jalan ke homestay.


antrian di Jembatan Gantung
pertama ke Sawarna, masih bisa foto-foto
di Jembatan Gantung

Sampe di homestay, bagi kamar, gw kebagian kamar 10 bareng Windy, Gita, Maria + Aci. Istirahat bentar, sambil nunggu subuh, sholat, trus mandi. Udah sholat subuh, mandi, beberes, jam 7 sarapan deh. Pagi ini menunya nasi goreng, telor ceplok, perkedel jagung sama kerupuk, hmm… yummy….

penghuni kamar 10


Beres sarapan, acara keliling ngukur jalan dan ngeritingin betis dimulai. Destinasi pertama, Goa Lalay. Dari homestay, (lagi-lagi) gw dan teman-teman harus nyeberang (lagi) lewat jembatan gantung. Nah…. karena udah pagi, keliatan jelas deh tu gimana bentuk jembatannya, sungai yang ngalir di bawahnya, dan… makin serem lah gw :D


waktu gw pertama kali ke Sawarna, hijau di mana-mana

sawah kosong setelah masa panen


Ga pake nengok-nengok, gw jalan lurus aja. Itu pun sebelumnya kita harus ngantri, karena ternyata pagi ini rame banget yang datang ke Sawarna. Dan semua ngelewati jembatan yang sama, ya yang jalan kaki, pake sepeda dan pake motor. Kebayang ya… jembatan yang cuma bisa one way itu harus dilewati rombongan dari sisi yang 1 ke sisi lainnya. Jadinya ngantri deh…



Setelah nyeberang jembatan, sampe di jalan utama desa, trus ke arah kanan. Lurus menyusuri jalan utama Desa Sawarna. Sampai nemu papan penunjuk arah GOA LALAY di sebelah kanan jalan. Dan lagi-lagi, harus nyeberang jembatan. Tapi kali ini jembatannya terlihat lebih kokoh dari jembatan yang tadi udah gw lewati, walaupun sama jenisnya, jembatan gantung.


Karena ini udah ke-2 kalinya gw ke Sawarna, gw ga nyobain masuk lagi ke Goa Lalay, kata temen gw “Giliran jaga sendal ya mbak?” hehehehehe….
Walaupun si mas-mas yang jaga udah setengah mati promosiin klo Goa Lalay yang sekarang lebih bagus dari yang dulu. Udah dieksplorasi lebih dalam dan sekarang juga ada 
goa vertikalnya. “Makasih mas, saya nunggu di luar aja”.







Goa Lalay (kelelawar) merupakan goa horisontal yang ada di Desa Sawarna. Kenapa dinamakan Goa Lalay? Karena menurut penduduk setempat, di dalam goa ada banyak sekali kelelawar. Dulu, waktu kunjungan gw yang pertama pun, begitu memasuki mulut goa, aroma khas dari kotoran kelelawar sudah tercium.

peta wisata Goa Lalay

pertama ke Sawarna bareng mereka…. miss u all guys ^.^


Sekitar 30 menit, nungguin teman-teman yang meng-explore Goa Lalay, gw sempet foto-foto view di sekitarnya, sawah yang kering setelah masa panen lewat dan pohon-pohon yang meranggas. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju pantai.

view di depan Goa Lalay

Ditemani matahari yang sinarnya puanaaaasss poolll…. gw dan teman-teman dengan semangat 45 jalan melewati pematang sawah yang merekah, sawah-sawah yang mengering, saluran-saluran irigasi yang tak berair, pohon-pohon yang tinggal menyisakan batang dan dahan yang meranggas dan menggugurkan hampir semua dedaunannya. Naik turun bukit (sepertinya) hingga mulai terlihat deretan pohon nyiur, itu artinya…….. pantai udah dekat……………. yihaaaaaaa….

yeaaaayyyyy….pantai……
Tanah mulai berganti dengan pasir, dan…. taraaaaaaaaaaaaaaa….. kami sampe di Pantai Legon Pari (honestly, gw ga tau nama yang bener yang mana, Laguna Pari? Legon Pari? Lagoon Pari?). Hamparan pasir putih yang luas…….. banget, dengan ombak yang kali ini ga seberapa besar, mungkin karena cuacanya ga pas musim penghujan. Dan di sebelah kiri pantai, terlihat hamparan karang-karang pantai yang berdiri kokoh menghadang terjangan ombak, Karang Taraje.

Pantai Legon Pari

Tapi kebayang ga sih gimana suasananya, nyampe pantai jam 10 pagi, di musim panas ini??? Yup, sinar matahari dengan suka rela membelai-belai seluruh tubuh. Gw yang udah pake baju tertutup dari ujung kepala sampe ke mata kaki aja berasa dicubit-cubit sama jari-jari matahari, apa kabar temen gw yang cuma pake hot pants dan kaos kutung yak? :D

Nah…. 1 yang unik dari Pantai Legon Pari ini, 2 kali gw ke sini, 2 kali juga gw ketemu dengan serombongan kerbau yang asyik berbaris melintasi bibir pantai. Kata temen gw, “Klo lu mo liat pantai yang ada kerbau berbarisnya, dateng deh ke Sawarna, cuma ada di situ lho”. Dan itu memang benar. Kerbau-kerbau itu berbaris rapi ngikutin bapak penggembalanya, jalan di bibir pantai, dari sisi kiri ke sisi kanan pantai.

mo liat kerbau baris di pantai? cuma ada di Legon Pari!
Oh iya, pasir di Legon Pari ini halus banget, putih kecoklatan warnanya. Cuma ya karena nyampe di pantainya pas matahari sedang manteng dengan jegernya, gw ga sempetlah ngerasain halusnya pasir Legon Pari dengan kaki telanjang, panas cuy…. :D

masih di Legon Pari

Sempet istirahat sebentar di Legon Pari, beberapa teman dengan gagah berani main panas-panasan, bahkan ada yang nyebur ke laut (salut gw), gw sih milih duduk manis di bangku kayu yang ada di bawah pohon, sambil ceki-ceki kamera, liat hasil jepretan.

Dari Legon Pari, kemudian gw dan teman-teman melipir ke sisi kiri, menuju Karang Taraje. Hamparan karang pantai yang luas, dengan beberapa (eh, banyak ding) batu karang gede, trus ada sederetan karang yang seolah jadi benteng alam, melindungi pantai dari hempasan ombak laut.

dulu, pertama kali ke Karang Taraje, ombak kayak gini yang jadi inceran klo mo foto :D
nah…. ini Hafiz, yang jadi leader waktu gw ke Sawarna

Pertama kali gw ke sini, pas musim ujan, jadi jam 11-an siang gitu ombaknya masih gede banget, nyiprat ke mana-mana lho itu ombaknya. Dulu temen-temen rebutan foto dengan background ombak yang pecah di batu karang. Tapi kali ini, ombak ga segede dulu, jadi ga ada tuh yang rebutan foto dengan latar belakang pecahan ombak. Menurut kang Dadang yang jadi guidekali ini, di Karang Taraje itu bagus banget untuk berburu sunrise (katanya). Banyak fotografer yang suka hunting di situ. Mungkin bener juga info dari kang Dadang, karena di ujung kiri Karang Taraje gw liat ada sedikit celah di antara benteng batu karang yang bentuknya unik. Ngebayangin klo bisa liat sunrise yang ngintip dari celah karang itu…. ah.. so sweet…..


itu celah yang kata kang Dadang bagus untuk hunting sunrise

Karang Taraje


Selesai narsis-narsisan di Karang Taraje, perjalanan lanjut ke Pantai Tanjung Layar. Judulnya susur pantai. Jadi jalannya tetep di sepanjang pinggir pantai. Walaupun udah 2 kali ke sini, gw tetep amaze aja liat pantainya… cakep banget. Sepanjang susur pantai ini gw kan barengan sama Windy + Gita, nah…. si Gita ini sempet nanya “Mbak, Tanjung Layar jauh ga sih?”
Ya gw jawab “Ga jauh koq, tinggal ngelewatin tebing batu itu, trus ke kanan, sampe deh”.
Tiba-tiba Windy nyeletuk “Git, lo salah deh nanya gitu sama mbak Evy, lo kan ga tau standar jauh/deketnya si mbak segimana”.
Gw cuma nyengir. Ya karena menurut gw sih ga jauh lah ya….
15 menit kemudian Gita nimpalin “Bener juga Win, deketnya mbak Evy beda sama deketnya gw”.
Hihihihihihihihihi…. gw cuma nyengir :D

Tanjung Layar ada di balik karang itu Git… deket kan :D
seneng ya liatnya…
hasil pahatan alam yang sempurna

Lumayan lah, jalan pelan-pelan sekitar 30 menit, akhirnya sampe di Tanjung Layar. Tuh Git, ga jauh kan… cuma jalan setengah jam doang :D
Tanjung Layar ini semacam maskot untuk Desa Sawarna. Pantai pasir dan karang yang terhampar luas, dan ada 2 batu karang besar yang tampak seperti layar sebuah kapal yang menjadi pusatnya. Di depan batu karang seperti layar itu, lagi-lagi ada barisan karang yang menjadi pemecah ombak sebelum sampai ke pantai. Siang itu Tanjung Layar lumayan rame. Sepertinya banyak yang sedang liburan. Gw, Windy, Gita sempet juga narsis-narsisan bentar, sebelum kemudian melipir nyari pondok-pondokan untuk berteduh.

Tanjung Layar, ikon wisata Desa Sawarna

Menikmati pemandangan pantai, semilir angin laut yang bertiup, dan air kelapa segar langsung dari batoknya, hmm….. my perfect world!
Sebagian teman-teman memutuskan balik ke homestay untuk makan siang yang udah sangat tertunda ini. Gw liat jam, udah jam 3 siang :D
Gw dan Windy tadinya rencana bertahan aja di pantai sambil tidur-tiduran di pondok kayu ini. Pengen nungguin sunset. Tapi…. perut ternyata meronta-ronta minta diisi. Akhirnya balik juga ke homestay.

Makan siang, eh… makan sore ding, trus ngobrol-ngobrol di depan kamar, Gita waktu gw sampe homestay udah tepar kecapekan di kasur :D
Sebagian teman-teman ternyata langsung mandi dan ganti baju, trus mo balik lagi ke pantai. Gw dan Windy? Hehehehehehe… kita ber-2 masih kucel bin kumel plus bau matahari :D

Waktu diajak Hafiz untuk hunting sunset di pantai, ga pake mandi, gw dan Windy langsung cuuussss… sambil nenteng kamera (mandinya ntar aja balik dari pantai, sekalian keringetannya :D).

Karena udah kesorean, akhirnya gw dapet sunset di sepanjang perjalanan ke pantai. Di Tanjung Layar sempet dapet sunset bulat sempurna dengan foreground orang-orang yang asyik bercengkerama di pinggir pantai. Not bad lah…

matahari mulai bergulir semakin rendah

sunset di Pantai Ciantir

semakin mendekati kaki langit

merah dan jingganya menggoda

dan sang mentari pun bersembunyi di peraduannya


Sore menjelang malam itu, Tanjung Layar berangin cukup kencang. Waktu mo ngejepret sunsetjuga harus bener-bener dipegang kameranya, klo ga…. blur semesta alam lah fotonya. Nyobain dibantu dengan tripod pun, malah tripod-nya yang goyang-goyang :D
Okay, sunsetdapet, yuk balik ke homestay!

Balik ke homestay, gw dan teman-teman nyusurin sepanjang pantai Tanjung Layar dan Ciantir. Mulai suasana temaram, sampe yang gelap……………….. jalannya cuma ngandelin cahaya senter Windy, dan liat bayangan temen yang jalan di depan :D
Yes, sampe di homestaydengan selamat!
Selanjutnya, mari kita antri untuk mandi………

Udah mandi, bersih, ganti baju, wangi, saatnya makan malam……..
Menu makan malam kali ini, nasi putih anget, tumis buncis segar, ikan goreng, dan kerupuk. Hmmm……. yummy banget….
Malem ini setelah ngobrol dengan teman-teman, saling tuker liat foto hasil jepretan seharian tadi, gw pun pasang posisi untuk bobok cantik. See u tomorrow pals…..



Minggu, 25 Agustus 2013
Hoaaaaeeemmmm….. jam 5 subuh, Hafiz udah ngajak hunting sunrise.
“Hmm…. gw absen ya Fiz, ga ikutan nyari sunrise”.
Sholat subuh, mandi, beres-beres, packing, dan…. sarapan ^.^
Sepiring nasi kuning dengan telor balado + perkedel jadi menu sarapan pagi itu. 
Wah… selama di Sawarna, nafsu makan gw bener-bener dimanjain neh, takut aja ntar balik Jakarta jadi musuhan dengan timbangan :D

Hari ini, sebelum balik ke Jakarta, masih ada 1 destinasi lagi yang akan gw dan teman-teman kunjungi, Goa Langir.
Setelah semuanya selesai sarapan dan packing, akhirnya sekitar jam 10 rombongan cabut dari Homestay Widi. Let’s go to Goa Langir!

Karena Goa Langir ini lokasinya lumayan jauh, akhirnya kami ke sana menggunakan mobil, sekalian jalan pulang juga. Berkendara sekitar 5 menit menyusuri jalanan utama Desa Sawarna, sampai lah gw dan teman-teman di lokasi Goa Langir.
Eits… jangan salah, untuk sampe ke goanya, kudu jalan kaki lagi, karena blom ada akses untuk kendaraan bermotor, kecuali motor, roda 2.

welcome to Gualangir
Menyusuri jalan setapak yang berpasir, di kanan kiri masih banyak pepohonan besar dan perdu-perdu khas daerah tropis, sedikit menanjak dan akhirnya sampe deh di mulut Goa Langir. Gw takjub dengan pemandangan yang ada di depan mata gw. Bukan karena goanya, tapi ternyata, Goa Langir itu letaknya persis di pinggir pantai. And you know what? Pantainya bagus banget……….

panas ya booo….. sini, potonya sambil neduh…

nolak ga dikasi pemandangan kayak gini??? klo gw? GA NOLAK!!! (pake banget!)

tebing batu karang, pasir halus, ombak putih, suka banget……..
Mungkin ini masih termasuk bibir Pantai Ciantir ya? Karena klo disusuri ke arah kiri, ujung-ujungnya akan sampe ke Pantai Ciantir, dan Tanjung Layar juga. Di kejauhan, ikon wisata Desa Sawarna ini terlihat berdiri dengan kokoh.

ga keliatan kan Git :D
again, thanks mas Dave ^.^
thanks to mas Dave yang udah motoin


Pantai di sini pasirnya cenderung lebih putih dan lebih halus. Dan suasananya masih sangat sepi, jadi kayak private beach gitu. Bagus banget lah….
Di depan terlihat pantai pasir putih membentang luas, sementara di belakang, tebing batu menjulang tinggi dengan mulut Goa Langir di salah satu bagiannya.
What a perfect combination! Ditambah langit yang biru cerah dengan sedikit awan putih yang nyempil di sana-sini. Gw suka pemandangan ini!


kami pernah sampe di sini, Goa Langir ^.^
(pintu masuk goa ada di balik perdu di sebelah kiri itu lho…)

Menikmati suasana pantai selama kurang lebih 30 menit, gw sih ga masuk ke goanya, abisnya gelap :D sedikit narsis-narsisan bareng Windy dan Gita, jepret-jepret juga biar punya stok untuk wall lappy kesayangan di kostan, akhirnya gw dan teman-teman balik ke mobil. Dan seperti kemarin, panasnya matahari tetep luar biasa :D gosong booo……. welldone nih menjurus ke overcooked :D

again! penghuni kamar 10 :D

Wokeh, perjalanan ke Sawarna part #2 cukup sampe di sini. Let’s go back to Jakarta!
See u next trip friends….. nice to know u all… and happy be a part of u ^.^