Category Archives: pelepasan tukik

Mengobati Rasa Penasaran dengan Ujung Genteng




Ini adalah catatan perjalanan saya di akhir tahun 2013 kemarin.
Setelah sekian lama selalu mendengar kata Ujung Genteng, tapi ga beranjak juga untuk pergi ke sana, akhirnya Desember taun lalu saya memutuskan untuk ikut open trip ke Ujung Genteng. Yang ngadain Travollution. Ini trip organizer recommended dah, saya mulai kenal founder-nya – Hafiz – sejak 2011, sebelum beliau… membentuk Travollution.

Kita berangkat dari Jakarta sekitar jam 9 malam, hari Jumat after office.
Seperti biasa, kali ini pun saya berangkat sendirian, maksudnya dari sekian banyak peserta, ga ada yang saya kenal, kecuali leader dan co leader-nya.
Seperti biasa, kalau perjalanan malam, saya selalu membiasakan diri untuk saving tenaga, jadi… sepanjang perjalanan malam itu saya pun tidur dengan pules di elf yang akan mengantarkan saya ke Ujung Genteng.

Ternyata, Ujung Genteng itu jauh ya…. Terbukti elf yang saya tumpangi baru tiba di daerah Ujung Genteng keesokan paginya.

Sungai Cikaso pagi itu

Saya tiba di sana sekitar pukul 7.15 pagi. Dan tujuan pertama kami adalah sebuah curug, Curug Cikaso. Jadi, setelah elf parkir dengan sempurna, kami pun segera meniti jalan setapak menuju sungai yang ada di kampung tersebut. Lho, pasti jadi pertanyaan kan, kenapa harus ke sungai?
Sebenarnya Curug Cikaso ini bisa diakses lewat jalan darat, hanya saja jaraknya lumayan jauh. Nah…. agar lebih cepat, kami waktu itu mempergunakan jasa sewa perahu yang memang tersedia di Kampung Ciniti. Harga sewa perahunya sekitar Rp 70.000 untuk 12 penumpang. Waktu itu rombongan kami menggunakan 2 buah perahu.
Dan jadilah, pagi itu saya merasakan berperahu ria di sungai yang airnya sedang pasang dengan warna kecoklatan akibat hujan di malam sebelumnya.


perjalanan menuju Curug Cikaso

Berperahu sekitar 10 menit, maka sampai lah saya di lokasi Curug Cikaso. Dari turun perahu, saya masih harus berjalan sekitar 100 meter untuk sampai di lokasi curug. Pagi itu, jalanan tanah menuju curug masih basah oleh embun dan sisa air hujan semalam, jadinya jalanan setapak itu cukup licin. Saya beberapa kali harus terkaget-kaget karena tiba-tiba pijakan kaki ini terasa bergeser (untung ga gedebug :D).

Sekitar 25 meter dari curug, saya sudah mulai merasakan cipratan airnya, dingin! hihihihihi….
Waduh, kalo airnya nyiprat ke mana-mana gini, gimana caranya bisa motret ya???
Saya pun mulai melipir-melipir, mencari lokasi yang tidak terkena cipratan air.

Nih, saya ceritain dikit tentang Curug Cikaso…….
Curug Cikaso sebenarnya bernama Curug Luhur, yang mengalir dari sebuah anak sungai dari Sungai Cikaso yang bernama Cicurug. Tapi oleh masyarakat, curug ini lebih dikenal dengan nama Curug Cikaso.
Curug Cikaso terbentuk dari 3 titik air terjun yang berdampingan letaknya, dengan 1 lokasi kolam yang sama, yang airnya berwarna hijau kebiruan. Untuk 2 titik air terjunnya dapat terlihat jelas, sedangkan 1 titik lainnya agak tersembunyi di tebing yang menghadap ke Timur. Kolam di bawah limpahan ke-3 curug tersebut alirannya akan menuju laut muara Tegal Buleud, Sukabumi. Sebenarnya, kolam di bawah curug itu boleh digunakan untuk berenang, namun harus diawasi oleh yang berpengalaman, karena kedalaman kolam itu mencapai 15 m.


Curug Cikaso

Nah… masing-masing titik air terjun itu memiliki nama yang berbeda, yang berada di sebelah kiri bernama Curug Asepan, yang di tengah Curug Meong, dan yang di sebelah kanan bernama Curug Aki. Ke-3 curug tersebut memiliki ketinggian sekitar 80 meter dengan lebar tebing sekitar 100 meter. Oh iya, Curug Cikaso ini berada di Kampung Ciniti, Desa Cibitung, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Untuk aksesnya, curug ini berjarak sekitar 8 km dari pusat kota Kecamatan Surade, 15 km dari Jampang Kulon, atau 30 km dari Ujung Genteng, dan sekitar 110 km dari Kota Sukabumi, atau +/- 70 km dari Pelabuhan Ratu.
Dari Kota Surade, apabila menggunakan kendaraan roda 4, jarak itu bisa ditempuh sekitar 30 menit untuk tiba di pertigaan Jalan Cikaso dengan kondisi jalan yang berliku dan beraspal mulus. Tapi mendekati desa terakhir sebelum sampai ke curug, kondisi jalan mulai berbatu-batu.
Ada 2 jalur yang bisa ditempuh untuk sampai di Curug Cikaso, pertama melalui pertigaan/pasar (Cinagen, Jampang Kulon) masuk ke arah Cikaso, kurang lebih 5 km. Yang kedua melalui pertigaan (Cibarehong, Surade) ke arah SMA N 1 Surade, kemudian berbelok ke kiri, kurang lebih 3 km, jalur ini sedikit memutar sehingga membutuhkan waktu sekitar 6 jam.

Walaupun pagi itu belum mandi (ups), tapi begitu kena cipratan air dari curug, mata langsung seger. Airnya dingin…………. (pake bingits) :D

ini teman-teman seperjalanan saya ke Ujung Genteng

Akhirnya, setelah liat-liat curug, udah poto-poto, udah poto keluarga juga dengan seluruh peserta, saya pun balik kanan menuju ke perahu. Yup, balik lagi naik perahu untuk kembali ke parkiran elf.
  

kembali mengarungi Sungai Cikaso


Selesai explore curug, perjalanan dilanjutkan menuju Pantai Amanda Ratu di Pelabuhan Ratu.

suasana seperti itu yang bikin betah


Perjalanan dari Curug Cikaso menju Pantai Amanda Ratu tidak terlalu jauh.
Pantai Amanda Ratu ini dijuluki Tanah Lot-nya Jawa Barat. Hal ini disebabkan adanya sebuah daratan yang mirip Tanah Lot, yang ada di tengah laut. Pantai ini menghadap langsung ke Samudera Hindia dengan ombaknya yang indah.
Dan siang itu, saya tiba di Pantai Amanda Ratu ditemani awan kelabu yang membuat hari sedikit adem. Cahaya matahari tampak tidak terlalu panas sinarnya, sehingga saya bisa dengan nyaman berjalan-jalan mencari spot foto yang cantik.
Air muara sungai siang itu berwarna coklat keruh akibat hujan semalam, namun makin ke tengah samudera, warnanya semakin jernih.
Memang terasa nyaman, duduk di tebing pantai, sambil merasakan angin yang bertiup semilir, sambil menikmati deburan ombak yang memukul bibir pantai.







Pantai Amanda Ratu

Tanah Lot-nya Jawa Barat nih


Di pantai ini ada penginapan yang diberi nama persis sama dengan nama pantainya, Amanda Ratu. Penginapan kayu di tengah kebun kelapa ini terasa sangat asri dan sejuk. Bangunan yang didominasi kayu berwarna coklat, dengan beberapa jendela kaca besar dan sebuah teras berpagar kayu unik di atasnya itu sungguh terasa nyaman untuk ditinggali. Hanya sayang, waktu itu saya dan teman-teman tidak menginap di sana. Maybe next time….
Hijaunya rumput di seluruh halaman pantai (sebenarnya) menarik saya untuk guling-guling di situ. Tapi…… kira-kira kalau saya melakukan itu, teman-teman yang lain heran ga ya? :D  


penginapan Amanda Ratu


senang ya liat keadaan di sekitar penginapannya
ini Firaz, peserta trip terkecil waktu itu,
dan tetangga kamar yang menggemaskan



















seperti biasa, mari foto keluarga


Kami tidak berlama-lama di Pantai Amanda Ratu, karena hari itu kami harus segera sampai di Pantai Pangumbahan untuk mengikuti acara pelepasan tukik. Tau tukik ga? Tukik itu adalah anak penyu. Jadi nanti di Pantai Pangumbahan, saya dan teman-teman akan melakukan pelepasan bayi-bayi penyu itu ke laut.
Hayuk kita teruskan perjalanan…….

Elf yang saya dan teman-teman tumpangi segera bergerak menuju Pantai Pangumbahan.
Sebelum melakukan pelepasan tukik, karena proses pelepasan tukik dilakukan menjelang maghrib, kami singgah dulu di penginapan (duh, saya lupa nama penginapannya).

Sampai di penginapan, ternyata jatah makan siang telah menunggu kami. Sebenarnya kalau dibilang makan siang, udah kelewatan sih waktunya, karena kami tiba di penginapan sekitar jam 2 siang.
Ga nunggu dipersilakan berkali-kali, langsung seluruh pasukan menyerbu meja makan dan mulai mengisi piringnya masing-masing dengan menu yang disediakan siang itu: nasi putih hangat, sayur asem, ayam dan tempe goreng, serta lalapan dan sambel.
Hmm…. yummy…..

Udah selesai makan, kenyang dong pastinya…
Baru deh kami dibagiin kamar untuk nginepnya.
Karena saya perginya sendiri, di sini saya kebagian berbagi kamar dengan Mira, dan tetanggan kamar dengan bocah kecil menggemaskan yang fotonya ada di atas tadi, Firaz.
Bocah laki-laki yang berumur belum 3 tahun ini nantinya akan jadi tamu setia di teras depan kamar saya. Dan akan menghibur dengan celotehannya serta aksi manjat-manjat dan lompat-lompatnya.

Saya dan Mira pun langsung menuju kamar kami yang letaknya paling ujung.
Sampai di kamar, berbagi tempat tidur (kami mendapatkan twin bed room, jadi jatah bobonya luas), dan bersih-bersih (akhirnya ngerasain mandi juga hari ini :D).

Sekitar jam 1/2 5 sore, kami berkumpul dan segera menuju Pantai Pangumbahan utnuk melakukan pelepasan tukik. Dari penginapan, kami harus menggunakan elf untuk sampai di lokasi pantai karena letaknya yang cukup jauh. Sampai di sana pun, elf yang saya tumpangi tidak bisa sampai ke pantai karena jalanan menuju penangkaran penyu cukup sempit untuk dilalui elf. Jalanan tanah berbatu itu hanya cukup dilewati kendaraan roda 4 berbodi kecil. Jadi, setelah elf-nya parkir, saya dan teman-teman harus berjalan kaki sekitar 400 meter untuk sampai di komplek konservasi penyu Pangumbahan. 



ini bangunan balai konservasinya, lucu ya… ada penyu gede di atapnya :D

Dari balai konservasi, kami melanjutkan jalan kaki menuju Pantai Pangumbahan.
Jaraknya lumayan, sekitar 100-150 meter. Dan untuk mencapai pantai, kami melewati deretan mangrove yang sedang dibudidaya sebelum ditanam untuk mengurangi abrasi pantai akibat gerusan air laut.
Dan akhirnya………. hore…… di depan mata saya terbentang lautan paris putih kecoklatan yang sangat luas.

pantainya luas………..

suka banget dengan suasana pantai dan ombaknya yang cantik


Sore itu, Pantai Pangumbahan cukup ramai.
Hampir di setiap sudutnya terlihat kelompok-kelompok pengunjung yang sedang menikmati pantai senja itu.
Tadinya saya berharap bisa sekalian menunggu sunset di sini, tapi sepertinya keinginan itu tidak bisa terlaksana karena gulungan awan kelabu terlihat menggelayut di langit. 

menunggu moment sunset yang gagal karena mendung tebal


Sambil menunggu moment pelepasan tukik, saya mencari lokasi yang bisa saya gunakan untuk berakrab-akrab dengan pasir pantai yang lumayan halus itu.
Sambil menenteng kamera, saya akhirnya mendapatkan sebuah spot untuk mengistirahatkan kaki saya dibenaman pasir pantai.

tadinya saya berharap foto ini berupa siluet, tapi sayang ga bisa sunset-an di sini


Dan akhirnya, moment yang saya tunggu tiba juga.

Beberapa orang petugas konservasi membawa sebuah bak hitam besar yang berisikan puluhan ekor tukik yang siap dilepas ke pantai.
Saya ga kebagiannya tukiknya… hiks… :(
Dan harus cukup puas dengan melihat saja.

menunggu saat pelepasan tukik


Pengunjung yang akan melepaskan tukik harus berdiri di belakang sebuah garis yang dibuat oleh petugas konservasi. Garis itu adalah garis batas ombak laut yang sampai ke daratan, sehingga nantinya apabila tukik-tukik itu dilepaskan, mereka akan langsung dapat berenang mengikuti ombak laut.

ayo tukik…. kamu bisa!!!


ombak yang mencapai pantai ini membantu tukik-tukik untuk segera sampai di laut


Senja itu, puluhan tukik berlomba-lomba berenang ke laut, kembali ke habitat aslinya. Berjuang melewati hamparan pasir untuk mencapai laut lepas.

Selesai melepas tukik, langit pun semakin gelap, saya dan teman-teman segera kembali ke parkiran elf.

Malam itu, acaranya bebas.
Setelah makan malam, sbagian teman-teman memanfaatkan waktu untuk berenang di kolam yang ada di depan penginapan. Sementara saya dan Mira, kami hanya duduk-duduk sambil ngobrol di sebuah gazeebo yang ada di halaman penginapan.
Sedang asyik-asyiknya ngobrol, tiba-tiba……. breeeessss…. hujan turun dengan derasnya. Saya dan Mira langsung ngacir ke arah kamar…. hehehehehehe….
Mungkin memang sebaiknya malam ini saya beristirahat aja, cuaca cukup mendukung untuk bersembunyi di balik selimut malam itu ^.*

Bye semuanya….. kita ketemu lagi besok pagi ya…..
Besok, kita akan jalan-jalan ke curug lagi lho…..

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Selamat pagi……… #sambilnguletdikasur

Cuaca tadi malam yang adem karena hujan, sukses membuat saya nyenyak (sampai ga sempat mimpi, hihihihihi…) di balik selimut. Dan pagi ini, saya bangun dengan segar.
Setelah sarapan, kami segera bersiap-siap menuju Curug Cigangsa.

Elf yang saya tumpangi kembali melintasi aspal hitam menuju Desa Batu Suhunan. Untung saja, jalanan menuju Desa Batu Suhunan bisa dibilang cukup bagus, dengan aspal yang mulus. Hanya saja beberapa saat mendekati Desa Batu Suhunan, jalanan aspal mulus berganti dengan jalanan aspal kasar yang di beberapa tempat terdapat lobang yang cukup mengganggu.
Sekitar jam 10, kami tiba di Desa Batu Suhunan. Elf berhenti di depan sebuah rumah warga yang biasa menjadi meeting point untuk pengunjung yang akan melihat Curug Cigangsa.
  

pagi itu di Desa Batu Suhunan


Curug Cigangsa sebenarnya bernama Curug Luhur Cigangsa, berada di Desa Batu Suhunan, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Untuk sampai ke lokasi Curug Luhur Cigangsa, kita harus berjalan kaki melintasi pematang sawah, dan kemudian menuruni tangga batu alami yang lumayan terjal. Jarak dari tempat kami parkir elf menuju curug sekitar 500 meter.

Jalan di pematang sawah, sebenarnya ga terlalu masalah. Yang jadi masalah adalah saat menuruni tangga batu alami yang lumayan terjal, apalagi ditambah dengan sisa hujan tadi malam. Membuat tangga batu itu cukup licin, sehingga harus sangat extra hati-hati waktu menuruni dan naiknya.
Tapi…. setelah sampai di lokasi curug, semua kesulitan untuk menuruni tangga batu itu terbayarkan.

Curug Luhur Cigangsa


Di depan mata saya berdiri tebing batu bertingkat 3 dengan limpahan air yang menuruninya. Tebing batu itu berwarna hitam kehijauan karena lumut yang tumbuh di permukaannya. Dan karena malam sebelumnya hujan, air di kolam yang ada di bawah curug pun berwarna kecoklatan. Di sekitar kolam tersebut banyak batu-batu besar yang dapat kita jadikan pijakan untuk mendekati curug. Tapi… batu-batu itu pun penuh lumut, jadi harus sangat hati-hati melangkah di atasnya.

Saya tidak berani menyeberangi batu-batu besar berlumut yang ada di sekitar curug untuk mencari spot foto yang mungkin sangat bagus, karena takut terpeleset dan gedebug jatoh di situ :D
Dan saya akhirnya cukup puas dengan memotret Curug Luhur Cigangsa dari batu besar yang letaknya paling dekat dengan tangga :D

Akses menuju lokasi Curug Luhur Cigangsa belum ada penunjuk arahnya. Jadi, setelah melalui pertigaan tugu Kota Surade, sebaiknya kita bertanya dengan masyarakat di situ, agar tidak salah arah. Curug ini berjarak sekitar 110 km ke arah selatan dari Kota Sukabumi, dan sekitar 1 km dari pusat Kota Surade.

Setelah puas melihat dan mengambil beberapa shot foto Curug Luhur Cigangsa, saya dan teman-teman kemudian kembali menaiki tangga, melintasi pematang sawah, kembali ke parkiran elf.

di pagi menjelang siang yang mendung itu, suasana di Desa Batu Suhunan sangat tenang



Selesai sudah perjalanan saya kali ini untuk menebus rasa penasaran akan Ujung Genteng. Makin banyak saya melihat sudut-sudut daerah di Indonesia ini, saya semakin pengen teriak “Damn!!! I love Indonesia so much!!!”.




2014 Diengers Goes to Bromo – #2 Mantai Kita……..

 
 
Selesai wisata religi (ihiy…istilahnya mantep :D), saya dan teman-teman langsung capcus untuk sedikit sunbathing hari itu. Biar eksotis dikit lah… (padahal yang ada, pulang mantai langsung gosong, hehehehehe…). Tujuan utamanya adalah Goa Batu Cina dan Pantai Watu Leter untuk pelepasan tukik. Trip kali ini emang agak beda acaranya, ga melulu mantai dan gunung yang diliat, tapi juga konservasi penyu. Itung-itung sambil belajar kan….
 
 
Dari Mesjid Tiban, perjalanan diarahkan menuju Malang bagian Selatan, Pantai Goa Cina. Namun, sebelum sampai ke sana, perjalanan dibelokkan dulu ke lokasi Konservasi Penyu Sitiarjo. Konservasi Sitiarjo merupakan sebuah Kelompok Masyarakat Pengawas “Gatra Alam Lestari” yang secara mandiri melakukan konservasi terhadap jenis-jenis Penyu yang memiliki habitat di sekitar pantai-pantai yang ada di daerah Malang bagian Selatan. Kendaraan yang kami naiki mengantarkan kami pada halaman berpasir dari sebuah rumah kediaman bapak Gerlan Sumenggaring Budi Leksono (duh, namanya bener ga ya? harus cek di sertifikat, udah dibenerin ya nama bapaknya :D).
 
 
Di kediaman pak Gerlan Sumenggar ini, kami diajak ke halaman belakangnya. Di salah satu pojoknya terdapat bak-bak plastik yang berisikan tukik atau bayi penyu. Ada beberapa macam tukik yang ada di sana, yang saya sendiri ga hapal, apa aja? Padahal waktu itu udah diterangin oleh pak Gerlan Sumenggar #tutupmuka #malu
 
 
ini nih tempat konservasi penyu Sitiarjo
courtesy by mas Ahmad

 

 

 

Di bagian tengah halaman belakang, terdapat bangunan kotak-kotak dari batako yang diisi dengan pasir. Masing-masing kotak berukuran sekitar 30 x 30 cm. Di sini telur-telur penyu yang didapat dari pencarian di pantai ditetaskan. Yang kemudian setelah menetas, akan dipisahkan ke dalam bak-bak plastik tadi berdasarkan umurnya. Selanjutnya tukik akan dipelihara sampai dianggap sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan aslinya. Dan kemudian akan dilepaskan ke laut. Beruntungnya kami, pada saat saya dan teman-teman berkunjung, ada beberapa ekor tukik yang sudah memenuhi syarat untuk dilepas ke habitat aslinya. Jadi nanti sore, kami akan langsung melepas tukik ke laut. Yeeeeaaaayyyy!!!

 

 

 

 

 

 

 

ini penyunya jenisnya beda-beda, tapi jangan tanya ya, apa aja…
asli, lupa :p
courtesy by mas Ahmad
dijelasin macem-macem jenis penyu,   ulang dari sana, lupa :D
courtesy by mas Ahmad
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Setelah melihat-lihat lokasi konservasi penyu di halaman belakang, kami di jamu pak Gerlan Sumenggar di ruang tamunya. Beberapa sisir pisang hasil kebun dan air mineral menemani obrolan kami siang itu. Pak Gerlan Sumenggar bercerita bagaimana usaha beliau dan teman-teman di konservasi berusaha memberikan penjelasan dan pengertian kepada warga, agar tidak memburu telur penyu. Atau supaya warga yang memburu telur penyu kemudian mau menjual telur penyu yang mereka dapat kepada konservasi untuk dibudidayakan.
 
 
abis liat-liat penyu. kita dijamu pisang hasil kebun sendiri (kebunnya pak Gerlan Sumenggar sih :D)
courtesy by mas Ahmad
udah diceritain tentang penyu, dijamu pula… asik ya?
courtesy by OurTrip1st
 
Karena kami resmi berkunjung ke konservasi dan akan melepas tukik sorenya, pak Gerlan Sumenggar mengatakan bahwa kami semua akan mendapat sertifikat! Wah…. trip kali ini benar-benar beda ya???
 
 
Karena hari semakin siang, dan perut pun mulai menagih jatahnya, kami kemudian berpamitan kepada pak Gerlan Sumenggar dan seisi rumah. Kami akan melanjutkan perjalanan menuju Pantai Sendang Biru untuk menikmati makan siang. Kami dijanjikan oleh mas Dani akan dijamu dengan menu ikan tuna bakar yang lezat.
 
makan siangnya di sini
courtesy by mas Ahmad
 
Dan tidak lama kemudian, kami pun tiba di sebuah warung makan sederhana di pinggir Pantai Sendang Biru. Sebuah meja panjang sudah tersedia, dengan kursi-kursi plastik yang mengelilinginya. Dan tak lama kemudian, 3 piring ikan tuna bakar sudah terhidang di hadapan saya dan teman-teman. Ditemani nasi putih yang masih mengepul, urap + lalapan dan sambel yang pastinya pedes menurut saya. Hmm….. makan siang kali ini nikmat banget. Sembari menyuap nasi putih + potongan ikan tuna bakar, angin sepoi-sepoi bertiup dan sayup-sayup terdengar gemercik air di pantai. Perfecto!!!
 
 
 
 
 

 

ini pada ngapain sih ber-2? ekspresinya sampe segitunya :p
courtesy by mas Ahmad


iyus udah ga sabar nih… serius banget sama mangkok sambelnya :D
courtesy by mas Ahmad
 
Hidangan semeja penuh, tanpa memakan waktu lama segera licin tandas tak bersisa (kecuali tulang ikan dan sedikit sisa sambel di piring). Huuuuaaaaaaaaahhhhhh…. makanannya enyaaaaaaakkkkk…. #jilatbibir
 
 
ini hasil menggragasnya siang itu, bersih….. :p
courtesy by OurTrip1st
 
Perut udah kenyang, sekarang bakar kalori dikit, kita jalan-jalan ke pantai yuk!
Berhubung tempat kita maksi tadi ga seberapa jauh dari Pantai Goa Cina, jadi ga pake lama, kami pun sampai di Pantai Goa Cina.
 
Siang itu, air di Pantai Goa Cina lumayan surut. Jadi ombaknya ga seberapa besar. Padahal aslinya, Pantai Goa Cina terkenal dengan ombaknya yang liar.
Dan siang itu, dengan pedenya kami menelusuri bibir pantai ditemani sinar matahari yang sedang diskon gede :D
Gapapa lah gosong dikit, yang penting senang… hihihihihihi…
 
 
sebagian pemandangan di Pantai Goa Cina
 
 
Pantai Goa Cina merupakan pantai batu yang luas. Pada saat air laut surut seperti saat ini, kita bisa mencoba untuk berjalan menuju sebuah pulau kecil yang terletak agak menjorok ke arah laut. Tapi jangan coba-coba ke sana kalau air sedang pasang, gelombangnya sedikit nakal soalnya.
Saya yang niatnya memang hanya ingin hunting foto itu, memutuskan untuk tidak berbasah-basah. Jadi cuma melipir di sepanjang pinggir pantai.
 
 
karena air lautnya sedang surut, bisa dapet spot yang beginian
 
 
Suasana di pantai ini enak banget (kalo saya sih ya…), tenang, anginnya juga adem, jadi bisa ngurangi panasnya matahari. Kebayang jalan di pinggir pantai ini di senja hari menjelang sunset, sambil pegangan tangan sama si dia…. ah, romantis ya…. (trus gubrak, jatoh dari kursi, dan mimpi pun buyar :D).
 
 
I step on Pantai Goa Cina!!!
(hobi banget deh motoin kaki :D)


nah, teman saya yang ini emang selalu aneh kalo dipoto
kenapa juga harus nungging begitu Win? :p




Dari Pantai Goa Cina, karena kami ada acara mau lepas tukik, saya dan teman-teman kemudian melipir ke arah kanan pantai, ke Pantai Watu Leter. Pantai ini letaknya sederetan dengan Pantai Goa Cina, jadi kami cukup berjalan kaki saja (ya… walaupun sebenarnya setelah dijalani cukup jauh juga sih… ada kali sekitar 20 menit baru sampe ke Pantai Watu Leter).
 
 
yang baju kuning itu namanya mbak Sri Seswanti, yang sabar banget cerita tentang kegiatan
di Konservasi Penyu Sitiarjo
courtesy by mas Ahmad
 
 
Pantai Watu Leter
 
 
 
masih Pantai Watu Leter
 
 
Perjalanan kami ke Pantai Watu Leter ini ditemani oleh mbak Sri Seswanti dari Konservasi Penyu Sitiarjo. Sepanjang jalan, mbak Sri bercerita banyak tentang kegiatan yang dilakukan di Nitiarjo. Apa saja yang mereka lakukan untuk melaksanakan proses konservasi terhadap penyu-penyu yang berhabitat asli di sekitar pantai-pantai yang tersebar di Malang Selatan ini. Selain bercerita, mbak Sri juga membawakan kami 6 ekor tukik yang siap dilepas ke habitat aslinya.
 
 
blom juga ngelepas tukik, udah maen pose ajah :p
courtesy by OurTrip1st
 
Begitu sampe di Pantai Watu Leter, mbak Sri pun mencari bagian pantai yang memungkinkan kami untuk melepas tukik-tukik itu. Dan teman-teman udah rebutan aja ngambil tukiknya. Karena tukik yang siap dilepas hanya 6 ekor, jadi ga semua yang ikut trip ini bisa lepas tukik. Saya juga ga kebagian tuh…. hiks :(
Yah… cukup lah saya ngeliat aja kehebohan teman-teman yang pada ngelepas tukik, blom lagi pada teriak-teriak nyemangatin tukiknya supaya sampe ke laut dengan selamat (kayak tukiknya ngerti aja ya disemangatin :D).

tukiknya dilepasin woi…. bukan dijadiin asesoris untuk poto :p



ibu penyu………… 



liburan anti mainstream ternyata asyik juga ya…..
courtesy by OurTrip1st



come on baby, u can do it!!!
 
Dan akhirnya, ke-6 tukik pun selamat sampai ke laut. Hebohnya……
 
 
Lepas tukik udah beres, sekarang saatnya kembali ke tempat parkir bis yang bakal nganterin saya dan teman-teman selama trip ini.
Pantai Watu Leter juga udah mulai gelap, ga bisa liat apa-apa lagi.
Yuk ah kita capcus… kan mau ke Cemorolawang…. Bromo kita……