Category Archives: Nusa Tenggara Timur

Kampung Praiyawang, Desa Adat di Sumba Timur

EVY_4471

 

Sumba Timur, terkenal dengan ritual adatnya yang kental. Di sana terdapat beberapa kampung adat yang biasa digunakan sebagai lokasi ritual tersebut. Salah satu kampung adat yang biasa digunakan untuk menyelenggarakan ritual bagi masyarakat Sumba Timur adalah Kampung Praiyawang. Kampung yang berada sekitar 69 km dari kota Waingapu ini berada di Desa Rindi (biasa disebut Desa Rende), Kecamatan Umalulu, Kabupaten Sumba Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur.

EVY_4466
salah satu rumah adat yang terdapat di Kampung Praiyawang

 

EVY_4467
selasar aula yang biasa digunakan sebagai lokasi upacara adat

Berkendara dari Kota Waingapu menuju Kampung Praiyawang akan memakan waktu sekitar 1 jam perjalanan, tergantung pada kecepatan kendaraan. Karena belum ada sarana transportasi umum menuju kampung ini, bagi para pendatang yang ingin melihat kampung ini dapat menggunakan motor/mobil sewaan. Jalanan menuju kampung ini berupa aspal hitam yang mulus.

EVY_4469
rumah adat yang mengelilingi Kampung Praiyawang

 

EVY_4468
makam batu yang menjadi lokasi pelaksanaan upacara adat

 

EVY_4470
aula besar yang terdapat di pusat Kampung Praiyawang

Memasuki Kampung Praiyawang nuansa peradaban masa silam akan sangat terasa. Sederetan bangunan makam-makam kuno yang terbuat dari batu dengan pahatan unik di sekelilingnya terlihat di sisi kiri dari akses jalan masuk, serta rumah-rumah adat yang terbuat dari kayu dengan atap yang menyerupai menara tinggi. Di tengah kampung terdapat 1 bangunan rumah yang terbuka dindingnya sehingga menyerupai aula sebuah aula besar. Di rumah tersebut terdapat 2 lemari kaca besar yang berisikan aneka peralatan kuno yang telah berumur raturan tahun, yang biasanya digunakan saat pelaksanaan upacara adat. Upacara adat yang biasa dilaksanakan di Kampung Praiyawang adalah upacara persembahan dan penyimpanan jenazah sebelum dimakamkan.

EVY_4465
lemari tempat menyimpan peralatan yang digunakan saat upacara adat

 

EVY_4444
peralatan upacara adat yang terbuat dari anyaman daun lontar

 

EVY_4443
anyaman daun lontar ini biasanya digunakan sebagai penutup tempat nasi yang digunakan saat pelaksanaan upacara adat

 

EVY_4442
anyaman daun lontar sebagai perlengkapan upacara adat

Rumah adat yang terdapat di Kampung Praiyawang memiliki bentuk atap yang unik, yaitu berbentuk lancip. Dan setiap rumah akan memiliki 3 bagian, yaitu bagian bawah, tengah dan atas. Hal tersebut mencerminkan simbol alam dalam pandangan Suku Sumba, yaitu alam bawah (tempat arwah), alam tengah (tempat manusia) dan alam atas (tempat para dewa). Di Kampung Praiyawang terdapat 8 rumah induk yang mengelilingi rumah adat dan makam-makam batu berukuran besar yang beratnya mencapai 1-5 ton untuk setiap makamnya. Ke-8 rumah induk itu melambangkan 8 keturunan bangsawan yang ada di Kampung Praiyawang. Sementara rumah adat yang terdapat di Kampung Praiyawang memiliki fungsi yang berbeda-beda, misalnya Rumah Besar (Rumah Adat Harapuna/Uma Bokul) digunakan sebagai tempat penyimpanan jenazah, Rumah Adat Uma Ndewa  digunakan sebagai tempat ritual cukurna bagi anak Raja yang baru lahir, kemudian Rumah Adat Uma Kopi digunakan sebagai tempat untuk minum kopi.

Tradisi di Kampung Praiyawang, anak tertua di dalam keluarga harus berdiam di kampung untuk menjaganya. Sehingga yang bisa pindah atau keluar dari kampung adalah anak ke-2, ke-3 dan seterusnya. Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga adat-istiadat dan keberlangsungan kehidupan Kampung Praiyawang.

EVY_4447
tempat nasi yang digunakan saat pelaksanaan upacara adat

 

EVY_4446
perhiasan kuno yang digunakan untuk upacara adat

 

EVY_4445
tas kaum lelaki Sumba Timur

 

EVY_4455
sirkam – terbuat dari kulit Penyu, hiasan rambut wanita Sumba Timur

 

EVY_4448
tempat sirih dan kapur

Tenun Sumba, Pesona Helaian Benang dari Timur

EVY_4264

Siapa yang tidak mengenal tenun? Kain tradisional dari berbagai pelosok Indonesia, dengan motif yang sangat khas namun beragam. Dikerjakan secara manual, menggunakan peralatan sederhana dan tanpa mesin. Keindahan tenun untuk saya pribadi sangat menarik. Setiap daerah memiliki ciri khas motif  dan proses pembuatannya masing-masing. Kali ini saya akan bercerita tentang tenun Sumba.

EVY_4260
benang-benang katun, cikal bakal tenun Sumba
EVY_4257
proses pemasangan dan penghitungan benang katun putih sebagai awal pembuatan tenun Sumba
EVY_4258
Rambu (sebutan untuk wanita Sumba) yang sedang bekerja untuk membuat tenun

Tenun Sumba dibuat dari benang-benang kapas, diuntai satu-persatu, helai demi helai, diberi ruh dalam setiap helai benangnya sehingga menjadi kain tenun yang indah. Menenun bagi kaum wanita di Sumba merupakan ibadah, untuk memuji kebesaran Tuhan yang diwujudkan dalam motif-motif bentuk hewan, alam dan benda-benda yang lekat dalam kehidupan sehari-hari.

EVY_4266
proses pembuatan pola/motif tenun Sumba
EVY_4267
salah satu motif tenun Sumba, menurut Umbu (sebutan untuk lelaki Sumba) penenun, motif ini berkhasiat untuk “menolak peluru/senjata”
EVY_4265
ini salah satu motif pesanannya Dian Sastro lho….

Tenun Sumba umumnya dibuat menggunakan pewarna alami yang berasal dari akar pohon Mengkudu dan daun Nila. Akar pohon Mengkudu digunakan untuk menghasilkan warna merah alami yang biasanya menjadi warna dasar pada tenun Sumba. Kemudian daun Nila, untuk menghasilkan warna biru yang juga menjadi warna dominan pada tenun Sumba. Motif pada tenun Sumba dibuat dengan mengikat benang-benang katun putih dengan menggunakan daun Gewang – sejenis daun Palem (saat ini terkadang benang katun diikat dengan menggunakan tali rafia untuk menggantikan daun Gewang).

EVY_4263
pewarna alami yang digunakan pada pewarnaan tenun Sumba – akar pohon Mengkudu dan daun Nila
EVY_4247
akar pohon Mengkudu
EVY_4249
proses penumbukan akar pohon Mengkudu untuk dijadikan pewarna tenun Sumba
EVY_4248
akar pohon Mengkudu yang telah ditumbuk dan siap digunakan sebagai pewarna kain tenun
EVY_4251
akar pohon Mengkudu yang telah ditumbuk kemudian dicampur dengan air untuk menghasilkan warna merah yang akan digunakan sebagai pewarna kain tenun
EVY_4261
proses pewarnaan benang tenun dengan warna merah dari akar pohon Mengkudu
EVY_4262
benang tenun yang telah diikat sesuai motif yang diinginkan kemudian direndam di dalam cairan pewarna

Motif tenun Sumba bisa dikelompokkan menjadi 2, yaitu motif yang diambil dari flora dan fauna, serta motif yag diambil dari dunia manusia itu sendiri.

EVY_4243
proses penjemuran benang tenun setelah diwarnai
EVY_4256
lamanya penjemuran benang tenun sangat tergantung pada panas dan cuaca
EVY_4246
penjemuran benang tenun yang telah selesai diwarnai dan diberi Kemiri

Proses menenun kain Sumba memakan waktu yang cukup panjang. Mulai dari helaian benang katun putih yang diatur dan digulung pada alat khusus yang terbuat dari kayu, kemudian dihitung satu-persatu untuk keperluan pembuatan motifnya. Benang katun putih yang sudah dihitung kemudian dibuatkan pola dengan mengikat benang tersebut menggunakan daun Gewang atau tali rafia. Polanya bermacam-macam dengan berbagai artinya masing-masing. Setelah diikat sesuai pola yang diinginkan, benang kemudian dicelup pada pewarna buatan yang telah disiapkan sesuai pola yang diinginkan. Benang yang telah dicelup pewarna kemudian dijemur agar warna yang yang dihasilkan menjadi lebih hidup. Proses penjemuran benang yang telah diwarnai memakan waktu 1-2 bulan tergantung panas dan cuaca. Setelah itu, benang akan direndam menggunakan kemiri agar warnanya tahan lama. Benang kemudian dijemur kembali hingga kering. Setelah benang benar-benar kering, barulah ditenun sesuai motif yang telah dibuat. Saat menenun, penenun akan mengoleskan ubi kayu/singkong yang telah ditumbuk dan dicairkan ke helaian benang. Hal ini untuk memberikan efek licin saat menenun.

EVY_4244
proses penjemuran benang tenun yang telah selesai diwarnai
EVY_4245
proses penjemuran benang memakan waktu 1-2 bulan, tergantung panas dan cuaca

Perlu waktu berbulan-bulan untuk menghasilkan kain tenun dengan motif yang bagus. Sebagai gambaran, sehelai sarung tenun dengan ukuran 65 x 120 cm dibuat dalam waktu 6 bulan. Untuk kain tenun panjang ukuran 65 x 200 cm, dalam 1 tahun bisa dihasilkan 4 helai kain. Kebayang kan bagaimana sulitnya proses yang harus dilalui untuk menghasilkan sehelai sarung atau kain tenun yang indah?

EVY_3948
dan inilah beberapa hasil tenun Sumba

Apabila telah menjadi sarung atau kain, penenun biasanya menjual produk mereka kepada pedagang lokal. Ada juga yang membuka galeri pribadi di rumahnya masing-masing. Harga untuk sehelai tenun Sumba bermacam-macam, tergantung ukuran, jenis pewarna yang digunakan, motif dan kualitasnya. Semakin bagus kualitas tenun maka semakin mahal juga harganya.

IMG_8263
dan ini “bukti cinta” saya untuk tenun Sumba