Category Archives: Mister Piyoh

Menjenguk Ujung Barat Indonesia #4 – Yuk, Muter-Muter Lagi di Banda Aceh



Minggu, 27 Oktober 2013
Very excited mo ngejar sunrise di Sumur Tiga, yang katanya paling keren se-Sabang (hasil ngotot ke leader kemaren malem), bikin gw jam 3 subuh udah buka mata dan langsung ngacir ke kamar mandi.
Beres mandi, ganti baju, ceki-ceki lagi carrier, tas kamera, tripod, gear snorkeling. Trus bangunin Liany.
Jam ½ 5 kami udah siap di resto Iboih Inn.
Direction dari leader “Semua jalan kaki ke drop point di Pantai Iboih, dan barang-barang akan dibawa pake boat”.
Wokeh, mari kita cari keringat subuh ini.
Sekitar 10 menit jalan ke arah drop point, nungguin teman-teman yang tadi blom ngumpul, gw subuhan dulu.
Jam 5 lewat 10 menit, akhirnya perjalanan mengejar sunrise di Sumur Tiga dimulai.
Pantai Sumur Tiga pagi itu


Kota Sabang masih gelap waktu ke-3 mobil mulai iring-iringan meninggalkan Pantai Iboih, yang udah jadi rumah gw dan teman-teman selama 2 hari kemarin.

Menyusuri jalanan kota yang lengang, berkelok-kelok, turun naik, akhirnya gw sampe di Pantai Sumur Tiga.
Semburat jingga keemasan udah mulai keliatan dari sela-sela pohon kelapa yang banyak tumbuh di sepanjang pantai.
Untuk mencapai bibir pantai, gw harus menuruni semacam anak tangga dari batu, baru sampe di pantai berpasir putih halus.
Sebatang pohon kelapa tua tergeletak melintang di tepian pantai berpasir.
Riak kecil gelombang sesekali menyapa tepian pantai.
Di ujung Timur, terlihat awan putih bergulung, menyatu dengan langit yang masih gelap.
Semburat warna jingga keemasan mulai menyeruak dari sela-sela awan putih yang mulai pecah.
Suasana pagi itu begitu tenang, hanya ada kecipak suara gelombang kecil yang datang, dengan angin laut yang sangat halus membelai semua yang ada di pantai, dan bau khas wangi laut yang selalu membuat kangen.

sunrise di Pantai Sumur Tiga


Gw inget, ada seorang sahabat yang pernah bilang gini, “Mbak, cobain deh, sekali-sekali waktu menikmati sunrise/sunset, kamu jangan melakukan apa-apa. Just about 2 minutes. Diem, rasakan. Pasti rasanya beda”.
coba rasakan……..

Dan bener aja, walau ini bukan yang pertama kalinya gw ngelakuin itu.

Setelah take some frames, gw berdiri dan merem.
Hanya mengandalkan kuping, kulit, hidung, gw rasakan sensasi yang berbeda.
Suara kecipak gelombang seperti nyanyian (serius, ini ga lebay ya :D), sinar matahari pagi yang hangat mulai membelai wajah, dan bau laut menyapa idung gw.
Gw berasa……….. hmm….. apa ya???
Yang jelas, gw makin cinta dengan negeri ini, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Gw Cinta Indonesia!!!

ngers, ntar ke sini bareng-bareng yuk!!!


yang bikin kangen…


Udah puas ketemu sunrise di Sumur Tiga, akhirnya gw dan teman-teman melanjutkan perjalanan.

Karena jam 8 kita harus naik kapal untuk balik ke Banda Aceh, setelah dari Sumur Tiga, kita hanya menyusuri pinggir pantai yang membentang sepanjang perjalanan ke pelabuhan.
Sempet berhenti di beberapa spot, biasa lah…… pepotoan yang ga beres-beres :D
Dan akhirnya jam 7.45, gw dan teman-teman udah siap di depan pintu Pelabuhan Balohan.
Thank’s a lot Sabang for very nice vacation, wait for me for the next time (I wish).












pemandangan dari atas Kota Sabang

itu Pelabuhan Balohan, diliat dari atas


Jam 8 pagi kapal cepat mulai meninggalkan pelabuhan Balohan, Sabang. Melaju ke arah Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh.
Sesuai rencana, karena penerbangan gw ke Jakarta masih jam 15.45 sore, begitu sampe di Banda Aceh, gw akan solo trip, misah dari rombongan.
Jadi, waktu di kapal, gw telepon lagi abang Taufik, driver taxi yang waktu itu nganter gw dari airport ke kompleks rumah Shinta, minta jemput di pelabuhan, dan langsung nego taxi untuk jalan-jalan keliling kota. Deal!
Jam 8 lewat 45 menit, bang Taufik udah sms gw, ngasi tau bahwa dia udah standbydi gate kedatangan pelabuhan. Sip! Mari kita explore Kota Banda Aceh, sebelum flight ke Jakarta.
Teng, jam 9 pagi, kapal merapat di Pelabuhan Ulee Lheue.
Leader trip sempet nanya, penerbangan gw jam berapa, nanti akan diantar ke bandara katanya.
Haduuuhhhh… makasih banget deh, tapi ga usah repot, gw udah order taxiyang bakal nganterin gw keliling kota. Tengkiyu banget deh…..

welcome again in Ulee Lheue port


Sampe di pelabuhan, ternyata bener, taxi yang gw pesen udah standby di parkiran.
Temen-temen pada bengong, gimana caranya gw bisa sewa taxi dan dijemput persis pas kapal nyampe.
Hehehehehehe…. ga usah bingung fren…. itu lah gunanya punya kenalan dan selalu punya backup plan.
Ok ya guys…. gw misah ya…. mo solo trip biar bisa explore banyak di Kota Banda Aceh.
Setelah pamitan sama semua teman-teman 1 rombongan, akhirnya gw kembali naik ke taxi silver yang udah siap di parkiran.
Let’s go!!!
Di taxi, gw sempet discussdulu dengan si abang driver, sebaiknya ke mana dulu nih, biar semua bisa dikunjungi.
Bang Taufik nanya gw, emang ke mana aja tujuan gw?
Gw beberin lah itinerary yang udah gw bikin. Masih ada Pantai Lampuuk, Rumah Cut Nyak Dien, Mesjid Teuku Umar, Rumoh Aceh dan Kapal Lampulo.
Akhirnya destinasi yang udah gw sebutin di atas diurutin supaya ga bolak-balik, plus dapet beberapa destinasi bonus karena letaknya yang berdekatan.
  1.  Pantai Lampuuk;
  2. Pantai Lok Ngha;
  3. Rumah Cut Nyak Dien
  4. Belanja oleh-oleh makanan khas Aceh, yang kebetulan letaknya hanya beberapa meter dari Rumah Cut Nyak Dien;
  5. Mesjid Teuku Umar;
  6. Makam Sultan Iskandar Muda;
  7. Museum Aceh a.k.a Rumoh Aceh;
  8. Pasar ikan tradisional;
  9. Kapal Lampulo;
  10. Mesjid Agung Baiturrahman; dan terakhir
  11. Belanja oleh-oleh suvenir.

Wuiiiihhhh…. banyak juga ya destinasi yang bakal gw datengin selama kurang lebih 5 jam ini.
Ok, mari kita mulai keliling Kota Banda aceh.
Destinasi pertama, Pantai Lampuuk.
Berjarak kurang lebih 6 km dari pusat kota, karena jalanan lancar, ga pake lama, gw udah sampe di sana.
Pantai pasir putih yang landai, halus menyapa kaki gw.
Pagi menjelang siang itu, Pantai Lampuuk terlihat lumayan rame.
Anak-anak kecil berlarian di pinggir pantai sambil bermain bola. Ada yang berenang dengan bebasnya, ada yang main perang-perangan dengan teman-temannya.
Di bagian kiri pantai, sekelompok pemuda, kayaknya sih entah dari kepolisian atau angkatan bersenjata (siswanya tapi ya… coz masih muda-muda gitu) sedang latihan lari.
Jajaran warung-warung yang banyak di pinggir pantai blom semuanya buka.

Pantai Lampuuk

panasnya sinar matahari ga menghalangi mereka maen di pantai

Pantai Lampuuk pagi menjelang siang itu cukup rame


Sekitar 15 menit gw di Lampuuk, mengumpulkan beberapa frame, sebelum melanjutkan perjalanan ke Lok Ngha.
Lok Ngha sendiri ga jauh dari Lampuuk.
Waktu bencana Tsunami terjadi di taun 2004, Lok Ngha adalah pusat gempanya.
Dulu, katanya daerah Lok Ngha ini hancur dilanda Tsunami.
Dan saat gw sampe ke sana, Lok Ngha udah kembali hijau, aktivitas warga pun udah normal.
Lok Ngha udah pulih.
Dan emang bener, memandang Pantai Lok Ngha di kejauhan, dari pinggir jalanan yang letaknya lebih tinggi dari dataran sekitarnya, cakep banget!

Lok Ngha, siapa yang nyangka di taun 2004 adalah pusat terjadinya Tsunami


Ga berlama-lama di Lok Ngha, gw melanjutkan perjalanan ke Rumah Cut Nyak Dien.
Konon, ini adalah rumah aslinya pahlawan wanita dari Aceh tersebut.
Rumah panggung yang didominasi warna hitam, dengan hiasan beraneka warna sebagaimana biasanya sebuah rumoh Aceh, berdiri kokoh. Dengan latar belakang sebuah bukit hijau, yang sebagian punggungnya memperlihatkan lapisan batuan alamyang terkandung di dalamnya.
Rumah itu sekarang udah jadi sebuah cagar budaya. Terlihat asri dengan taman yang tertata rapi.
Hanya saja, gw kurang beruntung kali ini, karena pagar rumah itu masih tergembok rapi, dan ga keliatan ada yang jaga.
Dan akhirnya gw cuma bisa motret dari sela-sela pagar putih yang membentengi rumah itu.
But, it’s ok.
Ngeliatnya dari luar juga udah bikin gw seneng koq.

Rumah Cut Nyak Dien

cuma bisa ngintip dari luar pager doang


Udah liat-liat rumah Cut Nyak Dien (dari luar pager ya…), trus gw melipir ke toko makanan khas Aceh yang jaraknya hanya beberapa meter dari situ.
Dendeng, kopi, pia, kue ikan sukses masuk dus (nambah deh bagasi gw :D).
Dari pusat makanan khas Aceh, gw melanjutkan perjalanan, balik ke pusat kota.
Kali ini tujuannya adalah Mesjid Teuku Umar.
Bangunan mesjid dengan kubahnya yang unik, menyerupai topi yang biasa dipake oleh pahlawan kita itu.
Bangunan yang didominasi warna putih, dengan atap berwarna coklat gelap, dan kubah berbentuk topi dengan kombinasi warna coklat gelap dan terang, ditambah hiasan kotak-kotak kecil warna coklat gelap, terang dan hijau.
Bentuk kubahnya khas, ga bulet seperti kebanyakan kubah sebuah mesjid, tapi lebih bersegi, sangat identik dengan topi yang biasa dikenakan oleh pahlawan kita, Teuku Umar.

Mesjid Teuku Umar

coba liat bentuk kubahnya yang khas itu, mirip kan dengan topi yang dipake Teuku Umar

masih di Mesjid Teuku Umar


Dari Mesjid Teuku Umar, mobil bergerak ke destinasi selanjutnya, Makam Sultan Iskandar Muda.
Tau dong ya, itu siapa? Pasti tau lah… beliau adalah seorang sultan yang memerintah Aceh di tahun 1607-1635, yang terkenal dengan sifatnya yang tegas, adil dan bijaksana. Yang telah membawa Aceh pada jaman keemasannya.
Pemerintah Indonesia telah menganugerahkan titel pahlawan nasional kepada Sultan Iskandar Muda.
Makamnya yang terletak di kompleks Situs Cagar Budaya Makam Kandang Meuh, berdiri gagah, didominasi bangunan berwarna putih dan coklat yang dinaungi bangunan beratap tapi tak berdinding berwarna kuning gading.
Makam ini dipasangi pagar besi setinggi kurang lebih 70 cm. Sekitar makam sangat bersih dan terawat.
Di depan makam sultan, terdapat juga makam-makam tua yang menurut cerita adalah makam kerabat dan orang kepercayaan sultan.

welcome to Situs Cagar Budaya “Makam Kandang Meuh”


makam Sultan Iskanda Muda

makam seorang sultan yang juga pahlawan nasional Indonesia

sebagian makam tua yang ada di komplek “Makam Kandang Meuh”

Sultan Iskandar Muda & Teuku Umar on articles



tari Seudati-nya udah beres pas gw nyampe


Dari kompleks makam Sultan Iskandar Muda, gw meneruskan penjelajahan ke Rumoh Aceh dan Museum Aceh.

Waktu gw sampe di sana, rombongan penari baru aja beres menampilkan Tari Seudati (yah…. kesiangan ya gw nyampenya?)
Akhirnya gw hanya bisa explore Museum Aceh, yang isinya semua informasi tentang Aceh dan perkembangannya.
Mulai dari alat berburu, alat rumah tangga, penyebaran bahasa daerah, perkembangan pembangunan Mesjid Agung Baiturrahman dari masa ke masa, dan banyak lagi.
Oh iya, gw ngerasain juga naek ke Rumoh Aceh. Sebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu, dengan anak tangga yang lumayan tinggi dan sempit.
Waktu gw mo naek, gw papasan dengan rombongan opa-opa dan oma-oma bule yang juga sedang mengunjungi Rumoh Aceh.
Salah seorang oma itu merasa kesulitan waktu menuruni tangga dan sempet berucap “Wow, your feet are small, this stair not suitable with mine”.
Gw cuma nyengir sambil bantu itu oma nurunin tangga.
Emang sih, anak tangganya kecil-kecil, jadi untuk ukuran kaki bule yang sangat jauh lebih besar dari kaki gw yang size-nya 36 ini, emang ga enakeun itu tangganya.


Rumoh Aceh dan Museum Aceh
ruang pertama begitu naek tangga
di Rumoh Aceh


Setelah oma-oma itu turun, giliran gw yang naek ke Rumoh Aceh.

Ruangan yang pertama gw masuki setelah menaiki anak tangga yang kecil-kecil itu berupa serambi. Gw lupa klo orang Aceh itu nyebutnya apa? Yang jelas fungsinya sebagai ruang berkumpul klo ada pertemuan-pertemuan.
Ruangan ini kosong, akses keluar masuk hanya melalui tangga kecil yang terletak di bagian lantai depan rumah.

Di bagian kiri serambi, ada anak tangga untuk masuk ke bagian rumah yang lebih tinggi, yang merupakan ruangan inti. Di sini dipajang beberapa ruangan yang dilindungi oleh dinding kaca.
Ada ruangan yang berisikan pelaminan dan perlengkapan pernikahan, ada ruangan yang berisi peralatan makan dan sebuah ranjang, lengkap dengan kelambu putih-pink-nya.

Di sisi kiri ruangan, terdapat tangga untuk turun ke serambi yang bentuknya persis seperti serambi yang pertama gw masuki.
Di sini terdapat peralatan untuk memasak, di sisi lainnya terdapat sebuah dipan dan sebuah keranjang ayunan bayi yang berkelambu.
Suasana di ruangan kuning temaram. Pantulan cahaya dari kayu berwarna coklat gelap yang menjadi bahan utama Rumoh Aceh membuat cahaya di dalam ruangan itu jadi unik.
Ditambah bias cahaya dari jendela yang diberi gorden berwarna kuning, membuat suasana di dalam Rumoh Aceh adem, tapi hangat (nah…gimana itu ya? Gw juga bingung bilangnya).
Yang jelas karena bangunannya dari kayu, suasananya jadi ga panas, padahal ga ada AC or kipas angin di situ.
Tapi dengan bias cahaya yang memantul dari lantai dan dindingnya, ditambah cahaya dari jendela, jadinya hangat.
Pokoknya suasananya homy banget deh……. nyamaaaaaaaaaaannnnn…..



pelaminan
dan perlengkapan pernikahan
ranjang, kelambu
dan perlengkapan makan
dapur dan perlengkapannya
dipan, dan ayunan
























Beres liat-liat isi Rumoh Aceh, gw trus turun.
Di halaman ada sebuah bangunan panggung berdinding kayu setinggi 50 cm, yang dipenuhi ukiran, dan beratap rumbia.
Katanya itu adalah tempat pertemuan warga.
Ga tau sih, sekarang masih difungsikan seperti itu atau ga?

menurut penjelasan yang gw dapat, ini adalah tempat pertemuan warga
Di samping kanan belakang Rumoh Aceh, terdapat Museum Aceh.
Di sini pun gw ketemu lagi dengan rombongan oma-oma dan opa-opa bule itu.
Emang beda ya… klo bule itu keliatan banget interest-nya dengan informasi yang ada di dalam museum. Klo orang kita (hehehehehe…), cuma liat-liat tanpa mau baca penjelasannya, apalagi ngedengerin penjelasan dari guide museum yang bertugas.
Karena rombongan oma dan opa itu punya guide yang fasih banget ngejelasin tentang Aceh, akhirnya gw ngintilin rombongan itu. Lumayan kan, dapet penjelasan lengkap :D
Peureulak Boom a.k.a Pohon Peureulak

rusa berkepala 2 yang diawetkan di Museum Aceh

berbagai perlengkapan untuk berburu

ini peta bahasa daerah yang digunakan di Aceh

maket Mesjid Raya Baiturrahman di tahun 1879

yang ini maket Mesjid Raya Baiturrahman di tahun 1936

klo yang ini maket Mesjid Raya Baiturrahman taun 1957

mushaf Al-Quran di Museum Aceh
Sebelum meninggalkan kompleks Rumoh Aceh dan Museum Aceh, gw sempet liat bangunan kecil di dekat pintu keluar.
Bangunan kecil persegi 4, dengan empat sisi bumbungan atap, di bagian atasnya ada puncak berundak 3 dengan hiasan seperti ujung payung di ujungnya.
Bangunan ini terbuat dari kayu dengan dominasi warna hitam dan merah.
Bangunan berukuran kurang lebih 1.5 x 1.5 meter ini merupakan bangunan untuk menggantungkan sebuah lonceng logam yang besar.
Lonceng itu terlihat kuno, cuma setelah gw telusuri, gw ga nemuin tuh penjelasan itu lonceng apa, dibuat kapan, atau itu pemberian dari daerah mana, atau lonceng itu berasal dari masa pemerintahannya siapa?
Rumoh Aceh

ini nih lonceng yang gw bilang, tapi blom nemu keterangannya itu lonceng apa?
Yah….. sudah lah… nanti gw tanya mbah Gugel deh tentang lonceng itu.
Sekarang, mari kita lanjutkan meng-explore Aceh dengan sisa waktu yang ada, sebelum gw balik ke Jakarta.
Destinasi selanjutnya, Kapal Lampulo, atau yang dikenal dengan Kapal Di Atas Rumah.
Untuk mencapai Gampong Lampulo, gw melewati pasar ikan tradisional. Di sini gw liat perahu-perahu nelayan Aceh yang sedang menurunkan hasil tangkapannya.
Off course ya…. smell di lokasi ini not too good. Tapi klo liat hasil lautnya…. dijamin bakalan ngiler :p
Perahu layar warna-warni tampak ramai bersandar di dermaga sederhana yang ada.
Orang-orang tampak sibuk di atas perahunya masing-masing dengan berbagai aktivitasnya. Ada yang sedang menurunkan muatan, ada yang membersihkan perahu, ada yang memperbaiki bagian perahu yang mungkin sedang bermasalah. Full of activities deh pokoknya.
deretan kapal di dermaga pasar ikan tradisional

siang itu dermaganya rame

kapal warna-warni, cantik

poto-potonya ngeblur, karena taken from moving car
Akhirnya sampe lah gw di lokasi Kapal Lampulo.
Sebuah kapal kayu berwarna putih, abu dan hitam terlihat masih berada dengan kokohnya di atas sebuah puing-puing rumah yang menjadi saksi bisu bencana Tsunami.
Sekarang, di sekeliling kapal telah dipasang perancah baja untuk mencegah kapal jatuh dan roboh. Mengingat kapal ini kan udah bertengger selama kurang lebih 9 tahun di atas puing rumah itu.
Di bagian sisi rumah yang masih terawat dengan baik, sekarang dijadikan ruangan untuk mendokumentasikan foto-foto yang diambil pada saat terjadinya bencana Tsunami.
Di ruangan itu gw melihat dahsyatnya Tsunami yang terekam di dalam foto-foto yang dipasang dengan rapi di dinding dan papan khusus yang ada di situ.
Melihat foto dan membaca keterangan yang ada di setiap bagian bawah foto, bikin gw merinding.
Foto-foto itu seolah bercerita, bersuara.
Jadinya sediiiiiiiiiiihhhhhhhh……
Kapal Lampulo

kapal ini menyelamatkan 59 orang pada saat Tsunami 2004

agar tetap terjaga, pemerintah daerah memasang perancah baja di sekeliling Kapal Lampulo

“Kapal nelayan ini dihempas gelombang tsunami pada tanggal 26 Desember 2004
hingga tersangkut di rumah ini. Kapal ini menjadi bukti penting dahsyatnya musibah Tsunami
tersebut. Berkat kapal ini 59 orang terselamatkan pada kejadian itu:
Di halaman tempat Kapal Lampulo bertengger (kayak burung ya? Abisnya gw bingung bilangnya apa? Mo dibilang berdiri, pasti bukan dong), ada semacam counterdari pengelola situs Lampulo itu.
Di situ gw dapet sertifikat yang jadi bukti bahwa gw beneran dong udah sampe di Kapal Lampulo.
Di situ juga akhirnya gw beli buku yang judulnya “The Witnesses of Aceh Tsunami Victims”.
Buku itu berisi testimoni dari 10 orang saksi hidup yang selamat dari bencana Tsunami setelah menaiki kapal yang terdampar di atas rumah tersebut.
Oke, sekarang mari kita lanjutkan perjalanan.
Kudu cepet-cepet, soalnya gw pengen bisa sholat Dzuhur di Mesjid Baiturrahman lagi.
Let’s go abang driver, kita ke Mesjid Baiturrahman. Cuuuuusssssssss………..
Alhamdulillah, pas sampe di halaman mesjid, pas adzan berkumandang.
Buru-buru wudhu, dan akhirnya kesampaian juga gw Dzuhur-an di Mesjid Baiturrahman.
Plus, bisa foto-foto mesjid pas siang.
Langsung lari ke halaman mesjid, ambil frame kiri, kanan, depan.
Oh iya, di sisi kiri mesjid, ada semacam tugu peringatan kecil yang menjadi penanda bahwa pada tanggal 14 April 1873, di tempat itu Mayor General Kohler telah terbunuh pada saat memimpin penyerangan ke Mesjid Raya Baiturrahman.
Hayoooo…. coba diinget-inget pelajaran sejarahnya… masih inget ga dengan Kohler???
Hmm… yakin deh, pasti udah pada lupa :p
Mesjid Raya Baiturrahman

siang itu di Mesjid Raya Baiturrahman

“Tanggal 14 April 1873 di tempat ini Mayor Jendral J. H. R. Kohler
tewas dalam memimpin penyerangan terhadap Mesjid Raya Baiturrahman”

menara yang ada di depan gerbang Mesjid Raya Baiturrahman
Siang itu Mesjid Raya Baiturrahman sangat rame.
Dan di situ, gw juga ketemu dengan rombongan teman-teman yang juga exploreKota Banda Aceh (sssttt…. tapinya destinasi yang mereka datengin ga sebanyak gw dong :D)
Dan akhirnya, gw kudu menyudahi acara explore Kota Banda Aceh.
Udah jam ½ 2 siang, dan gw masih mo nyari oleh-oleh untuk tim hore, ponakan-ponakan bandel tapi ngangenin di rumah. Yuk kita capcus!!!
Tujuan gw cuma mo beli kaos di Mister Piyoh lho….
Kan baca di inet, klo di Aceh ini juga ada kaos-kaos khas Aceh…. ya kayak Dagadu-nya Yogya or Joger-nya Bali itu.
Klo di Aceh, yang terkenal itu namanya Mister Piyoh.
Tadinya, gw berniat mo liat pusatnya yang ada di Sabang. Tapi apa daya, karena selalu molor itu schedule-nya, bahkan yang harusnya dikunjungi juga akhirnya di-skip, ya gw ga kesampaian deh liat Mister Piyoh yang di Sabang.
Untungnya di Banda Aceh juga ada.
Akhirnya gw melipir ke Mister Piyoh yang ada di Banda Aceh. Kebetulan juga ternyata lokasinya searah dengan bandara.
Udah ngubek-ubek stok kaos yang ada di Mister Piyoh, akhirnya dapet juga itu kaos bergambar Cut Kak dan Cut Bang kecil (gw lupa sebutannya… klo anak perempuan kecil itu kan disebut Inong, klo anak laki, lupa gw).
Sebelum ke Mister Piyoh tadi, gw sempet singgah di pusat suvenir di pusat kota.
Sempet beli tenun Aceh, itu untuk gw, yang ternyata sangat hobi ngumpulin kain-kain dari daerah se-Indonesia.
Trus beliin dompet untuk ibu dan adek.
Untuk bapak, makanan aja yah pa…. soalnya kopiah khas Aceh-nya ga nemu :D
Dan akhirnya cerita ngebolang gw berakhir di Bandara Sultan Iskandar Muda.
Jam 3 teng gw udah beres check-in dan akhirnya duduk manis sambil baca-baca majalah di lounge bandara.
Jam ½ 4 sore, boarding, dan 15 menit kemudian si burung besi mulai meninggalkan runway BDI menuju Jakarta.
Bye bye Aceh….. nice to know youthank you so much for the vacation… and, meet you again soon ^.^
finally, must go back to Jakarta

goodbye Aceh, Sabang, thank’s a lot for the vacation

Udahan ya cerita tentang ngebolang ke Aceh-nya….
Ini udah banyak yang japri neh, ngomelin gw yang katanya nyebarin racun mulu….
Padahal kan gw ga ngeracunin yak… gw cuma posting di socmed gw aja….
Ya klo setelah pada baca trus keracunan, itu bukan salah gw dong….
#berlaludengantampanglempeng

Eh iya, ini bocoran itinerary selama ngebolang di Banda Aceh + Sabang, kali aja ada yang mo nyontek :D