Category Archives: Maluku Utara

Year-End Trip #4 – Melihat Air Sebening Kaca di Sulamadaha

EVY_5268

Perjalanan year-end trip masih terus berlanjut. Kali ini saya dan teman-teman akan membuktikan beningnya air di Pantai Sulamadaha. Pantai yang menurut cerita memiliki air sebening kaca, sehingga perahu-perahu yang ada di atasnya tampak seolah-olah sedang melayang.

 

EVY_5255
Pantai Sulamadaha

 

EVY_5256
bocah-bocah sedang menikmati hangatnya pasir di Pantai Sulamadaha

Pantai Sulamadaha berjarak sekitar 30 menit dari pusat Kota Ternate. Memiliki pasir berwarna hitam yang cukup halus, namun air di pantai ini luar biasa beningnya. Wajar apabila pantai ini dijuluki pantai dengan air sebening kaca. Tiba di areal parkir, tampak sederetan warung dengan kursi warna-warni yang siap melayani pengunjung dengan berbagai makanan dan minuman. Di tengah terik matahari Maluku Utara siang itu, terlihat beberapa pengunjung yang sedang bermain di pantai. Aktivitas yang bisa dilakukan di Pantai Sulamadaha ini antara lain, berenang, snorkeling dan diving.

 

EVY_5257
jalanan beton menuju Sol Sulamadaha

 

EVY_5258
Pulau Hiri, yang terlihat dari Sol Sulamadaha

 

EVY_5261
boat yang lewat di depan Sol Sulamadaha

Apabila ingin tempat yang sedikit lebih tenang, berjalanlah menyusuri jalanan beton kecil di sepanjang tebing pantai. 10 menit kemudian, kita akan tiba di sisi lain dari Pantai Sulamadaha yang biasa disebut Hol Sulamadaha. Di sini, jumlah pengunjungnya lebih sedikit, sehingga suasananya lebih tenang. Siang itu hanya terlihat beberapa pengunjung yang sedang bersantai di warung-warung yang ada di lokasi tersebut. Namun, ternyata cukup banyak pengunjung yang sedang melakukan aktivitas di hangatnya air laut siang itu. Ditemani teriknya matahari, mereka tampak berenang dan snorkeling di beberapa bagian.

 

EVY_5265
keramba ikan yang terdapat di Sol Sulamadaha

 

EVY_5270
airnya sangat jernih, seperti kaca

 

EVY_5271
langit biru yang bisa didapatkan di semua bagian Pulau Ternate

Menghabiskan waktu menikmati siang ditemani sebutir Kelapa muda, sambil memperhatikan suasana siang di Hol Sulamadaha, hembusan tipis angin laut Maluku Utara, pemandangan cantik dan gemericik hempasan kecil gelombang yang menabrak bebatuan di bawah warung, it’s such a beautiful song!

 

EVY_5272
menyenangkan ya melihat kombinasi laut dan langit seperti ini

 

IMG_9535
wajib dinikmati kalau lagi di pantai

Hei Indonesia, bagaimana saya tidak jatuh cinta berkali-kali padamu apabila yang saya temui selalu membuat rasa di dada membuncah bahagia.

Year-End Trip #3 – Found Something Unique, Batu Angus

EVY_5227

Bekas aliran lahar dari letusan Gunung Gamalama membentuk sebuah area unik yang dikenal dengan nama Batu Angus. Terletak sekitar 10 km dari pusat Kota Ternate, di Kelurahan Kulaba, Kota Ternate. Batu Angus merupakan hamparan bekas aliran lahar letusan Gunung Gamalama yang membeku dan tampak seperti hangus terbakar. Hamparan batu-batu hitam dengan ukuran yang cukup besar ini membentang dari kaki Gunung Gamalama hingga ke tepi laut. Batuan yang telah membeku tersebut membentuk hamparan indah yang alami, berpadu dengan hijaunya Gunung Gamalama dan birunya lautan yang terhampar luas.

 

EVY_5226
Pulau Hiri terlihat jelas dari Batu Angus

 

EVY_5228
spot-spot di Batu Angus begitu fotogenik, cantik

 

IMG_9525
jalan setapak yang akan mengantarkan pengunjung menjelajahi seluruh area Batu Angus

Di area Batu Angus ini, terdapat beberapa gazeebo yang disediakan untuk pengunjung beristirahat sembari menikmati pemandangan alam Ternate. Sebuah jalan setapak dari beton terlihat membelah area Batu Angus, mulai dari area parkir hingga ke ujung. Beberapa tanaman hijau berbunga juga terlihat di sepanjang area Batu Angus. Luas area Batu Angus ini sekitar 10 ha.

 

IMG_9527
panasnya matahari siang bukan penghalang untuk menjelajahi area Batu Angus

 

EVY_5253
bahkan awan di atas Batu Angus pun membentuk formasi yang cantik

Konon cerita dari masyarakat, saat aliran lahar dari letusan Gunung Gamalama mengarah ke laut, Sultan Ternate menancapkan tongkatnya di tebing yang berbatasan langsung dengan laut, sehingga aliran lahar tersebut berhenti.

 

EVY_5246
buih putih pecah di antara bebatuan hitam di tebing

 

IMG_9532
bebatuan hitam tampak cantik bersanding dengan birunya lautan di perairan Ternate

 

EVY_5238
sejauh memandang, gradasi hijau biru tampak memanjakan mata

Apabila kita berdiri di pinggir tebingnya, maka akan terlihat gelombang laut yang pecah menghantam bebatuan hitam yang letaknya persis berbatasan langsung dengan laut. Buih putih mengembang setiap kali gelombang air laut menghamtam bebatuan hitam tesebut. Di kejauhan terlihat sebuah pulau, yang bernama Hiri.

 

EVY_5229
Pulau Hiri yang berpayung segumpal awan putih

 

IMG_9523
ada yang tahu ini pohon apa?

 

IMG_9529
Alamanda kuning ini banyak ditemui di area Batu Angus

Di area Batu Angus ini juga terdapat sebuah situs sejarah yang merupakan lokasi tewasnya seorang tentara Jepang yang sedang melakukan terjun payung di tahun 1945, di mana parasut yang dikenakannya ternyata tidak terbuka.

 

EVY_5249
Gunung Gamalama berselimut kabut siang itu

 

IMG_9530
perjalanan belum selesai, let’s go!

Year-End Trip #2 – Let Tolukko Fort Tell Their Story

EVY_5212

Perjalanan saya di bumi rempah masih terus berlanjut. Setelah melihat cerita kejayaan Kesultanan Ternate, saya melanjutkan perjalanan untuk mengintip sedikit cerita sejarah di kota ini. Kota yang memiliki banyak benteng peninggalan sejarah ini tentunya akan menyuguhkan cerita yang tak kalah menarik. Benteng Tolukko merupakan benteng yang pertama kali saya singgahi di Kota Ternate.

 

EVY_5215
taman di depan Benteng Tolukko yang tertata rapi

Berlokasi di Kelurahan Sangadji, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Propinsi Maluku Utara, Benteng Tolukko terlihat sangat terpelihara. Berada pada ketinggian 6,2 mdpl, benteng ini hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari Kesultanan Ternate, berada di dalam sebuah komplek dengan pagar besi berwarna hitam yang membatasinya dengan lingkungan luar, kondisi di sekeliling benteng ini sangat rapi. Bahkan terlalu rapi (menurut saya) untuk tampilan sebuah bangunan bersejarah yang sudah berumur ratusan tahun. Sebuah gerbang besar terbuat dari beton yang dicat kuning dan memiliki sedikit atap berwarna terracotta menyambut saya. Sebaris kalimat “Ino Wosa Lafo Waro Masejarahnya” terpampang di bagian atas gerbang. Di bawah kalimat tersebut tertulis sebaris kalimat berbahasa Indonesia “Mari Masuk Supaya Kita Tahu Sejarahnya”.

 

EVY_5213
sekilas sejarah Benteng Tolukko

 

EVY_5216
setelah dipugar kembali, Benteng Tolukko diresmikan oleh Prof. DR. Ing. Wardiman Djojonegoro, selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu

Memasuki gerbang benteng, terlihat taman yang mengelilingi benteng tertata rapi. Pot-pot bunga besar terbuat dari batu tampak menyusun formasi di sepanjang jalan setapak yang terbuat dari beton, yang mengarah menuju bangunan benteng. Berbagai macam tanaman hijau dan bunga terlihat menghiasi halaman benteng. Benteng Tolukko dibangun di atas pondasi batuan beku, terbentuk dari 3 buah bastion, ruang bawah tanah, halaman dalam, lorong, serta bangunan utama berbentuk segi empat. Konstruksi bangunannya sendiri terdiri dari campuran batu kali, batu karang, pecahan batu bata dan direkatkan menggunakan campuran pasir dan kapur.

 

IMG_9517
lorong dan tangga batu yang menjadi akses satu-satunya menuju bangunan dalam benteng

 

EVY_5221
bermilyar kaki telah menapaki lorong sempit ini, meninggalkan berbagai macam cerita

Benteng ini dibangun pada tahun 1540 oleh seorang Panglima Portugis bernama Francisco Serao, dan diberi nama Santo Lucas. Benteng ini awalnya difungsikan sebagai benteng pertahanan Portugis serta tempat penyimpanan rempah-rempah asli Ternate yang akan mereka perdagangkan. Letak benteng yang berada di atas bukit, dan sangat dekat dengan wilayah perairan Ternate membuatnya sangat strategis karena dapat secara langsung mengamati pergerakan yang terjadi di Kesultanan Ternate.

 

EVY_5217
pemandangan dari atas benteng

 

EVY_5218
gunung dan laut merupakan pemandangan yang bisa dilihat dari atas benteng

Kekuasaan Portugis berakhir di tahun 1577 karena lahirnya perlawanan rakyat Ternate di bawah pimpinan Sultan Baabullah. Sejak saat itu, Benteng Santo Lucas dikuasai oleh Kesultanan Ternate hingga datangnya Belanda di bumi rempah tersebut, merebut benteng dan mengganti namanya menjadi Benteng Hollandia. Pada tahun 1610 benteng tersebut direnovasi oleh Pieter Both dan menjadi salah satu tempat pertahanan Belanda di Ternate. Berdasarkan beberapa perjanjian kerjasama yang terjadi antara Kesultanan Ternate dan VOC, maka pada tahun 1661 Sultan Ternate yang bernama Madarsyah diberi ijin untuk menempati Benteng Hollandia bersama sekitar 160 orang personilnya.

 

EVY_5219
aktivitas masyarakat Ternate di perairan yan terlihat dari atas bangunan benteng

 

Nama Tolukko yang sampai saat ini melekat pada benteng itu sendiri masih menjadi cerita yang penuh tanda tanya. Satu kisah menceritakan bahwa nama Tolukko digunakan sejak salah satu Sultan Ternate yang bernama Kaicil Tolukko memerintah sekitah tahun 1692. Namun kisah lainnya menyebutkan bahwa nama Tolukko berasal dari penyebutan nama asli benteng itu, yaitu Benteng Santo Lucas. Masyarakat asli Ternate yang kesulitan melafalkan nama Santo Lucas akhirnya menyebut benteng tersebut sebagai Benteng Tolukko.

EVY_5214
Benteng Tolukko

Menurut cerita, ada sebuah lorong rahasia yang mengarah langsung ke wilayah pantai. Dahulu, saat pemerintahan Portugis dan Belanda, jalan rahasia tersebut difungsikan sebagai jalur melarikan diri apabila terjadi pemberontakan atau hal-hal lain yang tidak diinginkan. Namun pada tahun 1864, benteng ini dikosongkan oleh Residen P. van der Crab karena sebagian bangunannya telah mengalami kerusakan. Pada saat dilakukan pemugaran tersebut, bangunan benteng ditinggikan sekitar 70 cm. Oleh pemerintah Republik Indonesia, bengunan benteng ini kemudian dipugar dan di perbaiki pada tahun 1996 – 1997.

 

IMG_9518
pemandangan ke laut lepas dari atas Benteng Tolukko

Berada di dalam Benteng Tolukko membuat angan saya seolah memasuki mesin waktu. Menyusuri lorong batu kecil berukuran kurang lebih 1 meter, yang menjadi satu-satunya akses menuju bagian dalam benteng membuat saya seolah-olah mendengar cerita masa lalu. Lantai batu yang mulai berlumut seperti menunjukkan berjuta bahkan bermilyar kaki yang pernah menapakinya. Dari atas bangunan benteng, saya bisa melihat Pulau Halmahera, Maitara danTidore di kejauhan. Kokohnya bangunan Benteng Tolukko seolah bercerita, walaupun berbagai kisah kelam yang pernah dialami rakyat Ternate telah disaksikannya, namun Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil yang manis. “Tolukko, terima kasih untuk cerita sejarah yang telah kau berikan, perjuanganmu dahulu akan selalu kami ingat”.

Year-End Trip #1 – Ternate, Finally I Met You

EVY_5633

Roda pesawat yang saya tumpangi akhirnya menyentuh aspal hitam landasan pacu Bandara Sultan Baabullah. Penerbangan panjang sejak pukul 23.00 waktu Jakarta itu akhirnya selesai juga pukul 08.25 waktu Ternate. Huft…… perjalanan yang cukup panjang.

IMG_9493
let’s start the journey!

 

IMG_9495
Bandara Sultan Baabullah, Ternate – just landed

 

Keluar dari lambung pesawat, sinar matahari terasa menggigit di kulit, dan membuat saya harus memicingkan mata untuk melihat sekeliling. Sembari menunggu bagasi keluar, saya sempat memperhatikan ruang kedatangan di Bandara Sultan Baabullah ini. Bandara Sultan Baabullah ini tidak terlalu besar, 2 buah conveyor belt tampak bergerak perlahan, mengantarkan bagasi-bagasi bawaan penumpang dari beberapa penerbangan yang mendarat dalam waktu yang tidak terlalu jauh bedanya. Bagasi sudah di tangan, mari kita mulai perjalanan di bumi rempah ini.

IMG_0032
bandara dengan pemandangan laut dan gunung

Mengelilingi Ternate sebaiknya menggunakan kendaraan roda 4, karena mataharinya sangat terik. Namun, apabila ingin lebih santai mungkin bisa mencoba untuk menggunakan kendaraan roda 2 dengan bonus sengatan matahari yang lumayan mencubit di kulit.

First Stop – Sarapan

Penerbangan panjang dari Jakarta menuju Ternate cukup membuat saya dan teman-teman sepakat bahwa kami membutuhkan asupan energi sebelum memulai perjalanan di Ternate. Dan setelah berdiskusi dengan driver (abang Gani) yang akan mengantarkan kami berkeliling seharian di Ternate, akhirnya kami sepakat untuk mencoba menu khas masyarakat setempat, Nasi Kuning. Ternyata, di Ternate ini masyarakatnya biasa sarapan Nasi Kuning dengan lauk ikan atau telur rebus.

Mobil yang saya tumpangi bergerak perlahan menyusuri jalanan beraspal di Kota Ternate, dan berhenti di depan sebuah gang kecil yang bertuliskan RM Kamis. Saat kami tanyakan ke bang Gani, kenapa disebut RM Kamis, menurut bang Gani karena yang punya lahir di hari Kamis :D

 

IMG_9504
gang menuju RM Kamis, tempat sarapan kami yang pertama di Ternate

Saya dan teman-teman memasuki gang kecil yang berada di antara 2 tembok tinggi dari rumah penduduk setempat. Gang itu berujung pada sebuah rumah yang menyediakan menu sarapan berupa Nasi Kuning dan Lontong Sayur. Niat awal saya untuk mencoba Nasi Kuning akhirnya goyah, dan berganti menu Lontong Sayur.

 

IMG_9506
mau coba yang mana? ini?

 

IMG_9505
atau yang ini?

Tidak menunggu lama, sepiring Lontong Sayur dengan telur rebus dan sambal goreng kentang terhidang di depan saya. Teman-teman memilih untuk mencicipi Nasi Kuning dan telur rebus. Aroma kuah dari Lontong Sayur sukses membuat perut saya berbisik kecil, baiklah… mari kita coba.

Setelah isi piring ludes, perut pun sudah tenang, saya dan teman-teman kemudian melanjutkan perjalanan. Akan ke mana kah kami?

Second Stop – Kedaton Kesultanan Ternate

IMG_9512
Kedaton Kesultanan Ternate

Saya dan teman-teman tiba di Kedaton Kesultanan Ternate sekitar pukul 09.15, masih cukup pagi, dan yang jelas masih sepi, sehingga kami bisa mendengarkan cerita dari bapak penjaga dengan lebih nyaman. Melewati bangunan pendopo yang terbuka di halaman belakang, yang pertama kami temui adalah lambang Kesultanan Ternate yang berupa Burung Garuda berkepala 2 mencengkeram tulisan Limau Gapi. Menurut cerita, lambang Burung Garuda inilah yang nantinya akan menjadi cikal bakal lambang negara Republik Indonesia yang kita kenal saat ini, dengan berbagai perubahan dan penyesuaian.

EVY_5208
lambang Kesultanan Ternate

Dari bangunan pendopo, saya kemudian menaiki tangga untuk mencapai bangunan kedaton. Memasuki sebuah ruangan besar, terdapat sebuah meja panjang dengan 12 kursi yang terbuat dari kayu, tertata dengan rapi.selembar taplak meja putih menghiasi meja panjang tersebut. Terdapat beberapa lemari kayu besar, yang salah satunya berisikan berbagai plakat serta piring keramik dari berbagai negara. Porselen kuno berwarna krem menghiasi lantai di ruangan ini. Kusen dan daun pintunya yang berwarna kuning gading tampak serasi dengan tembok beton yang sewarna dengan porselen. Sehelai tirai bermotif tampak menghiasi setiap pintu tertutup yang menuju ke kamar. Saya melewati sebuah pintu yang terbuka, yang mengarah ke ruang depan.

 

EVY_5207
meja panjang dan 12 kursi kayu yang terdapat di ruang belakang Kesultanan Ternate

 

EVY_5182
lukisan Kedaton Kesultanan Ternate yang pertama

 

EVY_5205
(ki-ka) Sultan Jailolo, Sultan Ternate, Sultan Tidore, Sultan Bacan

 

EVY_5199
lampu gantung yang terdapat di langit-langit ruang utama Kedaton Kesultanan Ternate

Saya memasuki ruangan utama bangunan kedaton, sebuah ruangan besar dengan dindingnya yang berwarna krem dan porselen senada sebagai lantainya. Beberapa lemari pajang tampak menghiasi ruangan utama ini. Masing-masing lemari berisikan benda yang berbeda. Ada yang berisikan peralatan perang, senjata, pakaian yang pernah digunakan oleh Sultan terdahulu, peralatan yang terbuat dari keramik, dan masih banyak lagi. Foto-foto Sultan Ternate yang pernah bertahta pun tampak menghiasi ruangan ini. Di langit-langit ruangan terlihat sebuah lampu gantung besar terbuat dari logam. Tepat di bawah lampu gantung tersebut, terdapat sebuah meja yang ditutupi dengan kain putih yang di atasnya terdapat sebuah mangkok keramik putih besar, tempat air dari tanah, mangkok pembakaran aroma (sejenis dupa), serta 4 buah gelas kaca yang berisi air. Menurut bapak penjaga yang menemani saya berkeliling, air di meja itu akan diganti 3x dalam seminggu, yaitu di Hari Senin, Selasa dan Kamis.

 

EVY_5201
meja di tengah ruang depan yang terdapat mangkok berisi air di atasnya, yang diganti 3x dalam seminggu

 

EVY_5204
ruang utama dari Kedaton Kesultanan Ternate

 

EVY_5188
senjata di lemari pajang Kedaton Kesultanan Ternate

 

EVY_5190
perlengkapan perang – baju besi dan perisai

 

EVY_5196
koleksi senjata

Di sudut-sudut ruangan terdapat berbagai benda kuno yang mayoritas terbuat dari logam. Sebuah kamar berpintu kuning yang ditutupi sehelai tirai bermotif, yang disebut Kamar Puji, merupakan ruangan sakral yang di dalamnya terdapat mahkota Kesultanan Ternate yang konon memiliki rambut yang terus tumbuh hingga saat ini. tidak sembarang orang yang bisa masuk dan melihat isi dari Kamar Puji. Hanya orang-orang terpilih dan mendapatkan ijin dari Sultan yang bisa masuk ke kamar ini, dan unfortunately, sepertinya saya belum terpilih untuk bisa masuk ke kamar tersebut.

EVY_5192
Kamar Puji – tempat disimpannya mahkota Kesultanan Ternate

 

EVY_5193
mata uang Dirham yang digunakan pada masa kepemimpinan Sultan Haji Mudaffar Sah II, Sultan Ternate ke-48

 

EVY_5197
Kelapa Kembar – upeti Raja Sangir kepada Sultan Ternate di tahun 1750

 

EVY_5194
tempat ludah Sultan, biasanya diletakkan di kanan dan kiri singgasana Sultan

 

EVY_5198
lampu yang dulu digunakan sebagai alat penerangan di kesultanan, menggunakan minyak Kelapa

 

EVY_5203
plakat dari Belanda, yang dikirimkan untuk alm. Sultan Mudaffar Sjah

Dari ruangan utama tersebut, saya menuju bagian teras dari Kedaton Ternate. Di kejauhan terlihat laut luas membentang. Di halaman Kedaton, terlihat 3 buah tiang bendera yang berdiri pada sebuah pondasi bundar dan berundak. Di setiap tiang berkibar sebuah bendera, yang terdiri dari bendera Merah Putih, bendera Kesultanan Ternate dan bendera Kesultanan Islam tertua di Indonesia. Di seberang halaman kedaton, terdapat sebuah lapangan hijau membentang luas. Dari informasi yang saya dapatkan, di lapangan itu biasa diadakan keramaian untuk masyarakat Ternate.

 

EVY_5200
3 tiang bendera yang terdapat di halaman Kedaton Kesultanan Ternate

 

IMG_9513
bangunan museum yang terdapat di sisi kanan kompleks Kesultanan Ternate, hanya sayang saat saya ke sana bangunan ini tutup

Berdiri di ujung teras Kedaton Ternate, merasakan wangi laut yang samar tercium, Indonesia, I love you so much!

Tips untuk mengunjungi Kedaton Ternate:

  1. Gunakan pakaian yang sopan, usahakan tidak bercelana pendek untuk wanita;
  2. Datanglah di pagi hari, kedaton ini dibuka untuk umum mulai pukul 9 pagi.