Category Archives: Maluku Utara

Year-End Trip #10 – Fort Oranje, The Largest Fort in Ternate

EVY_5854

Membicarakan Ternate tentunya tidak bisa lepas dari sejarah yang pernah terjadi di sana. Bumi rempah yang menjadi rebutan bangsa asing pada masa lalu, yang membuat Nusantara menjadi primadona persinggahan dan rebutan. Di Ternate terdapat beberapa benteng yang pernah menjadi saksi sejarah, bukti bahwa rempah-rempah yang merupakan hasil bumi di sana merupakan daya tarik yang sangat memikat. Salah satu benteng yang terkenal adalah Benteng Oranje. Benteng ini terletak di Jalan Hasan Boesoeri, kelurahan Gamalama, kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara. Benteng ini merupakan benteng yang bisa dikatakan utuh dengan kondisi bangunan yang masih sangat baik.

 

EVY_5865
bangunan dan taman yang terdapat di dalam komplek Benteng Oranje

Bangunan dengan warna dominan orange ini merupakan benteng paling besar di Ternate. Benteng ini didirikan oleh Cornelis Matelief de Jonge pada tanggal 26 Mei 1607 dengan dalih ingin membantu Kesultanan Ternate untuk mengusir bangsa Spanyol dari wilayah Ternate. Bantuan yang diberikan membuahkan kemenangan di pihak Kesultanan Ternate sehingga akhirnya de Jonge diberikan ijin untuk mendirikan benteng di wilayah Ternate. Selain itu, Sultan Ternate juga memberikan ijin kepada VOC untuk melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah di wilayah kekuasaan Kesultanan Ternate. Benteng ini dikenal juga dengan nama Benteng Melayu, berdiri di atas area bekas benteng Sultan Melayu yang telah rusak. Tahun 1609 di masa pemerintahan Sultan Mudaffar, otoritas Belanda di Ternate, Paul van Carden, mengganti nama benteng ini menjadi Benteng Oranje (Fort Oranje). Saat selesai dibangun, benteng ini dihuni oleh sekitar 150 orang serdadu dengan 5 perwira yang merupakan garnisun Belanda pertama di Maluku.

 

EVY_5866
meriam yang ada di komplek Benteng Oranje

Tanggal 17 februari 1613, ketika Pieter Both diangkat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Board of Commissioners Heeren XVII (the Lords Seventeen) mengeluarkan Surat Keputusan yang menetapkan wilayah Maluku sebagai pusat kedudukan resmi dari VOC. Ternate dan Ambon terpilih sebagai tempat tinggal resmi para Gubernur Jenderal Belanda. Pada masa itu, Ternate memiliki peranan yang lebih besar, sehingga Benteng Oranje kemudian dijadikan sebagai tempat resmi Dewan Hindia Belanda untuk menjalankan pekerjaan administratifnya seperti mengadakan pertemuan, pembuatan undang-undang, dan lain-lain.

Benteng Oranje menjadi pusat pemerintahan VOC hingga tahun 1619, saat VOC memindahkan pusat kekuasaannya ke Batavia. Pada masa itu, Ternate terbagi menjadi 2, sebagian dikuasai oleh Belanda, dan sebagian lagi dikuasai oleh Spanyol. Di bawah pemerintahan Sultan Hamzah (1627-1648), wilayah kekuasaan Ternate semakin luas, dan beberapa wilayah tersebut dipertukarkan kepada VOC untuk menghindari terjadinya kerusuhan. Tahun 1663 akhirnya Spanyol meninggalkan wilayah Ternate dan Tidore.

 

EVY_5862
semoga bangunan benteng ini tetap terpelihara

Pada abad ke-18, Gubernur Jenderal VOC dikirim ke Benteng Oranje untuk mengontrol perdagangan di area Maluku Utara. Setelah kebangkrutan VOC di tahun 1800, semua aset yang semula dimiliki oleh VOC dipindahtangankan secara administratif kepada pemerintahan Maluku. Sebagian besar harta milik VOC dikuasai oleh Inggris selama perang Napoleon, termasuk Benteng Oranje di tahun 1810. Setelah terbentuknya pemerintahan Kerajaan Belanda yang baru melalui sebuah kongres di Wina, Benteng Oranje dikembalikan ke tangan Belanda pada tahun 1817.

Padat tahun 1822, benteng ini sempat menjadi tempat pengasingan bagi Sultan Badarudin II dari Palembang hingga tahun 1852. Setelah wafat, Sultan Badarudin II kemudian dimakamkan di kecamatan Santiong.

 

EVY_5850
sepasang meriam yang seolah menjaga komplek Benteng Oranje

 

EVY_5851
tangga batu menuju rampart di bagian atas benteng

Konstruksi Benteng Oranje terdiri dari batu karang, batu kali dan pecahan kaca, sehingga terlihat lebih menarik. Bentuk Benteng Oranje menyerupai trapesium yang berdiri di atas lahan seluas 12.680 m2 dan mempunyai 4 buah bastion di setiap sudutnya. Ketebalan tembok bagian luar dari benteng ini sekitar 1 meter, sedangkan untuk tembok bagian dalamnya memiliki ketebalan sekitar 0.75 meter. Di bagian atas tembok benteng ini terdapat rampart atau jalan keliling yang menghubungkan ke-4 bastion di setiap sudutnya. Rampart ini berada pada ketinggian sekitar 3.5 meter dari permukaan tanah dan mempunyai jarak sekitar 1.1 meter dari ketinggian dinding tembok.

 

EVY_5853
rampart yang menghubungkan antara bastion satu dengan lainnya di sekeliling benteng

 

EVY_5854
pemandangan komplek Benteng Oranje diliat dari atas rampart

Pada kedua sudut bagian dalam dari bastion yang terletak di sisi Barat Laut dan Timur Laut terdapat ramp berukuran 15 x 3 meter menuju ke bagian atas bastion. Selain itu terdapat juga 2 buah tangga yang berbentuk setengah melingkar pada bagian dalam pintu gerbang utama dan pada bastion di sisi Barat Daya. Sedangkan, di atas pintu gerbang utama terdapat lonceng besar yang ditopang oleh dua balok kayu besar. Semula lonceng buatan Perio Diaz Bocarro tahun 1603 ini didatangkan langsung dari Portugal, dan ditempatkan di Benteng Gamlamo. Akan tetapi, ketika Portugis meninggalkan Ternate, lonceng tersebut sempat dipindahkan VOC dan digantung di pintu masuk Benteng Oranje. Hingga 1950 lonceng ini masih terpasang di sana, dan sejak 1951 dipindahkan dan disimpan pada gereja Katolik (Gereja Batu) di Ternate.

 

EVY_5852
lonceng tembaga besar yang terdapat di atas gerbang masuk Benteng Oranje

Di dalam komplek benteng terdapat bekas kediaman Gubernur Jenderal Belanda yang sekarang difungsikan sebagai Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Ternate. Di dalam komplek benteng juga terdapat sebuah sumur layang, yaitu sumur dengan ketinggian 5 meter dari permukaan laut.

 

EVY_5859
di dalam komplek Benteng Oranje terdapat beberapa bangunan yang sekarang digunakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Ternate

Saat saya tiba di Benteng Oranje, suasana sangat sepi karena kebetulan Ternate baru saja diguyur hujan yang walaupun tidak seberapa lebat, namun bisa membuat basah tanah dan pepohonan yang terdapat di sekitar benteng. Harum tanah dan rumput basah menyambut kaki saya saat memasuki komplek benteng. Bangunan-bangunan yang didominasi warna kuning muda dan coklat pada bingkai pintu dan jendela terlihat sangat terawat. Sebuah bangunan mesjid berwarna putih tampak di sudut komplek. Sebuah taman berbentuk bujursangkar tampak tertata rapi dengan rumput hijau yang terpangkas rata. Beberapa pohon palem terlihat di setiap sudut area taman. Dua buah meriam kuno terlihat mengapit jalanan batu menuju sebuah tangga di samping gerbang benteng. Tembok batu yang mengelilingi benteng terlihat menghitam dan berlumut di beberapa bagian, namun sangat terpelihara. Saya menapaki tangga batu menuju bagian rampart dari benteng. Di bagian ujung tangga terlihat sebuah lonceng tembaga besar yang digantung pada tiang berwarna merah. Rampart benteng terlihat sangat terpelihara, namun sayang banyak tangan-tangan tak bertanggung jawab yang meninggalkan coretan vandalism di sana. Di bagian depan komplek benteng terdapat sebuah taman dengan tembok yang didominasi warna orange dan putih. Suasana yang sepi membuat saya puas menikmati semua yang ada di sekeliling benteng. Membayangkan beberapa serdadu Belanda berjalan di sepanjang rampart dengan bayonet di tangan, dan di setiap bastion terdapat sebuah meriam dengan serdadu yang berjaga waspada.

 

IMG_0885
taman yang terdapat di bagian depan komplek Benteng Oranje

Year-End Trip #9 – Benteng Kalamata, Saksi Perjuangan Masyarakat Ternate

EVY_5836

Sejarah Ternate yang penuh perjuangan meninggalkan beberapa saksi bisu sejarah berupa bangunan yang dulu dijadikan sebagai tempat pertahanan dan pusat perekonomian para penjajah. Salah satunya adalah Benteng Kalamata.

 

EVY_5847
Benteng Kalamata

 

EVY_5576
sejarah singkat Benteng Kalamata yanga ada di dekat gerbang benteng

Benteng Kalamata merupakan benteng yang dibangun oleh bangsa Portugis (Fransisco Serao) di tahun 1540 yang difungsikan sebagai tempat pertahanan dalam rangka perluasan daerah kekuasaan, serta untuk menghadapi serangan Spanyol dari Rum, Tidore. Pada tahun 1575 Portugis meninggalkan benteng yang selanjutnya dikuasai oleh Spanyol yang menjadikannya pos perdagangan rempah-rempah. Setelah Spanyol meninggalkan benteng, tahun 1609 Benteng Kalamata dipugar oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Pieter Both, dan menjadikan benteng sebagai pertahanan serdadu VOC.

 

EVY_5573
taman yang ada di depan Benteng Kalamata

 

EVY_5575
rumput hijau terpelihara dengan beberapa tanaman cantik yang ada di taman Benteng Kalamata

Entah karena apa, pada tahun 1625 Benteng Kalamata ditinggalkan begitu saja oleh Belanda (Geen Huigen Schapen). Kondisi benteng yang kosong kemudian dimanfaatkan oleh Spanyol dengan mendudukinya kembali hingga tahun 1663. Kembali benteng tersebut kemudian ditinggalkan oleh Spanyol dan diambil alih oleh Belanda. Namun pada tahun 1798 pasukan Kesultanan Tidore di bawah pimpinan Sultan Nuku berhasil merebut benteng tersebut dengan bantuan dari pasukan Inggris.

 

EVY_5843
jalanan setapak di pinggir laut menuju gerbang Benteng Kalamata

 

EVY_5842
gerbang Benteng Kalamata

 

EVY_5582
berdiri di bastion di sisi Gunung Gamalama, akan mendapatkan pemandangan indah dari perairan Maluku yang mengarah ke Pulau Tidore

Pada tahun 1799, benteng tersebut diperbaiki oleh Mayor Lutzow. Namun pada tahun 1810, Belanda kembali berhasil merebut Benteng Kalamata dari pasukan Kesultanan Tidore. Hingga pada tahun 1843, pemerintah kolonial Belanda secara resmi mengumumkan bahwa benteng dikosongkan. Dan setelah tahun 1843, kondisi Benteng Kalamata menjadi terbengkalai dan tidak terawat. Bahkan benteng ini pernah tergenang oleh air laut karena adanya abrasi di sekitar lokasi berdirinya Benteng Kalamata. Di tahun 1994 Pemerintah Republik Indonesia melakukan pemugaran terhadap kondisi benteng ini untuk menjaga keberadaannya. Pemugaran yang memakan waktu cukup lama itu kemudian diresmikan purna pugarnya di tahun 1997. Pemerintah Kota Ternate kemudian melakukan renovasi benteng dan menambahkan halaman serta rumah bagi penjaga benteng.

 

EVY_5586
walaupun bentuknya tidak seberapa besar, tapi Benteng Kalamata ini megah

 

EVY_5587
sumur tua yang terdapat di dalam benteng, yang dulu menjadi sumber air bersih untuk para serdadu di sana

Benteng Kalamata juga dikenal dengan nama Benteng Kayu Merah. Hal tersebut karena benteng ini berlokasi di Kelurahan Kayu Merah, Kota Ternate Selatan. Pada awalnya benteng ini diberi nama Santa Lucia, tapi lebih dikenal dengan nama Benteng Kalamata. Nama Kalamata sendiri berasal dari nama Pangeran Kalamata, yang merupakan adik dari Sultan Ternate, Madarsyah.

 

EVY_5603
ya begini gayanya kalo reramean

 

EVY_5841
Gunung Gamalama, tampak berdiri kokoh hingga menembus awan

Berbicara mengenai bentuk dari Benteng Kalamata, benteng ini berbentuk seperti 4 penjuru mata angin yang memiliki 4 bastion berujung runcing yang masing-masing memiliki lubang bidik. Sebagaimana benteng Portugis pada umumnya, konstruksi Benteng Kalamata termasuk kecil, tebal dindingnya hanya sekitar 60 cm dengan tinggi sekitar 3 meter. Posisinya yang berada di garis pantai yang langsung menghadap ke Pulau Tidore merupakan strategi Portugis untuk dapat terus memantau pergerakan Spanyol yang saat itu menguasai Pulau Tidore. Tujuan dari pembangunan benteng ini adalah untuk mengantisipasi serangan dari Pulau Tidore yang dilancarkan oleh pasukan Spanyol.

 

EVY_5583
bentuk Benteng Kalamata menyerupai 4 penjuru mata angin

 

EVY_5840
bentuknya bisa dikatakan simetris di ke-4 sisi bastion-nya

Saat ini, apabila kita mengunjungi Benteng Kalamata, begitu memasuki kompleks benteng akan terlihat sebuah taman cantik dengan rumput hijau terhampar, serta beberapa pot-pot batu yang diletakkan secara teratur dalam sebuah formasi. Taman yang ada di depan Benteng Kalamata cukup teduh, karena adanya beberapa pohon besar yang sedikit menahan pancaran sinar matahari. Di bagian kiri kompleks benteng terdapat rumah penjaga serta beberapa kendaraan.

 

EVY_5845
taman yang ada di halaman depan Benteng Kalamata

 

IMG_0007
tembok batu setebal 60 cm ini membuat Benteng Kalamata tampak kokoh

Berjalan menyusuri jalanan setapak dari batu, akhirnya tibalah di depan gerbang Benteng Kalamata. Dinding batu hitam, kokoh, menjadi saksi betapa banyak sejarah Perjuangan yang sempat terjadi di benteng ini. Secara umum, kondisi benteng ini masih sangat baik. Dinding, tangga, bahkan sumur tua yang dulu merupakan sumber air bersih bagi serdadu yang menempati benteng ini masih ada. Memasuki benteng, di sebelah kanan terdapat sederetan anak tangga menuju ke sebuah bastion, dan tak jauh dari anak tangga tersebut, terdapat sebuah permukaan miring yang juga menuju ke bastion yang lain. Mungkin permukaan miring dari batu ini dulunya berfungsi sebagai jalur transportasi Meriam menuju lubang bidik. Sederetan anak tangga yang ada di dalam benteng berhadapan dengan anak tangga lainnya di sisi yang berlawanan, begitu juga dengan permukaan miring tadi. Apabila permukaan miring yang ada di sebelah kanan dari gerbang mengarah ke bastion yang langsung berhadapan dengan Gunung Gamalama, maka permukaan miring yang satunya mengarah pada bastion yang berhadapan dengan Pulau Tidore.

 

EVY_5569
pemandangan yang bisa dilihat dari ujung bastion Benteng Kalamata, satu sisi kehidupan masyarakat di tepian perairan Maluku

 

EVY_5570
Benteng Kalamata dilihat dari ferry penyeberangan Tidore – Ternate

Di masing-masing bastion ada beberapa jendela bidik, yang mungkin dulu berfungsi sebagai tempat pengintaian dan tempat untuk meletakkan senjata untuk penyerangan. Berdiri di ujung bastion yang mengarah ke daratan, kita akan menatap Gunung Gamalama yang berdiri kokoh hingga menembus awan. Dan apabila kita berdiri di bastion yang mengarah ke laut, maka kita akan melihat indahnya Pulau Maitara dan Pulau Tidore. Sementara 2 bastion lainnya, masing-masing mengarah ke arah perumahan penduduk.

 

EVY_5579
rongsokan kapal tua di perairan Maluku yang bisa dilihat dari salah satu jendela bidik Benteng Kalamata

 

EVY_5839
pemandangan Pulau Maitara dan Pulau Tidore dilihat dari ujung bastion Benteng Kalamata

Menikmati siang di atas Benteng Kalamata sembari melihat indahnya perairan Maluku dan mengingat cerita sejarah yang pernah terjadi di benteng ini, rasanya adalah kombinasi yang sangat serasi.

 

IMG_0006
rumah penduduk di atas perairan Maluku dilihat dari gerbang Benteng Kalamata

 

EVY_5623
bye bye Kalamata, see you again someday

Year-End Trip #8 – Danau Ngade, Keindahan Danau Air Tawar yang Bersanding dengan Lautan

EVY_5334

Berkunjung ke Kota Ternate, akan ada 1 pemandangan unik di mana sebuah danau bersanding dengan lautan. Jarak yang memisahkan keduanya kurang dari 1 km, namun air yang ada di danau tersebut tetaplah tawar. Ya, Danau Ngade atau yang juga dikenal sebagai Danau Laguna. Sebuah danau yang berada di Desa Ngade, Kelurahan Fitu, Kota Ternate, Maluku Utara. Sekitar 18 km dari Bandara Sultan Babullah dan dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 40 menit dengan menggunakan kendaraan beroda 2 atau 4. Untuk pengunjung yang ingin menyewa mobil, harga sewa dari pusat Kota Ternate ke Danau Ngade sekitar Rp 100.000 s/d Rp 150.000 untuk 1 kali perjalanan.

 

IMG_9559
pemandangan Danau Ngade dengan background Pulau Maitara dan Pulau Tidore

Danau dengan airnya berwarna hijau, dikelilingi dengan rapatnya pepohonan rindang yang selalu menghijau, berdampingan dengan birunya laut di perairan Maluku Utara, menyajikan pemandangan yang sungguh indah. Sepertinya, seluruh alam di Indonesia Timur ini diciptakan saat Tuhan sedang jatuh cinta. Indah, cantik, dan selalu mempesona. Danau ini juga berhadapan langsung dengan Pulau Maitara dan Pulau Tidore di kejauhan. Bisa dibayangkan betapa indah pemandangan yang bisa didapat dengan komposisi seperti itu.

 

EVY_5341
ini adalah titik pandang Danau Ngade

Danau Ngade ini dimanfaatkan oleh penduduk sekitarnya untuk membudidayakan ikan air tawar seperti Nila dan Gurame. Karena, walaupun letaknya yang sangat dekat dengan laut, namun air di danau ini tetaplah tawar. Selain itu, danau ini juga dimanfaatkan untuk pengairan bagi perkebunan milik penduduk yang ada di sekitar danau.

 

IMG_9564
titik pandang ini merupakan spot favorit bagi pengunjung yang ingin mengabadikan keindahan Danau Ngade

Saya tiba di lokasi Danau Ngade menjelang senja, suasana sangat tenang. Di kejauhan, tampak Pulau Maitara dan Pulau Tidore mulai diselimuti kabut. Sementara di sisi sebelah Barat, langit mulai memerah jingga dan bola emas raksasa semakin mendekati garis cakrawala. Sinar merah jingga mengintip dan membias indah di sela-sela daun pohon Pisang yang banyak terdapat di sekitar titik pandang Danau Ngade. Sinarnya terasa lembut dan hangat menyentuh kulit.

 

EVY_5343
senja di Danau Ngade juga sangat indah

Untuk menikmati pemandangan Danau Ngade, masyarakat setempat telah membuat sebuah titik pandang berupa jembatan kayu. Dari titik ini, pemandangan Danau Ngade, Pulau Maitara dan Pulau Tidore terlihat sangat jelas dan membentuk komposisi yang sangat cantik. Di lokasi titik pandang itu terdapat beberapa point yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk berfoto.

 

EVY_5339
siluet dedaunan tampak semakin cantik ditemani cahaya merah jingga dari ufuk Barat

Karena hari semakin gelap, akhirnya saya harus meninggalkan titik pandang di danau yang sangat indah itu. Ditemani sinar merah jingga sang surya yang semakin memudar. Semoga keindahan alam di sekitar Danau Ngade tetap terjaga, sehingga bisa semakin dikenal dan dinikmati oleh banyak orang.

 

EVY_5344
terima kasih terang, selamat datang gelap

Year-End Trip #7 – Benteng Kastela, Saksi Kelamnya Perjuangan Rakyat Ternate

EVY_5285

Sebuah tugu Cengkeh setinggi 5 meter, berdiri tegak di atas sebuah platform beton berukuran 4 x 4 meter setinggi 4 meter yang sudah kusam di dalam sebuah halaman yang penuh reruntuhan bata dan tampak tidak terpelihara. Lokasinya persis di belakang sebuah masjid yang saya singgahi ketika berkeliling di Kota Ternate. Sebuah pintu besi hijau tampak menempel erat dengan gerbang putih yang bertuliskan “Jou Se Ngofa Ngare” dan sebuah lambang burung Garuda berkepala dua (Goheba Madopolo Romdidi) di atasnya. Tugu Cengkeh tersebut dibangun pada tahun 1994 sebagai peringatan atas pembunuhan Sultan Khairun Jamil oleh Portugis dan perlawanan rakyat Ternate di dalam mengusir Portugis dari bumi Ternate.

 

EVY_5283
Tugu Cengkeh, yang menjadi tanda lokasi Benteng Kastela

 

IMG_9545
relief yang menceritakan pembunuhan terhadap Sultan Khairun Jamil oleh antonio Pimental

 

IMG_9550
relief yang menceritakan perlawanan rakyat Ternate di bawah pimpinan Sultan Baabullah

 

IMG_9546
relief pasukan Portugis menyerah karena taktik embargo yang dilakukan oleh Sultan Baabullah dan pasukannya

 

IMG_9548
relief yang menceritakan hengkangnya pasukan Portugis dari bumi Ternate

Di sekeliling platform beton terlihat tulisan yang mengidentifikasi tanggal: 28 Februari 1570 (relief tentang pembunuhan Sultan Khairun Jamil), 28 Februari 1570 (relief tentang dimulainya perlawanan oleh Sultan Baabullah), 26 Desember 1575 (relief tentang bangsa Portugis menyerah kepada pasukan Sultan Baabullah), dan 31 Desember 1575 (relief tentang hengkangnya Portugis dari bumi Ternate). Tugu Cengkeh tersebut adalah penanda dari Benteng Kastela, sebuah benteng peninggalan bangsa Portugis yang turut menyumbang cerita kelam bagi sejarah Ternate.

 

EVY_5287
sejarah singkat Benteng Kastela yang masih bisa dilihat di dekat pintu masuk kawasan benteng

Benteng yang terletak di Jalan Raya Benteng Kastela Santo Paulo, kelurahan Kastela, kecamatan Pulau Ternate, Kota Ternate, Maluku Utara ini berada di pesisir Barat Daya pulau Ternate, sekitar 12 km dari pusat Kota Ternate. Benteng seluas 2.724 meter persegi ini (yang saat ini tersisa tidak sampai setengah dari luas awalnya) merupakan peninggalan Portugis ini dikenal dengan nama Benteng Gam Lamo, berbentuk persegi empat, terbuat dari batu gunung dan batu kapur. Merupakan bangunan benteng kolonial pertama yang dibangun di Kepulauan Maluku, Indonesia. Pembangunan benteng ini memakan waktu selama kurang lebih 20 tahun karena pengerjaannya dilakukan secara bertahap. Pembangunan tahap awal benteng ini dilakukan pada tahun 1521 oleh Antonio de Brito. Tetapi  pengerjaan benteng terhenti dengan kembalinya de Brito ke Gowa (India Barat), namun sebelum tiba di sana, ia terbunuh di dalam sebuah pertempuran di Aceh. Pembangunan benteng kemudian diteruskan oleh Garcia Henriquez pada tahun 1525. Dan di tahun 1530 pembangunan diteruskan oleh Gonsalo Pereira. Penyelesaian pekerjaan pembangunan benteng dilakukan oleh Jorge de Castro di tahun 1540.

 

EVY_5288
reruntuhan Benteng Kastela yang masih tersisa

Pada awalnya benteng ini diberi nama Nostra Senhora de Rosario yang artinya wanita cantik berkalung bunga mawar. Namun kemudian penamaan benteng ini pun dibuat dalam beberapa bahasa, yaitu São João Batista (Portugis), Ciudad del Rosario (Spanyol) atau Gammalamma (Ternate dan Belanda), namun masyarakat lebih mengenalnya dengan nama Benteng Kastela.

Hingga tahun 1569, Benteng Kastela (Gam Lamo) merupakan satu-satunya benteng kolonial yang berdiri di luar Malaka. Setelah itu barulah dibangun benteng-benteng lain di Ambon, Jailolo, Moro (Tolo dan Samafo), Banda dan Makasar. Namun benteng-benteng yang dibangun itu lebih menyerupai rumah kembar ketimbang benteng yang sesungguhnya.

 

EVY_5289
taman yang ada di kawasan benteng

Benteng Kastela menyimpan cerita kelam bagi rakyat Ternate. Di benteng inilah pada tanggal 28 Februari 1570 terjadi peristiwa pembunuhan Sultan Khairun Jamil oleh Antonio Pimental yang menerima perintah dari Diego Lopez de Mesquita (Gubernur Portugis ke-18) yang dilakukan melalui tipu muslihat. Padahal, sehari sebelumnya, yaitu pada tangal 27 Februari 1570, Sultan Khairun Jamil dan Antonio Pimental baru saja melakukan perjanjian untuk saling menjaga perdamaian di Moloku Kie Raha. Pembunuhan ini memicu pergolakan di tanah Ternate. Sultan Baabullah, yang merupakan pewaris tahta Kesultanan Ternate menuntut agar Diego Lopez de Mesquita diajukan ke depan pengadilan dan dihukum atas tindakannya. Dan ketika tuntutan itu ditolak, terjadi perlawanan dari rakyat Ternate. Di bawah pimpinan Sultan Baabullah, rakyat Ternate kemudian mengepung Benteng Kastela selama 4 tahun (1574 – 1578) dan memberikan ultimatum agar Portugis segera meninggalkan tanah Ternate.

 

EVY_5290
benteng kolonial pertama yang berdiri di luar kawasan Melaka itu sekarang tinggal reruntuhannya saja

Pengepungan yang dilakukan oleh Sultan Baabullah dan rakyat Ternate menyebabkan terjadinya wabah penyakit dan kelaparan di lingkungan benteng sehingga kemudian Portugis melakukan evakuasi besar-besaran dari Ternate. Awalnya mereka transit ke Tidore dan selanjutnya terus ke Goa. Dalam kurun waktu pengepungan selama 4 tahun itu, tercatat ada 20 Gubernur Portugis yang mengisi benteng tersebut. Ketika bala bantuan Portugis dari Gowa dan Malaka tiba di Ternate, semua sudah terlambat. Armada Portugis hanya bisa melihat puing-puing bekas kekuasaan Portugis di Ternate.

 

EVY_5291
sisa-sisa reruntuhan Benteng Kastela yang masih bisa ditemukan

Setelah kekalahan Portugis, Benteng Kastela dijadikan pusat kekuatan perang Kesultanan Ternate yang dipimpin oleh Sultan Baabullah dan Kapita Lao. Area di sekitar benteng menjadi pusat kekuatan laut Kesultanan Ternate. Dari situlah Sultan Baabullah melakukan berbagai perjalanan menuju Banggai, Tambuko, Tibora (di Pulau Panggasan) dan Buton. Benteng Kastela berada di bawah kekuasaan Kesultanan Ternate selama 30 tahun hingga datangnya Spanyol di bawah pimpinan Don Pedro Bravo da Chunha di tahun 1606. Kejadian ini terjadi di masa pemerintahan Sultan Said Barakat (selanjutnya Sultan Said Barakat diasingkan ke Manila hingga wafat di sana).

 

EVY_5292
yang tersisa dari Benteng Kastela hanyalah reruntuhan bastiong dan menaranya

Tahun 1610, benteng ditempati oleh 200 orang Spanyol, 90 papangers (salah satu suku dari Filipina), 30 keluarga Portugis, 70-80 tukang yang berasal dari China, serta 50-60 orang Kristen Ternate. Pada tahun 1627, benteng ini memiliki kekuatan sebanyak 38 meriam, dan 1 kompi serdadu Spanyol yang berjumlah 60-65 orang. Spanyol menguasai Benteng Kastela hingga tahun 1660. Ketidakmampuan Spanyol bersaing dengan VOC di dalam perdagangan rempah, akhirnya membuat otoritas Spanyol di Manila kemudian menarik kembali pasukannya dari kawasan Maluku di tahun 1662 yang kemudian diberdayakan untuk menghadapi penyerbuan besar-besara dari bajak laut Tiongkok yang akan merebut kota Manila. Hengkangnya Spanyol ditandai dengan penghancuran benteng ini, sehingga hanya tinggal reruntuhan bastiong dan menaranya saja.

Saat ini, yang bisa ditemui hanyalah reruntuhan Benteng Kastela yang tampak kurang terurus. Tugu Cengkeh dan relief yang ada penuh dengan grafity tidak jelas yang ditorehkan oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Walaupun Benteng Kastela sekarang hanyalah tinggal puing-puing dan tumpukan reruntuhan, namun semangat Perjuangan rakyat Ternate yang tampak di relief masih terasa menggelora.