Category Archives: Malang

Antara Wisata Kuliner, Museum Angkut dan Sunset Indah di Gunung Banyak

EVY_0781

 

Mendengar kata “Malang”, yang terbayang di kepala saya adalah sebuah kota yang dingin dan tenang, dan itulah tujuan perjalanan saya kali ini. Mengulang perjalanan ke Malang untuk yang ke-2 kalinya dalam setahun ini. Apabila di perjalanan yang pertama saya lakukannya seorang diri, di perjalanan ke-2 ini saya ditemani (lebih tepatnya mengantarkan) 4 orang teman saya yang ingin menjelajahi indahnya Malang, Batu dan Bromo. Ouw, Bromo again! Ini adalah perjalanan ke-3 saya ke Bromo :D

Seperti biasa, hunting tiket sudah dilakukan jauh-jauh hari. Sepakat, berangkatnya menggunakan kereta dan pulangnya menggunakan pesawat karena beberapa orang teman akan langsung masuk kantor.

Dan seperti biasa, percakapan di grup chatting sebelum keberangkatan diisi dengan berbagai rencana wiskul, mau makan apa selama di Malang dan Batu? Ditambah dengan berbagai perlengkapan yang harus dibawa, jaket, sepatu, sweater, kaus kaki dan sebagainya.

Dan tibalah hari yang ditunggu-tunggu, Jumat 31 Juli 2015.

 

ini nih persiapan jalan-jalan kali ini
ini nih persiapan jalan-jalan kali ini

 

Berbekal ijin masuk kantor ½ hari, jadilah jam 2 siang itu saya sudah on the way pulang untuk kemudian berangkat lagi menuju stasiun Gambir. Di grup chatting, teman-teman juga menginfokan kalau sudah siap-siap.

 

ini waktu berangkat sendirian bulan Maret kemarin
ini waktu berangkat sendirian bulan Maret kemarin

 

ini teman perjalanan Maret kemarin
ini teman perjalanan Maret kemarin

 

nah, yang ini waktu berangkat rame-rame akhir Juli tadi, sepatunya masih sama :D
nah, yang ini waktu berangkat rame-rame akhir Juli tadi, sepatunya masih sama :D

 

Setelah menukar pakaian dan memeriksa lagi perlengkapan yang harus dibawa, sore itu saya segera menuju ke Stasiun Gambir dengan menggendong ransel merah kesayangan + tas kamera kecil. Alhamdulillah traffic tidak seberapa macet, perjalanan menuju stasiun hanya saya tempuh kurang dari 30 menit.

Voila…. Stasiun Gambir sore itu sangat padat.

 

rameeeee........
rameeeee……..

 

Saya melipir ke samping kantor layanan pelanggan KAI dan memberitahukan di grup bahwa saya sudah tiba di stasiun. Ternyata 2 orang teman saya juga telah sampai, hanya saja kami masing-masing masuk dari pintu yang berbeda :D

Saya segera menyusul ke lokasi teman-teman saya, dan here they are!

Singkat cerita, setelah menunggu beberapa waktu, kami memutuskan untuk naik menuju peron karena panggilan bagi penumpang kereta Gajayana tujuan Malang sudah terdengar melalui speaker. Sempat singgah sebentar untuk membeli penganan sebagai bekal di kereta, akhirnya kami ber-4 masuk ke kereta (masih ada 1 orang teman yang sedang ngantri masuk di pintu pemeriksaan tiket).

Komplit ber-5 di kereta, dan tidak seberapa lama kemudian, KA Gajayana pun mulai bergerak perlahan menuju arah Timur. Malang, here we come :)

Menghitung perjalanan Jakarta – Malang yang akan memakan waktu sekitar 15 jam, dan melihat itinerary yang lumayan padat, saya memutuskan untuk lebih banyak beristirahat di kereta. Sempat ngobrol dan becanda dengan teman-teman, sebelum akhirnya saya sukses tertidur.

Sempat terbangun beberapa kali karena dinginnya kereta (dan lapar :D), akhirnya saya benar-benar terjaga di subuh yang sangat indah itu. Keadaan di luar mulai terang, dan mata ini disuguhi dengan hijaunya pepohonan, sawah dan perkampungan yang terlihat di ke-2 sisi jendela kereta. Dan ketika semburat jingga  di kaki langit semakin terang, pemandangan pagi dari balik jendela kereta pun menjadi semakin indah.

Melewati Madiun, Kediri, Tulungagung, Blitar, Wlingi, Kepanjen dan akhirnya kami tiba di Stasiun Malang tepat pukul 09.25 wib.

Dan hei, itu si white chevy sudah siap menunggu di depan stasiun, dan itu mas Dani leader-nya OurTrip1st, yang akan menemani kami selama meng-explore Malang-Batu-Bromo sudah menunggu.

Hap, atur ransel di bagasi dan jok belakang (cukup ga ya?), dan perjalanan kami di Malang akan segera dimulai. Horeeeeeeeee……

 

ini kendaraan dinas kami selama ngubek-ubek Malang - Batu #courtesy by @OurTrip1st
ini kendaraan dinas kami selama ngubek-ubek Malang – Batu
#courtesy by @OurTrip1st

 

yeeeaaaayyyyy.... ready untuk ngubek-ubek Malang dan Batu, let's go!!!
yeeeaaaayyyyy…. ready untuk ngubek-ubek Malang dan Batu, let’s go!!!

 

Saya kebagian duduk di depan, kemudian itu 3 temen cewek yang lain umpel-umpelan di jok tengah, menyisakan 1 temen cowok di jok belakang sendirian, dan tujuan pertama kami adalah Guesthouse Lily :D

Yeeeeaaaaayyyy….. bisa mandi dulu sebelum keliling…..

Saya sempat tebak-tebakan dengan Windy, jangan-jangan di Lily nanti kami akan menempati kamar yang sama dengan kamar setahun yang lalu, kamar 303. Dan……. benar aja, saya dan Windy kebagian kamar 303, Iyus di kamar 302, Ciwi dan Devin di kamar 306 yang letaknya di seberang kamar Iyus.

Kami hanya punya waktu sekitar 30 menit untuk mandi dan berganti pakaian, dan langsung cuuusssss….. tujuan pertama wisata kuliner di pagi menjelang siang ini adalah Cui Mie yang terletak di Jalan Kawi. Ah, tapi sepertinya kami kurang beruntung karena ternyata sesampainya di sana H & T Cui Mie tutup dan ada pemberitahuan bahwa Cui Mie baru akan buka tanggal 2 Agustus, besok :p (maaf, kalian kurang beruntung teman-teman, silakan coba lagi).

 

ini nih tempat yang jual Cui Mie enak
ini nih tempat yang jual Cui Mie enak

 

Jadi gimana? Mau makan apa untuk sarapan???

Setelah berembug, akhirnya diputuskan kami akan mencoba Mie Dempo. Oh iya, di perjalanan pertama saya di bulan Maret kemarin, sepertinya saya sangat beruntung karena sempat mencicipi Cui Mie untuk sarapan. Boleh dong ya saya ceritakan sedikit apa rasanya Cui Mie? :D

 

Cui Mie dengan mangkok pangsitnya yang sangat yummy
Cui Mie dengan mangkok pangsitnya yang sangat yummy

 

Cui Mie adalah sajian mie yang serupa dengan mie ayam, hanya saja menggunakan topping daging ayam yang dicincang halus menyerupai abon yang berbumbu gurih. Pada saat perjalanan saya di bulan Maret kemarin, saya mencoba cui mie dengan mangkok yang terbuat dari pangsit goreng. Adonan pangsit dibentuk menyerupai sebuah mangkok dan kemudian digoreng. Mangkok pangsit goreng ini kemudian diletakkan di atas mangkok asli, kemudian diisi dengan segulung mie, sejumput sawi yang telah dilayukan, ditaburi daging ayam goreng yang dipotong dadu dan kemudian disiram dengan kuah asam manis yang berisi potongan bawang bombay. Sebuah mangkok kecil berisi kuah beraroma gurih melengkapi pilihan saya. Untuk pilihan minumannya, saya memilih Es Shanghai. Sluuuuurrrrpppp……

 

ini es Shanghai pelengkap Cui Mie pangsit tadi
ini es Shanghai pelengkap Cui Mie pangsit tadi

 

Balik lagi ke cerita jalan-jalan kemarin, akhirnya kami tiba di Es Teler Dempo No. 7. Dan saya mencoba memesan Mie Dempo Campur (yang artinya kuahnya langsung dituang ke dalam mangkok mie, tidak dipisah), yang katanya rasanya lebih yummy ketimbang yang kuahnya dipisah. Mari kita coba……

Saya mencelupkan ujung sendok ke dalam mangkok dan mencicipi kuahnya, hmmm…… gurih, enak #jilatinbibir

Menikmati gulungan mie di ujung garpu, dan menyeruput kuah dari ujung sendok, huuuuuwwwoooooo….. nikmat…..

 

menu saya siang itu, mie bakso + pangsit dan semangkok es Duren
menu saya siang itu, mie bakso + pangsit dan semangkok es Duren

 

Tidak memerlukan waktu lama untuk menghabiskan seporsi mie rebus ini (bahkan, teman di samping dan depan saya nambah lagi lho porsi mie-nya :D). selesai menyantap mie, saya mulai menggeser mangkok berisi es Duren yang sedari tadi sengaja saya diamkan, for the last bite :D

Sekali lagi saya menyeruput, kali ini adalah es Duren, dari ujung sendok, hmmmm…….. seger, enak!

Beberapa butir biji Duren lengkap dengan dagingnya tergeletak pasrah di mangkok, menunggu untuk diklomoti :D

Aaaaaakkkkk…. Sarapan hari ini enak ya….. kenyang……

Selain mie, di sini juga ada menjual Gado-gado Dempo yang ngehits itu. Dan saya (lagi-lagi sangat beruntung) sudah pernah juga mencobanya di perjalanan pertama saya. Potongan lontong dan sayuran disiram kuah kacang kental dan manis, hmmm…… endues pokoknya.

 

ini Gado-gado yang bisa jadi alternatif pilihan di warung Es Teler Dempo No. 7
ini Gado-gado yang bisa jadi alternatif pilihan di warung Es Teler Dempo No. 7

 

dan ini es Alpukat Duren yang bikin pengen nambah mulu :p
dan ini es Alpukat Duren yang bikin pengen nambah mulu :p

 

Selesai makan, kami segera meneruskan perjalanan menuju Kota Batu. Iya, siang ini kami akan ngubek-ubek Museum Angkut. Dan bagi saya, ini adalah kunjungan ke-2 saya ke Museum Angkut.

Perjalanan menuju Kota Batu sangat lengang, jalanan hanya dilalui 1-2 kendaraan bermotor, sungguh berbeda dengan Jakarta yang macet. Mematikan AC mobil, membuka jendela, dan membiarkan udara segar yang sedikit dingin masuk ke mobil, sungguh menyenangkan. Saya menghirup pelan-pelan udara yang segar itu, seakan sayang untuk dilewatkan. Walaupun kami tiba di Kota Batu pada tengah hari, tapi udaranya tidak lah panas. Pokoknya sangat menyenangkan.

Sebelum menuju Museum Angkut, kami singgah dulu untuk menikmati Wisata Petik Apel. Berasa piknik, duduk di bawah pohon Apel sambil menikmati buah Apel yang dipetik sendiri sambil cerita-cerita dan becanda dengan teman-teman.

 

nah, ini gerombolan rusuh trip kali ini.... ayo, makan apelnya yang banyak :D #coutesy by Ciwi
nah, ini gerombolan rusuh trip kali ini…. ayo, makan apelnya yang banyak :D
#coutesy by Ciwi

 

1 Apple a day, makes the doctor away. Nah, makan Apel 1 biji setiap hari akan menjauhkan kita dari dokter. Ayo, makan Apel yang banyak!

 

1 Apple a day, makes the doctor away
1 Apple a day, makes the doctor away

 

Selesai petik Apel, foto-foto, bayar belanjaan (tentunya buah Apel), kami beranjak menuju Museum Angkut. Tapi….. lho, itu Ciwi dan Devin terlihat sedang memilih beberapa jenis bibit tanaman yang dijual di pintu masuk ke kebun Apel. Dengan serenteng bibit tanaman di tangan, Ciwi dan Devin senyum-senyum menghampiri saya, Windy, Iyus dan mas Dani. Emang bener ya…… sisa-sisa jaman kuliah ga bakal kelupaan. Bibit Jagung ga lupa kan Wi??? :D

 

rame banget ya......
rame banget ya……

 

antri...antri...
antri…antri…

 

kami juga antri kok...
kami juga antri kok… #courtesy by @OurTrip1st

 

here we are!!! let's have fun!
here we are!!! let’s have fun!

 

2x ke Museum Angkut, ternyata tiketnya beda warna
2x ke Museum Angkut, ternyata tiketnya beda warna

 

Ngeeeeennngggg…. Kami menuju Museum Angkut. Dan………. ternyata siang itu suasana di sana sangat ramai. Setelah mendapatkan tiket dari mas Dani, kami pun masuk. Hiks, rame bener ya….. kalau dulu, saya menghabiskan hampir 8 jam untuk menyusuri semua sudut museum ini (2-3 jam digunakan untuk nonton filmnya Charlie Chaplin), hari itu saya hanya memerlukan waktu kurang dari 4 jam untuk menyelesaikan melihat-lihat koleksi dari Museum Angkut. Alasan utamanya “karena terlalu ramai”, sehingga agak sulit untuk melihat koleksi-koleksi museum dengan detil.

 

naksir banget sama si ungu ini... huhuhuhu...
naksir banget sama si pink ini… huhuhuhu…

 

Museum angkut ini terbagi-bagi menjadi beberapa bagian.  setelah melewati pintu masuk, kita bisa melihat aneka macam mobil kuno, mulai dari Roll Royce, Ford, Lincoln Mark, Chevrolet, Allard, Chrysler Windsor Deluxe yang menjadi kendaraan Presiden pertama Indonesia – Ir. Soekarno, Porche, Dodge, dan lain-lain. Kemudian kita juga akan menemukan berbagai jenis sepeda antik, helikopter kepresidenan Indonesia, serta berbagai miniatur mobil antik yang ada di dunia.

 

ini apa
Roll Royce Phantom, tahun 1962 – 6230 CC

 

sadasd
Ford Model A, tahun 1931 – 3300 CC

 

sdsdgftrh
Lincoln Mark IV, tahun 1973 – 7538 CC

 

hjdhdfva
Chevrolet Series BA, tahun 1932 – 3179 CC

 

fgah
Ford Cobra, tahun 1982 – 5735 CC

 

mobil dan helikopter kenegaraan Republik Indonesia yang dikendarai oleh Presiden pertama, Ir. Soekarno
Chrysler Windsor Deluxe, tahun 1952 – 4100 CC yang merupakan mobil kenegaraan Presiden RI 1, Ir. Soekarno dan helikopter kenegaraan Republik Indonesia

 

Di salah 1 sudut ruangan terlihat sederet sepeda onthel. Yang menarik adalah kalimat yang tertera di dinding yang menjadi latar belakang sepeda-sepeda onthel tersebut “Tahukah anda? Pabrik motor dan mobil terkenal di dunia juga pernah memproduksi sepeda onthel”.

 

deretan sepeda onthel dari pabrik-pabrik mobil dan potor ternama di dunia
deretan sepeda onthel dari pabrik-pabrik mobil dan potor ternama di dunia

 

motor-motor antik produksi pabrik ternama dunia
motor-motor antik produksi pabrik ternama dunia

 

Naik ke lantai 2, kita akan melihat berbagai jenis angkutan dari seluruh Indonesia. Ada pedati kerbau pedati Minang, becak medan, becak Semarang, becak Situbondo, dan lain-lain.

 

pedati yang biasa ditemui di pedesaan sebagai sarana transportasi dan pendukung pekerjaan masyarakatnya
pedati yang biasa ditemui di pedesaan sebagai sarana transportasi dan pendukung pekerjaan masyarakatnya

 

Pedati Minang
Pedati Minang

 

Becak Yogya
Becak Medan

 

Becak Semarang
Becak Semarang

 

Becak Situbondo
Becak Situbondo

 

Masih di lantai yang sama, kita bisa melihat aneka jenis miniatur kapal. Ada miniatur Kapal Titanic yang melegenda itu – kapal pesiar terbesar yang digadang-gadang tidak akan bisa tenggelam, Kapal Pinisi, kapal Cina, dan lain-lain.

 

Titanic
Titanic

 

yang ini lupa kapal apa? kalau ga salah kapal Panglima Cheng Ho
yang ini lupa kapal apa? kalau ga salah kapal Panglima Cheng Ho

 

yang ini kalau tidak salah adalah kapal Pinisi
ini adalah Kapal Majapahit

 

Di lantai yang sama kita juga bisa melihat bangkai mobil Tucuxi, Purwarupa mobil listrik buatan Indonesia yang mengalami kecelakaan pada saat uji coba dari Solo menuju Surabaya. Kala itu, yang melakukan test drive adalah Bapak Dahlan Iskan. Mobil berwarna merah dengan 2 pintu itu terlihat mengalami rusak yang cukup parah pada bagian body belakangnya.

 

Tucuxi, mobil listrik pertama produksi Indonesia
Tucuxi, mobil listrik pertama produksi Indonesia yang mengalami kecelakaan saat uji coba pertamanya

 

kerusakan bemper kiri belakangnya lumayan parah ya...
kerusakan bemper kiri belakangnya lumayan parah ya…

 

Di sisi seberang dari posisi bangkai mobil Tucuxi, kita akan menjumpai berbagai jenis mobil antik menyerupai kereta yang biasanya hanya bisa kita lihat di film-film dengan setting masa lalu. Ada Ford Model T, Ford Model A, serta Dodge Depot Hack. Oh iya, masih di lantai yang sama, kita juga bisa melihat beberapa jenis sepeda antik. Ada sepeda Roper 1 dan Roper 2 dengan dinamo besar di batang tengahnya, sepeda roda 3 dengan 2 roda besar di bagian kanan dan kirinya, sepeda kayu dengan rodanya yang tidak sama besar – roda depan lebih besar daripada roda belakang.

 

fgafbh
Ford Model T, tahun 1919 – 2900 CC

 

hstgefe
mobil uap

 

fagegtag
replika Roper 1 & Roper 2

 

gherag
sepeda antik, tahun 1860 – 1870

 

gbsfgbsedgv
ini juga sepeda antik beroda 3, ditanggung ga bakal ngguling deh kalo naik ini :D

 

fgefgqer
Ford Model A, tahun 1929 – 330 CC

 

gdbvdfv
Dodge Depot Hack, tahun 1924 – 3500 CC

 

Dari lantai 2 ini kita bisa melihat sebagian Kota Batu dengan latar belakang Gunung Welirang.

 

view Kota Batu dari lantai 2 Museum Angkut
view Kota Batu dari lantai 2 Museum Angkut

 

Menuruni bangunan museum, kita akan menemukan berbagai angkutan publik seperti bajaj, Morris Traveler, angkot, becak, Chevrolet Apache 2300, sepeda penjual keranjang ikan, sepeda penjual blek bekas, gerobak, mobil pick up, dan lain-lain.

 

ada bajaj juga lho di Museum Angkut :D
ada bajaj juga lho di Museum Angkut :D

 

holaaaaa.... kita sampai di Stasiun Kota.... #dadahdadah
holaaaaa…. kita sampai di Stasiun Kota…. #dadahdadah

 

"jual keranjang ikan"
“jual keranjang ikan”

 

"jual blek bekas" tau ga apa itu "blek"???
“jual blek bekas”
tau ga apa itu “blek”???

 

Meninggalkan area dengan setting-an Pelabuhan Sunda Kelapa, pasar ikan dan Stasiun Kota Jakarta, kita akan memasuki bangunan yang menyimpan aneka motor kuno. Eh tapi sebelum masuk, yuk kita makan pecel dulu di kedai sebelah, sepertinya enak deh :D

 

enak banget ya Wi? gayanya aseeeeeeekkkkk.....
enak banget ya Wi? gayanya aseeeeeeekkkkk…..

 

Nah, sekarang giliran aneka motor + mobil antik (yang di dalam film pun saya belum pernah lihat) yang bisa kita lihat. Motor BSA Sidewalve buatan Inggris, mobil Chevrolet Belair, mobil Nash Rambler, aneka motor buatan Jerman, motor Honda – Hella – Fuji buatan Jepang, mobil Morris Traveler (yang ini asli bikin saya ngiler banget), mobil Toyota, dan masih banyak lagi.

 

dfasgfebge
“Sepeda motor, kecil tapi jangan diremehkan. Luar Biasa!”

 

dvsfbfsb
motor-motor jadul buata Inggris

 

hnsfbsf
nah, yang ini adalah motor jadul buatan Jerman

 

hgdgssfvg
kalo yang ini pasti hapal banget deh… yoi, ini aneka motor buatan Jepang

 

bfsgadfvd
Chevrolet Belair, tahun 1954 – 3300 CC

 

Di sudut dekat pintu keluar, ada sebuah meja kayu yang mengingatkan saya dengan meja kayu kuno di rumah bertahun-tahun yang lewat. Sebuah sudut ruangan yang dilengkapi dengan meja kayu kuno + kursi kayu, lemari kayu dengan ukiran pada pintunya, sebuah radio antik di atas meja, beberapa radio antik di atas lemari, setrika arang dengan hiasan ayam jago pada pegangannya (saya sempat merasakan nyetrika dengan setrika ini lho dulu..), toples kaca besar dengan tutupnya yang terbuat dari kaleng, lampu petromax kecil dan beberapa ceret kaleng. Ah…. ingatan saya terbang melintasi mesin waktu, kembali mengingat masa kecil. Di dekat pintu, berdiri sebuah kulkas besar berwarna biru. Kemudian ada sepeda jengki yang masih terlihat bersih, berdiri dengan standar gandanya di depan lemari kayu, tepat di samping mobil Morris Traveler putih yang membuat saya jatuh cinta.

 

tatanan kuno di salah 1 sudut ruangan membuat saya jatuh cinta #tsaaaahhhhh :p
tatanan kuno di salah 1 sudut ruangan membuat saya jatuh cinta #tsaaaahhhhh :p

 

nah, ini dia sponsor jalan-jalan saya di Malang-Batu bulan Maret lalu :D Makasih mas Dani, makasih Martha, udah diajakin main, mulai dari pantai, kuliner, sampai museum #ciumsatusatu :D
nah, ini dia sponsor jalan-jalan saya di Malang-Batu bulan Maret lalu :D
Makasih mas Dani, makasih Martha, udah diajakin main, mulai dari pantai, kuliner, sampai museum #ciumsatusatu :D

 

pengen punya ini untuk jalan-jalan, seru kayaknya...
pengen punya ini untuk jalan-jalan, seru kayaknya…

 

Kaki kami terus menyusuri area museum.

Keluar dari ruangan tadi, kami langsung memasuki area terbuka dengan setting luar negeri. Roma, Paris, Berlin, London??? Hayo, mau pilih yang mana?

 

hayo, mau pilih ke mana???
hayo, mau pilih ke mana???

 

Area ini terbagi menjadi beberapa zona, ada zona “Gangster Town”, “Broadway” (yang pada kunjungan pertama saya, sukses membuat saya  nongkrong di Broadway Theater dan terpingkal-pingkal selama lebih dari 2 jam menyaksikan film bisu Charlie Chaplin), “National Bank of America”, kedai french fries bertema koboi, dan masih banyak lagi.

 

yang ini.... entah lah apa maksudnya? ngapain juga itu meteran dinding dibaca khusyuk begitu :p
yang ini…. entah lah apa maksudnya?
ngapain juga itu meteran dinding dibaca khusyuk begitu :p

 

"Gangster Town" owemji #gasp
“Gangster Town” owemji #gasp

 

National Bank of America (tentu saja cuma replikanya... :p)
National Bank of America, awas….. ada bandit yang kabuuuurrrr……….

 

We are on the Broadway.....
We are on the Broadway…..

 

nonton film bisu Charlie Chaplin di sini, seruuuuu...... sampe ga sadar udah 3 jam aja :D
nonton film bisu Charlie Chaplin di sini, seruuuuu……
sampe ga sadar udah 3 jam aja :D

 

pengen nyobain nongkrong sambil ngopi-ngopi cantik di kedai ala koboi ini? saya sudah! :D
pengen nyobain nongkrong sambil ngopi-ngopi cantik di kedai ala koboi ini? saya sudah! :D

 

Dari outdoor area, kita memasuki indoor area. Dan kita akan langsung disambut oleh miniatur Menara Eiffel. Kali ini setting-nya adalah negara-negara di Eropa, ada Perancis dan Jerman (ada miniatur suasana di Tembok Berlin yang runtuh pada tahun 1989.

 

di Paris ketemu pelukis kece :D bonjour Monsieur....
di Paris ketemu pelukis kece :D
bonjour Monsieur….

 

hooollllaaaaaa..... we're in Paris..... #dadahdadah
voila….. bienvenue, nous sommes a Paris….. #dadahdadah

 

 

mobil-mobil yang ada di area Paris ini bagus banget, warna-warni pula #mupeng
mobil-mobil yang ada di area Paris ini bagus banget, warna-warni pula #mupeng

 

afdhsd
willkommen in Deutschland

 

ilustrasi Tembok Berlin
ilustrasi Tembok Berlin

 

kita di mana????? Jerman dong :D
kita di mana????? Jerman dong :D

 

fdfFA
mau ngojek, mas? :p

 

ga mau kalah dengan masnya, mbak ini juga mau ngojek :p
ga mau kalah dengan masnya, mbak ini juga mau ngojek :p

 

yang mau belanja buah di pasar tradisional Eropa juga ada lho....
yang mau belanja buah di pasar tradisional Eropa juga ada lho….

 

neng ojek, lagi telepon siapa sih??? #kepo
neng ojek, lagi telepon siapa sih??? #kepo

 

Keluar dari bangunan dengan setting negara-negara di Eropa, kita akan langsung disambut oleh megahnya Buckingham Palace. Istana megah kebanggaan rakyat Inggris. Bangunan megah berwarna putih dengan pilar-pilarnya yang besar, sebuah kolam air mancur dengan patung wanita pada tengahnya, taman bunga warna warni di depannya, keren deh pokoknya.

 

Buckingham Palace replikanya aja bagus begini, apalagi aslinya ya... kapan deh bisa ke sana???
Buckingham Palace
replikanya aja bagus begini, apalagi aslinya ya… kapan deh bisa ke sana???

 

megah banget, padahal cuma replikanya doang lho
megah banget, padahal cuma replikanya doang lho

 

Kali ini lagi-lagi saya merasa sangat beruntung karena tiba di lokasi miniatur Buckingham Palace dalam kondisi langit masih terang (dulu, saya sampai di tempat ini setelah hujan), tapi sayangnya terlalu banyak pengunjung, yang membuat proses memotret kesenggol-senggol oleh pengunjung yang berjalan di kanan kiri saya.

 

saking ramenya pengunjung di area Buckingham Palace, jadi bingung gimana mau motretnya. alhasil cuma berhasil motret patung dewi yang ada di tengah-tengah tamannya :(
saking ramenya pengunjung di area Buckingham Palace, jadi bingung gimana mau motretnya. alhasil cuma berhasil motret patung dewi yang ada di tengah-tengah tamannya :(

 

di halaman Buckingham Palace, tamannya dipenuhi bunga ini, bagus deh
di halaman Buckingham Palace, tamannya dipenuhi bunga ini, bagus deh

 

Meninggalkan halaman Buckingham Palace, kita akan memasuki sebuah ruangan yang menurut saya memiliki interior paling mewah dari seluruh area di Museum Angkut ini. Sebuah ruangan besar dengan setting-an yang sangat Inggris, langit-langit ruangan yang dipenuhi lampu kristal tergantung dengan cahaya kuningnya, ukiran indah yang menghiasi dinding dan plafonnya, serta lantai kayu coklat muda yang menambah kesan mewahnya. Di ruangan ini kita bisa melihat sebuah mobil Roll Royce Silver Shadow warna coklat muda mengkilat. Yang menjadi pusat perhatian di ruangan ini adalah sebuah miniatur “Big Bus Tour” berwarna merah. Bis tingkat dengan tulisan “Sightseeing Tours of London” itu benar-benar mencuri perhatian. Dengan ukurannya yang paling besar, dan warnanya yang sangat mencolok, wajar rasanya kalau semua yang masuk ke dalam ruangan itu langsung tersedot perhatiannya.

 

ini adalah ruangan dengan interior termegah di kawasan Museum Angkot, menurut saya
ini adalah ruangan dengan interior termegah di kawasan Museum Angkot, menurut saya

 

itu bis tingkat warna merah yang jadi trend-nya ruangan ini
itu bis tingkat warna merah yang jadi trend-nya ruangan ini

 

Di sudut lain ruangan, terlihat sebuah Bentley Mark VI dan Land Rover Royal Ceremonial lengkap dengan sosok Ratu Elizabeth dan Pangeran Philip.

 

Ratu Elizabeth II dan Pangeran Philip
Ratu Elizabeth II dan Pangeran Philip di atas Land Rover Royal Ceremonial

 

Nah, setelah keluar dari ruangan ber-setting Britania Raya, kita akan menemui sebuah area terbuka dengan aneka profil orang-orang ternama. Ada Elvis Presley, Marylin Monroe, Hulk (ah, ini sih karakter film ya…), dan lain-lain. Eh iya, itu ada mobil Scooby Doo lho…. lucu……. Eh iya, ada sedikit sudut yang ber-setting-kan Patung Lyberty dan Firaun. Dan di sini saya menemukan mobil gagah berwarna kulit yang sangat keren, Hummer H2 Limousine :D #pengenpunya

 

Marylin Monroe ada di sini!!!
Marylin Monroe ada di sini!!!

 

Spinx...... ada Firaun :D
Spinx…… ada Firaun :D

 

Tahun 2015, "Liberty" udah ga pegang obor lagi, tapi cukup pegang smartphone :p
Tahun 2015, “Liberty” udah ga pegang obor lagi, tapi cukup pegang smartphone :p

 

hihihihihi.... ada mobil Scooby Doo lho.....
hihihihihi…. ada mobil Scooby Doo lho…..

 

yang ini nih, TOP banget dah...
yang ini nih, TOP banget dah…

 

Eh, ada yang ketinggalan. Di salah satu sudut area terakhir ini kita akan menemukan sebidang pagar besi dengan gembok-gembok yang menempel padanya. Bagaikan melihat area “Love Locks” :)

 

Love locks?
Love locks?

 

Keluar dari museum, Ciwi senyum-senyum dan bilang “Nyate yuk! Tadi lewat, wangi banget aromanya”. Hehehehehe…. Laper ternyata. Yuk!!!

Kami pun bergerak menuju lokasi pusat jajanan di samping kiri bangunan museum. Lihat sana sini, mulai menimbang-nimbang “Makan apa ya?” Nasi campur Madura, sate, mie, lumpia, gado-gado, nasi rames, sosis, hmm….. pilih apa nih?

Akhirnya saya memilih nasi campur Madura. Nasi putih dengan sayur oseng-oseng buncis + jagung muda, empal dan perkedel kentang. Enak!

 

Selesai makan, kami diajak mas Dani ke Gunung Banyak untuk melihat paralayang. Sebenarnya Gunung Banyak tidak termasuk ke dalam itinerary kami, tapi sewaktu di mobil tiba-tiba Windy nanya “Mas Dani, kalau Gunung Banyak itu di mana ya? Kata temenku kalau ambil timelapse di sana bagus banget, pergerakan awannya cepat”. Dan akhirnya, di situ lah kami. Gunung Banyak, lokasi start untuk paralayang di Kota Batu ini. Makasih mas Dani, dapat bonus ke sini.

 

pemandangan jalanan menuju Gunung Banyak dari puncaknya
pemandangan jalanan menuju Gunung Banyak dari puncaknya

 

suasana di puncak Gunung Banyak senja itu
suasana di puncak Gunung Banyak senja itu

 

kami di sini........
kami di sini……..

 

hoooooorrrreeeeeee.....
hoooooorrrreeeeeee…..

 

asfaesdg
yeeeeaaaaaayyyyyy….. kami di Gunung Banyak!!! mana suaranya???

 

Perjalanan menuju Gunung Banyak bak perjalanan mengejar matahari senja. Sambil menyusuri jalanan aspal yang mendaki menuju parkiran, di sebelah kiri terlihat bulatan jingga besar yang semakin rendah menggantung di langit. Warna jingga bercampur merah dan keemasan membuat semburat cantik di langit Barat. Hanya sayang, kami sedikit tertinggal untuk mendapatkan foto sunset yang bulat sempurna. Sewaktu kami tiba di puncak Gunung Banyak, bulatan emas itu telah terbenam di balik deretan pegunungan, menyisakan semburat warna-warni di langit Batu.

 

cuma kebagian (sedikit) sunset :(
asoy bener ya… menikmati sunset ber-2-an gitu….. iriiiiii……. ahahahahahahaha…..

 

paralayang terakhir yang terbang senja itu
paralayang terakhir yang terbang senja itu

 

Cukup puas melihat sisa-sisa semburat sunset di langit Kota Batu, menikmati pemandangan kota dari atas, melihat lampu-lampu yang perlahan menyala, berkelap-kelip seperti kunang-kunang yang sangat banyak. Di kejauhan, bayangan Gunung Welirang terlihat sangat gagah berdiri.

 

suka banget dengan siluet senja seperti ini
suka banget dengan siluet senja seperti ini

 

bayangan itu....
bayangan itu….

 

night landscape Kota Batu
night landscape Kota Batu

 

Hari yang semakin malam dan gelap akhirnya memaksa kami untuk meninggalkan Gunung Banyak. Eits, jangan lupa, besok subuh kita akan menjelajahi Bromo, mari pulang, jangan sampai besok kesiangan bangunnya.

Sebelum meninggalkan Kota Batu, kami singgah dulu ke Ketan Legenda. Tapi sepertinya Iyus, Windy dan Devin tidak berselera untuk mencoba jajanan ketan yang ngehits ini. Jadilah saya dan Ciwi yang antri untuk mencicipinya.

 

Pos Ketan Legenda - 1967 beneran enak ternyata..... #jilatbibir
Pos Ketan Legenda – 1967
beneran enak ternyata….. #jilatbibir

 

ketan duren - ketan susu keju - ketan item
ketan duren – ketan susu keju – ketan campur

 

Ternyata, teman-teman ingin makan malam yang mengenyangkan. Ok, kita singgah ke pujasera. Yuk, makan yang bikin kenyang.

Udah selesai makan, kenyang, mari kita pulang ke Malang. Siap-siap istirahat, dan jangan sampai kesiangan ya bangunnya…. Ingat lho, jam 12 malam kita akan dijemput mas Bidin untuk jalan-jalan ke Bromo.

Makasih mas Dani, yang udah jemput dan nganterin wiskul-wiskul keliling Malang dan Batu.

 

 

Note: thanks to Ciwi, Devin, Iyus, Windy untuk foto-fotonya

 

 

Sempu, Surga yang Tersembunyi

396861_4332885725403_470012920_a

 

Menyambung cerita keliling Gunung Kelud beberapa waktu yang lalu, dan tengah malam ini pun kami tiba di Pantai Sendang Biru. Badan yang sudah terasa sangat penat bergoyang-goyang di dalam kendaraan sepanjang perjalanan Gunung Kelud – Sempu, membuat saya ingin segera meluruskan punggung.

Kami tiba di Pantai Sendang Biru yang berhadapan dengan Pulau Sempu di tengah malam menjelang subuh. Dan kami telah dinanti oleh 3 buah tenda yang terlihat sangat nyaman (yah, karena hari ini full keliling di dalam kendaraan, dari Stasiun Pasar Turi – Trowulan – Mojokerto – Gunung Kelud, dan sekarang Pantai Sendang Biru). Bersih-bersih dulu ah, abis itu langsung bobok :D

Ambil sleeping bag, terus pasang badan di pojokan tenda, dan saya pun segera terlelap.

 

ini tempat menginap kami semalam
ini tempat menginap kami semalam

 

dan ini, sodara ketenda saya semalam :)
dan ini, sodara satu tenda saya semalam :)

 

Hooooaaaaaaeeemmmmm…. Selamat pagi…… #nguletngulet

Segarnya badan setelah berhasil terlelap sekitar 4 jam. Dan aktivitas pagi ini diawali dengan antri di kamar mandi umum yang ada tidak jauh dari lokasi tenda kami. 1, 2, 3, 4, oke, saya antrian ke-5 di kamar mandi ke-2 dari pojok. Jebar…jebur….. 10 menit beres, terus beres-beres dikit di dalam mobil :D

 

suasana sarapan pagi yang hangat
suasana sarapan pagi yang hangat

 

gimana sarapannya? ikannya sedap yaaaa.....
gimana sarapannya? ikannya sedap yaaaa…..

 

Hari ini siap-siap trekking lagi ke Pulau Sempu.

Sedikit informasi, sebenarnya Pulau Sempu bukanlah sebuah lokasi wisata (ups). Sempu merupakan sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah Selatan Pulau Jawa, secara administratif berada di wilayah Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Pulau Sempu hanya memiliki luas 877 hektar yang ditumbuhi dengan pohon-pohon tropis. Pulau ini merupakan cagar alam yang dikelola oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur dan Departemen Kehutanan Indonesia. Pulau ini diakui sebagai sebuah cagar alam sejak tahun 1928 pada masa pemerintahan Hindia Belanda berdasarkan Besluit van den Gouverneur Generaal van Nederlandsch Indie No : 69 dan No.46 tanggal 15 Maret 1928 tentang Aanwijzing van het natourmonument Poelau Sempoe dengan luas 877 ha.

Selain keputusan pemerintahan pada zaman kolonial, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 417/Kpts-II/1999 tertanggal 15 Juni 1999 juga menegaskan Pulau Sempu sebagai Cagar Alam.

“Cagar Alam adalah suatu kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Sebagai bagian dari kawasan konservasi (Kawasan Suaka Alam), maka kegiatan wisata atau kegiatan lain yang bersifat komersial, tidak boleh dilakukan di dalam area cagar alam. Untuk memasuki cagar alam diperlukan SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi).” — Wikipedia Indonesia tentang Cagar Alam. Jadi, untuk memasuki Pulau Sempu, dibutuhkan Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) yang harus diurus lewat Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Jawa Timur di Surabaya. #semogawaktusayakeSempumemangadaSIMAKSInya

 

Segara Anakan di Pulau Sempu, telaga yang airnya asin karena mendapat limpahan air Samudera Hindia
Segara Anakan di Pulau Sempu, telaga yang airnya asin karena mendapat limpahan air dari Samudera Hindia

 

Pulau ini berbatasan dengan Selat Sempu (Sendang Biru) dan dikelilingi oleh Samudera HIndia di sisi Timur, Barat dan Selatan. Sebagai sebuah cagar alam, sebenarnya Pulau Sempu tertutup untuk umum. Wisatawan dilarang untuk datang dan berkunjung ke Pulau Sempu. Dan saat saya ke sana, saya terus terang tidak mengetahui status Pulau Sempu yang merupakan sebuah cagar alam #toyormyself

Karena kami diinfokan bahwa medan menuju Segara Anakan cukup licin dan basah, kami disarankan untuk menggunakan sandal trekking ataupun sepatu karet yang solnya seperti sepatu bola. Di sekitar Sendang Biru banyak warung-warung yang menyediakan sepatu karet tersebut, dan bisa disewa. Beberapa orang teman yang kebetulan tidak membawa sandal trekking akhirnya memutuskan untuk menyewa sepatu karet supaya nyaman selama perjalanan menuju Segara Anakan.

 

ini sepatuku, mana sepatumu?
ini sepatuku, mana sepatumu? Uwek, Afong, budhe Theresia, dan Sheril saling pamer sepatu

 

Dari Pantai Sendang Biru, saya dan teman-teman menaiki 2 buah perahu kayu untuk bisa mencapai Pulau Sempu. Beruntung Selat Sempu pagi itu sangat bersahabat, nyaris tidak ada gelombang. Dan tanpa berlama-lama, saya dan teman-teman pun tiba di Pulau Sempu.

 

ayo, buruan naik ke perahu
ayo, buruan naik ke perahu

 

perjalan ke Sempu yang penuh ketawa-ketawa
perjalan ke Sempu yang penuh ketawa-ketawa

 

Turun dari perahu kayu, kaki saya langsung menyentuh pasir bercampur lumpur di salah 1 sudut Pulau Sempu. Di depan saya terlihat berbagai jenis pepohonan tropis yang tidak terlalu rapat, sehingga kami masih bisa melihat sebuah jalan setapak kecil mengarah ke tengah pulau.

 

ini nih "dermaga" sebelum memasuki "hutan" Sempu tapi ini foto kami setelah menjelajahi Sempu, narsis sembari menunggu perahu menjemput
ini nih “dermaga” sebelum memasuki “hutan” Sempu
tapi ini foto kami setelah menjelajahi Sempu, narsis sembari menunggu perahu menjemput

 

Dipandu mas Dani, yang merupakan seorang trip organizer dari Kota Malang, perlahan kami pun memasuki Pulau Sempu. Memasuki hutan (yah, saya lebih suka menyebutnya hutan karena pepohonan yang ada di sana sangat banyak dan beraneka macam + ukuran), kami disuguhi tanah becek yang licin karena sedikit gerimis. Saya berjalan mengikuti rombongan dengan sangat hati-hati kalau tidak ingin jatuh terjerembab di tanah licin yang kadang memberikan bonus sebuah kubangan kecil.

 

biarpun harus gedebag gedebug jatuh bangun, eksis tetep harus dong yaaa....
biarpun harus gedebag gedebug jatuh bangun, eksis tetep harus dong yaaa….

 

medannya ajip yaaaa....... semangat!!!
medannya ajip yaaaa……. semangat!!!

 

hihihihi.... pegangan biar ga ngglinding :p
hihihihi…. pegangan biar ga ngglinding :p

 

Selama perjalanan, hidung saya disuguhi wangi tanah basah lengkap dengan harum dedaunan. Membuat saya dengan rakus berusaha memenuhi paru-paru ini dengan kesegarannya. Kaki melangkah perlahan menyesuaikan dengan medan yang terpampang luas di depan mata. Ups, badan saya sedikit berayun ketika tiba-tiba kaki saya terpeleset dan berakhir dengan kaki kanan yang mendarat manis pada sebuah kubangan kecil, yang untungnya (masih untung) hanya berair sedikit. Tangan pun harus sigap mencari sesuatu yang bisa dipegang/digayuti sepanjang jalan agar tidak gedebug jatuh :D

 

mau ada pohon besar melintang di depan, hajaaaarrrrr....
mau ada pohon besar melintang di depan, hajaaaarrrrr….

 

Perjalanan menuju Segara Anakan yang ada di Pulau Sempu ini membutuhkan waktu sekitar 1.5 hingga 2 jam, tergantung kecepatan jalan masing-masing. Dan sepertinya kami membutuhkan waktu yang lebih panjang karena terlalu sering berhenti…….. Kecapekan? Oh NO!!! Kami berhenti untuk…….. foto-foto :D

 

yeeeaaaahhhhhh..... we are here!!!
yeeeaaaahhhhhh….. we are here!!!

 

Dan finally, di depan saya melihat sebuah telaga bening yang dikelilingi tebing batu, yang berbatasan dengan samudera luas. Yah, Segara Anakan!

Kalau saja ga ingat dengan posisi kami yang masih di atas tebing, dan perlu beberapa langkah lagi untuk turun menuju hamparan pasir putih dan telaga itu, ingin rasanya saya lari dan segera menceburkan diri ke dalam telaga. Setelah sedikit bersusah-susah menuruni tebing, dibonusin kepeleset dan sedikit baret-baret di ke-2 tangan, akhirnya saya tiba di hamparan pasir putih itu. Pasirnya haluuuuuuuuusssssssss……. Dan yang bikin ga bisa menahan diri itu adalah godaan air jernih di Segara Anakan. Tanpa berpikir lama, saya segera meletakkan tas, kamera dan seluruh barang bawaan di pasir dan kemudian menghambur nyebur ke telaga, segeeeeeeeeeeeeeeeeeeerrrrrrrr…………

 

copot sandal, teruuuuuusssss..... nyebuuuuurrr.....
copot sandal, teruuuuuusssss….. nyebuuuuurrr…..

 

baru di pinggir segaranya aja udah kayak gini ekspresi kita ya mbak Kim....
baru di pinggir segaranya aja udah kayak gini ekspresi kita ya mbak Kim….

 

wkwkwkwkwkwkwk....... lupa umur kalo udah main air :D
wkwkwkwkwkwkwk……. lupa umur kalo udah main air :D

 

Tanpa perlu dikomando, teman-teman yang lain pun langsung berebutan terjun ke dalam telaga. Air di Segara Anakan jernih, sehingga saya bisa melihat dasar berpasirnya. Melupakan umur, kami pun bermain bagaikan anak kecil yang dilepas bermain di tengah hujan. Seruuuuuuu…..

 

lupa umur :D
lupa umur :D

 

liat deh kelakuannya :D
liat deh kelakuannya :D

 

Main air rame-rame, saling siram dan simbur, walhasil basah kuyup dan akhirnya berendam lah kami sebatas leher di Segara Anakan.

 

horeeeeee.......
horeeeeee…….

 

Saya sangat menyukai suasana di sekitar Segara Anakan. Pasir putih yang halus, kecipak air di dalam telaga dan suara hempasan ombak di tebing batu yang memisahkan Segara Anakan dengan Samudera Hindia. Sesekali air laut masuk ke dalam segara melalui sebuah celah di tebing batu karang yang menghadap ke samudera.

 

kelakuan :p :p
kelakuan :p :p

 

yeeeeaaaahhhhh!!!
yeeeeaaaahhhhh!!!

 

yang ga mau ikut basah-basahan, duduk anteng di pasir
yang ga mau ikut basah-basahan, duduk anteng di pasir

 

Beberapa teman memutuskan untuk menaiki tebing batu karang untuk melihat Segara Anakan dari atas. Saya? Ga mau kalah, saya ikutan juga walau ga sampai di puncak karena males, soalnya tangan dan kaki sudah lumayan penuh baret-baret akibat tergores karang.

 

naik ke tebing hanya untuk foto-foto :p
naik ke tebing hanya untuk foto-foto :p

 

Yeeeeaaaayyyy.... I'm here!!!
Yeeeeaaaayyyy…. I’m here!!!

 

Dilihat dari atas tebing batu, Segara Anakan bagaikan kolam yang luas di tengah-tengah hutan yang hijau (semoga Sempu selalu terjaga).

 

Segara Anakan di Pulau Sempu, telaga yang airnya asin karena mendapat limpahan air Samudera Hindia
Segara Anakan di Pulau Sempu, telaga yang airnya asin karena mendapat limpahan air Samudera Hindia

 

Yes, saya ada di Sempu
Yes, saya ada di Sempu

 

Puas foto-foto di atas tebing, kami pun turun dan bersiap-siap untuk kembali ke Sendang Biru. Belum apa-apa sudah terbayang medan yang pastinya tambah licin karena selama perjalanan kami menuju Segara Anakan, gerimis turun dengan setianya.

Mari kita semangat, menjelajah hutan lagi menuju perahu…. Tapi, sebelum pulang kami masing-masing mengeluarkan kantong plastik untuk memunguti sampah yang ada. Ini bukan pencitraan, tapi emang beneran, saya dan teman-teman agak miris dengan kondisi di sekitar Segara Anakan yang mulai dipenuhi dengan sampah. Dan tanpa janjian, ternyata kami masing-masing sudah menyiapkan plastik sebagai wadah sampah.

Jadilah di siang menjelang sore itu kami menutup acara senang-senang kami di Sempu dan Segara Anakan dengan memunguti sampah yang kami temui. Lumayan banyak sampah yang berhasil kami kumpulkan, adalah sekitar 5 kantong plastik besar. Sedih liatnya :(

 

lututnya lemes... pp Sendang Biru - Segara Anakan :D
lututnya lemes… pp Sendang Biru – Segara Anakan :D

 

Sepanjang perjalanan pulang pun, kami masih memunguti sampah yang kami temui. Yah, mungkin ini tidak seberapa dengan banyaknya sampah yang ada, tapi kami hanya ingin sedikit berbuat yang lebih baik. Dan perjalanan pulang menjadi semakin panjang waktunya, karena selain memungut sampah, kami juga tetap eksis, narsis, foto-foto :D

 

hai Pantai Sendang Biru.... kami kembali....
hai Pantai Sendang Biru…. kami kembali….

 

Tiba di Pantai Sendang Biru, kami disambut pemandangan bocah-bocah kecil yang sedang bermain bola, ah…… menyenangkan…..

 

begitu sampai di Sendang Biru, liatnya ini...... ikutaaaaaannnnn.... #laringejarbola
begitu sampai di Sendang Biru, liatnya ini…… ikutaaaaaannnnn…. #laringejarbola

 

 

Note: makasih untuk Rika, mas Sigit, budhe Kim, plus teman-teman yang udah share foto selama di sana. Fotonya pinjem yaaaaa…..

2014 Diengers Goes to Bromo – #5 Di Malang Numpang Bobo Doang


courtesy by mas Ahmad


Beres basah-basahan di air terjun Madakaripura (teman-teman sih yang basah-basahan, saya ga ikutan :D), kami segera melanjutkan perjalanan, malam ini kami mau numpang bobo di Malang :D
Tapi…… sepertinya ada yang teriak-teriak ini… #pegangperut #koklaperya
Dan memang mas Bidin sangat pengertian, kami langsung diajak melipir ke RM. Rawon Nguling, di Jalan Zainal Arifin No. 62, Malang. Menurut informasi, ini adalah rawon kesukaannya ibu Megawati, mantan presiden kita. Oh iya, dari Madakaripura ke Malang ditempuh dalam 2-3 jam ya…. :D


minumnya yang nyantai aja masbro, jangan buru-buru :p
courtesy by Iyus

itu apa ya yang lagi ditunjukin sama mas Bidin???
courtesy by Iyus



Dan malam itu, akhirnya kami me-rawon nguling bareng sambil becandaan.

Hmm….. perut udah kenyang, mari kita kemon ke penginapan. “Mas Bidin, kita nginep di mana ya??? Udah berat nih matanya… “.


Naik lagi ke bis mini, trus bobo :D

Bis mini melanjutkan tugasnya menggelinding menuju penginapan (ssstttt… saya ga tau lewat mana aja itu jalannya dari Rawon Nguling, yang jelas, begitu buka mata, bis mini udah berhenti di halaman sebuah guesthouse).


Sekitar jam 11 malam, akhirnya kami tiba di depan Guest House Lily. Dari depan sih ga kelihatan seperti penginapan, karena bangunan guest house ini nyempil di antara pertokoan yang ada di komplek Pasar Besar Square. Bangunan serupa ruko dengan dominasi warna putih gading dan ungu ini berlantai 3, dengan 21 kamar yang memiliki kategori twin sharing, king size dan triple bed. Dan harga kamarnya pun cukup murah, untuk twin sharing harga per malamnya adalah Rp 150.000.



Guest House Lily, tempat kami menginap malam itu
courtesy by http://www.nunuelfasa.com/2014/08/lily-guest-house-harga-homstay.html


Dengan mata yang masih setengah merem, saya kemudian menggendong carrier ke arah pintu guest house. Menunggu mas Bidin yang sedang mengurus check-in nya kita. Kami diinformasikan bahwa kamarnya ada di lantai 2. Sesampainya di lantai 2, ada seorang bellboy yang sudah menunggu dan membagikan kunci kamar. Tadinya saya dan Windy kebagian kamar di lantai 2 ini, tapi tiba-tiba mbak Yuli dan Nanda nanya, kamar mereka yang mana? Ups!
Akhirnya saya dan Windy rembugan, gimana kalau kamar di lantai 2 ini dikasiin aja ke mbak Yuli, sementara saya dan Windy pindah ke kamar yang di lantai 3. Kasian juga kan mbak Yuli dan Nanda (yangg masih belum sehat itu kalau harus naik tangga ke lantai 3).
Windy setuju, dan akhirnya kami pindah ke kamar di lantai 3.



fasilitas LED TV di tiap kamar
courtesy by http://www.nunuelfasa.com/2014/08/lily-guest-house-harga-homstay.html



wastafel, shower dan toilet duduk
courtesy by http://www.nunuelfasa.com/2014/08/lily-guest-house-harga-homstay.html
ini kamar saya dan Windy, sebenarnya sih tadinya Windy mau saya suruh tidur di luar aja :p

Saya dan Windy kalau tidak salah mendapatkan kamar nomor 313, twin sharing di dekat tangga.
Nah… waktu pembagian kamar ini, ada insiden yang akhirnya bikin kita ketawa-ketawa pas tau ceritanya. Jadi…. waktu saya dikasi kunci kamar 313, saya dan Windy langsung masuk aja, udah ga ngeh dengan situasi yang lain. Karena saya lihat Iyus, mas Ahmad dan Ivan sepertinya sudah mendapatkan kamar persis di sebelah kamar kami. Aman lah ya…
Baru sampe kamar, trus rebahan di kasur, ngelurusin punggung, tiba-tiba pintu kamar saya diketok dari luar. Mas Bidin!
“Lho, ada apa mas?” tanya saya.
Ternyata ada kekeliruan di front desk mengenai pesanan kamar kami.
Seharusnya, kami mendapatkan 7 kamar termasuk kamarnya mas Bidin, ternyata… di front desk tercatatnya hanya 6 kamar. Dan hasilnya, ternyata…… mas Ahmad ga kebagian kamar :D
Akhirnya malam ini mas Ahmad buka 1 kamar lagi (ukurannya king size euy…) yang letaknya di sebelah kiri kamar saya dan Windy.
Trus mas Bidin bilang, untuk konfirmasi kamar yang sudah dipesan, besok pagi biar dia yang urusin dengan bagian front desk hotel. Yang penting malam ini semua bisa istirahat.



ini nih yang kebagian kamar king size, tapi denger-denger bobonya ngungsi ke kamar Iyus + Ivan ya? :p
courtesy by mas Ahmad


Waktu saya dan mas Bidin diskusi soal ini, ada yang lucu, Iyus dan Ivan ikut ngedengerin dengan mata yang udah 3/4 tertutup, kerudungan selimut putih. Setelah pulang, mereka saya tanya, waktu itu ngeh ga sih? Dan dua-duanya menjawab “Waktu itu kita udah ga ngeh lho kamu ngomong apa sama mas Bidin, udah ga kedengaran” wkwkwkwkkwkwk…..


Malam itu akhirnya bisa bobo enak, badannya lurus… rus… rus… nyenyaaaaaakkkkkk….
Dan paginya, saya bangun dengan badan yang jauh lebih segar.


Fasilitas di Guest House Lily:
– AC yang dingin banget (sempet dikecilin temperaturnya karena saya dan Windy kedinginan);
– TV LED;
– kamar mandi yang dilengkapi dengan shower, toilet duduk dan wastafel.


Selamat pagi Malang……… #sambilngulet

Karena malamnya saya sudah packing rapi, pagi itu abis mandi, saya hanya perlu memasukkan toiletries ke dalam carrier, dan siap turun ke lobi.
Eh tapi…… Windy blom beres nih, nungguin dulu bentar ya…..

Windy udah beres, kemudian kami turun ke lobi. Dan ternyata teman-teman yang lain udah pada siap di lobi. Malah mereka udah leyeh-leyeh di sofa nungguin saya dan Windy :D #nyengirlebar



tampang-tampang yang nungguin saya + Windy pagi itu :D
online teruuuuuuuusssss…….
courtesy by ma Ahmad
mukanya serius amit itu ngeliatin henponnya?
courtesy by mas Ahmad



“yang, aku masih mau ke Batu ya… oleh-olehnya nanti aja kalo nemu” :p
courtesy by mas Ahmad



Selesai urusan di front desk, termasuk konfirmasi masalah kamar mas Ahmad, akhirnya kami pun kembali menaiki si bis mini untuk menuju destinasi terakhir kami di trip Bromo ini. Tapi sebelumnya, kita sarapan dulu yaaaaaa…….. Lapeeeeeeeerrrrr…….



sarapan murah meriah di Pecel Kawi, enak…….. (pake bingits)



Pagi itu, di Malang, kami sarapan di Pecel Kawi yang terkenal itu. Nasi pecel + telor dan udang goreng jadi pilihan saya pagi itu, ditambah segelas teh manis hangat. Hmm….. yummy banget!!!


bersih! ga tau laper, apa doyan itu? :D
inget-inget Ndin….
RPM, body pump, body combat :p






















Udah kenyang, sekarang mari kita teruskan perjalanan….. let’s go to Batu. Ceritanya hari ini mau panen Apel (kapan nanemnya ya? :p) dan mengunjungi piaraan-piaraan di Museum Satwa yang ada di Batu. Hayuk ah kita kemon…… 

2014 Diengers Goes to Bromo – #1 Rusuhnya Berangkat Kali Ini




Seperti sudah menjadi agenda rutin di grup Diengers, sejak awal tahun 2014 kami sudah mulai ribut mikirin “Tahun ini kita liburan ke mana?”

Tercetus lah di grup, BROMO!
Mulai melihat-lihat kalender, dan mata berbinar melihat banyaknya ‘harpitnas’ di penghujung Bulan Mei tahun ini.
Seperti biasa, saya kebagian harus mantengin Internet untuk mencari tiket jalan-jalan murah tahun ini.
Ok deh…..
Karena tujuannya Bromo, akhirnya saya mulai deh mantengin web-nya PT. KAI, mencari tiket kereta ekonomi, Jakarta – Malang pp.
Karena tiket kereta baru dijual pada H-90, di Bulan Maret saya mulai lah buka-buka website-nya, dan taraaaaaaaaaa….. tiket kereta Malang – Jakarta untuk tanggal yang sudah disepakati hanya tersisa 45 seat saja!!!
Dengan sedikit tergesa-gesa, saya booking tiket balik dari Malang ke Jakarta untuk tanggal 30 Mei 2014. Sementara tiket perginya menurut saya masih aman, karena masih tersisa 400 sekian seat.
Sip, tiket pp aman.
Selanjutnya, menghubungi mas Dani untuk arrange trip selama di Malang.
Ssstttt…. kali ini maunya jalan-jalan murah yang enak, jadi minta arrange dengan teman yang kebetulan memiliki Trip Organizer di Malang, www.ourtrip1st.com

H-2 baru lari-lari ke Stasiun Kota untuk nge-print tiket untuk berangkat dan pulang
dan….. 14 lembar tiket pun siap
tiketnya siap….. (tiket baru dipoto setelah pulang :D)
Menunggu tanggal 27 Mei itu lama ya……….
Setelah menunggu sekitar 3 bulan, akhirnya hari dan tanggal yang ditunggu-tunggu datang juga.
Yup! Selasa, 27 Mei 2014.
Menurut tiketnya, kereta akan berangkat jam 13.40 wib.
Saya sudah teriak-teriak di grup supaya teman-teman ga telat sampe di stasiunnya.
Berhubung ini kereta ekonomi, maka kami akan berangkat dari Stasiun Pasar Senin.
baru kelar packing jam 10 pagi,
jam 13.40 berangkat, mantap!! :D


Eh, saya buka rahasia nih, untuk trip kali ini, saya baru beres packing jam 9 pagi sebelum berangkat.

Tadinya Senin malam itu mau diberesin packing-nya, tapi apa daya, badan capek banget, jadi lah dengan suksesnya packing-an yang baru 50% itu dibiarkan berserakan di lantai kamar, dan saya tidur dengan pules :D
Jam 9 pagi, masih sempet tek-tok-tek-tok di grup, bahkan saya sempet diejekin karena sampai jam 10 pagi masih gogoleran di kasur setelah beres packing, dan belum ada niatan mandi :D hehehehehehe…..
Begitu jam menunjukkan pukul 10.30, baru deh ngibrit ke kamar mandi.
Udah mandi, udah seger, trus pesen makan sambil nunggu Windy yang akan nyamper ke kost dan kita akan berangkat bareng.

Eh, di grup, jam 11.30 itu Ivan udah sounding kalo dia udah sampe di stasiun! Wewww…..
Beres maksi bareng Windy, baru deh saya berangkat ke stasiun.
Awalnya perjalanan lancar banget. Eh, begitu sampe di depan stasiun, kenapa jadi mandeg begini???
Taxi yang saya dan Windy tumpangi berhenti persis di depan pintu masuk stasiun karena kemacetan akibat ramainya traffic siang itu.
Perlu waktu kira-kira 10 menit untuk mencapai halaman stasiun Pasar Senen.
Baru juga turun dari taxi, jreng… jreng…
Ternyata rame banget ini yang mau berangkat. Dan rata-rata adalah anak muda dengan carrier segede gaban dengan dandanan khas pendaki gunung (celana cargo, baju kaos, ikat kepala/topi, sepatu hiking, gulungan matras, dan teman-temannya).
Kebayang nanti di dalam gerbong :D
ini baru di Stasiun Pasar Senen,
ramenya beeeuuudddhhhhh…..


Celingak-celinguk nyariin teman-teman yang udah duluan sampe di stasiun, berbekal info di grup bahwa mereka ngumpul di dekat salah satu gerai minimarket, eh… itu Ivan!

“Mana yang lain Van?” tanya saya sambil masih tetap celingukan.
Ivan cuma nunjuk ke arah kerumunan manusia di dekat pintu masuk “Tuh, di situ”.
Saya belum liat sih siapa yang ditunjuk Ivan, tapi tetap aja jalan ke arah itu.
Ternyata….. semua udah pada ngumpul, Iyus, mas Ahmad, Andin, Gita.
Hihihihihihi…. ternyata saya dan Windy yang terakhir datang ya??? #sungkem
Nungguin jam 13.40 berasa lama ya….
Dan akhirnya “Kereta api Matarmaja dengan tujuan akhir Malang akan berangkat pada jam 13.40. kepada seluruh penumpang diharapkan segera naik ke kereta”.
Yeaaaaayyyyy, kita berangkat!!!
Oh iya, kali ini ada 5 teman baru yang gabung di liburannya Diengers. 2 orang itu teman saya waktu ke Peucang (Adek dan Mieke) trus ada mbak Yuli dan Nanda (anaknya) plus mbak Een yang nanti nunggu kami di Malang. Jadi total liburan kali ini 12 orang!
Cuma, karena Adek bilang mau barengannya setelah saya beli tiket, jadi lah kami naik kereta yang sama, tapi beda gerbongnya. Dan di stasiun pun ga sempat ketemu saking ramenya (nanti ketemu di Malang aja ya Dek…).
Pengalaman pertama naik kereta ekonomi yang berangkatnya siang bolong, ternyata…… panaaaaaaaassssss……. pake bingits!!!
Ketemu nomor seat yang udah saya booking, begitu liat kompartemen di atas kabin, mau nyimpen carrier, ya ampun…. kenapa udah penuh begitu???
Pasang tampang lempeng, saya tegur aja sekelompok mas-mas di seat sebelah yang ribut ejek-ejekan karena carrier mereka menuh-menuhin kabin “Mas, carrier-nya bisa digeser? Ini nomor seat saya dan teman-teman. Kami mau pake kompartemennya untuk nyimpen carrier juga”.
Langsung deh tu mas-mas beresin carrier-carrier mereka yang segede gaban.
Udah atur-atur carrier, tetap aja ya… carrier saya kudu nyelusup di bawah tempat duduk karena kompartemen di atas ga cukup.
Huft… ya sudah lah, ga papa (mama ajah :D).
Baru juga kereta mulai jalan, haduuuuuuuhhh… panasnya ga nahan….
Kipas sana, kipas sini.
Tapi teuteup aja…. begitu kumpul, cerita-cerita, ejek-ejekan, ceng-cengan, ahahahahahaha….
Saya sendiri sangat menikmati suasana itu.
Melepas semua atribut keseharian, yang ada hanya rasa senang dan gembira.
Beneran, kalo jalan bareng Diengers ini, berasa jalan bareng keluarga deh #pelukinsatusatu
Perjalanan selama kurang lebih 17 jam, terguncang-guncang di dalam kereta yang penuh sesak, cukup panas, akhirnya terlewati dengan sukses.
Walaupun waktu malam ada insiden grepa grepe-nya Gita :p
Blom lagi foto-foto candid 1001 ekspresi waktu tidur.
Ah, ga ada yang bener ini fotonya :p


bobonya udah tumpang tindih begono :D
pules…. less……
hiiii… iyus ilang tangannya :p
yang berdedikasi tinggi kayak gini nih…
liburan aja masih mantengin email kantor :p :p :p





*note: ini dari kamera/hp siapa saja kah??? 


Dan akhirnya………. Malang, here we come!!!
(wah, lupa… kemarin sampe di stasiun Malang ga ada 1 pun yang ngeluarin kamera/HP untuk foto-foto)
Saya, yang pegang contact person TO langsung deh telepon-telepon.
Ternyata mas Bidin (bukan mas Dani yang nge-lead, karena dia lagi ke Togean! Baca sekali lagi, TOGEAN! Betapa ga sopannya ya…. saya dan teman-teman ditinggal ke Togean :( ) masih on the way ke stasiun.
Berasa anak ilang, ngedeprok di halaman stasiun, dengan tampang kucel, kumel, lecek, muka berminyak, lusuh, dan segambreng carrier :D
Akhirnya mas Bidin sampe juga, horeeeee…. Let’s start our journey!!!


sampe di Stasiun Malang, nungguin mas Bidin yang mau jemput
“mas Bidin, where are you???” #teriakpaketoa

Ok, tujuan pertama kali ini adalah Mesjid Tiban di daerah Turen.
Ini katanya mesjid ajaib, karena ga ketauan waktu pengerjaannya, tau-tau udah berdiri dengan megahnya.
Tapi, menurut informasi dari pihak pesantren di lingkungan Mesjid Tiban, karena mesjid ini didirikan secara swadaya, dikerjakan sendiri oleh santri-santri yang mondok di pesantren, maka pembangunannya tidak terekspos oleh masyarakat sekitar.
Perjalanan dari Stasiun Malang ke Mesjid Tiban kurang lebih 1 jam.
Mau liat seperti apa bentuk mesjid ajaib ini???


sampe di mesjid, transaksi dulu :D hihihihihihihi… (itu kita lagi ngapain ya Yus, Van? )
dan itu yang namanya mas Bidin, guide yang sabar banget ngadepin kelakuan Diengers :))
courtesy by mas Ahmad



Kompleks Pesantren Salafiah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah

Cerita dikit, Mesjid Tiban ini letaknya di dalam kompleks Pesantren Salafiah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah, Turen, Malang.
Mesjid dengan dominasi warna putih dan biru, dengan kaligrafi menghiasi hampir seluruh permukaan dindingnya.

 
suka banget liat detil interiornya, keren
Saya dan teman-teman sempat keliling di kompleks pesantren ini.
Menaiki bangunan yang serupa dengan mesjidnya, dengan dominasi warna putih dan biru, berlantai 10, yang merupakan bangunan pondok pesantren.

 
ini juga, kaligrafi Al-Qur’an menghiasi seluruh interior bangunan pesantren
 
 
Saya seriously terkagum-kagum dengan arsitektur bangunan ini.
Setiap detil terlihat begitu indah. Dan saya ga merasa mengelilingi sebuah bangunan/ruangan, tapi mengelilingi sebuah hutan kecil dengan berbagai bangunan cantik di dalamnya.
Kenapa saya bisa bilang begitu? Karena di setiap lantai, interiornya berbeda-beda, dengan nuansa pepohonan, akuarium, singgasana berwarna kuning emas dengan undak-undakan tinggi, dan masih banyak lagi.
sampai pilar yang ada di taman pun detilnya bagus
Diengers-nya ga kumplit
courtesy by mas Ahmad

 

lagi-lagi ga kumplit
courtesy by mas Ahmad

 

nambah 2, ilang 1 :p
courtesy by mas Ahmad
rada komplit, minus Iyus
courtesy by Iyus
mimbar ini aslinya bagus banget!
girls only
courtesy by Iyus

Selesai mengelilingi kompleks pesantren, perjalanan dilanjutkan.
Kali ini destinasinya akan bikin saya dan teman-teman mandi cahaya matahari. Yes! kami akan ke pantai!