Category Archives: liburan keluarga

Liburan yang Anti Mainstream – Nonton Wayang Tavip “Nenek Moyangku Seorang Pelaut”


Ini kali ke-3 saya mengisi akhir pekan untuk kegiatan yang tidak biasa. Mencoba membiasakan diri dengan kegiatan yang anti mainstream. Yup! Sudah 3 bulan ini, saya selalu menghadiri pertunjukan Teater Koma di Museum Nasional. Dan di akhir pekan di Bulan September ini, saya datang untuk menyaksikan pertunjukan Wayang Tavip yang berjudul “Nenek Moyangku Seorang Pelaut”.
Judulnya memang pertunjukan wayang, tapi jangan salah, wayang di sini bentuknya akan sangat berbeda dengan wayang yang umumnya kita ketahui. Pertunjukan dari Teater Koma ini menggunakan wayang Tavip. Apa itu wayang Tavip?
Wayang Tavip adalah wayang yang merupakan kreasi dari M. Tavip, seorang dosen jurusan teater di STISI Bandung, pada tahun 1993. Dulu, dikenal dengan nama Wayang Motekar. Wayang ini menggunakan media khusus semacam plastik keras yang transparan, sehingga bisa diwarnai. Pembuatan wayang ini menggunakan teknologi khusus, di mana bahan yang telah digambar dengan tokoh yang diinginkan kemudian diberi warna sehingga terlihat lebih menarik.
Nah, kali ini lakon yang dimainkan oleh Teater Koma berjudul “Nenek Moyangku Seorang Pelaut”.

dialog antara kakek dan 3 pemuda tentang kapal dan laut

Tidak ada panggung untuk pertunjukan, hanya sebuah kain putih yang menggantung dari plafond salah satu pojok lantai 2 yang terdapat di gedung baru Museum Nasional. Dan di pagi menjelang siang itu, saya hampir saja terlambat untuk menyaksikan pertunjukan Wayang Tavip. Ketika saya tiba di lantai 2 Museum Nasional, pengunjung sudah memenuhi spot yang menjadi tempat pertunjukan. Duduk melantai dengan santai di depan kain putih yang berfungsi sebagai layar. Sebuah lampu sorot sudah menyala dari belakang kain putih itu.

Kisah dimulai dengan adegan 3 orang pemuda yang bercita-cita menjadi pelaut berbincang dengan seorang kakek, yang ternyata adalah mantan pelaut. Dengan balutan humor segar, sang kakek memberikan penjelasan mengenai kelautan di Indonesia kepada ke-3 pemuda itu. Termasuk kelengkapan yang wajib ada di sebuah kapal. Apa tugas dari Mualim 1, Mualim 2, dan Mualim 3. Sebenarnya, saya juga baru tahu saat itu bahwa tugas masing-masing Mualim di dalam sebuah kapal itu berbeda-beda. Mualim 1, bertanggung jawab terhadap semua kelengkapan wajib yang harus ada di dalam sebuah kapal; Mualim 2 bertanggung jawab terhadap arah dan rute perjalanan, termasuk harus sangat paham terhadap ilmu pelayaran dan navigasi; serta Mualim 3 yang bertanggung jawab terhadap logistik.


jadi, belajar juga bisa lewat media seperti ini, santai tapi berbobot


penjelasan dari sang kakek mengenai sektor bahari Indonesia sangat bagus


Kemudian sang kakek menjelaskan berbagai macam jenis kapal yang ada di Indonesia, seperti Kapal Pinisi, Jukung, Lumbung, Gubang, Perahu Bajau, Perahu Sapit, dan lain-lain. Dan di layar pun terlihat beberapa bentuk perahu tradisional tersebut dengan warna-warnanya yang menarik.


pengenalan berbagai macam perahu/kapal dari berbagai daerah di Indonesia


mulai dari perahu Pinisi, Bajau, Sapit, dan lain-lain


Selain bercerita tentang jenis-jenis perahu yang ada di Indonesia, sang kakek juga bercerita, bahwa menjadi “orang laut” dituntut untuk siap menghadapi segala macam kondisi yang mungkin terjadi pada saat berlayar, salah satunya harus siap seandainya bertemu dengan bajak laut. Pada bagian ini, sekilas sang kakek bercerita tentang Malahayati, seorang bajak laut wanita yang terkenal dan ditakuti di sekitar Selat Malaka. Jadi, dulu itu, bajak laut bukan hanya lelaki, namun wanita juga ada yang jadi pimpinannya. 


“orang laut” harus siap dengan berbagai resiko yang mungkin dihadapi,
salah satunya adalah ketemu bajak laut
penggambaran akan sosok Malahayati, pelaut wanita yang terkenal di seantero  Selat Malaka


Dan pertunjukan hari itu ditutup dengan adegan sang kakek mengajak ke-3 orang pemuda itu untuk mulai berlayar menggunakan sebuah perahu diiringi lagu “Nenek Moyangku Seorang Pelaut” yang dinyanyikan secara bersama-sama oleh seluruh pengunjung dengan tepuk tangan yang berirama.


Nenek moyangku orang pelaut, gemar mengarung luas samudraMenerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa

Angin bertiup layar terkembang, ombak berdebur di tepi pantaiPemuda b’rani bangkit sekarang, ke laut kita beramai-ramai

pertunjukan diakhiri dengan ajakan sang kakek untuk berlayar

… menerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa …

Di akhir acara, seluruh pendukung pertunjukan muncul dari belakang layar, termasuk dalangnya, yang ternyata adalah Bapak M. Tavip! Wuih….. keren!!!




dan…. ini lah wayang-wayang yang tadi dimainkan…
seluruh pendukung acara, termasuk pak dalangnya

ini bapak dalangnya, bapak M. Tavip

3x pertunjukan, penontonnya rame terus

tuh lihat, antusias yang nonton

menghabiskan akhir pekan, ga harus jalan-jalan ke mall kan???


2014 Diengers Goes to Bromo – #5 Di Malang Numpang Bobo Doang


courtesy by mas Ahmad


Beres basah-basahan di air terjun Madakaripura (teman-teman sih yang basah-basahan, saya ga ikutan :D), kami segera melanjutkan perjalanan, malam ini kami mau numpang bobo di Malang :D
Tapi…… sepertinya ada yang teriak-teriak ini… #pegangperut #koklaperya
Dan memang mas Bidin sangat pengertian, kami langsung diajak melipir ke RM. Rawon Nguling, di Jalan Zainal Arifin No. 62, Malang. Menurut informasi, ini adalah rawon kesukaannya ibu Megawati, mantan presiden kita. Oh iya, dari Madakaripura ke Malang ditempuh dalam 2-3 jam ya…. :D


minumnya yang nyantai aja masbro, jangan buru-buru :p
courtesy by Iyus

itu apa ya yang lagi ditunjukin sama mas Bidin???
courtesy by Iyus



Dan malam itu, akhirnya kami me-rawon nguling bareng sambil becandaan.

Hmm….. perut udah kenyang, mari kita kemon ke penginapan. “Mas Bidin, kita nginep di mana ya??? Udah berat nih matanya… “.


Naik lagi ke bis mini, trus bobo :D

Bis mini melanjutkan tugasnya menggelinding menuju penginapan (ssstttt… saya ga tau lewat mana aja itu jalannya dari Rawon Nguling, yang jelas, begitu buka mata, bis mini udah berhenti di halaman sebuah guesthouse).


Sekitar jam 11 malam, akhirnya kami tiba di depan Guest House Lily. Dari depan sih ga kelihatan seperti penginapan, karena bangunan guest house ini nyempil di antara pertokoan yang ada di komplek Pasar Besar Square. Bangunan serupa ruko dengan dominasi warna putih gading dan ungu ini berlantai 3, dengan 21 kamar yang memiliki kategori twin sharing, king size dan triple bed. Dan harga kamarnya pun cukup murah, untuk twin sharing harga per malamnya adalah Rp 150.000.



Guest House Lily, tempat kami menginap malam itu
courtesy by http://www.nunuelfasa.com/2014/08/lily-guest-house-harga-homstay.html


Dengan mata yang masih setengah merem, saya kemudian menggendong carrier ke arah pintu guest house. Menunggu mas Bidin yang sedang mengurus check-in nya kita. Kami diinformasikan bahwa kamarnya ada di lantai 2. Sesampainya di lantai 2, ada seorang bellboy yang sudah menunggu dan membagikan kunci kamar. Tadinya saya dan Windy kebagian kamar di lantai 2 ini, tapi tiba-tiba mbak Yuli dan Nanda nanya, kamar mereka yang mana? Ups!
Akhirnya saya dan Windy rembugan, gimana kalau kamar di lantai 2 ini dikasiin aja ke mbak Yuli, sementara saya dan Windy pindah ke kamar yang di lantai 3. Kasian juga kan mbak Yuli dan Nanda (yangg masih belum sehat itu kalau harus naik tangga ke lantai 3).
Windy setuju, dan akhirnya kami pindah ke kamar di lantai 3.



fasilitas LED TV di tiap kamar
courtesy by http://www.nunuelfasa.com/2014/08/lily-guest-house-harga-homstay.html



wastafel, shower dan toilet duduk
courtesy by http://www.nunuelfasa.com/2014/08/lily-guest-house-harga-homstay.html
ini kamar saya dan Windy, sebenarnya sih tadinya Windy mau saya suruh tidur di luar aja :p

Saya dan Windy kalau tidak salah mendapatkan kamar nomor 313, twin sharing di dekat tangga.
Nah… waktu pembagian kamar ini, ada insiden yang akhirnya bikin kita ketawa-ketawa pas tau ceritanya. Jadi…. waktu saya dikasi kunci kamar 313, saya dan Windy langsung masuk aja, udah ga ngeh dengan situasi yang lain. Karena saya lihat Iyus, mas Ahmad dan Ivan sepertinya sudah mendapatkan kamar persis di sebelah kamar kami. Aman lah ya…
Baru sampe kamar, trus rebahan di kasur, ngelurusin punggung, tiba-tiba pintu kamar saya diketok dari luar. Mas Bidin!
“Lho, ada apa mas?” tanya saya.
Ternyata ada kekeliruan di front desk mengenai pesanan kamar kami.
Seharusnya, kami mendapatkan 7 kamar termasuk kamarnya mas Bidin, ternyata… di front desk tercatatnya hanya 6 kamar. Dan hasilnya, ternyata…… mas Ahmad ga kebagian kamar :D
Akhirnya malam ini mas Ahmad buka 1 kamar lagi (ukurannya king size euy…) yang letaknya di sebelah kiri kamar saya dan Windy.
Trus mas Bidin bilang, untuk konfirmasi kamar yang sudah dipesan, besok pagi biar dia yang urusin dengan bagian front desk hotel. Yang penting malam ini semua bisa istirahat.



ini nih yang kebagian kamar king size, tapi denger-denger bobonya ngungsi ke kamar Iyus + Ivan ya? :p
courtesy by mas Ahmad


Waktu saya dan mas Bidin diskusi soal ini, ada yang lucu, Iyus dan Ivan ikut ngedengerin dengan mata yang udah 3/4 tertutup, kerudungan selimut putih. Setelah pulang, mereka saya tanya, waktu itu ngeh ga sih? Dan dua-duanya menjawab “Waktu itu kita udah ga ngeh lho kamu ngomong apa sama mas Bidin, udah ga kedengaran” wkwkwkwkkwkwk…..


Malam itu akhirnya bisa bobo enak, badannya lurus… rus… rus… nyenyaaaaaakkkkkk….
Dan paginya, saya bangun dengan badan yang jauh lebih segar.


Fasilitas di Guest House Lily:
– AC yang dingin banget (sempet dikecilin temperaturnya karena saya dan Windy kedinginan);
– TV LED;
– kamar mandi yang dilengkapi dengan shower, toilet duduk dan wastafel.


Selamat pagi Malang……… #sambilngulet

Karena malamnya saya sudah packing rapi, pagi itu abis mandi, saya hanya perlu memasukkan toiletries ke dalam carrier, dan siap turun ke lobi.
Eh tapi…… Windy blom beres nih, nungguin dulu bentar ya…..

Windy udah beres, kemudian kami turun ke lobi. Dan ternyata teman-teman yang lain udah pada siap di lobi. Malah mereka udah leyeh-leyeh di sofa nungguin saya dan Windy :D #nyengirlebar



tampang-tampang yang nungguin saya + Windy pagi itu :D
online teruuuuuuuusssss…….
courtesy by ma Ahmad
mukanya serius amit itu ngeliatin henponnya?
courtesy by mas Ahmad



“yang, aku masih mau ke Batu ya… oleh-olehnya nanti aja kalo nemu” :p
courtesy by mas Ahmad



Selesai urusan di front desk, termasuk konfirmasi masalah kamar mas Ahmad, akhirnya kami pun kembali menaiki si bis mini untuk menuju destinasi terakhir kami di trip Bromo ini. Tapi sebelumnya, kita sarapan dulu yaaaaaa…….. Lapeeeeeeeerrrrr…….



sarapan murah meriah di Pecel Kawi, enak…….. (pake bingits)



Pagi itu, di Malang, kami sarapan di Pecel Kawi yang terkenal itu. Nasi pecel + telor dan udang goreng jadi pilihan saya pagi itu, ditambah segelas teh manis hangat. Hmm….. yummy banget!!!


bersih! ga tau laper, apa doyan itu? :D
inget-inget Ndin….
RPM, body pump, body combat :p






















Udah kenyang, sekarang mari kita teruskan perjalanan….. let’s go to Batu. Ceritanya hari ini mau panen Apel (kapan nanemnya ya? :p) dan mengunjungi piaraan-piaraan di Museum Satwa yang ada di Batu. Hayuk ah kita kemon…… 

2014 Diengers Goes to Bromo – #1 Rusuhnya Berangkat Kali Ini




Seperti sudah menjadi agenda rutin di grup Diengers, sejak awal tahun 2014 kami sudah mulai ribut mikirin “Tahun ini kita liburan ke mana?”

Tercetus lah di grup, BROMO!
Mulai melihat-lihat kalender, dan mata berbinar melihat banyaknya ‘harpitnas’ di penghujung Bulan Mei tahun ini.
Seperti biasa, saya kebagian harus mantengin Internet untuk mencari tiket jalan-jalan murah tahun ini.
Ok deh…..
Karena tujuannya Bromo, akhirnya saya mulai deh mantengin web-nya PT. KAI, mencari tiket kereta ekonomi, Jakarta – Malang pp.
Karena tiket kereta baru dijual pada H-90, di Bulan Maret saya mulai lah buka-buka website-nya, dan taraaaaaaaaaa….. tiket kereta Malang – Jakarta untuk tanggal yang sudah disepakati hanya tersisa 45 seat saja!!!
Dengan sedikit tergesa-gesa, saya booking tiket balik dari Malang ke Jakarta untuk tanggal 30 Mei 2014. Sementara tiket perginya menurut saya masih aman, karena masih tersisa 400 sekian seat.
Sip, tiket pp aman.
Selanjutnya, menghubungi mas Dani untuk arrange trip selama di Malang.
Ssstttt…. kali ini maunya jalan-jalan murah yang enak, jadi minta arrange dengan teman yang kebetulan memiliki Trip Organizer di Malang, www.ourtrip1st.com

H-2 baru lari-lari ke Stasiun Kota untuk nge-print tiket untuk berangkat dan pulang
dan….. 14 lembar tiket pun siap
tiketnya siap….. (tiket baru dipoto setelah pulang :D)
Menunggu tanggal 27 Mei itu lama ya……….
Setelah menunggu sekitar 3 bulan, akhirnya hari dan tanggal yang ditunggu-tunggu datang juga.
Yup! Selasa, 27 Mei 2014.
Menurut tiketnya, kereta akan berangkat jam 13.40 wib.
Saya sudah teriak-teriak di grup supaya teman-teman ga telat sampe di stasiunnya.
Berhubung ini kereta ekonomi, maka kami akan berangkat dari Stasiun Pasar Senin.
baru kelar packing jam 10 pagi,
jam 13.40 berangkat, mantap!! :D


Eh, saya buka rahasia nih, untuk trip kali ini, saya baru beres packing jam 9 pagi sebelum berangkat.

Tadinya Senin malam itu mau diberesin packing-nya, tapi apa daya, badan capek banget, jadi lah dengan suksesnya packing-an yang baru 50% itu dibiarkan berserakan di lantai kamar, dan saya tidur dengan pules :D
Jam 9 pagi, masih sempet tek-tok-tek-tok di grup, bahkan saya sempet diejekin karena sampai jam 10 pagi masih gogoleran di kasur setelah beres packing, dan belum ada niatan mandi :D hehehehehehe…..
Begitu jam menunjukkan pukul 10.30, baru deh ngibrit ke kamar mandi.
Udah mandi, udah seger, trus pesen makan sambil nunggu Windy yang akan nyamper ke kost dan kita akan berangkat bareng.

Eh, di grup, jam 11.30 itu Ivan udah sounding kalo dia udah sampe di stasiun! Wewww…..
Beres maksi bareng Windy, baru deh saya berangkat ke stasiun.
Awalnya perjalanan lancar banget. Eh, begitu sampe di depan stasiun, kenapa jadi mandeg begini???
Taxi yang saya dan Windy tumpangi berhenti persis di depan pintu masuk stasiun karena kemacetan akibat ramainya traffic siang itu.
Perlu waktu kira-kira 10 menit untuk mencapai halaman stasiun Pasar Senen.
Baru juga turun dari taxi, jreng… jreng…
Ternyata rame banget ini yang mau berangkat. Dan rata-rata adalah anak muda dengan carrier segede gaban dengan dandanan khas pendaki gunung (celana cargo, baju kaos, ikat kepala/topi, sepatu hiking, gulungan matras, dan teman-temannya).
Kebayang nanti di dalam gerbong :D
ini baru di Stasiun Pasar Senen,
ramenya beeeuuudddhhhhh…..


Celingak-celinguk nyariin teman-teman yang udah duluan sampe di stasiun, berbekal info di grup bahwa mereka ngumpul di dekat salah satu gerai minimarket, eh… itu Ivan!

“Mana yang lain Van?” tanya saya sambil masih tetap celingukan.
Ivan cuma nunjuk ke arah kerumunan manusia di dekat pintu masuk “Tuh, di situ”.
Saya belum liat sih siapa yang ditunjuk Ivan, tapi tetap aja jalan ke arah itu.
Ternyata….. semua udah pada ngumpul, Iyus, mas Ahmad, Andin, Gita.
Hihihihihihi…. ternyata saya dan Windy yang terakhir datang ya??? #sungkem
Nungguin jam 13.40 berasa lama ya….
Dan akhirnya “Kereta api Matarmaja dengan tujuan akhir Malang akan berangkat pada jam 13.40. kepada seluruh penumpang diharapkan segera naik ke kereta”.
Yeaaaaayyyyy, kita berangkat!!!
Oh iya, kali ini ada 5 teman baru yang gabung di liburannya Diengers. 2 orang itu teman saya waktu ke Peucang (Adek dan Mieke) trus ada mbak Yuli dan Nanda (anaknya) plus mbak Een yang nanti nunggu kami di Malang. Jadi total liburan kali ini 12 orang!
Cuma, karena Adek bilang mau barengannya setelah saya beli tiket, jadi lah kami naik kereta yang sama, tapi beda gerbongnya. Dan di stasiun pun ga sempat ketemu saking ramenya (nanti ketemu di Malang aja ya Dek…).
Pengalaman pertama naik kereta ekonomi yang berangkatnya siang bolong, ternyata…… panaaaaaaaassssss……. pake bingits!!!
Ketemu nomor seat yang udah saya booking, begitu liat kompartemen di atas kabin, mau nyimpen carrier, ya ampun…. kenapa udah penuh begitu???
Pasang tampang lempeng, saya tegur aja sekelompok mas-mas di seat sebelah yang ribut ejek-ejekan karena carrier mereka menuh-menuhin kabin “Mas, carrier-nya bisa digeser? Ini nomor seat saya dan teman-teman. Kami mau pake kompartemennya untuk nyimpen carrier juga”.
Langsung deh tu mas-mas beresin carrier-carrier mereka yang segede gaban.
Udah atur-atur carrier, tetap aja ya… carrier saya kudu nyelusup di bawah tempat duduk karena kompartemen di atas ga cukup.
Huft… ya sudah lah, ga papa (mama ajah :D).
Baru juga kereta mulai jalan, haduuuuuuuhhh… panasnya ga nahan….
Kipas sana, kipas sini.
Tapi teuteup aja…. begitu kumpul, cerita-cerita, ejek-ejekan, ceng-cengan, ahahahahahaha….
Saya sendiri sangat menikmati suasana itu.
Melepas semua atribut keseharian, yang ada hanya rasa senang dan gembira.
Beneran, kalo jalan bareng Diengers ini, berasa jalan bareng keluarga deh #pelukinsatusatu
Perjalanan selama kurang lebih 17 jam, terguncang-guncang di dalam kereta yang penuh sesak, cukup panas, akhirnya terlewati dengan sukses.
Walaupun waktu malam ada insiden grepa grepe-nya Gita :p
Blom lagi foto-foto candid 1001 ekspresi waktu tidur.
Ah, ga ada yang bener ini fotonya :p


bobonya udah tumpang tindih begono :D
pules…. less……
hiiii… iyus ilang tangannya :p
yang berdedikasi tinggi kayak gini nih…
liburan aja masih mantengin email kantor :p :p :p





*note: ini dari kamera/hp siapa saja kah??? 


Dan akhirnya………. Malang, here we come!!!
(wah, lupa… kemarin sampe di stasiun Malang ga ada 1 pun yang ngeluarin kamera/HP untuk foto-foto)
Saya, yang pegang contact person TO langsung deh telepon-telepon.
Ternyata mas Bidin (bukan mas Dani yang nge-lead, karena dia lagi ke Togean! Baca sekali lagi, TOGEAN! Betapa ga sopannya ya…. saya dan teman-teman ditinggal ke Togean :( ) masih on the way ke stasiun.
Berasa anak ilang, ngedeprok di halaman stasiun, dengan tampang kucel, kumel, lecek, muka berminyak, lusuh, dan segambreng carrier :D
Akhirnya mas Bidin sampe juga, horeeeee…. Let’s start our journey!!!


sampe di Stasiun Malang, nungguin mas Bidin yang mau jemput
“mas Bidin, where are you???” #teriakpaketoa

Ok, tujuan pertama kali ini adalah Mesjid Tiban di daerah Turen.
Ini katanya mesjid ajaib, karena ga ketauan waktu pengerjaannya, tau-tau udah berdiri dengan megahnya.
Tapi, menurut informasi dari pihak pesantren di lingkungan Mesjid Tiban, karena mesjid ini didirikan secara swadaya, dikerjakan sendiri oleh santri-santri yang mondok di pesantren, maka pembangunannya tidak terekspos oleh masyarakat sekitar.
Perjalanan dari Stasiun Malang ke Mesjid Tiban kurang lebih 1 jam.
Mau liat seperti apa bentuk mesjid ajaib ini???


sampe di mesjid, transaksi dulu :D hihihihihihihi… (itu kita lagi ngapain ya Yus, Van? )
dan itu yang namanya mas Bidin, guide yang sabar banget ngadepin kelakuan Diengers :))
courtesy by mas Ahmad



Kompleks Pesantren Salafiah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah

Cerita dikit, Mesjid Tiban ini letaknya di dalam kompleks Pesantren Salafiah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah, Turen, Malang.
Mesjid dengan dominasi warna putih dan biru, dengan kaligrafi menghiasi hampir seluruh permukaan dindingnya.

 
suka banget liat detil interiornya, keren
Saya dan teman-teman sempat keliling di kompleks pesantren ini.
Menaiki bangunan yang serupa dengan mesjidnya, dengan dominasi warna putih dan biru, berlantai 10, yang merupakan bangunan pondok pesantren.

 
ini juga, kaligrafi Al-Qur’an menghiasi seluruh interior bangunan pesantren
 
 
Saya seriously terkagum-kagum dengan arsitektur bangunan ini.
Setiap detil terlihat begitu indah. Dan saya ga merasa mengelilingi sebuah bangunan/ruangan, tapi mengelilingi sebuah hutan kecil dengan berbagai bangunan cantik di dalamnya.
Kenapa saya bisa bilang begitu? Karena di setiap lantai, interiornya berbeda-beda, dengan nuansa pepohonan, akuarium, singgasana berwarna kuning emas dengan undak-undakan tinggi, dan masih banyak lagi.
sampai pilar yang ada di taman pun detilnya bagus
Diengers-nya ga kumplit
courtesy by mas Ahmad

 

lagi-lagi ga kumplit
courtesy by mas Ahmad

 

nambah 2, ilang 1 :p
courtesy by mas Ahmad
rada komplit, minus Iyus
courtesy by Iyus
mimbar ini aslinya bagus banget!
girls only
courtesy by Iyus

Selesai mengelilingi kompleks pesantren, perjalanan dilanjutkan.
Kali ini destinasinya akan bikin saya dan teman-teman mandi cahaya matahari. Yes! kami akan ke pantai!