Category Archives: landscape

2014 Diengers Goes to Bromo – #4 Sowan ke Madakaripura, Petilasan Maha Patih Gajahmada




Setelah mengejar sunrise di Pananjakan, trus liat-liat kawah Bromo, main-main di Bukit Teletubbies, saya dan teman-teman kemudian kembali ke homestay. Sampai di homestay, lagi-lagi rebutan mandi, packing dan siap-siap melanjutkan perjalanan.
Kali ini perjalanannya agak jauh. Dari Cemorolawang, kami harus berkendara sekitar 20 km menuju lokasi air terjun Madakaripura yang terletak di Desa Menyapih, Kecamatan Lombang. Air terjun Madakaripura ini dianggap suci oleh masyarakat sekitar, dan berkaitan erat dengan keberadaan Maha Patih Gajahmada di jaman dahulu. Menurut legenda yang beredar di masyarakat setempat, air terjun ini merupakan petilasan atau peristirahatan terakhir dari Sang Maha Patih.

Saya cerita sedikit mengenai air terjun Madakaripura ini. Madakaripura berasal dari kata “Mada”, “Kari”, dan “Pura” yang mempunyai arti sebagai “Tempat tinggal terakhir”. Masyarakat di sekitar air terjun percaya bahwa di sinilah Maha Patih Gajahmada melewati masa akhir hidupnya, atau disebut juga Moksa (meninggalkan dunia bersama raganya).

Perjalanan dari Cemorolawang menuju air terjun Madakaripura memakan waktu sekitar 45-60 menit. Memasuki area air terjun, kita akan disambut oleh patung Sang Maha Patih Gajahmada yang berdiri kokoh. Air terjun Madakaripura sendiri merupakan sederetan air terjun dengan air terjun sentral yang memiliki ketinggian mencapai 200 meter dari dasar jeram. Jalan setapak menuju air terjun terdiri dari berbagai jenis, ada yang berupa jalanan tanah, reruntuhan beton, dan batu-batu licin yang harus hati-hati banget saat melewatinya. Beberapa kali juga kita harus melintasi sungai kecil dengan airnya yang lumayan deras. Ada 6 sungai kecil yang harus dilewati untuk sampai ke air terjun utama. Untuk amannya sih, sebaiknya menggunakan jasa guide lokal yang banyak di lokasi itu. Mereka menawarkan jasa untuk mengantarkan pengunjung ke air terjun dengan biaya yang ga terlalu mahal, tergantung kesepakatan.

Begitu bis mini yang membawa saya dan teman-teman sampai di areal parkir loaksi air terjun, kami segera turun. Ini adalah kunjungan ke-2 saya ke air terjun ini. Dan karena badan sedikit ga nyaman, saya memutuskan untuk stay di bis, sekalian juga menjaga Nanda yang kebetulan sedang sakit. Akhirnya saya, Nanda, dan mbak Een tidak mengikuti langkah teman-teman yang segera berganti pakaian untuk memasuki “wet area” air terjun Madakaripura.

Ada kejadian lucu, yang sampai saat ini pun masih sering bikin saya ketawa sendiri.
Begitu turun dari bis, saya yang tidak ikut ke air terjun nanya ke Windy, apakah mau menggunakan tripod atau ga untuk motret di air terjun.
Dan Windy langsung menjawab cepat “Kayaknya ga deh mbak, ga perlu”.
Saya sempet terdiam agak lama mendengar jawaban itu. Otak loading dulu, karena agak bingung.
Ini kan mau ke air terjun, trus mau motret, yakin ga perlu tripod?
Dan untuk ke-2 kalinya saya nanya lagi “Yakin Win ga mau bawa tripod? Kan aku ga ikut ke sana, kalau mau dibawa, bawa aja”.
Dan lagi-lagi Windy bilang “Ga usah”.
Oh, ok.


ini sebagian air terjun yang ada di Madakaripura
(ini foto waktu ke sana taun 2012 lalu)


Setelah Windy dan teman-teman yang lain berjalan menuju air terjun, saya, Nanda dan mbak Een juga berjalan mengikuti mereka, tapi ga menuju air terjun. Kami menuju warung sederhana yang ada di sekitar areal parkir air terjun. Lumayan, bisa ngemil pisang goreng yang masih hangat itu, kebetulan langit juga agak gelap, sepertinya akan turun hujan.
Sambil ngemil, saya sempat mikir lagi… Serius itu Windy mau motret di air terjun ga pake tripod? Gimana caranya slow speed tanpa tripod? Mau ditopang pake apa kameranya? Tapi, ya sudah lah, liat keyakinan Windy tadi waktu ngejawab ga perlu, berarti emang ga perlu. Akhirnya saya cerita-cerita aja dengan Nanda dan mbak Een.

Tadinya saya pikir semua teman-teman ke air terjun, eh… tiba-tiba… lho??? Itu mas Ahmad ngapain baru keliatan?
Ditanyain mau ke mana, malah cengengesan sambil nenteng kamera.
Teman yang aneh :p

Sedang cerita-cerita seru dengan Nanda dan mbak Een, tiba-tiba langit mulai menurunkan titik-titik airnya. Dan kami pun memutuskan untuk balik ke bis mini. Lebih nyaman nunggu di bis sepertinya, bisa sambil bobo-bobo cantik.
Dan bener deh, baru aja saya naik ke bis, tiba-tiba… breeeeessss…. ujan turun dengan deras.

Hmm…. jadi males mau ngapa-ngapain.
Mana kepala juga agak sedikit cenut-cenut, akhirnya saya memilih, bobo cantik bentar ah… kan ujan juga…
Saya sengaja membuka kaca jendela sedikit karena mesin bis dalam keadaan mati.
Ngerasain juga tempias air ujan yang dengan nakalnya ngintip-ngintip ke dalam bis.
Rasanya, saya baru terlelap sebentar ketika tiba-tiba, sayup-sayup saya mendengar kaca jendela diketok dari luar.
Saya membuka mata dan…….. what???? Itu apa??? Kaget!!!
Kebayang ga? Baru juga buka mata, dalam keadaan nyawa yang belum ngumpul semua, tiba-tiba di depan idung ada muka segede gaban yang sedang nyengir???!!!
Asli itu, ngantuknya langsung ilang, dan si pemilik muka malah ketawa-ketawa ngakak di luar jendela. Mas Ahmaaaaaaaaadddd….. minta ditimpuk tripod ya??? Bikin kaget ajaaa…. Huft…..

Udah ilang kagetnya, baru deh saya keluar dari bis.
Ujan ternyata udah berhenti.
Sekarang udara di sekitar areal parkir terasa dingin. Bahkan kalau kita bicara, akan ada uap putih tipis yang keluar dari mulut kita.
Dan ternyata, hari juga udah menjelang maghrib. Mulai gelap.
Saya melihat jam tangan, udah ampir jam 6.
Mana ini teman-teman yang ke air terjun, kok ga pulang-pulang???
Betah amat maen airnya…. :p

15 menit kemudian, teman-teman muncul dari kegelapan, dalam keadaan basah kuyup :D
Gimana rasanya main di air terjun? Dingin ga???

Nungguin teman-teman ganti baju dulu, baru kemudian kami cuuussss ke Malang.
Malam ini kita akan menginap di Malang.
Udah malem lho ini.
Dan ternyata, kami adalah rombongan terakhir yang meninggalkan areal parkir di kawasan air terjun Madakaripura.

Gimana cerita teman-teman di air terjun? Nanti saya tanyain deh, mereka ngapain aja?
Nanti ceritanya di-share di sini…

Tips untuk yang ingin berbasah-basahan di air terjun Madakaripura:
– bawa pakaian ganti, bila tidak ingin kedinginan;
– bawa drybag/kantong plastik untuk menyimpan gadget dan kamera;
– gunakan raincoat apabila tidak ingin basah-basahan;
– yang mau bawa payung, boleh juga;
– gunakan alas kaki yang nyaman dipake di trek basah.


Nah, seperti yang saya janjikan di atas, kalau sudah dapat cerita dari teman-teman yang ke air terjun, akan di-share di sini. Ini ada sharing cerita dari Iyus. Jadi, cerita dari Iyus seperti ini…….


Waktu jalan ke air terjun mereka ngelewatin jalan setapak yang masih campur, ada tanah, reruntuhan batu, beton dan yang pasti batu-batu sungai. Jalannya melipir-melipir, nyeberang sana nyeberang sini. Waktu sedang asik seberang-seberangan itu, tiba-tiba ujan turun. Ga deras sih… cuma banyak :D

Nah…. barisan agak bubar tuh…
Ada yang langsung beli jas hujan sekali pake yang dijual oleh penduduk di sekitar situ. Oh iya, air terjun Madakaripura ini juga menunjang kehidupan penduduk di sekitarnya yang memanfaatkan kunjungan dari wisatawan dengan berjualan di sekitar lokasi air terjun. Ada juga yang menjadi guide dan mengantarkan pengunjung dengan harga yang tidak terlalu mahal, sesuai kesepakatan.


ternyata begini kelakuannya waktu ke air terjun
courtesy by….. (ini dari kamera siapa ya?)



Ada yang lucu dari cerita Iyus. Menurut Iyus, penduduk lokal yang kebetulan menjadi guide dari rombongan teman-teman itu seperti kutu :D
Soalnya bapak itu loncat sana sini, sebentar ada di bagian depan rombongan. sebentar kemudian tiba-tiba udah ada di belakang rombongan. Nah lho…. si bapak guide-nya jangan-jangan punya ilmu menghilang dan meringankan tubuh tuh….

Begitu hampir sampai di lokasi air terjun, tiba-tiba….. gubrak, ada yang gedebug di belakang Iyus, hihihihihihi…… ternyata ibu Penyu yang ngegabruk, jatoh :D #gapapakanWIn? #nahanketawasetelahdiceritain


Kan tadi sepanjang jalan menuju air terjun itu cuaca gerimis terus. Begitu sampai di lokasi air terjun, Iyus nekad ngeluarin kamera. Ceritanya mau motret deh…….

Tapi ternyata…… teman saya itu akhirnya menyerah dan memasukkan kameranya lagi ke dalam tas, karena gerimis ga kunjung berhenti.
Begitu kamera udah rapi di dalam tas, tiba-tiba ada 4 orang mas-mas di dekat Iyus yang mulai ngeluarin dan masang tripod.
Iyus tergoda dong mau ikutan motret.
Alhasil kamera dikeluarkan lagi, dan tripod mulai dipasang sambil ijin sama mereka “Mas, gabung ya…”.
Tau ga apa jawaban dari mas-mas itu?
Mas-mas itu bilang “Lho, kan kita ngikutin masnya foto-foto”.
Ini beneran ya … saya bingung, yang nanya sama yang ditanya ga bisa ngerasain air hujan atau gimana ya??? #ngakak #pissIyus :D


air terjun Madakaripura
courtesy by Ivan
air terjun Madakaripura
courtesy by Ivan


air terjun Madakaripura
courtesy by Ivan

Ternyata ujannya emang berhenti. Jadi deh Iyus motret.
Dan…… di air terjun jadi rame banget.
Menurut Iyus sih, motretnya jadi ndak nikmat karena bocor mulu.

Lagi motret-motret yang katanya ga nikmat itu, tiba-tiba WIndy nyamperin dan bilang mau motret juga. Kata Iyus, dia bingung, gimana ceritanya Windy mau motret kalo ga bawa tripod? Kan ceritanya ini mau motret slow speed.

Dan ini juga jawaban atas bengongnya saya waktu Windy nolak disuruh bawa tripod waktu baru turun dari bis.

Ditanya Iyus, bisa ga Windy nahan kamera paling ga selama 5 detik.

And u know? Kata Iyus, Windy langsung pasang mata juling :)) #ngakakgulingguling
Tapi, bukan Windy dong ya kalo langsung nyerah gegara ga ada tripod.
Nyoba harus kudu wajib itu kata Windy.
Tapi…… setelah take a shoot, dan liat hasilnya……. hihihihihihi…. Windy akhirnya menyerah! :D
(saya penasaran pengen liat hasil fotonya yang ga pake tripod itu lho….)

Karena hari mulai gelap, akhirnya teman-teman memutuskan untuk segera balik ke bis.

Apalagi kan jalannya lumayan jauh. Plus, arus sungai yang dilewati teman-teman juga lumayan deras karena hujan tadi.

Nah, itu cerita yang saya dapat dari Iyus. Seru ya….

Yus, kalimat sepotong-sepotong tadi digabungin, bisa jadi segini banyak lho :D


ps. potonya minta yang jpeg dong…. ga bisa di-preview ini….



  


2014 Diengers Goes to Bromo – #3 Bromo, We Love You…




Setelah mantai setengah harian, saya dan teman-teman bergegas kembali ke bis mini yang akan mengantarkan kami ke Cemorolawang malam itu. Sebelumnya kami sempat singgah sebentar untuk mengambil sertifikat di rumah pak Sumenggar. Kali ini perwakilan aja yang turun, serahkan ke Iyus + Ivan aja yaaaa…. Ini badan mulai terasa capek banget soalnya… Maaf ya pak Sumenggar, kami nunggu di mobil, udah ga bisa bergerak dari posisi mager di mobil :D


asik…. dapet sertifikat dari Konservasi Penyu Sitiarjo
courtesy by OurTrip1st



asik…. dapet sertifikat dari Konservasi Penyu Sitiarjo
courtesy by OurTrip1st



ini sertifikat saya, sertifikat kamu mana???



Udah ambil sertifikat di rumah pak Sumenggar, bis mini ini bergerak ke arah tengah kota Malang. Sebelum ke Cemorolawang, ini perut harus diisi dulu, daripada jerit-jerit entar. Dan malam itu kami akan nyobain Bakso President. Katanya sih, ini bakso yang ngehits di Malang. Ayo lah kita buruan ke sana, udah laper ini…


Sampe di Bakso President, nge-tag meja, trus antri manis di kasir untuk pesen bakso dan bayar. Kali ini saya nyobain bakso buletnya aja, ga pake mie, soalnya perut masih setengah kenyang (entah lah nanti malam sesampainya di Cemorolawang? :D).


ini nih bakso yang katanya ngehits se-Malang
courtesy by mas Ahmad

nyobain bakso ngehits :D
courtesy by mas Ahmad

mau mamam bakso aja pada nyadar kamera :p
courtesy by mas Ahmad

mau mamam bakso aja pada nyadar kamera :p
courtesy by mas Ahmad


Ga sempet foto gimana tampilan baksonya. Begitu sampe di meja langsung seruput kuahnya yang panas dan ngunyah bakso bulatnya (yang kayak gini ngakunya masih 1/2 kenyang lho… :p).

Udah kenyang, mari kita capcus ke Cemorolawang. Eh tapi, sebelumnya singgah minimarket dulu beli cemilan….. :p :p :p

Perjalanan dari Malang kota ke Cemorolawang lumayan jauh, jadi…. saya merem dulu boleh kan? Nanti sampe Cemorolawang dilanjut ceritanya… :D

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jam 11 malam, bis mini yang kami naiki berhenti di depan sebuah homestay di Cemorolawang. Mantep nih bobonya, bangun-bangun udah di Cemorolawang aja :D

ini homestay kami di Cemorolawang, suka liat rumahnya yg terasa hangat

nah, bagian ruang tengahnya seperti ini… kebayang kalo lagi ngumpul, asik banget

Niat awalnya, sampe homestay mau bobo-bobo cantik sambil nunggu waktu sunrise. Tapi….. kan ceritanya sejak berangkat kemarin, ini yang pada ngetrip blom ada yang mandi lagi….. ahahahahahaha….
Kebayang gimana pliketnya badan, alhasil sampe homestay terus antri mandi deh.
Beruntung, saya kebagian kamar mandi yang ada air panasnya, jadi ga seberapa menggigil, cuma kaki agak gemetar dikit aja…..

Abis mandi, langsung siap-siap mo ketemu sunrise di Pananjakan.
Pake jaket, warm legging, kaos kaki, sarung tangan, kupluk biar kupingnya anget.
Okay, let’s go to Pananjakan!!!
Tapi… baru juga keluar homestay, idung rasanya udah beku. Dingin beeeuuuddhhhh….
Langsung lari ke jeep, dan bruuuummmm…. jeep pun menderu membelah jalan di Cemorolawang yang menjelang subuh itu pun sudah ramai oleh pengunjung yang mau liat sunrise di Pananjakan.

Catatan untuk yang mau ke Bromo, things to bring:
– Jaket tebel/pakaian hangat;
– Sarung tangan;
– Kaos kaki;
– Kupluk/penutup kuping;
– Sebaiknya hindari menggunakan celana jeans, soalnya dingin;
– Syal.

Kami menggunakan 2 jeep, karena jumlahnya kan 12 orang + mas Bidin. 1 jeep berkapasitas 6 orang, 2 orang duduk di depan, sisanya di belakang.
Kami mendapatkan jeep tertutup sesuai request. Kebayang ya kalo pake jeep terbuka, dingin + debu pasirnya yang ga nahan.

Sampe di Pananjakan 2, turun dari jeep trus disambung jalan kaki beberapa ratus meter. Dan subuh itu, Pananjakan rame banget. Tua, muda, sampe anak kecil semua ada. Dan semua berbondong-bondong ke arah pos Pananjakan, lokasi hunting sunrise.

Saking ramenya orang di Pananjakan, saya sempet mikir, mau liat sunrise di mana ini kalo udah orang semua yang ada? Apalagi dengan postur yang imut begini, yang ada kepala orang semua yang masuk di frame kamera :(
Daripada bengong, akhirnya saya, Iyus dan Windy melipir ke salah satu sudut yang ga biasa dipake untuk mengintip sunrise. Kita milky way-an dulu aja kali ya?
Lumayan, langit masih gelap nih.
Pasang tripod, setting kamera dan….. klik, beberapa shoot milky way pun berhasil didapat.

Malang menjelang subuh waktu itu

dapet milky way juga akhirnya

Selesai milky way-an, liat langit di Timur udah mulai terang. Semoga masih keburu untuk motret sunrise ya….
Ikut desak-desakan, melipir kiri, melipir kanan, akhirnya saya dan Windy berhasil sampai di pinggir pagar dengan pemandangan Gunung Bromo, Batok, Tengger, dan Semeru di kejauhan. Perfect!!!
Ga dapet sunrise gapapa, yang penting dapet foto Bromo – Batok – Tengger – Semeru komplit dengan negeri di awannya.
Sekali lagi pasang tripod, setting kamera, dan mencoba menangkap moment magis saat kabut-kabut putih itu seolah hamparan kapas yang mengelilingi gunung-gunung tersebut.
Selarik kabut terlihat membelah tubuh Semeru di kejauhan dan seutas asap putih keluar dari mulut Bromo. Dengan latar langit biru muda yang semakin terang, dengan nuansa kuning muda yang semakin kental warnanya.

negeri di awan: Batok – Bromo – Tengger – Semeru


Setelah langit menjadi semakin terang, saya dan teman-teman kemudian mulai beranjak meninggalkan Pananjakan. Mari kita melipir sarapan indomie telor dulu…. Plus pisang goreng yang masih panas itu. Nyam… nyam… nyam…



abis nyunrise, mari sarapan pisang goreng…
ini masih proses menunggu indomie telor yang hambar itu :D
courtesy by kameranya mas Ahmad

Sarapan pagi sambil becandaan di sebuah warung sederhana di Pananjakan, sungguh menyenangkan. Dan… ada kejadian yang lucu (tapi kasian juga sih….).
Kan ceritanya kami semua pesen indomie telor. Pas giliran mangkok untuk mas Ahmad sampe di meja, dengan ga sabar langsung deh si mas ambil sendok dengan semangat. Begitu sendok nyampe di mulut, kok itu mukanya berubah? Trus mangkok mie saya yang udah kosong (tinggal kuahnya doang) ditarik. Lalu mie yang udah di dalam sendok dicelupin ke mangkok saya. Lho, kenapa?
Usut punya usut, ternyata mangkok mie mas Ahmad ga ada bumbunya :p
Aahahahahahahaha…… hambar ya… bagaikan sayur tanpa garam…. :))
Mari kita sudahi cerita indomie telor tanpa bumbu tadi.
Sekarang kita lanjutkan perjalanan hari ini, masih ada Bromo, Bukit Teletubbies dan Pasir Berbisik yang mau diliat kan?

Kami menuruni Pananjakan ke arah parkiran jeep. Dan jeep pun segera melaju, membelah lautan pasir menuju Bromo.
Ciiittt…. jeep berhenti di lautan pasir sekitar 3 km dari kawah Bromo. Dan selanjutnya boleh milih, mau jalan kaki 3 km ke kawah atau mau naik kuda?
Saya dan teman-teman memilih jalan kaki aja pelan-pelan.
Dan ternyata….. jauh ya bo…
Walaupun ini kunjungan saya yang ke-2 di Bromo, tapi waktu kunjungan yang pertama saya memutuskan tidak naik ke kawah karena waktu itu rame banget.
Tapi kali ini, karena penasaran seperti apa pemandangan dari atas kawah Bromo, saya memutuskan untuk ikut.

Catatan yang mau ke kawah Bromo:
– pake masker/syal karena debu pasirnya banyak;
– bawa air minum, karena perjalanan cukup jauh.

mari jalan kaki menuju kawah Bromo…
ga jauh kok, cuma 3 kilo ajah :D

Melintasi lautan pasir yang debunya beterbangan setiap saat, membuat saya harus selalu melilitkan syal sampai ke hidung supaya debu pasirnya tidak terhirup. Dan kadang-kadang harus segera merem sambil membalikkan tubuh membelakangi arah angin yang membawa debu pasir.
Awalnya sih, lautan pasir ini landai. Tapi lama kelamaan mulai menanjak.
Untuk sampai ke tangga yang menuju ke kawah, saya dan teman-teman harus berjalan saingan dengan kuda yang dijadikan alat transportasi di sana.
Kalau pas papasan dengan kuda, lebih baik mengalah dan membalikkan badan daripada harus terkena debu pasirnya yang beterbangan akibat hentakan sepatunya.
Jarak 3 km itu rasanya jauh banget…… Ga sampe-sampe ini. Padahal napas udah mulai terengah-engah.

Gunung Batok yang ada di sisi depan Gunung Bromo

Beberapa kali berhenti, ngatur napas, minum dan melemaskan kaki, akhirnya saya sampai di ujung tangga yang akan mengarah ke kawah Bromo. Dari parkiran jeep sampai ke anak tangga ini jaraknya kurang lebih 2,7 km. Sisa 0,3 km lagi berupa jajaran anak tangga batu.
Pagi itu pun, pengunjung yang akan melihat kawah Bromo cukup ramai, sehingga untuk menaiki tangganya harus sedikit antri.
Pelan-pelan menaiki anak tangga yang entah berapa jumlahnya, akhirnya…. yeaaaayyyy, saya sampai juga di bibir kawah Gunung Bromo. Huft….. capek beeuuuddhhh….

ayo…dikit lagi sampe puncak kawah itu….
courtesy by OurTrip1st



dari pinggir kawah Bromo, pemandangannya kayak gini lho…

tuh, deretan jeep yang parkir jauh di sana

Pemandangan dari bibir kawah sangat indah.
Apabila kita berdiri membelakangi kawah, akan terlihat lautan pasir yang membentang luas dengan background pegunungan pasir yang membentenginya. Trek jalan setapak menuju ke kawah terlihat bagaikan jalur putih yang dipenuhi warna-warni manusia dengan berbagai ragam pakaiannya.
Dan apabila kita berdiri menghadap ke arah kawah, terlihat sebuah lobang besar di puncak Bromo dengan gumpalan asap putih yang keluar dari dalamnya.

kawah Bromo dan asap putih yang terus-menerus keluar dari dalam kawah

ternyata untuk sampai ke kawah itu perjalanannya panjang…… pake bingits :D

Setelah cukup menikmati pemandangan dari bibir kawah Gunung Bromo, saya dan teman-teman kemudian turun dan berjalan kembali ke arah jeep yang setia menunggu kami.
Perjalanan turun terasa lebih cepat, walaupun pengunjung bertambah ramai, tapi antri turunnya ga selama antri waktu naiknya.
Oh iya, saya lupa cerita. Sebelum mencapai Gunung Bromo, kita akan melewati Gunung Batok yang letaknya persis di sisi depan Gunung Bromo.
Seperti juga Gunung Bromo, Gunung Batok juga merupakan gunung pasir. Namun Gunung Batok tidak memiliki kawah.

udah sampe ke jeep, balik kanan, liat Bromo, jauh ya ternyata :D

gara-gara motret Gunung Batok ini pas turun dari Bromo, saya diketawain sama teman-teman,
mereka bilang “Lha, baru mau motret sekarang? Dari tadi ke mana aja?” #tutupmuka

Selesai explore Bromo, sekarang mari kita capcus ke Bukit Teletubbies.
Untuk sampai ke Bukit Teletubbies, kami harus kembali menaiki jeep karena jaraknya yang cukup jauh. Kembali melintasi lautan pasir berdebu menuju padang savana.
Yang disebut Bukit Teletubbies di sini adalah sebuah padang savana yang dikelilingi oleh deretan perbukitan. Dan kalau diperhatikan bukit ini mirip dengan bukit yang ada di film Teletubbies… Pooh… Winnie… Dipsy… Lala… hayo, masih inget ga? :D

dipilih, dipilih…
Pooh, Winnie, Dipsy, Lala
langsung bungkus :p


Sesampainya di Bukit Teletubbies, matahari sedang lucu-lucunya bersinar, panasnya bikin gemes. Sambil memicingkan mata dan mengerenyitkan kening, saya mencoba melintasi padang savana itu. Sayang waktu kami ke sana, kondisi padang savana tidak dalam kondisi menghijau segar, mungkin karena musim panas di Malang yang agak panjang ini. Bukit Teletubbies terlihat hijau kekuningan karena banyak perdu-perdunya yang mulai mengering. Tadinya saya berkhayal pengen tidur-tiduran di padang savana ini, tapi setelah liat kondisinya, ternyata perdunya itu tinggi ya… kirain cuma 10-20 cm, ternyata mencapai 50 cm :D #bataldehmautidurtidurandirumputhijau


Niat pengen jalan-jalan sampai ke puncak bukitnya, tapi karena mataharinya unyu begitu, akhirnya saya, Iyus, Windy, Gita, Andin dan Ivan hanya sampai di kaki bukitnya saja. Mas Ahmad malah hanya nunggu di warung tenda di deket jeep, ga ngikut kami jalan-jalan dan foto-foto di savananya :p
Setelah jalan-jalan sejenak dan foto-foto, kami pun kembali ke jeep dan bruuummmm… jeep memlintasi lautan pasir mengarah ke jalanan yang menuju homestay.
Pasir Berbisik pun hanya kami lihat dari balik jendela kaca jeep. Ga tahan panasnya euy mau turun dan foto-foto :D
Kata teman-teman, “Kita udah bisikin balik ke pasirnya, ga singgah kali ini” hihhihihihihi….


laper, abis jalan-jalan keliling Bukit Teletubbies (tapi boong :D)
courtesy by OurTrip1st

pulang………….
courtesy by OurTrip1st


Nah, abis dari Bromo, saya dan teman-teman akan basah-basahan nih. Mau ikut???






Dieng Culture Festival 2012 – Diengers, Cerita Kita Berawal di Sana



Semua Berawal dari Sini……
Dari sebuah trip ke salah satu sudut Propinsi Jawa Tengah,
di sebuah kawasan dataran tinggi bernama Dieng.
Di ketinggian 2093 mdpl, menemukan kehangatan keluarga, jabat erat sodara,
dan perasaan seperti menemukan sebuah “rumah” untuk pulang.


Setaun yang lalu, di penghujung minggu yang lumayan gerah, cerita itu berawal di sebuah gerai donat terkenal di sudut Plaza Semanggi.


Jumat, 29 Juni 2012
18.30 wib

Dengan tergesa-gesa gw menaiki tangga pelataran Plaza Semanggi.
Huft… blom telat ya…
Gw mulai scanning, di mana rombongan yang akan ke Dieng? Hmm… itu dia!
Sesuai tek-tok-tek-tok di message, leader trip kali ini adalah seorang cewe berambut panjang diikat ekor kuda dengan topi baseball menutupi sebagian wajahnya, bercelana pendek dan kaos tanpa lengan, Zee!
Say hello, dan registrasi ulang, sambil nunggu rombongan yang lain, gw ikut ngejogrok di salah satu sudut gerai donat itu.
Seperti biasa, kali ini pun gw ngikut trip tanpa seorang teman pun yang gw kenal. Semoga bisa dapat teman baru yang asyik dan bisa saling meracuni untuk trip-trip selanjutnya :D

Satu persatu peserta trip mulai berdatangan, trus registrasi ulang. Dan ga ada satu pung yang gw kenal :D
Gw sempet nanya Zee, bisnya di mana?
“Di samping tangga mbak, ada bis ¾ warna abu-abu, ada tulisan bus 1 dan bus 2 di kaca depannya”, jawab Zee.
Ok, mari kita liat… sekalian nyimpen carrier dan nge-take seat di bus.

Di samping tangga turun dari pelataran, gw liat ada 2 bus ¾ warna abu-abu standby.

Masih dalam rangka meyakinkan diri, gw cek lagi kaca depannya, bener ga ada tulisan bus 1 dan bus 2?
Trus, gw nanya deh sama bapak-bapak yang ada di situ. “Pak, ini bus rombongan yang akan ke Dieng?”
Si bapak mengiyakan.
Gw cek lagi, yang mana bus 2, karena nama gw terdaftarnya di bus 2.
Ouw, ternyata bus 2 yang barisnya di belakang.
Gw cek, sebagian kursi udah ada yang nge-take. Trus gw liat kursi yang persis di dekat pintu masuk masih kosong. Yeaaayyy!!!
Gw nge-take kursinya ah…. posisi strategis, deket pintu, space-nya agak legaan.
Ok, taro jaket pinkgonjreng! “Ini seat gw ya” :D

Sebelum berangkat, ada cewe berambut pendek yang celingukan nyari seat di bus.
“Hei, blom dapet seat ya? Nih, di sebelah gw kosong, mo duduk di sini?” tanya gw.
Linar! Ini yang akhirnya jadi teman seperjalanan gw Jakarta-Dieng-Jakarta dan juga jadi roommate waktu di Dieng.

Jam 9 malem bus mulai jalan.
Baru juga bus jalan, ada cowo yang ngajakin Linar ngobrol, mas Aga.
Jadilah awal perjalanan malam itu gw, Linar, mas Aga ngobrol seru.
Sesekali Zee ikut nyamperin sambil mastiin peserta di bus 2 aman, sehat, sejahtera… hehehhehehe…

Ini perjalanan gw ke Dieng untuk yang ke-2 kalinya.
Jadi gw udah bisa kira-kira, bakal berapa lama harus duduk manis di dalam bus.
Oh iya, kali ini gw ke Dieng dalam rangka mengobati rasa penasaran gw pada cerita tentang anak berambut gimbal yang ada di Dieng.
Kenapa? Bagaimana? Apa? Siapa?
Akhirnya begitu ada open trip Dieng Culture Festival, gw langsung bilang “I’m in!”.

Harusnya perjalanan Jakarta–Dieng bisa ditempuh dalam waktu sekitar 10-12 jam, tergantung kondisi jalan, lalu lintas, kecepatan kendaraan dan seberapa sering busnya mlipir ke rest area.
Tapi kali ini, mungkin juga karena bertepatan dengan acara Dieng Culture Festival ya… jadi jalanan terlihat lebih padat. Bus pun jalannya ga kenceng seperti sprinter, tapi lebih kalem seperti becak :D

Udah capek ngobrol-ngobrol, mulai dari yang jelas, sampe yang ga jelas (hihihihihi), akhirnya gw dan Linar sama-sama merem.
Buka mata, masih gelap…. ohh, blom sampe rupanya (bobo lagi).

Buka mata lagi, di luar udah mulai terang “Udah sampe mana ya?”
Hmm… ternyata udah mulai memasuki wilayah Jawa Tengah.
Bus jalan terus. Di luar keadaan semakin terang.
Waktu ke Dieng yang pertama kali, jam 7 gw udah sampe di homestay dong.
Tapi kali ini, macetnya luar biasa, dan setelah menempuh perjalanan sekitar 15 jam, akhirnya jam 12 siang kami tiba di homestay. Finally

Bagi-bagi kamar, gw sekamar dengan Linar dan Andin.
Hmm…. Dieng masih dingin seperti waktu Februari kemarin gw ke sana.
Dan ga tau kenapa, gw betah dan seneng banget klo bisa jalan-jalan ke tempat yang udaranya sejuk dan segar. Cuci paru-paru istilah gw. Seperti trip kali ini.

Udah sampe di homestay pun, gw blom banyak kenal teman-teman 1 bus tadi.
Baru kenal Linar, Andin, mas Aga, Windy :D

Awalnya, karena perhitungannya udah nyampe di lokasi di pagi hari, kami ingin liat (dan ikut) acara minum Purwaceng rame-rame.
Tau kan Purwaceng itu apa?
Purwaceng itu minuman khas Dieng yang menurut cerita berkhasiat seperti ginseng. Bener/ga gw ga ngerti, karena sampe saat ini pun gw blom pernah nyobain… hehehehhee…

kawasan Candi Arjuna siang itu


Abis makan siang, kami bergerak ke kawasan Candi Arjuna.
Siang itu cuaca sangat bersahabat. Langit biru dihiasi gumpalan-gumpalan awan putih.
Udara yang sejuk walaupun matahari tersenyum dengan hangatnya (klo ga mo dibilang panas sih :D).

Karena suasana di sekitar kawasan Candi Arjuna sangat rame, dan kami pun datengnya udah siang, supaya tetap bisa ngikutin itinerary yang udah dibuat, jadi gw dan teman-teman ga bisa berlama-lama di situ.
Beres poto-poto, keliling-keliling, Zee ngajak nerusin ngubek-ngubeknya ke Telaga Warna.
Tapi teuteup…. sebelum kabur, poto-poto duluuuuuuu……


ketika belum kenal dekat pun, rusuhnya udah terlihat :D


gerbang Telaga Warna


Abis dari Candi Arjuna, gw dan teman-teman melipir ke Telaga Warna.

Ngeeeeeeennnggg… naik bus sampe di parkiran Telaga Warna.
Mari kita liat, berubah kah sang telaga setelah kunjungan gw yang terakhir???











telaga yang tenang

Karena dalam suasana Dieng Culture Festival, di Telaga Warna pun rame banget.

Jadi ya… susah banget mo nyari spot-spot yang kosong.
Di sini gw mulai kenal dengan teman-teman yang tadi 1 bus dengan gw.
Ada Gina, Gita, Iyus, mas Ahmad, Ivan, Astrid, Mita, Eera, Hendra, Haris, mbak Endah, mas Kurnia (di akhir trip baru tau kalo panggilannya mas Kef), mbak Dijeh, Winda, mbak Tri, trus…. sapa lagi ya?

hijau…biru…toska…

Di sini, kerusuhan rombongan makin terlihat.
Jalan-jalan, keliling-keliling, liat sana sini, ga lupa foto-foto, dan ketauan lah kalo semua banci kamera :p
Ga boleh liat ada yang foto-foto, langsung deh pada nimbrung pasang aksi :D
Mo liat kenarsisan temen-temen baru gw???
Cekidot….

mas Kef, mbak Endah, mbak Dijeh, Winda, Linar, mbak Tri

hahhhhhh…. udah narsis itu Winda :p


tampang boleh kalem…. kelakuan???? :p :p :p


baru tau klo mas-mas yang di depan itu paling hobi narsis :D


auw… auw… auw… ini Zee, leader trip gw


Beres ngerusuh di Telaga Warna, Zee ngajakin gw dan teman-teman ke Kawah Sikidang. Rebutan masuk ke bus, dengan tetap ramenya, dan ngeeeeeeeeennnnnggggg….. ga pake lama, nyampe deh di Kawah Sikidang.
Klo waktu pertama kali ke Dieng semua gw tempuh on foot, alias jalan kaki a.k.a ngeritingin betis, kali ini karena waktu yang sempit, ke mana-mana gw dan teman-teman dianter si bus abu-abu.

Kawah Sikidang


Sampe di Kawah Sikidang, langsung deh bubar barisan. Semua langsung ngacir sendiri-sendiri, ga tau juga nyariin apa? :D

Gw bareng sama Linar, sambil liat kanan kiri sapa tau ada yang bisa dikecengin, maksudnya sapa tau ada yang bisa di-shoot pake kamera.
Akhirnya gw sampe di pinggir kawahnya.










Bau belerang terasa banget lho di pinggir kawahnya. Asapnya juga terlihat di mana-mana. Kudu wajib harus pinter-pinter liat arah angin, jadi bisa menghindari uap belerang yang ngepul dari arah kawah.
Dan u know, di pinggir kawah pun, itu rombongan narsis teuteup rusuh dan sok bergaya ala boyband :D
Penasaran kan, mo liat aksi boyband from Dieng??? Let’s check it out!

langit di atas Sikidang sore itu…biru……..

sejauh mata memandang, yang keliatan……kawah :D

ayo… coba cari, mana itu para Diengers???

hag.. hag.. hag… narsis part 1

suuuutttt…. ada anggota boyband Korea :D

tuh… uap belerangnya #pasangmasker

see??? narsisnya boyband Diengers :D
mbak fotografer dan asistennya :p







mo moto mas-mas yang lagi gitaran, kenapa itu ada yang nyempil di ujung???

again! narsis forever :D





Cukup narsis-narsisan di Kawah Sikidang, markipul….
Ntar malem di kawasan Candi Arjuna kan ada beberapa acara juga, ada pesta kembang api, wayang kulit, trus apa lagi ya???
Sekarang, ayo kita ngebut ke homestay, pengen meluruskan punggung sejenak.
Cuuuuussssssssssssss…….


– malemnya –
Malem ini, gw dan teman-teman dapet traktiran makan mie Ongklok dari Zee…. duh, itu leader baek amat yak? semua ditraktir makan mie khas Dieng ^.^

Udah pada mandi, sholat, istirahat, rebonding punggung, mari kita capcus ke warung mie di depan homestay.
Sekitar 25-an Diengers malem itu dapet traktiran mie Ongklok yang masih ngepul dari mangkok beling berukuran sedang.
Hmm…. wanginya yummy….
Let’s try it out!

Mie Ongklok ini adalah mie khas Dieng.
Isinya terdiri dari mie kuning pipih, sayuran berupa irisan kol, irisan daun bawang dan ditaburi bawang goreng. Kuahnya kental dan beraroma khas.
Cocok banget dimakan di udara sejuk cenderung dingin seperti malam ini.
Saking dinginnya di Dieng, semangkuk mie Ongklok yang awalnya dipenuhi asap tanda kuahnya sangat panas, waktu disruput ternyata ga panas lho….
Mencicipi kuah mie Ongklok, hmm….. rasanya gurih, agak manis karena ada campuran kecapnya.
Marilah…. kita habiskan semangkuk mie Ongklok ini sebelum dingin sempurna….

mie Ongklok traktiran dari Zee, yummy


Selain mie Ongklok, Dieng juga terkenal dengan kentang gorengnya yang enak. Sayang, gw ga sempet moto kentang goreng yang gw beli di sana. Gimana mo difoto coba? Baru juga sebungkus kentang goreng sampe di tangan, dalam sekejab langsung bersih tak bersisa akibat nggragasnya gw dan teman-teman Diengers yang lain :D

Abis makan mie Ongklok, sebagian teman-teman ada yang melanjutkan rasa penasarannya dan jalan-jalan ke seputaran Candi Arjuna.
Klo gw sih, milih balik ke homestay dan masuk ke dalam hangatnya pelukan si sleeping bag :D
Bobo ah… besok pagi mo ngejar sunrise ke puncak Sikunir.


Minggu, 1 Juli 2012
Hoaaaaaaeeeemmmmmmm…… #nguletdaribaliksleepingbag
Selamat pagi……… ^.^

Dieng subuh ini dingin banget.
Kalo ga karena pengen liat sunrise dari puncak Sikunir, rasanya males banget bangun dan keluar dari hangatnya pelukan sleeping bag ini.
Tapi…….. hayuk ah! Semangat!
Ga pake mandi :D cukup cuci muka, gosok gigi, ganti baju (eh, ganti baju ga ya waktu itu? lupa gw :D), gw dan teman-teman langsung cuuusss ke depan homestay.
Si bus abu-abu udah setia di depan gang, nungguin para Diengers naik dan siap terbang ke Sikunir.

Subuh itu masih gelap banget. Dan yang pasti masih super duper dingin, pake banget!
Gw aja pake baju udah dobel-dobel gitu, kaos, jaket, syal, sarung tangan, kaos kaki, sepatu……. brrrrrr… dingin bangeeeeeeeeeeeetttttt….

Desa Sembungan, desa tertinggi
di Pulau Jawa


Sampe di Desa Sembungan, yang merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa, kebayang kan gimana dinginnya subuh itu?
Turun dari si abu-abu, gw dan teman-teman masih harus jalan kaki ke puncak Sikunir.
Oh iya, Sikunir ini adalah bukit yang biasa dijadikan tempat untuk mengintip sunrise di Desa Sembungan.
Jalan kaki melewati rumah-rumah penduduk yang sebagian masih tertutup rapat, cahaya lampu yang bersinar temaram, sepi, kadang terdengar suara kokok dan kotek ayam, kami pun berjalan menuju Sikunir.

Sampe di kaki Bukit Sikunir, keadaannya gelap.
Untung gw sempet bawa senter kecil untuk menerangi jalan setapak yang mengarah ke atas.
Pelan-pelan, gw dan teman-teman mulai menapaki punggung Sikunir.
Jalan setapak yang awalnya terlihat, lama kelamaan makin menanjak, dan makin kecil.




Subuh itu, punggung Sikunir harus menahan beban lebih berat dari biasanya. Kebayang dong ya…. yang subuh itu pengen liat sunrise dari puncak Sikunir kan bukan Diengers doang.
Dari setengah punggung Sikunir, jalan setapak mulai padat. Begitu sampe di puncak…. wow… padet bangeeeeeeettttt…
Berusaha nyempil dikit, supaya gw bisa dapet spot yang cihuy, yang ada, gw sama Linar malah kejebak di pinggir puncak Sikunir.
Di sebelah kiri, depan, belakang, udah full, sesak, di sebelah kanan…. jurang… hiiiyyyyy…..

langit yang mulai bersemburat pagi itu


Semburat kuning jingga mulai menyeruak kabut pagi di ujung cakrawala. Perlahan sederetan gunung mulai jelas bentuknya di kejauhan, puncak Sindoro berdiri gagah paling depan.
Kumpulan awan putih menghiasi sela antara gunung-gunung bagaikan permadani.
Wuuiiiiiihhh… bener-bener negeri di atas awan deh….

sinar mentari pagi mengintip dari balik pepohonan


Begitu mentari bersinar sempurna, gw dan teman-teman mulai menuruni punggung Sikunir untuk balik ke parkiran bus. Sepanjang perjalanan turun, gw masih beberapa kali bisa mengintip cantiknya Sikunir dan sekitarnya. Liat deh foto-foto ini, siapa sih yang ga betah dan senang tinggal di sana?

mentari pagi, langit biru, awan putih, dan dedaunan yang basah oleh embun

sinarnya hangat


Sampai di kaki Sikunir, terbentang Telaga Cebong yang pagi itu masih terlihat gelap, terlindungi bayangan bukit Sikunir.

Telaga Cebong, di kaki Sikunir

negeri di awan




Dari kaki Sikunir, gw dan teman-teman jalan ke arah parkiran bus di gerbang Desa Sembungan.
Oh… si abu-abu setia nunggu di sana.
Yuk kita balik ke homestay, laper merajalela :D

Sampe homestay, sarapan, rebutan kamar mandi, packing dan kami siap mengikuti acara terakhir dan paling ditunggu di perjalanan ini. Prosesi ruwatan anak rambut gimbal di pelataran Candi Arjuna.

Sengaja gw dan teman-teman berangkat ke Candi Arjuna agak awal, jam 10-an kami udah ke sana. Alasannya supaya bisa liat-liat dulu dan nyari tempat yang strategis.
Kawasan Candi Arjuna siang itu rame banget… pengunjung dan masyarakat setempat berbaur jadi satu. Tua, muda, dewasa, remaja, anak-anak, semua ada.

Karena acaranya baru mulai jam 12-an, akhirnya gw dan teman-teman keliling dan foto-foto tentu saja :D
Eh iya, di sini gw nemu domba khas Dieng, namanya Dodi – Domba Dieng (yang namanya Dodi, i didn’t mean it ya…. emang disebutnya begitu :D).


siang itu kompleks Candi Arjuna, meriah!!!

lokasi pagelaran wayang kulit semalam

Sendang Sedayu, tempat penyucian anak berambut gimbal yang akan diruwat

dodi a.k.a domba Dieng :D


dengan pakaian khasnya,
bapak tua ini pun mengikuti kemeriahan
di kawasan Candi Arjuna
semua berbondong-bondong
ke Dieng Culture Festival




siang itu…


Jam 12 siang, iring-iringan peserta prosesi ruwatan rambut gimbal mulai memasuki kawasan Candi Arjuna.
Matahari bersinar terang benderang, tapi gw masih setia dengan jaket pink. Anginnya ga nahan ya booo…… semriwing…… wuss.. wuss… wusss…..



sesajen yang menjadi pelengkap pelaksanaan prosesi


Prosesi ruwatan diawali dengan dibawa masuknya aneka sesajen ke area ruwatan, disusul aneka “permintaan” dari anak-anak berambut gimbal yang akan dipotong rambutnya.
Kemudian rombongan anak-anak berambut gimbal yang didampingi oleh orang tuanya memasuki area prosesi dan langsung mengambil tempat di samping kiri candi.
Rombongan para tetua dan sesepuh masyarakat menyusul di belakangnya, diikuti rombongan para petinggi dan pejabat setempat.






yang ini adalah “permintaan”
dari anak-anak berambut gimbal
sebagai persyaratan dipotongnya rambut mereka


Sebelum memulai prosesi penmotongan rambut gimbal, para sesepuh dan tetua masyarakat memasuki bangunan candi untuk berdoa sesaat. Dan kemudian prosesi ruwatan sekaligus pemotongan rambut gimbal dari anak-anak kecil itu segera dimulai.
Satu per satu anak-anak berambut gimbal itu dipanggil namanya, dan disebutkan apa yang menjadi permintaannya sebagai syarat pemotongan rambut gimbalnya.
Berbagai ekspresi dari anak-anak kecil berambut gimbal itu. Ada yang menangis, diam saja, tapi ada juga yang dengan cerianya melambai-lambaikan tangannya pada saat rambutnya dipotong.
Rambut gimbal yang telah dipotong itu kemudian dikumpulkan dan selanjutnya akan dilarung/dihanyutkan di sungai yang bermuara ke laut.

Foto-foto berikut ini adalah pelaksanaan pemotongan rambut gimbal di kompleks Candi Arjuna.

para tetua dan sesepuh masyarakat

deretan sesajen


rombongan tetua dan
deretan anak berambut gimbal
prosesi pemotongan rambut dimulai
prosesi pemotongan rambut gimbal
prosesi pemotongan rambut gimbal

ada yang nangis, takut, tapi ada juga yang ceria

macem-macem ekspresi dari anak-anak berambut gimbal yang dipotong rambutnya

Siang itu ada 7 orang anak berambut gimbal yang mengikuti prosesi ruwatan dan pemotongan rambut gimbalnya.
Setelah selesai, gw dan teman-teman buru-buru balik kanan dan berjalan ke arah homestay.
Eh… tiba-tiba gw ketemu dong dengan adik perempuan kecil yang dipanggul oleh bapaknya. Dan ternyata si adek kecil ini pun berambut gimbal.
Tapi menurut bapaknya, adek kecil ini belum mau dipotong rambutnya, jadi tadi ga ikut prosesi ruwatan.
Selain si adek perempuan kecil itu, ternyata ada juga seorang adek laki-laki yang juga berambut gimbal dan masih belum mau dipotong rambutnya.
Rambut adek laki-laki itu panjangnya sepinggang lho… gimbal kriwil-kriwil… mengingatkan gw sama penyanyi Bob Marley :D


dia menyembunyikan wajahnya
begitu tau banyak yang pegang kamera
rambut gimbalnya panjang



Balik ke homestay, beresin barang bawaan, trus naek ke si abu-abu, nungguin nasi box makan siang, dan kami pun berangkat, back to Jakarta.
Meninggalkan dataran tinggi Dieng dengan segala keunikannya, udara segarnya, hawa dinginnya yang menggigit, keramahan masyarakatnya dan segala yang membuat kangen, untuk kembali ke sana.

Perjalanan ke Jakarta masih panjang, istirahat dulu ya….
Sssstttt… sebagai bocoran, perjalanan Dieng – Jakarta yang harusnya ditempuh sekitar 10 jam, kali ini kami harus merelakan badan terguncang-guncang di dalam bus selama lebih dari 17 jam!!!
Silakan bayangkan sendiri gimana rasanya :D



Cerita selanjutnya, silakan intip di sini….. 






Belitong, Surga yang Tersembunyi


Ini oleh-oleh trip singkat ke Belitong di bulan April 2012 kemarin. Niatnya sih mo langsung ditulis, namun apa daya, penyakit malas emang betah banget klo udah menyerang :D

Hasil kasak-kusuk dengan seorang sahabat, Rika, akhirnya kami sepakat untuk melakukan trip ke Pulau Belitong. Oh ya, Rika ini adalah sahabat sekamar gw waktu menjelajahi Dieng di Bulan Februari 2012. Dari sekedar teman sekamar saat di Dieng, akhirnya kami saling meracuni untuk melakukan trip ke beberapa daerah, salah satunya ya Belitong ini :D

Hasil berselancar di dunia maya pun akhirnya mendapatkan beberapa nama daerah yang wajib dikunjungi selama di Belitong. Karena kami berdua memiliki teman yang biasa meng-arrange event-event trip, akhirnya kami menghubunginya, dan minta tolong di-arrange agar dapat ke Belitong (lumayan, menghemat waktu perburuan tiket pesawat :D). Thanks to Arta yang telah bersedia bersibuk-sibuk ria bantuin booking tiket pesawat, hotel dan tour guide selama di Belitong ^.*

Akhirnya, keluar lah tanggal untuk kami meng-explore Belitong yang banyak dibilang orang surga yang tersembunyi. Tanggal 20 April 2012, kami, gw, Rika dan 5 orang temen seperjalanan lainnya akan memulai petualangan menjelajahi Belitong! Ber-7 (cewek semua lho…) selama 3 hari 2 malam akan melakukan perjalanan secara bersama-sama. Dari informasi yang diberikan Arta, ternyata hanya gw sendiri yang (terpaksa) pisah pesawat…hiks, kayak anak tiri deh…hiks… Teman-teman, ber-6 berhasil mendapatkan tiket maskapai Sriwijaya, sedangkan gw (cewek imut ini :D) harus terbang sendirian dengan maskapai Batavia.

Jumat pagi, 20 April 2012

Karena pisah pesawat, otomatis pisah terminal juga dong waktu mo boarding. Ya iyalah…wong jam berangkatnya juga beda koq :D penerbangan gw lebih lambat 1 jam dari jam penerbangan mereka. Jadi lah gw (berusaha) mengasyikkan diri sendiri dengan mulai menikmati perjalanan ke sebuah daerah yang masih merupakan bagian dari bumi Indonesia yang indah ini. Memulai perjalanan dari kostan dengan ojek sampe ke Stasiun Gambir, diteruskan dengan bis damri sampe ke Bandara Soekarno Hatta, akhirnya gw menjejakkan kaki di Terminal 1C.

On the way to the airport, gw ga berhenti ber-whatsapp ria sm Rika, biasa lah…ngerumpi khas cewek :D
Tadinya kami janjian mo ketemuan dulu sebelum berangkat, maklum aja…karena berangkat lumayan pagi, masing-masing wanita ini belum ada yang sarapan :D

Jadi, alasan sebenarnya kami sama-sama lapaaaaaarrrrrr…hehehehehehe…

Sayang sekali, teryata keberuntungan belum berpihak sama gw sama Rika. Sesampainya di Terminal 1B, ternyata Rika ternyata udah ditunggu oleh teman-teman yang laen dan langsung diajak boarding :D (so sorry Ka, tadinya gw niat mo nganterin roti buat lo, bukan rejeki sih ya…(terpaksa) itu roti akhirnya menjadi penghuni perut gw sendiri ^.^).

Akhirnya, daripada luntang-lantung kayak anak ilang, gw mutusin untuk boarding juga di Terminal 1C. Mendingan nunggu di waiting room kan ketimbang di beranda terminal…lumayan, kalo nunggu di waiting room kan adem karena ada AC…heheheehehe…

Wow, ternyata waiting room-nya rameeee…

Celingak-celinguk, nyari kursi kosong, akhirnya gw mendapatkan 1 kursi kosong di pojokan. Hmm…posisi strategis ini :D
Menurunkan carrier dari pundak, melepas tas berisi kamera, akhirnya gw pun duduk manis di kursi. Memandang manusia-manusia ibukota (eh…ga tau juga ding mereka yang ada di waiting room ini apakah orang Jakarta semua apa bukan), memperhatikan tingkah polah, mendengar celotehan, gerutuan, gw hanya senyum-senyum sendiri akhirnya. Tangan mulai meraba-raba carrier, mencari bacaan yang telah dipersiapkan. Become My Sunshine menemani perjalanan gw kali ini :)

Tak terasa, waktu boarding tiba. Yes!
Tanjung Pandan, here I come :)

Perjalanan ke Tanjung Pandan memakan waktu kurang lebih 1 jam. Alhamdulillah cuaca cerah. Mendekati kota Tanjung Pandan, terlihat “kolam-kolam” bekas penambangan timah dan kaolin. Dari udara, bekas penambangan tersebut hanya terlihat seperti kubangan-kubangan kecil, padahal…menurut cerita mereka yang sudah melihat secara langsung, kolam bekas penambangan itu ukurannya cukup besar dan tentu saja banyak jumlahnya.


Bandara H. A. S. Hanandjoeddin

Belitong, here I come!

Dan akhirnya…roda pesawat pun menjejak bumi Belitong di bandara H. A. S. Hanandjoeddin. Begitu melangkah keluar dari pesawat, setelah meninggalkan senyuman manis untuk mbak-mbak pramugari yang mengucapkan selamat jalan, udara segar segera berebut memasuki paru-paru gw. Bergegas gw menuju ruang departure, karena Rika udah nunggu bareng teman-teman yang lain.

Mata gw nyari-nyari Rika di kerumunan manusia yang mulai menyusun barisan menunggu bagasi. Gw yang cuma berbekal carrier, tas kamera dan perlengkapan snorkeling memang sengaja ga masukin tu bawaan ke bagasi, melainkan gw bawa ke kabin, tidak menggabungkan diri dalam barisan baggage-wanted itu. Nah…itu dia! Cewek berambut panjang dengan overall orange bunga-bunga, Rika sudah duduk manis ditemani 5 orang teman yang lain.

“Haiiiii…” gw segera menghampiri Rika, cipika cipiki, dan mulai menatap teman-teman perjalanan yang lain.
“Eh iya vy, ini kenalkan, teman-teman seperjalanan kita”, Rika mulai memperkenalkan.
Mbak Sumi, mbak Ida, mbak Karti, mbak Laras, dan mbak Dewi. Ok girls, let’s start our adventure!
Di luar bandara, kami udah ditunggu oleh driver dari tim pak Hendra yang akan menjadi guide kami selama di Belitong.



Tujuan pertama kami adalah daerah Tanjung Pendam, menyusuri hamparan pantai yang masih sepi, sambil menikmati nasi bungkus sebagai menu makan siang. Hmm…benar-benar liburan yang menyenangkan…….
Tanjung Pendam ini adalah kawasan pantai yang terletak di pusat kota Tanjung Pandan. Di pantai ini, apabila air laut surut, hamparan pasirnya bisa dijadiin lapangan untuk maen bola lho…. :D

Pantai Tanjung Pendam

Di sepanjang pantai banyak ditemui gazeebo untuk bersantai bersama keluarga. Di hamparan pasirnya, klo diperatiin benar-benar, banyak binatang-binatang khas tepian pantai yang bisa ditemui, contohnya kepiting-kepiting kecil yang unyu-unyu itu lhoooo….


Selesai santap siang, kami meneruskan perjalanan ke hotel untuk beristirahat sejenak dan menyimpan barang bawaan sebelum meneruskan perjalanan menyusuri pantai-pantai yang tersebar di Belitong ini. Mobil mengarah ke pusat kota menuju Hotel eSBe, yang akan menjadi rumah kami untuk 3 hari ini. Sampai di hotel, gw kebagian sekamar lagi sama Rika. Ceki-ceki kamar dulu, liat toiletnya (entah kenapa, tiap masuk kamar hotel, ritual gw pasti langsung liat toiletnya duluan :D), oke juga nih hotel, toiletnya bersih, kamarnya juga nyaman. Kamar gw dan Rika terletak di lantai 2 dan di pojokan, view-nya asyik. Sedangkan kamar teman-teman yang laen, juga di lantai 2, tapi kami pisah bangunan hotel. Kamar mereka terletak di bangunan hotel yang letaknya di depan bangunan hotel yang gw dan Rika tempatin, tapi ga persis depan-depanan gitu.
Pantai Tanjung Binga


Setelah membersihkan diri, nyimpen barang-barang, kami bergegas turun dan kembali menyusuri jalan-jalan di Belitong. Tujuan pertama Tanjung Binga, lanjut ke Tanjung Berau dan terakhir ke Tanjung Tinggi. Oh iya, jalan-jalan di sepanjang pantai di Belitong serasa private holiday lho…pantainya masih sepi…enak banget suasananya…apalagi untuk yang masih pacaran (lho?) atau yang lagi honeymoon… dijamin betaaaaaaaaahhhhhhhhhh….

Pantai Tanjung Berau

Udara pantai yang segar berlomba-lomba memenuhi paru-paru gw, manusia ibukota yang sehari-harinya hanya kebagian ngisep asap knalpot doang. Sejauh mata memandang, yang ada hamparan pantai dengan butiran pasir putihnya yang halus, air laut yang jernih, bersanding dengan batu-batuan pantai yang ukurannya segede-gede gajah :D

Monumen di Pantai Tanjung Tinggi
sebagai bukti klo di pantai ini dulu
dipake untuk Syuting Film Laskar Pelangi
Asli ya itu batu-batu pantainya…gede-gede banget…jadi enak klo mo nongkrong nungguin sunset di situ…hehehehe…
Temen-temen yang laen sibuk foto-foto sana-sini…gw justru sibuk manjat batu sana-sini nyari posisi yang paling strategis. Abis itu duduk diem sambil menikmati pemandangan yang luar biasa indah ini. Subhanallah… bener-bener ini pemandangannya bikin tenang…kecipak air laut di sela-sela bebatuan, diselingi tarian ikan-ikan kecil yang ikut bermain…wow…amazing

Sunset di Pantai Tanjung Tinggi

Oh iya, Pantai Tanjung Tinggi dulu yang dipake untuk syuting film Laskar Pelangi yang ngetop itu lho. Jajaran batu-batunya yang setinggi-tinggi rumah, dengan berbagai bentuk dan formasi, benar-benar memanjakan mata dan jiwa menikmati senja yang indah di sana.






Gw yang sore itu memang niatnya ingin dapetin sunset, langsung ngacir nyari lokasi yang strategis. Bareng Rika, gw manjat-manjat ke atas batu-batu gede itu nyari posisi yang langsung menghadap ke arah matahari terbenam.

Yes! kami dapet tempat strategis, di atas batu gede, straight to the west, dan persis di pinggir laut.
Menikmati senja, menunggu detik-detik matahari turun dari singgasananya, melihat kibaran cahaya emasnya menyapu permukaan laut… what a beautiful moment i have ever seen in my life…..
Berbekal kamera tua, gw coba mengabadikan moment-moment turunnya matahari ke peraduannya (jangan bandingin hasilnya dengan hasil jepretan DSLR yaaaaa… :D).

Ketika matahari telah sempurna terbenam, gw dan Rika baru turun dari atas batu tempat kami nongkrong dan bergegas ke arah parkir kendaraan. Pasti teman-teman yang laen udah nungguin 2 anak yang menghilang ini :D
Ternyata teman-teman yang laen juga udah selesai acara potret-potretnya. Kami segera naik kendaraan dan meluncur ke arah hotel.

Malam ini, teman-teman ngajak keliling kota sekalian beli oleh-oleh khas Belitong. Tapi gw yang kebetulan punya temen yang menetap di Belitong udah janjian mo ketemu, jadi gw bilang sama teman-teman yang laen klo gw ga ikutan mereka keliling kota. Ternyata Rika juga memilih stay at hotel sambil istirahat. Sekitar jam 7 malem, Ayu – temen gw yang tinggal di Tanjung Pandan ini dateng ke hotel bareng suaminya. Temenan udah beberapa bulan, baru ini lho gw ketemu sama Ayu. Maklum…selama ini temenan cuma di dunia maya, sebatas chatting, telepon, sms, dan wall-wall-an :D

Finally ya Yu…kita ketemu juga…

Cerita-cerita sambil menikmati oleh-oleh martabak manis dari Ayu (hehehehehe…selain dapet kunjungan, gw juga dapet japrem sebungkus martabak manis Belitong dari Ayu).
Dari hasil ngobrol, akhirnya niat gw mo berburu sunrise di Belitong terwujud. Ayu dan suami bersedia nemenin ke daerah Kaolin untuk liat sunrise keesokan pagi, dipinjemin motor pula lho… how kind you are, Yu :)
Ok, besok pagi jam 6 Ayu dan suami akan jemput gw dan Rika di hotel, dan langsung dianterin ke daerah Kaolin. Sip!

Setelah Ayu pulang, gw dan Rika pun beristirahat (nyiapin badan untuk bangun pagi dan hunting sunrise di Kaolin).

Sabtu pagi, 21 April 2012

Setelah sholat subuh, gw dan Rika siap-siap hunting sunrise. Ayu udah jemput :)
Enak ya punya temen yang tinggal di Belitong, selain dijemput dan dianter ke Kaolin, Ayu juga minjemin motor lho… thank you so much Yu… support-nya luar biasa :D
Naek motor pagi-pagi, gw boncengan sama Rika, menyusuri jalan-jalan di kota Belitong yang masih sepi dan lengang, menghirup udara pagi yang masih bersih… whuaaaaa… senengnyaaaaaaaaa…

Sampe di daerah Kaolin, wah… baru ini liat dengan mata kepala sendiri… lobang bekas galian kaolin itu ternyata gede yaaaaa….


Semburat Sunrise di Kaolin


Karena dibiarkan terbengkalai, ga ada reklamasi lahan kayaknya, bekas-bekas lobang galian itu berubah menjadi semacam danau buatan dengan ukuran yang bervariasi.

Tanah tempat bekas galian kaolin itu sendiri merupakan gabungan tanah liat dan pasir putih. Bekas galian itu karena lama dibiarkan tanpa ada proses peremajaan, akhirnya menjadi danau-danau dengan warna airnya yang beraneka ragam. Siapa bilang Telaga Warna itu hanya ada di Dieng dan kawasan Ciwidey? Di Belitong juga ada lho… dan ga kalah bagusnya dengan yang ada di dataran tanah Jawa.



Yang Tersembunyi dan Tak Terjamah



Puas menikmati sunrise di Kaolin, melihat jari-jari mentari menguak tabir pagi, menjamah wajah perbukitan Kaolin, meninggalkan semburatnya di permukaan air danau, akhirnya gw, Rika, Ayu dan suami Ayu meninggalkan kawasan Kaolin. Klo ditanya kesan gw? Gw pengen ke sana lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii… suasananya bikin betah… tenang, ga semrawut kayak Jakarta :D

Dari kawasan Kaolin, kami diajak Ayu muter-muter ke daerah kawasan perkantoran di Belitong. Dan… kami nemuin rumah adat Belitong yang terletak berdampingan dengan rumah walikotanya. Karena berakar dari rumpun Melayu, rumah adat Belitong juga memiliki arsitektur yang sama dengan rumah adat Melayu pada umumnya. Rumah panggung, terbuat dari kayu dengan jendela-jendela besar, langit-langit yang tinggi dan detil ujung-ujung atap yang khas bercorak Melayu.


Rumah Adat Belitung
Karena waktu udah menunjukkan pukul 7 pagi, artinya schedule trip di hari ke-2 akan segera dimulai, gw dan Rika memutuskan untuk kembali ke hotel. Ayu dan suami nganter sampe hotel, dan kemudian pulang.

Teman-teman yang lain heran, liat gw dan Rika balik ke hotel naik motor.
“Dari mana?” tanya mereka.

“Dari hunting sunrise mbak” jawab kami sambil bergegas naik ke kamar, beres-beres perlengkapan untuk snorkeling dan turun lagi untuk sarapan.
Schedule trip hari ini, kami akan menjelajahi pulau-pulau kecil yang banyak tersebar di sekitar Pulau Belitong. Dan tentu saja ada agenda snorkeling untuk menikmati alam bawah laut Belitong.

Tujuan pertama kami ke kawasan pantai Tanjung Kelayang. Di sini gw baru nemuin kalimat “WELCOME TO BELITUNG“. Yihaaa… gw sampe di Belitong, guys! Okay, let’s rock our holiday!!!

Yeayyy…I’m in Belitong

Perahu kayu kecil sudah standby menunggu kami untuk segera berlayar menyusuri permukaan laut yang sejernih kaca. Dan keributan kecil pun dimulai…

Untuk mencapai perahu, kami harus sedikit berbasah-basah agar dapat menaiki tangganya. Mbak Sumi, yang blom prepare dengan celana pendek bingung gimana caranya supaya bisa sampe ke perahu tanpa basah :D

ayo girls, kita kemon :D
Hihihihihihihi…namanya juga wisata aer mbak…koq takut basah??? (gw ampir ngakak guling-guling itu aslinya).
Akhirnya disiasati tuh, mbak Sumi ngegulung celananya sampe di atas lutut. Lagian, disuruh ganti celana pendek aja si mbaknya ga mau.

Oke, perjuangan mbak Sumi naek ke perahu berhasil. Let’s go!!!

nemu bintang laut unyuuuuu… :D
Perahu kecil pun mulai berlayar ke arah Pulau Pasir yang menjadi tujuan pertama kami. Oh iya, Pulau Pasir ini aslinya hanya gundukan pasir yang klo air laut surut, akan keliatan seperti pulau. Tapi klo air laut sedang pasang, Pulau Pasir ini akan tenggelam. Di Pulau Pasir, gw nemuin bintang laut yang gede, warnanya orange dengan totol-totol item di ke-5 kaki-kakinya. Banyak banget lho bintang lautnya…
Eh iya, di Pulau Pasir gw  juga nemuin bintang laut kecil dengan 5 kaki yang dipenuhi tentakel-tentakel halus yang bikin geli klo diletakin di telapak tangan… hehehehehe… rasanya kayak ada yang gelitikin telapak tangan :D

Pulau Lengkuas dan
Mercusuarnya yang Kokoh

Dari Pulau Pasir, pelayaran kami lanjutkan ke arah Pulau Lengkuas. Di perjalanan, kami melewati Pulau Burung, pulau ini dipenuhi batu-batu gede yang klo diliat dari jauh bentuknya seperti kepala burung gitu.

Sebelum sampai di Pulau Lengkuas, guide tour kami nawarin, mo snorkeling dulu atau snorkeling-nya nanti setelah dari Pulau Lengkuas. Gw dan Rika milih snorkeling dulu aja, biar ga terlalu panas. Temen-temen yang lain ternyata ga pada mau snorkeling-an??? lho…katanya pada ga bisa berenang.
Eh mbak-mbak, gw kasi tau ya… gw juga ga bisa berenang koq… ini sih gw nekad aja, toh ada life vest. Lagian kan sayang banget udah sampe di sini ga ngerasain pemandangan bawah airnya.

Finally, yang bener-bener nyemplung+nyebur dan keliling-keliling ngerasain indahnya alam bawah air Belitong cuma gw dan Rika. Pemandangannya… wooooow… speechless gw. Even ini bukan snorkeling gw yang pertama, tapi experience-nya… ini yang terindah yang pernah gw liat!




Snorkeling ke-3,
kesannya??? it’s so addicted :D

Karang-karangnya beraneka warna, mulai dari yang kecil sampe yang besar. bentuknya juga macem-macem. Dan yang bikin tambah surprise itu, rombongan ikan warna warni berkeliaran tepat di depan mata! Kuning gonjreng, biru neon, orange, coklat, abu-abu, marun…ikan dengan segala macam warna berkeliaran dengan cantiknya di sela-sela batu karang.





Nyesel ga bawa underwater camera gw (eh…emang udah punya ya?). Harus beli underwater camera ini, biar klo next time dapet kesempatan jalan-jalan untuk wisata air lagi bisa mengabadikan moment seperti yang gw ceritain di atas tadi.

1 jam terlewati, klo mo diturutin sih gw pengen terus menikmati pemandangan bawah airnya. Cuma kan perjalanan hari ini mesti diteruskan. Masih ada beberapa pulau tujuan yang harus kami datangi.
Dengan sedikit enggan, gw pun naik ke perahu. Perahu kembali berlayar, sekarang kemudi terarah ke Pulau Lengkuas.

Mercusuar di P. Lengkuas

Di Pulau Lengkuas, kami melihat mercusuar yang sudah ada sejak jaman Belanda, yang sampe sekarang masih berdiri kokoh dan masih berfungsi untuk membantu dunia perlayaran negeri tercinta ini. Mercusuar ini terdiri dari 19 lantai dengan konstruksi besi, yang semakin ke atas, bentuknya semakin kecil.

Berdua Rika (abisnya mbak-mbak yang laen ga ada yang mau ikutan naek, capek katanya), gw mulai menyusuri satu persatu anak tangga yang ada di dalam bangunan mercusuar.

Di tiap lantai, mercusuar dilengkapi dengan beberapa jendela kecil yang mengarah ke arah yang berbeda-beda… ini untuk membantu supaya frame yang bisa ditangkap mata dalam mengawasi lalu lintas kapal-kapal di lautan semakin luas.



Menaiki tangga demi tangga, mengintip di setiap sisi jendela, gw mendapatkan berbagai frame landscape lautan yang beraneka dan berbeda-beda indahnya.
Di lantai 9 Rika memutuskan berhenti karena kameranya mati (hihihihhihihihi…abis batere ya Ka?)
Pemandangan dari Puncak Mercusuar


Gw masih lanjut terus ke atas. Mencoba mengabadikan setiap frame yang berhasil gw intip dari celah-celah jendela. Makin ke atas, pemandangan yang bisa ditangkap mata semakin luas. Dan akhirnya….. gw sampe ke puncak mercusuar! Whuaaaaaaaaaa…. pemandangan dari sisi balkon mercusuar bikin mata gw melotot. Indahnyaaaaaaaaaa……….

Gradasi air laut… hamparan pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Lengkuas… bebatuan… deretan kapal-kapal yang bersandar… deretan pohon nyiur yang menari dan bernyanyi bersama…
I can’t say anymore…it’s more than just a beautiful landscape…this is a masterpiece!

Puas menikmati indahnya laut dari puncak mercusuar, gw akhirnya turun (gantian dengan pengunjung lain juga kali… masak iya gw monopoli tu puncak mercusuar sendiri :D).

Rika masih nungguin di lantai 9. So, kami turun bareng.

Eh iya, di sini juga kami menikmati makan siang. Duduk rame-rame di bangku kayu, di bawah deretan pohon kelapa, bertelanjang kaki menikmati belaian pasir pantai yang halus, disapa hembusan angin pantai yang sejuk… wohooooo….



Kolam Bidadari di P. Lengkuas



Di Pulau Lengkuas, ada 1 sisi pantai yang disebut Kolam Bidadari. Terus terang gw ga ngerti kenapa dinamai Kolam Bidadari? Dan ga sempet juga nanya sama penduduk lokal, kenapa seperti itu. Mungkin dulu ada hikayat bahwa di situ tempatnya bidadari mandi kali ya….

Karena hari terus beranjak siang menjelang sore, kami pun kembali ke perahu. Di kejauhan mulai terlihat awan hitam pertanda hujan akan segera datang. Hayuk ah buruan…. ntar keburu ujan gedeeeee….

Bener aja, belum juga jauh dari Pulau Lengkuas, titik-titik air hujan mulai menyentuh permukaan air laut dan wajah kami. Air laut pun mulai bergerak dengan sedikit gelombangnya yang lumayan membuat kami terayun-ayun di perahu. Wajah-wajah yang tadinya cengengesan mulai meredup, berganti dengan warna sedikit pias (hehehehehe… maklum deh, kan pada ga bisa berenang ini judulnya).
Wah… klo ujan gede beneran dan kami masih di perahu, bisa-bisa pada mabok laut ini kena gelombangnya.

Pak, ayo dong kapalnya ngebut biar ga keburu ujan gede……

Karena titik-titik air hujan semakin gede, akhirnya perahu diarahkan ke Pulau Babi (klo ga salah sih itu namanya). Pulau ini (katanya) ga berpenghuni, hampir seluruh permukaan pulau dihiasi dengan deretan pohon kelapa. Ternyata banyak juga yang berteduh di pulau ini menunggu hujan reda.

Bener aja, begitu kami sampai di pulau, hujan deras pun turun, breeeeeesssssss……

Titik-titik air hujan berlomba turun membasahi deretan pepohonan, rumput, dan tentu saja…kami yang berlarian mencari tempat berteduh :D
Untungnya hujan turun ga terlalu lama…klo kelamaan, bisa-bisa kami nginep di sini deh…hehehehehe…
Ketika titik-titik air hujan mulai berhenti membasahi permukaan bumi, dan sang mentari mulai menampakkan lagi cengkeraman sinarnya, kami mulai bergerak kembali ke perahu.

Pantai di P. Babi

Dari si bapak perahu, kami dapet bocoran klo masih ingin berbasah-basah dan main air, mending di sekitar Pulau Babi ini. Mendengar itu, ga nunggu dikasi tau untuk yang kedua kalinya, gw dan Rika langsung nyebur lageeeeeeee……

Klo diturutin, ga ada rasa puas-puasnya lho maen air di sini…abisnya, airnya jernih banget! Ditambah pasir pantai yang halus, manjain jari-jari kaki banget….

Klo aja ga inget bahwa perjalanan masih jauh, ingin rasanya berlama-lama di situ…klo gw sih niatnya sekalian belajar berenang sm Rika…hehehehehe…
Rocky Beach
So, karena ingat masih ada schedule laen yang harus tuntas di hari ini, akhirnya dengan sedikit rasa enggan, gw pun naek ke perahu. Di perjalanan pulang kami melewati Rocky Beach. Ini hanya sekumpulan batu-batu granit gede yang berdiri gagah menyusun sebuah formasi abstrak. Nah… kali ini kami udah diwanti-wanti oleh tour guide supaya ga main air. Karena apa? Ternyata di sekitar situ banyak binatang Bulu Babi-nya. Tau kan dengan Bulu Babi? Binatang laut yang bentuknya bulat seperti bola, yang sekujur tubuhnya ditumbuhi duri-duri halus berwarna item. Yang klo menancap ke tubuh kita bisa menyebabkan sakit berkepanjangan karena potongan durinya itu akan terus terbawa di dalam aliran darah kita…. hiiiiiiiiiyyyyy……

Kami ga berlama-lama di Rocky Beach, walaupun masih menyempatkan untuk sejenak foto-foto dan merasakan (sedikit) sentuhan airnya… hehehehehehe… nakal ya… udah dibilangin ga boleh main air di situ, masih juga bandel :D

Finally, kami sampe deh ke Tanjung Kelayang. Turun dari perahu, kami masih punya sedikit waktu sebelum melanjutkan acara berburu mie Belitong sore ini, kami memutuskan untuk bersantai sejenak menikmati sapaan sore di Tanjung Kelayang ditemani kelapa muda yangg rasanya segeeeeerrrrr…. banget :)

Setelah menghabiskan air kelapa muda (masing-masing dari kami ngabisin 1 buah kelapa muda lho…. hihihihihihihi…), kami pun melanjutkan perjalanan. Let’s go hunting for mie Belitong!
Berdasarkan rekomendasi dari temen yang udah ke Belitong, mie Belitong yang enak itu adalah mie Belitong Atep yangg ada di pusat kota. Dan… meluncurlah kami ke sana…
ini tampilan mie Belitong yang heboh itu
Sampai di mie Atep, ouw… rame juga yang ngantri… kami nyari meja yang bisa nampung gerombolan rusuh ini. Dapet lah 1 meja panjang, jadi kami bisa bareng-bareng deh makan mie Belitong-nya. Oh iya, pasangan makan mie Belitong ini adalah es Jeruk Konci. Tadinya gw mikir, yang dibilang es Jeruk Konci itu apa?

Ternyata…. es Jeruk Konci itu adalah es dari buah jeruk kecil-kecil yang di sana namanya Jeruk Konci :D
Seruput pertama… hmm… seruput ke-2, segeeeeerrrrrrrr… hehehehehehehe…

Mie Belitong sendiri isinya sejumput mie kuning, beberapa potong kecil tahu yang sudah digoreng, kentang, udang dan disiram kuah kari udang yang sedikit kental, dan ditaburi beberapa keping emping melinjo. Rasanya… hmm… yummy…. enak banget…
Cocok bener makan mie Belitong sore-sore, setelah badan capek maen air seharian, laper, dingin, ditemani segelas es Jeruk Konci… Perfecto!

Selesai menyantap mie Belitong, ga perlu nunggu lama untuk menghabiskan 1 porsi mie Belitong karena porsinya (cukup) kecil :D kami pun kembali ke hotel.

Yang ada di pikiran gw saat itu adalah… MANDI! :D hehehehehehehe…

Setelah seharian hanya air laut yang menempel di sekujur tubuh ini, meninggalkan rasa lengket yang pekat, sekarang saatnya bersih-bersih dengan air tawar.

Abis mandi, udah harum :D dan yang jelas udah ga lengket-lengket lagi nih badan, gw dan Rika saling ceki-ceki foto di kamera. Wah… ternyata gw dan Rika sama-sama gila klo untuk landscape… klo dirata-ratain, masing-masing punya sekitar 400-an foto!!!

Oh la..la… banyak yaaaaaa…..

Sekitar jam 7 malem, Ayu dateng lagi. Janjinya, malam ini Ayu akan nganter gw dan Rika hunting oleh-oleh dan makan seafood. Masak iya, udah jauh-jauh ke Belitong ga sempet ngerasain makan seafood di sini kan…..
Ternyata… mbak Sumi mo ikut. Dan bapak tour guide kami (beneran ini, karena udah kelamaan baru ditulis, gw lupa, siapa nama si bapak guide itu – maaf ya pak, ini lupa beneraaaaaannnnn…) udah siap dengan mobilnya di depan hotel.
Jadi lah malam itu, gw, Rika, mbak Sumi, Ayu dan suami serta bapak guide menyusuri jalanan kota Tanjung Pandan mengarah ke galeri (orang sana nyebutnya gitu) untuk hunting oleh-oleh.

Sampe di galeri, gw dan Rika mulai nenteng keranjang. Keritcu (kripik cumi), kripik kulit ikan, teri crispy, miniatur perahu, t-shirt, bros pun berpindah tempat, dari rak ke dalam keranjang :D
(hehehehehe… maap, klo urusan oleh-oleh gw emang sedikit royal eh, kalap ding lebih tepatnya… abisnya, list-nya panjang banget… mulai dari keluarga di rumah, temen kantor, sahabat gw di kost… pokoknya kayak mo ngasi makan orang sekampung deh…. lebay ga sih gw? hehehehe…)
Dan…. taaraaaaa… sekotak gede oleh-oleh atas nama gw pun siap di depan meja kasir. Busyet! Ternyata belanjaan gw banyak banget :D
It’s okay, abis bayar, masukin belanjaan ke bagasi, trus kami pun melanjutkan perjalanan ke restoran Dewi.

Sampai di resto, nyari meja kosong, dan mata pun mulai menari-nari menyusuri deretan menu makanan yang ada di list menu.
Malem ini, menu dinner-nya: udang saos asam pedas, kepiting asam manis, cumi goreng tepung, cah kangkung, otak-otak Belitong, dan beberapa botol air mineral.
Whuaaaaa… asap mengepul dari piring cah kangkung, menyusul udang asam pedas, kepiting asam manis… mari kita sikat guys…..

Nyam…nyam…nyam… enaaaaaaaaakkkkkkk….

Malam terakhir di Tanjung Pandan, kami tutup dengan makan seafood segar yang enaaaaaaaakkkkkkk…. :)

Selesai makan, kami langsung pulang ke hotel. Sebenarnya masih pengen keliling-keliling kota Tanjung Pandan, tapi apa daya… jam 10 malam mobil harus off, balik ke garasi :(

Gpp deh, balik ke hotel, packing, kan besok udah harus balik ke Jakarta.

Malam terakhir di Tanjung Pandan, rasanya senang banget deh liburan di sini. Walau pun masih ada rasa ga puas karena blom nyampe ke Belitong Timur – sebagai bocoran, di Belitong Timur kita bisa liat Kelenteng Dewi Kwan Im, trus bisa liat SD Gantong yang jadi lokasi film Laskar Pelangi, bisa menjelajahi kawasan Manggar dan sekitarnya.

Next time klo ke Belitong, gw harus sampe ke Belitong Timur! :D
Itu artinya, kudu nabung lebih giat lagi kan yaaaaa…..kan mo ke Beltim…hehehehehe…

Minggu pagi, 22 April 2012

Pagi ini, setelah beres-beres, kemudian sarapan, kami ber-7 udah duduk manis di lobi hotel menunggu jemputan. Carrier, travel bag, kardus oleh-oleh semua udah dikumpulin biar ga ada yang ketinggalan. Eng..ing..eng… jemputan dataaaaaaang…..
Salah satu sisi Dermaga Pangkalbalam

Karena waktu berangkat masih cukup lama, kami akhirnya diajak keliling-keliling kota. Menyusuri setiap sudut kota Tanjung Pandan. Mengintip Kelenteng Hok Tek Che atau yang dikenal dengan nama Kelenteng Pasar Ikan, menyusuri dermaga penumpang Pangkalbalam, dan…. kembali ke mie Atep :D

Hehehehehe… ternyata temen-temen masih ingin berburu oleh-oleh di sana. Di mie Atep, ada kue pia yang ukurannya segede tutup gelas. Kata mbak Ida, rasanya enak. Jadi lah mbak-mbak yang lain pun berburu pia di mie Atep.

Replika Batu Satam
di Pusat Kota Tanjung Pandan

Gw dan Rika lebih memilih melihat-lihat pusat kota Tanjung Pandan dari sudut kamera kami. Di pusat kota ada monumen replika batu Satam (Bilitonite). Batu Satam ini merupakan batu meteor yang hanya bisa ditemukan di Belitong.

Setelah teman-teman yang lain selesai berbelanja, kami pun kembali ke hotel.
Kali ini kami beneran siap-siap untuk ke bandara. Barang bawaan mulai dimasukkan ke bagasi mobil… waks… full banget, jadi kayak abis mudik :D
hihihihi…masih tutup counter-nya :D

Sesampainya di bandara, Rika, Mbak Sumi, mbak Ida, mbak Karti, mbak Laras, dan mbak Dewi, langsung check-in dan boarding. Sementara gw, seperti waktu berangkat, pisah pesawat dengan mereka…hiks..hiks.. Dan…. seperti yang terlihat di foto, counter check-in penerbangan gw masih tutuuuuppp… huhuhuhuhuhu….

Finally, Belitong memang salah satu surga di Indonesia… jadi makin cinta deh sama Indonesia…..

Untuk teman-teman yang mo liat peta Belitong keseluruhan, foto di bawah ini mudah-mudahan cukup ya… Ayo, cobain deh ke Belitong, masak kalah sama bule-bule itu yang udah bolak-balik ke Belitong…