Category Archives: Jawa Timur

Baluran – Sejumput Rasa Afrika di Ujung Timur Tanah Jawa

EVY_2437

Baluran! Nama Taman Nasional yang terletak di Jl. Raya Situbondo – Banyuwangi, Wonorejo, Banyuputih, sudah 2 tahun ini selalu terbayang-bayang di kepala saya. Hampir setiap tahun saya selalu berencana ke sana, tapi selalu gagal berangkat. Dan akhirnya, alhamdulillah tahun ini mimpi itu terlaksana.

Untuk menuju Banyuwangi, ada beberapa moda angkutan yang bisa ditempuh. Bisa menggunakan pesawat, kereta api ataupun bus. Apabila ingin menggunakan kereta api, ada 2 pilihan, yaitu ekonomi dan eksekutif.

Berikut adalah informasi mengenai moda angkutan menggunakan kereta api yang bisa dipertimbangkan:

Kereta Api Ekonomi

  • KA Gaya Baru Malam Selatan, Stasiun Jakarta Kota – Stasiun Gubeng (Surabaya), 10.30 – 01.25 wib, Rp 104.000;
  • KA Kertajaya, Stasiun Pasar Senen – Stasiun Pasar Turi, 14.00 – 01.30 wib, Rp 165.000.

Setelah tiba di Surabaya, perjalanan dilanjutkan menggunakan kereta api lagi menuju Banyuwangi. Adapun jadual untuk kereta menuju Banyuwangi adalah sebagai berikut:

  • KA Probowangi, Stasiun Surabaya Kota/Semut – Stasiun Surabaya Gubeng – Banyuwangi, 04.15 – 04.25 – 11.41 wib, Rp 56.000;
  • KA Mutiara Timur Pagi, Staiun Surabaya Gubeng – Banyuwangi, 09.00 – 15.20 wib, Rp 120.000 – Rp 200.000;
  • KA Sritanjung, Stasiun Surabaya Gubeng – Banyuwangi, 14.30 – 20.07 wib, Rp 94.000.

 

Kereta Api Bisnis Eksekutif

  • KA Gumarang, Stasiun Pasar Senen – Stasiun Pasar Turi, 15.45 – 03.20 wib, Rp 230.000 – Rp 465.000;
  • KA Bima, Stasiun Gambir – Stasiun Gubeng, 16.45 – 05.49 wib, Rp 380.000 – Rp 530.000;
  • KA Bangunkarta, Stasiun Gambir – Stasiun Gubeng, 15.00 – 03.48 wib, Rp 335.000 – Rp 490.000;
  • KA Argo Bromo Anggrek Pagi, Stasiun Gambir – Stasiun Pasar Turi, 09.30 – 18.30 wib, Rp 345.000 – Rp 510.000;
  • KA Argo Bromo Anggrek Malam, Stasiun Gambir – Stasiun Pasar Turi, 21.30 – 06.30 wib, Rp 345.000 – Rp 510.000;
  • KA Sembrani, Stasiun Gambir – Stasiun Pasar Turi, 19.35 – 05.15 wib, Rp 325.000 – Rp 490.000.

 

IMG_0970
persiapan keliling Banyuwangi

 

Saya memilih menggunakan pesawat saat berangkat ke Banyuwangi. Rutenya adalah Jakarta (CGK) – Surabaya (SUB) – Banyuwangi (BWX). Perjalanan dari Jakarta dimulai pada pukul 05.30 wib, mendarat di Surabaya pukul 07.05 wib, dan transit selama kurang lebih 4 jam 40 menit. Pukul 11.45 wib perjalanan dilanjutkan menuju Bandara Blimbingsari menggunakan pesawat ATR dan tiba di Banyuwangi pada pukul 12.45 wib. Saat itu saya mendapatkan tiket dengan harga Rp 1.791.000 pulang pergi.

 

IMG_0976
dan bertemu sunrise di penerbangan menuju Surabaya

 

IMG_0979
menuju Banyuwangi, ganti pesawat ATR

 

IMG_2027
welcome to Blimbingsari, airport in Banyuwangi

 

Sesampainya di Banyuwangi, tujuan utama saya adalah Taman Nasional Baluran. Namun karena lapar, sebelumnya saya memutuskan untuk mencoba kuliner yang menurut Papi (guide saya selama di Banyuwangi), cukup terkenal di seantero Banyuwangi :D

IMG_1039IMG_1038

Dan akhirnya, mobil yang saya tumpangi memasuki halaman Waroeng Bik Ati. Seporsi nasi rawon, yang menjadi andalannya pun terhidang di atas meja saya. Rasa gurih dari kuah rawon, made my day banget siang itu. Ditambah 2 iris gepuk, hmm……

Perjalanan dilanjutkan. Roda mobil mulai menggilas hitamnya aspal jalanan di Banyuwangi, menuju sisi Utara, menuju Taman Nasional Baluran.

Akhirnya saya tiba di Taman Nasional Baluran. Setelah lapor di pos jaga dan membeli tiket masuk sebesar Rp 10.000, mobil yang saya tumpangi mulai memasuki kawasan taman nasional di ujung Pulau Jawa yang kental dengan nuansa Afrika ini.

 

IMG_1246
tiket masuk ke Taman Nasional Baluran

 

Luas Taman Nasional Baluran kurang lebih 25 ribu hektar dengan berbagai jenis hutan, satwa dan tumbuhan. Setelah memasuki gerbang hingga 5 km ke depan, pengunjung akan disuguhi hutan musim yang lebat. Hutan ini akan terlihat hijau saat musim penghujan, dan berubah menjadi kering, kecoklatan dan rawan kebakaran pada musim kemarau. Kemudian, 3 km ke depan, yang terlihat adalah hutan yang senantiasa hijau, yang terkenal dengan sebutan evergreen. Hutan ini terletak di bagian cekungan, di mana terdapat sungai bawah tanah, yang membuat seluruh pepohonan di sini tidak pernah kekurangan air, dan senantiasa hijau sepanjang tahun.

IMG_1044
sebagian hijau, sebagian meranggas

 

IMG_1045
pemandangan seperti ini yang akan menemani perjalanan mengelilingi Taman Nasional Baluran

 

IMG_1059
“evergreen” – bagian dari Taman Nasional Baluran yang menghijau sepanjang tahun

 

Ratusan pohon-pohon besar di kanan kiri jalan menemani penelusuran saya di Taman Nasional Baluran ini. Cuaca di tengah hari menjelang sore ini cerah, langit biru terlihat dihiasi beberapa jumput awan putih. Jalanan tanah berbatu terlihat berliku-liku begitu mobil yang saya naiki masuk semakin dalam di kawasan taman nasional ini. Pohon-pohon terlihat tinggi menjulang dengan daunnya yang hijau, beberapa meranggas tanpa sehelai daun pun.

Taman Nasional Baluran terkenal dengan hewan-hewan liar yang hidup bebas di sana. Saat saya tiba di Savana Bekol, yang merupakan salah satu highlight dari taman nasional ini, saya hanya berhasil melihat segerombolan Banteng dan hewan-hewan lainnya dari kejauhan. Berbagai suara hewan liar terdengar sahut-menyahut.

EVY_2438
sore itu, saya cukup puas melihat sekawanan hewan liar yang berderet di padang rumput dari kejauhan

 

EVY_2441
pemandangan seperti ini yang sering membuat rasa kangen di hati

 

EVY_2447
sore itu, Baluran terlihat cukup ramai oleh pengunjung

 

EVY_2467
ini kendaraan saya selama menjelajahi Banyuwangi dan sekitarnya

 

EVY_2482
kesorean, alhasil motretnya maksa, dan harus antri! :D

 

EVY_2470
sebagian peninggalan penghuni Baluran

 

Saya menyempatkan diri untuk naik ke menara pengamatan. Dari atas menara besi yang sebagian anak tangga dan lantai kayunya sudah mulai lapuk tergerus waktu, saya melihat indahnya Baluran dari ketinggian. Sejauh mata memandang, hanya gundukan hijau dan coklat yang terlihat.

EVY_2459
ini jalan menuju menara pandang

 

EVY_2458
dan inilah pemandangan yang bisa dilihat dari atas menara

 

EVY_2453
dari ke-4 sisi menara, hijau, kuning, coklat berpadu

 

EVY_2449
langit biru dan padang rumput hijau, hanya 1 kata, INDAH!

 

IMG_1073
pemandangan seperti ini yang selalu bikin kangen

 

EVY_2461
ini musholla kecil yang menjadi tempat istirahat sejenak di sore itu

 

Turun dari menara, saya sempat bertemu dengan seekor Burung Merah Hijau yang keluar dari balik perdu. Hanya sayang, Merak merupakan binatang yang sangat sensitif dan sulit didekati, dan saya hanya berhasil memotretnya dari samping dan belakang.

EVY_2464
kurang cepat motretnya, alhasil blur di mana-mana

 

EVY_2465
ga berhasil motret dari depan dan melihat ekornya mengembang

 

Perjalanan di Baluran berakhir di Pantai Bama. Pantai berpasir halus yang senja itu terlihat sepi, hanya terlihat 2-3 mobil pengunjung di parkiran. Karena hari sudah menjelang gelap, saya tidak berlama-lama di pantai. Perjalanan harus dilanjutkan. Tengah malam nanti saya akan mencoba untuk melihat blue fire di Kawah Ijen. Semoga cuaca bersahabat.

EVY_2475
destinasi terakhir di hari itu

 

EVY_2478
Pantai Bama senja itu

 

EVY_2481
menikmati senja sambil duduk di ayunan ini

 

EVY_2472
udah mau pulang, baru kebaca tulisan ini :D

 

 

Bromo, Keindahan Alam yang Mistis

 

EVY_0863

 

Setelah selesai ngubek-ubek Museum Angkut dan dapat bonus sunset yang cakep banget di Gunung Banyak, dan setelah kenyang meng-ayam kremes + bebek kremes dan bebek cobek, akhirnya kami back to Lily Guesthouse, untuk tidur…… yah, sekitar 1.5 jam lah sebelum dijemput oleh mas Bidin untuk menyambut sunrise di Bromo.
Kami tiba di guesthouse sekitar pukul 22.00 wib dan langsung bersih-bersih. Walaupun cuma punya waktu 1.5 jam, saya memutuskan untuk tidur dan mengistirahatkan tubuh yang sudah lumayan penat ini.
Tepat jam 23.40 wib, hp saya berbunyi, sebuah pesan dari mas Dani masuk “Aku di bawah yah”. Wah, udah dijemput untuk segera keliling Bromo! Ok mas Dani, kami turun!

Di bawah (kamar kami ber-5 ada di lantai 3 guesthouse) sudah menunggu dengan setia, mas Dani, Martha, mas Bidin dan mas Sukron yang akan mengantarkan kami berkeliling kawasan Taman Nasional Bromo – Tengger – Semeru. Hoollaaaaaa….. apa kabar semua??? Kali ini gantian mas Bidin dan mas Sukron yang akan menemani kami berkeliling.
Jam 00 teng, jeep putih dengan stiker OurTrip1st yang kami naiki mulai bergerak menyusuri dinginnya Kota Malang. Oh iya, ini kali ke-4 saya mengunjungi Malang, tapi baru ini merasakan dinginnya Malang yang menggigit sampai ke tulang. Mana anginnya rajin bertiup, membuat tangan saya harus rajin-rajin menaikkan kerah jaket untuk mengurangi dinginnya.
Rute yang kami lalui malam ini adalah rute Pasuruan. Menurut mas Sukron yang menjadi driver kami, untuk tiba di kawasan Bromo melalui rute Pasuruan membutuhkan waktu sekitar 2.5 jam. Lumayan jauh juga ya ternyata. Karena masih ngantuk, saya hanya bertahan selama 30 menit pertama, dan selanjutnya saya pun pulas tertidur di jok depan. Jalanan yang semula berupa aspal mulus, mulai berganti dengan jalanan beraspal kasar. Dan saya terbangun tepat pada saat jeep berhenti di depan pos penjagaan dan pembelian tiket untuk memasuki kawasan Taman Nasional Bromo – Tengger – Semeru.
Setelah melewati pos penjagaan, jeep yang kami tumpangi kembali menapaki jalanan beraspal kasar ke arah Penanjakan, lokasi yang umumnya didatangi pengunjung apabila ingin melihat sunrise yang akan muncul dari sisi kiri lokasi Gunung Bromo. Namun kali ini kami tidak akan ke Panajakan, tapi kami akan mencoba melihat detik-detik terbitnya matahari dari Bukit Kingkong.

 

suasana malam menjelang subuh dari parkiran Bukit Kingkong
suasana malam menjelang subuh dari parkiran Bukit Kingkong, dan di kejauhan kelihatan Gunung Raung yang masih terus mengeluarkan asap tebal

 

masih suasana malam Malang dari ketinggian
masih suasana malam Malang dari ketinggian

 

Lokasi Bukit Kingkong sendiri sebenarnya searah dengan Pananjakan 1, lokasinya sekitar 2.5 km sebelum Pananjakan. Apabila kita menuju ke Pananjakan, lokasi Bukit Kingkong ini ada di sebelah kanan. Dan di tengah malam menjelang subuh itu, jam 02.30 wib kami sudah tiba di parkiran menuju Bukit Kingkong. Saya mencoba turun dari jeep untuk mengambil milkyway dan nightshoot-nya Malang. Baru saja membuka pintu jeep, bbrrrrrrrr….. udara dingin langsung menyergap wajah saya, membuat saya tergesa menaikkan syal merah ke arah wajah untuk mengurangi dingin. Tangan saya pun segera saya bungkus dengan sarung tangan biru yang telah disiapkan (hmm…. jadi mikir untuk membeli sepasang sarung tangan baru yang lebih tahan dingin, karena ternyata walau sudah dibungkus sarung tangan pun ternyata hawa dinginnya tetap membuat jari-jari saya kaku).

Saya mulai mengeluarkan tripod dan kamera walau dengan sedikit susah payah karena jemari yang kaku karena kedinginan. Saya bersikeras untuk tidak membuka sarung tangan pada saat setting kamera karena tidak kuat dengan dinginnya udara saat itu, dan hasilnya… saya cukup kesulitan untuk menekan tombol dan menggeser grid kamera. Setelah mendapatkan beberapa scene, saya pun segera kembali ke kabin jeep, ga tahan dengan udara yang sangat dingin ini. Walaupun ini adalah kali ke-3 saya ke kawasan Bromo, baru sekali ini saya merasakan udara yang sedingin ini. Jadi mikir, gimana rasanya ya jalan-jalan ke luar negeri di saat winter, yang suhunya bisa beberapa derajat di bawah nol???

Sekitar pukul 4 subuh, kami mulai menapaki paving block yang menjadi akses ke Bukit Kingkong. Jalanan beton selebar kurang lebih 1 meter ini akan mengantarkan kami menuju point untuk melihat sunrise di sana. Oh iya, untuk mencapai Bukit Kingkong sendiri jaraknya tidaklah terlalu jauh dari tempat parkir, hanya sekitar 200 meter. Setelah melewati paving block, kami kemudian harus melewati sedikit jalanan tanah berbatu untuk mencapai bukit. Dan itu dia, dalam malam yang diterangi cahaya purnama, terlihat sebuah titik kumpul yang mulai dipadati oleh pengunjung.

Saya segera mengambil posisi kosong yang persis mengarah ke Bromo dan Semeru. Memasang tripod dan kamera, dan kemudian mulai mencoba mengambil moment menjelang matahari terbit di Bromo. Di lautan pasir yang ada di bawah sana, terlihat lampu-lampu jeep berseliweran, membuat sebuah garis bercahaya apabila dilihat dari balik lensa kamera. Langit yang cerah dengan bulan yang bersinar terang cukup memberikan penerangan untuk Bromo dan sekitarnya. Hei, lihat…. di punggung Gunung Semeru terlihat beberapa titik cahaya yang bergerak menuju puncaknya. Ternyata di dalam udara yang sedingin ini, masih ada teman-teman kita yang sedang bergerak menuju puncak Mahameru. Semangat temen-temen, kalian pasti berhasil!!!

 

Batok - Bromo - Semeru, lihat deh di punggung Semeru berderet cahaya menuju puncak Mahameru
Batok – Bromo – Semeru, lihat deh di punggung Semeru berderet cahaya menuju puncak Mahameru

 

Semeru masih mengeluarkan asap putih dari kepundannya
Semeru masih mengeluarkan asap putih dari kepundannya

 

Ternyata, udara di Bukit Kingkong ini juga tidak kalah dinginnya dari udara di parkiran jeep tadi. Terbukti tangan saya yang semakin kaku, dan ujung hidung yang semakin beku. Tanpa bisa saya tolak, gigi pun mulai bergeletukan, ditambah kaki yang mulai gemetar. Haduh…… dingin banget subuh ini.

 

fgagf
kamu masih belum mau ke Bromo??? masak kalah sama bule-bule itu???

 

Saya berkali-kali memperbaiki letak syal yang saya kenakan untuk menghangatkan leher dan sebagian wajah. Dengan pakaian berlapis 3 ini, ternyata masih kurang nampol untuk menghalau udara dingin. Percaya atau tidak, saya menggunakan 2 lapis jaket lho. Sampai-sampai saya kesulitan untuk sekedar menggerakkan bahu dan leher karena rapatnya pakaian yang saya kenakan ini. Dan itu pun saya masih merasakan dingin yang teramat sangat.

Iseng-iseng Windy mencoba melihat aplikasi cuaca di Hp-nya, dan ternyata temperatur saat itu adalah sekitar 9-10 derajat! Pantesan aja dinginnya kayak gitu…..

 

pemandangan Batok, Bromo dan Semeru dari atas Bukit Kingkong
pemandangan Batok, Bromo dan Semeru dari atas Bukit Kingkong

 

Dari segi view, Bukit Kingkong letaknya lebih rendah daripada Pananjakan 1, jadi posisi Gunung Batok, Bromo, dan Semeru terlihat lebih dekat. Untuk tempatnya sendiri, bukit ini masih alami, kami berdiri di atas tanah berpasir halus dengan rumput dan perdu di sekelilingnya. Harus sangat berhati-hati apabila ingin lebih maju dari lokasi saya berdiri, karena hanya dengan mengandalkan cahaya dari bulan, di depan saya terbentang jurang yang ditumbuhi tanaman perdu rimbun dengan tanah berpasir yang mudah longsor. Agak serem sih kalau harus terlalu maju berdirinya.

 

faggfg
dan ketika cahaya matahari mulai terang, Gunung Raung di kejauhan masih saja mengeluarkan asap putih dari kepundannya, ditambah kabut yang melayang di atas lautan pasir…

 

Sambil menunggu matahari terbit di ufuk Timur, saya mulai mencoba mengambil beberapa scene Bromo – Semeru dalam balutan cahaya purnama di penghujung malam ini. Kabut yang melayang di atas lautan pasir memberikan sedikit suasana mistis subuh itu. Kabut putih yang bergerak perlahan, membungkus lautan pasir, membuat Gunung Batok dan Bromo seolah-oleh melayang di atas awan.
Suasana di Bukit Kingkong subuh itu lumayan ramai, namun tidak seramai Pananjakan 1, saya yakin! Sebagian besar adalah pengunjung lokal dan sisanya turis mancanegara. Dan ketika perlahan semburat jingga muncul di ufuk Timur, tangan-tangan berkamera pun segera terulur dan terarah ke Timur.

 

dan ketika cahaya dari Timur semakin terang...
dan ketika cahaya dari Timur semakin terang…

 

Perlahan, deretan gunung yang seolah melayang di atas gumpalan kabut itu pun semakin jelas terlihat. Batok, Bromo, Tengger, Semeru, terlihat berdiri kokoh di tengah-tengah lautan pasir yang luas.

 

fagfddg
Gunung Batok, Bromo, dan Semeru nun jauh di sana

 

tuh, bule aja menikmati banget foto-foto di Bukit Kingkong
tuh, bule aja menikmati banget foto-foto di Bukit Kingkong

 

Setelah langit semakin terang, kami pun berkemas untuk pindah posisi. Setelah dari Bukit Kingkong ini, kami akan mengunjungi Gunung Bromo. Berjalan menuju arah parkiran jeep, sekali-sekali saya menoleh ke belakang untuk menikmati setiap detik Bromo di waktu pagi. Pepohonan di Bukit Kingkong mulai terlihat jelas, dengan selarik-dua larik cahaya pagi yang menerobos dari sela-sela dedaunan.

 

dDGFGF
pengunjung Bukit Kingkong, teman berburu sunrise dini hari tadi

 

gsgdf
dan matahari mulai mengintip…

 

Dari parkiran, jeep berbalik arah dan menderu menuju Bromo. Dan lagi-lagi saya bisa dengan cepatnya tertidur. Saya tersadar pada saat jeep berhenti di lautan pasir, sekitar 3 km dari puncak Bromo. Namun kali ini saya sudah memutuskan untuk tidak mendaki tangga menuju kawah, karena saya ingin meng-explore bangunan pura yang ada di tengah-tengah lautan pasir ini.

 

suasana di parkiran Bromo pagi itu
suasana di parkiran Bromo pagi itu

 

karena sudah lama hujan tidak menyirami daerah di sekitar Bromo, pagi itu Bromo terasa lebih berkabut dan berdebu daripada biasanya
karena sudah lama hujan tidak menyirami daerah di sekitar Bromo, pagi itu Bromo terasa lebih berkabut dan berdebu daripada biasanya. Gunung Batok pun terlihat sedikit buram karena debu yang terus mengepul

 

fvafva
pengunjung dan masyarakat sekitar Bromo yang wara-wiri menggunakan motor di lautan pasir

 

fvfvsdc
kuda, menjadi transportasi alternatif bagi pengunjung yang tidak ingin kelelahan menuju kawah Bromo

 

Oh iya, ternyata 2 malam yang lalu adalah peringatan Upacara Kasodo di pura tersebut. Sudah pernah dengar, atau baca mengenai Upacara Kasodo?

Upacara Kasodo, atau yang biasa disebut Yadnya Kasada digelar setiap Bulan Kasada hari ke-14 dalam kalender tradisional Hindu Tengger. Upacara ini merupakan kegiatan pemberian sesembahan dan sesajen kepada Sang Hyang Widhi dan para leluhur dari suku Tengger, yaitu Roro Anteng (putri Raja Majapahit) dan Joko Seger (putra Brahmana) yang merupakan leluhur dari suku Tengger ini. Upacara adat tersebut digelar di Pura Luhur Poten yang terdapat di tengah-tengah lautan pasir di kaki Gunung Bromo, pada tengah malam hingga dini hari. Upacara adat suku Tengger ini dimaksudkan untuk mengangkat dukun atau tabib dari setiap desa yang ada di sekitar Gunung Bromo. Pada upacara ini, suku Tengger akan melemparkan sesajen berupa sayuran, ayam dan bahkan uang ke dalam kawah Gunung Bromo.

Suku Tengger di sekitar Bromo ini dikenal sangat memegang teguh adat istiadat Hindu lama yang menjadi pedoman hidup mereka. Keberadaannya sangat dihormati oleh penduduk sekitar, terutama karena prinsip hidup mereka yang sangat jujur dan tidak iri hati. Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Jawa Kuno. Suku Tengger tidak mengenal kasta bahasa, sebagaimana yang biasa terjadi pada masyarakat Jawa pada umumnya.

 

sdVDV
Pura Luhur Poten

 

Pura Luhur Poten
Pura Luhur Poten

 

Dan pagi itu, ketika saya sampai di depan Pura Luhur Poten, masih terlihat sisa-sisa upacara semalam. Saya memasuki lingkungan pura yang sedang dalam proses pembersihan. Di halaman pura terlihat beberapa payung berwarna putih dan kuning, kain putih kuning yang membalut arca dan tempat sesajen, serta beberapa untaian janur. Memasuki area dalam pura, terlihat sehelai kain putih panjang, membentang dan membatasi sebuah area yang menjadi tempat prosesi utama Upacara Kasodo. Beberapa payung kotak-kotak hitam putih, kuning, merah dan putih terlihat dipasang menggunakan tongkat panjang. Di bagian kanan dan kiri dari sebuah bangunan pura kecil yang terletak di tengah area terlihat 2 meja besar penuh dengan sesajen dan persembahan yang dikelilingi dengan kain putih. Waktu saya tiba di bagian dalam pura, terlihat beberapa orang Tengger dengan pakaian upacara berwarna putih, dengan ikat kepalanya yang khas tampak sedang bercakap-cakap. Kemudian terlihat beberapa dari mereka bergerak meninggalkan area sesembahan. Sebelum meninggalkan lokasi, mereka melakukan ritual “salam” sebagai penghormatan bagi para leluhurnya.

 

AFGFB
area upacara Kasodo

 

fgfbfd
“salam” bagi para leluhur

 

Selesai melihat-lihat pura dan sisa-sisa Upacara Kasodo, saya bergerak meninggalkan area pura dan langsung menuju jeep. Setelah ini kami akan menuju Pasir Berbisik, lautan pasir luas yang terdapat di bagian timur Bromo.

 

debu beterbangan di lautan pasir Bromo
debu beterbangan di lautan pasir Bromo

 

panas, debu, pasir, jeep, berasa di mana ya?
panas, debu, pasir, jeep, berasa di mana ya?

 

Jeep putih yang kami tumpangi bergerak meninggalkan parkiran, mengikuti jejak beberapa jeep yang telah lebih dulu bergerak menuju Pasir Berbisik. Daerah Pasir Berbisik ini menjadi trend setelah ada film dengan judul yang sama, yang diperankan oleh Dian Sastro. Udah pada nonton? Emang film lama sih. Dan setelah itu, daerah ini menjadi semakin terkenal di kalangan para pelancong.

 

... pasir berbisik ...
… pasir berbisik …

 

Tiba di sebuah area pasir yang sedikit tinggi, jeep yang dikemudikan mas Sukron berhenti. Kita sampai!!!

 

si putih di tengah-tengah lautan pasir
si putih di tengah-tengah lautan pasir

 

Saya turun dari jeep, menjejakkan kedua kaki pada dataran berpasir abu-abu tua dan berdebu. Di pagi menjelang siang itu, Pasir Berbisik cukup panas, namun angin yang bertiup masih saja dingin.

Di Pasir Berbisik ini saya sempat bertemu dengan seorang bapak yang menunggang kuda, dan menawarkan saya untuk berkeliling dengan kudanya. Tapi saya tidak bisa menerima tawaran bapak itu, karena saya akan segera bergerak lagi ke Bukit Teletubbies. Akhirnya saya meminta ijin bapak itu untuk mengambil beberapa foto beliau di atas kudanya :)

 

DgFGFGHD
bapak ini menawarkan jasa mengelilingi Pasir Berbisik hingga Bromo dengan menunggangi kuda

 

dfFdds
jeep putih, kuda hitam dan lautan pasir… seperti di film koboy ya? :D

 

Dari Pasir Berbisik, jeep kembali bergerak ke arah Bukit Teletubbies. Kali ini jalanan berpasirnya sedikit lebih “tidak bagus” daripada sebelumnya. Jeep yang kami tumpangi bergerak terguncang-guncang mengikuti jalanan pasir yang bergelombang. Dan akhirnya kami tiba di hamparan perdu yang hampir semuanya kering kecoklatan. Musim kemarau yang sangat panjang ini mengambil warna hijau dari tanaman perdu di area perbukitan itu. Jeep berhenti di tengah hamparan perdu yang mengering. Area Bukit Teletubbies ini sangat luas. Perbukitan panjang dengan beberapa bukit kecil yang terpisah-pisah mengingatkan saya dengan film anak-anak Teletubbies, 4 makhluk lucu dengan warnanya yang menyolok mata.

 

Bukit Teletubbies
Bukit Teletubbies

 

fdgfdvfdhddf
ini scene yang menurut saya paling ajib di Bukit Teletubbies

 

suka dengan yang ini, seperti di film-film koboy gitu deh
suka banget dengan yang ini, seperti di film-film koboy gitu deh

 

Di Bukit Teletubies ini mas Sukron mengeluarkan kemahirannya memotret. Ternyata, selain jago mengendarai jeep, mas Sukron juga gape banget dengan kamera, dan bisa melihat angle bagus untuk dipotret. Jadilah saya, Windy dan Ciwi obyek foto siang itu. Sementara Iyus dan Devin memilih untuk bersembunyi di dalam jeep karena tidak mau terkena sinar matahari :p

 

ini mas Bidin dan mas Sukron, yang setia mengantarkan kami berkeliling hari itu
ini mas Bidin dan mas Sukron, yang setia mengantarkan kami berkeliling hari itu

 

fgsgbsfv
biar panas-panasan, yang penting gaya……..

 

biar panas, poto jalan teruuuuuuuusssss......
biar panas, poto jalan teruuuuuuuusssss……

 

dngfbfdv
makasih mas Sukron udah motoin kita

 

poto ala-ala :D
poto ala-ala :D

 

fdgadsfds
and……. we jump!!!

 

hihihihihihi..... kesampaian juga foto di atas jeep :D
hihihihihihi….. kesampaian juga foto di atas jeep :D

 

suka banget sama background-nya
suka banget sama background-nya

 

yang lain ga mau foto karena katanya panas, ga panas kan Win???
yang lain ga mau foto karena katanya panas, ga panas kan Win???

 

Puas foto-foto di Bukit Teletubbies, jeep bergerak lagi. Kali ini mengarah ke jalur Tumpang, karena kami akan singgah ke Coban Pelangi. Namun belum seberapa jauh jeep berjalan, tiba-tiba harus terhenti di area tanjakan pasir. Ada apa???

 

suasana di tanjakan pasir jalur Tumpang setelah kejadian jeep terguling ke dalam jurang
suasana di tanjakan pasir jalur Tumpang setelah kejadian jeep terguling ke dalam jurang

 

Kami diam tanpa tahu ada apa di dalam jeep cukup lama. Yang terlihat di depan kami adalah jalan menanjak yang berpasir dan sekelompok rider motor yang terlihat agak kesusahan melewati medan berpasir itu. Satu persatu motor itu didorong melewati tanjakan berpasir yang berdebu. Mereka saling bantu untuk melewati tanjakan tersebut.

Setelah pasukan bermotor itu berhasil melewati tanjakan pasir, saya berpikir jeep kami akan segera lewat. Tapi ternyata di depan masih ada beberapa jeep yang berhenti, ada apa lagi? Kami baru mendapatkan jawabannya setelah mas Sukron kembali ke jeep (tadi sewaktu jeep berhenti, mas Bidin dan mas Sukron mendatangi gerombolan orang yang terlihat ramai di depan sana), ternyata sebelum jeep kami sampai di situ, telah terjadi kecelakaan yang mengakibatkan 1 buah jeep terbuka terguling ke jurang yang ada di sebelah kanan. Inna lillahi… Dan kami dengar ada 1 orang korban yang belum jelas gimana keadaannya (cerita dari mas Bidin yang berhasil mencapai lokasi korban, sekitar 15 meter dari pinggir tebing lokasi jatuhnya jeep), informasi terakhir korban sudah dibawa ke rumah sakit. Semoga tidak terjadi apa-apa, dan segera sembuh seperti sedia kala. Aamiin.

Karena shock dengan peristiwa tadi, jeep yang biasanya penuh canda dan tawa, kali ini terasa sunyi. Semua diam. Mungkin kami masih kaget dengan betapa dekatnya maut pada manusia.

Perjalanan menuju Coban Pelangi memakan waktu sekitar 1 jam. Dan setelah jeep melewati perkampungan penduduk, perkebunan sawi dan bawang, akhirnya jeep berhenti di depan sebuah warung sederhana, di depan pintu masuk ke Coban Pelangi.

 

fgbrg
perkebunan sawi dan bawang yang kami temui di sepanjang jalan menuju Coban Pelangi

 

fegref
sepanjang perjalanan menuju Coban Pelangi, kami disuguhi hijau-hijau seperti ini

 

Untuk memasuki kawasan Coban Pelangi, kami hanya membayar 15 ribu per orangnya. Setelah membeli tiket, kami mulai menyusuri jalanan beton menuju lokasi coban/air terjun yang jaraknya sekitar 1 km.  Untuk mencapai coban, jalanannya menurun, jadi ga terlalu terasa capeknya. Tapi saya membayangkan, gimana nanti pulangnya ya? Kan jalanannya menanjak….. hiiiiii…. #tutupmuka

 

perjalanan menuju Coban Pelangi
perjalanan menuju Coban Pelangi

 

yang ngamen di kawasan Coban Pelangi ini suaranya bagus-bagus lho
yang ngamen di kawasan Coban Pelangi ini suaranya bagus-bagus lho

 

jembatan bambu di atas sungai kecil yang akan mengantarkan kita menuju Coban Pelangi
jembatan bambu di atas sungai kecil yang akan mengantarkan kita menuju Coban Pelangi

 

Setelah berjalan sekitar 1 jam, menyeberangi sebuah jembatan bambu, tiba lah kami di lokasi Coban Pelangi. Sebuah air terjun dengan ketinggain sekitar 30-40 meter, yang berakhir pada sebuah kolam besar. Apabila beruntung, kita akan melihat semburat warna pelangi pada bias-bias cahaya yang bertemu dengan derai-derai halus air di udara.

 

Coban Pelangi
Coban Pelangi

 

dsafgfhkgjh
Coban Pelangi

 

Di Coban Pelangi saya hanya sebentar, hanya mengambil beberapa scene aja. Selain karena hari sudah mulai sore, ternyata cipratan air terjunnya juga lumayan banyak. Jadinya harus sering-sering membersihkan lensa kamera. Dan akhirnya saya cukup puas setelah menikmati percikan air itu membasahi wajah saya.

Saya, Windy dan mas Bidin akhirnya meninggalkan lokasi Coban Pelangi. Sebelumnya, Iyus, Ciwi dan Devin sudah duluan naik. Perjalanan menuju pintu keluar terasa lebih berat karena jalannya menanjak. Tapi bisa dong sampai parkiran dan langsung cuss mencari warung makan untuk mengisi perut yang sedari tadi sudah kruyuk-kruyuk lapar.

Selesai makan siang (atau makan sore ya?) kami pun segera meluncu rmenuju Kota Malang. Tujuannya sudah pasti guesthouse. Pengen istirahat sebentar dan bersih-bersih. Ini rasanya pasir nempel di seluruh muka.

Tiba di guesthouse, saya segera mandi dan ganti baju. Dan siap-siap untuk dijemput mas Dani, kan kami masih mau keliling Malang lagi. Dan benar saja, jam 5 teng mas Dani sudah siap dengan si white cevy. Tujuan kami sore itu adalah Pia Mangkok, kan mau beli oleh-oleh. Tapi sesampainya kami di Toko Pia Mangkok, ternyata pia khas Malang yang terkenal itu sudah habis :(

Yah…. belum rejeki deh mau beli oleh-oleh Pia Mangkok

Akhirnya kami putar haluan menuju Bakso Presiden. Malam ini ceritanya kami akan ditraktir Iyus makan bakso. Asiiiiiikkkkk…..

Malam itu, entahlah, apakah kami yang memang kelaparan lagi, atau memang karena baksonya yang enak, ternyata ga ada satu pun dari kami yang sempat memotret apa yang kami makan :D

Begitu pesanan sampai di meja, langsung habis masuk ke dalam perut :D

Kuliner malam kami di Kota Malang ditutup dengan menikmati es krim di Toko Oen. Kali ini Ciwi yang punya hajat mau nraktir. Alhamdulillah ya…… jalan-jalan kali ini full dengan traktiran. Makasih Iyus…. makasih Ciwi…. #happytummy #pukpukperut

 

Es Krim "Oen Special" sebagai penutup kuliner malam itu
Es Krim “Oen Special” sebagai penutup kuliner malam itu

 

Selesai urusan kuliner, kami lagsung cuss menuju rumah Martha untuk membeli kripik untuk oleh-oleh. Hoooreeeee… Devin, Ciwi dan Windy belanja….. dusnya gede-gede bener….

Dan jalan-jalan kami pun harus berakhir. Tinggal pulang ke guesthouse, packing dan istirahat. Besok pagi siap-siap pulang ke Jakarta.

Terima kasih Malang…. makasih mas Dani, Martha, mas Bidin, mas Sukron, @OurTrip1st, semuanya…..

Jalan-jalan kali ini menyenangkan…… :)

 

 

 

Antara Wisata Kuliner, Museum Angkut dan Sunset Indah di Gunung Banyak

EVY_0781

 

Mendengar kata “Malang”, yang terbayang di kepala saya adalah sebuah kota yang dingin dan tenang, dan itulah tujuan perjalanan saya kali ini. Mengulang perjalanan ke Malang untuk yang ke-2 kalinya dalam setahun ini. Apabila di perjalanan yang pertama saya lakukannya seorang diri, di perjalanan ke-2 ini saya ditemani (lebih tepatnya mengantarkan) 4 orang teman saya yang ingin menjelajahi indahnya Malang, Batu dan Bromo. Ouw, Bromo again! Ini adalah perjalanan ke-3 saya ke Bromo :D

Seperti biasa, hunting tiket sudah dilakukan jauh-jauh hari. Sepakat, berangkatnya menggunakan kereta dan pulangnya menggunakan pesawat karena beberapa orang teman akan langsung masuk kantor.

Dan seperti biasa, percakapan di grup chatting sebelum keberangkatan diisi dengan berbagai rencana wiskul, mau makan apa selama di Malang dan Batu? Ditambah dengan berbagai perlengkapan yang harus dibawa, jaket, sepatu, sweater, kaus kaki dan sebagainya.

Dan tibalah hari yang ditunggu-tunggu, Jumat 31 Juli 2015.

 

ini nih persiapan jalan-jalan kali ini
ini nih persiapan jalan-jalan kali ini

 

Berbekal ijin masuk kantor ½ hari, jadilah jam 2 siang itu saya sudah on the way pulang untuk kemudian berangkat lagi menuju stasiun Gambir. Di grup chatting, teman-teman juga menginfokan kalau sudah siap-siap.

 

ini waktu berangkat sendirian bulan Maret kemarin
ini waktu berangkat sendirian bulan Maret kemarin

 

ini teman perjalanan Maret kemarin
ini teman perjalanan Maret kemarin

 

nah, yang ini waktu berangkat rame-rame akhir Juli tadi, sepatunya masih sama :D
nah, yang ini waktu berangkat rame-rame akhir Juli tadi, sepatunya masih sama :D

 

Setelah menukar pakaian dan memeriksa lagi perlengkapan yang harus dibawa, sore itu saya segera menuju ke Stasiun Gambir dengan menggendong ransel merah kesayangan + tas kamera kecil. Alhamdulillah traffic tidak seberapa macet, perjalanan menuju stasiun hanya saya tempuh kurang dari 30 menit.

Voila…. Stasiun Gambir sore itu sangat padat.

 

rameeeee........
rameeeee……..

 

Saya melipir ke samping kantor layanan pelanggan KAI dan memberitahukan di grup bahwa saya sudah tiba di stasiun. Ternyata 2 orang teman saya juga telah sampai, hanya saja kami masing-masing masuk dari pintu yang berbeda :D

Saya segera menyusul ke lokasi teman-teman saya, dan here they are!

Singkat cerita, setelah menunggu beberapa waktu, kami memutuskan untuk naik menuju peron karena panggilan bagi penumpang kereta Gajayana tujuan Malang sudah terdengar melalui speaker. Sempat singgah sebentar untuk membeli penganan sebagai bekal di kereta, akhirnya kami ber-4 masuk ke kereta (masih ada 1 orang teman yang sedang ngantri masuk di pintu pemeriksaan tiket).

Komplit ber-5 di kereta, dan tidak seberapa lama kemudian, KA Gajayana pun mulai bergerak perlahan menuju arah Timur. Malang, here we come :)

Menghitung perjalanan Jakarta – Malang yang akan memakan waktu sekitar 15 jam, dan melihat itinerary yang lumayan padat, saya memutuskan untuk lebih banyak beristirahat di kereta. Sempat ngobrol dan becanda dengan teman-teman, sebelum akhirnya saya sukses tertidur.

Sempat terbangun beberapa kali karena dinginnya kereta (dan lapar :D), akhirnya saya benar-benar terjaga di subuh yang sangat indah itu. Keadaan di luar mulai terang, dan mata ini disuguhi dengan hijaunya pepohonan, sawah dan perkampungan yang terlihat di ke-2 sisi jendela kereta. Dan ketika semburat jingga  di kaki langit semakin terang, pemandangan pagi dari balik jendela kereta pun menjadi semakin indah.

Melewati Madiun, Kediri, Tulungagung, Blitar, Wlingi, Kepanjen dan akhirnya kami tiba di Stasiun Malang tepat pukul 09.25 wib.

Dan hei, itu si white chevy sudah siap menunggu di depan stasiun, dan itu mas Dani leader-nya OurTrip1st, yang akan menemani kami selama meng-explore Malang-Batu-Bromo sudah menunggu.

Hap, atur ransel di bagasi dan jok belakang (cukup ga ya?), dan perjalanan kami di Malang akan segera dimulai. Horeeeeeeeee……

 

ini kendaraan dinas kami selama ngubek-ubek Malang - Batu #courtesy by @OurTrip1st
ini kendaraan dinas kami selama ngubek-ubek Malang – Batu
#courtesy by @OurTrip1st

 

yeeeaaaayyyyy.... ready untuk ngubek-ubek Malang dan Batu, let's go!!!
yeeeaaaayyyyy…. ready untuk ngubek-ubek Malang dan Batu, let’s go!!!

 

Saya kebagian duduk di depan, kemudian itu 3 temen cewek yang lain umpel-umpelan di jok tengah, menyisakan 1 temen cowok di jok belakang sendirian, dan tujuan pertama kami adalah Guesthouse Lily :D

Yeeeeaaaaayyyy….. bisa mandi dulu sebelum keliling…..

Saya sempat tebak-tebakan dengan Windy, jangan-jangan di Lily nanti kami akan menempati kamar yang sama dengan kamar setahun yang lalu, kamar 303. Dan……. benar aja, saya dan Windy kebagian kamar 303, Iyus di kamar 302, Ciwi dan Devin di kamar 306 yang letaknya di seberang kamar Iyus.

Kami hanya punya waktu sekitar 30 menit untuk mandi dan berganti pakaian, dan langsung cuuusssss….. tujuan pertama wisata kuliner di pagi menjelang siang ini adalah Cui Mie yang terletak di Jalan Kawi. Ah, tapi sepertinya kami kurang beruntung karena ternyata sesampainya di sana H & T Cui Mie tutup dan ada pemberitahuan bahwa Cui Mie baru akan buka tanggal 2 Agustus, besok :p (maaf, kalian kurang beruntung teman-teman, silakan coba lagi).

 

ini nih tempat yang jual Cui Mie enak
ini nih tempat yang jual Cui Mie enak

 

Jadi gimana? Mau makan apa untuk sarapan???

Setelah berembug, akhirnya diputuskan kami akan mencoba Mie Dempo. Oh iya, di perjalanan pertama saya di bulan Maret kemarin, sepertinya saya sangat beruntung karena sempat mencicipi Cui Mie untuk sarapan. Boleh dong ya saya ceritakan sedikit apa rasanya Cui Mie? :D

 

Cui Mie dengan mangkok pangsitnya yang sangat yummy
Cui Mie dengan mangkok pangsitnya yang sangat yummy

 

Cui Mie adalah sajian mie yang serupa dengan mie ayam, hanya saja menggunakan topping daging ayam yang dicincang halus menyerupai abon yang berbumbu gurih. Pada saat perjalanan saya di bulan Maret kemarin, saya mencoba cui mie dengan mangkok yang terbuat dari pangsit goreng. Adonan pangsit dibentuk menyerupai sebuah mangkok dan kemudian digoreng. Mangkok pangsit goreng ini kemudian diletakkan di atas mangkok asli, kemudian diisi dengan segulung mie, sejumput sawi yang telah dilayukan, ditaburi daging ayam goreng yang dipotong dadu dan kemudian disiram dengan kuah asam manis yang berisi potongan bawang bombay. Sebuah mangkok kecil berisi kuah beraroma gurih melengkapi pilihan saya. Untuk pilihan minumannya, saya memilih Es Shanghai. Sluuuuurrrrpppp……

 

ini es Shanghai pelengkap Cui Mie pangsit tadi
ini es Shanghai pelengkap Cui Mie pangsit tadi

 

Balik lagi ke cerita jalan-jalan kemarin, akhirnya kami tiba di Es Teler Dempo No. 7. Dan saya mencoba memesan Mie Dempo Campur (yang artinya kuahnya langsung dituang ke dalam mangkok mie, tidak dipisah), yang katanya rasanya lebih yummy ketimbang yang kuahnya dipisah. Mari kita coba……

Saya mencelupkan ujung sendok ke dalam mangkok dan mencicipi kuahnya, hmmm…… gurih, enak #jilatinbibir

Menikmati gulungan mie di ujung garpu, dan menyeruput kuah dari ujung sendok, huuuuuwwwoooooo….. nikmat…..

 

menu saya siang itu, mie bakso + pangsit dan semangkok es Duren
menu saya siang itu, mie bakso + pangsit dan semangkok es Duren

 

Tidak memerlukan waktu lama untuk menghabiskan seporsi mie rebus ini (bahkan, teman di samping dan depan saya nambah lagi lho porsi mie-nya :D). selesai menyantap mie, saya mulai menggeser mangkok berisi es Duren yang sedari tadi sengaja saya diamkan, for the last bite :D

Sekali lagi saya menyeruput, kali ini adalah es Duren, dari ujung sendok, hmmmm…….. seger, enak!

Beberapa butir biji Duren lengkap dengan dagingnya tergeletak pasrah di mangkok, menunggu untuk diklomoti :D

Aaaaaakkkkk…. Sarapan hari ini enak ya….. kenyang……

Selain mie, di sini juga ada menjual Gado-gado Dempo yang ngehits itu. Dan saya (lagi-lagi sangat beruntung) sudah pernah juga mencobanya di perjalanan pertama saya. Potongan lontong dan sayuran disiram kuah kacang kental dan manis, hmmm…… endues pokoknya.

 

ini Gado-gado yang bisa jadi alternatif pilihan di warung Es Teler Dempo No. 7
ini Gado-gado yang bisa jadi alternatif pilihan di warung Es Teler Dempo No. 7

 

dan ini es Alpukat Duren yang bikin pengen nambah mulu :p
dan ini es Alpukat Duren yang bikin pengen nambah mulu :p

 

Selesai makan, kami segera meneruskan perjalanan menuju Kota Batu. Iya, siang ini kami akan ngubek-ubek Museum Angkut. Dan bagi saya, ini adalah kunjungan ke-2 saya ke Museum Angkut.

Perjalanan menuju Kota Batu sangat lengang, jalanan hanya dilalui 1-2 kendaraan bermotor, sungguh berbeda dengan Jakarta yang macet. Mematikan AC mobil, membuka jendela, dan membiarkan udara segar yang sedikit dingin masuk ke mobil, sungguh menyenangkan. Saya menghirup pelan-pelan udara yang segar itu, seakan sayang untuk dilewatkan. Walaupun kami tiba di Kota Batu pada tengah hari, tapi udaranya tidak lah panas. Pokoknya sangat menyenangkan.

Sebelum menuju Museum Angkut, kami singgah dulu untuk menikmati Wisata Petik Apel. Berasa piknik, duduk di bawah pohon Apel sambil menikmati buah Apel yang dipetik sendiri sambil cerita-cerita dan becanda dengan teman-teman.

 

nah, ini gerombolan rusuh trip kali ini.... ayo, makan apelnya yang banyak :D #coutesy by Ciwi
nah, ini gerombolan rusuh trip kali ini…. ayo, makan apelnya yang banyak :D
#coutesy by Ciwi

 

1 Apple a day, makes the doctor away. Nah, makan Apel 1 biji setiap hari akan menjauhkan kita dari dokter. Ayo, makan Apel yang banyak!

 

1 Apple a day, makes the doctor away
1 Apple a day, makes the doctor away

 

Selesai petik Apel, foto-foto, bayar belanjaan (tentunya buah Apel), kami beranjak menuju Museum Angkut. Tapi….. lho, itu Ciwi dan Devin terlihat sedang memilih beberapa jenis bibit tanaman yang dijual di pintu masuk ke kebun Apel. Dengan serenteng bibit tanaman di tangan, Ciwi dan Devin senyum-senyum menghampiri saya, Windy, Iyus dan mas Dani. Emang bener ya…… sisa-sisa jaman kuliah ga bakal kelupaan. Bibit Jagung ga lupa kan Wi??? :D

 

rame banget ya......
rame banget ya……

 

antri...antri...
antri…antri…

 

kami juga antri kok...
kami juga antri kok… #courtesy by @OurTrip1st

 

here we are!!! let's have fun!
here we are!!! let’s have fun!

 

2x ke Museum Angkut, ternyata tiketnya beda warna
2x ke Museum Angkut, ternyata tiketnya beda warna

 

Ngeeeeennngggg…. Kami menuju Museum Angkut. Dan………. ternyata siang itu suasana di sana sangat ramai. Setelah mendapatkan tiket dari mas Dani, kami pun masuk. Hiks, rame bener ya….. kalau dulu, saya menghabiskan hampir 8 jam untuk menyusuri semua sudut museum ini (2-3 jam digunakan untuk nonton filmnya Charlie Chaplin), hari itu saya hanya memerlukan waktu kurang dari 4 jam untuk menyelesaikan melihat-lihat koleksi dari Museum Angkut. Alasan utamanya “karena terlalu ramai”, sehingga agak sulit untuk melihat koleksi-koleksi museum dengan detil.

 

naksir banget sama si ungu ini... huhuhuhu...
naksir banget sama si pink ini… huhuhuhu…

 

Museum angkut ini terbagi-bagi menjadi beberapa bagian.  setelah melewati pintu masuk, kita bisa melihat aneka macam mobil kuno, mulai dari Roll Royce, Ford, Lincoln Mark, Chevrolet, Allard, Chrysler Windsor Deluxe yang menjadi kendaraan Presiden pertama Indonesia – Ir. Soekarno, Porche, Dodge, dan lain-lain. Kemudian kita juga akan menemukan berbagai jenis sepeda antik, helikopter kepresidenan Indonesia, serta berbagai miniatur mobil antik yang ada di dunia.

 

ini apa
Roll Royce Phantom, tahun 1962 – 6230 CC

 

sadasd
Ford Model A, tahun 1931 – 3300 CC

 

sdsdgftrh
Lincoln Mark IV, tahun 1973 – 7538 CC

 

hjdhdfva
Chevrolet Series BA, tahun 1932 – 3179 CC

 

fgah
Ford Cobra, tahun 1982 – 5735 CC

 

mobil dan helikopter kenegaraan Republik Indonesia yang dikendarai oleh Presiden pertama, Ir. Soekarno
Chrysler Windsor Deluxe, tahun 1952 – 4100 CC yang merupakan mobil kenegaraan Presiden RI 1, Ir. Soekarno dan helikopter kenegaraan Republik Indonesia

 

Di salah 1 sudut ruangan terlihat sederet sepeda onthel. Yang menarik adalah kalimat yang tertera di dinding yang menjadi latar belakang sepeda-sepeda onthel tersebut “Tahukah anda? Pabrik motor dan mobil terkenal di dunia juga pernah memproduksi sepeda onthel”.

 

deretan sepeda onthel dari pabrik-pabrik mobil dan potor ternama di dunia
deretan sepeda onthel dari pabrik-pabrik mobil dan potor ternama di dunia

 

motor-motor antik produksi pabrik ternama dunia
motor-motor antik produksi pabrik ternama dunia

 

Naik ke lantai 2, kita akan melihat berbagai jenis angkutan dari seluruh Indonesia. Ada pedati kerbau pedati Minang, becak medan, becak Semarang, becak Situbondo, dan lain-lain.

 

pedati yang biasa ditemui di pedesaan sebagai sarana transportasi dan pendukung pekerjaan masyarakatnya
pedati yang biasa ditemui di pedesaan sebagai sarana transportasi dan pendukung pekerjaan masyarakatnya

 

Pedati Minang
Pedati Minang

 

Becak Yogya
Becak Medan

 

Becak Semarang
Becak Semarang

 

Becak Situbondo
Becak Situbondo

 

Masih di lantai yang sama, kita bisa melihat aneka jenis miniatur kapal. Ada miniatur Kapal Titanic yang melegenda itu – kapal pesiar terbesar yang digadang-gadang tidak akan bisa tenggelam, Kapal Pinisi, kapal Cina, dan lain-lain.

 

Titanic
Titanic

 

yang ini lupa kapal apa? kalau ga salah kapal Panglima Cheng Ho
yang ini lupa kapal apa? kalau ga salah kapal Panglima Cheng Ho

 

yang ini kalau tidak salah adalah kapal Pinisi
ini adalah Kapal Majapahit

 

Di lantai yang sama kita juga bisa melihat bangkai mobil Tucuxi, Purwarupa mobil listrik buatan Indonesia yang mengalami kecelakaan pada saat uji coba dari Solo menuju Surabaya. Kala itu, yang melakukan test drive adalah Bapak Dahlan Iskan. Mobil berwarna merah dengan 2 pintu itu terlihat mengalami rusak yang cukup parah pada bagian body belakangnya.

 

Tucuxi, mobil listrik pertama produksi Indonesia
Tucuxi, mobil listrik pertama produksi Indonesia yang mengalami kecelakaan saat uji coba pertamanya

 

kerusakan bemper kiri belakangnya lumayan parah ya...
kerusakan bemper kiri belakangnya lumayan parah ya…

 

Di sisi seberang dari posisi bangkai mobil Tucuxi, kita akan menjumpai berbagai jenis mobil antik menyerupai kereta yang biasanya hanya bisa kita lihat di film-film dengan setting masa lalu. Ada Ford Model T, Ford Model A, serta Dodge Depot Hack. Oh iya, masih di lantai yang sama, kita juga bisa melihat beberapa jenis sepeda antik. Ada sepeda Roper 1 dan Roper 2 dengan dinamo besar di batang tengahnya, sepeda roda 3 dengan 2 roda besar di bagian kanan dan kirinya, sepeda kayu dengan rodanya yang tidak sama besar – roda depan lebih besar daripada roda belakang.

 

fgafbh
Ford Model T, tahun 1919 – 2900 CC

 

hstgefe
mobil uap

 

fagegtag
replika Roper 1 & Roper 2

 

gherag
sepeda antik, tahun 1860 – 1870

 

gbsfgbsedgv
ini juga sepeda antik beroda 3, ditanggung ga bakal ngguling deh kalo naik ini :D

 

fgefgqer
Ford Model A, tahun 1929 – 330 CC

 

gdbvdfv
Dodge Depot Hack, tahun 1924 – 3500 CC

 

Dari lantai 2 ini kita bisa melihat sebagian Kota Batu dengan latar belakang Gunung Welirang.

 

view Kota Batu dari lantai 2 Museum Angkut
view Kota Batu dari lantai 2 Museum Angkut

 

Menuruni bangunan museum, kita akan menemukan berbagai angkutan publik seperti bajaj, Morris Traveler, angkot, becak, Chevrolet Apache 2300, sepeda penjual keranjang ikan, sepeda penjual blek bekas, gerobak, mobil pick up, dan lain-lain.

 

ada bajaj juga lho di Museum Angkut :D
ada bajaj juga lho di Museum Angkut :D

 

holaaaaa.... kita sampai di Stasiun Kota.... #dadahdadah
holaaaaa…. kita sampai di Stasiun Kota…. #dadahdadah

 

"jual keranjang ikan"
“jual keranjang ikan”

 

"jual blek bekas" tau ga apa itu "blek"???
“jual blek bekas”
tau ga apa itu “blek”???

 

Meninggalkan area dengan setting-an Pelabuhan Sunda Kelapa, pasar ikan dan Stasiun Kota Jakarta, kita akan memasuki bangunan yang menyimpan aneka motor kuno. Eh tapi sebelum masuk, yuk kita makan pecel dulu di kedai sebelah, sepertinya enak deh :D

 

enak banget ya Wi? gayanya aseeeeeeekkkkk.....
enak banget ya Wi? gayanya aseeeeeeekkkkk…..

 

Nah, sekarang giliran aneka motor + mobil antik (yang di dalam film pun saya belum pernah lihat) yang bisa kita lihat. Motor BSA Sidewalve buatan Inggris, mobil Chevrolet Belair, mobil Nash Rambler, aneka motor buatan Jerman, motor Honda – Hella – Fuji buatan Jepang, mobil Morris Traveler (yang ini asli bikin saya ngiler banget), mobil Toyota, dan masih banyak lagi.

 

dfasgfebge
“Sepeda motor, kecil tapi jangan diremehkan. Luar Biasa!”

 

dvsfbfsb
motor-motor jadul buata Inggris

 

hnsfbsf
nah, yang ini adalah motor jadul buatan Jerman

 

hgdgssfvg
kalo yang ini pasti hapal banget deh… yoi, ini aneka motor buatan Jepang

 

bfsgadfvd
Chevrolet Belair, tahun 1954 – 3300 CC

 

Di sudut dekat pintu keluar, ada sebuah meja kayu yang mengingatkan saya dengan meja kayu kuno di rumah bertahun-tahun yang lewat. Sebuah sudut ruangan yang dilengkapi dengan meja kayu kuno + kursi kayu, lemari kayu dengan ukiran pada pintunya, sebuah radio antik di atas meja, beberapa radio antik di atas lemari, setrika arang dengan hiasan ayam jago pada pegangannya (saya sempat merasakan nyetrika dengan setrika ini lho dulu..), toples kaca besar dengan tutupnya yang terbuat dari kaleng, lampu petromax kecil dan beberapa ceret kaleng. Ah…. ingatan saya terbang melintasi mesin waktu, kembali mengingat masa kecil. Di dekat pintu, berdiri sebuah kulkas besar berwarna biru. Kemudian ada sepeda jengki yang masih terlihat bersih, berdiri dengan standar gandanya di depan lemari kayu, tepat di samping mobil Morris Traveler putih yang membuat saya jatuh cinta.

 

tatanan kuno di salah 1 sudut ruangan membuat saya jatuh cinta #tsaaaahhhhh :p
tatanan kuno di salah 1 sudut ruangan membuat saya jatuh cinta #tsaaaahhhhh :p

 

nah, ini dia sponsor jalan-jalan saya di Malang-Batu bulan Maret lalu :D Makasih mas Dani, makasih Martha, udah diajakin main, mulai dari pantai, kuliner, sampai museum #ciumsatusatu :D
nah, ini dia sponsor jalan-jalan saya di Malang-Batu bulan Maret lalu :D
Makasih mas Dani, makasih Martha, udah diajakin main, mulai dari pantai, kuliner, sampai museum #ciumsatusatu :D

 

pengen punya ini untuk jalan-jalan, seru kayaknya...
pengen punya ini untuk jalan-jalan, seru kayaknya…

 

Kaki kami terus menyusuri area museum.

Keluar dari ruangan tadi, kami langsung memasuki area terbuka dengan setting luar negeri. Roma, Paris, Berlin, London??? Hayo, mau pilih yang mana?

 

hayo, mau pilih ke mana???
hayo, mau pilih ke mana???

 

Area ini terbagi menjadi beberapa zona, ada zona “Gangster Town”, “Broadway” (yang pada kunjungan pertama saya, sukses membuat saya  nongkrong di Broadway Theater dan terpingkal-pingkal selama lebih dari 2 jam menyaksikan film bisu Charlie Chaplin), “National Bank of America”, kedai french fries bertema koboi, dan masih banyak lagi.

 

yang ini.... entah lah apa maksudnya? ngapain juga itu meteran dinding dibaca khusyuk begitu :p
yang ini…. entah lah apa maksudnya?
ngapain juga itu meteran dinding dibaca khusyuk begitu :p

 

"Gangster Town" owemji #gasp
“Gangster Town” owemji #gasp

 

National Bank of America (tentu saja cuma replikanya... :p)
National Bank of America, awas….. ada bandit yang kabuuuurrrr……….

 

We are on the Broadway.....
We are on the Broadway…..

 

nonton film bisu Charlie Chaplin di sini, seruuuuu...... sampe ga sadar udah 3 jam aja :D
nonton film bisu Charlie Chaplin di sini, seruuuuu……
sampe ga sadar udah 3 jam aja :D

 

pengen nyobain nongkrong sambil ngopi-ngopi cantik di kedai ala koboi ini? saya sudah! :D
pengen nyobain nongkrong sambil ngopi-ngopi cantik di kedai ala koboi ini? saya sudah! :D

 

Dari outdoor area, kita memasuki indoor area. Dan kita akan langsung disambut oleh miniatur Menara Eiffel. Kali ini setting-nya adalah negara-negara di Eropa, ada Perancis dan Jerman (ada miniatur suasana di Tembok Berlin yang runtuh pada tahun 1989.

 

di Paris ketemu pelukis kece :D bonjour Monsieur....
di Paris ketemu pelukis kece :D
bonjour Monsieur….

 

hooollllaaaaaa..... we're in Paris..... #dadahdadah
voila….. bienvenue, nous sommes a Paris….. #dadahdadah

 

 

mobil-mobil yang ada di area Paris ini bagus banget, warna-warni pula #mupeng
mobil-mobil yang ada di area Paris ini bagus banget, warna-warni pula #mupeng

 

afdhsd
willkommen in Deutschland

 

ilustrasi Tembok Berlin
ilustrasi Tembok Berlin

 

kita di mana????? Jerman dong :D
kita di mana????? Jerman dong :D

 

fdfFA
mau ngojek, mas? :p

 

ga mau kalah dengan masnya, mbak ini juga mau ngojek :p
ga mau kalah dengan masnya, mbak ini juga mau ngojek :p

 

yang mau belanja buah di pasar tradisional Eropa juga ada lho....
yang mau belanja buah di pasar tradisional Eropa juga ada lho….

 

neng ojek, lagi telepon siapa sih??? #kepo
neng ojek, lagi telepon siapa sih??? #kepo

 

Keluar dari bangunan dengan setting negara-negara di Eropa, kita akan langsung disambut oleh megahnya Buckingham Palace. Istana megah kebanggaan rakyat Inggris. Bangunan megah berwarna putih dengan pilar-pilarnya yang besar, sebuah kolam air mancur dengan patung wanita pada tengahnya, taman bunga warna warni di depannya, keren deh pokoknya.

 

Buckingham Palace replikanya aja bagus begini, apalagi aslinya ya... kapan deh bisa ke sana???
Buckingham Palace
replikanya aja bagus begini, apalagi aslinya ya… kapan deh bisa ke sana???

 

megah banget, padahal cuma replikanya doang lho
megah banget, padahal cuma replikanya doang lho

 

Kali ini lagi-lagi saya merasa sangat beruntung karena tiba di lokasi miniatur Buckingham Palace dalam kondisi langit masih terang (dulu, saya sampai di tempat ini setelah hujan), tapi sayangnya terlalu banyak pengunjung, yang membuat proses memotret kesenggol-senggol oleh pengunjung yang berjalan di kanan kiri saya.

 

saking ramenya pengunjung di area Buckingham Palace, jadi bingung gimana mau motretnya. alhasil cuma berhasil motret patung dewi yang ada di tengah-tengah tamannya :(
saking ramenya pengunjung di area Buckingham Palace, jadi bingung gimana mau motretnya. alhasil cuma berhasil motret patung dewi yang ada di tengah-tengah tamannya :(

 

di halaman Buckingham Palace, tamannya dipenuhi bunga ini, bagus deh
di halaman Buckingham Palace, tamannya dipenuhi bunga ini, bagus deh

 

Meninggalkan halaman Buckingham Palace, kita akan memasuki sebuah ruangan yang menurut saya memiliki interior paling mewah dari seluruh area di Museum Angkut ini. Sebuah ruangan besar dengan setting-an yang sangat Inggris, langit-langit ruangan yang dipenuhi lampu kristal tergantung dengan cahaya kuningnya, ukiran indah yang menghiasi dinding dan plafonnya, serta lantai kayu coklat muda yang menambah kesan mewahnya. Di ruangan ini kita bisa melihat sebuah mobil Roll Royce Silver Shadow warna coklat muda mengkilat. Yang menjadi pusat perhatian di ruangan ini adalah sebuah miniatur “Big Bus Tour” berwarna merah. Bis tingkat dengan tulisan “Sightseeing Tours of London” itu benar-benar mencuri perhatian. Dengan ukurannya yang paling besar, dan warnanya yang sangat mencolok, wajar rasanya kalau semua yang masuk ke dalam ruangan itu langsung tersedot perhatiannya.

 

ini adalah ruangan dengan interior termegah di kawasan Museum Angkot, menurut saya
ini adalah ruangan dengan interior termegah di kawasan Museum Angkot, menurut saya

 

itu bis tingkat warna merah yang jadi trend-nya ruangan ini
itu bis tingkat warna merah yang jadi trend-nya ruangan ini

 

Di sudut lain ruangan, terlihat sebuah Bentley Mark VI dan Land Rover Royal Ceremonial lengkap dengan sosok Ratu Elizabeth dan Pangeran Philip.

 

Ratu Elizabeth II dan Pangeran Philip
Ratu Elizabeth II dan Pangeran Philip di atas Land Rover Royal Ceremonial

 

Nah, setelah keluar dari ruangan ber-setting Britania Raya, kita akan menemui sebuah area terbuka dengan aneka profil orang-orang ternama. Ada Elvis Presley, Marylin Monroe, Hulk (ah, ini sih karakter film ya…), dan lain-lain. Eh iya, itu ada mobil Scooby Doo lho…. lucu……. Eh iya, ada sedikit sudut yang ber-setting-kan Patung Lyberty dan Firaun. Dan di sini saya menemukan mobil gagah berwarna kulit yang sangat keren, Hummer H2 Limousine :D #pengenpunya

 

Marylin Monroe ada di sini!!!
Marylin Monroe ada di sini!!!

 

Spinx...... ada Firaun :D
Spinx…… ada Firaun :D

 

Tahun 2015, "Liberty" udah ga pegang obor lagi, tapi cukup pegang smartphone :p
Tahun 2015, “Liberty” udah ga pegang obor lagi, tapi cukup pegang smartphone :p

 

hihihihihi.... ada mobil Scooby Doo lho.....
hihihihihi…. ada mobil Scooby Doo lho…..

 

yang ini nih, TOP banget dah...
yang ini nih, TOP banget dah…

 

Eh, ada yang ketinggalan. Di salah satu sudut area terakhir ini kita akan menemukan sebidang pagar besi dengan gembok-gembok yang menempel padanya. Bagaikan melihat area “Love Locks” :)

 

Love locks?
Love locks?

 

Keluar dari museum, Ciwi senyum-senyum dan bilang “Nyate yuk! Tadi lewat, wangi banget aromanya”. Hehehehehe…. Laper ternyata. Yuk!!!

Kami pun bergerak menuju lokasi pusat jajanan di samping kiri bangunan museum. Lihat sana sini, mulai menimbang-nimbang “Makan apa ya?” Nasi campur Madura, sate, mie, lumpia, gado-gado, nasi rames, sosis, hmm….. pilih apa nih?

Akhirnya saya memilih nasi campur Madura. Nasi putih dengan sayur oseng-oseng buncis + jagung muda, empal dan perkedel kentang. Enak!

 

Selesai makan, kami diajak mas Dani ke Gunung Banyak untuk melihat paralayang. Sebenarnya Gunung Banyak tidak termasuk ke dalam itinerary kami, tapi sewaktu di mobil tiba-tiba Windy nanya “Mas Dani, kalau Gunung Banyak itu di mana ya? Kata temenku kalau ambil timelapse di sana bagus banget, pergerakan awannya cepat”. Dan akhirnya, di situ lah kami. Gunung Banyak, lokasi start untuk paralayang di Kota Batu ini. Makasih mas Dani, dapat bonus ke sini.

 

pemandangan jalanan menuju Gunung Banyak dari puncaknya
pemandangan jalanan menuju Gunung Banyak dari puncaknya

 

suasana di puncak Gunung Banyak senja itu
suasana di puncak Gunung Banyak senja itu

 

kami di sini........
kami di sini……..

 

hoooooorrrreeeeeee.....
hoooooorrrreeeeeee…..

 

asfaesdg
yeeeeaaaaaayyyyyy….. kami di Gunung Banyak!!! mana suaranya???

 

Perjalanan menuju Gunung Banyak bak perjalanan mengejar matahari senja. Sambil menyusuri jalanan aspal yang mendaki menuju parkiran, di sebelah kiri terlihat bulatan jingga besar yang semakin rendah menggantung di langit. Warna jingga bercampur merah dan keemasan membuat semburat cantik di langit Barat. Hanya sayang, kami sedikit tertinggal untuk mendapatkan foto sunset yang bulat sempurna. Sewaktu kami tiba di puncak Gunung Banyak, bulatan emas itu telah terbenam di balik deretan pegunungan, menyisakan semburat warna-warni di langit Batu.

 

cuma kebagian (sedikit) sunset :(
asoy bener ya… menikmati sunset ber-2-an gitu….. iriiiiii……. ahahahahahahaha…..

 

paralayang terakhir yang terbang senja itu
paralayang terakhir yang terbang senja itu

 

Cukup puas melihat sisa-sisa semburat sunset di langit Kota Batu, menikmati pemandangan kota dari atas, melihat lampu-lampu yang perlahan menyala, berkelap-kelip seperti kunang-kunang yang sangat banyak. Di kejauhan, bayangan Gunung Welirang terlihat sangat gagah berdiri.

 

suka banget dengan siluet senja seperti ini
suka banget dengan siluet senja seperti ini

 

bayangan itu....
bayangan itu….

 

night landscape Kota Batu
night landscape Kota Batu

 

Hari yang semakin malam dan gelap akhirnya memaksa kami untuk meninggalkan Gunung Banyak. Eits, jangan lupa, besok subuh kita akan menjelajahi Bromo, mari pulang, jangan sampai besok kesiangan bangunnya.

Sebelum meninggalkan Kota Batu, kami singgah dulu ke Ketan Legenda. Tapi sepertinya Iyus, Windy dan Devin tidak berselera untuk mencoba jajanan ketan yang ngehits ini. Jadilah saya dan Ciwi yang antri untuk mencicipinya.

 

Pos Ketan Legenda - 1967 beneran enak ternyata..... #jilatbibir
Pos Ketan Legenda – 1967
beneran enak ternyata….. #jilatbibir

 

ketan duren - ketan susu keju - ketan item
ketan duren – ketan susu keju – ketan campur

 

Ternyata, teman-teman ingin makan malam yang mengenyangkan. Ok, kita singgah ke pujasera. Yuk, makan yang bikin kenyang.

Udah selesai makan, kenyang, mari kita pulang ke Malang. Siap-siap istirahat, dan jangan sampai kesiangan ya bangunnya…. Ingat lho, jam 12 malam kita akan dijemput mas Bidin untuk jalan-jalan ke Bromo.

Makasih mas Dani, yang udah jemput dan nganterin wiskul-wiskul keliling Malang dan Batu.

 

 

Note: thanks to Ciwi, Devin, Iyus, Windy untuk foto-fotonya

 

 

Sempu, Surga yang Tersembunyi

396861_4332885725403_470012920_a

 

Menyambung cerita keliling Gunung Kelud beberapa waktu yang lalu, dan tengah malam ini pun kami tiba di Pantai Sendang Biru. Badan yang sudah terasa sangat penat bergoyang-goyang di dalam kendaraan sepanjang perjalanan Gunung Kelud – Sempu, membuat saya ingin segera meluruskan punggung.

Kami tiba di Pantai Sendang Biru yang berhadapan dengan Pulau Sempu di tengah malam menjelang subuh. Dan kami telah dinanti oleh 3 buah tenda yang terlihat sangat nyaman (yah, karena hari ini full keliling di dalam kendaraan, dari Stasiun Pasar Turi – Trowulan – Mojokerto – Gunung Kelud, dan sekarang Pantai Sendang Biru). Bersih-bersih dulu ah, abis itu langsung bobok :D

Ambil sleeping bag, terus pasang badan di pojokan tenda, dan saya pun segera terlelap.

 

ini tempat menginap kami semalam
ini tempat menginap kami semalam

 

dan ini, sodara ketenda saya semalam :)
dan ini, sodara satu tenda saya semalam :)

 

Hooooaaaaaaeeemmmmm…. Selamat pagi…… #nguletngulet

Segarnya badan setelah berhasil terlelap sekitar 4 jam. Dan aktivitas pagi ini diawali dengan antri di kamar mandi umum yang ada tidak jauh dari lokasi tenda kami. 1, 2, 3, 4, oke, saya antrian ke-5 di kamar mandi ke-2 dari pojok. Jebar…jebur….. 10 menit beres, terus beres-beres dikit di dalam mobil :D

 

suasana sarapan pagi yang hangat
suasana sarapan pagi yang hangat

 

gimana sarapannya? ikannya sedap yaaaa.....
gimana sarapannya? ikannya sedap yaaaa…..

 

Hari ini siap-siap trekking lagi ke Pulau Sempu.

Sedikit informasi, sebenarnya Pulau Sempu bukanlah sebuah lokasi wisata (ups). Sempu merupakan sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah Selatan Pulau Jawa, secara administratif berada di wilayah Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Pulau Sempu hanya memiliki luas 877 hektar yang ditumbuhi dengan pohon-pohon tropis. Pulau ini merupakan cagar alam yang dikelola oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur dan Departemen Kehutanan Indonesia. Pulau ini diakui sebagai sebuah cagar alam sejak tahun 1928 pada masa pemerintahan Hindia Belanda berdasarkan Besluit van den Gouverneur Generaal van Nederlandsch Indie No : 69 dan No.46 tanggal 15 Maret 1928 tentang Aanwijzing van het natourmonument Poelau Sempoe dengan luas 877 ha.

Selain keputusan pemerintahan pada zaman kolonial, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 417/Kpts-II/1999 tertanggal 15 Juni 1999 juga menegaskan Pulau Sempu sebagai Cagar Alam.

“Cagar Alam adalah suatu kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Sebagai bagian dari kawasan konservasi (Kawasan Suaka Alam), maka kegiatan wisata atau kegiatan lain yang bersifat komersial, tidak boleh dilakukan di dalam area cagar alam. Untuk memasuki cagar alam diperlukan SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi).” — Wikipedia Indonesia tentang Cagar Alam. Jadi, untuk memasuki Pulau Sempu, dibutuhkan Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) yang harus diurus lewat Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Jawa Timur di Surabaya. #semogawaktusayakeSempumemangadaSIMAKSInya

 

Segara Anakan di Pulau Sempu, telaga yang airnya asin karena mendapat limpahan air Samudera Hindia
Segara Anakan di Pulau Sempu, telaga yang airnya asin karena mendapat limpahan air dari Samudera Hindia

 

Pulau ini berbatasan dengan Selat Sempu (Sendang Biru) dan dikelilingi oleh Samudera HIndia di sisi Timur, Barat dan Selatan. Sebagai sebuah cagar alam, sebenarnya Pulau Sempu tertutup untuk umum. Wisatawan dilarang untuk datang dan berkunjung ke Pulau Sempu. Dan saat saya ke sana, saya terus terang tidak mengetahui status Pulau Sempu yang merupakan sebuah cagar alam #toyormyself

Karena kami diinfokan bahwa medan menuju Segara Anakan cukup licin dan basah, kami disarankan untuk menggunakan sandal trekking ataupun sepatu karet yang solnya seperti sepatu bola. Di sekitar Sendang Biru banyak warung-warung yang menyediakan sepatu karet tersebut, dan bisa disewa. Beberapa orang teman yang kebetulan tidak membawa sandal trekking akhirnya memutuskan untuk menyewa sepatu karet supaya nyaman selama perjalanan menuju Segara Anakan.

 

ini sepatuku, mana sepatumu?
ini sepatuku, mana sepatumu? Uwek, Afong, budhe Theresia, dan Sheril saling pamer sepatu

 

Dari Pantai Sendang Biru, saya dan teman-teman menaiki 2 buah perahu kayu untuk bisa mencapai Pulau Sempu. Beruntung Selat Sempu pagi itu sangat bersahabat, nyaris tidak ada gelombang. Dan tanpa berlama-lama, saya dan teman-teman pun tiba di Pulau Sempu.

 

ayo, buruan naik ke perahu
ayo, buruan naik ke perahu

 

perjalan ke Sempu yang penuh ketawa-ketawa
perjalan ke Sempu yang penuh ketawa-ketawa

 

Turun dari perahu kayu, kaki saya langsung menyentuh pasir bercampur lumpur di salah 1 sudut Pulau Sempu. Di depan saya terlihat berbagai jenis pepohonan tropis yang tidak terlalu rapat, sehingga kami masih bisa melihat sebuah jalan setapak kecil mengarah ke tengah pulau.

 

ini nih "dermaga" sebelum memasuki "hutan" Sempu tapi ini foto kami setelah menjelajahi Sempu, narsis sembari menunggu perahu menjemput
ini nih “dermaga” sebelum memasuki “hutan” Sempu
tapi ini foto kami setelah menjelajahi Sempu, narsis sembari menunggu perahu menjemput

 

Dipandu mas Dani, yang merupakan seorang trip organizer dari Kota Malang, perlahan kami pun memasuki Pulau Sempu. Memasuki hutan (yah, saya lebih suka menyebutnya hutan karena pepohonan yang ada di sana sangat banyak dan beraneka macam + ukuran), kami disuguhi tanah becek yang licin karena sedikit gerimis. Saya berjalan mengikuti rombongan dengan sangat hati-hati kalau tidak ingin jatuh terjerembab di tanah licin yang kadang memberikan bonus sebuah kubangan kecil.

 

biarpun harus gedebag gedebug jatuh bangun, eksis tetep harus dong yaaa....
biarpun harus gedebag gedebug jatuh bangun, eksis tetep harus dong yaaa….

 

medannya ajip yaaaa....... semangat!!!
medannya ajip yaaaa……. semangat!!!

 

hihihihi.... pegangan biar ga ngglinding :p
hihihihi…. pegangan biar ga ngglinding :p

 

Selama perjalanan, hidung saya disuguhi wangi tanah basah lengkap dengan harum dedaunan. Membuat saya dengan rakus berusaha memenuhi paru-paru ini dengan kesegarannya. Kaki melangkah perlahan menyesuaikan dengan medan yang terpampang luas di depan mata. Ups, badan saya sedikit berayun ketika tiba-tiba kaki saya terpeleset dan berakhir dengan kaki kanan yang mendarat manis pada sebuah kubangan kecil, yang untungnya (masih untung) hanya berair sedikit. Tangan pun harus sigap mencari sesuatu yang bisa dipegang/digayuti sepanjang jalan agar tidak gedebug jatuh :D

 

mau ada pohon besar melintang di depan, hajaaaarrrrr....
mau ada pohon besar melintang di depan, hajaaaarrrrr….

 

Perjalanan menuju Segara Anakan yang ada di Pulau Sempu ini membutuhkan waktu sekitar 1.5 hingga 2 jam, tergantung kecepatan jalan masing-masing. Dan sepertinya kami membutuhkan waktu yang lebih panjang karena terlalu sering berhenti…….. Kecapekan? Oh NO!!! Kami berhenti untuk…….. foto-foto :D

 

yeeeaaaahhhhhh..... we are here!!!
yeeeaaaahhhhhh….. we are here!!!

 

Dan finally, di depan saya melihat sebuah telaga bening yang dikelilingi tebing batu, yang berbatasan dengan samudera luas. Yah, Segara Anakan!

Kalau saja ga ingat dengan posisi kami yang masih di atas tebing, dan perlu beberapa langkah lagi untuk turun menuju hamparan pasir putih dan telaga itu, ingin rasanya saya lari dan segera menceburkan diri ke dalam telaga. Setelah sedikit bersusah-susah menuruni tebing, dibonusin kepeleset dan sedikit baret-baret di ke-2 tangan, akhirnya saya tiba di hamparan pasir putih itu. Pasirnya haluuuuuuuuusssssssss……. Dan yang bikin ga bisa menahan diri itu adalah godaan air jernih di Segara Anakan. Tanpa berpikir lama, saya segera meletakkan tas, kamera dan seluruh barang bawaan di pasir dan kemudian menghambur nyebur ke telaga, segeeeeeeeeeeeeeeeeeeerrrrrrrr…………

 

copot sandal, teruuuuuusssss..... nyebuuuuurrr.....
copot sandal, teruuuuuusssss….. nyebuuuuurrr…..

 

baru di pinggir segaranya aja udah kayak gini ekspresi kita ya mbak Kim....
baru di pinggir segaranya aja udah kayak gini ekspresi kita ya mbak Kim….

 

wkwkwkwkwkwkwk....... lupa umur kalo udah main air :D
wkwkwkwkwkwkwk……. lupa umur kalo udah main air :D

 

Tanpa perlu dikomando, teman-teman yang lain pun langsung berebutan terjun ke dalam telaga. Air di Segara Anakan jernih, sehingga saya bisa melihat dasar berpasirnya. Melupakan umur, kami pun bermain bagaikan anak kecil yang dilepas bermain di tengah hujan. Seruuuuuuu…..

 

lupa umur :D
lupa umur :D

 

liat deh kelakuannya :D
liat deh kelakuannya :D

 

Main air rame-rame, saling siram dan simbur, walhasil basah kuyup dan akhirnya berendam lah kami sebatas leher di Segara Anakan.

 

horeeeeee.......
horeeeeee…….

 

Saya sangat menyukai suasana di sekitar Segara Anakan. Pasir putih yang halus, kecipak air di dalam telaga dan suara hempasan ombak di tebing batu yang memisahkan Segara Anakan dengan Samudera Hindia. Sesekali air laut masuk ke dalam segara melalui sebuah celah di tebing batu karang yang menghadap ke samudera.

 

kelakuan :p :p
kelakuan :p :p

 

yeeeeaaaahhhhh!!!
yeeeeaaaahhhhh!!!

 

yang ga mau ikut basah-basahan, duduk anteng di pasir
yang ga mau ikut basah-basahan, duduk anteng di pasir

 

Beberapa teman memutuskan untuk menaiki tebing batu karang untuk melihat Segara Anakan dari atas. Saya? Ga mau kalah, saya ikutan juga walau ga sampai di puncak karena males, soalnya tangan dan kaki sudah lumayan penuh baret-baret akibat tergores karang.

 

naik ke tebing hanya untuk foto-foto :p
naik ke tebing hanya untuk foto-foto :p

 

Yeeeeaaaayyyy.... I'm here!!!
Yeeeeaaaayyyy…. I’m here!!!

 

Dilihat dari atas tebing batu, Segara Anakan bagaikan kolam yang luas di tengah-tengah hutan yang hijau (semoga Sempu selalu terjaga).

 

Segara Anakan di Pulau Sempu, telaga yang airnya asin karena mendapat limpahan air Samudera Hindia
Segara Anakan di Pulau Sempu, telaga yang airnya asin karena mendapat limpahan air Samudera Hindia

 

Yes, saya ada di Sempu
Yes, saya ada di Sempu

 

Puas foto-foto di atas tebing, kami pun turun dan bersiap-siap untuk kembali ke Sendang Biru. Belum apa-apa sudah terbayang medan yang pastinya tambah licin karena selama perjalanan kami menuju Segara Anakan, gerimis turun dengan setianya.

Mari kita semangat, menjelajah hutan lagi menuju perahu…. Tapi, sebelum pulang kami masing-masing mengeluarkan kantong plastik untuk memunguti sampah yang ada. Ini bukan pencitraan, tapi emang beneran, saya dan teman-teman agak miris dengan kondisi di sekitar Segara Anakan yang mulai dipenuhi dengan sampah. Dan tanpa janjian, ternyata kami masing-masing sudah menyiapkan plastik sebagai wadah sampah.

Jadilah di siang menjelang sore itu kami menutup acara senang-senang kami di Sempu dan Segara Anakan dengan memunguti sampah yang kami temui. Lumayan banyak sampah yang berhasil kami kumpulkan, adalah sekitar 5 kantong plastik besar. Sedih liatnya :(

 

lututnya lemes... pp Sendang Biru - Segara Anakan :D
lututnya lemes… pp Sendang Biru – Segara Anakan :D

 

Sepanjang perjalanan pulang pun, kami masih memunguti sampah yang kami temui. Yah, mungkin ini tidak seberapa dengan banyaknya sampah yang ada, tapi kami hanya ingin sedikit berbuat yang lebih baik. Dan perjalanan pulang menjadi semakin panjang waktunya, karena selain memungut sampah, kami juga tetap eksis, narsis, foto-foto :D

 

hai Pantai Sendang Biru.... kami kembali....
hai Pantai Sendang Biru…. kami kembali….

 

Tiba di Pantai Sendang Biru, kami disambut pemandangan bocah-bocah kecil yang sedang bermain bola, ah…… menyenangkan…..

 

begitu sampai di Sendang Biru, liatnya ini...... ikutaaaaaannnnn.... #laringejarbola
begitu sampai di Sendang Biru, liatnya ini…… ikutaaaaaannnnn…. #laringejarbola

 

 

Note: makasih untuk Rika, mas Sigit, budhe Kim, plus teman-teman yang udah share foto selama di sana. Fotonya pinjem yaaaaa…..