Category Archives: Indonesia

Liburan yang Anti Mainstream – Nonton Wayang Tavip “Nenek Moyangku Seorang Pelaut”


Ini kali ke-3 saya mengisi akhir pekan untuk kegiatan yang tidak biasa. Mencoba membiasakan diri dengan kegiatan yang anti mainstream. Yup! Sudah 3 bulan ini, saya selalu menghadiri pertunjukan Teater Koma di Museum Nasional. Dan di akhir pekan di Bulan September ini, saya datang untuk menyaksikan pertunjukan Wayang Tavip yang berjudul “Nenek Moyangku Seorang Pelaut”.
Judulnya memang pertunjukan wayang, tapi jangan salah, wayang di sini bentuknya akan sangat berbeda dengan wayang yang umumnya kita ketahui. Pertunjukan dari Teater Koma ini menggunakan wayang Tavip. Apa itu wayang Tavip?
Wayang Tavip adalah wayang yang merupakan kreasi dari M. Tavip, seorang dosen jurusan teater di STISI Bandung, pada tahun 1993. Dulu, dikenal dengan nama Wayang Motekar. Wayang ini menggunakan media khusus semacam plastik keras yang transparan, sehingga bisa diwarnai. Pembuatan wayang ini menggunakan teknologi khusus, di mana bahan yang telah digambar dengan tokoh yang diinginkan kemudian diberi warna sehingga terlihat lebih menarik.
Nah, kali ini lakon yang dimainkan oleh Teater Koma berjudul “Nenek Moyangku Seorang Pelaut”.

dialog antara kakek dan 3 pemuda tentang kapal dan laut

Tidak ada panggung untuk pertunjukan, hanya sebuah kain putih yang menggantung dari plafond salah satu pojok lantai 2 yang terdapat di gedung baru Museum Nasional. Dan di pagi menjelang siang itu, saya hampir saja terlambat untuk menyaksikan pertunjukan Wayang Tavip. Ketika saya tiba di lantai 2 Museum Nasional, pengunjung sudah memenuhi spot yang menjadi tempat pertunjukan. Duduk melantai dengan santai di depan kain putih yang berfungsi sebagai layar. Sebuah lampu sorot sudah menyala dari belakang kain putih itu.

Kisah dimulai dengan adegan 3 orang pemuda yang bercita-cita menjadi pelaut berbincang dengan seorang kakek, yang ternyata adalah mantan pelaut. Dengan balutan humor segar, sang kakek memberikan penjelasan mengenai kelautan di Indonesia kepada ke-3 pemuda itu. Termasuk kelengkapan yang wajib ada di sebuah kapal. Apa tugas dari Mualim 1, Mualim 2, dan Mualim 3. Sebenarnya, saya juga baru tahu saat itu bahwa tugas masing-masing Mualim di dalam sebuah kapal itu berbeda-beda. Mualim 1, bertanggung jawab terhadap semua kelengkapan wajib yang harus ada di dalam sebuah kapal; Mualim 2 bertanggung jawab terhadap arah dan rute perjalanan, termasuk harus sangat paham terhadap ilmu pelayaran dan navigasi; serta Mualim 3 yang bertanggung jawab terhadap logistik.


jadi, belajar juga bisa lewat media seperti ini, santai tapi berbobot


penjelasan dari sang kakek mengenai sektor bahari Indonesia sangat bagus


Kemudian sang kakek menjelaskan berbagai macam jenis kapal yang ada di Indonesia, seperti Kapal Pinisi, Jukung, Lumbung, Gubang, Perahu Bajau, Perahu Sapit, dan lain-lain. Dan di layar pun terlihat beberapa bentuk perahu tradisional tersebut dengan warna-warnanya yang menarik.


pengenalan berbagai macam perahu/kapal dari berbagai daerah di Indonesia


mulai dari perahu Pinisi, Bajau, Sapit, dan lain-lain


Selain bercerita tentang jenis-jenis perahu yang ada di Indonesia, sang kakek juga bercerita, bahwa menjadi “orang laut” dituntut untuk siap menghadapi segala macam kondisi yang mungkin terjadi pada saat berlayar, salah satunya harus siap seandainya bertemu dengan bajak laut. Pada bagian ini, sekilas sang kakek bercerita tentang Malahayati, seorang bajak laut wanita yang terkenal dan ditakuti di sekitar Selat Malaka. Jadi, dulu itu, bajak laut bukan hanya lelaki, namun wanita juga ada yang jadi pimpinannya. 


“orang laut” harus siap dengan berbagai resiko yang mungkin dihadapi,
salah satunya adalah ketemu bajak laut
penggambaran akan sosok Malahayati, pelaut wanita yang terkenal di seantero  Selat Malaka


Dan pertunjukan hari itu ditutup dengan adegan sang kakek mengajak ke-3 orang pemuda itu untuk mulai berlayar menggunakan sebuah perahu diiringi lagu “Nenek Moyangku Seorang Pelaut” yang dinyanyikan secara bersama-sama oleh seluruh pengunjung dengan tepuk tangan yang berirama.


Nenek moyangku orang pelaut, gemar mengarung luas samudraMenerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa

Angin bertiup layar terkembang, ombak berdebur di tepi pantaiPemuda b’rani bangkit sekarang, ke laut kita beramai-ramai

pertunjukan diakhiri dengan ajakan sang kakek untuk berlayar

… menerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa …

Di akhir acara, seluruh pendukung pertunjukan muncul dari belakang layar, termasuk dalangnya, yang ternyata adalah Bapak M. Tavip! Wuih….. keren!!!



dan…. ini lah wayang-wayang yang tadi dimainkan…
seluruh pendukung acara, termasuk pak dalangnya

ini bapak dalangnya, bapak M. Tavip

3x pertunjukan, penontonnya rame terus

tuh lihat, antusias yang nonton

menghabiskan akhir pekan, ga harus jalan-jalan ke mall kan???


Mengobati Rasa Penasaran dengan Ujung Genteng




Ini adalah catatan perjalanan saya di akhir tahun 2013 kemarin.
Setelah sekian lama selalu mendengar kata Ujung Genteng, tapi ga beranjak juga untuk pergi ke sana, akhirnya Desember taun lalu saya memutuskan untuk ikut open trip ke Ujung Genteng. Yang ngadain Travollution. Ini trip organizer recommended dah, saya mulai kenal founder-nya – Hafiz – sejak 2011, sebelum beliau… membentuk Travollution.

Kita berangkat dari Jakarta sekitar jam 9 malam, hari Jumat after office.
Seperti biasa, kali ini pun saya berangkat sendirian, maksudnya dari sekian banyak peserta, ga ada yang saya kenal, kecuali leader dan co leader-nya.
Seperti biasa, kalau perjalanan malam, saya selalu membiasakan diri untuk saving tenaga, jadi… sepanjang perjalanan malam itu saya pun tidur dengan pules di elf yang akan mengantarkan saya ke Ujung Genteng.

Ternyata, Ujung Genteng itu jauh ya…. Terbukti elf yang saya tumpangi baru tiba di daerah Ujung Genteng keesokan paginya.

Sungai Cikaso pagi itu

Saya tiba di sana sekitar pukul 7.15 pagi. Dan tujuan pertama kami adalah sebuah curug, Curug Cikaso. Jadi, setelah elf parkir dengan sempurna, kami pun segera meniti jalan setapak menuju sungai yang ada di kampung tersebut. Lho, pasti jadi pertanyaan kan, kenapa harus ke sungai?
Sebenarnya Curug Cikaso ini bisa diakses lewat jalan darat, hanya saja jaraknya lumayan jauh. Nah…. agar lebih cepat, kami waktu itu mempergunakan jasa sewa perahu yang memang tersedia di Kampung Ciniti. Harga sewa perahunya sekitar Rp 70.000 untuk 12 penumpang. Waktu itu rombongan kami menggunakan 2 buah perahu.
Dan jadilah, pagi itu saya merasakan berperahu ria di sungai yang airnya sedang pasang dengan warna kecoklatan akibat hujan di malam sebelumnya.


perjalanan menuju Curug Cikaso

Berperahu sekitar 10 menit, maka sampai lah saya di lokasi Curug Cikaso. Dari turun perahu, saya masih harus berjalan sekitar 100 meter untuk sampai di lokasi curug. Pagi itu, jalanan tanah menuju curug masih basah oleh embun dan sisa air hujan semalam, jadinya jalanan setapak itu cukup licin. Saya beberapa kali harus terkaget-kaget karena tiba-tiba pijakan kaki ini terasa bergeser (untung ga gedebug :D).

Sekitar 25 meter dari curug, saya sudah mulai merasakan cipratan airnya, dingin! hihihihihi….
Waduh, kalo airnya nyiprat ke mana-mana gini, gimana caranya bisa motret ya???
Saya pun mulai melipir-melipir, mencari lokasi yang tidak terkena cipratan air.

Nih, saya ceritain dikit tentang Curug Cikaso…….
Curug Cikaso sebenarnya bernama Curug Luhur, yang mengalir dari sebuah anak sungai dari Sungai Cikaso yang bernama Cicurug. Tapi oleh masyarakat, curug ini lebih dikenal dengan nama Curug Cikaso.
Curug Cikaso terbentuk dari 3 titik air terjun yang berdampingan letaknya, dengan 1 lokasi kolam yang sama, yang airnya berwarna hijau kebiruan. Untuk 2 titik air terjunnya dapat terlihat jelas, sedangkan 1 titik lainnya agak tersembunyi di tebing yang menghadap ke Timur. Kolam di bawah limpahan ke-3 curug tersebut alirannya akan menuju laut muara Tegal Buleud, Sukabumi. Sebenarnya, kolam di bawah curug itu boleh digunakan untuk berenang, namun harus diawasi oleh yang berpengalaman, karena kedalaman kolam itu mencapai 15 m.


Curug Cikaso

Nah… masing-masing titik air terjun itu memiliki nama yang berbeda, yang berada di sebelah kiri bernama Curug Asepan, yang di tengah Curug Meong, dan yang di sebelah kanan bernama Curug Aki. Ke-3 curug tersebut memiliki ketinggian sekitar 80 meter dengan lebar tebing sekitar 100 meter. Oh iya, Curug Cikaso ini berada di Kampung Ciniti, Desa Cibitung, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Untuk aksesnya, curug ini berjarak sekitar 8 km dari pusat kota Kecamatan Surade, 15 km dari Jampang Kulon, atau 30 km dari Ujung Genteng, dan sekitar 110 km dari Kota Sukabumi, atau +/- 70 km dari Pelabuhan Ratu.
Dari Kota Surade, apabila menggunakan kendaraan roda 4, jarak itu bisa ditempuh sekitar 30 menit untuk tiba di pertigaan Jalan Cikaso dengan kondisi jalan yang berliku dan beraspal mulus. Tapi mendekati desa terakhir sebelum sampai ke curug, kondisi jalan mulai berbatu-batu.
Ada 2 jalur yang bisa ditempuh untuk sampai di Curug Cikaso, pertama melalui pertigaan/pasar (Cinagen, Jampang Kulon) masuk ke arah Cikaso, kurang lebih 5 km. Yang kedua melalui pertigaan (Cibarehong, Surade) ke arah SMA N 1 Surade, kemudian berbelok ke kiri, kurang lebih 3 km, jalur ini sedikit memutar sehingga membutuhkan waktu sekitar 6 jam.

Walaupun pagi itu belum mandi (ups), tapi begitu kena cipratan air dari curug, mata langsung seger. Airnya dingin…………. (pake bingits) :D

ini teman-teman seperjalanan saya ke Ujung Genteng

Akhirnya, setelah liat-liat curug, udah poto-poto, udah poto keluarga juga dengan seluruh peserta, saya pun balik kanan menuju ke perahu. Yup, balik lagi naik perahu untuk kembali ke parkiran elf.
  

kembali mengarungi Sungai Cikaso


Selesai explore curug, perjalanan dilanjutkan menuju Pantai Amanda Ratu di Pelabuhan Ratu.

suasana seperti itu yang bikin betah


Perjalanan dari Curug Cikaso menju Pantai Amanda Ratu tidak terlalu jauh.
Pantai Amanda Ratu ini dijuluki Tanah Lot-nya Jawa Barat. Hal ini disebabkan adanya sebuah daratan yang mirip Tanah Lot, yang ada di tengah laut. Pantai ini menghadap langsung ke Samudera Hindia dengan ombaknya yang indah.
Dan siang itu, saya tiba di Pantai Amanda Ratu ditemani awan kelabu yang membuat hari sedikit adem. Cahaya matahari tampak tidak terlalu panas sinarnya, sehingga saya bisa dengan nyaman berjalan-jalan mencari spot foto yang cantik.
Air muara sungai siang itu berwarna coklat keruh akibat hujan semalam, namun makin ke tengah samudera, warnanya semakin jernih.
Memang terasa nyaman, duduk di tebing pantai, sambil merasakan angin yang bertiup semilir, sambil menikmati deburan ombak yang memukul bibir pantai.







Pantai Amanda Ratu

Tanah Lot-nya Jawa Barat nih


Di pantai ini ada penginapan yang diberi nama persis sama dengan nama pantainya, Amanda Ratu. Penginapan kayu di tengah kebun kelapa ini terasa sangat asri dan sejuk. Bangunan yang didominasi kayu berwarna coklat, dengan beberapa jendela kaca besar dan sebuah teras berpagar kayu unik di atasnya itu sungguh terasa nyaman untuk ditinggali. Hanya sayang, waktu itu saya dan teman-teman tidak menginap di sana. Maybe next time….
Hijaunya rumput di seluruh halaman pantai (sebenarnya) menarik saya untuk guling-guling di situ. Tapi…… kira-kira kalau saya melakukan itu, teman-teman yang lain heran ga ya? :D  


penginapan Amanda Ratu


senang ya liat keadaan di sekitar penginapannya
ini Firaz, peserta trip terkecil waktu itu,
dan tetangga kamar yang menggemaskan



















seperti biasa, mari foto keluarga


Kami tidak berlama-lama di Pantai Amanda Ratu, karena hari itu kami harus segera sampai di Pantai Pangumbahan untuk mengikuti acara pelepasan tukik. Tau tukik ga? Tukik itu adalah anak penyu. Jadi nanti di Pantai Pangumbahan, saya dan teman-teman akan melakukan pelepasan bayi-bayi penyu itu ke laut.
Hayuk kita teruskan perjalanan…….

Elf yang saya dan teman-teman tumpangi segera bergerak menuju Pantai Pangumbahan.
Sebelum melakukan pelepasan tukik, karena proses pelepasan tukik dilakukan menjelang maghrib, kami singgah dulu di penginapan (duh, saya lupa nama penginapannya).

Sampai di penginapan, ternyata jatah makan siang telah menunggu kami. Sebenarnya kalau dibilang makan siang, udah kelewatan sih waktunya, karena kami tiba di penginapan sekitar jam 2 siang.
Ga nunggu dipersilakan berkali-kali, langsung seluruh pasukan menyerbu meja makan dan mulai mengisi piringnya masing-masing dengan menu yang disediakan siang itu: nasi putih hangat, sayur asem, ayam dan tempe goreng, serta lalapan dan sambel.
Hmm…. yummy…..

Udah selesai makan, kenyang dong pastinya…
Baru deh kami dibagiin kamar untuk nginepnya.
Karena saya perginya sendiri, di sini saya kebagian berbagi kamar dengan Mira, dan tetanggan kamar dengan bocah kecil menggemaskan yang fotonya ada di atas tadi, Firaz.
Bocah laki-laki yang berumur belum 3 tahun ini nantinya akan jadi tamu setia di teras depan kamar saya. Dan akan menghibur dengan celotehannya serta aksi manjat-manjat dan lompat-lompatnya.

Saya dan Mira pun langsung menuju kamar kami yang letaknya paling ujung.
Sampai di kamar, berbagi tempat tidur (kami mendapatkan twin bed room, jadi jatah bobonya luas), dan bersih-bersih (akhirnya ngerasain mandi juga hari ini :D).

Sekitar jam 1/2 5 sore, kami berkumpul dan segera menuju Pantai Pangumbahan utnuk melakukan pelepasan tukik. Dari penginapan, kami harus menggunakan elf untuk sampai di lokasi pantai karena letaknya yang cukup jauh. Sampai di sana pun, elf yang saya tumpangi tidak bisa sampai ke pantai karena jalanan menuju penangkaran penyu cukup sempit untuk dilalui elf. Jalanan tanah berbatu itu hanya cukup dilewati kendaraan roda 4 berbodi kecil. Jadi, setelah elf-nya parkir, saya dan teman-teman harus berjalan kaki sekitar 400 meter untuk sampai di komplek konservasi penyu Pangumbahan. 



ini bangunan balai konservasinya, lucu ya… ada penyu gede di atapnya :D

Dari balai konservasi, kami melanjutkan jalan kaki menuju Pantai Pangumbahan.
Jaraknya lumayan, sekitar 100-150 meter. Dan untuk mencapai pantai, kami melewati deretan mangrove yang sedang dibudidaya sebelum ditanam untuk mengurangi abrasi pantai akibat gerusan air laut.
Dan akhirnya………. hore…… di depan mata saya terbentang lautan paris putih kecoklatan yang sangat luas.

pantainya luas………..

suka banget dengan suasana pantai dan ombaknya yang cantik


Sore itu, Pantai Pangumbahan cukup ramai.
Hampir di setiap sudutnya terlihat kelompok-kelompok pengunjung yang sedang menikmati pantai senja itu.
Tadinya saya berharap bisa sekalian menunggu sunset di sini, tapi sepertinya keinginan itu tidak bisa terlaksana karena gulungan awan kelabu terlihat menggelayut di langit. 

menunggu moment sunset yang gagal karena mendung tebal


Sambil menunggu moment pelepasan tukik, saya mencari lokasi yang bisa saya gunakan untuk berakrab-akrab dengan pasir pantai yang lumayan halus itu.
Sambil menenteng kamera, saya akhirnya mendapatkan sebuah spot untuk mengistirahatkan kaki saya dibenaman pasir pantai.

tadinya saya berharap foto ini berupa siluet, tapi sayang ga bisa sunset-an di sini


Dan akhirnya, moment yang saya tunggu tiba juga.

Beberapa orang petugas konservasi membawa sebuah bak hitam besar yang berisikan puluhan ekor tukik yang siap dilepas ke pantai.
Saya ga kebagiannya tukiknya… hiks… :(
Dan harus cukup puas dengan melihat saja.

menunggu saat pelepasan tukik


Pengunjung yang akan melepaskan tukik harus berdiri di belakang sebuah garis yang dibuat oleh petugas konservasi. Garis itu adalah garis batas ombak laut yang sampai ke daratan, sehingga nantinya apabila tukik-tukik itu dilepaskan, mereka akan langsung dapat berenang mengikuti ombak laut.

ayo tukik…. kamu bisa!!!


ombak yang mencapai pantai ini membantu tukik-tukik untuk segera sampai di laut


Senja itu, puluhan tukik berlomba-lomba berenang ke laut, kembali ke habitat aslinya. Berjuang melewati hamparan pasir untuk mencapai laut lepas.

Selesai melepas tukik, langit pun semakin gelap, saya dan teman-teman segera kembali ke parkiran elf.

Malam itu, acaranya bebas.
Setelah makan malam, sbagian teman-teman memanfaatkan waktu untuk berenang di kolam yang ada di depan penginapan. Sementara saya dan Mira, kami hanya duduk-duduk sambil ngobrol di sebuah gazeebo yang ada di halaman penginapan.
Sedang asyik-asyiknya ngobrol, tiba-tiba……. breeeessss…. hujan turun dengan derasnya. Saya dan Mira langsung ngacir ke arah kamar…. hehehehehehe….
Mungkin memang sebaiknya malam ini saya beristirahat aja, cuaca cukup mendukung untuk bersembunyi di balik selimut malam itu ^.*

Bye semuanya….. kita ketemu lagi besok pagi ya…..
Besok, kita akan jalan-jalan ke curug lagi lho…..

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Selamat pagi……… #sambilnguletdikasur

Cuaca tadi malam yang adem karena hujan, sukses membuat saya nyenyak (sampai ga sempat mimpi, hihihihihi…) di balik selimut. Dan pagi ini, saya bangun dengan segar.
Setelah sarapan, kami segera bersiap-siap menuju Curug Cigangsa.

Elf yang saya tumpangi kembali melintasi aspal hitam menuju Desa Batu Suhunan. Untung saja, jalanan menuju Desa Batu Suhunan bisa dibilang cukup bagus, dengan aspal yang mulus. Hanya saja beberapa saat mendekati Desa Batu Suhunan, jalanan aspal mulus berganti dengan jalanan aspal kasar yang di beberapa tempat terdapat lobang yang cukup mengganggu.
Sekitar jam 10, kami tiba di Desa Batu Suhunan. Elf berhenti di depan sebuah rumah warga yang biasa menjadi meeting point untuk pengunjung yang akan melihat Curug Cigangsa.
  

pagi itu di Desa Batu Suhunan


Curug Cigangsa sebenarnya bernama Curug Luhur Cigangsa, berada di Desa Batu Suhunan, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Untuk sampai ke lokasi Curug Luhur Cigangsa, kita harus berjalan kaki melintasi pematang sawah, dan kemudian menuruni tangga batu alami yang lumayan terjal. Jarak dari tempat kami parkir elf menuju curug sekitar 500 meter.

Jalan di pematang sawah, sebenarnya ga terlalu masalah. Yang jadi masalah adalah saat menuruni tangga batu alami yang lumayan terjal, apalagi ditambah dengan sisa hujan tadi malam. Membuat tangga batu itu cukup licin, sehingga harus sangat extra hati-hati waktu menuruni dan naiknya.
Tapi…. setelah sampai di lokasi curug, semua kesulitan untuk menuruni tangga batu itu terbayarkan.

Curug Luhur Cigangsa


Di depan mata saya berdiri tebing batu bertingkat 3 dengan limpahan air yang menuruninya. Tebing batu itu berwarna hitam kehijauan karena lumut yang tumbuh di permukaannya. Dan karena malam sebelumnya hujan, air di kolam yang ada di bawah curug pun berwarna kecoklatan. Di sekitar kolam tersebut banyak batu-batu besar yang dapat kita jadikan pijakan untuk mendekati curug. Tapi… batu-batu itu pun penuh lumut, jadi harus sangat hati-hati melangkah di atasnya.

Saya tidak berani menyeberangi batu-batu besar berlumut yang ada di sekitar curug untuk mencari spot foto yang mungkin sangat bagus, karena takut terpeleset dan gedebug jatoh di situ :D
Dan saya akhirnya cukup puas dengan memotret Curug Luhur Cigangsa dari batu besar yang letaknya paling dekat dengan tangga :D

Akses menuju lokasi Curug Luhur Cigangsa belum ada penunjuk arahnya. Jadi, setelah melalui pertigaan tugu Kota Surade, sebaiknya kita bertanya dengan masyarakat di situ, agar tidak salah arah. Curug ini berjarak sekitar 110 km ke arah selatan dari Kota Sukabumi, dan sekitar 1 km dari pusat Kota Surade.

Setelah puas melihat dan mengambil beberapa shot foto Curug Luhur Cigangsa, saya dan teman-teman kemudian kembali menaiki tangga, melintasi pematang sawah, kembali ke parkiran elf.

di pagi menjelang siang yang mendung itu, suasana di Desa Batu Suhunan sangat tenang



Selesai sudah perjalanan saya kali ini untuk menebus rasa penasaran akan Ujung Genteng. Makin banyak saya melihat sudut-sudut daerah di Indonesia ini, saya semakin pengen teriak “Damn!!! I love Indonesia so much!!!”.




Tour the Journeys 3 – Rumahku Rumah Dunia Kubangun Dengan Kata-Kata



Keisengan memeriksa twit di sela-sela jam kerja hari itu ternyata membawa saya pada sebuah perjalanan yang tidak biasa. Seminggu yang lalu (lewat 2 hari), persis di hari yang sama, handphone di meja saya ga berhenti bersuara. Semua account media sosial saya bergantian saling menunjukkan notifikasi yang masuk. Dan semua itu ngucapin “Selamat Ulang Tahun Evy” :D
Iya, seminggu yang lalu itu (lewat 2 hari) memang tanggal di mana saya lahir sekian tahun yang lalu (mau bilang 17 tahun lalu kan nanti pasti banyak yang protes :D).
Sebuah twit dari @gagasmedia tentang Tour the Journeys 3 yang akan mengadakan perjalanan ke Rumah Dunia dengan beberapa penulisnya membuat saya segera menghubungi contact person sebagaimana yang tertera di foto yang terlampir di twit tersebut. Mbak Chyntia!
Ketik-ketik-ketik-ketik…… saya menghubungi mbak Chyntia melalui WA. Dan langsung daftar.
Berhasil meracuni seorang sahabat untuk ikut serta (dadah-dadah ke Windy ^.*), akhirnya kita berdua confirmed untuk ikutan. Transfer done, kirim email konfirmasi pembayaran done, tinggal nunggu konfirmasi itinerary dari mbak Chyntia. Makasih mbak ^.*
Merasa tidak sabaran untuk menunggu tanggal 12 April datang menghampiri. Di pikiran sudah terbayang-bayang bakal ketemu Dina @DuaRansel (yang selama ini cuma bisa stalking-in timeline, IG dan web-nya), aMrazing (yang terlihat ceriwis kalau di timeline), Windy Ariestanty (editor keceh yang sering wira-wiri di timeline), Vabyo (yang ternyata punya nama asli Valiant Budi, pernah baca beberapa tulisannya, tapi baru add twitter-nya setelah acara Tour the Journeys 3 #pissman), Hanny Kusumawati (honestly, baru ngeh dan kenal setelah acara kemarin itu – biasanya baca tulisan doski ya dibaca doang, ga ngapalin namanya :D), trus Alfred Pasifico (nah…yang ini beneran blasss ga ngeh sama sekali – piss ya om :D).
Jumat malam, setelah pulang kantor saya bergegas menyiapkan peralatan untuk jalan-jalan besok pagi.
  •         Kamera, checked
  •         Batere. checked
  •         Raincoat, checked
  •         Payung, checked 
  •         Printilan obat-obatan, checked
  •         Converse kesayangan, checked

Oke, persiapan siap, mari bobok dulu.


Sabtu, 12 April 2014
Jam 7 pagi saya sudah siap berangkat. Tinggal menunggu Windy, yang belum ada kabar.
Finally, jam 7.15 pagi saya dan Windy siap, dan mulai melangkah menuju…….. halte busway :D
Sesuai dengan itinerary yang dikirimkan melalui email, meeting point di parkiran Ragunan. Saya dan Windy memutuskan untuk naik Kopaja S602 yang rutenya persis akan berhenti di depan Ragunan.
Tumben, pagi ini kenapa si Kopaja belum lewat-lewat. Biasanya lebih banyak Kopaja yang lewat dibandingkan bus Transjakarta.
Teng! Jam 7.30 si ijo mungil lewat. Saya dan Windy bergegas naik. Let’s go!!!
Jam 8 lewat beberapa menit, saya dan Windy sampai di depan Ragunan. Oke, cek handphone dulu, tadi di dalam Kopaja terasa berdering-dering mulu.
Hmm…. ada 1 sms, tampaknya dari panitia acara Tour the Journeys 3.
“Selamat pagi peserta Tour the Journey. Pemberitahuan. Bis kita berada di parkiran bis kebun binatang Ragunan. Terima kasih”.
Pengirim: 0878808xxxxx (hayo ngaku…. siapa yang kirim sms???) :D
Saya dan Windy mulai celingukan, nyari-nyari bus yang (mungkin) ada tulisan “Tour the Journeys 3”. Akhirnya, memutuskan nanya sama penjaga pintu masuk parkiran, dan ditunjukin area parkiran yang masih nun jauh di belakang. Baik lah, mari kita cari lagi.
Mencoba untuk telepon ke nomor yang tadi sms, jawabnya juga sama “Please find bus biru, di parkiran bus, di depan pintu utama Ragunan” :D

Sudah melewati loket yang menjual tiket masuk Ragunan, tapi mata saya belum berhasil menemukan “bus biru” yang dimaksud, selain deretan bus Transjakarta, hehehehehe…
Memutuskan untuk melipir ke bagian kanan area parkir yang dibatasi pagar berwarna hjau, dan tetiba mata saya meihat sebuah bus biru dari perusahaan si burung biru, apa mungkin itu busnya?
Dan selarik tulisan di body bus “Tour the Journeys 3” meyakinkan saya bahwa itu adalah bus yang benar.
“Tour the Journeys” thanks to @landiachmad untuk fotonya, pinjem yaa…..
Di situ sudah ada 4 cewek yang duduk manis di halte, EA, Dwi, Della + Shasha. Dan panitia acara, “M” (jadi inget film James Bond, hehehehe), plus Ugie.
Diabsenin sama “M” dan disuruh ambil nomor kursi, kebagian nomor 29 #weeeww
Sambil nunggu peserta+panitia+penulis yang belum datang, saya dan Windy memutuskan untuk nongkrong di warung kecil yang ada di pinggir area parkir (itu alasan aja sih, sebenarnya pengen nyari minuman dingin, karena Jakarta pagi itu diskon banget panasnya).
Ga pake lama, sebotol poca** sw**t dingin langsung kosong isinya, yang meluncur manis di tenggorokan.


yeaaaayyyyy!!! ketemu Dina @DuaRansel

Nah.. nah… nah… itu Dina @DuaRansel!
Selama ini cuma bisa mantengin timeline, web + IG-nya, hari itu saya berhasil ketemu dan langsung ngobrol. Keingetan Gina, sahabat di grup trip yang nge-fans berat dengan @DuaRansel. “Gin……. aku ketemu Dina lhooooooo!!!” #pamer :D
Kurang lebih jam 9.30 akhirnya rombongan berangkat.
Saya yang dapat kursi nomor 29, dibolehin pindah ke nomor 15 sama “M” karena masih kosong. Dan duduk manis lah saya di kursi nomor 15, samping jendela.
Tiba-tiba, mbak Resita (pimred Gagas Media) nyolek saya dan bilang “Mau duduk bareng Dina ga? Yuk tuker”.
Waaaaaaaaaaahhhhh….. ga perlu ditawarin 2x mbak, saya langsung pindah dan tukar nomor kursi dengan mbak Resita.
Yeay…… bisa dengar cerita Dina sepanjang perjalanan.
“Ginaaaaaaaaaaaaaaa……. kamu pasti envy deh, aku duduknya di bus barengan Dina nih”, hehehehehe….
Sepanjang perjalanan Jakarta – Serang, saya ngobrol dengan Dina.
Mulai dari perjalanannya di Kerala kemarin karena terpilih sebagai finalis Kerala Blog Express Tour, blusukan pakai Sari (pakaian khas India) di India, jalan-jalan di Bangkok waktu ada insiden demo, persiapan jalan-jalan ke Australia, dan lain-lain.
Entah kenapa, yang saya ingat dari blusukannya Dina menggunakan sari di India adalah foto before – after-nya, hihihihihihi…
Perjalanan Jakarta – Serang sekitar 2 jam jadi ga terasa dengan cerita dari Dina. Dan ternyata bus kami telah memasuki halaman dari Rumah Dunia!
Balai Belajar Bersama – Rumah Dunia

Rumahku Rumah Dunia Kubangun Dengan Kata-Kata

lukisan, tulisan, artikel menjadi penghias
dinding Rumah Dunia
Itu sebaris kalimat yang tersusun rapi di bumbungan sebuah rumah, berpondasi beton, berdinding bata merah, beratap daun dengan kayu-kayu kokoh menopang langit-langitnya.
Di depan pintu masuk, ada 2 monitor bekas yang diletakkan di kanan-kiri pintu. Kemudian 4 keyboard bekas, 2 keyboard bekas di masing-masing sisi, tertempel di pilar pintu masuk. 2 mesin tik bekas tergantung di tiang penyangga atap pintu masuk. Dan di atas pintu utama terdapat tulisan “BALAI BELAJAR BERSAMA”.

Di dalam bangunan, dinding bata merah berlapis semen dicat putih didominasi dengan lukisan, gambar, artikel dan tulisan dari alumni, relawan dan “murid” dari Rumah Dunia. Rak buku bersusun-susun menempel di sepanjang dinding ruangan, mulai dari buku pelajaran, buku cerita, buku gambar dan sebagainya. Di ruangan sebelah kiri pintu masuk, terdapat rak-rak buku yang berisikan buku yang “lebih dewasa”.

sebagian artikel penghias dinding Rumah Dunia

mas Gol A Gong, founder Rumah Dunia

Rumah Dunia, merupakan sebuah “negara” kecil yang dibangun oleh mas Gol A Gong – yang pernah merasakan era 80s dan 90s pasti tahu siapa beliau, awalnya merupakan sebuah komunitas kesenian yang didirikan pada tahun 1998 untuk mewujudkan keinginan mas Gol A Gong memiliki sebuah gelanggang remaja. Berdiri di atas tanah seluas 3000 m2, di Komplek Hegar Alam, Ciloang, Serang, Banten. Selama melihat-lihat Rumah Dunia, kami didampingi langsung oleh mas Gol A Gong sendiri, plus istri, plus beberapa relawan.







rak buku menghiasi hampir seluruh dinding di Rumah Dunia (abaikan penampakan di sudut ruangan :D)
aula terbuka di halaman depan Rumah Dunia
(photo by @landiachmad)

mendengarkan cerita mas Gol A Gong mengenai terbentuknya Rumah Dunia dan kegiatannya(photo by @landiachmad)

masih mendengarkan cerita mas Gol A Gong (photo by @landiachmad)
sisi luar Rumah Dunia

di halaman belakang Rumah Dunia terdapat beberapa bangunan, termasuk ruang Sekretariat,
area kelas membaca, mushola, dan beberapa ruangan lainnya

ruang Sekretariat Rumah Dunia

ruangan terbuka yang berfungsi sebagai sanggar belajar

siap-siap ber-Gonjlengan :D(photo by @landiachmad)

Selesai berkeliling, di aula terbuka sudah disiapkan menu makan siang berupa nasi boks. Tapi Dina @DuaRansel sempat mengutarakan keinginannya untuk makan secara “Gonjlengan”. Saya sendiri ga ngerti itu apa artinya?










cuci tangan, singsingkan lengan baju,
mari kita Gonjlengan ^.^
(photo by @landiachmad)

Akhirnya mas Gol A Gong menceritakan yang dimaksud dengan makan “Gonjlengan”.
Makan Gonjlengan adalah tradisi makan di masyarakat Banten, di mana sajian nasi dan lauk-pauknya diletakkan secara bersama-sama menggunakan alas sehelai daun pisang. 1 lembar daun pisang yang di atasnya telah tersedia nasi, sayur dan lauk-pauk tersebut biasanya akan dirubung (haduh, apa ya istilahnya?) pokoknya nanti di 1 daun pisang itu akan ada 4, 5 atau lebih orang yang akan makan secara bersama. Tradisi makan bersama ini mengingatkan saya akan tradisi makan bersama di beberapa daerah – Bedulang di Belitong, Seprahan di Sambas.



mari ber-Gonjlengan…(photo by @landiachmad)

Jadi lah siang itu kami mencoba untuk makan Gonjlengan. Masing-masing kemudian menumpahkan isi boks jatah makan siangnya ke atas daun pisang yang sudah disediakan.

Saya berbagi daun pisang dengan Windy, Leni, Yuke, Farid, Landi dan 1 lagi lupa namanya :D
Menikmati menu makan siang berupa nasi putih, capcay, ayam opor, sambal dan lalapan, di aula terbuka ditemani cuaca yang lumayan sejuk dan hujan membuat makan siang hari itu terasa berbeda.







Ternyata, makan Gonjlengan itu seru lho. Sambil ngobrol dengan teman baru, saling bercerita, tak terasa menu makan siang di atas daun pisang pun licin tandas tak bersisa :D

habis Gonjlengan, terbit lah kenyang :D (photo by @landiachmad)

bersama Dina, mau envy-in Gina :D (photo by @landiachmad)



Selesai makan siang, kami telah ditunggu di aula utama Rumah Dunia untuk acara inti dari jalan-jalan ini, “Meet n Greet Penulis The Journeys 3”.
Mendengarkan sharing dari para penulis tentang proses kreatif yang mereka lalui untuk menghasilkan tulisan yang akhirnya terbit menjadi sebuah buku, sungguh menyenangkan. Amaze melihat kemampuan mereka menuangkan kata-kata menjadi sebuah tulisan dan buku yang bisa membuat saya terkagum-kagum dengan perjalanan yang telah mereka lalui.
Tanya jawab dengan teman-teman dari Rumah Dunia pun berlangsung dengan sangat seru.

Ditambah dengan acara bagi-bagi buku gratis dari Gagas Media, hmm…… seruuuuuuu!!!



sesi tanya jawab antara penulis dengan teman-teman di Rumah Dunia

Windy – Alfred – Dina – Alex – Vabyo – Hanny – MC dari Rumah Dunia

nampang rame-rame setelah “Meet n Greet The Journeys” (photo by @landiachmad)



Setelah selesai acara “Meet n Greet Penulis The Journeys”, kami diajak untuk melihat-lihat Serang. Tujuan pertama adalah Istana Kaibon. Ya…. emang sih, tinggal reruntuhannya aja, tapi saya suka. Gimana cerita kami di sana, hmm…… tunggu posting-an selanjutnya :D




Menjenguk Ujung Barat Indonesia #4 – Yuk, Muter-Muter Lagi di Banda Aceh



Minggu, 27 Oktober 2013
Very excited mo ngejar sunrise di Sumur Tiga, yang katanya paling keren se-Sabang (hasil ngotot ke leader kemaren malem), bikin gw jam 3 subuh udah buka mata dan langsung ngacir ke kamar mandi.
Beres mandi, ganti baju, ceki-ceki lagi carrier, tas kamera, tripod, gear snorkeling. Trus bangunin Liany.
Jam ½ 5 kami udah siap di resto Iboih Inn.
Direction dari leader “Semua jalan kaki ke drop point di Pantai Iboih, dan barang-barang akan dibawa pake boat”.
Wokeh, mari kita cari keringat subuh ini.
Sekitar 10 menit jalan ke arah drop point, nungguin teman-teman yang tadi blom ngumpul, gw subuhan dulu.
Jam 5 lewat 10 menit, akhirnya perjalanan mengejar sunrise di Sumur Tiga dimulai.
Pantai Sumur Tiga pagi itu


Kota Sabang masih gelap waktu ke-3 mobil mulai iring-iringan meninggalkan Pantai Iboih, yang udah jadi rumah gw dan teman-teman selama 2 hari kemarin.

Menyusuri jalanan kota yang lengang, berkelok-kelok, turun naik, akhirnya gw sampe di Pantai Sumur Tiga.
Semburat jingga keemasan udah mulai keliatan dari sela-sela pohon kelapa yang banyak tumbuh di sepanjang pantai.
Untuk mencapai bibir pantai, gw harus menuruni semacam anak tangga dari batu, baru sampe di pantai berpasir putih halus.
Sebatang pohon kelapa tua tergeletak melintang di tepian pantai berpasir.
Riak kecil gelombang sesekali menyapa tepian pantai.
Di ujung Timur, terlihat awan putih bergulung, menyatu dengan langit yang masih gelap.
Semburat warna jingga keemasan mulai menyeruak dari sela-sela awan putih yang mulai pecah.
Suasana pagi itu begitu tenang, hanya ada kecipak suara gelombang kecil yang datang, dengan angin laut yang sangat halus membelai semua yang ada di pantai, dan bau khas wangi laut yang selalu membuat kangen.

sunrise di Pantai Sumur Tiga


Gw inget, ada seorang sahabat yang pernah bilang gini, “Mbak, cobain deh, sekali-sekali waktu menikmati sunrise/sunset, kamu jangan melakukan apa-apa. Just about 2 minutes. Diem, rasakan. Pasti rasanya beda”.
coba rasakan……..

Dan bener aja, walau ini bukan yang pertama kalinya gw ngelakuin itu.

Setelah take some frames, gw berdiri dan merem.
Hanya mengandalkan kuping, kulit, hidung, gw rasakan sensasi yang berbeda.
Suara kecipak gelombang seperti nyanyian (serius, ini ga lebay ya :D), sinar matahari pagi yang hangat mulai membelai wajah, dan bau laut menyapa idung gw.
Gw berasa……….. hmm….. apa ya???
Yang jelas, gw makin cinta dengan negeri ini, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Gw Cinta Indonesia!!!

ngers, ntar ke sini bareng-bareng yuk!!!


yang bikin kangen…


Udah puas ketemu sunrise di Sumur Tiga, akhirnya gw dan teman-teman melanjutkan perjalanan.

Karena jam 8 kita harus naik kapal untuk balik ke Banda Aceh, setelah dari Sumur Tiga, kita hanya menyusuri pinggir pantai yang membentang sepanjang perjalanan ke pelabuhan.
Sempet berhenti di beberapa spot, biasa lah…… pepotoan yang ga beres-beres :D
Dan akhirnya jam 7.45, gw dan teman-teman udah siap di depan pintu Pelabuhan Balohan.
Thank’s a lot Sabang for very nice vacation, wait for me for the next time (I wish).












pemandangan dari atas Kota Sabang

itu Pelabuhan Balohan, diliat dari atas


Jam 8 pagi kapal cepat mulai meninggalkan pelabuhan Balohan, Sabang. Melaju ke arah Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh.
Sesuai rencana, karena penerbangan gw ke Jakarta masih jam 15.45 sore, begitu sampe di Banda Aceh, gw akan solo trip, misah dari rombongan.
Jadi, waktu di kapal, gw telepon lagi abang Taufik, driver taxi yang waktu itu nganter gw dari airport ke kompleks rumah Shinta, minta jemput di pelabuhan, dan langsung nego taxi untuk jalan-jalan keliling kota. Deal!
Jam 8 lewat 45 menit, bang Taufik udah sms gw, ngasi tau bahwa dia udah standbydi gate kedatangan pelabuhan. Sip! Mari kita explore Kota Banda Aceh, sebelum flight ke Jakarta.
Teng, jam 9 pagi, kapal merapat di Pelabuhan Ulee Lheue.
Leader trip sempet nanya, penerbangan gw jam berapa, nanti akan diantar ke bandara katanya.
Haduuuhhhh… makasih banget deh, tapi ga usah repot, gw udah order taxiyang bakal nganterin gw keliling kota. Tengkiyu banget deh…..

welcome again in Ulee Lheue port


Sampe di pelabuhan, ternyata bener, taxi yang gw pesen udah standby di parkiran.
Temen-temen pada bengong, gimana caranya gw bisa sewa taxi dan dijemput persis pas kapal nyampe.
Hehehehehehe…. ga usah bingung fren…. itu lah gunanya punya kenalan dan selalu punya backup plan.
Ok ya guys…. gw misah ya…. mo solo trip biar bisa explore banyak di Kota Banda Aceh.
Setelah pamitan sama semua teman-teman 1 rombongan, akhirnya gw kembali naik ke taxi silver yang udah siap di parkiran.
Let’s go!!!
Di taxi, gw sempet discussdulu dengan si abang driver, sebaiknya ke mana dulu nih, biar semua bisa dikunjungi.
Bang Taufik nanya gw, emang ke mana aja tujuan gw?
Gw beberin lah itinerary yang udah gw bikin. Masih ada Pantai Lampuuk, Rumah Cut Nyak Dien, Mesjid Teuku Umar, Rumoh Aceh dan Kapal Lampulo.
Akhirnya destinasi yang udah gw sebutin di atas diurutin supaya ga bolak-balik, plus dapet beberapa destinasi bonus karena letaknya yang berdekatan.
  1.  Pantai Lampuuk;
  2. Pantai Lok Ngha;
  3. Rumah Cut Nyak Dien
  4. Belanja oleh-oleh makanan khas Aceh, yang kebetulan letaknya hanya beberapa meter dari Rumah Cut Nyak Dien;
  5. Mesjid Teuku Umar;
  6. Makam Sultan Iskandar Muda;
  7. Museum Aceh a.k.a Rumoh Aceh;
  8. Pasar ikan tradisional;
  9. Kapal Lampulo;
  10. Mesjid Agung Baiturrahman; dan terakhir
  11. Belanja oleh-oleh suvenir.

Wuiiiihhhh…. banyak juga ya destinasi yang bakal gw datengin selama kurang lebih 5 jam ini.
Ok, mari kita mulai keliling Kota Banda aceh.
Destinasi pertama, Pantai Lampuuk.
Berjarak kurang lebih 6 km dari pusat kota, karena jalanan lancar, ga pake lama, gw udah sampe di sana.
Pantai pasir putih yang landai, halus menyapa kaki gw.
Pagi menjelang siang itu, Pantai Lampuuk terlihat lumayan rame.
Anak-anak kecil berlarian di pinggir pantai sambil bermain bola. Ada yang berenang dengan bebasnya, ada yang main perang-perangan dengan teman-temannya.
Di bagian kiri pantai, sekelompok pemuda, kayaknya sih entah dari kepolisian atau angkatan bersenjata (siswanya tapi ya… coz masih muda-muda gitu) sedang latihan lari.
Jajaran warung-warung yang banyak di pinggir pantai blom semuanya buka.

Pantai Lampuuk

panasnya sinar matahari ga menghalangi mereka maen di pantai

Pantai Lampuuk pagi menjelang siang itu cukup rame


Sekitar 15 menit gw di Lampuuk, mengumpulkan beberapa frame, sebelum melanjutkan perjalanan ke Lok Ngha.
Lok Ngha sendiri ga jauh dari Lampuuk.
Waktu bencana Tsunami terjadi di taun 2004, Lok Ngha adalah pusat gempanya.
Dulu, katanya daerah Lok Ngha ini hancur dilanda Tsunami.
Dan saat gw sampe ke sana, Lok Ngha udah kembali hijau, aktivitas warga pun udah normal.
Lok Ngha udah pulih.
Dan emang bener, memandang Pantai Lok Ngha di kejauhan, dari pinggir jalanan yang letaknya lebih tinggi dari dataran sekitarnya, cakep banget!

Lok Ngha, siapa yang nyangka di taun 2004 adalah pusat terjadinya Tsunami


Ga berlama-lama di Lok Ngha, gw melanjutkan perjalanan ke Rumah Cut Nyak Dien.
Konon, ini adalah rumah aslinya pahlawan wanita dari Aceh tersebut.
Rumah panggung yang didominasi warna hitam, dengan hiasan beraneka warna sebagaimana biasanya sebuah rumoh Aceh, berdiri kokoh. Dengan latar belakang sebuah bukit hijau, yang sebagian punggungnya memperlihatkan lapisan batuan alamyang terkandung di dalamnya.
Rumah itu sekarang udah jadi sebuah cagar budaya. Terlihat asri dengan taman yang tertata rapi.
Hanya saja, gw kurang beruntung kali ini, karena pagar rumah itu masih tergembok rapi, dan ga keliatan ada yang jaga.
Dan akhirnya gw cuma bisa motret dari sela-sela pagar putih yang membentengi rumah itu.
But, it’s ok.
Ngeliatnya dari luar juga udah bikin gw seneng koq.

Rumah Cut Nyak Dien

cuma bisa ngintip dari luar pager doang


Udah liat-liat rumah Cut Nyak Dien (dari luar pager ya…), trus gw melipir ke toko makanan khas Aceh yang jaraknya hanya beberapa meter dari situ.
Dendeng, kopi, pia, kue ikan sukses masuk dus (nambah deh bagasi gw :D).
Dari pusat makanan khas Aceh, gw melanjutkan perjalanan, balik ke pusat kota.
Kali ini tujuannya adalah Mesjid Teuku Umar.
Bangunan mesjid dengan kubahnya yang unik, menyerupai topi yang biasa dipake oleh pahlawan kita itu.
Bangunan yang didominasi warna putih, dengan atap berwarna coklat gelap, dan kubah berbentuk topi dengan kombinasi warna coklat gelap dan terang, ditambah hiasan kotak-kotak kecil warna coklat gelap, terang dan hijau.
Bentuk kubahnya khas, ga bulet seperti kebanyakan kubah sebuah mesjid, tapi lebih bersegi, sangat identik dengan topi yang biasa dikenakan oleh pahlawan kita, Teuku Umar.

Mesjid Teuku Umar

coba liat bentuk kubahnya yang khas itu, mirip kan dengan topi yang dipake Teuku Umar

masih di Mesjid Teuku Umar


Dari Mesjid Teuku Umar, mobil bergerak ke destinasi selanjutnya, Makam Sultan Iskandar Muda.
Tau dong ya, itu siapa? Pasti tau lah… beliau adalah seorang sultan yang memerintah Aceh di tahun 1607-1635, yang terkenal dengan sifatnya yang tegas, adil dan bijaksana. Yang telah membawa Aceh pada jaman keemasannya.
Pemerintah Indonesia telah menganugerahkan titel pahlawan nasional kepada Sultan Iskandar Muda.
Makamnya yang terletak di kompleks Situs Cagar Budaya Makam Kandang Meuh, berdiri gagah, didominasi bangunan berwarna putih dan coklat yang dinaungi bangunan beratap tapi tak berdinding berwarna kuning gading.
Makam ini dipasangi pagar besi setinggi kurang lebih 70 cm. Sekitar makam sangat bersih dan terawat.
Di depan makam sultan, terdapat juga makam-makam tua yang menurut cerita adalah makam kerabat dan orang kepercayaan sultan.

welcome to Situs Cagar Budaya “Makam Kandang Meuh”


makam Sultan Iskanda Muda

makam seorang sultan yang juga pahlawan nasional Indonesia

sebagian makam tua yang ada di komplek “Makam Kandang Meuh”

Sultan Iskandar Muda & Teuku Umar on articles



tari Seudati-nya udah beres pas gw nyampe


Dari kompleks makam Sultan Iskandar Muda, gw meneruskan penjelajahan ke Rumoh Aceh dan Museum Aceh.

Waktu gw sampe di sana, rombongan penari baru aja beres menampilkan Tari Seudati (yah…. kesiangan ya gw nyampenya?)
Akhirnya gw hanya bisa explore Museum Aceh, yang isinya semua informasi tentang Aceh dan perkembangannya.
Mulai dari alat berburu, alat rumah tangga, penyebaran bahasa daerah, perkembangan pembangunan Mesjid Agung Baiturrahman dari masa ke masa, dan banyak lagi.
Oh iya, gw ngerasain juga naek ke Rumoh Aceh. Sebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu, dengan anak tangga yang lumayan tinggi dan sempit.
Waktu gw mo naek, gw papasan dengan rombongan opa-opa dan oma-oma bule yang juga sedang mengunjungi Rumoh Aceh.
Salah seorang oma itu merasa kesulitan waktu menuruni tangga dan sempet berucap “Wow, your feet are small, this stair not suitable with mine”.
Gw cuma nyengir sambil bantu itu oma nurunin tangga.
Emang sih, anak tangganya kecil-kecil, jadi untuk ukuran kaki bule yang sangat jauh lebih besar dari kaki gw yang size-nya 36 ini, emang ga enakeun itu tangganya.


Rumoh Aceh dan Museum Aceh
ruang pertama begitu naek tangga
di Rumoh Aceh


Setelah oma-oma itu turun, giliran gw yang naek ke Rumoh Aceh.

Ruangan yang pertama gw masuki setelah menaiki anak tangga yang kecil-kecil itu berupa serambi. Gw lupa klo orang Aceh itu nyebutnya apa? Yang jelas fungsinya sebagai ruang berkumpul klo ada pertemuan-pertemuan.
Ruangan ini kosong, akses keluar masuk hanya melalui tangga kecil yang terletak di bagian lantai depan rumah.

Di bagian kiri serambi, ada anak tangga untuk masuk ke bagian rumah yang lebih tinggi, yang merupakan ruangan inti. Di sini dipajang beberapa ruangan yang dilindungi oleh dinding kaca.
Ada ruangan yang berisikan pelaminan dan perlengkapan pernikahan, ada ruangan yang berisi peralatan makan dan sebuah ranjang, lengkap dengan kelambu putih-pink-nya.

Di sisi kiri ruangan, terdapat tangga untuk turun ke serambi yang bentuknya persis seperti serambi yang pertama gw masuki.
Di sini terdapat peralatan untuk memasak, di sisi lainnya terdapat sebuah dipan dan sebuah keranjang ayunan bayi yang berkelambu.
Suasana di ruangan kuning temaram. Pantulan cahaya dari kayu berwarna coklat gelap yang menjadi bahan utama Rumoh Aceh membuat cahaya di dalam ruangan itu jadi unik.
Ditambah bias cahaya dari jendela yang diberi gorden berwarna kuning, membuat suasana di dalam Rumoh Aceh adem, tapi hangat (nah…gimana itu ya? Gw juga bingung bilangnya).
Yang jelas karena bangunannya dari kayu, suasananya jadi ga panas, padahal ga ada AC or kipas angin di situ.
Tapi dengan bias cahaya yang memantul dari lantai dan dindingnya, ditambah cahaya dari jendela, jadinya hangat.
Pokoknya suasananya homy banget deh……. nyamaaaaaaaaaaannnnn…..


pelaminan
dan perlengkapan pernikahan
ranjang, kelambu
dan perlengkapan makan
dapur dan perlengkapannya
dipan, dan ayunan
























Beres liat-liat isi Rumoh Aceh, gw trus turun.
Di halaman ada sebuah bangunan panggung berdinding kayu setinggi 50 cm, yang dipenuhi ukiran, dan beratap rumbia.
Katanya itu adalah tempat pertemuan warga.
Ga tau sih, sekarang masih difungsikan seperti itu atau ga?

menurut penjelasan yang gw dapat, ini adalah tempat pertemuan warga
Di samping kanan belakang Rumoh Aceh, terdapat Museum Aceh.
Di sini pun gw ketemu lagi dengan rombongan oma-oma dan opa-opa bule itu.
Emang beda ya… klo bule itu keliatan banget interest-nya dengan informasi yang ada di dalam museum. Klo orang kita (hehehehehe…), cuma liat-liat tanpa mau baca penjelasannya, apalagi ngedengerin penjelasan dari guide museum yang bertugas.
Karena rombongan oma dan opa itu punya guide yang fasih banget ngejelasin tentang Aceh, akhirnya gw ngintilin rombongan itu. Lumayan kan, dapet penjelasan lengkap :D

Peureulak Boom a.k.a Pohon Peureulak

rusa berkepala 2 yang diawetkan di Museum Aceh

berbagai perlengkapan untuk berburu

ini peta bahasa daerah yang digunakan di Aceh

maket Mesjid Raya Baiturrahman di tahun 1879

yang ini maket Mesjid Raya Baiturrahman di tahun 1936

klo yang ini maket Mesjid Raya Baiturrahman taun 1957

mushaf Al-Quran di Museum Aceh
Sebelum meninggalkan kompleks Rumoh Aceh dan Museum Aceh, gw sempet liat bangunan kecil di dekat pintu keluar.
Bangunan kecil persegi 4, dengan empat sisi bumbungan atap, di bagian atasnya ada puncak berundak 3 dengan hiasan seperti ujung payung di ujungnya.
Bangunan ini terbuat dari kayu dengan dominasi warna hitam dan merah.
Bangunan berukuran kurang lebih 1.5 x 1.5 meter ini merupakan bangunan untuk menggantungkan sebuah lonceng logam yang besar.
Lonceng itu terlihat kuno, cuma setelah gw telusuri, gw ga nemuin tuh penjelasan itu lonceng apa, dibuat kapan, atau itu pemberian dari daerah mana, atau lonceng itu berasal dari masa pemerintahannya siapa?

Rumoh Aceh

ini nih lonceng yang gw bilang, tapi blom nemu keterangannya itu lonceng apa?
Yah….. sudah lah… nanti gw tanya mbah Gugel deh tentang lonceng itu.
Sekarang, mari kita lanjutkan meng-explore Aceh dengan sisa waktu yang ada, sebelum gw balik ke Jakarta.
Destinasi selanjutnya, Kapal Lampulo, atau yang dikenal dengan Kapal Di Atas Rumah.
Untuk mencapai Gampong Lampulo, gw melewati pasar ikan tradisional. Di sini gw liat perahu-perahu nelayan Aceh yang sedang menurunkan hasil tangkapannya.
Off course ya…. smell di lokasi ini not too good. Tapi klo liat hasil lautnya…. dijamin bakalan ngiler :p
Perahu layar warna-warni tampak ramai bersandar di dermaga sederhana yang ada.
Orang-orang tampak sibuk di atas perahunya masing-masing dengan berbagai aktivitasnya. Ada yang sedang menurunkan muatan, ada yang membersihkan perahu, ada yang memperbaiki bagian perahu yang mungkin sedang bermasalah. Full of activities deh pokoknya.

deretan kapal di dermaga pasar ikan tradisional

siang itu dermaganya rame

kapal warna-warni, cantik

poto-potonya ngeblur, karena taken from moving car
Akhirnya sampe lah gw di lokasi Kapal Lampulo.
Sebuah kapal kayu berwarna putih, abu dan hitam terlihat masih berada dengan kokohnya di atas sebuah puing-puing rumah yang menjadi saksi bisu bencana Tsunami.
Sekarang, di sekeliling kapal telah dipasang perancah baja untuk mencegah kapal jatuh dan roboh. Mengingat kapal ini kan udah bertengger selama kurang lebih 9 tahun di atas puing rumah itu.
Di bagian sisi rumah yang masih terawat dengan baik, sekarang dijadikan ruangan untuk mendokumentasikan foto-foto yang diambil pada saat terjadinya bencana Tsunami.
Di ruangan itu gw melihat dahsyatnya Tsunami yang terekam di dalam foto-foto yang dipasang dengan rapi di dinding dan papan khusus yang ada di situ.
Melihat foto dan membaca keterangan yang ada di setiap bagian bawah foto, bikin gw merinding.
Foto-foto itu seolah bercerita, bersuara.
Jadinya sediiiiiiiiiiihhhhhhhh……

Kapal Lampulo

kapal ini menyelamatkan 59 orang pada saat Tsunami 2004

agar tetap terjaga, pemerintah daerah memasang perancah baja di sekeliling Kapal Lampulo

“Kapal nelayan ini dihempas gelombang tsunami pada tanggal 26 Desember 2004
hingga tersangkut di rumah ini. Kapal ini menjadi bukti penting dahsyatnya musibah Tsunami
tersebut. Berkat kapal ini 59 orang terselamatkan pada kejadian itu:
Di halaman tempat Kapal Lampulo bertengger (kayak burung ya? Abisnya gw bingung bilangnya apa? Mo dibilang berdiri, pasti bukan dong), ada semacam counterdari pengelola situs Lampulo itu.
Di situ gw dapet sertifikat yang jadi bukti bahwa gw beneran dong udah sampe di Kapal Lampulo.
Di situ juga akhirnya gw beli buku yang judulnya “The Witnesses of Aceh Tsunami Victims”.
Buku itu berisi testimoni dari 10 orang saksi hidup yang selamat dari bencana Tsunami setelah menaiki kapal yang terdampar di atas rumah tersebut.
Oke, sekarang mari kita lanjutkan perjalanan.
Kudu cepet-cepet, soalnya gw pengen bisa sholat Dzuhur di Mesjid Baiturrahman lagi.
Let’s go abang driver, kita ke Mesjid Baiturrahman. Cuuuuusssssssss………..
Alhamdulillah, pas sampe di halaman mesjid, pas adzan berkumandang.
Buru-buru wudhu, dan akhirnya kesampaian juga gw Dzuhur-an di Mesjid Baiturrahman.
Plus, bisa foto-foto mesjid pas siang.
Langsung lari ke halaman mesjid, ambil frame kiri, kanan, depan.
Oh iya, di sisi kiri mesjid, ada semacam tugu peringatan kecil yang menjadi penanda bahwa pada tanggal 14 April 1873, di tempat itu Mayor General Kohler telah terbunuh pada saat memimpin penyerangan ke Mesjid Raya Baiturrahman.
Hayoooo…. coba diinget-inget pelajaran sejarahnya… masih inget ga dengan Kohler???
Hmm… yakin deh, pasti udah pada lupa :p

Mesjid Raya Baiturrahman

siang itu di Mesjid Raya Baiturrahman

“Tanggal 14 April 1873 di tempat ini Mayor Jendral J. H. R. Kohler
tewas dalam memimpin penyerangan terhadap Mesjid Raya Baiturrahman”

menara yang ada di depan gerbang Mesjid Raya Baiturrahman
Siang itu Mesjid Raya Baiturrahman sangat rame.
Dan di situ, gw juga ketemu dengan rombongan teman-teman yang juga exploreKota Banda Aceh (sssttt…. tapinya destinasi yang mereka datengin ga sebanyak gw dong :D)
Dan akhirnya, gw kudu menyudahi acara explore Kota Banda Aceh.
Udah jam ½ 2 siang, dan gw masih mo nyari oleh-oleh untuk tim hore, ponakan-ponakan bandel tapi ngangenin di rumah. Yuk kita capcus!!!
Tujuan gw cuma mo beli kaos di Mister Piyoh lho….
Kan baca di inet, klo di Aceh ini juga ada kaos-kaos khas Aceh…. ya kayak Dagadu-nya Yogya or Joger-nya Bali itu.
Klo di Aceh, yang terkenal itu namanya Mister Piyoh.
Tadinya, gw berniat mo liat pusatnya yang ada di Sabang. Tapi apa daya, karena selalu molor itu schedule-nya, bahkan yang harusnya dikunjungi juga akhirnya di-skip, ya gw ga kesampaian deh liat Mister Piyoh yang di Sabang.
Untungnya di Banda Aceh juga ada.
Akhirnya gw melipir ke Mister Piyoh yang ada di Banda Aceh. Kebetulan juga ternyata lokasinya searah dengan bandara.
Udah ngubek-ubek stok kaos yang ada di Mister Piyoh, akhirnya dapet juga itu kaos bergambar Cut Kak dan Cut Bang kecil (gw lupa sebutannya… klo anak perempuan kecil itu kan disebut Inong, klo anak laki, lupa gw).
Sebelum ke Mister Piyoh tadi, gw sempet singgah di pusat suvenir di pusat kota.
Sempet beli tenun Aceh, itu untuk gw, yang ternyata sangat hobi ngumpulin kain-kain dari daerah se-Indonesia.
Trus beliin dompet untuk ibu dan adek.
Untuk bapak, makanan aja yah pa…. soalnya kopiah khas Aceh-nya ga nemu :D
Dan akhirnya cerita ngebolang gw berakhir di Bandara Sultan Iskandar Muda.
Jam 3 teng gw udah beres check-in dan akhirnya duduk manis sambil baca-baca majalah di lounge bandara.
Jam ½ 4 sore, boarding, dan 15 menit kemudian si burung besi mulai meninggalkan runway BDI menuju Jakarta.
Bye bye Aceh….. nice to know youthank you so much for the vacation… and, meet you again soon ^.^

finally, must go back to Jakarta

goodbye Aceh, Sabang, thank’s a lot for the vacation

Udahan ya cerita tentang ngebolang ke Aceh-nya….
Ini udah banyak yang japri neh, ngomelin gw yang katanya nyebarin racun mulu….
Padahal kan gw ga ngeracunin yak… gw cuma posting di socmed gw aja….
Ya klo setelah pada baca trus keracunan, itu bukan salah gw dong….
#berlaludengantampanglempeng

Eh iya, ini bocoran itinerary selama ngebolang di Banda Aceh + Sabang, kali aja ada yang mo nyontek :D