Category Archives: happy

Derawan #3, Panas-panasan di Pulau Gusung

Derawan 092

 

Derawan – Pulau Gusung – Derawan

Senin, 1 Juni 2015

 

Ini adalah hari ke-3 saya di Pulau Derawan. Setelah kemarin full hoping island, hari ini acaranya agak sedikit nyantai.

Selama di Derawan, telinga sayamulai akrab dengan suara kecipak riak gelombang kecil di kolong homestay. Dan mata ini menjadi sangat akrab dengan pemandangan Penyu Hijau yang berenang di sekeliling homestay, ikan aneka warna dan jenis, juga jernihnya laut hijau toska yang terbentang luas.

Dan pagi ini, liburan saya akan diisi dengan mengunjungi Pulau Gusung yang ada tepat di depan Pulau Derawan.

Seperti biasa, setelah beberes, kemudian sarapan, kami pun kembali menaiki speed boat yang selama 3 hari ini setia nganterin ke spot-spot terbaik di sekitar Pulau Derawan.

 

hamparan pasir putih dan birunya langit akan jadi pemandangan yang kontras selama di Pulau Gusung
hamparan pasir putih dan birunya langit akan jadi pemandangan yang kontras selama di Pulau Gusung

 

Pulau Gusung ini adalah hamparan pasir putih yang hanya akan timbul/kelihatan pada saat air laut dalam keadaan surut. Apabila air laut pasang, daratan pasir ini akan tenggelam. Pulau Gusung ini adalah pulau pasir yang tidak berpenghuni, tidak ada tumbuhan/pohon, sehingga…. siap-siap aja warna kulitnya akan naik beberapa tone setelah singgah di pulau ini :D

Pasir putih yang terhampar, akan berdampingan dengan birunya langit dan jernihnya air laut. Yang pastinya akan bikin kamu-kamu betah banget deh main di sana.

 

Hai Ngers, kami udah sampe di sini lho....
Hai Ngers, kami udah sampe di sini lho….

 

Mau berendam di air laut yang agak hangat karena matahari bersinar terik? Bisa!

Mau foto-foto? Wah, bisa banget!

Mau tiduran ala-ala bule, jangan ditanya deh….. wong pasirnya luas begitu. Mau guling-gulingan juga bisa kok :D

Nah, 1 lagi, di Pulau Gusung ini, kita juga bisa ketemu “Patrick” temannya “Spongebob” :D

 

"Patrick" yang saya temukan di Pulau Gusung
“Patrick” yang saya temukan di Pulau Gusung

 

masih edisi "Patrick"
masih edisi “Patrick”

 

Bintang laut besar dengan warnanya yang orange, dihiasi tentakel hitam yang menyerupai kerucut tajam, tapi sebenarnya tentakelnya ga tajam kok, banyak banget di pulau pasir ini. Kemarin saya berhasil nemuin 2 bintang laut gede, yang kemudian jadi obyek foto teman-teman. Mungkin kalau mau jalan lagi keliling pulau, bakal nemuin lebih banyak bintang laut di sana.

Di Pulau Gusung, saya menikmati berendam di air laut yang hangat karena sinar matahari. Air lautnya jernih, sementara pasir putihnya halus banget. Suka deh duduk-duduk sambil berendam di sana. Beberapa ikan kecil juga terlihat berenang bebas di sela-sela batu karang kecil-kecil yang banyak di pinggiran pulau.

Pemandangan di Pulau Gusung sangat kontras. Pasir putih, langit biru, udara cerah dan laut jernih. Perfecto!!!

 

pasir putihnya halus banget
pasir putihnya halus banget

 

Puas main panas-panasan, tidur-tiduran dan foto-foto di Pulau Gusung, saya dan teman-teman naik lagi ke kapal untuk melanjutkan acara siang hari itu.

Abis panas-panasan, mari kita main air lagi. Kita liat ikan-ikan cantik yang ada di sekitar Pulau Derawan. Tiba di spot snorkeling di sisi lain Pulau Derawan, ga pake nunggu lama, semua langsung nyebur! Segaaaaaaaarrrrr…..

Di spot snorkeling kali ini saya ketemu “Nemo”, Lionfish, macem-macem deh, ga tau namanya. Ikannya lucu-lucu, dan warna-warni. Hanya saja, arus laut siang itu cukup deras, dan untuk saya yang kemampuan berenangnya seiprit ini, rada jiper juga. Rasanya udah kecipak-kecipak seru, kok posisinya ga maju-maju karena ngelawan arus. Yang ada malah hanyut ke belakang…. help……………. Akhirnya teriak ke mas Alif, minta tarikin ke dermaga… hihihihihihihi…….

Cukup deh berenangnya…. Capek bangeeeeeeeettttt….. plus lapeeeeeeeeeeeeeeeeerrrrrrrrrrrrrrrr……

 

Naik ke dermaga, saya mulai kemas-kemas tas dan bawaan yang ada di kapal. Terus……. Kasak-kusuk sama Iyus, Windy dan Gita “Kita cari Indomie rebus yuk!” Deal! #toss

Jadilah kami ber-4 kabur, menyusuri jembatan kayu yang panjang ini untuk mencari…… Indomie rebus!

 

jembatan kayu seperti ini akan banyak ditemui di Pulau Derawan
jembatan kayu seperti ini akan banyak ditemui di Pulau Derawan

 

nih, kalau mau cari homestay di Pulau Derawan, infonya lengkap!
nih, kalau mau cari homestay di Pulau Derawan, infonya lengkap!

 

ini spot-spot menarik yang bisa dikunjungi di sekitar Derawan
ini spot-spot menarik yang bisa dikunjungi di sekitar Derawan

 

Matahari siang itu kenceng banget sinarnya, ajib bener lah rasanya di kulit.

Berjalan, menyusuri jembatan kayu, pasir putih, homestay-homestay yang dipenuhi pelancong, dan kami pun tiba di depan Rumah Makan Nur, tempat makan favorit selama di Derawan. Seperti biasa, pesan 4 es Kelapa muda, dan kali ini ditambah 4 mangkok Indomie rebus + telor :D

Selagi kami menunggu pesanan Indomie rebus, ternyata teman-teman 1 rombongan mulai berdatangan, dan ternyata lagi, jam makan siang sudah tiba…… horeeeeeee…..

Jadi lah siang itu menu kami nambah, semangkok Indomie rebus + telor, nasi, ikan goreng tepung, sayur bening + ga lupa saya pesan 1 porsi cumi goreng tepung :D

Hohohohohohoho…… liburan 4 hari di sini, sepertinya lingkar pinggang akan bertambah beberapa cm deh :D

Makan siang hari ini nikmat bangeeeeeeeeeeeettttt…… makanannya semua enaaaaaaaakkkkkk…… #lapiler

Selesai makan, kami kembali ke homestay untuk mandi (lagi). Badan rasanya pliket, lengket-lengket abis berendam air laut. Pakaian yang tadinya basah, sekarang udah kering dan melekat di badan. Komplit, rasanya kayak ikan asin sedang dijemur :D

Berhubung setelah ini acaranya adalah acara bebas, abis mandi saya masih bisa leyeh-leyeh di kasur sambil merem, dan akhirnya sukses ketiduran :D

Sempat merem sekitar 1 jam, bangun, dan kemudian grubak-grubuk ngajakin Windy dan Iyus untuk hunting foto sambil keliling pulau. Weeewww…. Ternyata kami semua ketiduran…. Hihihihihi…

Oke, cuci muka, ambil kamera, mari kita keliling……..

 

keliling pulau sore itu, saya menemukan banyak suvenir dari kerang laut
keliling pulau sore itu, saya menemukan banyak suvenir dari kerang laut

 

bagus-bagus ya....
bagus-bagus ya….

 

Menikmati sore, kami memutuskan untuk menuju dermaga di sisi kanan Pulau Derawan, tempat kami tadi siang ber-snorkeling ria. Dan pilihan kami sangat tepat, karena sunset persis di depan dermaga! Horeeeeeeee………

 

sunset-nya persis di depan dermaga
sunset-nya persis di depan dermaga

 

Walau matahari masih agak terang, tapi udah ga sepanas tadi siang, ditambah hembusan angin yang lumayan kencang, bikin sore itu cukup adem menurut saya.

 

homestay terapung a.k.a water chalet di pinggir dermaga
homestay terapung a.k.a water chalet di pinggir dermaga

 

suasana yang akan selalu ngangenin
suasana yang akan selalu ngangenin

 

Duduk di salah satu gazeebo yang ada di dermaga, jadilah saya, Iyus dan Windy cerita-cerita ber-haha-hihi sambil foto-foto. Lagi asyiknya foto dan cerita-cerita, tiba-tiba HP saya bergetar hebat, dan begitu dilihat, ternyata Gita yang telepon. “Ada apa Git?”

“Mbak, di mana? Aku ga bisa masuk kamar. Mau maghrib, mau pipis”. Ahahahahahaha….. makanya…. kalo mau jalan itu bilang… sekarang bingung kan karena kita ga ada di kamar :p

Jadi ceritanya, waktu kami ketiduran, ternyata Gita jalan bareng teman yang lain, katanya mau sepedaan keliling pulau.

Huuuuuuu….. kan belum puas foto-fotonya….

 

selalu kangen dengan suasana seperti ini
selalu kangen dengan suasana seperti ini

 

Ya udah deh, akhirnya kami balik ke homestay, karena ada yang ga bisa masuk ke kamar :D

 

Malam ini, ga ada acara apa-apa. Jadi setelah makan malam (seperti biasa, di Rumah Makan Nur) saya seperti malam kemarin, nongkrong lagi di jembatan kayu, cari milkyway. Puas-puasin malam ini, karena besok kan kita harus balik ke Jakarta. Oh no!

Sebelum milkyway-an, saya packing dulu deh. Beresin ransel, biar besok pagi ga keburu-buru. Selesai packing, mari kita nongkrong di jembatan…..

 

pemandangan malam itu....
pemandangan malam itu….

 

pantulan cahaya dari homestay di permukaan air laut, mau liat langsung yang kayak gini??? yuk, ke sini!!
pantulan cahaya dari homestay di permukaan air laut, mau liat langsung yang kayak gini??? yuk, ke sini!!

 

Derawan #1, Sepenggal Surga di Ujung Timur Kalimantan

 EVY_0583

 

Derawan, Akhirnya Kita Bertemu

Sabtu, 30 Mei 2015

Setelah semalaman ga tidur (ga berani tidur sebenarnya karena takut ga kebangun subuh ini), akhirnya ketika jam menunjukkan pukul 02.30 wib, saya pun berangkat menuju bandara Soetta. Perjalanan dini hari itu terasa cepat, jalanan lengang. Dan tidak sampai 1 jam kemudian, saya sudah tiba di terminal keberangkatan 1A.

Perjalanan yang sudah direncanakan sejak Desember tahun lalu pun dimulai. Penantian selama hampir 6 bulan pun akhirnya tiba di depan mata. Walaupun sempat diwarnai dengan reschedule tiket karena tanggal yang tidak pas, hingga batalnya seorang teman untuk berangkat di saat-saat terakhir. Dan pagi ini, saya sudah berdiri di sini, antrian counter check in maskapai singa merah.

Ini merupakan pengalaman pertama saya menggunakan maskapai singa merah, setelah selama ini selalu menghindarinya karena penyakit “schedule delay” yang melekat di maskapai tersebut. Dan saya sempat kaget melihat betapa ramai dan padatnya antrian check in subuh ini. Luar biasa! Sudah seperti musim mudik lebaran :D

Setelah antri cukup lama, ditambah lambatnya kerja “mbak counter” sewaktu memroses tiket kami, akhirnya saya dan teman-teman berhasil juga untuk check in. Akhirnya……..

Saya dan teman-teman kemudian beranjak ke lantai 2 menuju gate keberangkatan.

persiapan ngebolang kali ini
persiapan ngebolang kali ini

 

Derawan, I'm coming......
Derawan, I’m coming……

 

Jujur, saya pribadi sudah sangat tidak sabar untuk segera sampai ke tujuan. Membaca berbagai artikel dan melihat foto-fotonya via Internet, membuat saya ingin segera melihat sendiri, seperti apa keindahan Derawan.

Sambil menunggu waktu boarding, saya mencoba mengingat kembali kejadian-kejadian sewaktu kami merencanakan trip ini. Mulai dari hunting tiket, reschedule, sampai bagaimana ribetnya mencari paket trip yang sesuai dengan keinginan kami. Awalnya, setelah tiket siap, kami rencananya ingin melakukan trip dengan itinerary sendiri, yang artinya kami harus mencari penginapan, speed boat dan berbagai perlengkapan trip secara mandiri. Keinginan untuk merasakan sensasi menginap di water chalets, membuat saya rajin mantengin Internet mencari paket menginap di water chalet tersebut. Apalagi salah seorang teman request dengan sangat amat berharap “Minimal nginep semalam lah di water chalet“.
Saya mencoba untuk menghubungi resort tersebut secara langsung untuk mendapatkan harga terbaik, dan jawaban yang saya terima hanya membuat kening berkerut. “Ah…. sepertinya saya belum rela untuk mengeluarkan biaya sebesar itu hanya untuk menginap di sana” :(

Karena seorang teman keukeuh untuk menginap di sana, minimal 1 malam saja, saya pun kembali bertanya dan jawabannya adalah “Maaf mbak, untuk menginap di sini minimal 3 malam”. Jegeeeeerrrr!!!

1 malam = 990 ribu, dan untuk menginap di sana harus minimal 3 malam, yang artinya 990 ribu dikali 3. Owemji! Untuk menginap di sana selama 3 malam harus mengeluarkan biaya hampir 3 juta rupiah (kurang 30 ribu ajah)!!! Waduh, ga deh. Maaf ya teman, saya terpaksa tidak setuju dengan keinginanmu itu. Kalau memang memaksa untuk menginap di sana, silakan, tapi saya sih akan mencari yang biayanya lebih terjangkau saja.

Karena awalnya kami ingin melakukan trip secara mandiri, saya pun sudah mencari penyewaan boat untuk hoping islands. Dan ternyata biaya penyewaan boat di sana juga sangat tinggi. Sebuah boat bermesin tunggal dengan kapasitas 8 – 12 orang dihargai 8 juta untuk keliling pulau. Dan karena kami hanya ber-5, otomatis semua biaya itu harus ditanggung ber-5. Huft…….

Hmm….. akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti paket open trip saja, lebih ekonomis. Dan setelah browsing sana-sini yang cukup memakan waktu karena harus membandingkan dan memilih itinerary mana yang sesuai dengan keinginan kami, akhirnya pilihan kami jatuh pada sebuah operator trip lokal, Derawan Tours.

Melihat harga paket open trip-nya yang masih reasonable, akhirnya kami sepakat untuk daftar. Dengan harga paket sebesar Rp 1.975.000 per orang untuk paket trip 4 hari 3 malam, kami sudah mendapatkan fasilitas menginap di water chalet, makan pagi, siang dan malam, boat untuk keliling pulau termasuk perjalanan dari Tarakan – Derawan pp, serta penjemputan dari/ke Bandara Juwata. Good enough kan?

Dan akhirnya, subuh ini saya, Iyus, Windy dan Gita sudah duduk manis di boarding gate menunggu waktu keberangkatan kami menuju Tarakan.

Tepat pukul 04.30 wib, panggilan untuk memasuki pesawat pun terdengar. Dan pukul 05.00 wib, roda pesawat berlogo singa merah ini pun perlahan bergerak melintasi areal parkir Bandara Soetta, menuju runway. Bismillaahirrahmaanniirrahiim….

Mata yang sudah berat menahan kantuk dari semalam akhirnya mendapatkan haknya di pesawat ini. Begitu pesawat take off, saya pun langsung memejamkan mata.

Perjalanan Jakarta – Tarakan selama hampir 3 jam itu (yang saya manfaatkan untuk tidur sepanjang perjalanan) akhirnya bisa membuat mata saya terbuka lebar begitu pesawat yang saya tumpangi itu mendaratkan roda-rodanya di landasan Bandara Juwata (udah puas banget boboknya :D).

Setelah menunggu bagasi, saya pun kemudian menghubungi contact person dari Derawan Tours yang menjemput kami pagi itu. Oh iya, pagi itu kami tiba di Derawan dengan disambut hujan yang cukup deras. Sempat sedih juga, bagaimana perjalanan kami ke pulau Derawan apabila cuaca tak kunjung cerah?

Di Tarakan kami hanya transit sebentar sambil menunggu keberangkatan kapal menuju pulau Derawan jam 1 siang nanti. Dan tujuan kami pagi ini adalah Warung Teras, sebuah rumah makan seafood yang sepertinya cukup terkenal di Tarakan. Mari kita makan…..

 

Warung Teras, tempat makan yang yummy #eluselusperut
Warung Teras, tempat makan yang yummy #eluselusperut

 

Udang goreng tepungnya mantap!!!
Udang goreng tepungnya mantap!!!

 

Siang itu pilihan saya jatuh pada sepiring nasi goreng seafood dan seporsi udang goreng tepung plus segelas jus stroberi. Hmm…… seafood-nya segar….. rasa manis dari daging udangnya mantep!

Setelah makan dan kenyang (pake banget), kami pun kemudian diantar menuju Pelabuhan Tengkayu untuk menunggu waktu keberangkatan kapal menuju Pulau Derawan.

Perjalanan dari Pelabuhan Tengkayu menuju pulau Derawan ditempuh sekitar 2.5 hingga 3 jam. Untungnya cuaca sudah cerah sewaktu kami berangkat. Dan sepanjang perjalanan, kami disuguhi hamparan laut biru yang jernih.

Dan akhirnya, setelah pantat terhempas-hempas selama hampir 3 jam di atas selembar busa tipis yang menjadi alas duduk kami di atas boat, boat yang kami naiki pun akhirnya mengurangi kecepatannya dan secara perlahan bersandar di sebuah dermaga kecil dari bangunan kayu berwarna coklat yang berdiri menjorok ke arah laut. Yeeeeaaaaaayyyyyy….. Derawan here I am!

Sambil menunggu unloading barang-barang bawaan kami dari dalam speed boat, saya memperhatikan lingkungan di sekitar dermaga itu. Tepat di depan dermaga, terhampar laut luas dengan airnya yang berwarna hijau toska jernih. Saking jernihnya, saya bisa melihat dengan jelas beberapa ekor Penyu Hijau sebesar tampah yang berenang bebas di sekitar dermaga. Perahu-perahu kecil yang ditambatkan dengan sehelai tali pun terlihat terombang-ambing oleh riak gelombang yang datang perlahan. Kumpulan-kumpulan Bulu Babi terlihat menggerombol di sekitar dermaga. Ikan-ikan beraneka warna dan bentuk, terlihat juga berseliweran tak henti-henti di bawah dermaga.

 

ini pemandangan di depan kamar lho....
ini pemandangan di depan kamar lho….

 

Setelah barang-barang kami selesai di-unloading ke dermaga, kemudian kami dibagikan kamar yang akan menjadi “rumah” kami untuk 4 hari ke depan. Dan ternyata, saya mendapatkan kamar yang paling depan, persis setelah teras dari dermaga ini. Yihaaaaa!!!

Karena kami tiba di Derawan di saat hari sudah menjelang sore, sisa hari itu itinerary-nya adalah acara bebas. Yang mau lanjut tidur cantik, bisa…… Yang mau langsung jalan-jalan keliling pulau, boleh…. Yang mau makan (seperti saya dan teman-teman, yang entah gimana lah ceritanya, begitu tiba di Derawan langsung pada kelaparan semua :D) juga bisa.

 

ini kamar saya untuk 4 hari ke depan, nyaman banget....
ini kamar saya untuk 4 hari ke depan, nyaman banget….

 

yang penting, toiletnya bersih! dan air tawar, bukan air payau yaaa.....
yang penting, toiletnya bersih! dan air tawar, bukan air payau yaaa…..

 

Dan setelah membereskan backpack, serta sedikit meluruskan punggung di atas kasur yang tersedia di kamar, saya, Iyus, Windy dan Gita pun akhirnya memutuskan untuk sedikit meng-explore pulau sambil mencari warung makan. Padahal, kami sudah dipesanin oleh mas Alif yang menjadi guide selama di Derawan “Mas, mbak, makan malam akan siap di jam 7”. Dan sekarang baru jam 4 :D

Perutnya ga kuat untuk menunggu 3 jam lagi… hehehehe….

jembatan kayu yang menghubungkan homestay kami dengan daratan
jembatan kayu yang menghubungkan homestay kami dengan daratan

 

Dari water chalet, kami menyusuri jembatan kayu panjang yang menghubungkan bangunan ini dengan daratan yang ada di depan kami. Tiba lah kami di perkampungan penduduk dengan rumah-rumahnya yang mayoritas terbuat dari kayu sebagaimana lazimnya rumah yang ada di Kalimantan. Kami pun melangkah menuju sisi kiri jembatan, menyusuri perkampungan penduduk. Hamparan pasir putih membentang sepanjang jalan perkampungan yang kami lewati. Karena tidak menemukan warung makan di sepanjang jalan yang kami susuri itu, kami mengubah haluan, balik kanan dan mulai menyusuri ke bagian kanan.

 

here, we are...
here, we are…

 

Dan benar saja, di sisi ini kami menemukan banyak warung makan. Pilih sana, pilih sini, akhirnya kami masuk di salah satu warung makan (lupa namanya apa?). Ambil menu, dan langsung pesan. Ikan Baronang bakar, Cumi goreng tepung dan Cah Kangkung. Tak lupa, 4 buah kelapa muda. Oh iya, awalnya kami cuma ingin minum air kelapa muda, tapi karena perut semakin lapar, akhirnya kami memutuskan untuk sekalian makan saja (lupakan jadual makan jam 7 malam nanti :D).
Tanpa menunggu terlalu lama, sebakul nasi putih hangat, ikan bakar, cumi goreng tepung dan cah Kangkung pun terhidang di depan kami. Mari makan…….. nyam… nyam… nyam…

 

menu kami sore itu
menu kami sore itu

 

Selesai makan, kami pun kembali menuju homestay untuk menunggu sunset di dermaga depan kamar. Menyenangkan banget ya….. nungguin sunset-nya cukup dari depan kamar aja. Hmm…… alhamdulillah, nikmat banget makan sore ini.

Sore menjelang senja hari itu, kami habiskan dengan duduk-duduk santai di dermaga sambil menunggu sunset dan menikmati angin laut.

 

sunset? cukup di depan kamar aja deh
sunset? cukup di depan kamar aja deh

 

Apa kegiatan kami besok? Hmm…… sepertinya besok kami akan basah-basahan seharian. Ikut yuk keseruan kami…….

Dieng Culture Festival 2012 – Diengers, Cerita Kita Berawal di Sana



Semua Berawal dari Sini……
Dari sebuah trip ke salah satu sudut Propinsi Jawa Tengah,
di sebuah kawasan dataran tinggi bernama Dieng.
Di ketinggian 2093 mdpl, menemukan kehangatan keluarga, jabat erat sodara,
dan perasaan seperti menemukan sebuah “rumah” untuk pulang.


Setaun yang lalu, di penghujung minggu yang lumayan gerah, cerita itu berawal di sebuah gerai donat terkenal di sudut Plaza Semanggi.


Jumat, 29 Juni 2012
18.30 wib

Dengan tergesa-gesa gw menaiki tangga pelataran Plaza Semanggi.
Huft… blom telat ya…
Gw mulai scanning, di mana rombongan yang akan ke Dieng? Hmm… itu dia!
Sesuai tek-tok-tek-tok di message, leader trip kali ini adalah seorang cewe berambut panjang diikat ekor kuda dengan topi baseball menutupi sebagian wajahnya, bercelana pendek dan kaos tanpa lengan, Zee!
Say hello, dan registrasi ulang, sambil nunggu rombongan yang lain, gw ikut ngejogrok di salah satu sudut gerai donat itu.
Seperti biasa, kali ini pun gw ngikut trip tanpa seorang teman pun yang gw kenal. Semoga bisa dapat teman baru yang asyik dan bisa saling meracuni untuk trip-trip selanjutnya :D

Satu persatu peserta trip mulai berdatangan, trus registrasi ulang. Dan ga ada satu pung yang gw kenal :D
Gw sempet nanya Zee, bisnya di mana?
“Di samping tangga mbak, ada bis ¾ warna abu-abu, ada tulisan bus 1 dan bus 2 di kaca depannya”, jawab Zee.
Ok, mari kita liat… sekalian nyimpen carrier dan nge-take seat di bus.

Di samping tangga turun dari pelataran, gw liat ada 2 bus ¾ warna abu-abu standby.

Masih dalam rangka meyakinkan diri, gw cek lagi kaca depannya, bener ga ada tulisan bus 1 dan bus 2?
Trus, gw nanya deh sama bapak-bapak yang ada di situ. “Pak, ini bus rombongan yang akan ke Dieng?”
Si bapak mengiyakan.
Gw cek lagi, yang mana bus 2, karena nama gw terdaftarnya di bus 2.
Ouw, ternyata bus 2 yang barisnya di belakang.
Gw cek, sebagian kursi udah ada yang nge-take. Trus gw liat kursi yang persis di dekat pintu masuk masih kosong. Yeaaayyy!!!
Gw nge-take kursinya ah…. posisi strategis, deket pintu, space-nya agak legaan.
Ok, taro jaket pinkgonjreng! “Ini seat gw ya” :D

Sebelum berangkat, ada cewe berambut pendek yang celingukan nyari seat di bus.
“Hei, blom dapet seat ya? Nih, di sebelah gw kosong, mo duduk di sini?” tanya gw.
Linar! Ini yang akhirnya jadi teman seperjalanan gw Jakarta-Dieng-Jakarta dan juga jadi roommate waktu di Dieng.

Jam 9 malem bus mulai jalan.
Baru juga bus jalan, ada cowo yang ngajakin Linar ngobrol, mas Aga.
Jadilah awal perjalanan malam itu gw, Linar, mas Aga ngobrol seru.
Sesekali Zee ikut nyamperin sambil mastiin peserta di bus 2 aman, sehat, sejahtera… hehehhehehe…

Ini perjalanan gw ke Dieng untuk yang ke-2 kalinya.
Jadi gw udah bisa kira-kira, bakal berapa lama harus duduk manis di dalam bus.
Oh iya, kali ini gw ke Dieng dalam rangka mengobati rasa penasaran gw pada cerita tentang anak berambut gimbal yang ada di Dieng.
Kenapa? Bagaimana? Apa? Siapa?
Akhirnya begitu ada open trip Dieng Culture Festival, gw langsung bilang “I’m in!”.

Harusnya perjalanan Jakarta–Dieng bisa ditempuh dalam waktu sekitar 10-12 jam, tergantung kondisi jalan, lalu lintas, kecepatan kendaraan dan seberapa sering busnya mlipir ke rest area.
Tapi kali ini, mungkin juga karena bertepatan dengan acara Dieng Culture Festival ya… jadi jalanan terlihat lebih padat. Bus pun jalannya ga kenceng seperti sprinter, tapi lebih kalem seperti becak :D

Udah capek ngobrol-ngobrol, mulai dari yang jelas, sampe yang ga jelas (hihihihihi), akhirnya gw dan Linar sama-sama merem.
Buka mata, masih gelap…. ohh, blom sampe rupanya (bobo lagi).

Buka mata lagi, di luar udah mulai terang “Udah sampe mana ya?”
Hmm… ternyata udah mulai memasuki wilayah Jawa Tengah.
Bus jalan terus. Di luar keadaan semakin terang.
Waktu ke Dieng yang pertama kali, jam 7 gw udah sampe di homestay dong.
Tapi kali ini, macetnya luar biasa, dan setelah menempuh perjalanan sekitar 15 jam, akhirnya jam 12 siang kami tiba di homestay. Finally

Bagi-bagi kamar, gw sekamar dengan Linar dan Andin.
Hmm…. Dieng masih dingin seperti waktu Februari kemarin gw ke sana.
Dan ga tau kenapa, gw betah dan seneng banget klo bisa jalan-jalan ke tempat yang udaranya sejuk dan segar. Cuci paru-paru istilah gw. Seperti trip kali ini.

Udah sampe di homestay pun, gw blom banyak kenal teman-teman 1 bus tadi.
Baru kenal Linar, Andin, mas Aga, Windy :D

Awalnya, karena perhitungannya udah nyampe di lokasi di pagi hari, kami ingin liat (dan ikut) acara minum Purwaceng rame-rame.
Tau kan Purwaceng itu apa?
Purwaceng itu minuman khas Dieng yang menurut cerita berkhasiat seperti ginseng. Bener/ga gw ga ngerti, karena sampe saat ini pun gw blom pernah nyobain… hehehehhee…

kawasan Candi Arjuna siang itu


Abis makan siang, kami bergerak ke kawasan Candi Arjuna.
Siang itu cuaca sangat bersahabat. Langit biru dihiasi gumpalan-gumpalan awan putih.
Udara yang sejuk walaupun matahari tersenyum dengan hangatnya (klo ga mo dibilang panas sih :D).

Karena suasana di sekitar kawasan Candi Arjuna sangat rame, dan kami pun datengnya udah siang, supaya tetap bisa ngikutin itinerary yang udah dibuat, jadi gw dan teman-teman ga bisa berlama-lama di situ.
Beres poto-poto, keliling-keliling, Zee ngajak nerusin ngubek-ngubeknya ke Telaga Warna.
Tapi teuteup…. sebelum kabur, poto-poto duluuuuuuu……


ketika belum kenal dekat pun, rusuhnya udah terlihat :D


gerbang Telaga Warna


Abis dari Candi Arjuna, gw dan teman-teman melipir ke Telaga Warna.

Ngeeeeeeennnggg… naik bus sampe di parkiran Telaga Warna.
Mari kita liat, berubah kah sang telaga setelah kunjungan gw yang terakhir???











telaga yang tenang

Karena dalam suasana Dieng Culture Festival, di Telaga Warna pun rame banget.

Jadi ya… susah banget mo nyari spot-spot yang kosong.
Di sini gw mulai kenal dengan teman-teman yang tadi 1 bus dengan gw.
Ada Gina, Gita, Iyus, mas Ahmad, Ivan, Astrid, Mita, Eera, Hendra, Haris, mbak Endah, mas Kurnia (di akhir trip baru tau kalo panggilannya mas Kef), mbak Dijeh, Winda, mbak Tri, trus…. sapa lagi ya?

hijau…biru…toska…

Di sini, kerusuhan rombongan makin terlihat.
Jalan-jalan, keliling-keliling, liat sana sini, ga lupa foto-foto, dan ketauan lah kalo semua banci kamera :p
Ga boleh liat ada yang foto-foto, langsung deh pada nimbrung pasang aksi :D
Mo liat kenarsisan temen-temen baru gw???
Cekidot….

mas Kef, mbak Endah, mbak Dijeh, Winda, Linar, mbak Tri

hahhhhhh…. udah narsis itu Winda :p


tampang boleh kalem…. kelakuan???? :p :p :p


baru tau klo mas-mas yang di depan itu paling hobi narsis :D


auw… auw… auw… ini Zee, leader trip gw


Beres ngerusuh di Telaga Warna, Zee ngajakin gw dan teman-teman ke Kawah Sikidang. Rebutan masuk ke bus, dengan tetap ramenya, dan ngeeeeeeeeennnnnggggg….. ga pake lama, nyampe deh di Kawah Sikidang.
Klo waktu pertama kali ke Dieng semua gw tempuh on foot, alias jalan kaki a.k.a ngeritingin betis, kali ini karena waktu yang sempit, ke mana-mana gw dan teman-teman dianter si bus abu-abu.

Kawah Sikidang


Sampe di Kawah Sikidang, langsung deh bubar barisan. Semua langsung ngacir sendiri-sendiri, ga tau juga nyariin apa? :D

Gw bareng sama Linar, sambil liat kanan kiri sapa tau ada yang bisa dikecengin, maksudnya sapa tau ada yang bisa di-shoot pake kamera.
Akhirnya gw sampe di pinggir kawahnya.










Bau belerang terasa banget lho di pinggir kawahnya. Asapnya juga terlihat di mana-mana. Kudu wajib harus pinter-pinter liat arah angin, jadi bisa menghindari uap belerang yang ngepul dari arah kawah.
Dan u know, di pinggir kawah pun, itu rombongan narsis teuteup rusuh dan sok bergaya ala boyband :D
Penasaran kan, mo liat aksi boyband from Dieng??? Let’s check it out!

langit di atas Sikidang sore itu…biru……..

sejauh mata memandang, yang keliatan……kawah :D

ayo… coba cari, mana itu para Diengers???

hag.. hag.. hag… narsis part 1

suuuutttt…. ada anggota boyband Korea :D

tuh… uap belerangnya #pasangmasker

see??? narsisnya boyband Diengers :D
mbak fotografer dan asistennya :p







mo moto mas-mas yang lagi gitaran, kenapa itu ada yang nyempil di ujung???

again! narsis forever :D





Cukup narsis-narsisan di Kawah Sikidang, markipul….
Ntar malem di kawasan Candi Arjuna kan ada beberapa acara juga, ada pesta kembang api, wayang kulit, trus apa lagi ya???
Sekarang, ayo kita ngebut ke homestay, pengen meluruskan punggung sejenak.
Cuuuuussssssssssssss…….


– malemnya –
Malem ini, gw dan teman-teman dapet traktiran makan mie Ongklok dari Zee…. duh, itu leader baek amat yak? semua ditraktir makan mie khas Dieng ^.^

Udah pada mandi, sholat, istirahat, rebonding punggung, mari kita capcus ke warung mie di depan homestay.
Sekitar 25-an Diengers malem itu dapet traktiran mie Ongklok yang masih ngepul dari mangkok beling berukuran sedang.
Hmm…. wanginya yummy….
Let’s try it out!

Mie Ongklok ini adalah mie khas Dieng.
Isinya terdiri dari mie kuning pipih, sayuran berupa irisan kol, irisan daun bawang dan ditaburi bawang goreng. Kuahnya kental dan beraroma khas.
Cocok banget dimakan di udara sejuk cenderung dingin seperti malam ini.
Saking dinginnya di Dieng, semangkuk mie Ongklok yang awalnya dipenuhi asap tanda kuahnya sangat panas, waktu disruput ternyata ga panas lho….
Mencicipi kuah mie Ongklok, hmm….. rasanya gurih, agak manis karena ada campuran kecapnya.
Marilah…. kita habiskan semangkuk mie Ongklok ini sebelum dingin sempurna….

mie Ongklok traktiran dari Zee, yummy


Selain mie Ongklok, Dieng juga terkenal dengan kentang gorengnya yang enak. Sayang, gw ga sempet moto kentang goreng yang gw beli di sana. Gimana mo difoto coba? Baru juga sebungkus kentang goreng sampe di tangan, dalam sekejab langsung bersih tak bersisa akibat nggragasnya gw dan teman-teman Diengers yang lain :D

Abis makan mie Ongklok, sebagian teman-teman ada yang melanjutkan rasa penasarannya dan jalan-jalan ke seputaran Candi Arjuna.
Klo gw sih, milih balik ke homestay dan masuk ke dalam hangatnya pelukan si sleeping bag :D
Bobo ah… besok pagi mo ngejar sunrise ke puncak Sikunir.


Minggu, 1 Juli 2012
Hoaaaaaaeeeemmmmmmm…… #nguletdaribaliksleepingbag
Selamat pagi……… ^.^

Dieng subuh ini dingin banget.
Kalo ga karena pengen liat sunrise dari puncak Sikunir, rasanya males banget bangun dan keluar dari hangatnya pelukan sleeping bag ini.
Tapi…….. hayuk ah! Semangat!
Ga pake mandi :D cukup cuci muka, gosok gigi, ganti baju (eh, ganti baju ga ya waktu itu? lupa gw :D), gw dan teman-teman langsung cuuusss ke depan homestay.
Si bus abu-abu udah setia di depan gang, nungguin para Diengers naik dan siap terbang ke Sikunir.

Subuh itu masih gelap banget. Dan yang pasti masih super duper dingin, pake banget!
Gw aja pake baju udah dobel-dobel gitu, kaos, jaket, syal, sarung tangan, kaos kaki, sepatu……. brrrrrr… dingin bangeeeeeeeeeeeetttttt….

Desa Sembungan, desa tertinggi
di Pulau Jawa


Sampe di Desa Sembungan, yang merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa, kebayang kan gimana dinginnya subuh itu?
Turun dari si abu-abu, gw dan teman-teman masih harus jalan kaki ke puncak Sikunir.
Oh iya, Sikunir ini adalah bukit yang biasa dijadikan tempat untuk mengintip sunrise di Desa Sembungan.
Jalan kaki melewati rumah-rumah penduduk yang sebagian masih tertutup rapat, cahaya lampu yang bersinar temaram, sepi, kadang terdengar suara kokok dan kotek ayam, kami pun berjalan menuju Sikunir.

Sampe di kaki Bukit Sikunir, keadaannya gelap.
Untung gw sempet bawa senter kecil untuk menerangi jalan setapak yang mengarah ke atas.
Pelan-pelan, gw dan teman-teman mulai menapaki punggung Sikunir.
Jalan setapak yang awalnya terlihat, lama kelamaan makin menanjak, dan makin kecil.




Subuh itu, punggung Sikunir harus menahan beban lebih berat dari biasanya. Kebayang dong ya…. yang subuh itu pengen liat sunrise dari puncak Sikunir kan bukan Diengers doang.
Dari setengah punggung Sikunir, jalan setapak mulai padat. Begitu sampe di puncak…. wow… padet bangeeeeeeettttt…
Berusaha nyempil dikit, supaya gw bisa dapet spot yang cihuy, yang ada, gw sama Linar malah kejebak di pinggir puncak Sikunir.
Di sebelah kiri, depan, belakang, udah full, sesak, di sebelah kanan…. jurang… hiiiyyyyy…..

langit yang mulai bersemburat pagi itu


Semburat kuning jingga mulai menyeruak kabut pagi di ujung cakrawala. Perlahan sederetan gunung mulai jelas bentuknya di kejauhan, puncak Sindoro berdiri gagah paling depan.
Kumpulan awan putih menghiasi sela antara gunung-gunung bagaikan permadani.
Wuuiiiiiihhh… bener-bener negeri di atas awan deh….

sinar mentari pagi mengintip dari balik pepohonan


Begitu mentari bersinar sempurna, gw dan teman-teman mulai menuruni punggung Sikunir untuk balik ke parkiran bus. Sepanjang perjalanan turun, gw masih beberapa kali bisa mengintip cantiknya Sikunir dan sekitarnya. Liat deh foto-foto ini, siapa sih yang ga betah dan senang tinggal di sana?

mentari pagi, langit biru, awan putih, dan dedaunan yang basah oleh embun

sinarnya hangat


Sampai di kaki Sikunir, terbentang Telaga Cebong yang pagi itu masih terlihat gelap, terlindungi bayangan bukit Sikunir.

Telaga Cebong, di kaki Sikunir

negeri di awan




Dari kaki Sikunir, gw dan teman-teman jalan ke arah parkiran bus di gerbang Desa Sembungan.
Oh… si abu-abu setia nunggu di sana.
Yuk kita balik ke homestay, laper merajalela :D

Sampe homestay, sarapan, rebutan kamar mandi, packing dan kami siap mengikuti acara terakhir dan paling ditunggu di perjalanan ini. Prosesi ruwatan anak rambut gimbal di pelataran Candi Arjuna.

Sengaja gw dan teman-teman berangkat ke Candi Arjuna agak awal, jam 10-an kami udah ke sana. Alasannya supaya bisa liat-liat dulu dan nyari tempat yang strategis.
Kawasan Candi Arjuna siang itu rame banget… pengunjung dan masyarakat setempat berbaur jadi satu. Tua, muda, dewasa, remaja, anak-anak, semua ada.

Karena acaranya baru mulai jam 12-an, akhirnya gw dan teman-teman keliling dan foto-foto tentu saja :D
Eh iya, di sini gw nemu domba khas Dieng, namanya Dodi – Domba Dieng (yang namanya Dodi, i didn’t mean it ya…. emang disebutnya begitu :D).


siang itu kompleks Candi Arjuna, meriah!!!

lokasi pagelaran wayang kulit semalam

Sendang Sedayu, tempat penyucian anak berambut gimbal yang akan diruwat

dodi a.k.a domba Dieng :D


dengan pakaian khasnya,
bapak tua ini pun mengikuti kemeriahan
di kawasan Candi Arjuna
semua berbondong-bondong
ke Dieng Culture Festival




siang itu…


Jam 12 siang, iring-iringan peserta prosesi ruwatan rambut gimbal mulai memasuki kawasan Candi Arjuna.
Matahari bersinar terang benderang, tapi gw masih setia dengan jaket pink. Anginnya ga nahan ya booo…… semriwing…… wuss.. wuss… wusss…..



sesajen yang menjadi pelengkap pelaksanaan prosesi


Prosesi ruwatan diawali dengan dibawa masuknya aneka sesajen ke area ruwatan, disusul aneka “permintaan” dari anak-anak berambut gimbal yang akan dipotong rambutnya.
Kemudian rombongan anak-anak berambut gimbal yang didampingi oleh orang tuanya memasuki area prosesi dan langsung mengambil tempat di samping kiri candi.
Rombongan para tetua dan sesepuh masyarakat menyusul di belakangnya, diikuti rombongan para petinggi dan pejabat setempat.






yang ini adalah “permintaan”
dari anak-anak berambut gimbal
sebagai persyaratan dipotongnya rambut mereka


Sebelum memulai prosesi penmotongan rambut gimbal, para sesepuh dan tetua masyarakat memasuki bangunan candi untuk berdoa sesaat. Dan kemudian prosesi ruwatan sekaligus pemotongan rambut gimbal dari anak-anak kecil itu segera dimulai.
Satu per satu anak-anak berambut gimbal itu dipanggil namanya, dan disebutkan apa yang menjadi permintaannya sebagai syarat pemotongan rambut gimbalnya.
Berbagai ekspresi dari anak-anak kecil berambut gimbal itu. Ada yang menangis, diam saja, tapi ada juga yang dengan cerianya melambai-lambaikan tangannya pada saat rambutnya dipotong.
Rambut gimbal yang telah dipotong itu kemudian dikumpulkan dan selanjutnya akan dilarung/dihanyutkan di sungai yang bermuara ke laut.

Foto-foto berikut ini adalah pelaksanaan pemotongan rambut gimbal di kompleks Candi Arjuna.

para tetua dan sesepuh masyarakat

deretan sesajen


rombongan tetua dan
deretan anak berambut gimbal
prosesi pemotongan rambut dimulai
prosesi pemotongan rambut gimbal
prosesi pemotongan rambut gimbal

ada yang nangis, takut, tapi ada juga yang ceria

macem-macem ekspresi dari anak-anak berambut gimbal yang dipotong rambutnya

Siang itu ada 7 orang anak berambut gimbal yang mengikuti prosesi ruwatan dan pemotongan rambut gimbalnya.
Setelah selesai, gw dan teman-teman buru-buru balik kanan dan berjalan ke arah homestay.
Eh… tiba-tiba gw ketemu dong dengan adik perempuan kecil yang dipanggul oleh bapaknya. Dan ternyata si adek kecil ini pun berambut gimbal.
Tapi menurut bapaknya, adek kecil ini belum mau dipotong rambutnya, jadi tadi ga ikut prosesi ruwatan.
Selain si adek perempuan kecil itu, ternyata ada juga seorang adek laki-laki yang juga berambut gimbal dan masih belum mau dipotong rambutnya.
Rambut adek laki-laki itu panjangnya sepinggang lho… gimbal kriwil-kriwil… mengingatkan gw sama penyanyi Bob Marley :D


dia menyembunyikan wajahnya
begitu tau banyak yang pegang kamera
rambut gimbalnya panjang



Balik ke homestay, beresin barang bawaan, trus naek ke si abu-abu, nungguin nasi box makan siang, dan kami pun berangkat, back to Jakarta.
Meninggalkan dataran tinggi Dieng dengan segala keunikannya, udara segarnya, hawa dinginnya yang menggigit, keramahan masyarakatnya dan segala yang membuat kangen, untuk kembali ke sana.

Perjalanan ke Jakarta masih panjang, istirahat dulu ya….
Sssstttt… sebagai bocoran, perjalanan Dieng – Jakarta yang harusnya ditempuh sekitar 10 jam, kali ini kami harus merelakan badan terguncang-guncang di dalam bus selama lebih dari 17 jam!!!
Silakan bayangkan sendiri gimana rasanya :D



Cerita selanjutnya, silakan intip di sini….. 






Shenzhen #4 – Last Day


Senin – Selasa
20-21 Mei 2013

Last day in Shenzhen.
Hooaaeemmm…. pagi ini bangun dengan rasa males-malesan… hiks, liburan telah usai :((
Hari ini gw dan teman-teman rencananya pagi-pagi mo ke Splendid China lagi, lho?????

morning Shenzhen….
Bukan mo maen dan ngider lagi sih, tapi mo beli suvenir di toko yang ada di halaman depan Splendid China.
Jadi ceritanya, kemaren setelah seharian keliling Shopping Park dan Dongmen, dan kami ga nemu juga toko yang jual suvenir khas China gitu, akhirnya kami mutusin pagi ini balik lagi ke Splendid China untuk beli suvenir.

Pagi-pagi, udah mandi dan beres-beres, trus langsung check-out hotel.

di halaman belakang hotel ada yang jualan, salah satu vendor HP ngetop
Carrier, koper, dan tas jinjing kami titip dulu di hotel, karena kan mo ke Splendid China sebentar.
Eh iya, deposit yang 200 Yuan dibalikin pas check-out, bisa untuk jajan, lumayan… :D

Shenzhen pagi ini, masih sepi
jalanan aja kosong begini





















Seperti biasa, dari hotel trus ke station Laojie, tujuan station OCT, 2 Yuan.
Sampe di station OCT, tinggal naek tangga, trus nyeberang halaman langsung ke toko suvenir.
Teman-teman gw, lagi-lagi terlihat kalap belanja suvenir.
Dan gw malah bingung mo beli apa? :D

ini toko suvenir di halaman depan Splendid China tempat kami belanja oleh-oleh

lampion yang khas dengan warna merahnya

Akhirnya gw cuma beli gelang yang ada ukiran khas China-nya, trus kaca lipat dan magnet kulkas. Eh iya, beli kipas yang ada lukisan China-nya juga ding.
Beres beli suvenir, kami langsung ngacir balik ke hotel.

Sebelum sampe hotel, kami singgah dulu untuk maksi, laper ya booooo….
Kali ini, karena udah males mo keliling foodcourt, akhirnya gw ngedeprok di McD yang ada di kompleks pertokoan di atas station Metro Laojie.
Nge-junkfood deh kali ini, gapapa kan ya?

Seporsi kentang goreng, ayam dan segelas soft drink siap gw santap.
Ga pake lama dong, semua itu licin :D
Ini maksinya ga pake rem deh kayaknya…. kenceng bener… langsung oper persneling gigi 3, ahahahahaha….




Selesai maksi, kami lalu balik ke hotel, ambil carrier + koper + tas jinjing, teman-teman pake acara bongkar-bongkar koper juga untuk masukin belanjaannya yang tadi, trus capcus ke station Metro.

before, masih komplit :D
setelah oper persneling gigi 5
ludeeeeeeeesssssss…..














Kali ini perjalanan ke station Laojie rasanya jauuuuuuuuhhhh… banget!

Carrier pun rasanya jadi berat banget :((
Ga ada porter ya di sini??? hiks.. hiks.. hiks..

Setelah perjuangan ngegendong carrier dari hotel, akhirnya sampe juga di station Laojie.
Tuker koin, trus langsung nunggu Metro di Line 1.
Alhamdulillah…. Metro-nya ga pake lama langsung datang #huft

Gw dan teman-teman sengaja milih gerbong yang paling belakang, karena berdasarkan pengamatan, gerbong yang paling sering kosong itu adalah gerbong paling depan dan gerbong paling belakang.
Alhamdulillah…. langsung dapet tempat duduk di Metro-nya #huft
Nurunin carrier dan tas jinjing, dan gw pun terduduk lemas dengan sukses :D

Perjalanan menuju airport rasanya cepet banget kali ini, tau-tau Metro udah berhenti di station Bao’an Airport.
Kemon… mari kita gendong carrier lageeeeeee…..hup.. hup.. hup…

Sampe airport, gw dan teman-teman langsung menuju terminal keberangkatan luar negeri.
Karena nyampenya kecepatan, counter check-in blom buka dong.
Akhirnya kami nyari kursi kosong untuk ngegelosor.
Dapet kursi, dan langsung deh…. masing-masing cari PW :D

hihiihihihi…ayo packing
carrier beranak koper :p


Nungguin flight jam 20.30 ke KL, sempet merem lho itu di kursi ruang tunggunya.

Di luar ujan deres banget. Langit gelap banget. Anginnya kenceng.
Ya Allah, semoga cuaca segera membaik, kan gw mo flight malem ini.
Sekitar jam 7 malam gw dan teman-teman check-in dan langsung nunggu di terminal keberangkatan.

Jam 8 malem dihalo-haloin untuk siap-siap boarding.
Udah baris rapi, tiba-tiba gw dicolek dong sama opa-opa dari baris sebelah.

Gw noleh, trus si opa bilang “Vacation hah? Who is your ‘toke’ in Shenzhen?”
Gw masih ga ngeh ditanya gitu sama si opa. “Excuse me?” gw balik nanya.

Si opa nanya lagi “You dari Malaysia hah? Di Shenzhen working? Who is your ‘toke’? You kerje dengan siape?”
What????? Gw dan teman-teman disangka si opa orang Malaysia yang lagi vacation kerja dari Shenzhen. Hadeeeeuuuuhhhh….

Trus gw bilang aja “No, we are from Jakarta, Indonesia. And we are not working here, we are on our vacation”.
Si opa manggut-manggut, trus kasak-kusuk sama rombongan opa dan oma yang barengan dia.
Jangan-jangan gw dan teman-teman disangkanya TKW kali ya??? weeeeeewwww :p

ada yang cubit(able), cium(able) dan culik(able) di ruang tunggu :D


Antri untuk boarding, trus naek ke pesawat, nyari nomor seat, pasang seat belt, dan gw siap-siap merem.
Ampir 1/2 jam merem, dan sempet terlelap, tiba-tiba gw ngerasa koq ini ribut bener ya?
Pas buka mata, gw liat, koq masih di parkiran pesawatnya???
Gw liat di dalam kabin, penumpang yang lain pada ngobrol kenceng-kenceng banget, trus pada jalan-jalan di sepanjang koridor.

“Ada apa sih?” kenapa pesawatnya ga take off???
Tiba-tiba gw denger pengumuman bahwa pesawat di-delayed untuk waktu yang belum bisa ditentukan. Hahhhhhh??? Koq delay???
Pas ada pramugara yang lewat, gw tanya “What happened? How long it will takes?”
Pramugaranya hanya senyum sambil bilang “I don’t know miss. Control tower didn’t give us permission to take off”.

Waaaaaaahhhh… kenapa ga diijinin terbang???
Menunggu dan menunggu….. penumpang yang laen juga pada gelisah dan ribut!!!
Akhirnya, jam 23.45 ada pengumuman bahwa pesawat akan segera take off.
Setelah 3 jam terkatung-katung di parkiran bandara, akhirnya take off juga. Alhamdulillah.

karungin juga deh ni anak :D


Udah mastiin bahwa pesawat beneran take off, akhirnya gw milih melanjutkan tidur.
Daripada bosen, mati gaya selama 4 jam :D

Jam 04.00 flight AK 1089 mendarat dengan selamat di LCCT airport. Alhamdulillah….
Turun pesawat, kemudian jalan ke bagian baggage claim, ambil bagasi dan lapor imigrasi.
Gw dan teman-teman trus keliling di LCCT airport, nyari makan dulu + nyari colokan listrik.
Keliling-keliling….. sambil dorong-dorong troli, akhirnya gw dan teman-teman memutuskan untuk makan di Taste of Asia aja.
Ini pertama kalinya gw ngerasain Nasi Lemak. Enak juga :D
Nasi Lemak seharga 15 ringgit pun langsung lenyap masuk perut.
Kali ini nunggu di airport-nya ga terlalu lama, karena flight ke Jakarta itu jam 09.50.

Sekitar jam 7 pagi, gw bersih-bersih dulu di toilet.
Kemudian langsung check-in dan setor bagasi, lapor imigrasi, cap paspor dan masuk ke ruang tunggu.
Ga lama kemudian ada pemberitahuan bahwa penumpang flight QZ 8191 dipersilakan masuk ke dalam pesawat.

Naek ke pesawat, nyari seat, pasang seat belt, dan… Jakarta, I’m coming! ^.^
Jam 11.00 pesawat mendarat sempurna di bandara Soetta. Alhamdulillah.
Lapor imigrasi klo udah balik lagi ke Indonesia, cap paspor, ambil bagasi, dan akhirnya nyari taxi.
Finally, I’m home.

Selesai sudah cerita trip kali ini.
Sampe kost beres-beres, ngeluarin pakaian kotor, dan gw mo bobo siang dulu ya guys…
See u on my next trip, guys.

Eh iya, ini bocoran pengeluaran selama trip Shenzhen kemarin.
Yang mo nyontek silakan aja. Gratiiiiiiiiisssss….




Ini gw tambahin itinerary selama ngebolang ke Shenzhen-Guangzhou kemaren ya… sapa tau ada yang mo nyontek…. :D