Category Archives: Belitung Timur

Tour De Belitung Timur 2013 #18 – Berburu Sunset di Bendungan Pice




Setelah tadi bersantai ria di Pantai Punai, tujuan terakhir rombongan Tour De Belitung Timur 2013 ini adalah sebuah bendungan, yaitu Bendungan Pice. Sekalian liat sunset gitu deh…



Bendungan Pice berada di hulu Sungai Lenggang, Kecamatan Gantong, Belitung Timur. Bendungan ini dibangun sekitar tahun 1936 – 1939 dengan panjang 50 meter, dan memiliki 16 pintu air dengan masing-masing ukuran pintu air sebesar 2.5 meter. Bendungan ini dibangun di hulu Sungai Lenggang, karena sungai ini merupakan sungai besar dan panjang yang membelah Kota Gantong, Belitung Timur.


Kenapa bendungan ini disebut Bendungan Pice?
Bendungan ini didirikan oleh seorang insinyur Belanda yang bernama “Sir Vance”. Karena pelafalan lidah masyarakat yang susah untuk menyebut “Vance”, akhirnya bendungan ini dikenal dengan nama Bendungan Pice.
Bendungan ini dibangun oleh perusahaan timah Belanda yang ada di Belitung sebagai alat pengatur tinggi rendahnya permukaan air Sungai Lenggang untuk mempermudah sistem kerja kapal keruk dalam melakukan eksplorasi timah.



Bendungan Pice sore ini



Saat ini, sebagian pintu air di Bendungan Pice masih bisa difungsikan, namun fungsinya sudah tidak sama sebagaimana fungsi awalnya, karena sejak penambangan timah dikelola oleh PT. Timah, tbk, kapal keruk sudah tidak dipergunakan lagi.


Senja itu, saat saya dan teman-teman tiba di lokasi bendungan, langit di Barat sudah mulai merona merah kekuningan. Cahaya biru, putih, semburat orange, kuning, dan ungu menjadi satu.
Air di Sungai Lenggang pun sangat tenang, merefleksikan kokohnya bangunan bendungan yang berdiri di atasnya.
Tiang-tiang Bendungan Pice bercat warna biru terang, yang sangat kontras dengan kaki-kaii betonnya yang berwarna coklat kehitaman.


Dan senja itu, saya menikmati kemilau sunset di langit Barat dengan bersantai sejenak di tepian bendungan. Duduk menggelosor di pinggir bendungan yang berupa bidang miring sambil menyelonjorkan kaki. Melihat kaki langit yang meyemburat jingga, menikmati kilau permukaan air Sungai Lenggang yang tenang tak bergelombang. Dan diselingi semilir angin senja yang cukup sejuk.



suka banget liat refleksinya senja itu, cakep!!!



Perjalanan hari ini ditutup dengan sempurna.
Dan ketika langit di ujung Barat semakin redup cahaya jingganya, dan suasana semakin gelap, saya dan teman-teman bergegas kembali ke bus untuk pulang ke penginapan. Nanti malam kami ditunggu di acara penutupan malam kesenian rakyat Belitung Timur.
Sekarang harus segera balik ke penginapan, bersih-bersih, makan malam dan siap cuss ke lokasi malam kesenian rakyat Belitung Timur.
  






Tour De Belitung Timur 2013 #17 – Yuk, Ke Pantai Punai





Selesai melihat dan mendengarkan cerita tentang Batu Buyong a.k.a Batu Bujangan, saya dan rombongan Tour De Belitung Timur 2013 kemudian diajak ke pantai (beneran) hehehehe….. akhirnya……


Kali ini, tujuan kami adalah Pantai Punai. Pantai yang terletak di Desa Tanjung Kelumpang, Simpang Pesak, Kecamatan Dendang, sekitar +/- 93 km dari pusat kota Tanjung Pandan. Seperti pantai yang ada di Pulau Belitung pada umumnya, pantai ini pun terdiri dari pasir putih yang halus, batu-batu granit besar dan kecil yang menghiasi pinggir-pinggir pantai, pohon-pohon nyiur, dan tentu saja air laut yang jernih kebiruan.


perahu nelayan yang sedang istirahat

Hanya saja, karena saya tiba di pantai itu dalam kondisi tengah hari, di mana matahari juga lagi getol-getolnya ngasi diskon, walhasil saya hanya ngadem di bawah pohon, tanpa berani mencoba untuk berjalan di sepanjang pantai (eike takut gosong booo…. :D)


Di salah satu sisi pantai terlihat puluhan kapal-kapal tradisional nelayan, yang digunakan oleh masyarakat setempat untuk melaut (tentunya bagi mereka yang mata pencariannya nelayan ya…). Di pantai ini kita bisa melihat nelayan yang baru naik dari melaut dengan membawa hasil tangkapan mereka, dan itu bisa langsung kita beli lho…. Kebayang kan, gimana segarnya ikan-ikan yang baru ditangkap??? hmm…. yummy….


sambil ngadem di bawah pohon aja bisa dapat pemandangan bagus seperti ini

Di pantai ini juga menurut informasi yang saya dengar dari guide Disbudpar, sunset-nya ciamik. Saya berharap bisa mendapatkan sunset cantik di pantai ini.
Yang saya suka, pohon-pohon nyiur yang tumbuh di sana tinggi-tinggi dan rindang, dan tentu saja, dalam cuaca yang panas ini, yang terbayang di kepala saya adalah sebuah kelapa muda segar yang baru dipetik dari pohon, diminum dengan ditambah bongkahan batu es….. sluurrruuuuupppp…….. segaaaaarrrrr…..


perahu nelayan yang baru pulang melaut


Cuaca siang itu cerah banget (kalau ga mau dibilang panas :D), langit biru dihiasi beberapa gumpalan awan putih. Anginnya juga semilir, bikin mata saya mulai kriyep-kriyep :D


Menunggu sunset ternyata masih lama, dan akhirnya setelah berjumpa dengan semangkok indomie telor + es kelapa muda, saya dan rombongan harus meninggalkan Pantai Punai, menuju destinasi terakhir sore itu.
Ke mana???
Coba liat di sini. 

suka liat deretan pohon nyiur ini


Tour De Belitung Timur 2013 #13 – Menjenguk (Replika) SD Muhammadiyah Gantong yang Legendaris





Setelah ngubek-ngubek Museum Kata Andrea Hirata, dan ngobrol dengan bu Muslimah, perjalanan kali ini diteruskan dan masih akan melengkapi rentetan kisah Laskar Pelangi di bumi Belitung Timur ini. Yup! Saya dan teman-teman akan melihat-lihat bangunan replika SD Muhammadiyah Gantong atau yang dikenal sebagai SD Laskar Pelangi.

Dari Museum Kata di Jl. Raya Laskar Pelangi No. 7, Gantong, Belitung Timur, kami menuju ke lokasi replika SD Muhammadiyah Gantong yang legendaris itu. Bangunan kayu dengan atap seng yang sudah berkarat itu merupakan replika dari bangunan SD Muhammadiyah yang digunakan untuk syuting film Laskar Pelangi. Dan ini merupakan lokasi yang baru. Pada saat dilakukannya syuting film Laskar Pelangi, bangunan SD Muhammadiyah ini dibangun di halaman SD Negeri 9 Selingsing. Seiring berakhirnya syuting film Laskar Pelangi, bangunan SD Muhammadiyah itu kemudian dirobohkan dan dipindahkan ke lokasi baru ini untuk mengingat bahwa di SD ini lah dulu ada 10 orang anak yang belajar giat demi mimpi-mimpi mereka.


kondisi ruangan kelas

Bangunan replika SD Muhammadiyah ini berdiri di atas bukit berpasir putih. Dan sore menjelang petang itu saya tiba di sana di saat langit di ujung barat mulai berwarna kuning kemerahan.
Mendekati bangunan yang terbuat dari kayu, dengan dinding yang penuh lobang sehingga saya dapat mengintip isi dari ruangan kelas yang hanya 2 itu.
Bangunan replika SD Muhammadiyah ini terdiri dari 3 ruangan, yaitu 2 ruangan kelas dan 1 ruang guru. Di ruang guru itulah dulu, bu Muslimah dan pak Harfan dengan setia mengajar ke-10 muridnya dengan penuh tanggung jawab.
Untuk yang udah baca dan nonton film Laskar Pelangi, pasti hapal deh dengan nama ke-10 anak tersebut. Ada Ikal, Lintang, Sahara, Mahar, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek alias Samson, Trapani dan Harun. Oh iya, nanti ada tambahan 1 orang murid baru yang namanya Flo.


tiang-tiang penyangga itu menjaga bangunan SD ini tetap berdiri

Saya mencoba melihat isi dari ruangan kelas yang ada.
Dinding bangunan yang terbuat dari kayu sudah banyak lubangnya, sehingga sebenarnya tanpa mengintip pun kita sudah bisa melihat isi dari ruangan itu. Saya mencoba melihat keseluruhan ruangan dari pintu kayu yang terbuka. Terlihat ruangan kelas yang kosong, dengan atap seng yang banyak bolongnya (jadi inget film Laskar Pelangi, kalau hujan, kelas ini akan bocor saking banyaknya lubang di atap seng kelas itu). Ruangan kelas ini berlantaikan tanah berpasir. Sebuah meja kayu reyot terlihat masih berdiri di bagian depan ruangan kelas, mungkin itu meja guru ya?
Beberapa potongan kayu berukuran kecil terlihat berserakan di lantai kelas. Sebuah bekas pintu, entah lah itu pintu kelas atau pintu lemari yang mungkin dulunya ada di dalam kelas ini, terlihat tersandar di dinding kelas yang usang dan berlubang-lubang. Kondisi 2 ruangan kelas yang ada di situ persis serupa. Di bangian luar bangunan SD Muhammadiyah ini terlihat 2 buah tiang besar yang menopang dinding kelas bagian luar.
Bangunan replika SD Muhammadiyah ini terlihat benar-benar reyot dan siap ambruk.
Walau cuma replika, tapi aura semangat yang keluar dari bangunan reyot ini sangat kental. Masih terbayang bagaimana tekad para bocah di Laskar Pelangi itu untuk berubah dan menjadi orang hebat.


dengan kondisinya yang seperti itu, SD ini memberikan semangat ke banyak orang

Langit semakin merah waktu saya dan teman-teman peserta Tour De Belitung Timur 2013 meninggalkan halaman SD Muhammadiyah Gantong itu. Semoga semangat Laskar Pelangi tetap menyala, menjadi manusia hebat!


Perjalanan sore itu akan ditutup dengan mengunjungi suatu tempat yang istimewa. Ke mana kah itu??? Yuk ikuti saya….

langit sore itu di atas SD Muhammadiyah Gantong

Tour De Belitung Timur 2013 #12 – Museum Kata Andrea Hirata





Setelah bermain-main di pantai, kali ini destinasinya akan membuat mata dan otak harus bekerjasama. Iya, saya dan teman-teman kali ini diajak ke Museum Kata Andrea Hirata. Tau dong siapa itu Andrea Hirata? Pasti tau kan? Kalau sudah mendengar kata Belitung – Laskar Pelangi – Andrea Hirata, apa sih yang kebayang di kepala???


gerbang masuknya unik ya…

Honestly, saya memang sangat penasaran dengan museum ini. Waktu kunjungan saya yang pertama ke Belitung, saya ga sempat untuk mengunjungi museum ini. Jadi, begitu tau bahwa di Tour De Belitung Timur 2013 ini ada kunjungan ke Museum Kata, saya sangat excited. Ada sedikit harap, semoga bisa bertemu dengan ibu Muslimah, sosok ibu guru yang sangat berdedikasi di film Laskar Pelangi itu.


read, listen and be inspired


Waktu tiba di depan Museum Kata, saya sangat tertarik dengan model gerbangnya yang tidak biasa. 4 buah tiang dari bata dan semen yang menyerupai bagian depan dari sebuah rumah, lengkap dengan sebentuk segitiga menyerupai bumbungan atap di bagian atasnya. Dari 4 tiang tersebut, membentuk 3 buah gerbang yang menjadi pintu masuk ke halaman Museum Kata.


Bangunan utama dari komplek Museum Kata berupa sebuah bangunan kayu sederhana berwarna putih dengan atap yang terbuat dari seng yang dicat biru. Lantai bangunan pun terbuat dari kayu, sehingga suasana di dalam museum cukup sejuk di tengah panasnya siang hari itu. Bagian dalam museum juga didominasi dengan warna putih.


Untuk memasuki bangunan museum, kami harus membuka alas kaki.
Begitu memasuki bagian pertama dari museum, terlihat beberapa poster mengenai Andrea Hirata dan Laskar Pelangi, di pojok kanan terlihat deretan t-shirt yang bisa dijadikan suvenir.
Di bagian kiri pintu terdapat sebuah lemari kaca yang berisikan beberapa barang mengenai Laskar Pelangi dan Andrea Hirata.


mesin jahit kuno di salah satu sudut Museum Kata
lukisan, foto, quotes bijak, kliping, cover novel,
menghiasi sebagian besar dinding Museum Kata























Saya melangkahkan kaki menuju ruangan utama.
Di ruangan yang masih didominasi dengan warna putih itu, di pojok kanan dari pintu masuk terlihat sebuah mesin jahit kuno yang terpasang di sebuah meja kayu yang dilengkapi dengan kursi yang juga kuno. Di dekat meja dengan mesin jahit itu terdapat jendela kayu besar. Di dinding ruangan, terpasang dengan rapi berbagai figura kaca yang berisikan foto, kliping berita, kata-kata bijak, testimoni dari tokoh sastra nasional dan internasional, lukisan dan beberapa peralatan tradisional khas Belitung.
Di atas pintu masuk ke ruangan utama terdapat gambar Bodenga, yaitu buaya besar yang menjadi mitos di Belitung.


Bodenga

Beranjak ke sudut lain ruangan, terdapat sebuah meja kayu bulat dengan lampu sudut di atasnya, dan sebuah kursi kayu berwarna coklat. Sementara di sudut yang berlawanan, terdapat sebuah lemari kayu dengan rak-rak yang menggunakan kaca. Sebuah biola lawas tampak tergantung di dinding di atas lemari tersebut.


lemari kayu tua, biola dan lukisan
kliping tentang kegiatan Andrea Hirata dan novelnya




Ruangan-ruangan yang ada di Museum Kata Andrea Hirata ini dinamai sesuai dengan karakter di film Laskar Pelangi. Di sisi kiri kita akan meliaht ruangan “ARAI” dan ruangan “LINTANG“. Tau dong ya, Arai dan Lintang adalah 2 tokoh sentral di film yang fenomenal itu. Udah pada nonton kan???
Oh iya, di bagian tenga ruangan terdapat 1 set meja tamu yang terbuat dari kayu, terdiri dari 1 buah meja kayu bulat dan 3 kursi kayu.


kursi tamu yang terdapat di ruangan utama Museum Kata


ruang “LINTANG”


Hmm…. tadi saya sempat mendengar info dari pihak Disbudpar, bahwa kalau tidak ada halangan, kami bisa ketemu dengan ibu Muslimah, sosok guru yang sangat berdedikasi di film Laskar Pelangi. Jujur, saya ga nyangka banget ternyata sosok ibu guru Muslimah di film itu adalah sosok yang nyata. Awalnya saya berpikir, itu hanya tokoh imajinasi dari penulisnya. Perasaan ga sabar menunggu kehadiran ibu Muslimah terpaksa saya tahan sambil terus menelusuri seluruh sudut dari Museum Kata ini.


aneka berita tentang Andrea Hirata,
Museum Kata dan Laskar Pelangi
beritanya sampai ke manca negara


Dari ruangan utama, asya memasuki ruangan selanjutnya. Masih sama dengan ruangan utama tadi, di sini pun dindingnya penuh dengan quote-quote bijak, foto tokoh-tokoh sastra dalam dan luar negeri, testimoni mereka dan berbagai kliping berita tentang Andrea Hirata dan tulisannya.


salah satu sudut museum kata yang sangat bikin betah


Saya terus melangkah menuju bagian belakang dari bangunan ini. Di salah satu sisinya terdapat ruang santai dengan sepasang kursi kayu antik dan meja bulatnya yang diletakkan di dekat sebuah jendela lebar. Suasana di ruangan ini sangat jadul, tapi terasa hangat dan menyenangkan.
Terus ke belakang, saya menemukan sebuah ruangan dapur yang menurut informasi adalah dapur dengan gaya trasidional Malaysia. Di dindingnya tertulis “KUPI KULI”. Dan seorang mbak yang dengan cekatan membuat kopi secara tradisional dengan memasak air di dalam ceret yang diletakkan di atas tungku kayu. Cara memasak yang masih sangat sederhana, dengan menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakarnya.
Teman-teman segera antri manis untuk mencicipi segelas “kupi kuli”, dan saya, lagi-lagi harus cukup puas dengan menghirup wangi aroma kopi yang menyebar di seluruh ruangan.


suasana ruangan ini mengingatkan
saya akan rumah tempo dulu di kampung
suasananya ngangenin



“Kupi Kuli” membuat kopi dengan cara tradisional

di pojok dapur yang lain


Setelah puas menghirup aroma kopi di dapur, saya melangkah keluar dari bangunan museum, menyeberang ke bangunan di sebelahnya. Sebuah bangunan setengah jadi dengan dinding bata merah yang tersusun rapi. Menurut hasil tanya-tanya dengan guide dari Disbudpar, bangunan ini merupakan perluasan dari bangunan utama museum yang sudah tidak bisa memadai. Saya mencoba melongok ke dalam ruangan-ruangan terbuka yang ada di bangunan itu. Dan lagi-lagi saya melihat dinding ruangan yang penuh dengan foto-foto para tokoh sastra dari seluruh dunia, kliping tentang mereka, testimoni dan foto-foto yang pernah diadakan di Museum Kata ini dan foto-foto event yang pernah diadakan di Belitung Timur.



sebagian isi dinding di bangunan baru di komplek Museum Kata




sebagian isi dinding di bangunan baru di komplek Museum Kata


sebagian isi dinding di (masih) bangunan baru di komplek Museum Kata


Oh iya, ada yang unik di bangunan baru ini. Di bagian luar saya menemukan sebuah sepeda onthel yang dicat biru. Disandarkan ke sebuah kursi besi yang juga berwarna biru. Dengan latar belakang sebuah poster bergambar anak-anak yang sekujur tubuhnya dibalur cat putih dengan tangan menunjuk lurus ke atas. Saya suka banget dengan poster itu (sssttt…tadinya pengen nyopot dan menggulung posternya, kemudian dibawa balik ke Jakarta :D).
“Literary Earth” The Story of My Project

saya lebih fokus pada foto anak-anak itu


bu Muslimah, akhirnya saya bertemu
dengan beliau ^.^


Dan akhirnya, penantian saya hari itu terkabul.
Guide dari Disbudpar mengabarkan bahwa bu Muslimah on the way ke museum. Asyik…..


Saya bergegas menuju ruangan depan di bangunan utama museum.

Ga seberapa lama, sebuah motor bebek berhenti di halaman museum, dan sesosok ibu (mungkin seumur dengan ibu di rumah, ah… jadi kangen beliau) turun dan boncengan motor. Menggunakan gamis berwarna krem muda dengan jilbab coklatnya, beliau melangkah menuju teras museum.


Saya mendekat, dan mengulurkan tangan, menyentuh tangan beliau dan spontan mencium tangan wanita hebat itu. Waktu itu, spontan rasanya mau mewek lho…. ga tau kenapa?
Dan saya lebih terkejut lagi karena tiba-tiba beliau menarik dan memeluk saya.
Whuaaaaaa….. ga bisa ditahan, mata saya langsung berkaca-kaca.
Apalagi beliau langsung bertanya “Gimana kabarnya, gimana jalan-jalan di Belitung Timur?”
Saya sempat terkesima, bagaimana bisa seorang ibu yang saya belum pernah mengenalnya, bisa dengan hangat menyambut, memeluk dan bertanya dengan akrabnya seperti itu.


ini sosok yang membuat saya terkesima dan berkaca-kaca sore itu


Saya mengikuti beliau masuk ke bagian dalam museum, dan teman-teman pun langsung heboh untuk foto-foto dengan beliau.
Mendengarkan cerita beliau tentang bagaimana asal-usulnya beliau bisa menjadi seorang guru di Desa Manggar ini. Mau tau ga? Bu Muslimah sudah menjadi guru sejak umur 16 tahun!
Beliau bercerita tentang sosok Andrea Hirata yang ternyata adalah anak muridnya.
Katanya sih, Andrea Hirata itu dulu terkenal usil waktu jadi muridnya :D
Dan yang lebih surprise lagi, ternyata di rombongan guide dari Disbudpar, ada seorang anak kandung dari bu Muslimah, yaitu mas Uut!
Dan saya berhasil memaksa mas Uut untuk foto bareng ibunya, hehehehehe….


bu Muslimah dan mas Uut

Waktu terasa berjalan cepat saat bu Muslimah bercerita tentang kegiatannya mengajar dulu. Tentang Manggar dan kegiatan penambangan timah, tentang suasana Belitung Timur tempo dulu.
Dan lagi-lagi saya tersentil waktu bu Muslimah berpesan “Kejar mimpi kamu sampai ke ujung dunia. Tidak ada yang tidak mungkin, kalau kita mau selalu berusaha dan berdoa”.
Berasa banget semangat beliau waktu mengatakan kalimat itu.
Dan saya langsung setuju dengan pesan beliau itu.
Dulu saya ga pernah berpikir bisa keliling-keliling di Indonesia yang indah ini. Tapi ternyata, dari impian kecil, angan-angan ingin liat Indonesia, akhirnya sedikit-sedikit kaki ini mulai menapaki beberapa bagian dari negeri yang katanya surga ini.
Dan saya mulai memupuk mimpi yang lebih besar, someday saya pasti bisa keliling dunia!!!


semangat ya dek sekolahnya
tetaplah bermimpi dan berdoa

Karena hari semakin sore, dan masih ada 2 destinasi lagi yang harus saya dan teman-teman datangi hari itu, akhirnya pertemuan dengan bu Muslimah pun harus diakhiri.
Kami berpamitan. Dan saat saya pamit dan mencium tangan beliau, lagi-lagi bu Muslimah memeluk saya dan berpesan “Tetap semangat ya… Kejar terus cita-citanya”.
Whuuuuaaaa…. kembali mata saya berkaca-kaca….
Kalau aja ga malu dengan tatapan teman-teman yang heran melihat saya dipeluk bu Muslimah, mungkin saya bisa mewek terisak-isak sambil memeluk beliau :D


Ah, rasanya belum puas mendengarkan cerita seru bu Muslimah.
Tapi, saya dan teman-teman harus segera menuju destinasi selanjutnya.
“Bu Muslimah, pesan ibu pasti saya ingat. Doakan agar suatu saat saya bisa keliling dunia untuk mengejar mimpi itu”.


Saya dan teman-teman peserta Tour De Belitung Timur 2013 meninggalkan Museum Kata Andrea Hirata diiringi dengan lambaian tangan bu Muslimah yang mengantarkan kami sampai di teras museum.
Saya bertekad, someday semoga masih ada kesempatan untuk balik lagi ke Belitung Timur, dan bisa bertemu lagi dengan sosok seorang ibu dan seorang guru yang penuh semangat ini.


Eits, perjalanan hari ini belum selesai. Setelah ini saya dan teman-teman akan diajak melihat replika SD Muhammadiyah Gantong yang ngetop karena (lagi-lagi) film Laskar Pelangi itu.


bu Muslimah mengantarkan kami sampai ke teras Museum Kata sore itu