Category Archives: backpacker

Sempu, Surga yang Tersembunyi

396861_4332885725403_470012920_a

 

Menyambung cerita keliling Gunung Kelud beberapa waktu yang lalu, dan tengah malam ini pun kami tiba di Pantai Sendang Biru. Badan yang sudah terasa sangat penat bergoyang-goyang di dalam kendaraan sepanjang perjalanan Gunung Kelud – Sempu, membuat saya ingin segera meluruskan punggung.

Kami tiba di Pantai Sendang Biru yang berhadapan dengan Pulau Sempu di tengah malam menjelang subuh. Dan kami telah dinanti oleh 3 buah tenda yang terlihat sangat nyaman (yah, karena hari ini full keliling di dalam kendaraan, dari Stasiun Pasar Turi – Trowulan – Mojokerto – Gunung Kelud, dan sekarang Pantai Sendang Biru). Bersih-bersih dulu ah, abis itu langsung bobok :D

Ambil sleeping bag, terus pasang badan di pojokan tenda, dan saya pun segera terlelap.

 

ini tempat menginap kami semalam
ini tempat menginap kami semalam

 

dan ini, sodara ketenda saya semalam :)
dan ini, sodara satu tenda saya semalam :)

 

Hooooaaaaaaeeemmmmm…. Selamat pagi…… #nguletngulet

Segarnya badan setelah berhasil terlelap sekitar 4 jam. Dan aktivitas pagi ini diawali dengan antri di kamar mandi umum yang ada tidak jauh dari lokasi tenda kami. 1, 2, 3, 4, oke, saya antrian ke-5 di kamar mandi ke-2 dari pojok. Jebar…jebur….. 10 menit beres, terus beres-beres dikit di dalam mobil :D

 

suasana sarapan pagi yang hangat
suasana sarapan pagi yang hangat

 

gimana sarapannya? ikannya sedap yaaaa.....
gimana sarapannya? ikannya sedap yaaaa…..

 

Hari ini siap-siap trekking lagi ke Pulau Sempu.

Sedikit informasi, sebenarnya Pulau Sempu bukanlah sebuah lokasi wisata (ups). Sempu merupakan sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah Selatan Pulau Jawa, secara administratif berada di wilayah Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Pulau Sempu hanya memiliki luas 877 hektar yang ditumbuhi dengan pohon-pohon tropis. Pulau ini merupakan cagar alam yang dikelola oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur dan Departemen Kehutanan Indonesia. Pulau ini diakui sebagai sebuah cagar alam sejak tahun 1928 pada masa pemerintahan Hindia Belanda berdasarkan Besluit van den Gouverneur Generaal van Nederlandsch Indie No : 69 dan No.46 tanggal 15 Maret 1928 tentang Aanwijzing van het natourmonument Poelau Sempoe dengan luas 877 ha.

Selain keputusan pemerintahan pada zaman kolonial, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 417/Kpts-II/1999 tertanggal 15 Juni 1999 juga menegaskan Pulau Sempu sebagai Cagar Alam.

“Cagar Alam adalah suatu kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Sebagai bagian dari kawasan konservasi (Kawasan Suaka Alam), maka kegiatan wisata atau kegiatan lain yang bersifat komersial, tidak boleh dilakukan di dalam area cagar alam. Untuk memasuki cagar alam diperlukan SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi).” — Wikipedia Indonesia tentang Cagar Alam. Jadi, untuk memasuki Pulau Sempu, dibutuhkan Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) yang harus diurus lewat Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Jawa Timur di Surabaya. #semogawaktusayakeSempumemangadaSIMAKSInya

 

Segara Anakan di Pulau Sempu, telaga yang airnya asin karena mendapat limpahan air Samudera Hindia
Segara Anakan di Pulau Sempu, telaga yang airnya asin karena mendapat limpahan air dari Samudera Hindia

 

Pulau ini berbatasan dengan Selat Sempu (Sendang Biru) dan dikelilingi oleh Samudera HIndia di sisi Timur, Barat dan Selatan. Sebagai sebuah cagar alam, sebenarnya Pulau Sempu tertutup untuk umum. Wisatawan dilarang untuk datang dan berkunjung ke Pulau Sempu. Dan saat saya ke sana, saya terus terang tidak mengetahui status Pulau Sempu yang merupakan sebuah cagar alam #toyormyself

Karena kami diinfokan bahwa medan menuju Segara Anakan cukup licin dan basah, kami disarankan untuk menggunakan sandal trekking ataupun sepatu karet yang solnya seperti sepatu bola. Di sekitar Sendang Biru banyak warung-warung yang menyediakan sepatu karet tersebut, dan bisa disewa. Beberapa orang teman yang kebetulan tidak membawa sandal trekking akhirnya memutuskan untuk menyewa sepatu karet supaya nyaman selama perjalanan menuju Segara Anakan.

 

ini sepatuku, mana sepatumu?
ini sepatuku, mana sepatumu? Uwek, Afong, budhe Theresia, dan Sheril saling pamer sepatu

 

Dari Pantai Sendang Biru, saya dan teman-teman menaiki 2 buah perahu kayu untuk bisa mencapai Pulau Sempu. Beruntung Selat Sempu pagi itu sangat bersahabat, nyaris tidak ada gelombang. Dan tanpa berlama-lama, saya dan teman-teman pun tiba di Pulau Sempu.

 

ayo, buruan naik ke perahu
ayo, buruan naik ke perahu

 

perjalan ke Sempu yang penuh ketawa-ketawa
perjalan ke Sempu yang penuh ketawa-ketawa

 

Turun dari perahu kayu, kaki saya langsung menyentuh pasir bercampur lumpur di salah 1 sudut Pulau Sempu. Di depan saya terlihat berbagai jenis pepohonan tropis yang tidak terlalu rapat, sehingga kami masih bisa melihat sebuah jalan setapak kecil mengarah ke tengah pulau.

 

ini nih "dermaga" sebelum memasuki "hutan" Sempu tapi ini foto kami setelah menjelajahi Sempu, narsis sembari menunggu perahu menjemput
ini nih “dermaga” sebelum memasuki “hutan” Sempu
tapi ini foto kami setelah menjelajahi Sempu, narsis sembari menunggu perahu menjemput

 

Dipandu mas Dani, yang merupakan seorang trip organizer dari Kota Malang, perlahan kami pun memasuki Pulau Sempu. Memasuki hutan (yah, saya lebih suka menyebutnya hutan karena pepohonan yang ada di sana sangat banyak dan beraneka macam + ukuran), kami disuguhi tanah becek yang licin karena sedikit gerimis. Saya berjalan mengikuti rombongan dengan sangat hati-hati kalau tidak ingin jatuh terjerembab di tanah licin yang kadang memberikan bonus sebuah kubangan kecil.

 

biarpun harus gedebag gedebug jatuh bangun, eksis tetep harus dong yaaa....
biarpun harus gedebag gedebug jatuh bangun, eksis tetep harus dong yaaa….

 

medannya ajip yaaaa....... semangat!!!
medannya ajip yaaaa……. semangat!!!

 

hihihihi.... pegangan biar ga ngglinding :p
hihihihi…. pegangan biar ga ngglinding :p

 

Selama perjalanan, hidung saya disuguhi wangi tanah basah lengkap dengan harum dedaunan. Membuat saya dengan rakus berusaha memenuhi paru-paru ini dengan kesegarannya. Kaki melangkah perlahan menyesuaikan dengan medan yang terpampang luas di depan mata. Ups, badan saya sedikit berayun ketika tiba-tiba kaki saya terpeleset dan berakhir dengan kaki kanan yang mendarat manis pada sebuah kubangan kecil, yang untungnya (masih untung) hanya berair sedikit. Tangan pun harus sigap mencari sesuatu yang bisa dipegang/digayuti sepanjang jalan agar tidak gedebug jatuh :D

 

mau ada pohon besar melintang di depan, hajaaaarrrrr....
mau ada pohon besar melintang di depan, hajaaaarrrrr….

 

Perjalanan menuju Segara Anakan yang ada di Pulau Sempu ini membutuhkan waktu sekitar 1.5 hingga 2 jam, tergantung kecepatan jalan masing-masing. Dan sepertinya kami membutuhkan waktu yang lebih panjang karena terlalu sering berhenti…….. Kecapekan? Oh NO!!! Kami berhenti untuk…….. foto-foto :D

 

yeeeaaaahhhhhh..... we are here!!!
yeeeaaaahhhhhh….. we are here!!!

 

Dan finally, di depan saya melihat sebuah telaga bening yang dikelilingi tebing batu, yang berbatasan dengan samudera luas. Yah, Segara Anakan!

Kalau saja ga ingat dengan posisi kami yang masih di atas tebing, dan perlu beberapa langkah lagi untuk turun menuju hamparan pasir putih dan telaga itu, ingin rasanya saya lari dan segera menceburkan diri ke dalam telaga. Setelah sedikit bersusah-susah menuruni tebing, dibonusin kepeleset dan sedikit baret-baret di ke-2 tangan, akhirnya saya tiba di hamparan pasir putih itu. Pasirnya haluuuuuuuuusssssssss……. Dan yang bikin ga bisa menahan diri itu adalah godaan air jernih di Segara Anakan. Tanpa berpikir lama, saya segera meletakkan tas, kamera dan seluruh barang bawaan di pasir dan kemudian menghambur nyebur ke telaga, segeeeeeeeeeeeeeeeeeeerrrrrrrr…………

 

copot sandal, teruuuuuusssss..... nyebuuuuurrr.....
copot sandal, teruuuuuusssss….. nyebuuuuurrr…..

 

baru di pinggir segaranya aja udah kayak gini ekspresi kita ya mbak Kim....
baru di pinggir segaranya aja udah kayak gini ekspresi kita ya mbak Kim….

 

wkwkwkwkwkwkwk....... lupa umur kalo udah main air :D
wkwkwkwkwkwkwk……. lupa umur kalo udah main air :D

 

Tanpa perlu dikomando, teman-teman yang lain pun langsung berebutan terjun ke dalam telaga. Air di Segara Anakan jernih, sehingga saya bisa melihat dasar berpasirnya. Melupakan umur, kami pun bermain bagaikan anak kecil yang dilepas bermain di tengah hujan. Seruuuuuuu…..

 

lupa umur :D
lupa umur :D

 

liat deh kelakuannya :D
liat deh kelakuannya :D

 

Main air rame-rame, saling siram dan simbur, walhasil basah kuyup dan akhirnya berendam lah kami sebatas leher di Segara Anakan.

 

horeeeeee.......
horeeeeee…….

 

Saya sangat menyukai suasana di sekitar Segara Anakan. Pasir putih yang halus, kecipak air di dalam telaga dan suara hempasan ombak di tebing batu yang memisahkan Segara Anakan dengan Samudera Hindia. Sesekali air laut masuk ke dalam segara melalui sebuah celah di tebing batu karang yang menghadap ke samudera.

 

kelakuan :p :p
kelakuan :p :p

 

yeeeeaaaahhhhh!!!
yeeeeaaaahhhhh!!!

 

yang ga mau ikut basah-basahan, duduk anteng di pasir
yang ga mau ikut basah-basahan, duduk anteng di pasir

 

Beberapa teman memutuskan untuk menaiki tebing batu karang untuk melihat Segara Anakan dari atas. Saya? Ga mau kalah, saya ikutan juga walau ga sampai di puncak karena males, soalnya tangan dan kaki sudah lumayan penuh baret-baret akibat tergores karang.

 

naik ke tebing hanya untuk foto-foto :p
naik ke tebing hanya untuk foto-foto :p

 

Yeeeeaaaayyyy.... I'm here!!!
Yeeeeaaaayyyy…. I’m here!!!

 

Dilihat dari atas tebing batu, Segara Anakan bagaikan kolam yang luas di tengah-tengah hutan yang hijau (semoga Sempu selalu terjaga).

 

Segara Anakan di Pulau Sempu, telaga yang airnya asin karena mendapat limpahan air Samudera Hindia
Segara Anakan di Pulau Sempu, telaga yang airnya asin karena mendapat limpahan air Samudera Hindia

 

Yes, saya ada di Sempu
Yes, saya ada di Sempu

 

Puas foto-foto di atas tebing, kami pun turun dan bersiap-siap untuk kembali ke Sendang Biru. Belum apa-apa sudah terbayang medan yang pastinya tambah licin karena selama perjalanan kami menuju Segara Anakan, gerimis turun dengan setianya.

Mari kita semangat, menjelajah hutan lagi menuju perahu…. Tapi, sebelum pulang kami masing-masing mengeluarkan kantong plastik untuk memunguti sampah yang ada. Ini bukan pencitraan, tapi emang beneran, saya dan teman-teman agak miris dengan kondisi di sekitar Segara Anakan yang mulai dipenuhi dengan sampah. Dan tanpa janjian, ternyata kami masing-masing sudah menyiapkan plastik sebagai wadah sampah.

Jadilah di siang menjelang sore itu kami menutup acara senang-senang kami di Sempu dan Segara Anakan dengan memunguti sampah yang kami temui. Lumayan banyak sampah yang berhasil kami kumpulkan, adalah sekitar 5 kantong plastik besar. Sedih liatnya :(

 

lututnya lemes... pp Sendang Biru - Segara Anakan :D
lututnya lemes… pp Sendang Biru – Segara Anakan :D

 

Sepanjang perjalanan pulang pun, kami masih memunguti sampah yang kami temui. Yah, mungkin ini tidak seberapa dengan banyaknya sampah yang ada, tapi kami hanya ingin sedikit berbuat yang lebih baik. Dan perjalanan pulang menjadi semakin panjang waktunya, karena selain memungut sampah, kami juga tetap eksis, narsis, foto-foto :D

 

hai Pantai Sendang Biru.... kami kembali....
hai Pantai Sendang Biru…. kami kembali….

 

Tiba di Pantai Sendang Biru, kami disambut pemandangan bocah-bocah kecil yang sedang bermain bola, ah…… menyenangkan…..

 

begitu sampai di Sendang Biru, liatnya ini...... ikutaaaaaannnnn.... #laringejarbola
begitu sampai di Sendang Biru, liatnya ini…… ikutaaaaaannnnn…. #laringejarbola

 

 

Note: makasih untuk Rika, mas Sigit, budhe Kim, plus teman-teman yang udah share foto selama di sana. Fotonya pinjem yaaaaa…..

Proses Pengurusan Visa ke China

 
Ini sebenarnya proses awal sebelum gw ngebolang ke China.
Berhubung China blom membebaskan visa untuk wisatawan/backpacker/traveler/triper/jalan-jalaner dari Indonesia, jadi lah sebelum gw terbang ke negeri paman Bao itu, gw kudu ngurus visa dulu sebagai surat ijin masuk ke sana.
 
Ngurus visa China ternyata ga serumit yang gw bayangkan.
Persyaratannya juga ga ribet.
  1. Isi form visa yang ada di web Chinese Visa Application Service Center (CVASC);
  2. Passport asli (bawa copy-nya juga);
  3. Foto 4×6 (formal, background putih) sebanyak 1 lbr, yang nantinya akan ditempel di bagian kanan atas Form Visa;
  4. Copy KTP.

 

Untuk jadual pelayanan dari CVASC juga lengkap di web-nya.
  • Hari kerja layanan: Senin – Jumat
  • Jam penyerahan permohonan: 09:00-15:00
  • Jam pembayaran dan pengambilan: 09:00 – 16:00
Karena visa yang mo gw apply ini visa single entry, jadi gw harus menyediakan uang sebesar Rp 540.000 untuk regular service 4 hari kerja.
Biaya pengurusan visanya sendiri sih cuma Rp 300.000, yang Rp 240.000 itu adalah application service fee untuk regular service.
 
Gw ngurus visa itu hari Jumat, 26 April 2013, bareng teman-teman yang juga mo pada ke Shenzhen.
Janjian ketemu pagi-pagi di Ambas, biar ga terlalu ngantri di CVASC-nya.
Jam 8 pagi dong, gw dan teman-teman udah ngeritingin betis nyusurin jalanan seputar Mega Kuningan menuju The East, tempatnya CVASC.
Sampe di sana… jreng.. jreng…. pintu CVASC masih tutup, bukanya jam 9 :D
Akhirnya kita turun lagi ke lobi, oh iya… CVASC ini adanya di lantai 1 The East, jadi klo udah masuk lobi cukup naik tangga aja, nyampe deh.
Di lobi, gw dan teman-teman meriksa lagi kelengkapan berkas aplikasi visanya. Nyamain lagi isian booking-an hotel plus alamatnya.
 
Nunggu-nunggu…. akhirnya jam 9 kurang 15 menit kami naik lagi ke lt. 1.
Ternyata yang ngantri lumayan juga lho…
Pagi itu ada sekitar 10 orang deh yang juga ngantri bareng gw dan teman-teman,
 
Jam 9 teng, pintu CVASC dibuka.
Yang jagain bapak satpam without smile, serem.
Sebelum masuk, kita semua disuruh matiin semua HP, trus baris 1-1 di depan pintu masuk.
Trus masuknya juga ga bisa yang langsung gitu.
1 orang masuk, trus ada jeda 2-3 menit, baru yang selanjutnya bisa masuk juga.
Sampe di dalam dikasi nomor antrian.
Gw dan teman-teman dapet nomor 3, nomor antriannya barengan karena kita dianggap 1 kelompok.
 
Sampe di depan loket, trus mas-mas yang jaga di dalam loket meriksain kelengkapan aplikasi visanya.
Dicek lagi, sama ga datanya dengan passport dan KTP yang dilampirkan?
Trus gw dan teman-teman disuruh nunggu sebentar.
Kira-kira 15 menit kemudian, dipanggil lagi sama si mas-mas itu dan dikasi bukti aplikasi visa sebagai bukti untuk ngambil visanya.
 
Karena gw apply-nya barengan ber-4, untuk konfirmasi klo visanya udah selesai, nanti CVASC akan telepon ke salah 1 dari kami. Akhirnya Hesti deh yang kita kasi mandat untuk ngambil visa.
 
Udah, gitu aja.
Beres ngurus visanya.
Bayar visanya juga ntar pas udah ada konfirmasi klo visanya udah jadi.
Asli, ga ribet bet bet……
 
Hari Rabu, tu visa udah sampe dong di tangan gw ^.^
Visa China single entry, berlaku untuk 3 bulan, dengan masa tinggal paling lama 30 hari di China! Yeaaaaayyyy!!!
 

 

Dieng Culture Festival 2012 – Diengers, Cerita Kita Berawal di Sana



Semua Berawal dari Sini……
Dari sebuah trip ke salah satu sudut Propinsi Jawa Tengah,
di sebuah kawasan dataran tinggi bernama Dieng.
Di ketinggian 2093 mdpl, menemukan kehangatan keluarga, jabat erat sodara,
dan perasaan seperti menemukan sebuah “rumah” untuk pulang.


Setaun yang lalu, di penghujung minggu yang lumayan gerah, cerita itu berawal di sebuah gerai donat terkenal di sudut Plaza Semanggi.


Jumat, 29 Juni 2012
18.30 wib

Dengan tergesa-gesa gw menaiki tangga pelataran Plaza Semanggi.
Huft… blom telat ya…
Gw mulai scanning, di mana rombongan yang akan ke Dieng? Hmm… itu dia!
Sesuai tek-tok-tek-tok di message, leader trip kali ini adalah seorang cewe berambut panjang diikat ekor kuda dengan topi baseball menutupi sebagian wajahnya, bercelana pendek dan kaos tanpa lengan, Zee!
Say hello, dan registrasi ulang, sambil nunggu rombongan yang lain, gw ikut ngejogrok di salah satu sudut gerai donat itu.
Seperti biasa, kali ini pun gw ngikut trip tanpa seorang teman pun yang gw kenal. Semoga bisa dapat teman baru yang asyik dan bisa saling meracuni untuk trip-trip selanjutnya :D

Satu persatu peserta trip mulai berdatangan, trus registrasi ulang. Dan ga ada satu pung yang gw kenal :D
Gw sempet nanya Zee, bisnya di mana?
“Di samping tangga mbak, ada bis ¾ warna abu-abu, ada tulisan bus 1 dan bus 2 di kaca depannya”, jawab Zee.
Ok, mari kita liat… sekalian nyimpen carrier dan nge-take seat di bus.

Di samping tangga turun dari pelataran, gw liat ada 2 bus ¾ warna abu-abu standby.

Masih dalam rangka meyakinkan diri, gw cek lagi kaca depannya, bener ga ada tulisan bus 1 dan bus 2?
Trus, gw nanya deh sama bapak-bapak yang ada di situ. “Pak, ini bus rombongan yang akan ke Dieng?”
Si bapak mengiyakan.
Gw cek lagi, yang mana bus 2, karena nama gw terdaftarnya di bus 2.
Ouw, ternyata bus 2 yang barisnya di belakang.
Gw cek, sebagian kursi udah ada yang nge-take. Trus gw liat kursi yang persis di dekat pintu masuk masih kosong. Yeaaayyy!!!
Gw nge-take kursinya ah…. posisi strategis, deket pintu, space-nya agak legaan.
Ok, taro jaket pinkgonjreng! “Ini seat gw ya” :D

Sebelum berangkat, ada cewe berambut pendek yang celingukan nyari seat di bus.
“Hei, blom dapet seat ya? Nih, di sebelah gw kosong, mo duduk di sini?” tanya gw.
Linar! Ini yang akhirnya jadi teman seperjalanan gw Jakarta-Dieng-Jakarta dan juga jadi roommate waktu di Dieng.

Jam 9 malem bus mulai jalan.
Baru juga bus jalan, ada cowo yang ngajakin Linar ngobrol, mas Aga.
Jadilah awal perjalanan malam itu gw, Linar, mas Aga ngobrol seru.
Sesekali Zee ikut nyamperin sambil mastiin peserta di bus 2 aman, sehat, sejahtera… hehehhehehe…

Ini perjalanan gw ke Dieng untuk yang ke-2 kalinya.
Jadi gw udah bisa kira-kira, bakal berapa lama harus duduk manis di dalam bus.
Oh iya, kali ini gw ke Dieng dalam rangka mengobati rasa penasaran gw pada cerita tentang anak berambut gimbal yang ada di Dieng.
Kenapa? Bagaimana? Apa? Siapa?
Akhirnya begitu ada open trip Dieng Culture Festival, gw langsung bilang “I’m in!”.

Harusnya perjalanan Jakarta–Dieng bisa ditempuh dalam waktu sekitar 10-12 jam, tergantung kondisi jalan, lalu lintas, kecepatan kendaraan dan seberapa sering busnya mlipir ke rest area.
Tapi kali ini, mungkin juga karena bertepatan dengan acara Dieng Culture Festival ya… jadi jalanan terlihat lebih padat. Bus pun jalannya ga kenceng seperti sprinter, tapi lebih kalem seperti becak :D

Udah capek ngobrol-ngobrol, mulai dari yang jelas, sampe yang ga jelas (hihihihihi), akhirnya gw dan Linar sama-sama merem.
Buka mata, masih gelap…. ohh, blom sampe rupanya (bobo lagi).

Buka mata lagi, di luar udah mulai terang “Udah sampe mana ya?”
Hmm… ternyata udah mulai memasuki wilayah Jawa Tengah.
Bus jalan terus. Di luar keadaan semakin terang.
Waktu ke Dieng yang pertama kali, jam 7 gw udah sampe di homestay dong.
Tapi kali ini, macetnya luar biasa, dan setelah menempuh perjalanan sekitar 15 jam, akhirnya jam 12 siang kami tiba di homestay. Finally

Bagi-bagi kamar, gw sekamar dengan Linar dan Andin.
Hmm…. Dieng masih dingin seperti waktu Februari kemarin gw ke sana.
Dan ga tau kenapa, gw betah dan seneng banget klo bisa jalan-jalan ke tempat yang udaranya sejuk dan segar. Cuci paru-paru istilah gw. Seperti trip kali ini.

Udah sampe di homestay pun, gw blom banyak kenal teman-teman 1 bus tadi.
Baru kenal Linar, Andin, mas Aga, Windy :D

Awalnya, karena perhitungannya udah nyampe di lokasi di pagi hari, kami ingin liat (dan ikut) acara minum Purwaceng rame-rame.
Tau kan Purwaceng itu apa?
Purwaceng itu minuman khas Dieng yang menurut cerita berkhasiat seperti ginseng. Bener/ga gw ga ngerti, karena sampe saat ini pun gw blom pernah nyobain… hehehehhee…

kawasan Candi Arjuna siang itu


Abis makan siang, kami bergerak ke kawasan Candi Arjuna.
Siang itu cuaca sangat bersahabat. Langit biru dihiasi gumpalan-gumpalan awan putih.
Udara yang sejuk walaupun matahari tersenyum dengan hangatnya (klo ga mo dibilang panas sih :D).

Karena suasana di sekitar kawasan Candi Arjuna sangat rame, dan kami pun datengnya udah siang, supaya tetap bisa ngikutin itinerary yang udah dibuat, jadi gw dan teman-teman ga bisa berlama-lama di situ.
Beres poto-poto, keliling-keliling, Zee ngajak nerusin ngubek-ngubeknya ke Telaga Warna.
Tapi teuteup…. sebelum kabur, poto-poto duluuuuuuu……


ketika belum kenal dekat pun, rusuhnya udah terlihat :D


gerbang Telaga Warna


Abis dari Candi Arjuna, gw dan teman-teman melipir ke Telaga Warna.

Ngeeeeeeennnggg… naik bus sampe di parkiran Telaga Warna.
Mari kita liat, berubah kah sang telaga setelah kunjungan gw yang terakhir???











telaga yang tenang

Karena dalam suasana Dieng Culture Festival, di Telaga Warna pun rame banget.

Jadi ya… susah banget mo nyari spot-spot yang kosong.
Di sini gw mulai kenal dengan teman-teman yang tadi 1 bus dengan gw.
Ada Gina, Gita, Iyus, mas Ahmad, Ivan, Astrid, Mita, Eera, Hendra, Haris, mbak Endah, mas Kurnia (di akhir trip baru tau kalo panggilannya mas Kef), mbak Dijeh, Winda, mbak Tri, trus…. sapa lagi ya?

hijau…biru…toska…

Di sini, kerusuhan rombongan makin terlihat.
Jalan-jalan, keliling-keliling, liat sana sini, ga lupa foto-foto, dan ketauan lah kalo semua banci kamera :p
Ga boleh liat ada yang foto-foto, langsung deh pada nimbrung pasang aksi :D
Mo liat kenarsisan temen-temen baru gw???
Cekidot….

mas Kef, mbak Endah, mbak Dijeh, Winda, Linar, mbak Tri

hahhhhhh…. udah narsis itu Winda :p


tampang boleh kalem…. kelakuan???? :p :p :p


baru tau klo mas-mas yang di depan itu paling hobi narsis :D


auw… auw… auw… ini Zee, leader trip gw


Beres ngerusuh di Telaga Warna, Zee ngajakin gw dan teman-teman ke Kawah Sikidang. Rebutan masuk ke bus, dengan tetap ramenya, dan ngeeeeeeeeennnnnggggg….. ga pake lama, nyampe deh di Kawah Sikidang.
Klo waktu pertama kali ke Dieng semua gw tempuh on foot, alias jalan kaki a.k.a ngeritingin betis, kali ini karena waktu yang sempit, ke mana-mana gw dan teman-teman dianter si bus abu-abu.

Kawah Sikidang


Sampe di Kawah Sikidang, langsung deh bubar barisan. Semua langsung ngacir sendiri-sendiri, ga tau juga nyariin apa? :D

Gw bareng sama Linar, sambil liat kanan kiri sapa tau ada yang bisa dikecengin, maksudnya sapa tau ada yang bisa di-shoot pake kamera.
Akhirnya gw sampe di pinggir kawahnya.










Bau belerang terasa banget lho di pinggir kawahnya. Asapnya juga terlihat di mana-mana. Kudu wajib harus pinter-pinter liat arah angin, jadi bisa menghindari uap belerang yang ngepul dari arah kawah.
Dan u know, di pinggir kawah pun, itu rombongan narsis teuteup rusuh dan sok bergaya ala boyband :D
Penasaran kan, mo liat aksi boyband from Dieng??? Let’s check it out!

langit di atas Sikidang sore itu…biru……..

sejauh mata memandang, yang keliatan……kawah :D

ayo… coba cari, mana itu para Diengers???

hag.. hag.. hag… narsis part 1

suuuutttt…. ada anggota boyband Korea :D

tuh… uap belerangnya #pasangmasker

see??? narsisnya boyband Diengers :D
mbak fotografer dan asistennya :p







mo moto mas-mas yang lagi gitaran, kenapa itu ada yang nyempil di ujung???

again! narsis forever :D





Cukup narsis-narsisan di Kawah Sikidang, markipul….
Ntar malem di kawasan Candi Arjuna kan ada beberapa acara juga, ada pesta kembang api, wayang kulit, trus apa lagi ya???
Sekarang, ayo kita ngebut ke homestay, pengen meluruskan punggung sejenak.
Cuuuuussssssssssssss…….


– malemnya –
Malem ini, gw dan teman-teman dapet traktiran makan mie Ongklok dari Zee…. duh, itu leader baek amat yak? semua ditraktir makan mie khas Dieng ^.^

Udah pada mandi, sholat, istirahat, rebonding punggung, mari kita capcus ke warung mie di depan homestay.
Sekitar 25-an Diengers malem itu dapet traktiran mie Ongklok yang masih ngepul dari mangkok beling berukuran sedang.
Hmm…. wanginya yummy….
Let’s try it out!

Mie Ongklok ini adalah mie khas Dieng.
Isinya terdiri dari mie kuning pipih, sayuran berupa irisan kol, irisan daun bawang dan ditaburi bawang goreng. Kuahnya kental dan beraroma khas.
Cocok banget dimakan di udara sejuk cenderung dingin seperti malam ini.
Saking dinginnya di Dieng, semangkuk mie Ongklok yang awalnya dipenuhi asap tanda kuahnya sangat panas, waktu disruput ternyata ga panas lho….
Mencicipi kuah mie Ongklok, hmm….. rasanya gurih, agak manis karena ada campuran kecapnya.
Marilah…. kita habiskan semangkuk mie Ongklok ini sebelum dingin sempurna….

mie Ongklok traktiran dari Zee, yummy


Selain mie Ongklok, Dieng juga terkenal dengan kentang gorengnya yang enak. Sayang, gw ga sempet moto kentang goreng yang gw beli di sana. Gimana mo difoto coba? Baru juga sebungkus kentang goreng sampe di tangan, dalam sekejab langsung bersih tak bersisa akibat nggragasnya gw dan teman-teman Diengers yang lain :D

Abis makan mie Ongklok, sebagian teman-teman ada yang melanjutkan rasa penasarannya dan jalan-jalan ke seputaran Candi Arjuna.
Klo gw sih, milih balik ke homestay dan masuk ke dalam hangatnya pelukan si sleeping bag :D
Bobo ah… besok pagi mo ngejar sunrise ke puncak Sikunir.


Minggu, 1 Juli 2012
Hoaaaaaaeeeemmmmmmm…… #nguletdaribaliksleepingbag
Selamat pagi……… ^.^

Dieng subuh ini dingin banget.
Kalo ga karena pengen liat sunrise dari puncak Sikunir, rasanya males banget bangun dan keluar dari hangatnya pelukan sleeping bag ini.
Tapi…….. hayuk ah! Semangat!
Ga pake mandi :D cukup cuci muka, gosok gigi, ganti baju (eh, ganti baju ga ya waktu itu? lupa gw :D), gw dan teman-teman langsung cuuusss ke depan homestay.
Si bus abu-abu udah setia di depan gang, nungguin para Diengers naik dan siap terbang ke Sikunir.

Subuh itu masih gelap banget. Dan yang pasti masih super duper dingin, pake banget!
Gw aja pake baju udah dobel-dobel gitu, kaos, jaket, syal, sarung tangan, kaos kaki, sepatu……. brrrrrr… dingin bangeeeeeeeeeeeetttttt….

Desa Sembungan, desa tertinggi
di Pulau Jawa


Sampe di Desa Sembungan, yang merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa, kebayang kan gimana dinginnya subuh itu?
Turun dari si abu-abu, gw dan teman-teman masih harus jalan kaki ke puncak Sikunir.
Oh iya, Sikunir ini adalah bukit yang biasa dijadikan tempat untuk mengintip sunrise di Desa Sembungan.
Jalan kaki melewati rumah-rumah penduduk yang sebagian masih tertutup rapat, cahaya lampu yang bersinar temaram, sepi, kadang terdengar suara kokok dan kotek ayam, kami pun berjalan menuju Sikunir.

Sampe di kaki Bukit Sikunir, keadaannya gelap.
Untung gw sempet bawa senter kecil untuk menerangi jalan setapak yang mengarah ke atas.
Pelan-pelan, gw dan teman-teman mulai menapaki punggung Sikunir.
Jalan setapak yang awalnya terlihat, lama kelamaan makin menanjak, dan makin kecil.




Subuh itu, punggung Sikunir harus menahan beban lebih berat dari biasanya. Kebayang dong ya…. yang subuh itu pengen liat sunrise dari puncak Sikunir kan bukan Diengers doang.
Dari setengah punggung Sikunir, jalan setapak mulai padat. Begitu sampe di puncak…. wow… padet bangeeeeeeettttt…
Berusaha nyempil dikit, supaya gw bisa dapet spot yang cihuy, yang ada, gw sama Linar malah kejebak di pinggir puncak Sikunir.
Di sebelah kiri, depan, belakang, udah full, sesak, di sebelah kanan…. jurang… hiiiyyyyy…..

langit yang mulai bersemburat pagi itu


Semburat kuning jingga mulai menyeruak kabut pagi di ujung cakrawala. Perlahan sederetan gunung mulai jelas bentuknya di kejauhan, puncak Sindoro berdiri gagah paling depan.
Kumpulan awan putih menghiasi sela antara gunung-gunung bagaikan permadani.
Wuuiiiiiihhh… bener-bener negeri di atas awan deh….

sinar mentari pagi mengintip dari balik pepohonan


Begitu mentari bersinar sempurna, gw dan teman-teman mulai menuruni punggung Sikunir untuk balik ke parkiran bus. Sepanjang perjalanan turun, gw masih beberapa kali bisa mengintip cantiknya Sikunir dan sekitarnya. Liat deh foto-foto ini, siapa sih yang ga betah dan senang tinggal di sana?

mentari pagi, langit biru, awan putih, dan dedaunan yang basah oleh embun

sinarnya hangat


Sampai di kaki Sikunir, terbentang Telaga Cebong yang pagi itu masih terlihat gelap, terlindungi bayangan bukit Sikunir.

Telaga Cebong, di kaki Sikunir

negeri di awan




Dari kaki Sikunir, gw dan teman-teman jalan ke arah parkiran bus di gerbang Desa Sembungan.
Oh… si abu-abu setia nunggu di sana.
Yuk kita balik ke homestay, laper merajalela :D

Sampe homestay, sarapan, rebutan kamar mandi, packing dan kami siap mengikuti acara terakhir dan paling ditunggu di perjalanan ini. Prosesi ruwatan anak rambut gimbal di pelataran Candi Arjuna.

Sengaja gw dan teman-teman berangkat ke Candi Arjuna agak awal, jam 10-an kami udah ke sana. Alasannya supaya bisa liat-liat dulu dan nyari tempat yang strategis.
Kawasan Candi Arjuna siang itu rame banget… pengunjung dan masyarakat setempat berbaur jadi satu. Tua, muda, dewasa, remaja, anak-anak, semua ada.

Karena acaranya baru mulai jam 12-an, akhirnya gw dan teman-teman keliling dan foto-foto tentu saja :D
Eh iya, di sini gw nemu domba khas Dieng, namanya Dodi – Domba Dieng (yang namanya Dodi, i didn’t mean it ya…. emang disebutnya begitu :D).


siang itu kompleks Candi Arjuna, meriah!!!

lokasi pagelaran wayang kulit semalam

Sendang Sedayu, tempat penyucian anak berambut gimbal yang akan diruwat

dodi a.k.a domba Dieng :D


dengan pakaian khasnya,
bapak tua ini pun mengikuti kemeriahan
di kawasan Candi Arjuna
semua berbondong-bondong
ke Dieng Culture Festival




siang itu…


Jam 12 siang, iring-iringan peserta prosesi ruwatan rambut gimbal mulai memasuki kawasan Candi Arjuna.
Matahari bersinar terang benderang, tapi gw masih setia dengan jaket pink. Anginnya ga nahan ya booo…… semriwing…… wuss.. wuss… wusss…..



sesajen yang menjadi pelengkap pelaksanaan prosesi


Prosesi ruwatan diawali dengan dibawa masuknya aneka sesajen ke area ruwatan, disusul aneka “permintaan” dari anak-anak berambut gimbal yang akan dipotong rambutnya.
Kemudian rombongan anak-anak berambut gimbal yang didampingi oleh orang tuanya memasuki area prosesi dan langsung mengambil tempat di samping kiri candi.
Rombongan para tetua dan sesepuh masyarakat menyusul di belakangnya, diikuti rombongan para petinggi dan pejabat setempat.






yang ini adalah “permintaan”
dari anak-anak berambut gimbal
sebagai persyaratan dipotongnya rambut mereka


Sebelum memulai prosesi penmotongan rambut gimbal, para sesepuh dan tetua masyarakat memasuki bangunan candi untuk berdoa sesaat. Dan kemudian prosesi ruwatan sekaligus pemotongan rambut gimbal dari anak-anak kecil itu segera dimulai.
Satu per satu anak-anak berambut gimbal itu dipanggil namanya, dan disebutkan apa yang menjadi permintaannya sebagai syarat pemotongan rambut gimbalnya.
Berbagai ekspresi dari anak-anak kecil berambut gimbal itu. Ada yang menangis, diam saja, tapi ada juga yang dengan cerianya melambai-lambaikan tangannya pada saat rambutnya dipotong.
Rambut gimbal yang telah dipotong itu kemudian dikumpulkan dan selanjutnya akan dilarung/dihanyutkan di sungai yang bermuara ke laut.

Foto-foto berikut ini adalah pelaksanaan pemotongan rambut gimbal di kompleks Candi Arjuna.

para tetua dan sesepuh masyarakat

deretan sesajen


rombongan tetua dan
deretan anak berambut gimbal
prosesi pemotongan rambut dimulai
prosesi pemotongan rambut gimbal
prosesi pemotongan rambut gimbal

ada yang nangis, takut, tapi ada juga yang ceria

macem-macem ekspresi dari anak-anak berambut gimbal yang dipotong rambutnya

Siang itu ada 7 orang anak berambut gimbal yang mengikuti prosesi ruwatan dan pemotongan rambut gimbalnya.
Setelah selesai, gw dan teman-teman buru-buru balik kanan dan berjalan ke arah homestay.
Eh… tiba-tiba gw ketemu dong dengan adik perempuan kecil yang dipanggul oleh bapaknya. Dan ternyata si adek kecil ini pun berambut gimbal.
Tapi menurut bapaknya, adek kecil ini belum mau dipotong rambutnya, jadi tadi ga ikut prosesi ruwatan.
Selain si adek perempuan kecil itu, ternyata ada juga seorang adek laki-laki yang juga berambut gimbal dan masih belum mau dipotong rambutnya.
Rambut adek laki-laki itu panjangnya sepinggang lho… gimbal kriwil-kriwil… mengingatkan gw sama penyanyi Bob Marley :D


dia menyembunyikan wajahnya
begitu tau banyak yang pegang kamera
rambut gimbalnya panjang



Balik ke homestay, beresin barang bawaan, trus naek ke si abu-abu, nungguin nasi box makan siang, dan kami pun berangkat, back to Jakarta.
Meninggalkan dataran tinggi Dieng dengan segala keunikannya, udara segarnya, hawa dinginnya yang menggigit, keramahan masyarakatnya dan segala yang membuat kangen, untuk kembali ke sana.

Perjalanan ke Jakarta masih panjang, istirahat dulu ya….
Sssstttt… sebagai bocoran, perjalanan Dieng – Jakarta yang harusnya ditempuh sekitar 10 jam, kali ini kami harus merelakan badan terguncang-guncang di dalam bus selama lebih dari 17 jam!!!
Silakan bayangkan sendiri gimana rasanya :D



Cerita selanjutnya, silakan intip di sini….. 






Shenzhen #4 – Last Day


Senin – Selasa
20-21 Mei 2013

Last day in Shenzhen.
Hooaaeemmm…. pagi ini bangun dengan rasa males-malesan… hiks, liburan telah usai :((
Hari ini gw dan teman-teman rencananya pagi-pagi mo ke Splendid China lagi, lho?????

morning Shenzhen….
Bukan mo maen dan ngider lagi sih, tapi mo beli suvenir di toko yang ada di halaman depan Splendid China.
Jadi ceritanya, kemaren setelah seharian keliling Shopping Park dan Dongmen, dan kami ga nemu juga toko yang jual suvenir khas China gitu, akhirnya kami mutusin pagi ini balik lagi ke Splendid China untuk beli suvenir.

Pagi-pagi, udah mandi dan beres-beres, trus langsung check-out hotel.

di halaman belakang hotel ada yang jualan, salah satu vendor HP ngetop
Carrier, koper, dan tas jinjing kami titip dulu di hotel, karena kan mo ke Splendid China sebentar.
Eh iya, deposit yang 200 Yuan dibalikin pas check-out, bisa untuk jajan, lumayan… :D

Shenzhen pagi ini, masih sepi
jalanan aja kosong begini





















Seperti biasa, dari hotel trus ke station Laojie, tujuan station OCT, 2 Yuan.
Sampe di station OCT, tinggal naek tangga, trus nyeberang halaman langsung ke toko suvenir.
Teman-teman gw, lagi-lagi terlihat kalap belanja suvenir.
Dan gw malah bingung mo beli apa? :D

ini toko suvenir di halaman depan Splendid China tempat kami belanja oleh-oleh

lampion yang khas dengan warna merahnya

Akhirnya gw cuma beli gelang yang ada ukiran khas China-nya, trus kaca lipat dan magnet kulkas. Eh iya, beli kipas yang ada lukisan China-nya juga ding.
Beres beli suvenir, kami langsung ngacir balik ke hotel.

Sebelum sampe hotel, kami singgah dulu untuk maksi, laper ya booooo….
Kali ini, karena udah males mo keliling foodcourt, akhirnya gw ngedeprok di McD yang ada di kompleks pertokoan di atas station Metro Laojie.
Nge-junkfood deh kali ini, gapapa kan ya?

Seporsi kentang goreng, ayam dan segelas soft drink siap gw santap.
Ga pake lama dong, semua itu licin :D
Ini maksinya ga pake rem deh kayaknya…. kenceng bener… langsung oper persneling gigi 3, ahahahahaha….




Selesai maksi, kami lalu balik ke hotel, ambil carrier + koper + tas jinjing, teman-teman pake acara bongkar-bongkar koper juga untuk masukin belanjaannya yang tadi, trus capcus ke station Metro.

before, masih komplit :D
setelah oper persneling gigi 5
ludeeeeeeeesssssss…..














Kali ini perjalanan ke station Laojie rasanya jauuuuuuuuhhhh… banget!

Carrier pun rasanya jadi berat banget :((
Ga ada porter ya di sini??? hiks.. hiks.. hiks..

Setelah perjuangan ngegendong carrier dari hotel, akhirnya sampe juga di station Laojie.
Tuker koin, trus langsung nunggu Metro di Line 1.
Alhamdulillah…. Metro-nya ga pake lama langsung datang #huft

Gw dan teman-teman sengaja milih gerbong yang paling belakang, karena berdasarkan pengamatan, gerbong yang paling sering kosong itu adalah gerbong paling depan dan gerbong paling belakang.
Alhamdulillah…. langsung dapet tempat duduk di Metro-nya #huft
Nurunin carrier dan tas jinjing, dan gw pun terduduk lemas dengan sukses :D

Perjalanan menuju airport rasanya cepet banget kali ini, tau-tau Metro udah berhenti di station Bao’an Airport.
Kemon… mari kita gendong carrier lageeeeeee…..hup.. hup.. hup…

Sampe airport, gw dan teman-teman langsung menuju terminal keberangkatan luar negeri.
Karena nyampenya kecepatan, counter check-in blom buka dong.
Akhirnya kami nyari kursi kosong untuk ngegelosor.
Dapet kursi, dan langsung deh…. masing-masing cari PW :D

hihiihihihi…ayo packing
carrier beranak koper :p


Nungguin flight jam 20.30 ke KL, sempet merem lho itu di kursi ruang tunggunya.

Di luar ujan deres banget. Langit gelap banget. Anginnya kenceng.
Ya Allah, semoga cuaca segera membaik, kan gw mo flight malem ini.
Sekitar jam 7 malam gw dan teman-teman check-in dan langsung nunggu di terminal keberangkatan.

Jam 8 malem dihalo-haloin untuk siap-siap boarding.
Udah baris rapi, tiba-tiba gw dicolek dong sama opa-opa dari baris sebelah.

Gw noleh, trus si opa bilang “Vacation hah? Who is your ‘toke’ in Shenzhen?”
Gw masih ga ngeh ditanya gitu sama si opa. “Excuse me?” gw balik nanya.

Si opa nanya lagi “You dari Malaysia hah? Di Shenzhen working? Who is your ‘toke’? You kerje dengan siape?”
What????? Gw dan teman-teman disangka si opa orang Malaysia yang lagi vacation kerja dari Shenzhen. Hadeeeeuuuuhhhh….

Trus gw bilang aja “No, we are from Jakarta, Indonesia. And we are not working here, we are on our vacation”.
Si opa manggut-manggut, trus kasak-kusuk sama rombongan opa dan oma yang barengan dia.
Jangan-jangan gw dan teman-teman disangkanya TKW kali ya??? weeeeeewwww :p

ada yang cubit(able), cium(able) dan culik(able) di ruang tunggu :D


Antri untuk boarding, trus naek ke pesawat, nyari nomor seat, pasang seat belt, dan gw siap-siap merem.
Ampir 1/2 jam merem, dan sempet terlelap, tiba-tiba gw ngerasa koq ini ribut bener ya?
Pas buka mata, gw liat, koq masih di parkiran pesawatnya???
Gw liat di dalam kabin, penumpang yang lain pada ngobrol kenceng-kenceng banget, trus pada jalan-jalan di sepanjang koridor.

“Ada apa sih?” kenapa pesawatnya ga take off???
Tiba-tiba gw denger pengumuman bahwa pesawat di-delayed untuk waktu yang belum bisa ditentukan. Hahhhhhh??? Koq delay???
Pas ada pramugara yang lewat, gw tanya “What happened? How long it will takes?”
Pramugaranya hanya senyum sambil bilang “I don’t know miss. Control tower didn’t give us permission to take off”.

Waaaaaaahhhh… kenapa ga diijinin terbang???
Menunggu dan menunggu….. penumpang yang laen juga pada gelisah dan ribut!!!
Akhirnya, jam 23.45 ada pengumuman bahwa pesawat akan segera take off.
Setelah 3 jam terkatung-katung di parkiran bandara, akhirnya take off juga. Alhamdulillah.

karungin juga deh ni anak :D


Udah mastiin bahwa pesawat beneran take off, akhirnya gw milih melanjutkan tidur.
Daripada bosen, mati gaya selama 4 jam :D

Jam 04.00 flight AK 1089 mendarat dengan selamat di LCCT airport. Alhamdulillah….
Turun pesawat, kemudian jalan ke bagian baggage claim, ambil bagasi dan lapor imigrasi.
Gw dan teman-teman trus keliling di LCCT airport, nyari makan dulu + nyari colokan listrik.
Keliling-keliling….. sambil dorong-dorong troli, akhirnya gw dan teman-teman memutuskan untuk makan di Taste of Asia aja.
Ini pertama kalinya gw ngerasain Nasi Lemak. Enak juga :D
Nasi Lemak seharga 15 ringgit pun langsung lenyap masuk perut.
Kali ini nunggu di airport-nya ga terlalu lama, karena flight ke Jakarta itu jam 09.50.

Sekitar jam 7 pagi, gw bersih-bersih dulu di toilet.
Kemudian langsung check-in dan setor bagasi, lapor imigrasi, cap paspor dan masuk ke ruang tunggu.
Ga lama kemudian ada pemberitahuan bahwa penumpang flight QZ 8191 dipersilakan masuk ke dalam pesawat.

Naek ke pesawat, nyari seat, pasang seat belt, dan… Jakarta, I’m coming! ^.^
Jam 11.00 pesawat mendarat sempurna di bandara Soetta. Alhamdulillah.
Lapor imigrasi klo udah balik lagi ke Indonesia, cap paspor, ambil bagasi, dan akhirnya nyari taxi.
Finally, I’m home.

Selesai sudah cerita trip kali ini.
Sampe kost beres-beres, ngeluarin pakaian kotor, dan gw mo bobo siang dulu ya guys…
See u on my next trip, guys.

Eh iya, ini bocoran pengeluaran selama trip Shenzhen kemarin.
Yang mo nyontek silakan aja. Gratiiiiiiiiisssss….




Ini gw tambahin itinerary selama ngebolang ke Shenzhen-Guangzhou kemaren ya… sapa tau ada yang mo nyontek…. :D