Berkunjung ke “Bekas Rumah Presiden Soeharto” di Weda

 

Di pagi menjelang siang hari itu, sepulang mengelilingi Weda menggunakan perahu, saya diajak bu Tantry untuk singgah ke rumah Nenek Jubaeda Samdi. Kebetulan hari itu adalah hari terakhir saya di Weda, sebelum menyeberang ke Tidore. Hanya memerlukan waktu kurang dari 10 menit (kami berangkat langsung dari daerah pelabuhan), akhirnya kami tiba di depan sebuah rumah bercat dan berpagar putih. Kondisi rumah terlihat sepi, namun pintu rumah dalam keadaan terbuka. Bu Tantry mengucap salam, dan tak seberapa lama dari dalam rumah keluar seorang bapak – yang kemudian memperkenalkan diri sebagai menantu dari Nenek Jubaeda Samdi. Setelah mengutarakan niat kami untuk bertemu dan bersilaturahmi dengan Nenek Jubaeda Samdi, kami pun dipersilakan masuk.

 

inilah “bekas rumah Presiden Soeharto” di Weda

 

Memasuki rumah, terlihat sebuah ruang tamu dengan seperangkat kursi tamu berwarna merah. Terdengar derit lantai mengiringi kemunculan Nenek Jubaeda Samdi dari ruang tengah. Nenek terlihat bingung dengan kedatangan kami yang cukup ramai ini – saya, bu Tantry, mas Eko, Fajar – adik mas Eko, serta Ko Anda. Nenek melangkah perlahan sambil menatap kami satu-persatu. Kemudian nenek pun duduk di kursi merah yang terdapat di tengah-tengah ruangan, saya dan yang lain langsung mengambil posisi bersila di lantai, persis di depan nenek. Bu Tantry pun kemudian memperkenalkan dan menyampaikan maksud kedatangan kami kepada nenek dalam bahasa Melayu berdialek Papua Barat dan Tidore, karena nenek tidak bisa berbahasa Indonesia. Terlihat nenek tersenyum samar dan menggangguk-anggukkan kepalanya.

 

nenek Jubaeda Samdi, pemilik “bekas rumah Presiden Soeharto” di Weda

 

Nenek kemudian bercerita (tentunya dalam bahasa daerah) yang kemudian diterjemahkan oleh bu Tantry agar kami mengerti apa artinya. “Torang kasihan, itu pak Camat tara kase dorang tampa menginap”, demikian tutur nenek saat kami menanyakan mengapa nenek mau menampung seorang pemuda (tentara) yang tidak dikenalnya di rumahnya saat itu. Saat kami bertanya apakah nenek tahu siapa pemuda itu? “Torang tara tau… tara kenal” sahut nenek. Itulah sekilas kenangan nenek pada suatu kejadian sekitar tahun 1961 – 1962, ketika seorang anak muda berpangkat Mayor Jenderal, seorang Jawa yang tiba di Weda dan menumpang untuk menginap beberapa malam di rumah beliau.

‘Nek, apakah nenek tahu, pemuda yang ditolak pak Camat untuk menginap di rumahnya itu, suatu saat akan menjadi Presiden ke-2 Republik Indonesia ini’. Pertanyaan ini mendadak berkelebat di benak saya. Walaupun pada akhirnya nenek tahu, siapa pemuda yang telah ditolongnya itu. Ya, yang datang dan menumpang untuk menginap di rumah nenek pada saat itu adalah Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, yang pada saat itu berpangkat Mayor Jenderal, dan menjabat sebagai Panglima Komando Mandala. Kedatangan Mayjend. Soeharto pada saat itu adalah dalam rangka Operasi Trikora untuk pembebasan Irian Barat. Dan sejak Mayjend. Soeharto menjadi Presiden Republik Indonesia, rumah Nenek Jubaeda Samdi pun mulai dikenal sebagai “Bekas Rumah Presiden Soeharto”.

Nenek bercerita, Mayjend Soeharto sempat menginap beberapa malam di rumahnya, dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Irian Barat setelah menyusun rencana operasi di Weda. Kebetulan rumah nenek dekat dengan lokasi lapangan besar yang dulu menjadi pusat penyusunan rencana Operasi Trikora – saat ini lapangan besar tersebut dikenal dengan nama Taman Fagogoru. Nenek juga menunjukkan kamar yang ditempati Mayjend. Soeharto di masa itu, yang sampai saat ini masih terjaga seperti aslinya, walaupun ada beberapa perbaikan seiring waktu. Bahkan koil besi (tempat tidur besi) yang digunakan oleh Mayjend. Soeharto masih disimpan oleh keluarga nenek, walaupun sudah tidak bisa digunakan lagi karena sudah patah tergerus waktu. Kamar yang ditempati oleh Mayjend. Soeharto terletak paling depan, di sebelah kiri pintu utama rumah Nenek Jubaeda Samdi. Kamar berukuran kurang lebih 3 x 3 meter itu memiliki 2 jendela yang mengarah ke halaman. Dulu, dari jendela itu bisa langsung melihat ke laut, ke Teluk Weda.

 

kamar yang dulu ditempati oleh pak Harto semasa menyusun rencana Operasi Trikora

 

Saat bercerita, nenek terlihat sedikit tersenyum, mungkin mengingat-ingat kembali kenangan-kenangan semasa Mayjend. Soeharto menginap di rumahnya. “Nek, sewaktu menginap di sini, pak Harto makannya di mana? Menu apa saja yang beliau makan?” kami bertanya tanpa sabar.

Nenek tersenyum sedikit “Dorang makan di sini, torang yang masak”.

“Terus? Komentar pak Harto tentang masakan nenek gimana?” kami semakin tak sabar untuk bertanya.

“Dorang bilang masakannya enak”, sahut nenek sambil terkekeh kecil.

Saya dan yang lain ikut tertawa mendengar cerita nenek.

Nenek tidak berhenti terkekeh-kekeh, saat kami tanya ada cerita lucu apa? Nenek kemudian bercerita sambil masih terkekeh-kekeh geli.

“Waktu itu di rumah ini tara ada kamar mandi, tara ada kakus. Jadi itu dorang harus jalan ke rawa-rawa sana untuk mandi atau buang air” sahut nenek sambil tertawa geli dan menunjuk ke arah laut.

“Apalagi kalau su malam, kasihan lihat dorang harus bawa lentera untuk ke rawa-rawa”, nenek menambahkan.

Tiba-tiba menantu lelaki nenek beranjak ke ruang tengah, dan tak lama kemudian keluar sambil membawa sebuah teko keramik yang telah retak-retak. Teko keramik itu kemudian diletakkan dengan hati-hati di atas sebuah meja kaca yang ada di kanan saya.

“Ini adalah teko tempat minum pak Harto dulu. Teko ini sempat pecah, tapi oleh nenek kemudian diperbaiki, dilem hingga bentuknya jadi seperti semula”, demikian penjelasan dari menantu nenek.

“Nek, dulu pak Harto minumnya langsung dari teko atau pakai gelas?” hampir bersamaan saya dan mas Eko bertanya pada nenek.

“Pakai gelas, dorang minum pakai gelas. Ini hanya untuk tempat airnya saja” sahut nenek.

Kami semua tertawa.

 

teko yang dulu digunakan sebagai tempat air minum pak Harto sewaktu menginap di rumah Nenek Jubaeda Samdi

 

Saya langsung mengambil kamera dan memotret teko bersejarah itu. Teko bekas minumnya Presiden Indonesia lho! Teko yang penuh dengan retakan ini mungkin terlihat biasa, namun teko ini telah menjadi saksi sejarah Indonesia yang terjadi di Weda, Halmahera Tengah.Teko ini menjadi saksi konsolidasi kekuatan angkatan bersenjata Republik Indonesia di dalam menyusun strategi untuk merebut Papua (dulu dikenal dengan nama Irian Barat) dalam Operasi Trikora yang berlangsung pada 19 Desember 1961 – 15 Agustus 1962. Teko ini pula yang menjadi saksi aktivitas yang dilakukan oleh Mayjend. Soeharto selaku Panglima Komando Mandala.

 

teko bersejarah ini sempat pecah, namun diperbaiki oleh nenek Jubaeda Samdi

 

Teko keramik berwarna coklat muda itu penuh guratan-guratan berwarna coklat tua yang merupakan sisa dari perekat yang mengering. Saya mencoba menyentuh teko itu dengan sangat hati-hati. Permukaannya terlihat bersih. Retakan dan bekas rekatan yang ada di permukaan teko seolah-olah bercerita tentang sejarah yang pernah dialaminya. Entah saya yang terlalu perasa, tapi saat tangan saya menyentuh permukaan teko, rasa-rasanya ada sesak di dada mengingat sejarah yang menyertai teko ini.

Saya dan mas Eko kemudian meminta nenek Jubaeda Samdi untuk memangku teko yang penuh sejarah itu. “Nek, nenek duduk sambil memangku tekonya ya… saya mau ambil fotonya”, saya meminta kesediaan nenek untuk berfoto bersama teko bersejarahnya.

 

nenek Jubaeda Samdi dan teko yang penuh dengan sejarah

 

Nenek tersenyum dan menyambut teko yang diangsurkan oleh menantu laki-lakinya. Dengan hati-hati nenek memangku teko yang dulu menjadi tempat air minum pak Soeharto selama menginap di rumahnya. Ekspresi nenek tidak bisa saya terjemahkan, sepertinya beliau larut mengingat kenangan yang ada.

Nenek juga bercerita, bahwa selain pak Soeharto, masih banyak tokoh-tokoh Indonesia yang datang ke Weda. Di antaranya adalah Bung Hatta, Bung Tomo serta Sultan Zainal Abidin Sjah selaku penguasa daerah. Saat itu, bahkan hingga saat ini, secara adat Weda masih merupakan bagian dari Kesultanan Tidore. Presiden Soekarno dan ibu Fatmawati pun pernah berkunjung ke Weda. Saat itu tanggal 1 Agustus 1957. Masyarakat di Weda menyambut kedatangan Presiden Soekarno dan ibu Fatmawati dengan sangat meriah. Musik dan tarian tradisional dipertunjukkan, bahkan di sepanjang jalanan Weda, anak-anak sekolah terlihat berwajah gembira sambil mengibarkan bendera merah putih berukuran kecil.

Presiden Soekarno dan ibu Fatmawati bahkan sempat menginap di Weda. Namun sayang, rumah yang dulu ditempati oleh presiden telah dirobohkan dan di tempat itu kemudian dibangun sebuah mess untuk pegawai.

 

nenek dan pak Idris, menantu laki-lakinya yang sepanjang siang itu menemani nenek bercerita kepada kami

 

Cerita nenek siang itu terhenti oleh suara dari masjid yang letaknya tak jauh dari rumah nenek, waktu sholat Jumat sudah hamper tiba. Dengan berat hati, kami pun harus berpamitan. Setelah sholat Jumat, saya harus menyeberang ke Tidore untuk melihat acara Ake Dango, sebagai penanda dibukanya rangkaian acara Hari Jadi Tidore ke-910.

 

saya, bu Tantry, nenek Jubaeda Samdi, mas Eko dan pak Idris (menantu laki-laki nenek)

 

Sebenarnya saya masih menyimpan rencana untuk kembali ke Weda, menggali lebih banyak cerita dari Nenek Jubaeda Samdi. Namun takdir berkata lain. Hari Jumat tanggal 10 Agustus 2018 yang lalu, saya mendapat berita duka dari bu Tantry: Nenek Jubaeda Samdi telah berpulang. Innalillahi wa innailaihi roji’un. Selamat jalan Nek! Terima kasih untuk semua ceritanya.

Please follow and like us:
0

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.