All posts by Evy Priliana Susanti

Luang Phrabang, Kota yang Membuat Saya Jatuh Cinta

EVY_3406

 

Dulu…. Luang Phrabang merupakan suatu kota yang asing bagi saya. Membaca beberapa referensi mengenai kota ini, tidak membuat saya serta-merta tertarik untuk datang ke sana. Tawaran untuk mengunjungi kota ini datang setahun yang lalu, itu pun karena penasaran untuk melihat prosesi Tak Bat – Alms Giving Ceremony.  Dan ternyata, saya jatuh cinta pada kota itu.

Perjalanan saya ke Luang Phrabang dimulai dari Kota Vang Vieng. Berbekal tiket sleeper bus seharga 90,000 Kip, saya memulai perjalanan menuju Luang Phrabang sekitar jam 11 malam. Sleeper bus dengan rute Vang Vieng – Luang Phrabang ada beberapa macam dengan harga yang sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda. Kebetulan sleeper bus yang saya naiki bukanlah bus VIP, di mana tiket yang kita beli tidak memiliki nomor seat, sehingga penumpang bebas memilih akan mengambil seat yang mana? Dan mungkin saya yang kurang beruntung malam itu, di-pick up terakhir saat hampir seluruh seat sudah penuh. Saya sempat berdebat sedikit dengan kondektur bus dan agen travel tempat saya membeli tiket. Kenapa? Karena saat saya naik ke atas bus, hampir seluruh seat sudah terisi! Sementara saya berombongan 8 orang ditambah 2 cewek bule yang menunggu bersama kami. Ternyata ada beberapa warga lokal yang ikut naik di dalam bus tanpa tiket. Setelah komplain keras, akhirnya warga lokal tersebut turun, barulah saya dan rombongan naik ke atas bus. Saran saya, apabila memilih sleeper bus, sebaiknya ambil yang VIP, dengan harga sekitar 120,000 Kip. Dengan harga yang tidak jauh berbeda, tapi kenyamanan yang didapat berbeda jauh. Oh iya, sebelum membeli tiket ada baiknya untuk berkeliling ke beberapa agen tiket bus untuk perbandingan harga (so far dari hasil hunting saya di Vang Vieng, harga yang ditawarkan tidak berbeda jauh).

IMG_3864
terminalnya sepi

 

IMG_3863
terminal bus di Luang Phrabang

 

IMG_3861
ini contoh bus malam yang melayani rute Vang Vieng – Luang Phrabang

Perjalanan Vang Vieng – Luang Phrabang memakan waktu sekitar 7-8 jam dengan beberapa kali berhenti untuk beristirahat. Jalur yang dilalui sebenarnya tidak terlalu mulus, karena ada beberapa area yang dilewati ternyata sempat longsor, sehingga jalanan tanah bak kubangan besar. Saya yang kebetulan mendapat seat di bagian depan atas, bisa dengan bebas melihat trek yang ada. Nyali sempat ciut melihat jalanan tanah dengan kubangan-kubangan besar, berkelok-kelok dengan jurang yang tersenyum manis di sisi kanan jalan :D

Tapi perjalanan yang sedikit menyeramkan itu terhibur dengan pemandangan bulan Purnama yang mengikuti ke mana bus berjalan. Bola kuning keemasan besar terlihat jelas di sisi kanan jalan, menerangi gelapnya malam. Bus berjalan perlahan karena kondisi jalan yang dilewati tidak semuanya mulus.

Sekitar pukul 7 pagi, bus tiba di Terminal Bus Bannaluang, Luang Phrabang. Karena lokasi terminal bus ini berada sedikit di luar pusat Kota Luang Phrabang, pilihan transportasi menuju pusat kota adalah menggunakan tuktuk. Pastikan untuk menawar harga tuktuk sebelum kita naik, karena setiap pengemudi akan menawarkan harga yang bervariasi. Waktu itu saya berdelapan mendapatkan tuktuk seharga 80,000 Kip (atau kira-kira Rp 16.500 per orang) dari terminal bus menuju pusat kota. Cukup murah.

IMG_3875
tuktuk yang mengantarkan saya dari terminal menuju penginapan

Jarak terminal ke penginapan sekitar 25 menit. Saya menginap di Joy Guesthouse yang berlokasi di Riverside Road, Ban Hoxieng, Town Center, Luang Phrabang, Laos. Mengambil kamar dormitory seharga Rp 131,881 per malam per orang. Kamar yang saya tempati terletak di lantai 2, bisa diisi 4 orang dengan 2 bunk bed susun, dilengkapi dengan kamar mandi dalam dan AC.

 

IMG_3874
jalan masuk ke Joy Guesthouse

 

IMG_3872
karena papan namanya kecil, jangan sampai kelewatan ya….

 

IMG_3870
dari jalan utama, kita harus menaiki tangga ini untuk mencapai meja resepsionis

 

IMG_3866
suasana di depan meja resepsionis, homy…..

Karena semalaman di bus, sesampainya di penginapan, yang pertama dilakukan adalah mandi! Selesai mandi, tujuan pertama adalah Kuang Si Waterfall. Air terjun bertingkat dengan airnya yang berwarna hijau toska. Saya kembali menggunakan jasa tuktuk untuk mencapai lokasi air terjun dengan biaya sebesar Rp 82,500 per orang. Ingat, sebelum menaiki tuktuk, pastikan biaya yang harus kita bayar pada driver-nya, dan jangan lupa menawar harga saat driver memberikan harga di awal.

Perjalanan menuju Kuang Si Waterfall ditempuh selama kurang lebih 1 jam dari penginapan. Menyusuri jalanan di Luang Phrabang yang lumayan sepi. Setibanya di lokasi air terjun, ternyata suasana cukup ramai. Tempat parkir pun terlihat penuh oleh kendaraan pengunjung yang telah tiba lebih dulu dari rombongan saya. Setelah mendapatkan tempat parkir untuk tuktuk yang mengantarkan kami, saya dan teman-teman segera menuju loket untuk membeli tiket masuk.

Tiket masuk area Kuang Si Waterfall seharga 20,000 Kip per orang, dan kita akan bebas menikmati indahnya suasana di seluruh area yang ada di sekitar air terjun.

EVY_3338
gerbang menuju Kuang Si Waterfall

 

EVY_3259
sepanjang jalan, hijau!

Dari gerbang besar berwarna coklat yang menjadi pintu masuk utama ke area air terjun, kita akan disambut dengan pemandangan pohon-pohon besar yang tumbuh di dalam area taman tersebut. Oh iya, air terjun ini berada di dalam lingkungan taman yang merupakan hutan lindung. Jadi jangan kaget apabila menemukan banyak pepohonan besar dengan jenis yang sangat beragam dan tak biasa ditemui.

EVY_3336
pepohonan hijau, besar, menghalangi sinar matahari di sepanjang jalan menuju lokasi air terjun

 

EVY_3265
spider…..

Jalanan beraspal mulus akan menjadi akses utama menuju lokasi air terjun. Jalanan aspal ini sedikit menanjak, apabila tidak ingin berlelah-lelah menanjak di jalan aspal, bisa mengambil jalan setapak yang ada di sebelah kanan jalanan aspal. Jalan setapak ini masih berupa jalan tanah yang letaknya berada di sepanjang aliran air, yang akan menuju lokasi air terjun. Apabila dihitung secara jarak, mungkin akan sama saja, namun pemandangan yang akan dilewati akan berbeda.

Saya mengambil jalanan beraspal sebagai rute saya menuju lokasi air terjun, dan akan melewati jalanan setapak sebagai rute kembalinya. Di sepanjang jalan menuju lokasi air terjun, mata saya disuguhi dengan pemandangan hijau, pepohonan besar dan bermacam-macam jenis, serta papan penunjuk yang memberikan informasi mengenai pepohonan yang terdapat di situ.

Perjalanan menuju lokasi air terjun tidak lah lama, hanya sekitar 15 – 20 menit. Dan setibanya di lokasi, mata saya langsung terpaku pada deru air yang jatuh tebing batu yang berundak-undak. Air hijau toska dengan buih putihnya bergerak cepat menyusuri dinding batu yang bertingkat-tingkat, menyuguhkan pemandangan yang sangat indah bak lukisan. Saya pun mendekat, dan merasakan betapa dingin titik-titik halus air yang terbawa angin. Segar.

 

EVY_3274
Kuang Si Waterfall, seperti lukisan!

 

EVY_3275
ramainya pengunjung Kuang Si Waterfall

 

EVY_3276
jembatan kayu yang menghubungkan ke-2 sisi kolam besar dengan air terjun di ujungnya

Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah air hijau toska yang sangat indah. Suasana di sekitar air terjun terasa sejuk dan segar. Terlihat beberapa rombongan pengunjung dengan aktivitasnya masing-masing – berfoto, ngobrol dengan teman, menikmati makan siang, dan lain-lain.

EVY_3278
air hijau toskanya…

 

EVY_3324
kalau lihat yang seperti ini, kepengen nyebur ga sih?

Setelah mengambil beberapa foto, saya mulai menyusuri jalanan setapak yang ada di sepanjang aliran air, untuk kembali ke gerbang utama.

 

EVY_3321
buih putih yang menyertai air hijau toskanya menambah catik tempat ini

 

EVY_3317
cantik, cantik, cantik!

Di sepanjang rute pulang, mata saya masih disuguhi dengan indahnya air hijau toska yang mengalir tenang. Beberapa pengunjung terlihat mencoba untuk berenang. Sementara saya, cukup mengabadikan pemandangan yang saya lihat melalui lensa kamera.

 

EVY_3314
semua tempatnya indah……

Perjalanan pulang, dengan jarak yang sama, saya tempuh lebih lama daripada rute berangkat. Itu karena saya lebih sering berhenti untuk memotret dan menikmati pemandangan air hijau toska yang menurut saya sangat cantik. Dan rasa-rasanya, kamera saya tidak pernah puas untuk mengabadikan keindahan dan kecantikan yang terpampang di depan mata.

 

EVY_3316
jalan setapak di sepanjang aliran air

 

EVY_3282
tangga batu yang ada di sepanjang jalan setapak

 

EVY_3288
tempatnya sangat fotogenic

 

EVY_3297
pengunjungnya ramai….

Di ujung jalanan setapak menuju pintu keluar, kita akan menemukan Tat Kuang Si Bear Rescue Center. Semacam lokasi penangkaran beruang. Beberapa ekor beruang hitam, besar, terlihat di area itu. Area ini dibatasi dengan pagar kawat tinggi. Di dalam area terdapat beberapa kolam dan tempat beristirahat bagi beruang yang terbuang dari kayu.

EVY_3335
Tat Kuang Si Bear Rescue Center

EVY_3329 EVY_3328EVY_3331

 

EVY_3330
Damm….

 

EVY_3327
bagi pengunjung yang ingin berdonasi untuk penyelamatan beruang, bisa melakukannya di sini

Saya pun akhirnya melangkah melewati gerbang dan meninggalkan area Kuang Si Waterfall Park. Beberapa teman memutuskan untuk makan siang (yang terlambat) di sini, namun karena setelah saya lihat-lihat, ternyata semua warung yang ada di lokasi ini menyajikan makanan non halal, saya memutuskan hanya minum air kelapa saja, karena kebetulan saya masih menyimpan sebatang coklat di tas, lumayan untuk mengganjal perut sampai menemukan makanan halal nanti.

 

EVY_3339
warung-warung yang terdapat di sepanjang jalanan menuju gerbang Kuang Si Waterfall

 

EVY_3341
beraneka suvenir dan peralatan rumah tangga khas Laos juga banyak dijual di sekitar area Kuang Si Waterfall Park

Dari Kuang Si Waterfall, saya dan teman-teman kembali ke penginapan, istirahat sebentar, sambil menunggu malam untuk melihat night market yang ada di Kota Luang Phrabang ini.

Malamnya, saya dan teman-teman akhirnya mengunjungi night market yang ada di sepanjang jalan Sisavangvong menuju pusat kota (Jalan Settathilat). Pasar malam ini mulai buka pada pukul 5 sore hingga pukul 11 malam. Di pasar malam ini kita akan menemukan berbagai macam barang seperti pakaian, keramik, beraneka ragam barang yang terbuat dari bambu, lampu, selimut, suvenir, scarf, kain tradisional Laos, dan masih banyak lagi. Tak ketinggalan beberapa  jenis makanan dan minuman khas yang hanya ada di pasar malam.

EVY_3484
aneka kain tradisional yang dijual di night market dan morning market

 

EVY_3482
barang-barang yang dijual di night market sama dengan barang-barang yang dijual di morning market

 

EVY_3479
produk tradisional yang dijual di night market dan morning market

Saya sangat menikmati berkeliling di area night market ini. Melihat beraneka rupa produk kerajinan dari Laos, dan berinteraksi dengan penduduk lokal. Beraneka macam suvenir terlihat cantik, disusun dengan warna yang beraneka rupa, tambah cantik dengan siraman sinar lampu yang memendarkan aneka warna di sekitarnya.

Di night market ini, saya mencoba jus buah yang sangat yummy. Dengan uang 10,000 Kip, saya mendapatkan segelas besar jus Mangga yang kental dan manis. Dan malam itu, saya berhasil menghabiskan 2 gelas besar jus Mangga!

EVY_3499
aneka macam buah yang dijual di pasar

 

EVY_3497
warna-warni

Di night market ini juga, saya menemukan penjual makanan “all you can eat” yang menawarkan harga sebesar 10,000 Kip untuk semua makanannya. Jadi, sebanyak apapun kita mengambil makanan, mulai dari nasi, sayur, lauk dan buah, baik dimakan di tempat maupun dibungkus, semua dihargai 10,000 Kip untuk 1 transaksi. Tapi, karena harganya yang sangat murah ini, makanan yang dijual pun cepat habis. Malam itu saya hanya melihat beberapa jenis sayur dan gorengan yang tersisa.

Sepulang dari night market, saya mencoba mencicipi martabak yang dijual oleh orang Bangladesh. Rasanya lumayan enak, dan yang pasti halal.

Rencananya malam ini saya dan teman-teman ingin mencoba restoran halal “Nisha” yang ada di Luang Phrabang ini. Namun apa daya, karena sudah kemalaman, dan restorannya ternyata sudah tutup, akhirnya saya harus cukup puas dengan buah dan martabak yang saya beli.

Malam ini saya berusaha untuk istirahat dengan baik, karena besok subuh, saya akan melihat ritual rutin dan khas yang ada di kota ini. Yes, Tak Bat atau yang dikenal dengan nama Alms Giving Ceremony.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pukul 5 pagi, saya mulai berjalan menuju area night market semalam, karena itu adalah rute yang akan dilalui oleh para Monks. Kota Luang Phrabang masih gelap, lampu-lampu masih menyala dengan terangnya, namun jalan-jalannya sudah lumayan ramai. Penduduk lokal yang akan mengikuti ritual Tak Bat berbaur dengan para pelancong yang ingin menyaksikan ritual tersebut.

EVY_3342
suasana subuh di Luang Phrabang, menunggu prosesi Tak Bat

 

EVY_3352
penduduk lokal dan pengunjung mulai mencari lokasi yang strategis untuk mengikuti prosesi Tak bat

 

EVY_3353
langit masih gelap dan lampu-lampu jalan masih menyala

Saya menunggu di pojokan jalan, yang merupakan rute utama dari ritual tersebut. Para penduduk lokal mulai menggelar tikat di sepanjang trotoar yang akan dilewati oleh para Monks, menyiapkan nasi ketan di dalam tempat bambu, dan berbagai makanan lainnya yang akan mereka berikan.

 

EVY_3369
para Monks, selain mendapatkan donasi makanan, mereka juga memberikan donasi bagi masyarakat yang membutuhkan

 

EVY_3378
ingat “Do’s” & “Don’ts” di dalam mengikuti prosesi Tak Bat

 

EVY_3386
berbaris rapi, berjalan dalam diam

 

5 menit menuju pukul 6 pagi, beberapa Monks terlihat mulai keluar dari temple dan berjalan untuk menjalani ritual Tak Bat. Berjalan dalam diam, dalam barisan rapi, sambil menggendong mangkok besar berbahan logam yang ditempatkan pada sebuah tempat anyaman dengan tali panjang yang disandang di bahunya, para Monks mulai menyusuri jalanan yang ada di Kota Luang Phrabang.

EVY_3357
penduduk lokal bersiap untuk memberikan donasi makanan untuk para Monks

 

EVY_3351
nasi ketan yang akan diberikan kepada para Monks, disimpan di tempat khusus ini

 

EVY_3348
pengunjung berbaur dengan penduduk lokal untuk mengikuti prosesi Tak Bat

 

EVY_3374
tertib, hening

Masyarakat dan pelancong yang akan memberikan makanan – biasa disebut almsgivers – akan duduk atau bertumpu pada lututnya saat memberikan makanan yang telah mereka persiapkan. Semua aktivitas ini dilakukan dalam diam. Para Monks berjalan dalam kondisi sambil bermeditasi, dan masyarakat serta pengunjung tersebut menghormati apa yang dilakukan oleh para Monks.

EVY_3395
prosesi Tak Bat berlangsung sampai dengan (kurang lebih) pukul 7 pagi

Beberapa aturan “Do’s” dan “Don’ts” yang harus diperhatikan saat mengikuti Alms Giving:

  1. Jangan menjadikan ritual Alms Giving sebagai obyek foto. Apabila ingin mengabadikan ritual tersebut, usahakan tindakan yang dilakukan tidak mengganggu jalannya ritual (usahakan menggunakan lensa tele agar kegiatan memotret tidal mengganggu ritual mereka);
  2. Bagi pendatang yang hanya ingin melihat ritual tersebut, jagalah jarak agar tidak mengganggu;
  3. Gunakan pakaian yang sopan. Sebaiknya gunakan pakaian yang dapat menutup bagian bahu, perut dan kaki dengan baik. Apabila ingin mengikuti ritual dengan menjadi Almsgivers, lepaskan sepatu anda;
  4. Jangan menggunakan flash kamera saat memotret. Kilatan flash bisa mengganggu konsentrasi para bhiksu dan kesakralan ritual;
  5. Jangan sekali-kali memposisikan kepala kita lebih tinggi dari kepala para bhiksu.

 

Sedangkan apabila kita ingin berpartisipasi sebagai Almsgivers, perhatikan hal-hal berikut ini:

  1. Jangan membeli makanan dari penjual yang berada di sekitar lokasi. Sebaiknya persiapkan makanan itu sendiri, atau mintalah bantuan orang hotel/penginapan untuk menyiapkannya;
  2. Jangan melakukan eye contact dengan para bhiksu;
  3. Jangan menyentuh para bhiksu. Tariklah tangan anda secepatnya setelah meletakkan makanan ke dalam mangkok yang dibawa oleh pada bhiksu;
  4. Tundukkan pandangan untuk menghormati para bhiksu.

Selesai melihat ritual Tak Bat, saya dan teman-teman berinisiatif untuk sedikit meng-explore Kota Luang Phrabang sambil menunggu waktu check out dari penginapan dan meneruskan perjalanan kami. Kami memasuki area Royal Palace Museum, but unfortunately, karena masih pagi, kami hanya bisa berkeliling di halamannya saja. Di seberang Royal Palace Museum, berdiri Mount Phousi, sebuah tempat yang menjadi tujuan pelancong untuk menikmati terbitnya matahari di Luang Phrabang.

EVY_3410
suasana pagi setelah mengikuti prosesi Tak Bat

 

EVY_3414
aktivitas pagi di Luang Phrabang mulai terlihat setelah pelaksanaan prosesi Tak Bat

 

EVY_3413
aneka makanann kecil berbahan dasar nasi ketan yang dijual oleh penduduk lokal

 

EVY_3415
para Monks dan transportasinya

 

EVY_3458
Monks memulai aktivitasnya pagi itu

 

EVY_3457
turis mancanegara pun menikmati suasana pagi di Luang Phrabang

 

EVY_3442
Royal Palace Museum

 

EVY_3445
salah satu bangunan dengan arsitektur yang khas di lingkungan Royal Palace Museum

 

EVY_3432
detil yang ada di salah satu bangunan yang ada di area Royal Palace Museum

 

EVY_3420
salah satu sisi yang dijadikan tempat ibadah bagi penduduk lokal

 

EVY_3434
the details….

Saya sangat menikmasi suasana pagi di Luang Phrabang. Udara yang segar, dengan kondisi lalu lintas yang tidak seberapa ramai serta senyum merekah dari penduduk lokal yang menyapa para pelancong hampir di setiap sudut kota. And honestly, I’m falling in love with Luang Phrabang. Suasana kotanya membuat betah.

EVY_3437
pagi yang masih sepi, dan kursi-kursi yang tersedia di sepanjang jalan

 

EVY_3446
pemandangan ke area Royal Palace Museum dari Mount Phousi

 

EVY_3450
salah satu penduduk lokal yang menjual dagangan di area Mount Phousi

 

EVY_3478
which way to go?

 

EVY_3477
suasana pagi di penyeberangan Sungai Mekong

 

EVY_3473
kapal ferry yang menjadi sara transportasi di Sungai Mekong

Dari beberapa kota di Laos yang sudah saya singgahi, bagi saya, Luang Phrabang adalah kota yang sangat cantik, romantis, dan feels like a home. Next time, saya harus bisa lebih meng-explore kota ini sampai ke sudut-sudutnya.

EVY_3385
ini cemilan dari nasi ketan yang dimasukkan ke dalam bambu, rasanya manis dan pulen

 

IMG_3945
penampakan dalamnya seperti ini…..

Perjalanan saya di Luang Phrabang ditutup dengan memilih beberapa kartu pos yang kemudian saya kirimkan ke beberapa orang teman di Indonesia. Hopefully, they will come to Luang Phrabang, someday!

 

IMG_3949
La Poste! mengunjungi tempat ini di negara orang, rasanya excited!

 

IMG_3947
i sent them to you, with love……

 

 

 

 

 

Vang Vieng, Negeri Dongeng di Balik Pegunungan Karst

EVY_3179

 

Mendengar nama Vang Vieng, otak saya berputar, mencoba mengingat-ingat pelajaran Geografi semasa sekolah dulu. Di mana kah kota ini? Dan tanpa berpikir untuk kedua kalinya, saya mengiyakan ajakan teman-teman untuk mengeksekusi tiket ke Laos, di mana Vang Vieng berada. Dan setelah berkali-kali browsing, hati saya langsung tertambat dengan pemandangan kota Vang Vieng yang saya temukan di Internet. Terbayang sebuah kota mungil di Laos bagian tengah yang berada di pinggiran Sungai Nam Song, dengan ritme kehidupan yang tidak terlalu cepat. I’m falling in love with Vang Vieng.

IMG_3726
gimana bisa nolak untuk jatuh cinta pada pemandangan seperti ini?

 

Penantian selama 1 tahun akhirnya berbuah pengalaman yang tidak akan terlupakan. Setelah mengunjungi Vientiane, saya dan teman-teman akhirnya melanjutkan perjalanan ke Vang Vieng. Karena jumlah kami yang cukup banyak (8 orang), saya dan teman-teman memutuskan untuk menyewa mini van. Biaya sewa mini van dengan rute Vientiane – Vang Vieng sebesar $100. Dan setelah berkendara selama kurang lebih 3-4 jam, akhirnya kami tiba di kota yang berjarak 155 kilometer di sebelah Utara Vientiane.

EVY_3163
perjalanan menuju Vang Vieng

 

 

Sabaidi Vang Vieng

Begitu kaki menjejak di kota Vang Vieng, yang saya rasakan adalah kedamaian. Senyum tulus selalu terlihat di setiap wajah penduduk yang berpapasan dengan kami. Ucapan “sabaidi” terdengar berkali-kali. Sabaidi adalah sapaan “hello” dalam bahasa setempat.

EVY_3193
Sabaidi Vang Vieng

 

EVY_3169
rumah saya 2 hari ini

 

EVY_3166
pemandangan sepanjang Sungai Nam Song dari balkon penginapan (The Elephant Crossing Hotel)

 

EVY_3197
pegunungan karst, kabut putih, sungai, dan pepohonan hijau, menjadi pemandangan cantik di Kota Vang Vieng

 

Sebelum menjelajahi kota ini, saya terlebih dahulu singgah di penginapan yang akan menjadi rumah saya selama 2 hari ke depan. Saya menginap di The Elephant Crossing Hotel dengan rate sebesar Rp 530,000 per malam. Hotel ini terletak di Ban Viengkeo, Vang Vieng Riverfront, Vang Vieng, persis di tepi Sungai Nam Song. Sebenarnya banyak sekali penginapan di Vang Vieng yang memiliki harga lebih murah, tetapi saya menginginkan sebuah kamar dengan pemandangan persis seperti yang saya lihat di dalam sebuah foto hasil browsing di Internet. Kamar dengan pemandangan pegunungan karst di depannya. Yes!

IMG_3673
pemandangan dari balkon kamar hotel…. Vang Vieng, I love u!!

 

Melihat pemandangan dari depan balkon kamar, keinginan untuk berkeliling melihat-lihat kota sempat sedikit terpinggirkan. Mata saya seolah terhipnotis dengan pemandangan sederetan pegunungan karst yang terbentang sejauh mata memandang. Dilengkapi dengan foreground aliran Sungai Nam Song dengan beberapa perahu yang hilir mudik melewatinya. Sawah hijau terbentang tidak ketinggalan ikut menambah indahnya scenery di depan mata saya.

 

IMG_3738
pemandangan Vang Vieng dari halaman hotel

 

EVY_3195
sejauh mata memandang….. pemandangannya bikin semakin jatuh cinta

 

Setelah memuaskan mata dengan pemandangan yang sangat indah, serta berkali-kali menekan tombol shooter di kamera, akhirnya saya melangkahkan kaki keluar dari penginapan. Menapaki jalanan tanah bercampur beton menuju jalan utama kota Vang Vieng.

Di sepanjang jalan utama, berderet-deret toko makanan, pakaian, café, pub, aksesoris, tour & travel, serta penginapan dengan mudah ditemukan. Dan karena Vang Vieng merupakan salah satu kota tujuan backpacker dari seluruh dunia, di sepanjang jalan banyak terlihat turis dari berbagai negara.

Sebenarnya, cara paling asyik mengelilingi Kota Vang Vieng adalah dengan menggunakan sepeda atau motor. Dan di sepanjang jalan, banyak yang menyewakan sepeda dengan harga 20,000 Kip/day atau motor seharga 50,000 Kip/day. Namun, saya memilih untuk berjalan kaki saja, karena lebih santai.

IMG_3750
yang badannya pegel-pegel…. monggo….

 

IMG_3696
suasana malam di Kota Vang Vieng

 

IMG_3698
salah satu restoran halal di Kota Vang Vieng

 

Sore menjelang malam itu saya habiskan dengan berkeliling Vang Vieng. Melihat aktivitas kayaking di sepanjang Sungai Nam Song, mencari tour operator yang menawarkan berbagai paket tour, mencoba masakan halal di Nazim Indian Food yang berada di salah satu ruas jalan, dan menikmati hingar-bingarnya kota dengan berbagai musik yang terdengar dari café dan pub yang banyak terdapat di sepanjang jalanan kota. Dan malam itu ditutup dengan kegiatan berdiam di balkon kamar sambil mengamati bayangan hitam deretan pegunungan karst yang terbentang di sepanjang sisi sungai.

 

IMG_3684
kayaking, sallah satu aktivitas outdoor yang menjadi kegiatan favorit turis di Vang Vieng

 

EVY_3239
menikmati senja di pinggir Sungai Nam Song, juga menjadi kegiatan favorit turis yang berkunjung ke Vang Vieng

 

EVY_3232
dan ini adalah deretan cafe terapung yang banyak terdapat di sepanjang tepian Sungai Nam Song

 

EVY_3234
naik hot air baloon di Vang Vieng? bisa banget……

 

EVY_3229
bersampan di Sungai Nam Song

 

Pagi menjelang, dan begitu membuka mata, di depan saya terbentang sebuah lukisan alam, indah, damai, dan misty. Pegunungan karst coklat hitam kehijauan terbentang, diselimuti kabut putih pekat dan selarik cahaya keemasan dari sisi Timur. Kota Vang Vieng bagaikan negeri dongeng yang dikelilingi oleh benteng kokoh. Dan pagi itu, saya berharap melihat sesosok pangeran berkuda putih yang keluar menerobos pekatnya gumpalan kabut pagi. Sepagi itu, aktivitas di Sungai Nam Song sudah dimulai, sampan-sampan terlihat hilir mudik, sebagian mengangkut warga lokal, dan sebagian lainnya mengangkut para turis yang ingin menikmati suasana pagi dengan menyusuri sungai.

EVY_3176
suasana pagi di Vang Vieng, bak di negeri dongeng

 

EVY_3187
pegunungan karst, sinar mentari pagi, langit biru dan kabut putih, perfect!

 

EVY_3195
siapa yang sanggup menolak keindahan seperti ini??

 

IMG_3703
I’m falling in love…. again.. again… again…

 

IMG_3737
sarapan sehat…..

Outdoor Activity di Vang Vieng

Hari ini, saya dan teman-teman akan mengikuti one day tour di Vang Vieng. Setelah semalam kami akhirnya memutuskan untuk untuk mengambil paket tour seharga 140,000 Kip (setara Rp 230,000) per orang yang meliputi aktivitas cave tubing, trekking ke Elephant Cave, kayaking di sepanjang Sungai Nam Song, dan berenang di Blue Lagoon. Paket tersebut sudah termasuk makan siang dengan menu nasi goreng seafood, pisang dan air mineral, plus guide untuk kegiatan kayaking.

IMG_3751
pagi di Kota Vang Vieng, menuju area Cave Tubing

 

IMG_3752
rute menuju lokasi Cave Tubing melewati terminal Kota Vang Vieng

 

IMG_3753
kota kecil yang tenang… hijau…

 

IMG_3755
dan ini… adalah jalan menuju lokasi Cave Tubing

 

Perjalanan dimulai ketika sebuah tuk tuk berukuran besar menjemput kami di penginapan. Tujuan pertama adalah kegiatan trekking menuju Elephant Cave dan cave tubing. Kami berangkat pukul 9 tepat, menuju lokasi cave tubing. Medan yang dilalui lumayan beragam, mulai dari jalanan aspal mulus, hingga jalanan tanah berbatu yang dipenuhi kubangan air. Setelah menempuh perjalanan sekitar 50 menit, akhirnya kami tiba di lokasi trekking.

EVY_3220
tuk tuk yang mengantarkan kami ber-adventure hari ini

 

EVY_3210
pemandangan di sepanjang jalan menuju lokasi cave tubing

 

IMG_3757
untuk mencapai lokasi cave tubing, kami harus melewati jembatan gantung

 

EVY_3216
jembatan gantung yang harus dilewati untuk mencapai lokasi cave tubing

Turun dari tuk tuk kami disambut dengan pemandangan sawah dan pegunungan hijau. Trekking menuju lokasi tubing memakan waktu sekitar 30 menit. Melewati pematang yang kanan kirinya berupa hamparan sawah menghijau. Meniti sebuah jembatan gantung yang terbentang di atas sungai yang cukup lebar dengan aliran airnya yang cukup deras membelah bebatuan di dasarnya.

EVY_3214
gerbang Thamxang Xayyalam Temple

Setibanya di lokasi cave tubing, suasana sangat ramai. Beberapa bangunan kayu, terbuka, dengan sederetan meja dan bangku panjang terbuat dari kayu tampak penuh oleh pengunjung yang sebagian besar adalah turis dari manca negara. Saya dan teman-teman menempati sebuah meja dan bangku panjang yang berada di bagian tengah, persis di tepi pagar. Dari tempat itu, saya bisa melihat dengan jelas aktivitas yang dilakukan oleh para turis di sepanjang sungai. Berpuluh ban hitam berjejer di atas permukaan sungai, sebagian digunakan oleh para pengunjung untuk bersantai sambil berenang, sekumpulan turis bermain susun ban.

IMG_3778
suasana pondokan di area cave tubiing

 

EVY_3201
mari bermain air…..

 

EVY_3200
selesai ber-cave tubing, bisa dilanjutkan dengan bermain susun ban

 

EVY_3198
my travelmate

 

EVY_3199
selain cave tubing, di sini pengunjung juga bisa ber-flying fox

Kegiatan cave tubing dilakukan secara per kelompok. Setiap kelompok akan bergantian untuk masuk ke dalam gua ditemani oleh beberapa guide. Mengarungi aliran sungai di dalam sebuah ceruk gua yang cukup gelap, hanya cahaya dari headlamp yang kami kenakan yang menjadi sumber penerangan. Setelah sekitar 30 menit bermain air di dalam gua, akhirnya kami ke luar. Di atas meja telah tersedia makan siang dengan menu nasi goreng seafood, pisang dan air mineral.

Setelah bersantap siang, kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi kayaking. Lokasi kayaking tidak terlalu jauh dari tempat cave tubing. Perahu kayak warna-warni terlihat tersebar di pinggiran sungai. Saya mendapat giliran menempati kayak berwarna kuning, yang diisi oleh 3 orang termasuk seorang guide yang duduk di belakang saya. Perjalanan mengarungi Sungai Nam Song dimulai. Aliran sungai membawa kayak yang saya naiki menuju hilir sungai. Air sungai terasa dingin di jemari tangan yang dengan sengaja saya celupkan dari tepian kayak. Pemandangan di sepanjang tepian sungai terlihat beragam. Pepohonan hijau, sawah, rumah penduduk dan bangunan-bangunan kosong bekas pub/café yang telah ditutup dan ditinggalkan pemiliknya. Dulu, Vang Vieng terkenal dengan pub dan café yang banyak terdapat di sepanjang tepian sungai. Namun sekarang, hampir 90% dari bangunan pub dan café tersebut telah berhenti beroperasi. Saat melakukan kayaking, saya hanya menemukan sekitar 3 café yang masih beroperasi. Suara musik hingar-bingar terdengar dari bangunan café, serta sekumpulan turis yang sedang asyik menikmati minuman lokal.

EVY_3218
tuk tuk dan kayak warna-warni

 

IMG_3828
let’s go!

 

IMG_3821
cafe dan pub di sepanjang Sungai Nam Song

Kayaking, mengarungi aliran sungai sepanjang kurang lebih 9 kilometer, kami tempuh dalam waktu sekitar 1.5 jam. Ditemani matahari yang bersinar sangat terang dan keringat yang bercucuran, akhirnya kami berhasil menyelesaikan aktivitas yang sangat menyenangkan ini. Selanjutnya, kami menuju Blue Lagoon.

IMG_3837
tiket masuk ke Blue Lagoon

 

IMG_3843
and jump!!

Perjalanan menuju Blue Lagoon dari end point kayaking hanya berjarak 10 menit dengan berkendara. Lokasi Blue Lagoon ini berjarak sekitar 7 kilometer dari pusat Kota Vang Vieng. Destinasi ini memungkinkan untuk dikunjungi pada pukul 8 pagi hingga 6 sore. Dengan membayar tiket masuk sebesar 10,000 Kip, saya akhirnya bisa menikmati sejuknya air hijau toska di Blue Lagoon. Di siang menjelang sore hari itu, Blue Lagoon penuh dengan pengunjung. Dan yang menjadi spot favorit adalah sebatang pohon yang tumbuh menjorok ke arah laguna, yang menjadi tempat para pengunjung untuk terjun bebas ke tengah-tengah hijau toskanya air laguna. Berganti-ganti pengunjung memanjat pohon tersebut menggunakan tangga bamboo sederhana untuk mencapai ujung dahan yang akan menjadi start point mereka untuk terjun ke tengah-tengah laguna. Dan seketika air hijau toska akan menyembur ke sekeliling, membuat basah pengunjung yang ada di sekitar laguna begitu tubuh salah satu pengunjung menyentuh permukaan airnya. Di bawah dahan pohon tersebut ada sebuah ayunan sederhana yang juga menjadi tempat favorit pengunjung untuk bersantai sambil berendam. Setelah ikut mencoba merasakan dinginnya air laguna, akhirnya saya dan teman-teman beranjak pulang. Selesai sudah perjalanan kami mengelilingi sebagian Kota Vang Vieng.

EVY_3224
menikmati senja dengan mengarungi Sungai Nam Song

 

EVY_3227
ingin menikmati Kota Vang Vieng? naik hot air baloon aja…..

 

 

 

Baluran – Sejumput Rasa Afrika di Ujung Timur Tanah Jawa

EVY_2437

Baluran! Nama Taman Nasional yang terletak di Jl. Raya Situbondo – Banyuwangi, Wonorejo, Banyuputih, sudah 2 tahun ini selalu terbayang-bayang di kepala saya. Hampir setiap tahun saya selalu berencana ke sana, tapi selalu gagal berangkat. Dan akhirnya, alhamdulillah tahun ini mimpi itu terlaksana.

Untuk menuju Banyuwangi, ada beberapa moda angkutan yang bisa ditempuh. Bisa menggunakan pesawat, kereta api ataupun bus. Apabila ingin menggunakan kereta api, ada 2 pilihan, yaitu ekonomi dan eksekutif.

Berikut adalah informasi mengenai moda angkutan menggunakan kereta api yang bisa dipertimbangkan:

Kereta Api Ekonomi

  • KA Gaya Baru Malam Selatan, Stasiun Jakarta Kota – Stasiun Gubeng (Surabaya), 10.30 – 01.25 wib, Rp 104.000;
  • KA Kertajaya, Stasiun Pasar Senen – Stasiun Pasar Turi, 14.00 – 01.30 wib, Rp 165.000.

Setelah tiba di Surabaya, perjalanan dilanjutkan menggunakan kereta api lagi menuju Banyuwangi. Adapun jadual untuk kereta menuju Banyuwangi adalah sebagai berikut:

  • KA Probowangi, Stasiun Surabaya Kota/Semut – Stasiun Surabaya Gubeng – Banyuwangi, 04.15 – 04.25 – 11.41 wib, Rp 56.000;
  • KA Mutiara Timur Pagi, Staiun Surabaya Gubeng – Banyuwangi, 09.00 – 15.20 wib, Rp 120.000 – Rp 200.000;
  • KA Sritanjung, Stasiun Surabaya Gubeng – Banyuwangi, 14.30 – 20.07 wib, Rp 94.000.

 

Kereta Api Bisnis Eksekutif

  • KA Gumarang, Stasiun Pasar Senen – Stasiun Pasar Turi, 15.45 – 03.20 wib, Rp 230.000 – Rp 465.000;
  • KA Bima, Stasiun Gambir – Stasiun Gubeng, 16.45 – 05.49 wib, Rp 380.000 – Rp 530.000;
  • KA Bangunkarta, Stasiun Gambir – Stasiun Gubeng, 15.00 – 03.48 wib, Rp 335.000 – Rp 490.000;
  • KA Argo Bromo Anggrek Pagi, Stasiun Gambir – Stasiun Pasar Turi, 09.30 – 18.30 wib, Rp 345.000 – Rp 510.000;
  • KA Argo Bromo Anggrek Malam, Stasiun Gambir – Stasiun Pasar Turi, 21.30 – 06.30 wib, Rp 345.000 – Rp 510.000;
  • KA Sembrani, Stasiun Gambir – Stasiun Pasar Turi, 19.35 – 05.15 wib, Rp 325.000 – Rp 490.000.

 

IMG_0970
persiapan keliling Banyuwangi

 

Saya memilih menggunakan pesawat saat berangkat ke Banyuwangi. Rutenya adalah Jakarta (CGK) – Surabaya (SUB) – Banyuwangi (BWX). Perjalanan dari Jakarta dimulai pada pukul 05.30 wib, mendarat di Surabaya pukul 07.05 wib, dan transit selama kurang lebih 4 jam 40 menit. Pukul 11.45 wib perjalanan dilanjutkan menuju Bandara Blimbingsari menggunakan pesawat ATR dan tiba di Banyuwangi pada pukul 12.45 wib. Saat itu saya mendapatkan tiket dengan harga Rp 1.791.000 pulang pergi.

 

IMG_0976
dan bertemu sunrise di penerbangan menuju Surabaya

 

IMG_0979
menuju Banyuwangi, ganti pesawat ATR

 

IMG_2027
welcome to Blimbingsari, airport in Banyuwangi

 

Sesampainya di Banyuwangi, tujuan utama saya adalah Taman Nasional Baluran. Namun karena lapar, sebelumnya saya memutuskan untuk mencoba kuliner yang menurut Papi (guide saya selama di Banyuwangi), cukup terkenal di seantero Banyuwangi :D

IMG_1039IMG_1038

Dan akhirnya, mobil yang saya tumpangi memasuki halaman Waroeng Bik Ati. Seporsi nasi rawon, yang menjadi andalannya pun terhidang di atas meja saya. Rasa gurih dari kuah rawon, made my day banget siang itu. Ditambah 2 iris gepuk, hmm……

Perjalanan dilanjutkan. Roda mobil mulai menggilas hitamnya aspal jalanan di Banyuwangi, menuju sisi Utara, menuju Taman Nasional Baluran.

Akhirnya saya tiba di Taman Nasional Baluran. Setelah lapor di pos jaga dan membeli tiket masuk sebesar Rp 10.000, mobil yang saya tumpangi mulai memasuki kawasan taman nasional di ujung Pulau Jawa yang kental dengan nuansa Afrika ini.

 

IMG_1246
tiket masuk ke Taman Nasional Baluran

 

Luas Taman Nasional Baluran kurang lebih 25 ribu hektar dengan berbagai jenis hutan, satwa dan tumbuhan. Setelah memasuki gerbang hingga 5 km ke depan, pengunjung akan disuguhi hutan musim yang lebat. Hutan ini akan terlihat hijau saat musim penghujan, dan berubah menjadi kering, kecoklatan dan rawan kebakaran pada musim kemarau. Kemudian, 3 km ke depan, yang terlihat adalah hutan yang senantiasa hijau, yang terkenal dengan sebutan evergreen. Hutan ini terletak di bagian cekungan, di mana terdapat sungai bawah tanah, yang membuat seluruh pepohonan di sini tidak pernah kekurangan air, dan senantiasa hijau sepanjang tahun.

IMG_1044
sebagian hijau, sebagian meranggas

 

IMG_1045
pemandangan seperti ini yang akan menemani perjalanan mengelilingi Taman Nasional Baluran

 

IMG_1059
“evergreen” – bagian dari Taman Nasional Baluran yang menghijau sepanjang tahun

 

Ratusan pohon-pohon besar di kanan kiri jalan menemani penelusuran saya di Taman Nasional Baluran ini. Cuaca di tengah hari menjelang sore ini cerah, langit biru terlihat dihiasi beberapa jumput awan putih. Jalanan tanah berbatu terlihat berliku-liku begitu mobil yang saya naiki masuk semakin dalam di kawasan taman nasional ini. Pohon-pohon terlihat tinggi menjulang dengan daunnya yang hijau, beberapa meranggas tanpa sehelai daun pun.

Taman Nasional Baluran terkenal dengan hewan-hewan liar yang hidup bebas di sana. Saat saya tiba di Savana Bekol, yang merupakan salah satu highlight dari taman nasional ini, saya hanya berhasil melihat segerombolan Banteng dan hewan-hewan lainnya dari kejauhan. Berbagai suara hewan liar terdengar sahut-menyahut.

EVY_2438
sore itu, saya cukup puas melihat sekawanan hewan liar yang berderet di padang rumput dari kejauhan

 

EVY_2441
pemandangan seperti ini yang sering membuat rasa kangen di hati

 

EVY_2447
sore itu, Baluran terlihat cukup ramai oleh pengunjung

 

EVY_2467
ini kendaraan saya selama menjelajahi Banyuwangi dan sekitarnya

 

EVY_2482
kesorean, alhasil motretnya maksa, dan harus antri! :D

 

EVY_2470
sebagian peninggalan penghuni Baluran

 

Saya menyempatkan diri untuk naik ke menara pengamatan. Dari atas menara besi yang sebagian anak tangga dan lantai kayunya sudah mulai lapuk tergerus waktu, saya melihat indahnya Baluran dari ketinggian. Sejauh mata memandang, hanya gundukan hijau dan coklat yang terlihat.

EVY_2459
ini jalan menuju menara pandang

 

EVY_2458
dan inilah pemandangan yang bisa dilihat dari atas menara

 

EVY_2453
dari ke-4 sisi menara, hijau, kuning, coklat berpadu

 

EVY_2449
langit biru dan padang rumput hijau, hanya 1 kata, INDAH!

 

IMG_1073
pemandangan seperti ini yang selalu bikin kangen

 

EVY_2461
ini musholla kecil yang menjadi tempat istirahat sejenak di sore itu

 

Turun dari menara, saya sempat bertemu dengan seekor Burung Merah Hijau yang keluar dari balik perdu. Hanya sayang, Merak merupakan binatang yang sangat sensitif dan sulit didekati, dan saya hanya berhasil memotretnya dari samping dan belakang.

EVY_2464
kurang cepat motretnya, alhasil blur di mana-mana

 

EVY_2465
ga berhasil motret dari depan dan melihat ekornya mengembang

 

Perjalanan di Baluran berakhir di Pantai Bama. Pantai berpasir halus yang senja itu terlihat sepi, hanya terlihat 2-3 mobil pengunjung di parkiran. Karena hari sudah menjelang gelap, saya tidak berlama-lama di pantai. Perjalanan harus dilanjutkan. Tengah malam nanti saya akan mencoba untuk melihat blue fire di Kawah Ijen. Semoga cuaca bersahabat.

EVY_2475
destinasi terakhir di hari itu

 

EVY_2478
Pantai Bama senja itu

 

EVY_2481
menikmati senja sambil duduk di ayunan ini

 

EVY_2472
udah mau pulang, baru kebaca tulisan ini :D

 

 

Serenceng Dongeng di Tepi Sungai Thames

IMG_0901

 

Ariel: “Haaa, itu dua pangeran Bantam yang bikin seantero kota demam!
Sungguh beda dari lakon tokohmu, Caliban, mereka tak bertaring pun berbulu! Yang dibayangkan Shakespeare tentang orang Timur, huh, ternyata ngawur!”

Caliban: “Sebaliknya, mereka nampak beradab. Lihat berdirinya — sungguh tegap! Dari ujung sorban hingga ujung kasut, sutra Shantung membalut Pisau kesatria yang disebut keris? Bertahta berlian, safir, dan amethyst!” (diambil dari cuplikan percakapan pentas Serenceng Dongeng di Tepi Sungai Thames by Teater Koma)

 

IMG_0834
Sungai Thames, 29 April 1702

 

IMG_0840
nona muda, menunggu perahu

 

IMG_0837
dan tukang perahu pun melintasi di depan Pelabuhan Sandar Eriht

 

IMG_0851
Pelabuhan Sandar Erith

 

29 April 1702, Pelabuhan Sandar Erith

Hari masih pagi. Perahu-perahu hilir mudik di sepanjang Sungai Thames – sungai sepanjang 346 km yang membelah Kota London. Seorang wanita muda, cantik, terlihat bingung di tepi dermaga. Sebuah perahu mendekat dan menawarkan tumpangan. Akan ke mana kah wanita itu pergi? Ternyata wanita muda itu ingin pergi ke Bantam! Sebuah negeri nun jauh di seberang samudra.

 

IMG_0843
“Akan ke manakah nona muda?”

 

IMG_0844
“Bantam, apakah nona muda yakin akan ke sana?”

 

Tukang perahu berusaha mencari tahu, apa yang menjadi alasan wanita muda ini ingin pergi ke Bantam? Ternyata… kisah kemakmuran dan kejayaan Kesultanan Bantam telah sampai ke dataran Eropa. Bagaimana kesultanan itu berhasil memakmurkan rakyatnya sehingga banyak Negara-negara lain yang berusaha menjalin kerjasama dengannya.

 

IMG_0845
“Mengapa nona muda sangat ingin ke Bantam?”

 

IMG_0846
“Aku ingin mengunjungi negeri yang kaya dan makmur di seberang lautan sana, tolong antarkan”

 

IMG_0850IMG_0849

 

IMG_0852
“Nona lihat lah, di sana, ada kapal duta besar utusan Kerajaan bantam yang sedang bersandar. Nona lihat mereka?”

 

Mendengar keinginan sang wanita muda, tukang perahu pun bercerita, bagaimana jayanya Kesultanan Bantam tersebut.

 

IMG_0862
“Pada saat itu, Banten merupakan sebuah kesultanan yang sangat jaya…..”

 

London, 29 April – 5 Juli 1682

Kegemparan terjadi di London! Sebuah kapal besar dari Kesultanan Bantam (Banten) berlabuh dan turunlah dua utusan dari Sultan Banten. Mereka adalah (1) Pangeran Kyai Ngabehi Naya Wipraya dan (2) Pangeran Kyai Ngabehi Jaya Sedana. Mereka menyampaikan niat untuk bersekutu dengan Inggris di timur-jauh untuk bersama-sama melawan VOC Olanda. Rombongan ini diterima oleh Raja Karel II di Istana Windsor. Kedua utusan Banten tersebut kemudian dianugrahi gelar kehormatan “Sir Abdul” dan “Sir Achmet”.

 

IMG_0311
Kapal inilah yang mengantarkan rombongan Kesultanan Bantam hingga ke London

 

IMG_0855
The King!

 

IMG_0861
Yeeeaaayyyy!!!

 

Kedua duta besar itu, membangun hubungan diplomatik dengan berkunjung ke pembesar-pembesar kerajaan dan maskapai perdagangan Inggris – yang memiliki kantor perwakilan dan gudang di Banten, melakukan kunjungan ke gedung pusat pemerintahan kerajaan di Westminter, menyaksikan komedi “The Tempst of Shakespeare”, serta berjalan-jalan menyusuri Sungai Thames.

Utusan dari Kesultanan Banten membawa tak kurang dari 200 kantong lada serta intan permata, dan 33 pelayan sebagai hadiah untuk Raja Britania. Dan, Raja Charles II bahkan hingga dua kali menjamu rombongan dari Kerajaan Banten di istananya!

 

IMG_0863
I am the King!

 

IMG_0864
And, I am Chef

 

IMG_0865
Ouch, banyak sekali tagihannya….

 

Kedatangan dua pangeran utusan Kesultanan Banten tersebut membuat London heboh. Ketenaran akan kejayaan dan kekayaan Banten membuat banyak banyak cerita di London, hingga banyak yang ingin datang dan melihat sendiri kejayaan Banten yang terletak nun jauh di seberang lautan.

 

IMG_0862
Rombongan Kesultanan Bantam membawa tak kurang 200 kantong lada serta intan permata

 

IMG_0872
Di sinilah pertunjukan William Shakespeare diadakan, bercerita tentang betapa jayanya Kerajaan Bantam

 

Kejayaan Banten a.k.a Bantam juga dikisahkan dalam beberapa karya sastra Eropa klasik:

  • “Agon, Sulthan van Bantam” karya Onno Zwier van Haren (1713-1779);
  • “Love for Love” karya William Congreve (1695);
  • “The Court of the King of Bantam” karya Aphra Johnson Behn(1698).

 

IMG_0874
Shakespeare menggambarkan utusan dari Bantam seperti Caliban

 

IMG_0875
Caliban yang ini hobinya selfie :D

 

IMG_0883
Terjadi perang antara Sultan Tua dan Sultan Muda

 

Banten, 1682-1684

Sementara itu, di Banten sendiri sebenarnya sedang terjadi perang dingin antara ayah dan anak. Sultan Ageng Tirtayasa, raja Banten pada saat itu, yang berhasil membawa Banten pada kejayaannya, yang berhasil menjalin hubungan mesra dengan Inggris, Perancis, dan Denmark, serta bekerjasama dengan Kesultanan Makasar, Aceh, Turki dan Mekkah, sedang mengalami hubungan yang sulit dengan anaknya, Sultan Haji (Sultan Abdul Kahar Aboen Nassar).

Di bawah kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa, Kota Banten mengalami perkembangan yang pesat. Kanal-kanal yang ada diperlebar dan didalamkan sehingga kapal dagang dapat berlabuh. Armada laut yang modern, hingga swasembada beras karena sawah dan irigasi yang digarap dengan sangat baik. Banten mulai memperkenalkan koin mas sebagai alat untuk berjual beli. Benteng di Banten diperkuat dengan bastion, yang dilengkapi dengan 66 meriam!

 

IMG_0885
Sultan Tua

 

IMG_0886
Sultan muda

 

Kejayaan Banten akhirnya terkoyak dengan terjadinya perang antara Sultan Tua (Sultan Ageng Tirtayasa) yang jengah dengan kelakuan Sultan Muda (Sultan Haji a.k.a Sultan Abdul Kahar Aboen Nassar). Dan akhirnya perang antara bapak dan anak pun terjadi. Sultan Ageng Tirtayasa dibantu oleh Syekh Yusuf dari Makasar melawan Sultan Haji yang dibantu sepenuhnya oleh VOC Olanda. Tentu saja bantuan dari VOC itu tidak gratis, syarat yang diberikan adalah Sultan Haji harus memberikan Lampung, sebagai penghasil lada kepada VOC. Sultan Ageng terdesak dan melarikan diri, Istana Tirtayasa dikuasai oleh Sultan Haji dan VOC.

 

IMG_0889
Sultan Ageng tidak bisa menandingin Sultan muda, dan akhirnya melarikan diri

 

1683 – 1684, terjadi pengejaran besar-besaran terhadap Sultan Ageng. Hingga akhirnya pada 14 Maret 1683, Sultan Ageng tertangkap dan ditahan di Batavia. Kemudian pada Mei 1683, giliran Syekh Yusuf yang tertangkap, dan setahun kemudian Pangeran Purbaya juga tertangkap.

1684, Banten menandatangani perjanjian damai dengan VOC Olanda, menjadi awal monopoli VOC dan hilangnya kedaulatan Banten.

65ff002f6296043df707ecee151d7b26
Wilayah Kesultanan Banten, terbentang hingga ke Lampung (sumber: https://edu.hstry.co/timeline/bandar-bantam-nan-kosmopolitan)