Year-End Trip #8 – Danau Ngade, Keindahan Danau Air Tawar yang Bersanding dengan Lautan

EVY_5334

Berkunjung ke Kota Ternate, akan ada 1 pemandangan unik di mana sebuah danau bersanding dengan lautan. Jarak yang memisahkan keduanya kurang dari 1 km, namun air yang ada di danau tersebut tetaplah tawar. Ya, Danau Ngade atau yang juga dikenal sebagai Danau Laguna. Sebuah danau yang berada di Desa Ngade, Kelurahan Fitu, Kota Ternate, Maluku Utara. Sekitar 18 km dari Bandara Sultan Babullah dan dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 40 menit dengan menggunakan kendaraan beroda 2 atau 4. Untuk pengunjung yang ingin menyewa mobil, harga sewa dari pusat Kota Ternate ke Danau Ngade sekitar Rp 100.000 s/d Rp 150.000 untuk 1 kali perjalanan.

 

IMG_9559
pemandangan Danau Ngade dengan background Pulau Maitara dan Pulau Tidore

Danau dengan airnya berwarna hijau, dikelilingi dengan rapatnya pepohonan rindang yang selalu menghijau, berdampingan dengan birunya laut di perairan Maluku Utara, menyajikan pemandangan yang sungguh indah. Sepertinya, seluruh alam di Indonesia Timur ini diciptakan saat Tuhan sedang jatuh cinta. Indah, cantik, dan selalu mempesona. Danau ini juga berhadapan langsung dengan Pulau Maitara dan Pulau Tidore di kejauhan. Bisa dibayangkan betapa indah pemandangan yang bisa didapat dengan komposisi seperti itu.

 

EVY_5341
ini adalah titik pandang Danau Ngade

Danau Ngade ini dimanfaatkan oleh penduduk sekitarnya untuk membudidayakan ikan air tawar seperti Nila dan Gurame. Karena, walaupun letaknya yang sangat dekat dengan laut, namun air di danau ini tetaplah tawar. Selain itu, danau ini juga dimanfaatkan untuk pengairan bagi perkebunan milik penduduk yang ada di sekitar danau.

 

IMG_9564
titik pandang ini merupakan spot favorit bagi pengunjung yang ingin mengabadikan keindahan Danau Ngade

Saya tiba di lokasi Danau Ngade menjelang senja, suasana sangat tenang. Di kejauhan, tampak Pulau Maitara dan Pulau Tidore mulai diselimuti kabut. Sementara di sisi sebelah Barat, langit mulai memerah jingga dan bola emas raksasa semakin mendekati garis cakrawala. Sinar merah jingga mengintip dan membias indah di sela-sela daun pohon Pisang yang banyak terdapat di sekitar titik pandang Danau Ngade. Sinarnya terasa lembut dan hangat menyentuh kulit.

 

EVY_5343
senja di Danau Ngade juga sangat indah

Untuk menikmati pemandangan Danau Ngade, masyarakat setempat telah membuat sebuah titik pandang berupa jembatan kayu. Dari titik ini, pemandangan Danau Ngade, Pulau Maitara dan Pulau Tidore terlihat sangat jelas dan membentuk komposisi yang sangat cantik. Di lokasi titik pandang itu terdapat beberapa point yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk berfoto.

 

EVY_5339
siluet dedaunan tampak semakin cantik ditemani cahaya merah jingga dari ufuk Barat

Karena hari semakin gelap, akhirnya saya harus meninggalkan titik pandang di danau yang sangat indah itu. Ditemani sinar merah jingga sang surya yang semakin memudar. Semoga keindahan alam di sekitar Danau Ngade tetap terjaga, sehingga bisa semakin dikenal dan dinikmati oleh banyak orang.

 

EVY_5344
terima kasih terang, selamat datang gelap

Year-End Trip #7 – Benteng Kastela, Saksi Kelamnya Perjuangan Rakyat Ternate

EVY_5285

Sebuah tugu Cengkeh setinggi 5 meter, berdiri tegak di atas sebuah platform beton berukuran 4 x 4 meter setinggi 4 meter yang sudah kusam di dalam sebuah halaman yang penuh reruntuhan bata dan tampak tidak terpelihara. Lokasinya persis di belakang sebuah masjid yang saya singgahi ketika berkeliling di Kota Ternate. Sebuah pintu besi hijau tampak menempel erat dengan gerbang putih yang bertuliskan “Jou Se Ngofa Ngare” dan sebuah lambang burung Garuda berkepala dua (Goheba Madopolo Romdidi) di atasnya. Tugu Cengkeh tersebut dibangun pada tahun 1994 sebagai peringatan atas pembunuhan Sultan Khairun Jamil oleh Portugis dan perlawanan rakyat Ternate di dalam mengusir Portugis dari bumi Ternate.

 

EVY_5283
Tugu Cengkeh, yang menjadi tanda lokasi Benteng Kastela

 

IMG_9545
relief yang menceritakan pembunuhan terhadap Sultan Khairun Jamil oleh antonio Pimental

 

IMG_9550
relief yang menceritakan perlawanan rakyat Ternate di bawah pimpinan Sultan Baabullah

 

IMG_9546
relief pasukan Portugis menyerah karena taktik embargo yang dilakukan oleh Sultan Baabullah dan pasukannya

 

IMG_9548
relief yang menceritakan hengkangnya pasukan Portugis dari bumi Ternate

Di sekeliling platform beton terlihat tulisan yang mengidentifikasi tanggal: 28 Februari 1570 (relief tentang pembunuhan Sultan Khairun Jamil), 28 Februari 1570 (relief tentang dimulainya perlawanan oleh Sultan Baabullah), 26 Desember 1575 (relief tentang bangsa Portugis menyerah kepada pasukan Sultan Baabullah), dan 31 Desember 1575 (relief tentang hengkangnya Portugis dari bumi Ternate). Tugu Cengkeh tersebut adalah penanda dari Benteng Kastela, sebuah benteng peninggalan bangsa Portugis yang turut menyumbang cerita kelam bagi sejarah Ternate.

 

EVY_5287
sejarah singkat Benteng Kastela yang masih bisa dilihat di dekat pintu masuk kawasan benteng

Benteng yang terletak di Jalan Raya Benteng Kastela Santo Paulo, kelurahan Kastela, kecamatan Pulau Ternate, Kota Ternate, Maluku Utara ini berada di pesisir Barat Daya pulau Ternate, sekitar 12 km dari pusat Kota Ternate. Benteng seluas 2.724 meter persegi ini (yang saat ini tersisa tidak sampai setengah dari luas awalnya) merupakan peninggalan Portugis ini dikenal dengan nama Benteng Gam Lamo, berbentuk persegi empat, terbuat dari batu gunung dan batu kapur. Merupakan bangunan benteng kolonial pertama yang dibangun di Kepulauan Maluku, Indonesia. Pembangunan benteng ini memakan waktu selama kurang lebih 20 tahun karena pengerjaannya dilakukan secara bertahap. Pembangunan tahap awal benteng ini dilakukan pada tahun 1521 oleh Antonio de Brito. Tetapi  pengerjaan benteng terhenti dengan kembalinya de Brito ke Gowa (India Barat), namun sebelum tiba di sana, ia terbunuh di dalam sebuah pertempuran di Aceh. Pembangunan benteng kemudian diteruskan oleh Garcia Henriquez pada tahun 1525. Dan di tahun 1530 pembangunan diteruskan oleh Gonsalo Pereira. Penyelesaian pekerjaan pembangunan benteng dilakukan oleh Jorge de Castro di tahun 1540.

 

EVY_5288
reruntuhan Benteng Kastela yang masih tersisa

Pada awalnya benteng ini diberi nama Nostra Senhora de Rosario yang artinya wanita cantik berkalung bunga mawar. Namun kemudian penamaan benteng ini pun dibuat dalam beberapa bahasa, yaitu São João Batista (Portugis), Ciudad del Rosario (Spanyol) atau Gammalamma (Ternate dan Belanda), namun masyarakat lebih mengenalnya dengan nama Benteng Kastela.

Hingga tahun 1569, Benteng Kastela (Gam Lamo) merupakan satu-satunya benteng kolonial yang berdiri di luar Malaka. Setelah itu barulah dibangun benteng-benteng lain di Ambon, Jailolo, Moro (Tolo dan Samafo), Banda dan Makasar. Namun benteng-benteng yang dibangun itu lebih menyerupai rumah kembar ketimbang benteng yang sesungguhnya.

 

EVY_5289
taman yang ada di kawasan benteng

Benteng Kastela menyimpan cerita kelam bagi rakyat Ternate. Di benteng inilah pada tanggal 28 Februari 1570 terjadi peristiwa pembunuhan Sultan Khairun Jamil oleh Antonio Pimental yang menerima perintah dari Diego Lopez de Mesquita (Gubernur Portugis ke-18) yang dilakukan melalui tipu muslihat. Padahal, sehari sebelumnya, yaitu pada tangal 27 Februari 1570, Sultan Khairun Jamil dan Antonio Pimental baru saja melakukan perjanjian untuk saling menjaga perdamaian di Moloku Kie Raha. Pembunuhan ini memicu pergolakan di tanah Ternate. Sultan Baabullah, yang merupakan pewaris tahta Kesultanan Ternate menuntut agar Diego Lopez de Mesquita diajukan ke depan pengadilan dan dihukum atas tindakannya. Dan ketika tuntutan itu ditolak, terjadi perlawanan dari rakyat Ternate. Di bawah pimpinan Sultan Baabullah, rakyat Ternate kemudian mengepung Benteng Kastela selama 4 tahun (1574 – 1578) dan memberikan ultimatum agar Portugis segera meninggalkan tanah Ternate.

 

EVY_5290
benteng kolonial pertama yang berdiri di luar kawasan Melaka itu sekarang tinggal reruntuhannya saja

Pengepungan yang dilakukan oleh Sultan Baabullah dan rakyat Ternate menyebabkan terjadinya wabah penyakit dan kelaparan di lingkungan benteng sehingga kemudian Portugis melakukan evakuasi besar-besaran dari Ternate. Awalnya mereka transit ke Tidore dan selanjutnya terus ke Goa. Dalam kurun waktu pengepungan selama 4 tahun itu, tercatat ada 20 Gubernur Portugis yang mengisi benteng tersebut. Ketika bala bantuan Portugis dari Gowa dan Malaka tiba di Ternate, semua sudah terlambat. Armada Portugis hanya bisa melihat puing-puing bekas kekuasaan Portugis di Ternate.

 

EVY_5291
sisa-sisa reruntuhan Benteng Kastela yang masih bisa ditemukan

Setelah kekalahan Portugis, Benteng Kastela dijadikan pusat kekuatan perang Kesultanan Ternate yang dipimpin oleh Sultan Baabullah dan Kapita Lao. Area di sekitar benteng menjadi pusat kekuatan laut Kesultanan Ternate. Dari situlah Sultan Baabullah melakukan berbagai perjalanan menuju Banggai, Tambuko, Tibora (di Pulau Panggasan) dan Buton. Benteng Kastela berada di bawah kekuasaan Kesultanan Ternate selama 30 tahun hingga datangnya Spanyol di bawah pimpinan Don Pedro Bravo da Chunha di tahun 1606. Kejadian ini terjadi di masa pemerintahan Sultan Said Barakat (selanjutnya Sultan Said Barakat diasingkan ke Manila hingga wafat di sana).

 

EVY_5292
yang tersisa dari Benteng Kastela hanyalah reruntuhan bastiong dan menaranya

Tahun 1610, benteng ditempati oleh 200 orang Spanyol, 90 papangers (salah satu suku dari Filipina), 30 keluarga Portugis, 70-80 tukang yang berasal dari China, serta 50-60 orang Kristen Ternate. Pada tahun 1627, benteng ini memiliki kekuatan sebanyak 38 meriam, dan 1 kompi serdadu Spanyol yang berjumlah 60-65 orang. Spanyol menguasai Benteng Kastela hingga tahun 1660. Ketidakmampuan Spanyol bersaing dengan VOC di dalam perdagangan rempah, akhirnya membuat otoritas Spanyol di Manila kemudian menarik kembali pasukannya dari kawasan Maluku di tahun 1662 yang kemudian diberdayakan untuk menghadapi penyerbuan besar-besara dari bajak laut Tiongkok yang akan merebut kota Manila. Hengkangnya Spanyol ditandai dengan penghancuran benteng ini, sehingga hanya tinggal reruntuhan bastiong dan menaranya saja.

Saat ini, yang bisa ditemui hanyalah reruntuhan Benteng Kastela yang tampak kurang terurus. Tugu Cengkeh dan relief yang ada penuh dengan grafity tidak jelas yang ditorehkan oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Walaupun Benteng Kastela sekarang hanyalah tinggal puing-puing dan tumpukan reruntuhan, namun semangat Perjuangan rakyat Ternate yang tampak di relief masih terasa menggelora.

Year-End Trip #6 – Rekonstruksi Background Uang Kertas Rp 1.000 di Desa Fitu

EVY_5297

Pernah memperhatikan background yang ada di uang kertas Rp 1.000 edisi tahun 2013? Gambar 2 pulau yang saling berdekatan dengan sebuah perahu yang melintas di depannya. Dulu, saya selalu bertanya-tanya apakah itu foto real atau hanya lukisan imajinasi? Dan setelah berkali-kali browsing di Internet, akhirnya saya tahu bahwa itu adalah foto real. Dan sekarang, saya akan mengunjungi lokasi itu untuk melihat dengan mata kepala sendiri pemandangan indah yang ada di balik uang kertas Rp 1.000 itu.

 

EVY_5299
suasana sore di Desa Fitu

 

EVY_5302-2
kapal-kapal nelayan yang banyak tertambat di sepanjang Pantai Fitu

Ya, saya akan mengunjungi Desa Fitu, sebuah desa yang terletak di kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate, Maluku Utara, persis di pinggir pantai yang menghadap ke Pulau Maitara dan Pulau Tidore. Desa ini dapat ditempuh menggunakan kendaraan roda 2 ataupun 4 sekitar 15-20 menit dari pusat Kota Ternate.  Desa Fitu, berbatasan dengan Desa Ngade di sebelah Timur dan Desa Gambesi di sisi Barat.

 

EVY_5314
suasana laut yang tenang di sore itu

 

EVY_5315
aktivitas masyarakat di sore itu

Sore itu suasana di Desa Fitu begitu tenang. Sinar matahari mulai terasa lembut di kulit, walau masih terlihat sedikit terang. Beberapa perahu terlihat hilir-mudik di sekitar pantai. Di kejauhan, Pulau Maitara dan Tidore terlihat jelas. Aktivitas masyarakat yang sedang melaut, mencari ikan dan membersihkan perahunya menambah sisi “kehidupan” dari pemandangan indah di sore itu.

 

IMG_9554
aktivitas beberapa orang penduduk di penghujung hari itu

 

EVY_5322
menunggu malam sambil membersihkan perahu

Bersabar menunggu moment matahari kembali ke peraduannya sembari menikmati indahnya Pulau Maitara dan Tidore di kejauhan, membuat sisa hari terasa begitu sempurna. Saya seperti tidak mau beranjak dari bibir pantai, menikmati hangatnya sentuhan cahaya matahari sore yang mulai terasa lembut membelai kulit, ditemani angin yang bertiup tipis, dan sayup-sayup suara kecipak air laut yang menyapa daratan. Sementara di sisi Barat, langit semakin berwarna merah jingga keemasan. Pantulannya di permukaan laut membiaskan aneka warna yang menambah cantik suasana sore itu di Desa Fitu.

 

EVY_5305
merah, kuning, jingga, hijau, biru

 

IMG_9552
officially, reconstruction done!

Mencoba mengabadikan suasana senja yang begitu indah, sembari merekonstruksi background pemandangan yang ada di balik uang kertas pecahan Rp 1.000 edisi tahun 2013 ditambah kehadiran sahabat-sahabat terbaik, bahagianya sempurna!

 

EVY_5317
bersama kalian, senja ini sempurna!

 

EVY_5324
yang motret, tetap motret….

 

EVY_5326
capture terus……

Mendapatkan beberapa scene indahnya Maitara dan Tidore di dalam 1 frame serta siluet aktivitas masyarakat di tepian laut cukuplah bagi saya. Selanjutnya, saya hanya ingin menikmati moment jingga keemasan ini hanya dengan diam, merekam seluruh keindahannya di dalam ingatan dan hati. Hi Fitu, you make me fall in love.

 

IMG_9556
perfect!

Year-End Trip #5 – Tolire dan Legendanya

EVY_5274

Matahari siang mulai beranjak semakin rendah mendekati garis horizon, perjalanan berlanjut menuju Danau Tolire. Danau dengan berbagai kisah yang masih menimbulkan banyak tanda tanya dan memerlukan jawaban. Danau Tolire terletak sekitar 10 km dari pusat Kota Ternate, di kaki Gunung Gamalama, gunung api tertinggi di Maluku Utara. Danau ini bentuknya unik dan penuh dengan cerita yang melegenda. Danau ini berjumlah 2, biasa masyarakat menyebutnya Danau Tolire Besar dan Danau Tolire Kecil, letaknya hanya terpisah jarak sekitar 200 meter.

 

EVY_5281
Danau Tolire Besar

 

EVY_5277
airnya yang hijau pekat, seolah menyembunyikan apa yang ada di dasarnya

Bentuk Danau Tolire Besar bak sebuah wadah raksasa yang dikelilingi oleh pepohonan hijau yang cukup rapat. Air danau berwarna hijau pekat, tenang, bertekstur kecil karena hembusan angin yang menyentuh permukaannya membuat sebuah pola unik yang seragam. Air di danau ini adalah air tawar dan dihuni oleh berbagai macam ikan. Namun, masyarakat setempat tidak ada yang berani menangkap atau mandi di danau itu, karena mereka percaya bahwa danau tersebut dihuni oleh banyak siluman Buaya.

 

EVY_5279
Gunung Gamalama yang menjadi latar belakang Danau Tolire

 

EVY_5280
pepohonan hijau, rapat, seperti pagar di sekeliling danau

Keunikan dari Danau Tolire ini adalah, apabila kita melemparkan batu ke arah tengah danau, sekuat apapun lemparan itu, batu yang dilemparkan tidak akan pernah menyentuh permukaan air di tengah danau. Batu yang dilemparkan seolah-olah menghilang begitu saja, atau jatuh di antara pepohonan yang tumbuh rapat di bagian pinggir danau. Saat tiba di danau tersebut, saya ingin mencoba merasakan sensasi melemparkan batu mengarah tengah danau dan membuktikan mitos yang beredar. Dan hasilnya, dari sekian banyak batu yang saya lemparkan, tidak ada satu pun yang terlihat menyentuh permukaan air danau. Entah ke mana semua batu yang saya lemparkan itu?

 

IMG_9538
cobalah untuk melempar batu ke arah tengah danau, dan lihat, apakah batu yang dilemparkan berhasil menyentuh permukaan airnya?

Mitos yang bernuansa mistis tidak hanya itu. Dipercaya bahwa asal-muasal Danau Tolire Besar dan Danau Tolire Kecil adalah karena terjadinya gempa bumi dahsyat yang disebabkan oleh hubungan asusila antara bapak dan anak gadisnya di sebuah desa yang dulu ada di situ. Hubungan asusila yang akhirnya berbuah bencana dahsyat dari Yang Maha Kuasa. Di mana lokasi sang ayah menjadi Danau Tolire Besar dan lokasi sang anak menjadi Danau Tolire Kecil.

 

EVY_5282
jalanan menuju lokasi Danau Tolire

Namun, terlepas dari semua legenda yang berkembang di masyarakat tersebut, tidak bisa dipungkiri bahwa keindahan Danau Tolire akan menghipnotis siapa pun yang datang ke sana. Hamparan danau seluas 5 hektar dengan kedalaman mencapai 50 meter ini sangat indah dan menarik. Berpadu dengan gagahnya Gunung Gamalama yang terlihat jelas di kejauhan.