Serenceng Dongeng di Tepi Sungai Thames

IMG_0901

 

Ariel: “Haaa, itu dua pangeran Bantam yang bikin seantero kota demam!
Sungguh beda dari lakon tokohmu, Caliban, mereka tak bertaring pun berbulu! Yang dibayangkan Shakespeare tentang orang Timur, huh, ternyata ngawur!”

Caliban: “Sebaliknya, mereka nampak beradab. Lihat berdirinya — sungguh tegap! Dari ujung sorban hingga ujung kasut, sutra Shantung membalut Pisau kesatria yang disebut keris? Bertahta berlian, safir, dan amethyst!” (diambil dari cuplikan percakapan pentas Serenceng Dongeng di Tepi Sungai Thames by Teater Koma)

 

IMG_0834
Sungai Thames, 29 April 1702

 

IMG_0840
nona muda, menunggu perahu

 

IMG_0837
dan tukang perahu pun melintasi di depan Pelabuhan Sandar Eriht

 

IMG_0851
Pelabuhan Sandar Erith

 

29 April 1702, Pelabuhan Sandar Erith

Hari masih pagi. Perahu-perahu hilir mudik di sepanjang Sungai Thames – sungai sepanjang 346 km yang membelah Kota London. Seorang wanita muda, cantik, terlihat bingung di tepi dermaga. Sebuah perahu mendekat dan menawarkan tumpangan. Akan ke mana kah wanita itu pergi? Ternyata wanita muda itu ingin pergi ke Bantam! Sebuah negeri nun jauh di seberang samudra.

 

IMG_0843
“Akan ke manakah nona muda?”

 

IMG_0844
“Bantam, apakah nona muda yakin akan ke sana?”

 

Tukang perahu berusaha mencari tahu, apa yang menjadi alasan wanita muda ini ingin pergi ke Bantam? Ternyata… kisah kemakmuran dan kejayaan Kesultanan Bantam telah sampai ke dataran Eropa. Bagaimana kesultanan itu berhasil memakmurkan rakyatnya sehingga banyak Negara-negara lain yang berusaha menjalin kerjasama dengannya.

 

IMG_0845
“Mengapa nona muda sangat ingin ke Bantam?”

 

IMG_0846
“Aku ingin mengunjungi negeri yang kaya dan makmur di seberang lautan sana, tolong antarkan”

 

IMG_0850IMG_0849

 

IMG_0852
“Nona lihat lah, di sana, ada kapal duta besar utusan Kerajaan bantam yang sedang bersandar. Nona lihat mereka?”

 

Mendengar keinginan sang wanita muda, tukang perahu pun bercerita, bagaimana jayanya Kesultanan Bantam tersebut.

 

IMG_0862
“Pada saat itu, Banten merupakan sebuah kesultanan yang sangat jaya…..”

 

London, 29 April – 5 Juli 1682

Kegemparan terjadi di London! Sebuah kapal besar dari Kesultanan Bantam (Banten) berlabuh dan turunlah dua utusan dari Sultan Banten. Mereka adalah (1) Pangeran Kyai Ngabehi Naya Wipraya dan (2) Pangeran Kyai Ngabehi Jaya Sedana. Mereka menyampaikan niat untuk bersekutu dengan Inggris di timur-jauh untuk bersama-sama melawan VOC Olanda. Rombongan ini diterima oleh Raja Karel II di Istana Windsor. Kedua utusan Banten tersebut kemudian dianugrahi gelar kehormatan “Sir Abdul” dan “Sir Achmet”.

 

IMG_0311
Kapal inilah yang mengantarkan rombongan Kesultanan Bantam hingga ke London

 

IMG_0855
The King!

 

IMG_0861
Yeeeaaayyyy!!!

 

Kedua duta besar itu, membangun hubungan diplomatik dengan berkunjung ke pembesar-pembesar kerajaan dan maskapai perdagangan Inggris – yang memiliki kantor perwakilan dan gudang di Banten, melakukan kunjungan ke gedung pusat pemerintahan kerajaan di Westminter, menyaksikan komedi “The Tempst of Shakespeare”, serta berjalan-jalan menyusuri Sungai Thames.

Utusan dari Kesultanan Banten membawa tak kurang dari 200 kantong lada serta intan permata, dan 33 pelayan sebagai hadiah untuk Raja Britania. Dan, Raja Charles II bahkan hingga dua kali menjamu rombongan dari Kerajaan Banten di istananya!

 

IMG_0863
I am the King!

 

IMG_0864
And, I am Chef

 

IMG_0865
Ouch, banyak sekali tagihannya….

 

Kedatangan dua pangeran utusan Kesultanan Banten tersebut membuat London heboh. Ketenaran akan kejayaan dan kekayaan Banten membuat banyak banyak cerita di London, hingga banyak yang ingin datang dan melihat sendiri kejayaan Banten yang terletak nun jauh di seberang lautan.

 

IMG_0862
Rombongan Kesultanan Bantam membawa tak kurang 200 kantong lada serta intan permata

 

IMG_0872
Di sinilah pertunjukan William Shakespeare diadakan, bercerita tentang betapa jayanya Kerajaan Bantam

 

Kejayaan Banten a.k.a Bantam juga dikisahkan dalam beberapa karya sastra Eropa klasik:

  • “Agon, Sulthan van Bantam” karya Onno Zwier van Haren (1713-1779);
  • “Love for Love” karya William Congreve (1695);
  • “The Court of the King of Bantam” karya Aphra Johnson Behn(1698).

 

IMG_0874
Shakespeare menggambarkan utusan dari Bantam seperti Caliban

 

IMG_0875
Caliban yang ini hobinya selfie :D

 

IMG_0883
Terjadi perang antara Sultan Tua dan Sultan Muda

 

Banten, 1682-1684

Sementara itu, di Banten sendiri sebenarnya sedang terjadi perang dingin antara ayah dan anak. Sultan Ageng Tirtayasa, raja Banten pada saat itu, yang berhasil membawa Banten pada kejayaannya, yang berhasil menjalin hubungan mesra dengan Inggris, Perancis, dan Denmark, serta bekerjasama dengan Kesultanan Makasar, Aceh, Turki dan Mekkah, sedang mengalami hubungan yang sulit dengan anaknya, Sultan Haji (Sultan Abdul Kahar Aboen Nassar).

Di bawah kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa, Kota Banten mengalami perkembangan yang pesat. Kanal-kanal yang ada diperlebar dan didalamkan sehingga kapal dagang dapat berlabuh. Armada laut yang modern, hingga swasembada beras karena sawah dan irigasi yang digarap dengan sangat baik. Banten mulai memperkenalkan koin mas sebagai alat untuk berjual beli. Benteng di Banten diperkuat dengan bastion, yang dilengkapi dengan 66 meriam!

 

IMG_0885
Sultan Tua

 

IMG_0886
Sultan muda

 

Kejayaan Banten akhirnya terkoyak dengan terjadinya perang antara Sultan Tua (Sultan Ageng Tirtayasa) yang jengah dengan kelakuan Sultan Muda (Sultan Haji a.k.a Sultan Abdul Kahar Aboen Nassar). Dan akhirnya perang antara bapak dan anak pun terjadi. Sultan Ageng Tirtayasa dibantu oleh Syekh Yusuf dari Makasar melawan Sultan Haji yang dibantu sepenuhnya oleh VOC Olanda. Tentu saja bantuan dari VOC itu tidak gratis, syarat yang diberikan adalah Sultan Haji harus memberikan Lampung, sebagai penghasil lada kepada VOC. Sultan Ageng terdesak dan melarikan diri, Istana Tirtayasa dikuasai oleh Sultan Haji dan VOC.

 

IMG_0889
Sultan Ageng tidak bisa menandingin Sultan muda, dan akhirnya melarikan diri

 

1683 – 1684, terjadi pengejaran besar-besaran terhadap Sultan Ageng. Hingga akhirnya pada 14 Maret 1683, Sultan Ageng tertangkap dan ditahan di Batavia. Kemudian pada Mei 1683, giliran Syekh Yusuf yang tertangkap, dan setahun kemudian Pangeran Purbaya juga tertangkap.

1684, Banten menandatangani perjanjian damai dengan VOC Olanda, menjadi awal monopoli VOC dan hilangnya kedaulatan Banten.

65ff002f6296043df707ecee151d7b26
Wilayah Kesultanan Banten, terbentang hingga ke Lampung (sumber: https://edu.hstry.co/timeline/bandar-bantam-nan-kosmopolitan)